READ MORE >>   Ramadhan 2005

18 Ramadhan

Oleh: Riri Buna

Saat itu, malam jam 21.15 WITA , 13 November 2001. Aku baru saja selesai menidurkan kedua anakku . Terdengar deringan telpon di ruang tamu, suamiku yang mengangkat. Dari kejauhan terdengar suamiku mengucapkan kata “Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.”. “Siapa lagi nih yang meninggal?” Pikirku. Ternyata, bagai disambar petir, yang meninggal dunia adalah ayahku. Tidak ada khabar berita tentang sakit ataupun kecelakaan, ayahku meninggal tiba-tiba. Malam itu kami harus berjuang untuk sampai ke kota Makassar tempat ayahku akan dimakamkan. Bagaimana tidak? Kami sekeluarga tinggal di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, dimana untuk bisa sampai ke Makassar harus naik Ferry (kapal laut) selama 8 jam dan disambung lagi dengan mobil selama 5 jam. Malam itu angin sangat kencang, tentu saja ombak di laut juga kencang. Jadwal keberangkatan Ferry yang harusnya berangkat jam 11 malam, ditunda menjadi jam 2 malam menunggu ombak reda. Bersama suamiku dan kedua anak kami yang masih kecil (3 tahun dan 5 bulan) kami berangkat menuju Makassar.

Disepanjang jalan aku tak henti berfikir. Ayahku yang sehat wal afiat, yang baru saja 2 minggu lalu kami bertemu di Makassar dalam rangka Hakikah anakku yang kedua, tiba-tiba sudah dipanggil oleh Allah SWT. Masih terbayang dibenakku ayah meminta untuk menghakikah cucu laki-lakinya. Untuk mengsinkronkan waktu kerjaku dan waktu luang ayah yang masih aktif bekerja (ayah bekerja di PT INCO Soroako), akhirnya anakku baru dihakikah pada umur 5 bulan. Ayahku sendiri yang menyembelih kambingnya, ayah yang membakar ikan di halaman rumah, dan ayah juga yang mengatur kursi2 dan tenda untuk para tamu. Beliau sangat sibuk mempersiapkan acara hakikah cucunya.

Dan masih terbayang pula ketika aku pamitan hendak pulang ke Kolaka, beliau menimang2 anakku dan bermain sepuasnya dengan kedua cucunya seolah2 tiada kebahagiaan lain selain bersendagurau bersama cucunya tercinta, sampai mobil datang menjemput kami. Saat itu kulihat wajah ayah benar-benar bersih, bercahaya, dan sangat tampan. Dalam hatiku terbertik, “Kok ayah jadi keliharan lebih muda dari umurnya?” Mungkin itu suatu pertanda, namun tidak aku sadari. Beliaupun (ayah dan ibuku) mengantar kami sampai ke depan pintu mobil dan menasehati agar kami selalu sabar dan tabah dalam menjalani hidup.

Keesokan harinya kami baru sampai di Makassar pada jam 15.15 sore setelah menempuh lebih dari 13 jam perjalanan. Rasanya seperti mimpi, di depan rumah terlihat bendera putih (tanda dirumah itu ada yang meninggal), dan jalanan di depan rumah kami sudah penuh sesak dengan pelayat. Aku berharap ini hanya mimpi, namun ternyata bukan. Di dalam rumah, ayahku sudah terbungkus rapi dengan kain kafan dan siap untuk dimakamkan, hanya tinggal menunggu aku. Hanya 10 menit setelah kedatanganku ayah diantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Ayah meninggal di usia 64 tahun.

Sepulang dari pemakaman baru aku mengetahui kejadian yang sesungguhnya tentang proses meninggalnya ayahku. Hari itu, 13 November 2001 ayah masih ke kantor dan seperti biasa pulang jam 5 sore. Setelah itu beliau masih sempat membersihkan halaman rumah, menyiangi rumput di halaman rumah di Soroako. Saat itu ibuku sedang berada di Makassar mengantar adik bungsuku yang mau masuk Universitas. Jadi ayah tinggal hanya berdua dengan adikku yang laki2 yang baru saja bekerja di PT. INCO Soroako. Setelah membersihkan halaman, ayah mandi dan shalat Magrib berjamaah dengan adikku. Ayah sempat nonton TV dan menyelesaikan sisa pekerjaan di kantor. Setelah itu menyuruh adikku untuk pergi membeli makanan untuk makan malam. Pulang dari membeli makanan jam 20.15, adikku menatanya di meja makan. Setelah itu ia mengetuk kamar ayah memanggilnya untuk makan malam. Ternyata Ayah sedang shalat Isya, tak lama kemudian terdengar suara ayah mengaji dari dalam kamar. Jam 20.45 ayah keluar dari kamar dan mengajak adikku untuk makan bersama. Baru saja ayahku hendak memasukkan suapan yang kedua kedalam mulutnya, tiba2 beliau jatuh dari kursi makan, dan langsung tak sadarkan diri. Adikku panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Jarak antara rumah sakit dan rumah ayah sangat dekat, 10 menit sudah sampai. Namun sesampainya di rumah sakit dokter mengatakan bahwa Ayah sudah tidak ada, sudah meninggal dunia. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.

Proses kepergian Ayah begitu cepat, tidak ada yang menyangka secepat itu. Semasa hidupnya ayah tidak pernah mengeluh akan suatu penyakit. Paling hanya batuk-batuk dan flu biasa. Seingat aku, selama jadi anaknya, ayah tidak pernah masuk rumah sakit, dan amat sangat jarang ke dokter. Kata dokter penyebab kematian ayah adalah tekanan darahnya drop secara drastis. Itu menurut diagnosa dokter. Malam itu juga jenazah ayah dimandikan dan dishalatkan di Mesjid dekat rumah, dan jam 23.00 malam itu juga langsung dibawa ke Makassar (dari Soroako) dengan iring2an lebih dari 20 mobil. Tiba di Makassar keesokan harinya jam 11.00 siang.

Satu hal yang saya tarik dari hikmah kepergian ayah adalah, beliau tidak pernah mengeluh dan menyusahkan orang lain. Dimasa hidupnya beliau selalu berkata “Sedapat mungkin selesaikanlah sendiri seluruh pekerjaanmu tanpa menyusahkan orang lain.” Sehingga Allahpun memanggilnya dengan cara yang amat sangat indah, tanpa penderitaan penyakit yang berkepanjangan dan tanpa menyusahkan orang lain. Ayah terkenal sebagai sosok pekerja keras, mandiri dan taat beribadah. Ayah meninggalkan kami semua tanpa utang 1 rupiah pun, dan semuanya sudah beliau atur dalam surat wasiat yang sudah beliau siapkan jauh-jauh sebelumnya. Itu semua baru kami ketahui setelah ayah tiada.

Andai boleh aku bermohon pada Allah SWT, wafatkan lah aku senikmat Engkau mewafatkan Ayahku, tanpa penderitaan yang berkepanjangan, dan tanpa menyusahkan orang lain.

Ya Allah….. tempatkanlah Ayahku di tempat yang terindah disisiMu. Terimalah amal ibadahnya dan ampunilah dosa-dosanya, Amien.

  READ MORE >>   Ramadhan 2005


2 Comments on “Ayahku dalam memori”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Riri, semoga ayahandamu diampuni segala dosanya, dan kini dilimpahi rahmad di sisiNya. Amiin.

  2. Insya Allah…husnul khatimah. Amiin.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>