Friday, 23 September 2011, the warm indonesian atmosphere was covering the city of groningen, Netherlands. All of the Indonesian people there came and gather together to attend the so called ‘Halal bihalal’ event. Halal bi halal is social gatherings and is part of Eid ul Fitr (suikerfeest) celebration. Do you know why it’s called Halal bi Halal? Well, the word ‘halal’ is Arabic which literally means ‘acceptable’. Halal bi halal itself means ‘to accept’ or ‘to forgive each other’. Interestingly, even though the word is Arabic, the term of ‘halal bi halal’ is only used in Indonesia.

The Halal bihalal event in groningen was organized by de Groningen Moslem Society (degromiest) and Indonesian student association in Groningen (PPIG). This event was held at the main hall of floreshuis building, in the northern of groningen. As the main theme of this event was ‘Back to Indonesia’, the hall and corridor are decorated in indonesian style. More than 200 people attended this event, they are indonesian moslem communities, indonesian students, and some special guests from Indonessian embassy, also dutch and turkish colleagues.

It started roughly at 6 pm with an opening act, the saman dance performance from Indonesian students. Right after that the MC officially opened the event, followed by an opening speech from the chairman comitee of Halal bihalal and from the chairman of Indonesian student association.

The main event started at 7 pm with the lecture/tausiyah from Ustadz Agus Purwanto. In his speech he said that it is important to show our gratitude to God for his blessing in our life. He also remind us to always get along well with others and keep our ukhuwah (brotherhood).  At 8 pm, all people had dinner together with various Indonesian food: sate, rendang opor ayam, lontong, etc. During dinner, people were entertained by dancing and singing performances. The night became more lively with the wonderful operet performance from indonesian students. The event was ended by ‘Silaturahmi or maaf-maafan session’ where all people shake hands and ask each other for forgiveness.

Here are a few moments of the Halal bihalal event in Groningen (thanks to Mas Surahyo Sumarsono for the great pictures)

Halal bihalal event in Floreshuis Hall

Opening act, Saman dance performance

Lecture/tausiyah from Ustadz Agus Purwanto

Singing performance from indonesian students

People were also entertained by traditional dance performance

The wonderfull operet performance

Perfect dinner with delicious Indonesian food

The audiences of Halal bihalal event

The  event was ended by  ’silaturahmi session’

That was a great night for all of us, we really enjoyed it. Thanks to all who contributed to this Halal bihalal event.

Groningen, 30 September 2011

Irfan Prabudiansyah


The new crescent moon has been sight in the night sky. All the Muslims around the world  recite takbir on the biggest day of the year. Yeah, after the completion of ramadhan fasting, it’s time now to celebrate Eid ul fitr. Actually, Eid is not a celebration of the end of fasting. Eid is a celebration of gratitude to Allah for his blessing in our life and a moment to express best wishes to all brothers and sisters.

Every Eid I always do a tradition called ‘mudik‘, which means going back home, to celebrate Eid with my parents and all family members. But, Eid this year is a bit different for me because I had to celebrate Eid in groningen, netherlands. It was my first time celebrating Eid far away from Indonesia. Eid in netherlands is called Suikerfeest which means sweet feast. It was adapted from the tradition of Eid in Turkey which called Seker Bayrami (Bayram of Sweets). Do you know why it’s called sweet feast? because turkish people always have a lot of sweet foods and cakes which specially made for eid celebration.

The atmosphere of eid here is really different from eid in Indonesia. You know, for indonesian people, Eid is the biggest festival of the year. We call it ‘lebaran‘, which literally means ‘the end of something’, in this case, the end of fasting month. All Government offices and private organizations are closed on Eid day. Here in netherlands, Eid is not declared as national public holiday and the celebration is hmm.. quite simple. Well.. it’s maybe because muslim are the minority here. Most muslim here are from Turkey, Marocco, and Indonesia.

So, how was our Eid celebration? This year, Indonesian muslim student association, PPIG-deGromiest, organized the eid celebration for Indonesian muslim in groningen. The Eid prayer was held in De Holm, near the city centre of groningen. We started by takbir at 07.00 in the morning, followed by shalat (pray) and khutbah (speech), and ended by ‘halal bi-halal’ to ask forgiveness from everyone.

After the Eid prayer, we all went to our friends house, to gather, and of course.. to eat. Hha.. the celebration of Eid ul Fitr is not complete without food. It’s always a tradition to have special eid dish. There we had typical indonesian food like rendang (beef curry),  opor ayam (coconut chicken), lontong (rice cake), and some sweet foods for dessert. Unfortunately, we don’t have ketupat on our table. Yeah.. ketupat (rice steamed in woven packets of coconut fronds) is really special because it is a symbol of Eid ul-Fitr feast in Indonesia. Overall we really enjoyed the food there. Even though we far away from home and couldn’t have our Eid with our family, we could still feel Indonesian eid atmosphere here. Thank you for everyone here for being a great friend and family.

Here are a few moments of our Eid ul fitr celebration in Groningen

We started eid celebration by takbir early in the morning

Khutbah, eid ul Fitr speech by Ustad Muizz

Kids also join eid prayer and kutbah

‘Halal bi halal’ to ask forgiveness from everyone

Family and friends in groningen

Special eid dish, without ketupat..

Special eid dish including opor ayam and rendang..

Everbody really enjoyed the food

Kids celebrate eid in their own way.. :)

Well, that is how we celebrate Eid here. Ramadhan fasting and Eid ul Fitr in Neterlands where Muslims are the minority was definitely a great experience.

Greetings from us here in Groningen!

Happy Eid everyone!
Minal a’idin wal faizin
May Allah bless us and gives us all the kindness..

Groningen, 31 Agustus 2011

(Thanks to Mas Surahyo Sumarsono and Mas Amel Arramel for the pictures)

[Irfan Prabudiansyah]


Diary Ramadhan - Edisi 16 Ramadhan 1432H
0leh: Kang Wahono
———————————————————————————
Sebagai seorang manusia, tak dapat dipungkiri bahwa kehilangan seseorang yang dekat dengan kita bahkan dicintai pasti menyisakan duka.
Bagaimana Rasulullah Saw mencontohkan saat kita berada dalam situasi ini?

Di saat seorang sahabat Rasulullah Saw kehilangan salah seorang anaknya, Nabi menyampaikan sebuah hadis qudsi di tengah kerumuman sahabat-sahabatnya.

Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku.
Allah bertanya kepada malaikatNYA “Sudahkah engkau cabut ruh hambaKU? “Sudah ya Allah”, jawab malaikat. Kemudian Allah SWT kembali bertanya “Sudahkah engkau cabut ruh buah hatinya?”. Malaikat menjawab, “Sudah ya Allah”.
Allah bertanya “Apa yang diucapkan oleh hambaKU itu?”, malaikat pun menjawab “Dia memuji Engkau ya Allah dan beristirja”.
Allah Ta’ala kemudian berkata “Buatkanlah baginya rumah yang indah di surga dan jadikanlah rumah itu selalu dipuji oleh siapapun yang melihatnya kelak (baitul hamd)”. (H.R. Ahmad)

Berat, berat atas kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Seseorang yang menghadapi ujian ini hendaklah bersabar dan beristirja yaitu mengucapkan innalillaahi wainna ilaihi roji’un. Kata sederhana yang tersurat dalam Al Qur’an ini menyiratkan kesadaran bahwa semua yang ada di muka bumi ini, bahkan alam semesta adalah milik Allah SWT semata. Tiada yang kekal di alam ini selain Allah SWT.
Rasulullah Saw bersabda bahwa menakjubkan keadaan seorang mu’min itu, segala urusan menjadi baik untuknya. Jika ia peroleh kesenangan/ni’mat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan bila ia ditimpa kesusahan, kemalangan (segala yang tidak mengenakkan baginya), ia bersabar dan yang demikian itu baik baginya.

Rasulullah Sa pun mengajarkan do’a yang sangat indah bagi kita yang ditimpa musibah
Ya Allah, jadikanlah hatiku ridha untuk menerima segala ketetapanMU dan berkahilah segala apa yang Engkau takdirkan bagiku agar aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan bagiku dan agar aku tidak ingin memperlambat apa yang Engkau cepatkan bagiku. (H.R. Ibnu Sunni)

Dalam suatu kesempatan, kanjeng nabi pernah mengabarkan kepada para sahabatnya
Jibril datang kepadaku dan mengatakan “Wahai Muhammad, hiduplah semaumu; namun sungguh engkau akan mati. Cintailah seseorang sesukamu, tapi sungguh engkau akan berpisah darinya. Dan berbuatlah sesukamu, sungguh engkau akan dimintai pertanggungjawaban kelak”. “Ketahuilah bahwa kemuliaan seseorang terletak pada shalat malamnya dan kewibawaannya terletak pada sikap merasa cukup dari bantuan orang lain”. (H.R. Bukhari-Muslim)

Kabar Jibril itu sangat penting bagi Rasulullah Saw. Beliau seolah tersadar bahwa tidak lama lagi, seseorang yang ia cintai akan berpisah darinya. Dan itu benar-benar terjadi ketika Khadijah r.a., istri yang mencintai dan sangat dicintai, setia menemani beliau, wafat.
Allah SWT ingin mengingatkan nabi bahwa derajat cinta kepada sesama makhluk tidaklah sebanding dengan cinta kepada sang Maha Cinta, Rabbal ‘Aalamiin.

Diary Ramadhan - Edisi 15 Ramadhan 1432H

Setengah abad yang lalu amat mudah mendapatkan kota atau negeri yang homogen, dihuni oleh satu kelompok etnik, budaya atau agama tertentu. Tapi sekarang tidak lagi. Mobilitas penduduk yang bergerak sangat dinamis, didukung oleh perkembangan iptek yang luar biasa, telah menyebabkan struktur dan komposisi penduduk di berbagai daerah berubah cepat. Di mana-mana muncul masyarakat multikultural, masyarakat bhinneka dengan heterogenitas yang semakin tinggi, sehingga menuntut adanya saling pengertian dan saling menghargai agar bisa hidup bersama dalam satu masyarakat yang utuh.

Sikap dan pandangan hidup bagaimana yang diperlukan dalam suatu masyarakat multkultural telah melahirkan Multikulturalisme sebagai suatu faham yang dituntut oleh perkembangan masyarakat global yang plural. Faham ini berangkat atas dasar kesamaan martabat manusia (equal dignity of human rights), dimana dignity adalah salah satu prinsip hidup manusia. Dalam masyarakat multicultural setiap kelompok berhak mengembangkan diri sesuai dengan “jalan” jati diri atau karakteristik kelompoknya (HAR Tilaar, 2004). Faham ini tidak menganggap cukup dengan adanya Hukum dalam suatu demokrasi konstitusional, karena dalam masyarkat multicultural dibutuhkan adanya jaminan terhadap hak-hak kelompok minoritas untuk mengembangkan martabat atas dasar jati diri mereka. Jadi dibutuhkan adanya kesadaran kolektif yang mendorong munculnya kebudayaan politik yang ditandai oleh adanya penghormatan timbal-balik atas hak-hak manusia, sebab dengan demikianlah demokrasi konstitusional bisa menjamin hak-hak kelompok minoritas untuk duduk bersama dengan kebudayaan kelompok-kelompok lain, tanpa ada rasa takut akan kehilangan identitas atau “ditelan” oleh kelompok mayoritas yang dominan.

Apa relevansi multikulturalisme bagi kita sebagai muslim dan warga bangsa Indonesia? Pertama, berangkat dari realita kita sebagai bangsa yang penuh keragaman. De facto bangsa ini tersebar di 17.000 lebih pulau, terdiri dari puluhan etnik dengan bahasa, tradisi, dan agama yang tidak sama. De jure, kita sebenarnya telah mengadopsi semangat multikulturalisme sekalipun dengan aktualisasi yang masih gamang. Pancasila dan UUD 1945 telah mencoba merangkul semua unsur keragaman itu, sebagaimana teukir tegas pada simbol (Garuda) negara dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika. “Berbeda-beda tetapi tetap satu”, sungguh merupakan semboyan yang paling pas untuk merangkum prinsip-prinsip multikulturalisme. Sayang kita baru berkutat-katit pada slogan tetapi lemah dalam tindakan, sehingga multikulturalisme terasa asing atau bahkan dicurigai.

Kedua, pengalaman pada masa pemerintahan yang lalu bisa menjadi pelajaran berharga tentang perlunya sikap istiqomah pada semangat multikulturalisme, demi kelangsungan hidup bangsa yang memang bersifat multikultural. Kebijakan pemerintah Orde Baru yang otoriter-sentralistik sejak lama telah “membongsai” kebhinnekaan daerah-daerah demi keTunggal Ikaan yang semu. Atas nama persatuan dan kesatuan ruang gerak keanekaragaman kultural yang terdapat di daerah-daerah dipersempit, sehingga menghancurkan local cultural geniuses, seperti tradisi pemerintahan nagari di Minangkabau, pela gandong di Ambon, komunitas dalihan natolu di Tapanuli. Padahal keanekaragaman tradisi sosio-kultural seperti ini merupakan kekayaan kultural yang luar biasa, yang mengandung pranata-pranata sosial yang antara lain berfungsi sebagai defense mechanism untuk memelihara integrasi dan keutuhan sosio-kultural masyarakat (Azyumardi Azra, 2003). Maka pantas diduga jika kekerasan dan konflik bernuansa perbedaan etnik-agama yang marak sejak tahun 1996, tidak lepas dari kebijakan yang telah memandulkan local geniuses tersebut.

Ketiga, pengalaman pendek era Reformasi yang mendebarkan karena kebijakan desentralisasi kekuasaan pemerintah ke daerah-daerah cenderung memperlihatkan gejala “daerahisme” yang tampil tumpang tindih dengan etnisitas“sukuisme”. Kecenderungan ini, jika tidak terkendali, mempunyai bobot ancaman yang lebih besar terhadap keutuhan bangsa dibandingkan dengan pengalaman yang salah dari pemerintahan Orde Baru yang sentralistik. Jika dulu kebhinnekaan yang terancam, sekarang bandul ancaman itu bergerak ke sisi keTunggal Ikaan. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan pengungkapan identitas etnik dan agama karena di dalamnya ada kebanggan karakter diri dan kemartabatan kultural yang diperlukan oleh tiap bangsa untuk maju dan kuat. Namun dalam suatu masyarakat yang multikultural, pengungkapan identitas yang sempit bisa menimbulkan antiklimaks yang mengancam kepentingan bersama (masyarakat).
Keempat adalah posisi umat Islam yang mayoritas, sehingga kelangsungan hidup bangsa ini tidak salah kalau disandarkan pada kearifan orang-orang muslim dalam menghargai keanekaragaman kultural tersebut. Apa yang seharusnya kita lakukan dari perspektif dakwah?

Harus disadari bahwa keragaman atau pluralitas kultural itu sudah merupakan suatu kenyataan yang umum, sejalan dengan arah perkembangan masyarakat dari berbagai dimensi. Persoalannya adalah bagaimana pluralitas itu disikapi dan dikonseptualisasikan tanpa harus menghadang laju perkembangan masyarakat. Al-Qur’an pun memastikan trend perkembangan ke arah masyarakat yang multikultural itu, sekaligus mengajarkan bagaimana manusia harus mensikapi keragaman tersebut sebagaimana tersurat pada Al-Hujarat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan kelompok agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah mereka yang paling takwa. Allah Maha Tahu dan Maha Teliti”.

Tuntunan normatif yang diberikan Islam terhadap keniscayaan gender dan pluralitas kultural adalah sesuatu yang positif, yaitu: (1). Masuk ke dalam pluralitas itu dengan pikiran terbuka, untuk mengenal dan dikenal (lita’arofuu), mengembangkan proses interaksi interpersonal dan sosial bil hikmah. (2) Taqwa menjadi modal pokok ketika berinteraksi dalam masyarakat multicultural, yaitu taqwa pada pengertiannya yang dasar yaitu “waqaa” atau menjaga diri, (3) Melakukan dua petunjuk itu secara teliti, dalam perspektif dakwah terhadap masyarakat multicultural yang kompleks, untuk memuliakan martabat (dignity) Islam.
Bagaimana tuntunan normatif ini dijabarkan, paling tepat kita lihat ulang bagaimana Nabi membangun masyarakat multikultural di Madinah 1400 tahun yang lalu. Heterogenitas kultural masyarakat kota Madinah dapat dilihat dari hasil cacah penduduk yang dilakukan atas perintah Nabi, berdasarkan hadits riwayat Bukori (Ali Bulac, 2001), di mana dari 10.000 jiwa penduduk Madinah kala itu kaum muslim adalah minoritas (15%). Mayoritas adalah orang musyrik Arab (45%) dan orang Yahudi (40%). Tingkat heterogenitas ini lebih tinggi lagi manakala dipaparkan bahwa masing-masing kelompok Muslim, Musyrik Arab, dan Yahudi itu di dalamnya terdiri dari berbagai kabilah atau sub-kelompok. Kaum muslim sendiri terdiri dari dua kelompok besar Muhajirin (migran) dan Anshor (non-migran), yang masing-masing terdiri dari berbagai suku atau kabilah yang punya tradisi bermusuhan karena kuatnya akar sukuisme dalam masyarakat Arab.

Dalam struktur masyarakat Arab yang tradisional, organisasi sosial sangat bergantung kepada ikatan darah dan kekerabatan. Tetapi di Madinah, untuk pertama kalinya (tahun 622 M) orang-orang yang berasal dari latar belakang suku, agama, dan asal geografis yang berbeda terhimpun bersama dan mengidentifikasi diri sebagai satu kelompok sosial tertentu. Pada Piagam Madinah yang berisi 47 pasal itu, disebutkan di pasal (1) “Muhammad, Nabi Allah, mewakili kaum Mukmin Quraisy dan Yastrib menyatakan bergabung dengan kelompok masyarakat lainnya, ikut berjuang bersama mereka. (2) Membentuk sebuah ummah yang lain daripada manusia-manusia sebelumnya “. (Ali Bulac, 2001). Sangat terasa adanya rasa percaya diri dan pengungkapan dignity dalam rumusan kalimat di kedua pasal tersebut, dan dengan modal itu Nabi serta sahabat-sahabatnya tampil sebagai pengambil inisiatif untuk berdakwah mengembangkan ummah yang multikultural di Madinah.

Jaidi sekalipun pada posisi minoritas, Nabi saw bersama sahabat-sahabatnyas bukan hanya aktif berinteraksi dengan warga kelompok mayoritas, tetapi bahkan mengambil inisiatif untuk membangun struktur masyarakat baru yang sesuai dengan sikon zaman. Tetapi harus dicatat, awal dari semua langkah inisiatif yang berani ini adalah dengan perhitungan atau siyasah yang terukur. Dimulai dengan suatu cacah penduduk, lalu melakukan konsolidasi internal untuk mengukuhkan soliditas kaum muslim yang terdiri dari berbagai kelompok-suku. Pasal 3 sampai 23 dari Piagam Madinah dapat difahami sebagai upaya konsolidasi internal, memperkuat sel-sel jaringan Ukhuwah Islamiyah sebagai persiapan untuk memenangkan “pertarungan” interaksi sosial antarkelompok dalam kompleksitas masyarakat yang multikultural. Ambil contoh dari pasal (17) “Perdamaian di antara Muslimin adalah satu. Tidak seseorang muslim pun boleh bersepakat untuk menyetujui perdamaian dengan mengenyahkan muslim lainnya”, dan pasal (23) “Bila terdapat perbedaan tentang sesuatu hal, hendaklah diserahkan kepada Allah dan Muhammad”. Kedua dictum ini sangat jelas tertuju pada maksud mempersatukan kaum Muslim yang memang berpotensi konflik karena karakter heterogenitasnya.

Jadi, belajar dari apa yang dicontohkan Nabi dan para sahabat di Madinah, salah satu persiapan untuk memasuki masyarakat global yang multikultural itu adalah kemampuan managerial untuk mempersatukan kaum muslim yang tidak homogen. Kaum muslim yang terbelah-belah sudah merupakan realitas sejarah, persoalannya adalah kepemimpinan siapa yang mampu mempersatukan untuk membawa mereka dengan percaya diri dan bermartabat ke kompleksitas masyarakat yang multikulutral, bukan hanya sebagai obyek tetapi sebagai inisiator yang mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam sebagai rahmat bagi semua kelompok masyarakat yang ada.

Berikutnya adalah membangun ukhuwah wathoniyah & bashariah di tengah pluralitas ummah yang ingin hidup bersama secara damai, dengan cara saling menjaga diri (taqwa). Tiap kelompok punya otonomi kultural sendiri, dan mereka berhak mengekspresikan diri sesuai dengan kriteria-kriteria hukum agama dan budayanya. Jaminan atas hak ini dalam Piagam Madina antara lain terlihat pada pasal (25) “Agama orang-orang Yahudi untuk mereka sendiri, agama kaum muslim untuk mereka sendiri. Hal ini termasuk mawla mereka dan diri (person) mereka sendiri”. Diktum ini yang sekarang disebut sebagai salah satu prinsip dalam Multikulturalisme, yaitu bisa menghargai orang lain seperti apa adanya - you are what you are, sebenarnya tak lebih dari upaya sosialisasi atas prinsip-prinsip kebebasan serta oengakuan atas adanya perbedaan agama seperti yang difirmankan Tuhan (S.al-Kafirun) sebelumnya pada periode makkiyah dengan kalimat lakum dienukum wa liyadien.

Bagaimana dengan tugas dakwah? Dakwah tetap berlangsung wajar di tengah-tengah pluralitas yang saling menghargai, untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran ilahiah terhadap warga masyarakat yang semakin kompleks. Dakwah dalam masyarakat yang multikultural berakentuasi pada proses interaksi antarkelompok yang ada, yaitu lewat perilaku-perilaku warga muslim yang menimbulkan proses saling mempengaruhi dengan warga dari kelompok lain. Tuntunan normatif yang diberikan al-Qur’an untuk tampil dengan sikap terbuka, percaya diri, dan menjaga dignity Islam, sebagaimana telah disebut di atas, dimaksudkan untuk efektivitas penularan norma-norma dan nilai Islam dalam proses interaksi antarkelompok tersebut. Sementara tuntunan tentang taqwa, sikap selalu menjaga diri, dimaksudkan untuk memupuk pengendalian diri terhadap potensi-potensi konflik yang lazim ada dalam proses interaksi antarkelompok. Dengan demikian setiap muslim diharapkan bisa tampil dengan perilaku interaksi yang berbobot dakwah bil haal, baik dalam hubungan-hubungan yang bersifat asosiatif maupun yang bersifat disasosiatif.

Fenomena global yang menumbuhkan masyarakat-masyarakat multikultural meyakinkan orang mukmin akan universalitas Islam, karena embrio pengembangan masyarakat multikultural tersebut telah didemonstrasikan Nabi pada periode Madina 1400 tahun yang lalu. Apa yang dituntunkan Nabi adalah: (1) Keberanian untuk memasuki masyarakat multikultural (ummah) secara terbuka, percaya diri, dan menjunjung tinggi martabat Islam (2) Konsolidasi internal dengan membangun ukhuwah Islamiyah. Berbeda pendapat (khilafiyah) sudah merupakan keniscayaan, maka adagium yang tepat adalah “bersatu dalam ushul, bertoleransi dalam furu’ “ (KHM Isa Anshary, 1984). (3) Interaksi sosial dengan kelompok-kelompok lain atas dasar saling menjaga diri dengan saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. (4) Membangun ukuwah wathoniyah wa bashariyah antarkelompok etnik-agama yang ada.

Kualifikasi dai bagaimana yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi empat tuntunan di atas, antara lain dapat disebut beberapa hal.

Pertama harus beriman dan ikhlas terhadap agama yang hendak didakwahkan, sebab keberanian, percaya diri, dan kesetiaan untuk menjaga martabat Islam hanya muncul dari iman serta sifat ikhlas tersebut. Perlu dibangun kesadaran baru tentang makna kewajiban dakwah sebagai tugas untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran ilahiah secara hikmah kepada semua orang. Keihlasan dalam dakwah membuat seorang dai bisa lebih berlapang dada. Soal orang masuk Islam haruslah dengan kesadaran diri dan dengan hidayah Allah. “ Tidak ada paksaan dalam beragama, sungguh sudah jelas beda antara hidayah dengan kesesatan” (Al-Baqarah, 256). Jadi tidak perlu ada perasaan berjasa dengan mengislamkan orang, sebab “ bahkan Allahlah yang berjasa ketika ia membimbing untuk beriman, jika kamu benar-benar beriman”(Al-Hujurat, 17).

Kedua bersifat adil, dalam arti hanya mendakwahkan apa yang sudah diamalkan (Al-Baqarah, 44), tidak menyembunyikan kebenaran Tuhan (Al Imran, 187) karena berbagai kepentingan, dan mendakwahkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ketiga memiliki hikmah sehingga mampu berdakwah sesuai dengan sikon obyeknya. Dakwah untuk masyarakat kota yang mengalami rasionalisasi dan alienasi sudah tentu - dengan sifat hikmah - didekati dengan cara yang berbeda jika berhadapan dengan masyarakat desa yang stagnan. Dakwah dengan pendekatan esoteris atau estetis dapat dilakukan untuk masyarakat kota, sementara untuk masyarakat desa tersebut dakwah dilakukan dengan pendekatan etis. Penyajian materi dakwah pun tentu bilhikmati, yaitu ke masyarakat kota yang dinamik-plural dengan hidayah sentris sementara ke masyarakat desa yang stagnan dengan rasio sentris. Tetapi bagaimana hikmah bisa dimiliki seseorang (dai), Al-Ghazali mengajukan empat prasyarat: ‘ilmu, iffah, saja’ah, dan ‘adlu.

Keempat, berakhlaq karimah agar bisa tampil sebagai sosok teladan seperti yang dicontohkan dan menjadi kunci sukses dakwah Rasulullah Saw.
Nabi dan para sahabat tampil sebagai inisiator masyarakat multicultural di Madinah dalam posisi sebagai kelompok minoritas. Kaum muslim di Indonesia yang mayoritas (85%) mestinya bisa lebih berhasil dengan menjadikan jejak-jejak sejarah Nabi tersebut sebagai model dakwah dalam membangun masyarakat bangsa yang multikultural.

Wallahu a’lamu bisshowab.


Diary Ramadhan - Edisi 14 Ramadhan 1432H

Selalu diriku menggunakan kalkulasi matematika

Ketika menghitung total pahala yang telah kukumpulkan

Plus atau minus?

Jika plus, hmmm ada kesempatan untuk rileks, ya rileks dari dunia pengabdian terhadap-Mu

Jika minus, sujudku bertambah kepada-Mu Ya Allah

Semakin tambah umur ini,

Otak ini pun telah lelah untuk melakukan kalkulasi matematika plus minus

Semakin lelah diriku untuk menghitung berapa jumlah dosa yang telah kulakukan

Semakin lelah diriku menghitung berapa jumlah sujud yang harus kulakukan kepada-Mu

Ya, Allah

Aku sekarang ikhlas

Ikhlas akan ketentuan akhir di dunia perhitungan nanti

Yang ku tahu sekarang,

Bahwa sujudku kepada-Mu,

Hanyalah penyerahan diri hamba yang penuh kekurangan ini

Tidak ada hitungan matematika yang rumit didalamnya

Hanyalah penyerahan diri ini untuk sujud menyembah-Mu

Yang Maha Besar

18 Agustus 2011, NF


Diary Ramadhan - Edisi 13 Ramadhan 1432H

Pagi itu Iskandar bersiap-siap untuk ke kampus seperti biasa. Memanaskan mobil dan membuka pintu pagar seperti biasa. Tidak ada yang luar biasa, tidak ada yang kelihatan aneh. Suasana di komplek perumahan tempat Iskandar tinggal, terlihat seperi biasa, sunyi, sepi, seolah-olah tidak ada kehidupan. Tidak ada tetangga yang kelihatan sedang ngerumpi mencuci mobil, atau membersihkan halaman. Tidak ada sesiapa kecuali petugas keamanan yang mungkin sedang khusyu’ dan tawadhu’s berbakti kepada agama, bangsa dan negara, menjalankan tugasnya, menjaga kemanan komplek.
Sudah 1 bulan Iskandar berpindah ke komplek perumahan itu, tapi dia masih belum pernah melihat sosok tetangga yang tinggal dekat dengan rumahnya, apalagi berkenalan dan beramah mesra. Walaupun sudah seminggu berpuasa, Iskandar tetap tidak melihat kemeriahan warga di kompleknya, baik saat mau berbuka puasa, tarawih, maupun sahur. Suasana di komplek itu sama seperti bulan-bulan lainnya, sunyi dan sepi.
Pagi itu, seperti biasa, setelah mengunci pintu pagar, Iskandar memundurkan mobilnya sebelum melewati portal yang terletak persis di hadapan rumahnya. Hal yang tidak biasa adalah saat dia sedang memundurkan mobilnya, tiba-tiba Iskandar menabarak sesuatu. Badannya mental ke depan, terdengar bunyi benturan dan kaca pecah.
“Wah, ada apa ini?” Iskandar bertanya di dalam hati, berasa kaget dengan apa yang baru terjadi.
Iskandar segera membuka pintu dan keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.
“Ya, Allah! Kok bisa ada mobil di sini!” Iskandar berasa kaget luar bisa karena dia baru saja menabrak sebuah mobil, besar, dan berwarna hitam. Lampu mobilnya pecah.
“Kok bisa, aku menabrak mobil sebesar ini? Saat matahari bersinar ceria?” Iskandar tidak habis pikir, seolah-olah tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Ada sebuah mobil hitam Innova yang sedang parkir di depan rumah tetangganya. Mobil hitam itu, sedang duduk diam, tidak bergerak, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tidak ada suara, tidak ada sedikit pun permintaan untuk ditabrak dan pagi itu, ia ditabrak oleh sebuah mobil kecil, Estillo silver. Tidak tau mobil siapa, belum pernah bertemu, belum pernah berkenalan, belum pernah bertegur sapa, tidak tau salah apa, mobil hitam Innova ditabrak oleh Estillo putih yang aneh, di pagi hari yang biasa, yang berubah menjadi luar biasa.
“Permisi…permisi…permisi” Iskandar tidak biasanya membuat keributan di depan rumah tetangganya, yang biasanya tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada orang, dan tidak ada mobil hitam itu.
“Oh, tidak!” Iskandar menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat mobil hitam itu, yang sepertinya baru saja turun dari langit ke-5 saat dia memundurkan mobilnya.
Tidak ada yang menjawab. Sunyi, sepi. Iskandar melihat ke depan, coba untuk mengkatifkan kemampuan tembus pandangnya, melihat aktivitas yang ada di dalam rumah tetangganya. Tidak berhasil, Iskandar coba mengaktifkan kemampuannya sensor panasnya untuk mendeteksi pergerakan panas. Gagal, sepertinya kemampuan yang dipertontonkan di filem-filem asing itu merupakan sebuah pembohongan publik.
Tidak ada pilihan lain, Iskandar menggunakan kemampuan satu-satunya, suaranya yang merdu untuk memanggil tuan rumah.
“Permisi…permisi..permisi” jerit Iskandar sambil menunggu dengan penuh sabar.
“Ya Pak, ada apa?” tidak lama, keluar sosok manusia, ya, seratus persen manusia. Iskandar mengkonfirmasi bahwa komplek perumahan itu didiami oleh para manusia, bukan para jin atau makhluk asing yang mempunyai kemampuan menyembunyikan pergerakan serta keahlian melakukan sesuatu secra diam, sunyi dan sepi.
“Maaf Bu, ini mobil siapa ya? Barusan saya menabrak mobil ini” kata Iskandar sambil menunjuk mobil Innova yang baru saja ditabraknya.
“Oh, itu mobil Pak Adek” Sosok manusia itu buru-buru masuk ke dalam rumah, mungkin coba memanggil Pak Adek.
“Pak Adek itu tetangga aku atau bukan ya?” Iskandar coba membayangkan sosok Pak Adek. Apakah dia mempunyai kemampuan magis, menurunkan mobil hitamnya yang besar itu, dari langit ke-5 saat Iskandar ingin memundurkan mobilnya.
“Ada apa Mas?” lamunan Iskandar tehenti, kembali ke alam nyata, melihat sesosok manusia laki-laki, tinggi dan besar, berkulit sawo matang dan memegang kunci. Iskandar sekali lagi menkonfirmasi di dalam hatinya kalau sosok yang baru dlihatnya adalah seorang manusia, dan sepertinya pemilik mobil Innova hitam yang baru saja ditabrakya.
“Maaf Pak, ini mobil Bapak ya?
“Iya” jawwabnya pendek.
”Maaf Pak, tadi saya lagi buru-buru pas mau memundurkan mobil, tidak melihat ada mobil Bapak. Tau-tau sudah ketabrak Pak!” ceritaku dengan sepenuh hati dan perasaan.
“Salah saya Pak karena tidak melihat cermin belakang. Biasanya tidak ada mobil di sini, makanya saya langsung tancap gas saat mundur. Nggak tau kalau hari ini tiba-tiba ada mobil. Tapi, memang salah saya Pak. Seharusnya saya melihat ke belakang terlebih dahulu sebelum mundur”
Iskandar coba meyakinkan Pak Adek seolah-olah mobil itu tidak ada di situ saat dia mau memundurkan mobil dan entah bagaimana, tiba-tiba mobil Pak Adek bisa bertabrakan dengan mobilnya.
“Mas tinggal di mana?”
“Di rumah sebelah Pak” Iskandar menunjukkan rumahnya, yang memang persis, seratus persen berada disebelah rumah Pak Adek, tetangga sebelah rumahnya yang mobilnya baru saja ditabrak sebentar tadi.
“Oh, belum kenalan Pak. Saya Iskandar”
“Saya Adek. Saya jarang ada di sini”
“Punten Pak, sesama tetanggan belum kenalan tau-taunya langsung mobil Bapak ditabrak”
“Tidak apa, nanti saya bawa mobil ke bengkel untuk diganti lampunya. Yang kentop juga tinggap di ketok magic” kata Pak Adek singkat.
Iskandar berasa aneh. Bukankah biasanya kalau terjadi tabrakan, pihak yang terlibat akan saling ngotot dan beragumentasi dan menjadi sebuah drama panjang dan sedikit tragis. Tapi pagi itu, di komplek perumahan itu, baru saja terjadi tabrakan mobil, dan semudah itu, secepat itu, terjadi kesepakatan di antara kedua pihak yang terlibat. Iskandar sungguh berasa aneh bin ajaib.
“Ya Allah, sungguh Kau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” Iskandar memanjatkan puji dan syukur di dalam hatinya.
“Sekali lagi maaf Pak. Nanti bon nya diserahkan ke saya ya Pak” Iskandar coba meyakinkan Pak Adek kalau kalau dia sepenuhnya mau bertanggungjawab atas apa yang terjadi.
“Ya, tidak apa” singkat jawab Pak Adek. Sangat ringkas, tepat dan padat.
“Oh ya, sore nanti silakan buka puasa di temat saya, sekalian silaturrahmi!”
“Insya Allah Pak” Iskandar bersalaman dengan Pak Adek sebelum masuk ke mobilnya. Dengan berhati-hati, Iskandar melihat cermin belakang, melihat ada sebuah mobil hitam besar yang baru saja ditabraknya, menekan gas perlahan-lahan dan meninggalkan rumahnya dan komplek perumahan itu.
Di dalam perjalanan ke kampus, Iskandar berasa bersyukur karena akhirnya dapat berkenalan dengan tetangga sebelah rumah, walaupun perkenalan itu harus terjadi lewat tabarakan. Iskandar coba untuk melihat apa yang terjadi secara jernih. Sungguh Allah itu Maha Hebat dan Maha Mengatur segala sesuatu. Memberikan rejeki kepada hambanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dengan terjadinya tabrakan itu, akan mendatangkan rejeki buat penjual lampu mobil, tukang ketok magic dan para tukang parkir dan yang lebih penting, Iskandar dapat berkenalan dan bersilaturrahmi dengan tetangganya. Setiap seuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya. Hanya saja manusia mau mencermatinya atau tidak, menerima dengan hati yang terbuka dan berpikir secara bijaksana.
“Wah, harus berapa mobil yang kutabrak ya untuk berkenalan dengan tetangga lainnya!” Iskandar tertawa kecil, memikirkan apa yang baru saja terjadi, di hari biasa yang luar bisa; saat mobil jatuh dari langit ke-5.

Abduh Hehamahua
Bandung, 17 Agustus 2011.


Diary Ramadhan - Edisi 12 Ramadhan 1432H
Ditulis ulang oleh : Tessa Sitorini

Pengajian Serambi Suluk ::: Disampaikan oleh : Zamzam AJT

Dulu, saat di bangku SMA saya dibuat gelisah dan sangat bingung tentang beberapa istilah dalam Al Qur’an. Apakah perbedaan antara iman dan taqwa? Kalau orang sholatnya baik, iman atau taqwanya yang bertambah? Apa beda istighfar dan taubat? Kalau saya istighfar banyak-banyak apakah sudah dikategorikan bertaubat? Seperti apa taubat yang sebenarnya? Kapan kita mengetahui bahwa Allah menerima taubat kita? Tahapan taubat itu seperti apa? Apa beda taufiq dan rahmat Allah? Kita diperintahkan untuk “berjihadlah pada jalan-Nya”, jalan yang mana? Jihad yang mana?

Sadarilah sahabat bahwa semua istilah dalam agama itu harus mengerti betul, jangan dianggap tidak ada masalah manakala kita masih menerka-nerka apa maksud dari setiap kata yang Allah turunkan itu, justru sikap seperti itu akan menjadi masalah di kemudian hari. Karena semua istilah tersebut diturunkan dari Al Qur’an, semata-mata karena Allah menggunakan kalimat-kalimat ini untuk mendeskripsikan suatu persoalan penting.

Tentang Thariqah

Istilah thariqah berasal dari kata kerja tharaqa , artinya memukul sesuatu dengan palu. Atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Semua mempunyai makna dalam yang sama, yaitu sesuatu yang dilakukan terus menerus dan mempunyai tujuan tertentu.

Kaitan thariqah dan suluk  diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits berikut :
Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan ke surga.

Bila kita perhatikan lebih dalam redaksional hadis itu, maknanya adalah barangsiapa menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) yang dengan jalan itu tersentuh suatu ilmu, maka Allah akan mudahkan ke surga. Jadi ada ilmu yang terbuka. Kuncinya adalah memasuki sebuah jalan, dan ini yang kita harus cari, apa itu jalan yang dimaksud.

Istilah thariq tercantum juga dalam QS [46]: 30
Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab  yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim (jalan yang lurus)

Al Haqq adalah kebenaran yang bersifat umum. Tentang Al Haqq, ada kalimat dari Ali ra:
“Janganlah engkau mencari kebenaran dari manusia, temukan dulu kebenaran (Al Haq) oleh engkau baru engkau akan mengetahui siapa-siapa yang mengikuti kebenaran.”

Artinya penting untuk mencari Allah dulu dalam hati setiap manusia. Memanjatkan doa “Ya Allah, tunjukkan hamba kepada Al Haqq” Nanti Allah akan menunjukkan dengan cara-Nya yang indah. Bisa jadi melalui kata-kata seseorang, perbuatan seseorang, kejadian tertentu dsb.

Karena kalau kita mencari kebenaran dari manusia kerap terhijab oleh keadaan fisiknya, penampilannya, kemampuannya, kemuliaannya, kefasihannya dsb.
Maka Rasulullah berkata, “Ambillah Al Haqq walau dari mulut orang munafik”.
Sebaliknya sesuatu yang walaupun itu diucapkan oleh ‘orang besar’, tapi isinya keburukan maka jangan diambil.

Istilah thariq identik dengan istilah “shirath”, Allah menggunakan nama lain di depan kata mustaqiim, hanya pada ayat ini saja, yaitu thariqi mustaqiim. Karena di banyak ayat lain disebut sebagai shiraathal mustaqiim. Jika kita berdoa dalam shalat “ihdinashiraathal mustaqiim” sebenarnya identik dengan “ihdina thariqa mustaqiim”

Shiraathal Mustaqiim

Kita berdoa setiap hari dalam shalat, memohon ditunjukkan pada jalan yang lurus ihdina shiraathal mustaqiim. Setidaknya 17 kali setiap hari, karena inti surat Al Fatihah terletak pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami karena pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak akan tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, “Janganlah mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS Al Isra’ [17]: 36)

Maka wajib membaca dan memahami Al Quran, karena apa kata Allah ttg shiraathal mustaqiim, bagaimana ciri-ciri orang-orang yang berada di shiraathal mustaqiim semua diterangkan detail di dalamnya. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan hati lalai karena tidak mengerti apa yang sebenarnya kita mohonkan.

Serambi suluk bicara ttg berbagai jalan, dari jalan yg umum hingga ke jalan-jalan yang khusus. Al Haqq itu kebenaran yang sifatnya umum, yang semua manusia harus mengenalnya. Tapi thariq itu bersifat spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing yang diamanahkan Allah Ta’ala saat di alam musyahadah (persaksian) dulu QS [7]:172.

Jadi berdoa ihdina shiraathal mustaqiim, sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Karena setiap orang mempunyai misi hidup yang tidak sama. Seorang waliyullah menggambarkan bahwa manusia membuat asbak, fungsinya ya untuk abu rokok; cangkir adalah untuk air minum; ember utk cuci mobil dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekedar sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Tidak mengenal fungsi spesifiknya (misi hidup) di dunia. Kita harus mengenal apa misi hidup masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita.

QS An Nisaa [4]: 168
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa mereka, dan Allah tidak akan menunjukkan mereka kepada sebuah jalan (thariqan)

Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata jembatan yang ada di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh dan tajam seperti pisau, ini menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan tersebut. Sadarilah bahwa shiraathal mustaqiim itu kita minta saat ini juga, ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus (thariqan) . Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu. Dalam keseharian seorang pejalan akan nampak sama saja beraktivitas seperti orang lain. Tapi bedanya yang satu berada dalam thariq, yang lain bukan.

Mulailah mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan mempelajari Al Qur’an secara sungguh-sungguh. Sambil senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala untuk menunjukkan, apakah benar langkahku telah berada dalam kodrat-Nya?

Jika kita tekun mempelajari Al Qur’an dan memperbaiki diri melalui tazkiyatun nafs. Insya Allah akan terbuka jalan masing-masing. Karena mustahil seseorang ingin menemukan jalan kodrat dirinya masing-masing tanpa mendirikan sholat dan mempelajari Al Qur’an. Al Quran adalah peta dalam kehidupan. Tidak hanya itu, ia adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, dan jalan itu makin jelas adanya.

QS Al Jin [72]: 16
Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus (istaqomu) di atas sebuah thariqah, maka benar-benar Kami akan memberi kepada mereka air yang segar

Jadi siapa yang istiqomah dalam sebuah thariqah maka akan diberi air yg segar.
Maka pertama kali harus menemukan apa itu thariqah, lalu berjihadlah di dalamnya, berjalan sungguh-sungguh dalam mandat Allah diantaranya dengan tazkiyatun nafs (penempaan jiwa), maka Allah akan menurunkan air yang segar, air pengetahuan (ilmu). Yaitu imu yang baru, bukan ilmu yang lama dan diulang-ulang. Karena Al Quran sangat luas seperti samudera, maka setiap orang akan menemukan ilmunya masing-masing.

Ketika pulang dari Perang Badar (pertempuran besar pertama umat Islam dengan perbandingan 300-an pasukan kaum Muslimin melawan sekitar 1000 pasukan lawan), Rasulullah saw bersabda

”Sesungguhnya kita baru pulang dari jihad yang kecil dan kita akan menuju kepada jihad yang akbar, yaitu berperang melawan hawa nafsu.”

Jadi menempa diri kita dalam sebuah thariq adalah suatu jihad yang besar (jihadul akbar).

Semoga Allah Ta’ala memberi kita hati yang berserah diri dan kekuatan dalam menempuh jalan-Nya. Amiin


Diary Ramadhan - Edisi 11 Ramadhan 1432H
Ditulis ulang oleh : Tessa Sitorini

Pengajian Serambi Suluk ::: Disampaikan oleh : Zamzam AJT
Bintaro, 14 Mei 2008

Dalam Hadis Shahih Muslim dikatakan ada 3 pilar Ad Diin - yang sering diterjemahkan sebagai agama, walaupun kurang pas. Sehingga kita akan tetap memakai redaksional aslinya di sini, yaitu Ad Diin.

Tiga pilar itu adalah Al Islam, Al Iman dan Al Ihsan. Jadi kalau kita ingin menegakkan Ad Diin, mk harus menegakkan ketiga pilar itu.

Kalau kita baca secara teliti, sebenarnya Jibril bukanlah bertanya kepada Rasululullah karena tentu Jibril sudah sangat tahu apa itu Ad Diin, sebagaimana Rasulullah mengetahui itu. Adapun peritiswa ini adalah cara yang indah bagaimana Allah mengajari para sahabat ttg Ad Diin. Maka kita harus betul-betul mempelajari ketiga pilar ini. Kadang kita dalam melaksanakan Ad Diin baru berkutat dalam aspek Al Islam, dalam pengertian kalau sudah mengerjakan shalat, zakat, shaum dan haji, seolah-olah sudah menegakkan Ad diin, padahal ada pilar lain yaitu Iman dan Ihsan.

Bisa jadi seseorang shaum, zakat, haji, umrah tapi masih korupsi, berarti dalam diri orang itu belum berbuah aspek syariah itu karena belum takut kepada Allah Ta’ala. Maka Islam, Iman dan Ihsan adalah suatu jenjang. Sebuah proses pertumbuhan. Seperti sebuah benih ditanam, akarnya keluar, tumbuh batang yang bercabang-cabang kemudian berdaun banyak dan berbuah.

Diantara proses Islam-Iman-Ihsan yang relatif terukur adalah aspek Al Islam, ada ilmu fiqihnya, jadi kalau ada penyimpangan kelihatan jelas. Walaupun dalam fiqih ada berbagai mazhabnya, misal perbedaan dalam meletakkan tangan dalam shalat dsb, itu tidak apa-apa tergantung keyakinan masing-masing.

Untuk membedakan orang Islam atau tidak, bisa dari apakah orang tersebut mengerjakan shalat atau tidak, karena shalat adalah tiang Ad Diin. Ini relatif mudah. Tapi bagaimana mengukur keimanan seseorang? Ini lebih sulit, karena menyangkt dimensi lain. Sebagaimana sulit untuk menilai kekhusyukan seseorang dalam shalat. Maka Islam-Iman dan Ihsan dalam seseorang bertingkat-tingkat adanya.

Tentang Thariqah

Pembahasan “Serambi Suluk” banyakmembongkar tentang Thariqah.

Suluk adalah perjalanan, dari kata dasar salaka yang berarti menempuh atau memasuki seusatu. Yaitu alam syariah memasuki alam thariqah.

Dalam perkembangannya muncullah berbagai istilah, ada disebut tasawuf, sufi, mysticism dsb. Sebetulnya tasawuf hanya nama saja, orang bisa menamakan apa saja. Tapi intinya harus dipahami, karena sebetulnya aspek syariah itu terdiri dari dua hal; (1) syariat lahiriah ; (2) syariat batiniah. Karena Rasul juga mengajarkan tidak boleh sombong, merendahkan orang lain, mengeluh dsb semuanya adalah sebuah syariat batin.

Kadang orang mengetatkan syariat lahiriah tapi menghasil kesombongan dalam dirinya. Padahal dalam hadis Rasulullah mengatakan “Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada kibir (takabur/bangga diri) walaupun sebesar dzarrah.” Jadi yang menjamin ke surga bukan hanya zakat, shalat, shaum, dan haji tapi juga tidak boleh kibir, tidak merendahkan orang lain dsb.  Dengan demikian sama pentingnya memegang kedua syariat ini.

Para sufi dalam thariqah itu banyak berkecimpung dalam menata yang batin. Adapun mereka juga sangat memegang syriat, bukan berarti tidak bersyariat. Mereka shalat, shaum dsb. Tapi ilmu tentang syariat lahir ini sudah ada fuqahanya, agama itu sangat luas, jadi masing-masing saling melengkapi.

Istilah thariqah dalam Al Qur’an bisa kita lihat di QS [23]: 17 “Dan sungguh Kami telah menciptakan di atasmu 7 buah jalan”

Di atas kita masing-masing terbentang 7 buah langit dengan 7 buah jalan, dan 7 buah pintunya. Nanti kita akan mengerti bahwa itu harus ditempuh, ini yang disebutthariqah.

Kalau kita berthariqah, maka akan terbuka aspek haqiqat, karena thariqah itu fokusnya pembersihan hati.

Ingat urutan perjalanan suluk Syariat à Thariqat à Haqiqat à Ma’rifat

Kalau hijab qalbnya runtuh seiring dengan pembersihan qalb maka akan mukasyafah, akan terbuka. Mukasyafah akan diikuti oleh musyahadah (penyaksian).

Dengan ber-thariqah maka akan terbuka aspek Al Haqq QS [41]: 53 ini janji Allah Ta’ala. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk (hal yang terjauh dari diri kita) dan ke dalam anfus (jiwa-jiwa)

Ini adalah sebuah tahapan, di ufuk dulu, kemudian Allah tarik ke dalam diri sendiri. Jadi akan diperjalankan keluar, baru ditarik ke dalam. Mengenal diri (jiwa/nafs).

Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu (hadits)

Ini sebuah proses, maka yang membuat urutan syariat, thariqah, haqiqat, ma’rifat adalah para ulama yang mengerti ttg jalan ini. Mengenal haqiqat yaitu mengenal aspek hakiki dari semua ciptaan Allah. Semua alam semesta-Nya baik yang diluar kita maupun yang di dalam diri kita.

Adapun ma’rifat bukan mengenal tentang ciptaan-Nya, tapi ttg Sang Pencipta.

Kalau para sufi, para waliyullah itu diperkenalkan, di mi’rajkan , ditampakkan rahasia langit dan bumi , tidak lain agar mereka menyembah-Nya lebih dalam. Lebih mencintai Allah, lebih murni ketaatannya.

Awaluddina ma’rifatullah (hadits)

Jadi orang dikatakan beragama, awalnya adalah ma’rifatullah. Utk mencapai ma’rifat harus melampaui syariat , thariqat dan haqiqat. Hanya ketika kita mengenal siapa yang kita sembah, baru agamanya (Ad Diin) kita tegak. Kebanyakan manusia walau kita sudah syahadat, sholat, zakat naik haji tapi dalam hatinya masih goyang keyakinannya tentang siapa Allah sebenarnya, banyak dari kita kadang berprasangka buruk pada Allah , ini bukti iman dan ihsannya masih goyang. Kadang begitu diuji dalam kehidupan langsung timbul prasangka buruk atau bingung. Maka orang beriman wajib membaca Al Quran karena semua aspek kehidupan ada di Al Quran. Kenapa saya bekerja disini? kenapa uijannya begitu? kenapa saya kena fitnah padahal saya rajin sholat? kenapa justru orang yang tidak sholat malah makmur dan sukses? Nah itu di tahap haqiqat kehidupan, kalau tidak kita masih berjalan dengan menyimpan prasangka buruk dan keraguan kepada Allah Ta’ala, artinya belum mengenal Allah (ma’rifatullah), dengan demikian belum tegak pula Ad Diin (agama)nya.

Dalam Shahih Bukhari hadis no 85 dan 86 disebutkan sbb:

Dari Abu Hurairah ra. Ssaya berkata kepada Rasulullah, “Ya rasulullah saya banyak menerima hadis dari engkau tetapi saya banyak lupa.” Kata Rasulullah, “Hai Abu Hurairah, singkapkanlah jubahmu!” Lalu aku menyingkapkan jubahku, kemudian Rasulullah menyaup (memasukkan sesuatu ke dalam dada Abu Hurairah) “ “Kumpulkanlah” kata Rauslullah. Lalu kukumpulkan hadis itu dan setelah itu aku tidak lupa lagi.

Dari Abu Hurairah ra.”Saya hafal dua karung hadis dari Rasulullah, yang satu karung telah saya terangkan kepada kalian, sedangkan yang satu karung lagi kalau saya terangkan kepada kalian, niscaya akan dipotong leher saya oleh kalian.”

Dari hadis terakhir di atas berarti ada pengetahuan yang khusus, yang sensitif , yang akal umat kebanyakan belum bisa menerima. Rasulullah menyampaikan kepada Abu Hurairah karena imannya sudah tinggi, sehingga Rasulullah bisa menerangkan banyak hal ttg haqiqat. Rasulullah tentu akan memberikan pengetahuan kepada yang berhak menerimanya.

Apakah dengan demikian Rasullah tidak amanah? Kok ada hal yg tidak sampai ke kita? Tidak, aspek yang “satu karung” itu adalah aspek hakikat dan itu akan ditemukan oleh siapapun yang mencari Allah dengan ikhlas. Siapapun dia, jika ia mencari Allah sungguh-sungguh maka akan terbuka hakikat itu, tidak akan hilang, karena panduannya Al Quran, ia yang akan mendefinisikan apa yang mereka alami.

Dalam sebuah buku Thariqah Tijaniyah ada hadis Rasulullah saw, dalam kitab Mizan Al Qubra juz 1.

Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan siapapun yang menempuh (salaka) salah satunya akan sampai.”

Jadi banyak sekali thariqah yang Allah sediakan, maka tidak boleh merasa dirinya paling benar. Dengan demikian ada 360 cara penempuhan utk menempuh 7 pintu langit yang tercantum dalam QS [23]: 17.

Yang penting senantiasa kembangkan sikap mencari Allah dalam diri. Karena hal yang paling mustahil di dunia ini adalah kalau kita mencari Allah, lalu Allah tidak menuntun. Yakinkan kalau kita berbisik di hati yang terdalam, “ya Allah tuntunlah hamba”… selama dzikir itu terus digaungkan, maka insya Allah tidak akan tersesat.

Tapi kalau kita sudah sampai di level manapun dalam agama, kalau tidak berdzikir seperti itu maka bisa tergelincir. Jangan kuatir salah memilih jalan, yang penting mohon yang kuat pada Allah Ta’ala. “Ya Allah jika ini batil tampakkan kebatilannya, dan jika itu benar, maka tampakkan kebenarannya…”

Al Mawaathin Insaan

Mawaathin itu jamak dari mauthin. Dari kata wathana, artinya menempati.

Mauthin artinya tempat menetap.

Khazanah ini diambil dari Kitab Risalah al Anwar (Risalah Cahaya-Cahaya) karangan Ibnu Arabi. Beliau adalah seorang waliyullah besar, sering terfitnah karena mengurus ‘karung yang lain’. Karena kebanyakan orang tidak sampai pada apa-apa yang beliau ungkapkan.

Ibnu Arabi menceritakan tentang 7 alam (mauthin) yang akan ditempuh oleh manusia.

1. Mauthin syahadah

2. Mauthin rahim

3. Mauthin dunia

4. Mauthin barzakh

5. Mauthin mahsyar

6. Mauthin akhirat

7. Mauthin al-katsiib (bukit pasir)

Kita sekarang ada di mauthin dunia. Kita tinggal di sini beberapa tahun saja. Katakanlah 80 tahun. Tapi dibanding alam barzakh? Sangat jauh…

Rasulullah saw hidup di dunia 63 tahun (tahun komariah) dan beliau sekarang ada di alam barzakh ribuan tahun lamanya.  Belum lagi kehidupan di alam mahsyar, akhirat dst. Dan sebetulnya semua mukmin yang ada di alam barzakh, bukan tidur! Mereka sholat, belajar, ma’rifah , berkomunikasi. Semua masih ada dan beraktifitas. Memang ada orang yang mendapat azab kubur. Camkanlah tentang hal ini, dan renungkalnah bahwa sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi di alam duniasungguh tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ratusan ribuan tahun (bahkan lebih) kehidupan di alam barzakh dan alam lainnya.

Maka ketika manusia -dikisahkan dalam Al quran-  ditanya, berapa lama tinggal di dunia? Mereka menjawab, “sehari atau setengah hari saja”. Saking lamanya tinggal di alam lain maka mereka merasa hidup di dunia sungguh sekejap mata.

Tapi yang luar biasa, justru kehidupan kita di dunia yang singkat ini justru yang paling menentukan nasib kita selanjutnya. Maka dunia disebut negeri bekal. Jika saat kita masuk ke alam barzakh dalam keadaan masih kurang bekal, bisa dibayangkan kesulitannya! Adapun kebanyakan manusia kurang bersyukur dan banyak mengeluhnya. Padahal sedahysat apapun kesulitan yang mendera seseorang di alam dunia ini masih belum apa-apa dibanding kesulitan yang akan dihadapi di alam-alam lain.

Thariqah adalah utk membangun bahtera di alam dunia agar tidak tenggelam. Kita bekerja dan berkarya di bumi ini tapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Bukan juga dengan cara meninggalkan dunia. Tapi bagaimana membangun bahtera individu, bekerja dan paham hakikat dunia dan kehidupan. Jadi membangunsyariat, thariqat, haqiqat dan ma’rifat adalah menyiapkan bekal saat di dunia untuk perjalanan di alam selanjutnya.

Tujuan sejati thariqah adalah untuk mengenal diri kita. Karena setiap orang punya misi sucinya masing-masing. Jalannya bermacam-macam, ada yg melakukan dzikir banyak, ada yang riyadhoh dsb. Tapi intinya hijab hati harus terbuka, sehingga mencapai musyahadah (penyaksian) tentang siapa diri kita.

Rumi membuat perumpamaan begini: Ada seorang raja menyuruh menterinya ke sebuah negeri Sang raja berkata “Pergilah ke suatu negeri dan bangunlah jembatan di sana!”.  Si menteri kemudian pergi ke negeri itu, dan menemukan banyak persoalan di sana. Kemudian ia mengerjakan banyak hal, membangun gedung, rumah, jalan dsb. Hingga pada suatu waktu kembalilah si menteri menghadap raja dan mengaku sudah mengerjakan banyak hal. Kata sang raja, “Bagaimana dengan jembatan itu?”. Adapun sang menteri lupa mengerjakannya…

Manusia banyak yang mengerjakan banyak hal di bumi ini, tanpa mengerti apa sebenarnya tugas spesifik yang diamanahkan kepada kita. Kita sudah sekian tahun hidup, tapi belum mengenal apa yang ada di dalam kita. Sungguh ini harus kita kejar, jika tidak kita akan kembali pada Allah Ta’ala dan kesulitan memberikan pertanggungjawaban.

Semua yang bertarekat harus menemukan kodratnya, ruhul qudus-nya . (sacred mission on earth), karena itu adalah amal sholeh tertinggi manusia. Misi itu tidak akan pernah diketahui kalau tidak mengenal jiwa yang paling dalam, yaitu jiwa yang bertemu Allah Ta’ala di mauthin syahadah QS [7]: 172.

Karena itu mauthin pertama, mauthin syahadah dikenal sbg mauthin alastu.

Sebelum kita dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing, ada jiwa yang ditiupkan.

Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak Adam dari tulang punggung mereka,

Saat usia janin 120 hari (4 bulan) di alam rahim, sang jiwa (nafs) ditiupkan ke rahim ibu. Ini adalah peristiwa yang penting. Saat sebelumnya pada janin ada ruh bapak dan ibunya, di usia 4 bulan individu janin sesungguhnya yang akan ditiupkan (ini tercantum dalam hadits bukhari), pada saat itu ditiupkan jiwa dan ruhnya. Perhatikan adalah berbeda antara jiwa dan ruh itu.

Maka disebut man arafa nafsahu bukan arafa ruh.

Ruh dibungkus di dalam jiwa, sedangkan jiwa dibungkus di dalam raga.

Sebelum ditiupkan ke dalam masing-masing raga manusia, semua nafs (jiwa) dipanggil ke hadapan Allah Ta’ala

Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa) mereka, QS [7]: 172

Perhatikan di sini yang bersaksi adalah jiwa, bukan ruh.

Bukankah Aku Rabbmu?

Mereka mengatakan ‘balaa syahidna’ (kami bersaksi)

Jadi jiwa terdalam kita sudah mengenal Allah ketika ditiupkan ke dalam raga. Akan tetapi karena wadah jiwa masih dalam bentuk janin, maka akal raganya belum berkembang optimal, jadi belum siap menerima pengetahuan yang diterima si jiwa. Kemudian pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada dalam jasad. Seiring dengan pertumbuhan raga tumbuh, si jiwa justru makin ‘tercekik’ di dalam oleh sayyiah dan dosa yang ada.

Kemudian melalui riyadhoh dan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa), semua pengetahuan ini kembali akan terbongkar. Pada saat jiwa muncul dan menceritakan saat pertemuan dengan Allah dulu, dan si raga akan diberitahu apa tugasnya.

Perhatikan bahwa raga bahkan belum terbentuk saat jiwa masih di alam syahadah, menyaksikan Sang Rabb. Dan saat kita meninggal nanti, raga ini hancur ditelan bumi, adalah jiwa yang kemudian menerima siksa atau nikmat di alam barzakh. Jadi kita yang sebetulnya adalah komponen jiwa. Adapun raga adalah bayangan dari jiwa kita.

Saat kita berkata balaa syahidna, pada saat itu juga dikatakan apa misi hidup kita di muka bumi.

Man arafa nafsahu yaitu mengenal jiwa yang dulu dikirim ke raga yang dulu pernah bersaksi di hadapan Allah, maka akan mengenal Rabb-nya, karena dia akan menunjukkan. Jika kita mengerjakan apa yang dimandatkan Allah, itu yang akan membuat kita mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan.


Diary Ramadhan edisi 10 Ramadhan 1432H
Oleh : Abdul Muizz

Dalam berbagai kesempatan, terlontar harapan untuk meraih berkah. Saat bertemu dengan sesama muslim, kita berucap, “Assalaamualaikum warahmatullah wa barakaatuh, semoga keselamatan tercurah padamu, juga rahmat Allah dan barakahNya.” Di saat mengawali makan, kita berdoa, “Allaahumma baarik lanaa.. Ya Allah, berikan barakah pada kami atas apa yang Engkau rizkikan pada kami..”

Saat menghadiri undangan pernikahan, Rasulullah mengajarkan untuk mendoakan pasangan yang menikah dengan doa, “Baarakallaahu lakumaa.., semoga barakah Allah terlimpah atas kalian..” Saat seseorang berulang tahun, kita mendoakan, “semoga dikaruniai umur yang barakah.” Kepada mereka yang sukses menyelesaikan studinya, “semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan barakah.” Kepada keluarga atau saudara yang akan merantau atau mencari pekerjaan, “semoga mendapatkan rezeki yang halal dan barakah.” Saat ada kenalan yang meraih prestasi, “mabruk.. atau baarakallaah..”

Ketika seorang bayi baru dilahirkan, selain ucapan syukur, selamat dan doa untuk si bayi, tak jarang terselip pula sebuah doa, “baarakallah..”

Bagi sebagian kaum muslimin (wa bil khusus para perantau jauh dari keluarga), puasa tanpa sahur tak jadi soal. Ini soal kebiasaan, setelah beberapa hari toh akan terbiasa juga. Namun adalah janji Nabi, “Bersahurlah, karena di dalam sahur itu ada barakah” yang menjadi salah satu motivasi untuk bangun bersahur, sekalipun hanya seteguk air. Sahur adalah sunnah. Tanpa sahur mungkin akan tetap kuat berpuasa, tapi berkah melayang sudah.

MISTERI BERKAH

Entah apa yang ada di pikiran Jabir RA. Dia mengundang hanya Rasulullah SAW dan satu atau dua orang sahabat lain dan menyiapkan makanan ala kadarnya di rumah. Namun Rasul yang mulia tak sampai hati meninggalkan para sahabatnya meneruskan menggali parit untuk perang Khandaq dalam keadaan lapar, sementara beliau menghadiri jamuan makan. Maka bukan seorang dua orang, tapi seluruh sahabat Muhajirin dan Anshar beliau ajak menuju rumah Jabir. Semangat mulia menjamu tamu itu seketika berubah menjadi kebingungan dan kepanikan tuan rumah.

Tapi begitulah adegan barakah itu kemudian dipertontonkan: Rasulullah mulai membagikan roti dan sekerat daging kepada tiap orang sahabat, dan terus melakukannya sampai semua orang merasa kenyang. Jabir RA bersaksi, “sungguh mereka semua makan sampai kenyang sebelum kemudian pergi, sementara kuali milikku tetap utuh seperti semua dan adonan rotiku bisa dibuat roti seperti biasa.” (HR. Bukhari)

BERBUAH DAN BERTAMBAH

Atau kisah luar biasa shahabiyah (sahabat wanita) Ummu Sulaim RA. Tatkala balita kesayangannya meninggal setelah beberapa hari sakit, Ummu Sulaim memiliki alasan yang lebih dari cukup untuk menangisi kepergiannya. Tapi Ummu Sulaim yang bersabar menyembunyikan berita ini kepada suaminya yang baru pulang dan kelelahan. Ia berdandan dan menjamu sang suami malam itu sepenuh hati. Keesokan paginya setelah suaminya merasa segar kembali, baru ia beritahukan kabar wafatnya putra mereka.

Siapa nyana, Allah langsung mengganti balita mereka. Ummu Sulaim mengandung dari hasil hubungan malam itu. Tak berhenti di situ, putranya yang diberi nama Abdullah bin Thalhah ini kelak memiliki tujuh orang putra, yang semuanya penghafal alQuran. Rupanya bukan hanya lantaran keutamaan sang ibu, tapi ada campur tangan doa Rasulullah setelah diceritakan tentang kisah luar biasa kesabaran Ummu Sulaim itu, “semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua.”

RAHASIA ALLAH

Sebagai penutup, tak dapat disangka dalam bentuk apa tambahan kebaikan ini. Dalam bukunya, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah mengatakan:

“Barakah adalah bertambahnya kebaikan dari setiap kejadian yang kita alami dari waktu ke waktu. Barakah dalam kekata Ibnul Qayyim adalah semakin dekat dan akrabnya kita pada Allah. Pada tataran apapun, barakah menghadirkan dunia yang tak tertembus oleh mata kasat kita. Barakah telah menghapus ukuran-ukuran dan standar yang kita pakai untuk mendefinisikan kata ‘bahagia’.”

Semoga Allah mengaruniakan berkah pada diri kita, umur kita, keluarga kita dan apapun aktivitas kita, amin..


Diary Ramadhan edisi 9 Ramadhan 1432H
Oleh :
Abduh Hehamahua
Tuhan
Kau tau betapa aku merindukan
Hadirnya Ramadhan
Bulan seribu ampunan
Bulan penuh keberkatan
Bulan seribu harapan
Bulan penuh ketaqwaan

Tuhan
Aku bersimpuh menadahkan tangan
Memohon dengan penuh harapan

Tuhanku

Ampunilah dosaku
Dosa orang tuaku
Dosa istriku
Dosa anakku
Dosa keluargaku
Dosa mereka yang mengenaliku
Dosa mereka yang tidak mengenali diriku
Dosa mereka yang hidup sebelumku
Dosa mereka yang hidup setelah diriku

Tuhan
Beri aku kekuatan
Menjalani kehidupan
Mencari sinar harapan
Menemukan jawaban
Meraih ketenangan
Mendapatkan ampunan
Memperoleh kemenangan
Di bulan suci Ramadhan

Bandung, 12 Agustus 2011.