Tidak terasa Ramadhan sudah memasuki hari terakhir. Hanya dalam hitungan jam kita akan segera berpisah dengan bulan penuh berkah ini. Setiap Ramadhan selalu ada momen istimewa dan juga hikmah yang saya dapatkan. Demikian pula dengan Ramadhan kali ini. Ini adalah tahun kedua saya menjalani puasa Ramadhan di kota Groningen, sebuah kota kecil di utara Belanda. Menjalani ibadah puasa di negeri orang dan jauh dari keluarga tentunya adalah suatu tantangan besar. Apalagi dua tahun terakhir di sini, Ramadhan bertepatan dengan musim panas yang waktu siangnya lebih lama.

Ya, di sini saya harus berpuasa selama hampir 18 jam. Waktu imsak/Subuh berkisar antara jam 03.30-04.00 pagi, sedangkan waktu berbuka adalah sekitar jam 21.30 malam. Setelah berbuka saya masih harus menunggu waktu Isya untuk shalat tarawih dan baru selesai sekitar jam 12 malam. Praktis hanya ada waktu sekitar 3 jam antara Isya dan Subuh. Karena waktu malam yang singkat ini, di minggu pertama Ramadhan saya lebih sering menunggu waktu Subuh tanpa tidur dulu karena khawatir kebablasan dan telat sahur. Namun setelah memasuki minggu kedua, saya jadi lebih terbiasa untuk mengatur jam tidur.

Menjalani Ramadhan di Belanda mengajarkan kepada saya untuk lebih menghargai waktu dan juga lebih bersyukur atas keluangan waktu yang saya dapatkan selama ini. Saya pun sadar bahwa seberat apapun puasa di sini tidaklah seberapa jika dibandingkan negara-negara eropa di bagian utara, seperti Finlandia. Tahun ini saudara-saudara kita di Finlandia harus menjalankan puasanya selama hampir 20 jam dari mulai 3.30 pagi hingga pukul 11.30 malam. Mudah-mudahan muslim di sana diberikan kekuatan untuk bisa menjalani Ramadhan dengan sempurna.

Tetap Bertahan di Tengah Godaan

Bagi teman-teman saya yang baru pertama kali menjalani Ramadhan di Belanda atau negara eropa lainnya tentu tidaklah mudah. Bukan hanya karena harus menahan lapar dan haus lebih lama, tetapi juga karena lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Jangan bayangkan atmosfir Ramadhan di sini sama seperti di Indonesia. Di sini tidak ada suara adzhan magrib yang bersahutan di mesjid-mesjid. Tidak  ada lantunan tadarus lewat pengeras suara saat menjelang berbuka. Tidak ada lagi suara teriakan atau suara pentungan yang membangunkan orang untuk sahur.

Di Belanda yang muslimnya minoritas, banyak sekali tantangan dan godaan selama puasa yang menuntut kita untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Rumah makan tetap buka di siang hari, orang–orang tetap makan dan minum seperti biasa. Banyak dari mereka bahkan tidak tahu dan tidak peduli jika kita sedang berpuasa. Tantangan lain puasa di musim panas terutama bagi para pria adalah bertebarannya kaum wanita dengan pakaian yang sangat ‘terbuka’ baik itu di jalan-jalan ataupun di tempat bekerja. Saya pun harus lebih bisa menjaga hati dan pandangan agar godaan tersebut tidak membatalkan atau mengurangi pahala puasa.

Menemukan Keluarga Kedua

Di tengah beratnya ujian puasa di Groningen, saya bersyukur karena saya tidak menjalaninya sendirian. Muslim yang tinggal di sini cukup banyak, mayoritas berasal dari Turki, Maroko, Pakistan, dan Arab Saudi yang jumlahnya lebih dari 400 orang. Muslim dari Indonesia sendiri ada sekitar 100 orang. Komunitas muslim Indonesia di Groningen di kenal dengan nama deGromiest (de Groningen Indonesian Moslem Society). Komunitas muslim yang didirikan tahun 2001 ini terdiri dari para mahasiswa, pekerja, dan juga muslim Indonesia yang sudah lama menetap di Groningen.

Bersama dengan deGromiest saya merasakan kekeluargaan dan kehangatan yang luar biasa. Di luar kegiatan kantor saya bisa berkumpul, berinteraksi, belajar, serta berbagi ilmu dan pengalaman bersama mereka. Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang membuat saya merasa tidak sendiri menjalani Ramadhan di sini. Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa Degromiest adalah keluarga kedua bagi saya. Keluarga yang selalu mengingatkan ketika saya lalai dan lupa. Keluarga yang selalu memberikan semangat saat sedang ditimpa kesulitan. Keluarga yang mengajarkan untuk senantiasa istiqomah dan berpegang teguh dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim meski tinggal di negeri yang muslimnya minoritas.

Keluarga deGromiest Belanda

Keluarga deGromiest Belanda

Menghidupkan Suasana Ramadhan

Untuk menciptakan atmosfir Ramadhan yang kondusif, deGromiest mengadakan berbagai kegiatan spesial bulan Ramadhan yang diberi nama Gebyar Ramadhan Groningen. Koordinator Kegiatan Ramadhan deGromiest, Habiburrahman Zulfikri, mengatakan bahwa diharapkan dengan kegiatan ini selain bisa menghidupkan suasana Ramadhan juga bisa meningkatkan ukhuwah antar sesama muslim yang tinggal di Groningen.

Salah satu kegiatan rutin deGromiest adalah tadarus atau membaca Alquran bersama yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan tadarus ini dilaksanakan di rumah rekan-rekan muslim Indonesia secara bergiliran. Acara tadarus dimulai pukul 19.30 hingga menjelang berbuka, dilanjutkan dengan buka bersama dan sholat magrib berjamaah. Makanan untuk berbuka puasa juga disiapkan secara bergiliran oleh tuan rumah. Kebersamaan tadarus dan berbuka puasa ini juga turut diramaikan oleh beberapa rekan muslim yang berasal negara lain, seperti Mauritania dan Maroko.

Tadarus bersama menjelang berbuka puasa

Kegiatan rutin deGromiest lainnya adalah silaturahmi mingguan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sore selama bulan Ramadhan. Acara diawali dengan ceramah atau taushiyah, dilanjutkan dengan obrolan santai, lalu diakhiri dengan buka puasa bersama dan sholat magrib berjamaah. Hampir setiap minggunya silaturahmi ini dihadiri oleh sekitar 50 muslim Indonesia. Momen silaturahmi ini adalah yang paling saya tunggu-tunggu, karena selain bisa berkumpul dengan teman-teman Indonesia lainnya, saya  juga bisa  menikmati makanan khas Indonesia. Berbagai menu khas Indonesia yang disediakan saat silaturahmi ini memang sangat beragam dari mulai menu untuk ta’jil seperti kolak, es buah, bakwan, lumpia, molen, lemper, dan berbagai jenis kue. Tidak ketinggalan pula makanan berat khas Indonesia seperti soto, sop daging, opor ayam, rendang, tahu, tempe, dan lainnya. Suasana silaturahmi selalu berlangsung hangat dan meriah. Sesaat saya merasa seperti sedang berada di Indonesia. Ini adalah salah berkah Ramadan yang luar biasa.

Silaturahmi dan buka bersama deGromiest

Menu buka puasa khas Indonesia

Tim konsumsi yang sedang menyiapkan hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Selain mengadakan silaturahmi, selama bulan Ramadhan ini degromiest juga bekerja sama dengan komunitas Radio Pengajian. Radio Pengajian adalah radio Islam online yang dikhususkan untuk Muslim Indonesia yang berada di berbagai penjuru dunia. Radio ini dapat didengarkan melalui situs http://radiopengajian.com/.  Salah satu materi pengajian online yang paling ditunggu di bulan Ramadhan ini adalah sharing pengalaman tentang berpuasa dari teman-teman muslim di berbagai negara.

Memasuki akhir bulan Ramadhan deGromiest dan Galiro (Gerakan Lima Euro) mengkoordinir dan melayani pembayaran zakat firah, zakat mal, fidyah, dan infaq Ramadhan. Seluruh zakat dan infaq yang terkumpul dikirimkan ke Rumah Zakat Indonesia (http://rumahzakat.org) untuk disalurkan kepada para penerima zakat/mustahiq di tanah air. Alhamdulillah, berkat adanya program zakat ini, saya dan teman-teman di sini bisa membayar zakat dan berbagi kepada saudara-saudara kita di tanah air.

Bulan Ramadhan ini juga menjadi momen untuk menjalin silaturahmi dengan muslim yang berasal dari negara lain. Di saat tidak ada kegiatan tadarus, rekan-rekan deGromiest biasanya melaksanakan buka puasa bersama di mesjid. Mesjid yang paling sering dikunjungi adalah mesjid Maroko. Setiap hari selama Ramadhan di mesjid ini disediakan ta’jil dan juga makanan berat untuk berbuka puasa . Buka puasa di sini biasanya diawali dengan kurma dan air putih, lalu sholat magrib berjamaah, dilanjutkan dengan makanan berat yang terdiri dari sup daging, roti, dan menu khas Maroko dengan porsi yang sangat besar. Yang unik dari buka puasa di mesjid Maroko ini adalah dari cara makannya. Semua hidangan disediakan dalam satu piring besar dan di makan secara bersama-sama oleh 4-5 orang. Mungkin cara ini dilakukan untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan saat berbuka.

Itulah sedikit gambaran mengenai suasana Ramadhan di Groningen. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil di sini. Menjalankan puasa Ramadhan jauh dari keluarga dan saudara mengajarkan saya tentang arti kebersamaan dan indahnya persaudaraan. Saya merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan saudara-saudara muslim di sini yang begitu hangat dan bersahabat. Saya berharap kebersamaan di bulan Ramadhan ini juga bisa saya rasakan di bulan-bulan lainnya.  Benar sekali apa yang disampaikan oleh Rasullulah SAW dalam haditsnya:

Seandainya saja umatku tahu tentang keutamaan dan kelebihan Bulan Ramadhan, maka mereka akan menginginkan Ramadhan sepanjang tahun (Hadits).

Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan bagi saya dan kita semua untuk bertemu kembali dengan Ramadhan serta merasakan keberkahannya.

Groningen, 29 Ramadhan 1433 H

Irfan Prabudiansyah

Photo: Miftahul Ilmi

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/18/ramadhan-ala-indonesia-di-belanda/


Diary Ramadhan - Edisi 10 Ramadhan 1433H

Di bulan Ramadhan ini, kita menyaksikan sebagian rekan-rekan kita yang telah menyelesaikan studinya atau sekedar liburan bersiap atau bahkan sudah tiba di tanah air.  Hal ini menjadikan saya teringat akan pengalaman sendiri ketika tiga bulan lalu pulang ke Indonesia dalam rangka ambil data. Sama persis juga ketika tahun lalu berangkat dari Jakarta menuju Groningen. Pengalaman berangkat dari Jakarta ke Groningen atau sebaliknya selalu meninggalkan perasaan yang campur aduk, antara sedih dan senang karena meninggalkan atau bertemu dengan keluarga.  Namun satu hal yang membuat saya sibuk yaitu persiapan keberangkatan itu sendiri.

Saya begitu sibuk dengan daftar bawaan yang mesti di bawa.  Tahun lalu, saya selalu rajin berkirim email pada senior, menanyakan barang-barang apa saja yang mesti di bawa dari Indonesia. Masih segar dalam ingatan, berpanas-panas di bulan puasa dalam rangka mencari jaket musim dingin di bogor. Sudah lumayan jauh, tidak dapat pula jaket yang diinginkan.  Yang paling riweuh justru ketika tiga bulan lalu.  Rela pergi jauh-jauh ke Amsterdam dalam rangka mencari oleh-oleh yang murah juga di jalani. Berbagai daftar titipan juga sudah di siapkan. Borong coklat dan keju di ah atau lidl pasti tidak ketinggalan. Kado istimewa buat keluarga apalagi. Mendekati hari keberangkatan, saya harus makin siap, pamitan ke sana ke mari dan tidak lupa titip doa. Pas hari-H, jangan sampai telat di bandara. Minimal 2 jam sebelum keberangkatan sudah harus absen ke petugasnya.

Padahal jika di pikir-pikir, keberangkatan itu kan sifatnya belum pasti. Biasanya memang jadwal penerbangan sudah tetap tapi ada saja delay yang mungkin pernah kita alami, seperti pengalaman balik ke Groningen dengan emirates yang tertunda selama 2 jam. Bahkan pernah saya baca di koran ada penerbangan yang di batalkan. Jadi tidak ada yang bisa menjamin 100% bahwa kita pasti berangkat pada hari dan jam yang telah di tentukan. Namun, ada satu keberangkatan yang sifatnya pasti: kematian. Walaupun kita tidak mengetahui kapan jadwal ‘berangkat’ kita tetapi itu pasti sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam (QS. al-Ankabut (29): 57):’Semua yang bernyawa pasti akan mati’. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan’.

Jika dalam keberangkatan ke Jakarta atau Groningen sudah begitu sibuk, saya pribadi merasa persiapan keberangkatan ke kampung akhirat masih jauh dari kurang. Walaupun masih tetap sholat 5 waktu, tapi tidak tahu bagaimana kualitasnya ya? ? Sedekah masih sedikit, paling kasih recehan pas ada kotak amal di masjid maroko yang ketika recehan itu menyentuh dasar, bunyinya bikin malu. Tilawah quran jarang-jarang, apalagi hafalan quran masih bisa dihitung dengan jari, ga ada penambahan yang signifikan. Belajar bahasa inggris belum becus, apalagi bahasa arab dari dulu belajar putus sambung malah akhirnya ga bisa-bisa. Berangkat haji belum pernah, sholat tahajud bablas terus. Beli oleh-oleh sampai Amsterdam sana sanggup dan semangat, eh giliran ada jadwal pengajian deGromiest, saya seperti mengayuh sepeda dengan beban 100 ton.  Tapi kalo ada jadwal makan-makannya ya bisa dipertimbangkanlah….:D

Saya jadi khawatir apakah dengan bekal sekedarnya ini sanggup mengantar saya ke kampung akhirat ketika jadwal keberangkatan saya tiba. Allah berfirman ……dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal itu adalah takwa. (Al-Baqarah (2): 197). Tapi sekali lagi apakah bekal takwa saya ini mencukupi untuk mendapatkan tiket surga? Orang yang keliatan baik belum tentu masuk surga, begitu juga sebaliknya, orang jahat masih ada kesempatan untuk mendapatkan surga. Jadi saya masih menyimpan harapan bahwa semoga Allah akan memberangkatkan saya dengan bekal minimal agama Islam yang saya miliki. ….’dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan tunduk (Muslim)’ (Ali Imran (3): 102).

10 Ramadhan 1433H/29 Juli 2012

Menjelang sahur


Diary Ramadhan - Edisi 9 Ramadhan 1433H

Oleh: Sri Pujiyanti

Ada anak bertanya pada bapaknya,
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya,
Tadarus tawareh apalah gunanya
Puasa mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Taraweh mendekatkan diri pada Illahi

Bimbo-Anak Bertanya Pada Bapaknya

Sebagai seseorang yang sedikit hmm, kecanduan pada media sosial (pengakuan, red), saya mengamati bahwa setiap sore di Indonesia (atau sekitar tengah hari di Groningen sini) pada saat berbuka puasa, komputer saya akan dibanjiri oleh foto-foto makanan untuk berbuka. Instagram, Path, Twitter, foto-foto makanan itu ada di mana-mana. Saya yang doyan makan dan selalu kangen makanan di Indonesia, cuma bisa menatap dengan iri pada foto-foto itu (kadang bertekad untuk suatu saat mencoba bikin sendiri dengan harapan tidak gagal). Saya tidak pernah berpikir ada yang salah dengan foto-foto itu, hingga suatu saat, seseorang yang saya ikuti (followed) di twitter, mengucapkan opininya begini, “Bulan Puasa itu saatnya nanya, tetangga sebelah makan apa, pembantu makan apa, tukang makan apa. Bukan pamer kita punya makanan banyak.”*
Dan sayapun merasa disindir. Di Indonesia, setiap kali hendak berbuka puasa, saya sudah memikirkan jauh-jauh sebelum buka mau makan apa, kemudian membelinya. Di jalan, seringkali saya menemukan makanan lain yang juga menarik, dan membelinya. Begitu seterusnya, hingga ketika pulang ke rumah untuk berbuka, saya punya tiga atau empat macam makanan untuk berbuka. Kemudian saya bakal makan terus sampai waktunya tidur. Tidur dengan perut kekenyangan. Sahurpun begitu. Ibu saya dulu pernah bilang, saat puasa, justru anggaran untuk makan biasanya akan membengkak karena makan, pada bulan Ramadhan ini, dianggap sebuah keistimewaan yang harus dirayakan.
Tidak ada yang salah dengan kebiasaan saya itu?
Saya baru kali ini berpuasa di Groningen. 18 jam lebih menahan lapar. Di Indonesia, puasa tidak pernah jadi tantangan untuk saya, tapi di sini, hari kedua saya tumbang. Pusing-pusing. Entah karena memang badan kurang fit atau belum-belum, saya sudah mengkerut memikirkan harus berpuasa 18 jam. Intinya, beberapa kali saya tidak kuat. Ketika saya sedang mengunyah makanan di sore hari sementara beberapa orang masih berpuasa sampai jam 10 malam, tiba-tiba saya berpikir tentang orang-orang yang harus berpuasa, bukan karena alasan agama atau kesehatan atau untuk menurunkan berat badan, tapi karena mereka memang tidak punya makanan untuk dimakan. Berapa lama mereka harus ‘berpuasa’ dan apakah makanan yang kemudian mereka temukan setelah ‘puasa’ cukup bernutrisi untuk mereka? (jangan bicara soal enak tidak enak dulu).
FAO mensinyalir ada sekitar hampir 1 milyar orang yang kelaparan di tahun 2010 atau lebih dari 13% jumlah penduduk bumi**. Satu dari tujuh orang kelaparan. FAO menyebutkan mereka-mereka ini undernourished atau menurut bahasa awam saya, kurang makan. Yang lucunya (atau tidak lucu), masih menurut FAO, jumlah makanan yang diproduksi di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang dengan 2720 kalori per hari (lebih dari cukup). Permasalahan utamanya menurut FAO adalah, orang-orang yang kelaparan ini tidak punya cukup uang untuk membeli makanan mereka. Tidak seperti saya, yang bisa membeli apa saja makanan yang saya inginkan, pilihan untuk 13% penduduk bumi ini tidak cukup banyak atau malah tidak ada.
Puasa mengajarmu rendah hati selalu.
Tentu saja, kita tidak bisa berpura-pura miskin dan menolak makan berhari-hari demi solidaritas dengan hampir 1 milyar orang yang kelaparan. Tentu saja, memfoto makanan itu diperbolehkan. Membagi foto itu di media sosial dan membuat semua orang ngiler adalah suatu kebahagiaan di atas ngilernya orang lain. Tapi mungkin, akan lebih bermakna ketika kita tidak berbuka dengan berlebihan. Ketika sebelum buka, alih-alih berpikir mau makan apa, pertanyaan itu kita ganti dengan tetangga saya makan apa, ya, pembantu saya makan apa, saudara saya makan apa. Karena kita tidak bisa memberi makan seluruh dunia, setidaknya kita bisa memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita tidak kelaparan. Dan kemudian kebiasaan ini kita teruskan di luar bulan Ramadhan. Dan bukan hanya soal makanan tapi juga barang lain yang kita konsumsi secara berlebihan.
Dari ustad Khalid Latif (imam mesjid NY University, ceramah2nya bisa dilihat di Youtube), saya membaca ini, “What fasting teaches you is the reality of your own situation and those around you. It allows you to think of what you can start changing about yourself.”
Untuk saya, daftarnya panjang kalau bicara soal apa yang bisa diubah tentang diri saya. Hal itu berarti mengurangi makan berlebihan saat berbuka puasa. Mencoba untuk meneguhkan diri berpuasa 18 jam yang sebenarnya masih lebih pendek daripada di Finlandia dan mungkin jauh jika dibandingkan dengan kelaparan yang dialami saudara kita di Somalia dan Ethiopia. Mencoba untuk bangun subuh tepat pada waktunya (saya tukang tidur). Mencoba untuk bersabar. Belajar untuk melihat sudut pandang orang lain. Dan mudah-mudahan, dengan latihan tersebut sepanjang Ramadhan, puasa bisa mengajari saya untuk rendah hati, dan peduli. Seperti maknanya yang sejati. Amin.

*quote tadi dari twitternya @treespotter
** datanya saya baca dari www.worldhunger.org


Diary Ramadhan - Edisi 8 Ramadhan 1433H

Oleh: Irfan Prabudiansyah

Bulan Ramadhan sudah memasuki pekan kedua. Subhanallah! Rasanya baru kemarin kita berada di bulan Rajab dan Sya’ban. Bersyukurlah kepada Allah karena hingga detik ini kita masih mendapatkan kesempatan untuk menjalani Ramadhan, serta menikmati berkah dan rahmat yang melimpah dari-Nya. Bagi sebagian besar dari kita mungkin ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya. Dari sekian banyak Ramadhan yang sudah kita lalui tentunya banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kita dapatkan.

Lantas bagaimana kabar Ramadhan kita sejauh ini? Masihkah kita bersemangat seperti saat kita menantikan kedatangannya di bulan Sya’ban lalu? Masih bergembirakah kita seperti saat menyambutnya seminggu yang lalu? Mari kita merenung sejenak, merefleksikan diri, dan mengevaluasi Ramadhan yang sudah kita lalui.

Cobalah tanyakan kepada diri kita sendiri,

Sudah berapa juz Al-Qur’an yang kita baca?
Sudah berapa banyak infaq dan sedekah yang kita berikan?

Sudahkah kita khusyuk dalam sholat kita?

Sudahkah kita menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita dari hal-hal yang dilarang-Nya?

Sudahkah kita mesyukuri setiap nikmat dan anugerah-Nya?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya?

Masing-masing dari kita mempunyai jawaban sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lalu mau dijadikan seperti apa tiga pekan Ramadhan berikutnya? Semuanya tergantung pada kita. Apakah kita akan memaksimalkannya dengan kegiatan yang bernilai ibadah atau hanya membiarkannya berlalu dan berakhir begitu saja.

Ingatlah kembali saat-saat kita memasuki hari terakhir Ramadhan tahun lalu. Apakah kita puas dengan Ramadhan tersebut? Sudahkah kita maksimal dalam beribadah? Semakin dekatkah kita kepada Allah atau sebaliknya? Bagaimana perasaan kita pada saat akhir Ramadhan? Bahagiakah kita? Sedih? Ataukah kecewa? Sebagian dari kita mungkin merasa sudah cukup puas dengan apa yang sudah dijalani. Namun tidak sedikit dari kita yang mungkin merasa belum maksimal dalam mengisi Ramadhan yang lalu.

Kesempatan menjalani Ramadhan adalah salah satu anugrah terindah dari Allah SWT. Di bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan yang sebesar-besarnya. Sehingga tidak pantas rasanya jika kita bermalas-malasan dan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikanlah Ramadhan sebagai momen untuk belajar dan terus memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sia-sia, tanpa memberikan perubahan dalam diri kita. Alangkah ruginya jika Ramadhan ini hanya menjadi ritual tahunan yang tidak bermakna.

Mari kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan Ramadhan yang terbaik yang pernah kita jalani. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak ada yang menjamin dan tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita akan meninggalkan dunia ini. Mudah-mudahan kita dapat meraih hasil yang terbaik di akhir Ramadhan nanti dan menyandang gelar “Muttaqin”.

Apa kabar Ramadhanmu hari ini?


Diary Ramadhan - Edisi 7 Ramadhan 1433H

Sejak berjamurnya Account social seperti Facebook, Twitter, Friendster and other networking. Banyak hal bisa diamati terutama terjadinya tingkat kenarsisan, suka pamer, sering mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Bagaimana tidak salah!!! Coba kita amati terutama FB and twitter betapa banyak pengguna account salah mengguna wall/tweet mereka sebagai tempat berdoa, bukankah agama “Islam”? Telah mengatur Waktu-waktu untuk berdoa mustajab. Antara lain:
“Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di ‘Arafah, ketika menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya, Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan, Di tengah malam, Di antara adzan dan iqamat, Ketika I’tidal yang akhir dalam shalat, Ketika sujud dalam shalat, Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz, Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur, Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu, antara Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Maghrib, Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis dan Pada waktu minum air zam-zam”
Tempat-tempat baik untuk berdoa “Di kala melihat Ka’bah, Di kala me1ihat masjid Rasulullah Saw, Di tempat dan di kala melakukan thawaf, Di sisi Multazam. Di dalam Ka’bah, Di sisi sumur Zamzam, Di belakang makam Ibrahim, Di atas bukit Shafa dan Marwah, Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.
Nah seperti dijelaskan di atas jelas bahwa tempat dan waktu mustajab berdoa, bukan saat buka Facebook/twitter, sebaiknya social networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Karena Allah tidak menyukai hamba yang suka mengeluh.
Dan tanpa kita sadari, kita lebih banyak mengadu masalah di efbe dari pada mengadu kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala, lebih mengutamakan update status daripada shalat dan dzikir kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala.
Hendaknya kita mengeluh di tempat yang tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam al-Quran “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86)”, Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran.
Menurut pengamatan ternyata social networking merupakan wadah paling empuk bagi seseorang untuk mengeluh, pamer, galau, nasris dan berdoa di tempat yang salah. Ada berbagai varian doa yang tertulis dalam Facebook, bahkan bingung juga apakah benar-benar berdoa atau mengeluh dengan cantik. Bukan tidak boleh dan melarang teman berdoa lewat Facebook atau twitter, bahkan Islam memperoleh kita berdoa dimana dan kapan pun kecuali di toilet/kamar mandi. Tetapi akan lebih elok dan berkah doa yang kita untaikan di tempat-tempat telah dicontohkan Rasulullah SAW seperti paparan di atas. Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan, ingin diketahui publik dan ajang narsis.
Hal seperti itu takutnya akan berdampak pula dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi manusia tidak disukai atau dijauhi oleh teman, relasi dan keluarga. Bagaimana bisa dijauhi? Ya iyalah siapa juga mau bertemen dengan orang yang suka mengeluh, pamer, galau dan narsis. Sebelum itu benar-benar terjadi dalam kehidupan kita, mari account social dimanfaatkan, dipergunakan, dikelola sebagai ajang silaturahim.
Berikut contoh doa kopas (copy paste) status teman FB “Ya Allah…jika Canon EOS 7D layak untukku…dekatkan ia… dan jika Engkau tambahkan lensa EF-S 15-85mm IS juga tak apa, dengan senang hati ya Allah… amiiin… nuhun buat yang udah ikut mengAminkan… :) hehe”. Coba teman analisis dan amati doa tersebut di antara berharap dan bercanda. (masih banyak lagi doa’-doa diungkapkan lewat FB/Twitter antara galau, narsis dan bercanda).
Yuk ukhti wa ikhwan jangan sampai kita terikut pula dengan behaviour seperti itu suka mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Dan mari kita pergunakan account social untuk menebar semangat, kebaikan, menebar syukur, silaturahim dan taujih bukan menebar keluh kesah, galau dan narsis tiada ujung. Status tertulis bukan mendapat solusi kongkret malah sebaliknya diguyonin dan diketawakan dengan tujuan tidak jelas.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21594/berdoa-kok-di-fb/#ixzz21j3KGtmD


Diary Ramadhan - Edisi 4 Ramadhan 1433H

Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:
1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)

Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/


Diary Ramadhan - Edisi 3 Ramadhan 1433H

Ramadhan disebut juga bulan-nya Al-Qur’an; karena memang pada bulan inilah Allah swt menurunkan ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw yang juga sebagai tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi Rasul untuk semesta alam ini.

Selain itu juga, karena memang pada bulan ini semua orang muslim menjadi sangat begitu dekat dengan al-Qur’an. Sehingga kita tidak bisa mendapati seorang muslim di bulan Ramadhan ini kecuali ia sedang menggenggam mushaf Al-Qur’an, baik itu dikantongi ataupun di-‘tengteng’. Itu saking giatnya mereka, sehingga mereka tidak ingin melewatkan kesempatan sedikit pun di waktu-waktu bulan Ramadhan ini kecuali ia manfaatkan dengan membaca mushaf Al-Qur’an.

Dan tidak jarang, bahkan hampir semua umat Islam mengusung target khatam Qur’an pada bulan suci ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada sekelompok pemuda atau remaja yang mengadakan perlombaan siapa yang paling banyak khatam-nya, dan menjadi sebuah prestise tinggi jika bisa mengatakan “Alhamdulillah saya sudah khatam 2 kali Ramadhan ini”. Begitulah kira-kiranya.

Tapi semangat ini, semangat mengkhatam-kan al-Qur’an di bulan Ramadhan hendaknya tidak digeneralisir untuk semua orang. Bagi mereka yang memang sudah mahir dan mengerti hokum-hukum Tajwid (kaidah membaca al-Qur’an) dan bisa membacanya dengan benar, ya sah-sah saja buat mereka untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Karena tidak akan menjadi masalah.

Tapi bagi mereka yang belum mahir membaca al-Qur’an atau bahkan tidak mengerti hokum-hukum tajwid (sebenarnya membaca al-Quran dengan tajwid itu –sesuai Ijma’ Ulama- hukumnya fardhu ‘Ain), maka program mengkhatamkan al-Quran ini sungguh tidak layak dikerjakan oleh mereka.

Al-Qur’an itu ada 30 Juz, berarti kalau kita ingin mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini, kita diharuskan untuk menghabiskan satu hari ini dengan membaca 1 juz AL-Qur’an (dengan asumsi bahwa 1 bulan Ramadhan itu 30 hari). Dan satu juz Al-Qur’an itu terdiri dari sepuluh lembar mushaf Madani (cetakan Arab Saudi) yang sama juga 20 halaman Mushaf. Berarti mau tidak mau, kita harus membaca 20 halaman mushaf setiap harinya.

Menurut pengalaman yang saya temui dari beberapa kawan yang memang sudah mahir membaca al-Qur’an dan tentu saja mereka sangat mengerti hukum tajwid, membaca 1 juz atau 20 halaman mushaf al-Qur’an itu membutuhkan waktu 60-90 menit (1 sampai 1,5 jam). Itu bagi mereka yang lancar membacanya.

Tentu bagi kawan-kawan yang belum lancer dan mungkin tidak mengerti hokum-hukum tajwid, tentunya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Tapi yang terjadi di lapangan, karena memang keinginan besarnya dan sudah menjadi target Ramadhan dari jauh-jauh hari, ia paksakan untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan suci ini, akhirnya ia membaca sesukanya, tanpa peduli dengan kaidah-kaidah hokum tajwid. Ia tergesa-gesa dan terus membaca al-Quran walaupun salah, yang penting bisa memenuhi target baca satu hari satu juz bahkan lebih.

Padahal Allah telah memerintahkan dalam ayat-Nya:

“Dan Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil)” (Al-Muzzammil 4)

Belum lagi mereka yang punya kesibukan, pekerjaan yang memang memakan waktu dan tenaga. Apa mungkin mereka kuat duduk 1 jam lebih dengan bacaan yang sudah tidak bisa dimengerti lagi? Yang terjadi akhirnya mereka bukan membaca Qur’an, tapi justru malah menghinakan Qur’an itu sendiri karena telah dibaca seenaknya, sesukanya, padahal ada kaidah yang HARUS diikuti. Alih-alih ingin menghargai dan menghormati al-Qur’an dengan mengkhatamkannya, tapi mereka malah menghinakannya.

“Loh bukankah baca Qur’an itu tetap mendapat pahala walaupun tidak mengerti artinya?”. Ya benar sekali. Siapapun yang membaca al-Qur’an pasti mendapat pahala walaupun ia tidak mengerti artinya atau tidak paham kaidahnya, malah mendapat 2 pahala, begitu hadits Nabi menjelaskan.

Tapi itu bagi mereka yang ma uterus belajar mempelajari kaidah-kaidahnya, bukan untuk kejar target khatam Qur’an tanpa mau belajar di sebelum bulan atau sesudah bulan Ramadhan seperti kebanyakan yang orang kerjakan belakangan ini. Mereka sepertinya menyepelekan al-Qur’an dengan ke-ogah-an mereka untuk belajar.

Lalu Bagaimana?

Semangat beribadah di bulan Ramadhan ini harusnya juga di implementasikan dengan melakukan ibadah sesuai kaidah yang telah ditetapkan oleh syariah itu sendiri. Dan di bulan Ramadhan ini, baiknya kita konversi semangat mengkhatamkan Qur’an itu menjadi semangat “BELAJAR TAJWID”. Jadi bulan Ramadhan ini sebutan barunya ialah “Bulan Tajwid”.

Tidak ada lagi cara kita untuk bisa lancer membaca al-Qur’an dan mengerti hokum serta kaidah-kaidahnya kecuali dengan kita mempelajari Tajwid itu sendiri. Karena ulama sejagad raya ini telah bersepakat bahwa mambaca AL-Quran dengan tajwid itu hukumnya Fardhu ‘Ain. Artinya kewajiban itu sama seperti kewajiban shalat 5 waktu yang harus dikerjakan oleh personal masing-masing muslim. Tidak ada tawar-tawaran lagi.

Waktu-waktu yang awalnya telah kita jadwalkan untuk berkhatam (tapi dengan bacaan salah), kita rubah dengan belajar tajwid, entah itu dengan mendatangi kawan yang mengerti guna meminta beliau mengajarkan kita tajwid. Atau mendatangi seorang ustadz/kiyai, atau juga kita mengikuti halaqah-halaqah tajwid yang biasa banyak digelar di masjid-masjid sekitar rumah kita masing-masing.

Satu bulan ini kita “khatamkan” ilmu tajwid itu, sehingga nantinya ketika keluar bulan Ramadhan ini kita sudah mampu membaca Qur’an dengan benar tanpa salah Insya Allah. Akhirnya bulan Ramadhan yang akan dating kita sudah siap dengan segudang target, baik itu meng-khatamkan al-Qur’an ataupun yang lainnya.

Akhirnya juga kita bisa tinggalkan kebiasaan buruk kita yang telah lama kita kerjakan, yaitu “masuk Ramadhan baca Qur’an nya begitu, keluar Ramadhan juga tetep ngga berubah, tetep salah. Tiap taon kaya begitu, trus buat apa ada kesempatan belajar di Ramadhan?”

Meng-Khatam-Kan Qur’an Itu Gampang Dan Tidak Perlu Nunggu Ramadhan

Urusan mengkhatamkan Qur’an itu buat saya urusan yang paling gampang di antara ibadah-ibadah yang lain. Jadi jangan takut nggak bisa mengkhatamkan Qur’an, karena mengkhatamkan Qur’an itu gampang, sebentar dan bisa kapan saja, nggak perlu nunggu Ramadhan untuk bisa khatam.

Percayakah Anda bahwa dalam satu hari saja, saya atau kita semua itu bisa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 70 kali bahkan seratus kali. Lah wong nggak butuh waktu lama kok, Cuma sekitar 3 sampai 5 menit kita bisa mengkhatamkan al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barang siapa yang membaca ‘qul huwallahu ahad’ (surat al-ikhlas) sekali berarti ia telah membaca sepertiga al-Qur’an” (HR Tirmidzi)

Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-Qur’an. Mudah bukan? Jadi tidak perlu nunggu-nunggu Ramadhan untuk kita bisa khatam Qur’an.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan “berapa kali sudah khatam?” tapi “sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?”.

Wallahu A’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21726/jangan-khatamkan-al-quran-di-bulan-ramadhan/#ixzz21LUDVnlb


Diary Ramadhan - Edisi 2 Ramadhan 1433H

Oleh: Yusuf Abduh

Pagi itu seperti biasa, hujan turun di pagi hari. Yang tidak biasanya adalah setiap hari hujan turun di musim panas, dari pagi sampai ke sore, dari siang sampai ke malam. Langit gelap, anging kencang. Matahari tersipu-sipu malu, bersembunyi di balik awan hitam. Iskandar kembali menarik selimut, berharap bisa menghangatkan tubuhnya dan menikmati suasana pagi yang mendung, untuk beberapa saat lagi, sebelum jam locengnya berbunyi.
Musim panas kali ini memang berbeda dari biasanya. Panas dan cerah bertukar menjadi dingin dan gelap. Tidak ada baring-baring dan guling-guling di taman, tidak ada acara berjemur.  Aktivitas memanggang daging, tidak lagi di ruang terbuka sambil menikmati hangat matahari dan hijau rumput, tapi pindah ke ruang tertutup sambil ditemani rintik hujan dan hitam asap yang berkepul-kepul. Antusias sebuah musim panas berubah menjadi diskusi pemanasan global yang menjadi biang keladi sepinya pesta musim panas tahun ini.
Tapi, ada hal yang bisa disyukuri, setidaknya buat komunitas Muslim di Barat yang harus berjuang kuat, menahan lapar dan dahaga selama hampir 18 jam, berpuasa di musim panas. Curah hujan seolah menjadi rahmat, membawa pergi pandangan-pandangan yang bisa menguras energi  untuk menahan nafsu. Hujan seolah menjadi alasan yang tepat untuk menghindari ajakan teman-teman untuk berpesta. Alhamdulillah, turun hujan membawa seribu satu rahmat.
Musim panas kali ini memang berbeda, tapi justru karena itu, Iskandar tidak sabar untuk memulai 1 Ramadahan di musim panas yang basah ini. Tapi itu besok, hari Sabtu. Hari ini Iskandar masih ingin baring-baring dan guling-guling, menikmati pagi hari yang dingin dan mendung.
“Kring…kring…kring…”
Iskandar mengumpulkan sepenuh kekuatan untuk mematikan jam loceng. Jam 6 pagi. Dengan penuh perjuangan, Iskandar membawa dirinya keluar dari kehangatan selimut yang telah membungkus dirinya setelah selesai menunaikan solat subuh. Iskandar mengangkat kedua tangannya, tinggi ke atas, menarik nafas dalam-dalam, menahan beberapa detik dan menghembuskannya kuat-kuat.
“Semangat” jerit Iskandar, rutin motivasi di pagi hari.
Seperti biasa, Iskandar akan ke dapur, memasak nasi dan menyiapkan makanan untuk hari itu, hari Jumát. Menu sarapan untuk hari itu adalah nasi dan ikan. Menu makan siang juga nasi dan ikan. Menu makan malam juga nasi dan ikan. Satu menu yang sama untuk sepanjang hari, untuk seorang Iskandar yang malas ke dapur berkali-kali dalam satu hari. Cukup sekali, untuk satu menu, sepanjang hari. Setelah selesai masak, Iskandar ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus.
Pagi itu, Iskandar menikmati sarapan terakhirnya dengan perlahan-perlahan. Melihat rintik hujan sambil meminum secangkir teh hangat. Hari yang produktif dimulai dengan asupan gizi yang cukup saat sarapan. Buat Iskandar, nasi dan ikan yang dimakannya akan cukup memberinya energi sebelum tiba waktu makan siang, nasi dan ikan.
Hujan masih turun rintik-rintik saat Iskandar berangkat ke kampus, dan masih rintik-rintik saat waktu makan siang tiba. Suasana di kampus, sepi. Banyak yang sedang berlibur. Hanya ada beberapa mahasiswa yang masih setia berteman dengan alat-alat gelas dan reaktor di laboratorium. Hari ini, Iskandar masih belum melihat teman-teman Indonesianya yang lain. Teman-teman yang menemani kehidupannya sehari-hari, berjibaku dengan adat dan budaya yang berbeda di kota Groningen, sebuah kota kecil di utara belanda. Sebuah kota yang teramat sangat sepi kalau bukan karena ada ribuan mahasiswa yang berjuang keras, berusaha mendapatkan sehelai kertas. Kertas sakti yang diharapkan dapat memberi masa depan yang cerah dan mendapatkan hidup yang layak. Dan karena kertas itulah, Iskandar mempunyai teman-teman sebangsa, setanah air, di kota antah-berantah seperti Groningen.
Iskandar coba mencari Mas Miftah dan Mas Arief, teman satu laboratoriurm, berharap bisa makan siang bareng, di hari terakhir, sebelum 1 Ramadhan tiba. Susi dan Muhammad, terman dari Indonesia juga tidak ada di kantor. Sunyi sepi.
“Ke mana ya semua orang?” tanya Iskandar. Mungkin mereka sudah pergi makan terlebih dahulu, fikir Iskandar. Akhirnya, Iskandar memutuskan untuk menikmati makan siangnya di kantor sambil menganalisa data.
“Bismilahirrahmanirrahim” Sesuap demi sesuap, Iskandar merasakan nikmatnya makan siang terakhirnya di hari Jum’at, di sebuah musim panas yang basah. Tiba-tiba, terlihat sosok Mas Miftah dari balik jendela pintu.
“Ke mana saja Pak? Tadi saya cari mau ajak makan siang bareng”
“Kang Is tidak puasa? Hari ini kan 1 Ramadhan”
“Apa?” tanya Iskandar seolah tidak percaya. Nasi dan ikan yang belum selesai dikunyah 40 kali, tersembur keluar, menghiasi layar komputer 24 inci yang ada di hadapannya.
“Bukannya besok, hari Sabtu?” Iskandar coba untuk klarifikasi.
“Itu di Indonesia, kang. Kita ini di Groningen….Gro-ningen. Mulai puasanya hari ini”
“Oh ya?” Iskandar masih sulit untuk mecerna informasi yang baru didapatkannya. Bagaimana tidak, baru beberapa saat yang lalu, Jumát siangnya masih seperti biasa, menikmati nasi dan ikan. Dan sekarang, segalanya harus berhenti, karena hari ini 1 Ramadhan.
“Kenapa saya tidak tahu ya?”
“Walah, walah…ke mana saja, Kang. Layar komputernya sudah 24 inci, masa tidak bisa baca email? Coba,  emailnya dibaca”
“Jadinya 1 Ramadhan hari ini, bukan esok?”
“Iya, hari ini. Titik.”

Assalamuálaikum,

Rekan-rekan keluarga besar deGromiest, berikut ini adalah jadwal Sholat Ramadhan 1433 H untuk wilayah Groningen dan sekitarnya. Terima kasih.

Salam,
deGromiest


Diary Ramadhan - Edisi 1 Ramadhan 1433H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Mari bermimpi. Bayangkan sebuah negeri jauh di sana. Lokasinya sempurna, iklimnya tiada cela. Cuacanya sangat nyaman. Suhunya selalu pas: hangat tapi tak pernah terlalu panas dan sejuk tapi tak pernah terlalu dingin. Bersih dan bebas dari polusi.

Aneka rupa buah-buahan dan sayuran ada di sana. Yang paling eksotik hingga yang paling umum dijumpai di pasar. Sebut saja apapun buah kesukaan kita: nangka, alpukat, kiwi, arbei, mangga, melon, … apa saja. Durian pun kalau memang suka ada juga di sana, hanya bedanya, durian ini tak mengandung kolesterol berbahaya bagi tubuh. Tapi apakah mahal? Tidak, semuanya cuma-cuma, tak ada yang perlu dibeli, ambil atau petik saja kalau mau. Karena semua tanaman dan buah-buahan kesukaan itu ada di kebun rumah masing-masing. Bahkan kalau suka, ada mas-mas atau mbak-mbak pelayan yang selalu siap menyajikan. Pelayan ini murni fasilitas yang disediakan untuk setiap orang yang tinggal di negeri itu. Tak perlu repot mencari pembantu, dan tak perlu pusing menggajinya.

Suasana di negeri ini amat tenang. Tak pernah terdengar teriakan, suara orang marah, tangisan anak kecil di malam hari, demonstrasi, bunyi klakson, sirine ambulans, mobil polisi, apalagi pemadam kebakaran. Tapi juga tak pernah terlalu sepi, karena warganya senantiasa saling mengunjungi dan menebarkan salam. Tak ada hiruk-pikuk macam-macam, tak ada gosip dan infotainment, tak ada orang sikut sana-sini, karena memang tak ada orang yang picik di sana. Hanya suara-suara menyenangkan saja yang terdengar.

Tertarik bermigrasi ke negeri itu? Tapi tunggu, itu belum semuanya.

Orang-orangnya tampan dan cantik, pastinya sejuk sekali dipandang. Tiap orang memiliki pasangan dan keluarga. Di negeri ini ada pasar yang rutin dikunjungi para kepala keluarga tiap pekan. Entahlah apa yang diperjual belikan di sana. Uniknya, tiap kali para lelaki ini pulang kembali dari pasar ini ke rumah, istrinya takjub dengan tampilan suaminya: wajah dan pakaiannya lebih menawan dan tampan dibanding saat berangkat. Tak ada istilah muka kusut dan wajah yang lelah. Tak hanya itu, para suaminya pun takjub dengan kondisi istri yang ditinggalnya di rumah, karena mereka makin cantik dan rupawan. Cantiknya teramat cantik. Kalaulah ada seorang saja hadir ditengah kita sekarang, niscaya semua akan terpesona memandang, lantaran cantik, berseri-seri dan wanginya. Yang pria pun demikian, Amat tampan. Untungnya di negeri itu wajah-wajah cantik dan tampan ini ada di tiap rumah; itulah para suami/istri tiap warga di sana. Jadi tak perlu khawatir terjadi insiden tabrakan mobil lantaran si sopir terpesona pada wajah cantik yang lewat dan tak melihat lagi ke jalan.

Bangunan-bangunan rumahnya sangat indah, mirip istana. Dan sebetulnya memang istana. Tiap rumah itulah istananya. Dan semuanya istana seperti itu, tak ada satupun rumah yang bentuknya biasa-biasa saja. Apalagi gedung flat dengan pemandangan jemuran sprei di depannya, atau rumah tinggal yang tak terurus tamannya. Sudah begitu, tiap rumah ini luas dan lapang, sangat lapang. Bukan rumah satu kamar tidur yang hanya cukup untuk satu pasangan, tapi juga keluarga itu plus para pelayannya (jangan lupa, ada banyak pelayan yang selalu siap melayani). Di mana-mana ada hamparan dan bantal untuk bermalas-malasan. Bukan sembarang hamparan, tapi dari sutra. Tentu tak perlu repot menyedot debunya. Ranjang-ranjangnya amat nyaman dan indah, penuh dengan perhiasan emas dan perak.

Bagaimana dengan kebunnya? Tiap istana memiliki kebun ini. Di tiap kebun itu tersedia tanam-tanaman dan buah-buahan yang selalu siap dipetik. Di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sungai kawan, bukan air mancur. Bayangkan betapa luasnya kebun ini. Bukan satu sungai, tapi beberapa sungai. Ada sungai dari air yang selalu segar, ada sungai dari susu yang selalu enak dan tidak eneg, ada sungai dari madu yang tersaring dengan sempurna, bahkan ada sungai dari khamr yang di tempat lain diharamkan. Khamr dari sungai ini tak pernah membuat pening kalau diminum, jadi dapat diminum sepuasnya. Tak pernah kering sungai-sungai ini, selalu mengalir.

Tapi apa mungkin ada negeri seperti ini?

Yakinlah, negeri ini ada, dan keindahannya jauh melebihi apa yang ada dalam tulisan ini. Dan meyakini adanya negeri ini adalah bagian dari keimanan. Begitulah Allah dan Nabi-Nya menggambarkan negeri ini: Surga.

Sangat indah, sangat luas. Bagaimana tidak luas, tiap kapling rumahnya seluas dunia ini, bahkan lebih luas lagi. Penduduk neraka yang terakhir sekali keluar dari neraka untuk masuk surga, masuk surganya pun dengan merangkak-rangkak, seluas apa kapling surga baginya? Seluas dunia dan 10 kali semisalnya. Demikian Rasulullah SAW menuturkan.

Sahabat sekalian, gerbang negeri surga ini mulai hari ini dibuka lebar-lebar. Ada satu gerbang, arRoyyan namanya, yang hanya disediakan untuk mereka yang berpuasa. Pada saatnya nanti, gerbang ini akan memanggil-manggil, mana orang yang berpuasa? Lalu masuklah orang-orang yang berpuasa itu, tak perlu visa, dan ketika semua sudah masuk, gerbang ini tertutup rapat-rapat. Tak ada lagi yang bisa masuk dari pintu gerbang ini. Inilah hadiah yang Allah siapkan bagi mereka yang berpuasa.

Tapi 18,5 jam?

Mari duduk kembali, dengarkan kembali cerita lisan Rasul yang mulia. Orang yang paling sengsara di dunia dan termasuk penghuni surga didatangkan lalu ditempatkan dalam surga sebentar saja, lalu ditanyakan, “apa kau pernah merasa sengsara?” ia menjawab, “Tidak wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara dan melihat kesengsaraan sedikit pun.”

================================

Selamat menunaikan ibadah puasa dan menikmati jamuan Allah di bulan Ramadhan.