Diary Ramadhan tanggal 29 Ramadhan 1430H

Oleh : Intan Taufik.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. (Khalil Gibran)

…..

Tak terbayang sebelumnya akan menginjak tanah The Netherlands, seperti juga banyak sekali hal-hal yang tidak terkira sebelumnya. Dalam perjalan hidup, kita terkadang terkejut, tercekat dan bahkan merasa asing seakan tercerabut dari akar hidup kita. Hari itu pun merupakan hari yang asing dan bahkan serasa tidak nyata. Selisik bisik mengudara mendengungkan keraguan. Tapi waktu tetap berjalan.

Keresahan hati ingin sekali menghentikan waktu. Tak ingin terpisah dari para terkasih, khususnya istri dan kedua buah hati. Tapi tak ada alat apapun, tak ada kuasa apa pun dalam diri untuk menghentikan sang masa. Waktu bergulir, berdetak dengan hentakan yang semakin lama serasa semakin cepat dan semakin pasti. Waktunya pun tiba.

Kaki kupaksa untuk melangkah, memasuki ruang-ruang asing. Katanya sebentar lagi burung besi sudah siap untuk membawaku ke ke negeri seberang nun jauh disana. Kulihat kembali ke belakang. Wajah kosong bermunculan. Belahan jiwa dan kedua buah hati. Sang sulung mulai mengerti apa yang terjadi… jatuh lunglai menyadari bahwa dia tak kuasa menahan perpisahan.

…..

Ku melangkah lagi, lamat-lamat terdengar suara kerinduan untuk berjumpa yang dikirim oleh angin dan juga benang-benang besi. Kesempatan untuk berkumpul lagi, untuk kembali dekat untuk kembali dapat melihat tanpa batas dan mendekap erat. Tapi perasaan ini serasa tak nyata. Apakah karena karena itu hanya akan menjadi sekejap? Apakah karena tak ingin kembali luka? Asing.

Wajah-wajah yang kukenal
Wajah yang kurindu
Tubuh kecil yang sudah lebih tinggi dan besar
Asing… sekaligus kurindu
Kutatap sejenak lalu kupeluk dan kubisikan… abi sudah pulang.

Sinar pagi telah menyelusup ke sela-sela kain yang menggantung di belakang kaca,
dua bola mata kecil yang tajam telah duduk di belakang
melihat dengan heran,
ya, aku adalah orang asing baginya, bagi my little prince

sedangkan dua buah lengan kecil  dari sisi lain sudah merangkul
walaupun masih terkantuk aku tahu dia pun rindu sekali terhadap ku
aku pun rindu pada mu, my little princess

perjumpaan telah membayar kerinduan
perjumpaan telah menunjukkan keterasingan
waktu, perguliranmu telah membawa perasaan yang bercampur baur

…..

laptop menyala dan dia memanggil-manggil diriku
panggilan itu, panggilan namaku
tapi mata dan tangannya, seluruh tubuh kecilnyanya, memanggil layar tipis dan bukan aku

kami nyalakan layar lainnya
dan waktu bergulir sejenak
langkah-langkah kecil kemudian mendekat dan tangannya merangkul
ya, abi sudah ada disini

…..

aku tahu waktu tak akan pernah berhenti
dan saat untuk berpisah akan datang kembali
walaupun kadang terobati karena ada harapan untuk kembali berjumpa

semoga-semoga waktu yang memisahkan terasa singkat
dan saat berkumpul dapat mnyergap dengan cepat.

….

Di sisi lain, Sang Tamu Agung Ramadhan pun telah mulai melambaikan tangan
ya sang waktu telah menunjukkan kekuatannya, kami berpisah lagi.
semoga kami dapat berjumpa dengannya  lagi.
semoga.


AlQuran-02-045

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Quran 02:183)

Taqwa, itulah tujuan berpuasa di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu hari-hari di bulan Ramadan, Al-Baqarah ayat 185). Bukan sehat, bukan diet,  bukan berumur panjang, bukan rezeki lancar, bukan naik haji ke Mekkah, bukan pintar, bukan cari dapat jodoh, bukan apa-apa kecuali taqwa sebagai tujuan dari berpuasa di bulan Ramadan ini.
Apa taqwa itu? Kita sudah sering mendengar dari ceramah-ceramah, bahwa taqwa itu berarti takut, takut akan Allah, takut akan siksa neraka, takut meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan laranganNya. Al Quran sendiri memberikan pengertian taqwa, setidak-tidaknya, pada permulaan surat Al Baqarah (ayat 2-5):

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [2] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib , yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka [3] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. [4] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [5]

Berbicara tentang taqwa tentu akan panjang. Tapi, untuk saat ini cukup 4 ayat di atas menjadi acuan kita saat ini.
Sekarang Ramadan sudah dipenghujung. Sudahkah kita merasakan taqwa dalam diri kita? Saya sering bertanya pada diri saya tentang hal ini. Sedikitnya ada enam perkara, sesuatu Al Baqarah 2-5 tadi, yang membuat saya resah, yaitu sebagai berikut.
Pertama beriman, sebuah keadaan diri dalam keyakinan penuh dan teguh sehingga kita tunduk dan menyerahkan jiwa kita pada iman tersebut. Kita patuh kepada apa yang dikehendaki iman. Iman adalah syarat tauhid, tanpa iman jangan pernah kita mengaku bertauhid — alias kafir. Iman sendiri menyaratkan syariat, yaitu tata-cara beribadah dan beramal. Tidak mengakui syariat berarti tidak beriman; tidak beriman jelas tidak bertauhid. Terakhir syariat menyaratkan adab.
adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: ayahnya terkenal sbg orang yg tinggi –nya.
(KBBI Daring)
Pertanyaannya, setelah berpuasa, adakah saya beradab?
Kedua, beriman kepada yang gaib, ok, itu tidak susah. Saya yakin adanya kebenaran lain di luar kebenaran  ilmiah. Bagi saya, kebenaran terbesar adalah sunatullah, sebagian kecil dari kebenaran itu dapat dipahami otak manusia yang disebut Fisika (dari sinilah slogan fisika itu sunnatullah muncul). Di luar Fisika, masih banyak kebenaran-kebenaran lain, termasuk di antaranya ruh dan dunia gaib. Oleh sebab itu, saya tidak pernah menyangkal adanya sihir dan guna-guna. Dua ilmu ini benar tapi bukan bagian Fisika, karena itulah saya selalu menolak menjelaskan atau menerima penjelasan fenomena sihir atau guna-guna dari sisi ilmiah.
Sudah bukan rahasia lagi, secara naluri kita takut kepada jin dan hantu. Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah yakin saya akan “la haula wala kuwwata illah billah”?
Ketiga, mendirikan salat. Bukan mengerjakan, tapi mendirikan, sebuah pilihan kata yang menurut ahli bahasa memiliki perbedaan makna. Mendirikan salat berarti mengerjakan dengan teratur, melengkapi rukun dan adabnya baik lahir (seperti bersih) atapun batin (seperti khusuk), memperhatikan apa yang dibaca, dan akhirnya komit dengan salat itu sehingga salat benar-benar dapat mencegah kita dari perbuatan munkar. Jika perangai kita buruk, maka tengoklah salat kita — begitu kira-kira pengejewantahannya dalam kehidupan kita.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya telah mampu mendirikan shalat meskipun satu rakaat saja?
Keempat, menafkahkan sebahagian rezki. Alhamdulillah banyak badan amil zakat sekarang di Indonesia yang selalu menghimbau kita untuk berzakat dengan segala kemudahan. Sungguh keterlaluan jika kita masih tidak mau berzakat, atau spesifiknya lupa membayar zakat fitrah. Tapi, zakat tidak hanya zakat fitrah, masih ada zakat harta, zakat niaga, zakat macam-macam. Dari sejumlah rezeki yang kita dapatkan terdapat sebagian hak orang lain. Membayar zakat berarti selain menyucikan harta juga memberikan hak orang lain — dengan kata lain kita berkesempatan menjadi “kran” penyalur rezeki Allah. Zakat adalah amalan yang menakjubkan. Perintah berzakat dalam Al Quran sering disandingkan dengan perintah mendirikan salat.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya sanggup serius menghitung rezeki untuk dikeluarkan zakatnya?
Kelimat, beriman kepada kitab (Al Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya). Pengejewantahan beriman pada kitab di zaman sekarang mungkin adalah tadarus Al Quran, membaca dan mempelajari Al Quran (karena kitab-kitab sebelumnya buat apa lagi dibaca karena yang lengkapnya sudah ada). Sekedar membaca saja, alhamdulillah sering kita lakukan. Setidak-tidaknya al fathiah saat salat. Tapi mempelajarinya?
Doa khatam Quran menyebutkan,
Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al Quran, dan jadikan Al Quran sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al Quran. Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al Quran. Anugerahkanlah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikan Al Quran hujjah bagiku, wahai Tuhan seru sekalian Alam.
The question is obvious: setelah berpuasa, adakah Al Quran menjadi pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku?
keenam dan terakhir untuk sesi ini, yakin akan adanya kehidupan akhirat. Ini jelas, tanpa tandeng aling, pertanyaan pamungkas yang membuat saya selalu merinding, setelah berpuasa, siapkah saya untuk mati?
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan untuk bertemu lagi dengan RamadanMu, sesungguhnya kami telah menyia-nyiakan waktu kami kecuali Engkau mengampuni kami.
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada nabi kita Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya yang terpilih, serta salam yang berlimpah ruah.
Bogor,
29 Ramadan 1430

Diary Ramadhan : Edisi tanggal 29 Ramadhan 1430 H

Oleh : Tjundoko Suprijadi

Dalam bulan Ramadhan ini marilah kita bercermin sejenak, apakah yang kita lakukan sekarang sudah lebih baik dari yang kita lakukan sebelumnya, atau masih sama dan bahkan malah lebih jelek dari sebelumnya.

Kondisi politik, sosial dan budaya bangsa kita saat ini masih memprihatinkan. Misalnya: birokrasi masih berbelit dan korup, ditambah lagi vonis pengadilan masih belum dapat menimbulkan efek jera terhadap para koruptor, belum semua anggota DPR memikirkan nasib rakyat kecil, dan masih banyak lagi persoalan bangsa ini yang jika dibahas tidak akan habis habis. Negara masih membutuhkan pribadi-pribadi yang bermoral dan berakhlak mulia serta istiqomah, tidak hanya sekedar pandai melakukan kritik tetapi juga harus bisa menunjukkan jiwa keteladanan dan sekaligus bisa diterapkan didalam kehidupan masyarakat. Pemikiran yang bersifat nasional masih diperlukan, namun implementasi dalam keseharian lebih perlu untuk terus ditingkatkan.

Saya masih teringat kotbah dari tayangan televisi yang disampaikan oleh K. H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Dengan menggunakan bahasa yang sangat sederhana tetapi cepat dipahami oleh masyarakat luas, beliau menyampaikan “mulailah dari diri sendiri…, mulailah dari yang kecil… dan mulailah dari sekarang juga…”. Mudah-mudahan dengan mengaplikasikan beberapa contoh sederhana dibawah ini, kita termasuk yang disayang Allah SWT. Amiiin.

1. Menuntut ilmu dan mengamalkannya.

Pepatah mengatakan bahwa kita wajib menuntut ilmu walau sampai negeri China. Ini berarti bahwa kita harus selalu belajar selama kita masih hidup didunia dan mengamalkannya di dalam kehidupan bermasyarakat. Kegiatan memahami Al Qur’an, baik tulisan maupun isinya, adalah suatu kegiatan yang sangat positif dan dapat dilakukan kapan pun dan dimana pun. Mulailah dari yang sangat sederhana, yaitu dengan belajar membaca huruf Arab (belajar Iqro’), kemudian meningkat membaca Al Qur’an beserta terjemahannya. Dalam bidang lain, menuntut ilmu harus dilakukan sampai ke jenjang pendidikan yang setinggi-tingginya. Setelah ilmu tersebut dikuasai, kita wajib mengamalkan ilmu tersebut, misalnya melalui diskusi kecil dalam kelompok organisasi, melalui tulisan, menjadi guru/dosen, dll.

2. Tidak sombong.

Dari pengalaman saya di tanah suci Mekah, ternyata dengan melihat begitu banyak manusia yang berkumpul disekitar masjid Masjidil Haram, saya sebagai seorang manusia merasa tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan dengan apa yang dimiliki Allah SWT. Pangkat, jabatan, gelar, kekayaan dsb. bukanlah hal yang dapat disombongkan. Oleh karena itu, mulailah berperilaku rendah hati, menghargai orang lain dan tidak membeda-bedakan dalam bergaul.

3. Jujur.

Saat ini banyak sekali tindak korupsi dimana pelakunya tidak menyadari bahwa hal tersebut bersifat korup atau menipu. Misalnya, pada saat menyekolahkan anak, orang tua menginginkan anaknya masuk ke sekolah favorit. Karena takut tidak diterima, maka si orang tua membayar sejumlah uang kepada guru, agar guru yang bersangkutan menaikkan nilai anaknya. Beberapa hal yang membuat orang tua tersebut tidak menyadari bahwa tindakannya adalah tindakan korup diantaranya: banyak orang tua lain yang melakukan hal yang sama; menganggap bahwa hal ini perlu dilakukan untuk menjamin masa depan anaknya; dll. Contoh lain adalah kontraktor yang ingin memenangkan sebuah tender pekerjaan dengan menempuh segala cara, misalnya dengan memanipulasi data pada profil perusahaannya, menyuap panitia proyek, dll. Oleh karena itu, kita perlu untuk berhati-hati dalam berperilaku. Hindarilah suap-menyuap dalam bentuk apapun dan mulailah mendidik anak dengan sebuah kejujuran, walaupun hasilnya tidak seperti yang kita harapkan. Sesungguhnya Allah maha mengetahui.

4. Bersedekah.

Bersedekah sedikit tetapi ikhlas akan lebih baik dari pada bersedekah dalam jumlah banyak tetapi kurang ikhlas, apalagi ditambah dengan harapan diketahui orang dan mendapat imbalan dari yang diberi sedekah. Ladang untuk bersedekah di negara kita masih sangat banyak, contohnya memberi makan pada orang miskin (pengangkut sampah, tukang becak, dsb.); menyantuni anak yatim; memberikan beasiswa pendidikan atau menjadi orang tua asuh bagi anak miskin yang pandai; dsb. Untuk itu, jangan menyia-nyiakan sisa waktu hidup ini untuk tidak bersedekah.

5. Doa dan syukur.

Biasakanlah berdo’a setelah menjalankan sholat 5 waktu dan bersyukurlah terhadap semua nikmat yang telah Allah berikan. Ini adalah pekerjaan yang sangat nikmat dan sekaligus sangat mudah dilakukan. Nikmat hidup akan terasa, karena kita menyadari bahwa semua terjadi karena Allah. Saat sedang bergembira ataupun bersedih, kita akan bersikap biasa saja. Itulah sebabnya kita wajib berikhtiar yang dibarengi dengan berdo’a. Jika tetap gagal setelah berikhtiar, maka semua adalah karena kehendak Allah.

6. Senyum.

Hiasilah pergaulan sehari-hari dengan keluarga, tetangga dan masyarakat dengan sapaan yang halus dan senyuman yang ikhlas. Hal ini akan memberikan kebahagiaan tersendiri untuk kita. Apabila kita menyapa istri atau anak dengan senyum, maka reaksi mereka akan jauh lebih positif dibandingkan jika kita menyapa mereka dengan kasar.

7. Berpikir positif.

Mulailah dengan menghilangkan sedikit demi sedikit prasangka buruk terhadap orang lain. Apabila suami pulang ke rumah agak terlambat, jangan terburu-buru berpikiran jelek. Mulailah berpikir bahwa mungkin suami ada rapat mendadak. Setelah suami sampai di rumah, tanyakan dengan baik-baik. Apabila ada orang mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi padahal kondisi jalan sangat padat, mulailah dengan memikirkan kemungkinan yang baik: mungkin pengemudi tersebut sedang mengantarkan orang yang sakit parah untuk menuju ke rumah sakit.

8. Peduli lingkungan.

Kebersihan dan keindahan adalah sebagian dari iman. Banyak sekali perbuatan yang tidak sesuai dengan pepatah ini di masyarakat, misalnya membuang sampah dan meludah di sembarang tempat, dsb. Bahkan tak jarang orang yang cukup terpandang sekali pun, saat sedang mengendarai mobil mewah, membuang sampah keluar dari jendela sehingga mengotori jalan. Perbuatan tersebut sangat berlawanan dengan rasa keimanan kita. Untuk itu, mulailah dengan mendidik keluarga kita agar membuang sampah di tempat sampah, tidak membuang sampah di selokan, parit atau sungai.

Masih banyak lagi hal-hal sederhana yang belum sempat tertulis, misalnya : tidak bergosip (membicarakan kejelekan orang lain), tidak memandang rendah orang lain, dsb. Namun, semoga beberapa hal yang telah diuraikan di atas dapat mulai kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari (termasuk penulis), sehingga hidup kita menjadi lebih berarti dan bermanfaat bagi sesama. Amin ya rabbal alamin.


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 28 Ramadhan 1430 H

Oleh : Ismail Fahmi

Sering dalam perjalanan naik sepeda ke kantor, sambil menikmati pagi ala Belanda yang kadang cerah, segar, dan paling sering mendung, gerimis dan hujan, saya merenung dan bertanya dalam diri. Kemana arah perjalanan hidupku? Mengapa setelah selesai belajar selama lima tahun bukannya langsung balik ke Indonesia untuk menerapkan ilmu, tetapi malah terdampar di Amsterdam untuk waktu yang belum tahu kapan akan berakhir? Mengapa sering kurasakan perjalanan hidup ini bak pesawat yang sedang dalam mode auto-pilot, tak bisa aku belokkan ke kiri atau ke kanan. Dia naik turun suka-suka.

Kondisi seperti ini membuatku khawatir, gundah, bete, dan takut manakala ketidakjelasan menggantung seperti mendung di pagi itu. Kelabu, mungkin hingga esok hari, atau seminggu ini. Akankah pada akhirnya bermuara pada kebahagiaan, atau hanya masalah, kesempitan, dan kekurangan yang tak berujung? Tak tahu.

Hingga suatu ketika hadir sebuah cerita kepadaku. Sebuah kisah yang membuatku semakin tenang dan yakin dalam menjalani hidup. Caraku memandang apa yang terjadi atas diri ini berubah. Jika saja sejak dulu aku mendengar kisah ini, mungkin tak akan lama-lama kekhawatiran hadir di sini.

Seorang pria meminjamkan sahabat lamanya sejumlah uang. Berapa bulan kemudian ia membutuhkan uang itu, sehingga ia pergi ke rumah sahabatnya di kota tetangga, untuk meminta kembali uangnya yang ia pinjamkan. Istri sahabatnya mengatakan padanya bahwa suaminya sedang mengunjungi seseorang di sisi lain kota itu. Istri sahabatnya menunjukkan arah dan alamat yang harus dituju, lalu lelaki itu pun berangkat.

Dalam perjalanan, ia melintasi sebuah prosesi pemakaman. Karena tidak sedang terburu-buru, ia memutuskan untuk mengikuti prosesi itu, dan ikut memanjatkan doa bagi nafs almarhum.

Pekuburan kota itu sudah sangat tua. Jika kuburan baru akan digali, beberapa kuburan lama harus digali ulang untuk mengangkat dan memindahkan sisa tulang belulangnya. Ketika pria itu berdiri di samping lubang yang baru digali untuk jenasah almarhum, ia memerhatikan sisa-sisa kerangka yang baru saja diangkat, tepat di sampingnya. Di antara kedua gigi depan tengkoraknya terselib sebutir kacang pipih. Tanpa berpikir, ia ambil butiran kacang itu dan dijentikkannya ke mulutnya sendiri.

Tepat setelah itu, datanglah seorang lelaki yang seluruh janggutnya telah memutih namun tampak awet muda. Ia bertanya kepada si pria, “Kau tahu kenapa kau ada di sini sekarang?”

“Oh, tentu saja. Aku datang ke kota ini untuk mengunjungi sahabatku.”

“Bukan. Kau ada di sini karena harus memakan sebutir kacang itu. Tahukah kau, bahwa kacang itu adalah hakmu. Kacang itu bukan hak  orang itu yang sudah menjadi tulang belulang sejak bertahun-tahun lalu, sehingga ia tidak akan bisa menelannya. Kacang itu adalah hakmu, dan harus sampai kepadamu.”

Kisah ini sederhana, namun sangat membekas dalam diriku. Dia berlaku bukan hanya untuk si pria itu, tetapi bagi siapapun dan bagi segala sesuatu. Allah sendiri yang memenuhi segala hak dan kebutuhanku. Apapun yang diciptakan untuk menjadi hakku, aku pasti akan menerimanya.

Dalam sebuah kesempatan aku bertanya kepada sahabatku yang sudah lebih banyak memakan asam garam kehidupan, ketika saat itu aku sedang menghadapi sebuah kesulitan yang menurut ukuranku sangat besar, dia menjelaskan sebuah makna yang kemudian membukakan tabir pemahamanku.

Sesungguhnya, dia bilang, segala kebaikan dan keburukan yang terjadi pada kita, adalah untuk semakin mengokohkan akar keenam dari keimanan kita. Selama ini ketika kita berbicara soal keimanan, lebih banyak dimaksudkan pada keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Rasul-rasul, Kitab-kitab, dan Hari Akhir. Jika melihat batapa seringnya kita dirundung duka disamping suka, tiada pernah berhenti, bukankah ini pertanda bahwa Allah sayang kepada kita? Agar kita semakin mantap juga dengan pilar iman ke-enam, iman kepada segala kebaikan dan keburukan yang terjadi pada kita? Meyakini dan menerima keduanya dengan timbangan yang sama, sama-sama dari Allah, sama-sama membawa kebaikan, sama-sama hendak meningkatkan derajat kita. Pedih memang, ketika duka hadir. Namun ketika dibalik duka itu kita bisa menyingkap sebuah tabir tipis, sehingga kita bisa melihat cahaya Allah dibaliknya, niscaya tak ada lagi beda antara keduanya. Suka dan duka akhirnya sama-sama kita butuhkan, seperti sayap kanan dan kiri seekor elang yang membawanya tebang tinggi ke langit biru.

Kini aku semakin yakin. Di manapun aku berada, pasti sudah ada rencana dan ukurannya. Mungkin karena aku sekedar harus menakan sebutir kacang pipih itu.

[cerita di atas kudapat dari buku Cinta Bagai Anggur terjemahan temanku]


Ismail Fahmi


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 27 Ramadhan 1430 H

Oleh: Eko Hardjanto

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

***

Cahaya Redup di Lintas Utara

Pagi itu Cahaya cerah ceria. Lima hari lagi Lebaran kan tiba. Waktu mudik kini saatnya. Ayah telah menyiapkan segala keperluan perjalanan. Ibu dan adik bersiap mengepak pakaian, dan sedikit makanan pengganjal perut. Bagi ibu, buat apa jajan di jalan. Lebih baik uang disimpan untuk kampung halaman.

Mudik tahun ini seperti biasa. Cahaya bersama ayah menggunakan sepeda motor. Ibu bersama adik naik bis antar propinsi. Mudik yang hemat. Karena tak mungkin Cahaya duduk bersama di dalam bis itu. Apalagi naik kereta AC. Atau pesawat terbang. Biru Malam, Lion Air atau Garuda sudah pasti mahal ongkosnya.

Sebagaimana layaknya anak usia 10 tahun. Cahaya sudah tidak sabar menunggu perjalanan itu. Pasti sebuah pengalaman yang seru, duduk di belakang ayah membonceng sepeda motor. Biarlah ibu tidur di dalam bis bersama adik. Di jalan, cahaya ingin melihat semua. Biar nanti di sekolah banyak cerita. Bertemu kakek dan nenek tambah bahagia.

Waktunya pun tiba.

Setelah mengantar ibu dan adik ke terminal bis antar kota. Ayah dan Cahaya pun memulai perjalanan jauh. Melewati hiruk pikuk kota Tangerang, menuju Ngawi di timur sana. Dua-tiga jam Cahaya banyak bertanya. Tentang apa saja yang dilihatnya.

“Ibu sedang apa ya Yah ?”,

“Ah paling sedang tidur bersama adik”.

“Lebih seru naik motor ya Yah”.

Siang itu matahari terik seperti biasa. Jalanan padat dipenuhi para pemudik. Ayah dan Cahaya memasuki jalur lintas Utara. Cahaya menyandarkan kepalanya di punggung ayah. Rasa kantuk karena panas dan lelah. Walau bukan di dalam kendaraan mewah, rasa kantuk sebuah nikmat yang sama.

Cahaya pun redup.

Di depan mobil Kijang Krista gagah melaju. Ayah menahan kantuk. Ia harus tetap siaga. Tidak ada alunan musik Ungu yang mengiringi perjalanan seperti mereka. Perjalanan masih jauh. Bukan AC, biarlah debu dan asap teman setia.

Memasuki kota Cirebon penuh dengan truk besar dan bus antar kota. Kendaraan merayap perlahan. Motor-motor berseliweran.

Kemacetan semakin menggila.

Truk dan bus menepi, kendaraan perlahan. Motor-motor kecil terus merangsek ke depan. Mengambil sisi jalan sebelah kanan. Mepet trotoar para pejalan. Ayah mencari celah, mencoba menembus kepadatan. Gesit, cahaya sedikit terhenyak, jalan banyak berlubang. Ayah terus melaju..terus..dan terus…

Saatnya tiba…

Di depan tak dinyana..dalam kecepatan ada sebuah becak nyelonong ke jalan…

“Awas…”, ayah berteriak…

Ayah membanting motor ke kiri. Di situ ada sebuah truk. Ayah terserempet, jatuh bersama motornya.

“Brakkk..sreeettttt…”

Gelap…

Kerumunan orang datang seketika. Seorang anak 10 tahun tergolek di belakang motor.

Mata Cahaya ditutup.

Cahaya pun redup.

 

Tak ada cerita seru di sekolah.

Hanya cerita duka.

 

***

 

Eindhoven, 16 September 2009

Kisah nyata di Lintas Utara.

Kudedikasikan untuk Cahaya dan para pemudik yang papa, kaum dhu’afa.

 

 

 


 

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 26 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Kemarin sore aku ada janji buka puasa bersama bersama Nieke, Donny, Amy dan Nopi di Pacenongan, Jakarta, makan sea food dan sebangsanya. Dari rumah kakakku di Kota Wisata aku naik taksi. Namun kali ini supir taksinya berbeda dengan supir taksi lain yang biasa saya temui. Di dalam taksi terjadi percakapan sebagai berikut:

 

“Bapak namanya siapa?” tanyaku.

“Nama saya Suyono pak.” Pak Suyono menjawab.

“Sudah berapa lama bapak tinggal di Jakarta?” tanyaku iseng-iseng saja.

“Sudah sejak tahun 2005. Sudah 4 tahun saya di Jakarta pak” jawab pak Suyono.

“Bapak asalnya darimana?”

“Dari desa kecil di dekat Solo, namanya desa Sranggren.”

“Kenapa bapak pindah ke Jakarta?”

“Ekonomi di desa sulit pak. Terpaksa saya meninggalkan desa untuk pergi ke Jakarta untuk cari uang. Kalau hanya sekedar menghidupi saya dan istri saya mungkin masih bisa dari sawah, tapi untuk sekolah anak sudah tidak bisa lagi. Anak saya tiga orang, yang paling besar sudah SMA, biaya pendidikan sekolah sangat tinggi. Yang pertama laki-laki, kedua dan ketiga perempuan”

“Berapa penghasilan bapak sebagai supir taksi?”

“Tidak banyak pak, malah masih lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Tapi walaupun begitu, kami masih bisa bertahan hidup. Dan saya sangat sering bersyukur, karena saya masih bisa mendapatkan kesehatan. Kalau gak sehat kan kita tidak bisa bekerja, betul nda? Yang namanya manusia itu tentu akan banyak keinginannya, kalau kita tidak bersyukur maka akan selalu merasa kurang. Yang kaya itu kan sebenarnya orang yang pandai bersyukur. Rezeki itu cukup sehari. Yang perlu kita syukuri itu sebenarnya kesehatan, tanpa sehat kita tidak bisa cari rezeki.”

 

Aku manggut-manggut mendengarkan ucapan supir taksi itu. Ternyata walaupun hidupnya susah, tetapi beliau ini pandai bersyukur. Aku bisa belajar banyak dari beliau.

 

Supir taksi itu juga meneruskan ceritanya.

“Saya pun bersyukur memiliki istri yang tidak banyak tuntutan. Saya sempat diundang ke tempat teman saya. Waktu saya melihat rumahnya, saya sangat bersyukur bahwa keadaan saya masih jauh lebih baik. Tak usah saya jelaskan bagaimana kondisi rumah teman saya itu, tapi bapak bisa mengerti kan, kalau saya saja masih bisa bersyukur dengan keaadaan rumah saya, berarti keadaan rumah teman saya itu masih jauh di bawah saya. Ini syukur saya yang pertama. Yang kedua, istri teman saya itu waktu minta uang ke teman saya sambil bentak-bentak dan ketika uangnya itu tidak mencukupi sesuai dengan apa yang istrinya minta, dia marah-marah. Dia sampai menuduh yang bukan-bukan terhadap teman saya. Padahal saya tahu teman saya itu bekerja keras sekali untuk mencari uang.

 

“Memang kita harus bersyukur kalau bisa mendapatkan istri yang baik.” aku ikut berkomentar.

 

Sang supir tetap melanjutkan ceritanya.

 

“Saya sempat pulang ke rumah tanpa bawa uang. Istri saya minta uang karena anak harus beli buku sekolah. Tapi saya bilang sama dia, saya tak bawa uang. Istri saya menangis, saya kaget sekaligus takut. Takut dia menyesal kawin dengan saya atau sedih dengan kesulitan hidupnya. Setelah istri saya reda nangisnya saya tanya kenapa dia nangis. Dia bilang dia kasihan sama saya, sudah capek-capek kerja tapi masih tidak punya uang. Saya sangat tersentuh mendengarnya. Saya yang jadi gentian nangis pak. Saya nangis karena tidak bisa beli buku sekolah untuk anak saya.”

 

Merinding bulu kuduk saya mendengar cerita pak Suyono. Saya bisa merasakan sakit pak Suyono. Saya tahu berapa besar cinta ayah kepada anaknya. Tentu ayah manapun akan merasa tak berguna jika hanya untuk membelikan buku sekolah anaknya pun tak bisa.

 

Saya beranikan diri untuk bertanya.

 

“Kan sekolah sudah gratis pak?” tanya saya polos.

 

“Itu kan hanya slogan saja. Praktiknya tidak begitu. Lebih baik tidak ada slogan sama sekali daripada hanya slogan kosong. Memang ada sekolah yang gratis, tapi tidak semua sekolah gratis. Beli buku sekolah itu mahal. Malah zaman Suharto masih lebih enak karena  buku-buku sekolahnya bisa digunakan oleh angkatan berikutnya. Jadi lebih hemat. Kalau punya anak tiga, beli buku cukup satu kali saja. Kalau sekarang, beli buku sekolah itu tiap enam bulan sekali. Tahun depan sudah ganti lagi bukunya.”

 

Sepertinya, jika saya bandingkan keadaan saya dengan pak Suyono, saya merasa seperti hidup di surga. Semua kebutuhan tercukupi, segala keinginan terpenuhi. Mau apa saja bisa. Yang saya pikirkan hanya nanti mau liburan kemana lagi. Tempat mana yang belum saya kunjungi, makanan apa yang ingin saya cicipi. Buku apa yang ingin saya baca dan film apa yang ingin saya tonton. Olahraga apa yang ingin saya pelajari dan musik apa yang ingin saya dengarkan. Sekolah anak gratis dan kualitasnya pun bagus. Asuransi kesehatan ada, jika hilang pekerjaan akan ditunjang negara. Jika nanti pensiun tidak usah khawatir. Lalu, apa yang masih harus dikhawatirkan hidup di negeri Belanda ini?

 

Saya jadi teringat dengan banyak anak Indonesia yang nasibnya sama dengan anak pak Suyono, malah lebih parah. Mereka tidak bisa bersekolah karena tidak punya uang. Hal seperti ini  masih ada di Indonesia. Saya pun teringat akan Galiro, gerakan lima euro, inisiatif yang dimulai oleh kawan-kawan di Groningen. Idenya sangat simpel, setiap orang menyisihkan uang sebanyak lima euro saja per bulan. Tapi uang yang terkumpul ternyata cukup banyak, sehingga kita bisa punya anak asuh 4 orang anak di kota Tasikmalaya. Nama anak-anak tersebut adalah Azka, Nurul, Indri dan Iqbal. Kota Garut dan kota-kota lainnya akan menyusul dalam waktu dekat. Selain itu pun kita menjadi donatur tetap PKPU, RZI dan Dompet Dhuafa. Jika ada bencana alam, Galiro selalu siap untuk membantu. Ide yang simpel, namun sangat effektif. Rencana saya ke tasik pun akan saya gabung dengan rencana mengunjungi anak-anak asuh Galiro ini. Akan saya tanyakan kabar mereka dan surat-surat dan cendera mata dari para orang tua asuhnya akan saya sampaikan langsung kepada mereka.

Obrolan melanjut ke zaman Suharto.

 

“Enak mana pak zaman Suharto dengan sekarang?” tanya saya ingin tahu.

 

“Kalau  buat orang kecil, keadaan ekonomi sekarang itu lebih susah dibanding zamannya pak Suharto. Sekarang, rakyat kecil mau beli minyak saja susah dan mahal. Waktu zaman Suharto rakyat kecil itu tidak susah. Buku-buku sekolah bisa digunakan bertahun-tahun. Sekarang sekali pake buku itu langsung dibuang. Sekarang sekolah mahal. Waktu zaman Suharto anak-anak juga dikasih melk dan havermut.

 

“Kan zaman Suharto korupsi pak.” Aku coba protes sedikit.

 

“Dulu korupsi, sekarang juga korupsi.” Jawab supir taksi dengan pintarnya.

 

Benar juga bapak ini pikirku walaupun perbedaannya bahwa sekarang ini sudah banyak koruptor yang diadili dan dipenjara, walaupun jumlahnya masih sangat sedikit. Tomy Suharto saja mau jadi pimpinan Golkar dan calon presiden Indonesia tahun 2014. Tak habis pikir kok ini bisa terjadi. Tadinya aku ingin mengatakan lebih jauh bahwa di zaman Suharto tidak ada kebebasan mengemukakan pendapat dan terjadi banyak pelanggaran HAM, tapi kuurungkan niatku karena hal ini kurasa kurang relevant bagi kehidupan rakyat kecil. Rakyat kecil lebih butuh makan, anak bisa sekolah. Ini yang terpenting untuk mereka. Kebebasan mengemukakan pendapat tidak jadi prioritas buat mereka, dan kalau mereka tidak macam-macam Suharto tidak akan menculik dan menyiksa mereka.

 

Obrolan melanjut ke tema kehidupan di desa dan di kota.

 

“Enak mana pak hidup di kota besar seperti Jakarta ini atau hidup di desa kecil seperti desa Sranggen, dekat Solo?” tanyaku.

 

“Kalau punya uang cukup, lebih enak hidup di kota kecil. Di Sranggen saya punya sawah sebesar 4000 meter persegi dan kebun sebesar 2500 meter persegi. Namun tetap uang saya tidak cukup untuk sekolah anak-anak. Kalau makan saya cukup dari sawah dan kebun. Nasi selalu ada. Sayuran pun ada. Kalau ingin makan daging tinggal sembelih ayam atau itik. Kalau jadi petani, gak ada yang dipikirin selain menanam, memelihara dan panen. Kalau hidup di kota besar sering stress karena banyak pikiran. Mentalitas orang-orang di kota juga berbeda dengan orang-orang di desa. Orang-orang di desa masih suka gotong royong, masih suka memerhatikan sesama dan jiwa sosialnya masih tinggi. Sedangkan di kota sudah sangat individualis, hanya mementingkan dirinya sendiri. Kalau saya punya cukup uang, saya akan kembali ke desa.”

 

Taksi pun sudah sampai di tujuan. Argo menunjukkan harga 130 ribu. Saya berikan uang 150 ribu.

 

“Kembalinya untuk bapak”, bilangku.

 

“Terima kasih banyak pak”, supir taksi sangat berterima kasih.

 

“Saya yang berterima kasih pak, saya banyak belajar dari bapak.” 

 


Beruntung kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya tidak pernah kering. Tampaknya ada bagian doa saya terkabulkan, yaitu doa saya untuk dapat diberikan petunjuk-Nya (waktu itu belum sadar atas fenomena cobaan berbuah azab ini). Satu demi satu pencerahan bisa saya dapatkan. Dan semakin saya membuka diri atas petunjuk Allah, semakin saya rasakan kehangatan dan terang di hati saya. Hati saya semakin merasa pasrah dan otak saya mulai berhenti memberontak menuntut justifikasi. Saya pun semakin sadar bahwa cahaya petunjuk Allah selama ini sudah dan selalu ada di mana-mana di sekitar saya. Hanya diri saya sajalah yang selama ini secara tidak sadar telah menutup pintu dan jendela hati saya. Bagaimana mungkin cahaya bisa masuk ke dalam rumah yang pintu dan jendelanya ditutup rapat-rapat? Dan memang, begitu saya buka lebar-lebar pintu dan jendela hati saya, bertubi-tubi potongan petunjuk datang setiap saat. Mulai dari syair lagu D’masiv, penggalan dialog dalam sinetron Inayah, tulisan di spanduk di Simpang Dago, pembicaraan penyiar radio, sampai dengan saluran-saluran formal seperti acara ceramah  dan buku-buku keagamaan yang sengaja saya ikuti dan baca.

Dalam kesempatan ini,  saya ingin berbagi  intisari pelajaran yang saya dapatkan (captions dan sebagian narasi saya adopsi dari buku Yusuf Mansyur: Mencari Tuhan yang Hilang, Bab 2) selama proses perbaikan/penyembuhan diri saya ini.

1. Libatkan Allah sedari awal kita menghadapi masalah.
Jangan sombong atas kemampuan rasio dan emosi kita. Dan juga sebaliknya jangan pernah beranggapan bahwa kita terlalu berdosa untuk dapat kembali ke jalan-Nya. Jangan sampai kita suudzhon kepada Allah padahal ampunan dan rahmat Allah adalah tak terbatas
“Katakanlah:’Hai hamba-hamba Allah yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az-Zumar:53)
Dalam tahapan ini kita harus memuhasabahkan diri: kenapa sampai persoalan hidup ini terjadi pada diri kita. Jadi kita harus jujur pada diri kita sendiri atas segala kesalahan yang telah kita perbuat dan memohonkan ampun atasnya kepada Allah SWT.

2. Jangan berputus asa.
Kita sudah melibatkan Allah SWT dan meminta petunjuk serta pertolongan-Nya, tapi beban masalah kita tidak kunjung hilang. Putus asa bisa terjadi jika dan hanya jika kita hanya mengandalkan pikiran dan tindakan manusiawi kita, bukan kemampuan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Berbagai kisah spiritual dari selebritis dan tokoh masyarakat (di e.g Inspirasi Ramadhan, Metro TV) bisa menjadi referensi atas hal ini. Pertolongan Allah bisa muncul dalam bentuk yang paling tidak terduga.

3. Biar saja permasalahan ada
Hidup tidak mungkin lepas dari masalah. Yang terpenting adalah kita tidak pernah berhenti selalu meminta petunjuk-Nya. Dalam hal ini, Allah akan memulai pertolongan-Nya dengan ketenangan. Ketenangan adalah karunia terbesar bagi setiap orang yang berada dalam masalah. Dengan ketenangan insya Allah kita akan mudah menerima petunjuk-Nya.

4. Apa yang harus dikhawatirkan?
Janganlah kita khawatir bahwa kita tidak akan pernah menemui solusi atas masalah kita. Sesungguhnya segala problem duniawi itu adalah masalah kecil, mengingat tujuan akhir kita adalah akhirat kelak. Justru kita harus lebih (benar-benar) khawatir kalau:
- kita hilang iman, kesabaran, dan kebersyukuran (insya Allah diary saya berikutnya tentang kebersyukuran ini).
- kita tidak mampu menangkap pesan dan petunjuk Allah yang Dia kirimkan melalui serangkaian kesusahan hidup
- ketenangan (sebagai pertolongan pertama dari Allah SWT) tidak kunjung datang. Bisa jadi ada yang salah dalam proses pertobatan kita. Ada kesalahan yang kita masih belum akui, ada permintaan kita kepada Allah yang tidak tulus (conditional atau janjinya tidak sepenuh hati).

5. Kepada siapa pertolongan-Nya datang?
Pertolongan Allah hanya datang pada orang-orang yang pantas ditolong. Dalam hal ini kita harus berhati-hati manakala kita merasa diberi karunia padahal kita sedang tidak taat kepada-Nya atau bahkan sedang bermaksiat. Sesungguhnya ini bukan karunia. Karunia adalah ketika kita bisa bertambah iman, bertambah takwa, dan bertambah baik di hadapan Allah dan manusia yang lain.

Kembali ke kisah saya (semoga tidak bosan ya…, insya Allah ini semata-mata keinginan saya berbagi pengalaman. Siapa tahu bermanfaat pula bagi rekan-rekan, baik saat ini atau di masa yang akan datang). Saat ini saya sedang mencoba berserah diri seutuhnya kepada Allah. Saya coba introspeksi atas segala perbuatan saya di masa lalu. Ternyata setelah ditelusuri lebih dalam, benar jualah firman-Nya dalam Al-Qashash:84 bahwa segala kejadian buruk itu adalah buah dari perbuatan saya sendiri di masa silam.

“…barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan/kekejian, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS 28:84)

Dalam bahasa awam, saya telah mendapatkan karma buruk dari perbuatan saya. Maka saya berusaha memperbaikinya dengan memohon maaf secara tulus pada setiap orang yang mungkin telah saya rugikan dan berjanji tidak mengulangi perbuatan buruk tersebut di masa datang. Saya juga berusaha mengalihkan pikiran saya dari self-centered, berfokus pada masalah saya pribadi kepada masalah yang lebih besar yang dihadapi oleh orang-orang dan society di sekitar saya. Kalau dipikir-pikir, apa pentingnya sih masalah pribadi seorang Titah. Alangkah baiknya energi yang sama itu dicurahkan untuk membantu sesama/society yang memiliki masalah yang mungkin jauh lebih besar (e.g masalah hidup dan mati) dan more impactful?

Saya juga sedang berusaha untuk selalu menjaga dan kalau mungkin meng-upgrade keimanan saya dengan kembali membaca buku-buku agama (selain papers dan textbook makanan sehari-hari selama ini) dan menonton/mendengarkan ceramah di TV dan radio. Alhamdulillah, bulan Ramadhan ini benar-benar memberikan segala kemudahan bagi proses reparasi diri saya ini. Mungkin inilah hikmah dari Allah dengan mengirim saya kembali ke Indonesia untuk sementara waktu, di saat saya tidak habis pikir bagaimana mungkin semua plan (A,B,C) dari profesor-profesor saya yang begitu solid di hadapan logika manusia, gagal membuat saya untuk bisa stay continuously di Groningen.

Penutup:
Dari uraian dan cerita saya yang panjang lebar di atas, inti yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama adalah sebagai berikut:

- kita harus sadar bahwa setiap saat kita akan mendapat cobaan dari Allah SWT (QS 29:2-3)

- cobaan itu tidak selalu berupa hal-hal yang membuat kita menderita atau sedih, tapi (terutama) juga berbagai kenikmatan (QS 39:49)

- cobaan berupa kenikmatan jika kita tidak mampu mensyukurinya akan berubah menjadi azab yang bisa jadi sangat pedih (QS 14:7)

- jika azab itu belum muncul, tidak berarti kita bisa lepas darinya. Bisa jadi kita sedang mengalami istidraj (penundaan) dan kalau ini terjadi dan kita tidak segera sadar, bersiap-siaplah atas azab yang jauh lebih besar lagi (QS 6:44)

- jika kita merasa bahwa kita sudah mendapatkan azab itu, janganlah berputus asa atas rahmat dan ampunan Allah SWT (QS 39:53). Rahmat dan kasih sayang Allah melampaui kemarahan dan kemurkaan-Nya (hadits Qudsi)

- dengan mengakui segala kesalahan kita (bukan sebaliknya malah berusaha mengingkari dan melupakannya) dan bersungguh-sunguh berjanji tidak akan melakukannya lagi, maka insya Allah segala penderitaan yang kita alami dapat berubah menjadi rahmat (QS 66:8). Mata hati kita akan terbuka sehingga petunjuk serta cahaya-Nya akan menerangi kalbu kita. Hati-hati dengan otak kita. Ia bisa mengkhianati kita karena alat favorit setan menyesatkan manusia adalah justifikasi-justifikasi hasil pemikiran otak (yang seolah-olah logis).

- petunjuk Allah bisa datang dari mana saja (termasuk potongan sinetron yang tidak sengaja kita lihat, syair lagu rock band, celetukan sopir angkot, etc). Yang penting, kita menyiapkan ‘radar’ dan ‘reseptor’ dalam hati kita.

Demikian sekilas kisah hidup yang saya alami. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran darinya. Akhir kata, segala kebenaran adalah dari Allah SWT dan segala kesalahan/kealpaan dalam tulisan di atas adalah semata-mata timbul dari ketidaksempurnaan saya sebagai seorang manusia biasa.

Catatan:
Untuk rekan-rekan yang merasa baru atau sedang mengalami kesulitan/kesedihan hidup luar biasa, saya ingin merekomendasikan buku karangan Ustadz Yusuf Mansyur (ustadz terfavorit saya saat ini) dengan judul “Mencari Tuhan yang Hilang: 35 Kisah Perjalanan Spiritual Menepis Azab dan Menuai Rahmat”. Buku ini berisikan kisah nyata beliau (yang jelas-jelas masalahnya jauh lebih besar dari yang sedang saya hadapi…sad eyes never lie) yang ditulis dengan gaya bahasa yang padat dan mengalir disertai argumentasi yang sangat logis dan kuat. Insya Allah akan memberikan inspirasi dan kesejukan hati.


Sebuah Diary Ramadhan oleh Titah Yudhistira

Satu hal yang benar-benar saya syukuri dalam menjalani bulan Ramadhan di Indonesia adalah tersedianya berlimpah sarana untuk merengkuh segala yang terbaik dari bulan yang mulia ini. Berbagai kegiatan dapat diikuti untuk meraih berkah Ramadhan di tanah air. Mulai dari tarawih dan tadarus di masjid dan surau, turut menyumbang makanan pada yang sedang berpuasa, mendatangi stand-stand amal, sampai-sampai menonton TV-pun memiliki potensi ibadah. Pada bulan ini, stasiun-stasiun TV di Indonesia berlomba-lomba menyiarkan acara-acara religius Islami. Memang, harus diakui bahwa beberapa acara ini hanya bersifat hura-hura dan kurang Islami, tapi banyak juga acara yang dapat membuka hati dan wawasan.

Salah satu acara TV yang cukup menarik perhatian saya adalah acara yang berisikan perjalanan spritual selebritis dan tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Acara-acara ini berisikan bagaimana mereka mengalami krisis hidup dan akhirnya mendapat petunjuk Allah SWT serta akhirnya saat ini hidup tentram dan damai. Bukan semata-mata karena ini menyangkut kisah selebritis sehingga menjadi acara favorit saya (in fact, masalah mereka sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja). Ada dua hal utama yang menjadikan acara ini favorit. Pertama, saya  pribadi baru saja mengalami episode tersulit yang penuh cobaan (dan azab) dari Allah SWT, sehingga saya bisa hanyut dalam emosi dan emphaty mengikuti perjalanan hidup mereka. Kedua, pengalaman mereka dapat menjadi pelajaran yang dapat diikuti oleh saya yang sedang struggling menepis azab. Dan atas dasar ini pulalah saya ingin berbagi perjalanan saya melewati cobaan menuju rahmat via azab, melalui Diary Ramadhan ini. Saya berharap kita semua dapat mengambil hikmah dan pelajaran darinya.

Sebelum lanjut, ada dua istilah yang sangat penting dan menjadi inti tulisan ini: cobaan dan azab. Apa bedanya? Dalam praktiknya keduanya dapat bermanifestasi dalam bentuk yang sama. Jika usaha kita bangkrut atau tunangan kita tiba-tiba memutuskan hubungan dengan kita, apakah hal tersebut cobaan atau azab? Yang pasti, cobaan adalah sesuatu yang masih terperikan (bahkan terkadang kita mintakan, e.g cobaan berupa keturunan, harta, ilmu, dan kedudukan/kemuliaan); azab adalah sesuatu yang kita ingin hindari dan merupakan akibat dari kesalahan dan dosa yang kita perbuat. Saya pribadi berkeyakinan bahwa kita sebagai manusia sangat rentan terhadap azab Allah (baik yang ringan sampai yang berat). Dasar pemikiran saya adalah sebagai berikut:

1. Manusia hidup tidak akan lepas dari cobaan
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS Al-Ankabut:2)

2. Tidak semua cobaan adalah berupa penderitaan. Seringkali cobaan itu berupa nikmat dan kesenangan
“Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata:’Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku’. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.” (QS Az-zumar:49)

3. Jika cobaan itu berupa penderitaan atau sesuatu yang membuat kita sedih, seringkali kita malah akan mendekatkan diri pada Allah SWT. Tapi, sebaliknya jika cobaan itu berupa kenikmatan (atau ‘kenikmatan’), maka seringkali kita tidak sadar bahwa diri kita sedang diuji oleh Allah.
“Dan apabila manusia ditimpa bahaya (kesusahan) dia berdoa kepada kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Yunus:12)

4. Manakala kita tidak sadar bahwa kita sedang diuji dengan kenikmatan, besar kemungkinan kita akan tergelincir dan tidak mensyukuri nikmat Allah itu, maka azab Allah akan segera tiba.
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan:’Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim: 7)

Bagaimana argumen saya diatas? Cukup logis bukan? Dan secara empiris, proses ini baru saja terjadi pada diri saya pribadi akhir-akhir ini. Sebenarnya agak malu juga menceritakannya (masa terkena azab pamer dan bangga), tapi memang salah satu jalan awal yang harus ditempuh untuk mengubah azab menjadi rahmat adalah kebesaran hati kita untuk mengakui kesalahan kita dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi (dan tentu saja juga berjanji untuk tidak melakukan kesalahan-kesalahan sejenis dan sebanding di masa depan).

Mengacu ke pengalaman saya, semuanya bermula dengan kesempatan yang saya peroleh untuk melanjutkan pendidikan di Groningen yang notabene bagian dari Belanda yang bagian dari Eropa. Adalah cita-cita saya sedari kecil untuk menghabiskan sebagian hidup saya di Eropa. Dan ternyata tidak cuma itu saja. Kenikmatan demi kenikmatan datang bertubi-tubi.  Satu demi satu mimpi hidup saya (yang selama ini saya yakini mimpi hanya mimpi) terwujud dalam enam bulan pertama saya di Groningen. Bahkan beberapa saya rasakan jauh lebih indah dari bayangan saya sebelumnya hingga sempat saya berpikir: it’s to good to be true. Saya tenggelam dalam euphoria (belakangan saya tahu bahwa yang saya alami, secara ilmiah, tidak lain merupakan bagian dari perubahan drastis yang saya alami. Demikian konon menurut booklet menjalani stress selama di RuG terbitan biro konseling RuG. Booklet yang bagus, sebisa mungkin bagi rekan-rekan yang baru datang untuk membaca booklet ini seawal mungkin). Dan memang itulah puncak kebodohan saya. Saya tidak sadar bahwa saya sedang diuji oleh Yang Mahakuasa (c.f QS Az-Zumar 49). Dan akibat ignorance saya ini, saya pun tergelincir. Dan sesuai peringatan-peringatan-Nya di kitab suci, berbagai kehilangan, kekecewaan, penderitaan, dan kesedihan segera datang satu per satu (c.f QS Ibrahim:7).

Pada awalnya saya berusaha mengatasi segala kekecewaan yang saya alami dengan mengandalkan kekuatan rasio saya. Pelan-pelan otak saya berusaha merekayasa keadaan dan membuat justifikasi atas apa yang saya alami ini sebagai sesuatu yang baik bagi saya serta berusaha menyiapkan segepok “mitigation plan”. Tapi meskipun sudah berbulan-bulan, rasa sakit, kecewa, dan penyesalan yang luar biasa (sorrows) itu tidak bisa lepas dan selalu menghantui hari-hari saya. Bahkan pada suatu titik sudah pada tahap membahayakan kesehatan fisik (yang paling nampak adalah turunnya berat badan saya secara cukup signifikan yang sebagaimana dengan sukses teramati oleh beberapa rekan deGromiest  yang sempat menanyakan perubahan ini pada saya).

… to be continued …


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 22 Ramadhan 1430 H.

Oleh: Wahono

Ini tuh mahal bung !

     Iman adalah mutiara
     Dalam hati manusia
     Yang meyakini Allah
     Maha Esa Maha Kuasa
     …..
     …..
     Iman tak dapat diwarisi
     Dari seorang yang bertaqwa
     Ia tak dapat dijual beli
     Ia tiada di tepian pantai

Begitulah sepenggal nasyid yang dipopulerkan oleh Raihan. Lirik yang sederhana namun sarat akan makna. Ada juga sebuah lagu yang saya dapati saat saya mengenyam pendidikan di pesantren (gaya bener nih di pesantren), pesantren kilat maksudnya, kurang lebih 9 tahun silam.

Ya Allah kupanjatkan syukurku kepadaMu
Betapa banyak nikmat yang telah kau berikan
Nikmat iman
Nikmat islam
Nikmat sehat kurasakan
Ilmu, waktu luang, dan rizki kau curahkan

Yang sampai saat ini pun saya tidak tahu siapa yang mempopulerkannya (penasaran nih, siapa ya yang ngebawainnya). Kalau dipikir-pikir juga sangat benar apa yang dibawain itu. Bahwa iman itu adalah nikmat terbesar yang patut kita syukuri. Tidak ada sebuah bencana terbesar selain kehilangan iman. Mungkin kalau kita kehilangan barang yang sangat kita sayangi, kita bisa nyanyi lagunya Mocca

 …loosing you is not the end of the world…

Tapi kalau kehilangan iman ? Waah.., udah berabe seperti katanya Laluna

Selepas kau pergi
Tinggallah di sini ku sendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang telah hilang di dalam hidupku

Iman ada dalam hati kita, mewarnai setiap aktivitas kita, bukan semata-mata datang begitu saja. Ia adalah sesuatu yang harus diusahakan, di sisi lain Allah jua yang berkehendak. Masih ingatkah tentang kisah Rasulullah Muhammad Saw yang mengumpulkan Bani Fihr dan Bani ‘Adi di atas Bukit Safa ? Di tempat itulah Rasulullah Muhammad Saw bertanya
“Apakah kamu sekalian akan percaya atau tidak sekiranya aku ceritakan bahwa di balik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerangmu ?”
Lalu mereka menjawab
“Sudah pasti kami akan mempercayaimu karena kami belum pernah mendengar percakapan dusta darimu”
Lalu kemudian Rasulullah pun melanjutkan
“Sesungguhnya aku ini pembawa berita…”
Sontak saja, kaum yang berkumpul itu menolak keras seruan Rasulullah Saw, bahkan paman beliau Abu Lahab menentangnya dengan keras seraya berkata
“Binasalah engkau Muhammad, apakah untuk ini saja engkau mengumpulkan kami ?”

Subhanallah.., begitu kerasnya tentangan dari kaumnya. Kebayang, seandainya kita ada di antara barisan kaum yang mendengar seruan itu. Bisa jadi kita menjadi salah satu penentang Rasulullah yang utama, na’udzubillah…

Sungguh, hidayah itu hanyalah hak mutlak Allah semata. Tiada daya upaya kita untuk menggerakkan hati kecuali ada hidayah dari Allah SWT. Perlu kita garis bawahi bahwasanya hidayah itu bukan saja term yang digunakan untuk menyatakan adanya seseorang yang kemudian memeluk Islam. Tapi hidayah di sini diartikan secara luas sebagai petunjuk, penggerak, arahan ilahi. Ketika kita tidak tergerak untuk shalat, lalu kita tergerak untuk shalat, berarti kita telah mendapatkan hidayah. Ketika kita tergugah untuk beramal sedangkan sebelum-sebelumnya kita jauh dari aktivitas ini, itu juga dapat disebut bahwa kita mendapat hidayah. Di sisi lain hidayah itu tidak terlepas dari ikhtiar kita sebagai manusia. Begitu banyak orang yang akhirnya menemukan iman itu dari pekerjaannya, penemuan-penemuan, bahkan dari akhlak seorang muslim sekalipun.

Menarik, salah satu contoh kecil di kawasan Selwerd ini. Dalam 3 bulan terakhir, saya menjumpai beberapa orang Belanda yang akhirnya menjadi muslim. Di masjid sederhana itulah kadang dalam 2 minggu sekali ada saja orang yang bersyahadat, subhanallah. Ternyata ada kisah yang saudara-saudara kita itu sangat berusaha keras mencari Tuhan sampai akhirnya mendapatkan hidayahNYA. Mungkin saudara-saudara kita itu mengadopsi lagunya Blink 182

…….
We’ll never give up, it’s no use
……

Marilah kita jaga sesuatu yang tak ternilai harganya ini. Sesuatu yang dapat membuat kita tersenyum saat kita berjumpa dengan Rabb Penguasa Semesta.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika

Duhai Allah Pengenggam jiwa-jiwa ini, Yang Maha Membolak-balikan hati ini, tetapkanlah hati ini pada jalanMu.

Tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada di antara dua ketetapan Allah SWT. Barangsiapa yang Dia kehendaki , Dia luruskan, dan barangsiapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

~Wahono~


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 21 Ramadhan 1430 H

Oleh: Agnes Tri Harjaningrum

Pernah menyontek? Jujur, aku pernah. Masih tergambar jelas dalam ingatanku, ketika ibu guru matematika SMP ku menghampiri tempat dudukku.”Buka!” Ketusnya. Gemetaran, aku ambil lembar kertas paling atas di depanku. “Buka lagi!” Suaranya makin galak. Aku ikuti perintahnya sambil mengutuki degup jantungku yang bunyinya makin keras. “APA INI?!” Teriaknya. Tubuhku seketika lemas. Mati aku! SRET…SRET…! Ibu guru yang galak itu merobek-robek kertas contekanku. Uuh wajahku mendadak  bersemu merah bak kepiting rebus. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya keluar kelas, agar terhindar dari tatapan mata teman-temanku.

Yup, di masa-masa badung itu aku memang kerap menyontek dan ketahuan menyontek. Kapok? Sebelum aku memutuskan memakai jilbabku, sayangnya tidak. Selain karena kemalasanku belajar, menyontek juga  menurutku saat itu asyik, karena membuat adrenalinku meningkat. Maklumlah namanya juga ABG, sambungan sel-sel dalam otaknya memang belum waras benar. Tapi aku berani sumpah, meski begitu, aku hanya menyontek di saat-saat ulangan harian. Masih ada kesadaran dalam diriku untuk menghargai  momen-momen ujian besar. Aku tidak berani dan tidak pernah menyontek saat ujian naik kelas apalagi ujian Ebtanas.

Belasan tahun berlalu sejak masa-masa itu. Masa yang membuat aku kini bisa geleng-geleng kepala tapi juga tertawa. Tapi aku bukan hanya geleng-geleng kepala. Aku terhenyak dan tak bisa lagi tertawa ketika mendengar cerita sahabat-sahabatku tentang menyontek berjamaah  yang kini sedang menjadi trend di lakukan di sekolah-sekolah di Indonesia.

“Anak-anak kelas 6 SD yang bersekolah di SD X itu semua menangis. Sebetulnya mereka selalu diajari untuk jujur oleh guru-gurunya. Tapi ketika hari H ujian Nasional tiba, guru pengawas dari sekolah lain malah memberitahu jawaban-jawaban soal ujian pada anak-anak itu. Tentu saja mereka menolak. Guru-guru SD X tak terima dan melaporkan kejadian itu pada dinas pendidikan. Rupanya pak pejabat cepat tanggap. Esoknya, si pejabat dinas sendiri yang datang mengawas. Dan ternyata oh ternyata…Tahu apa yang diucapkan oleh si Bapak dinas pendidikan yang terhormat ini pada anak-anak kelas 6 SD itu? Kalian anak-anak yang sombong! Diberi tahu jawaban supaya nilai kalian bagus malah tidak mau.” Begitu kira-kira cerita dari salah seorang sahabatku.

Haaa?! Aku melongo. Entah apa yang ada dalam pikiran para pejabat pendidikan itu. Rupanya kini sudah menjadi rahasia umum jika sebelum hari H ujian Nasional tiba, kunci-kunci jawaban mulai beredar. Bahkan ada peraturan tak tertulis, agar guru-guru pengawas diminta untuk membiarkan saja anak-anak murid menyontek. Kalau belum punya contekan ya diberi saja. Edan! Jaman sudah edan kan. Mendengarnya, aku jadi teringat guru matematiku dulu itu. Kemana perginya sosok-sosok guru macam itu, yang meski galak tapi tetap setia mengajarkan apa arti kejujuran.

Lima tahun aku tak pulang ke negeriku. Tapi kepulanganku rupanya membawa cerita pilu. Tak hanya sekali aku mendengar cerita serupa ini. Lagi-lagi aku mendengar cerita yang sama ketika aku hendak mendaftarkan anak-anakku ke sebuah sekolah, sebut saja sekolah Y. Untuk masuk ke sekolah Y ini memang harus waiting list, karena itu meski aku akan kembali tinggal di tanah airku entah kapan, aku tetap saja mendaftar.

Seorang ibu guru yang ramah saat itu menemuiku. Aku bertanya soal macam-macam, termasuk tentang bagaimana output sekolah itu. Mendengar jawaban sang ibu guru, aku kembali terpaku. “Hmm..sulit untuk bicara soal output,” ujarnya pelan. “Kami selalu mengajarkan kejujuran pada anak didik kami. Tapi ketika dunia di luar sana berkata lain, apa yang bisa kami katakan,” Lirihnya. “Waktu itu, setelah ujian nasional matematika selesai, anak-anak SMP didikan saya berhamburan memeluk saya. ‘Hu..hu..hu…Ibuuuu! Mereka (siswa sekolah lain) sudah menyelesaikan soal hanya dalam waktu tigapuluh menit! Hu..hu..hu’. Anak-anak didik saya bertangisan. Saya hanya bisa diam. Anak-anak sekolah lain itu sudah mendapatkan jawaban soal dari guru-guru mereka sendiri sejak sehari sebelum ujian dimulai. Kami tentu saja tidak bisa melakukan itu dan saya tahu anak-anak didik saya tidak ikut-ikutan. Mereka tetap berjuang mati-matian menyelesaikan soal, tanpa sebelumnya tahu jawaban. Saya tak tahu lagi apa yang harus saya katakan. Saya hanya bisa bilang,’Yang pasti Allah tahu dan akan melihat kejujuran kita Nak.”…

Mataku seketika berembun. Kuhapus pelan-pelan air yang keluar dari sudut mataku, khawatir ibu guru itu memerhatikan.“Bahkan anak-anak yang tidak memiliki handphone pun, diminta untuk membawa handphone saat ujian, supaya bisa mendapatkan jawaban,” lanjut ibu guru. “Hasil ujian anak-anak didik saya memang menggembirakan. Tapi kalau anak-anak sekolah lain nilainya sepuluh semua, saya bisa apa?”

Hiks. Apa yang sesungguhnya terjadi Tuhan? Menyontek berjamaah, bahkan dianjurkan oleh para pejabat tingkat atas pendidikan. Ini gila! “Ibu, mengapa bisa terjadi seperti itu, maksud Diknas apa Bu?” Tanyaku tak sabar. “Saya tak tahu pasti. Tapi dengar-dengar sih , ada uang tambahan dari pemerintah jika sekolah-sekolah yang mereka pegang mendapat nilai rata-rata ujian yang memuaskan.” Glek! Aku hanya bisa menelan ludah. Lagi-lagi hanya karena uang? Hanya karena uang, para pejabat pendidikan itu mampu menggadaikan pentingnya sebuah kejujuran. Hah…aku betul-betul tak habis pikir! Mau jadi apa anak-anak itu nanti? “Ibu, kalau begini caranya, entah kapan saya akan benar-benar tinggal dan pulang ke negeri saya sendiri.” Si ibu hanya mengulum senyum. “Yah begitulah kondisi pendidikan di Indonesia sekarang,” ujarnya kelu.

Ketika aku menceritakan kejadian ini pada suamiku, ia bilang ini namanya ‘ripple’. Untuk menuju ke ‘steady state’, keadaan tenang, selalu ada jungkir balik gelombang sebelumnya. “Negara kita sekarang sedang bergelombang. Nanti ada saatnya ia menjadi tenang,” lanjut suamiku. Ya, mungkin suamiku memang salah seorang yang optimis terhadap nasib bangsa. Tapi tetap saja, sebuah keoptimisan, sebuah keadaan tenang harus diraih dengan sebuah perjuangan bukan?

Di bulan ramadhan ini, aku menjalani puasaku di negeri orang, negeri yang katanya sekuler, tak percaya pada Tuhan. Ramadhan di negeri ini sungguh kontras dengan di negeriku. Di negeriku, gema suara adzan dimana-mana terdengar. Mesjid-mesjid pun ramai dikunjungi orang. Acara-acara rohani di TV tiba-tiba muncul seperti jamur di musim hujan. Acara buka puasa bersama dimana-mana digelar, khataman Quran, menyantuni anak yatim, pengajian; hampir seluruh kegiatan begitu agamis. Orang-orang pun begitu gembira menyambut ramadhan. Semua itu seolah menunjukkan betapa ‘sholeh’nya negeriku, negeri yang hampir seluruh penduduknya mengaku ber Tuhan. Namun bila kuingat lagi cerita sahabatku dan ibu guru itu, aku miris, sungguh miris. Apa artinya semua gembar-gembor itu, kalau arti sebuah kejujuran telah ramai-ramai digadaikan, bahkan oleh sebuah institusi yang bernama pendidikan! Adakah yang mau memperjuangkan? (Agnes Tri Harjaningrum)

Ps:
Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormatku pada para pendidik. Aku sadar, masih banyak pendidik yang sangat baik di negeriku. Masalahnya hanya terjadi pada segelintir orang yang kebetulan sedang memangku jabatan dan menjadi pengambil kebijakan.