READ MORE >> Renungan & Hikmah
saya bosen… baca artikel-artikel. Mungkin bawaan stress en syndrom kelar thesis yaa..
Cuma, satu hal yang baru gwe sadari, kalo kebanyakan kita semua disini, including me&myself, itu semua bicara ttg bagaimana cara kita berpikir, merenungi.. and etc..etc.. dalam rangka meningkatkan “tingkat spriritual” pribadi kita. Apakah itu bukan Egoism, individualis terselubung itu namanya? kalo saya pikir…emang sihh.. yang namanya iman itu digapai sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yeah.. kayak si Anu.. si Anu, kalo berpikir ttg sesuatu sangat mendalam, ditarik hikmahnya, untuk kemudian disyukuri kebesaran penciptaNya…sehingga keimanan nya bertambah dan kualitas spiritualnya meningkat. Tapi wahai anu.. sadar gak sih elo, even rasa keimanan mu meningkat, itu cuma kamu seorang yang menikmati, lalu di mana semangat keimanan sosial mu, wahai anu??
Tapi, ada nggak sih keimanan sosial? bukankah manusia sendiri adalah makhluk sosial, yang dalam penciptaannya, selain untuk habluminallah juga untuk habluminannas?.. auhh ahh gelap…jangan-jangan emang gue nya lagi ngaco..
bye2x
READ MORE >> Renungan & Hikmah











diajeng says:
Memang keshalihan pribadi saja tidak cukup, tapi gimana kita mau ngajak orang2 lain jadi baik kalau diri kita sendiri masih kacau balau.
amal says:
Assalamu’alaykum wrwb.
Memperbaiki diri memang perlu dan penting, namun kalau pengertian bertahapnya perlu paripurna, apakah akan mengulang pertanyaan Samuel Beckett, “Waiting for Godot”?
Diri kita sendiri dan lingkungan sekitar seperti interaksi yang berkelanjutan. Kalau satu menunggu lainnya, niscaya terjadi “deadlock”. Jadi satu harus maju untuk mendukung sisi lainnya.
Elfahmi says:
Ican, hanya sedikit komentar dari saya: I feel something dalam tulisanmu
Ismail says:
‘akuarium’ ini mengingatkan aku waktu di rumah, di Bandung..
Temenku waktu itu lumayan sukses beternak ikan Lou Han. Soalnya waktu masih benih, murah sekali, dan kl udah lumayan besar, dibeli sama konglomerat setempat. Jadi lumayan untungnya. Hobi banget konglomerat ini dengan ikan2 hias, dan punya banyak akuarium yang isinya ikan bagus2. Anak2 kecil, dan anakku juga kalau makan di rumah makannya, wah seneng banget nonton akuarium. Ada ikan Lou Han, Arwana, Koi, berputar2 di akuarium, dikagumi oleh banyak orang.
Tiap pagi, seminggu 2 kali, selalu ada orang yang membawa gerobak ke rumahku, menjual ikan2 kecil. Ikan2 ini biasanya untuk makanan ikan2 yang di akuarium. Kebetulan temenku ini punya satu ikan Lou Han di taruh di rumahku, jadi selalu beli ikan kecil yang dia jual. Dia pasti juga jual ke konglomerat itu, untuk makanan ikan2 piaraannya di akuarium. Si penjual orang kecil, menghidupi keluarganya dari jualan ikan2 ini saja. Satu plastik harganya seribu perak. Bisa juga ya..
Kadang aku main di rumah temen, dan sebagian punya akuarium. Rasanya kok tenterem duduk di ruang tamunya, sambil lihat ikan2 berwarna-warni, berenang2 di akuarium yang bersih, dengan batu berwarna warni pula. Meski ndak ikut punya akuarium itu, melihatnya saja sudah bikin tenterem. Kelihatan sekali temenku itu rajin merawat. Sebab kalau tidak, pasti sudah berlumut, seperti di film Nemo itu.
Meski banyak orang yg punya akuarium, tapi masih saja mereka mau bayar mahal untuk lihat akuarium yang buuesar, seperti di Sea World, Underwater,.. Hanya untuk melihat isi akuarium yang tidak ada di akuarium mereka. Mana ada kuda laut yang bentuknya aneh2 itu, ikan pari yang besar, dll. Akuarium ini ternyata jadi komoditi pariwisata andalan di Singapore. Lumayan memberi manfaat buat negara dan pekerjanya…
Buyung says:
Kang Ican…. pemikiran yang hebat, saya justru gak sadar hal tersebut. Dalam pemikiran saya, iman itu adalah elementary particle, alias gak bisa lagi di-quanta ke hal2 yang kecil lagi.
Iman yang bersifat Habluminallah secara otomatis menaungi Habulimannas.
Analogi saya mungkin lemah, tapi saya masih yakin ketika kita berjuang dalam ‘peningkatan’ iman, salah satu syaratnya adalah dampak dalam sosial. Sosial bisa diartikan sangat luas, tidak hanya manusia disekitar kita, tapi juga hewan, tumbuhan, alam dan fenomena yang menyertainya.
Jadi, kesimpulan saya yang memang penuh cacat ini: tidak ada egoistik dalam dalam spritual. Seperti kata Rabbiatud Adawiyah (sufi wanita yang terkenal dengan karya2 puisi cinta pada Rab), “mencintai manusia dan kehidupan, adalah bagian dari mencintai Allah”…
Wallahualam, seperti kata Kamerad Bang Ismail dan Bang Fery(saya mulai gak konsisten memakai kata sandang euy): Kebeneran mutlak memang pasti milik Allah.
Ismail says:
Pertanyaan atau kritikan kepada para Fulan yang sedang dalam perjalanan atau pencarian “spiritualitas” ini sering sekali aku dengarkan. Bahkan, ketika diriku pribadi memulai menapaki perjalanan ke dalam diri, sempat mempertanyakan hal yang sama. WAktu kuliah dulu, sempat aku menulis pertanyaan yang sama: “egoisme sprititual?”, “kok mikir diri sendiri saja?”, “kok ndak mikir orang lain sih?”
Tapi karena tidak puas dengan jawaban2 yang ada saat itu, dan mungkin karena sudah capek menapaki perjalanan ‘keluar diri’, yang waktu itu aku sebut sebagai ‘perjalanan sosial’, ‘tauhid sosial’, ’spiritualitas sosial’, dan lain-lain sebutan yang bersifat ’sosial’, akhirnya aku jalani juga, meski dengan tanda tanya besar di atas ubun-ubun: “bernarkah perjalanku kali ini, perjalanan ke dalam diri?”
Bodo amat, berjalan saja dulu, mudah2an nanti mendapat jawaban di sana. Toh, perjalanan “sosial”-ku selama ini semakin membuat aku tidak mengenal siapa diriku ini, dan siapa yang Menciptakanku ini. Perjalanan sosial yang aku dan temen2ku banyak idolakan dan diskusikan, tidak juga membuat kondisi sosial lebih baik, tetapi hanya membuat diri ini semakin ‘angkuh’ saja, merasa ‘telah berbuat’ sesuatu buat ‘umat manusia’, membuat pikiran sibuk mencari-cari hal besar apa yang musti dilakukan buat ’sesama’, mengajak orang-orang berbuat sesuatu yang menurut kami sebagai ‘kebaikan’ sementara diri sendiri belum juga melaksanakannya dengan sepenuh hati. Perjalanan ‘keluar diri’ ini juga mudah sekali membuat diri tersinggung dan panas hanya oleh sepotong kalimat dalam email, mencari rasionalitas atau alasan2 logik dari segala yang dilakukan, pintar berdebat dan mencari pembenaran. Ya, mungkin karena aku dan temen2 dulu yang salah dalam memahami arah perjalanan sosial ini.
Ternyata selanjutnya, perjalanan yang ditawarkan oleh Kang Bejo dan Kyai Subrun dari kampungku itu, perjalanan “ke dalam diri”, perjalanan untuk mengenal siapa ‘aku’ dan siapa “AKU”, telah membuka tabir yang selama ini menutupi pikiran dan hati. Pertanyaan tentang apa dan bagaimana “egoisme spiritual” dan “tauhid sosial” pun terjawab dengan sendirinya. Ya, seperti banyak orang bijak bilang, temuan-temuan ini sifatnya pribadi, jadi kadang tidak pantas jika di-umbar di forum publik.
Biarlah, kita berjalan dengan keyakinan kita masing-masing. Dalam perjalanan “tauhid”, biarlah masing-masing diri menilai dirinya sendiri-sendiri. Lagi-lagi aku inget obrolan dengan Bang Ferry di malam tahun baru, bahwa kebenaran yang kita yakini sifatnya ‘relative’, dan kebenaran ‘mutlak’ hanya milik Allah. Artinya, kita tidak juga bisa memaksa orang dengan kebenaran yang kita yakini. Benar menurut kita, belum tentu benar buat orang lain.
WAllahu A’lam..
iman says:
Assalamu’alaykum …
Wah Ican mulai mengeluarkan ilmunya yg selama ini terpendam. Bener lho, “keshalihan” pribadi hanya akan menjadi akuarium, indah dilihat tapi manfaatnya sedikit buat lingkungan sekitar…
Wassalamu’alaykum
ican says:
ini sebenernya stress gara gara disuruh monolog buat acara 13 feb’ ..gubrak yaahh guee…
unyil says:
itulah ….
itulah ….
ketika kita masih mencintai saudara kita (TIDAK) seperti mencintai diri sendiri ….
pengorbanan dan sakit
bagian keindahan dari ke-imanan
sufisme?
atau sekedar kesederhanaan
dalam hidup
itob says:
‘Ican menggugat’
Bravo buat Ican!
aida says:
keshalihan pribadi hanya akan menjadi aquarium, indah dilihat tetapi manfaatnya sedikit untuk sekitar. Hal tersebut menjadi bergeser makna apabila sekitar mau belajar mencontoh tauladan si Anu yang akhirnya bertahap akan menciptakan generasi egoistic spiritual lainnya yang kemudian membesar dampaknya menjadi menentramkan dan menyejukkan suasana yang dapat dijelma dalam setiap langkah, setiap prilaku, setiap kata, setiap ungkapan dari si Anu yang lain yang dapat dipertanggungjawabkan.walhasil terdengar kata dan prilaku yang menyejukkan di setiap sisi kehidupan………..tak apa berawal dari egoistic individualistic bila kemudian dapat membesar jumlah egoistic infdividualistic dan akhirnya mencetak qualitas spiritual manusia di bumi Indonesia raya…..