READ MORE >> Ramadhan 2005
23 Ramadhan
Oleh: Teguh Sugihartono
Waktu aku masih tinggal di kampung halamanku Indonesia, rasanya kepalaku pening dan sumpek dengan segala permasalahan yang ada di negeri tersebut. Mulai dari cerita-cerita korupsi yang hampir kudengar saban hari, kolusi, dan macam-macam ketidakberesan lainnya yang tidak kalah parahnya seperti polusi, kemacetan dan keruwetan tata kota. Salah satu hal yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa kebanyakan penduduk negara Indonesia adalah orang Islam, tapi mereka tidak mempraktekkan nilai-nilai islami. Sedangkan dari cerita-cerita yang kudapat tentang nabi dan sahabat-sahabatnya adalah sangat lain dengan yang kulihat sehari-harinya.
Waktu aku pergi ke negeri Belanda untuk belajar, aku melihat kenyataan yang lain. Disini hampir segalanya teratur rapi, bersih, dan jarang sekali aku mendengar kasus korupsi atau kolusi. Dan masyarakatnya pun madani. Sebelum aku kesini aku punya pikiran kalo orang barat hidupnya individualistis, ternyata mereka disini sangat sosial, banyak santunan untuk orang-orang yang tidak punya atau miskin. Dan mereka tidak segan-segan untuk menolong sesama. Aku banyak sekali mendapat pertolongan. Yang bikin aku tertegun adalah kebanyakan masyarakat belanda tidak percaya Tuhan. Mereka hanya percaya pada diri mereka sendiri.
Ada kejadian yang sempat bikin aku shock ketika aku pertama kali berada di belanda. Aku tinggal di international student house. Aku tanya ke temanku yang berasal dari Spanyol. Aku tanya, “Kamu agamanya apa?”, Trus dia jawab, “saya tidak beragama, saya tidak percaya Tuhan, saya percaya pada diri saya sendiri”. Jawaban seperti ini belum pernah kudengar waktu aku masih di Indonesia. Terang saja aku kaget, kaget karena belum pernah mendengar hal yang seperti itu dan kaget karena keberanian dan kelugasan temanku menjawab pertanyaanku. Aku butuh waktu beberapa saat untuk bisa mencerna maksud dari temanku itu. Terus terang aku tidak mengerti apa maksudnya aku percaya sama diri sendiri. Aku pikir bagus toh, percaya diri? Ternyata maksud mereka, mereka percaya pada tubuh mereka sendiri yang konkret dan real, sedangkan Tuhan tidak bisa mereka lihat, jadi tidak real. Hmm..logis juga.
Ada juga hal lain yang bikin aku kaget. Waktu aku naek sepeda, ketika di perempatan tanpa lampu lalu lintas, mobil-mobil berhenti untuk mempersilakan aku lewat terlebih dahulu. Waktu itu aku masih hangat dari Indonesia, jadi ya bisa dibayangkan saja betapa kagetnya diriku. Sempat suatu kali aku tanyakan kenapa kok negara belanda bisa begini? Malah aku sempet berpikiran kalo negara islam itu memang seharusnya seperti ini. Santun kepada orang yang lebih rendah. Ada seseorang yang mengatakan bahwa kebaikan orang-orang belanda itu dulu kalanya berasal dari agama kristen. Dulu penduduk negara belanda beragama kristen. Trus aku pikir balik, mengapa negara-negara islam kok malah banyak korupsi, kemiskinan, dan masalah-masalah berat lainnya. Ada seseorang yang menjawab, itu karena negara-negara islam tidak menerapkan nilai-nilai islam.
Semakin lama aku bergaul dengan mereka semakin aku berpikiran sama dengan mereka. Hmm.. mungkin memang Tuhan tidak ada. Kalo Tuhan ada mana mungkin ada kesengsaraan di muka bumi ini. Di afrika banyak anak-anak kelaparan. Di bosnia orang-orang dibantai seperti tidak ada harganya. Kalo Tuhan ada maka akan sangat mudah bagi Dia untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi di muka bumi ini. Tapi keliatannya Tuhan tidak mencegah hal-hal mengerikan ini terjadi di muka bumi ini. Aku jadi sangsi bahwa Tuhan ada. Toh tidak ada Tuhan di belanda, orang-orangnya hidupnya baik. Maka apa perlunya ada Tuhan. Kalaupun Tuhan ada, tunjukkanlah apa tanda-tanda adanya Tuhan. Kira-kira begitulah yang ada dalam pikiranku waktu itu. Aku mulai jarang solat dan menunggu datangnya tanda bahwa Tuhan itu ada.
Malapetaka itu datang. Aku terkena musibah. Tubuhku sudah sangat lelah, hampir tidak bisa aku rasakan lagi. Kalut. Gelap. Tidak ada rasanya setitik cahaya solusi akan datang dari permasalahanku. Diriku bergetar tak berdaya. Kesendirian, kelelahan yang sangat, ketidak berdayaan dan kegelisahan semuanya terjadi bersamaan. Rasanya sudah mau mati. Sudah berapa lama aku tidak tidur waktu itu. Ketika itu aku berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba datang secercah rasa ketenangan. Tiba-tiba kurasakan bahwa aku tidak sendiri di dunia ini. Ada semacam jawaban datang dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa Tuhan mendengar doáku. Ternyata Tuhan itu ada. Tuhan itu dekat sekali dengan kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa keluar dari keadaanku waktu itu. Tapi aku dituntun dan dibimbingNya keluar dari masalah yang aku hadapi. Aku berterima kasih sekali bahwa Tuhan telah menolongku, dan yang paling berharga yang aku rasakan adalah bahwa Tuhan telah memberikan aku anugerah terindah, yaitu nikmat iman. Terima kasih Tuhan.
Ketika semua hal di dunia ini sudah tidak lagi berarti. Ketika tubuh ini sudah tidak bisa kita gunakan lagi. Maka barulah terasa bahwa kita bukanlah tubuh kita. Di dalam tubuh ini ada “sesuatu”. Apakah kita hidup di dunia ini hanya untuk memenuhi segala keinginan tubuh ini? Bagaimana dengan “sesuatu” itu? Apakah “sesuatu” itu? Ini pertanyaanku selanjutnya yang akan membuatku sibuk beberapa waktu kedepan.
READ MORE >> Ramadhan 2005











PQ says:
Assalamuálaikum kang teguh nu kasep tea

gak nyangka, jln idup lo ternyata berliku2 juga ya…kirain hepi2 wae
pokoke tetap smangat mjalani idup!! cayo!!
tariiiikkk maaaannnnggggg….
yunia says:
Assalamuálaikum Guh,
Kadang saya juga bingung dengan jalan pikiran orang-orang yang tidak percaya Tuhan. Bukti apalagi yang mereka butuhkan?. Ada teman saya yang mengatakan begini: I’m biologist, I don’t belief on this kind of things, that is a primitif-the way of thinking, most of religions are inhibit the development of sciences.
Menakjubkan bukan?:), saya hanya bisa menghela nafas panjang..duh, semoga dijauhkan dari pemikiran serupa.
Tetap semangat Guh,
Agnes says:
Bagaimana dengan “sesuatu” itu? Apakah “sesuatu” itu?
Pertanyaan bagus Guh… Buatku itu pertanyaan yang harus dicari terus sampe ketemu dan nggak boleh berhenti hingga saatnya kita dipanggil nanti.
Tidak ada proses hidup yang selesai, kecuali fisik yang menua, bukan begitu?
teguh says:
Untuk Pongky: tiap orang memang berbeda. Ada orang yang setelah dikasih langsung nurut saja ada yang ngga. Nah, aku termasuk yang ngga bisa langsung nurut. Harus ngebuktiin dulu sendiri baru mau nurut. Rewel aku ini orangnya. Makanya setelah kena “jewer” baru nurut. Untung kena “jewer”nya waktu masih idup, kalo udah mati, wah berabe nich.
Tentang masalah “kasep”, wah, aku ke langit ketujuh lagi nich, hahaha…:-) Kenapa kok Pongky muji aku terus? Ada maunya yaaach? Hehehe
Untuk Yunia: argumentasi orang2 ateis itu aku juga alami. Selalu orang atheis itu merujuk ke theori darwin kalo orang itu berasal dari kera. Mungkin karena science di barat adalah barang suci, jadi orang mau ga mau harus percaya bukti ilmiah. Nih bukti Darwin, manusia asalnya dari kera, maka tidak ada Tuhan???
Mereka ga mau percaya Tuhan ada karena akan membawa dampak konsekuensi-konsekuensi lain yang memberatkan. Mereka udah idup enak ga ada Tuhan juga, buat apa percaya Tuhan kalo toh membuat susah?
Makasih untuk dorongan semangatnya yach. Kita sama-sama saling menyemangati dalam hidup ini.
Buat mba Agnes: iya mba, aku juga baru kali ini menanjak ke pertanyaan ini. Sebelumnya ga pernah kepikiran. Padahal dari dulu mas ismail udah sering menulis tentang mencari “aku” ke dalam diri. Dulu ga mudeng, sekarang agak-agak ngerti. Dikit-dikit lah belajar. Mudah-mudahan tambah usia tambah pemahaman. Amin.
hardjanto says:
Teguh, bagus tuh’ tulisannya. Tetap semangat ya..
mia says:
Tulisannya jujur dan innocent. You are like a story book children, mas (lagu kaleeee!)
Apa bukan karena ciri2 negara dunia ketiga adalah kemiskinan dan kepadatan penduduk yang tinggi sehingga kalau mas Teguh naik sepeda di Indonesia, bukannya dikasih jalan malah jalannya disalip, atau lebih parah lagi, sepedanya diambil begitu saja.
Miskin dan hidup berdesak2an menyebabkan dehumanisasi terlepas dari apakah mereka beragama atau tidak. Artinya, kalau kemiskinan bisa kita entaskan, Insya Allah manusia bisa menjadi lebih bermoral seperti di negara2 maju.
Kalau kemiskinan terlalu tinggi, orang yang beragama juga lupa akan moral.
P.S. Maaf ya mas. Kemarin papasan di jalan tapi ga sempat berhenti. Buru2 ngejar kuliah (sok sibuk!)
indra says:
Kebanyakan sih pada gak nyadar.. ada agama baru sekarang… namanya science. Yang enggak setuju sama fakta science yang ada pada saat itu (terutama di dunia barat) terancam terkucil dari lingkungannya, dan dianggap orang gila. Mirip ya kayak nasib saintis sebelum jaman Renaissance?
akhirnya lagi-lagi cuma suatu politik balas dendam..duh.. manusia..manusia..
sigit says:
di hari yang fitri ini hendaknya manusa selalu mengingat asal mula diciptakan, dari tanah liat yang ditiupkan Roh oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sang Pencipta atas Semesta Alam.
Fitrahnya manusa adalah dengan jiwa atau roh yang suci dan bersih karena tidak akan mungkin Alloh meniupkan Roh yang jahat untuk diberi tugas mejadi kalifah di bumi ini, oleh karena itu jika setiap tahun di bulan ramadhan jiwa serta raga kita di wajibkan puasa adalah dengan maksud untuk membersihkan dari segala kotoran dunia yang selama dalam kehidupannya mempengaruhi lahir dan bathin.
Di hari raya kemenangan hendaknya kita jangan khilaf untuk mengembalikan setting fitrahnya pada posisi yang suci lahir bathin sehingga senantiasa siap menghadapi godaan syetan yang saat ini semakin canggih dengan segala tipu muslihat yang multi dimensi.
Karena Jihad yang paling berat sesungguhnya adalah Jihad melawan Hawa Nafsu……….
Untuk itu supaya hati kita kuat, lindungilah dengan zikir menyebut asma Alloh……….