Archives for “Ramadhan 2012”

Diary Ramadhan - Edisi 9 Ramadhan 1433H

Oleh: Sri Pujiyanti

Ada anak bertanya pada bapaknya,
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya,
Tadarus tawareh apalah gunanya
Puasa mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Taraweh mendekatkan diri pada Illahi

Bimbo-Anak Bertanya Pada Bapaknya

Sebagai seseorang yang sedikit hmm, kecanduan pada media sosial (pengakuan, red), saya mengamati bahwa setiap sore di Indonesia (atau sekitar tengah hari di Groningen sini) pada saat berbuka puasa, komputer saya akan dibanjiri oleh foto-foto makanan untuk berbuka. Instagram, Path, Twitter, foto-foto makanan itu ada di mana-mana. Saya yang doyan makan dan selalu kangen makanan di Indonesia, cuma bisa menatap dengan iri pada foto-foto itu (kadang bertekad untuk suatu saat mencoba bikin sendiri dengan harapan tidak gagal). Saya tidak pernah berpikir ada yang salah dengan foto-foto itu, hingga suatu saat, seseorang yang saya ikuti (followed) di twitter, mengucapkan opininya begini, “Bulan Puasa itu saatnya nanya, tetangga sebelah makan apa, pembantu makan apa, tukang makan apa. Bukan pamer kita punya makanan banyak.”*
Dan sayapun merasa disindir. Di Indonesia, setiap kali hendak berbuka puasa, saya sudah memikirkan jauh-jauh sebelum buka mau makan apa, kemudian membelinya. Di jalan, seringkali saya menemukan makanan lain yang juga menarik, dan membelinya. Begitu seterusnya, hingga ketika pulang ke rumah untuk berbuka, saya punya tiga atau empat macam makanan untuk berbuka. Kemudian saya bakal makan terus sampai waktunya tidur. Tidur dengan perut kekenyangan. Sahurpun begitu. Ibu saya dulu pernah bilang, saat puasa, justru anggaran untuk makan biasanya akan membengkak karena makan, pada bulan Ramadhan ini, dianggap sebuah keistimewaan yang harus dirayakan.
Tidak ada yang salah dengan kebiasaan saya itu?
Saya baru kali ini berpuasa di Groningen. 18 jam lebih menahan lapar. Di Indonesia, puasa tidak pernah jadi tantangan untuk saya, tapi di sini, hari kedua saya tumbang. Pusing-pusing. Entah karena memang badan kurang fit atau belum-belum, saya sudah mengkerut memikirkan harus berpuasa 18 jam. Intinya, beberapa kali saya tidak kuat. Ketika saya sedang mengunyah makanan di sore hari sementara beberapa orang masih berpuasa sampai jam 10 malam, tiba-tiba saya berpikir tentang orang-orang yang harus berpuasa, bukan karena alasan agama atau kesehatan atau untuk menurunkan berat badan, tapi karena mereka memang tidak punya makanan untuk dimakan. Berapa lama mereka harus ‘berpuasa’ dan apakah makanan yang kemudian mereka temukan setelah ‘puasa’ cukup bernutrisi untuk mereka? (jangan bicara soal enak tidak enak dulu).
FAO mensinyalir ada sekitar hampir 1 milyar orang yang kelaparan di tahun 2010 atau lebih dari 13% jumlah penduduk bumi**. Satu dari tujuh orang kelaparan. FAO menyebutkan mereka-mereka ini undernourished atau menurut bahasa awam saya, kurang makan. Yang lucunya (atau tidak lucu), masih menurut FAO, jumlah makanan yang diproduksi di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang dengan 2720 kalori per hari (lebih dari cukup). Permasalahan utamanya menurut FAO adalah, orang-orang yang kelaparan ini tidak punya cukup uang untuk membeli makanan mereka. Tidak seperti saya, yang bisa membeli apa saja makanan yang saya inginkan, pilihan untuk 13% penduduk bumi ini tidak cukup banyak atau malah tidak ada.
Puasa mengajarmu rendah hati selalu.
Tentu saja, kita tidak bisa berpura-pura miskin dan menolak makan berhari-hari demi solidaritas dengan hampir 1 milyar orang yang kelaparan. Tentu saja, memfoto makanan itu diperbolehkan. Membagi foto itu di media sosial dan membuat semua orang ngiler adalah suatu kebahagiaan di atas ngilernya orang lain. Tapi mungkin, akan lebih bermakna ketika kita tidak berbuka dengan berlebihan. Ketika sebelum buka, alih-alih berpikir mau makan apa, pertanyaan itu kita ganti dengan tetangga saya makan apa, ya, pembantu saya makan apa, saudara saya makan apa. Karena kita tidak bisa memberi makan seluruh dunia, setidaknya kita bisa memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita tidak kelaparan. Dan kemudian kebiasaan ini kita teruskan di luar bulan Ramadhan. Dan bukan hanya soal makanan tapi juga barang lain yang kita konsumsi secara berlebihan.
Dari ustad Khalid Latif (imam mesjid NY University, ceramah2nya bisa dilihat di Youtube), saya membaca ini, “What fasting teaches you is the reality of your own situation and those around you. It allows you to think of what you can start changing about yourself.”
Untuk saya, daftarnya panjang kalau bicara soal apa yang bisa diubah tentang diri saya. Hal itu berarti mengurangi makan berlebihan saat berbuka puasa. Mencoba untuk meneguhkan diri berpuasa 18 jam yang sebenarnya masih lebih pendek daripada di Finlandia dan mungkin jauh jika dibandingkan dengan kelaparan yang dialami saudara kita di Somalia dan Ethiopia. Mencoba untuk bangun subuh tepat pada waktunya (saya tukang tidur). Mencoba untuk bersabar. Belajar untuk melihat sudut pandang orang lain. Dan mudah-mudahan, dengan latihan tersebut sepanjang Ramadhan, puasa bisa mengajari saya untuk rendah hati, dan peduli. Seperti maknanya yang sejati. Amin.

*quote tadi dari twitternya @treespotter
** datanya saya baca dari www.worldhunger.org


Diary Ramadhan - Edisi 3 Ramadhan 1433H

Ramadhan disebut juga bulan-nya Al-Qur’an; karena memang pada bulan inilah Allah swt menurunkan ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw yang juga sebagai tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi Rasul untuk semesta alam ini.

Selain itu juga, karena memang pada bulan ini semua orang muslim menjadi sangat begitu dekat dengan al-Qur’an. Sehingga kita tidak bisa mendapati seorang muslim di bulan Ramadhan ini kecuali ia sedang menggenggam mushaf Al-Qur’an, baik itu dikantongi ataupun di-‘tengteng’. Itu saking giatnya mereka, sehingga mereka tidak ingin melewatkan kesempatan sedikit pun di waktu-waktu bulan Ramadhan ini kecuali ia manfaatkan dengan membaca mushaf Al-Qur’an.

Dan tidak jarang, bahkan hampir semua umat Islam mengusung target khatam Qur’an pada bulan suci ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada sekelompok pemuda atau remaja yang mengadakan perlombaan siapa yang paling banyak khatam-nya, dan menjadi sebuah prestise tinggi jika bisa mengatakan “Alhamdulillah saya sudah khatam 2 kali Ramadhan ini”. Begitulah kira-kiranya.

Tapi semangat ini, semangat mengkhatam-kan al-Qur’an di bulan Ramadhan hendaknya tidak digeneralisir untuk semua orang. Bagi mereka yang memang sudah mahir dan mengerti hokum-hukum Tajwid (kaidah membaca al-Qur’an) dan bisa membacanya dengan benar, ya sah-sah saja buat mereka untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Karena tidak akan menjadi masalah.

Tapi bagi mereka yang belum mahir membaca al-Qur’an atau bahkan tidak mengerti hokum-hukum tajwid (sebenarnya membaca al-Quran dengan tajwid itu –sesuai Ijma’ Ulama- hukumnya fardhu ‘Ain), maka program mengkhatamkan al-Quran ini sungguh tidak layak dikerjakan oleh mereka.

Al-Qur’an itu ada 30 Juz, berarti kalau kita ingin mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini, kita diharuskan untuk menghabiskan satu hari ini dengan membaca 1 juz AL-Qur’an (dengan asumsi bahwa 1 bulan Ramadhan itu 30 hari). Dan satu juz Al-Qur’an itu terdiri dari sepuluh lembar mushaf Madani (cetakan Arab Saudi) yang sama juga 20 halaman Mushaf. Berarti mau tidak mau, kita harus membaca 20 halaman mushaf setiap harinya.

Menurut pengalaman yang saya temui dari beberapa kawan yang memang sudah mahir membaca al-Qur’an dan tentu saja mereka sangat mengerti hukum tajwid, membaca 1 juz atau 20 halaman mushaf al-Qur’an itu membutuhkan waktu 60-90 menit (1 sampai 1,5 jam). Itu bagi mereka yang lancar membacanya.

Tentu bagi kawan-kawan yang belum lancer dan mungkin tidak mengerti hokum-hukum tajwid, tentunya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Tapi yang terjadi di lapangan, karena memang keinginan besarnya dan sudah menjadi target Ramadhan dari jauh-jauh hari, ia paksakan untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan suci ini, akhirnya ia membaca sesukanya, tanpa peduli dengan kaidah-kaidah hokum tajwid. Ia tergesa-gesa dan terus membaca al-Quran walaupun salah, yang penting bisa memenuhi target baca satu hari satu juz bahkan lebih.

Padahal Allah telah memerintahkan dalam ayat-Nya:

“Dan Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil)” (Al-Muzzammil 4)

Belum lagi mereka yang punya kesibukan, pekerjaan yang memang memakan waktu dan tenaga. Apa mungkin mereka kuat duduk 1 jam lebih dengan bacaan yang sudah tidak bisa dimengerti lagi? Yang terjadi akhirnya mereka bukan membaca Qur’an, tapi justru malah menghinakan Qur’an itu sendiri karena telah dibaca seenaknya, sesukanya, padahal ada kaidah yang HARUS diikuti. Alih-alih ingin menghargai dan menghormati al-Qur’an dengan mengkhatamkannya, tapi mereka malah menghinakannya.

“Loh bukankah baca Qur’an itu tetap mendapat pahala walaupun tidak mengerti artinya?”. Ya benar sekali. Siapapun yang membaca al-Qur’an pasti mendapat pahala walaupun ia tidak mengerti artinya atau tidak paham kaidahnya, malah mendapat 2 pahala, begitu hadits Nabi menjelaskan.

Tapi itu bagi mereka yang ma uterus belajar mempelajari kaidah-kaidahnya, bukan untuk kejar target khatam Qur’an tanpa mau belajar di sebelum bulan atau sesudah bulan Ramadhan seperti kebanyakan yang orang kerjakan belakangan ini. Mereka sepertinya menyepelekan al-Qur’an dengan ke-ogah-an mereka untuk belajar.

Lalu Bagaimana?

Semangat beribadah di bulan Ramadhan ini harusnya juga di implementasikan dengan melakukan ibadah sesuai kaidah yang telah ditetapkan oleh syariah itu sendiri. Dan di bulan Ramadhan ini, baiknya kita konversi semangat mengkhatamkan Qur’an itu menjadi semangat “BELAJAR TAJWID”. Jadi bulan Ramadhan ini sebutan barunya ialah “Bulan Tajwid”.

Tidak ada lagi cara kita untuk bisa lancer membaca al-Qur’an dan mengerti hokum serta kaidah-kaidahnya kecuali dengan kita mempelajari Tajwid itu sendiri. Karena ulama sejagad raya ini telah bersepakat bahwa mambaca AL-Quran dengan tajwid itu hukumnya Fardhu ‘Ain. Artinya kewajiban itu sama seperti kewajiban shalat 5 waktu yang harus dikerjakan oleh personal masing-masing muslim. Tidak ada tawar-tawaran lagi.

Waktu-waktu yang awalnya telah kita jadwalkan untuk berkhatam (tapi dengan bacaan salah), kita rubah dengan belajar tajwid, entah itu dengan mendatangi kawan yang mengerti guna meminta beliau mengajarkan kita tajwid. Atau mendatangi seorang ustadz/kiyai, atau juga kita mengikuti halaqah-halaqah tajwid yang biasa banyak digelar di masjid-masjid sekitar rumah kita masing-masing.

Satu bulan ini kita “khatamkan” ilmu tajwid itu, sehingga nantinya ketika keluar bulan Ramadhan ini kita sudah mampu membaca Qur’an dengan benar tanpa salah Insya Allah. Akhirnya bulan Ramadhan yang akan dating kita sudah siap dengan segudang target, baik itu meng-khatamkan al-Qur’an ataupun yang lainnya.

Akhirnya juga kita bisa tinggalkan kebiasaan buruk kita yang telah lama kita kerjakan, yaitu “masuk Ramadhan baca Qur’an nya begitu, keluar Ramadhan juga tetep ngga berubah, tetep salah. Tiap taon kaya begitu, trus buat apa ada kesempatan belajar di Ramadhan?”

Meng-Khatam-Kan Qur’an Itu Gampang Dan Tidak Perlu Nunggu Ramadhan

Urusan mengkhatamkan Qur’an itu buat saya urusan yang paling gampang di antara ibadah-ibadah yang lain. Jadi jangan takut nggak bisa mengkhatamkan Qur’an, karena mengkhatamkan Qur’an itu gampang, sebentar dan bisa kapan saja, nggak perlu nunggu Ramadhan untuk bisa khatam.

Percayakah Anda bahwa dalam satu hari saja, saya atau kita semua itu bisa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 70 kali bahkan seratus kali. Lah wong nggak butuh waktu lama kok, Cuma sekitar 3 sampai 5 menit kita bisa mengkhatamkan al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barang siapa yang membaca ‘qul huwallahu ahad’ (surat al-ikhlas) sekali berarti ia telah membaca sepertiga al-Qur’an” (HR Tirmidzi)

Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-Qur’an. Mudah bukan? Jadi tidak perlu nunggu-nunggu Ramadhan untuk kita bisa khatam Qur’an.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan “berapa kali sudah khatam?” tapi “sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?”.

Wallahu A’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21726/jangan-khatamkan-al-quran-di-bulan-ramadhan/#ixzz21LUDVnlb


Diary Ramadhan - Edisi 1 Ramadhan 1433H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Mari bermimpi. Bayangkan sebuah negeri jauh di sana. Lokasinya sempurna, iklimnya tiada cela. Cuacanya sangat nyaman. Suhunya selalu pas: hangat tapi tak pernah terlalu panas dan sejuk tapi tak pernah terlalu dingin. Bersih dan bebas dari polusi.

Aneka rupa buah-buahan dan sayuran ada di sana. Yang paling eksotik hingga yang paling umum dijumpai di pasar. Sebut saja apapun buah kesukaan kita: nangka, alpukat, kiwi, arbei, mangga, melon, … apa saja. Durian pun kalau memang suka ada juga di sana, hanya bedanya, durian ini tak mengandung kolesterol berbahaya bagi tubuh. Tapi apakah mahal? Tidak, semuanya cuma-cuma, tak ada yang perlu dibeli, ambil atau petik saja kalau mau. Karena semua tanaman dan buah-buahan kesukaan itu ada di kebun rumah masing-masing. Bahkan kalau suka, ada mas-mas atau mbak-mbak pelayan yang selalu siap menyajikan. Pelayan ini murni fasilitas yang disediakan untuk setiap orang yang tinggal di negeri itu. Tak perlu repot mencari pembantu, dan tak perlu pusing menggajinya.

Suasana di negeri ini amat tenang. Tak pernah terdengar teriakan, suara orang marah, tangisan anak kecil di malam hari, demonstrasi, bunyi klakson, sirine ambulans, mobil polisi, apalagi pemadam kebakaran. Tapi juga tak pernah terlalu sepi, karena warganya senantiasa saling mengunjungi dan menebarkan salam. Tak ada hiruk-pikuk macam-macam, tak ada gosip dan infotainment, tak ada orang sikut sana-sini, karena memang tak ada orang yang picik di sana. Hanya suara-suara menyenangkan saja yang terdengar.

Tertarik bermigrasi ke negeri itu? Tapi tunggu, itu belum semuanya.

Orang-orangnya tampan dan cantik, pastinya sejuk sekali dipandang. Tiap orang memiliki pasangan dan keluarga. Di negeri ini ada pasar yang rutin dikunjungi para kepala keluarga tiap pekan. Entahlah apa yang diperjual belikan di sana. Uniknya, tiap kali para lelaki ini pulang kembali dari pasar ini ke rumah, istrinya takjub dengan tampilan suaminya: wajah dan pakaiannya lebih menawan dan tampan dibanding saat berangkat. Tak ada istilah muka kusut dan wajah yang lelah. Tak hanya itu, para suaminya pun takjub dengan kondisi istri yang ditinggalnya di rumah, karena mereka makin cantik dan rupawan. Cantiknya teramat cantik. Kalaulah ada seorang saja hadir ditengah kita sekarang, niscaya semua akan terpesona memandang, lantaran cantik, berseri-seri dan wanginya. Yang pria pun demikian, Amat tampan. Untungnya di negeri itu wajah-wajah cantik dan tampan ini ada di tiap rumah; itulah para suami/istri tiap warga di sana. Jadi tak perlu khawatir terjadi insiden tabrakan mobil lantaran si sopir terpesona pada wajah cantik yang lewat dan tak melihat lagi ke jalan.

Bangunan-bangunan rumahnya sangat indah, mirip istana. Dan sebetulnya memang istana. Tiap rumah itulah istananya. Dan semuanya istana seperti itu, tak ada satupun rumah yang bentuknya biasa-biasa saja. Apalagi gedung flat dengan pemandangan jemuran sprei di depannya, atau rumah tinggal yang tak terurus tamannya. Sudah begitu, tiap rumah ini luas dan lapang, sangat lapang. Bukan rumah satu kamar tidur yang hanya cukup untuk satu pasangan, tapi juga keluarga itu plus para pelayannya (jangan lupa, ada banyak pelayan yang selalu siap melayani). Di mana-mana ada hamparan dan bantal untuk bermalas-malasan. Bukan sembarang hamparan, tapi dari sutra. Tentu tak perlu repot menyedot debunya. Ranjang-ranjangnya amat nyaman dan indah, penuh dengan perhiasan emas dan perak.

Bagaimana dengan kebunnya? Tiap istana memiliki kebun ini. Di tiap kebun itu tersedia tanam-tanaman dan buah-buahan yang selalu siap dipetik. Di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sungai kawan, bukan air mancur. Bayangkan betapa luasnya kebun ini. Bukan satu sungai, tapi beberapa sungai. Ada sungai dari air yang selalu segar, ada sungai dari susu yang selalu enak dan tidak eneg, ada sungai dari madu yang tersaring dengan sempurna, bahkan ada sungai dari khamr yang di tempat lain diharamkan. Khamr dari sungai ini tak pernah membuat pening kalau diminum, jadi dapat diminum sepuasnya. Tak pernah kering sungai-sungai ini, selalu mengalir.

Tapi apa mungkin ada negeri seperti ini?

Yakinlah, negeri ini ada, dan keindahannya jauh melebihi apa yang ada dalam tulisan ini. Dan meyakini adanya negeri ini adalah bagian dari keimanan. Begitulah Allah dan Nabi-Nya menggambarkan negeri ini: Surga.

Sangat indah, sangat luas. Bagaimana tidak luas, tiap kapling rumahnya seluas dunia ini, bahkan lebih luas lagi. Penduduk neraka yang terakhir sekali keluar dari neraka untuk masuk surga, masuk surganya pun dengan merangkak-rangkak, seluas apa kapling surga baginya? Seluas dunia dan 10 kali semisalnya. Demikian Rasulullah SAW menuturkan.

Sahabat sekalian, gerbang negeri surga ini mulai hari ini dibuka lebar-lebar. Ada satu gerbang, arRoyyan namanya, yang hanya disediakan untuk mereka yang berpuasa. Pada saatnya nanti, gerbang ini akan memanggil-manggil, mana orang yang berpuasa? Lalu masuklah orang-orang yang berpuasa itu, tak perlu visa, dan ketika semua sudah masuk, gerbang ini tertutup rapat-rapat. Tak ada lagi yang bisa masuk dari pintu gerbang ini. Inilah hadiah yang Allah siapkan bagi mereka yang berpuasa.

Tapi 18,5 jam?

Mari duduk kembali, dengarkan kembali cerita lisan Rasul yang mulia. Orang yang paling sengsara di dunia dan termasuk penghuni surga didatangkan lalu ditempatkan dalam surga sebentar saja, lalu ditanyakan, “apa kau pernah merasa sengsara?” ia menjawab, “Tidak wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara dan melihat kesengsaraan sedikit pun.”

================================

Selamat menunaikan ibadah puasa dan menikmati jamuan Allah di bulan Ramadhan.