READ MORE >> Renungan & Hikmah
Perang telah berlangsung beberapa hari, dan korban pun telah berjatuhan di kedua belah pihak, PENDAWA dan KURAWA. Namun, tidak tampak tanda-tanda perang ini akan berakhir.
Di pihak KURAWA, ada Guru DURNA yang sangat sulit dikalahkan. Dia adalah seorang begawan, cerdik cendikia, kyai, atau guru yang memiliki pengetahuan mendalam dan gagasan-gagasan besar tentang kehidupan. Jika saja tidak terlalu besar dan gila cintanya kepada ASWATAMA, sang anak penerus aspirasi, tentulah dia sudah berada di pihak PANDAWA. Namun dia terjebak oleh taktik KURAWA, sehingga kecintaan kepada anaknya, menjadikan DURNA harus berpihak kepada KURAWA.
KRESNA tahu tentang kehebatan DURNA ini, sehingga menyarankan sebuah taktik kepada PENDAWA untuk mengalahkannya. KRESNA yang agung, mewakili petunjuk Tuhan dalam diri manusia, tidak diperkenankan terjun langsung ke medan perang. Dia hanya memberi nasehat dan petunjuk melalui ARJUNA, yang kemudian petuah-petuahnya dikenal sebagai BHAGAVAD GITA (nyanyian suci). Jika KRESNA turun tangan, sudah pasti akan hancur lebur dan meleleh semua pasukan KURAWA, damai sejahtera bumi ini, tanpa perlu perjuangan dan penderitaan. Oleh karena itu, PANDAWA sendiri yang harus berjuang, mewakili kelima indera manusia, melawan musuh-musuh yang merupakan saudara kandung mereka sendiri, KURAWA.
BIMA yang gagah perkasa, kuat sentosa, sang pelindung PENDAWA, diperintahkan oleh KRESNA untuk membunuh gajah milik KURAWA yang bernama ASWATAMA. Kebetulan, gajah ini memiliki nama yang sama dengan anaknya DURNA, ASWATAMA.
Sebuah taktik yang jitu. Ketika BIMA berhasil membunuh gajah itu, mendadak gegap gempita suara pasukan berteriak “ASWATAMA tewas!”, “ASWATAMA tewas!”… hingga terdengar di telinga DURNA. Dia sangat terkejut, dan segera mencari tahu kebenaran berita itu. Dia pun mendatangi YUDISTIRA, salah satu anggota PENDAWA yang terkenal kejujurannya, tidak pernah bohong. YUDISTIRA menjawab pertanyaan DURNA dengan lembut, “Benar, ASWATAMA, si gajah yang kuat telah meninggal”.
DURNA yang sedang khawatir dan kalut hanya mendengar sebagian kata-kata YUDISTIRA, “ASWATAMA - meninggal”. DURNA shock, semangatnya hancur, terbayang hidup tanpa penerus, tanpa anak yang akan melanjutkan cita-cita dan aspirasi kehidupannya. Tanpa penemuan yang akan dikenang oleh umat manusia seterusnya. Tanpa pencapaian dan prestasi. Tanpa buah pikiran dan karya. Kegagalan telah menyelimuti pikirannya, serasa hidup sudah berakhir, tiada harapan, tiada masa depan, kalut, khawatir, sedih, bercampur aduk seperti adonan semen tukang bangunan.
Konsentrasi DURNA hilang sama sekali. Di medan perang KURUSETRA itu, akhirnya DURNA dengan mudah dikalahkan oleh DRESTAJUMENA, sang senopati dari PANDAWA.
Gusti Allah awal dari segalanya, SANGKAN PARANING DUMADI, Asal dimana manusia datang, Tujuan dimana manusia akan pergi, dengan Sifat Welas Asihnya, telah menyelamatkan IBRAHIM dari kemungkinan menjadi seperti Guru DURNA. Saat itu, kecintaan IBRAHIM kepada anaknya, ISMAIL, teramat besar. Setelah bertahun-tahun tidak dikaruniai keturunan, baru diujung umurnya Tuhan menitipkan seorang anak. Wajarlah jika IBRAHIM sangat menyayangi anaknya.
Bagi Tuhan, kecintaan IBRAHIM telah berlebihan, meski tidak sampai melupakan Asalnya. Sebagai seorang manusia yang akan menurunkan banyak nabi-nabi setelahnya, IBRAHIM harus lulus ujian, harus bersih suci, tidak terbelenggu oleh cinta anak dan dunia. Segala kecintaan kepada selain Tuhan, harus dipotong, harus dikorbankan, harus diputuskan.
Bukan salah ISMAIL, sehingga harus dikurbankan. Bukan pula salah domba, sehingga harus disembelih untuk menggantikan ISMAIL. Semua itu adalah simbol, perwujudan, dan penampakan dari kepolosan dan kepasrahan IBRAHIM kepada Tuhan. Yang harus dipotong adalah nafsunya, kecintaannya, hasratnya yang menjadikan dia mengurangi kepasrahan kepada Tuhan.
Kini, kita sebagai anak cucu keturunan ADAM, keturunan IBRAHIM, pengikut jalan IBRAHIM dan ISMAIL yang diteruskan oleh Kanjeng Nabi MUHAMMAD, harus pula berjuang sendiri di medan KURUSETRA. Sebuah medan yang luasnya tak lebih besar dari batok kepala, atau lebih besar dari rongga dada. Medan hati dan pikiran, medan nafsu dan insting. Medan kecil, sekecil debu, tetapi mampu menghancurkan sebuah bangsa seperti yang terjadi di Iraq, Afganistan, Nagasaki, Hiroshima.
Kekalahan kita dalam mengorbankan dan memotong kecintaan itu, akan mengulang kembali kekalahan Guru DURNA dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada anak, bangga kepada pemikiran dan karya cipta, sayang kepada harta, dan nafsu mengejar kedudukan, telah menjadikan hidup menjadi sempit, dada sebagai medan KURUSETRA menjadi sesak dan gelap. Anggapan bahwa itu semua adalah dari diri sendiri, bukan dari Tuhan atau titipan Gusti Allah, dengan mudah akan menjadikan kita lemah jika salah satu saja dari kecintaan itu gagal, hancur, mati.
Berkurban akan mendekatkan diri kepada Tuhan, seperti makna QORROBA, MENDEKAT. Tanpa berkurban dan perjuangan, PENDAWA tidak mungkin memasuki gerbang surga. YUDISTIRA atau PUNTODEWO tidak mungkin lulus dari ujian Dewa INDRA, yang melarang YUDISTIRA membawa anjing jelek ke surga. Melalui rasa yang dihasilkan dari pengorbanan dan perjuangan, YUDISTIRA berhasil melihat yang tidak tampak oleh pancaINDRA. Ternyata anjing jelek itu adalah jelmaan dari Dewa DARMA, guru spiritualnya.
Dalam pengajian minggu lalu (17 Januari 2004), Guru SALMAN berkata bahwa “Bukan darah dan daging kurban yang sampai ke Tuhanmu, tetapi ketaqwaanmu yang akan menemuiNya.” Ketaqwaan, DARMA, amal perbuatan, kepasrahan, dan keihlasan, yang akan sampai kepada Tuhan.
Jika demikian mengapa hanya setiap 10 Dhulhijjah kita mengumandangkan KURBAN? Bukankan medan perang KURUSETRA selalu berkecamuk setiap detik dalam diri kita? Saya kira bukan karena itu adalah tanggal hijriah hari kelahiranku, sehingga ayahku memberiku nama ISMAIL.
READ MORE >> Renungan & Hikmah











simatupang says:
mbak puri,
mengapa bisma mati? jawabnya: mengapa tidak? ‘kalahnya’ bisma oleh srikandi di padang kurusetra menurutku adalah sebuah karma. (disebutkan ‘kalahnya’, karena ‘matinya’ adalah pilihan bisma).
memang bisma baik dan bijaksana. tapi sepertinya bisma memegang prinsip ‘right or wrong is my country’. dan kalo nggak salah ingat, dengan keberpihakan bisma di sisi kurawa dalam bharatayudha, perang bisa dijaga untuk berjalan dengan benar’.
cmiiw
Ismail says:
Pertanyaan yang bagus sekali. Jadi pingin nulis serinya nanti. Ada percakapan yang sangat menyentuh antara cucu dan kakek sebelum saling perang.
Intinya begini. BISMA, sang resi yang sakti madraguna, adalah kakek dari PENDAWA juga KURAWA. Oleh KURAWA, BISMA diberi kedudukan sangat tinggi, menjadi panglima perang KURAWA. BISMA pun menerima tugas itu dengan bangga sebagai KSATRIA.
Inilah kelemahan BISMA, dia teguh memegang prinsip KSATRIA “lebih baik mati di medan laga, dari pada mati karena sakit di tempat tidur.” Prinsip dan semangat yang buta, karena hanya bisa melihat dari satu sisi. Semangat yang bagus, tetapi salah menempatkannya. BISMA tahu, dia di pihak yang salah, dan PENDAWA adalah yang benar, tetapi tetap saja, dia berperang bersama KURAWA.
Bukankah kadang kita menemukan sifat ini ada dalam diri kita? Sudah tahu yang salah dan yang benar, tetapi tak mampu berkutik dari yang salah.
Ternyata BISMA kalah melawan panah-panah seorang wanita tomboy, SRIKANDI. Artinya, sehebat apapun BISMA, yang dengan buta memegang sifat KSATRIA, akan kalah oleh ‘rasa’ yang ada dalam diri wanita. Wanita mewakili kelembutan, dan SRIKANDI mewakili ketegasan. Kelembutan yang tegas dan condong kepada kebenaran.
Bukankah sifat kewanitaan itu juga ada dalam diri kita?
puri says:
mas ismail, kenapa bisma dikalahkan oleh srikandi (yg katanya dititisi arwah mantan pacar bisma) di perang kurusetra? bukannya bisma adalah mbahnya para kurawa dan pandawa yg sakti mandra guna?bisma katanya baik dan bijaksana, tapi kenapa saat perang dia ada dipihak kurawa?
hehehe jadi ingat jaman sd, baca baratayuda dr majalah si kuncung.
ican says:
mas ismail, yang bilang right or wrong is my country itu kumbakarna…:P hehehe.. bukan si bisma..;)
simatupang says:
can, memang kumbakarna yang mempopulerkan slogan ‘right or wrong is my country’. tapi prinsip itu banyak kok di dapat dalam cerita-cerita.