(in memoriam Drs. Hartoyo, my father in law)
15 Ramadhan
Oleh: Ariyo Bimmo Soedjono
Bulan puasa sangat erat pertaliannya dengan Hari
Lebaran. Ya, hari dimana umat islam merayakan
kemenangan setelah sebulan penuh berikhtiar, mencari
keridhoan Allah dengan berpuasa dan ibadah-ibadah
lainnya. Namun hari lebaran kali ini nampaknya akan
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bagi keluarga
kami. Selain karena kami tidak dapat merayakannya
bersama, lebaran tahun ini mengingatkan kami akan
Bapak Hartoyo, bapak mertua saya, yang meninggalkan
kami setahun yang lalu, 4 hari setelah Iedul Fitri.
Pada saat saya mengenal (calon) istri saya, Bapak
sudah dalam keadaan yang kurang sehat. Bagaimana
tidak, beliau telah terkena stroke lebih dari 2 kali.
Dan serangan terakhir agaknya telah melumpuhkan
sebagian syarafnya sehingga beliau tidak mapu untuk
berjalan secara normal (harus memakai kursi atau
dipapah) dan kemampuan verbalnya sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti itu, beliau masih sangat
bersemangat ketika mengetahui rencana pernikahan kami
(mungkin karena menikahkan anak perempuannya merupakan
tanggung jawabnya yang belum beliau lakukan). Bahkan
semenjak lamaran, beliau sempat minta untuk dilatih
mengucapkan kata-kata yang digunakan dalam proses ijab
kabul, karena inginnya beliau sendiri yang menikahkan
kami. Mendengarnya, kami hanya tersenyum kecut
mengingat keadaan beliau yang sangat kurang
memungkinkan. Namun kami sangat menghargai maksud
tersebut.
Saya sendiri kurang banyak berbicara dengan beliau,
kalaupun ada, hanya bersifat satu arah karena
banyaknya saya tidak mengerti apa yang beliau coba
ungkapkan.
Setelah kami menikah (yang menikahkan kakak kandung
yang merupakan saudara satu-satunya dari istri saya),
kami tinggal di rumah Bapak. Keadaan beliau tidak
kunjung membaik, bahkan sempat masuk kembali ke rumah
sakit untuk operasi prostat. Setelah itu, jenis
makanan yang dapat beliau konsumsi menjadi sangat
terbatas. Keadaan beliau sangat lemah, saya pribadi
kadang hanya dapat memandang dengan perasaan iba.
Beliau juga menjadi sering marah-marah, entah apa
penyebabnya. Namun beliau sangat senang apabila kami
ajak jalan-jalan, meskipun untuk menaikannya ke mobil
juga perlu perjuangan keras.
Demikian pula ketika datang bulan puasa, kami
mengajaknya jalan-jalan ke Monas, salah satu diantara
sedikit tempat di Jakarta yang memungkinkan kami
berjalan-jalan dengan kursi dorongnya (baru saya
sadari setelah di Groningen, betapa manusiawinya kota
ini dengan taman-tamannya).
Lebaran pun tiba. Seusai shalat ied (yang kebetulan di
jalanan depan rumah, karena rumah kami berseberangan
dengan mesjid), Ibu menceritakan bahwa Bapak, ketika
sehatnya, aktif di kegiatan mesjid dan bershalat
jamaah bila ada di rumah. Kemudian, tamu-tamupun
berdatangan, karena seusai bermaaf-maafan di depan
mesjid melihat Bapak yang sedang dduduk di teras.
Entah mengapa, tamu yang berkunjung untuk
bersilaturahmi banyak sekali. Lebih dari biasanya,
demikian kata Ibu. Karena kondisi Bapak memang kurang
baik, semua keluarga mendatanginya pada hari kedua.
Besoknya Bapak terlihat sangat kelelahan. Dan matanya
agak menerawang. Sulit sekali menggerakan bagian
tubuhnya, bahkan untuk memindahkannya ke kursi dorong
amatlah sulit. Malam itu, beliau tidur ditemani
perawat.
Hari selanjutnya, pagi-pagi saya dikagetkan oleh
teriakan perawat Bapak. Saya bergegas menghampiri
kamarnya dan melihat Bapak tengah terbujur dengan
nafas yang sangat berbeda dari biasanya. Segera saya
menjemput dokter yang kebetulan adik iparnya Ibu.
Jalanan terasa macet sekali, padahal baru beberapa
hari setelah lebaran. Sampai di rumah, sebagian badan
Bapak sudah kaku dan … dingin. Masya Allah, inikah
sakaratul maut? Bagi saya, baru pertama kali saya
menyaksikannya, berada di samping seseorang yang
sedang dalam proses tersebut. Tak beberapa lama, entah
bagaimana, tetangga-tetangga terdekat sudah berkumpul
di rumah kami dan selang beberapa saat, dokter
menyatakan bahwa Bapak telah pergi. Innalilahi wa inna
ilahi rojiun.
Hari-hari setelah kepergian Bapak diisi dengan
berbagai kenangan dari Ibu dan istri saya tentang
Bapak. Dari cerita tersebut saya mengetahui bahwa
meskipun tidak banyak bicara, bahkan dapat dikatakan
pendiam, Bapak adalah seorang suami dan ayah yang
baik, sabar, setia serta sangat bertanggung jawab.
Meski demikian, tersirat rasa sedih istri saya karena
selama hidupnya, ia kurang begitu banyak berinteraksi
dengan Bapak. Rasanya, baru kemarin ia sangat gembira
karena akhirnya Bapak dapat punya waktu untuk
mengantarkannya ke Taman Ria. Dan itu hanya terjadi
sesekalli saja dalam hidupnya. Sungguh waktu cepat
berlalu. Kemudian Ibu mengeluarkan foto-foto waktu
Bapak muda, jauh sekali penampilannya dengan ketika
saya mengenalnya. Gagah dan tegap untuk ukuran seorang
sipil. Ternyata Bapak juga juara badminton (meskipun
tingkat antar kelurahan). Selama ini saya cuma tahu
bahwa Bapak dulu pandai main golf, tapi bukan olahraga
energik seperti itu. Bapak juga adalah tetangga yang
baik. Terbukti dengan berlimpahnya perhatian dan
bantuan yang kami terima selama sakit dan wafatnya
Bapak.
Bapak juga pekerja keras dan dikenal jujur
dilingkungan Departemen dimana beliau bekerja. Saking
jujurnya, tidak banyak harta yang ditinggalkan untuk
Ibu, meskipun beliau merupakan salah satu orang
penting di bidang perindustrian, penggagas penerapan
standar internasional dan sempat menjabat sebagai
komisaris di BUMN besar. Ketika meninggal, salah satu
mantan anak buahnya yang telah menjadi Dirjen
memberikan sambutan mewakili rekan-rekan sejabat,
menyatakan bahwa dia sangat terkesan dengan sosok
Bapak.
Dan yang lebih mencegangkan bagi saya, ketika
membereskan barang-barangnya, ternyata beliau adalah
seorang yang sangat rapih dan teratur (at least ketika
masih sehat). Semua arsip sampai dengan ijasah, surat
pengangkatan PNS, copy dokumen-dokumen milik anak
istri, sertifikat tanah, perijinan bangunan dan
lain-lainnya, bahkan kwitansi pemabayarasn
tagihan-tagihan tertentu, masih tersimpan secara baik
dan sistematis. Saya sendiri sampai sekarang
dokumentasinya masih berantakan. Tersirat kekaguman
yang mendalam pada beliau ketika itu.
Sebenarnya ada lagi tambahan cerita ini, masih
berhubungan dengan Bapak dan terjadi pada bulan puasa
tahun ini. Seorang saudara (yang masih terhitung
sepupu dengan Bapak), masih berumur di bawah 40 tahun,
tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia. Ternyata dia
menderita pendarahan otak (saya kurang mengerti
mengenai penyebabnya).
Dari cerita yang saya share diatas, saya ingin juga
berbagi apa yang menjadi pemikiran saya menyikapi
perginya beliau dan juga saudara kami tersebut. Saya
membayangkan bahwa Bapak, ketika masih sehatnya adalah
seorang yang sangat mandiri, tidak tergantung pada
orang lain dan sangat teratur. Dimasa sakitnya, beliau
sangat tergantung pada perawat (karena kami semua
bekerja dan Ibu juga sudah berumur), tidak dapat
mengatur dirinya sendiri. Ketika sehat, beliau sabar
dan dapat menahan emosi. Namun pada saat sakitnya,
beliau menjadi sangat labil. Dan ketika meninggalnya,
saya sendiri ikut menurunkannya di liang lahat, saya
saksikan sendiri bahwa beliau tidak membawa suatu
apapun kecuali kain kafan yang menjadi penutup
tubuhnya.
Lalu saya mencoba merefleksikannya semua kejadian
tersebut pada diri saya. Pada saat ini, alhamdulillah,
saya masih sehat. (Merasa) muda, berambisi, aktif,
idealis dan lain sebagainya sebagaimana layaknya orang
seumuran saya. Namun saya bertanya dalam hati, sampai
kapan saya dapat miliki dan gunakan semua itu?
Sampai kapan saya terus bisa mengendalikan pikiran
saya?
Sampai kapan saya masih bisa solat dan puasa?
Apakah yang sudah saya lakukan selama ini? Apakah
cukup banyak kebaikan diantara hal yang sudah
dilakukan tersebut?
Untuk apa?
Untuk siapa?
Sampai kapan…. sampai kapan…?
Sampai kapan Allah meminjamkan tubuh dan pikiran ini,
sehingga saya bisa melakukan banyak hal, bisa bekerja,
menjaga keluarga, sekolah bahkan untuk menulis seperti
ini?
Sedangkan ketika tua atau sakit, jangankan untuk
bekerja, untuk solat dan makan saja bisa jadi susah
sekali.
Namun jangan membayangkan bahwa kita pasti akan tua,
bahkan orang yang usianya tidak jauh diatas saya,
tanpa aba-aba sebelumnya, meninggalkan pekerjaan,
keluarga (dengan 2 anak) dan kesempatan untuk mengejar
hal-hal lainnya.
Saya terkadang (saya sadar kadar ketakwaan saya masih
naik turun) menyesal mengapa jarang mengupayakan solat
berjamaah. Apalagi sekarang, mohon maaf, solat
jumatpun terpaksa saya subtitusi dengan solat dhuhur,
karena bentrok dengan kuliah. Itupun terkadang harus
lewat karena sulit menemukan tempat yang dekat.
Bapak, ketika sehatnya, melakukan hal-hal yang baik,
hebat dan sebagainya. Namun tetap saja menjelang ujung
hayatnya, tiada seorangpun dapat menolong kecuali
menaruh rasa iba akan kesakitannya.
Saya cuma berharap mudah-mudahan semua ini
mengingatkan kita, terutama saya sendiri, bahwa usia
kita tidak kekal. Bahkan bukan hanya usia, kemampuan
kita pun tidak kekal. Jadi, selama hayat masih ada dan
tangan dapat berbuat, marilah kita banyak berbuat
kebaikan, memperbanyak ibadah dan saling mengingatkan
karena mungkin hanya itulah yang dapat kita bawa
sampai ke liang kubur.
Proses wakit dan wafatnya Bapak telah memberikan saya
contoh nyata dari kata-kata “Bekerjalah seolah-olah
kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seolah-olah
kamu akan mati besok” (saya tidak tahu asal dari
kata-kata ini, mohon maaf dan mohon dikoreksi oleh
yang lebih mengerti).
Bapak telah meninggalkan banyak kenangan baik diantara
orang-orang, karya pekerjaan yang berguna bagi
keluarga dan masyarakat (negara) nya… dan sebuah
teladan yang tidak pernah beliau ceritakan atau
katakan sama sekali pada saya semasa hidupnya.
Farewell, pak. Doa saya selalu menyertai.
Wassalam
New Comments