READ MORE >> Islam Aktual
Labbaik… Allahumma Labbaik..
Ya Allah.. aku datang kepadaMu
Sungguh, telah Engkau robahkan rasa dalam hatiku
Yang tak kan mampu aku menolak atau pun memintanya
Kau telah luluhkan diriku
Melebur dalam ketiadaan…

Dengerin Ceramahnya [copy link url ini, buka Winamp atau MediaPlayer, lalu Open URL, paste link tsb. Mainkan!] Khusus Internal DeGromiest.
Terimakasih Mbak Ike, yang telah ngirim artikel ini, dari sumber lain. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua, untuk menambah keimanan dan keteguhan.
MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA
Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik. Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:
Mendapat hidayah di Biara
Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.
Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan.
Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku. Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah.
Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu. Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakakku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati. Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan.
Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya. Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi. Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam.
Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina. Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.
Kebenaran surat Al Ikhlas
Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang- panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.
Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.
Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakan, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.” “Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan. “Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam. Dosen menjawab, “Tidak bisa!” Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti. “Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana? “Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.
Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu. “Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi. “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan. “Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia. Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas.
Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?. “Sebetulnya saya tahu,” ucapku. “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka. “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.” “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti. Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”
Keluar dari Biara
Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi. Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.
Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu. Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam. Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah.

Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat. Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.
Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai! Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya. Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama.
Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu. Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?” “Siap!” jawabku. “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau. “Pernikahan saya!” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. “Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi. “Islam” jawabku tegas.
Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi muslim dan muslimah.
Shalat pertama kali
Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat.
Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia.
Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang. Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.
Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit sesal.
Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam. Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”
Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.
READ MORE >> Islam Aktual











iman says:
Assalamuu’alaykum …
Allah telah mengilhamkan dua buah jalan ke dalam hati manusia: (1) jalan fujur(keburukan) (2) jalan taqwa. Manusia bebas memilihnya tinggal nanti bagaimana caranya mempertanggung-jawabkannya. Beruntunglah Ibu Irene yg telah “berlari” dalam mengejar hidayah ini. Welcome back to Islam ya ukhti…
Wassalamu’alaykum
elfahmi says:
BismiLLahirrahmanirrahim
Assalamu’alaikum wr.wb.
Dinihari malam tadi, saya mendengar ceramah ini, sayang karena sudah terlalu malam tidak sampai selesai karena keburu terlelap, sementara cerita ini sudah saya baca sejak di upload. Sendu juga mendengarnya, betapa kekuatan hidayah Allah SWT, mengalahkan semua loghika yang ada. Terasa malu juga diri ini. Ustadzah Irene baru “berikrar” saja sudah begitu dekatnya, daku yang sudah lama…
rindang says:
Ibu Hj Irena handono
Majulah terus Bu…
Kami Tahu Ibu tidak takut lagi menghadapi teror2 orang Nashoro
indri says:
Ibu Irena,
Saya orang Katolik. Untuk Ibu ketahui, justru keluarga besar saya kebanyakan Muslim.
Saya menyayangkan Anda memperoleh informasi yang kurang benar mengenai agama asal Anda (Katolik). Istilah Tuhan hanya dikenal di Indonesia. Dalam Injil, Yesus disebut sebagai Lord (=Tuan). Penterjemah Alkitab di Indonesia yang kemudian mengubahnya menjadi Tuhan, Jadi, tidak ada yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan. Saya juga menyayangkan Pastur yang tidak dapat memuaskan keingintahuan Anda.
hadi says:
dominicus vobiscum
ibu hj Irena Handono
dengan hormat,
Menurut sepengetahun saya bahwa semenjak konsili vatikan ke-2, kalau ibu juga tahu. bahwa katolik sudah mengakui adanya jalan keselamatan diluar kristen. yang berarti, tidak ada gunanya atau kepentingan untuk mencari kelemahan agama lain yang dalam hal ini adalah agama islam. baik islam maupun katolik adalah kepercayaan atau iman dari seseorang yang tidak perlu untuk diperdebatkan dan dicari kelemahannya.
Sampai sekarang saya sangat prihatin dengan adanya penciptaan-penciptaan konfrontasi yang dibuat antara agama nasrani dan islam. mengapa semua dijadikan pertentangan.
Jika saya boleh tahu, di ordo atau kongregasi manakah ibu pernah bergabung, dan di STFT mana ibu pernah kuliah? karena menurut saya, pengalaman hidup ibu ceritakan dapat menjadi bibit konfrontasi yang dapat menciptakan jurang semakin dalam. saya harap ibu dapat memahami.
Selain itu, agama tidak dapat dicampuradukkan dengan masalah duniawi. Ketika manusia berbuat dosa, maka bukan karena agamalah yang menjadikannya jahat atau berdosa.
Terima kasih atas perhatiannya, semoga damai Tuhan selalu menyertai ibu.
Hamba ALLAH says:
Ya Allah Ampunilah Irena, karena dia tidak tahu apa yang ia perbuat … Mengecam Orang kristen … padahal YESUS sendiri datang kedunia bukan untuk mengecam agama Yahudi, tapi mengecam perilaku orang-orang munafik.
semoga perpindahan agama nya tidak menimbulkan peperangan diantara semua umat manusia …
Semoga Roh Perdamaian masih terus berada didunia yang hina ini
dodo says:
Menurutku apa yang dilakukan ibu irene sudah benar, karena manusia diberi akal untuk berfikir, maka manusia juga harus berfikir dengan logis. manusia tidak seperti bebek yang menurut saja akan perintah tuannya , tapi manusia lain, ia harus berfikir dengan pikiranya, tidak dengan hanya menerima doktrin yang ada tanpa pembuktian. kalau manusia hanya manut saja doktrin yang ia terima tanpa pembuktian , lalu untuk apa ia punya akal,. Kalau hewan hanya menurut kehendak tuanya maka itu wajar, karena tak punya akal. Tapi manusia kalau menurut saja pada suatu doktrin tanpa pembuktian maka tak wajar. Itu sama saja dengan punya akal tak di gunakan, maka ia lebih hina dari hewan. Bagi yang menghujat ibu Irene, sebaiknya jangan lakukan karena itu hanya buang 2 waktu saja. Lebih baik gunakan akal anda sesuai fungsinya!
Ahmad Bashori says:
Bagus sekali guna membukakan cakrawala pandangan umat islam sekarang ini.
Dan kalau boleh apakah saya bisa mendapatkan alamat beliau (Hj. Irene Handono) tersebut guna saya undang di tempat saya.
Muhd Ashif Padili says:
Bismillahirrohmanirrohim,
Syukur kepada Allah s.w.t. , kerna telah memberi peluang kepada aku mengenali Hj Irena lewat Internet juga vcd. Aku amat kagum dengan isi kandung ceramahnya. Ia mambuatku ingin mendekatkan lagi kepada Islam, dan cadangannya supaya kita mempelajari agama lain demi meningkatkan strategi memperkukuh dan menguatkan benteng dari serangan luaran amat praktik dan logikal. Itulah yang sedang aku lakukan sekarang.
Sayang sekali aku di Singapur tidak dapat membeli buku-buku hasil tulisannya seperti “Islam Dihujat” dan yang satu lagi tentang hari natal untuk dikongsi bersama kawanku di Singapur. Semoga Allah senantiasa memberi rahmat kepada Ibu Hj. Irena. Amin.
Muhammad Atha says:
Assalamu’alaikum Wr Wb,
Semoga anda mendapat kebaikan dan pahala atas yang anda telah lakukan, jalanan hidup anda dapat menjadi inspirasi bagi muslim ataupun penunjuk bagi yang belum masuk Islam, sesungguhnya saya sendiri yang terlahir sebagai Islam, baru di usia 35 tahun ini secara ingin dan sadar tahu Islam seperti bagaimana ?.Ini sesuatu yang menjadi hidayah bagi saya setelah membaca perjalanan Islam anda, Semoga anda dapat berarti bagi kemajuan Islam di muka bumi ini.
Wassalamu’alaikum Wr Wb.
hery says:
assalamu alaikum wrb
kami dari panitia pelaksana ramadhan salman ITB ingin meminta alamat ibu IRENE untuk mengundang menjadi pembicara.mohon segera dibalas.
wassalam
dei says:
Ibu makasih ya atas masukan ceramahnya. Sekarang saya sadar hidayah tidak bisa dipaksakan. Kalau ALLAH sudah menghujamkan di dada seseorang seluruh dunia tidak ada yang bisa menghalanginya. Bukan kita yang mempunyai hak memberi hidayah pada orang2 yang kita cintai. Karena tulisan ini saya ikhlas meninggalkan calon suami saya yang berbeda agama. Saat ini saya masih di Jepang, doakan saya agar menjadi muslimah yang kuat ya bu.
vallerya says:
toex Ibu Irene,
Saya hanya mau nanya ibu kemaren kuliah dimana sih??Suatu agama gak usah dicari mana yang bener dan mana yang salah?? mana yang kuat dan mana yang lemah??? semua ittulah yang membuat suatu pertengkaran antar umat manusia. Agama dapat kita yakini di dalam hati kita. Kenapa yang ibu perdalam itu agama orang lain?? emang ibu tau kalau agama yang ibu anut waktu itu udah dalam??? Doktrin-doktrin itu juga udah mengalami suatu masa reformasi, dimana kita bisa ngeliat adanya indulgensia yang dilarang waktu reformasi gereja dulu dan semua itu kita yakini di hatti kita,gak bisa dipikir pake akal.Kalau dipikir pake akal, nanti ujung-ujungnya akan ada pertanyaan “Sebenarnya Tuhan itu ada gak???”, sedangkan agama itu sendiri dulunya adalah suatu kebudayaan lalu dianggkat menjadi suatu kepercayaan iman seseorang. Saya ingin kenalan dengan ibu,saya mau bicara ama ibu. gimana caranya kita bisa ketemu bu???saya mau menjelaskan adanya Allah yang Tritunggal ama ibu, kalau dijelaskan disini panjang lebar,ok…..
diah says:
sukses slalu buat ibu
inel says:
Asallamualaikum Wr…Wb…
Mudah2an ibu irene selalu dalam lindungan Allah.
Semoga jalan yg di rempuh ibu jadi jalan pembuka
hidayah pula bagi yg lain yang sampai saat ini
hati nya masih tertutup dari kebenaran Islam.
karena Islam adalah agama untuk orang yg berakal.
wassallam
Imran Nurdin says:
Assalamu’alaikum Wr…wb
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyanyang.
Sudahlah, Bu. Mungkin sudah saatnya kita semua bergandengan tangan agar tidak mudah diadu domba.
Isa adalah salah satu nabi idola saya.
Tentang kristen, bukankah mereka juga adalah saudara-saudari kita juga? dan Alkitab mereka juga diturunkan oleh Allah sendiri.
Dia menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelum (Al Qur’an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
(QS 3, Ali Imran 3,4)
Islam memang kebenaran sejati dan di-ridhai oleh Allah sendiri. Tetapi itu bukan berarti mereka juga tidak diridhai oleh Allah. Kalau Allah tidak menginginkan mereka, maka hanya dengan bersabda saja mereka pasti lenyap dari muka bumi ini. Dan Allah juga berfirman:
(Ingatlah), ketika Allah berfirman: “Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya”.
(QS 3, Ali-Imran, 55)
Orang-orang yang mengimani Nabi Isa (yaitu Islam dan kristen) akan berada di atas orang-orang kafir.
Demikianlah Nabi Isa menjadi salah satu Nabi favorit saya disamping Nabi Mohammad, SAW
Wassalam,
Anni M says:
Assalamu’alaikum wr.wb.
Allah SWT memberikan manusia akal fikiran, ya untuk berpikir. Bagaimana mungkin Tuhan bisa menyerupai manusia. Sedikit saja ada sifat makhluk pada Tuhan, berarti dia makhluk, bukan Tuhan. Islam bukan seperti agama lain yang hanya mengatur masalah ritual peribadatan. Allah SWT dalam pandangan Islam, bukan hanya sekedar menciptakan, lantas “tidur”. Tetapi Allah SWT menciptakan manusia dan memberikan pedoman bagaimana manusia melangkah menjalani kehidupan dunianya. Bu Irena, teruslah berjuang, jangan hiraukan orang-orang yang menjadikan hawa nafsu dan kelemahan dirinya sebagai pedoman hidup mereka. ISlam adalah agama dan ideologi, mengatur urusan manusia secara sempurna, bukan hanya ibadah ritual semata.
Wasallamu’alaikum wr.wb.
ika rahayu says:
Bismllahirrahmaanirrohim
Hanya dengan merenungkan dan MEMIKIRKAN (krn itulah kelebihan manusia sbg makhluk/yang diciptakan Allah), bahwa apa yang Allah SWT firmankan dlm Al-Qur’an, particularly Al-Ikhlas, logika kita akan mudah sekali menerima bahwa Islam lah jalan keselamatan dunia akhirat. MAHA BENAR ALLAH DENGAN SEGALA FIRMANNYA. Smoga hidayah Allah SWT selalu tercurah bagi kita, Amiin Yaa Robbal ‘Alamin
nanda says:
Assalamualaikum wrwb.
saya ucapkan rasa bahagia yang sedalam-dalamnya terhadap ibu hajah irena semoga selalu dalam lindungan Allah Swt. dan selalu mendapatkan hidayah yang tidak ada putus2nya. amin. Dalam perkembangan ukhuwah islamiyah hendaknya kita merapatkan barisan. sudah selayaknya kita lebih aktif bertukar informasi mengenai perkembangan islam dewasa ini karena banyak dari kalangan islam sendiri yang lengah. dalam hal ini saya menyarankan kepada teman2 lain utk memfoward email2 yg membangun dan mengajak kita dalam kebaikan sebanyak2nya. dan besar harapan saya apabila ibu hajah memiliki kegiatan2 kerohanian islam utk mengundang saudara2 kita yg lainnya baik itu lewat email atau pun lewat radio agar kita lebih baik dimasa datang dan lebih waspada. amin.
Indra says:
ada tanggapan buat salah satu komentator.
1. Kata “Lord” dalam Bahasa Inggris adalah sebutan yang lazim digunakan orang yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa ibunya untuk me”refer” kepada tuhan. Silakan dilakukan “cross check”. Di banyak bagian dunia, kebudayaan lokal memiliki sebutan masing-masing untuk me”refer” kepada Tuhan, walaupun arti denotatif kata itu bukanlah Tuhan. Orang Belanda (walau mayoritas sudah tidak percaya akan keberadaan Tuhan), kata “De Heer”, memiliki guna yang sama dengan kata “Lord”. Contoh yang lebih dekat, orang jawa sering me”refer” kepada Tuhan dengan “Kanjeng Gusti”.. “Duh..Gusti”..
2. Bahasa Inggris bukanlah bahasa asli Injil. Di kala hidup Al Masih/Jesus, di daerahnya, yang menggunakan bahasa Aramaic, memang me”refer” Tuhan dengan kata “Abba” atau “Av” dalam bahasa Ibrani/Hebrew (bahasa orang yahudi) yang artinya “Ayah”. Sebagaimana “Lord”, “De Heer”, “Kanjeng Gusti”, dan lain sebagainya, Abba”, “Av”, atau “Ayah”, walaupun arti denotatifnya bukan “Tuhan”, tetapi digunakan untuk me”refer” kepada Tuhan. Sehingga Al Masih memang me”refer” kepada Tuhannya dengan sebutan “Ayah”, sebagaimana jamaknya orang lain pada masa itu.
3. Sebagai tambahan, Kata-kata “Allah” dalam Injil atau dikenal juga dengan sebutan “Al kitab” di Indonesia, adalah murni terjemahan penerjemah Indonesia. Tidah ada dalam literatur manapun selain di Indonesia. Jesus, juga tidak menyebut siapa nama Tuhannya. Hal ini dikarenakan Almasih/Jesus hanya meluruskan ajaran Yahudi, sehingga nama Tuhannya, sebagaimana kaidah bahasa di tempat dan saat itu adalah “Yahweh”, (atau agar lebih sesuai dengan kaidah penulisan saat itu : “YHWH”), atau juga sering disebut dalam literatur yahudi pada masa kini sebagai “Jehovah”.
4. Jesus/Almasih memang diangkat sebagai Tuhan oleh Council of Chalcedon (terbentuk di Nicaea) pada tahun 451 Masehi. Sebelumnya Jesus/Almasih adalah manusia biasa. Saat itu pengangkatan Jesus sebagai Tuhan dilakukan dengan voting. Orang-orang yang pada masa itu tidak setuju Jesus diangkat menjadi Tuhan, diasingkan dari komunitas kristen pada umumnya pada masa itu.
Ada satu lagi komentar mengenai Trinitas, silakan pelajari pemikiran-pemikiran yang muncul yang mengawali munculnya keputusan Council Chalcedon di atas. Sebelum adanya pemikiran itu, Jesus/Almasih adalah manusia biasa, dan tidak pernah mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan, anak Tuhan, ataupun bagian dari Tuhan. Saya yakin Ibu Irene lebih mengetahui hal ini.
Indra says:
tambahan sedikit :
Bahasa Aramaic, Yahudi, dan Bahasa Arab adalah satu rumpun, masuk bahasa Semit, sebagaimana serumpunnya bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Italia dan Latin (bahasa IndoJerman). Yahweh, Jehovah, yang berasal dari bahasa Aramaic dan Ibrani/Hebrew, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab ialah “Allah”.
Agus says:
Ibu Irena,
Saya dari lahir beragama Katolik. saya sekarang tertarik untuk mempelajari Agama Islam dan berniat untuk masuk Islam, saya mohon petunjuk Ibu dalam hal ini.
erlin says:
Hj.Irene yang terkasih….
Saya seorang Kristiani. saya telah melihat VCD ibu. Dari cara ibu berbicara, saya menangkap ada indikasi untuk memprovokasi orang untuk saling membenci.Selain itu, Ibu tidak berbicara mengenai kebaikan2 yang didapat setelah masuk agama Islam, ibu hanya berbicara mengenai kejelekan agama Kristiani. Hal ini menunjukkan bahwa iman ibu sangat dangkal.
Tolong beritahu saya, dulu ibu berasal dari ordo mana dan dimana??terima kasih
salam
rosa says:
selamat malam bu Irene, saya bisa minta alamat atau no selular yang bisa dihubungi??
saya tidak mau berdebat masalah agama kok…saya cuma ingin ibu berbagi kisah ibu saja.
kalau ibu berkenan, tolong kirim jawaban ke email saya.
trima kasih
Abdul Ghofar says:
Berikut no kontak Ibu Hj. Irena Handono bagi yang berkenan menghubungi
Irena Center
email : irena_center@yahoo.com
021-88855562; 021-68587000; 0818316264; 021-70732223