READ MORE >>   Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.

  READ MORE >>   Renungan & Hikmah


18 Comments on “Rasulullah Membenci Poligami”

You can track this conversation through its atom feed.

  1. December 14th, 2004 at 2:22 am
    khomaini hasan says:

    Poligami adalah sunnah…….dan sesungguhnya kaum wanuita itu lebih lemah dari pada pria, tapi kepada kaum wanita, sesungguhnya kelemahan yang diciptakan oleh ALLOH terhadapmu adalah bentuk kasih sayang-Nya…renungkanlah.
    Untuk hadist tentang Ali bin Abi Tholib, mohon dicek lagi, sejauh saya tahu, redaksi yang diungkapkan tidak menunjukkan bahwa beliau membenci poligami….tolong dicek lagi, jangan memutar balikkan hukum. Sesungguhnya Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang hukum asal dari menikah adalah poligami. Oleh karena itu di Al-Qur’an kita diperintahkan untuk menikahi kaum wanita 2, 3 atau 4, mengapa tidak diawali dengan 1 ????
    Sesungguhnya, suami anda diketahui oleh lingkungan bahwa beliau berpoligami itu adalah jauh-jauh lebih baik daripada suami anda diketahui memiliki hubungan selingkuh (tanpa ikatan) dengan wanita lain….
    Kepada kaum wanita renungkanlah

  2. Apa yang dimaksud kitab kuno ( apakah Al-Qur’an termasuk kedalamnya)? dan bukankah Al-Qur’an termasuk kalamulloh yang telah di tulis?… dan apakah yang tertulis di Al-Qur’an ada yang mendeskriditkan wanita??? dan apakah anda yakin bahwa poligami menindas perempuan??? renungkanlah kembali.

  3. Materi ini juga dibahas di
    http://groups.yahoo.com/group/deGromiest/message/4482

    Barangkali dapat dijadikan rujukan diskusi.

  4. bagi anda para pria mungkin mudah ‘menghalalkan’ poligami dengan berbagai dalil ini dan itu.
    saya sendiri bukan orang yang ahli menganai hadist dll, tp sebagai seorang perempuan saya tidak rela dn sangat skit hati seandainya suami saya nanti melakukan poligami.
    dan saya yakin pada hakikatnya semua perempuan di dunia ini akan merasakan seperti itu, meskipun pada akhirnya banyak wanita yang terpaksa menyetujui poligami.
    jadi bagi anda para pria, tegakah anda menyakiti hati seorang wanita?
    Bagaimana bila wanita itu adalh IBU anda?
    Mohon direnungkan, terima kasih…

  5. ass, yg saya tahu hadits ttg Rasulullah menolak Ali Bin Abi Tholib untuk berpoligami karena yang akan dinikahi oleh Ali adalah putri dari Abu Jahal,jadi Rasul tidak rela apabila putrinya disamakan kedudukannya dengan anak orang yang telah nyata memusuhi Islam. Mohon apabila antum mau menghukumi suatu fakta jangan hanya melihat 1 hadits saja tanpa diperkuat dg hadits yang lainnya.sukron

  6. March 27th, 2009 at 2:59 am
    tony krg. says:

    Bagi yg penasaran sama poligami kenapa ngak coba aja dulu….!!?. Setelah itu baru kasih komentar…jadi apa2 yg akan dikomentari ada dasar pengalamannya. Ini kawin aja blm…udah ngasih komentar yg macem2. Nggak prof itu!

  7. Kajiannya thn 2005,komennya thn 2009,hehe. Gak bs bayangin kalo ayahku merid lg,cih. Pasti ali bin abi thalib g cm ditaksir sm anak abu jahal. Pasti bny yg naksir sm beliau. Kalo emang g boleh merid sm anak abu jahal,knp g merid sm yg lain yg lbh bagus nasabnya? Sapa sih yg bakal nolak? … Bg Anda yg sangat pro poligami ato yg tdk,mari saling menghormati,jalani yg menentramkan hati aja deh. :-D

  8. Kalo sy,trmsk yg pro kalo bener2 kepepet. Krn klo byangin ibu sendiri dimadu,gak rela boo’!!!
    Satu istri aja g habis2,anak2 kacau kesana kemari,udah mau nambah,???

  9. Aku bknlah ahli Qurán ato hadits ato sunnah ato apalah. Aku hylah manusia biasa yg punya perasaan. Sbg perempuan biasa (Bukan Aisyah a.s or fatimah). Aku tak mampu dan tak kuat berbagi hati/idup ma wanita lain, apalagi mo berbagi kasih syg ma anak2ku. Ku tak sudi tetapi kalo ngeliat ke sisi lain, suami berselingkuh, maka kublg, suamiku blh menikah dgn wanita lain, aku ikhlas tp dgn syarat; anak dan gajinya buatku ;-), istri kedua ato ketiga blh miliki dirinya :-)

  10. aslmkm mbak…!saya sdh membaca artikel mbak tentang bab poligami…!dengan mbak menyebar artikel tu berarti mbak lbh mendpnkan akal pikiran mbak drpada qur’an sunah.apalgi dng judul rosul membenci poligami bg umatnya.tu kebhngan besar…!perlu mbak ketahui mmng sewktu ali bin abi tholib meminta izin utk menikahi lgi rosul bnr2 melarang dngn tegas.tp itu itu hny berlaku bg fatimah n ali saja.lantaran fatimah anak rosul,n rosul tidak mau dlm rumah tangga anaknya ada anak seorang musuh alloh abu jahal,…!rosul tidak pernah menghrmkan apa yg dihalalkan oleh alloh begt sebaliknya,sebaiknya mbak kaji lagi hadist2 lain.jng cm mengkaji bukunya orang barat.klo pendpt orang yahudi nasrani pasti itu sebuah pelecehan terhdp kaum wanita.mbak pengikut mereka ato rosul??

  11. Assalamu ‘alaikum…..
    sbg sOrag yg awam….
    Q ngrasa bingung dg berbagai artikel yg mgkaji hal yg sama tp entah np beda argumen….
    tu dikhawatirkan dpt mnimbulkan pemikiran yg salah bwt org2 awam sperti salah…
    yg pasti…
    Q senantiasa merangkak tuk mncari kebenaran yg sejati…
    kebenaran yg bener2 haqiqi…
    ada G yah forum diskusi untuk mengkaji kitab-kitab Allah secara OL….
    jd Qt bs saling share….
    Trima kasih…
    Wassalamu ‘alaikum Wr Wb.

  12. Poligami tidak dilarangdalam Islam. dan Itu dibatasi maksimal 4 orang Istri. dan Pologami boleh dilakukan jika istri pertama itu setuju.
    daripada selingkuh (istri pertama tidak tahu), nafkah bisa berat sebelah dan dosa mending berpoligami. sudah halal (tidak dosa),istri pertama tahu, nafkah adil bagi sang istri (krn jika berpoligami maka harus bisa berbuat adil).
    Sungguh Allah itu Maha Adil.
    Kalau anda tidak suka/senang suami anda berpoligami, jgn salahkan poligaminya atau menganggap poligami itu salah.
    ngobrollah dengan suami anda baik2…
    jelaz2 poligami harus dengan izin istri pertama.

  13. kok judulnya Rasulullah Membenci Poligami??? sadar gak nulis ni??? Rasulullah adalah utusan Allah SWT.. Seorang Nabi dan Rasul Akhir Zaman.
    Masak Seorang Nabi dan Rasul yang notabene utusan Allah SWT membenci hal yang dia lakukan???
    Rasulullah membenci minuman Khmar (Arak/Minuman Beralkohol) dan diatidak meminumnya.
    Nah, dia berpoligami dengan janda2 korban perang dsb dengan tujuan mengangkat derajat wanita itu sendiri masak dia membenci apa yang dia lakukan??
    Kalau anda mengedapankan akal / logika tentunya secara Logika, Tulisan anda Absurt (tdk jelaz)dan salah.

    Sekali saya katakan ya.. sebelum orang itu berpoligami (Dalam Islam) yang pertama yang harus dilakukan :
    1. mendapat izin dari istrinya yg sah.
    2. mampu berbuat adil. adil secara lahir dan batin.
    3. mampu memberi nafkah dan tidak menelantarkan anak2nya.

    Nah, klo poligami ala barat atau ala hutan rimba ya monggo anda2 sekalian protes atau tidak setuju.

    Makanya tho, anda2 yang kurang jelaz, coba dulu sekolahnya di pesantren, madrasah atau sekolah islam terpadu. jgn sekolah di sekolah umum yang cara berpikirnya ya umum (ngikut kata orang banyak). semua bilang A ngikut bilang A. ya bisanya cuma yang umum2 saja. dan jadi orang banyak2 baca buku. jgn cuma 1 referensi doank. wah payah…

    Coba yang nulis artikelnya ini aku mnt data dirinya utk aku undang diskusi. silahkan e-mail ke : fareedhperdana@yahoo.co.id atau klik http://www.hmimpofeuii.org

  14. HIKMAH-HIKMAH POLIGAMI DALAM ISLAM
    Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Keharusan berpoligami ini mempunyai hikmah-hikmah untuk kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah;
    1. Bahawa wanita itu mempunyai tiga halangan iaitu haid, nifas dan keadaan yang belum betul-betul sihat selepas melahirkan. Jadi, dalam keadaan begini, Islam mengharuskan berpoligami sampai empat orang isteri dengan tujuan kalau tiap-tiap isteri ada yang haid, ada yang nifas dan ada pula yang masih sakit sehabis nifas, maka masih ada satu lagi yang bebas. Dengan demikian dapatlah menyelamatkan suami daripada terjerumus ke jurang perzinaan pada saat-saat isteri berhalangan.
    2. Untuk mendapatkan keturunan kerana isteri mandul tidak dapat melahirkan anak. Atau kerana isteri sudah terlalu tua dan sudah putus haidnya. Dalam pemilihan bakal isteri, Islam menyukai wanita yang dapat melahirkan keturunan daripada yang mandul, walaupun sifat-sifat jasmaniahnya lebih menarik. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang bermaksud, “Perempuan hitam yang mempunyai benih lebih baik dari wanita-wanita cantik yang mandul.”
    3. Bahawa kaum lelaki itu mempunyai daya kemampuan seks yang berbeza-beza. Andaikan suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isteri tidak dapat mengimbanginya atau sakit dan masa haidnya terlalu lama, maka poligami adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari jatuh ke lembah perzinaan.
    4. Dengan poligami diharapkan agar dapat terhindar dari terjadinya perceraian kerana isteri mandul, sakit atau sudah terlalu tua.
    5. Akibat peperangan yang biasanya melibatkan kaum lelaki, maka jumlah wanita akan lebih banyak baik mereka itu masih gadis mahupun janda.Dengan adanya poligami diharapkan janda-janda akibat peperangan itu dapat diselamatkan serta diberi perlindungan yang sempurna. Begitu juga untuk menghindari banyaknya jumlah gadis-gadis tua yang tidak dapat merasakan hidup berumahtangga dan berkeluarga.
    6. Kerana banyaknya kaum telaki yang berhijrah pergi merantau untuk mencari rezeki. Di perantauan, mereka mungkin kesepian baik ketika sihat mahu pun sakit. Maka dalam saat-saat begini lebih baik berpoligami daripada si suami mengadakan hubungan secara tidak sah dengan wanita lain.
    7. Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan serta kebuasan nafsu kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Andaikan poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani satu tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayan sebagai isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
    8. Untuk menghindari kelahiran anak-anak yang tidak sah agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin sifat kemuliaan umat Islam. Anak luar nikah mempunyai hukum yang berbeza dari anak yang dari pernikahan yang sah. Jika gejala ini dibiarkan berleluasa dan tidak ditangani dengan hati-hati ia akan bakal menghancurkan umat Islam dan merosakkan fungsi pernikahan itu sendiri.
    Dengan keterangan-keterangan di atas, jelaslah poligami yang diharuskan dalam Islam bukanlah untuk memenuhi nafsu seks sahaja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang mudah akan syarat-syarat yang dikenakan pada suami yang beristeri banyak. Sebab itulah bagi mereka secara tegas Allah (SWT)
    HIKMAH-HIKMAH POLIGAMI DALAM ISLAM
    Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Keharusan berpoligami ini mempunyai hikmah-hikmah untuk kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah;
    1. Bahawa wanita itu mempunyai tiga halangan iaitu haid, nifas dan keadaan yang belum betul-betul sihat selepas melahirkan. Jadi, dalam keadaan begini, Islam mengharuskan berpoligami sampai empat orang isteri dengan tujuan kalau tiap-tiap isteri ada yang haid, ada yang nifas dan ada pula yang masih sakit sehabis nifas, maka masih ada satu lagi yang bebas. Dengan demikian dapatlah menyelamatkan suami daripada terjerumus ke jurang perzinaan pada saat-saat isteri berhalangan.
    2. Untuk mendapatkan keturunan kerana isteri mandul tidak dapat melahirkan anak. Atau kerana isteri sudah terlalu tua dan sudah putus haidnya. Dalam pemilihan bakal isteri, Islam menyukai wanita yang dapat melahirkan keturunan daripada yang mandul, walaupun sifat-sifat jasmaniahnya lebih menarik. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang bermaksud, “Perempuan hitam yang mempunyai benih lebih baik dari wanita-wanita cantik yang mandul.”
    3. Bahawa kaum lelaki itu mempunyai daya kemampuan seks yang berbeza-beza. Andaikan suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isteri tidak dapat mengimbanginya atau sakit dan masa haidnya terlalu lama, maka poligami adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari jatuh ke lembah perzinaan.
    4. Dengan poligami diharapkan agar dapat terhindar dari terjadinya perceraian kerana isteri mandul, sakit atau sudah terlalu tua.
    5. Akibat peperangan yang biasanya melibatkan kaum lelaki, maka jumlah wanita akan lebih banyak baik mereka itu masih gadis mahupun janda.Dengan adanya poligami diharapkan janda-janda akibat peperangan itu dapat diselamatkan serta diberi perlindungan yang sempurna. Begitu juga untuk menghindari banyaknya jumlah gadis-gadis tua yang tidak dapat merasakan hidup berumahtangga dan berkeluarga.
    6. Kerana banyaknya kaum telaki yang berhijrah pergi merantau untuk mencari rezeki. Di perantauan, mereka mungkin kesepian baik ketika sihat mahu pun sakit. Maka dalam saat-saat begini lebih baik berpoligami daripada si suami mengadakan hubungan secara tidak sah dengan wanita lain.
    7. Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan serta kebuasan nafsu kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Andaikan poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani satu tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayan sebagai isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
    8. Untuk menghindari kelahiran anak-anak yang tidak sah agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin sifat kemuliaan umat Islam. Anak luar nikah mempunyai hukum yang berbeza dari anak yang dari pernikahan yang sah. Jika gejala ini dibiarkan berleluasa dan tidak ditangani dengan hati-hati ia akan bakal menghancurkan umat Islam dan merosakkan fungsi pernikahan itu sendiri.
    Dengan keterangan-keterangan di atas, jelaslah poligami yang diharuskan dalam Islam bukanlah untuk memenuhi nafsu seks sahaja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang mudah akan syarat-syarat yang dikenakan pada suami yang beristeri banyak. Sebab itulah bagi mereka secara tegas Allah (SWT)
    HIKMAH-HIKMAH POLIGAMI DALAM ISLAM
    Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Keharusan berpoligami ini mempunyai hikmah-hikmah untuk kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah;
    1. Bahawa wanita itu mempunyai tiga halangan iaitu haid, nifas dan keadaan yang belum betul-betul sihat selepas melahirkan. Jadi, dalam keadaan begini, Islam mengharuskan berpoligami sampai empat orang isteri dengan tujuan kalau tiap-tiap isteri ada yang haid, ada yang nifas dan ada pula yang masih sakit sehabis nifas, maka masih ada satu lagi yang bebas. Dengan demikian dapatlah menyelamatkan suami daripada terjerumus ke jurang perzinaan pada saat-saat isteri berhalangan.
    2. Untuk mendapatkan keturunan kerana isteri mandul tidak dapat melahirkan anak. Atau kerana isteri sudah terlalu tua dan sudah putus haidnya. Dalam pemilihan bakal isteri, Islam menyukai wanita yang dapat melahirkan keturunan daripada yang mandul, walaupun sifat-sifat jasmaniahnya lebih menarik. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang bermaksud, “Perempuan hitam yang mempunyai benih lebih baik dari wanita-wanita cantik yang mandul.”
    3. Bahawa kaum lelaki itu mempunyai daya kemampuan seks yang berbeza-beza. Andaikan suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isteri tidak dapat mengimbanginya atau sakit dan masa haidnya terlalu lama, maka poligami adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari jatuh ke lembah perzinaan.
    4. Dengan poligami diharapkan agar dapat terhindar dari terjadinya perceraian kerana isteri mandul, sakit atau sudah terlalu tua.
    5. Akibat peperangan yang biasanya melibatkan kaum lelaki, maka jumlah wanita akan lebih banyak baik mereka itu masih gadis mahupun janda.Dengan adanya poligami diharapkan janda-janda akibat peperangan itu dapat diselamatkan serta diberi perlindungan yang sempurna. Begitu juga untuk menghindari banyaknya jumlah gadis-gadis tua yang tidak dapat merasakan hidup berumahtangga dan berkeluarga.
    6. Kerana banyaknya kaum telaki yang berhijrah pergi merantau untuk mencari rezeki. Di perantauan, mereka mungkin kesepian baik ketika sihat mahu pun sakit. Maka dalam saat-saat begini lebih baik berpoligami daripada si suami mengadakan hubungan secara tidak sah dengan wanita lain.
    7. Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan serta kebuasan nafsu kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Andaikan poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani satu tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayan sebagai isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
    8. Untuk menghindari kelahiran anak-anak yang tidak sah agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin sifat kemuliaan umat Islam. Anak luar nikah mempunyai hukum yang berbeza dari anak yang dari pernikahan yang sah. Jika gejala ini dibiarkan berleluasa dan tidak ditangani dengan hati-hati ia akan bakal menghancurkan umat Islam dan merosakkan fungsi pernikahan itu sendiri.
    Dengan keterangan-keterangan di atas, jelaslah poligami yang diharuskan dalam Islam bukanlah untuk memenuhi nafsu seks sahaja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang mudah akan syarat-syarat yang dikenakan pada suami yang beristeri banyak.

  15. HIKMAH-HIKMAH POLIGAMI DALAM ISLAM
    Islam membolehkan umatnya berpoligami bukanlah tanpa alasan atau tujuan tertentu. Keharusan berpoligami ini mempunyai hikmah-hikmah untuk kepentingan serta kesejahteraan umat Islam itu sendiri. Di antaranya ialah;
    1. Bahawa wanita itu mempunyai tiga halangan iaitu haid, nifas dan keadaan yang belum betul-betul sihat selepas melahirkan. Jadi, dalam keadaan begini, Islam mengharuskan berpoligami sampai empat orang isteri dengan tujuan kalau tiap-tiap isteri ada yang haid, ada yang nifas dan ada pula yang masih sakit sehabis nifas, maka masih ada satu lagi yang bebas. Dengan demikian dapatlah menyelamatkan suami daripada terjerumus ke jurang perzinaan pada saat-saat isteri berhalangan.
    2. Untuk mendapatkan keturunan kerana isteri mandul tidak dapat melahirkan anak. Atau kerana isteri sudah terlalu tua dan sudah putus haidnya. Dalam pemilihan bakal isteri, Islam menyukai wanita yang dapat melahirkan keturunan daripada yang mandul, walaupun sifat-sifat jasmaniahnya lebih menarik. Ini dijelaskan oleh Rasulullah dengan sabdanya yang bermaksud, “Perempuan hitam yang mempunyai benih lebih baik dari wanita-wanita cantik yang mandul.”
    3. Bahawa kaum lelaki itu mempunyai daya kemampuan seks yang berbeza-beza. Andaikan suami mempunyai daya seks yang luar biasa, sedangkan isteri tidak dapat mengimbanginya atau sakit dan masa haidnya terlalu lama, maka poligami adalah langkah terbaik untuk memelihara serta menyelamatkan suami dari jatuh ke lembah perzinaan.
    4. Dengan poligami diharapkan agar dapat terhindar dari terjadinya perceraian kerana isteri mandul, sakit atau sudah terlalu tua.
    5. Akibat peperangan yang biasanya melibatkan kaum lelaki, maka jumlah wanita akan lebih banyak baik mereka itu masih gadis mahupun janda.Dengan adanya poligami diharapkan janda-janda akibat peperangan itu dapat diselamatkan serta diberi perlindungan yang sempurna. Begitu juga untuk menghindari banyaknya jumlah gadis-gadis tua yang tidak dapat merasakan hidup berumahtangga dan berkeluarga.
    6. Kerana banyaknya kaum telaki yang berhijrah pergi merantau untuk mencari rezeki. Di perantauan, mereka mungkin kesepian baik ketika sihat mahu pun sakit. Maka dalam saat-saat begini lebih baik berpoligami daripada si suami mengadakan hubungan secara tidak sah dengan wanita lain.
    7. Untuk memberi perlindungan dan penghormatan kepada kaum wanita dari keganasan serta kebuasan nafsu kaum lelaki yang tidak dapat menahannya. Andaikan poligami tidak diperbolehkan, kaum lelaki akan menggunakan wanita sebagai alat untuk kesenangannya semata-mata tanpa dibebani satu tanggungjawab. Akibatnya kaum wanita akan menjadi simpanan atau pelacur yang tidak dilayan sebagai isteri serta tidak pula mendapatkan hak perlindungan untuk dirinya.
    8. Untuk menghindari kelahiran anak-anak yang tidak sah agar keturunan masyarakat terpelihara dan tidak disia-siakan kehidupannya. Dengan demikian dapat pula menjamin sifat kemuliaan umat Islam. Anak luar nikah mempunyai hukum yang berbeza dari anak yang dari pernikahan yang sah. Jika gejala ini dibiarkan berleluasa dan tidak ditangani dengan hati-hati ia akan bakal menghancurkan umat Islam dan merosakkan fungsi pernikahan itu sendiri.
    Dengan keterangan-keterangan di atas, jelaslah poligami yang diharuskan dalam Islam bukanlah untuk memenuhi nafsu seks sahaja bagi kalangan kaum lelaki tetapi mempunyai maksud serta tujuan untuk kemaslahatan umat Islam seluruhnya. Islam juga tidak memandang mudah akan syarat-syarat yang dikenakan pada suami yang beristeri banyak. Sebab itulah bagi mereka secara tegas Allah (SWT)

  16. bila ra’yu dipakai untuk menafsirkan alqur’an dan hadits, rusaklah agama ini.

    ?????????? ?????? ??????? ???? ????????? ???? ??????? ?????????? ????????? ???? ????????? ??????????? ?????????????? ?????????? ???????? ???? ????????? ????? ?????? ???????????? ?????????? ????? ????????? ???? ???????? ????? ????? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ???? ????? ??? ??????? ??????? ????? ??????? ?????????? ????????? ?????? ???????? (??? ????)

    …dari Jundub, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: siapa menyatakan tentang (isi) kitab Allah `Azza wa Jalla dengan ra’yu nya lalu benar (hasilnya), maka sungguh ia telah bersalah. (Sunan Abi Dawud, [Beirut, Dar al Fikr, t.t.], juz 3, hlm. 320)

    Rasulullah Membenci Poligami ? fatwa yg sangat gegabah. ittaqullah ya akhi….

    Berikut hadits yg menjelaskan penyebab penolakan Rasulullah atas rencana poligami Ali bin Abi Thalib :
    “Sesungguhnya aku tidak mengharamkan yang halal dan tidak menghalalkan yang haram. Tapi, demi Allah, tidak akan berkumpul putri Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan putri musuh Allah selamanya”.(Shahih Muslim:2449)

    Ini sejarah singkat penolakan poligami :

    Selama 1300 tahun, sampai abad ke–18 M (ke-13 H) tidak ada pro kontra mengenai bolehnya poligami (ta’addud al-zawjat), dan semuanya sepakat bahwa hukumnya mubah (boleh), termasuk Imam yang empat, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad, rahimahumullah. (al-Fiqh ‘Ala Al-Madzahib Al-Arba’ah, Abdurrahman Al-Jaziry, IV/206-217).

    Baru pada abad ke-19 M / ke-14 H ketika imperialis Barat menancapkan kukunya di dunia Islam, menyebarkan ideologi sekulernya yg anti poligami, muncullah tafsir yang menggugat dan menolak poligami, menyelisihi ulama pendahulu mereka. Muhammad Abduh mengatakan, asas pernikahan dalam Islam adalah monogami, bukan poligami. Poligami diharamkan karena menimbulkan dharar (bahaya) seperti konflik antar isteri dan anggota keluarga, dan hanya dibolehkan dalam kondisi darurat saja (Tafsir Al-Manar, Rasyid Ridha, Juz 4/350)

    Pengikut Muhammad Abduh diantaranya adalah Jamaluddin al-Qasimi (Tafsir al-Qasimi/Mahasin al-Ta`wil, V/30), Ahmad Musthafa al-Maraghi (Tafsir al-Maraghi, IV/183), Muhammad Izzat Darwazah (at-Tafsir al-Hadits, IX/11-13), Abdul Karim Khathib (at-Tafsir al-Qur`ani li al-Qur`an, II/697), Dr. Wahbah Zuhaili (Tafsir al-Munir, IV/242), dan Ali Nasuh ath-Thahir (Tafsir Al-Qur`an al-Karim Kama Afhamuhu, I/309)

    barakallahu jami’an….

  17. Houses and cars are expensive and not everybody is able to buy it. Nevertheless, business loans are invented to help people in such hard situations.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>