READ MORE >> Ramadhan 2005
11 Ramadhan
Oleh: Ponky Ivo
Indah…sungguh indah masa kecil itu. Aku ingat betapa semangatnya menjalankan puasa di waktu kecil karena iming-iming duit. Kalau ‘pol’ puasanya sebulan penuh, tentu mendapat uang yang lebih besar daripada puasa yang ada bolongnya. Dan rasa senang mendapat kado fulus itu, berbanding lurus dengan rasa bangga di hati jika orang bertanya, “Pol gak puasanya?”. Dengan mebusungkan dada, aku menjawab, “Iya dong.”
Semakin besar menjalankan ibadah yang satu ini, dikala rasa lapar dan haus sudah terkendalikan, masih terasa ada yang kurang. Apa ya? Ternyata puasa itu tidak sekedar memperlambatkan tempo kerja mesin pengolah makanan tubuh kita setahun sekali. Bukan hanya merasakan penderitaan kaum papa agar kita semakin sayang kepada mereka. Bukan hanya menghabiskan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan lantunan ayat-ayat suci untuk berlomba-lomba mengkhatamkan Al Quran tanpa mendalami apa yang tersirat di dalamnya. Dari semua itu yang paling berat menurutku adalah mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana aku dapat mengendalikannya sehingga membawa dampak positif sesudah Ramadhan. Bagaimana menahan mulut untuk tidak bergunjing, mengumpat atau sekedar mengatakan hal-hal yang menurutku brilian tapi menyakitkan hati orang yang mendengarnya. Bagaimana membersihkan hati, pikiran dan tenaga untuk fokus agar semua yang aku lakukan, lillahi ta’ala. Masih banyak hal-hal yang aku lakukan hanya untuk kesenangan pribadi semata atau hanya ingin orang lain mengakui keberadaanku. Berat nian…
Akh, Ramadhan…layakkah aku mendapat sajian istimewa dari Allah ini?
Terkadang aku berpikir, untuk apa Allah memberi semua nikmat kepadaku kalau aku sendiri tak mampu untuk mensyukurinya? Berikan saja kepada orang lain yang mampu mengemban amanat dengan nikmat yang Allah berikan. Beres.
Syahadan, aku pernah protes keras ke Allah karena Dia memberikan ujian yang aku gak sanggup menjalankannya. Ampyunnn deh…Jika hendak ditampung derai air mata yang aku keluarkan, mungkin sudah sejerigen. Saking kerasnya protes itu, aku memutuskan untuk tidak menjalankan shalat lima waktu. Untuk apa aku bersusah payah shalat sementara orang lain yang tidak menjalankannya saja Engkau masih kasih nikmat kepada mereka? Engkau tidak beri ujian ini kepada mereka. Aku merasa Allah gak adil. Niat busuk itu aku kemukakan ke orang-orang terdekatku. Mereka maklum dengan kondisiku yang sedang labil. Satu sobat cuma minta aku untuk bersabar dan istighfar. Sobat lainnya cuma memaklumi dan menahan diri untuk tidak terkesan menggurui. “Ujian ini hadiah, Ponk.” Hadiah kok pahit ginih? Hadiah apaan ini? Dari ceting yang gak jelas kemana arahnya, waktu shalat zhuhur sebentar lagi akan habis. Aku pamit shalat. Sobat ceting ku di seberang menggoda …”Katanya tadi gak mau shalat?” Aku cuma mesem-mesem gak jelas…Aje gile, ternyata gue masih butuh Allah taukkkk….
Hari-hari penuh “hadiah” aku jalani dengan setengah hati. Walaupun aku mengumpulkan ayat-ayat encouragement such as dibalik kesulitan ada kemudahan, Allah tidak akan memberikan ujian di luar kesanggupan kita, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan sebaliknya dan ayat-ayat lainnya deh, masih saja tersirat rasa iri kepada nasib orang lain yang lebih baik Ihh bete deh…sebel banget punya hati yang gak ikhlas ginih terima nasib. Rasanya aku berpikir sudah saatnya aku konsultasi ke ahli jiwa. Ingin rasanya membeli hati baru een kilo di Vish Markt. Hati yang bersih, bebas dari asap polusi ketidakikhlasan, dengki dan iri. Andai ada toko yang menjual hati-hati yang bersih…hati-hati di jalan….:P maunyaaaaa….
Well, emang gak ada pointnya ini diary. Cuma sekedar curhat bahwa BENAR BANGET point ayat-ayat suci yang aku sebut secara gak lengkap di atas. Kalau ingat peristiwa protes itu, aku jadi malu abis dengan Allah karena sempat berpikir Allah gak adil. Malu juga karena ternyata aku baru sadar bahwa aku perlu banyak belajar tentang kesabaran. Perlu banyak belajar untuk berpikir jernih mencari hikmah hidup. Mudah-mudahan di bulan penuh rahmat dan ampunan ini Allah maklum…dan tambah sayang sama aku (asal jangan sering-sering kasih “hadiah” ya Allah….hihihi…do’anya kok conditional sentence ginih
READ MORE >> Ramadhan 2005











yunia says:
Dari dulu aku tahu, kalau mbak ponky nulis pasti bagus. Mbakkkkkk..ambil jatahku aja mbak, jadi pak Ismail..nanti kalo giliran aku nulis…nah, InsyaAllah akan diisi mbak Ponky….hehehe:P
Ismail says:
Yunia…
Nehi..nehi.. Ini kan bukan antrian beras. hehehe.
hardjanto says:
Two thumbs up..
Tulisan PQ banyak memberikan nasihat buat saya. Terima kasih. Semoga lekas sembuh…
Buyung says:
Ga mungkin Ponqy ga bisa nulis, wong dia orang minang!
Aku senang baca tulisannya, terutama doa terakhirnya itu, he he he….
Mufti says:
PQ, dulu aku sering merasakan hal yang sama tatkala terkena musibah, tapi percayalah ” allah mempunyai rencana untuk memberikan hal yang lebih baik dari apa yang kita pikirkan”. ok..semoga lekas sembuh yach..!!
Agnes says:
Aduuh mbaak tulisannya lucu sekaligus mengharu biru deh
Abu Fathiya says:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Tulisan Pongky mengingatkan pada banyaknya pengalan-pengagalan hidup yang begitu nikmat untuk ditelusuri dan diambil pelajaran darinya.
Mas Ismail, kayaknya pongky di kasih jadwal beberapa kali nih di diary-nya, he,he..
Wassalam
Ismail says:
Bang Fahmi dan PQ,
Jadwal yang saya buat itu bukan jadwal pasti. Boleh diikuti, boleh tidak. Lha namanya ibadah itu kan ndak boleh dijadwal sama manusia. Jadi, silahkan bagi siapapun yg ingin mengirim diary, langsung aja tidak perlu tergantung jadwal.
mia says:
Ya udah … diary nya Pongky biar dipilemkan aja untuk ngalahin Bridget Jones’ diary.