“Hidup penuh dengan teka-teki…”
Psikiater yang dikunjungi Sakti mencoba menenangkan kliennya. Seorang eksekutif muda yang sedang didera oleh pertanyaan, “mengapa aku tidak bisa normal seperti orang-orang, dokter?” Sebuah pencarian yang sulit. Haruskah aku membiarkan orang-orang tahu kondisiku sebenarnya? Akankah mereka lari jika tahu aku seperti apa? Mustikah aku mengikuti aliran jiwa aneh dalam diriku? Apakah aku salah?
“Itulah gunanya teman, kawan,” dikala jiwa rapuh dan orang-orang paling dicintai tidak bisa membantu, teman datang dengan membawa empati. Dalam konflik kehidupan, persahabatan dipertaruhkan. Prinsip-prinsip diuji. Kepahitan dan kegetiran lah yang kemudian mengasah kebencian, kemarahan dan kekecewaan menjadi kilauan permata.
Sangat kreatif. Lucu. Berani. Melawan arus. Konflik. Nyata.
Aku pribadi acung jempol dengan filem karya Nia Di Nata ini (http://www.imdb.com/title/tt0374506/). Berangkat dari acara sehari-hari para istri eksekutif ibu kota, ‘Arisan’, sang sutradara berhasil mengangkat konflik, permasalahan dan kemunafikan yang selama ini masih tabu dibicarakan di masyarakat Indonesia. Disajikan dengan gaya humor dan lucu yang tampak alamiah tidak dibuat-buat. Aku menikmati filem ini, sekaligus mendapat pesannya. Terlepas dari keyakinan kita tentang ini:
‘Sakti bisa menjadi teman sejati bagi kita.’
Sekali lagi, menikmati filem, merasakan perjalanan pikiran sang sutradara, mengagumi akting. Setuju dengan pesan yang disampaikan? Itu lain cerita. Aku kira ini debatable. Tapi aku percaya, itulah realitas yang ada sekarang. Dihadirkan Tuhan untuk pelajaran. Untuk aku renungkan.
Jam 00:15. Pulang.
Namun, sejam sebelum acara nonton ‘Arisan’ dimulai, kita punya acara penting. Tepat setelah ngaji dan menyantap soto ayam yang aduhai rasanya — racikan Mbak Vira yang disiapkan dari Westerbadstraat — sebuah diskusi yang produktif, singkat, padat dan ‘to the point’ digelar. Ada apa dengan deGromiest? AADD? Apakah kita harus mempermasalahkan gay?
Bukan itu.
Kita sedang mengevaluasi kegiatan deGromiest, khususnya sejak kepengurusan yang baru (since December 2003). Ada yang bilang deGromiest sudah berubah 180 derajat. Ups.. yang berubah bukan deGromiestnya, tapi ketuanya (kata siapa Alia?). Menjadi agak-agak funky dan ndak karu-karuan. Yang lain masih baik-baik saja. (Jadi tahun depan diganti aja ya he.he..)
SATU
“200 euro kas kita berkurang sejak Desember tahun lalu,” kata Jeng Puri bendahara deGromiest yang kecil tapi paling energik. Isu soal keuangan ini membuka diskusi. Kenapa?
Tuhan telah me-”wujud”-kan salah satu SifatNya melalui ‘uang’. Sifat ‘Maha Pengasih dan Penyayang’. Melalui realitas Tuhan ini, manusia bisa menyayangi sesama, berbuat kebaikan, membangun kebudayaan dan masyarakat. Misalnya kita membantu adik asuh agar bisa terus sekolah, infaq ke mesjid Selwerd yang masih sering ‘tekort’, dan menjalankan berbagai kegiatan yang membangun ukhuwah dan silaturahmi.
Jadi, mengelola keuangan menjadi sangat penting.
Ada beberapa analisa mengapa ada penurunan kas deGromiest. Sebelum kepengurusan yang baru, pengumpulan dana dilakukan melalui iuran bulanan dengan jumlah tertentu. Namun cara ini dirasakan kurang enak. Rasanya anggota dipaksa. Padahal yang diinginkan adalah keihlasan beramal. Pemikiran ini membawa ke keputusan penting: menghapus iuran bulanan.
Sebagai gantinya apa?
Kita buat program “50-cents”. Idenya, setiap silaturahmi bulanan bendahara memberi amplop kosong kepada anggota. Setiap ada koin sisa belanja, dipersilahkan untuk ditabung ke amplop tersebut. Pada pertemuan bulan selanjutnya, amplop dalam kondisi tertutup dikumpulkan ke bendahara. Berapapun jumlahnya, tidak masalah. Ini bertujuan membiasakan hati untuk ingat kepada infaq.
Ide praktis ini ternyata “tidak praktis”. Terlalu banyak kerjaan harus mengelola amplop koin. Giliran pas mau silaturahmi, lupa ndak dibawa. Yang terjadi akhirnya, anggota begitu menerima amplop, langsung diisi secara spontan dan diberikan lagi ke bendahara. Amplop tidak dibawa pulang. Repot dan capek.
Program ini berjalan dengan baik, setidaknya sebelum dua bulan terakhir. Pada dua pertemuan terakhir tersebut, hampir tidak jalan. Ini diakui, memang kelalaian ketua untuk mengingatkan adanya sesi pengumpulan dana infaq pada dua pertemuan terakhir. Terlalu asyik diskusi dan ngobrol, dan baru ingat pas mau pulang. Selain itu program ini tidak disosialisasikan dengan baik. Setidaknya perlu selalu ada yang mengingatkan di setiap acara.
Apakah pada bulan-bulan sebelumnya cukup sukses? Iya. Bendahara bisa mengumpulkan setidaknya 50 euro per bulan dari infaq spontan ini.
Akhirnya diputuskan, program “50-cents” diganti dengan program “Amplop Infaq Spontan” pada waktu silaturahmi bulanan. Bendahara memberikan amplop kosong ke anggota pada awal acara, dan dipersilahkan memasukkan ke kontak sebelum mereka pulang.
Rumit ya ngurus pengumpulan dana. Kok susah-susah musti pake amplop segala? Kenapa ndak pake iuran saja yang pasti dan praktis? Ya, alasannya sudah jelas. Bukan terkumpulnya dana saja yang jadi tujuan, tetapi penumbuhan rasa sayang dan keihlasan berinfaq ini yang jauuuuuuuh lebih penting. 50 cents yang ikhlas lebih berat timbangannya dari pada 5 euro yang merasa terpaksa dan karena kewajiban organisasi.
So, Anda sudah mengerti kan alasannya?
“Plok..plok..plok?”
Semua applaus.. buat Mbak Heni. Karena amplop? Bukan. Tapi karena tak disengaja, acara jalan-jalan — istilah pesantren Krapyak-nya tadabbur alam — ke Efteling (www.efteling.nl) beberapa bulan lalu, telah berhasil menyisakan dana cukup banyak. Dan dana itu dimasukkan ke kas deGromiest. A new invention of a fund rising?
Ya. Tepat sekali.
Nulisnya diselingi lari pagi dulu. Jalur depan rumah, menyusuri tepian sungai, StadPark — di bawah pohon2 yang rindang, melihat2 kebun binatang mini — lalu keluar lewat Piezerweg dan terakhir Westerbadstraat (rumah Itob). Makan rujak nanas and mangga.
Oke, udah lumayan seger meski belum mandi. Aku lanjutkan reportasenya.
Seksi fund rising atau pengumpulan dana, adalah seksi yang ndak enak. Biasanya begitu, karena musti berurusan dengan perasaan orang. Perjalanan ke Efteling yang lalu semoga bisa menjawab tantangan ini. Biasanya untuk jalan-jalan, ndak masalah ngeluarin duwit. Jadi, sambil mengajak jalan-jalan, sekaligus juga mengajak berinfaq. Semoga perjalannnya lebih barokah. Lebih bermanfaat. Dilindungi Allah.
Jadi, nantinya setiap acara jalan-jalan yang dikoordinir deGromiest, bisa menjadi salah satu sumber pemasukan. Tentunya tidak perlu ditarget, cukup jika ada sisa dana. Ndak perlu banyak-banyak. Secukupnya saja. Cukup untuk beli server. Cukup untuk bantu bayar akses internet bulanan. Cukup untuk segalanya. “Ieu mah kemaruk, Jang!” komentar si Asep. Asep siapa? Ngawur.
“Kalau untuk acara ngaji Sabtu, dana dari mana untuk nyediain konsumsi?” tanya orang yang duduk di depanku (siapa ya, aku lupa, ndak dicatet semua sih). “Biasanya Wangsa nyiapin sebagian besar konsumsi. Temen2 yang datang kadang juga ikut bawain minuman, bahan-bahan masakan, atau buah2an,” kata Puri. Setuju. Kita gotong royong saja untuk acara sabtu ini, jadi tidak pernah menggunakan dana kas. Cuma perlu ada yang jadi kompor. Nanyain and kofirmasi. Jangan sampe tiba-tiba semua bawa barang yang sama: Ijs Thee semua.
DUA
“Ngomong-ngomong, gimana nih dengan trend terakhir acara ngaji sabtu? Kok seperti hesitate alias sungkan?” topik diskusi pindah ke isu yang lain. Sebuah isu yang aku sendiri sudah berpikir keras mencari solusi yang paling enak. Jalan tengah. Aku belum bisa memutuskan hingga saat itu. Udah diskusi dengan Puri, mbak Ike, Diana, Wangsa, Itob, Mas Amal, Bang Fahmi… Aku memilih mengendapkan dulu beberapa alternatif solusinya. Jangan sampe salah mengambil keputusan.
Isu apa sih? Sepertinya heboh banget. Pengen tahu ya..
Biasa aja sebenarnya. Sengaja dibuat agak heboh. Begini. “Awalnya bersama Pak Agus, acara ngaji sabtu ini bertujuan simple. Agar kita ada kegiatan bermanfaat di malam minggu. Ngaji Al Quran. Setelah itu mau ada acara yang lain silahkan. Jadi, mulai dari yang belum bisa ngaji, belum ngerti huruf Arab (apa lagi yang gundul), hingga yang moderate dan yang mahir baca, sama-sama ngaji. Yang ndak bisa ya cukup datang ndengerin aja.
“Abis itu kita diskusikan beberapa topik yang menarik dari surat yang dibaca. Dari kita dan untuk kita. Kita semua sama-sama belajar. Tidak ada guru atau murid. Semua pasti punya perasaan dan pemikirannya masing-masing terhadap topik yang diangkat. Itu yang kita saling tukarkan,” kira-kira demikian kata Wangsa. Sang tuan rumah dan yang dulu ikut membidani acara ngaji ini.
Perkembangan selanjutnya, kita mendapat anugerah, kehadiran Ustad Yasin dari Siria. Beliau ilmunya luas. Bacaannya bagus. Pernah tinggal di Malaysia, bisa “sikik-sikik ucap Melayu.” Senang sekali beliau membimbing kita membaca Al-Quran dan membahas segala pertanyaan kita. Alhamdulillah, banyak sekali masukan yang kita dapet. Rasanya sejak ada beliau, acara ngaji menjadi lebih berbobot. Tidak sedikit temen-temen yang menjadi bersemangat karena bisa memperdalam ilmu agama. Pertanyaan-pertanyaan ilmiah juga bisa dijawab. Seperti tetesan embun di gurun pasir.
Bukankah itu bagus? Emang. So what? What is the problem?
“Masalah” — kalau mau dibilang masalah — muncul ketika Ustad Yasin mulai memperbaiki bacaan. Awalnya, beliau mengikuti saja bacaan peserta ngaji. Benar atau salah dibiarkan saja. Setelah itu diskusi. Nah, setelah beberapa pertemuan, dirasakan perlu ada peningkatan. Bacaan yang salah mulai dibenarkan. Sebagian besar — khususnya yang memang sudah lancar dan ingin memperbaiki bacaan — merasa senang dan tidak masalah. Tapi yang sama sekali belum bisa baca, atau masih banyak sekali salahnya, rasanya kok gimana gitu. Ndak enak. Terlalu banyak salahnya. Jadinya muncul rasa sungkan.
Diakui memang, kalau tujuannya untuk meningkatkan bacaan, forum spt ini kurang bagus. Menyatukan yang belum bisa, baru bisa, dan sudah mahir jadi satu dengan seorang guru, adalah model yang kurang pas. Beberapa temen yang dulu mau hadir, tapi karena sungkan belum lancar, jadinya tidak hadir. Inilah masalahnya. So, you got the point? Bagaimana pun, kita ingin merangkul sebanyak mungkin temen2 untuk bisa ngumpul ngaji, diskusi, masak-masak dan akhirnya movie clubbing..
Apa penyebab utama sungkan itu?
Ketemu jawabnya. Bukan karena adanya Ustad, tetapi karena perbaikan bacaan yang nota bene kemampuan bacaan peserta sangat beragam. So, solusinya bagaimana? Harusnya lebih mudah sekarang. Setidaknya mulai terbayang celah tengah, jalan tengah. Antara kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman serta tujuan untuk mengajak sebanyak mungkin peserta.
Solusinya begini.
“Dari empat minggu sebulan, satu sudah dipakai untuk silaturahmi bulanan. Jadi kita punya 3 pertemuan lagi seminggu untuk ngaji sabtu. Kita akan undang Ustad Yasin di salah satu pertemuan itu. Dengan metode seperti biasa. Dua pertemuan lagi dilakukan bener-bener dari kita, oleh kita, untuk kita,” demikian usulan Jarir ‘Masya Allah’ Atthobari. Diharapkan bener-bener cair. Seperti tadi malam.
Istirahat lagi ya. Jam 14.30. Musti ke Wangsa bantu benerin sepeda. Risky juga, Wangsa naik sepeda kemaren ke ACLO. Di tengah jalan sampe kecapekan. Tapi semangat 45 nya mengalahkan rasa sakit. Lucu juga lihat Wangsa cengar-cengir sepanjang jalan menahan sakit.
TIGA
Oke, kita lanjut lagi. Sekarang tentang 17 Agustus 2004 dan acara silaturahmi bulan Juni. Untuk tempatnya, sudah dua bulan yang lalu aku booking dan minta ijin ke tuan rumah. Farhad. Di rumahnya kita akan ngumpul-ngumpul lagi. Topik utama yang akan dibahas di pertemuan mendatang adalah tentang acara 17 Agustus-an yang telah diamanahkan oleh sidang paripurna deGromiest pada malam tahun baru 2004 yang lalu di Concordiastraat 67A.
Tidak ada pembicara yang akan kita undang seperti biasanya. Tapi akan bagus juga jika acara dimulai dengan “ular-ular” 10 menitan. Aku tertarik dengan diskusi di depan cafe ACLO dua bulan lalu dengan Farhad. Tentang sejarah Islam. Minatnya tentang sejarah tak tertandingi. Bukunya cukup banyak dibanding punyaku, tentang sejarah Islam. Jadi, kalau beliau — Farhad — berkenan, aku ingin memberikan “corong” kepadanya. 10 menit tentang sejarah Islam, dan bagaimana kita menapakinya. Sekali lagi, ini kalau beliau berkenan memberikan ular-ular.
Bagaimana Farhad? Setuju?
Setelah itu, kita akan membahas rencana penyelenggaraan peringatan 17 Agustusan di Groningen. Mengapa kita perlu menggelarnya? Berapa besar komunitas Indonesia dan yang berjiwa Indonesia di Groningen? Suriname, Indo-blesteran, Indonesia aseli, Indonesia berpassport belanda, dan juga para mahasiswa Indonesia. Bagaimana kalau kita kumpulkan mereka? Asyik ndak? Apa acara yang menarik dalam peringatan tersebut? Bagaimana kalau tarik tambang, balap karung, lomba makan krupuk, lari kelereng, keroncongan, dangdutan, qosidahan, lomba masak a la Indonesia? Siapa yang nanti bertanggung jawab jadi ketua panitia? Siapa saja panitianya? Bagaimana kalau gabungan dari deGromiest, PPI, juga dari warga Indonesia/berjiwa Indonesia di Groningen? Ah.. endless questions… kita bahas saja nanti. Oke?
Pak Dubes menyambut positif ide ini. Beliau langsung menyambungkan saya ke Pak Bambang, ketua panitia 17 Agustusan KBRI. “Tolong diinformasikan ke saya, rencana acara 17 Agustusan yang akan kalian adakan di Groningen,” pinta pak Bambang. Beliau ingin mendapat masukan, agar acara di Den Haag juga oke. Sempat juga nyentil-nyentil dikit masalah dana dengan bendahara KBRI. Belum sampai serius, tapi setidaknya introduksi ide dan rencana kita ini kepada beliau-beliau disela-sela Groens-CUP yang lalu cukup penting. Mbak Sari juga menyampaikan hal yang sama, jadi semoga gelombang ini kedengaran cukup nyaring sampai KBRI. Kita perlu dukungan.
Kapan kita bicarakan ini?
Sebenarnya aku tetap ingin diadakan di pertengahan Juni, meski aku masih di Indonesia. Tapi Buyung yang aku kedip-kedipin biar menggantikan aku menjelaskan ide acara ini di pertemuan mendatang keberatan. “Nanti saja nunggu balik ke sini,” usulnya. Oke, kalau begitu:
26 Juni 2004. 16:00 - selesai. Di rumah Farhad cs.
Sekalian, kalau ada ide apa saja yang musti aku bawa dari Indo untuk acara 17-an, di list saja. Filem Naga Bonar, lagu-2 perjuangan, bendera merah putih yang banyak?.. Asal ndak berat2 amat biar masuk bagasi.
EMPAT
“Kita akan kedatangan tamu dari Delft. Saudara-sudara kita dari PKS — tahu kan kepanjangannya? — ingin bersilaturahmi ke Groningen. Nanti kita adakan pertandingan olah raga persahabatan,” demikian info dari Khairul “Superman” Saleh. Kapan pak cik waktunya? Setelah dilihat-lihat lagi kalendar kegiatan deGromiest, insyaAllah kita bisa siap menerima kedatangan mereka di awal Juli. Oke pak cik. Setuju.
“Kayaknya kita perlu juga silaturahmi ke kota lain. Gimana kalau ke Enschede?” tanya Bung Superman. Ya, bagus sekali. Kita ntar ketemu The Fenomenal Supporter — Ime. Tapi rasanya sampai Agustus kita sudah full. Jadi setelah Agustus saja kita rencanain lagi.
“Oh iya, itu Ibu Aisyah tadi nelpon saya. Nanyain kapan mau main ke Delfzail?” tambah Mbak Heni. Perlu sodara-sodara ketahui, Bu Aisyah ini ibunya Bakhtiar yang cakep itu. Mereka hadir di pertemuan bulanan di rumah Mbak Sari. Bu Aisyah asli Indonesia, menikah dengan orang Belanda. Sekarang sudah menjadi warga sini. Setelah pertemuan yang lalu bubar, kami ngobrol-ngobrol tentang 17-Agustusan. Wah, semangat sekali beliau. Banyak ide keluar tentang bagaimana nanti model acaranya. Seperti kerinduan pada kampung halaman yang sangat mendalam. Seolah akan terobati. Aku ingin meminta kalau berkenan agar bu Aisyah ikut di dalam kepanitiaan 17-an nanti.
Delftzail. Kita akan ke sana. Setuju kan? Tinggal soal waktunya kita cari yang pas.
“Bowling..bowling dong..” usul Itob dan Wangsa. Iya, perlu ada variasi oleh raga nih. Selain olah raga mingguan, nantinya deGromiest juga akan mengadakan variasi olah raga seperti Bowling. Ini tentu di luar anggaran kas deGromiest. Dipersilahkan bagi anggota yang berminat untuk mengkoordinir sendiri. Waktu yang bagus adalah setelah acara ngaji sabtu. Jadi kalau tidak ada movie klub, bisa langsung ke bowling arena. Itob dan Wangsa yang akan mengkoordinir.
Awas, jangan sampe jadi bolanya…
Hampir lupa. Ada perubahan dikit tentang acara olah raga mingguan di ACLO. Biasanya hanya 2 jam, sekarang ditambah jadi 3 jam. Biar puas mainnya. Terus, kalau biasanya masing-masing yang datang ikut iuran sewa ruangan seharga 2 sms — alias 50 cents –, sekarang dibuat seharga sebungkus patat asin — 1 euro. Masih cukup murah kan?
LIMA
Oke, kita pindah ke topik selanjutnya. Tentang Buletin deGromiest. Bagaimana Wangsa? Bisa dilaporin? “Buletin sudah terbit sekali. Rasanya kita punya kendala di masalah administratif saja. Seperti mendata siapa yang perlu dikirimi, alamatnya, dan pengirimannya,” jelas Wangsa. Oke, rasanya agak susah ya ini dipecahkan. Kerjaan yang cukup berat, karena harus maintain data muslim di Groningen, khususnya yang tidak bisa ikut kegiatan deGromiest. Seperti bu Aisyah, dll. Diragukan kalau ada orang yang mau memegang tanggung jawab ini. Berat, tetapi tantangannya kurang.
Bagaimana kalau modelnya diubah? Dari buletin cetak, menjadi buletin elektronik saja? Bukankah sekarang udah jamannya internet? Toh, orang2 spt bu Aisyah juga punya akses internet. “Internet adalah salah satu bentuk kesederhanaan hidup di Belanda,” kata mas Amal. Mengapa tidak kita manfaatkan? Kita nanti tidak perlu pusing-pusing soal distribusi. Dengan demikian, kita bisa fokus pada content alias isi.
Ide adanya buletin ini penting sekali dan harus ada. Tinggal sasaran dan strateginya saja yang perlu direvisi. Nantinya kita buat sebuah tim redaksi. Kerjaannya aku kira cukup menantang. Setidaknya tiap minggu, berdiskusi, tukar pikiran tentang topik apa yang musti diangkat di buletin elektronik. Lalu menuliskannya.
Jiwa jurnalistik akan muncul. Pikiran yang kritis, curious, dan terus bertanya akan terasah. Menantang, karena kita dituntut untuk mengetahui hal-hal terbaru, penting, dan menarik untuk diangkat. Tidak hanya berpikir tentang bidang yang lagi digeluti di lab saja. Tetapi isu sosial, global, lokal, pasar Vismark, perubahan kebijakan imigrasi Belanda, dll bisa diangkat. Sangat-sangat bermanfaat.
Dimana bisa beli ikan yang paling murah di Vismark? E-471 itu apa? Halal ndak sih? Bagaimana kebijakan Belanda sekarang tentang pendatang baru? Bagaimana prosedur mendapatkan verblijf dokumen dengan policy yang baru sekarang? Bagaimana tanggapan masyarakat Belanda di Groningen tentang muslim, khususnya setelah mereka sering melihat berita tentang teroris dari muslim? Mengapa Fatamorgana di Efteling seolah menggambarkan kehidupan Arab yang sangat buruk? Apa ide dibalik itu? Apa dampaknya bagi orang Belanda yang melihatnya? Ah.. banyak pertanyaan kan yang bisa diangkat. Rasanya tiap minggu akan selalu ada topik menarik untuk dibahas dan ditulis.
“Oke, Buyung dan wangsa ntar diskusi juga dengan Mas Amal ya. Membahas strategi dan teknis dari tim redaksi buletin deGromiest,” segera aku ambil keputusan.
“Oke bang,” sanggup Buyung.
ENAM
Topik terahir, Internet… Ah lega. Udah mau selesai nulis reportasenya. Udah ndak sabar mau lihat rumah barunya Pak Tri dan Pak Ketut. Just 200 meters away from mine.
“Bulan depan kita musti bayar domain lagi. 19 euro.” kata Mas Amal yang mbahurekso server deGromiest. Domain ini dibayar hanya sekali setahun. Dengan membayar ini, kita punya alamat di internet yang keren itu: degromiest.nl.
Selain itu, mengingat besarnya pemanfaatan server oleh deGromiest, sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut membantu membayar akses internet bulanan. Selama ini atas budi baik keluarga Mas Amal dan Mbak Heni. Jadi kita punya server, bisa diakses dengan kenceng, selama ini numpang di rumah beliau.
“Bagaimana Jeng Puri? Bisa kita alokasikan tiap bulan untuk ikut iuran bayar internet?”
Ada ide bagus untuk fund rising. Mengingat banyak sekali dokumentasi foto, kalau didownload satu per satu juga berat. Terutama kalau sudah di Indonesia, pake dial-up lagi. So, “bagaimana kalau dibuat jasa burning CD berisi koleksi foto2 kegiatan deGromiest?” usul Mas Amal. Bang Ferry bisa menyiapkan file-filenya. Dana yang terkumpul bisa dimasukkan ke kas deGromiest.
So, jika Anda ingin pesen CD foto2 Anda di kegiatan deGromiest, silahkan kontak Mas Amal dan Bang Ferry. Lumayan kan untuk bahan sejarah bagi anak-cucu Anda.
YOUR 5 MINUTES, FOR A BETTER DEGROMIEST
Anda punya usulan, saran, kritik bagi deGromiest setelah membaca reprotase evaluasi di atas? Please, duduk 5 menit saja dan tuliskan komentar Anda di form di bawah ini.
Wassalam.
31 Mei 2004. A day before home sweet home…
New Comments