Diary Ramadhan edisi 23 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

The purpose of religion is to benefit people, and I think that if we had one religion, after a while it would cease to benefit many people. All of these religions can make an effective contribution for the benefit of humanity. They are all designed to make the individual a happier person, and the world a better place.

-Dalai Lama-

Tadi saya membaca satu catatan (notes) di Facebook milik teman baik saya. Catatan tersebut sebenarnya lebih tepat disebut curhat ibu-ibu. Dia bercerita tentang anaknya -seorang anak laki-laki yang lembut hati dan selalu tersenyum- yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba datang padanya dan berkata,’Tuhan itu tidak ada. Orang-orang hanya berpura-pura.’ Kagetlah teman saya. Bertanya ada apa, yang dijawab dengan gelengan kepala anaknya. Lalu teman saya sibuk menjelaskan mengenai Tuhan pada anaknya tersebut, yang tetap disambut dengan wajah tidak percaya. Teman saya tiba-tiba merasa jadi ibu yang buruk karena bagaimana mungkin anaknya yang baru saja berusia enam tahun bisa menjadi agnostik? Tapi dia mengakui, bahwa pertanyaan yang sama juga pernah muncul pada dirinya (hanya tidak pada saat umurnya enam tahun). Dan teman saya itu berusaha untuk menghibur diri dengan menulis, ‘Anak saya akan baik-baik saja, dia adalah anak yang sangat baik dan lembut hati.’

Saya membaca catatan itu sambil membaca timeline di twitter yang masuk berseliweran. Membaca berita dari negeri tercinta sambil ngobrol tidak jelas lewat twitter dengan teman-teman saya. Membaca berita tentang FPI yang mengatakan Kapolri ngawur ketika Kapolri menyebutkan bahwa FPI layak untuk dibekukan. Membaca sikap sebuah partai yang mendukung Menteri Agama untuk membubarkan Ahmadiyah. Membaca rencana DPR RI untuk membuat gedung DPR baru dengan biaya trilyunan, lengkap dengan spa dan kolam renang (spa dan kolam renang kemudian dibatalkan ketika orang-orang ribut memprotes). Membaca berita 26 anggota DPR angkatan yang lalu yang dijadikan tersangka kasus penyuapan.

Sehari sebelumnya, saya berdiskusi dengan teman saya –juga lewat twitter- mengenai penolakan yang keras dari para tweeps (twitter people) Indonesia mengenai pemblokiran UU pornografi. Mengenai kenyataan yang bukan rahasia bahwa penduduk negeri ini merupakan pengakses situs porno yang mayoritas. Dan betapa di permukaan, semuanya serba baik dan sopan. Manusia-manusia yang berlindung di balik simbol-simbol (agama).

Tiba-tiba saya merasa capek. FPI, Ahmadiyah, korupsi, semua terjadi di Indonesia. Negara yang menurut KTP semua orangnya beragama. Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Teman saya yang anaknya jadi agnostik itu, mengaku sudah tidak baca koran dan nonton televisi karena jiwanya kelelahan. Sulit untuk menganggap semua orang sebagai everyday angel ketika di sekitar kita berseliweran berita yang sebaliknya. Bikin pesimis dan patah hati.

Dan saya bertanya-tanya. Di negeri yang mayoritas manusianya muslim (kita juga punya kloter haji super besar setiap kali musim haji), mengapa korupsi, pornografi, kekerasan yang mengemuka? Kemana agama yang seharusnya dianut orang-orang ini? Kemana Islam yang seharusnya menjadi ‘rahmatan lil alamin’? Yang kemudian juga membuat saya tambah lelah adalah, pandangan orang-orang non Muslim -seperti di Negara kincir angin tempat saya sekarang, juga di Negara-negara lain- terhadap orang Muslim juga tidaklah terlalu baik. Islam dianggap sebagai agama yang menganjurkan kekerasan, menindas perempuan. Melihat penolakan-penolakan terhadap dibangunnya mesjid di berbagai Negara, terus terang membuat saya berpikir banyak mengenai agama sendiri. Membuat saya membolak-balikkan Quran, bertanya-tanya, apakah benar, agama saya sejahat itu? Jika Budha identik dengan kelembutan, mengapa Islam harus disandingkan dengan kekerasan? Apakah Islam memang agama yang buruk dan tidak punya efek yang baik terhadap? Negara mayoritas Muslim seperti Indonesia punya wajah bopeng dengan kemiskinan yang membuncah dimana-mana. Apakah memiliki agama (dan Tuhan) kemudian menjadi lebih penting daripada menjadi orang yang baik seperti teman saya pada anaknya, karena toh, punya agama tidak membuat seseorang menjadi orang yang baik?

Kang Jalaluddin Rakhmat (saya menyukai pemikiran beliau) pernah ditanya oleh seseorang di internet mana yang lebih baik, sholat tapi tidak baik dengan tidak sholat tapi baik. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sungguh elegan,’Kalau dia sholat pastinya dia baik.’ Tapi kemudian si penanya kembali memaksa Kang Jalal untuk memilih dan akhirnya Kang Jalal mengatakan,’Kalau saya harus memilih, saya memilih, tidak sholat tapi baik.’

Mungkin sebagian dari kita tidak akan sepakat dengan kata-kata Kang Jalal ini. Akan tetapi yang saya lihat dari jawaban itu, sejatinya, seseorang yang beragama itu seharusnya baik. Islam itu rahmatan lil alamin, sehingga ketika kita mengaku beragama Islam, seharusnya apapun yang kita lakukan berada dalam konteks meraih surga dengan menjadi rahmatan lil alamin.

Lalu pertanyaan saya selanjutnya, ’Mengapa korupsi dimana-mana? Bukankah pemimpin-pemimpin Islam mencontohkan bahwa jabatan adalah amanah dan tidak sepantasnya memperkaya diri? Mengapa (sebagian dari) kita merasa begitu hebat sebagai mayoritas sehingga merasa punya alasan untuk memukuli dan mencerca mereka yang berbeda keyakinan dan pandangan? Bukankah Nabi yang mengajarkan,’Lakum Dinukum Waliyadin’? Bukankah Nabi juga yang mengajarkan untuk selalu bersikap lemah lembut dan santun, bersikap adil di dalam segala hal?

Saya percaya bahwa semua orang itu baik. Saya menolak pemikiran Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa manusia itu serigala bagi sesamanya. Mungkin dahulu ketika manusia saling berebut untuk bertahan hidup kredo itu benar. Tapi saat ini, alasan apa yang bisa membenarkan kita untuk menyakiti orang lain?

Islam adalah agama penuh kasih sayang. Setiap kali saya sholat saya selalu membaca basmalah Bismillahirahmanirahim, dengan nama Allah yang Maha Kasih Maha Sayang. Allah itu Maha Kasih dan Maha Sayang, dan kita harus meniruNya. Tapi, membaca berita-berita buruk itu, pertanyaan saya kembali, mengapa? Apa yang terjadi? Salahnya dimana? Apa yang harus dilakukan? Saya belum juga menemukan jawabannya.


Diary Ramadhan edisi 21 Ramadhan 1431H

Oleh: Muhammad Iqbal

Sedikit introduksi sebelum mulai bertualang, IceWind Dale II adalah game khusus PC racikan Black Isle Studio. Diterbitkan Interplay Entertainment pada akhir Agustus 2002, game ini mendulang sukses mengikuti prekuelnya (IceWind Dale). Game bergenre fantasy RPG (Role Playing Game) ini bercerita tentang perseteruan penuh intrik dari berbagai ras, organisasi, dan agama dari para penghuni Ten Towns. Panorama penuh salju yang dingin-dingin empuk mendominasi hampir seluruh lingkungan outdoor. Nuansa ghotic yang artistik menambah cantik tampilan indoor, Story line yang kuat yang disertai gameplay dan menu kendali yang user friendly, menjadikan game ini sebagai salah satu game yang layak dikhatamkan pada jamannya.

Game dimulai dengan character creation screen. Dimulai dengan memilih nama, gender, ras, alignment, hingga penampilan fisik, dan sebagainya. Kombinasi enam character yang terdiri atas barbarian, paladin, thief, ranger-fighter, cleric, dan mage jadi pilihan yang sepertinya akan memuluskan petualangan. Bunuh sana, bunuh sini, tipu sana, perdaya sini, dan lalu dibunuh juga, terasa seru sampai akhirnya saya stuck di sebuah kuil. Di kuil itu ada ruangan yang tidak bisa dimasuki dan gua tersembunyi berisi naga yang kekuatannya superior. Perkiraan bahwa dengan membunuh naga akan memberikan akses ke ruangan terlarang itu ternyata salah. Perjuangan keras membunuh naga hanya membuahkan kondisi terjebak alias stuck, game tidak bisa dilanjutkan. Penasaran!

Selang beberapa bulan kemudian patch game ini pun keluar. Saking penasarannya terhadap game ini, jalur cepat memakai walkthrough pun ditempuh. Dengan sedikit browsing di internet, akhirnya saya dapatkan fakta mengesalkan bahwa memang ada bug di game itu ketika masih belum dipatch, dan juga larangan membunuh naga sebelum menyelesaikan quest tertentu. Naga yang sama yang sudah saya bantai dengan seksama. Asal tebas memang tidak menyelesaikan masalah. Sialnya, save game sebelumnya ternyata corrupt! Sehingga game harus dimainkan dari awal lagi tapi kali ini game dapat diselesaikan dengan mulus dan seksama. Terima kasih kepada patch dan walkthrough persembahan gamefaq.

Game yang satu ini memberikan banyak kesan dan renungan. Bermain peran (role play) sedikit banyak memang mirip dengan kehidupan nyata. Kemiripan-kemiripan itulah yang mungkin membuat permainan terasa lebih hidup dan menyenangkan. Peran yang dimainkan sengaja disesuaikan dengan karakter yang dibangun sebelumnya. Untuk menanggulangi undead, cleric memang tiada duanya tapi untuk berdiplomasi, pastilah paladin yang dipasang pertama untuk bicara. Tiap karakter ada peran sentral masing-masing.

Lantas terpikirkan tentang apa peran saya dalam hidup ini. Bak sebuah game RPG, kehidupan di dunia ini diisi banyak karakter dengan perannya masing-masing. Saya yang kondisinya seperti ini didisain untuk sebuah peran tertentu, saya meyakini itu. Memang tidak seperti game, permulaan cerita saya di dunia tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri. Beberapa karakteristik dasar hidup memang sudah ditakdirkan seperti begini adanya. Warna kulit, suku, tempat tanggal lahir dan sebagainya bukanlah variabel yang bisa diotak atik. Tapi tetap saja kita punya keleluasaan dalam mengambil peran. Tiap orang punya kesempatan jadi presiden, mendarat di bulan, atau bahkan melahap seporsi spare ribs di salah satu restoran di Groningen dengan masih menyandang status sebagai mahasiswa. Hanya perlu dimaklumi bahwa probabilitas tiap orang untuk melakukan itu semua memang berbeda-beda. Satu hal yang saya yakini, sekarang sudah bukan waktunya untuk menyesalkan dan mempermasalahkan bawaan orok. Apa yang harus dipikirkan adalah bagaimana si orok ini bisa menjadi “orang”.

Menjadi “orang” dalam hal ini dapat diartikan dengan meraih keberhasilan dalam kehidupan dunia. Untuk berhasil, tentunya kita harus tahu aturan main yang berlaku sehingga bisa menyusun strategi dengan tepat. Bermain tanpa strategi tak ada bedanya dengan sekedar main-main saja tak akan ada pelajaran yang bisa diambil. Segala sesuatu itu memang ada aturannya, ada ini dan ada itu, begitu juga dengan hidup. Aturan main resmi tentang hidup pun sebenarnya sudah diterbitkan sebagai panduan dalam firman-firman-Nya. Al-Qur’an adalah panduan yang dibuat oleh Dia Yang Menciptakan Segala Keteraturan bagi makhluk-Nya yang hendak bertualang di dunia. Tapi pada kenyataannya masih banyak juga yang malah menggunakan petunjuk terbitan pihak ke tiga sebagai panduan utama hidup. Alih-alih selamat, kebanyakan malah terjebak dan tersesat dalam realita yang semu. Sebagai manusia yang senantiasa berfikir, mempelajari dan memahami semua keteraturan ini merupakan sesuatu yang menarik. Bagi mereka yang berpikir lebih keras, maka pemikiran mereka akan membuahkan karya-karya revolusioner yang sanggup mengubah peradaban. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan layaknya sebagai seorang NPC (non playable character, baca: tokoh figuran). hidup ini tak lebih dari menjalani bangun, ngantor, makan, dan tidur. Jika masih bingung tentang hidup, mungkin panduan yang kita pakai selama ini salah, atau juga sudah tepat tapi kita tidak melaksanakan apa yang tertulis di dalamnya.

Ada peringatan keras bahwa kehidupan dunia ini tidak bisa diulang lagi andaikan gagal, tidak seperti memainkan sebuah game RPG. Satu kesempatan saja dan tidak ada extra credit untuk bisa start over. Dalam game, tidak adanya extra credit memang mengurangi resiko rusaknya permainan karena adanya leaver. Leaver (rage quit, desperate quit, dc problem, afk-ers, dll) memang tidak pernah disukai di kalangan para gamer karena perilakunya itu merusak jalannya permainan. Maka, akan jadi sangat tidak bersyukur jika ada yang sekonyong-konyong leave dari kehidupan dunia karena pada dasarnya dia sudah menyia-nyiakan kesempatan tunggal yang dia miliki. Meninggalkan kehidupan dunia secara paksa dengan cara mengakhiri hidup dengan alasan yang menggelikan hanya akan bersambut siksa. Tapi tidak perlu khawatir jika kita sempat khilaf dan tersesat dalam hidup karena Dia adalah Dzat Yang Maha Adil. Memang tidak ada media reinkarnasi andaikan manusia terbelok dan ingin kembali, tapi pintu taubat-Nya senantiasa terbuka. Hanya saja yang namanya taubat itu haruslah disegerakan, karena tulisan GAME OVER yang sangat besar itu bisa menghampiri kita kapan saja dan di mana saja.

Game RPG manapun pastilah memiliki ending, meskipun ending ceritanya itu bersifat menggantung. Seirama dengan itu, ada sebuah fakta tragis tentang kehidupan dunia: hidup ini harus berakhir. Hidup sebetulnya memiliki multiple ending, tergantung dari pilihan-pilihan yang kita ambil di dalamnya. Tiap gamer umumnya ingin mengetahui ending utama dari cerita game yang dia mainkan dan ingin keberhasilannya itu terpampang di high score board yang sifatnya online. Begitu juga dengan manusia yang mengambil jalur taqwa dengan harapan memperoleh ending utama dari kehidupan dunia: surga. Karena alam akhirat adalah perhentian kita yang sesungguhnya. Siap ataupun tidak kita harus beralih ke perhentian yang abadi. Oleh karena itu, berhati-hati dalam setiap pilihan hidup sudah menjadi keharusan.

Sebuah analogi yang sempit dari seorang yang ingin bisa mengangkasa di surga. Dan sesungguhnya Ramadhan ini adalah waktu yang baik untuk mengevaluasi diri dan menjadi BETTER GAMER dalam kehidupan dunia. So, lets start playin our game better then ever! Good player respects each other!

~maniakgamenepikasurga~


Diary Ramadhan edisi 20 Ramadhan 1431H

Oleh: Fean Davisunjaya

Di suatu hari di awal bulan Ramadhan, saat sahur tiba, seorang ibu sedang berusaha membangunkan anaknya,” Dit… Adit sayang…. ayo bangun, kita mau sahur nih.” Sambil membelai rambut si anak, si ibu melanjutkan,’ ayo sayang… katanya mau ikut puasa… yuk, bangun yuk sayang.” Dengan setengah mengantuk dan mendengarkan kata puasa… si anak pun langsung bangun sambil berkata,” kita udah mau puasa ya, Ma… jadi makan sahur dulu ya, Ma?” “Iya, sayang… kita makan sahur dulu… yuk sayang, tapi mukanya dibasuh dulu ya.” Jawab si Ibu,” setelah cuci muka, baru kita makan sahur… ayo cepat… itu Papa udah nunggu.”

Adit pun segera bergegas ke kamar mandi, mencuci mukanya dan berkumur… setelah menyeka mukanya dengan handuk, Adit pun menuju ke ruang makan… dengan masih agak mengantuk, Adit pun ikut kedua orang tuanya untuk makan sahur. Adit yang masih berusia 5.5 tahun sebagaimana anak lainnya, sedang berusaha untuk memulai berpuasa seperti yang kedua orang tuanya lakukan selama bulan Ramadhan… dengan hanya mengerti sedikit mengenai puasa, Adit berusaha mengikuti puasa sebagaimana mestinya. Setelah menunggu imsak tiba dan shalat Shubuh berjamaah, Adit pun kembali tidur karena sekolah TK-nya sedang libur. Selama beberapa hari saat masih liburan, si Ibu berusaha menyibukkan Adit dengan segala kegiatan yang menyenangkan, sehingga Adit tidak selalu teringat akan lapar dan hausnya… ketika suatu saat Adit mengeluh lapar,” Ma, masih lama kita berbuka? Adit udah lapar dan haus sekali nih…” si Ibu pun membujuk Adit untuk bersabar,” sabar ya, sayang… bentar lagi kita udah mau buka ko… kan sayang tuh… bentar lagi tapi masa mau dibatalin, masa puasanya setengah-setengah… Adit kalau diberi sesuatu juga ga mau yang setengah-setengah kan!?” tapi Adit masih merengek,” tapi, Ma.. udah lapar banget nih.”

Melihat Adit yang merengek, si Ibu pun mendapatkan ide agar Adit tidak terlalu mengingat puasanya,” ya udah… sini, bantu Mama aja buat nyiapin menu berbuka nanti… Adit mau bantuin Mama, kan?” mendengar Mamanya sedang menyiapkan menu berbuka.. Adit pun langsung berlari mendekati ibunya,”Ma… nanti kita berbuka dengan apa??? Makanan kesukaan Adit ada kan, Ma?” Ibunya pun menjawab,” iya, ini ada… sini… bantuin Mama…” Adit pun bergegas mendekati ibunya dan mulai membantu seperti yang ibunya minta…

Saat membantu ibunya memasak, tanpa sadar, Adit memasukkan makanan yang sedang disiapkan… dan ketika melihat anaknya memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, si Ibu pun kemudian dengan segera menegurnya dengan lembut,” Adit… itu apa yang dimasukkan ke mulut?? Katanya sedang puasa?” mendengar pertanyaan ibunya, Adit pun dengan polosnya menjawab,”Ini, Ma… Adit nyicipin masakan Mama… kan Adit ga makan, cuma nyicipin aja… terus yang ga boleh itu kan kalo makan.” Si Ibu pun tersenyum mendengar jawaban si anak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Si anak masih melanjutkan,” Adit, puasanya ga batal… bener kan, Ma? Adit juga kemarin-kemarin lihat si Bibi juga nyicipin makanan… tapi masih puasa juga.. berarti kalo nyicipin ga batal kan?”

Sang Ibu pun masih tersenyum lalu berusaha menjelaskan,” Adit.. Adit… begini ya, sayang… kalau ada makanan masuk ke mulut dan ke tenggorokan, walaupun hanya mencicipi.. itu sama saja dengan makan…” Adit pun kembali bertanya,” loh terus… kalo gitu, si Bibi juga batal dong puasanya?” Si Ibu pun menjawab, sambil berusaha menjawab dengan kata-kata yang mudah dipahami untuk anaknya,”Adit… mungkin si Bibi sedang tidak berpuasa, tapi Adit ga tahu… terus si Bibi mungkin bukan mencicipi, tapi cuma mengetes asin atau ga masakannya” Adit pun langsung menyela,” loh, Ma… ko Bibi bisa ga berpuasa? Katanya kita semua kalo yang Islam harus puasa? Kalo si Bibi boleh ga puasa, berarti Adit juga boleh dong, Ma.”

Mendengar anaknya yang makin kritis, si Ibu pun berusaha kembali menjawab dengan bijaksananya,” begini sayang… kita memang sebagai umat Muslim, diwajibkan untuk berpuasa… tapi ada beberapa hal ko yang membolehkan kita untuk tidak berpuasa.” Adit kembali menyela,” emang ada yang bikin kita boleh ga puasa ya, Ma?” “Iya, sayang,” sambung si Ibu,” kalau Adit sakit, terus ga bisa puasa… Adit ga harus berpuasa, tapi.. nanti Adit harus ganti puasanya di lain hari… jadi si Bibi juga gitu…. terus kalau kita sedang dalam perjalanan jauh, seperti ke rumah Eyang di Jawa sana… kalau tidak bisa puasa, kita boleh ga puasa… tapi tetap kita harus menggantinya.”

Adit pun mengangguk-angguk dengan wajah sedikit mengerti, ” Ooo… gitu ya, Ma.” “Iya sayang…,” senyum si Ibu,” yuk… kita bawa makanannya ke meja makan, bentar lagi udah mau berbuka… tuh kan Adit bisa puasa satu hari penuh lagi.”

Adit lalu berlari-lari,” Horeee… hari ini Adit puasa penuh lagi…”


Diary Ramadhan edisi 19 Ramadhan 1431H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Dari parit itu segalanya bermula. Di tahun kelima Hijriyah itu, 10 ribu pasukan tengah bergerak untuk mengepung kota Madinah. 10 ribu orang, bukan jumlah yang sedikit. Di masa itu, jumlah tersebut bisa terkategori pasukan multinasional. Di Madinah, Rasulullah SAW dan 3000 orang sahabatnya berada dalam kondisi kritis. Bergerak keluar menyongsong pasukan musuh yang berjumlah 3 kali lipat lebih, atau bertahan saja di dalam kota? Keduanya pilihan amat berisiko. Namun sahabat Salman al-Farisi memiliki ide cemerlang, suatu hal yang biasa dilakukan bangsa Persia, namun tak diketahui bangsa lain saat itu: membangun parit besar di luar kota Madinah sebagai benteng.

Kerja cepat mesti dilakukan. Pasukan musuh akan datang dalam hitungan hari. Rasulullah SAW turut bekerja siang dan malam bahu membahu bersama sahabat membangun benteng parit tersebut. Dalam pekerjaan itu, kaum muslimin terhalang oleh satu batu besar yang sangat keras. Upaya kaum muslimin untuk memecah batu itu gagal, dan mereka melapor pada Rasulullah SAW. Saat itulah kuasa Allah diperlihatkan: saat beliau memukul batu itu, nampak cahaya terang lalu diperlihatkan pada Nabi kota-kota Persia, Romawi dan Habasyah, dan Nabi mengatakan bahwa kaum muslimin akan membuka pintu kota-kota itu! Sahabat tentu saja terkesima. Bayangkan situasi saat itu: kaum muslimin tengah terkepung, di hadapan mereka ada krisis antara hidup-mati, dan Rasulullah tidak bicara short term tentang strategi kaum muslimin menghadapi pasukan besar musuh. Rasulullah justru bicara mengenai ekspansi. Kalau Romawi dan Persia yang punya peradaban besar dan tua saja akan takluk, 10 ribu orang sih kecil, dengan izin Allah…

Upaya pembebasan kota yang dikuasai Romawi ini kemudian dimulai sejak zaman khalifah Umar bin Khattab RA (sebetulnya sudah di zaman Nabi lewat ekspedisi Mu’tah, namun usaha ini belum berhasil), dan Romawi Timur baru benar-benar takluk di tahun 857 H, lebih dari 8 abad sejak peristiwa Khandaq! Konstantinopel nama ibukota Romawi Timur saat itu, dan kemudian diganti dengan “Islam Bol/Islambul” yang berarti kota Islam dan akhirnya menjadi ibukota kekhalifahan Utsmaniyan/Ottoman. Nama pahlawan itu Sultan Muhammad II, yang kita kenal dengan Muhammad al-Fatih atau Mehmed al-Fatih, Sang Pembunuh Dracula, lantaran salah satu lawan beliau saat itu adalah Pangeran Vlad Dracula III yang sangat bengis dan menginspirasi Bram Stoker membuat karakter Dracula si penghisap darah.

Pembebasan itu tentu saja istimewa. Selain karena gilang-gemilang (jalannya peperangan ini panjang kalau diikuti), usai kemenangan itu Sultan Muhammad al-Fatih juga lantas memperlakukan warga Islambul dan para pendetanya dengan baik. Gereja dibiarkan berdiri untuk beribadah umat Nasrani seperti biasa, kecuali gereja Aya Sophia yang beliau minta diubah menjadi masjid agar bisa segera ditunaikan sholat Jumat di kota itu. Tapi bukan itu yang menarik saat ini, ada lagi hal lain yang lebih istimewa: sebuah pewarisan mimpi, dan kontinuitas kerja.

Nun berabad-abad sebelumnya, kembali di jaman Rasulullah SAW, beliau pernah mengatakan, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya, dan sebaik-baik tentara adalah bala tentaranya.” (HR. Ahmad). Lantaran ucapan ini, sahabat Abu Ayyub al-Anshary berwasiat untuk dimakamkan di tanah terjauh yang bisa dijangkau kaum Muslimin menuju Konstantinopel. Itu terjadi di masa Khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Selanjutnya, upaya pembebasan ini dilanjutkan di masa Khalifah lain dari Bani Umayyah. Lalu berlanjut di zaman Bani Abbasiyah dan Kesultanan Islam Saljuk, hingga akhirnya Bani Utsmaniyah. Di zaman kekhalifahan ini, banyak upaya penaklukan Konstantinopel dilakukan. Sedikit demi sedikit wilayah yang dikuasai Romawi jatuh, hingga akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih menyempurnakan usaha ayah dan para pendahulunya.

Maka kini jika kita khawatir tak ada yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu atau generasi yang lebih muda, mudah-mudahan kita masih bisa mewariskan mimpi. Jadi, apa gerangan mimpi kita?

Side story:

Saat masih kecil, Muhammad II ini kabarnya adalah anak yang nakal dan sulit dididik. Ayahnya, Sultan Murad II, lantaran kesibukannya dalam upaya intensif pembebasan Konstantinopel, terpaksa menitipkan pendidikan putranya itu pada seorang guru. Sayangnya, tiap guru yang didatangkan selalu berakhir mengundurkan diri lantaran bandelnya Muhammad II muda ini. Hingga akhirnya seorang guru datang. Nama syaikh ini tak begitu terkenal, walaupun kalau mau googling agak serius sedikit mungkin bisa dapat juga nama beliau ini. Syaikh ini berani bersikap sangat tegas pada sang Pangeran yang nakal, dan di saat yang sama bisa menjadi sahabat dan teladan bagi muridnya. Beliau inilah yang mengajarkan agama dan berbagai pengetahuan umum saat itu, skill kepemimpinan dan strategi perang, mengenalkan hadits Nabi SAW tentang Konstantinopel, dan yang terpenting, mendidik Muhammad II agar punya idealisme. Muhammad II akhirnya menjadi sosok yang memiliki kepribadian kuat di usia sangat muda. Beliau menggantikan ayahnya di usia 20 tahun, dan dua tahun berikutnya beliau menaklukkan Konstantinopel. Ini adalah kemenangan sang murid dan, tentu saja, keberhasilan sang pendidik.


Diary Ramadhan edisi 18 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

(Diterjemahkan dari THE ALCHEMY OF HAPPINESS, Hazrat Inayat Khan)

Ruh (soul) dalam bahasa Sanskrit dinamakan Atman, yang berarti kebahagiaan itu sendiri. Bukan berarti kebahagiaan adalah bagian dari ruh, tetapi ruh itu sendiri adalah kebahagiaan. Hari ini kita sering bingung antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan (pleasure); tetapi kesenangan hanyalah ilusi, bayang-bayang dari kebahagiaan; dan orang yang termakan ilusi akan mencari terus menerus seluruh hidupnya kesenangan demi kesenangan tapi tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Ada peribahasa Hindu yang mengatakan bahwa orang mencari kesenangan tetapi malah menemukan penderitaan. Setiap kesenangan akan terlihat dari luarnya sebagai kebahagiaan; kesenangan menjanjikan kebahagiaan, karena kesenangan itu merupakan bayang-bayang kebahagiaan, tetapi bayang-bayang seseorang bukanlah orang itu sendiri, walaupun terlihat menyerupai bentuk orang tersebut. Oleh karena itu, kesenangan menyerupai bentuk kebahagiaan, tapi bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.

Adalah sangat jarang mendapatkan ruh (soul) di dalam dunia ini yang tahu apa itu arti kebahagiaan; mereka biasanya sering dikecewakan oleh satu hal dan hal yang lainnya. Ini merupakan proses alamiahnya hidup di dunia; bahwa walaupun seseorang dikecewakan beribu-ribu kali dia akan tetap mengambil jalan yang sama, karena dia tidak tau yang lain. Lebih banyak kita belajar dalam hidup ini, semakin kita menyadari bahwa hanya sedikit ruh (souls) yang secara jujur bisa mengatakan, ‘Saya bahagia’. Hampir setiap ruh (soul), apapun posisinya dalam kehidupan ini, akan mengatakan dia tidak bahagia di dalam satu atau lain hal, dan jika kamu menanyakan mengapa, mungkin dia akan mengatakan bahwa ini karena dia tidak bisa mendapatkan posisi tertentu, kekuasaan, harta kekayaan, atau keinginan-keinginan lainnya yang sangat dia idam-idamkan selama bertahun-tahun. Mungkin dia sangat mengidamkan memiliki uang banyak dan tidak menyadari bahwa memiliki uang banyak tidak akan memberikan kepuasan; mungkin dia memiliki banyak musuh, atau orang yang dia cintai tidak mencintainya kembali. Ada beribu-ribu alasan untuk menjadi tidak bahagia yang akan dihasilkan dari akal pikiran.

Akan tetapi, apakah satu dari sekian banyak alasan ini seluruhnya benar? Apakah kamu pikir jika orang-orang ini mendapatkan apa yang mereka idam-idamkan kemudian mereka akan menjadi bahagia? Jika mereka memiliki semuanya, apakah itu cukup? Tidak, mereka akan tetap menemukan alasan untuk tidak menjadi bahagia. Mereka yang benar-benar bahagia akan berbahagia dimana saja, di istana atau di gubuk, dalam kekayaan atau dalam kemiskinan, karena dia telah menemukan sumber kebahagiaan sejati yang terletak di dalam hatinya. Selama orang tersebut belum menemukan sumber tersebut di dalam hatinya, tidak ada sesuatu pun yang bisa memberikannya kebahagiaan sejati.

Seorang manusia yang tidak tau rahasia dari kebahagiaan sering kali mempunyai sifat serakah. Dia ingin seribu, dan setelah mendapatkan seribu dia tidak puas dan dia ingin sejuta dan dia tetap tidak puas; dia ingin lebih lagi dan ingin lebih lagi. Jika kamu berikan dia rasa simpati dan kamu coba menyenangkan dia, dia akan tetap tidak puas; bahkan semua yang kamu miliki tidak cukup, bahkan cintamu tidak bisa menolong dia, karena dia mencari di jalan yang salah, dan kehidupan ini pun menjadi sebuah tragedi.

Kebahagiaan tidak dapat diperjual belikan, juga tidak dapat kamu berikan ke seseroang yang tidak memilikinya. Kebahagiaan sejati yang ditemukan dalam diri sendiri adalah hal yang paling berharga di dalam kehidupan ini. Semua agama, semua sistem filosofi, mempunyai bentuk dan jalan yang berbeda-beda dalam mengajarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Semua orang bijak, mempunyai cara atau methoda untuk mengajarkan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat dicari oleh ruh (soul).

Orang-orang bijak telah menamakan hal ini The Alchemy of Happiness, kimia kebahagiaan. Cerita ‘The Arabian Nights’bercerita tentang philosopher’s stone, yang bisa mengubah metal menjadi emas dengan proses kimia. Hal ini telah membuat banyak orang berfikir, baik di timur maupun di barat. Banyak yang berpikir bahwa emas dapat dibuat. Tapi ini bukanlah ide dari seseorang yang bijak; perburuan emas hanyalah untuk anak-anak. Untuk mereka yang memiliki kesadaran akan kenyataan, emas adalah simbol untuk cahaya atau inspirasi spiritual. Emas adalah simbol warna dari cahaya, dan oleh karena itu secara tidak sadar orang-orang mengejar emas seperti layaknya mengejar cahaya. Namun ada perbedaan besar antara emas yang asli dan emas yang palsu. Keinginan untuk mendapatkan emas asli telah membuat manusia mengumpulkan emas imitasi, bukan mencari emas yang asli. Dia memuaskan kehausan ruhnya dengan cara seperti, seperti anak-anak memuaskan dirinya dengan mainan-mainannya.

Kesadaran bukanlah masalah umur. Seseorang bisa saja telah mencapai usia tua tetapi tetap bermain dengan mainan-mainan layaknya anak-anak, ruhnya mungkin saja terlibat dalam pencarian emas imitasi; sedangkan orang lain yang lebih muda telah memulai pencarian akan emas asli. Jika seseorang mempelajari fenomena alamiah kehidupan dan memperhatikan mengenai perubahan, dan keinginan orang-orang untuk mencari kebahagiaan, seseorang akan melakukan semua cara dan mengeluarkan semua biaya untuk mencapai kebahagiaan. Manusia di dalam dunia yang cepat berubah ini mencari sesuatu yang tidak berubah, yaitu kebahagiaan itu sendiri. Yang dia tidak tahu, yaitu bahwa dia harus mengembangkan sifat ke-tidak-berubah-an tersebut dalam dirinya. Semua yang dibuat dan diciptakan akan menghadapi kehancuran suatu harinya. Semua yang berawal mempunyai akhir. Jika ada sesuatu yang bisa digantungkan, yaitu adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam hati manusia, sesuatu yang suci, the real philosopher’s stone, emas asli dan murni, yang merupakan inti dan essensi dari seorang manusia.

Seseorang mungkin menjalankan sebuah agama namun tidak sampai pada kesadaran akan kebenaran (realization of truth). Untuk apakah guna agamanya tersebut jika dia tidak bahagia? Agama bukanlah berarti depresi dan kesedihan. Semangat keberagamaan seharusnya memberikan kebahagiaan. Tuhan adalah kebahagiaan. Dia lah kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan. Seseorang yang saleh dalam beragama seharusnya lebih bahagia daripada orang yang tidak beragama. Jika seseorang yang menjalankan agama tetapi selalu melankolis, agamanya tidak berguna. Mungkin kulit luarnya yang dia ambil, tapi bukan isinya. Jika belajar agama tidak berujung kepada kebahagiaan sejati, maka sama saja seperti tidak belajar agama, karena tidak membantu untuk mencapai tujuan hidup. Dunia saat ini sedang bersedih dan menderita karena hasil dari perang yang sadis. Agama yang memberikan jawaban atas kebutuhan kehidupan adalah agama yang memberikan kehidupan kepada ruh (soul), yang menerangi hati manusia dengan cahaya yang agung.

Adapun mengenai pertanyaan bagaimana proses kimia kebahagiaan ini dilaksanakan, seluruh proses dijelaskan oleh ahli kimia dalam cara yang simbolis. Mereka mengatakan bahwa emas dibuat dari mercury. Alamiahnya mercury adalah selalu bergerak, tetapi dengan proses tertentu mercury bisa dibuat diam, dan kemudian menjadi perak; dan setelah perak tersebut dilelehkan, dan esensi dari tanaman ditambahkan ke cairan perak, maka akan terbentuklah emas. Tentunya proses ini sangat global, tetapi anda akan bisa mencari penjelasan yang lebih detail dari seluruh proses. Banyak ruh (soul) yang seperti anak-anak telah mencoba membuat emas dengan mendiamkan mercury dan melelehkan perak, dan mereka telah mencoba mencari esens tanaman; tetapi mereka tersesat; dan akan lebih baik bagi mereka jika mereka bekerja untuk mencari uang saja.

Interpretasi sebenarnya dari proses ini adalah mercury itu simbol dari akal pikiran dan perasaan (mind) manusia yang selalu saja bergerak, melesat dan tak pernah diam. Apalagi ketika manusia mencoba untuk berkonsentrasi, maka dia akan menyadari bahwa akal pikiran dan perasaannya (mind) sulit untuk dikendalikan dan ditundukkan. Akal pikiran dan perasaan-perasaan itu layaknya seperti kuda; ketika dinaiki akan lebih melawan ketika sedang disimpan di kandangnya. Seperti itulah alamiahnya akal pikiran dan perasaan (mind); akan menjadi lebih melawan dan menentang ketika ada keinginan untuk mengendalikannya; seperti mercury, selalu bergerak-gerak. Untuk memudahkan, maka akal pikiran dan perasaan (mind) akan selanjutnya diterjemahkan dengan jiwa.

Ketika seseorang dengan methoda konsentrasi telah bisa menguasai jiwa, maka seseorang telah meraih step pertama dalam menempuh tugas mulia. Berdoa adalah konsentrasi, membaca adalah konsentrasi, duduk dan relax dan berfikir dalam satu subjek adalah konsentrasi. Semua seniman, pemikir dan pencipta telah mempraktekkan konsentrasi dalam suatu bentuk. Mereka telah memberikan jiwa-nya untuk satu hal, dan fokus terhadap satu objek telah melatih konsentrasi.

Ketika jiwa telah dikendalikan dan tidak lagi melawan, maka seseorang bisa memegang pikirannya akan sesuatu selama yang dia inginkan. Inilah asal mulanya fenomena. Beberapa orang menyalahgunakan kemampuan ini dan menggunakan kekuatan ini untuk menghancurkan perak sebelum menjadi emas. Perak tersebut perlu dipanaskan terlebih dahulu sehingga meleleh, oleh apa? Oleh kehangatan yang merupakan essensi murni yang terletak di hati setiap manusia, yang berasal dari cinta, toleransi, simpati, dan masih banyak lagi titik-titik lainnya, dimana setiap titik bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Semuanya berasal dari satu sumber, yaitu cinta. Ketika cinta menerangi hati manusia, maka perbuatan dan perkataan dan expresi orang tersebut akan menunjukkan bahwa cinta telah menghangatkan hatinya. Saat ketika hal ini terjadi maka manusia akan benar-benar hidup. Dia akan membuka kunci mata air kebahagiaan yang akan mengalir ke semua penjuru, mengairi keburukan dan ketidakharmonisan. Dia akan membuka penutup cahaya, sehingga cahayanya menyinari semua penjuru.

Setelah hati dihangatkan oleh element agung yang bernama cinta, maka langkah berikutnya adalah tanaman, yang merupakan Cinta Tuhan (Love of God). Tetapi Cinta Tuhan sendiri itu tidak cukup. Pengetahuan akan Tuhan juga dibutuhkan. Ketidak tahuan akan Tuhan lah yang membuat manusia meninggalkan agama, karena ada batas bagi kesabaran manusia. Pengetahuan akan Tuhan menguatkan kepercayaan seseorang akan Tuhan, memberikan cahaya pada kehidupannya. Semuanya menjadi jelas, bahkan setiap daun pada pohon akan menjadi lembar buku suci bagi setiap orang yang matanya telah terbuka akan pengetahuan terhadap Tuhan. Ketika essensi dari tanaman cinta telah terjatuh di dalam hati, dihangatkan oleh cinta terhadap sesama manusia, maka hati akan menjadi hati yang emas, hati yang menghendaki apa pun yang Tuhan kehendaki. Manusia tidak melihat Tuhan, tetapi manusia telah melihat Tuhan di dalam manusia, dan ketika ini terjadi, semuanya yang keluar dari manusia tersebut adalah berasal dari Tuhan itu sendiri.

Untuk seorang teman baik yang sedang mencari kebahagiaan


Diary Ramadhan edisi 17 Ramadhan 1431H

Oleh: Eko Hardjanto

Menjelang hari raya di Tanah Air harga bahan pangan selalu melonjak naik. Entah mengapa pemerintah selalu tak bisa mengendalikan stabilitas harga. Hal ini selalu terjadi setiap tahun. Selalu berulang. Harga bahan pangan yang melonjak menghadirkan fenomena tersendiri di kalangan pedagang, yaitu fenomena menjual produk dengan harga lebih murah dibanding harga normal untuk menarik minat konsumen, dan akhirnya pedagang mendapat keuntungan berlipat. Namun sayangnya hal ini dilakukan dengan cara mengelabui konsumen.

Ayam mati kemarin, TIREN, istilah ini sudah lama dikenal di kalangan pedagang dan pembeli. Ayam TIREN adalah ayam yang sudah mati sebelum dipotong, dan kemudian di jual. Tentu saja kualitas daging ayam TIREN sangat buruk, dagingnya berbau bahkan berpotensi menghadirkan penyakit. Itulah mengapa Islam mengharamkan makan bangkai. Namun demi mendapatkan keuntungan besar, pedagang rela berdosa mengelabui konsumen dengan menjual ayam TIREN. Dengan harga yang lebih murah ayam TIREN kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan dan kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga miring. Masyarakat kelas bawah tentu tidak peduli dengan asal muasal produk makanan berbahan daging ayam. Bagi mereka, mendapatkan bahan makanan dengan harga terjangkau, di bawah harga pasar, adalah sebuah anugerah tidak terkira.

Malam sebelum dipotong seekor sapi digantung kedua kaki depannya, sedemikian rupa sehingga sapi seperti sedang berdiri hanya dengan kedua kaki belakang. Dalam keadaan ‘berdiri’ tersebut kemudian selang air dimasukan ke dalam mulut sapi. Air dialirkan melalui selang, dan sapi dipaksa minum hingga badannya bengkak membesar karena air. Bayangkan betapa tersiksanya sapi tersebut. Hingga akhirnya sapi itu jatuh sekarat karena perutnya terbanjiri air dan karena sulit bernafas. Dalam masa sekarat itu, air yang diminumkan secara paksa merembes sedemikian rupa hingga masuk ke dalam pori-pori daging sapi. Karena kandungan air dalam daging, berat sapi menjadi lebih bertambah ketika dipotong. Sapi seberat 150 kg bisa mencapai 300 kg ketika ditimbang dagingnya. Padahal sebagian dari berat daging itu hanyalah kandungan air. Ketika daging dimasak ia menjadi ciut, karena kandungan air pada akhirnya menguap. Konsumen yang membeli daging sapi semacam ini telah tertipu karena telah membayar daging lebih berat dan mahal namun sebagian mengandung air. Daging sapi semacam ini disebut daging Glondongan.

Selain dua contoh di atas, sering pula kita dengar kasus bakso menggunakan daging tikus, tahu berpengawet formalin, zat pewarna pakaian dipakai untuk makanan, daging sapi dicampur daging babi hutan, dan sebagainya. Kasus-kasus semacam ini begitu marak di Tanah Air. Niatnya tetap sama, mencari keuntungan besar dengan mengelabui pembeli.

Fenomena penipuan terhadap konsumen tidak hanya terjadi pada bahan pangan. Pada penjualan pulsa isi ulang telepon genggam pun demikian. Setelah pulsa isi ulang ditambahkan kepada telepon genggam, iklan berbasis teks dalam bentuk SMS tidak henti-hentinya masuk ke dalam telepon genggam. Hal ini terjadi tanpa diminta oleh konsumen karena sudah diatur sedemikian rupa oleh operator penyedia jasa telekomunikasi. Konsumen yang tidak mengerti, selalu membaca teks iklan tanpa diundang tersebut. Dan tanpa sadar setiap kali teks-teks iklan diterima dengan mengklik tombol ‘OK’ maka sejumlah pulsa telah tereduksi dari saldo pulsa telepon genggam. Tidak ada penjelasan dari operator atau gerai penjual pulsa terhadap layanan iklan semacam ini dan dampak yang akan diterima konsumen. Anehnya pula, layanan ini terjadi by default setiap kali pembelian pulsa, dan layanan semacam itu (mungkin) tidak akan dihilangkan sampai kita mengontak customer service untuk mengehentikannya. Ini jelas-jelas penipuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Ada hidden cost dalam tarif pulsa.

Dalam konteks yang berbeda, tayangan TV di Tanah Air dijejali dengan iklan berbagai produk. Tidak ada sama sekali kenyamanan melihat tayangan TV. Setiap kali pemirsa TV harus menunggu lama dalam menyaksikan sebuah tayangan karena selingan iklan yang begitu menggebu-gebu, khususnya bagi tayangan premier. Ditambah lagi sifat iklan yang konsumtif dan menyesatkan. Jauh antara apa yang disampaikan dengan apa yang dikandung sebuah produk dalam iklan.

Fenomena penipuan dalam jual beli dan kondisi terkait jual beli yang merugikan konsumen memang menjadi makanan keseharian di Tanah Air. Kondisi yang jauh berbeda justru terjadi di luar negeri, di mana konsumen mendapatkan perlindungan yang istimewa. Tatanan yang baku dan tertib telah berhasil mengatur sistem jual beli dan hubungan produsen dengan konsumen. Penipuan dan kerugian konsumen dicegah dan ditekan sedemikian rupa.

Sejak dahulu fenomena jual beli memang cenderung menarik para pelakunya pada tindakan penipuan. Betapa terkenal sebuah kisah seorang wanita jujur yang tidak mau mencampur susu dengan air di masa khalifah Umar ibn Khattab RA. Mencampur susu dengan air adalah sebuah perilaku yang telah terjadi sejak dahulu kala. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mendapatkan seorang penjual buah yang menaruh buah busuk di bagian bawah tumpukan buah agar tidak terlihat pembeli. Itulah fenomena yang umum terjadi di pasar, tipu menipu, mengelabui, demi menekan kerugian dan mengejar keuntungan. Itulah mengapa dalam satu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW sangat membenci berada di dalam pasar. Karena di dalam pasar setan bergentayangan menyesatkan para pelakunya. Pasar seringkali melalaikan para pelakunya. Pasar di sini bisa diartikan secara fisik maupun secara aktifitas muámallah.

Sesungguhnya Islam secara tegas telah memberikan pedoman kepada umat manusia untuk mengurangi penipuan dalam jual beli.

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus; Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan (QS. ASY SYU’ARAA 181-183)

Rasulullah SAW. bersabda,Dua orang yang berjual beli itu haruslah bebas memilih sebelum mereka berpisah. Apabila keduanya jujur dan berterus-terang di dalam berjual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah. Tetapi apabila keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka jual belinya itu tidak akan membawa berkah” (HR Bukhari dan Muslim)

Sayang sekali pedoman dasar tersebut tidak melekat dalam perilaku keseharian pasar di negeri kita. Sudah menjadi semacam aturan bahwa tipu menipu dalam jual beli adalah hal yang lumrah untuk mencapai keuntungan besar dan menekan kerugian sekecil mungkin. Sangat menyedihkan.

Sungguh manusia tidak menyadari bahwa hakikat keuntungan dalam jual beli sesungguhnya adalah keberkahan harta dan terhindarnya dosa. Untung sedikit namun berkah. Insya Allah membawa pemiliknya pada kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan dunia dan akhirat. Demikianlah sistem Islam yang indah mengajarkan konsep jual beli.

Rasulullah SAW. bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang bermurah hati sewaktu menjual, bermurah hati sewaktu membeli dan bermurah hati sewaktu menagih hutang(HR Bukhari)

***

Bogor, 16 Ramadhan 1431 H

Eko Hardjanto


Diary Ramadhan edisi 16 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Bertahun-tahun mengajar matakuliah Teori Probabilitas, memberi kesadaran bagi saya bahwa semua yang saya alami, jika dikaitkan dengan tujuan penciptaan manusia menurut Islam, bukanlah karena kebetulan semata. Saya akui kesadaran ini bersifat subjektif, karena dengan fakta objektif yang sama seorang atheis akan dapat tiba pada kesimpulan yang berbeda 180 derajat. Kesadaran subjektif ini selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa ada maksud tersirat, pelajaran, dan peringatan dari Allah atas setiap hal yang saya alami atau sering saya anggap sebagai ‘nasib’.

Saat bertemu/chatting dengan teman-teman lama sering saya ditanya: ‘Sekarang di mana?’. Saat saya jawab saya sedang ambil S3 marketing di Groningen (RuG), banyak yang terkaget-kaget. Marketing? Bagaimana bisa? Saya akui keheranan mereka masuk akal. Di SMA saya jurusan fisika, S1 Teknik Industri, dan S2 Sistem Manufaktur. Melihat deret/pola ini — bayangkan soal deret angka/gambar dalam tes IQ atau TPA — marketing bukanlah sebuah lanjutan yang logis. Akan lebih logis jika saya melanjutkan sekolah di bidang manajemen operasi, system engineering, engineering design, ataupun logistik/supply chain. Dan memang, bagaimana saya bisa ditempatkan di marketing adalah benar-benar ‘nasib’. Saya tidak pernah apply ke Departemen Marketing-RuG. Awalnya saya apply proposal tentang product design and development dan berkorespondensi cukup intens hampir setahun dengan seorang calon supervisor di departemen inovasi. Walaupun calon supervisor ini akhirnya menerima proposal saya, aplikasi beasiswa saya waktu itu ditolak. Tidak menyerah, saya mencoba berbagai alternatif lain, dan alhamdulillah setelah satu setengah tahun menunggu, diselingi periode vakum yang cukup lama, ujug-ujug (tiba-tiba) saya mendapat email berisi tawaran beasiswa Bernoulli dari RuG. Di luar dugaan, tawaran beasiswa ini justru datang dari departemen marketing (yang mana saya tidak pernah apply ke sana) dan sebagai konsekuensinya saya akan disupervisori oleh seorang profesor marketing (yang juga tidak pernah saya berkoresponden dengannya sebelumnya).

Pada awalnya saya menerima kenyataan ini dengan bersyukur, tetapi bisa dikatakan ‘bersyukur sambil lalu’ (dari pada tidak dapat beasiswa sama sekali, bolehlah di marketing, mungkin begitu gampangannya). Baru setelah saya menjalani program saya ini, saya sadar bahwa saya sebenarnya telah diberi karunia luar biasa oleh Allah. Departemen Marketing ternyata merupakan departemen elite di fakultas kami. (Agak susah menjelaskan mengapa saya merasa mendapat karunia luar biasa tanpa menceritakan hal-hal berikut, tanpa terkesan menyombongkan diri. Tetapi, secara logika yang berhak sombong adalah departemennya, bukan sayanya. Jadi, be assured, niatan saya menceritakan hal-hal berikut hanya untuk menjaga keutuhan/naturalitas cerita). Ini baru saya sadari ketika ada acara kumpul-kumpul mahasiswa PhD se-fakultas sering saya ditanya dari departemen mana dan siapa supervisornya. Saat saya jawab dari marketing dan supervisor saya TB secara lempeng, tidak hanya satu dua yang mengatakan kurang lebih: ‘You’re very lucky’, ‘I wish I could be in your department’, ‘Wow, you’re working under the supervision of TB?’, etc. Lama kelamaan saya risih dengan situasi ini, meskipun mungkin saja mereka cuma basa-basi. Tapi, pada akhirnya hal inilah yang menyadarkan saya bahwa saya telah diberi yang terbaik oleh Allah dan semua komentar ini saya anggap sebagai peringatan dari Allah bahwa saya harus bersyukur atas nikmat ini dengan jalan bekerja keras dalam menyelesaikan program saya dengan baik. Saya juga mulai tersadarkan bahwa ada rencana Allah bagi saya agar saya menjadi seorang ahli di area marketing science (Note: ada juga marketing management dan marketing arts)

‘Keanehan’ berikutnya terjadi saat menyelesaikan project kedua saya tentang pengukuran konsumen dalam rangka pengembangan produk baru. Setelah proses yang cukup panjang, bahkan sudah sampai keluar findings dari analisis datanya, saya dan supervisor saya berkesimpulan bahwa project ini harus di-grounded alias tidak diteruskan karena tidak prospektif untuk publikasi. Tentu saja saya cukup sedih, tapi bagaimana lagi. Ini risiko dari riset S3 bahwa suatu project dapat di-abort karena hasilnya tidak sesuai ekspektasi awal. Saya pribadi terus terang pasrah dan menghibur diri dengan berkata dalam hati ‘toh minimal saya sudah dapat berbagai ilmu baru yang kontemporer di bidang pengukuran konsumen dan tools multivariate statistics/data analysis’. Mungkin kasihan melihat betapa pasrahnya saya, supervisor saya akhirnya mengusahakan saya untuk dapat bekerja sama dengan sebuah perusahaan riset pasar terkemuka di Eropa untuk mendapatkan data bagi pengganti project kedua yang gagal tadi. Di sini saya kembali melihat bagaimana sebuah kegagalan hanya merupakan pembukaan jalan oleh Allah bagi sesuatu yang jauh lebih baik. Tidak pernah terbayang sebelumnya saya bisa berada di sebuah ruang konferensi yang ultramodern, melakukan presentasi, berdiskusi dan bertatap muka langsung dengan top manajemen perusahaan yang namanya sebelumnya hanya bisa saya baca dari majalah atau internet. Sebuah pengalaman yang sangat berharga pula bagi saya untuk dapat beberapa hari mencicipi rasanya bekerja sebagai ekspatriat di sebuah perusahaan multinasional di Eropa sehingga dari sini saya banyak mendapat pengalaman dan ide tentang bagaimana nantinya saya mungkin dapat menerapkan berbagai praktik bisnis serupa di Indonesia, tanpa mengkhianati komitmen saya sebagai dosen nantinya (bagi yang berprofesi dosen di Indonesia, mungkin bisa mafhum dengan pernyataan saya ini). Sungguh, petunjuk dan ilham dari Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kembali ke ‘keanehan’. Mengapa saya sebut ‘keanehan’? Karena project kedua yang baru ini lebih jauh lagi menyimpang dari background pendidikan saya sebelumnya. Di project ini saya akan meninggalkan jalan besar marketing, menyusuri area yang lebih pelosok yaitu advertising. Seperti pada banyak orang, saya tadinya berpendapat bahwa advertising sekedar identik dengan membuat dan menampilkan iklan di TV atau majalah. Tapi ternyata ia tidak sesederhana itu. Advertising ada ilmu/sainsnya. Dan ilmu ini mencakup bidang komunikasi, psikologi, ergonomi, ekonomi, statistika, control theory, riset operasional, dlsb. Untuk riset saya saat ini saya berkutat dengan berbagai teori tentang recognition, memory, believe, attitude, intention, dan akhirnya behavior. Suatu hal yang tidak terbayang sebelumnya bagi saya mempelajari bagaimana human mind bekerja dan akhirnya mengejawantah pada sikap dan tindakan kita. Namun, kembali ke pendirian saya bahwa semua ini bukan kebetulan semata, saya melihat ada pesan Allah di sini. Ada rencana Allah bagi saya mengapa saya harus terjun ke bidang yang demikian spesifik dan tampak sangat jauh dari background dan niatan saya mengambil S3 sebelumnya.

Sebagaimana sering saya tulis dalam email-email saya, saya selalu berkeyakinan bahwa selain ayat-ayat dalam Al-Quran, masih banyak ayat-ayat Allah yang lain yang bersebaran di muka bumi ini, menunggu untuk dibaca dan dimanfaatkan. Termasuk ayat-ayat ini adalah ayat-ayat tentang mekanisme pikiran manusia bekerja. Jika kita percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah dan berjalan dalam keteraturan (walaupun kita tidak/belum tahu apa dan bagaimana keteraturan itu) atau dengan kata lain ada hukum-hukum atau ketetapan-ketetapan tertentu bagi setiap fenomena duniawi, maka pikiran dan tindakan manusia pada dasarnya bekerja tidak random, meskipun dalam keseharian kita seringkali menjumpai pikiran atau tindakan yang dianggap ‘irrasional’ atau random (sebagai bahan bacaan ringan yang menarik dan menggugah yang mendukung premis saya ini secara empirik, silakan baca buku ‘Predictably Irrational’ karangan Dan Ariely, seorang profesor behavioral economics asal Israel). Jika premis saya benar, konsekuensinya adalah wajib kifayah hukumnya bagi kaum muslim untuk mempelajari hal (bagaimana pikiran manusia bekerja dan menghasilkan sistem believe, attitude, intention, dan behavior) ini.

Pada titik waktu ini, saya melakukan sebuah retrospeksi dengan mengajukan pertanyaan: kenapa saya tiba di posisi seperti sekarang (yang telah saya ceritakan panjang lebar di atas)? Setelah saya renungkan, jawabannya cukup mengejutkan karena jawaban ini dapat dihubungkan dengan (sebagian) pertanyaan atau kegelisahan saya yang juga sering saya sampaikan di milis deGromiest: jika Islam memang agama yang sempurna, bagaimana mungkin jutaan (atau mungkin sampai milyaran?) manusia di dunia masih tidak bisa menerima Islam dan bahkan memandang Islam secara negatif dan hina? Bagaimana jalan keluarnya?

Dari sains marketing yang saya pelajari, sebuah produk yang superb, superior, excellent, atau simply the best, jika keunggulannya tersebut dikomunikasikan dengan baik sehingga mampu membentuk kepercayaan di benak konsumen akan keunggulan-keunggulan tersebut, maka hanya masalah waktu produk tersebut akan diterima secara luas oleh pasar (teori yang sejauh ini diyakini benar dalam marketing dan bagi saya pribadi sebuah teori yang benar adalah tidak lain sebuah sunnatullah). Dalam hal ini saya berpikir, Islam adalah agama yang sempurna. Ad-din yang merupakan rahmatan lil ‘alamin. Bagaimana mungkin begitu banyak (lebih tepatnya mungkin terlalu banyak) skeptisme, sinisme, penolakan, bahkan gerakan anti-Islam di dunia? Bagi logika saya, awalnya ini adalah paradoks yang luar biasa. Namun demikian, setelah memikirkan lebih dalam saya menyadari bahwa potret kehidupan umat Islam saat ini sebagai vehicle bagi messages dienul Islam bisa jadi tidak mengkomunikasikan dengan baik messages itu. Ibaratnya mengkampanyekan produk Mercedes, tapi yang ditampilkan adalah Kancil. Akibatnya, persepsi nonmuslim terhadap Islam terdistorsi (mengutip seorang teman saya yang kristen ortodoks, “The easiest way, though not necessarily the best way, for assessing a religion is by looking at the religion believers’ deeds). Bagaimana bisa teryakinkan bahwa Islam agama cinta damai kalau hampir tiap minggu kita disuguhi serangan-serangan bom bunuh diri yang dilakukan di negara-negara Islam oleh orang-orang yang mengaku Islam, dengan korban orang-orang Islam, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak (cf. kejadian akhir-akhir ini di Irak, Afghanistan, dan Pakistan)? Belum lagi aksi teror bunuh diri di barat (9/11, bom London, bom Madrid, etc.) yang konon dilakukan oleh orang-orang yang mengaku muslim. Bagaimana bisa dipercaya bahwa Islam menjunjung tinggi sopan santun dan kelembutan dan mengajak kebaikan dengan hikmah kalau artikel yang berseberangan pandangan/paham/keyakinan atas suatu issue ditanggapi dengan komentar-komentar arogan, ganas, dan tak jarang sarkasme? Bagaimana nonmuslim bisa teryakinkan bahwa Islam membawa misi keadilan, perlindungan bagi kaum yang lemah, kalau penindasan atas kaum lemah masih banyak terjadi di negara-negara muslim (tidak usah jauh-jauh, mari kita introspeksi negara kita yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia)? Hukum yang memihak kaum kaya dan berkuasa, distribusi kekayaan yang tidak adil dan menyebabkan kemiskinan kronis bagi jutaan saudara muslim kita. Dan daftar ini masih bisa diperpanjang.

Jadi, saya pribadi berkeyakinan, bahwa selain di satu sisi kita umat Islam secara sistematis perlu ‘menyembuhkan’ dirinya secara internal untuk kembali ke era kejayaannya dan berusaha mencapai kondisi ideal yang dijanjikan oleh Allah, di sisi lain kita harus mengupayakan vehicle lain untuk menyebarkan pesan-pesan mulia, gambaran tentang Islam yang sebenar-benarnya, ke kalangan external. Ini adalah hal yang krusial, karena jika message ini tersampaikan dengan baik, insya Allah umat Islam tidak akan mengalami stigmatisasi, kecurigaan, dan hambatan-hambatan beribadah terutama di dunia barat. Tidak akan ada berita tentang penentangan gigih pembangunan masjid di New York atau Swiss. Tidak akan ada kampanye pengenaan pajak untuk penggunaan jilbab oleh kaum muslimah di Belgia dan Belanda. Bahkan, bukan tidak mungkin pemeluk Islam di barat akan bertambah dengan cepat, mengingat fitrah manusia, tidak peduli dia orang Asia, Eropa, atau Amerika, adalah menjadi muslim (CMIIW).

Di sinilah saya mulai berpikir bahwa Allah telah men-challenge saya untuk memikirkan tentang ‘marketing’ Islam (in fact, sudah ada artikel di majalah The Economist, Desember 2007, tentang ‘marketing’ agama-agama di dunia, terutama Kristen dan Islam; Yahudi tidak termasuk karena pada dasarnya Yahudi adalah agama ekslusif. Dalam artikel ini terlihat bagaimana kaum misionaris Kristen sudah memanfaatkan temuan-temuan dari riset-riset marketing dalam misi mereka). ‘Marketing’ dalam sesuatu yang saya rasakan sebagai ‘challenge’ Allah kepada saya ini mungkin nantinya tidak lain adalah bentuk/strategi (bukan isi, tentu saja) yang lebih kontemporer dari syiar/dakwah Islam. Mungkin Islam perlu melakukan ‘advertising’ dalam rangka meng-edukasi publik di barat, khususnya. Selanjutnya, mencari perspektif bagi saya pribadi ke depannya, mungkin di sinilah peran yang dituntut dari saya sebagai seorang muslim oleh Allah (lewat fardhu kifayah saya), demi kejayaan Islam. Lebih spesifik lagi, dalam ‘marketing’ Islam ini, saya butuh ilmu tentang bagaimana agar pesan-pesan ke-Islam-an ini bisa efektif, baik internal maupun eksternal umat Islam. Dan, saya telah dituntun oleh Allah dengan harus mempelajari psychology of advertising, sebagaimana yang dibutuhkan dalam project saya sekarang.

Akhirnya, setelah sekian panjang tulisan ini berfokus pada saya dan saya, sebagai inti dari tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan deGromiest dan diri saya pribadi untuk selalu memikirkan dan merenungkan atas semua kejadian yang kita alami. Marilah di bulan Ramadan yang suci ini kita selain ber-introspeksi, kita juga ber-retrospeksi dan memproyeksikan langkah kita ke depan. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita bukanlah karena efek random (saya rasa ini juga salah satu pilar aqidah Islam, CMIIW), penting bagi kita untuk tahu kira-kira pesan apa yang Allah sedang sampaikan kepada kita. Hal ini penting bagi kita agar kita selalu dapat mensyukuri atas apapun yang terjadi atas diri kita. Juga hal ini penting untuk menyadarkan kita tentang misi atau kewajiban (fardhu kifayah) apa yang sebenarnya sedang diembankan kepada kita, terlepas dari/in addition to misi pribadi kita untuk menuntaskan kewajiban ibadah individual (fardhu ‘ain) dan mencapai surga di akhirat kelak. Apa yang dapat kita sumbangkan dari diri kita bagi Islam sebagai suatu kesatuan umat/society (Islam jelas bukan agama yang mendukung pola hidup hermetic)? Situasi yang dihadapi setiap orang pasti berbeda-beda, tapi di balik itu semua ada sebuah rencana besar, grand design, yang maha kompleks, tapi maha sempurna, dari Allah SWT, Tuhan kita yang sebaik-baiknya Pencipta Rencana.

Wallahu’alam.


Diary Ramadhan edisi 15 Ramadhan 1431H

Oleh: Ismail Fahmi

(Diterjemahkan dari The Protection: Climbing Up, Bawa Muhaiyaddeen, 1981)

Semua jenis pekerjaan, jabatan, gelar, keturunan, agama, warna kulit, dan politik adalah pendorong hidup, sehingga ketika kelaparan, penyakit, dan segala kesulitan datang ke dalam hidupmu, kamu akan naik satu tingkat lebih tinggi mendekati kualitasNya, dan dalam kecintaanmu kepadaNya.

Keyakinan kita harus naik satu tingkat. Kita tidak boleh bilang, “Dia telah memberiku penderitaan ini. Apa yang telah Dia berikan padaku?” Please, jangan katakan ini. Sesungguhnya, Dia sedang mengangkatmu ke atas.

“Ini adalah anak tangga yang goyah.
Naik lah menuju anak tangga di atas yang lebih kokoh.
Ketika masalah lain muncul,
Naik lah ke anak tangga berikutnya!
Ini adalah sebuah langkah untuk cinta
Dan keyakinanmu.”

Jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang mengujimu.
Itu bukan pekerjaanNya.
Sebaliknya, berpikirlah bahwa Dia sedang mengangkatmu
Satu tingkat berikutnya.

„Ketika sebuah masalah muncul,
naik lah satu tingkat ke atas.
Naik lah dengan penuh keyakinan dan keimanan!

“Ketika kamu sudah menapaki ke-99 anak tangga,
Apapun yang telah kamu lihat sebelumnya dan sesudahnya akan sirna.
Yang kamu lihat hanyalah Aku.“

„Masalah-masalah itu semua hadir
Agar kamu bisa datang kepadaKu.

„Ketika mereka berkata bahwa mereka tidak menginginkanmu, naik lah!
Mereka semua adalah keburukan,
Setan dan keburukan adalah ikatan-ikatan di dalam dirimu.
Putuskan, dan naik lah ke atas.

„Naik!
Naik yang tinggi!
Naik adalah kebaikan.
Turun adalah keburukan.
Keduanya adalah tawakkal-Ku, tanggung jawab-Ku.
Mereka milik-Ku.
Datanglah ke sisiKu. Naik!“

Kita harus memiliki keyakinan itu,
Iman itu.
Baru kemudian kita akan meraih kebebasan.

Tapi jika sebaliknya kita bilang,
“Dia sedang mengujiku.
Oh Tuhan, mengapa Kau beri aku ini?
Apakah Tuhan yang seperti ini ada atau tidak?
Apa ini, oh Tuhan…“
Bukan ini yang diharapkan.

„Aku sudah menempatkan keduanya,
baik dan buruk; setan dan kebaikan,
di depan mu.
Yang itu adalah keburukan.
Yang ini adalah kebaikan.
Yang itu adalah musuh bagimu,
dan dia pasti akan berusaha mengalahkanmu.

“Naik saja satu tingkat ke atas.
Itu adalah kebaikan buatmu.
Sesuatu yang akan datang telah menanti.
Naik lah lagi satu tingkat kebaikan.
Itulah yang diharapkan.”

Seseorang yang telah melewati seluruh tingkatan
Dia lah insan kamil, seorang manusia sempurna.
Hal ini harus dipahami.

“Contoh yang telah Aku perlihatkan di depanmu
Adalah sebuah bunga lotus.
Lihatlah bagaimana dia tumbuh dari air yang kotor.
Dia hidup di tempat kotor, tetapi dia tidak membawa serta
Air yang kotor itu. Lihatlah itu!
Aku telah ciptakan kamu juga dari sesuatu yang kotor (tanah).
Tapi kau membawa serta semua yang kotor itu ke dalam dirimu.
(Kau bawa serta jabatan, gelar, agama, keturunan, politik, kekayaan ke dalam dirimu).

“Karena inilah mengapa kamu menderita.
Ini adalah penderitaanmu.
Segala sesuatu yang kamu genggam erat adalah penderitaanmu.
Bunga lotus itu tidak menggenggam air yang kotor.
Lihatlah, betapa cantiknya dia.
Oleh karena itu, naiklah!

“Aku telah perlihatkan kepadamu banyak contoh.
Lihatlah mereka dengan bijak.

“Lihat berapa banyak bunga yang telah Aku ciptakan
Untuk para lebah!
Tak terhitung banyaknya.
Betapa banyak warnanya,
betapa banyak gradasinya,
betapa banyak jenisnya!

„Namun, lebah hanya terbang menuju tujuannya.
Dia hanya mengambil apa yang menjadi haknya (madu),
dan kemudian pergi.
Apa yang menjadi sisa ditinggalkannya.

“Aku telah menempatkan
Keburukan dan kebaikan,
Dzat dan sifat,
Esensi dan ciptaan,
Di depanmu.
Ambillah apa yang menjadi hakmu, lalu datanglah padaKu.

“Lebah madu tidak berkata,
‘Semua bunga itu indah.’
Dia tidak memetik dan membawanya ke sana kemari.
Dia mengambil apa yang dibutuhkannya,
Dan meninggalkan sisanya di belakang.
Aku telah menciptakan segala sesuatu.
Di dalamnya, identifikasi apa yang menjadi hakmu,
Ambillah dan datanglah.

“Aku telah menciptakan satu jenis burung bernama penghisap madu.
Warnanya hitam, sangat hitam.
Tapi lihat bagaimana kilauannya, terang seperti petir!
Tubuhnya seperti itu.
Hitam (gelap).

“(Tubuhmu juga terbuat dari tanah yang mengandung kegelapan)
Tapi di dalam dirimu terdapat cahaya iman.
Aku telah tempatkan cahaya iman itu ke dalam dirimu.
Dia selalu bercahaya.

“Lihat bagaimana usaha kerasnya si penghisap madu
Agar dia bisa meminum madu.
Sungguh sebuah keseimbangan!
Dia menjaga keseimbangan sehingga dia kelihatan diam tak bergerak.
Tanpa menyentuh bunga,
tanpa duduk di atasnya,
dia menjulurkan paruhnya tepat di tengah
seperti diam tak bergerak,
sebuah keseimbangan.

„Seperti itu, di dalam hidupmu,
jangan duduk di atas bunga!
Kamu harus menjaga keseimbangan—laa ilaaha illaAllah:
Tidak ada sesuatu pun kecuali Engkau, ya Tuhan.
Hanya Kau lah Allah.

„Tetaplah dalam keseimbangan,
Tetap diam dan seimbang dan ambillah intinya.
Ekstrak rasanya, rasa dari ilmu.
Maka kamu akan mengerti.
Jika kamu gagal untuk tetap seimbang,
maka kamu tidak akan mampu berada di atas bunga itu.
Jika kamu jatuh duduk di atasnya,
maka dia akan melengkung dan membuatmu jatuh.
Kamu akan terjatuh.

“Aku ciptakan bunga-bunga dan warna yang indah.
Aku tempatkan begitu banyak kelopak di sana.
Tetapi aroma wangi datang dari dalamnya.
Aroma ada di dalam.

“Seperti ini, Aku telah ciptakan
Begitu banyak nafsu di dalam dirimu.
Betapa banyak kelopaknya!
Betapa banyak detailnya!

“Walau bagaimana pun, aroma wangi ada di dalam dirimu.
Aroma muncul dari dalam dirimu.
Jika keindahan dan aroma me mancar dari dirimu,
kamu akan membuat segala yang ada di dalam dirimu wangi.

“Jika kamu mengontrol nafsu-nafsu itu,
kamu akan bisa membuat mereka beraroma wangi.”

Ini adalah contoh-contoh dari Allah.
Pahami mereka.
Jangan memegang erat penderitaan.
Naiklah satu tingkat ke atas.


Diary Ramadhan edisi 14 Ramadhan 1431H

Oleh: Ismail Fahmi

(Diterjemahkan dari The Mirror: Understanding Yourself, Bawa Muhaiyaddeen, 1981)

Murid:

Jika Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, mengapa hanya ada sangat
sedikit manusia di planet ini yang sungguh-sungguh mencari kebenaran?

Guru:

Setiap orang yang diciptakan Tuhan adalah baik, anakku.
Semua yang diciptakan Tuhan adalah orang-orang baik.
Mereka semua orang baik.
Tuhan hanya menciptakan ruh yang fitrah.
Oleh karena itu,
Tuhan tidak menciptakan satu orang jahat sekali pun.
Pertanyaan yang seharusnya adalah:
Semua orang adalah baik;
apakah aku juga menjadi orang yang baik?
Itulah pertanyaannya.

Keburukan di dalam diri sendiri itulah
yang melihat keburukan di dalam diri orang lain.
Titik keburukan di dalam diri sendiri,
setan, perilaku setan itulah, yang akan melihat setan di dalam diri orang lain.
Jika kamu melihat di dalam cermin,
kamu akan melihat apa yang ada di dalam dirimu.

Tidak ada keburukan di dalam cermin.
Tidak ada setan di dalam cermin.
Kamu berpikir dia ada di dalam cermin, tetapi tidak.
Apa yang ada di dalam diri, itulah yang akan tampak di luar.
Segala sesuatu yang kamu lihat adalah segala yang ada di dalam dirimu.
Segala sesuatu yang kamu katakan adalah titik yang ada di dalam dirimu.
Segala sesuatu yang kamu khawatirkan di luar dirimu adalah yang
terjadi di dalam dirimu.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang kamu lakukan
berasal dari apa yang ada di dalam dirimu.
Apa yang kamu nilai adalah apa yang ada di dalam dirimu.
Apa yang kamu anggap musuh adalah yang di dalam dirimu.
Apa yang kamu lawan adalah yang ada di dalam dirimu.
Karena yang ada di dalam dirimu itulah yang membuat dirimu melihat
segala perbedaan ini.

Jika kamu menjadi seorang yang baik,
maka setiap orang akan menjadi orang baik.
Jika kamu berpikir, “Akankah aku menjadi orang baik juga?”
dan jika kamu menjadi orang baik,
maka setiap orang akan menjadi baik.

Jika kamu menjadi orang baik,
semua yang hidup akan membungkuk kepadamu.
Semua makhluk akan menghormatimu.
Semua akan patuh padamu.
Matahari dan bulan akan sujud padamu.

Jika kamu tidak menjadi orang baik,
maka segala yang kamu lihat akan tampak seperti setan dan kejam.
Kamu akan melihat apa yang ada di dalam dirimu.
Semua akan tampak buruk dan jahat.

Ketika kamu menangkap ribuan spesies ikan di laut,
kamu menangkap mereka semua dengan sebuah jala.
Meskipun ada ribuan spesies ikan,
hanya akan ada satu jala.
Kamu lah yang kemudian memilah dan mengelompokkan mereka.
Mereka tidak terpilah di lautan.
Apakah mereka terpilah? Tidak.
Apakah jala memilah mereka?
Apakah air memilah mereka?
Mereka dulunya bersama-sama.
Kamu lah yang memilah mereka
ke dalam kelompok baik dan buruk.
Kamu memilah segala sesuatu ke dalam sifat baik dan buruk.
Ketika kamu memiliki pemahaman seperti air dan jala,
maka kamu akan melihat kesatuan, bukan pemilahan.
Semua ini karena dirimu sendiri yang terpisah-pisah,
sehingga kamu melihat pemilahan.

Seperti inilah sifat akal dan pikiranmu,
yang melakukan pemilahan.
Pikiranmu, akalmu, dan ide-idemu
yang melakukan pemilahan.

Air dan jala tidak melakukan pemilahan.
Mereka berkata, “Silahkan datang, silahkan pergi.”
Mereka bersama.
Mereka merangkul apapun yang datang kepada mereka.
Air mengumpulkan apapun yang datang kepadanya.

Seperti inilah, ketika kebenaran telah datang,
ia menerima semuanya.
Kebenaran bisa melihat segala sesuatu itu berguna.

Dengan kebersamaan, kasih sayang dan cinta,
ia menjadikan segala seuatu menjadi satu.
Kebenaran menerima semua kehidupan seperti miliknya sendiri.

Jika kamu juga bisa mencapai tingkatan ini,
kamu akan menerima semua kehidupan sebagai kehidupanmu sendiri.
Semua tubuh akan seperti tubuhmu sendiri.
Semua rasa lapar akan menjadi rasa laparmu.
Semua penderitaan akan menjadi penderitaanmu.
Kamu akan bisa menerima itu semua.

Kemudian, kamu akan paham apakah syetan itu.
(bersambung)


Diary Ramadhan edisi 13 Ramadhan 1431H

Oleh: Arramel

Sekilas melihat cuaca diluar kantor yang tidak bersahabat alias hujan mengingatkan kenangan penulis saat akan memasuki masjid Agung di alun-alun kota Bandung pada tahun 2002. Pandangan mata tak luput melihat hiruk pikuknya para pedagang yang menawarkan makanan untuk sekedar berbuka, khususnya di areal jalan dalem kaum menjelang adzan magrib sudah menjadi pemandangan umum Memori ini membawa kembali pikiran ketika punggung serasa pegal karena isi tas yang berisikan dua textbook Organic Chemistry setebal buku Harry Potter. Maklum pelajar dengan modal low-budget jadi pinjaman buku-buku kuliah sudah menjadi hal lumrah untuk dipinjam hampir genap satu semester. Sesaat sebelum memasuki pelataran masjid, ada satu anak perempuan kecil yang segera menyodorkan tangan kecilnya meminta sedekah dengan muka memelas. Hasrat hati ingin sekali memberikan sebagian recehanku, tapi berhubung uang yang ada saku sangat pas untuk perjalanan pulang ke rumah, dengan berat hati aku menggelengkan kepala kepadanya. Sesaat dia seperti kecewa dan sedih, tapi mimik wajahnya mengatakan jangan patah arang dan kembali tersenyum..

Badan ini kembali melangkah masuk ke bagian dalam masjid, terlihat beberapa pojok sisi masjid sudah diisi dengan orang yang sedang mengaji. Namun, ada juga orang yang memanfaatkan sejuknya udara dengan memejamkan mata sambil menunggu beduk tiba. Langkah kaki kuteruskan ke areal tempat wudhu yang ternyata sudah cukup padat dengan para jemaah lainnya. Basuhan air segar menerpa wajah dan segera menghilangkan kepenatan hari yang padat dengan jadwal kuliah dan praktikum. Selepas shalat sunnat, kucoba untuk menyempatkan membaca ayat-ayat suci Al-Qurán. Kering rasanya jika tidak melafazkan barang beberapa bacaan singkat tapi cukup bermakna apalagi di bulan suci ini, nikmat kita terus berlipat dengan nilai pahala yang berbeda dari yang biasanya. Kilasan surat An-Nisa di beberapa petikan ayat yang kubaca sungguh mengangkat harkat insan akhwat dimata Islam. Entah kenapa bacaan ini mengingatkan penggalan ingatan ketika melihat berita di TV ataupun diskusi singkat dengan rekan sejawat di kantor yang mengesankan bahwasanya Islam secara terang-terangan menekan posisi wanita, baik di kehidupan keluarga ataupun masyarakat secara umumnya. Akan tetapi, bagi para umat muslim tentunya sebagian besar mengetahui jika posisi wanita khususnya ibu adalah peluang untuk mengarahkan langkah kaki ke surga ilahi.

Satu suap lagi ya anakku sayang.. Hampir satu jam sendok kecil ini bulak-balik memasukkan asupan bagi si kecil yang umurnya tak terasa hampir berusia satu tahun. Pandangan matanya nan bersih dan tanpa beban sungguh menyegarkan pikiran dari peliknya pekerjaan di kantor. Karakter bayi memang sangatlah unik, setiap anak memiliki ciri khasnya masing-masing. Prilakunya yang menerima apa saja yang diberikan kadang harus disikapi dg hati-hati karena pola fikir anak yang belum terbentuk mana yang baik atau buruk bagi dirinya. Oleh karena itu, tugas orang tua menjadi sangat vital membantu serta mengarahkan sifat ataupun tingkah laku anak di masa depan. Terlepas kedua peran ibu dan ayah besar sama bobotnya, namun penulis ingin sekali mengangkat betapa kinerja ibu sangatlah penting untuk mendidik anak ke jalan yang diridhai oleh Alloh SWT. Maka tak salah jikalau ada kalimat ”pintu surga berada di kaki ibu “. Semua usaha susah payah yang dilakukan oleh para ibu patut diacungi jempol dan disyukuri. Teringat ketika masa dimana penulis masih menduduki sekolah dasar kelas satu, ibu mencoba untuk selalu membangunkan anaknya yang sukar bangun pagi agar pergi ke sekolah. Tak lupa menyiapkan sarapan serta menyiapkan pakaian putih-merah.Ketika anak beranjak dewasa, ibu pula yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku, alat tulis dan lain-lain. Tatkala sang anak sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, sang ibu dengan tulus selalu mendoakan agar anaknya sukses dunia dan akhirat. Semoga semua usaha dan doa mampu mengiringi semua para ibu ataupun calon ibu dibalas di hari nanti, amin..

Secercah rasa lelah terlihat di pelupuk mata sang istri kala membereskan sisa makanan si kecil. Tak luput dari pandangannya, hasil cucian yang masih bertumpuk kadang membuat rasa semangat membereskannya sirna. Serta tugas lain sudah menanti seperti menyiapkan makan malam bagi anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, para istri terus menjalani peranan dan tugas secara ikhlas dan istiqamah. layaknya siklus metabolisme tubuh yang terus berputar setiap saat.

Sekelumit tulisan singkat penulis diatas hanyalah sedikit dari rangkaian roda kehidupan wanita secara umum. Mungkin sedikit tulisan di atas bisa menjadi pengingat bahwasanya semua usaha serta doa para ibu, istri, ataupun bahkan si kecil akan menjadi bekal yang akan dinilai oleh Alloh SWT menuju lingkaran tanpa batas di akhirat kelak, amin yaa robbal alamin..