Diary Ramadhan edisi 13 Ramadhan 1431H

Oleh: Arramel

Sekilas melihat cuaca diluar kantor yang tidak bersahabat alias hujan mengingatkan kenangan penulis saat akan memasuki masjid Agung di alun-alun kota Bandung pada tahun 2002. Pandangan mata tak luput melihat hiruk pikuknya para pedagang yang menawarkan makanan untuk sekedar berbuka, khususnya di areal jalan dalem kaum menjelang adzan magrib sudah menjadi pemandangan umum Memori ini membawa kembali pikiran ketika punggung serasa pegal karena isi tas yang berisikan dua textbook Organic Chemistry setebal buku Harry Potter. Maklum pelajar dengan modal low-budget jadi pinjaman buku-buku kuliah sudah menjadi hal lumrah untuk dipinjam hampir genap satu semester. Sesaat sebelum memasuki pelataran masjid, ada satu anak perempuan kecil yang segera menyodorkan tangan kecilnya meminta sedekah dengan muka memelas. Hasrat hati ingin sekali memberikan sebagian recehanku, tapi berhubung uang yang ada saku sangat pas untuk perjalanan pulang ke rumah, dengan berat hati aku menggelengkan kepala kepadanya. Sesaat dia seperti kecewa dan sedih, tapi mimik wajahnya mengatakan jangan patah arang dan kembali tersenyum..

Badan ini kembali melangkah masuk ke bagian dalam masjid, terlihat beberapa pojok sisi masjid sudah diisi dengan orang yang sedang mengaji. Namun, ada juga orang yang memanfaatkan sejuknya udara dengan memejamkan mata sambil menunggu beduk tiba. Langkah kaki kuteruskan ke areal tempat wudhu yang ternyata sudah cukup padat dengan para jemaah lainnya. Basuhan air segar menerpa wajah dan segera menghilangkan kepenatan hari yang padat dengan jadwal kuliah dan praktikum. Selepas shalat sunnat, kucoba untuk menyempatkan membaca ayat-ayat suci Al-Qurán. Kering rasanya jika tidak melafazkan barang beberapa bacaan singkat tapi cukup bermakna apalagi di bulan suci ini, nikmat kita terus berlipat dengan nilai pahala yang berbeda dari yang biasanya. Kilasan surat An-Nisa di beberapa petikan ayat yang kubaca sungguh mengangkat harkat insan akhwat dimata Islam. Entah kenapa bacaan ini mengingatkan penggalan ingatan ketika melihat berita di TV ataupun diskusi singkat dengan rekan sejawat di kantor yang mengesankan bahwasanya Islam secara terang-terangan menekan posisi wanita, baik di kehidupan keluarga ataupun masyarakat secara umumnya. Akan tetapi, bagi para umat muslim tentunya sebagian besar mengetahui jika posisi wanita khususnya ibu adalah peluang untuk mengarahkan langkah kaki ke surga ilahi.

Satu suap lagi ya anakku sayang.. Hampir satu jam sendok kecil ini bulak-balik memasukkan asupan bagi si kecil yang umurnya tak terasa hampir berusia satu tahun. Pandangan matanya nan bersih dan tanpa beban sungguh menyegarkan pikiran dari peliknya pekerjaan di kantor. Karakter bayi memang sangatlah unik, setiap anak memiliki ciri khasnya masing-masing. Prilakunya yang menerima apa saja yang diberikan kadang harus disikapi dg hati-hati karena pola fikir anak yang belum terbentuk mana yang baik atau buruk bagi dirinya. Oleh karena itu, tugas orang tua menjadi sangat vital membantu serta mengarahkan sifat ataupun tingkah laku anak di masa depan. Terlepas kedua peran ibu dan ayah besar sama bobotnya, namun penulis ingin sekali mengangkat betapa kinerja ibu sangatlah penting untuk mendidik anak ke jalan yang diridhai oleh Alloh SWT. Maka tak salah jikalau ada kalimat ”pintu surga berada di kaki ibu “. Semua usaha susah payah yang dilakukan oleh para ibu patut diacungi jempol dan disyukuri. Teringat ketika masa dimana penulis masih menduduki sekolah dasar kelas satu, ibu mencoba untuk selalu membangunkan anaknya yang sukar bangun pagi agar pergi ke sekolah. Tak lupa menyiapkan sarapan serta menyiapkan pakaian putih-merah.Ketika anak beranjak dewasa, ibu pula yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku, alat tulis dan lain-lain. Tatkala sang anak sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, sang ibu dengan tulus selalu mendoakan agar anaknya sukses dunia dan akhirat. Semoga semua usaha dan doa mampu mengiringi semua para ibu ataupun calon ibu dibalas di hari nanti, amin..

Secercah rasa lelah terlihat di pelupuk mata sang istri kala membereskan sisa makanan si kecil. Tak luput dari pandangannya, hasil cucian yang masih bertumpuk kadang membuat rasa semangat membereskannya sirna. Serta tugas lain sudah menanti seperti menyiapkan makan malam bagi anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, para istri terus menjalani peranan dan tugas secara ikhlas dan istiqamah. layaknya siklus metabolisme tubuh yang terus berputar setiap saat.

Sekelumit tulisan singkat penulis diatas hanyalah sedikit dari rangkaian roda kehidupan wanita secara umum. Mungkin sedikit tulisan di atas bisa menjadi pengingat bahwasanya semua usaha serta doa para ibu, istri, ataupun bahkan si kecil akan menjadi bekal yang akan dinilai oleh Alloh SWT menuju lingkaran tanpa batas di akhirat kelak, amin yaa robbal alamin..


Diary Ramadhan edisi 12 Ramadhan 1431H

Oleh: Fajar Budi Prasetyo

Al-Quran adalah salah satu mukjizat dari nabi kita Nabi Muhammad SAW. Tak perlu diragukan lagi ke-absahan nya. Salah satu buktinya yang termudah adalah tidak adanya perubahan konten Al-Quran selama lebih dari 1300 tahun; waktu yang sungguh luar biasa untuk sebuah “bacaan” yang dikaji oleh 1,5 miliar penduduk bumi. Jumlah itu hanyalah jumlah penduduk muslim sekarang, belum ditambah penduduk muslim dunia dari zaman nabi Muhammad hingga sekarang yang telah wafat, ditambah lagi penduduk dunia yang beragama lain yang juga mempelajari Al-Quran. Subhanallah.. Hal ini hanyalah satu dari banyak sekali kehebatan Al-Quran yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah dalam surat Al-Hijr ayat ke 9 Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Begitu kira kira bagaimana Allah meyakinkan umatnya tentang keabadian Al-Quran. Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan diturunkannya Al-Quran. Terlepas dari bagaimana Allah menurunkan Al-Quran, dan kapan waktu tepat diturunkannya, bulan Ramadhan menjadi sangat special bagi kita untuk kembali menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Pernah saya mengikuti sebuah kajian tentang kehebatan Al-Quran. Di dalam kajian tersebut disebutkan, mengapa zaman sahabat sahabat terdahulu disebutkan sebagai generasi terbaik. Alasannya menurut pemberi materi saat itu ada 3:

  1. Menggunakan Al-Quran sebagai satu satunya sumber sebagai dasar pemikiran hidup kita
  2. Menerapkan apa yang kita baca dalam Al-Quran sebagai rukun hidup kita. Dalam arti kata, Allah menurunkan Al-Quran agar kita mengerti apa yang Allah “mau”.
  3. Berusaha membuang jauh-jauh apa yang Allah tidak suka dengan menjadikan Islam sebagai titik tolak perubahan kita.

Ulasannya masih cukup panjang, namun intinya ternyata juga pada Al-Quran lah sabahat-sahabat nabi berpedoman. Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi pada teman-teman tentang pengalaman saya belakangan ini berinteraksi dengan Al-Quran.

Ada kebiasaan khusus yang bapak saya contohkan ketika membaca Al-Quran. “Jangan lupa baca artinya, kandungan Al-Quran akan lebih terasa ketika kita mengerti apa yang kita baca..”. Semenjak saat itu saya kadang-kadang (kalo pas lagi semangat) menandai arti dari bacaan yang saya baca yang kira-kira sangat mengena pada saya pribadi (istilah sundana mah nujleb kitu tah..hehe). Ini adalah beberapa kejadian diantaranya.

Beberapa waktu kemaren saya sangat gelisah dengan kondisi beasiswa yang saya dapat. Karena satu dan lain hal beasiswa yang saya dapat tidak diterima secara penuh. Selain itu rencana rencana ke depan yang tadinya telah dipersiapkan secara matang mendadak batal semua. Beasiswa untuk melanjutkan kuliah tiba tiba gagal, tidak dapat dan lowongan pekerjaan pun masih nihil. Di saat keadaan yang tidak menentu seperti ini saya mencoba sedikit merenung. Apa yang salah ya? Tapi setelah sekian lama, jawabannya belum kunjung datang. Masih sedikit gundah gulana, sore itu saya coba untuk membuka Al-Quran. Dan seperti yang saya kira, belum sampai selembar Al-Quran itu saya baca, disurat Al-Ankabut ayat 60 sampai ayat 63 Allah menegur saya dengan cukup keras..

Ayat 60 : Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat 61 : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Ayat 62 : Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat 63 : Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).

Allahu Akbar..Maha Suci Allah yang menurunkan Al-Quran..Semua sumber jawaban ternyata bermula dari Al-Quran. Seketika saya terdiam dan mengutuki perbuatan saya yang sangat tidak bersyukur. Bahkan Allah sendiri yang menjamin bahwa nyamuk adalah makanan cicak. Saya jadi teringat salah satu khutbah Aa Gym dalam ceramah nya di PT.Samsung. Beliau bercerita bagaimana cicak yang tidak pernah stress sedikitpun walaupun rezekinya adalah nyamuk atau serangga yang notabene punya sayap semua. Bagaimana bisa dia tetap hidup dan masih bisa berkembang biak kalau bukan Allah yang menjamin rezekinya..

Sebenarnya banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari Al-Quran ketika saya benar-benar mencoba untuk mencari jawaban dari permasalahannya saya di Al-Quran. Sungguh bila kita benar benar berpedoman pada Al-Quran dan Al-Hadits insya Allah kita akan menjadi orang yang ditenangkan hatinya oleh Allah dan insya Allah termasuk golongan jiwa jiwa yang tenang (Al-Fajr Ayat 27).

Insya Allah nanti dilanjutkan pada seri hikmah Al-Quran selanjutnya …

-waktusubuh-


Diary Ramadhan edisi 11 Ramadhan 1431H

Oleh: Budi Arifvianto

Ya, di tahun 2006, tepatnya seminggu setelah gempa bumi yang menggemparkan Jogja, kota tempat tinggal kami, kehidupan rumah tangga itu kami mulai. Usia kami waktu itu tergolong muda, karena kami masih terbilang fresh-graduate. Aku dan istriku baru saja menyelesaikan S1. Beberapa bulan setelah wisuda aku lalu bekerja di universitas almamaterku, sedangkan istriku masih harus menyelesaikan pendidikan profesi setelah S1-nya tamat. Kira-kira 6 bulan setelah aku bekerja, kami menikah.

Tak ubahnya seperti sepasang suami istri yang lain, kehadiran seorang anak setelah pernikahan tentu saja menjadi sebuah keinginan bagi kami. Semula kami sempat ragu dan berpendapat mungkin lebih baik menunda untuk mempunyai anak, apalagi setelah mendengar nasehat dari orang-orang di sekitar kami yang berharap aku dapat memberikan waktu untuk istriku menyelesaikan sekolahnya dulu, kemudian baru mempunyai anak. Perasaan ingin menunda punya anak itu ternyata hanya beberapa bulan saja bersemayam di hati kami. Melihat teman-teman kami yang sudah menikah dan segera mempunyai anak, rupanya kami tergiur juga. Senang rasanya bila ada seorang anak di dalam kehidupan kami. Kami memimpikan seorang anak.

Setahun usia pernikahan kami, belum juga kami mendapatkan mimpi kami itu menjadi kenyataan. Tapi, aku dan istriku bisa mengerti keadaan pada saat itu. Tugas istriku selama pendidikan profesi ternyata cukup berat. Seringkali tugas itu mengharuskannya jaga malam di rumah sakit atau pergi ke rumah sakit di luar kota. Tentu saja, selain pikirannya, fisiknya juga terkuras selama mengikuti pendidikan. Pun demikian denganku. Tahun pertama pernikahan kami, kuisi kebanyakan hari-hariku dengan mengerjakan tugas-tugas S2-ku yang cukup menyita tenaga, pikiran dan seringkali membuatku stres. Program S2-ku ternyata tidak semudah yang kukira. Dari situlah kami pahami, kecapekan dan pikiran yang sering bercengkrama dengan stres itulah yang mungkin membuat kami belum dikaruniai seorang anak.

Setahun lebih setelah menikah, akhirnya istriku berhasil menyelesaikan pendidikannya. Berarti, satu tugas sudah selesai; sebuah tugas pula untukku untuk membantu menyelesaikan sekolah istriku. Keadaan ini menurut kami sudah lebih baik daripada setahun sebelumnya. Demikian pula dengan dinamika S2 ku; sedikit demi sedikit aku telah menemukan ritme bagaimana aku harus belajar selama studiku. Saat itulah kami sudah merasa jauh lebih siap dengan mimpi kami dan berharap mimpi akan anak itu akan segera terwujud. Kami mulai intensif berkonsultasi dengan dokter obsgin.

Langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mengikuti program pemicu ovulasi. Namun, hasilnya masih nihil. Istriku belum juga hamil. “Ah, tidak apa-apa, baru pertama, pasti ada kesempatan yang lain.” gumamku. Program itu kami ikuti lagi beberapa kali, tetapi hasilnya selalu saja masih nol persen. “Hmm… kenapa ya?” aku dan istriku sering berucap demikian.

Bulan terus berganti seiring dengan upaya kami di kala itu untuk mewujudkan mimpi hadirnya seorang anak. Rasanya masih belum putus harapan kami. Kami ikuti lagi program dari dokter obsgin kami, termasuk check-up tentang kesuburanku. Ternyata normal. Tidak ada apa-apa. Demikian juga dengan istriku. Serangkaian tes di laboratorium juga menunjukkan tidak ada masalah dengan istriku. Tidak ada gangguan apapun yang mungkin bisa menghalangi kehamilan.

Bulan Maret 2008, istriku harus terbaring di rumah sakit. Bukan karena mau melahirkan, tetapi karena operasi di salah satu organ pencernaannya. Hal ini sejenak mengistirahatkan kami untuk berlari mengejar mimpi akan seorang anak. Fokusku saat itu adalah istriku sehat kembali. Sepintas aku tersadarkan bahwa inilah jalan Alloh memudahkan aku dalam menghadapi cobaan berupa sakit yang dialami istriku, yakni dengan menunda hadirnya anak dalam kehidupan kami.

Setelah sehat kembali, kami mulai lagi menyusun mimpi kami akan seorang anak. Tahun itu, aku pun berhasil menyelesaikan S2-ku. Alhamdulillah, meski sempat terseok-seok di awal, hasilnya bisa membuatku tersenyum. Semangatku dan istriku menyeruak lagi, karena kami merasa sudah tidak ada beban yang mengharuskan kami bergulat dengan stres. Namun, ternyata usaha kami untuk mempunyai anak belum juga membuahkan hasil. Satu per satu rasa penasaran kami mulai berubah menjadi kegelisahan. Istriku apalagi. Aku bisa merasakannya. Gelisah, gundah, kadangkala minder. Seringkali istriku sering menolak jika kuajak pergi ikut reuni atau bertemu dengan teman-teman kami. Alasan yang sepele; karena biasanya mereka selalu bertanya apakah sudah hamil atau belum. Kalau dijawab belum, mereka lantas bilang “lho kok belum? Ditunda ya?”. Belum lagi kalau bertemu dengan teman-teman yang notabene umur pernikahannya lebih muda dibanding kami, tetapi sudah menggendong anak-anaknya yang lucu.

Tiga tahun usia pernikahan kami, usaha kami mewujudkan mimpi itu masih belum juga membuahkan hasil. Dalam doa kami pun tak luput ungkapan pinta kepadaNya. Tetapi, rasanya Beliau belum atau masih menunda jawaban doa-doa kami. Dokter obsgin kami pun agaknya juga sudah mulai berpikir keras. Program selanjutnya masih kami ikuti. Kami memutuskan untuk ikut program inseminasi buatan. Pikirku, mungkin inilah program ingin anak termahal menurut takaran finansial kami. Bagaimana tidak, sebagian uang tabungan kami relakan untuk program itu, sementara saat itu gajiku jarang sekali menyisakan sejumput uang untuk ditabung. Gaji istriku bekerja juga hanya cukup untuk membantuku menghadapi pengeluaran-pengeluaran yang insidentil.

Program inseminasi buatan itu dilakukan dengan sangat hati-hati, baik oleh kami maupun dokter obsgin kami. Dag-dig-dug hati kami sering berdebar menunggu hasilnya. Pada bulan yang sama, kami menunggu hasilnya, berharap istriku terlambat datang bulan dan hamil. Sehari dua hari istriku terlambat. Tetapi, di hari ketiga ternyata mengharuskan kami untuk terus bersabar menghadapinya. Belum hamil lagi. Semenjak saat itulah, kami merasa, ya sudahlah… kami merasa sudah melakukan apa yang terbaik. Apa yang kami miliki, tabungan, waktu, pikiran dan upaya sudah kami kerahkan semuanya. Tapi, kalau hasilnya memang belum, ya mau bagaimana lagi. Dokter obsgin kami sebenarnya menyarankan untuk memulai program inseminasi lagi. Tetapi waktu itu kami menolak. Selain alasan finansial, aku juga harus pergi ke luar kota untuk sebuah konferensi. Kami merasa tidak mempunyai waktu yang tepat saat itu untuk memulai program yang serupa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kami pun larut dalam kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan risetku di kampus, sementara istriku dengan prakteknya di sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Saat itu juga, aku berkutat dengan niatanku mengambil program S3, sementara istriku juga mulai tergerak untuk melamar pekerjaan di tempat yang lain. Dan ternyata kesibukan itu cukup membuat kami merasa ‘terhibur’, meskipun kadangkala kami juga sering saling bercerita senangnya bila sudah ada anak. Upayaku mencari sekolah S3 ternyata juga tidak mudah. Beberapa universitas aku daftar, termasuk departemenku di Groningen sekarang, membuatku sedikit kecewa karena tidak menerimaku. Beberapa universitas menolakku karena proposal yang kutawarkan tidak sesuai dengan calon supervisornya. Sementara, aplikasiku di salah satu universitas di Belanda dimentahkan pada seleksi untuk beasiswanya. Pun dengan istriku. Upayanya menembus menjadi pegawai kesehatan berlabel abdi negara ternyata harus melalui tahap gagal dulu. November 2009, mungkin menjadi bulan dimana kami sama-sama berjuang. Secara hampir bersamaan, istriku mengikuti tes kerja untuk yang kedua kalinya, sementara aku terbang ke Groningen mengikuti interview sebagai kandidat mahasiswa S3. Impian kami tentang anak sudah bisa kami alihkan. Doa yang kami haturkan kepadaNya pun mulai diisi dengan harapan diterima sekolah dan bekerja. Akhir tahun 2009, Alloh memberikan jawabanNya. Aku diterima sebagai mahasiswa S3 di Groningen, sementara beberapa minggu kemudian istriku mendapatkan jawaban juga atas doanya untuk diterima bekerja. Tetapi, akhirnya istriku memutuskan untuk melepas peluangnya bekerja, lalu ikut denganku ke Groningen. Hingga awal tahun 2010, kesibukan kami beralih pada persiapan keberangkatan ke Groningen yang ternyata sangat sempit waktunya. Awal bulan Maret 2010 aku sudah harus memulai proyek S3 ku.

Suatu pagi di tengah-tengah sibuknya mempersiapkan koper dan isinya, istriku berkata padaku, “Mas, aku kok terlambat ya?” “Hah, apa iya?” jawabku,”kalo begitu nanti sore kita beli alat tes kehamilan.” Keesokan harinya, istriku mencoba melakukan tes kehamilan. Dua strip. “Ini ‘kan tanda hamil..” kata kami berdua seolah tak percaya. Kami memang belum percaya. Selang beberapa hari, istriku melakukan tes lagi. Ternyata hasilnya tetap… dua strip. “Coba kita beli merek yang lain, yang paling bagus.” saranku kepada istriku untuk membeli alat tes kehamilan lagi. Cek lagi setelah beberapa hari kemudian. Dan ternyata, dua strip lagi. Pikiran kami mulai melayang lagi ke impian kami yang sudah teralihkan. “Benarkah istriku hamil?” kataku dalam hati. Di tengah perjalanan pulang dari Jakarta untuk mengambil VISA kami ke Belanda, kami memutuskan untuk pergi ke dokter obsgin lagi. Keesokan harinya, dokter obsgin kami memeriksa rahim istriku dengan USG.

Alhamdulillah, ternyata apa yang kami nantikan telah hadir, meskipun kami sudah tidak memikirkannya dalam-dalam. Setitik hitam terlihat di foto USG istriku. Dokter obsgin menunjukkan adanya titik hitam sebagai tanda adanya embrio di rahim istriku. Istriku hamil juga akhirnya. Pulang dari dokter obsgin, kami berdua seakan masih tidak percaya. Kami kabarkan berita gembira itu kepada orang tua kami semua. Tetapi di hari itulah, kami merenungi, apakah ini bentuk rasa cinta Alloh kepada kami? Ujian yang kami lalui dengan tertundanya kehadiran seorang anak ternyata kami rasakan sebagai sebuah nikmat dariNya di hari itu. Bagaimana tidak. Jika kami menoleh ke belakang, kami melihat skenario Alloh yang begitu hebat. Mungkin Alloh menunda kami mempunyai anak agar aku bisa merasakan nikmatnya bisa menyelesaikan studi S2-ku dengan lancar serta membuat riset yang akhirnya bisa menjadi modal untuk S3-ku. Istriku juga bisa merasakan nikmatnya selesai sekolah dan bisa bekerja sesuai keinginannya tanpa terganggu dahulu oleh tangisan si buah hati. Selain itu, kami bisa merasakan bagaimana indahnya hidup berdua terlebih dahulu, bisa traveling kemana-mana tanpa harus merasa terganggu mengganti popok si bayi. Kami bisa membeli dan memenuhi apa yang kami inginkan terlebih dahulu tanpa harus ada perasaan khawatir kekurangan dana untuk membeli peralatan bayi saat itu. Belum lagi, Alloh mungkin memilihkan saat yang tepat dimana anak kami nanti lahir ketika kedewasaan kami sudah hadir, kesabaran kami sudah terasah, serta pengetahuan kami sudah diniliaiNya cukup. Subhanalloh… Ya Alloh, inikah gerangan cinta dariMu kepada kami? Hari itu, Jumat, 19 Februari 2010, tepat enam bulan yang lalu, empat hari sebelum kami berangkat menuju Groningen. Hari-hari yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Groningen, 19 Agustus 2010


Diary Ramadhan edisi 10 Ramadhan 1431H

Oleh: Rahmad Mahendra

Lima belas soal mata pelajaran Kimia itu telah mereka tuntaskan di siang yang terik. Hamzah dan Iqro, dua sahabat semenjak sekolah dasar, menyelesaikan satu-satunya pekerjaan rumah di akhir pekan kali ini. Tidak seperti akhir pekan biasanya ketika setidaknya tiga dari lima mata pelajaran di hari Senin memiliki tugas, LKS, atau laporan praktikum. Belum lagi jika dihitung dengan PR untuk hari Selasa sampai Jumat pekan depannya. Pekan ini, tampaknya guru di SMA Hamzah dan Iqra bersekolah mengekang ‘nafsu’ mereka untuk memberikan setumpuk tugas untuk para siswa. Pekan pertama Ramadhan. Entah maksudnya supaya siswa punya lebih banyak waktu untuk beramal. Wallahu’alam.

“Zah, enaknya kita ngapain ya?”, Iqro memasukkan bukunya ke dalam tas. “Aye males balik nih sekarang, adek-adek aye lagi pada rame di rumah. Heboh pasti”

“Jalan-jalan yuk, Ro. Kapan lagi? Biasanya weekend tugas-tugas numpuk, cuma sempat main bola sabtu di lapangan”

“Ogah ah. Panas di luar. Bedugnya kan masih lama, Zah.” Iqro malas-malasan, malah nyender di pojok ruangan setelah mengemasi tasnya. “… kitamain game baru XBox lo aja ya, yang baru Lo beli bulan lalu.”

“Bosen ah. Jagoannya kalah mulu di stage 8. Boss nya terlalu jago deh. Sok aja atuh, kalo Lo mau maen. Gue ngenet aja deh, siapa tau ada status-status seru di Pesbuk.”

“Ah, Lo nya aja yang ga bisa maen. Sini aye ajarin.” Iqro menyalakan TV set milik Hamzah. Sejak mereka masih berseragam putih merah, Iqro telah dianggap bagian dari keluarga Hamzah sehingga Iqro tidak canggung di rumah gedongan itu.

“Babe Nyak Lo mana, Zah? Dari tadi sepi banget nih rumah?”

“Abah dan Emak lagi nengokin Mang Udin ke Karawang. Masih ingat Mang Udin ga yang dulu jadi supir Abah lima tahun lalu? Mang Udin sakit keras kabarnya”

“Innalillahi. Moga Allah memberikan kesembuhan”. Iqro melantunkan doanya, kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya kepada Iqro, “Kalau Vidi Aldiano?”

“Vidi Aldiano?” Hamzah yang sudah menyalakan laptop mengerutkan kening.

“Abang Lo! Dah di Indonesia kan sekarang? Lah? Kan Lo yang pernah cerita, Abang Lo suaranya mirip Vidi Aldiano kalo lagi ngaji”

“Ooo.. Kang Alif” Hamzah cengengesan sendiri. Memang dia pernah cerita seperti itu tentang abangnya yang pernah juara 2 MTQ se-DKI ketika masih mahasiswa S1 di Depok dulu. “Iya, Kang Alif dah nyampe kemaren lusa dari Groningen. Dia libur dari kerjaan PhDnya sebulan ini. Kang Alif lagi ke rumah guru SMPnya. Katanya silaturrahmi. Ada-ada aja tuh orang. Biasanya kan orang silaturrahmi pas lebaran”.

Maka dua pelajar kelas XI IPA itu pun asyik dengan aktivitas masing-masing. Iqro dengan joystick memelototkan mata ke layar monitor, mengendalikan jagoannya menaklukkan tantangan game genre action terbaru itu. Sementara Hamzah pun super serius mengklik berbagai teks dan gambar di browser-nya, menghabiskan waktu dengan plurk, twitter, dan facebook.

***

“Assalammu’alaykum” Pintu kamar Hamzah diketok dan seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahunan telah hadir di sana.

“Waalaykumsalam,” Hamzah dan Iqro hampir bersamaan menyahut. “Dah pulang, Kang Alif?”

“Baru nyampai. Di sini toh kalian. Akang kira tadi tidak ada orang di rumah, soalnya ruang tamu dan ruang tengah sepi.” Kang Alif mengambil posisi duduk di depan dipan, membuka majalah yang dipegangnya. Tapi dia tidak membaca, malah melanjutkan percakapan dengan Hamzah dan Iqro. “Kalian lagi pada ngapain?”

“Nyobain game barunya Hamzah, Bang.” Iqro menjawab dengan semangat. Dia baru saja mengalahkan boss stage 10. Iqro kembali membuktikan kalau memang dia sekelas di atas Hamzah soal main game. Hamzah tak menjawab. Dia merasa jawaban Iqro cukup mewakili bahwa intinya mereka sedang mengisi waktu kosong dengan aktivitas santai.

“Wah, Ramadhan gini sayang loh diabisin waktunya main game. Mendingan kalian tilawah.” Kang Alif mulai berceramah di hadapan adik dan teman adiknya itu.

Hamzah cepat-cepat menimpali. “Kan abis Subuh tadi, Hamzah dah tilawah, Kang. Lima halaman lagi”

Kang Alif tersenyum. “Ya, ditambah atuh, Zah. Masa lima halaman aja dah puas. Ramadhan ini kesempatan mulia untuk mengencangkan amalan, Zah. Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi ummat-Nya. Sayang kan kesempatan emas dilewatkan begitu saja. Bukan ga boleh refreshing sih, tapi coba udah berapa lama dari tadi kalian di depan layar monitor?”

Mendengar uraian Kang Alif, Iqro memencet tombol pause joy stick, menghentikan permainannya yang sebenarnya sedang seru. Dia hampir mengalahkan boss stage 11. Hamzah garuk-garuk kepala.

“Coba nih kalian lihat,” Kang Alif menyodorkan majalah yang tadi dibukanya. “Majalah Lentera pekan ini mengangkat profil yang menginsipirasi nih. Kalian pernah dengar Ummi Maktum voice?”

Hamzah dan Iqro menggeleng.

“Mereka itu LSM yang bergerak salah satunya di bidang Al Quran. Tau ga keistimewaan mereka?” Kang Alif kembali menanyakan sebuah retorika yang tak berapa lama langsung dijawab sendiri. “Mereka itu orang-orang yang diberikan ujian oleh Allah, diambil penglihatannya. Mereka tuna netra namun punya semangat untuk membaca Al Quran. Mereka juga bercita-cita mengembangkan Al Quran Braille”.

Iqro tambah khusyuk mendengarkan penjelasan Kang Alif. Hamzah yang sebenarnya malas kalau sudah mendengarkan Kang Alif berceramah pun akhirnya tak kuasa men-hibernate laptop-nya.

“Coba bandingkan mereka dengan kita. Kita seharusnya bisa leluasa membaca Al Quran, sedangkan mereka sangat terbatas inderanya…” “Baca Al Qur’an itu fadhilahnya sangat istimewa loh. Satu huruf dalam Al Qur’an dibalas pahala satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Dan Alif Lam Mim itu tidak satu huruf, melainkan Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.”

Kang Alif mengambil posisi berdiri dan meninggalkan kamar Hamzah. Sementara Majalah Lentera itu sudah berada di tangan Iqro yang tampaknya tertarik membaca profil LSM yang diceritakan Kang Alif. Namun tak sampai dua menit, Kang Alif masuk membawa buku agendanya, membuka sebuah halaman yang di dalamnya terdapat potongan artikel berbahasa Inggris.

“Nih, ada cerita menarik lain. Artikel ini kisah tentang bocah-bocah Palestina umur sepuluh sebelas tahunan, tapi sudah hafal 30 judz Al Qur’an. Mereka yang masih belia dan hidup dalam kondisi serba sulit ini tidak hanya khatam baca Qur’an, tapi juga hafal… Kang Alif malu sama mereka. Bukannya nambah hafalan, malah sering lupa yang sudah dihafal karena jarang diulang”. Kang Alif terdiam, tapi hanya sebentar.

“Yuk, kita tilawah. Masih ada 20 menit lagi sebelum adzan Asyar. Kita manfaatkan sebaiknya waktu Ramadhan, ni’mat kelapangan dan ni’mat indera yang telah dianugerahkan-Nya. Kalian ambil wudhu dulu, kita gantian baca sambil menanti adzan Asyar”. Kang Alif dengan komandonya.

***

Kang Alif telah menyiapkan tiga mushaf Al Qur’an begitu Hamzah dan Iqro selesai dengan wudhunya. “Nah, dimulai dari Iqro dulu kali ya, kemudian Hamzah, lalu Akang, kemudian Iqro lagi. Sementara yang satu baca, yang lain nyimak.” Kang Alif dengan instruksinya ibarat trainer outbond.

Iqro yang dapat kesempatan pertama mengelak. “Eh, saya bagian mendengar saja, Kang”. Hamzah yang sedang membolak-balik mushafnya terkikik.

“Loh? Kok cuma mendengar?” Kang Alif tak menduga kalau Iqro menolak instruksinya. “Pake malu segala dikasih giliran pertama, Ro. Apa kamu baca setelah Hamzah?”

Iqro panas dingin. Hamzah cekikikan.

“Kenapa sih Hamzah malah ketawa?” Kang Alif bingung dengan tingkah mereka berdua. Hamzah mau menjelaskan, tapi Iqro sudah lebih dulu bersuara.

“Bukan soal gilirannya, Kang. Tapi… tapi… saya malu bacanya. Saya ngajinya masih terbata-bata,” penjelasan Iqro nyaris tak terdengar karena saking pelannya.

Kang Alif manggut-manggut dan Iqro masih meneruskan, “..jadi, saya mendengarkan bacaan Kang Alif dan Hamzah saja ya, Kang?”

Seutas senyum di wajah Kang Alif tapi bukan meremehkan. “Ro, kita kan bukan lagi lomba musabaqah toh. Justru kalau kamu membaca, kita punya kesempatan sama-sama bisa memperbaiki bacaan”.

“Kamu tau ga, Ro? Rasulullah itu pernah bersabda bahwa orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya, dengan kata lain belum lancar bacaannya, dia akan mendapat dua pahala”. “Jadi ga usah berkecil hati dulu, Allah pun tak akan sia-sia menghargai usahamu”.

“Tapi…” Kang Alif memberi penekanan pada suaranya.

“Tapi seterusnya kamu tentu tidak mau cukup dengan dua pahala saja kan? Karena itu harus banyak berlatih ngaji. Diperbanyak membacanya dan memperdengarkannya kepada yang lain, nanti dikoreksi jika ada kesalahan. Lama-lama kamu nanti juga akan lancar.”

<“Sama saja konsepnya dengan ketika kamu pertama kali belajar bahasa Inggris. Terbata-bata kan awalnya. Sekarang malah kalian dah jago cas cis cusnya. Itu kan karena sering mengulang, sering praktek. Belajar Al Qur’an juga begitu”

“Dan kamu, Zah”, Hamzah kaget tiba-tiba Kang Alif malah menasehati dirinya. Perasaan dia sudah lancar baca Al Qur’an semenjak kelas tiga SD deh.

“Kamu itu harusnya bantu Iqro. Dah tau kalo Iqro ada kesulitan untuk baca Al Qur’an, mbok ya diajarin toh. Dan Rasulullah pun bersabda dalam hadits shahih lain bahwa sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Ga cukup bisa menguasai untuk diri sendiri aja, Zah tapi kamu harus juga mengajarinya untuk orang lain. Pasti kamu tau kalo ilmu itu semakin nancep kalo kamu ngasih ke orang lain.” Kali ini Iqro yang cekikikan sementara Hamzah bersemu merah wajahnya dikuliahi oleh abangnya.

“Ya udah, kayaknya udah mau Asyar nih. Setelah Asyar aja nanti kita ngajinya sekalian mendengarkan radio pengajian,” Kang Alif dengan cepat mengambil alih kondisi.

Iqro yang pendengar setia radio, berhubung di rumah dia hampir selalu kalah bersaing dengan adik-adik perempuannya soal memilih channel TV langsung nyambar memberikan komentar, “Radio apa itu, Bang? Baru denger aye. Frekuensinya berapa?”

“Radio pengajian itu streaming online yang digagas teman-teman mahasiswa muslim Indonesia di mancanegara, Ro. Soalnya di luar negeri kan tidak segampang di Indonesia mendengarkan pengajian. Jadi dengerinnya di internet. Link-nya http://radiopengajian.com.”

“Nah kebetulan abis Asyar nih, ada siaran program Tahsin Ramadhan, disingkat TaRa. Langsung dipandu oleh ustadz yang ada di Yokohama, Jepang. Pas buat ngabuburit, perbaiki bacaan, nambah tabungan amal lagi.”

“Ya udah sekarang kita siap-siap ke masjid dulu, kalau bisa kita sudah sampai duluan sebelum adzan berkumandang”. Dan mereka pun menuju Masjid Baitul Jannah yang hanya berjarak dua ratus meter dari rumah Hamzah.

***

Apa kabar sahabat sekalian? Bagaimana target bacaan dan hafalan Al Qur’an kita?

3 pekan lagi Ramadhan tersisa, moga kita memanfaatkannya sebaik mungkin.

Jangan sampai mau kalah dengan Iqro yang sudah bertekad memperbaiki bacaannya,

Hamzah yang berniat mengkhatamkan minimal 20 judz,

Kang Alif yang memasang target dapat mengingat kembali semua hafalan yang mulai berkarat dan menambah hafalan satu surat baru.

Yuk, mari berlomba-lomba dalam target Ramadhan.

Mohon maaf jika ada bagian yang tidak berkenan.

Beberapa kesamaan nama, tempat, dan latar mungkin memang disengaja,

sejumlah data dan fakta yang disampaikan insya Allah benar adanya.

Lantai 12 bangunan 275 C,

setelah Tarawih di malam 8 Ramadhan 1431 H


Diary Ramadhan edisi 9 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

Without cause God gave us being;

Without cause, take it back again.

Jalaluddin Rumi

Seorang teman baru saja meninggal beberapa hari sebelum Ramadhan ini. Seorang perempuan cantik penuh energi yang usianya baru saja 31 tahun. Setelah dua tahun berjuang melawan kanker rahim yang telah menjalar kemana-mana, akhirnya dia pasrah. Dia menyerah. Ketika membuka laman Facebook-nya, membaca tangis kehilangan orang-orang yang mengenalnya, saya sempat tertegun ketika dia menulis ‘heaven is a concept’ di lamannya tersebut. Saya tidak pernah tahu apakah akhirnya dia menemukan kebenaran atas kata-katanya bahwa surga hanyalah sebuah konsep di kepala kita belaka.

Kematian teman saya itu menghantui saya berhari-hari. Membuat saya sedih dan merasa hidup ini sesuatu yang absurd. Pertanyaan yang dulu pernah saya tanyakan ketika kematian itu pertama kali bersinggungan secara pribadi dengan saya -mengapa kita ada di dunia ini jika hidup kita bisa sewaktu-waktu tercerabut- muncul lagi ke permukaan. Dan saya takut. Lalu bermimpi buruk.

Kematian sesuatu yang saya takuti. Sesuatu yang saya pikirkan terlalu sering. Mungkin karena dia diselimuti kegelapan. Sebuah perjalanan ke dunia tanpa peta. Tidak pernah ada orang yang pernah kembali dari kematian dan bercerita pada kita yang hidup ini mengenai situasi di dunia sana.

Kematian saya takuti mungkin karena pada kematian bersemayam neraka, yang menakutkan. Kadang saya menyalahkan komik jelek yang pernah saya baca waktu kanak-kanak yang melukiskan neraka dengan keseraman yang absolut yang seringkali memberi saya mimpi buruk hingga saat ini. Saya harus akui bahwa saya takut pada neraka, dan saya seringkali berharap bahwa nerakalah, bukan surga, yang cuma konsep di kepala manusia. Jalaluddin Rakhmat satu-satunya penulis yang bisa menenangkan ketakutan saya ketika dia mengatakan di dalam bukunya, Memaknai Kematian, bahwa neraka diciptakan seperti mesin cuci yang diciptakan untuk membersihkan semua kotoran di baju ini (perumpamaan ini saya sendiri yang membuat, bukan Kang Jalal). Neraka perlu karena disanalah kita akan membersihkan semua dosa kita, dan seperti kita menginginkan baju yang bersih, tentu saja kita juga menginginkan jiwa yang bersih.

Satu teori lain mengenai surga dan neraka yang sedikit lucu saya dapat dari sang ilmuwan Blaise Pascal yang punya teori yang menarik mengenai Tuhan, surga dan neraka. Katanya, akan lebih baik (baca:menguntungkan) kalau kita percaya Tuhan, karena jika Tuhan itu ada, jika kita mempercayai-Nya kita akan masuk surga, dan jika tidak, kita akan masuk ke neraka selama-lamanya. Jika Tuhan itu tidak ada, kita tidak rugi apapun selama hidup kita mempercayai Tuhan karena we’re dead anyway. Teori yang ditolak mentah-mentah oleh Richard Dawkins, sang atheis yang terkenal itu dengan alasan, urusan percaya-mempercayai Tuhan tidak bisa hanya mempergunakan hitungan untung rugi seperti itu. Membuat saya berpikir, apakah selama ini saya berhitung untung rugi dengan Allah? Membuat saya teringat Rabiah, sang sufi perempuan yang berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.” Dalam hal ini, Rabiah dan Richard Dawkins sepakat :D.

Satu hal lain yang saya takuti dari kematian adalah karena kematian berarti kehilangan, ketidakberartian. Saya tipikal orang yang clingy, posesif. Dan kematian adalah mimpi buruk untuk orang seperti saya. Dulu, ketika saya masih remaja, doa saya nomor satu adalah, ‘Ya Allah, mudah-mudahan saya tidak akan pernah merasakan kehilangan karena kematian selama saya hidup. Kalau boleh, semua orang yang saya sayangi harus meninggal setelah saya.’ Saya tahu, doa yang muskil (dan harus saya akui, kadang saya masih berdoa begitu sekarang). Dan Allah mengajari saya untuk menghadapi ketakutan saya paling besar itu dengan cara yang paling indah. Saya dibenturkan pada kematian orang terdekat saya. Tanpa disangka-sangka. Datang secara tiba-tiba.

Pada saat itu, bertahun-tahun yang lalu, ketika sayap kematian itu datang dan merengkuh orang terdekat saya, saya sempat mati rasa. Saya kesulitan untuk mencernanya. Saya butuh waktu lama untuk mengangkat kepala dari keterpurukan. Saya beruntung saya dilimpahi keluarga dan sahabat yang setia mau menemani pada saat-saat terburuk saya. Ketika saya merasa jadi orang paling malang sedunia, seorang sahabat menceritakan kisah seorang perempuan dalam cerita Budha, Kisagotami, seorang perempuan yang kehilangan anaknya, jadi setengah gila, dan meminta Budha untuk menghidupkan anaknya kembali. Budha berjanji untuk menghidupkan anaknya dengan bumbu yang harus dicari Kisagotami dari rumah yang tidak pernah mengenal kematian. Kisagotami berjalan dari rumah ke rumah mencari bumbu tersebut hanya untuk mendengarkan kisah sedih mengenai kematian dari tiap rumah yang dia kunjungi. Ada yang kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan orangtua, kehilangan saudara. Kisagotami berhenti bersedih ketika sadar ternyata kematian adalah sebuah keniscayaan dan kepedihannya dibagi oleh semua orang di bumi ini. Tanpa kecuali. Dan saya, seperti Kisagotami, belajar untuk melihat bahwa saya bukan satu-satunya orang yang mengalami kepedihan. Dalam bahasa sahabat saya, every one has their cross to bear.

Allah mengajarkan bahwa fitrahnya, kita tidak pernah memiliki apapun, semuanya milik Allah. Bahwa segala sesuatu yang kita kasihi suatu saat akan jadi cobaan untuk kita. Kita bukan pemilik belahan jiwa kita, atau anak-anak yang lahir dan mewarisi darah kita. Akan tetapi, buat saya, rasa kehilangan itu wajar, karena saya rasa, rasa kepemilikan juga fitrah yang diberikan Allah agar kita dapat menjadi ‘penjaga’ yang baik. Rasa memiliki dan perasaan kehilangan akan menjadi elemen keseimbangan yang datang silih berganti mengasah jiwa kita. Kepedihan akan jadi pupuk agar saya belajar untuk memelihara semua yang saya kasihi sebaik-baiknya karena saya tidak pernah tahu kapan semua itu akan hilang, dan saya harus belajar mengikhlaskan semua yang selama ini saya ‘miliki’ karena semua itu bukan milik saya.

Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Betapa sulitnya menerjemahkan kata itu ke dalam perilaku.

Satu lagi permasalahan besar saya ketika bersentuhan dengan kematian, saya cenderung fatalis. Ketika saya becermin pada hidup orang terdekat saya yang meninggal, saya ketakutan karena tiba-tiba, manusia seperti tidak ada artinya. Dunia akan terus berputar ketika kita sudah tidak ada. Dan perlahan-lahan, orang-orang yang menangisi kita akan berhenti menangis. Perlahan-lahan, kita akan dilupakan. Hal-hal yang kita wariskan di dunia ini akan hilang perlahan dan suatu saat, manusia bahkan akan lupa bahwa kita pernah hadir di dunia ini. Absurd dan menyakitkan. Saya kehilangan selera makan dan semangat hidup. Pertanyaan, ‘lalu untuk apa kita ada di dunia ini jika pada akhirnya kita akan jadi sesuatu yang terlupakan dan seolah-olah tidak pernah ada?’ muncul dan tidak mau pergi dari kepala saya. Butuh energi besar untuk mengusir pikiran negatif itu, yang kemudian selalu muncul lagi dalam riak-riak kecil (dan besar jika saya bersentuhan dengan kematian lagi seperti ketika teman saya meninggal). Saya selalu butuh untuk menguatkan diri saya sendiri bahwa saya, ya, saya mungkin tidak akan menciptakan sesuatu yang besar, akan tetapi, dengan remah kecil saya, saya dapat berkontribusi untuk dunia yang lebih baik dan insyaAllah anak-anak saya akan lebih baik dari saya, orangtua mereka. Setiap kali saya merasa tidak ada artinya, saya mengingat bahwa Islam mengajarkan bahwa tujuan manusia ada di dunia ini adalah untuk mencari ridha Allah dengan beribadah pada Allah, yang saya artikan sebagai beribadah dalam arti luas. Horizontal dan vertikal. Menciptakan surga di dunia ini dan dunia setelah kematian. Dan saya bertanggung jawab atas surga-surga itu. Saya harus melakukan sesuatu, tidak hanya berdiam diri meratapi nasib dan menunggu mati. Ucapan populer seorang sutradara, Stanley Kubrick, juga selalu menyemangati saya. Dia mengatakan, ‘The most terrifying fact about the universe is not that it is hostile but that it is indifferent, but if we can come to terms with this indifference, then our existence as a species can have genuine meaning. However vast the darkness, we must supply our own light.

Menjelang Ramadhan ini, saya berpikir kembali mengenai kematian. Mengingat seseorang yang telah bertahun-tahun meninggalkan saya dan tahun ini saya tidak sempat menjenguk makamnya. Mengingat Didi, teman saya yang meninggal karena kanker itu, dan anak yang ditinggalkannya yang masih balita. Memandang orang-orang yang saya kasihi. Apakah tahun depan saya masih akan bisa bertemu mereka dan bertemu Ramadhan? Ketika mengingat kematian, saya menyadari bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Saya harus terus menerus membersihkan diri. Belajar mengisi waktu saya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar untuk memberi arti pada hidup saya, seperti apapun. Belajar untuk bersabar. Belajar untuk berempati. Belajar untuk berdisiplin, karena mencintai adalah kata kerja, apalagi mencintai Allah. Karena kematian mengajari saya, days maybe long, but life is short.

-untuk Didi dan A.B-


Diary Ramadhan edisi 8 Ramadhan 1431H

Oleh: Puri Handayani

“Gunakan sehatmu sebelum datang sakitmu”

Sehat memang nikmat Alloh yang luar bisa, maka sudah sewajarnya kita bersyukur dengan mengisi hari-hari sehat kita dengan hal yang berguna. Saat saya sakit flu saja rasanya sudah tersiksa sekali. Paling tidak butuh tiga hari untuk sembuh kembali, dan selama kena flu tersebut hanya bisa terkapar tidak bisa apa-apa. Pada saat sakit itulah kadang baru sadar betapa berharga waktu saya sehat, dan betapa sering kali saya menyia-nyiakan karunia sehat tersebut.

Sakit bisa menjadi ujian kesabaran yang sangat berat, apalagi jika penyakit itu diderita selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Bukan hanya buat yang sakit tetapi juga buat keluarga yang merawatnya juga. Setidaknya hal ini yang saya saksikan pada keluarga sahabat saya. Sejak awal 2000an ibunda tercinta terkena stroke hingga saat ini. Ibunda yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, membiayai kuliah putra-putrinya tiba-tiba terkena stroke tidak berapa lama setelah putra putrinya menyelesaikan kuliah dan bekerja. Hmm…kadang saya berfikir mungkin beliau selama ini menahan segala sakitnya demi terus bekerja untuk putra-putrinya. Ibunda yang dulunya terlihat tegar dan gesit, saat ini hanya bisa terbaring tidak mampu melakukan aktivitas apapun. Tidak hanya itu, beliau sekarang juga mulai pelupa. Tiba-tiba saja beliau suka marah karena merasa tidak diberi makan selama seharian, padahal sebenarnya beliau sudah makan. Kadang sahabat saya ini sampai memilih untuk membiarkan piring dan gelas yang dipakai beliau tetap dimeja, sehingga kalau beliau protes bisa diberikan bukti. Emosi beliau juga tidak stabil lagi. Beliau bisa demam tinggi karena cucu yang dikangeni tidak jadi datang menengok beliau. Sungguh berbeda sekali dengan saat pertama kali saya mengenal beliau disekitar tahun 1995, saat beliau masih sehat, saat saya melihat beliau sebagai sosok perempuan yang tegar, sandaran putra-putrinya.

Hmm…sakit memang bisa menimpa siapa saja. Sakit bisa mengubah kehidupan seseorang secara drastis, baik secara fisik, financial, maupun emosional. Hanya kesabaran dan semangat ikhtiar mungkin yang bisa melawannya. Itupun belum tentu berhasil. Menyaksikan beberapa sahabat maupun keluarga yang diberi cobaan sakit sering kali membuat saya bersyukur sekaligus khawatir, berharap agar saya dijauhkan dari cobaan itu, berdoa untuk teman dan saudara yang sakit semoga mereka bisa seperti Nabi Ayub yang sabar dan akhirnya mendapat pertolongan dari Alloh.

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”

Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.


Diary Ramadhan edisi 7 Ramadhan 1431H

Oleh: Susanah Agus

“… Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-BAqarah; 216)

Semenjak aku kuliah di program studi pendidikan Bahasa Inggris, setiap kali ditanya apa rencana masa depanku, jawabku akan selalu sama: (1) menyelesaikan S1 dengan nulis skripsi dan bukan ujian komprehensif, (2) melamar jadi PNS dosen di almamaterku, (3) S2 di luar negeri, dan (4) menikah setelah selesai S2. Siapapun yang bertanya, selalu kujawab begitu. Bahkan ketika senior yang sangat dekat denganku mencoba melihat kemungkinan untuk menikahiku, akhirnya mengurungkan niatnya karena setiap kali dia bertanya tentang rencana masa depan, jawabanku selalu konsisten. Dia menyadari tak mungkin memintaku menikah dengannya karena bila aku menikahinya kemungkinan aku hanya selesai S1 saja. Dia mencari pasangan hidup yang bersedia menemaninya mengabdi di daerah kabupaten, dan tampaknya aku takkan rela melakoni itu.

Kenapa aku berencana begitu? Menurutku menjadi dosen di provinsi berkembang, seperti daerahku, sangat fleksibel dengan waktu kerja. Pikirku kala itu, dengan jadi dosen aku bisa membesarkan anakku sendiri tanpa pengasuh. Dengan jadi dosen aku lebih berpeluang untuk S2 di luar negeri ketimbang jadi PNS di pemerintahan daerah. Akupun berencana menikah setelah selesai S2 karena sekolah sambil mengasuh anak dan mengurus suami itu tidaklah mudah, sementara S2 itu wajib bagi dosen di daerahku. Jenjang S3 kala itu masih sebatas dianjurkan bagi dosen di daerahku.

Jadilah diriku menata hari-hari sesuai rencanaku itu. Saat akhirnya selesai S1, aku dikaruniai rezeki dari Allah SWT, aku lulus tes dan diterima jadi PNS dosen di almamaterku. Betapa bahagianya aku, dua rencanaku terlaksana dengan sukses. Semakin mantaplah aku dengan rencanaku itu, cari beasiswa S2 di luar negeri dan kemudian menikah. Bagiku rencana itu adalah yang terbaik buatku. Padahal kala itu aku telah menginjak usia 25 tahun, usia yang matang untuk menikah, namun aku tidak berfikir ke arah sana. Aku khilaf pada satu hal, menikah itu lebih mulia dimata Allah SWT ketimbang gelar S2. Aku tenggelam dalam kekhilafan itu selama 4 tahun. Keinsyafan itu baru muncul kala Allah SWT mengujiku dengan kegagalan beruntun.

Demi menggapai rencana ketiga, aku mulai cari informasi sana-sini tentang beasiswa S2. Mengingat diriku lulusan program pendidikan bahasa Inggris, aku memusatkan pencarianku pada universitas-universitas di Negara berbahasa Inggris. Jadilah diriku melamar beasiswa yang ditawarkan pemerintah Amerika Serikat, Inggris, dan Australia. Aku gak kepikiran untuk mencoba universitas di negara-negara Eropa lainnya. Alasanku kala itu cukup simpel; bahasa Inggrisku gak akan membaik kalo kuliah di negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama.

Beasiswa dari pemerintah Amerika Serikat dan Inggris rupanya tak berjodoh denganku. Berkali-kali kulamar, tetap saja gagal di proses awal. Angin segar itu datang dari negeri Kangguru. Lamaranku memasuki tahap final tahun 2005. Tapi aku rupanya gagal di tahap itu. Tidak pantang menyerah, kuulang lagi melamar di tahun 2006, masuk ke tahap final. Namun gagal lagi. Yang lebih menyakitkan buatku, dari 4 orang dosen di almamaterku yang ikut tes itu, hanya aku seorang yang gagal. Aku tenggelam dalam duka.

Rupanya bencana tsunami, membuat pemerintah Australia memberikan program beasiswa tambahan, APS. Aku melamar kembali ke sana, dan masuk ke tahap final. Tapi lagi-lagi pil pahit kegagalan harus kutelan. Akupun kembali tertohok dengan kenyataan 3 dari 6 dosen di universitasku menerima beasiswa itu. Kakakku menyarankan kepadaku untuk melupakan rencana S2 di Australia. Menurutnya itu bukan jalanku.

Seorang seniorku menyarankan aku untuk melamar beasiswa StuNed periode 2007. Namun aku malas banget melamar saat kubaca salah satu syaratnya aku harus memiliki surat penerimaan dari universitas dahulu sebelum melamar. Duh.. males banget dech kalo harus cari admission letter. Lagian Belanda tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari.

Tiga kegagalan pahit yang kurasa itu rupanya mulai membuka mataku. Seorang lelaki, yang akhirnya menjadi suamiku, mengajakku berdiskusi tentang apa yang kurang tepat dengan rencana masa depanku. Dia menyadarkanku bahwa pilihanku yang menempatkan menikah di bawah prioritas S2 adalah hal yang kurang baik dari segi agama. Aku melupakan pertambahan usiaku dan sibuk dengan urusan duniawi bernama niat sekolah. Padahal jelas sekali bahwa menggenapkan dien-ku dengan menikah itu lebih mulia dimata Allah SWT ketimbang S2ku. Akupun tersadar bahwa niatku itu kurang tepat. Tidak semestinya niat sekolah menghalangiku dari mengutamakan menikah. Dari diskusi dengannya itulah aku akhirnya mengubah niatku. Aku memutuskan menikah, dan dia yang kupilih sebagai pasangan jiwaku.

Meski orang tua dan saudara-saudaraku kecewa dengan keputusanku melupakan rencana S2 untuk sementara waktu, mereka mengizinkanku menikah. Mereka menyadari bahwa aku yang berhak menentukan jalan hidupku. Akupun menikah di Januari 2007.

Rupanya Allah SWT punya rencana baik atas hidupku. Aku hamil tak lama setelah menikah. Seorang juniorku mengajakku melamar beasiswa pra-registrasi StuNed tahun itu, namun aku menolak dengan alasan aku sedang hamil dan tak bersedia terpisah dengan bayiku bila aku lulus beasiswa itu.

Suamiku mendukung keputusanku. Setelah anakku lahir, akupun kembali diajaknya untuk melihat ke depan. Aku harus segera S2 karena itu syarat wajib sebagai dosen. Karena lamaranku ke beasiswa luar negeri kembali berbuah kegagalan, akupun beralih melamar S2 di dalam negeri. Tapi aku juga iseng-iseng berhadiah ikut melamar StuNed pra-registasi untuk periode 2009. Saat melamar itu aku tak menaruh harapan apapun, aku iseng saja. Tapi tidak rupanya dengan suamiku. Bahkan dia sampai melafazkan nazar untuk keberhasilanku mendapatkan beasiswa itu.

Rupanya inilah rezeki yang Allah SWT persiapkan untukku. Aku mendapatkan suami yang sangat mendukung kemajuan akademis karirku, seorang buah hati, lulus beasiswa StuNed 2009 dan bisa bersekolah di RUG, Groningen, Belanda. Alhamdulillahirrobbil ‘alamin. Meski demi S2 itu aku harus merelakan diri berpisah dengan puteri kecilku dan suamiku selama setahun, namun suamiku ikhlas melepas kepergianku. Baginya, keberhasilanku itu sebagai hadiah atas keputusanku mendahulukan menikah.

Akupun mendapat hikmah dari perjuanganku hingga bisa menjejakkan kaki di Groningen. Persis seperti yang tersirat di surat Al-Baqarah ayat 216; Belanda yang kupikir bukan hal yang baik buat bahasa Inggrisku, rupanya jadi pelabuhan ilmu buatku. Terlebih lagi, mengeyampingkan menikah rupanya hal yang tidak mulia buatku. Justru dengan menikah, Allah SWT membukakan jalan bagi terwujudnya rencanaku.


Diary Ramadhan edisi 6 Ramadhan 1431H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Hari-hari menjelang dan selama bulan puasa adalah hari-hari ucapan selamat dan kata maaf bertebaran. Di hari-hari ini, silaturrahmi biasanya tersambungkan kembali. Tak hanya itu, ritme hidup dan aktivitas sedikit (atau banyak) berubah, menyesuaikan dengan ritme dan aktivitas berpuasa. Ya, di luar dari segala keutamaan ibadah di bulan ini, hari-hari ini adalah memang hari-hari istimewa. Namun, hari-hari menjelang dan selama bulan puasa juga selalu berhasil membangkitkan rasa rindu kampung halaman dan keluarga tercinta.

Saya ingat, di tanah air sana menjelang bulan Ramadhan, di tayangan dan iklan-iklan televisi bertebaran tema-tema seputar ibadah puasa. Promosi acara menemani sahur, menjelang buka puasa, bahkan sinetron khusus Ramadhan disiapkan. Iklan obat mag, dikaitkan dengan puasa. Iklan kecap dan bumbu penyedap, dikaitkan dengan menyiapkan buka puasa dan sahur. Kalau produknya tidak ada hubungannya dengan puasa, no problem, tambahkan saja di bagian akhir iklannya ucapan Marhaban Yaa Ramadhan. Tak hanya televisi, radio dan koran menampilkan tema Ramadhan juga. Artikel di buletin Jum’at menyampaikan topik keutamaan bulan puasa. Di masjid, beberapa pekan sebelum Ramadhan sudah ditempel jadwal penceramah tarawih selama sebulan, biasanya malam pertama diisi oleh ketua takmir mesjid. Bukan hanya penceramahnya, pendengarnya pun disiapkan: sekolah membagikan buku jurnal yang harus diisi siswa dengan rangkuman ceramah dan kultum di bulan Ramadhan, lengkap dengan tanda tangan Ustadz dan stempel masjid. Tak ingin kalah, di spanduk sepanjang jalan, partai politik dan para tokoh masyarakat turut mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang mayoritas muslim, benar kata sahabat saya, Ramadhan selalu berhasil mengkondisikan kehadirannya untuk disambut. Alhamdulillah, subhanallah..

Saat bulan puasa dimulai, aktivitas warga sudah berjalan jauh sebelum fajar menyingsing. Tiap hari sebelum ibu-ibu bangun menyiapkan sahur, remaja masjid atau karang taruna setempat melakukan pawai keliling kampung, “Sahuur.. sahuur..” tak lupa kentongannya dibawa. Di kampung-kampung, selain adzan awal, ada pengumuman sahur dan imsak yang biasanya dikumandangkan dalam bahasa daerah, redaksi kalimatnya sama persis dengan intonasi yang begitu-begitu juga dari hari ke hari, sehingga di hari kesepuluh warga di sekitar mesjid sudah hafal kata per katanya dan bisa menirukan. Sudah itu, aktivitas di tiap rumah bermula: ibu bangun paling awal, kadang sholat malam dulu beberapa rekaat, kemudian memasak sahur dan membangunkan keluarganya untuk sahur bersama, seringkali ditemani acara sahur di televisi. Jika masih ada waktu agak panjang, riuh rendah bacaan Qur’an bergema di rumah menanti adzan shubuh, seperti suara lebah kalau didengar dari jauh. Indah sekali.

Saat adzan shubuh berkumandang, jalanan sudah ramai dengan jamaah sholat yang berjalan menuju mesjid. Usai sholat shubuh, ceramah kuliah shubuh disampaikan. Lalu usai ceramah, bak selebritis, pak ustadz dikerubuti untuk dimintai tanda tangan di buku jurnal anak sekolah. Oya, ada hal lucu yang sering disindir para penceramah, biasanya di hari pertama Ramadhan jamaahnya membludak ke belakang sampai ke luar mesjid, lalu sedikit demi sedikit mengalami kemajuan hingga di akhir Ramadhan jumlah jamaah tak jauh beda dengan di luar Ramadhan. Betul, konsistensi dan stamina beribadah kita di bulan ini memang harus dijaga hingga akhir bahkan seusai Ramadhan.

Hadirnya Ramadhan juga menandai hadirnya kebiasaan baru di banyak kantor atau kampus. Di waktu-waktu luang, tak jarang dijumpai karyawan atau mahasiswa yang mojok di sudut ruangan kantor atau kelas, sibuk dengan mushaf Qur’an mungilnya, mendadak sholeh. Sebagian lagi memilih tidur-tiduran (atau tidur betulan) di mesjid sebelum atau sesudah sholat wajib gara-gara sejuknya udara di dalam masjid tersebut, atau gara-gara iming-iming tidurnya orang berpuasa adalah ibadah; di kanan kirinya suara orang sedang membaca Qur’an, menambah tentram perasaan dan nyenyak tidurnya. Senang membayangkan bahwa produktivitas tak berkurang di bulan ini, bahkan waktunya makin optimal digunakan. Kantin dan warung, tentu saja sebagian besar tutup di siang hari dan baru buka lepas ashar. Tak hanya kantin dan warung itu, orang jualan kolak, es teler, es cendol, es shanghai, rujak atau yang lainnya tiba-tiba bertebaran banyak sekali -sebagian para penjual dadakan- di jam-jam menjelang berbuka, dan istimewanya, rata-rata laris! Rupanya di bulan ini Allah tetap membukakan rizki-Nya bagi mereka yang mau berusaha.

Ada lagi hal yang tak lazim di bulan ini. Biasanya, bagi masyarakat di Indonesia, jadwal sholat tidak terlalu sering diperhatikan. Pasalnya, adzan berkumandang di mana-mana, dan panjang harinya pun tak jauh berubah. Tapi di bulan ini, jadwal sholat menjadi sangat penting dan dicari. Waktu sholat maghrib sangat dinanti, dan adzan pun dikumandangkan sangat presisi mengikuti jadwal ini. Suasana ta’jil di mesjid, atau buka puasa bersama keluarga di rumah menikmati es buah atau kolak yang baru dibeli sorenya langsung menghapus dahaga. “Haus? sudah lupa tuh..”

Di waktu isya, komplit sudah aktivitas bernuansa Rabbani dalam satu hari di bulan puasa ini. Waktu ini juga adalah waktu di mana jamaah masjid meluber hingga ke luar. Lepas isya, pak Ustadz (yang nantinya juga akan menjadi selebritis semalam) menyampaikan ceramah tarawih. Seusai ceramah, sholat tarawih didirikan, kadang dengan speed yang mengagumkan. “Eh, mesjid itu tarawihnya bagus lhoh!” “Kenapa?” “Cepet beres..” Hihi..

Hanya di Indonesia sajakah, hangatnya suasana Ramadhan ini? Alhamdulillah, setelah beberapa kali merasakan Ramadhan di negeri orang, saya bisa mengatakan tidak. Tentu saja, ada warna yang berbeda. Di sini adzan tidak berkumandang di corong mesjid. Woro-woro bukan lagi lewat speaker masjid, melainkan di mailing list. Pawai keliling sahur juga tak lagi terdengar. Tak ada kuliah shubuh atau tarawih dalam bahasa Indonesia, tapi tausiyah dan nasehat bertebaran di internet. Kini, ta’jil di mesjid dinikmati sembari duduk semeja dengan saudara kita Muslim dari berbagai penjuru Asia, Eropa dan Afrika. Tak ada kolak, sup harira pun jadi. Sederet perbedaan boleh didaftar, namun insya Allah, berkah dan keutamaan Ramadhan akan tetap diperoleh, jika bersungguh-sungguh meraihnya. Semoga rasa rindu akan tanah air dan keluarga makin memotivasi untuk mengisi Ramadhan ini sebaik-baiknya, hingga Allah nanti kumpulkan kita dengan orang-orang yang kita cintai dalam kebaikan, amin..

Sahabat, selamat menjalankan ibadah puasa!


Diary Ramadhan edisi 5 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

Di suatu sore yang sejuk di pinggir sawah, dua orang sahabat duduk di bawah pohon yang rindang. Kedua sahabat tersebut bernama Hardjo dan Prawiro. Sambil ditemani teh hangat dan pisang goreng kedua sahabat menikmati suasana kampung yang masih asri dan bersih. Suara air sungai yang mengalir dan kicau burung-burung pipit menemani kebersamaan mereka di sore itu.

Prawiro baru saja beberapa bulan yang lalu memutuskan untuk menjalani jalan sufi di salah satu tariqat di kampung tetangga. Setelah mengikuti jalan sufi ini Prawiro menjadi sedikit berubah. Hardjo sebagai sahabat dekatnya menjadi penasaran dan memutuskan secara spontan untuk menanyakan beberapa hal kepada sahabatnya tersebut.

Hardjo: “Wiro, ngapain sih kamu belajar sufi?”

Karso: “Lha, emangnya kenapa gitu?”

Hardjo: “Kamu kan sudah tahu Islam dan shalat lima waktu serta puasa, apa itu nda cukup? Apa yang membuat kamu memutuskan untuk belajar sufi?”

Karso: “Ada sesuatu dalam diriku yang ingin lebih dari itu. Waktu aku belajar Islam aku sudah mengetahui banyak hal, namun itu hanya sekadar pengetahuan saja. Itu hanya menjadi makanan untuk akalku. Sedangkat hatiku juga membutuhkan makanan. Aku ingin mencari kebenaran sejati dan mencari tahu apa tujuan hidup ini sebenarnya. Aku ingin ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan. Aku ingin mencari arti di dalam arti, makna di dalam makna dari kehidupan ini. Siapakah aku? Siapakah Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang mengusikku beberapa waktu yang lalu. Ini yang membuatku tertarik untuk menjalani perjalanan sufi ini.

Hardjo: “Sebenernya sufi itu gimana sih? Apakah sama dengan Islam ataukah berbeda dengan Islam? Atau gimana?” Hardjo masih bingung.

Karso: “Kalau aku lebih mudah memahaminya dengan memakai suatu perumpamaan. Jika aku pakai perumpamaan jeruk. Jeruk itu ada kulitnya dan juga ada isinya. Jika Islam aku umpamakan dengan kulit jeruknya, maka isinya tersebut adalah Sufi. Shalat lima waktu, puasa dan lain-lain itu adalah kulit luarnya, hal ini bisa dilihat oleh orang banyak. Namun isi hati tidak bisa dilihat orang. Sufi ini mengupas banyak tentang isi dalam hati. Sufi ini bisa dikatakan agama hati. Tentu saja jeruk terdiri dari kulit dan isinya dan mereka merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya. Sama seperti Islam dan Sufi itu sendiri. Isi jeruk membutuhkan kulit jeruk dan sebaliknya, kulit jeruk tanpa isi jeruk tidak bernilai apa-apa. Banyak orang yang shalat lima waktunya tidak pernah ketinggalan tapi kerjanya menyakiti perasaan orang tua dan orang-orang sekitarnya. Banyak yang berpuasa tapi senang mengambil hak orang lain. Itu karena mereka baru makan kulit jeruknya saja tapi belum dapat isi jeruknya. Jadi antara Islam dan Sufi itu nda ada bedanya, mereka itu sama saja. Seorang muslim yang baik adalah seorang sufi, apakah mereka menyebut dirinya Sufi atau tidak. Sufi banyak sekali membantuku untuk memahami Islam dengan lebih baik. Sufi membantuku untuk menjadi seorang muslim yang lebih baik. Seorang muslim yang tidak hanya menjalankan perintah namun juga mengerti essensinya. Bukan hanya bisa tahu bagaimana membuka kulit jeruk, tapi juga bisa menikmati isi jeruk tersebut.

Hardjo pun mengangguk-angguk. Sambil menyeruput teh hangat dan memasukkan pisang goreng ke dalam mulutnya dia pun melanjutkan pertanyaannya.

Hardjo: “Waduh jawabanmu dalem banget. Sebentar, kita mulai pelan-pelan, aku juga ingin memahaminya. Sebenarnya Sufi itu apa sih?”

Prawiro: “Sebenarnya setiap orang yang sedang dalam perjalanan mencari kebenaran sejati adalah seorang sufi, apakah orang tersebut menamakan dirinya sendiri sufi atau tidak. Seorang sufi itu bebas dari percaya atau tidak percaya namun tetap memberikan kebebasan kepada orang lain untuk memiliki pendapatnya masing-masing. Perjalanan Sufi ini adalah perjalanan mencari ke dalam diri. Perjalanan untuk mengenal diri dan Tuhannya karena barang siapa yang telah mengenal dirinya maka dia akan mengenal Tuhannya. Bagi seorang Sufi, Sang Guru akan selalu hadir dan hidup baginya, tidak pernah pergi walau sedikitpun. Sang Guru akan dapat ditemui di semua bentuk dan manifestasinya. Sang Guru akan tetap Satu dan yang Satu ini akan dapat dia kenali di mana-mana. Setiap saat adalah saat yang dia akan pergunakan untuk bersama dengan Sang Guru. Bagi Sufi, Tuhan bukan hanya Sang Pencipta dan Pemilik dunia ini, namun juga seorang Sahabat dan Kekasih yang sangat dia cintai. Cita-cita tertingginya adalah bertemu dengan Beliau, bertatap mata dengan-Nya, melihat-Nya tersenyum dan mendapatkan Ridha-Nya.

Hardjo terpaku mendengarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya. Giliran Prawiro yang menyeruput teh hangat. Tidak lupa tangannya meraih bala-bala dan cabe rawit, makanan kesukaannya.

Hardjo: “Terus terang aku nda pernah mendengar hal-hal seperti ini sebelumnya. Kedengarannya menarik, tapi untukku aku merasa kalau aku sudah merasa cukup dengan pelajaran agama di SMP. Aku nda punya kebutuhan untuk belajar Sufi, keliatannya njelimet.”

Prawiro: “Nda apa-apa Djo. Setiap orang kan punya kebutuhannya sendiri-sendiri. Setiap orang punya jalannya masing-masing. Kalau kamu merasa cukup dengan apa yang kamu jalani ya nikmati saja. Nda usah dipaksakan. Apalagi kalau kamu ngerasa njelimet dengan ajaran-ajaran Sufi, malah mungkin buat kamu nda akan ada manfaatnya. Malah nanti bikin pusing kepala aja, hehehe…”

Hardjo: “Aku punya pertanyaan yang mudah, pertanyaan yang banyak ditanyakan banyak orang. Coba terangkan kepadaku bagaimana agar aku bisa bahagia.”

Prawiro: “Coba hidup dengan sederhana. Terapkan semua perintah Tuhan dan jauhi larangan-Nya. Hormati orang tuamu dan berbuat baik terhadap semua mahluk-Nya. Sayangi istrimu dan anak-anakmu. Cintai sesama. Inget Djo bahwa kita semua bersaudara. Bahkan orang yang tidak seagama dengan kita, mereka pun saudara kita. Jangan kita sakiti mereka. Seluruh umat manusia ini selayaknya seperti satu badan. Apa yang terjadi kalau tangan kita menjatuhkan batu ke kaki kita? Bukan hanya kaki kita yang sakit, tapi kita juga ikut sakit. Kalau kita menyakiti saudara kita, kita pun akan ikut sakit. Kalau kita berbuat baik terhadap sesama, kita pun akan mendapatkan buah kebaikan kita sendiri. Apa yang kita tanam itulah yang akan kita dapatkan.

Kita semua berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kebanyakan dari kita sedang terpisah dari-Nya, oleh karena itu kita menderita. Kita menderita karena kita hidup tanpa kehadiran-Nya. Kebanyakan dari kita hanya melihat apa yang dilihat oleh matanya saja. Namun kebanyakan hal-hal yang justru berharga tidak bisa dilihat hanya dari mata kasat ini saja, tapi harus dengan mata hati. Jika mata hati kita terbuka, seluruh dunia akan terbuka Djo. Banyak orang yang ingin bahagia tapi salah dalam mencarinya. Mereka mencarinya di dalam dunia materi. Mereka cari kebahagiaan di pekerjaannya, mereka pikir pekerjaannya yang akan membuatnya bahagia. Mereka cari kebahagiaan di dalam harta dan berpikir bahwa punya banyak harta itu akan membuatnya menjadi bahagia. Mereka cari kebahagiaan di dalam kecantikan tubuh dan menyangka bahwa jika mereka bisa punya wajah yang cantik dan tubuh yang indah mereka akan bahagia. Itu semua ilusi Djo, jangan sampai kita tertipu. Buktinya banyak yang banyak hartanya, punya pekerjaan bagus, punya wajah dan tubuh yang indah tetap tidak bahagia. Malah menderita. Itu karena kebahagiaan sejati tidak terletak di berapa banyak harta yang kita miliki. Kebahagiaan sejati tidak terletak di waja yang cantik dan tubuh yang indah. Bukan Djo, jangan tertipu. Kebahagiaan sejati ada di dalam hati ini. Kebahagiaan yang sejati ada di dalam hati yang tenang dan damai. Yaitu ketika Sang Kekasih sangat dekat dengan kita dan semakin dekat dengan kita, sampai tak ada jarak lagi. Kita merasakan kehadiran Kekasih dalam diri dan telah memenuhi isi hati kita. Ketika hati kita ini tidak lagi merindukan dunia tetapi merindukan-Nya. Ketika kita menjadi warga dunia ini tetapi bukan lagi milik dunia. Ketika kita selalu bisa bersama dengan Sang Kekasih. Ketika hati kita telah melebur bersatu bersama-Nya.”

Tanpa terasa sore telah berganti malam. Prawiro pun mengakhiri obrolannya.

Prawiro: “Djo, aku ngomong gini itu bukan maksudku untuk mengguruimu lho. Omonganku ini sebenernya ditujukan untuk diriku sendiri, agar aku belajar dan mengambil manfaat darinya. Jika ada yang bisa bermanfaat untukmu maka ambillah, jika tidak ada ya nda usah dianggap serius. Sebenarnya aku ini nda tau lebih banyak dari kamu. Jika ada omonganku yang bener, maka itu semuanya ini berasal dari-Nya. Jika ada yang salah maka itu datang dariku sebagai manusia biasa.”

Hardjo: “Wiro, aku senang mendengarkan ocehanmu. Kapan-kapan kalau kita ada waktu kita lanjutkan obrolan kita ini ya.”

Kedua sahabat itu pulang ke rumah masing-masing sambil memikirkan obrolan yang terjadi spontan di pinggir sawah sore hari itu. Suara jankrik pun mulai bersahut-sahutan menemani sang malam.

Untuk kakek Hardjoprawiro.


Diary Ramadhan tanggal 4 Ramadhan 1431H

Oleh : Pecinta Ayam

Gerimis turun sejak pagi hari, Ariel memandang keluar jendela. Angin dingin meresap ke sela-sela kancing baju musim panas yang dikenakannya sejak kemarin petang. “Oh brother”, pikirnya. Pandangannya kembali tertuju pada layar komputer, lembaran kosong dengan kedip kursor yang sudah bertahan lebih dari dua jam. Pikiran kosong menerawang, entah apa yang mau dituliskan. Sudah habis berlembar-lembar artikel dibaca untuk mencari ide dan membuka wawasan baru. Tangan kanannya pun lalu mengambil cangkir di sebelah layar komputer dan perlahan menyeruput kopi yang sudah mulai dingin. Kopi cangkir kelima dalam tiga jam terakhir.

Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, “untunglah tadi pagi sarapan tiga piring nasi goreng, jadi belum terasa lapar”, pikirnya. “Tak mengapa, lah”, lanjutnya, “melewatkan makan siang sekaligus berlatih untuk puasa besok”. Sebenarnya, bukan karena tidak merasa lapar, tapi layar kosong dihadapannya yang lebih mengganggu pikirannya. Ariel pun merebahkan punggungnya ke sandaran kursi, melegakan. Sayup-sayup terdengar lantunan lagu kopi dangdut dari dalam tasnya, “oh, lupa mematikan iPod”, katanya. Dengan segera membuka tas dan mematikan music player yang sudah menjadi sahabat bersepedanya setiap hari. Ariel kembali duduk bersandar di kursinya, masih memandang layar kosong.

Ya, besok hari pertama puasa. “Berarti nanti malam sudah mulai bertarawih”, pikirnya. Ariel lalu melirik ke arah pintu. Nampak pohon yang sudah layu daun-daunnya, tanah di dalam pot tampak mengering. Dengan gontai mengambil botol Evian dan berjalan ke arah pintu, menuangkan sisa setengah botol air yang ada ke dalam pot dan duduk kembali di kursi dan, memandang layar halaman kosong.

Waktu berlalu dan jam dinding sudah menunjukkan pukul 4.30 petang. Masih tertuju pada layar kosong dihadapannya, Ariel pun memutuskan untuk pulang lebih awal. Setelah mematikan komputer dan merapikan meja, memasukkan setumpuk manuskrip untuk dibaca di rumah. Melewati mushalla, barulah teringat kalau dirinya belum bersembahyang dzuhur. Ia pun masuk dan bersembahyang. Berseka air wudhu yang dingin, segar. Rakaat demi rakaat, perlahan Ariel menyentuhkan kening ke hamparan sajadah yang lembut. Sekian detik dilewatkan dalam sujudnya. Saat menoleh ke kanan menutup salam, pandangannya tertuju pada lembaran kertas di dinding, memantunkan untaian kata-kata.

= = = = = = = =
Hari tiada bermakna
Melewati waktu yang entah bila berakhir
Masa penantian menuju titik akhir
     Hari tiada bermakna
     Berlalu tanpa berterima kasih
     Berlari dengan kekejaman yang menusuk hati
            Hari tiada bermakna
            Bagai lembaran kosong yang tiada berarti
            Tercoreng arang mengaksara cacahan surgawi
            Tersirat garis kehidupan memilukan hati
     Hari tiada bermakna
     Menunjuk lurus menuju mati
     Membelokkan mata menarik keranda basi
Hari tiada bermakna
Bagai lembaran kosong yang tiada berarti
Hanya bisa menanti dan menanti
Hanya bisa menanti dan menanti
= = = = = = = =

Ariel memejamkan matanya sejenak, menghelas nafas dalam. Bertanya-tanya dalam hatinya, “tidak bermakna kah hari-hari ku ini ?”. Pikirannya melayang, teringat pada layar kosong yang dihadapinya sepanjang hari ini. Membandingkan hidupnya dengan lembaran kosong itu, membandingkan dengan lembaran kosong amalan yang akan diisi selama berpuasa besok. “Sungguh tidak bermakna jika lembaran itu dibiarkan kosong sepanjang sisa hidupku, sungguh merugi kalau lembaran itu tetap kosong di akhir bulan puasa nanti”, pikirnya. Ariel pun beranjak dan bergegas menuju pintu, mengenakan sepatu, mengambil tas dan jaket yang digantungkan di balik pintu mushalla. “Aku harus bergegas pulang, mempersiapkan diri untuk puasa besok. Tidak akan ku biarkan puasa ini berlalu meninggalkan lembaran kosong dalam buku kehidupanku”, kata Ariel pada dirinya sendiri, dengan penuh semangat. Ariel pun berlalu ……

Di sudut mushalla, sewujud halus memegang selembar kertas dan pena. Tersenyum menatap rupa Ariel, ditulisnya:

= = = = =
Amalan Ariel hari ini …..
….., memanfaatkan rahmat Allah dengan menggunakan akal dan fikirannya untuk belajar, menghindari kemubadziran dengan mematikan peralatan yang dia tak gunakan, berlaku sebagai tangan Allah untuk menyampaikan rejeki bagi tanaman yang ditimpa kehausan, …..
= = = = =

Sewujud halus itu pun bergumam, “Esok, Allah akan menggandakan nilai amalanmu. Semoga Allah menguatkan segala niatnya”.