READ MORE >> Ramadhan 2005
26 Ramadhan
Oleh: Ilan Asqolani
Ketika berumur 1 tahun ibu menyuapi dan memandikan kita. Kita berterima kasih dengan menangis sepanjang malam. Ketika berumur 4 tahun, ibu selalu mengajak kita bermain ke tempat2 hiburan. kita berterima kasih padanya dengan selalu merengek untuk dibelikan permen. Menjelang umur 7 tahun, ibu menyekolahkan kita dengan harapan dapat menjadi orang yang berguna. Kita hanya bisa berterima kasih padanya dengan meminta uang jajan dan uang buku.
Pas usia remaja tiba, ibu berusaha keras supaya kita dapat masuk SMP dan SMU. Lalu kita pun berterima kasih kepadanya dengan meminta uang eksul (extrakurikuler) lah, uang baju lah, atau bahkan uang wisata. Di usia 20 tahun, ibu semakin terbebani dengan biaya kuliah kita di universitas dan biaya kost rumah. Lagi-lagi kita hanya berterima kasih padanya dengan tanpa memberi kabar, telepon ataupun surat tentang keadaan kita dan perkuliahan kita. Pulang ke rumah pun rasanya kalo pas lebaran saja. sekedar setor muka.
Menjelang pacaran, ibu disibukan dengan nasehat2 untuk mewanti2 kita supaya berhati2 dalam bergaul. Kita pun dengan enaknya mendengar nasehat2 tersebut seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ketika waktunya menikah, ibu berpesan supaya memakai adat tradisional aja. Kita pun menolaknya karena adat tradisional dilihat kurang ‘prestigious’. Jadi lebih memilih adat modern. Setelah menikah, kita pun ga tanggung2 berterima kasih padanya dengan meninggalkannya dalam kesepiannya yang mendalam menunggu kedatangan kita. Ketika ibu meminta kita untuk mengunjunginya, dengan tegas kita bilang ‘Kita sangat sibuk, ga da waktu’. Ibu hanya bisa menghela napas.
Ketika bayi udah terlahir, ibu lagi2 telepon untuk selalu merawat bayi sendiri. Tapi bagi kita itu buang2 waktu dan menghabiskan tenaga. Selagi masih bisa bayar babysitter kenapa musti repot2. Waktu pun terus berjalan tanpa sedikit perhatian pun kepada ibu. Sampai suatu hari pun tiba. suara telepon tetangga di kampung memberitahukan bahwa ibu telah tiada. Betapa kagetnya kita saat mendengar berita tersebut. Terbersit segala tingkah laku kita yang telah membuat dia menderita dan sedih. Rasa sesal datang menghampiri. Air mata pula lah sebagai wujud dari rasa sesal kita.Tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah kembali ke hadapan-Nya. Kita hanya bisa menyesali apa yang telah kita perbuat.
READ MORE >> Ramadhan 2005











Agnes says:
Sebagai ibu, aku memang baru merasakan paragraf pertamanya Ilan. Tapi ternyata, itu pun tak mudah walaupun juga indah.
Bagiku menjadi ibu seperti masuk ke sekolah baru, yg sks nya segambreng, tugas2 dan ujiannya juga segudang. Bedanya sekolah ini sangat amat panjang, dari sejak hamil bahkan sampai si anak punya cucu barangkali. Bedanya lagi di sekolah ini juga ada ujian sakit. Sakit yang luar biasa sakit ketika melahirkan, sakit ketika hamil dan menyusui, serta sakit ketika melihat anak sakit atau tersakiti. Tapi ketika bisa melewatinya dengan sukses, bahagianya tak ada dua, begitu kira-kira…
Setelah menjadi ibu, barulah aku mengerti kenapa Rosulullah begitu mengagungkan ibu. Karena, ternyata memang tak mudah, walaupun juga indah…