READ MORE >>   Dokumentasi

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di suplemen iptek Pikiran Rakyat, Cakrawala, lewat artikel “Tak “Cengeng” Saat Kupas Bawang.

Beberapa hari yang lalu saya minjem bawang ke tetangga… bawangnya bukan bawang bombai yang biasanya saya pakai di Belanda ini, melainkan bawang yang biasa kita pakai di Indonesia: kecil, bulet, dan kulitnya tebal (haha, di mana-mana bawang itu kulit semua.) Entah darimana bawang itu dia dapat, yang jelas saya senang sekali.

Akhirnya saya kupaslah bawang itu, tentu saja tidak lupa sambil berurai air mata dan ditambah ingus. Benar-benar nangis dech…

Kemudian pertanyaan lama itu muncul. Kenapa kita menangis saat mengiris bawang? Apakah benar air mata dari tangisan itu bagus buat mata? Dan bisakah memotong bawang tanpa menangis?

Semua pertanyaan itu, seperti biasa, terjawab kalau kita mengerti bagaimana bawang bisa membuat kita menangis saat mengirisnya.

Mengiris Bawang Tanpa Menangis

Sebenarnya menangis karena memotong bawang bisa menyehatkan mata. Beberapa pakar percaya bahwa air mata yang keluar karena rangsangan hawa bawang membersihkan mata dan kelopaknya dari debu dan kuman. Ini membuat mata bening dan berbinar. Menangis karena mengiris bawang juga mengurangi efek “merah-merah” pada mata, yang biasanya diakibatkan oleh polusi udara, keseringan begadang, terlalu lama kena radiasi dari monitor tv/komputer, atau juga karena faktor usia.

Namun sebenarnya, tangisan oleh bawang itu adalah akibat iritasi. Jadi kalau terlalu banyak justru tidak sehat. Mari kita lihat, bagaimana mengiris bawang memancing kita menangis.

Bagaimana hawa bawang membuat kita menangis?

Sel-sel kulit bawang terdiri dari dua bagian, satu mengandung enzim alinase (allinases), dan yang lainnya enzim sulfida (sulfides). Sat bawang diiris, sel tersebut pecah dan dua enzim tersebut lepas ke udara. Di udara enzim alinase menguraikan enzim sulfida menjadi asam sulfonat (SHSO3)

Asam sulfida termasuk senyawa yang tidak stabil, dia segera berubah menjadi gas asam sulfoksida amino. Gas inilah yang mengenai mata kita dan bereaksi dengan cairan di retina mata, menghasilkan asam sulfur lunak. Asam sulfur lunak ini mengakibatkan iritasi pada syaraf retina mata. Iritasi ini membuat mata kita terasa pedih, dan air matapun keluar sebagai respons untuk mengurangi iritasi tersebut.

Yang menarik, enzim yang sama itulah yang memberi rasa khas pada bawang.

Bagaimana tidak menangis saat mengiris bawang?

Seperti yang sudah diuraikan di atas, tangisan akibat bawang adalah karena iritasi. Air mata yang keluar memang bagus untuk membersihkan mata, tapi iritasi terlalu lama justru tidak sehat lagi untuk mata. Jadi yang harus dicegah adalah iritasi yang berlebihan, bukan air mata yang keluar.

Inilah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata dari bawang.

  1. Tindakan yang paling gampang adalah menjaga jarak mata dengan bawang saat dikupas. Semakin jauh jaraknya, semakin berkurang gas asam sulfoksida amino sampai ke mata.
  2. Basahi tangan dan bawang sebelum mengiris bawang. Ini membuat sebagian gas asam sulfoksida amino tersebut bereaksi dengan air yang membasahi bawang dan tangan kita. Membahasi wajah juga membantu mengurangi iritasi tersebut.
  3. Bernapaslah berlahan-lahan, sekali-kali dengan mulut. Bernapas cepat dan dari hidung mempercepat gas asam sulfoksida amino sampai di mata. Beberapa orang mengigit roti saat mengiris bawang, sehingga aliran udara ke hidung tidak mempercepat asam sulfoksida amino sampai ke mata, disamping itu roti menyerap gas tersebut.
  4. Kupaslah lapisan kulit terluar bawang, dan dinginkan beberapa menit dalam kulkas. Temperatur yang rendah mengurangi reaktif enzim alinase dan sulfida.
  5. Hindari mengucek mata saat terasa pedih, karena hanya akan menambah iritasi. Kalau terpaksa harus mengucek, bersihkan tangan dan sirami mata dengan air. Kalau dirasa tidak cukup, bersihkan pakai sabun dengan hati-hati.

Demikianlah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata saat mengiris bawang. Anda bisa memilih tip mana yang dirasa cocok.

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba.

  READ MORE >>   Dokumentasi


7 Comments on “Bawang dan Tangisan”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. Menarik juga tulisan tentang bawang ini, terutama untuk perempuan / ibu yang sering memasak di rumah.

    Mengenai bawang, banyak pendapat mengatakan sering mengkonsumsi bawang akan mengakibatkan bau badan. Gak terlalu yakin apakah itu benar, mungkin Buyung bisa menerangkan…?
    Kalau benar, berarti ada fenomena yang tekait enzim yang dikandung oleh bawang.

    BTW, sering kita salah kaprah memakai kata ‘pinjam’. ‘Pinjam’ berarti memakai sementara barang kepunyaan orang lain dan kemudian mengembalikannya dalam keadaan utuh di lain waktu. Nah’, apakah bawang yang dipinjam buyung dari seseorang dalam tulisan di atas dikembalikan dalam keadaan utuh kepada pemilik asalnya ?….:p

  2. Haha… sialan! Balikin dong, tapi tentunya bukan dengan bawang yang sama, melainkan dengan penjelasan proses menangis tersebut, dan kasih dia beberapa tips untuk tidak menangis saat mengiris bawang.

    Namanya juga ekspiremen, butuh modal dong :p

    Soal bau badan… aku juga pernah dengar, tapi ya… aku belum tertarik banget “meneliti” itu. Yah, itulah penyakit tukang main, cuma senang ama mainan yang dia suka aja. Mainan2 lain, yang walau dah diobral murah, kalau emang dia ga tertarik, ya lewat aja… ^^

  3. Yung, kalau dicampur minyak goreng bisa meredam ndak?

  4. Hm, ini a) pertanyaan, b) nguji, c) dll. nich?

  5. Kalau tidak mau dianggap pertanyaan, gampang: jangan hanya dicampur minyak goreng, sekalian kecap, sambal pedas, dan telor ceplok. Dijamin meredam semua keinginan bertanya.

  6. Iya, perut lapar membuat seseorang kreativ, inovativ, kritis, dan juga meningkatkan semangat juang mempertahankan ideologi.

    Jadi benar juga teori “minyak goreng + kecap +sambel + telor + bawang” akan meredam semua keinginan bertanya…

    Tip yang penting bagi para pemimpin bangsa: manjakan ummat kalau ingin melanggengkan kekuasaan :p

  7. Nah, pertanyaanku itu pertanyaan menguji. Aku sudah eksperimen di rumah, dan mau dibandingkan hasilnya dengan analisamu.

    So gimana?

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>