Assalamu’alaikum.

Berikut ini adalah susunan pengurus deGromiest 2009-2010:

Ketua: Abdul Muizz Tri Pradipto
Sekretaris: Sita Noor Indah
Bendahara: Faizah Fulyani
Bidang Konsumsi: Lia Atwa

Divisi:
Silaturrahim: Wahono dan Adhi Dharma
Tadarrus/Iqra: M. Sigit A.R. dan Susanah Agus
Kajian Islami: Robby Roswanda dan Nur Alia Oktaviani
Olahraga: Novian Darajat
Pengajian anak: Sri Aktaviyani
Dana Usaha: M. Iqbal dan Nizar Happyana
Media: Rachmawati dan Rahmad Mahendra
Silaturrahim Muslimah : Desti Alkano



Assalamu’ alaikum,

Sebagai salah satu mekanisme kontrol yang baik dalam paguyuban kita, teriring saya lampirkan laporan yang berisikan pelbagai kegiatan yang sudah terlaksana selama kepengurusan 2008-2009. Mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa dipetik baik oleh pengurus maupun warga degromiest secara keseluruhan.

Silakan dilirik di link berikut:

laporan-pertanggung-jawaban-deg-2009

Selamat bertugas kepada Muiz dan Kabinet 2009-2010 yang akan melanjutkan perjalanan kita ini. Semoga Alloh SWT meridhai amanah yang akan diemban oleh pengurus degromiest ke depan.

Wassalam,

AMel

<Ketua deGromiest 2008-2009>


 


Assalamu’alaikum wr wb,

Saya mewakili tim diary Ramadhan dengan bangga mempersembahkan kumpulan hasil karya tulisan para warga deG dalam menyemarakan bulan suci tahun ini.  Semoga dengan jerih payah para kontributor dan tim redaksi dapat menambah wawasan serta curahan ilmu yang bermanfaat.

Silakan dilirik disini:

ebook-diary-ramadhan-2009

Wassalam,

Tim Diary Ramadhan 2009


Assalamu’ alaikum wr wb,

Ada koreksi yang diberikan oleh imam Masjid Selwerd perihal jadwal bulan ini. Berikut jadwal shalat yg sudah diperbaiki oleh beliau.

Wassalam,

Amel



Diary Ramadhan tanggal 29 Ramadhan 1430H

Oleh : Intan Taufik.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. (Khalil Gibran)

…..

Tak terbayang sebelumnya akan menginjak tanah The Netherlands, seperti juga banyak sekali hal-hal yang tidak terkira sebelumnya. Dalam perjalan hidup, kita terkadang terkejut, tercekat dan bahkan merasa asing seakan tercerabut dari akar hidup kita. Hari itu pun merupakan hari yang asing dan bahkan serasa tidak nyata. Selisik bisik mengudara mendengungkan keraguan. Tapi waktu tetap berjalan.

Keresahan hati ingin sekali menghentikan waktu. Tak ingin terpisah dari para terkasih, khususnya istri dan kedua buah hati. Tapi tak ada alat apapun, tak ada kuasa apa pun dalam diri untuk menghentikan sang masa. Waktu bergulir, berdetak dengan hentakan yang semakin lama serasa semakin cepat dan semakin pasti. Waktunya pun tiba.

Kaki kupaksa untuk melangkah, memasuki ruang-ruang asing. Katanya sebentar lagi burung besi sudah siap untuk membawaku ke ke negeri seberang nun jauh disana. Kulihat kembali ke belakang. Wajah kosong bermunculan. Belahan jiwa dan kedua buah hati. Sang sulung mulai mengerti apa yang terjadi… jatuh lunglai menyadari bahwa dia tak kuasa menahan perpisahan.

…..

Ku melangkah lagi, lamat-lamat terdengar suara kerinduan untuk berjumpa yang dikirim oleh angin dan juga benang-benang besi. Kesempatan untuk berkumpul lagi, untuk kembali dekat untuk kembali dapat melihat tanpa batas dan mendekap erat. Tapi perasaan ini serasa tak nyata. Apakah karena karena itu hanya akan menjadi sekejap? Apakah karena tak ingin kembali luka? Asing.

Wajah-wajah yang kukenal
Wajah yang kurindu
Tubuh kecil yang sudah lebih tinggi dan besar
Asing… sekaligus kurindu
Kutatap sejenak lalu kupeluk dan kubisikan… abi sudah pulang.

Sinar pagi telah menyelusup ke sela-sela kain yang menggantung di belakang kaca,
dua bola mata kecil yang tajam telah duduk di belakang
melihat dengan heran,
ya, aku adalah orang asing baginya, bagi my little prince

sedangkan dua buah lengan kecil  dari sisi lain sudah merangkul
walaupun masih terkantuk aku tahu dia pun rindu sekali terhadap ku
aku pun rindu pada mu, my little princess

perjumpaan telah membayar kerinduan
perjumpaan telah menunjukkan keterasingan
waktu, perguliranmu telah membawa perasaan yang bercampur baur

…..

laptop menyala dan dia memanggil-manggil diriku
panggilan itu, panggilan namaku
tapi mata dan tangannya, seluruh tubuh kecilnyanya, memanggil layar tipis dan bukan aku

kami nyalakan layar lainnya
dan waktu bergulir sejenak
langkah-langkah kecil kemudian mendekat dan tangannya merangkul
ya, abi sudah ada disini

…..

aku tahu waktu tak akan pernah berhenti
dan saat untuk berpisah akan datang kembali
walaupun kadang terobati karena ada harapan untuk kembali berjumpa

semoga-semoga waktu yang memisahkan terasa singkat
dan saat berkumpul dapat mnyergap dengan cepat.

….

Di sisi lain, Sang Tamu Agung Ramadhan pun telah mulai melambaikan tangan
ya sang waktu telah menunjukkan kekuatannya, kami berpisah lagi.
semoga kami dapat berjumpa dengannya  lagi.
semoga.


AlQuran-02-045

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (Al Quran 02:183)

Taqwa, itulah tujuan berpuasa di hari-hari yang telah ditentukan (yaitu hari-hari di bulan Ramadan, Al-Baqarah ayat 185). Bukan sehat, bukan diet,  bukan berumur panjang, bukan rezeki lancar, bukan naik haji ke Mekkah, bukan pintar, bukan cari dapat jodoh, bukan apa-apa kecuali taqwa sebagai tujuan dari berpuasa di bulan Ramadan ini.
Apa taqwa itu? Kita sudah sering mendengar dari ceramah-ceramah, bahwa taqwa itu berarti takut, takut akan Allah, takut akan siksa neraka, takut meninggalkan perintah Allah dan mengerjakan laranganNya. Al Quran sendiri memberikan pengertian taqwa, setidak-tidaknya, pada permulaan surat Al Baqarah (ayat 2-5):

Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa [2] (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib , yang mendirikan salat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka [3] dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. [4] Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. [5]

Berbicara tentang taqwa tentu akan panjang. Tapi, untuk saat ini cukup 4 ayat di atas menjadi acuan kita saat ini.
Sekarang Ramadan sudah dipenghujung. Sudahkah kita merasakan taqwa dalam diri kita? Saya sering bertanya pada diri saya tentang hal ini. Sedikitnya ada enam perkara, sesuatu Al Baqarah 2-5 tadi, yang membuat saya resah, yaitu sebagai berikut.
Pertama beriman, sebuah keadaan diri dalam keyakinan penuh dan teguh sehingga kita tunduk dan menyerahkan jiwa kita pada iman tersebut. Kita patuh kepada apa yang dikehendaki iman. Iman adalah syarat tauhid, tanpa iman jangan pernah kita mengaku bertauhid — alias kafir. Iman sendiri menyaratkan syariat, yaitu tata-cara beribadah dan beramal. Tidak mengakui syariat berarti tidak beriman; tidak beriman jelas tidak bertauhid. Terakhir syariat menyaratkan adab.
adab n kehalusan dan kebaikan budi pekerti; kesopanan; akhlak: ayahnya terkenal sbg orang yg tinggi –nya.
(KBBI Daring)
Pertanyaannya, setelah berpuasa, adakah saya beradab?
Kedua, beriman kepada yang gaib, ok, itu tidak susah. Saya yakin adanya kebenaran lain di luar kebenaran  ilmiah. Bagi saya, kebenaran terbesar adalah sunatullah, sebagian kecil dari kebenaran itu dapat dipahami otak manusia yang disebut Fisika (dari sinilah slogan fisika itu sunnatullah muncul). Di luar Fisika, masih banyak kebenaran-kebenaran lain, termasuk di antaranya ruh dan dunia gaib. Oleh sebab itu, saya tidak pernah menyangkal adanya sihir dan guna-guna. Dua ilmu ini benar tapi bukan bagian Fisika, karena itulah saya selalu menolak menjelaskan atau menerima penjelasan fenomena sihir atau guna-guna dari sisi ilmiah.
Sudah bukan rahasia lagi, secara naluri kita takut kepada jin dan hantu. Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah yakin saya akan “la haula wala kuwwata illah billah”?
Ketiga, mendirikan salat. Bukan mengerjakan, tapi mendirikan, sebuah pilihan kata yang menurut ahli bahasa memiliki perbedaan makna. Mendirikan salat berarti mengerjakan dengan teratur, melengkapi rukun dan adabnya baik lahir (seperti bersih) atapun batin (seperti khusuk), memperhatikan apa yang dibaca, dan akhirnya komit dengan salat itu sehingga salat benar-benar dapat mencegah kita dari perbuatan munkar. Jika perangai kita buruk, maka tengoklah salat kita — begitu kira-kira pengejewantahannya dalam kehidupan kita.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya telah mampu mendirikan shalat meskipun satu rakaat saja?
Keempat, menafkahkan sebahagian rezki. Alhamdulillah banyak badan amil zakat sekarang di Indonesia yang selalu menghimbau kita untuk berzakat dengan segala kemudahan. Sungguh keterlaluan jika kita masih tidak mau berzakat, atau spesifiknya lupa membayar zakat fitrah. Tapi, zakat tidak hanya zakat fitrah, masih ada zakat harta, zakat niaga, zakat macam-macam. Dari sejumlah rezeki yang kita dapatkan terdapat sebagian hak orang lain. Membayar zakat berarti selain menyucikan harta juga memberikan hak orang lain — dengan kata lain kita berkesempatan menjadi “kran” penyalur rezeki Allah. Zakat adalah amalan yang menakjubkan. Perintah berzakat dalam Al Quran sering disandingkan dengan perintah mendirikan salat.
Pertanyaannya, setelah berpuasa adakah saya sanggup serius menghitung rezeki untuk dikeluarkan zakatnya?
Kelimat, beriman kepada kitab (Al Quran dan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya). Pengejewantahan beriman pada kitab di zaman sekarang mungkin adalah tadarus Al Quran, membaca dan mempelajari Al Quran (karena kitab-kitab sebelumnya buat apa lagi dibaca karena yang lengkapnya sudah ada). Sekedar membaca saja, alhamdulillah sering kita lakukan. Setidak-tidaknya al fathiah saat salat. Tapi mempelajarinya?
Doa khatam Quran menyebutkan,
Ya Allah, curahkanlah rahmat kepadaku dengan Al Quran, dan jadikan Al Quran sebagai pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku. Ya Allah, ingatkanlah aku terhadap apa yang telah aku lupakan dari Al Quran. Ajarilah aku apa-apa yang belum aku ketahui dari Al Quran. Anugerahkanlah aku kemampuan untuk senantiasa membacanya sepanjang siang dan malam. Jadikan Al Quran hujjah bagiku, wahai Tuhan seru sekalian Alam.
The question is obvious: setelah berpuasa, adakah Al Quran menjadi pemimpin, cahaya, petunjuk, dan rahmat bagiku?
keenam dan terakhir untuk sesi ini, yakin akan adanya kehidupan akhirat. Ini jelas, tanpa tandeng aling, pertanyaan pamungkas yang membuat saya selalu merinding, setelah berpuasa, siapkah saya untuk mati?
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami.
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami.
Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.
Ya Tuhan kami, berilah kami kesempatan untuk bertemu lagi dengan RamadanMu, sesungguhnya kami telah menyia-nyiakan waktu kami kecuali Engkau mengampuni kami.
Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Semoga Allah melimpahkan shalawat kepada nabi kita Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya yang terpilih, serta salam yang berlimpah ruah.
Bogor,
29 Ramadan 1430