READ MORE >> Islam Aktual
Tidak biasanya pemandangan itu terlihat pada waktu shalat Isya di masjid Selwerd, tidak berapa jauh dari ?winkel centrum paddepoel?. Di bagian belakang tersusun kursi-kursi dengan rapi yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk seperti berbuka puasa bersama. Setiap hari kursi tersebut terletak diluar ruangan utama. Kali ini lain. Ada apa gerangan ?.
Sebahagian jamaah sudah selesai melaksanakan shalat sunnah, sementara yang lainnya masih pada rakaat terakhir. Beberapa yang terlambat terlihat tetap memilih berdiri dibanding ikut shalat sunnah, karena tidak berapa saat setelah itu iqamah pertanda shalat berjamaah di mulai berkumandang. Di saat pikiran masih sibuk memperkirakan gerangan acara yang akan digelar, tiba-tiba datang serombongan ?warga bule? yang berjumlah 15 orang, 4 orang diantaranya berumur sekitar 35-45 tahun, selebihnya seusia siswa SMP atau SMA. Mereka mengambil tempat duduk pada kursi yang telah tersusun dengan rapi. Seorang jamaah dengan suara pelan menyambut kedatangan mereka sambil mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda. Seketika setelah itu mereka duduk dengan tenang tanpa ada sedikit suarapun. Iqamah pun berkumandang, sang Iman ? al-hafidz (hafal 30 juz Al-qurán) dengan suara murotal/bacaan Quránnya seperti lantunan Abdurrohman Sundaise yang sering kita dengar dari kaset rekaman atau browse internet ? mulai mengimami shalat.
Setelah shalat Isya berjamaah, seperti biasanya jamaah berdzikir dan shalat sunnah Isya. Saya sempat bertanya kepada pengurus masjid, dari mana para tamu itu datang. Sang pengurus menjelaskan bahwa mereka dari sebuah gereja di daerah Friesland (penghasil susu cap bendera yang terkenal di tanah air itu). Mereka ingin tahu lebih jauh tentang Islam dan bagaimana cara shalat. Tentunya setelah itu mereka mendapat penjelasan dari 2-3 orang jamaah sebagai pemandu. Tempat diskusi dipindahkan ke ruangan luar.
Di perjalanan pulang ingatan saya kembali tertuju pada diskusi kecil sehari sebelumnya bersama pak Ketua deGromiest, Pak Guru website serta astronom Bung Ferry. Diskusi yang diawali Bung Ferry tentang sebuah artikel seorang ?biolog? di jurnal science ? Jurnal dengan high impact factor itu ? yang bicara tentang kehidupan homo/lesbian, melebar ke berbagai realita Islam di Negara Barat. Beberapa bahan diskusi tersebut langsung kembali teringat setelah melihat ?kunjungan para bule? ke Masjid Selwerd. Salah satunya adalah telah dijadikannya undang-undang pelarangan simbol-simbol agama di wilayah publik oleh pemerintah Prancis. Rancangan undang-undang ini mendapat tantangan tidak hanya dari pihak Muslim tetapi juga pihak non-muslim sehingga gerakan penentangan ini menyebar ke hampir di seluruh penjuru dunia ini. Tak kurang Ulama kontemporer terkenal Dr. Yusuf Al-Qardawi mengirim surat khusus untuk Presiden Chirac. Undang-undang tersebut tidak membolehkan siswa/mahasiswa muslim menggunakan jilbab ke sekolah/perguruan tinggi. Perkembangan Islam yang cukup pesat di Prancis bisa jadi menjadi salah satu konsideran lahirnya undang-undang tersebut, tentunya dibalik semua itu Allah SWT lah yang mengetahuinya.
Mas Ismail sampai kepada sebuah ?analisa? bahwa Prancis sekarang sedang ber-eksperimen dan akan dilihat hasilnya dengan berjalannya waktu. Dan penentangan yang sedemikian kuat terhadap simbol agama itu (masalah jilbab yang paling menonjol) justeru akan menambah keingintahuan orang untuk memperlajari Islam, semakin kuat ?intimidasi, penyebutan teroris serta opini buruk lainnya terhadap Islam akan menambah deretan orang-orang Barat yang ingin belajar tentang Dienul Islam.
Realita ini banyak terjadi setelah terjadinya peristiwa 11 September yang fenomenal itu. Segera setelah runtuhnya gedung ternama dijantung kota Newyork ?WTC- itu, pemerintah Amerika menuduh kelompok Islam sebagai pelakunya. Terlepas adannya bukti atau tidak istilah teroris menjadi isu yang sangat kuat menjalar ke seluruh jagat ini. Semakin menambah kuatnya opini buruk orang-orang Barat terhadap Islam. Sebagaimana hukum alam banyak orang yang termakan oleh opini yang dibentuk serta disebarkan melalui media dengan teknologi canggih itu, sebaliknya juga banyak orang yang tidak begitu saja mempercayainya. Golongan ke dua inilah biasanya berusaha mencari tahu bagaimana sesungguhnya.
Bersamaan dengan gencarnya pembentukan opini kurang bersahabat terhadap Islam, banyak warga Amerika ingin tahu lebih jauh tentang agama Islam. Mereka datang kepada ulama atau sebaliknya mengundang ulama untuk menjelaskan kepada mereka. Salah satu yang sangat sering dipanggil dan didatangi untuk menjelaskan tentang agama Islam itu adalah seorang warga Negara Indonesia yang diangkat sebagai imam di salah satu masjid di kota New York. Ustadz Syamsil Ali demikan dia dipanggil, menjadi lebih padat jadwalnya dengan undangan untuk tujuan ini. Pria dengan umur masih kurang dari 40 tahun ini, diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjelaskan tentang agama Islam kepada orang-orang yang ingin belajar.
Barangkali karena alasan itu juga pemandangan ahad malam itu saya saksikan, tapi tentunya saya tidak tahu persis?
READ MORE >> Islam Aktual











cantik says:
Ironis deh…di negara2 barat nampaknya orang2 makin tertarik mempelajari Islam, dan perkembangan Islam-pun sepertinya tak terbendung lagi….di Indonesia yg mayoritas penduduknya adalah muslim….sepertinya malah mulai lupa dg ajaran Islam itu sendiri. Kasus korupsi, pornografi, atau bahkan pembunuhan sekalipun sudah jadi berita sehari2 yg kita dengar di berbagai media. Dan yg lebih parah lagi, para pelakunya pun seakan bangga dg apa yg telah mereka perbuat. Apakah ini merupakan indikasi menurunnya akidah kita?? Wallahualam.
puri says:
cara mudah bagi non muslim untuk menilai islam adl dengan melihat kehidupan kaum muslim. walaupun itu tidak selalu benar krn orang beragama islam belum tentu sikapnya menunjukkan nilai2 islam. sayang sekali memang, lepas dari adanya media yg suka menunjukkan potret buruk umat islam, kenyataannya memang banyak hal yg masih harus diperbaiki. Mungkin memang hrs ada peringatan dari alloh dulu berupa cobaan2 yg menyulitkan sebagian kaum muslim agar kita berfikir dan semangat islam muncul lagi.
elfahmi says:
Benar mbak Puri, banyak sekali yang perlu kita perbaiki dalam diri kita. Fenomena di tanah air yang disampaikan Uncu Dije adalah salah satu potret lemah umat. Bukankah sangat mudah “orang” berkomentar “oo begitu…apalagi kalau dikaitkan dengan agama yang dianut..Padahal itu adalah perilaku yang perlu diperbaiki.
Mudah-mudahan Allah memberikan kepada kita untuk memahami hakikat diri yang sudah banyak diuraikan oleh mas Ismail dalam tulisan indahnya.
Jum’atan kali ini, Allah SWT kembali memperlihatkan kepada saya pemandangan yang sama dengan Tamu..seperti pada tulisan di atas.
Tatkala saya masuk pintu masjid, mata saya langsung tertuju kepada 2 orang “warga bule lagi” (sekedar sebutan warga Groningen). Umur berkisar 40-50 tahun, satu orang sambil duduk tafakur (berfikir), satu lagi ngobrol setengah berbisik dengan orang yang duduk di sampingnya. Terlihat orang yang duduk disamping kanan seperti mengajarkan “cara shalat”. Dan ternyata benar, seperti “tamu” sebelumnya, dua orang ini juga ingin belajar Islam, bedanya mereka sudah mempraktekkan shalat…bisa jadi sudah pada tahap “pencarian mendalam”. Dugaan saya itu semakin diperkuat setelah mereka berdua dan salah satu muslim mengambil posisi tempat duduk ke pinggir setelah shalat Jum’at usai dan para jamaah sudah memilih bubar ke tujuan masing-masing, tentu melanjutkan diskusi yang terpotong. Sekali lagi saya hanya bisa menduga, bahwa mereka sedang tertarik mempelajari dien ini. Selebihnya Allah SWT yang maha tahu…
Kejadian yang hapir sama dalam waktu tak jauh berselang, membuat hati saya tergerak mengambil duduk di samping kiri satu orang lagi, dan saya salami, sekedar ingin merasakan energi pencarian sang Khaliq yang ada dalam dirinya…mudah-mudahan mengalir semangatnya dalam diri ini…, terkadang karena sudah merasa sudah lama dalam Islam maka perasaan cukup muncul menggoda…malu rasanya,
Sekali lagi Allah lah yang maha tahu…
Ismail says:
Kebetulan, oh bukan kebetulan, tapi memang sudah kehendakNya, bang Fahmi mengangkat kisah ini. Kebetulan sejak ngaji minggu lalu, aku membaca buku ‘Dan Muhammad adalah Utusan Allah’. Yang menulis, bukanlah tokoh atau pemikir yang mengatakan dirinya beragama Islam. Dia seorang pengagum sufi besar Rumi, seorang profesor di bidang kultur Indo-Muslim Univ Harvard. Annemarie Schimmel namanya.
Ternyata, di setiap masa, selalu ada orang yang dengan objektif mempelajari Islam, berpikiran jernih tidak terbawa oleh arus media, dan menjadikan Quran dan Hadits sebagai sumber pertama. Bahkan mereka adalah orang-orang besar di jamannya. Memang jumlah mereka sangat sedikit. Salah satunya Annemarie itu.
Membaca buku ini, memberikan perasaan yang berbeda. Membuat kita mengaca, bagaimana dia bisa begitu mengenal Muhammad.
unyil says:
wah, belum akan berikan komentar dulu, tulisan da Fahmi ini sangat asik dibaca dan kayaknya harus saya baca bukti (proof reading) dulu, anyhow … marhaban da Fahmi, ditunggu tulisan-tulisan berikutnya
marqo says:
cukup menarik tapi tak kiro ddurung cukup digunakno kanggo referensi tapi udah bagus loo
marqo says:
cukup menarik tapi tak kiro ddurung cukup digunakno kanggo referensi tapi udah bagus loo