READ MORE >> Movie Club
RESENSI (www.kalyanashira.com)
Di sebuah rumah bergaya arsitektur kolonial yang terletak di Kotagede, selatan Jogyakarta? Seorang perempuan berparas cantik mencium seorang anak. “Ibu sayang sama Dewa,” ujar wanita itu dengan penuh kasih sayang. Namun anak kecil yang berusia delapan tahun itu tak bergeming, seolah tidak mampu berinteraksi dengan dunia.
Perempuan yang berumur 31 tahun itu bernama RENJANI, yang telah meninggalkan kota kelahirannya Jakarta untuk mengubur masa lalu. Anak kecil itu bernama DEWA, yang dilahirkan dengan jaringan otak yang rusak berat. Selain itu, dia juga mempunyai kecenderungan autisme dan penyandang tuna-wicara. Tubuhnya kerdil, kepalanya selalu tertunduk ke bawah dengan pandangan mata yang hampa.
Dewa, yang telah diasuh oleh Renjani sejak berumur dua hari, adalah salah satu dari anak-anak penyandang tuna-daksa yang diasuh Renjani di Rumah Asuh Ibu Sejati, sebuah rumah yatim piatu yang dulunya merupakan rumah peninggalan neneknya. Biasanya, bayi -bayi yang menderita cacat berlapis-lapis ini dibuang oleh orangtuanya. Mereka umumnya adalah hasil hubungan gelap. Rata-rata mereka telah secara medis divonis umurnya tidak akan panjang.
Renjani selalu memperlakukan Dewa sebagai anak normal. Ia selalu bercerita kepada Dewa tentang kehidupan dan sering mengajak anak itu bepergian. Renjani percaya bahwa di dalam tubuhnya yang seakan tidak berdaya, Dewa mendengar semua yang diceritakannya. Dia mencintai Dewa, tidak rela bahwa sewaktu-waktu Dewa bisa meninggalkannya, seperti yang terjadi dengan anak-anak asuhannya yang lain.
Sewaktu mengubur seorang bayi yang meninggal, Renjani berkata : “Saya pikir setelah berulang kali mengalami kematian?saya akan terbiasa. Ternyata?masih sakit juga rasanya, ya Mbak Wid. Hati masih bisa sakit.” Mbak Wid mennjawab: “Hati memang teka-teki yang abadi. Terkadang kuat, terkadang lemah. Bayangkan perasaan Gandari? harus mengubur keseratus anaknya?yang gugur di medan Kurusetra?”
MBAK WID adalah seorang wanita eksentrik berusia 40 tahun yang berprofesi sebagai dokter anak yang tegas dan profesional. Wanita yang juga dikaruniai indera ke-enam itu memiliki kesamaan dengan Renjani, sama-sama mencoba melupakan masa lalunya. Dia juga selalu mencoba menyadarkan Renjani bahwa Dewa tidak memiliki kemampuan seperti yang dipercaya oleh Renjani. Namun Renjani tetap percaya bahwa suatu hari Dewa akan menunjukkan tanda bahwa dia mendengar semua yang dikatakan Renjani.
Suatu kejadian, mungkin membuktikan bahwa Renjani benar. Suatu hari, Renjani yang dulu pernah bercita-cita menjadi seorang ballerina, menemukan sepatu balletnya. Dipakainya sepatu itu dan dia menari untuk Dewa. Dewa mendadak mengangkat kepalanya, untuk yang pertama kalinya. Berpikir bahwa musik dan tari kemungkinan adalah terapi yang tepat untuk Dewa, Renjani mengajak Dewa menonton sebuah resital biola. Di sinilah Renjani berkenalan dengan BHISMA, mahasiswa jurusan musik berusia 23 tahun yang tengah memperdalam biola.
Persahabatan terjalin antara Renjani dan Bhisma. Bhisma mengagumi Renjani yang begitu mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak yang yang telah dibuang. Bhisma melihat Dewa dan bayi-bayi cacat lainnya sebagai ciptaan Tuhan yang indah tapi tidak diberkati dengan kehidupan yang berguna. Seperti sebuah biola yang tidak ada dawai-dawainya. Pada suatu ketika, Bhisma memainkan biolanya, mengiringi Renjani yang menari balet. Untuk kedua kalinya, Dewa mengangkat kepalanya seolah mengagumi apa yang dilihat dan yang mungkin didengarnya.
Ketiganya membentuk hubungan yang luar biasa yang mungkin saja bisa membuat ketiganya menemukan kebahagian dalam hidup mereka. Namun, masa lalu Renjani dan sebuah bencana mengancam dan merenggut kebahagian itu dari mereka.
Ini adalah drama kemanusiaan yang mengisahkan cinta lebih besar dari segalanya, bahwa cinta bisa membuat harapan yang tidak mungkin bisa menjadi kenyataan.
Film ini sudah mendapat penghargaan dari beberapa ajang festival international, seperti Festival Film Asia Pasifik dan Festival Film Intenational di Kairo. Film yang diproduksi oleh Kalyanashira ini disutradarai oleh Sekar Ayu Asmara, dibintangi oleh Nicholas Saputra (Bhisma), Ria Irawan (Renjani), Jajang C.Noer (Mbak Wid) dan Dicky Lebrianto (Dewa). Music dengan apic di arrange oleh Addie MS dan Victorial Phiharmonic Orchestra dan soundtrack oleh Seto Hardjojudanto.
Soundtrack, trailer dan screensaver bisa didownload di
http://www.kalyanashira.com/btb/download.html
READ MORE >> Movie Club











simatupang says:
terus terang aku agak sulit menonton film ini. mungkin karena sudah terlalu lama teracuni oleh film-film hollywood.
btw, setelah kelar, kok rasanya ada yang nanggung ya? seolah-olah ada yang tidak tuntas dalam film ini. apa karena penggambarannya kurang dalam, sehingga aku mencari pelampiasannya lewat panjangnya jalan cerita? atau lainnya? entahlah…!
trus dialognya terasa teatrikal banget, sehingga tak terasa seperti kehidupan sehari-hari. terutama jajang. apakah semua film jajang kalo dia ngobrol seperti itu? dan apakah film-film festival memang seperti itu? hmm… sejauh yang kuingat, film seperti ‘children of heaven’ cukup sederhana dan bisa kuikuti dengan enak.
Ismail says:
Saya setuju dg Bung Ferry, soal kesan2 acting dan alur ceritanya. Tapi, karena sudah di depan mata, ya mencoba untuk menikmatinya… Singkong pun rasa roti keju.. Di gubug serasa di istana he.he.
Mencoba mengikuti dan menyelami kedalaman makna yang tersirat di balik ungkapan-ungkapan, film ini hampir-hampir membuatku menitikkan air mata. Tapi sayang adegan di luar film itu, membuat semua buyar. Lha gimana ndak .. penontonnya rame berkomentar dan ketawa-ketawa ha..ha… Udah mulai tune-in, mulai terbawa, malah ditanyain dan diajak ngobrol mulu sama si Djupe. he.he.. Yo wis…
Yang aku acungi jempol dari film ini adalah, kemampuan penulisnya dalam mengungkapkan hal-hal yang tak tampak di mata orang pada umumnya. Misalnya, ketika Mbak Wid bilang “Dosa adalah teka-teki yang teramat membingungkan,” dalam konteks bahwa mereka berdua dulu berangkat dari dosa-dosa orang tua maupun dosa pribadi. Dosa-dosa telah membawa mereka kepada suatu tekat mulia. Memelihara dan menyayangi ‘produk-produk’ manusia yang gagal, yang abnormal, yang pada umumnya orang enggan menerimanya. Anak-anak yang cacat sejak lahir, hydrocephalus, cacat ganda, kelainan sana-sini, yang kemudian dibuang oleh orang tuanya. Dosa memang teka-teki, kebanyakan tidak disukai, tetapi dosa kadang-kadang melahirkan kemuliaan.
Film ini mengajarkan kepada kita, untuk mampu melihat sesuatu secara utuh, menyeluruh. Tidak buru-buru mencap yang buruk itu sebagai keburukan. Memvonis seorang yang menggugurkan kandungan langsung ke neraka, karena siapa tahu dia akan menjadi ibu bagi produk-produk cacat manusia. Biarlah urusan itu di tangan Tuhan. Baik dan buruk, benar dan salah, sehat dan cacat.. itu bukan milik kita, tapi milik Kanjeng Gusti. Dan setiap orang pun, punya tugas masing-masing.
Sudah tahu kah, apa tugas kita?
dadan says:
film nya bagus tapi sad ending