Entries by amal

Ziarah

Filed under Renungan & Hikmah

Setelah tidak bertemu muka hampir empat tahun, saya menjumpai adik
kandung di kota kecamatan tempat kami dilahirkan. Lebih tepat lagi
di rumah yang masih saya ingat persis ada pohon rambutan di bagian
dalam, pagar kawat di bagian depan, sebuah sumur pompa tangan, dan
lorong kecil di sisi kiri tempat ari-ari jabang bayi kami berdua –
saya dan adik — ditanam. Bangku kayu di beranda juga masih seperti
puluhan tahun lalu, termasuk warna abu-abu, yang hingga kini tidak
berubah. Salah satu momen nostalgia di bangku itu adalah pada saat
kami — ibu, adik, dan saya — bercakap-cakap santai beberapa bulan
setelah bapak berpulang ke rahmatullah dan saya bersiap-siap
beberapa hari berikutnya akan ikut UMPTN di kota kabupaten.

Sebuah keping sejarah yang selanjutnya mengantarkan saya pada keadaan
sekarang ini.

Adik saya tidak berubah; di antara sekian preferensinya dalam
menikmati hari-hari sibuknya di kota kecamatan, dia menyambut saya
dengan sebuah hadiah: buku tulisan Sindhunata, salah satu kolumnis
Kompas yang aktif, tentang kesenian Jawa Timur, Ludruk. Dengan judul
Prabu Minohek — Ilmu Ngglethek, buku ini disebut oleh penulisnya
tidak akan sanggup bercerita secara utuh tentang seorang Kartolo,
melainkan lebih merupakan sebuah “feature” tentang Kartolo “and his
gang”.

Saya yang membaca buku tersebut sepanjang perjalanan kembali dari
Jember ke Bandung, mau tidak mau tersenyum simpul sendiri — untuk
menghindari tergelak seorang diri — menelusuri bab demi bab yang
kira-kira separuh lebih ditulis dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan
dan Malang. Di sana-sini diumbar ungkapan urakan khas Kartolo dan
grupnya jika sudah seperti “in trance” di panggung. Ironi,
kekonyolan, kesombongan-setengah-ndablek gaya Basman, sampai dengan
ejek-ejekan khas Surabaya, “Guuuuoooblokkkk!”, hahahaha… (gaya
Basman kalau sehabis memuji dirinya sendiri yang digambarkan penuh
kekonyolan).

Di Surabaya, saya hanya menghirup udara sekitar stasiun Gubeng dan
warung nasi rawon di pojokannya. Tidak sempat saya kitari kota
“mlaku-mlaku nang Tunjungan” ini seperti saya kagumi Paris yang
glamor dan saya puji kota Eiffel ini cocok untuk kaum bohemian.
Benar, Paris agak angkuh karena yang disodorkan adalah aroma “seni
untuk seni” dengan titik pusat pada nama-nama besar dan cita rasa.
Jika kita merumput di tempat-tempat publik di Paris dan terdengar
alunan musik klasik, seperti itulah kita membayangkan sebuah
adikarya yang kompleks.

Dan saya telah kembali di kampung sendiri dengan penjelasan bahwa
kesenian yang diusung Kartolo dan teman-temannya adalah sebuah seni
yang sebenarnya “tidak berisi apa-apa”. Jika kita sedikit kecewa
karena ternyata Kartolo hanya menceritakan kehidupannya sehari-hari,
mengulang guyonan yang dibawa teman-temannya, dan mengolok-olok
kepahitan hidup di negeri ini, itulah yang kemudian disebut “ilmu
ngglethek”. (Ngglethek: ungkapan “oh ternyata…”)

Itulah kehidupan kesenian yang menjadi semacam bohemianisme para
pekerja seni Ludruk dan diterima secara massal. Kaset rekaman
Kartolo meledak terjual dan dinikmati semua lapisan masyarakat.
Jula-juli (semacam pantun, parikan) yang dilantunkan dapat menyentuh
salah satu pendengarnya menjadi bertobat dari kecanduan judi dan
salah satu hasil “industrialisasi” kaset rekaman itu adalah Kartolo
menikmati tempat tinggal yang memadai, menyekolahkan kedua putrinya
sampai jenjang perguruan tinggi, dan mengantarkan dia dan isterinya
berhaji. Dia sendiri kemudian mulai aktif mengasuh majelis Yasinan.

Banyu urip akeh tandurane,
mliwis netes manuk dara
urip ning donya ibarate wong mampir ngombe
wis pantese wong urip ora golek pekara

Dan cukup sekian,

Yu Painten kleleken andha
cekap semanten kidungan kula


Jezus is Een Profeet

Filed under Islam di Groningen

Safira, anak perempuan bungsu saya, sepulang dari sekolah sehari sebelum libur Hari Paskah (passendaag) bercerita, “Pak, tadi aku di sekolah melihat God di tv.” Wah, ini menarik, karena di Sekolah Dasar Negeri di Belanda tidak ada pelajaran agama. Dugaan saya ini acara tambahan menonton televisi tentang agama. Ehm, “melihat” Tuhan? Seperti apa kira-kira…

Saya tanya Safira, “Seperti apa God yang dilihat itu, Dik?” Dia seperti heran dengan pertanyaan ini, jadi tidak langsung dijawab. Sebelum itu, si kakak, Rayhan, memberi penjelasan, “Bapak tahu kan, God itu apa? Allah, kan?” Mereka memang belum tahu kata “Tuhan”, karena dikenalkan nama “Allah” terlebih dulu, dan setelah itu mendapat kata “God” dari buku dan dari mendengar di sekolah.

Saya ganti pertanyaan untuk Safira, “Siapa nama God yang dilihat di tv, Dik?” Safira mengingat-ingat sebentar, “Jess, Jesen…. mmm” Langsung saya yakinkan, “Oooh… Jezus, ya?” (bacaan untuk “u” memang dekat dengan “eu”). Ah, benar! Safira langsung menjelaskan dengan lancar bahwa beberapa temannya mengacungkan tangan pada saat ibu guru bertanya, “Wie gelofte van Jezus?” (Siapa yang “beriman” [akan] Yesus?)

“Jezus itu siapa, pak?” Seperti biasa, sebelum berlanjut pada tanya-jawab yang lebih kompleks, saya jelaskan bagian yang sederhana terlebih dulu, “Jezus is een profeet (seorang nabi).” Tentu saja segera disusul dengan pertanyaan, “Apa profeet itu?” Karena mereka akan sulit menerima terjemahan “nabi”, jadi saya jelaskan dengan contoh: seperti Muhammad, jadi orang yang diberi tahu oleh Allah, misalnya tentang sholat, puasa.

Safira menegaskan, “Jadi bapak geloft juga ke Jezus?” Karena tampaknya konteks pertanyaan dia dikaitkan dengan teman-temannya yang mengacungkan tangan, saya lebih baik menjelaskan lebih panjang dan bertahap, “Begini Dik, Bapak geloft van Jezus tapi bukan God seperti yang dilihat di tv. atau seperti teman-teman di sekolah. Bagi Bapak, Jezus itu profeet, orang, seperti kita.” Rayhan ikut menimpali, “Itu yang tahu sholat, ya Pak?” Iya, “Profeet itu diberi tahu oleh Allah misalnya tentang cara sholat dan kemudian orang Islam mengikuti dari dia.”

Seperti biasa, Safira merasa perbedaan tersebut membuatnya heran: mengapa begitu? Karena memang berbeda, Dik. Kita kan orang Islam; God adalah Allah, sedangkan Jezus itu adalah profeet.

Agaknya inilah “telur paskah” yang saya peroleh tahun ini: diskusi persoalan keagamaan dengan anak-anak, dengan bahasa sederhana namun berisi makna akan keyakinan. Tentu saja, sebagian istilah dan konsep tersebut masih baru bagi mereka. Namun biarlah mereka menyimpannya dulu dan akan mendapatkannya sedikit demi sedikit sambil menapak ilmu nantinya.

Yang saya usahakan adalah: mereka menyadari adanya perbedaan tersebut dengan sikap awal memahami keadaan masing-masing.


Energi dari senandung keprihatinan

Filed under Adik Asuh

Diskusi kecil usai acara silaturrahmi bulanan deGromiest sekaligus perayaan Iedul Adha Sabtu 22 Januari 2005 berlangsung santai, tetapi tidak berlebihan kalau diklaim menghasilkan sebuah “komitmen” untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang bermanfaat untuk sebuah kegiatan sosial. Berbagai macam ide dan usulan muncul sebagai wujud kerinduan berkontribusi untuk sebuah aktivitas. Mulai dari ide sederhana, dengan kemungkinan implementasi yang bisa dilakukan dalam waktu dekat sampai sebuah ide besar dalam jangka panjang. Merujuk kepada apa yang telah dan sedang dilakukan oleh “anak-anak Indonesia” yang berdomisili di kota bagian Utara Belanda ini, rasanya bukanlah sebuah mimpi ataupun angan-angan belaka untuk merealisasikan ide-ide yang muncul. Apalagi salah seorang dari anggotanya sudah menyatakan komitmen untuk menyumbangkan (atau bahasa lain mewakafkan) “aset” nya untuk mewujudkan salah satu bahasan penting dari diskusi tersebut.

Untuk bahasan ini menyangkut bukan hanya jangka pendek namun juga sebuah rencana besar untuk jangka panjang. Apa dan bagaimana bentuk kegiatan ini mungkin tidak akan menjadi bahasan dalam tulisan ini, karena masih akan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi dan pertemuan lanjutan. Walaupun pada pembicaraan awal sudah mengerucut kepada hal yang lebih konkrit.

Tulisan ini hanya mengusung sebuah pesan moral yang dari sebuah diskusi kecil itu. Kekhawatiran akan “tersendat” nya implementasi ide ini bukan tidak mengemuka, karena banyak permasaalahan-permasaalahan yang mungkin menjadi hambatan, mulai dari hambatan yang bersifat teknis semisal susahnya menghubungi bekas anggota deGromiset yang sudah tersebar di mana-mana sampai kepada permasaalahan non-teknis, semisal berkurangnya sebuah idealisme. Namun nada optimisme, Insya Allah mendominasi diskusi. Saya sendiri merasakan prediksi yang kuat untuk implementasi ide-ide tersebut. Sekali lagi bukan tidak berdasar, tetapi melihat apa yang telah, sedang dan akan dilakukan, salah satunya adalah berupaya berbuat seoptimal mungkin untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah di Aceh dan sekitarnya. Ide-ide dalam diskusipun sebenarnya adalah salah satu perpanjangan dari kerja-kerja ini.

Salah satu faktor yang membuat ide-ide ini semakin menguat adalah karena keprihatinan yang mendalam tehadap permasaalahan riil yang dihadapai masyarakat Indonesia saat ini, masaalah anak-anak yatim piatu yang kehilangan orang tua akibat musibah tsumani, kemiskinan yang diakibatkan dan kalau ingin diperluas dalam ruang lingkup Indonesia (bukan hanya yang diakibatkan oleh musibah tsunami) maka permasaalahan tersebut tidak akan bisa diselesaikan oleh satu, dua atau tiga lembaga, atau pemerintah saja, namun melibatkan semua unsur yang terpanggil untuk berbuat sesuatu dalam meminimalisasi masaalah ini.

Keprihatinan yang timbul di tanah air bukan hanya yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa alam seperti musibah tsunami. Tapi juga diakibatkan oleh menipisnya nilai-nilai moral ditengah masyarakat dari berbagai level. Berkurangnya aktualisasi nilai-nilai agama, menipisnya “ketakutan” (khauf) kepada Allah SWT dalam konsep taqwa. Keengganan “bertaqarub” pada Allah SWT, menempatkan hati nurani tidak lagi sebagai rujukan untuk memutuskan sesuatu, tidak lagi menjaga hati dan lain-lain. Korupsi yang merajalela adalah salah satu produk dari “penyakit moral ini”.

Diberbagai kesempatan kita selalu dengan sangat mudah menemukan ungkapan-ungkapan keprihatinan terhadap bangsa Indonesia, di pertemuan-pertemuan resmi seperti seminar atau konferensi, dalam forum diskusi kecil, media masa, mailing lis dan media-media lain. Bahkan kalau kita merenung sendiri akan sangat mudah menemukan betapa prihatinnya kita melihat kondisi yang ada sekarang. Siapa yang tidak akan geleng-geleng kepala mendengar berita ada orang yang memanfaatkan dana bantuan bencana alam (seperti yang terjadi dalam gempa bumi di Liwa, Lampung) beberapa tahun yang lalu untuk kepentingan pribadi. Belajar dari kejadian itu maka banyak orang “berteriak” supaya jangan pula terjadi korupsi atas bantuan bencana alam itu dalam musibah Aceh kali ini. Kalaulah ada yang memanfaatkannya maka tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa “aneh” nya orang itu.

Kalau dipajang satu-satu ungkapan keprihatinan kita terhadap kondisi yang ada saat ini, sungguh tidaklah akan cukup dimuat dalam beberapa lembaran kertas putih. Tidak sedikit yang akhirnya punya kesimpulan bahwa, ya…sudahlah memang begitu keadaanya. Mengambil contoh masaalah korupsi, yang mulai dari tingkatan RT, dalam mengurus KTP, berbagai kasus “curang” penerimaan PNS yang baru-baru ini dilakukan, sampai yang jumlahnya luar biasa dan tak tersentuh hukum. Seolah-olah tidak ada celah lagi untuk mengatasinya bahkan menguranginya, karena sudah mendarah daging. Mendarah daging maksudnya adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa sulitnya menghapus korupsi ini. Kalau sudah menjadi darah dan daging, bukankah itu adalah syarat dari sebuah kehidupan bagi tubuh ?. Tatkala darah dan daging dihabisi tentu sudah tidak ada lagi kehidupan dalam tubuh itu.

Sebagai seorang yang percaya pada Allah SWT, tentu kita tidak akan berputus asa untuk melihat perbaikan-perbaikan dari segala aspek kehidupan, karena yang terbaik di mata Allah SWT adalah sesuatu yang lebih baik hari ini apabila dibandingkan dengan hari kemaren, dan hari selanjutnya adalah harus lebih baik dari hari ini. Hanya meratapi segala keprihatinan yang ada bukanlah sebuah solusi. Tentu tidak bijaksana juga kalau menjadikan keprihatinan tersebut hanya sebuah bahan obrolan. Adalah sebuah keniscayan merubah keprihatinan-keprihatinan dalam diri terhadap kondisi yang ada menjadi sebuah energi yang kuat untuk berbuat dan beramal kearah perbaikan-perbaikan. Energi itu diharapkan mampu memotivasi untuk melakukan sesuatu yang signifikan, sebesar apapun dia. Energi itu juga sudah seharusnya mampu menggerakkan diri untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang ada dan menggunakannya dalam beraktivitas. Aktivitas individu dalam bentuk kecil, apabila digabung dalam sebuah komunitas akan mampu menghasilkan output besar.

Ide-ide yang muncul dari diskusi kecil sesudah acara silaturrahmi dan peringatan Iedul Adha Sabtu yang lalu, mudah-mudahan merupakan salah satu bentuk energi penggerak untuk berbuat sesuatu, ya…energi yang lahir atas keprihatinan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara di tanah air tercinta. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan, Amiin.


Menjalani Kegagalan

Filed under Renungan & Hikmah

Salah seorang teman kami menceritakan sekelumit pengalaman ruhani mendapat ketenangan batin dengan jalan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal yang berkesan olehnya adalah cerita tentang si fulan (biasanya diperankan dengan tokoh Abu Nawas?) yang mencari kunci yang hilang dengan mengacak-acak halaman, di luar, rumah. Setelah ditanya seseorang, dia menjawab bahwa kunci tersebut hilang di dalam rumah. Seharusnyalah “mencari sesuatu” tersebut dilakukan dari dalam terlebih dulu, jangan mengacak-acak dan sibuk di luar. Akhirnya kembali pada hati dan jiwa kita, karena itulah “bagian dalam”, interior, yang dimiliki manusia.

Teman yang menceritakan pengalaman ruhani ini mempraktekkannya dengan ikhlas, melakukan adjustment terhadap dirinya, dan alhamdulillah, masalah kritis yang dihadapi dapat diselesaikan. Mudah-mudahan ridla Allah besertanya, yang telah berusaha memperbaiki keadaan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dulu.

Cerita mencari “di dalam” atau “di luar” di atas menjadi favorit teman yang lain pada sisi sebaliknya. Dia berpendapat bahwa apabila pencarian kita di dalam hanya berpusing-pusing seperti mengurai benang kusut dan menguras tenaga terlalu banyak, ada saatnya pergi keluar, menjauh (bukan menghindar) dari benang kusut tersebut dan melihat persoalan dari sudut pandang “luar” yang jelas lebih lapang dan kemungkinan beroleh pemandangan yang berbeda.

Jika kita sudah sampai pada substansial yang lebih hakiki: apa sebenarnya “luar” dan “dalam”? Batasnya hanya setipis pintu. Penekanan sebenarnya pada introspeksi terhadap diri sendiri — yang hal itu dapat diperoleh dari melihat diri kita sendiri atau menyadari keragaman yang terdapat di luar.

Hidup sendiri tidak selalu seperti film Hollywood yang menyederhanakan persoalan dengan jagoan segera dimenangkan. Bagaimana jika dalam cerita teman tentang pengalaman ruhani tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan? Ini penting, karena pertama, tidak semua harapan kita merupakan sesuatu yang memang baik atau cocok dengan kondisi kita. Sebagian orang malah seperti “tidak berpengharapan” dalam konteks meyakini bahwa segala sesuatu yang dialami dalam perjalanan hidupnya itulah yang terbaik baginya. Mereka bukan orang-orang pasrah yang kemudian menjalani hidup dengan bermalas-malas, melainkan para pekerja keras karena percaya dalam “tiada berpengharapan” tersebut mereka harus tetap bermanfaat bagi sesama.

Kedua, semata-mata memang harapan tersebut belum juga segera terwujud. Sebuah email dari teman lama pernah mempertanyakan hal itu kepadaku: saya sudah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, namun mengapa persoalan ini belum juga usai?

Doaku kepada mereka yang masih seperti berkelanjutan menghadapi masalah seperti tidak ada ujung akhirnya tersebut: semoga rahmat Allah dicurahkan kepada mereka, sehingga dihindarkan mereka dari putus asa. Saya tetap harus menjawab pertanyaan tersebut — tampaknya yang ia perlukan hari ini adalah seorang teman yang dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Saya perlu berhati-hati agar tidak overdosis menasehati dia untuk mengorek kekurangan diri sendiri terus (kurang ikhlas, kurang beribadah, kurang dekat dengan Allah, misalnya), karena memikirkan diri sendiri terus-menerus dengan tensi berat dapat berakhir dengan putus asa karena frustasi.

Saya jawab begini,

Menurutku, semua hal/persoalan/keadaan senantiasa ada batas akhirnya, karena kita hidup di dunia yang fana. Batas akhirnya bisa berupa persoalan tersebut diselesaikan baik-baik atau tidak pernah selesai namun kita menjemput maut (yang berarti persoalan tsb. selesai, kan?). Tidak ada masalah yang abadi, karena Tuhan juga Maha Adil; atau sebaliknya, kita manusia demikian tidak bisa bersyukur sehingga setiap hari dianggap bermasalah.

Maksud dari penjelasanku di atas bukan menyudutkanmu. Bukan pula membela pihak lain. Atau sebaliknya. Kalimat-kalimat di atas itu netral, berlaku untuk semua hubungan antarmanusia.

Jika kita berpendapat kondisi yang sedang dialami sekarang merupakan “penderitaan”, coba dicari akar persoalannya: bagian mana penyebab penderitaan tersebut. Apabila sudah didapat, coba pertimbangkan baik-baik kondisi seharusnya (yang kita inginkan). Apabila dalam waktu dekat kondisi seharusnya tersebut sulit dicapai, beri batas waktu akhir dari persoalan tsb. menurut kita. Karena tidak mungkin seseorang hidup dalam persoalan terus-menerus sepanjang hidupnya, apalagi jika persoalan tsb. dibuat/terjadi karena keputusan manusia (lain).

Nah, dalam menuju batas jangka panjang tersebut, kita harus menghargai solusi-solusi jangka pendek. Misalnya menikmati hidup, mensyukuri pemberian-Nya, dan hal-hal lain yang barangkali bagi orang lain tidak terlihat. Rasakan dengan mata hati, sehingga dalam menuju batas jangka panjang tersebut kita bisa ikhlas.

Setelah itu, apabila dalam jangka panjang persoalan tersebut tetap tidak dapat diselesaikan sendiri, lakukan perundingan yang baik terhadap penyebab kondisi tersebut. Dalam beberapa hal, terkadang diperlukan pihak ketiga yang dapat melihat persoalan tersebut dengan lebih jernih dan adil.

Hidup memang sulit, jika kita kita sibuk mengitari bagian yang sulit; dan sebaliknya, hidup juga mudah, jika kita berusaha mendapatkan bagian-bagian yang memudahkannya. Di antara keduanya itu ada penderitaan, pengorbanan, dan keikhlasan.


Star Trek dan Agama

Filed under Islam Aktual

Star Trek, Star Trek, fiksi tentang alam semesta masa depan yang punya fans banyak karena penggarapan detilnya top. Ada Fisika Star Trek, Bahasa Klingon yang sudah punya situs Wikipedia sendiri. Alhasil sekarang sampailah pada topik yang boleh jadi sensitif, sekalipun ini “hanya sebuah fiksi”: bagaimana agama dalam pandangan Star Trek?

Pencetus Star Trek sendiri, Gene Roddenberry, adalah seorang ateis, sehingga seperti dituliskan oleh Bernd Schneider, Star Trek’s takes on religious topics are often critical, and they almost routinely close with a victory of science over faith.

Dengan penikmat Star Trek yang luas, apakah nasib agama akan kandas seperti perannya di dalam film tsb.? Ini bukan kecemasan, namun lebih-lebih ingin menengok kemungkinan menghadirkan agama dalam perspektif modern, sambil mengingat pengaruh opini yang sekarang datang dari segenap penjuru.


Artikel ini dikirim pada bulan Ramadhan 1425H yang lalu. Ditulis oleh Abdul Gafur.

“Het recht is er, doch het moet worden gevonden, in de vondst zit het nieuwe” (Scholten, 1954: 15)

(artinya : “Hukum itu ada, tetapi ia harus diketemukan, dalam pendapat itulah terdapat yang baru”)

Bismillahirahmanirahim

“Abdul, loe puasa ya?”, tanya salah seorang teman Londo Belanda kepada saya dihari pertama bulan Ramadhan”. Aku menganggukan kepala, namun tampaknya dia memancing pertanyaan awal itu untuk memulai pembicaraan. ” Oh iya aku punya pertanyaan nih buat loe”, dia melanjutkan pembicaraan, “aku dengar kalau puasa itu dimulai dari sunrise hingga sunset tapi gimana kalau ada kasus seperti di negara Finlandia dimana ada wilayah yang mataharinya terbit sangat jarang sekali bahkan hampir tidak ada, bagaimana loe akan menentukan untuk memulai dan mengakhirkan puasa?” Tampaknya pertanyaan ini simple namun dalam dan harus ditemukan suatu dalil untuk dapat menjawabnya. Berikut saya sampaikan hubungan pertanyaan ini dengan pemikiran saya dan Islam.

Dalam islam dikenal ada sumber hukum yang dapat diambil untuk dapat memutuskan perkara yang ada yakni: Alqur’an, Al Hadits, Ijtihad (Qiyas dan Ijma). Dari sumber hukum inilah maka seorang muslim dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. pertanyaan yang muncul dari seorang “diluar agama islam” (bahkan kadang seorang muslim sendiri) tampaknya menarik untuk dapat saya hubungkan dengan bidang kajian saya. Dalam Hukum Organisasi Internasional untuk dapat memutuskan suatu perkara ada keputusan yang harus diambil atas beberapa dalil yang dikenal dengan konsep power. Hukum (organisasi) internasional menjabarkan apa yang dinamakan express power, implied power, inherent power, dan assumed power. pengertiannya adalah sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan Express Power adalah keputusan yang diambil atas dasar apa yang ditulis dalam ketentuan perundangan yang ada (sebagai constitution - pedoman mendasar), atau kalau kita mengaitkan dengan konsep Islam apa yang tertera dalam Al Qur’an, itulah yang menjadi dalil utama pengambilan keputusan. Jika dalam kasus puasa sebagai contoh kita sebagai orang Indonesia yang saat itu sedang berada di negara Indonesia tentu akan mengatakan dengan mudah kapan waktu memulai dan mengakhirkan puasa atas dasar peredaran matahari. sesuai dengan apa yang ada didalam Al Qur’an dimana puasa dimulai dari terbit fajar hingga waktu terbenamnya matahari. Hal yang sama juga akan berlaku untuk beberapa negara dimana peredaran matahari tidaklah menjadi persoalan dan dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang. Express power yang berlaku dalam hukum organisasi internasional adalah segala kata-kata yang ada dalam setiap keputusan konstitusi organisasi internasional itu baik yang sifatnya binding (mengikat - dalam islam wajib) atau non binding (tidak mengikat - dalam islam sunah), sebagai contoh Charter of United Nations dan ILO constitution. Dengan kata lain keputusan yang diambil harus melihat pada konteks yang ada dalam perundangan tersebut.

Namun ada kalanya drafter s dari konstitusi tadi sengaja membiarkan ruang lingkupnya menjadi terbuka atau men-general-kan pemaknaan kata dari pasal dengan pertimbangan up-dating dari konstitusi tadi. Dalam hal ini berada di “grey area” atau dalam islam sifatnya Makruh atau Mubah. Ketika kita coba mengkomparasi dengan Al Qur’an, apakah Allah SWT sebagai Yang Maha Tahu melakukan hal yang sama dengan para drafters tadi, yang notabene adalah human being yang mungkin dapat alpa terhadap pengetahuan yang mereka miliki?

Ketika aku kecil, waktu sekolah di Madrasah Diniyah (jadwal sekolah dimulai selepas sekolah dasar umum reguler, umumnya kebiasaan ini berlaku bagi warga betawi termasuk keluargaku), Ustadz (guru) dari tempatku belajar mengatakan ” dalam AlQur’an disamping makna yang tersurat ada makna yang tersirat”. Pernyataan Ustadzku ini (semoga Allah SWT membalas kebaikannya) terus terngiang dalam alam fikiranku, namun waktu itu ilmuku belum sampai, sehingga terus saja pertanyaan itu menggelimuti hatiku, “tersirat?”.

Kembali kepada drafters yang sengaja membiarkan pemaknaan pasal tadi menjadi luas, untuk menjawabnya dalam hukum (organisasi) internasional ada yang dinamakan Implied Power. Implied Power adalah perumusan makna yang karena kondisi, konstitusi tadi sengaja tidak menggambarkan secara detail pemaknaannya dalam tataran praktis, maka pembuat keputusan baik sifatnya individu dalam hal ini hakim atau collective misalnya General Assembly mencoba melakukan penggalian kepada pemaknaan apa sebenarnya yang terfikirkan atau yang dimaksud oleh drafters dari konstitusi tadi sebelum keputusan itu dibuat. Dengan kata lain mencoba menjabarkan makna lebih luas dari konstitusi tadi. Dalam Islam inilah yang menurut saya dikenal sebagai konsep Al Hadits yang bersumber dari karakter Rasulullah SAW baik prilaku sehari-hari atau perkataan beliau.

Kalau mengaitkan dengan puasa, saya melihat bahwa disamping Indonesia atau negara yang “memiliki” matahari, ada negara yang seperti Belanda mungkin matahari “agak ngumpet”. untuk itulah maka diperkenankan memakai batasan. Ada hadits yang mengatakan “tuntutlah ilmu dari lahir (fikiran secara insting dalam kandungan untuk mulai mengenal makanan yang diberikan oleh ibu, atau tanda pergerakan halus dari janin ketika calon ayah merapatkan telinga ke perut calon ibu, otak bawah sadar mulai menyerap suara azan yang dikumandangkan oleh sang Ayah, dsb.) hingga liang lahat (proses pembelajaran dalam hidup baik secara formal atau non formal sebelum ajal)”. Dalam konteks ini saya memaknai terjadinya sebuah ruang lingkup pembatasan (scope). Untuk kasus Finlandia jawaban awal saya adalah dengan melihat atau mengenali daerah lain yang masih masuk dalam “batas” negara Finlandia. Mungkin saja ada daerah di Finlandia dimana tidak terdapat matahari (seperti kutub) tapi bukan berarti dalam batas negara tadi semua daerah mengalami kondisi yang sama. Dengan kata lain ada daerah lain yang tetap memiliki pola kapan matahari terbit dan kapan terbenam walaupun hanya satu bulan durasi pola tersebut berlangsung secara reguler. (namun dengan ditemukannya berbagai tekhnologi mutahkhir, untuk mendeteksi dan kemungkinan menentukan schedule dari si “matahari” tadi saya kira menjadi lebih mudah, sebagai contoh dapat dilihat di Yahoo Weather). Dalam bahasa hukum organisasi internasional konteks ini dikenal istilah maksim “Expressie unius est exclusio elterius” yang juga dikenal sebagai “argumentum a contrario” yang artinya aturan yang sebagai contoh memuat ketentuan mengenai A dan B, jika hanya berbicara mengenai A, ketentuan yang ada juga akan berlaku tidak hanya terhadap A namun juga terhadap B.

Namun demikian fikiran saya menewarang setelah melontarkan jawaban tersebut, apa tidak mungkin adanya kemunculan jawaban yang lain? Lalu bagaimana halnya kalau ada kasus yang menyatakan bahwa matahari tadi benar-benar tidak ada? atau waktu untuk berpuasa tadi berlebihan seperti kasus di Amerika Serikat atau di Kanada dimana pernah pada tahun 80-an, puasa berlangsung 16 hingga 17 jam?

Ada tatabahasa atau maksim yang mengatakan “expressum facit cassare tacitum” yang artinya kata-kata yang dicantumkan secara tegas mengakhiri pencarian mengenai maksud dari perundang-undangan. Dengan kata lain memiliki kekuatan sebagai kata putus terakhir. Namun bagaimana halnya jika kata putus terakhir disamping implied power yang telah dilakukan mengalami suatu kemenduan (ambiguity) yang secara logis tidak menggambarkan kondisi yang jelas? Intrepetasi bagaimana yang kemudian harus dilakukan?

Dalam AlQur’an dikatakan tidaklah kamu mengenal Ilmu - Ku kecuali yang sangat kecil sekali. Artinya apa? Saya menafsirkan jika makna tersirat dalam Al Qur’an tadi memerlukan adanya penggalian lebih dalam. Disamping dari apa yang telah ada dalam Hadits, ada kalanya terjadi kasus terhadap prilaku atau penemuan baru dalam konteks masa kini yang sejalan dengan perkembangan tekhnologi dimana kejadian atau tindakan tersebut belum pernah dicontohkan oleh Rasul. Sebagai ilustrasi pada zaman Rasul belum ada yang namanya Tadarus melalui Telefon atau Teleconference, zaman Rasul belum ada dimana dimesjid untuk mengeraskan suara digunakan Mikrofon. Untuk itulah maka islam memperkenalkan pencarian hukum dengan menggunakan prinsip ijtihad yang terbagi dua yakni Qiyas dan Ijma.

Hukum (organisasi) internasional juga memperkenalkan konsep yang dinamakan inherent power. Artinya; kondisi pencarian dan penemuan hukum ini dimungkinkan ketika dalam perkembangan hukum tadi ternyata tidak ditemukan ketentuan yang sifatnya tertulis atau memungkinkan penjabaran. Inherent power ini mengacu kepada substansi tujuan dari pemaknaan untuk memecahkan persoalan. artinya apa? artinya ibarat koin logam dimana dimuka koin tersebut terdapat dua sisi. kedua sisi itulah yang dimaknai dalam law making sebagai sesuatu yang sifatnya inherent. sebagai contoh, dalam konvensi Montevidio, yang menjadi inherent dari negara adalah Wilayah (territory), Penduduk (population), dan Pemerintah (control government). Ketiga unsur itu mutlak diperlukan untuk dapat disebut suatu negara pada sisi yang berbeda.

Dari gambaran dua sisi ini, jik dilihat pada konteks hukum, memungkinkan penambahan sesuatu yang baru dari aturan yang lama. Dengan kata lain, terbukanya kesempatan bagi para law maker misalnya hakim untuk melakukan intrepetasi ini. Jadi, hakim tidak hanya berhenti pada melakukan penafsiran namun memperluas, mengisi, bahkan menciptakan peraturan baru (Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2000: hal.100). Dengan kata lain pencarian hukum terus dilakukan akibat penemuan fakta atau kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau dalam bahasa Scholten “………..mengacu pada keseluruhan, tujuan sosial, serta hasil dari penerapan, perkembangan sejarahnya sebagai faktor yang diperhitungkan untuk menentukan apa yang menurut undang-undang merupakan hukum pada suatu kasus tertentu”.

Perintah pertama yang Allah berikan kepada kita bukanlah dengar atau lihat tapi “Iqra” atau “bacalah!”. Pengertian perintah membaca ini bagi saya bukanlah seperti mengenal pengetahuan dari konteks luar saja misalnya dari buku namun kepada penglihatan terhadap substansi untuk terus melakukan penelitian (pencarian). Proses penemuan pengetahuan itu tidaklah bersifat instant namun berawal dari sebuah realita permasalahan, dimana dalam permasalahan itu otak manusia bekerja untuk dapat menemukan jawaban atas persoalan. Jawaban yang didapat tidak saja berpedoman dari apa yang sudah ada sebagai “faktor ketahuan” namun bisa juga dengan melakukan komparasi atau menemukan hipotesis baru. Jawaban inilah yang memungkinkan untuk menarik alam fikiran kita kepada sesuatu yang kita ketahui sebagai bentuk pengetahuan. Jika pengetahuan tadi dikembangkan, digabungkan, atau diperbandingkan memungkinkan untuk menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah lahir suatu keumuman atau generality yang diterima secara luas. Faktor penerimaan ini jika mengikuti metode scientific akan menjadi suatu kajian untuk dijadikan asas atau teori. Jika teori ini telah dibangun melalui pengujian berulang-ulang dan terbukti memungkinkan untuk dapat diterapkan dalam kondisi yang berbeda dengan hasil yang sama, inilah yang kemudian dinamakan ilmu. Disamping memakai kebakuan, hukum organisasi internasional mengenal apa yang dinamakan sebagai costumery intentional law yang artinya sebagai hukum kebiasaan. Kebiasaan itu harus dimaknai sebagai keterbukaan sistem hukum akibat “kekosongan dalam hukum”.

Dalam Hukum (organisasi) internasional juga dikenal istilah Assumed Power. Assumed power adalah proses penemuan hukum atas dasar kasus atau realita dari tindakan yang sebelumnya dianggap “violating law” - belum ada kepastian hukum untuk menentukan bersalah atau tidak) namun kemudian menjadi preseden dan diterima sebagai hukum sepanjang tidak adanya majority yang menentang dan mempermasalahkan dengan sangat (misalnya terjadi suatu unanimity - kesepakatan, tindakan tersebut diperkenankan akibat beberapa faktor misalnya politik atau kemungkinan jika tindakan tadi tidak dilakukan, memungkinkan “law violation” yang sifatnya bisa lebih merusak). Penemuan hukum ini kemudian menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menurut Fitzgerald harus memiliki kondisional faktor yakni; kelayakan atau masuk akal atau pantas “mulus usus abolendus est” (misalnya hak waris mulai berlaku jika pewarisan yang bersumber dari kepala keluarga, kepalanya meninggal dunia), pengakuan atas kebenarannya dan diikuti secara terbuka dalam masyarakat atau pihak yang hendak dilibatkan (bisa saja dalam konteks hukum organsisai internasional negara), memiliki latar belakang sejarah yang tidak dapat dikenali lagi mulainya (artinya praktek ini berlangsung secara kontinu dan menjadi mapan akibat terbentuk oleh waktu yang panjang) dan diterima dalam hukum perundangan sebagai hukum yang dominan (artinya berlakunya kebiasaan tidak bertentangan dengan hukum perundangan) (Fitzgerald, Salmond on Jurisprudence, 1966:190-191).

Konteks diterima dan kesepakatan itulah yang menurut saya sebagai faktor kunci dari berlakunya assumed power. Untuk lebih jelasnya, sebagai gambaran; Agressi Amerika Serikat menyerang Iraq pertama kali sekitar tahun 90-an (yang secara hukum telah melakukan intervensi terhadap suatu negara dan itu tidak diperkenankan dalam hukum internasional - illegal, unlawful atau arbitrary), namun pada kenyataannya tidak terjadi pertentangan di banyak negara (walaupun saya sendiri mungkin dapat memperdebatkan argumentasi ini kalau dilihat bukan dalam konteks hukum) sedasyat Agresi AS yang kedua kali. Tindakan ini dimungkinkan karena tindakan Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein yang melakukan invasi terhadap Quwait itu, dianggap telah melakukan arbitray terhadap hukum internasional yang jelas illegal atau violation of international law. Tindakan AS (agresi I) kemudian mendapat persetujuan atas dasar kesepakatan dan dapat diterima oleh UN dan hukum (organisasi) internasional dengan dalih assumed power tadi.

Kalau mengaitkan ke dalam konteks Islam yang memperbolehkan adanya konsep itjihad, konsep ini melahirkan berbagai macam intepretasi yang berbeda (sama halnya dengan hukum internasional dalam konteks inherent power dan assumed power) namun kemudian “dapat diterima”. Perbedaan intepretasi inilah yang kemudian melahirkan paham atau mazhab yang berbeda seperti Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki. Menurut saya saya interpretasi tadi syah-syah saja karena dalam Islam ada sunnah dalam pencarian “jika benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala”. Yang artinya menurut penafsiran theleologis saya (harfiah) sebagai anjuran untuk terus mencari dalam ilmu sebagai suatu ibadah. sebagai contoh saya gambarkan pemaknaan hadits “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bagi sebagian orang yang mungkin berkutat kepada faktor geografis, Cina diartikan sebagai faktor wilayah, namun bagi saya tidak hanya terbatas kepada faktor itu saja namun juga kepada kepada konsep nation character dari bangsa Cina itu yang tersebar diberbagai negara dengan banyak kelebihan sebagai anugerah Allah SWT. Kedua penafsitan tadi sifatnya diperkenankan dan dapat diterima.

Menurut penafsiran tadi, saya mengambil kesimpulan jika Inherent Power dikenal dalam Islam sebagai konsep Qiyas, sementara untuk Assumed Power sebagai Ijma (kesepakatan)

Kembali kepada pertanyaan teman Londo Belanda saya atau kepada kasus yang saya lontarkan atas puasa di Amerika Serikat yang pernah berlangsung selama beberapa waktu lebih lama dari “kenormalan” yang ada diwilayah lain; bagi saya, diperkenankan untuk melakukan itjihad sebagai sebuah flexibility dalam beragama (”agama itu mudah, namun jangan dimudah-mudahkan”)

Untuk kasus puasa di Amerika, bagi saya bisa saja dilakukan pembatalan misalnya setelah 12 jam - jika kita merasa tidak lagi mampu sebagai interpretasi dari hukum kebiasaan puasa ditempat lain (sekitar 12 hingga 13 jam); terlepas dari kondisi yang diperkenankan untuk membatalkan puasa misalnya sakit, penyakit menahun yang kalau puasa dapat mengakibatkan sesuatu yang sifatnya “fatal”, Wanita yang sedang haid (menstruasi) dan Nifas (menyusui bayi). Namun dapat pula dituntaskan untuk puasa jika kita mampu.

Sementara untuk kasus Finlandia bisa saja dilakukan suatu pencarian penemuan hukum atas intrepetasi yang mungkin muncul : Pertama, dengan memakai implied power dengan mengacu kepada pedoman jam berapa (kapan) wilayah lain di Finlandia memulai dan mengakhirkan puasa. Kedua, dengan memakai inherent power misalnya dengan intrepetasi melalui penggunaan tekhnologi perkiraan waktu siang dan malam (walaupun di wilayah ini dikatakan hampir setiap hari malam, namun dapat dijadikan patokan jika dalam satu tahun kemungkinan munculnya matahari dan terbenamnya matahari itu kapan). Kalau dalam penemuan itu kemudian menyatakan jika matahari terbit dan terbenam hanya dalam waktu lima atau enam jam saja, ya fakta tersebut harus diterima dan selama waktu itulah kita dapat menjalankan puasa (kalau berpedoman pada intrepetasi secara inherent power - Qiyas).

Ketiga dengan menggunakan assumed power dengan melihat kebiasaan sebelumnya (saya sendiri skeptis jika orang Finlandia zaman dulu telah mengadakan “puasa”, karena sepengetahuan saya, kebanyakan orang Finlandia yang muslim adalah pendatang) dan kebiasaan atas dasar pertimbangan waktu yang kemudian disepakati (Ijma) menjadi suatu ketetapan hukum.

Inti dari proses pen-training-an selama puas, tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga namun juga menjauhkan diri atas segala hal-hal yang dilarang selama Ramadhan (seperti sex, amarah) menuju substansi obyektif dari arti “puasa” (untuk mendekatkan diri kepada Allah (bertawakal) dan menjadikan kita sebagai hamba yang berserah diri dengan menjalankan perintah-Nya atas dasar kemampuan optimal dari kita).

Saya melihat Allah maha Adil dan Maha Mengatur atas segala sesuatu (asumsi saya secara logika; waktu puasa di daerah dingin agak lebih pendek, dimana tubuh pada saat dingin selalu merasa lapar sehingga perlu asupan (intake) untuk dapat bertahan hidup dan untuk itu maka dengan keadilan Allah diberikan dengan waktu yang lebih pendek dibandingkan wilayah lain). Allah dalam Al Qur’an berfirman”tidak akan Aku bebankan kepadamu kecuali atas kemampuan yang kamu miliki”. Sehingga kata terakhir yang saya sampaikan kepada teman Londo Belanda saya adalah “God is the Most Merciful, God knows that we have done our best”


Rasulullah Membenci Poligami

Filed under Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.


Pembersih Jiwa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keduabelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Bersih… bersiiih… Ulfa Dwiyanti berteriak dengan gembira pada salah satu iklan komersial yang beredar di televisi swasta di Indonesia. Sang ikon masyarakat ini lalu berlari ke sana kemari dengan sebuah botol pembersih di tangan kiri dan kain pel di tangan kanannya. Ida Kusumah yang berlakon sebagai nyonya rumah dengan mata terbelakak melihat lantai rumahnya yang bersih dan wangi, tidak hanya bebas dari kotoran tetapi juga enak dipandang oleh mata. Pembersih bermerek ZyXrWT ini memang ampuh…

Terpaku memandang jam yang tergantung pada tembok di hadapan, sudah hampir jam 12.30, waktu setempat, sholat Jumah belum juga mulai. Kultum yang menurut kebiasaan setempat selalu diselenggarakan harusnya sudah berlalu sejak . mungkin setengah jam yang lalu. Hahaha, mungkin harus diganti namanya menjadi Kultung : Kuliah dugi ka tutung . Alhamdulillah, akhirnya mulai juga Bang berdendang, tapi ini baru Bang pertama lho, sesudah sholat sunnah dua rakaat, barulah Bang kedua diperdengarkan dan imam akhirnya memulai ceramahnya, yang sudah ditunggu sejak sekitar satu jam yang lalu. Hari itu memang hujan sangat lebat, namun menurut warga setempat, memang begitulah adanya. Masjid sudah penuh sejak satu jam sebelumnya bukan karena hujan tapi memang begitu kebiasaannya. Maklum, di negri bernafaskan kental ke-Islaman ini memang hanya menyelenggarakan sholat Jumat pada masjid tertentu. Ingin yang lebih fenomenal? Bagi sebagian umat Islam di sini, sholat Jumat BUKAN merupakan suatu kewajiban. Wah, reformasi?

Bla .. bla .. bla .. dan entah apa lagi yang imam sampaikan dalam ceramahnya. Sampai akhirnya … .. Para jamaah sekalian, sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Ramadhan ini, jangan lah lupa kita akan kewajiban membayarkan zakat fitrah. Ibadah ini diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sebagai sarana membersihkan diri dan harta kita dari kotoran yang menggerogoti nilai kehalalan harta kita. Jadi, pakcik, jika dalam perniagaan berbuat suatu kesilapan dengan mencurangi timbangan dan semacamnya, marilah kita bersihkan dengan zakat fitrah ini . Ajakan yang mulia, yang memang merupakan esensi dari zakat fitrah yang seharusnya dilaksanakan pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Ehem, benarkah? Bukan kah itu berarti Islam membenarkan kita untuk berlaku curang, melakukan kesilapan yang secara sadar dilakukan. Bukan kah itu berarti kita bisa berbuat kesalahan dan membersihkannya setiap kali ada kesempatan seperti pada akhir bulan Ramadhan ini. Benarkah zakat fitrah itu tak ada bedanya dengan pembersih yang iklannya beredar diseantero dunia pertelevisian?

Zakat fitrah. Membawa yang melaksanakannya kembali kepada fitrah. Fitrah? Ya, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih, seperti lembaran kertas putih, menurut kata ulama. Lembaran kertas yang dapat ditulisi apa saja? Yang dapat dilipat ke dalam bentuk apa saja? Yang dapat dibakar hingga tak berbekas? Mengapa tidak terlahir bagaikan lantai yang putih, setidaknya jika terbakar hingga gosong pun masih bisa digosok sekeras-kerasnya agar kembali menjadi putih. Kertas terbakar berubah menjadi putih bersih? Perlu tukang sulap rasanya.
Mungkin Rasulullah atau bahkan Allah subhanahu wa taala sendiri yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah sarana pembersihan dosa. Benarkah? Segala yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya adalah selalu benar adanya, bukan begitu?

Zakat fitrah, sarana pembersihan dosa. Dosa yang BOLEH diulang-ulang karena memang sudah tersedia alat pembersihnya, begitukah? Ibarat lantai putih yang kita injak dengan sepatu kotor, lalu dipel kembali, lalu diinjak kembali dengan sepatu kotor, dipel kembali dan begitu seterusnya . Mengapa kita tidak belajar daripadanya dan membersihkan sepatu setiap kali akan menginjak lantai. Menjaganya agar tetap bersih. Membersihkan lantai secara teratur bukan karena selalu kotor terinjak tapi karena memang kita mencintai kebersihan, mencintai lantai yang tampak rupawan jika berada dalam keadaan bersih. Seperti zakat fitrah yang dilaksanakan karena kita mencintai Allah dan takut kepada-Nya, bukan karena ingin kembali menjadi bersih dari dosa karena memang sudah kita jaga semampu kita untuk terhindar dari padanya.

Entahlah, mungkin kini saatnya Ulfa mulai berteriak dengan gembira: Zakat fitrah. Zakat fitraaaah.


Zakat Fitrah: Sesuatu yang Istimewa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesebelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Diana Jirjis.

Tulisan ini mencoba mengungkap pernak pernik zakat fitrah, lebih-lebih yang berkenaan dengan sisi fiqhnya. Terima kasih yang dalam kepada guru-guruku, especially gus Ghofur, pak Sahiron, pak Mustaqim yang telah memperbolehkan saya untuk berani-beraninya (baca: wani-wanine) merangkum pelajaran dari mereka.Ihdinash shiraathal mustaqiim.

Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung.

Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan zakat-zakat lainnya yang lebih berfungsi untuk “membersihkan harta”, zakat fitrah adalah satu-satunya zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk “menyucikan jiwa”. Oleh karena itu, zakat fitrah tidak saja diwajibkan bagi mereka yang kaya, akan tetapi juga bagi mereka yang kurang berkecukupan. Jadi meskipun orang itu ‘miskin’ menurut kategori umum, dia tetap wajib membayar zakat fitrah namun dia pun berhak menerima zakat fitrah.

Zakat fitrah selain berfungsi melengkapi puasa Ramadhan, juga berfungsi menyambut lebaran Idul Fitri. Karena itu, fungsi kedua dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin. Dua hikmah ini, dengan baik disampaikan oleh Ibn Abbas: “RasululLah men-fardhukan zakat fitrah untuk menyucikan diri seorang yang puasa dari al-laghw dan rafats, dan untuk memberi makan orang-orang miskin.”
Fungsi kedua dari zakat fitrah ini meniscayakan pendistribusian zakat tersebut untuk fakir miskin, agar di hari raya idul fitri mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya, tidak bersedih karena tidak bisa makan di hari itu. Meskipun di dalam ayat tentang zakat disebutkan ada 8 kelompok mustahiq zakat, namun khusus untuk yang zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir miskin.

Siapa aja yang harus berzakat fitrah?

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak) sebagaimana diungkapkan Ibn Umar, dalam riwayat Imam Bukhari: RasululLah men-fardhukan zakat fitrah, satu “shaa” dari kurma, atau satu “shaa” dari biji sya’ir, kepada orang yang bebas dan seorang hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dewasa dari mereka yang beragama Islam. Syarat wajib lainnya adalah muslim tersebut sempat menyaksikan Ramadhan dan malam 1 Syawal juga mempunyai kelebihan rizki untuk mengeluarkan zakat fitrah, paling tidak ketika di malam 1 Syawal. So, bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di hari terakhir Ramadhan juga termasuk wajib zakat.

Berapa ukuran zakat fitrah?

Zakat fitrah ini tujuan utamanya untuk mengenyangkan fakir miskin sehari saja, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Karena itu besarnya pun tidak seberapa. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, ”RasululLah men-fardhukan zakar fitrah dari Ramadhan, satu “shaa” buah korma atau satu “shaa” dari biji sya’iir. ” Hadits ini menjadi pijakan mayoritas ulama dalam menentukan kadar zakat fitrah, yakni satu shaa’ dari makanan pokok setempat.
Berapa satu shaa? Satu shaa sama dengan empat “mud”. Satu mud sama dengan 0. 688 liter. Jadi satu shaa adalah 2. 752 liter. Demikian ukuran yang dapat dilacak dari batasan Nabi. Beliau tidak menggunakan ukuran berat (kilo), tapi volume (liter). Batasan yang demikian ini kemudian memang menyulitkan, karena tidak setiap bahan makan sama beratnya. Dengan asumsi densitas beras lebih besar daripada kurma tentunya satu liter beras akan lebih berat dari satu liter kurma. (belom lagi kalo kurmanya gedhe-gedhe sehingga porositas bulknya besar :))
Maka dapat dimengerti jika ukuran zakat fitrah diperselisihkan di antara ulama. Tapi ada satu hal yang tak perlu diperdebatkan, yakni diperbolehkannnya membayar lebih dari batas ketentuan, bahkan sudah barang tentu dianjurkan.

Bisa ga membayar dengan uang?

Di berbagai negara Islam, zakat fitrah tidak dikeluarkan dari bahan makanan, akan tetapi dari nilai tukar (qiimah) bahan makanan tsb. Selain memudahkan si pembayar zakat, mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai juga dipandang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Walaupun pendapat diperbolehkannya membayar nilai tukar hanya diwakili oleh madzhab Hanafi, namun perkembangan di tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai kalangan justru memilihnya. Sementara madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali, yang melarang pembayaran tersebut tidak lagi banyak dijalankan.

Dari sudut pandang fiqih humanis kontemporer, perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah yang dianjurkan senilai dengan yang dimakan setiap orang dalam sekali makan, memiliki pesan dinamik karena daya konsumsi makan masing-masing orang berbeda. Tentunya tidak adil bila seseorang yang biasa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan hanya membayar zakat fitrah senilai satu shaa bahan makanan. Bukankah dia juga bakal males kalau disuruh makan yang hanya senilai satu shaa bahan makanan?

Kapan musti bayar?

Zakat fitrah diwajibkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan untuk menyambut Idul Fitri. Karena itu, diwajibkan setelah berakhirnya puasa, dan memasuki Idul Fitri. Disunahkan membayarnya pada hari Idul Fitri sebelum salat Id berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Rasulullah saw. memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum orang berangkat salat.” (H.R. Jamaah).

Sebagian ulama menetapkan permulaan waktu zakat fitrah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan sebagian lain menetapkannya setelah terbit fajar di pagi harinya (tgl 1 Syawal). Sementara waktu akhir pembayaran, sebagian ulama menutupnya hingga salat Id, dan sebagian lain memperpanjang hingga sehari penuh di hari lebaran. Pengeluaran zakat setelah itu dianggap qadha, seperti menjalankan salat subuh setelah terbitnya matahari.

Gimana kalo bayar zakat fitrah sebelum berakhirnya bulan Ramadhan?
Diantara ulama yang mempelopori tidak diperbolehkannya pembayaran zakat sebelum waktunya adalah Imam Ibn Hazm. Menurutnya, tak satupun zakat yang diperbolehkan mengeluarkannya sebelum waktu. Memang afdhalnya zakat fitrah dibayarkan setelah berakhirnya bulan puasa dan memasuki Idul Fitri namun pada prakteknya berbagai kalangan sahabat justru tidak melakukannya sehingga pendapat Ibn Hazm banyak ditinggalkan.

Namun begitu, para ulama yang memperbolehkan “ta’jil” (membayar zakat lebih awal dari waktunya) berselisih pendapat mengenai batas waktunya. Imam Syafi’i memperbolehkan pembayaran zakat sejak awal Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu dari dua sebab zakat. Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik membatasinya hanya satu-dua hari menjelang Idul Fitri. Sebagian Malikiyah membatasinya dengan tiga hari menjelang Id. Sebagian Hanabilah, memperbolehkan pembayaran zakat hingga pada pertengahan bulan Ramadhan.

Melihat pendapat-pendapat yang ada ini, mungkin bisa ditawarkan sbb: 1. Panitia bisa memungut harta zakat mulai pertengahan bulan. Lebih mendekati hari raya lebih baik. 2. Harta zakat didistribusikan kepada fakir-miskin (diterima oleh mereka) di hari lebaran, atau menjelang lebaran pada kisaran 1-2-3 hari. Lebih dekat kepada Idul Fitri semakin baik karena tujuan zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan di hari lebaran.

Bolehkah membagikan zakat ke luar daerah dimana zakat dipungut?
Bisa dikemukakan bahwa pola distribusi zakat mengikuti sistem “otonomi daerah”. Harta yang dihasilkan satu daerah pendistribusiannya diutamakan untuk daerah itu sendiri seperti tertuang dalam hadits “Zakat itu diambil dari orang kaya di kalangan mereka dan dikembalikan (dibayarkan) kepada kaum fakirnya”.

Dalam satu riwayat, RasululLah saw. mendelegasikan sahabat Muadz bin Jabal, untuk menarik harta zakat dari orang-orang kaya di daerah Yaman, dan membagikannya kepada kaum fakir miskin di daerah tersebut. Kebijakan RasululLah ini, yang memerintahkan agar membagikan harta zakat kepada fakir-miskin dimana zakat dipungut, juga dijalankan sahabat Muadz saat ia menjadi pejabat di masa Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab ra. Namun pada suatu ketika, di era Umar ra, ia mengirimkan harta zakat ke Madinah, pusat pemerintahan Umar ra. Mula-mula Umar ra menolaknya, namun kemudian menerimanya setelah Muadz ra. menyatakan bahwa dia tidak menemukan seorangpun yang berhak menerima zakat di Yaman.

Riwayat di atas, menjadi rujukan ulama untuk menentukan hukum boleh-tidaknya, dan juga sah-tidaknya, memindahkan harta zakat dari tempat dipungut ke tempat yang lain. Secara umum, bolah boleh saja mengalihkan zakat fitrah ke luar tempat tinggal orang yang mengeluarkannya bila di negeri itu terdapat orang yang lebih membutuhkan dan jika hal tersebut dapat mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi kaum muslimin, atau jika lebih dari kebutuhan kaum fakir yang ada di negerinya.

Soooo… gimana dooong?

Skema pembayaran zakat fitrah sebagaimana yang ditawarkan KZIS cabang Belanda yaitu: membayar zakat fitrah di Belanda, tempat dimana kita mukim saat ini, dengan qiimah (nilai tukar) sebesar minimal 8 euro (angka ini merupakan kesepakatan yang diperoleh dari biaya rata2 sekali makan lengkap di Belanda) dan didistribusikan di Indonesia, insyaAllah sah dan sudah tepat. Semoga zakat fitrah kita penuh dengan hikmah. Allahu alam bish shawaab.

Naaa apalagi yang dinanti? Cepetan bayar zakat fitrah yaaaa jangan sampai ketinggalan :)


Sepertiga Terakhir

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesepuluh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Elfahmi Yaman.

Waktu berjalan sangatlah cepat, terasa belum begitu lama kita berbicara tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan, ternyata sekarang sudah memasuki pertigaan terakhir, sepertiga bulan yang menurut para ulama dalam menukil hadist adalah waktu ditutupnya pintu neraka. Lalu bagaimana dengan pertigaan pertama dan kedua yang sudah berlalu. Apakah kita bisa merasakan sepertiga awal sebagai masa mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT ?, begitu juga dengan sepertiga kedua, apakah kita bisa merasakan meraih ampunan (maghfirah) atas dosa-dosa yang telah sengaja atau tidak, melumuri diri ?. Allahu ‘alam, Allah lah yang maha tahu, karena ini memang hak “mutlak” dari Sang Pencipta. Yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-qur’an dan hadist Rasullullah serta penjelasan para ulama. Namun proses evaluasi (mutaba’ah) tentu kita bisa lakukan merujuk kepada parameter-parameter yang dijelaskan dalam petunjuk-petunjuk tersebut. Hari demi hari kita lalui dengan berbagai aktivitas seperti biasa, sekolah, bekerja, menulis, berkarya, beribadah, membaca. Barangkali dengan intensitas yang lebih kuat demi berupaya menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Pada suatu kesempatan seorang guru menganalogikan keberhasilan seseorang dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan itu dengan hitungan matematik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rumus integral, diferensial, atau apalah namanya yang rumit-rumit. Andaikan “kualitas” iman, ibadah, kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan bisa dinilai dengan angka 5, maka saat berproses selama bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah yang meningkat, itupun kalau dilakukan dengan niat ikhlas maka nilai meningkat menjadi 15 diakhir bulan. Selanjutnya sebagaimana biasa setelah bulan puasa intensitas ibadah berkurang, tidak ada lagi puasa wajib, taraweh dan lain-lain sehingga berkurang menjadi 12 atau 10. Sang guru berkesimpulan bahwa yang demikian ini berarti berhasil meraih keutamaan bulan Ramadhan. Yang sering terjadi adalah nilai tersebut berbalik kembali ke jumlah semula, atau malah lebih kurang ?. Pertanyaan kritis yang juga sangat sederhana muncul, terus bagaimana mengukurnya sehingga keluar angka-angka kuantitatif tersebut. Nah disinilah masaalahnya karena itu merupakan ketetapan Allah SWT terhadap individu. Sang guru kemudian melanjutkan bahwa individu tersebut sebenarnya bisa merasakan perubahan dalam dirinya sendiri, misal mulai dari semakin sensitifnya diri dalam menindak lanjuti kebaikan-kebaikan dan sebaliknya, semula susah sabar menjadi relatif lebih bisa mengontrol emosi, jadi lebih takut kepada Allah SWT dalam melakukan berbagai tindakan.

Perubahan-perubahan yang dirasakan ini dengan sendirinya berpengaruh keluar diri sehingga memberikan manfaat kepada orang lain. Sebuah pertanyaan “nakal” menghampiri benak walau tidak sampai pada sang guru. Bagaimana kalau sebelum Ramadhan korupsinya M-M an, terus puasa dan setelah lebaran korupsinya berkurang jadi J-J an, apakah termasuk berhasil meraih keutamaan puasa ?. Lha, jelas saja tidak, karena berapapun jumlahnya korupsi itu tetap dilarang karena memakan yang bukan hak. Kalau begitu betapa banyak yang berpuasa namun tidak meraih keutamaannya, seperti sebuah hadits bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Buktinya memerangi korupsi di Indonesia sangat sulit sekali bahkan banyak orang yang sudah pesimis terhadapnya. Belum laginya yang namanya “korupsi non materi”.

Kembali kepada evaluasi (mutaba’ah), tentu merupakan suatu yang urgen dilakukan, karena dengan demikian bisa diketahui pencapaian-pencapaian dari target yang telah ditetapkan. Sebuah penelitian butuh pertemuan pihak terkait sekali seminggu dengan memaparkan apa yang telah dilakukan, bagaimana hasilnya, kenapa ada kendala serta berbagai pertanyaan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk masa selanjutnya. Kalau proses evaluasi tidak dilakukan maka sulit mengukur sudah sampai dimana pencapaian target. Cukupkah waktu 7-8 hari ini bisa melengkapi “nilai” puasa sebagai sebuah hasil mutaba’ah 22 hari yang lalu ? Semoga Allah SWT “melembutkan hati ini” sehingga senantiasa selalu terbuka menerima kebaikan-kebaikan serta tergerak melkukannya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan energi dalam rangka berlari mendekati-Nya, Amiin.


Ramadhan yang Senyap

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesembilan dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Az-Zumar: 53.

Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian. Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan disebut sebagai hadits hasan dalam kitab Sahih Jami’ Shagir - 5235.

Kedua dalil naqli di atas ditulis sebagai awal buku DR. Yusuf Qardhawi, Tuntunan Taubat. Buku tersebut dengan jelas membawa kabar gembira, harapan, dan kasih sayang Allah kepada anak Adam yang — disadari atau tidak — tentu memiliki dosa sepanjang perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini. Sifat manusia itu sendiri yang tidak lepas dari kekhilafan, yang berada di antara sifat-sifat baik dan nafsu, atau karena keadaan lingkungannya, sedikit atau banyak tentulah berlumur dosa.

Sebagian pendapat mengelompokkan dosa sebagai dosa besar dan dosa kecil, namun yang lebih penting bagi kita adalah dorongan untuk segera bertobat, meminta ampunan Allah, dan tidak berputus asa dengan rahmat-Nya. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi kemudian, sehingga menunda-nunda bertobat justru dapat mencelakakan kita sendiri. Dosa kecil pun yang disepelekan dapat menjadi dosa besar karena keangkuhan pelakunya, sedangkan dosa besar yang disesali dan dimintakan ampunan kepada Allah tentulah akan dikabulkan. Seperti yang telah dijanjikan sendiri oleh Allah dan sifat Allah itu sendiri yang Maha Penerima Taubat (At Tawwab).

Bertobat dapat dijadikan sarana untuk “mengosongkan” diri kita. Meluruhkan semua endapan-endapan perasaan dan sikap tidak terpuji yang telah menggumpal. Dengan meminta maaf kepada orang lain — sebagai salah satu syarat bertobat, sebelum meminta ampun kepada Allah — kita dapat menjalankan amanah yang diminta Allah kepada umat-Nya. Bahkan dengan sangat bagus, Jalaluddin Rakhmat menulis bahwa ibadah untuk Allah itu adalah berpuasa dengan pengkhidmatan kepada sesama ciptaan-Nya.

Ah, Ramadhan ini, aku ingin terus berada di dalam suasanamu yang senyap, sehingga dapat kudengar hatiku sendiri yang bersuara lebih bening. Jika Engkau memberi banyak waktu-waktu baik untuk berdoa selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan balasan untuk amal perbuatan baik di bulan ini, aku ingin berhenti berpikir egois bahwa itu semua dilimpahkan untuk diriku, melainkan kesempatan yang lebih banyak lagi untuk menghamba hanya kepada-Mu.


Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kedelapan dari hajatan Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul F. Masduqie.

Setiap tahun di bulan Ramadhan, Zakat menjadi primadona yang marak dibicarakan orang disampaing puasa yang merupakan isu pokok dibulan Ramadhan. Banyak orang ramai membicarakan Zakat baik melalui artikel, opini dikoran dan majalah ataupun menjadi tema pokok dalam acara ceramah subuh dan dialog menjelang berbuka puasa ditelevisi.

Memang zakat selain merupakan salah satu rukun Islam, Zakat juga memiliki kedudukan sangat penting dalam Al Quran. Oleh karena itu Allah s.w.t meletakkan perintah zakat ini pada posisi kedua setelah sholat. Ada sekitar 30 ayat dalam Al Quran yang menerangkan Zakat dan sekitar 27 ayat diantaranya mencantumkan kata zakat bersamaan dengan perintah sholat. “Aqimish sholaata wa atuzhzhakaata….”. dari sini kita dapat melihat betapa urgennya persoalan zakat ini. Sholat sebagai manifestasi keimanan umat pada sang Khaliq, sementara Zakat merupakan berkas sinar keimanan seorang hamba yang terpancarkan melalui kepedulian sosial.

Sebenarnya inilah inti pokok ajaran Islam. Islam tidak hanya mengutamakan persoalan uhrawi, namun keshalehan spiritual seorang muslim haruslah berimbas pada lingkungan disekitarnya dimana seorang muslim berada. Dengan kata lain seorang Muslim dituntut untuk memiliki keseimbangan relasi antara dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, “hablum minal Allaah wa hablum minan naas”.

Menurut Masdar F. Masudi, Zakat dan Puasa memiliki dua tujuan yang sama yaitu sebagai sarana pensucian.Puasa adalah sarana untuk mensucikan diri dengan cara mengendalikan nafsu makan, minum, seks, emosi dan sebagainya. Sedangkan zakat lebih spesifik pada pensucian harta,dimana harta yang kita dapat ada sebagian darinya yang merupakan hak bagi saudara kita yang tercantum sebagai 8 asnaf (penerima zakat).

Pengelolaan Zakat di Indonesia secara teknis sudah tergolong modern dengan pembentukan lembaga-lembaga zakat dan terakhir penulis dengar seorang wajib zakat bisa membayar zakat melalui sms. Namun secara subtansial zakat masih dipahami secara textual atau tradisional. Pengertian obyek atau sasaran Zakat masih merefer pada zaman semasa Rasulullah Muhammad seperti pertanian, emas, perdagangan,peternakan (onta, domba dll). Memang onta pada masa itu menjadi symbol kekayaan yang dibanggakan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman tentu hal tersebut perlu untuk disesuaikan. Definisi amwal yang berarti harta benda atau kekayaan dalam kalimat Hudz min amwaalihim shadaqatan tuthahiruhum…… dalam kontext sekarang tentulah harus disesuaikan. Jabatan dan profesi bisa dimaknai sebagai kekayaan karena keduanya dapat menjadi sumber kehidupan dan menghasilkan harta benda sebagaimana onta dan domba di masa Nabi.

Dengan demikian seorang mentri atau presiden tidaklah layak jika hanya mengeluarkan sekian ton beras dan gula setiap tahun yang mereka anggap sebagai zakat mereka. Sedangkan kebanyakan harta yang mereka miliki bukan hanya dari gaji sebagai president, mentri, ataupun pejabat eselon. Namun tak jarang dari mereka yang merangkap sebagai komisaris sebuah perusahaan, memiliki tanah, villa, emas dan deposit di bank. Jika mengikuti ketentuan zakat maka 2.5% dari total harta masing-masing dari mereka harus dikeluarkan sebagai pembayaran zakat. Sebagaimana pernah dilaporkan oleh sebuah lembaga pemeriksa kekayaan pejabat beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang memiliki total kekayaan senilai 6 milyard rupiah atau bahkan lebih dari itu. Umpamakan saja 6 milyard dikalikan 2.5 % sudah ada sekitar 150 juta rupiah, itu untuk satu pejabat. Asumsinya negara kita mayoritas penduduknya adalah muslim sehingga para pejabatnya pun kebanyakan juga muslim. Hal ini belum termasuk para pedagang, konglomerat, pialang saham, para direktur dan eksekutif.

Memang Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka seharusnya zakat bisa menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Jumlah muslim yang 90% dari total populasi 200 juta, maka anggap saja muslim yang wajib zakat sekitar 60% sehingga ada sekitar 120 juta penduduk. Jika diasumsikan harga 2.5 Kg beras Rp.5000 maka pada malam hari raya Idul Fitri bisa terkumpul uang sebesar 600 milyard rupiah, itu belum termasuk zakat harta, infaq dan shadaqah para orang kaya dan pejabat yang bisa mencapai 150 juta rupiah per orang. Anggap saja jumlah konglomerat muslim di indonesia ada sekitar 1 juta orang, jika setiap konglomerat membayar zakat 100 juta rupiah maka totalnya bisa mencapai 100 trilyun rupiah. Sehingga bila digabung maka jumlahnya bisa setara dengan APBN kita.

Jika pengelolaan zakat tersebut dapat dilakukan dengan baik maka maka persoalan sosial seperti TKI terlantar, pengungsi, anak jalanan, anak putus sekolah, dan pengangguran akan dapat teratasi. Karena pada dasarnya harta hasil Zakat dapat dikelola menjadi lebih modern dan berdaya guna semisal pemberian beasiswa, pemberian kursus ketrampilan, peminjaman modal usaha dll. Namun sekali lagi yang perlu disayangkan adalah bahwa Zakat masih lebih banyak dimaknai sebagai rutinitas dan ritualitas yang maknanya tak lepas dari 2.5 Kg beras yang dibayarkan menjelang malam Idul Fitri.

Saya mensarankan kepada pelaku survey kemiskinan agar melakukan research kemiskinan di Indonesia menjelang malam Idul Fitri, bisa dipastikan angka kemiskinan akan turun sangat drastis dimalam itu dan jangan melakukan research di hari lain karena seusai shalat Idul fitri angka kemiskinan akan kembali melonjak sangat drastis pula.

Mungkin ini bisa menjadi bahan pemikiran masyarakat deGromist seusai study dan tinggal di Indonesia.Pengelolaan Zakat dapat menjadi salah satu agenda program alumni deGromiest untuk melanjutkan pertautan silaturrahiim diantara kita. Amiin.


Bulan Sabit Pun Bersinar

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketujuh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Febdian Rusydi.

Sebuah Nasihat Abadi Pada Diri Saya

Tentu kita sudah memikirkan bahwa Bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan dari cahaya Matahari. Namun sudah pernah kah kita memikirkan kenapa dia bisa memantulkan sedemikian rupa? Apakah kalau kita di Bulan juga akan melihat Bumi memantulkan cahaya Matahari?

Ach, tinggalkan dulu pertanyaan itu. Kita nikmati sejenak sinar sang rembulan ini.

Sinar Bulan memang membuat dia indah, tak peduli betapa capuk wajahnya. Lagian berapa banyak yang tahu wajahnya capuk? Sama dengan kegunaannya. “Tentu saja Bulan lebih berguna daripada Matahari. Bulan terbit malam ketika gelap, sementara Matahari terbit siang ketika hari sudah terang,” Begitu seloroh polos Badrun teman saya.

Salah kah mereka? Kalau mereka memang tertipu oleh indahnya sinar sang Bulan, mereka jelas tidak salah. Tahu tertipu pun siapa yang peduli, kala malam datang sinar Bulan menolong mereka menerangi jalan.

Bulan ini mirip-mirip dengan kita. Banyak sekali orang-orang pintar yang terlahir merubah wajah dunia ini. Sebut saja Isaac Newton, hanya dengan memakai persamaan geraknya bangsa Amerika sudah berkali-kali menerbangkan roket bolak-balik Bumi — luar angkasa. Dan banyak lagi contoh orang-orang terkenal lainnya. Mereka itu memang bulan. Suka atau tidak, mereka sudah menerangi beberapa jalan pada kita. Terlepas dari pilihan kita untuk setuju atau tidak, tho wajah peradaban dunia sudah digaris-garisi oleh kehadiran mereka.

Kita juga adalah bulan. Kita mencerahkan orang, dengan segala kelebihan yang kita punya. Namun, wajah kita tak luput dari capuk. Capuk? Ya. Capuk karena kita resah, walau disisi lain orang lain tercerahkan karena kita. Atau capuk karena tak sanggup mencerahkan orang lain. Lebih parah lagi, terang kita seperti bulan sabit.

Tengoklah bulan sabit. Dia tetap bersinar walau cuma separuh atau malah kurang. Sinarnya remang-remang. Coba lah keluar saat bulan sabit bersinar. Jalanan gelappun masih bisa terlihat, walah kadang ga bisa bedakan selokan ama rumput.. Keindahannua juga berkurang. Namun demi praktis kita masih berpikir “selama emang masih bisa menuntun, peduli apa dengan keindahan?”.

Semakin banyak ilmu yang kita pahami, semakin banyak rahasia alam yang kita mengerti, semakin bersinar lah kita. Namun sinar itu belum membuat kita menjadi purnama. Sialnya lagi, malah mulai berpikir seperti Badrun teman saya.

Berapa banyak orang-orang pintar kemudian menafikan keeksistesian Tuhan? Apakah lantas kemudian Tuhan mencabut kasihNya? Atau tiba-tima membuatnya jadi bodoh? Mereka seperti Bulan sabit, tetap bersinar walau cuma separuh.

Sementara itu ada orang-orang seperti Kang Bejo. Siapa yang sangka beliau yang cuma tahu mencangkul begitu bahagia dengan sebatang rokoknya. Dia tidak tahu bahwa alam semesta ini mengembang, dia tidak tahu bahwa paradigma kita tentang dimensi alam semesta harus dirubah, dari 4 ke 11 dimensi, jikalau Superstring Theory adalah benar. Dia malah mungkin masih menganut geometri euclidian. Dia tidak peduli tetangganya berlomba-lomba mencari harta. Baginya hidup adalah kesederhanaan, tak perlu muluk-muluk dengan dunia. Jalani sajalah sambil tetap bersukur. Kesedikittahuannya pada modernisasi justru membuatnya tetap dekat dengan Tuhannya. Dia juga bersinar, walau mungkin hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, sebegitukahnya kita sehingga, sengaja atau tidak, mengacuhkan saudara yang lain yang butuh pencerahan? Keegosian tanpa sengaja ini juga ibarat Bulan sabit, bersinar tapi cuma separuh.

Tuhan memang Maha Adil. Bulan purnama bersinar, yang sabitpun bisa bersinar. Walau, kalau kita boleh memilih tentu lebih ingin menjadi purnama. Kecapukan kita mungkin tak terhilangkan. Namun keindahan kita bisa ditambah untuk mengimbangi kecapukan tersebut.

Siapa sih yang ga pengen jadi Bulan Purnama, berotak Newton berhati Kang Bejo?


Istana dalam Lumpur

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keenam dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Agnes Tri Harjaningrum.

Your daily life is your temple and your religion, Kahlil Gibran.

Setiap orang boleh-boleh saja untuk setuju atau antipati dengan kalimat ini. Apalagi jelas-jelas kalimat tersebut ‘hanya’ milik seorang penyair, bukan sebuah hadist maupun ayat-ayat Al Qur’an. Akan tetapi, sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan bahwa seekor semut pun terkadang membawa kebenaran. Jadi bisa saja kalimat diatas menyimpan kebenaran bukan? Cerita berikut barangkali bisa sedikit menyingkap betulkah ada kebenaran dalam kalimat sang penyair.

Alkisah, di sebuah kota metropolitan ternama, hiduplah seorang lelaki setengah baya yang kaya raya dan sangat mulia akhlaknya. Hal lain yang menjadikannya istimewa adalah karena senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.Tentu saja bukan senyuman milik orang gila, sebab si lelaki masih sangat-sangat waras. Lantas, apa pantasnya lelaki ini dijadikan bahan cerita?

Seperti hidup manusia lainnya, perjalanan kehidupan tak pernah sama. Kadangkala dipenuhi tawa dan bahagia, terkadang pula diiringi tangis dan kesedihan. Terlahir di sebuah dusun terpencil dengan orangtua yang miskin, membuatnya ingin mencicipi kemewahan dunia. Dikaruniai otak yang terbilang lumayan, dikejarnya mimpi melanjutkan studi di kota besar. Berjuang melawan saingan, diraihnya pula impian meneruskan studi di negeri orang. Sepulang dari tanah orang, hidupnya bagai dalam genggaman. Bekerja menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar, berapapun uang yang diperlukan tak lagi menjadi hambatan.

Ada pepatah yang bilang, ’semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup’, begitu pula kehidupan membawanya. Hidup memang tak lagi kekurangan, namun harga yang harus dibayar pun semakin mahal. Hitam kelamnya dunia bisnis dan persaingan terkadang memusingkan kepalanya setiap hari. Dihina, dicaci dan dibenci oleh lawan menjadi makanannya sehari-hari. Kawan yang menentramkan pun banyak pula dijumpai, namun ulah lawan bisnis ataupun bawahan yang menjengkelkan selalu hadir dalam kehidupannya setiap hari.

Klise memang, cerita biasa mungkin. Namun ternyata, dia lelaki luar biasa. Silih bergantinya masalah yang timbul setiap hari, selalu dilaluinya dengan senyuman. Bukan senyuman palsu karena paksaan, tetapi senyuman tulus dari lubuk hatinya yang juga selalu tersenyum. Kesedihan, kekesalan dan kemarahan yang datang, kegalauan ketika beragam masalah muncul, terkadang memang memporak-porandakan hati dan pikiran. Tetapi semua ‘lumpur’ itu tetap berhasil membuatnya serasa hidup dalam istana. Rasa sedih, rasa marah, kecewa, benci, dendam dan semua rasa negatif yang muncul dihatinya, selalu bisa diolah dan ‘dijinakkan’ sehingga yang muncul hanyalah sebuah senyuman dan kata-kata penuh kedamaian.Tak pernah dibiarkannya si ‘lumpur’ berlama-lama bertengger dalam hatinya. Tidak pernah pula terlontar ucapan dan tingkah laku yang menjengkelkan. Hatinya selalu damai, selalu tentram apapun ‘lumpur’ yang datang. Dia memang istimewa karena telah berhasil membangun istana dalam lumpur di hatinya.

Dia, si lelaki tengah baya, selalu mengingat dan melakukan pesan guru mengajinya di langgar desa dulu. ” Hiduplah seperti Rosulullah nak, ketika berkali-kali diludahi seorang yahudi, sewaktu ditinggal Khodijah-istri yang teramat dicintainya, saat gundah dan gelisah datang melihat tingkah laku umat-umat dan musuhnya, sebagai manusia biasa, rasa sedih, kesal, kecewa, marah, benci,dan berbagai rasa pasti berkunjung juga di hatinya. Namun hatinya laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Hati adalah wadah, kalbu adalah tempat untuk menampung segalanya. Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu mu sendiri, nafsu yang setiap hari mengembara di hatimu, Nak. Ketika kau telah berhasil merubah semua ‘lumpur’ dan segala kepahitan yang muncul di hatimu menjadi kedamaian dan kebahagiaan, dikala itulah kau telah berhasil mengalahkan nafsumu sendiri.”

Kehidupan manusia, siapapun dia, mulai dari abang becak, mahasiswa, direktur sampai artis kenamaan , dalam kesehariannya pasti selalu berjumpa dengan masalah. Ketika itu terjadi, rasa marah, kecewa, kesal, sedih dan beragam rasa ‘lumpur’ lainnya selalu berkunjung ke hati manusia manapun. Bukan hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali rasa itu datang, tetapi setiap hari. Manusia yang berhasil meredamnya, merubah semua pahit menjadi bahagia laksana telaga, dialah manusia yang sedang beribadah, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri.

Tak perlu jauh-jauh ingin pergi haji jika memang belum mampu, tak usah pergi ke medan perang di Afghanistan kalau memang tak mungkin, tak perlu jua menyesal ketika belum bisa menyantuni anak yatim. Karena sesungguhnya ibadah besar ada dipelupuk mata. Sepele mungkin, sederhana tampaknya, tetapi melaksanakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengolah kesal saat dimarahi atasan, menjinakkan marah ketika anak di rumah berlaku menjengkelkan, dan mengatasi berbagai gundah gelisah yang muncul di hati menjadi sebuah nikmat adalah sebuah perjuangan. Sehari-hari meredam diri, menjinakkan hati dari semua ‘lumpur’ yang datang adalah sebuah jihad akbar. ‘Your daily life is your temple and your religion’ menyimpan sebuah kebenaran ketika manusia berhasil melakukannya, membangun istana dalam lumpur di kehidupan sehari-hari.

Wallahualam bissawab.


Era Teknologi dan Kedewasaan Umat

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kelima dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul Fuad.

Heboh tentang pemikiran Abu Zayd yang kontroversial tersebut adalah imbas dari kemajuan teknologi Informasi dewasa ini. Ide atau pemikiran yang sebenarnya hanya untuk konsumsi kalangan terbatas menjadi milik publik. Ide pak Abu Zayd tentang Kritik Nalar al Quran, sebenarnya bukanlah barang aneh bagi orang-orang yang pernah belajar Ilmu tafsir lebih khusus sejarah tafsir. Dikalangan anak-anak IAIN jurusan Ilmu Tafsir Hadist pemikiran Abu zayd ini menjadi salah satu kajian bahkan salah satu buku beliau jadi bahan referensi mereka.

Sedikit dari ilmu tafsir, menurut ilmu ini Al-Quran terdiri dari dua unsur pokok. Pertama adalah Text, dia adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Karena Al Quran adalah media komunikasi antara Allah dan manusia. Bahasa Allah yang transendent,qodim,azali dan mutlak tentu tidak akan dapat dipahami oleh manusia. Oleh karena itu butuh perantara, yaitu al Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab. Tentu bukan bahasa Jawa, Padang ataupun Inggris karena memang nabi Muhammad tidak lahir di Padang melainkan di Arab. Menurut para ilmuwan bahasa itu kan produk budaya, simbol-simbol yang dikodifikasikan oleh manusia untuk menandai sesuatu, bisa berupa barang, nama orang dll. Nah yang menjadi persoalan, Kalamullah yang azali,qodim dan mutlak itu harus diterjemshksn dslsm bahasa lisan dan bahkan tulis dari manusia yang sifatnya terbatas. Tentu bahasa tidak mampu sepenuhnya menerjemahkan maksud Allah yang amat agung, universal dan mutlak.

Unsur kedua adalah pesan yang terkandung di balik text itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Al Quran itu kan tidak diturunkan Allah gedebug..30 juz seperti sekarang yang kita punya sekarang. Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahunan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ummat kala itu. Maka sesungguhnya urutan Al Quran itu tidak seperti yang kita punya sekarang. Yang pertama kan “Iqra’ bismirabbikal ladhi khalaq” trus yang terakhir kan “Al Yauma Akmaltu lakum diinakum…. ” Nah Al Quran turun itu kan pesannya disampaikan secara general, umum sehingga ummat waktu itu pun ada yang kurang jelas. Sehingga muncullah Hadist sebagai penjelasan Al Quran.

Al Quran sudah berumur lebih dari 1400 tahun. namun tetap utuh tak satupun huruf yang hilang. Seperti janji Allah “Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kamilah yang akan menjaganya”. maka Insya Allah bunyi Al Quran itu akan abadi hingga yaumil Qiamah. Nah yang menjadi perdebatan para ulama itu kan penafsirannya. Menyingkap pesan di balik text al Quran. Semenjak dahulu, sepeninggal Rasulullah banyak ulama’ yang menafsirkan Al Quran denag beraneka ragam, karena memang sudah tidak ada lagi yang di jadikan tempat klarifikasi (Nabi Muhammad). Sekedar info, madzab fiqih itu sebenarnya bukan hanya 4 tapi ada lebih dari 350 an madzab. Nah lo…

Bagi saya “pribadi” apa yang dilontarkan pak Abu Zayd bahwa Al Quran adalah produk budaya juga tidaklah terlalu salah, untuk tidak mengatakan benar. Dalam konteks memamang Al Quran turun untuk merenpon kondisi masyarakat setempat yang tidak lepas dari budaya setempat juga. (ini untuk saya pribadi bukan untuk ummat).

Saya juga melihat bahwa sebagai konsekuensi dari kemajuan tehnologi informasi, maka ide Abu Zayd ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga menimbulkan berbagai kelompok pro atau kontra yeng sebenarnya bisa memberi keuntungan pada kelompok yang ingin memecah belah ummat Islam. Ide abu zayd yang sebenarnya hanya pada tataran tafsir, seolah-olah menjadi Abu Zayd ingin merubah Al Quran. Sebagai umat Islam seharusnya kita lebih waspada dengan pihak ketiga ini.

Apa yang terjadi pada diri pak zayd bisa dilihat sebagai pergulatan pemikiran atau proses mencari kebenaran seorang anak manusia yang penuh dengan keterbatasan. Sehingga tidak layak bagi kita untuk mencaci maki dia, mengkafirkan dll. Karena kalo kita pertanyakan siapakah sebenarnya yang benar atau yang salah, kita tidak pernah tahu karena Allahlah yang maha tahu. Seperti seorang anak yang bertanya pada ayahnya “bagaimana bentuk Tuhan dan di mana Dia? ” tentu sangat tidak bijaksana kalo ayahnya memarahi anaknya karena pertanyaan yang jujur itu. Begitu pula Allah, dengan sifat rahman rahimnya Dia akan senyum-senyum melihat tingkah pak Abu zayd. Bukan seperti sebagian kita yang mencaci maki bahkan mengkafirkan atau menuduhnya sebagai agen Yahudi dan Kristen. Subhanallaah……Bukankah di Al Quran dikatakan bahwa “janganlah sekali kamu mencaci sebagian dari kamu, karena sesungguhnya kamu belum tentu lebih baik dari yang kamu caci”.

Nah sebagai masyarakat awam saya hanya mengambil hikmah dari dua beda pendapat ini. Sehingga saya sebenarnya punya keuntungan ganda untuk dapat juga belajar dari pemikiran Abu Zayd dan kelompok yang menentangnya. namanya kan kalo ada perbedaan dikalangan ulama’ maka itu kan menjadi rahmah bagi ummatnya.

Saya bersyukur dilahirkan sebagai ummat Islam, karena Islam sangat luas sekali dan kaya akan ilmu pengetahuan. Ini hanya sebagian kecil dari khasanah Islam, kita belum lihat yang lainnya, psikologi, politik, hukum, fisika, biologi dll.


Hidup Itu Gampang

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketiga dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Hidup ini sebenarnya gampang kok. Kita makan satu piring juga sudah kenyang…, demikian yang diucapkan oleh Bahrul Fuad, salah seorang teman yang dipanggil dengan Cak Fu. Teman satu ini memang istimewa: berbekal kegiatan di LSM di Indonesia, beasiswa dari Ford Foundation mengantarkan menjelajah ilmu sampai di Groningen. Sekalipun diakui bahwa dia terkadang têngêr-têngêr (merasa seperti percaya atau tidak) merenungkan bahwa tidak disangka dan dinyana sampai ke tempat yang jauh sekali dari tempat kelahirannya di Kediri, Jawa Timur.

Benar, hidup itu sebenarnya sederhana, gampang, dan seharusnya menjadi berkah bagi semua orang. Lha untuk apa Gusti Allah meniupkan ruh ke dalam bakal manusia di dalam rahim jika kemudian hanya untuk dibuat bersusah-payah dan menjalani hidup seperti pesakitan yang dipenjara di muka bumi? Apalagi seperti yang dijanjikan sendiri oleh-Nya bahwa semua yang melata pun sudah dijamin rezeki dan penghidupannya, masak terus Gusti Allah lupa dengan janjinya begitu saja.

Makan nasi satu piring cukup; jika tidak ada satu piring, setengah juga dimakan dengan bersyukur. Jika sedang tidak ada juga, ya sudah puasa. Saya pernah menerima telepon dan si pembicara di ujung sana dengan lugasnya menasehati saya, Lha wong orang puasa juga nggak akan mati kok! Iya benar juga: kalau Gusti Allah belum berkehendak saya pergi dari hidup yang fana ini, seharusnya kalau hanya lapar saja tidak akan menyebabkan saya meninggal.

Tapi kok seperti nggaya saya sok “berpuasa karena tidak ada nasi” segala? Bukankah tidak ada nasi, roti pun makanan sehari-hari di Belanda, atau patat, atau jenis lainnya? Esensinya yang lebih penting: bahwa kalau tidak dapat meraih sesuatu yang sepertinya menjadi hak kita, ya monggo kita redakan nafsu yang bergemuruh itu dengan mensyukuri hal lain yang masih kita miliki. Jika orang lain berlomba memiliki mobil pribadi misalnya, dan duit yang kita miliki belum sampai di situ, naik sepeda juga rezeki, bersama-sama penumpang lain di angkot dan bis kota juga rezeki.

Bukankah dengan fasilitas yang lebih bagus, hasil yang diperoleh lebih maksimal? Barangkali benar juga — saya sebut barangkali lho, karena Gusti Allah dalam hal-hal lain juga tidak main seruduk harus yang maksimal. Fotosintesis pada tumbuhan hijau barangkali kalah efisien dibanding pembakaran pada mesin-mesin yang dibuat manusia, namun Pembuatnya sudah memikirkan bahwa hasil akhirnya bukan hanya bermanfaat bagi tumbuhan itu sendiri, namun juga makhluk lain yang menghirup oksigen, hasil dari pembakaran tersebut.

Jangan-jangan pernyataan sederhana tersebut hanya kedok saja karena malas berusaha, bekerja secukupnya, dan setelah itu pasrah. Tentu saja tidak ada orang lain yang tahu persis motivasi setiap orang dengan sikapnya, tidak juga mereka yang menuding seperti itu. Hati yang jernih dan jujur itulah yang dapat menilai dengan tepat. Karena orang malas tentu dikuasai oleh nafsu malasnya, sedangkan orang yang bergemuruh dadanya ingin memiliki semua gunung emas di muka bumi juga dikuasai oleh nafsu kebanggaan yang menyala-nyala.

Ah, bulan Ramadhan sudah menjelang datang. Saya ingin memasukinya untuk lebih menghayati lagi makna hidup yang sebenarnya gampang.


Awal Ramadhan dan Ukhuwah

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kedua dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Menentukan awal bulan Ramadhan merupakan pekerjaan rutin Departemen Agama di negara kita. Lazimnya, mereka membentuk panitia yang bertanggung jawab dan penentuannya berdasarkan rembugan dengan beberapa ahli yang biasanya juga merupakan wakil organisasi massa besar di Indonesia. Di kampung saya dua puluhan tahun lalu, kami menunggu tanda awal Ramadhan dan akhir Ramadhan dari bedug yang ditabuh bertalu-talu di Masjid Jami’ (masjid utama) kecamatan. Pada saat televisi belum banyak dimiliki, informasi dari masjid merupakan cara yang paling praktis dan diikuti oleh banyak orang.

Di kabupaten kami juga terdapat kyai muda “nyentrik” pada zamannya: kyai muda ini membuat teleskop dengan kerangka utama dari pipa paralon. Hasil karyanya sempat ditampilkan di alun-alun kabupaten pada acara Pameran Pembangunan. Selain kami anak-anak lebih dapat membayangkan ilmu falak yang digunakan untuk penentuan tanggal-tanggal penting di almanak hijriyah, merupakan ketertarikan tersendiri mengetahui teleskop yang dibuat oleh kyai dari pondok pesantren.

Mengikuti waktu yang berjalan, kian banyak pengetahuan yang kita dapatkan dalam hal penentuan awal Ramadhan. Media massa melaporkan dengan seksama dan sudah lumrah terdapat tulisan ahli-ahli tentang ilmu falak praktis pada saat-saat seperti sekarang. Pengunjung situs falak seperti yang disusun Ferry M. Simatupang juga meningkat. Ringkasnya, cara penentuan awal Ramadhan sudah menjadi pengetahuan luas yang dapat dipelajari oleh siapapun yang berminat.

Karena menyangkut keyakinan dan dipakai bersama, tetap saja bagi banyak orang perasaan “aman” untuk menjalankan ibadah adalah sesuatu yang penting. Setelah mengikuti banyak pendapat, akhirnya mayoritas orang akan sampai pada pertanyaan, Kalau begitu, kapan saya mulai puasa? Pilihan selanjutnya adalah preferensi pribadi yang boleh jadi tidak secara langsung menggunakan rujukan yang didengar sebelumnya.

Demikianlah, karena di Belanda tidak terdapat Departemen Agama yang secara resmi mengelola penentuan awal Ramadhan, saya mempercakapkan hal ini dengan salah seorang imigran dari Aljazair yang sering saya jumpai di sekolah anak-anak. Karena saya tahu bahwa dia akan menggunakan rujukan pengumuman dari Masjid Selwerd, saya melanjutkan dengan bertanya, Anda cukup yakin dengan tanggal tersebut? Dia menjawab balik, Itu kita tahu dari pengumuman masjid nanti.

Kemudian lebih jauh dari pertanyaan saya, dilanjutkan dengan pandangannya bahwa seharusnya dengan keputusan yang ditetapkan nanti, semua kaum muslimin di negara ini dapat memulai puasa Ramadhan secara bersama-sama. Dia juga tahu bahwa ada perbedaan pandangan, misalnya dari sisi mahzab atau alasan keilmuan, namun dia menekankan bahwa kebersamaan yang dia bayangkan tersebut dalam konteks sebuah jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

Karena saya sama sekali tidak berniat beradu argumen dengan dia, saya tidak melanjutkan dengan pertanyaan “yang lebih sulit” misalnya: siapa yang memiliki legitimasi mengeluarkan keputusan; batas yang dimaksud berupa apa (nasional, pakta, area?), karena ada cerita di perbatasan Aljazair dan Tunisia, tempat yang berjarak hanya beberapa kilometer menggunakan tanggal mula Ramadhan yang berbeda; sampai dengan: apakah pengertian ukhuwah Islamiyah itu harus sama sampai dalam persoalan tanggal?

Bagi saya hal itu dapat dipikirkan oleh mereka yang lebih ahli dan memiliki pengaruh, dan barangkali pada prioritas yang kesekian. Yang saya lihat sebagai mutiara pada percakapan tersebut adalah keinginan “orang-orang biasa” untuk berukhuwah dengan sebanyak mungkin orang; yang barangkali dengan pengertian dia sedapatnya, disimbolkan dengan memulai ibadah Ramadhan bersama-sama.

Benarlah, tiga jam kemudian saya bertemu dia lagi dan sudah dibawakan jadwal waktu sholat dari masjid dan ditunjukkan tanggal 1 Ramadhan yang untuk sementara sudah ditentukan oleh pengurus masjid. Bagi saya, tidak lain, hal itu adalah harapan dia agar saya menyambut Ramadhan; dan saya percaya, semua harapan baik sudah merupakan doa.


Kesadaran dan Pikiran

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan pertama dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ismail Fahmi.

Kang Bejo kini lebih berhati-hati sebelum memasuki pintu Ramadhan. Dengan i’tikad beribadah untuk Gusti Allah semata, langkah diayun. Malam itu, Kang Bejo berjamaah Maghrib bersama anak dan bininya. Sebuah ayat favorit dibacakan pada rakaat pertama:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran :191-192).

Selesai sholat, dia tertegun, seolah tersadarkan oleh sebuah pesan yang menarik hatinya dari ayat tersebut. Orang-orang yang berakal adalah orang yang berdzikir, mengingat, atau memiliki kesadaran akan Allah, dan tidak berhenti disitu saja, mereka kemudian bertafakur atau berpikir tentang ciptaanNya. Mengapa dzikir disebut terlebih dahulu? Apakah ada maksud khusus dengan mendahulukan dzikir baru diikuti tafakur?

Terjadilah diskusi hangat dengan anaknya yang kuliah di jurusan filsafat. Meski pendidikannya tidak terlalu tinggi, Kang Bejo memiliki minat yang lumayan dalam hal mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Untung ada anaknya yang bisa jadi sparring partner di meja makan.

“Begini Be. Menurut buku yang ane bace, ide, konsep, kebenaran, atau sensasi yang kita pegang itu bisa berasal dari dua sumber. Pertama dari kesadaran awal atau sudah ada dalam diri manusia sejak dulu, dan kedua dari pengalaman. Babe kenal pak modin kita yang bernama Plato kan? Nah, dia bilang kalau ide itu sebenarnya sudah ada dalam diri manusia, tidak perlu dari pengalaman dulu. Untuk mengeluarkan ide itu, barulah manusia melakukan perenungan, mencarian inspirasi, deelel yang berhubungan dengan pikiran. Nah, Om Einstein, Be, tukang balon tetangga kita itu juga bilang kalau imanjinasi itu lebih penting baginya dari pada pengetahuan. Imajinasi ini kan mirip-mirip dengan sensasi yang berasal dari dalam diri manusia.”

“Terus, ape hubungannye?”

“Kayaknya nih Be, hal yang sama sebenarnya juga sudah disampaikan dalam ayat yang Babe baca tadi. Gusti Allah melalui anugerahNya berupa agama Islam, ingin memberitahu manusia betapa pentingnya posisi hati di atas pikiran. Islam mengutamakan kesadaran dalam hati, karena hati lebih luas dan cerdas dari pada pikiran. Ilham, ide atau konsep itu muncul sebenarnya, menurut Pak Kyai Ghazaly, melalui nur yang dipancarkan Gusti Allah ke dalam hati manusia. Ndak perlu pake alasan atau keterangan terlebih dahulu. Kemudian pikiran yang sehat mengikuti ilham itu, mengasahnya, membuktikannya, dan mengalaminya di dunia nyata agar bisa diterangkan dan diterima orang lain.”

“O begitu. So, jika ingin menghasilkan penemuan-penemuan baru, musti rajin mengasah hati ya Le (Tole, red). Termasuk jika ingin bisa memahami AlQuran, menemukan teori-teori baru, deelel.”

“Iya, tapi seperti disebut dalam ayat tadi, ndak cukup dengan cuma merenung, zikir, menyendiri.. Musti bekerja keras, menggunakan pikiran untuk menemukan dan membuktikannya di alam. Kalau ndak mau kerja keras, ya sama aja dengan dukun. Perkara nanti membuahkan hasil atau belum, itu hak prerogatif Allah. Yang penting sikap berusaha dan bekerja ini harus ada. Bukan begitu Be?”

“Wah, pinter kowe le.. Kalau begitu, puasa Ramadhan ini bagus sekali untuk latihan agar hati kita lebih terasah. Agar kesadaran bathiniah semakin tajam. Nanti kita akan lebih banyak membaca Quran, shalat malam, zikir dibanding hari-hari biasa. Ya jangan dilihat pahalanya ya le. Tapi bagaimana kesadaran ini bisa meningkat, bahwa batin kita selalu dekat dengan Allah, selalu diatur oleh Allah, dan semakin cinta sama Allah. Kalau sudah begitu, yang namanya Taqwa akan tumbuh.”

“Betul Be. Kayaknya ada topik baru lagi yang bisa kita diskusikan Be. Yaitu apa dan bagaimana kesadaran dalam hati, batin atau jiwa yang disebut dengan dzikir itu?”

“Ya udah.. cukup dulu. Pusing babe nih lama-lama diskusi sama kamu.”


Sound of a mother

Filed under Catatan Pribadi

I go to the hills when my heart is lonely
I know I will hear what I’ve heard before
My heart will be blessed with the sound of music
And I’ll sing once more

Maria: “I can’t seem to stop singing whatever I am! And whats worse, I can’t seem to stop saying things-anything and everything I think and feel!

“Sound of music”, aku suka film ini. Mengingatkanku ketika kegelisahan itu muncul dalam benakku. Kegelisahan yang sama dengan Maria ketika dia merasa berbeda dari teman-temannya di biara, ketika dia selalu ingin bernyanyi, dan tak bisa berhenti berbicara. Suatu hal yang tabu dilakukan oleh seorang wanita calon biarawati.

Kegelisahan yang sama?…ya kegelisahan yang membuat aku merasa berbeda dari para ibu pada umumnya. Aku sangat-sangat bersyukur ketika Allah memberiku bayi mungil yang terlahir dari rahimku. Aku nikmati peran sebagai ibu dengan segala rasa syukur yang ada. Sempat terbersit dalam batin untuk tidak saja cuti kerja tapi juga berhenti. Namun, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui, semuanya menjadi berbeda. Kenapa aku merasa bosan, kenapa aku merasa jenuh, kenapa aku menjadi sensitif, kenapa aku jadi marah-marah melulu. Semua rutinitas ini seperti membuatku ‘mati’. Aku rindu bertemu pasienku, aku rindu mendengarkan seminar kedokteran, aku rindu kawan-kawanku. Aku rindu semua…kerinduan yang dalam untuk selalu berpikir dan bertemu dengan sesuatu yang baru.

Mengapa perasaan ini muncul dan terus menderaku ya Allah, salahkah aku? Bukan istri yang sholeh kah aku? Ibu yang jahat kah aku sehingga tidak bisa menikmati peran yang baru saja kujalani beberapa bulan? Wanita lain bisa menikmati peran ini kenapa aku tidak? Apakah aku wanita yang terlahir dengan abnormalitas tinggi sehingga aku merasakan semua ini? Lantas, kenapa pula Kau biarkan aku diterima di Fakultas Kedokteran? Kenapa Kau luluskan semua keinginanku untuk selalu mengikuti kegiatan ini dan itu. Ketika kawan-kawanku sibuk belajar di rumah, aku malah sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung mencari dana, bersama teman-teman seperjuangan menculik mobil bapakku dan membawanya ke Jakarta tanpa ijin. Saat pihak Fakultas tak mengijinkan pergi liburan dengan bis Fakultas sewaktu semua peserta sudah kadung menunggu, aku dan teman-teman nekat pergi . Lagi-lagi ‘menculik’ beberapa mobil dan tak satupun mobil dikendarai pria, hanya untuk sekedar menikmati pangandaran bersama teman-teman. Banyak orang geleng-geleng kepala, tapi kami selalu bilang inilah yang namanya hidup, seru, penuh warna, penuh tantangan dan penuh kejutan.

Nyatanya lagi, semua itu sangat membantu ketika aku menjalani profesiku. Aku bertemu dengan banyak orang, banyak karakter, mengambil keputusan ketika bayi dihadapanku sudah membiru dan bernafas satu-satu, harus mengkhitan seorang anak yang penisnya terjepit resleting tanpa ada siapapun yang membantuku. Hm..semuanya kadang membuat adrenalin meningkat, but… I love it and enjoy it.

Aku tidak pernah meminta semua ini Tuhan. Salahkah aku ketika semua perasaan itu menghantuiku, abnormalkah aku Tuhan? Aku cinta keluargaku, aku cinta suami dan anak-anakku, aku syukuri semuanya. Bayi mungil ini amanahMu ya Allah, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Tapi mengapa ??? Hmmh….jangan-jangan…aku memang betul-betul abnormal. Kalau begitu aku harus berubah, aku harus menghilangkan semua perasaan itu. Ya…aku harus berubah!.

Lalu, aku pergi ke toko buku, aku ikuti semua seminar tentang pengasuhan anak yang terbaru, dan aku coba untuk menerapkannya pada anakku. Semua berkata sama, bersyukurlah telah menjadi ibu yang bisa menemani masa golden periode anak. Bersyukurlah dan bersyukur itu lah yang aku coba lakukan. Namun mengapa perasaan rindu itu tak kunjung hilang Tuhan, perasaan itu datang dan pergi bersama warna-warninya kehidupan. Aku ingin melenyapkannya Tuhan! kenapa aku tak bisa???

Aku percaya, tidak ada sesuatupun yang terjadi karena kebetulan di dunia ini. Aku kembali mencari, dan Allah yang Maha Baik memberikan aku sebuah jawaban. Ternyata aku bukan wanita yang abnormal, ternyata bukan hanya aku yang gelisah, ternyata… aku tidak sendirian.. Aku bertemu dengan buku itu, buku ‘Ketika Ibu Harus Memilih’ milik Susan Chira. Dia berkata dalam bukunya “Selama bertahun-tahun saya mengira hanya bisa memilih salah satu : pekerjaan atau anak-anak. Dan saya membiarkan kekhawatiran yang muncul itu menekan hasrat saya untuk menjadi seorang ibu. Kemanapun saya menengok, dan apapun yang saya baca dan hampir semua orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa saya menginginkan sesuatu yang mustahil-yakni bekerja dengan baik sekaligus menjadi seorang ibu yang baik. Saya terus berusaha mengabaikan suara hati saya hampir sepanjang hidup…

Backcover buku itu berbicara, ‘Anda tak perlu heran jika kegelisahan Susan Chira tersebut juga menjadi kegelisahan anda. Para ibu masa kini memang seolah serba salah. Masyarakat cenderung menyepelekan ibu yang tinggal di rumah, namun disisi lain juga menuduh para ibu bekerja telah menelantarkan anak-anak mereka. Dalam buku ini, wartawan senior New York Times, Susan Chira, menyajikan berbagai fakta dan hasil penelitian yang membuatnya mampu mengikis kegelisahan itu, membuat perspektif baru yang menjawab kebimbangan para ibu: bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri tak terabaikan.

Eureka! Begitu rasanya ketika membaca buku ini, seperti mendapatkan pembenaran untuk bisa melenggang kangkung pergi bekerja. Namun ternyata teman-teman yang kontra malah berkata sebaliknya, ‘Dia itu feminis Nes, bukan muslim, kenapa kamu begitu saja percaya dengan penelitiannya’. Hmh..lagi-lagi kepala ini dibuat pusing tujuh keliling. Hanya doa yang aku bisa panjatkan ya Allah semoga Engkau memberi jawaban. Beberapa buku aku cari lagi, entah mengapa semua buku yang aku temui bersuara sama, seorang ibu harus bahagia, tidak merasa bersalah atau menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan batinnya agar bisa mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan baik, itu kata kuncinya.

Perenungan yang dalam, tidak ingin kehilangan masa emas anakku yang tak kan terulang, membuat aku memutuskan untuk tidak PTT, tetapi tetap bekerja pagi-sore di klinik dekat rumah , dan sempat juga di sebuah rumah sakit. Semua membuatku puas, anak-anakku tidak terlantar, dan batinku terpuaskan. Sampai akhirnya suamiku membawa berita bahwa dia akan mengajakku ke negeri Belanda.

Wow senang dan bangga tentu saja, bisa melihat dunia lain yang diimpikan oleh banyak wanita di negeriku. Tetapi aku kembali dihadapkan pada sebuah kegelisahan, siapkah aku meninggalkan pekerjaanku dan semua milikku yang aku cintai di tanah airku? Beranikah aku mengambil sebuah keputusan untuk lebih memilih keluarga ketimbang karir, kepuasan batin, dan keinginan untuk melanjutkan sekolah yang selalu mengembara dalam kepalaku? Diskusi panjang dan perenungan yang dalam kembali aku lakukan, sambil berdoa kepada Tuhan semoga aku diberi jalan terang untuk memilih.

Sekian lama berpisah dengan suamiku akibat rumitnya urusan visa merupakan jawaban Tuhan. Ternyata apapun yang terjadi tidak ada yang dapat memisahkan kami. Janji hidup bersama didepanNya, dan pemberian amanah dua bocah mungil yang masih dalam periode emas ini menjadi alasan yang tak terbantah bagiku untuk tetap pergi kemanapun suamiku pergi. “Rumahku adalah dimana suamiku berada “. Itulah jawaban yang diberikan Tuhan dari segala penderitaan yang muncul ketika aku harus berpisah dengan suamiku. Inilah jalan yang telah diberikan Allah padaku.

Aku akan menjadi seorang ibu rumah tangga penuh di negeri orang, of course tanpa pembantu, dan aku akan meninggalkan pekerjaanku. Itu adalah keputusan yang telah aku ambil, aku harus ikhlas, aku harus bersyukur, dan aku harus siap menanggung semua akibat dari pilihanku. Kuncinya adalah aku harus bahagia, tidak merasa menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan bathinku. Tapi…mungkinkah itu terjadi bila aku sama sekali tidak melakukan pekerjaan lain selain mengurus rumah dan keluarga?. Kembali jalan terang itu datang. Tiba-tiba saja aku ingin belajar menulis, dan menulislah aku. Tiba-tiba lagi tulisan pertamaku langsung dimuat di koran PR, bahagia tentu. Aku seperti mendapatkan petunjuk inilah cara yang dapat membuatku tidak ‘mati’, dan tetap aktual.

Betulkah aku sudah siap? Oke, aku coba bertanya kepada sahabatku yang juga bernasib sama, yang satu di Jepang, satulagi di Inggris. Ternyata mereka menjawab sama..’tidak mudah Nes walaupun akhirnya bisa…’ Aku cuma bisa bertanya dan bergumam dalam hati ‘Masa sih, kan asik tinggal di negeri orang, apa susahnya, diikhlas-in aja dong, ini kan pekerjaan mulia, kenapa sih dibuat susah, dinikmati aja kenapa, mestinya bersyukur dong, oranglain pengen lho kaya kalian…’ dan mereka menjawab sama..’Ya coba aja deh Nes, nggak akan bisa ngerasain deh kalo nggak ngalamin sendiri…’

Oh God, kenapa mereka bilang begitu, pasti berat, apalagi dulu keduanya terkenal cerdas, yang di Inggris bahkan sudah mengeluarkan puluhan juta dan sempat ‘disiksa’ selama tahun pertama melanjutkan studi spesialis di bagian Anak. Kalau begitu aku musti siapkan mental, aku benar-benar harus bisa mengikhlaskan dan mensyukuri semuanya supaya tidak mengalami hal yang sama. ‘Aku pasti bisa, apalagi aku sudah membawa bekal menulis untuk tetap ‘hidup’, mereka pergi tanpa persiapan itu toh’, begitu pikirku.

Here I am now, in Groningen-Netherland-Europa, tempat yang membuat iri banyak orang. Seminggu, dua minggu, sebulan dan kini.. telah 3 bulan lamanya aku berada disini. Menyesalkah aku? Tidak bahagiakah aku, tidak bersyukurkah aku? Rasanya aku akan menjadi orang yang paling kufur nikmat bila aku melakukannya.

Berbelitnya urusan visa yang akhirnya tuntas, dan perpisahan mencekam yang tak lagi kami rasakan sungguh suatu anugrah buatku. Namun aku tidak bisa pungkiri bahwa yang dikatakan sahabat-sahabatku benar adanya. Berbicara syukur dan berbicara ikhlas menasehati sahabat-sahabatku dulu, untuk mau menerima dan menikmati perannya memang perkara mudah. Tetapi nyatanya, ketika merasakannya sendiri, aku baru benar-benar paham. Ternyata memang tidak mudah untuk menjalani proses ini walaupun aku sudah berusaha untuk menyiapkan diri. Tanpa bermaksud untuk berkeluh kesah atau meminta empati, dan bukan pula hendak menakut-nakuti, namun inilah kenyataan yang aku dan ‘sesamaku’ hadapi.

Tidak selamanya manusia berada diatas, warna-warni akan selalu muncul dalam kehidupan manusia, kadang gelap kadang terang. Mengapa semua menjadi tidak mudah? Karena dikala warna indah membangunkan hariku, aku betul-betul menikmati keberadaanku menjadi seorang ibu tanpa pembantu. Tetapi, dikala warna gelap menyelimuti diriku, semua kenangan manis tentang kepuasan batin itu menari-nari dikepalaku, menyesakkan dada dan memekikkan telinga.

‘Kenapa tidak kau usir saja mereka!’ begitu bisik hatiku, dan aku mencoba mengusirnya, mengeluarkan semua teori dari buku dan seminar yang pernah aku ikuti. Meneguhkan diri betapa mulianya tugas ini, betapa bersyukurnya aku, dan berbagai peneguhan positif lainnya. Berhasil kah aku? Hmm.. Aku hanya bisa berusaha. Semua rasa itu bukan milikku, aku tidak pernah meminta rasa itu datang, aku hanya wadah, yang cuma bisa mengembalikan semuanya kepada yang Maha Memiliki Rasa. Aku justru bersyukur ketika masih bisa menikmati rasa itu, karena begitulah hidup yang sebenarnya…hidup yang penuh warna. Apa jadinya bila hanya terang yang menyelimuti diriku, aku tak akan pernah jatuh dan tak akan pernah belajar. Toh memang hidup seperti inilah yang aku suka, penuh kejutan, tantangan dan selalu berwarna.

Belajar dan berproses memang tak kenal kata akhir. Kini, aku sedang belajar dan belajar lagi untuk menjadi ibu rumah tangga penuh yang tetap bisa menjaga kebahagiaan dan kepuasan batinku sendiri.‘Kenapa pula kau harus egois mementingkan kepuasan batinmu sendiri’ begitu bisik hatiku suatu hari. Suara hati lain menjawab, ‘Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku hanya manusia, yang terlahir dengan segala masa lalu yang membuatku merasa ‘mati’ dikala aku tidak dapat memuaskan batinku. Tapi wanita lain tak pernah bicara tentang kepuasan batin, toh mereka bisa dan mereka tetap baik-baik saja, kenapa aku tidak?’ begitu bisik batinku lagi. Apakah aku salah? Apakah wanita lain itu salah?.

Hmh semua membuatku pening. Aku tidak tahu, namun satu hal yang aku yakini dan aku ingat selalu, guru spiritualku* pernah berkata “Tidak ada yang salah di dunia ini, semua telah berjalan sesuai dengan skenario-Nya. Perbedaan adalah rahmat, dunia tak akan tampak indah bila tak berwarna. Itulah kehidupan, manusia diciptakan dengan berbagai sifat, kondisi dan latar belakang yang berbeda sesuai dengan tugasnya masing-masing. Tinggal hendak bagaimana manusia menyikapinya dan menjalankannya, apakah ingin membuat semua menjadi satu warna, menjadi hitam-putih, menjadi benar-salah, atau tetap indah sesuai dengan kehendakNya. Be wise Nes…” begitu kata guruku…

Dengan segala rasa cinta yang ada, kupersembahkan tulisan ini untuk seorang suami yang telah sangat-sangat mengerti aku dan sangat mendukungku.

Ps: Buat mbak Diana, semua orang tentunya punya idealisme masing-masing. Untukku, aku hanya ingin mengemban amanah ini dengan memberikan segala yang terbaik yang aku bisa buat anak-anakku. Bukan untuk menyuruh mereka bersaing dan menjadikan mereka nomor satu, tetapi semata-mata untuk membuat mereka mengenal diri mereka sendiri dan menjadi diri sendiri. Ibu bukanlah tempat untuk bergantung, tetapi tempat yang akan membuat anak-anaknya tidak lagi bergantung. Dan sebuah anugrah buatku bila aku bisa mengantarkan anak-anakku hanya bergantung kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri….

*Guru spiritual = pak kyai


Materi Persiapan Ramadhan 1425H

Filed under Agenda deGromiest

Atas izin Allah SWT. tidak lama lagi bulan mulia Ramadhan 1425H akan datang atau didatangi. Menjalankan ibadah puasa dan melewati bulan mulia yang penuh ampunan dan maghfirah tentu merupakan kenikmatan tersendiri di Groningen. Beberapa hal di bawah ini dapat dijadikan materi persiapan menyambut Ramadhan kali ini.

Pengumuman awal Ramadhan

Penentuan awal bulan Ramadhan mengikuti ketetapan yang disetujui/digunakan oleh Masjid Selwerd, Groningen. Pertimbangan yang digunakan: kita berada di Groningen dan Masjid Selwerd merupakan representasi resmi kegiatan Islam di Groningen — sekaligus masjid yang dihadiri lebih banyak anggota De Gromiest. Dengan demikian ketetapan yang dikeluarkan Masjid Selwerd lebih memiliki legitimasi dalam pemilihan jadwal waktu sholat dan perayaan hari-hari besar Islam (termasuk awal Ramadhan). Biasanya awal Ramadhan ditetapkan oleh pengurus masjid setelah shalat Isya’ dan secara langsung akan diumumkan baik lewat situs Web, mailing list, atau silakan kontak lewat telepon. Lebih jauh teknis pelaksanaannya akan diumumkan menjelang awal bulan Ramadhan.

Jadwal waktu berbuka dan sahur

Jadwal yang digunakan untuk aktivitas puasa mengikuti jadwal sholat. Untuk waktu sholat harian, sudah tersedia di Serambi De Gromiest dan sedang perbaikan jadwal per bulan. Versi lama jadwal bulanan ini tersedia di album situs versi lama. Apabila terdapat perubahan URL, nanti akan diumumkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan, pada tanggal 31 Oktober akan berlaku perubahan waktu (Daylight Saving Time) sehingga perlu diperhatikan agar tidak salah dalam menggunakan jadwal berpuasa.

Insya Allah jadwal waktu berbuka dan sahur ini akan disediakan di situs Web De Gromiest dengan menggunakan acuan jadwal waktu sholat yang digunakan oleh Masjid Selwerd.

Kegiatan di Masjid Selwerd

Secara umum setiap hari terdapat kegiatan ibadah shaum di Masjid Selwerd, yakni buka puasa bersama dan sholat taraweh. Demikian juga di Masjid Turki yang berada di Koreweg. Buka puasa di Masjid Selwerd diselenggarakan untuk semua hadirin yang datang pada jam buka puasa dan disediakan cuma-cuma. Makanan yang tersedia khas Timur Tengah dan pengurus masjid sangat berharap keikutsertaan jamaah masjid pada acara tersebut. Jadi jangan ragu-ragu dengan undangan tersebut!

Sedangkan shalat taraweh dilangsungkan mengikuti jadwal sholat Isya’ dengan dimundurkan sekitar setengah jam untuk menunggu jamaah berkumpul. Hadirin shalat taraweh banyak (jamaah memenuhi masjid bagian dalam) dan dilangsungkan delapan rakaat dengan bacaan surah Al Quran satu juz setiap malam. Menjelang akhir bulan Ramadhan terdapat acara yang lebih khusus untuk taraweh ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar.

De Gromiest merencanakan acara pembacaan Al Quran (tadarus) satu juz setiap malam dan dilaksanakan setelah shalat taraweh, di Masjid Selwerd. Insya Allah saya dan Bang Fahmi akan mengusahakan agar pembacaan Al Quran ini dapat rutin setiap hari, oleh karena itu diharapkan partisipasi dari sahabat-sahabat lainnya. Tadarusan ini biasanya juga diikuti oleh jamaah Masjid Selwerd secara umum (tidak banyak jumlahnya).

Kegiatan di akhir pekan

Setiap hari Sabtu direncanakan akan diselenggarakan acara buka shaum bersama dilanjutkan dengan sholat wajib berjamaah dan taraweh, serta tadarus. Tempat pelaksanaan di rumah anggota dan akan ditentukan kemudian. Mempertimbangkan kondisi selama bulan puasa, sebaiknya dibicarakan teknis persiapan acara (terutama masakan) agar tidak memberatkan pelaksana.

Acara ini sekaligus menjadi pengganti acara Baca Al Quran setiap hari Sabtu.

Kemungkinan kegiatan tambahan adalah mengikuti shalat taraweh di Masjid An-Noer, Hoogezand, tempat komunitas Jawa-Suriname. Saya akan mengusahakan kontak dengan saudara-saudara kita dari Suriname yang kemungkinan pergi ke sana, untuk keperluan transportasi. Tentu saja, jumlah peserta dalam satu kloter ke sana dibatasi. Gambaran kunjungan ke Hoogezand pernah saya tulis di Masjid An Noer, Hoogezand.

Penyaluran Zakat

De Gromiest akan membantu penyaluran zakat mal dan zakat fitrah dari anggota bekerja sama dengan KZIS (Ibu Nung). Teknis pelaksanaan akan diumumkan kemudian setelah mendapat kabar dari KZIS Belanda.

====

Demikian gambaran kegiatan Ramadhan berdasarkan pengalaman yang sudah dijalankan tiga kali bersama De Gromiest. Insya Allah pada Silaturahmi Oktober nanti hal ini akan dibahas secara terbuka dan tulisan ini dapat dijadikan bekal pembahasan. Silakan kemukakan pendapat dalam bentuk komentar di bawah ini yang sekaligus dapat dijadikan bahan perbaikan tulisan di atas.

Terima kasih.


Karena promosi yang gencar dan pengaruh teman-teman di sekolah, href="http://coretmoret.web.id/fs/">kedua anak begitu
mengidam-idamkan BeyBlade.
Setelah dibelikan, keduanya antusias beradu gasing (yah, demikian
disebut oleh Oom Wangsa).

Sampai pada hari Minggu pagi, salah satu ujung Beyblade, berupa
sepucuk kecil logam, lepas dan hilang. Bisa dibayangkan betapa panik
pemiliknya. Dicari di lokasi pertandingan gasing di seluruh penjuru
rumah, tetap tidak ditemukan. Sampai zak penghisap debu terpaksa
dibongkar untuk memastikan barang sangat kecil tersebut tidak
tersedot di dalam. Tidak ditemukan juga!

Sampailah mereka pada “cara alamiah” yang sering dilakukan menjelang
tidur, Ya Allah, mudah-mudahan lancip-lancipan itu
ketemu.
Keduanya berdoa sambil bertanya, Pak, boleh kan
berdoa minta agar lancipan ketemu?
Tentu saja boleh.

Namun sampai sore berdoa kok barang kecil itu belum ketemu juga?

+ Allah tahu di mana lancipan itu?
- Tentu tahu, dong.
+ Kalau begitu, di mana, Pak?
- Lho, bapak kan bukan Allah.
He… he… semua tertawa. Tapi masih berharap cemas,
+ Apakah Allah mendengar Rayhan?

Karena sampai sore belum ditemukan juga, saya harus memberikan
penjelasan yang lebih mendalam dan dapat diterima (tentu saja juga
harus siap-siap menerima pertanyaan balik yang dapat
“mencemaskan”…).
+ Kenapa Allah belum menunjukkan lancipan itu?
- Nanti kalau sudah waktunya, kalian akan dapat menemukannya
juga.
+ Tapi mengapa Allah tidak ngomong sekarang dan aku dengar?
Sambil dipikir…
+ Tapi bagaimana Allah ngomongnya?
(Soalnya sebelumnya mereka memperoleh penjelasan bahwa cara Allah
itu kalau mau “ngomong” kepada Nabi lewat malaikat dan malaikat itu
“tidak kelihatan”. Kesimpulannya: Dedek takut kalau ada suara
“ngomong” tapi tidak kelihatan orangnya…)

Keluarlah penjelasan itu…
Kalau memang lancipan itu tidak ditemukan, ya sudah… besok beli
lancipannya saja di toko mainan. Jadi begini, kalau orang bisa
melakukan sendiri, misalnya dengan membeli atau membuat, maka
lakukan saja sendiri.

+ Tapi, wens (berdoa) boleh kan, Pak?
- Boleh. Berdoanya terus saja, nanti kan bapak juga bisa bantu
dengan membelikan di toko. Tidak apa-apa berdoa dan membeli.

Persoalan itu sudah selesai. Entah apa yang ada di pikiran
anak-anak, yang jelas acara besok siang setelah pulang dari sekolah
adalah beli lancipan Beyblade. Sempat terpikir untuk dibelikan
sendiri pada saat mereka sedang sekolah, namun karena sibuk mengurus
keperluan lain paginya, sudahlah nanti siang beli bersama sepulang
mereka sekolah. Pikiran “rasional” saya mengakhiri kasus ini dengan
“membeli di toko” dan biarlah mereka tidak kehilangan sense
untuk tetap berdoa.

Benarlah sepulang dari sekolah saya langsung ditagih untuk segera
berangkat. Oke, siap-siap dulu. Ambil kunci sepeda, memasukkan
dompet, dan… sesaat sebelum membuka pintu mengambil remah-remah di
dekat bangku kecil: ujung lancip Beyblade ada di situ!

Kijk allemal, ik heb gevonden!
Oohhhhhh! Semua menjerit histeris.
Si bungsu langsung berkata, tanpa dipikir lagi, Pak, Allah kok
cepat dengernya… Cepat ya, Pak?

Seperti setengah percaya, setengah takjub.


Dari mailing-list Kalam Salman, alumni Masjid Salman ITB, saya memperoleh tulisan bagus dari KH. Jalaluddin Rakhmat. Sebagian dari kita barangkali sudah pernah mendengar hadits “kelebihan” iman pengikut pada masa sekarang, namun diungkapkan dengan bahasa yang indah, kisah tersebut tetap menarik disimak.

Subuh Yang Indah Bersamamu, Ya Rasulallah
oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang.

Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang dikau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air pada kalian?”

Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.

Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.

Qad qâmatish shalâh, qad qâmatish shalah….

Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anâm. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku.

Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.

Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”

Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.

“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”

“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”

“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?

Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”

Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”

Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka…(QS. Al-Baqarah; 3)”

Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah….

Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat.”

Yâ wajîhan ‘indallâh, isyfa’lanâ ‘indallâh. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah…

* Tulisan ini diturunkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, 12 Rabiul Awwal 1422 H


Pada kesempatan dua kali mengobrol dengan Ustadz Yassin, yakni
bersama dengan acara Silaturahmi Maret 2004 dan sekali kesempatan
ekstra mengikuti tadarus pada pekan berikutnya, beliau dua kali
memaparkan bahwa pada masa lalu, ajaran Islam dibawa oleh tindak-tanduk
pengikutnya. Para pedagang dari Gujarat atau belahan Timur Tengah
lain datang ke negeri-negeri tujuan dengan akhlak yang barangkali
hanya sekian persen dari yang dicontohkan Nabi Muhammad, namun sudah
mengena di hati orang-orang sekitarnya.

Ferry M Simatupang
menimpali pada salah satu pembicaraan itu bahwa di kalangan orang
Amerika saat ini muncul anggapan kalau mau belajar Islam
bukan dari pemeluknya, melainkan lebih baik
langsung dari sumber-sumber otentiknya.

Memang hal ini kesadaran yang lebih bagus — karena dengan
demikian dapat melihat lebih proporsional (bukan memisahkan) —
antara ajaran Islam itu sendiri dan perilaku pemeluknya. Di sisi
lain tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi kaum muslimin sendiri
untuk menampilkan Islam yang “lebih mendasar”. Karena sudah banyak
orang jera dengan simbolisme yang hanya baju atau kulit.

Hari Ahad yang lalu, 21 Maret, di href="http://www.sltrib.com">Salt Lake Tribune, dimuat opini
salah seorang Mormon (Salt Lake terkenal sebagai “Kota Pemeluk
Mormon”) tentang Islam dan ajakan kepada pembacanya untuk
mempelajari lebih jauh agama yang href="http://www.sltrib.com/2004/Mar/03212004/commenta/149533.asp">“memiliki keyakinan tunggal, cinta, dan toleransi” ini. Termasuk
dijelaskan dengan bahasa sederhana pandangan tentang makna
sesungguhnya dari “jihad” dan kewajiban mengenakan hijab.


Koleksi Usang

Filed under Renungan & Hikmah

Beberapa tanya jawab dengan Tuhan aku temukan dari tumpukan berkas, entah dari mailing-list mana dulu disimpan…

Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya”

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara”

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri”

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri”

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku”

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal”


Sam Po Kong

Filed under Bedah Buku

Posting lagi ah… kebetulan sedang banyak cerita menarik.

Saya ingat pernah ngobrol dengan Iman Santoso sambil naik
sepeda di belakang Paddepoel Winkelcentrum. Pembicaraan kami tentang
spekulasi bahwa sebenarnya orang pertama yang mendarat di Amerika
Serikat bukan Colombus. Saya sendiri pernah membaca buku sejarah
Amerika dari VOA bahwa orang
pertama yang mendarat di benua Amerika (daerah Selatan) adalah
Amerigo Vesspuci.

Iman menjelaskan bahwa pada saat Columbus mendarat di Amerika diduga sudah ada kaum muslimin di sana karena salah satu fakta yang ditemukan di sana adalah
dikenakannya busana muslim oleh sebagian penduduk pribumi di situ.
Sayang rujukan resmi tentang hal tersebut lupa disebutkan.

Entah terkait dengan penjelasan Iman di atas, pada bulan Februari
lalu diluncurkan href="http://koebiz.crimsonblog.com/archives20040201.html#68937">buku
Sam Po Kong oleh penerbit Gramedia yang berisi sejarah armada Ceng Ho
mendatangi Nusantara, menemui Raja Majapahit Wikramawardhana. Pada
penjelasan lain tentang Ceng Ho, mantan komandan kapal selam
Angkatan Laut Kerajaan Bersatu (UK), Gavin Menzies, menyebut dengan
yakin bahwa Ceng Ho yang sesungguhnya tiba lebih dulu di Amerika, terpaut 70
tahun. Armada Cina sendiri waktu itu jauh lebih megah dibanding
kapal-kapal kecil yang dibawa Columbus.

Hebatnya lagi, berbeda dengan tipikal pelaut Barat yang digambarkan
berangasan di tengah laut, Ceng Ho adalah pelaut muslim yang taat,
saleh, dan teguh. Misi Ceng Ho sendiri datang ke Nusantara salah
satunya adalah untuk mendekati penduduk pribumi yang sudah mulai
memeluk agama Islam.