READ MORE >>   Dokumentasi

“Menurut kau cemana, cantik ngga dia?”

“Hm, kaya sih iya. Tapi kalau cantik… hmm, relatif sih!”

Dialog itu sering kali kita temui, terutama kalau lagi curhat. Ukuran-ukuran yang susah dikuantitaskan (atau lebih bersifat kualitas, seperti ganteng, baik, cemburu) biasa sering disebut “relatif” terhadap lain. “Aturannya”: harus ada pembanding untuk menilai atau mengukur sesuatu

Suatu kali, saya bertanya pada seorang teman yang hobi berdiskusi, dia rajin membaca ini-itu.

“Lho, kenapa harus ada pembanding sih?”

“Ya iya dong, kan begitu sesuai dengan “prinsip pengukuran”. Kau gimana, katanya alumni FT!”

(Di Fisika Teknik, kuliah Prinsip Pengukuran adalah salah satu kuliah inti – ibarat kuliah Elektromagnetik di Elektro, atau Kesetimbangan Benda Tegar di Sipil – nyawa dari inti jurusan itu.)

“Masak sih?”

“IYE!, cerewet!”

Ga ada yang tahu persis dari mana itu aturan datang. Rene Descartes (1596 – 1650, Prancis), disebut juga pendiri filosofi modern dan bapak matematika modern (karyanya yang abadi dipakai adalah “koordinat kartesius”,) pernah memakai logika yang mirip ketika mencoba membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

“Cogito, ergo sum – saya berpikir, oleh karena itu ini saya”, begitu Descartes memulainya. “Ada sesuatu yang tidak diragukan. Saya hanya bisa membayangkan sebuah pemikiran yang cacat, karena kecacatan itu dapat dimengerti dengan merujuk pada pemikiran yang sempurna. Jadi, sesuatu yang tidak diragukan tadi benar-benar ada”.

Dengan memakai “aturan” itu Descartes mengantarkan kita, secara filosofi, pada kesimpulan: sesuatu yang sempurna itu benar-benar ada, karena dengan itulah kita tahu mana benar dan mana salah.

Prinsip Pengkuran yang di FT itu juga mirip-mirip. Kalau mau mengukur sebuah besaran, maka butuh sebuah satuan. Atau bisa juga dibalik, sebuah satuan bisa di”kalibrasi” atau di”normalisasi” mengikuti besaran. Geen problemo, inversito iso-iso sajo (maksudnya: tidak masalah, inversi atau pembalikan itu sah dilakukan.) Besaran dan satuan saling menjadi pembanding satu sama lain.

Memilih pembanding harus pas, ketika ngukur berat Apel, kurang bagus kalau panjang jari Aik sebagai satuannya. Begitu juga saat ingin mengetahui berat badan bang Spiderman, terlalu rumit untuk memakai kecepatan download internet dari rumahnya sebagai satuannya. (Walau sebenarnya, percaya atau tidak, apapun satuan yang dipilih masih bisa bekerja di seluruh hukum Fisika! Berterima kasih pada “Hukum Kekekalan Energi-momentum”.)

Tapi sebenarnya, kita bisa mengerti sesuatu, memahami atau menilai sesuatu tanpa perlu si pembanding itu. Kenyataannya, inilah prinsip pertama kerja sains!

“HA?? Pigimane bise,” kata temanku tadi itu.

Sains ada untuk memahami fenomena alam (apapun defenisi yang anda berikan, esensinya tidak akan jauh-jauh dari itu). Tak terhingga banyaknya fenomena baik kasat mata maupun tidak di semesta ini. Tapi kita cukup cerdik, kita tidak perlu harus memperhatikan semua fenomena itu, trus dipelajar. Ga perlu. (Bayangkan dengan cara demikian, maka semua saintis di Bumi akan habis karena memperhatikan fenomena yang jumlahnya lebih banyak dari umamt manusia di Bumi, ditambah makhluk lainnya berupa jin, hantu genduruwo, dan Martian dari Mars.) Kita cukup memprediksi!

Prediksi. Ya, prediksi. Dengan kata lain, kita bangun sebuah teori, dan kita prediksi fenomena itu dari teori tersebut.

Untuk itu, kita butuh tahu mekanisme bagaimana fenomena itu tercipta.

Semua kita mengetahui, bahwa dari dapur Itob bisa keluar berbagai macam masakan enak. Dari opor ayam, tiramitsu, gulai kepala ikan, rendang, (wah, enak sekali – saya jadi lapar seketika), bahkan kadang bisa menghasilkan obrolan-obrolan menarik. Opor ayam, kepala ikan dan kawan-kawannya ini adalah fenomena, dan dapur Itob adalah mekanisme.

Kita tidak perlu menyelidiki kepala ikan, atau opor ayam untuk melengkapi daftar ilmu di perpustakaan, karena tidak akan pernah tuntas. Tapi pergilah ke dapur Itob, selidiki apa yang terjadi di sana, pahami bagaimana pisau bekerja, api memanggang, racikan bumbu-bumbu, serta segala tetek-bengeknya, maka niscaya kita sudah mengerti semua masakan yang dihasilkan dapur Itob tanpa perlu menyelidiki satu persatu fenomena itu. Malah, kita bisa memprediksi makanan-makanan apa saja yang bisa dilahirkan dari dapur Itob.

Namun, dalam sains, “dapur Itob” ini tidak gampang untuk ditemukan. Misalnya, Einstein butuh 20 tahun untuk menguak “dapur” fenomena grafitasi (dan ketahuilah, inilah proses pencarian dapur fundamental tercepat yang pernah dilakukan kalangan jin dan manusia). Banyak kesulitan dan kendala, sebutlah misalnya: kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya mekanisme itu terjadi.

Seperti yang saya sebut tadi, kita ini memang cerdik. Untuk mengatasi masalah ini, kita melakukan sebuah trik: approximation, atau sebuah pendekatan. Kita membangun asumsi, kita anggap “kalau begini-begini-begini, maka begitu-begitu-begitu”. Dan lihatlah hasilnya: sudah berpuluh-puluh kali pesawat ruang angkasa bolak-balik Bumi-Bulan dan sekarang Mars, atau kita asik berkomunikasi cepat lewat internet, atau Amerika asik ngebom Irak dan Afganistan. Fisika kita, yang berdampak pada semua teknologi yang kita kembangkan, semuanya dibangun berdasarkan asumsi. Mengerikan!

Jadi, prinsip pertama kerja sains dalam menguak mekanisme alam bekerja adalah: pendekatan dengan asumsi. Kalau ditengah-tengah proses adanya adjustment dengan hasil eksperimen, itu kemudian menjadi bagian dari penyempurnaan teori, bukan hal pertama yang dilakukan orang.

Descartes tidak akan bisa menemukan Tuhan dalam Sains dengan cara seperti itu (selain itu sains itu sendiri adalah bagian dari manifesto Tuhan). Dan anda, ya anda, jangan “sok-sok insinyur” lagi kalau dimintai pendapat soal kecantikan atau kebaikan seseorang. (Jangan salahkan para insinyur, mereka “terbelengu” dengan Prinsip Pengukuran itu. Sementara kita kan orang merdeka.) Besaran kualitatif ini tetap bisa bernilai tanpa perlu ada pembanding!

“Jadi, cem mana, cantik ga dia?”

“Ya, cantik, buktinya kau suka!

Info
Bacaan yang menarik lainnya tentang Relativitas:

  READ MORE >>   Dokumentasi


No Comments on “Relatif…(v)itas!”

You can track this conversation through its atom feed.

No one has commented on this entry yet.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>