READ MORE >>   Ramadhan 2005

25 Ramadhan

Oleh: Palmira Bachtiar

Tulisan ini dibuat karena ingin menanggapi komentar mbak Uyung terhadap tulisan mas Teguh. Mbak Uyung sungguh heran mengapa teman biologist nya tidak percaya Tuhan. Saya merasa teman biologist itu juga merasa heran mengapa mbak Uyung percaya Tuhan dan memakai jilbab, 5 x sehari sholat serta 30 hari puasa menahan lapar, haus dan segala nafsu. Ada teman saya yang pernah bilang begitu. “Kenapa sih perempuan Islam harus menyembunyikan rambutnya yang indah dan tubuhnya yang molek?” Saya bilang padanya, “kalau kamu dilahirkan di Indonesia, dalam tradisi keluarga yang agama Islam yang ketat dan dengan pengalaman keagamaan yang sungguh romantis, saya yakin kamu saat ini sedang berjilbab”

Seandainya teman biologist itu diletakkan dalam konteks mbak Uyung, mengalami sejarah dan pengalaman hidup seperti mbak Uyung, sangat mungkin dia tidak mempertanyakan lagi keberadaan Tuhan. Di lain pihak, jika mbak Uyung lahir dan dibesarkan dalam keluarga teman biologist itu, sangat mungkin juga saat ini pertanyaan tentang Tuhan timbul dalam diri mbak Uyung. Wallahualam.

Ada cerita lain lagi. Tanteku sudah sejak lama tinggal di Belanda dan bersuamikan orang Belanda. Saudaraku, anak2 tanteku itu, sudah punya anak2 tapi mereka belum menikah, hanya samen leven saja. Kata tanteku, “Tolong jangan menilai mereka dari sudut pandang orang Indonesia. Mereka lahir dan dibesarkan di sini, jadi wajar jika nilai2 yang dianutnya adalah nilai2 di sini.” Saya pikir, betul juga. Mungkin seandainya saya lahir dan dibesarkan di Belanda dalam tradisi Belanda, sangat mungkin saat ini saya ga beda dengan saudaraku itu, samen leven dan tidak beragama. Wallahualam.

Kata temanku orang Arab, ada pepatah Arab yang bunyinya begini: kata2mu akan berbeda jika tanganmu ada dalam air panas. Artinya, hanya sebagian kecil saja dari tubuh kita ada dalam kondisi yang berbeda, persepsi kita sudah berbeda … apalagi jika seluruh tubuh kita diletakkan dalam kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi sekarang.

Kadang2 renunganku menjadi lebih panjang. Seandainya saya terlahir nun di Afghanistan sana, sangat mungkin saat ini saya sedang memakai burka, buta huruf, atau sedang dalam kamp pelatihan Al Qaeda … hehehe bad luck!…. (footnote: asumsi Al Qaeda betul berada di Afghanistan!). Kedengarannya lucu tapi hanya dengan menempatkan diri dalam konteks itu, saya mengerti mengapa ada orang yang kemudian memilih menjadi teroris. Dia dibesarkan dalam tradisi yang sangat ekstrim, dicuci otak, diberi iming2 mati syahid dan langsung masuk surga. Buatnya, mati sekarang jauh lebih baik daripada mati sepuluh atau dua puluh tahun lagi … toh dia tidak punya apa2 di dunia ini. Tidak ada pekerjaan, tidak ada jabatan, tidak ada uang … hanya kemiskinan. Lalu, mengapa harus menunda mati dan masuk surga? Hai dunia, tolong mengertilah dia.

Tapi kemudian, bagaimana jika saya terlahir sebagai orang Yahudi? Aduh amit2 jabang bayi …. sungguh ngeri membayangkan diriku dibenci oleh seluruh umat Islam. Tapi seandainya saya lahir sebagai orang Palestina, saya pun akan sangat benci orang Yahudi karena mereka menyerobot tanahku. Ah … akhirnya saya memang harus bersyukur tidak terlahir seperti itu.

Perenunganku sampai pada kesimpulan: sangat sulit untuk menilai seseorang tanpa melihat sejarah dan pengalaman hidupnya. Sejarah dan pengalaman hidup kita saat ini menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa abad yang lalu karena pesatnya perkembangan teknologi informasi, transportasi dan telekomunikasi. Siapa tahu suatu waktu nanti, teman biologist itu bertemu seorang Muslim di internet dan menikah dengannya dan kemudian percaya kepada Tuhan? Kenapa tidak? Zaman yang cepat berubah menuntut kita lebih banyak mengerti orang lain. Insya Allah orang lain juga akan mengerti kita. Amin.

  READ MORE >>   Ramadhan 2005


11 Comments on “Mengerti dan dimengerti oleh orang lain”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Terimakasih mba’ Mia atas tulisannya. Saya jadi berpikir bahwa sebenarnya manusia diberikan Allah akal dan pikiran untuk menilai hakikat kebenaran. Banyak sekali ayat Allah dalam Qur’an yang di-akhiri oleh kalimat “..terdapat tanda-tanda (kebenaran) bagi orang-orang yang ber-akal”. Ayat ini jelas akan memberi ketegasan di hari akhir nanti akan nilai kebenaran dari suatu keyakinan.

    Ayat-ayat ini juga akan mementahkan argumen seorang Fir’aun (misalnya), jika dia mendebat Allah di hari akhir nanti. “Kenapa kau tidak lahirkan aku sebagai Musa atau Harun, dengan demikian aku akan ber-iman kepadamu”. Jelas alasan fir’aun salah besar, karena kebesaran dan kebenaran Allah terpampang jelas dihadapannya. hanya saja Fir’aun tidak mencernanya dengan akal dan pikiran, tapi melawannya dengan hawa nafsu dn kesombongan. Tercermin dari cerita akhir Fir’aun yang menjadi kisah tragis dalam Al-Qur’an, ketika ia mengucapkan “Saya sesungguhnya membenarkan ajaran Musa dan beriman kepada Allah” ketika nyawa-nya sudah sampai di kerongkongan ditelan gelombang dahsyat Laut Merah.

    Contoh lain mungkin bisa saya analogikan kepada kaum Yahudi. Mba’ Mia mengatakan di tulisan di atas bahwa betapa umat Islam membenci kaum Yahudi. Sebenarnya Al-Qur’an justru berkata lain (q.s 2:120). Dan terkait dengan keyakinan, saya juga berandai-andai di akhirat nanti kaum Yahudi berkata kepada Allah, “Ya Allah kenapa tidak kau turunkan Rasul terakhir dari kaum kami, Bani Israil, sehingga kami beriman kepada-Mu”
    Kemudian (saya lagi-lagi ber-andai-andai) Allah menjawab “Ah’ ente Yahudi, Ane turunkan Musa ente dustakan, Ane turunkan Zakaria ente bunuh dia, Ane turunkan ‘Isa ente salib dia -walau sebenarnya ente ketipu kata Allah, lha itu bukan Isa koq yg ente salib (keyakinan umat Islam)-, nah apa lagi jika Ane turunkan Muhammad kepada ente, jangan-jangan ente makan dia”

    Dari ayat-ayat Qur’an, sudah jelas sebenarnya bahwa kaum Yahudi-pun sudah banyak menerima Rasul dan peringatan, dan dalam kitab Taurat (Musa) dan Injil (’Isa) juga dijelaskan bahwa Rasul terkhir adalah Muhammad (Q.S 61:6). Tapi lagi-lagi kebenaran terabaikan oleh tertutupnya akal dan pikiran.

    Semoga kita menjadi orang-orang yg terbuka akal dan pikiran sehingga tidak tertutup sinar hidayah Allah. Terus menulis mba’ Mia, terimakasih sekali lagi, jangan gak aktif di deGromiest ya…hehehe

  2. usul!
    meliat animo baca alqurán meningkat, mau dong ditambah dgn kultum atau diskusi singkat 15 menit ajah ttg satu ayat atau surat singkat di Alqurán atau topik apa kek gituh…jadi gak cuma diskusi di dunia maya doang.
    usul lagi…gimana kalo mas eko yg ngasih kultum?
    *bisik2 neh…Islam itu isinya gak cuman neraka dan surga aja kan?walopun itu final destination manusia kelak…
    mo juga akh berandai2…
    andai aku bisa liat rapot ku yg ditulis malaikat roqib atid…berapa ya angka merahnya? sayangnya malaikat2 itu terlampau jujur nulisnya, mereka gak bisa disogok…loh kok nyasar ngomongin yg lain?
    yg jelas aku rindu siraman rohani wkt subuh di tipi indooooooo…

  3. Sepakat sekali mbak. Guru ngaji saya pernah bilang, bahwa dalam perjalanan ketauhidan, jangan (atau hindari) menilai orang lain, tapi sibuklah dengan menilai diri sendiri, melihat ke dalam diri. Kalau ternyata harus melihat orang lain, lihatlah mereka sebagaimana mereka apa adanya, lengkap dengan sejarahnya (bahkan sejarah sejak mereka belum lahir).

    Pernah suatu ketika saya sampaikan ‘keluhan’ saya atas seseorang. Ternyata, setelah ‘dibukakan’ sejarah orang tersebut sejak kehidupan kakek-neneknya (tentu saja orang tersebut belum lahir) oleh guru saya, saya baru ngerti mengapa dia begitu. Bahkan membuat saya makin bisa lebih sayang sama orang tersebut. Hal ini akhirnya membuat saya semakin takut menilai orang, karena sungguh tidak adanya pengetahuan saya atas orang lain. Disamping itu juga tidak ada perintah dari Tuhan untuk menilai orang.

  4. Wah mbak Mia, terimakasih sudah diingatkan untuk selalu melihat sesuatu hal dari berbagai sudut pandang. Apa yang mbak Mia utarakan dalam tulisan mbak Mia memang betul. Sering kali teman saya heran dengan segala aturan yang ditetapkan dalam agama islam.

    Demikian juga dengan saya terhadap teman2 saya orang Belanda. Pernah suatu kali saya ditanya, Yunia apa pendapatmu tentang aku? aku tidak menikah tapi aku tinggal bersama dengan pacarku? apakah dalam agamamu aku adalah orang yang sangat buruk?

    Saya tidak akan membeberkan jawaban saya atas pertanyaan itu di komentar ini. Hanya sebagai gambaran saja, bahwa benturan-benturan kultur dan agama dalam bersosialisasi sering kali terjadi, kita yang harus berhati-hati dan bijaksana untuk menanggapinya. Karena jawaban apapun yang kita berikan akan sangat mungkin menjadi image dari budaya dan agama kita.

    InsyaAllah, saya termasuk orang yang cukup berhati-hati untuk menilai seseorang, tidak asal bicara tanpa melihat latar belakannya dan ikut-ikutan opini orang. demikian juga komentar saya tentang teman saya yang biologst itu. Dia terlahir di lingkungan keluarga katolik. Tapi seiring dengan waktu dia menjadi seorang biologist, dia menjadi tdk mempercayai Tuhan. yang saya herankan…menjadi biologist justru sangat dekat dengan ayat-ayat Allah.Subhanallah, kalau kita melihat bagaimana keteraturan dalam sebuah sel saja misalnya…sangat sukar dibayangkan kalau itu tidak ada yang mengatur. Tapi sekali lagi, hidayah memang tidak datang pada semua orang. Hidayah memang Karunia Ilahi dan kita yang harus berlari dan merengkuhnya.Patut kita syukuri memang, kita terlahir di Indonesia, walaupun negaranya carut marut, tapi nuansa keagamaan masih kuat. Walahualam

  5. Salut sama Eko, yang nun jauh di Amrik dan sibuk training, masih keep kontak dengan kami. Alhamdulillah…

    Membaca komentar dari Eko, aku teringat sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Bunyinya begini, “Aku shalat bersama Rasulullah pada suatu malam: Rasulullah senantiasa berdiri lama sehingga ada perasaan yang tidak baik dalam hatiku (ngedumel). Lalu ditanya oleh beliau, Niat yang tidak baik apakah yang kamu rasakan? Ketika engkau berdiri lama aku ingin cepat-cepat duduk dan ingin meninggalkan shalat bersamamu.”

    Saya bertanya-tanya, mengapa orang itu ngedumel? Apakah dia tidak berpikir bahwa sholat seperti Rasulullah itulah sholat yang baik? Apakah dia tidak bersyukur bisa sholat di belakang Rasul? Aku yang beribu tahun jaraknya dari beliau sangat merindukan sholat bersamanya.

    Lalu aku inget diriku waktu kecil, ngedumel juga kalau lagi sholat tarawih di belakang imam yang lama sholatnya. Rasanya pingin memilih sholat di mesjid lain. Rasanya capek berdiri lama.

    Kemudian kutemukan jawabannya, yaitu karena saat itu aku tidak merasakan nikmatnya sholat. Yang ada hanyalah gerakan dan bacaan wajib. Semakin lama, semakin melelahkan. Sekarang ketika kurasakan nikmatnya sholat, ternyata semakin lama semakin nikmat.

    Itu baru soal sholat, belum soal iman. Jika belum merasakan nikmatnya benih iman, sulit untuk bisa menerima kebenaran yang ada di baliknya. Setahu saya, iman itu ada di dalam hati. Akal dan pikiran berfungsi untuk mengasahnya. Jadi syarat perlunya adalah adanya benih itu dulu. Teman baruku yang dari Iran pernah bilang, “Aku tahu Islam itu yang paling benar. Aku juga Islam dulu. Tapi sekarang aku sendiri yang brengsek.” Akal pikirannya tahu, tapi kenapa tidak dijalankan?

    Satu lagi, yang pernah diajarkan kepadaku, tentang jika ketemu orang yang mengaku tidak percaya Tuhan. “Tidak perlu menjelaskan apa itu iman dan apa itu kebenaran kepada mereka. Cukup ajak dia merasakan sendiri setitik nikmat dari iman itu. Ajak dia begini… dan begini.. Lalu berdoalah, agar Dia dekatkan hatinya kepada Dzat, Sirr, dan Nur Allah. Jika dia sudah merasakan nikmat itu, akal dan pikirannya akan mencari sendiri.”

    Dan terakhir, aku teringat sebuah pengantar dalam salah satu bukunya Emha. Penggalannya begini: Saya meyakini bahwa yang paling berhak memvonis, memberi label “KAFIR” terhadap umat manusia adalah yang empunya umat manusia itu sendiri. Siapa Dia? Tiada lain dan tiada bukan kecuali Allah SWT sendiri—itu hak sepenuhnya milik Tuhan Yang Maha Esa, Yang Maha Kuasa. “Bila engkau tidak mau disebut menyekutukan Dia, maka jangan sekali-kali menggusur hak Dia, kecuali kalau engkau memang berniat mau menyaingi Tuhan Alam Semesta … memangnya bisa…..yang bener aja …..!”

    Semoga diskusi ini semakin menambah iman kita.

    Wallahu’alam.

  6. wah mbak mia, tulisannya bagus bgt. salut!makaseh telah diingatkan utk tidak sembarangan men’judge’ org. seringkali kita lupa diri ngasih label ke orang lain. kalo ‘tag label’nya dah jelex, walhasil apapun org itu lakukan, pokoke jelex aja…astagfirullah…

    aku jadi inget syair lagu cinta apa gituh…”Who am I to judge you…for everything you do…”
    aku setuju, emang kita siapa berhak menilai org lain?
    tp di lain pihak, kewajiban kita sbg sesama muslim bukannya saling nasihat-menasehati dlm kebenaran?
    nah, gimana sikap kita dgn kafirun? aku seh ojo urus…lakum dinukum walyaddin :P …pernah waktu break, bule2 itu membahas aku yg sedang puasa. Satu org bule bilang “Just imagine, what Ponky think as an Indonesian see us. She thinks we drink beer too much” aku cuma senyam-senyum aja nanggapin omonganan dia…lah hidup lo sendiri, so what gitu looo…dan aku cuma angkat bahu gak duli…Mereka aneh ngeliat aku yg puasa, gak makan, gak minum seharian,…so watgitu looo kalo gue aneh?bbrp org memaklumi.dan bbrp org juga kerap menggoda kalo aku mo shalat.”U spend a lot of time for praying” lah…suka2 gue…tp aku coba merespon sebaik2 mungkin. setidaknya berusaha tidak perpancing untuk menunjukan aku yg paling benar. Aku yakin Islam itu is the best, tp bukan berarti aku lbh baik drpd mereka kan?kan cuma masalah waktu hidayah itu datang ke mereka.
    tahu diri sajalah…Allah yg paling berhak menilai kita.

    seperti lagu Bimbo “Semua sama di depan Tuhan, yg berbeda cuma amalnya”
    wah jadi kangen lebaran di Indo…huaaaaa…

  7. Iya setuju mbak PQ, agama Islam memang the best, tapi agamanya kan ya. Orang-orangnya? Wallahualam bissawab lah yaw :-). Sebab, iman tentu bukan hanya sekedar pengetahuan dr ayat2 Qur’an atau yg terucap di bibir aja kan, tp jg harus bisa dirasakan. Betulkah hati kita selalu tergetar ketika mendengar nama Allah disebut2? Betulkah hati kita merasakan kehadiranNya sedekat urat leher kita?

    Mana tau kita kalo bunda teresa yg pengorbanannya luar biasa itupun sebetulnya sudah merasakan manisnya iman jauh lebih manis dp yg pernah kita rasakan. Cuma Allah yg tau.

    So, aku rasanya tak punya hak untuk menilai/mengkafir2kan orang beragama apapun, aku bukan Tuhan je :-) Jd inget kata guru ngajiku, kita belum mengakui ALlahu itu Akbar kalo belum bisa nerima perbedaan. Menerima perbedaan artinya jg tidak memberi penilaian bukan? Menerima perbedaan artinya bisa berempati, persis seperti yg ditulis mbak Mia. Bravo buat tulisannya mbak :-)

  8. Sekarang apa kata Emha setingkat dengan hadits ya?

  9. Gimana ya, seperti dibilang SBY, agar tidak asal mengutip ayat, maka saya sebenarnya berusaha untuk menghindari mengutip ayat dan hadist dalam diskusi spt ini. Kadang tak terelakkan. Dan lebih suka mengutip kata orang aja. Jadi kalau salah persepsi, jadi perdebatan, itu biarlah perdebatan atas pendapat saya dan pendapat yang saya kutip.

  10. Wah, diskusinya semakin berkembang, sayang saya baru mengikutinya. Membaca cerita tentang tante mbak Mia yang sudah lama tinggal di sini dengan segala budaya yang ada, saya kemudian menerawang kepada banyak orang yang saya temui di beberapa negara Eropa ini yang semakin kuat keyakinan tentang ke Esa-an Allah SWT, semakin meningkat kualitas dan kuantitas ibadahnya, bahkan tidak sedikit kemudian berikrar syahadat sebagai bentuk hidayah yang diterimanya dari Allah SWT. Alangkahnya mulianya mereka-mereka yang hidup dengan budaya dan kultur yang sangat jauh dari nilai-nilai Islam, tetapi masih mampu mempertahankan keyakinannya bahkan semakin kuat ibdahanya pada Allah SWT. Dalam perjalanannya banyak sekali pejuang-pejuang Islam itu yang lahir bukan dari lingkungan yang mayoritas warganya pemeluk Islam. Kisah-kisah Nabi dan Rasul, semuanya seperti itu. Itu kan Nabi dan Rasul yang di utus Allah SWT. Benar. Namun kisah itu berlanjut kepada para sahabat sampai umat pada saat ini. Kita mungkin mengerti dengan kondisi tante mbak Mia yang diceritakan di atas dan banyak lagi contoh-contoh yang lain. Namun tentunya pengertian kita itu mudah-mudahan tidak terputus sampai di situ. Menurut saya malah wujud mengerti kita bisa ditampilkan dengan secara terus menerus mendo’akan semoga hidayah Allah SWT menjumpai mereka, sehingga apa yang telah menjadi kebiasaan itu, yang sesungguhnya bukan sesuatu yang sesuai dengan apa yang digariskan Allah SWT dalam Al-Qor-an (itu kalau mereka msulim)(Nah yang ini saya rasa bukan berusaha menilai, he,he..) bisa pelan-pelan dipahami sebagai sesuatu yang harus diperbaiki. Atau mungkin ada kesempatan-kesempatan yang bisa kita gunakan untuk menyampaikan kepada mereka dengan hikmah dan bijak tanpa menyakit hati mereka. Barangkali dengan demikianpun bisa jadi Allah SWT juga memberikan hidayah-Nya kepada kita bukan hanya kepada mereka.

    Sementara itu, Allahu ‘alam

  11. Mas Fahmi, tetapi kalau membandingkan cerita tentang anak tante saya (yang samen leven itu) dan cerita2 di Indonesia tentang remaja2 yang terjebak narkoba … saya kok lebih khawatir dengan kondisi Indonesia.

    Samen leven tentu tidak islami (dan agama2 lain juga menentangnya), tetapi mereka masih bisa bertobat dan kembali ke jalan yang lurus.

    Sementara kalau sekali terjebak narkoba … wadduh … nauzubillah min zalik. Walaupun mereka sadar dan ingin insyaf, sangat sulit melepaskan diri dari ketergantungan ini.
    SEmoga Allah menjauhkan anak2 Indonesia dari godaan narkoba. Amin

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>