READ MORE >> Renungan & Hikmah
Apa rahasia kekuatan do’a? Apakah do’a betul-betul dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik? Pada prinsipnya, setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun cara terkabulkannya do’a ada empat macam. Pertama, kontan. Yaitu langsung dikabulkan saat itu juga. Kedua, ditangguhkan. Yaitu diberikan nanti pada saat yang tepat dan pada saat orang yang berdo’a tersebut masih hidup di dunia. Yang ketiga diberikan separuh di dunia dan separuh di akhirat. Yang dimaksud separuh itu bisa fifty-fifty dan bisa juga forty-sixty, terserah yang mengabulkan. Yang keempat diberikan semuanya setelah orang yang berdo’a tersebut meninggal alias diberikan di akhirat.
Kenapa do’a tidak diberikan kontan saja? Ada alasannya. Coba bayangkan kalo semua orang di kota Bandung berdo’a untuk diberikan mobil. Maka sesuai dengan jumlah penduduk kota Bandung yang berjumlah kira-kira sekitar 2 juta orang, maka akan turun sekaligus mobil sebanyak 2 juta buah. Jalanan di kota Bandung akan macet dan padat. Maka satu-satunya jalan adalah tidak semua do’a akan dikabulkan dengan sifat kontan karena hanya akan merusak keseimbangan dan keharmonisan di dunia saja. Ingat bahwa Tuhan adalah pemelihara alam ini yang selalu senantiasa menjaga keseimbangan dan keharmonisannya. Tidak akan ada daun jatuh sehelai pun tanpa seizin-Nya. Semua yang terjadi di alam ini sudah terjadi sesuai dengan kehendak-Nya dan seizin-Nya.
Memang kadang-kadang kita mengeluh karena do’a yang kita panjatkan tidak pernah Beliau berikan. Namun Tuhan Maha Tahu. Mungkin di mata kita, bisa jadi sesuatu itu baik sedangkan di mata Tuhan hal tersebut tidak baik. Dan begitu pun sebaliknya. Siapa yang bisa lebih tau daripada Tuhan? Kita sebagai manusia yang punya sangat banyak keterbatasan tentu tidak tahu apa rencana yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita. Dan yang lebih baik pandangan dan juga rencananya adalah tentu pandangan Tuhan dan rencana Tuhan. Karena apa yang selalu kita rencanakan belum tentu semua itu dapat terjadi, tapi rencana Tuhan pasti terjadi.
Do’a bisa juga menjadi pengubah takdir kita. Mungkin yang tadinya kita ditakdirkan miskin maka setelah berdo’a, JREG!!!, datanglah surat kontrak terbaru untuk kita karena do’a kita. Maka mintalah do’a untuk supaya mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena ada contoh yang memperlihatkan ada orang yang selalu berbuat baik semasa hidupnya namun meninggal dalam keadaan suul khatimah. Dan jangan pula merasa tidak enak karena banyak sekali permintaan kepada Tuhan. Memang kalo manusia diminta terus-terusan oleh temannya maka akan marah. Tapi Tuhan tidak. Semakin banyak do’a manusia kepadaNya maka semakin senang Beliau kepada kita.
Apakah ada yang lebih utama daripada kekuatan do’a? Ada, yaitu kekuatan dzikir. Sesungguhnya dzikir adalah lebih utama daripada do’a. Dzikir astagfirullah sesungguhnya bisa menghapus do’a dan meningkatkan derajat kita, memberikan kemudahan di saat kesempitan dan datangnya rizqi di saat yang tidak terduga-duga. Rasulullah pun setiap harinya tidak pernah ketinggalan membaca astagfirullah padahal beliau adalah manusia yang dimaksum oleh Tuhan sehingga tidak akan melakukan dosa/kesalahan. Dan yang terakhir adalah kekuatan ikhtiar. Dengan ikhtiar maka kehidupan kita akan berubah. Ini sudah pasti akan mudah diterima oleh akal pikiran kita karena banyak orang yang hanya ahli ikhtiar saja, kehidupannya sangat baik. Ini sangat banyak terjadi dimana-mana di belahan dunia ini.
Dengan menggabungkan tiga kekuatan yang telah saya sebutkan di atas, yaitu kekuatan do’a, kekuatan dzikir dan kekuatan ikhtiar, maka sudah komplitlah senjata yang kita miliki. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan teori mudah di atas ini menjadi aplikasi sehari-hari sehingga kita bisa menjadi ahli di tiga bidang tersebut.
READ MORE >> Renungan & Hikmah











Siti says:
Saya bukan mau mengomentari tulisan ini, tulisan ini sudah cukup bagus. Sebagai orang yang minim ilmu saya hanya ingin bertanya. Barang kali bisa memecahkan masalah saya. Pertanyaannya adalah : Bagaimana menyikapi sebuah do’a yang kita anggap dikabulkan-Nya tapi pada waktu kita tidak lagi mengharapkannya.
Untuk lebih jelasnya saya akan berikan contoh, misalnya saya berdo’a memohon kepada Allah untuk menjodohkan saya dengan Si A. Di mata saya Si A adalah yang pilihan yang terbaik. Agar do’a ini dikabulkan saya pun sering zikir dan tahajjud. Usaha pendekatan dengan Si A pun dilakukan.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, namun do’a tersebut tak juga dikabulkan. Akhirnya saya pasrah dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Dengan sendirinya keinginan untuk berjodoh dengan Si A pun sirna. Pada saat itu saya berpikir mungkin ini adalah kehendak-Nya, dan Dia punya rencana lain buat saya.
Setelah beberapa waktu kemudian saya menemukan sosok yang lebih baik dari Si A, yaitu si B. Kembali saya memohon kepada-Nya supaya berjodoh dengan Si B. Tahajjud dan zikir saya lakukan supaya usaha pendekatan saya terhadap Si B berhasil.
Ketika saya sedang melakukan usaha pendekatan dengan Si B, tiba-tiba Si A ‘mendekati’ saya. Jika ini adalah jawaban Allah atas do’a yang pernah saya panjatkan dahulu, apa yang harus saya lakukan? Padahal sekarang saya mengharapkan Si B dan tidak lagi mengharap Si A. Bagaimana saya menyikapi do’a yang dikabulkan disaat saya tidak lagi mengharapkannya?
Saya tau ada rahasia Illahi disebalik ini semua, tapi saya tidak bisa menjawab teka-teki itu. Barang kali ada yang bisa menjawabnya ?
Terima kasih.
Ratna says:
Buat mb Siti, sebenarnya menurut saya kalau kita berdo’a dan berdzikir kepada Allah hendaknya meluruskan niat saja. Allah lebih mengatahui apa yang paling baik bagi hambaNya. Di salah satu ayat Al Qur’an disebutkan, “…dan janganlah engkau berdo’a tentang sesuatu hal yang engkau tidak tahu hakekatnya”, kok Anda kayaknya tau banget si, kalo si A itu baik banget untuk Anda lalu Anda maksa- maksa Allah buat mengabulkan, lalu ketika sepertinya Anda “pasrah” atau (wah do’a ku kok gak direspon sama Allah) lalu Anda pdkt sama si B dan berdo’a lagi. Ya mungkin bagi kita yang masih “biasa-biasa” aja mungkin kita berpikir bahwa do’a kita itu udah yang terbaik dan sepertiNya Allah harus mengabulkan, sementara saya pernah baca buku sufi, orang - orang sufi apa yang dilakukan semua ikhlas kepada Allah dan gak banyak minta macem - macem, tapi Allah melimpahi mereka dengan berbagai hal. Mereka tetap zuhud, tidak menyombongkan diri, dan selalu berlaku tawadhu di hadapan Allah. Menurut saya sebaiknya kita lebih banyak mehasabah dulu (menghitung- hitung dosa dan kesalahan kita)daripada kita berdo’a yang sepertinya brsifat memaksa. Bila sudah waktunya Allah akan memberi kitayang terbaik menurut kehendakNya karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang, okey. Salam
sapta priyantama says:
Hanya Allah yang tahu mana yan terbaik bagi kita. mungkin kita menganggap sesuatu itu adalah yag terbaik buat kita untuk sekarang tapi belum tentu menurut Allah baik untu masa akan datang, begitu pula dengan sebaliknya. tapi ingat kita harus positif thingking terhadap segala kepustusan Allah,kita hanya menyempurnakan ikhtiar. masih besar sayang Allah kapada kita daipada sesayang- sayangnya kita pada diri kita sendiri. Saran saya buat buat mbak siti agar memohon petunjuk Allah melalui sholat istikharah. insyaalah Allha mengkaruniakan suatu anugrah buat mbak. Perbanyaklah Sholawat dan istighfar semoga lebih bisa menghapusa dosa dan menentramkan jiwa. Salam : SAPTA PRIYANTAMA