Archives for “diary ramadhan”

Diary Ramadhan - Edisi 9 Ramadhan 1433H

Oleh: Sri Pujiyanti

Ada anak bertanya pada bapaknya,
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya,
Tadarus tawareh apalah gunanya
Puasa mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Taraweh mendekatkan diri pada Illahi

Bimbo-Anak Bertanya Pada Bapaknya

Sebagai seseorang yang sedikit hmm, kecanduan pada media sosial (pengakuan, red), saya mengamati bahwa setiap sore di Indonesia (atau sekitar tengah hari di Groningen sini) pada saat berbuka puasa, komputer saya akan dibanjiri oleh foto-foto makanan untuk berbuka. Instagram, Path, Twitter, foto-foto makanan itu ada di mana-mana. Saya yang doyan makan dan selalu kangen makanan di Indonesia, cuma bisa menatap dengan iri pada foto-foto itu (kadang bertekad untuk suatu saat mencoba bikin sendiri dengan harapan tidak gagal). Saya tidak pernah berpikir ada yang salah dengan foto-foto itu, hingga suatu saat, seseorang yang saya ikuti (followed) di twitter, mengucapkan opininya begini, “Bulan Puasa itu saatnya nanya, tetangga sebelah makan apa, pembantu makan apa, tukang makan apa. Bukan pamer kita punya makanan banyak.”*
Dan sayapun merasa disindir. Di Indonesia, setiap kali hendak berbuka puasa, saya sudah memikirkan jauh-jauh sebelum buka mau makan apa, kemudian membelinya. Di jalan, seringkali saya menemukan makanan lain yang juga menarik, dan membelinya. Begitu seterusnya, hingga ketika pulang ke rumah untuk berbuka, saya punya tiga atau empat macam makanan untuk berbuka. Kemudian saya bakal makan terus sampai waktunya tidur. Tidur dengan perut kekenyangan. Sahurpun begitu. Ibu saya dulu pernah bilang, saat puasa, justru anggaran untuk makan biasanya akan membengkak karena makan, pada bulan Ramadhan ini, dianggap sebuah keistimewaan yang harus dirayakan.
Tidak ada yang salah dengan kebiasaan saya itu?
Saya baru kali ini berpuasa di Groningen. 18 jam lebih menahan lapar. Di Indonesia, puasa tidak pernah jadi tantangan untuk saya, tapi di sini, hari kedua saya tumbang. Pusing-pusing. Entah karena memang badan kurang fit atau belum-belum, saya sudah mengkerut memikirkan harus berpuasa 18 jam. Intinya, beberapa kali saya tidak kuat. Ketika saya sedang mengunyah makanan di sore hari sementara beberapa orang masih berpuasa sampai jam 10 malam, tiba-tiba saya berpikir tentang orang-orang yang harus berpuasa, bukan karena alasan agama atau kesehatan atau untuk menurunkan berat badan, tapi karena mereka memang tidak punya makanan untuk dimakan. Berapa lama mereka harus ‘berpuasa’ dan apakah makanan yang kemudian mereka temukan setelah ‘puasa’ cukup bernutrisi untuk mereka? (jangan bicara soal enak tidak enak dulu).
FAO mensinyalir ada sekitar hampir 1 milyar orang yang kelaparan di tahun 2010 atau lebih dari 13% jumlah penduduk bumi**. Satu dari tujuh orang kelaparan. FAO menyebutkan mereka-mereka ini undernourished atau menurut bahasa awam saya, kurang makan. Yang lucunya (atau tidak lucu), masih menurut FAO, jumlah makanan yang diproduksi di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang dengan 2720 kalori per hari (lebih dari cukup). Permasalahan utamanya menurut FAO adalah, orang-orang yang kelaparan ini tidak punya cukup uang untuk membeli makanan mereka. Tidak seperti saya, yang bisa membeli apa saja makanan yang saya inginkan, pilihan untuk 13% penduduk bumi ini tidak cukup banyak atau malah tidak ada.
Puasa mengajarmu rendah hati selalu.
Tentu saja, kita tidak bisa berpura-pura miskin dan menolak makan berhari-hari demi solidaritas dengan hampir 1 milyar orang yang kelaparan. Tentu saja, memfoto makanan itu diperbolehkan. Membagi foto itu di media sosial dan membuat semua orang ngiler adalah suatu kebahagiaan di atas ngilernya orang lain. Tapi mungkin, akan lebih bermakna ketika kita tidak berbuka dengan berlebihan. Ketika sebelum buka, alih-alih berpikir mau makan apa, pertanyaan itu kita ganti dengan tetangga saya makan apa, ya, pembantu saya makan apa, saudara saya makan apa. Karena kita tidak bisa memberi makan seluruh dunia, setidaknya kita bisa memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita tidak kelaparan. Dan kemudian kebiasaan ini kita teruskan di luar bulan Ramadhan. Dan bukan hanya soal makanan tapi juga barang lain yang kita konsumsi secara berlebihan.
Dari ustad Khalid Latif (imam mesjid NY University, ceramah2nya bisa dilihat di Youtube), saya membaca ini, “What fasting teaches you is the reality of your own situation and those around you. It allows you to think of what you can start changing about yourself.”
Untuk saya, daftarnya panjang kalau bicara soal apa yang bisa diubah tentang diri saya. Hal itu berarti mengurangi makan berlebihan saat berbuka puasa. Mencoba untuk meneguhkan diri berpuasa 18 jam yang sebenarnya masih lebih pendek daripada di Finlandia dan mungkin jauh jika dibandingkan dengan kelaparan yang dialami saudara kita di Somalia dan Ethiopia. Mencoba untuk bangun subuh tepat pada waktunya (saya tukang tidur). Mencoba untuk bersabar. Belajar untuk melihat sudut pandang orang lain. Dan mudah-mudahan, dengan latihan tersebut sepanjang Ramadhan, puasa bisa mengajari saya untuk rendah hati, dan peduli. Seperti maknanya yang sejati. Amin.

*quote tadi dari twitternya @treespotter
** datanya saya baca dari www.worldhunger.org


Diary Ramadhan - Edisi 8 Ramadhan 1433H

Oleh: Irfan Prabudiansyah

Bulan Ramadhan sudah memasuki pekan kedua. Subhanallah! Rasanya baru kemarin kita berada di bulan Rajab dan Sya’ban. Bersyukurlah kepada Allah karena hingga detik ini kita masih mendapatkan kesempatan untuk menjalani Ramadhan, serta menikmati berkah dan rahmat yang melimpah dari-Nya. Bagi sebagian besar dari kita mungkin ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya. Dari sekian banyak Ramadhan yang sudah kita lalui tentunya banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kita dapatkan.

Lantas bagaimana kabar Ramadhan kita sejauh ini? Masihkah kita bersemangat seperti saat kita menantikan kedatangannya di bulan Sya’ban lalu? Masih bergembirakah kita seperti saat menyambutnya seminggu yang lalu? Mari kita merenung sejenak, merefleksikan diri, dan mengevaluasi Ramadhan yang sudah kita lalui.

Cobalah tanyakan kepada diri kita sendiri,

Sudah berapa juz Al-Qur’an yang kita baca?
Sudah berapa banyak infaq dan sedekah yang kita berikan?

Sudahkah kita khusyuk dalam sholat kita?

Sudahkah kita menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita dari hal-hal yang dilarang-Nya?

Sudahkah kita mesyukuri setiap nikmat dan anugerah-Nya?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya?

Masing-masing dari kita mempunyai jawaban sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lalu mau dijadikan seperti apa tiga pekan Ramadhan berikutnya? Semuanya tergantung pada kita. Apakah kita akan memaksimalkannya dengan kegiatan yang bernilai ibadah atau hanya membiarkannya berlalu dan berakhir begitu saja.

Ingatlah kembali saat-saat kita memasuki hari terakhir Ramadhan tahun lalu. Apakah kita puas dengan Ramadhan tersebut? Sudahkah kita maksimal dalam beribadah? Semakin dekatkah kita kepada Allah atau sebaliknya? Bagaimana perasaan kita pada saat akhir Ramadhan? Bahagiakah kita? Sedih? Ataukah kecewa? Sebagian dari kita mungkin merasa sudah cukup puas dengan apa yang sudah dijalani. Namun tidak sedikit dari kita yang mungkin merasa belum maksimal dalam mengisi Ramadhan yang lalu.

Kesempatan menjalani Ramadhan adalah salah satu anugrah terindah dari Allah SWT. Di bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan yang sebesar-besarnya. Sehingga tidak pantas rasanya jika kita bermalas-malasan dan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikanlah Ramadhan sebagai momen untuk belajar dan terus memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sia-sia, tanpa memberikan perubahan dalam diri kita. Alangkah ruginya jika Ramadhan ini hanya menjadi ritual tahunan yang tidak bermakna.

Mari kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan Ramadhan yang terbaik yang pernah kita jalani. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak ada yang menjamin dan tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita akan meninggalkan dunia ini. Mudah-mudahan kita dapat meraih hasil yang terbaik di akhir Ramadhan nanti dan menyandang gelar “Muttaqin”.

Apa kabar Ramadhanmu hari ini?


Diary Ramadhan - Edisi 3 Ramadhan 1433H

Ramadhan disebut juga bulan-nya Al-Qur’an; karena memang pada bulan inilah Allah swt menurunkan ayat pertama Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw yang juga sebagai tanda bahwa beliau telah diangkat menjadi Rasul untuk semesta alam ini.

Selain itu juga, karena memang pada bulan ini semua orang muslim menjadi sangat begitu dekat dengan al-Qur’an. Sehingga kita tidak bisa mendapati seorang muslim di bulan Ramadhan ini kecuali ia sedang menggenggam mushaf Al-Qur’an, baik itu dikantongi ataupun di-‘tengteng’. Itu saking giatnya mereka, sehingga mereka tidak ingin melewatkan kesempatan sedikit pun di waktu-waktu bulan Ramadhan ini kecuali ia manfaatkan dengan membaca mushaf Al-Qur’an.

Dan tidak jarang, bahkan hampir semua umat Islam mengusung target khatam Qur’an pada bulan suci ini. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bahkan ada sekelompok pemuda atau remaja yang mengadakan perlombaan siapa yang paling banyak khatam-nya, dan menjadi sebuah prestise tinggi jika bisa mengatakan “Alhamdulillah saya sudah khatam 2 kali Ramadhan ini”. Begitulah kira-kiranya.

Tapi semangat ini, semangat mengkhatam-kan al-Qur’an di bulan Ramadhan hendaknya tidak digeneralisir untuk semua orang. Bagi mereka yang memang sudah mahir dan mengerti hokum-hukum Tajwid (kaidah membaca al-Qur’an) dan bisa membacanya dengan benar, ya sah-sah saja buat mereka untuk mengkhatamkan al-Qur’an. Karena tidak akan menjadi masalah.

Tapi bagi mereka yang belum mahir membaca al-Qur’an atau bahkan tidak mengerti hokum-hukum tajwid (sebenarnya membaca al-Quran dengan tajwid itu –sesuai Ijma’ Ulama- hukumnya fardhu ‘Ain), maka program mengkhatamkan al-Quran ini sungguh tidak layak dikerjakan oleh mereka.

Al-Qur’an itu ada 30 Juz, berarti kalau kita ingin mengkhatamkan al-Qur’an pada bulan Ramadhan ini, kita diharuskan untuk menghabiskan satu hari ini dengan membaca 1 juz AL-Qur’an (dengan asumsi bahwa 1 bulan Ramadhan itu 30 hari). Dan satu juz Al-Qur’an itu terdiri dari sepuluh lembar mushaf Madani (cetakan Arab Saudi) yang sama juga 20 halaman Mushaf. Berarti mau tidak mau, kita harus membaca 20 halaman mushaf setiap harinya.

Menurut pengalaman yang saya temui dari beberapa kawan yang memang sudah mahir membaca al-Qur’an dan tentu saja mereka sangat mengerti hukum tajwid, membaca 1 juz atau 20 halaman mushaf al-Qur’an itu membutuhkan waktu 60-90 menit (1 sampai 1,5 jam). Itu bagi mereka yang lancar membacanya.

Tentu bagi kawan-kawan yang belum lancer dan mungkin tidak mengerti hokum-hukum tajwid, tentunya akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Tapi yang terjadi di lapangan, karena memang keinginan besarnya dan sudah menjadi target Ramadhan dari jauh-jauh hari, ia paksakan untuk bisa mengkhatamkan Al-Qur’an di bulan suci ini, akhirnya ia membaca sesukanya, tanpa peduli dengan kaidah-kaidah hokum tajwid. Ia tergesa-gesa dan terus membaca al-Quran walaupun salah, yang penting bisa memenuhi target baca satu hari satu juz bahkan lebih.

Padahal Allah telah memerintahkan dalam ayat-Nya:

“Dan Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan-lahan (tartil)” (Al-Muzzammil 4)

Belum lagi mereka yang punya kesibukan, pekerjaan yang memang memakan waktu dan tenaga. Apa mungkin mereka kuat duduk 1 jam lebih dengan bacaan yang sudah tidak bisa dimengerti lagi? Yang terjadi akhirnya mereka bukan membaca Qur’an, tapi justru malah menghinakan Qur’an itu sendiri karena telah dibaca seenaknya, sesukanya, padahal ada kaidah yang HARUS diikuti. Alih-alih ingin menghargai dan menghormati al-Qur’an dengan mengkhatamkannya, tapi mereka malah menghinakannya.

“Loh bukankah baca Qur’an itu tetap mendapat pahala walaupun tidak mengerti artinya?”. Ya benar sekali. Siapapun yang membaca al-Qur’an pasti mendapat pahala walaupun ia tidak mengerti artinya atau tidak paham kaidahnya, malah mendapat 2 pahala, begitu hadits Nabi menjelaskan.

Tapi itu bagi mereka yang ma uterus belajar mempelajari kaidah-kaidahnya, bukan untuk kejar target khatam Qur’an tanpa mau belajar di sebelum bulan atau sesudah bulan Ramadhan seperti kebanyakan yang orang kerjakan belakangan ini. Mereka sepertinya menyepelekan al-Qur’an dengan ke-ogah-an mereka untuk belajar.

Lalu Bagaimana?

Semangat beribadah di bulan Ramadhan ini harusnya juga di implementasikan dengan melakukan ibadah sesuai kaidah yang telah ditetapkan oleh syariah itu sendiri. Dan di bulan Ramadhan ini, baiknya kita konversi semangat mengkhatamkan Qur’an itu menjadi semangat “BELAJAR TAJWID”. Jadi bulan Ramadhan ini sebutan barunya ialah “Bulan Tajwid”.

Tidak ada lagi cara kita untuk bisa lancer membaca al-Qur’an dan mengerti hokum serta kaidah-kaidahnya kecuali dengan kita mempelajari Tajwid itu sendiri. Karena ulama sejagad raya ini telah bersepakat bahwa mambaca AL-Quran dengan tajwid itu hukumnya Fardhu ‘Ain. Artinya kewajiban itu sama seperti kewajiban shalat 5 waktu yang harus dikerjakan oleh personal masing-masing muslim. Tidak ada tawar-tawaran lagi.

Waktu-waktu yang awalnya telah kita jadwalkan untuk berkhatam (tapi dengan bacaan salah), kita rubah dengan belajar tajwid, entah itu dengan mendatangi kawan yang mengerti guna meminta beliau mengajarkan kita tajwid. Atau mendatangi seorang ustadz/kiyai, atau juga kita mengikuti halaqah-halaqah tajwid yang biasa banyak digelar di masjid-masjid sekitar rumah kita masing-masing.

Satu bulan ini kita “khatamkan” ilmu tajwid itu, sehingga nantinya ketika keluar bulan Ramadhan ini kita sudah mampu membaca Qur’an dengan benar tanpa salah Insya Allah. Akhirnya bulan Ramadhan yang akan dating kita sudah siap dengan segudang target, baik itu meng-khatamkan al-Qur’an ataupun yang lainnya.

Akhirnya juga kita bisa tinggalkan kebiasaan buruk kita yang telah lama kita kerjakan, yaitu “masuk Ramadhan baca Qur’an nya begitu, keluar Ramadhan juga tetep ngga berubah, tetep salah. Tiap taon kaya begitu, trus buat apa ada kesempatan belajar di Ramadhan?”

Meng-Khatam-Kan Qur’an Itu Gampang Dan Tidak Perlu Nunggu Ramadhan

Urusan mengkhatamkan Qur’an itu buat saya urusan yang paling gampang di antara ibadah-ibadah yang lain. Jadi jangan takut nggak bisa mengkhatamkan Qur’an, karena mengkhatamkan Qur’an itu gampang, sebentar dan bisa kapan saja, nggak perlu nunggu Ramadhan untuk bisa khatam.

Percayakah Anda bahwa dalam satu hari saja, saya atau kita semua itu bisa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 70 kali bahkan seratus kali. Lah wong nggak butuh waktu lama kok, Cuma sekitar 3 sampai 5 menit kita bisa mengkhatamkan al-Qur’an.

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barang siapa yang membaca ‘qul huwallahu ahad’ (surat al-ikhlas) sekali berarti ia telah membaca sepertiga al-Qur’an” (HR Tirmidzi)

Dengan begitu, kalau kita membaca surat Al-Ikhlas itu sebanyak 3 kali berarti kita telah mengkhatamkan al-Qur’an. Mudah bukan? Jadi tidak perlu nunggu-nunggu Ramadhan untuk kita bisa khatam Qur’an.

Ramadhan itu kesempatan emas untuk kita menambah intensitas ibadah kita kepada Allah termasuk dengan membaca dan mempelajari Al-Qur’an. Bukan kejar-kejaran target siapa yang paling banyak khatamnya. Buat apa khatam berkali-kali tapi tidak mau belajar dan tidak mau sadar kalau bacaan kita tidak benar?

Jadi pertanyaan yang harus keluar dari mulut kita ketika bertemu saudara dan kawan ialah bukan “berapa kali sudah khatam?” tapi “sudah berapa hukum tajwid yang sudah dipelajari?”.

Wallahu A’lam.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21726/jangan-khatamkan-al-quran-di-bulan-ramadhan/#ixzz21LUDVnlb


Diary Ramadhan - Edisi 2 Ramadhan 1433H

Oleh: Yusuf Abduh

Pagi itu seperti biasa, hujan turun di pagi hari. Yang tidak biasanya adalah setiap hari hujan turun di musim panas, dari pagi sampai ke sore, dari siang sampai ke malam. Langit gelap, anging kencang. Matahari tersipu-sipu malu, bersembunyi di balik awan hitam. Iskandar kembali menarik selimut, berharap bisa menghangatkan tubuhnya dan menikmati suasana pagi yang mendung, untuk beberapa saat lagi, sebelum jam locengnya berbunyi.
Musim panas kali ini memang berbeda dari biasanya. Panas dan cerah bertukar menjadi dingin dan gelap. Tidak ada baring-baring dan guling-guling di taman, tidak ada acara berjemur.  Aktivitas memanggang daging, tidak lagi di ruang terbuka sambil menikmati hangat matahari dan hijau rumput, tapi pindah ke ruang tertutup sambil ditemani rintik hujan dan hitam asap yang berkepul-kepul. Antusias sebuah musim panas berubah menjadi diskusi pemanasan global yang menjadi biang keladi sepinya pesta musim panas tahun ini.
Tapi, ada hal yang bisa disyukuri, setidaknya buat komunitas Muslim di Barat yang harus berjuang kuat, menahan lapar dan dahaga selama hampir 18 jam, berpuasa di musim panas. Curah hujan seolah menjadi rahmat, membawa pergi pandangan-pandangan yang bisa menguras energi  untuk menahan nafsu. Hujan seolah menjadi alasan yang tepat untuk menghindari ajakan teman-teman untuk berpesta. Alhamdulillah, turun hujan membawa seribu satu rahmat.
Musim panas kali ini memang berbeda, tapi justru karena itu, Iskandar tidak sabar untuk memulai 1 Ramadahan di musim panas yang basah ini. Tapi itu besok, hari Sabtu. Hari ini Iskandar masih ingin baring-baring dan guling-guling, menikmati pagi hari yang dingin dan mendung.
“Kring…kring…kring…”
Iskandar mengumpulkan sepenuh kekuatan untuk mematikan jam loceng. Jam 6 pagi. Dengan penuh perjuangan, Iskandar membawa dirinya keluar dari kehangatan selimut yang telah membungkus dirinya setelah selesai menunaikan solat subuh. Iskandar mengangkat kedua tangannya, tinggi ke atas, menarik nafas dalam-dalam, menahan beberapa detik dan menghembuskannya kuat-kuat.
“Semangat” jerit Iskandar, rutin motivasi di pagi hari.
Seperti biasa, Iskandar akan ke dapur, memasak nasi dan menyiapkan makanan untuk hari itu, hari Jumát. Menu sarapan untuk hari itu adalah nasi dan ikan. Menu makan siang juga nasi dan ikan. Menu makan malam juga nasi dan ikan. Satu menu yang sama untuk sepanjang hari, untuk seorang Iskandar yang malas ke dapur berkali-kali dalam satu hari. Cukup sekali, untuk satu menu, sepanjang hari. Setelah selesai masak, Iskandar ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk ke kampus.
Pagi itu, Iskandar menikmati sarapan terakhirnya dengan perlahan-perlahan. Melihat rintik hujan sambil meminum secangkir teh hangat. Hari yang produktif dimulai dengan asupan gizi yang cukup saat sarapan. Buat Iskandar, nasi dan ikan yang dimakannya akan cukup memberinya energi sebelum tiba waktu makan siang, nasi dan ikan.
Hujan masih turun rintik-rintik saat Iskandar berangkat ke kampus, dan masih rintik-rintik saat waktu makan siang tiba. Suasana di kampus, sepi. Banyak yang sedang berlibur. Hanya ada beberapa mahasiswa yang masih setia berteman dengan alat-alat gelas dan reaktor di laboratorium. Hari ini, Iskandar masih belum melihat teman-teman Indonesianya yang lain. Teman-teman yang menemani kehidupannya sehari-hari, berjibaku dengan adat dan budaya yang berbeda di kota Groningen, sebuah kota kecil di utara belanda. Sebuah kota yang teramat sangat sepi kalau bukan karena ada ribuan mahasiswa yang berjuang keras, berusaha mendapatkan sehelai kertas. Kertas sakti yang diharapkan dapat memberi masa depan yang cerah dan mendapatkan hidup yang layak. Dan karena kertas itulah, Iskandar mempunyai teman-teman sebangsa, setanah air, di kota antah-berantah seperti Groningen.
Iskandar coba mencari Mas Miftah dan Mas Arief, teman satu laboratoriurm, berharap bisa makan siang bareng, di hari terakhir, sebelum 1 Ramadhan tiba. Susi dan Muhammad, terman dari Indonesia juga tidak ada di kantor. Sunyi sepi.
“Ke mana ya semua orang?” tanya Iskandar. Mungkin mereka sudah pergi makan terlebih dahulu, fikir Iskandar. Akhirnya, Iskandar memutuskan untuk menikmati makan siangnya di kantor sambil menganalisa data.
“Bismilahirrahmanirrahim” Sesuap demi sesuap, Iskandar merasakan nikmatnya makan siang terakhirnya di hari Jum’at, di sebuah musim panas yang basah. Tiba-tiba, terlihat sosok Mas Miftah dari balik jendela pintu.
“Ke mana saja Pak? Tadi saya cari mau ajak makan siang bareng”
“Kang Is tidak puasa? Hari ini kan 1 Ramadhan”
“Apa?” tanya Iskandar seolah tidak percaya. Nasi dan ikan yang belum selesai dikunyah 40 kali, tersembur keluar, menghiasi layar komputer 24 inci yang ada di hadapannya.
“Bukannya besok, hari Sabtu?” Iskandar coba untuk klarifikasi.
“Itu di Indonesia, kang. Kita ini di Groningen….Gro-ningen. Mulai puasanya hari ini”
“Oh ya?” Iskandar masih sulit untuk mecerna informasi yang baru didapatkannya. Bagaimana tidak, baru beberapa saat yang lalu, Jumát siangnya masih seperti biasa, menikmati nasi dan ikan. Dan sekarang, segalanya harus berhenti, karena hari ini 1 Ramadhan.
“Kenapa saya tidak tahu ya?”
“Walah, walah…ke mana saja, Kang. Layar komputernya sudah 24 inci, masa tidak bisa baca email? Coba,  emailnya dibaca”
“Jadinya 1 Ramadhan hari ini, bukan esok?”
“Iya, hari ini. Titik.”


Diary Ramadhan - Edisi 1 Ramadhan 1433H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Mari bermimpi. Bayangkan sebuah negeri jauh di sana. Lokasinya sempurna, iklimnya tiada cela. Cuacanya sangat nyaman. Suhunya selalu pas: hangat tapi tak pernah terlalu panas dan sejuk tapi tak pernah terlalu dingin. Bersih dan bebas dari polusi.

Aneka rupa buah-buahan dan sayuran ada di sana. Yang paling eksotik hingga yang paling umum dijumpai di pasar. Sebut saja apapun buah kesukaan kita: nangka, alpukat, kiwi, arbei, mangga, melon, … apa saja. Durian pun kalau memang suka ada juga di sana, hanya bedanya, durian ini tak mengandung kolesterol berbahaya bagi tubuh. Tapi apakah mahal? Tidak, semuanya cuma-cuma, tak ada yang perlu dibeli, ambil atau petik saja kalau mau. Karena semua tanaman dan buah-buahan kesukaan itu ada di kebun rumah masing-masing. Bahkan kalau suka, ada mas-mas atau mbak-mbak pelayan yang selalu siap menyajikan. Pelayan ini murni fasilitas yang disediakan untuk setiap orang yang tinggal di negeri itu. Tak perlu repot mencari pembantu, dan tak perlu pusing menggajinya.

Suasana di negeri ini amat tenang. Tak pernah terdengar teriakan, suara orang marah, tangisan anak kecil di malam hari, demonstrasi, bunyi klakson, sirine ambulans, mobil polisi, apalagi pemadam kebakaran. Tapi juga tak pernah terlalu sepi, karena warganya senantiasa saling mengunjungi dan menebarkan salam. Tak ada hiruk-pikuk macam-macam, tak ada gosip dan infotainment, tak ada orang sikut sana-sini, karena memang tak ada orang yang picik di sana. Hanya suara-suara menyenangkan saja yang terdengar.

Tertarik bermigrasi ke negeri itu? Tapi tunggu, itu belum semuanya.

Orang-orangnya tampan dan cantik, pastinya sejuk sekali dipandang. Tiap orang memiliki pasangan dan keluarga. Di negeri ini ada pasar yang rutin dikunjungi para kepala keluarga tiap pekan. Entahlah apa yang diperjual belikan di sana. Uniknya, tiap kali para lelaki ini pulang kembali dari pasar ini ke rumah, istrinya takjub dengan tampilan suaminya: wajah dan pakaiannya lebih menawan dan tampan dibanding saat berangkat. Tak ada istilah muka kusut dan wajah yang lelah. Tak hanya itu, para suaminya pun takjub dengan kondisi istri yang ditinggalnya di rumah, karena mereka makin cantik dan rupawan. Cantiknya teramat cantik. Kalaulah ada seorang saja hadir ditengah kita sekarang, niscaya semua akan terpesona memandang, lantaran cantik, berseri-seri dan wanginya. Yang pria pun demikian, Amat tampan. Untungnya di negeri itu wajah-wajah cantik dan tampan ini ada di tiap rumah; itulah para suami/istri tiap warga di sana. Jadi tak perlu khawatir terjadi insiden tabrakan mobil lantaran si sopir terpesona pada wajah cantik yang lewat dan tak melihat lagi ke jalan.

Bangunan-bangunan rumahnya sangat indah, mirip istana. Dan sebetulnya memang istana. Tiap rumah itulah istananya. Dan semuanya istana seperti itu, tak ada satupun rumah yang bentuknya biasa-biasa saja. Apalagi gedung flat dengan pemandangan jemuran sprei di depannya, atau rumah tinggal yang tak terurus tamannya. Sudah begitu, tiap rumah ini luas dan lapang, sangat lapang. Bukan rumah satu kamar tidur yang hanya cukup untuk satu pasangan, tapi juga keluarga itu plus para pelayannya (jangan lupa, ada banyak pelayan yang selalu siap melayani). Di mana-mana ada hamparan dan bantal untuk bermalas-malasan. Bukan sembarang hamparan, tapi dari sutra. Tentu tak perlu repot menyedot debunya. Ranjang-ranjangnya amat nyaman dan indah, penuh dengan perhiasan emas dan perak.

Bagaimana dengan kebunnya? Tiap istana memiliki kebun ini. Di tiap kebun itu tersedia tanam-tanaman dan buah-buahan yang selalu siap dipetik. Di bawahnya mengalir sungai-sungai. Sungai kawan, bukan air mancur. Bayangkan betapa luasnya kebun ini. Bukan satu sungai, tapi beberapa sungai. Ada sungai dari air yang selalu segar, ada sungai dari susu yang selalu enak dan tidak eneg, ada sungai dari madu yang tersaring dengan sempurna, bahkan ada sungai dari khamr yang di tempat lain diharamkan. Khamr dari sungai ini tak pernah membuat pening kalau diminum, jadi dapat diminum sepuasnya. Tak pernah kering sungai-sungai ini, selalu mengalir.

Tapi apa mungkin ada negeri seperti ini?

Yakinlah, negeri ini ada, dan keindahannya jauh melebihi apa yang ada dalam tulisan ini. Dan meyakini adanya negeri ini adalah bagian dari keimanan. Begitulah Allah dan Nabi-Nya menggambarkan negeri ini: Surga.

Sangat indah, sangat luas. Bagaimana tidak luas, tiap kapling rumahnya seluas dunia ini, bahkan lebih luas lagi. Penduduk neraka yang terakhir sekali keluar dari neraka untuk masuk surga, masuk surganya pun dengan merangkak-rangkak, seluas apa kapling surga baginya? Seluas dunia dan 10 kali semisalnya. Demikian Rasulullah SAW menuturkan.

Sahabat sekalian, gerbang negeri surga ini mulai hari ini dibuka lebar-lebar. Ada satu gerbang, arRoyyan namanya, yang hanya disediakan untuk mereka yang berpuasa. Pada saatnya nanti, gerbang ini akan memanggil-manggil, mana orang yang berpuasa? Lalu masuklah orang-orang yang berpuasa itu, tak perlu visa, dan ketika semua sudah masuk, gerbang ini tertutup rapat-rapat. Tak ada lagi yang bisa masuk dari pintu gerbang ini. Inilah hadiah yang Allah siapkan bagi mereka yang berpuasa.

Tapi 18,5 jam?

Mari duduk kembali, dengarkan kembali cerita lisan Rasul yang mulia. Orang yang paling sengsara di dunia dan termasuk penghuni surga didatangkan lalu ditempatkan dalam surga sebentar saja, lalu ditanyakan, “apa kau pernah merasa sengsara?” ia menjawab, “Tidak wahai Rabb, aku tidak pernah merasa sengsara dan melihat kesengsaraan sedikit pun.”

================================

Selamat menunaikan ibadah puasa dan menikmati jamuan Allah di bulan Ramadhan.



Diary Ramadhan edisi 29 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Hi B,

Firstly, thanks so much for your confident in me. I read your email again and again. It is not an easy issue you are writing. But, I really want to share my view. I hope what I’m writing below will not confuse you, or worse, will make you unhappy. If you have comments, further questions, or just any feelings, please share with me. I’m not a perfect human, not a superman (certainly). I don’t also always feel peaceful with my mind. Sometimes I experience sadness, anxiety, etc. too. But, I think I am now getting better and better in making peace with my life. This is what I want to share with you. So, keep in mind, I am not teaching you. In fact, I consider that we are sharing to each other now. If you are still not satisfied with my view, thoughts, explanation, that’s natural. Or if you don’t agree with me on some issues, that’s even more natural. But, be patient, please. Our correspondence about this issue can take months before we both come to satisfaction, because, once again, this is not an easy issue.

Okay, here it starts….

It is the most fearsome fact for mankind that a person is first born, living for 50-100 years on earth, and then will die, decay, become dirt and then completely nothing, and finally be forgotten. So, what is in our live itself then? Fifty or a hundred years of nothingness-at-the-end?

Some very smart academicians have proposed theories about how mankind has been trying to overcome this fear. One of most famous one is the theory on religion. For these intellectuals God was created by humanly mind to make their meaningless live to be meaningful. But unfortunately, they cannot prove also if there is no ‘real God’ outside human mind. For example, if there is no ‘real God’, so how the universe did become exist? Stephen Hawking’s newest book claims that universe doesn’t need God to exist. The law of gravity created it. But, my question is, who created the law of gravity? Did it create/formulate itself? Perhaps I’m not that smart, that’s why my simple mind just finds it (i.e gravity created itself) absurd as well.

Be assured B, the question of whether there is or isn’t God or ‘God’ or whatever you call ‘it’, is an impossible question for our brain to answer. Thousands of years intelectual debates since Moses, Protagoras, until Richard Dawkins still cannot provide the definite and satisfactory answer for this question. And I believe it will never be one. So, in my opinion, this is what exactly you call BELIEF. And you can choose one of the two belief options here: (1) I believe that there is God, and (2) I believe that there is no God. Actually there is another option: (3) who cares?. But, I dismiss the third option since I think it is just for a frustrated, pathetic, ignorant, selfish, lazy, opportunistic, and other relevant negative adjectives, person.

For me, I chose firmly the first choice (1): I DO believe there is God. Why? The answer is simple: because I cannot prove otherwise. One may question my stand: “But you also can’t prove (scientifically or philosopically) that God does exist!”. That’s not a problem for me. I CHOOSE what I BELIEVE. I don’t care whether my believe scientifically or philosopically is right, because I know it is an impossible quest to find the answer. And in a situation where there is no possibly right or wrong answer, every answer is just right. (or wrong, but there’s no knowledgeable right or wrong here. So, everything can be right or wrong, but we will never know…funny isn’t it?). It is only frustration you will get if you pursue a question which has no answer.

{Note: Because I teach probability theory, I can prove that a rational person should choose option (1) based on probability theory. I created a mathematical illustration for this prove like five years ago. I got the inspiration when I was preparing the material for my teaching at that time. Because it involves some quite lengthy assumption, calculation, I put this prove at the end of this letter, to preserve the structure of this email. You can jump now to the end of this email and come to this point again, or just reserve this story for the last reading.}

The solution for overcoming this greatest human fear is very important in order to make us enjoying our life. In other words, to make happines attainable/achievable in our lives. Without this solution, our lives will always like under the shadow of fear’s darkness. Referring to nothingness-at-the-end above, we can easily come to the very depressing question: so why we HAVE TO live in this world after all? Especially if our everyday lives full of despairs: failing the exams, losing money, being dump by our girlfriends/boyfriends, facing the dead of someone we love very much, etc., etc.

And as I’ve said, I am happy that I arrive at the solution. To believe in God. But believe in God is not the complete solution yet. To believe in God itself bring no consequences on the way we should behave and our way of thinking. We need a religion, whether it is a revelation religion (like Jew, Christian, and Islam) or earthly religion (like Buddha, Shinto, Hindu, and many local religions in Africa or Pacific Islands), to guide our lives. It is an obvious fact that you cannot communicate with God in the way you communicate with me, for example. But why we can’t communicate with God just like we communicate with our fellow human? Only God knows the answer. So, don’t try to hard to find the answer because once we believe in God, we have already a strong foundation.

From this foundation, lets move to a bit different direction. In this direction we need to believe that our God LOVES us. Want a proof? Close your eyes, and start counting all good things in your current life. You have a house to live in, you have good parents, you have a sweet sister and a nice brother, you are a goodlooking boy with a good/complete body, you can attend a university, you just had your lunch, you still can breath, you don’t have to wear bandage, and on and on…you can easily come to thousands of good things. To put simply: good things are bad things that are not realized. Of course there are some not nice things happened to you. Your girlfriend dumped you, you cannot buy the nicest camera you’ve always wanted, you’re not as tall as that basketball player, etc.etc. But believe me, the positive list is much more longer than the negative list (and on the negative list there sometimes are things that sound shallow. For example you’re not as tall as that basketball player, but you’re not as short as me as well, which is a good thing).

If God loves us, logically He WANTS us to be happy living in this world. But, we already know the simple fact that He doesn’t communicate directly to us, as in a way we human do. The consequence is there should be some form of communication between God and human. What is it? Another simple fact: there are religions in this world. And these religion (esp. revealed religion Jew, Christian, and Islam) claim that they are based on God sayings. And all these religions claim that they can guide their follower to embrace happiness. Basically, if you follow all the obligations in your religion, then you are promised the happiness after life (that is paradise). But, in fact, if you look closely into your religion (at least what I find in my religion, Islam), most of the teachings are guiding us to experience happiness in life. I can tell about this statement from Islamic point of view in another future letter. But for now, lets follow this logic: if God LOVES us and He HAS MADE us living in this world, it doesn’t make sense He let us without guideance in order to live happily in this world. So, logically, one of the religion must be the true guideance of God to us. Now, the question is: how can I believe that one religion is the true guideance? To put in another words: how can I be sure Islam is the best? or Christian is the best? or Jew is the best? or why not Hindu?

Although this last question is important for your fully peace in mind (confidence), this question is not as easy as answering whether to believe that God exists or does not exist. Living in a country where there are five different religions each with millions of follower, this question struck me as early as when I was 12 years old. At that time I read many books about my own religion Islam, and several books on religion comparison. (I can share you about what I did learn at that time that shaped my strong believe in God and Islam, if you want to. Perhaps on some other letters.) But one thing you should keep in mind: if you want to know a religion, don’t simply look at the surface (eg. terrorist acts, killings in the name of one religion, etc.). You have to learn the original teachings of the religion. But one sure thing (at least what I found and then believe up to now), apart from their dogmas about God, angels, demons, hells, heaven, paradise, prophets, etc. ALL religions teach about good deeds and ethics. To put simply, if your focus now is your happiness in this worldly world, every religion will serve just right: no matter it is Jew, Christian, Islam, Hindu, or Buddha. You can find a Jewish who are very happy with her life, a Christian who are very satisfied with his life, a Muslim who are peaceful with his life (at least you have met me…hehe), etc. In summary: the question which religion is the most right, although still is indeed important, can be answered later without altering you from achieving your happiness and peacefulness. Just don’t push yourself to hard in this stage. If you focus to God, by putting aside religion issue for a while, the truth will reveal itself later. I mean, you can try to attend church regularly again, read your Bible, while focusing on God’s love reflected in Christianity teachings. Later we can start our dialog in the comparison between Christianity and Islam, for example.

Okay, now I assume that you start to (or at least want to) believe that religion (which religion? Keep this question for later) is a way God guiding us in this world. It is important to have such believe: the God guideance. Why? Because this guide will show us the purpose of our life. Life without purpose is worse than life itself. Because life without purpose makes your life felt empty. It is like you go to a city without knowing what to do. Just imagine you are coming to Groningen for a year, but you don’t have any target or goal or task to complete (in your case, it is clear you had a target: finishing your exchange program). After few weeks, you certainly feel bored, or at least feel aimless and start questioning, why should I live in Groningen after all? (even when you have certain goals you can still feel bored in Groningen, just remember our conversation with Alexei in his last day in Groningen). Now, try to change the word Groningen with the word world in the last question and the situation just becomes clear. If you don’t have meaningful (we will talk about ‘meaningful’ later) purpose in this life, it’s a matter of time you start emptiness and confusion.

I think every religion have their own definition on the purpose of life. Some are related to the life after death (which is not my favourite topics) and others are related to our current life (which is I find englightening). In Islam, at least as far as I know, one of our purpose in life is to be God representative in this world. It means as a muslim I have to fulfill my obligations related to the creation of man in the world. For example I supposed to care for, to love, to help, other creatures. Not only my other human fellows, not only living things, but everything God have created in this world. Sound very abstract and nonsense, eh? In fact it is very clear, B. So, why should you study hard? Is it just for a handsome sum of money you can receive from a nice job when you graduate? If that so, you will be very shocked/disappointed when you find youself only get a boring, little paid job. If your answer is because it is part of my purpose of life that God has guide me, then you will be happy with your study, no matter the outcome will be, because you have this very honorable purpose. You can always related your current situation with the ultimate purpose of your life. This is the greatest motivation you can ever have. But how can it be like that? One of the alternative answer is like this. If I study hard, I will have a solid knowledge and skill, not to mention the good grades. When I have a solid knowledge and skill I will be attractive for my future employer. If I am found to be attractive I will get the best job one can ever dream on. If I get this best job (you name it, for example the kind of job you asked me in your previous email), I will enjoy my work and beside I will make a lot of money. If I enjoy my work then I can be positive, cheerful, supportful to people surrounding me which in turn will make them happy, too. With my lots of money, I can make a nice sum of charity so I can help others who are not as lucky as I am. In this way, I can act like ‘a small God’ in caring for others. My life is not for nothing. I have a noble purpose. Others will get benefits from my very existence. I am not like some stones in the middle of a dessert, which whether it exists or not is not important for other human beings or other creatures. My very existence can give maximal benefit to others. And still can I enjoy my life. This is a meaningful life, at least for me.

If you view this very bright and meaningful future picture of yours, I believe that you can start to feel the light in your life. Your task, your study which can be boring, burdensome will become an inspiring activity. Had you once experienced when someone so happy when you did something nice to him or her? In my personal experience, my greatest happiness comes when others are so happy and grateful for things I do for them. For example, when you said you enjoy my summer story, I feel happiness. When you ate a lot of my chicken with oyster sauce, I was sooo happy knowing you enjoy it so much. When I knew my advice to one of my student made him motivated and then finally found a job of his dream, I was sooo happy knowing I could that useful for him. Of course you can make your own list by remembering your own experience. And you can picture your future, in this similar way.

One more thing I should add in this stage of our discussion. Not always all things work as our plan. God has His own way. Sometimes His way is very mysterious. If ‘bad’ things happened (why I wrote ‘bad’, because I believe nothing bad will ever happened to us. We ourself who make things bad. More on this philosophy later perhaps in the future), just believe that God LOVES us. For example, when you were naughty as a child, for example running like crazy on a busy street, your mother got angry to you. And you received her scolding as a bad thing. But actually it was not bad for you. It was, in fact, just for your own good, namely your own safety. You just didn’t know what was good and what was bad, at that time because you’re still a child. But, your mother knew more than you. In this way, you can have a similar view, God KNOWS MUCH MORE about you, about what is best for you.

If something bad happens to you, just make a reflection on yourself whether you have been “naughty” lately. If yes, then rectify your behavior or deeds that is not getting along with God guideance. As an analogy, if you fail your course, it is because you don’t follow your course guidelines. If you still cannot find the answer why this bad thing happen to you (you believe you have been following all God’s guideance), just have a positive thinking to God. If you’re ‘good’, He LOVES you and HE KNOWS THE BEST for you. I call it, to SUBMIT (surrender) to God. In this way, you will always be peaceful. What is more peaceful than to know ‘Somebody’ who are The Most Omnipotent, Who are love you, is IN FACT IS DOING/GIVING SOMETHING BEST for you? By the way, the word Islam (in Arabic) means submission (in English).

I always think, everything happened to me was planned by God. Like now I am writing this letter. I never had a slight idea that one day I would write this such letter to a XXXian guy like you. If you find this letter is helpful, this is just a mysterious way God set for you and me. If you find this letter is not helpful, this is also just a mysterious way God set for you and me. Sound funny or nonsense? (we can discuss about this funny logic in the future). It needs time, B. This letter itself cannot change your way of thinking or the way you see your life in just few seconds.

So, I think it is time for me to stop in order you are not overwhelmed with all of my believes and point of views. We will continue later. Now, you can start pondering this letter. But, as usual, I will give you some summariesJ

In summary, the steps that I followed (and you can try to follow, too):

1. To believe that God does EXIST.

2. To believe that a religion (which religion? Still, I prefer to pending this issue) is a form of God LOVE to us in order to guide us for reaching happiness in this world. It is not a burden for us.

3. To learn and understand what is our purpose in life.

4. To believe that it is a noble purpose and it will make our life meaningful

5. To strive for realizing our purpose in life with our best effort

6. To submit to every outcome, after we have done all of our best and just believe it is actually the best for us, we just don’t know yet, that it is the best.

I have been trying to follow these steps. I have to admit that I’m not fully 100 percents always peaceful and happy. There are times that I feel soooo sad (it was even just as recently as two years ago when I experienced one of my darkest episode in my life; this will be the subject of my other letter in the future).

One last thing for now (like I said, there still could be many more letters in our correspondence), I am very happy that you start questioning your life in this very young age of yours, 22 (well 23 in a few more days…hehe). Can you imagine if the same question only come up when you are, let say, 99 years old, and little you can do with your life at that time? How depressing when you saw your past life at that time? So, I don’t agree with your friend that you should’t think about all of these issues. Although in some aspects your friend were right (that is you shouldn’t be sad, gloomy, depressed, with your questions so that you cannot enjoy your current life), in some other aspects their view can be dangerous. Sooner or latter, in your life you will have to face these questions.

So, be thankful B. Although all of these questions in your mind burden your daily life now, be patient, and patient, and patient. Your last questioning is not funny at all (see Pascal’s quotation below), although we can make it sounds funny in order to cheer up our lives. Once you get the answer to all this question, the enlightenment, it will pay off. Until that time, I am more than happy to be your truly friend to share all your thoughts, worriness, confusion, etc because I always also search for the truth, the ultimate enlightenment. We can together reach this. Just believe!

And now, give your widest smile to yourself! J J J

Your truly friend,

Titah

Appendix:

A Probability Approach to Support My Decision to Opt for the Existence of God

There are two options:

A. We believe in God, which as a consequence (for a Christian or a Muslim like us) we believe also in heaven and hell

B. We do not believe in God, which as a consequence we believe that there’s nothing after death

Which one we should opt?

Assumptions:

- Believe in God will limit our freedom in the world. For example: I cannot eat pork, I cannot make love with the girl I just met at the bar, etc. This lost of freedom cost us something.

- Assume this activity (eating pork, free sex, etc) can be valued as X euros. Here you can assign X with a number as big as 1 million or even bigger, just name it. But according to economic theory, this X is not infinite. Perhaps, not even bigger than 1000 euros. For example: if you are given two choice during a dinner party, (1) eating pork but not getting 1000 euros or (2) not eating pork but you will get 1000 euro. Which one will you choose? If you choose option (2), certainly the value of X here is not more than 1000 euros (I think unless you’re a millionaire you will stick to option 2, eh?). But, you can argue: But, this situation of I am offered pork will happen not only once during my lifetime. It can happen a thousand times. No problem, let generously assume it happens 1 million times, then in total the cost of not eating pork here is 1 million x 1000 = 1 billion euros, which is still a finite number. Even if you boldly say: 1000 euros is nothing. I demand 1 million euros for me in order not eating pork tonight. Okay, no problem. The cost of not eating pork for you whole life here will be: 1 million x 1 million = 1 trillion euros, which is bigger than your country’s government spending budget, I think. BUT, STILL it is a FINITE number.

So, in conclusion, X, the cost, however big it is, is not unlimited. It is not infinite.

- Next, every religion believe that you will live forever, for eternity, in heaven. If you are in heaven then you can eat whatever you like there. Say, you like cheese. How much a portion of cheese cost. Let say, it is only 1 euro. But, how many times you can eat cheese when you are in heaven? Because we wil live in heaven for eternity, you can eat cheese in an INFINITE number of times. So, how much benefit you will get as long you are in heaven? It is 1 euro x infinite = INFINITE euros. So, the potential pay-off of believing life in heaven is infinite positive.

- If you’re not believe in God and when you’re dead it turns out there is God (of course, you will shout your loudest F*** first!), according to religion dogmas you will enter hell for eternity. Here, the pay-off will be infinite negative (I don’t want to give example of life in hell, but I think how we come to infinite negative is clear).

- Now, the real question. What is the probability that there is a life after death in heaven? You CANNOT assign 0 here for the probability, because 0 will mean it is ABSOLUTELY CERTAIN there will be no life after death. But who, a living human, can absolutely be certain of this because he/she is just supported by indisputable scientific, empirical fact? NO ONE. Only death people who can answer this. But, so far, we cannot make death people back from their death to tell us whether there’s life after death. Let’s say you are very very very skeptical about life after death, i.e you don’t believe in heaven or hell. Then you will assign the probability that there’s life after death as small as possible, let say: 0.00000000000000000000000000000000001 (but remember, you can’t set it absolute zero, because not absolute certainty here).

- Probability of you are now living in this world is 1, because I can ABSOLUTELY BE CERTAIN you are now living in this world (if not, I correspondence with a what, B? A ghost?)

- So, what is your expected cost and payoff as the consequences of your choice? In probability theory, expectation is the product of probability an event will happen times the potential cost/pay-off.

Expectation = probability x potential cost/pay-off

- If you choose option A (believing there will be life after death, i.e heaven):

Expectation of cost = probability living in world x potential cost

= 1 x 1 trillion euros

= 1 trillion euros

= finite cost

Expectation pay-off = probability living in heaven x potention pay-off

= 0.0000000000000000000001 x infinite

= infinite positive reward

- If you choose option B

Expectation of cost = probability living in world x potential cost

= 1 x 0 (because you do whatever, no cost)

= 0 = finite cost

Expectation pay-off = probability living in heaven x potention pay-off

= 0 (because no heaven for unbeliever) x infinite

= 0 = finite reward

We are just assuming there’s no hell. If we include hell, then the latter expectation pay-off will be:

Expectation pay-off = probability living in hell x potention pay-off

= 0.00000000000000000000001 x infinite negative

= infinite negative

Conclusion:

- If you choose to believe in life after death (option A), your expected cost of living in this world is FINITE but your expected pay-off is INFINITE POSITIVE.

- If you choose not to believe in life after death (option B), your expected cost of living in this world is ZERO, but your expected pay-off is INFINITE NEGATIVE.

- A rational person, consequently will choose option A (because it is a domination solution, a term in decision theory): to believe in life after death, i.e to believe in God.

Note:

Amazingly (for me), last year when reading “A History of God” by Karen Armstrong, I found this very same conclusion has already proposed by Blaise Pascal like 400 years ago. I hadn’t read about Pascal conclusion at the time when I created this reasoning for myself like 5 years ago (I haven’t got guts to tell my students in probability class this example, but I am planning to on my next class). So, for me personally, I regard this as an inspiration from God for Pascal and me (and perhaps for some other persons who came to the same conclusion independently of each other).

Here is how Pascal put in words his thoughts:

‘We are incapable of knowing either what [God] is or whether he is … Reason cannot decide this question. Infinite chaos separates us. At the far end of this infinite distance a coin is being spun which will come down heads or tails. How will you wager?’ (Blaise Pascal, Pensees, 1688)

This gamble is not entirely irrational, however. To opt for God is an all-win solution. In choosing to believe in God, Pascal continued, the risk is finite but the gain infinite. (Karen Armstrong, A History of God, 1993)

You can read also about “Pascal wager” in Wikipedia.


Diary Ramadhan edisi 28 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

Untuk adinda tersayang

Utrecht Centraal Station, 5 September 2010

Ono baru saja pulang dari London dan sedang dalam perjalanan pulang menuju rumahnya di Groningen. Saat ini Ono sedang berada di Utrecht Centraal Station. Jam peron sudah menunjukkan pukul 20.15. Ono pun bergegas memasuki kereta jurusan Groningen. Dia meminta dengan sopan kepada seorang penumpang pria apakah kursi di sebelahnya kosong dan apakah dia boleh duduk disitu. Pria muda tersebut mengiyakan. Nama pria tersebut adalah Peter Kralt.

Ono menyimpan ranselnya di atas tempat duduk dan membuka laptop Macbooknya.

Peter Kralt: “Kamu punya ikan yang lucu”, Peter memulai pembicaraan.

Ono: “Maaf, apa maksud anda dengan ikan?” Ono agak bingung.

Peter Kralt: “Maksudku boneka ikan yang diikat di ranselmu. Itu ikan nemo kan? The clown fish? Saya lihat ada namanya. Untuk siapakah ikan tersebut?” Ternyata Peter memperhatikan ikan tersebut dari tadi.

Ono baru menyadari ikan yang dimaksud Peter Kralt itu adalah boneka ikan nemo yang ditempeli nama di depannya.

Ono: “Oh, boneka ikan ini adalah hadiah dari kekasih saya untuk anak perempuan saya yang berumur 6 tahun, namanya Michelle. Saya baru saja dari London menemui kekasih saya.” Ono bercerita dengan terbuka, hatinya masih saja dipenuhi rasa bahagia yang berapi-api karena dia baru saja bertemu kekasihnya yang sangat dia cintai di London.

Peter Kralt: ”Oh begitu. Dimanakah kekasihmu itu, apakah dia tinggal di London?” Peter bertanya karena sedikit ingin tahu.

Ono: “Tidak. Dia baru saja tadi siang pulang kembali ke Jakarta. Dia tinggal dan bekerja disana. Dia lulusan sekolah kedokteran dan mempunyai pekerjaan bagus yang dia sukai di Jakarta.”

Peter Kralt: “Berarti kalian baru saja berpisah. Apakah kamu sedih?” Ujar Peter berempati.

Ono: “Tentu saja. Kami sangat menikmati kebersamaan kami di London. Walaupun singkat tapi saat-saat dimana aku bersamanya adalah saat-saat yang paling indah dalam hidupku. Kami banyak tertawa karena aku dan dia suka becanda dan kami memiliki banyak kesamaan, dalam hal kepercayaan, nilai-nilai kehidupan dan impian. Aku sedih karena kita harus berpisah. Aku akan merindukannya setiap hari. ”

Ketika berpisah, Ono mendapatkan surat dari kekasihnya. Ini kata-katanya dalam surat itu: “Dear kanda sayang yang semoga dirahmati Allah, thank you for your wonderful company, for being a nice friend, adventurous pal, a patience listener and terrific lover. Love always, Dinda. :x” Kata-kata dalam surat tersebut begitu dashyat sehingga membuat hati Ono selalu diliputi oleh kehangatan setiap kali Ono membaca surat itu.

“Tapi di bulan December nanti kami akan bertemu lagi. Saya akan berlibur ke Indonesia untuk bertemu dengannya.” Ono menjawab dengan antusias!

Perhatian Ono terpaku pada Macbook Pro kepunyaan Peter yang tergeletak di meja.

“Kamu juga pakai Macbook toch?” Ono merasa punya teman sesama pengguna Macbook.

Peter Kralt: “Ya, aku perlu macbook untuk sekolahku.”

“Kamu sekolah dimana?” Tanya Ono.

Peter Kralt: “Aku saat ini sekolah cardiologi di UMCG Groningen. Aku baru saja memulai sekolah ini 2 bulan yang lalu. Sebelumnya aku sudah selesai sekolah kedokteran di Rotterdam. Anak dan istriku tinggal di Rotterdam dan aku tiap akhir minggu pulang untuk menemui mereka. Kamu sendiri kerja dimana?”

“Saya adalah seorang aktuaris. Saya bekerja di sebuah perusahaan asuransi. Kerjaan saya membuat model matematika untuk membuat proyeksi cash flow perusahaan di masa depan. Hal ini dibuat dengan menggunakan perhitungan-perhitungan yang mengkombinasikan model-model statistic, matematik dan ekonomi.” Ono coba menjelaskan.

Peter Kralt: “Kedengerannya pekerjaan yang sulit.”

“Kadang-kadang memang sulit, namun juga menyenangkan.” Ono mencoba membuat profesi aktuaris menjadi agak sedikit kurang menyeramkan.

Peter Kralt: “Komputer banyak sekali memudahkan perkerjaan kita. Contohnya adalah program ini, dia bisa memperlihatkan gambar MRI-scan.” Peter Kralt memperlihatkan gambar MRI-scan. “Ini gambar tulang punggung manusia.” Gambar-gambar MRI-scan terlihat mencengangkan.

Ono pun memperlihatkan Macbooknya. “Aku pun sangat suka dengan Macbook yang baru seminggu ini aku punyai. Dengan Macbook ini salah seorang teman baikku membuat video clip, memperlihatkan aku sedang menyanyikan “I Wanna Grow Old With You” yang dibawakan oleh Adam Sandler.” Ono memperlihatkan video tersebut ke Peter Kralt.

“Woww!! Alangkah bagusnya. Kalau boleh tau, untuk siapakah video clip ini diperuntukkan?” tanya Peter.

“Video clip ini kuperuntukkan untuk kekasihku. Ini surprise untuk dia. Setelah aku perlihatkan video ini kepadanya, aku pun meminta dia untuk menikahiku.” Jawab Ono dengan hati yang berbunga-bunga.

“Lalu, apa jawaban dia?” Peter Kralt menjadi sangat penasaran.

“Dia menjawab ya.” Ono terlihat sangat bahagia.

“Wah, selamat ya! Pantas kamu terlihat sangat senang, dari tadi senyum-senyum bahagia. Kapan kalian akan menikah?” Peter Kralt ternyata orang yang sangat perhatian dan sangat ingin tahu rupanya.

“Terima kasih. Pernikahannya masih lama, mungkin tahun depan jika semuanya berjalan lancar. Do’akan saja ya. Oh ya, apakah kamu berdo’a? atau tidak sama sekali?” Ono pun langsung menyadari bahwa tidak semua orang di Belanda suka berdo’a.

“Saya akan do’akan kalian. Saya adalah seorang kristen. Dari golongan gereformeerd.” Peter Kralt mendo’akan Ono.

“Apakah kamu gereformeerd vrijgemaakt?” Ono pun ingin tahu.

“Ya! Betul sekali. Kok kamu bisa tahu tentang golongan yang satu ini?” Peter jadi sedikit terkejut, tidak menyangka ada yang tahu tentang golongan kristen yang satu ini. Apalagi seorang immigrant berkulit berwarna.

“Mantan istri saya adalah seorang kristen gereformeerd vrijgemaakt, salah satu golongan yang sangat saleh dalam agama kristen di Belanda. Sedangkan saya adalah seorang muslim. Kami bercerai karena perbedaan iman diantara kami. Ada sesuatu yang kurang jika kita tidak bisa berbagi sesuatu yang sangat berharga dan sangat fundamental seperti misalnya iman. Namun hubungan kami masih sangat baik. Kami pun menjadi sahabat karib yang sangat dekat. Kami masih sering bertemu, hampir setiap hari. Rumah kami pun berdekatan. Kami masih sering melakukan aktifitas bersama-sama. Bahkan kami masih pergi berlibur bersama-sama dengan anak kami. Saya pun telah banyak sekali belajar tentang agama kristen darinya. Namun begitu saya akhirnya tetap memilih untuk mengimani agama saya, yaitu Islam. Saya telah banyak mengunjungi gereja-gereja, seperti gereja gereformeerd vrijgemaakt di bagian utara Groningen, gereja evangelie di dekat Stadspark. Saya pun mengikuti banyak sekali malam-malam diskusi dengan para missionaris kristen dan penganut-penganut kristiani lainnya. Saya punya banyak kenalan keluarga kristiani. Mereka adalah orang-orang yang sangat ramah dan mempunyai kepribadian terbaik. Saya sempat sangat dekat dengan mereka. Mereka banyak sekali membantu saya sehingga jasa-jasa mereka tidak akan pernah saya lupakan.” Ono bercerita panjang lebar.

“Lalu apa yang menyebabkan kamu akhirnya memilih untuk tetap mempercayai agama Islam dan tidak pindah ke agama Kristen? Kamu kan bertemu banyak orang kristiani yang sangat baik.” Peter ingin mengerti alasan Ono mengapa Ono tidak memilih kristen.

“Ada dua alasan yang membuat saya sulit untuk menerima agama kristen. Yang pertama adalah ajaran kristiani yang mengatakan bahwa Jesus Christus datang ke bumi untuk menebus dosa-dosa manusia. Kedua adalah ajaran kristiani yang mengatakan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah dengan beriman kepada Jesus Christus. Saya mempercayai bahwa setiap orang bertanggung jawab akan perbuatannya sendiri. Dia sendiri yang akan menanggung akibat dari dosa-dosa yang dilakukannya, adapun orang lain tidak bisa menebusnya. Jika kita benar-benar menyesali perbuatan kita dan memohon ampunan kepada Tuhan, maka Tuhan Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa-dosa kita. Kemudian, saya pun tidak bisa menerima bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah jalan Jesus Christus. Saya masih mempunyai beberapa argumen lainnya, namun pada akhirnya, hati saya lah yang tidak bisa merasa nyaman jika saya berubah menjadi seorang Kristen. Saya tidak bisa membohongi hati saya sendiri. Saya telah jatuh cinta kepada Islam. Jika saya harus memilih agama berdasarkan pengikutnya maka sudah dipastikan saya akan memilih agama Kristen karena pengikut kristiani adalah orang-orang terbaik yang pernah saya temui dalam hidup saya. Orang-orang Islam masih harus belajar banyak dari mereka, termasuk saya sendiri. “

“Jika menjadi seorang Kristen adalah dengan melakukan hal-hal seperti tidak berbohong, tidak mencuri, tidak membunuh, berbuat baik kepada orang lain dan menolong sesama, maka saya siap menjadi orang Kristen. Saya tidak punya masalah akan nama atau julukan-julukan luar, itu semua hanya topeng saja. Tapi justru di dalam agama Kristen hal yang terpenting adalah mempercayai bahwa Jesus Christ adalah satu-satunya jalan keselamatan karena beliau telah menebus dosa-dosa umat manusia di muka bumi ini dengan cara mati disalib. Ini yang tidak bisa saya percayai. “

Peter Kralt termangguk-mangguk mendengar cerita Ono. Seperti yang masih penasaran, dia pun bertanya lagi. “Bagaimana hubunganmu dengan Tuhanmu?”

“Tuhanku adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Aku merasakan kehadiran-Nya dimana-mana, di dalam dirimu, di orang-oran g yang kutemui, di alam sekitar, di pohon dan daun-daunnya dan di dalam hatiku sendiri. Dalam hidup ini aku telah mengalami banyak hal. Namun jika aku telaah kembali alur perjalanan hidupku, aku merasakan betul ada tangan Tuhan dalam setiap kejadian. Dia selalu membimbingku dan melindungiku. Memberikan aku arah. Dia selalu memberikan apa yang kubutuhkan. Aku bersyukur setiap saat dan setiap detik kepada-Nya atas anugerah yang tidak terhitung nilainya yang telah Dia berikan kepadaku. Ketika aku bersama-Nya adalah saat-saat terindah dalam hidupku, tidak ada perasaan lainnya yang dapat mengalahkan perasaan indah tersebut. Perasaan ini tidak bisa dijelaskan kepada orang yang belum mengalaminya. Seperti halnya menjelaskan rasa manisnya gula kepada orang yang belum pernah merasakan manisnya gula. Tidak akan bisa karena satu-satunya cara adalah dengan merasakannya sendiri.”

Peter Kralt masih menanyakan lagi satu hal. “Jika kamu mempercayai agamamu, berarti kamu juga percaya bahwa satu-satunya agama yang paling benar adalah agamamu kan? Berarti sama saja dengan kami, umat kristiani yang mempercayai bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah Jesus Christ, yang lain adalah salah. Kami percaya bahwa yang menyelamatkan manusia bukanlah amal-amal salehnya, karena seorang manusia pada dasarnya adalah buruk dan selalu berbuat keburukan, sekuat apa pun dia berusaha untuk menjadi baik. Namun jika kita percaya kepada Jesus Christ maka kita akan selamat. Itu satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan.”

“Selain muslim saya juga sedang mempelajari sufi. Di Belanda ini pesan sufi dibawakan oleh Hazrat Inayat Khan, seorang sufi muslim dari daratan India yang datang pada tahun 1910 ke barat. Sampai saat ini pesan sufi yang dibawakan beliau masih sering dipelajari oleh orang-orang di Barat, termasuk di Belanda. Salah satu pesan sufi yang dibawakan beliau adalah bahwa essensi dari agama-agama itu adalah sama. Semuanya mengandung essensi yang berasal dari Tuhan yang sama. Saya tidak mengatakan bahwa agama-agama itu semuanya sama, karena jelas berbeda. Agama yang satu mempercayai hal ini dan agama yang lain mempercayai hal yang berbeda. Tapi kalau kita mencoba melihat lebih jauh dari sekedar kulit luarnya saja, maka kita akan menemukan bahwa essensi ajaran agama itu adalah sama. Beriman kepada Tuhan dan melakukan hal yang baik di dunia ini. Jika ada orang yang bilang bahwa agamaku yang paling benar dan yang lain adalah salah maka itu adalah suatu bentuk kesombongan. Sedangkan kesombongan bukan bagian dari kebenaran.”

“Lalu jika kamu mempercayai apa yang kamu yakini itu benar, maka kebenaran itu harus berlaku juga kepada semua orang. Termasuk aku juga kan?” Peter Kralt masih saja meneruskan pertanyaannya.

“Tentu saja aku yakin apa yang aku yakini benar adanya. Setidaknya aku merasa nyaman dengan apa yang aku yakini walaupun tetap tidak menutup kemungkinan aku pun melakukan kesalahan karena aku pun hanya manusia biasa. Aku berharap Tuhan akan mengampuniku karena aku punya niat yang tulus dalam mencari-Nya dan aku berusaha sebaik mungkin berada di jalan-Nya. Tapi ada yang dinamakan kebenaran Absolut, yaitu Tuhan itu sendiri. Dan kita baru bisa tahu tentang kebenaran Absolut jika kita adalah kebenaran itu sendiri. Tapi aku bukan Tuhan, oleh karena itu aku tidak bisa bilang aku benar dan kamu salah. Lagipula itu bukan tugasku di dunia ini. Tugasku adalah mengenal diriku sendiri dan menyelam ke dalam diri, masih banyak kekurangan dalam diriku sehingga aku tidak punya hak untuk menyalahkan orang lain. Walaupun begitu, Jesus bilang di dalam kitab suci Injil: ‘Be perfect because Your Father in Heaven is Perfect!’”

“Tapi kan tidak mungkin untuk bisa menjadi sempurna? Kita hanyalah manusia biasa. Jesus adalah seorang personifikasi yang sangat sempurna, level dia begitu tinggi sedangkan kita adalah manusia yang setiap harinya bergulat dengan kesalahan. Bagaimana mungkin kita bisa mencapai kesempurnaan yang dicapai oleh Jesus?” Peter Kralt terlihat kurang setuju.

“Setidaknya setiap manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan. Namun kebanyakan orang tidak menyadari potensi tersebut dan oleh karenanya tidak menggunakan potensinya secara optimal. Kenyataan bahwa Jesus telah menyuruh kita untuk menjadi sempurna artinya menjadi sempurna adalah sesuatu yang bisa dicapai. Setidaknya kita mencoba mendekati kesempurnaan tersebut. Manusia adalah mahluk yang di satu sisi bisa lebih rendah dari hewan karena kelakuannya, disatu sisi bisa lebih tinggi dari malaikat karena walaupun dengan segala keterbatasan hawa nafsunya manusia bisa tetap beriman dan bertakwa kepada Tuhannya. Dalam perjalanan mencapai kesempurnaan, seorang manusia harus menyelam ke dalam dirinya, mengenal dirinya secara betul-betul karena semua alam semesta ada di dalam diri. Dia akan mengenali bahwa di dalam dirinya ada ‘false self’ dan ‘true self’. Ketika dia menghancurkan semua ‘false self’ dalam dirinya, maka hanya akan tersisa ‘true self’. Baru ketika itu dia akan mengenal Tuhannya.” Ono mencoba menjelaskan.

Peter Kralt menganguk-angguk mendengarkan penjelasan Ono. Peter Kralt pun meneruskan pertanyaannya. “Ada satu pertanyaan yang banyak membuat orang menjadi tidak percaya adanya Tuhan. Jika kamu mempercayai adanya Tuhan, mengapa Tuhan membiarkan adanya penderitaan di dunia ini? Jika Tuhan itu baik maka Dia akan membantu orang-orang yang menderita. Tapi nyatanya banyak sekali orang-orang yang menderita di muka bumi ini. Apakah Tuhan menolong mereka? Tidak. Dimanakah Tuhan itu? Apakah Tuhan itu ada?”

“Ini adalah salah satu pertanyaan tersulit yang juga saya alami. Pertanyaan ini hampir saja membuatku tidak percaya Tuhan. Namun saya diselamatkan oleh-Nya. Aku pun tidak punya jawaban yang sempurna. Namun aku cukup bisa menerima dengan jawaban seperti ini. Tuhan sayang kepada semua mahluk ciptaanNya. Namun, kadang kala manusia sendiri yang berbuat kerusakan sehingga membawa penderitaan di muka bumi ini. Salah satu contoh yang bisa saya berikan. Ketika saya pulang dari Spanyol dan harus mendarat di Brussels. Saat itu sangat dingin, minus sepuluh derajat celcius. Adalah tidak mungkin bagi seseorang untuk berada di luar. Tapi aku melihat seorang ibu yang masih muda dengan seorang bayi meminta-minta. Hatiku menangis melihatnya. Ingin sekali aku membawa mereka ke rumahku yang hangat. Aku punya segalanya untuk bisa merawat mereka. Namun hal ini tentu saja tidak mudah. Aku hanyalah seorang individu yang tidak bisa menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada di masyarakat. Aku akhirnya membelikan mereka roti dan buah-buahan agar mereka bisa mendapatkan gizi yang cukup. Aku pergi meninggalkan mereka sambil membawa hati yang pedih. Aku selalu ingat mereka dan bertanya-tanya apa yang akan terjadi dengan mereka. Kalau kita pikirkan, sumber daya alam di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang di dunia. Tapi system yang kita punyai sekarang adalah system dimana orang-orang kaya yang jumlahnya kecil hampir memiliki semua resources yang ada di dunia ini. Apa hak seorang Bill Gates mempunyai uang sebanyak 50 milyard dollar sedangkan masih banyak orang kelaparan di dunia ini. Oke, mungkin Bill Gates telah membantu banyak orang dengan uangnya, tapi masih banyak uang yang dia miliki yang bisa dia gunakan untuk membantu seluruh penduduk di satu Negara. System yang kita punyai adalah tidak adil. Manusia masih serakah. Penderitaan di dunia ini berasal dari manusia itu sendiri.”

Peter pun menyela. “Tapi kan ada penderitaan yang tidak dihasilkan oleh manusia, seperti bencana alam, contohnya tsunami di Aceh yang memakan korban sebanyak 250 ribu manusia.”

“Bencana alam adalah salah satu fenomena dimana alam menyeimbangkan dirinya sendiri. Kita melihat sesuatu dari perspektif yang kita punyai. Kita menganggap bahwa bencana alam yang membawa korban manusia adalah yang kejam. Tapi alam punya mekanisme sendiri dalam mengatur keseimbangan. Mungkin hal itu adalah salah satu cara untuk mengurangi jumlah penduduk yang sudah terlalu banyak. Apa bedanya orang yang meninggal karena bencana alam dengan orang yang meninggal di atas tempat tidurnya? Mereka tetap saja mati. Kematian adalah hal yang alamiah, yaitu merupakan suatu kejadian yang membawa kita dari satu alam ke alam lainnya. Kematian bukanlah akhir dari segalanya tapi justru merupakan awal dari kehidupan yang abadi selamanya. Kalau kita memakai analogi ayah dan anaknya. Seorang ayah tentu sangat sayang kepada anaknya. Jika dia melihat anaknya jatuh tersandung, tentu hatinya terluka. Dia ingin sekali membantu anaknya. Tapi kadang-kadang, dengan membiarkan anak tersebut terjatuh justru itu yang terbaik karena hal itu yang akan membuat si anak belajar. Sehingga lain kali anak tersebut tidak jatuh lagi. Begitu pun dengan Tuhan.

Tanpa terasa kereta pun sudah sampai di Groningen. Ternyata dua jam berlalu sangat cepat ketika ada pembicaraan yang menarik.

“Dua jam ini berlalu begitu cepat. Mungkin kita bisa melanjutkan obrolan ini di lain hari. Ini alamat email saya. Apakah kau punya email?” ujar Peter Kralt.

“Saya pun sangat menikmati obrolan kita dan saya akan sangat senang jika kita bisa melanjutkan obrolan ini. Ini almat email saya. Jangan sungkan untuk mengkontak saya.” Ono pun senang sekali bisa berkenalan dengan Peter Kralt.

Peter Kralt menanyakan satu hal lagi sebelum berpisah: “Oh ya, kapan kalian akan menikah? Dan setelah menikah akan tinggal dimana?” Ternyata Peter Kralt masih saja ingat awal pembicaraan.

“Jika semua berjalan lancar semoga tahun depan kita bisa menikah. Kita akan tinggal di Belanda. Dia bersedia untuk meninggalkan pekerjaan, keluarga dan teman-temannya untuk tinggal bersama denganku disini. Demi bersama orang yang dia cintai.”

Keesokan harinya, ketika Ono membuka email. “You have 1 new message from Peter Kralt.”


Diary Ramadhan edisi 25 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Seorang pengusaha yang kaya raya dan sangat dermawan dan baik hati dalam suatu perjalanan bertemu dengan tiga orang gelandangan, sebut saja A, B, dan C, yang tidak memiliki apa-apa. Pengusaha ini ingin menguji ketiga orang itu. Maka ia berkata kepada mereka:

“Kalian masing-masing selama setahun akan aku pinjami peternakanku dengan seribu ekor ayam betina dan 50 ekor ayam jago didalamnya. Kalian boleh pergunakan apa saja telur-telur yang dihasilkan. Tapi karena peternakanku itu merupakan tempat yang terisolasi, kalian tidak bisa memperdagangkannya. Setelah setahun, aku akan mengambil alih kembali peternakanku.”

Apa yang dilakukan si A? Dia tidak mengurus peternakan itu dengan baik. Ayam-ayam diberi makan seenak hatinya. Telur-telurnya dimakan sepuas-puasnya dan karena berlebih, sisanya dibuat mainan. Ayam-ayam jantan saling diadu untuk hiburan sampai diantaranya mati. Beberapa ayam dipotong untuk dimakan. Kandang yang tidak diurus, menjadi berlubang dan beberapa ayam lepas atau dimakan musang.

Si B, berbeda dengan si A, mengurus ayam-ayam itu dengan seksama. Dia ingin ayam-ayamnya bertelur banyak. Setiap hari telur-telur yang dihasilkan iya makan sepuasnya, dan sisanya dibersihkan dan dikumpulkan dalam gudang. Setiap hari dipandanginya kumpulan telur yang makin menggunung  itu sambil berpikir, setelah setahun aku akan punya ratusan ribu telur. Aku akan kaya.

Si C berbeda lagi. Dia merasa berterima kasih kepada si pengusaha. Ayam-ayamnya diurus dengan baik tidak beda dengan B. Telur-telur yang dihasilkan iya makan secukupnya, sisanya iya ternakkan. Pikirnya, si pengusaha itu telah baik terhadapku. Kalau telur ini berubah jadi ayam, maka saat ia kembali setahun lagi dia pasti akan senang ayamnya telah bertambah. Lagipula, telur-telur itu kalau dibiarkan saja pasti akan busuk.

Apa yang terjadi setelah setahun?

Si pengusaha datang ke peternakannya yang diurus A. Dia sangat marah karena ayamnya habis dan peternakannya rusak. Si A sendiri jadi kolesterol, stroke, menderita sepanjang sisa hidupnya.

Apa yang terjadi dengan si B? Setelah setahun, si pengusaha mengambil alih kembali peternakannya. Si B pergi meninggalkan peternakan itu sambil membawa ribuan telur busuk. Baru setelah sampai kota, ia menyadari kesalahannya dan sadar bahwa ia sebenarnya kembali menjadi seorang miskin yang tidak memiliki apa-apa.

Si pengusaha mendatangi peternakannya yang dititipkan ke si C. Melihat ayamnya bertambah, si pengusaha merasa senang. Karena dia sudah kaya, tambahan beberapa ratus ayam adalah tidak berarti terhadap kekayaannya. Karena dia tidak membutuhkan tambahan kekayaan ini, maka ia memberikan ayam-ayam baru itu kepada si C untuk dijual di kota atau ia ternakkan kembali untuk bekal sisa hidupnya.

A, B, dan C dapat dianalogikan sebagai tiga tipe manusia dalam menyikapi titipan kekayaan di dunia. Hidup di peternakan dapat  dianalaogikan dengan hidup di dunia. Peternakan itu sendiri dapat dianalogikan dengan harta titipan Allah.

Si A adalah tipe orang yang tidak bersyukur. Dia puaskan nafsunya dan dia berbuat kerusakan atas apa yang telah dititipkannya.

Si B adalah tipe orang yang mampu menjaga diri dari nafsu dengan tidak menghambur-hamburkan titipan tadi, tapi semata-mata motifnya adalah demi kepentingannya sendiri. Dia tidak merasa berterima kasih kepada yang telah memberinya kesempatan memanfaatkan titipannya.

Si C adalah tipe orang yang bersyukur dan tidak egois. Dia berpikir bahwa kebahagiaannya selama setahun di peternakan itu, semata-mata adalah kebaikan dari yang telah menitipi. Maka ia harus membalas kebaikan itu.

Kehidupan setelah meninggalkan peternakan adalah akibat yang terjadi oleh apa yang dilakukan ketiga orang tadi selama di peternakan. Si A, selain mendapat murka si pengusaha, sisa hidupnya penuh penderitaan. Si B, sisa hidupnya penuh penyesalan dan tidak memiliki apa-apa untuk bekal kehidupannya kemudian. Si C, dia merasa bahagia selama sisa hidupnya karena dia sudah memiliki peternakannya sendiri dan ayam-ayamnya beserta telur-telurnya tidak akan habis karena akan terus berkembang dan berkembang. Di sini kita bisa menganalogikan apa yang dibawa ketiga orang tadi selepas episode hidup mereka di peternakan  sebagai apa yang akan kita bawa setelah meninggalkan dunia ini sebagai hasil kita menyikapi modal rezeki yang telah dikaruniakan Allah selama hidup kita.

Sekarang mari kita bertanya pada diri sendiri. Mau menjadi si A, si B, ataukah si C kita?


Diary Ramadhan edisi 24 Ramadhan 1431H
Oleh: Sri Pujiyanti

Saat ini, ketika berada di Belanda, dengan jilbab saya, dan membaca kontroversi yang terjadi di Eropa mengenai jilbab, Perancis yang melarang pemakaian jilbab di sekolah, Belgia yang melarang burqa, dan Geert Wilders yang ingin pemakai jilbab dikenakan pajak, saya jadi teringat berbagai perbincangan yang terjadi antara saya, teman-teman saya, dan orang-orang di Indonesia mengenai jilbab juga.

Ketika pertama kali mengenakan jilbab, bertahun-tahun yang lalu, jika reaksi orang-orang pada umumnya adalah,’Selamat ya, bla-bla-bla,’ maka reaksi beberapa sahabat saya sedikit berbeda. Salah seorang sahabat saya bertanya, ‘Enci, kamu kenapa?’

‘Kamu tidak lagi sakit kan? Kamu sedang dikemoterapi?’

(Saya tertawa terbahak-bahak). ’Ga, kamu kan tahu scarf saya banyak, dan yang saya lakukan hanyalah memanfaatkan scarf-scarf itu supaya tidak mubazir.’

Teman baik saya tersebut tidaklah sampai hati menanyakan mengapa saya memakai jilbab, akan tetapi saya tahu benar bahwa jauh di dalam hatinya dia menggugat saya. Mengapa saya tunduk pada pemenjaraan perempuan atas nama jilbab.

Selang beberapa waktu kemudian, saya berdiskusi bersama dua orang teman yang lain. Awalnya adalah bicara soal pakaian. Tentang bagaimana pakaian menjadi penanda, atau pembeda, seseorang dengan orang lainnya. Bagaimana Opa Felix, Indo Belanda yang penganut Sunda Buhun itu, memakai pakaian yang dijahit sendiri dan diwarnai alami seperti orang Baduy. Atau seorang Vegan, yang hanya memakai pakaian yang tidak mengandung unsur binatang. Atau jeans, yang menjadi lambang westernisasi.

Lalu pembicaraan beralih ke jilbab. Dua orang yang berbincang dengan saya pada saat itu adalah orang yang berpendapat bahwa jilbab adalah sebuah keharusan. Jilbab buat mereka, adalah lambang pengungkungan perempuan atas ketidakmampuan kaum lelaki mengendalikan hawa nafsunya. Jilbab adalah arabisasi yang mengarus deras di Indonesia. Salah seorang teman saya dalam perbincangan itu menuliskan pemikirannya tentang jilbab dan arabisasi ini dan mengirimkannya ke ‘Jurnal Perempuan’. Lalu dia berbincang dengan saya tentang hal ini. Dan saya menanggapinya dengan cukup keras. Saya rasa tidaklah adil bahwa para pemakai jilbab dianggap terlalu kearab-araban. Bicara soal pengaruh budaya, kalau boleh mengutip ucapan pak Yasraf Piliang yang posmodernis itu, ’Memang ada yang orisinil?’ Semuanya hanya merupakan copy paste dan pinjam sana sini yang kemudian diklaim baru, padahal tidak. Kalau kita tidak suka jilbab karena kearab-araban, mungkin kita juga harus berhenti memakai jeans karena kebarat-baratan, dan berhenti memakai bahasa Sansekerta karena ke-India-Indiaan. Yang bisa diklaim orisinil Indonesia itu apa? Tentunya budaya Indonesia terpengaruh budaya lain sepanjang adanya.

Jilbab menurut saya dimaknai terlalu berlebihan. Di satu kelompok, seperti yang pernah ditulis di Kompas dalam wawancaranya dengan Nawaal El Sadawi, tidak memakai jilbab adalah simbol ‘tidak bermoral’. Ketika seseorang memakai jilbab, dia sudah terelevasi satu tingkat di atas yang tidak memakai jilbab. Sehingga padanya dikenakan berbagai kepatutan dan ketidakpatutan. Sering sekali saya mendengar kata-kata,’Pakai jilbab kok begitu ya?’ dan segala macam aturan yang dilekatkan pada simbol jilbab itu (yang tentunya beda orang beda standar). Jilbab menjadi simbol ketaatan yang membedakannya dengan orang yang tidak memakai jilbab yang (katanya) tidak taat. Saya masih ingat pengalaman pribadi saya di sebuah mesjid di Bandung, ketika saya dan beberapa teman saya yang tidak mengenakan jilbab berkunjung dan hendak belajar mengenai agama disitu, kami merasa kurang nyaman karena, mengutip teman saya tersebut, ’Kita dianggap kayak kafir, ya?’ Sebuah petakompli yang ajaib, walaupun -menurut beberapa teman saya- memahami Indonesia sebagai negara yang menyukai simbol, itu bisa dimengerti. Jilbab adalah simbol. Islam adalah simbol. Tidaklah heran kalau kemudian para politisi memanfaatkan jilbab ini juga untuk tujuan politis mereka, untuk menunjukkan ‘kesalehan’ yang sebenarnya, tidaklah bisa dinilai hanya dari tampilan permukaan.

Di kelompok yang lain, di kelompok liberal feminis dan sebangsanya, jilbab adalah lambang pengungkungan hak-hak perempuan. Lambang pengungkungan perempuan oleh aturan yang notabene didominasi oleh para lelaki. Sehingga di dunia barat dan di dunia liberal, seolah-olah pemakai jilbab adalah orang yang dengan rela hati menjadi subordinat (laki-laki), kurang maju dan berilmu (karena mau dikungkung oleh laki-laki). Jilbab menjadi lambang pemenjaraan. Tentu saja, selain lambang arabisasi. Sebuah petakompli lain yang sama ajaibnya. Apakah ketelanjangan merupakan simbol kemerdekaan? Tentu tidak sesederhana itu.

Di luar perdebatan secara hukum di dalam agama Islam dan para ulamanya mengenai kewajiban mengenakan jilbab, saya secara pribadi merasa aturan jilbab diciptakan untuk melindungi perempuan. Di salah satu buku yang pernah saya baca mengenai pelarangan jilbab di Perancis, si penulis mengatakan, jika dunia barat berpura-pura ketegangan gender antara laki-laki dan perempuan itu tidak ada, maka Islam mengakuinya (dan jilbab salah satu turunan dari pemahaman ini)*. Artinya, jika dunia barat berpura-pura bahwa memandang perempuan itu tidak mendatangkan syahwat untuk para laki-laki, Islam dengan jujur mengakuinya dan bertindak untuk mengatasi masalah ini. Akan tetapi, yang sering menyesatkan dan patriarkis menurut saya adalah para lelaki (di Indonesia, walaupun tentu saja saya tidak bisa menggeneralisir) seringkali menganggap jilbab sebagai penanda. Yang memakai jilbab diperlakukan dengan sopan dan yang tidak, boleh dicolek. Kembali lagi ke pengalaman pribadi, saya yang seumur hidup tidak pernah merasa berpakaian seronok dan tidak pernah berani memakai baju tanpa lengan dan celana pendek keluar rumah, sebelum memakai jilbab beberapa kali mengalami pelecehan, hanya karena saya perempuan, dan ada di dekat laki-laki tersebut. Seolah-olah menahan diri melulu urusan perempuan, padahal laki-laki juga diseru Allah untuk menundukkan pandangannya dan menahan dirinya.

Secara filosofis, jilbab buat saya adalah ajaran Islam untuk berfokus pada esensi, bukan pada hal yang bersifat permukaan. Saya rasa keimanan tidak bisa diukur dari jilbab (walaupun pasti para penganut paham jilbab adalah sesuatu yang wajib akan berkata bahwa memakai jilbab adalah bentuk keimanan kita pada perintah Allah). Tapi apakah setelah memakai jilbab, seseorang itu lebih baik dari orang yang tidak memakai jilbab, saya rasa hanya Allah yang tahu dan bisa menilai. Sama salah kaprahnya dengan orang yang berpikir orang yang memakai jilbab adalah orang yang kurang cerdas, orang yang memilih untuk menyerahkan kebebasannya dan menjadi subordinat. Hanya karena kepala ditutup bukan berarti kapasitas otak kita berkurang, kan?

Saya termasuk orang yang berpendapat, urusan mengenakan pakaian, dalam hal ini jilbab, merupakan urusan personal yang dimaknai secara pribadi (mohon maaf kepada yang berbeda pendapat). Ketika jilbab dipakai sebagai bentuk kepercayaan kita pada agama yang kita percayai, kenapa itu menjadi sesuatu yang salah? Apa bedanya jilbab dengan salib? Dengan topi orang-orang Yahudi? Menjadi salah saya rasa, ketika jilbab menjadi sesuatu yang dipaksakan kepada individu. Seperti juga salah ketika jilbab dipaksa dibuka dari seseorang.Polemiknya muncul ketika jilbab menjadi alat pengkotak-kotakan. Alat pembeda untuk sesuatu yang sebenarnya tidak bisa kita nilai melulu dari permukaan.

Saya melihat pemaknaan orang-orang tentang sepotong kain yang bernama jilbab ini sungguh tragikomik. Lucu dalam konteks menyedihkan. Di negeri saya Indonesia, orang seringkali melecehkan perempuan yang tidak mengenakan jilbab. Di Eropa sini banyak cerita tentang perempuan berjilbab yang dilecehkan, hanya karena mereka mengenakan jilbab. Ketika di Aceh jilbab diwajibkan untuk dipakai oleh semua perempuan, maka di Perancis perempuan yang mau bersekolah dilarang mengenakan jilbab. Membuat saya berpikir, apakah jilbab sebegitu pentingnya sehingga semua orang repot mengatur apa yang sebaiknya dikenakan seorang perempuan?

Ketika saya saat ini dihadapkan pada kontroversi yang mengemuka di belahan bumi Eropa soal Islam, juga jilbab, saya bertanya-tanya lagi mengenai jilbab dan Islam saya. Sebagian menggambarkan Islam sebagai agama menyeramkan dan mengerikan yang berjalan dengan pedang yang siap menebas semua yang tidak sejalan. Jilbab menjadi penanda teror tersebut. Akan tetapi, ketika kemarin sepeda saya jatuh di tengah jalan dan seorang ibu paruh baya membantu saya dengan penuh senyum, saya menyadari sesuatu. Saya tidak sempat mengingat baju apa yang si ibu tersebut kenakan karena saya terlalu sibuk berpikir alangkah baiknya beliau dan betapa menyenangkan melihat senyumnya. Dan saya yakin, dia menolong tanpa melihat dan berpikir tentang jilbab saya terlalu jauh. Yang dia lihat hanyalah, seseorang membutuhkan bantuan. Dari situ saya berpikir, dari semua simbol yang dikenakan manusia, tidakkah kebaikan adalah simbol yang paling penting untuk kita semua? Kebaikan jadi bahasa universal yang melewati kendala bahasa, mengatasi gesekan agama dan ras dan menjadikan manusia sejajar dengan sesamanya. Dan, alih-alih sibuk menilai orang lain dari apa yang mereka kenakan, mengapa kita tidak sibuk berbuat baik saja? Dengan demikian, ajaran bahwa Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin akan diamini oleh orang lain tanpa dipaksa. Dan akan sangat mungkin itu akan menjadi dakwah Islam yang paling indah. Seseorang itu tidak bisa dinilai dari apa yang dia kenakan, apakah dia memakai jilbab atau memakai bikini. Seperti sebuah kalimat yang pernah saya baca, pakaian paling indah itu takwa. Dan takwa itu penilaiannya merupakan hak prerogatif Allah. Wallahualam.


Diary Ramadhan edisi 23 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

The purpose of religion is to benefit people, and I think that if we had one religion, after a while it would cease to benefit many people. All of these religions can make an effective contribution for the benefit of humanity. They are all designed to make the individual a happier person, and the world a better place.

-Dalai Lama-

Tadi saya membaca satu catatan (notes) di Facebook milik teman baik saya. Catatan tersebut sebenarnya lebih tepat disebut curhat ibu-ibu. Dia bercerita tentang anaknya -seorang anak laki-laki yang lembut hati dan selalu tersenyum- yang tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba datang padanya dan berkata,’Tuhan itu tidak ada. Orang-orang hanya berpura-pura.’ Kagetlah teman saya. Bertanya ada apa, yang dijawab dengan gelengan kepala anaknya. Lalu teman saya sibuk menjelaskan mengenai Tuhan pada anaknya tersebut, yang tetap disambut dengan wajah tidak percaya. Teman saya tiba-tiba merasa jadi ibu yang buruk karena bagaimana mungkin anaknya yang baru saja berusia enam tahun bisa menjadi agnostik? Tapi dia mengakui, bahwa pertanyaan yang sama juga pernah muncul pada dirinya (hanya tidak pada saat umurnya enam tahun). Dan teman saya itu berusaha untuk menghibur diri dengan menulis, ‘Anak saya akan baik-baik saja, dia adalah anak yang sangat baik dan lembut hati.’

Saya membaca catatan itu sambil membaca timeline di twitter yang masuk berseliweran. Membaca berita dari negeri tercinta sambil ngobrol tidak jelas lewat twitter dengan teman-teman saya. Membaca berita tentang FPI yang mengatakan Kapolri ngawur ketika Kapolri menyebutkan bahwa FPI layak untuk dibekukan. Membaca sikap sebuah partai yang mendukung Menteri Agama untuk membubarkan Ahmadiyah. Membaca rencana DPR RI untuk membuat gedung DPR baru dengan biaya trilyunan, lengkap dengan spa dan kolam renang (spa dan kolam renang kemudian dibatalkan ketika orang-orang ribut memprotes). Membaca berita 26 anggota DPR angkatan yang lalu yang dijadikan tersangka kasus penyuapan.

Sehari sebelumnya, saya berdiskusi dengan teman saya –juga lewat twitter- mengenai penolakan yang keras dari para tweeps (twitter people) Indonesia mengenai pemblokiran UU pornografi. Mengenai kenyataan yang bukan rahasia bahwa penduduk negeri ini merupakan pengakses situs porno yang mayoritas. Dan betapa di permukaan, semuanya serba baik dan sopan. Manusia-manusia yang berlindung di balik simbol-simbol (agama).

Tiba-tiba saya merasa capek. FPI, Ahmadiyah, korupsi, semua terjadi di Indonesia. Negara yang menurut KTP semua orangnya beragama. Negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Teman saya yang anaknya jadi agnostik itu, mengaku sudah tidak baca koran dan nonton televisi karena jiwanya kelelahan. Sulit untuk menganggap semua orang sebagai everyday angel ketika di sekitar kita berseliweran berita yang sebaliknya. Bikin pesimis dan patah hati.

Dan saya bertanya-tanya. Di negeri yang mayoritas manusianya muslim (kita juga punya kloter haji super besar setiap kali musim haji), mengapa korupsi, pornografi, kekerasan yang mengemuka? Kemana agama yang seharusnya dianut orang-orang ini? Kemana Islam yang seharusnya menjadi ‘rahmatan lil alamin’? Yang kemudian juga membuat saya tambah lelah adalah, pandangan orang-orang non Muslim -seperti di Negara kincir angin tempat saya sekarang, juga di Negara-negara lain- terhadap orang Muslim juga tidaklah terlalu baik. Islam dianggap sebagai agama yang menganjurkan kekerasan, menindas perempuan. Melihat penolakan-penolakan terhadap dibangunnya mesjid di berbagai Negara, terus terang membuat saya berpikir banyak mengenai agama sendiri. Membuat saya membolak-balikkan Quran, bertanya-tanya, apakah benar, agama saya sejahat itu? Jika Budha identik dengan kelembutan, mengapa Islam harus disandingkan dengan kekerasan? Apakah Islam memang agama yang buruk dan tidak punya efek yang baik terhadap? Negara mayoritas Muslim seperti Indonesia punya wajah bopeng dengan kemiskinan yang membuncah dimana-mana. Apakah memiliki agama (dan Tuhan) kemudian menjadi lebih penting daripada menjadi orang yang baik seperti teman saya pada anaknya, karena toh, punya agama tidak membuat seseorang menjadi orang yang baik?

Kang Jalaluddin Rakhmat (saya menyukai pemikiran beliau) pernah ditanya oleh seseorang di internet mana yang lebih baik, sholat tapi tidak baik dengan tidak sholat tapi baik. Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban yang sungguh elegan,’Kalau dia sholat pastinya dia baik.’ Tapi kemudian si penanya kembali memaksa Kang Jalal untuk memilih dan akhirnya Kang Jalal mengatakan,’Kalau saya harus memilih, saya memilih, tidak sholat tapi baik.’

Mungkin sebagian dari kita tidak akan sepakat dengan kata-kata Kang Jalal ini. Akan tetapi yang saya lihat dari jawaban itu, sejatinya, seseorang yang beragama itu seharusnya baik. Islam itu rahmatan lil alamin, sehingga ketika kita mengaku beragama Islam, seharusnya apapun yang kita lakukan berada dalam konteks meraih surga dengan menjadi rahmatan lil alamin.

Lalu pertanyaan saya selanjutnya, ’Mengapa korupsi dimana-mana? Bukankah pemimpin-pemimpin Islam mencontohkan bahwa jabatan adalah amanah dan tidak sepantasnya memperkaya diri? Mengapa (sebagian dari) kita merasa begitu hebat sebagai mayoritas sehingga merasa punya alasan untuk memukuli dan mencerca mereka yang berbeda keyakinan dan pandangan? Bukankah Nabi yang mengajarkan,’Lakum Dinukum Waliyadin’? Bukankah Nabi juga yang mengajarkan untuk selalu bersikap lemah lembut dan santun, bersikap adil di dalam segala hal?

Saya percaya bahwa semua orang itu baik. Saya menolak pemikiran Thomas Hobbes yang mengatakan bahwa manusia itu serigala bagi sesamanya. Mungkin dahulu ketika manusia saling berebut untuk bertahan hidup kredo itu benar. Tapi saat ini, alasan apa yang bisa membenarkan kita untuk menyakiti orang lain?

Islam adalah agama penuh kasih sayang. Setiap kali saya sholat saya selalu membaca basmalah Bismillahirahmanirahim, dengan nama Allah yang Maha Kasih Maha Sayang. Allah itu Maha Kasih dan Maha Sayang, dan kita harus meniruNya. Tapi, membaca berita-berita buruk itu, pertanyaan saya kembali, mengapa? Apa yang terjadi? Salahnya dimana? Apa yang harus dilakukan? Saya belum juga menemukan jawabannya.


Diary Ramadhan edisi 21 Ramadhan 1431H

Oleh: Muhammad Iqbal

Sedikit introduksi sebelum mulai bertualang, IceWind Dale II adalah game khusus PC racikan Black Isle Studio. Diterbitkan Interplay Entertainment pada akhir Agustus 2002, game ini mendulang sukses mengikuti prekuelnya (IceWind Dale). Game bergenre fantasy RPG (Role Playing Game) ini bercerita tentang perseteruan penuh intrik dari berbagai ras, organisasi, dan agama dari para penghuni Ten Towns. Panorama penuh salju yang dingin-dingin empuk mendominasi hampir seluruh lingkungan outdoor. Nuansa ghotic yang artistik menambah cantik tampilan indoor, Story line yang kuat yang disertai gameplay dan menu kendali yang user friendly, menjadikan game ini sebagai salah satu game yang layak dikhatamkan pada jamannya.

Game dimulai dengan character creation screen. Dimulai dengan memilih nama, gender, ras, alignment, hingga penampilan fisik, dan sebagainya. Kombinasi enam character yang terdiri atas barbarian, paladin, thief, ranger-fighter, cleric, dan mage jadi pilihan yang sepertinya akan memuluskan petualangan. Bunuh sana, bunuh sini, tipu sana, perdaya sini, dan lalu dibunuh juga, terasa seru sampai akhirnya saya stuck di sebuah kuil. Di kuil itu ada ruangan yang tidak bisa dimasuki dan gua tersembunyi berisi naga yang kekuatannya superior. Perkiraan bahwa dengan membunuh naga akan memberikan akses ke ruangan terlarang itu ternyata salah. Perjuangan keras membunuh naga hanya membuahkan kondisi terjebak alias stuck, game tidak bisa dilanjutkan. Penasaran!

Selang beberapa bulan kemudian patch game ini pun keluar. Saking penasarannya terhadap game ini, jalur cepat memakai walkthrough pun ditempuh. Dengan sedikit browsing di internet, akhirnya saya dapatkan fakta mengesalkan bahwa memang ada bug di game itu ketika masih belum dipatch, dan juga larangan membunuh naga sebelum menyelesaikan quest tertentu. Naga yang sama yang sudah saya bantai dengan seksama. Asal tebas memang tidak menyelesaikan masalah. Sialnya, save game sebelumnya ternyata corrupt! Sehingga game harus dimainkan dari awal lagi tapi kali ini game dapat diselesaikan dengan mulus dan seksama. Terima kasih kepada patch dan walkthrough persembahan gamefaq.

Game yang satu ini memberikan banyak kesan dan renungan. Bermain peran (role play) sedikit banyak memang mirip dengan kehidupan nyata. Kemiripan-kemiripan itulah yang mungkin membuat permainan terasa lebih hidup dan menyenangkan. Peran yang dimainkan sengaja disesuaikan dengan karakter yang dibangun sebelumnya. Untuk menanggulangi undead, cleric memang tiada duanya tapi untuk berdiplomasi, pastilah paladin yang dipasang pertama untuk bicara. Tiap karakter ada peran sentral masing-masing.

Lantas terpikirkan tentang apa peran saya dalam hidup ini. Bak sebuah game RPG, kehidupan di dunia ini diisi banyak karakter dengan perannya masing-masing. Saya yang kondisinya seperti ini didisain untuk sebuah peran tertentu, saya meyakini itu. Memang tidak seperti game, permulaan cerita saya di dunia tidak bisa ditentukan oleh diri sendiri. Beberapa karakteristik dasar hidup memang sudah ditakdirkan seperti begini adanya. Warna kulit, suku, tempat tanggal lahir dan sebagainya bukanlah variabel yang bisa diotak atik. Tapi tetap saja kita punya keleluasaan dalam mengambil peran. Tiap orang punya kesempatan jadi presiden, mendarat di bulan, atau bahkan melahap seporsi spare ribs di salah satu restoran di Groningen dengan masih menyandang status sebagai mahasiswa. Hanya perlu dimaklumi bahwa probabilitas tiap orang untuk melakukan itu semua memang berbeda-beda. Satu hal yang saya yakini, sekarang sudah bukan waktunya untuk menyesalkan dan mempermasalahkan bawaan orok. Apa yang harus dipikirkan adalah bagaimana si orok ini bisa menjadi “orang”.

Menjadi “orang” dalam hal ini dapat diartikan dengan meraih keberhasilan dalam kehidupan dunia. Untuk berhasil, tentunya kita harus tahu aturan main yang berlaku sehingga bisa menyusun strategi dengan tepat. Bermain tanpa strategi tak ada bedanya dengan sekedar main-main saja tak akan ada pelajaran yang bisa diambil. Segala sesuatu itu memang ada aturannya, ada ini dan ada itu, begitu juga dengan hidup. Aturan main resmi tentang hidup pun sebenarnya sudah diterbitkan sebagai panduan dalam firman-firman-Nya. Al-Qur’an adalah panduan yang dibuat oleh Dia Yang Menciptakan Segala Keteraturan bagi makhluk-Nya yang hendak bertualang di dunia. Tapi pada kenyataannya masih banyak juga yang malah menggunakan petunjuk terbitan pihak ke tiga sebagai panduan utama hidup. Alih-alih selamat, kebanyakan malah terjebak dan tersesat dalam realita yang semu. Sebagai manusia yang senantiasa berfikir, mempelajari dan memahami semua keteraturan ini merupakan sesuatu yang menarik. Bagi mereka yang berpikir lebih keras, maka pemikiran mereka akan membuahkan karya-karya revolusioner yang sanggup mengubah peradaban. Kehidupan ini terlalu berharga untuk dihabiskan layaknya sebagai seorang NPC (non playable character, baca: tokoh figuran). hidup ini tak lebih dari menjalani bangun, ngantor, makan, dan tidur. Jika masih bingung tentang hidup, mungkin panduan yang kita pakai selama ini salah, atau juga sudah tepat tapi kita tidak melaksanakan apa yang tertulis di dalamnya.

Ada peringatan keras bahwa kehidupan dunia ini tidak bisa diulang lagi andaikan gagal, tidak seperti memainkan sebuah game RPG. Satu kesempatan saja dan tidak ada extra credit untuk bisa start over. Dalam game, tidak adanya extra credit memang mengurangi resiko rusaknya permainan karena adanya leaver. Leaver (rage quit, desperate quit, dc problem, afk-ers, dll) memang tidak pernah disukai di kalangan para gamer karena perilakunya itu merusak jalannya permainan. Maka, akan jadi sangat tidak bersyukur jika ada yang sekonyong-konyong leave dari kehidupan dunia karena pada dasarnya dia sudah menyia-nyiakan kesempatan tunggal yang dia miliki. Meninggalkan kehidupan dunia secara paksa dengan cara mengakhiri hidup dengan alasan yang menggelikan hanya akan bersambut siksa. Tapi tidak perlu khawatir jika kita sempat khilaf dan tersesat dalam hidup karena Dia adalah Dzat Yang Maha Adil. Memang tidak ada media reinkarnasi andaikan manusia terbelok dan ingin kembali, tapi pintu taubat-Nya senantiasa terbuka. Hanya saja yang namanya taubat itu haruslah disegerakan, karena tulisan GAME OVER yang sangat besar itu bisa menghampiri kita kapan saja dan di mana saja.

Game RPG manapun pastilah memiliki ending, meskipun ending ceritanya itu bersifat menggantung. Seirama dengan itu, ada sebuah fakta tragis tentang kehidupan dunia: hidup ini harus berakhir. Hidup sebetulnya memiliki multiple ending, tergantung dari pilihan-pilihan yang kita ambil di dalamnya. Tiap gamer umumnya ingin mengetahui ending utama dari cerita game yang dia mainkan dan ingin keberhasilannya itu terpampang di high score board yang sifatnya online. Begitu juga dengan manusia yang mengambil jalur taqwa dengan harapan memperoleh ending utama dari kehidupan dunia: surga. Karena alam akhirat adalah perhentian kita yang sesungguhnya. Siap ataupun tidak kita harus beralih ke perhentian yang abadi. Oleh karena itu, berhati-hati dalam setiap pilihan hidup sudah menjadi keharusan.

Sebuah analogi yang sempit dari seorang yang ingin bisa mengangkasa di surga. Dan sesungguhnya Ramadhan ini adalah waktu yang baik untuk mengevaluasi diri dan menjadi BETTER GAMER dalam kehidupan dunia. So, lets start playin our game better then ever! Good player respects each other!

~maniakgamenepikasurga~


Diary Ramadhan edisi 20 Ramadhan 1431H

Oleh: Fean Davisunjaya

Di suatu hari di awal bulan Ramadhan, saat sahur tiba, seorang ibu sedang berusaha membangunkan anaknya,” Dit… Adit sayang…. ayo bangun, kita mau sahur nih.” Sambil membelai rambut si anak, si ibu melanjutkan,’ ayo sayang… katanya mau ikut puasa… yuk, bangun yuk sayang.” Dengan setengah mengantuk dan mendengarkan kata puasa… si anak pun langsung bangun sambil berkata,” kita udah mau puasa ya, Ma… jadi makan sahur dulu ya, Ma?” “Iya, sayang… kita makan sahur dulu… yuk sayang, tapi mukanya dibasuh dulu ya.” Jawab si Ibu,” setelah cuci muka, baru kita makan sahur… ayo cepat… itu Papa udah nunggu.”

Adit pun segera bergegas ke kamar mandi, mencuci mukanya dan berkumur… setelah menyeka mukanya dengan handuk, Adit pun menuju ke ruang makan… dengan masih agak mengantuk, Adit pun ikut kedua orang tuanya untuk makan sahur. Adit yang masih berusia 5.5 tahun sebagaimana anak lainnya, sedang berusaha untuk memulai berpuasa seperti yang kedua orang tuanya lakukan selama bulan Ramadhan… dengan hanya mengerti sedikit mengenai puasa, Adit berusaha mengikuti puasa sebagaimana mestinya. Setelah menunggu imsak tiba dan shalat Shubuh berjamaah, Adit pun kembali tidur karena sekolah TK-nya sedang libur. Selama beberapa hari saat masih liburan, si Ibu berusaha menyibukkan Adit dengan segala kegiatan yang menyenangkan, sehingga Adit tidak selalu teringat akan lapar dan hausnya… ketika suatu saat Adit mengeluh lapar,” Ma, masih lama kita berbuka? Adit udah lapar dan haus sekali nih…” si Ibu pun membujuk Adit untuk bersabar,” sabar ya, sayang… bentar lagi kita udah mau buka ko… kan sayang tuh… bentar lagi tapi masa mau dibatalin, masa puasanya setengah-setengah… Adit kalau diberi sesuatu juga ga mau yang setengah-setengah kan!?” tapi Adit masih merengek,” tapi, Ma.. udah lapar banget nih.”

Melihat Adit yang merengek, si Ibu pun mendapatkan ide agar Adit tidak terlalu mengingat puasanya,” ya udah… sini, bantu Mama aja buat nyiapin menu berbuka nanti… Adit mau bantuin Mama, kan?” mendengar Mamanya sedang menyiapkan menu berbuka.. Adit pun langsung berlari mendekati ibunya,”Ma… nanti kita berbuka dengan apa??? Makanan kesukaan Adit ada kan, Ma?” Ibunya pun menjawab,” iya, ini ada… sini… bantuin Mama…” Adit pun bergegas mendekati ibunya dan mulai membantu seperti yang ibunya minta…

Saat membantu ibunya memasak, tanpa sadar, Adit memasukkan makanan yang sedang disiapkan… dan ketika melihat anaknya memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya, si Ibu pun kemudian dengan segera menegurnya dengan lembut,” Adit… itu apa yang dimasukkan ke mulut?? Katanya sedang puasa?” mendengar pertanyaan ibunya, Adit pun dengan polosnya menjawab,”Ini, Ma… Adit nyicipin masakan Mama… kan Adit ga makan, cuma nyicipin aja… terus yang ga boleh itu kan kalo makan.” Si Ibu pun tersenyum mendengar jawaban si anak, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Si anak masih melanjutkan,” Adit, puasanya ga batal… bener kan, Ma? Adit juga kemarin-kemarin lihat si Bibi juga nyicipin makanan… tapi masih puasa juga.. berarti kalo nyicipin ga batal kan?”

Sang Ibu pun masih tersenyum lalu berusaha menjelaskan,” Adit.. Adit… begini ya, sayang… kalau ada makanan masuk ke mulut dan ke tenggorokan, walaupun hanya mencicipi.. itu sama saja dengan makan…” Adit pun kembali bertanya,” loh terus… kalo gitu, si Bibi juga batal dong puasanya?” Si Ibu pun menjawab, sambil berusaha menjawab dengan kata-kata yang mudah dipahami untuk anaknya,”Adit… mungkin si Bibi sedang tidak berpuasa, tapi Adit ga tahu… terus si Bibi mungkin bukan mencicipi, tapi cuma mengetes asin atau ga masakannya” Adit pun langsung menyela,” loh, Ma… ko Bibi bisa ga berpuasa? Katanya kita semua kalo yang Islam harus puasa? Kalo si Bibi boleh ga puasa, berarti Adit juga boleh dong, Ma.”

Mendengar anaknya yang makin kritis, si Ibu pun berusaha kembali menjawab dengan bijaksananya,” begini sayang… kita memang sebagai umat Muslim, diwajibkan untuk berpuasa… tapi ada beberapa hal ko yang membolehkan kita untuk tidak berpuasa.” Adit kembali menyela,” emang ada yang bikin kita boleh ga puasa ya, Ma?” “Iya, sayang,” sambung si Ibu,” kalau Adit sakit, terus ga bisa puasa… Adit ga harus berpuasa, tapi.. nanti Adit harus ganti puasanya di lain hari… jadi si Bibi juga gitu…. terus kalau kita sedang dalam perjalanan jauh, seperti ke rumah Eyang di Jawa sana… kalau tidak bisa puasa, kita boleh ga puasa… tapi tetap kita harus menggantinya.”

Adit pun mengangguk-angguk dengan wajah sedikit mengerti, ” Ooo… gitu ya, Ma.” “Iya sayang…,” senyum si Ibu,” yuk… kita bawa makanannya ke meja makan, bentar lagi udah mau berbuka… tuh kan Adit bisa puasa satu hari penuh lagi.”

Adit lalu berlari-lari,” Horeee… hari ini Adit puasa penuh lagi…”


Diary Ramadhan edisi 19 Ramadhan 1431H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Dari parit itu segalanya bermula. Di tahun kelima Hijriyah itu, 10 ribu pasukan tengah bergerak untuk mengepung kota Madinah. 10 ribu orang, bukan jumlah yang sedikit. Di masa itu, jumlah tersebut bisa terkategori pasukan multinasional. Di Madinah, Rasulullah SAW dan 3000 orang sahabatnya berada dalam kondisi kritis. Bergerak keluar menyongsong pasukan musuh yang berjumlah 3 kali lipat lebih, atau bertahan saja di dalam kota? Keduanya pilihan amat berisiko. Namun sahabat Salman al-Farisi memiliki ide cemerlang, suatu hal yang biasa dilakukan bangsa Persia, namun tak diketahui bangsa lain saat itu: membangun parit besar di luar kota Madinah sebagai benteng.

Kerja cepat mesti dilakukan. Pasukan musuh akan datang dalam hitungan hari. Rasulullah SAW turut bekerja siang dan malam bahu membahu bersama sahabat membangun benteng parit tersebut. Dalam pekerjaan itu, kaum muslimin terhalang oleh satu batu besar yang sangat keras. Upaya kaum muslimin untuk memecah batu itu gagal, dan mereka melapor pada Rasulullah SAW. Saat itulah kuasa Allah diperlihatkan: saat beliau memukul batu itu, nampak cahaya terang lalu diperlihatkan pada Nabi kota-kota Persia, Romawi dan Habasyah, dan Nabi mengatakan bahwa kaum muslimin akan membuka pintu kota-kota itu! Sahabat tentu saja terkesima. Bayangkan situasi saat itu: kaum muslimin tengah terkepung, di hadapan mereka ada krisis antara hidup-mati, dan Rasulullah tidak bicara short term tentang strategi kaum muslimin menghadapi pasukan besar musuh. Rasulullah justru bicara mengenai ekspansi. Kalau Romawi dan Persia yang punya peradaban besar dan tua saja akan takluk, 10 ribu orang sih kecil, dengan izin Allah…

Upaya pembebasan kota yang dikuasai Romawi ini kemudian dimulai sejak zaman khalifah Umar bin Khattab RA (sebetulnya sudah di zaman Nabi lewat ekspedisi Mu’tah, namun usaha ini belum berhasil), dan Romawi Timur baru benar-benar takluk di tahun 857 H, lebih dari 8 abad sejak peristiwa Khandaq! Konstantinopel nama ibukota Romawi Timur saat itu, dan kemudian diganti dengan “Islam Bol/Islambul” yang berarti kota Islam dan akhirnya menjadi ibukota kekhalifahan Utsmaniyan/Ottoman. Nama pahlawan itu Sultan Muhammad II, yang kita kenal dengan Muhammad al-Fatih atau Mehmed al-Fatih, Sang Pembunuh Dracula, lantaran salah satu lawan beliau saat itu adalah Pangeran Vlad Dracula III yang sangat bengis dan menginspirasi Bram Stoker membuat karakter Dracula si penghisap darah.

Pembebasan itu tentu saja istimewa. Selain karena gilang-gemilang (jalannya peperangan ini panjang kalau diikuti), usai kemenangan itu Sultan Muhammad al-Fatih juga lantas memperlakukan warga Islambul dan para pendetanya dengan baik. Gereja dibiarkan berdiri untuk beribadah umat Nasrani seperti biasa, kecuali gereja Aya Sophia yang beliau minta diubah menjadi masjid agar bisa segera ditunaikan sholat Jumat di kota itu. Tapi bukan itu yang menarik saat ini, ada lagi hal lain yang lebih istimewa: sebuah pewarisan mimpi, dan kontinuitas kerja.

Nun berabad-abad sebelumnya, kembali di jaman Rasulullah SAW, beliau pernah mengatakan, “Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan seorang laki-laki, maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpin yang membebaskannya, dan sebaik-baik tentara adalah bala tentaranya.” (HR. Ahmad). Lantaran ucapan ini, sahabat Abu Ayyub al-Anshary berwasiat untuk dimakamkan di tanah terjauh yang bisa dijangkau kaum Muslimin menuju Konstantinopel. Itu terjadi di masa Khalifah Muawiyah dari Bani Umayyah. Selanjutnya, upaya pembebasan ini dilanjutkan di masa Khalifah lain dari Bani Umayyah. Lalu berlanjut di zaman Bani Abbasiyah dan Kesultanan Islam Saljuk, hingga akhirnya Bani Utsmaniyah. Di zaman kekhalifahan ini, banyak upaya penaklukan Konstantinopel dilakukan. Sedikit demi sedikit wilayah yang dikuasai Romawi jatuh, hingga akhirnya Sultan Muhammad Al-Fatih menyempurnakan usaha ayah dan para pendahulunya.

Maka kini jika kita khawatir tak ada yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu atau generasi yang lebih muda, mudah-mudahan kita masih bisa mewariskan mimpi. Jadi, apa gerangan mimpi kita?

Side story:

Saat masih kecil, Muhammad II ini kabarnya adalah anak yang nakal dan sulit dididik. Ayahnya, Sultan Murad II, lantaran kesibukannya dalam upaya intensif pembebasan Konstantinopel, terpaksa menitipkan pendidikan putranya itu pada seorang guru. Sayangnya, tiap guru yang didatangkan selalu berakhir mengundurkan diri lantaran bandelnya Muhammad II muda ini. Hingga akhirnya seorang guru datang. Nama syaikh ini tak begitu terkenal, walaupun kalau mau googling agak serius sedikit mungkin bisa dapat juga nama beliau ini. Syaikh ini berani bersikap sangat tegas pada sang Pangeran yang nakal, dan di saat yang sama bisa menjadi sahabat dan teladan bagi muridnya. Beliau inilah yang mengajarkan agama dan berbagai pengetahuan umum saat itu, skill kepemimpinan dan strategi perang, mengenalkan hadits Nabi SAW tentang Konstantinopel, dan yang terpenting, mendidik Muhammad II agar punya idealisme. Muhammad II akhirnya menjadi sosok yang memiliki kepribadian kuat di usia sangat muda. Beliau menggantikan ayahnya di usia 20 tahun, dan dua tahun berikutnya beliau menaklukkan Konstantinopel. Ini adalah kemenangan sang murid dan, tentu saja, keberhasilan sang pendidik.


Kebahagiaan

Filed under Ramadhan 2010,

Diary Ramadhan edisi 18 Ramadhan 1431H

Oleh: Teguh Sugihartono

(Diterjemahkan dari THE ALCHEMY OF HAPPINESS, Hazrat Inayat Khan)

Ruh (soul) dalam bahasa Sanskrit dinamakan Atman, yang berarti kebahagiaan itu sendiri. Bukan berarti kebahagiaan adalah bagian dari ruh, tetapi ruh itu sendiri adalah kebahagiaan. Hari ini kita sering bingung antara kebahagiaan (happiness) dengan kesenangan (pleasure); tetapi kesenangan hanyalah ilusi, bayang-bayang dari kebahagiaan; dan orang yang termakan ilusi akan mencari terus menerus seluruh hidupnya kesenangan demi kesenangan tapi tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Ada peribahasa Hindu yang mengatakan bahwa orang mencari kesenangan tetapi malah menemukan penderitaan. Setiap kesenangan akan terlihat dari luarnya sebagai kebahagiaan; kesenangan menjanjikan kebahagiaan, karena kesenangan itu merupakan bayang-bayang kebahagiaan, tetapi bayang-bayang seseorang bukanlah orang itu sendiri, walaupun terlihat menyerupai bentuk orang tersebut. Oleh karena itu, kesenangan menyerupai bentuk kebahagiaan, tapi bukanlah kebahagiaan yang sebenarnya.

Adalah sangat jarang mendapatkan ruh (soul) di dalam dunia ini yang tahu apa itu arti kebahagiaan; mereka biasanya sering dikecewakan oleh satu hal dan hal yang lainnya. Ini merupakan proses alamiahnya hidup di dunia; bahwa walaupun seseorang dikecewakan beribu-ribu kali dia akan tetap mengambil jalan yang sama, karena dia tidak tau yang lain. Lebih banyak kita belajar dalam hidup ini, semakin kita menyadari bahwa hanya sedikit ruh (souls) yang secara jujur bisa mengatakan, ‘Saya bahagia’. Hampir setiap ruh (soul), apapun posisinya dalam kehidupan ini, akan mengatakan dia tidak bahagia di dalam satu atau lain hal, dan jika kamu menanyakan mengapa, mungkin dia akan mengatakan bahwa ini karena dia tidak bisa mendapatkan posisi tertentu, kekuasaan, harta kekayaan, atau keinginan-keinginan lainnya yang sangat dia idam-idamkan selama bertahun-tahun. Mungkin dia sangat mengidamkan memiliki uang banyak dan tidak menyadari bahwa memiliki uang banyak tidak akan memberikan kepuasan; mungkin dia memiliki banyak musuh, atau orang yang dia cintai tidak mencintainya kembali. Ada beribu-ribu alasan untuk menjadi tidak bahagia yang akan dihasilkan dari akal pikiran.

Akan tetapi, apakah satu dari sekian banyak alasan ini seluruhnya benar? Apakah kamu pikir jika orang-orang ini mendapatkan apa yang mereka idam-idamkan kemudian mereka akan menjadi bahagia? Jika mereka memiliki semuanya, apakah itu cukup? Tidak, mereka akan tetap menemukan alasan untuk tidak menjadi bahagia. Mereka yang benar-benar bahagia akan berbahagia dimana saja, di istana atau di gubuk, dalam kekayaan atau dalam kemiskinan, karena dia telah menemukan sumber kebahagiaan sejati yang terletak di dalam hatinya. Selama orang tersebut belum menemukan sumber tersebut di dalam hatinya, tidak ada sesuatu pun yang bisa memberikannya kebahagiaan sejati.

Seorang manusia yang tidak tau rahasia dari kebahagiaan sering kali mempunyai sifat serakah. Dia ingin seribu, dan setelah mendapatkan seribu dia tidak puas dan dia ingin sejuta dan dia tetap tidak puas; dia ingin lebih lagi dan ingin lebih lagi. Jika kamu berikan dia rasa simpati dan kamu coba menyenangkan dia, dia akan tetap tidak puas; bahkan semua yang kamu miliki tidak cukup, bahkan cintamu tidak bisa menolong dia, karena dia mencari di jalan yang salah, dan kehidupan ini pun menjadi sebuah tragedi.

Kebahagiaan tidak dapat diperjual belikan, juga tidak dapat kamu berikan ke seseroang yang tidak memilikinya. Kebahagiaan sejati yang ditemukan dalam diri sendiri adalah hal yang paling berharga di dalam kehidupan ini. Semua agama, semua sistem filosofi, mempunyai bentuk dan jalan yang berbeda-beda dalam mengajarkan manusia untuk mencapai kebahagiaan. Semua orang bijak, mempunyai cara atau methoda untuk mengajarkan seseorang untuk mendapatkan kebahagiaan yang sangat dicari oleh ruh (soul).

Orang-orang bijak telah menamakan hal ini The Alchemy of Happiness, kimia kebahagiaan. Cerita ‘The Arabian Nights’bercerita tentang philosopher’s stone, yang bisa mengubah metal menjadi emas dengan proses kimia. Hal ini telah membuat banyak orang berfikir, baik di timur maupun di barat. Banyak yang berpikir bahwa emas dapat dibuat. Tapi ini bukanlah ide dari seseorang yang bijak; perburuan emas hanyalah untuk anak-anak. Untuk mereka yang memiliki kesadaran akan kenyataan, emas adalah simbol untuk cahaya atau inspirasi spiritual. Emas adalah simbol warna dari cahaya, dan oleh karena itu secara tidak sadar orang-orang mengejar emas seperti layaknya mengejar cahaya. Namun ada perbedaan besar antara emas yang asli dan emas yang palsu. Keinginan untuk mendapatkan emas asli telah membuat manusia mengumpulkan emas imitasi, bukan mencari emas yang asli. Dia memuaskan kehausan ruhnya dengan cara seperti, seperti anak-anak memuaskan dirinya dengan mainan-mainannya.

Kesadaran bukanlah masalah umur. Seseorang bisa saja telah mencapai usia tua tetapi tetap bermain dengan mainan-mainan layaknya anak-anak, ruhnya mungkin saja terlibat dalam pencarian emas imitasi; sedangkan orang lain yang lebih muda telah memulai pencarian akan emas asli. Jika seseorang mempelajari fenomena alamiah kehidupan dan memperhatikan mengenai perubahan, dan keinginan orang-orang untuk mencari kebahagiaan, seseorang akan melakukan semua cara dan mengeluarkan semua biaya untuk mencapai kebahagiaan. Manusia di dalam dunia yang cepat berubah ini mencari sesuatu yang tidak berubah, yaitu kebahagiaan itu sendiri. Yang dia tidak tahu, yaitu bahwa dia harus mengembangkan sifat ke-tidak-berubah-an tersebut dalam dirinya. Semua yang dibuat dan diciptakan akan menghadapi kehancuran suatu harinya. Semua yang berawal mempunyai akhir. Jika ada sesuatu yang bisa digantungkan, yaitu adalah sesuatu yang tersembunyi di dalam hati manusia, sesuatu yang suci, the real philosopher’s stone, emas asli dan murni, yang merupakan inti dan essensi dari seorang manusia.

Seseorang mungkin menjalankan sebuah agama namun tidak sampai pada kesadaran akan kebenaran (realization of truth). Untuk apakah guna agamanya tersebut jika dia tidak bahagia? Agama bukanlah berarti depresi dan kesedihan. Semangat keberagamaan seharusnya memberikan kebahagiaan. Tuhan adalah kebahagiaan. Dia lah kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan. Seseorang yang saleh dalam beragama seharusnya lebih bahagia daripada orang yang tidak beragama. Jika seseorang yang menjalankan agama tetapi selalu melankolis, agamanya tidak berguna. Mungkin kulit luarnya yang dia ambil, tapi bukan isinya. Jika belajar agama tidak berujung kepada kebahagiaan sejati, maka sama saja seperti tidak belajar agama, karena tidak membantu untuk mencapai tujuan hidup. Dunia saat ini sedang bersedih dan menderita karena hasil dari perang yang sadis. Agama yang memberikan jawaban atas kebutuhan kehidupan adalah agama yang memberikan kehidupan kepada ruh (soul), yang menerangi hati manusia dengan cahaya yang agung.

Adapun mengenai pertanyaan bagaimana proses kimia kebahagiaan ini dilaksanakan, seluruh proses dijelaskan oleh ahli kimia dalam cara yang simbolis. Mereka mengatakan bahwa emas dibuat dari mercury. Alamiahnya mercury adalah selalu bergerak, tetapi dengan proses tertentu mercury bisa dibuat diam, dan kemudian menjadi perak; dan setelah perak tersebut dilelehkan, dan esensi dari tanaman ditambahkan ke cairan perak, maka akan terbentuklah emas. Tentunya proses ini sangat global, tetapi anda akan bisa mencari penjelasan yang lebih detail dari seluruh proses. Banyak ruh (soul) yang seperti anak-anak telah mencoba membuat emas dengan mendiamkan mercury dan melelehkan perak, dan mereka telah mencoba mencari esens tanaman; tetapi mereka tersesat; dan akan lebih baik bagi mereka jika mereka bekerja untuk mencari uang saja.

Interpretasi sebenarnya dari proses ini adalah mercury itu simbol dari akal pikiran dan perasaan (mind) manusia yang selalu saja bergerak, melesat dan tak pernah diam. Apalagi ketika manusia mencoba untuk berkonsentrasi, maka dia akan menyadari bahwa akal pikiran dan perasaannya (mind) sulit untuk dikendalikan dan ditundukkan. Akal pikiran dan perasaan-perasaan itu layaknya seperti kuda; ketika dinaiki akan lebih melawan ketika sedang disimpan di kandangnya. Seperti itulah alamiahnya akal pikiran dan perasaan (mind); akan menjadi lebih melawan dan menentang ketika ada keinginan untuk mengendalikannya; seperti mercury, selalu bergerak-gerak. Untuk memudahkan, maka akal pikiran dan perasaan (mind) akan selanjutnya diterjemahkan dengan jiwa.

Ketika seseorang dengan methoda konsentrasi telah bisa menguasai jiwa, maka seseorang telah meraih step pertama dalam menempuh tugas mulia. Berdoa adalah konsentrasi, membaca adalah konsentrasi, duduk dan relax dan berfikir dalam satu subjek adalah konsentrasi. Semua seniman, pemikir dan pencipta telah mempraktekkan konsentrasi dalam suatu bentuk. Mereka telah memberikan jiwa-nya untuk satu hal, dan fokus terhadap satu objek telah melatih konsentrasi.

Ketika jiwa telah dikendalikan dan tidak lagi melawan, maka seseorang bisa memegang pikirannya akan sesuatu selama yang dia inginkan. Inilah asal mulanya fenomena. Beberapa orang menyalahgunakan kemampuan ini dan menggunakan kekuatan ini untuk menghancurkan perak sebelum menjadi emas. Perak tersebut perlu dipanaskan terlebih dahulu sehingga meleleh, oleh apa? Oleh kehangatan yang merupakan essensi murni yang terletak di hati setiap manusia, yang berasal dari cinta, toleransi, simpati, dan masih banyak lagi titik-titik lainnya, dimana setiap titik bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga. Semuanya berasal dari satu sumber, yaitu cinta. Ketika cinta menerangi hati manusia, maka perbuatan dan perkataan dan expresi orang tersebut akan menunjukkan bahwa cinta telah menghangatkan hatinya. Saat ketika hal ini terjadi maka manusia akan benar-benar hidup. Dia akan membuka kunci mata air kebahagiaan yang akan mengalir ke semua penjuru, mengairi keburukan dan ketidakharmonisan. Dia akan membuka penutup cahaya, sehingga cahayanya menyinari semua penjuru.

Setelah hati dihangatkan oleh element agung yang bernama cinta, maka langkah berikutnya adalah tanaman, yang merupakan Cinta Tuhan (Love of God). Tetapi Cinta Tuhan sendiri itu tidak cukup. Pengetahuan akan Tuhan juga dibutuhkan. Ketidak tahuan akan Tuhan lah yang membuat manusia meninggalkan agama, karena ada batas bagi kesabaran manusia. Pengetahuan akan Tuhan menguatkan kepercayaan seseorang akan Tuhan, memberikan cahaya pada kehidupannya. Semuanya menjadi jelas, bahkan setiap daun pada pohon akan menjadi lembar buku suci bagi setiap orang yang matanya telah terbuka akan pengetahuan terhadap Tuhan. Ketika essensi dari tanaman cinta telah terjatuh di dalam hati, dihangatkan oleh cinta terhadap sesama manusia, maka hati akan menjadi hati yang emas, hati yang menghendaki apa pun yang Tuhan kehendaki. Manusia tidak melihat Tuhan, tetapi manusia telah melihat Tuhan di dalam manusia, dan ketika ini terjadi, semuanya yang keluar dari manusia tersebut adalah berasal dari Tuhan itu sendiri.

Untuk seorang teman baik yang sedang mencari kebahagiaan


Diary Ramadhan edisi 17 Ramadhan 1431H

Oleh: Eko Hardjanto

Menjelang hari raya di Tanah Air harga bahan pangan selalu melonjak naik. Entah mengapa pemerintah selalu tak bisa mengendalikan stabilitas harga. Hal ini selalu terjadi setiap tahun. Selalu berulang. Harga bahan pangan yang melonjak menghadirkan fenomena tersendiri di kalangan pedagang, yaitu fenomena menjual produk dengan harga lebih murah dibanding harga normal untuk menarik minat konsumen, dan akhirnya pedagang mendapat keuntungan berlipat. Namun sayangnya hal ini dilakukan dengan cara mengelabui konsumen.

Ayam mati kemarin, TIREN, istilah ini sudah lama dikenal di kalangan pedagang dan pembeli. Ayam TIREN adalah ayam yang sudah mati sebelum dipotong, dan kemudian di jual. Tentu saja kualitas daging ayam TIREN sangat buruk, dagingnya berbau bahkan berpotensi menghadirkan penyakit. Itulah mengapa Islam mengharamkan makan bangkai. Namun demi mendapatkan keuntungan besar, pedagang rela berdosa mengelabui konsumen dengan menjual ayam TIREN. Dengan harga yang lebih murah ayam TIREN kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan dan kemudian dijual kepada masyarakat dengan harga miring. Masyarakat kelas bawah tentu tidak peduli dengan asal muasal produk makanan berbahan daging ayam. Bagi mereka, mendapatkan bahan makanan dengan harga terjangkau, di bawah harga pasar, adalah sebuah anugerah tidak terkira.

Malam sebelum dipotong seekor sapi digantung kedua kaki depannya, sedemikian rupa sehingga sapi seperti sedang berdiri hanya dengan kedua kaki belakang. Dalam keadaan ‘berdiri’ tersebut kemudian selang air dimasukan ke dalam mulut sapi. Air dialirkan melalui selang, dan sapi dipaksa minum hingga badannya bengkak membesar karena air. Bayangkan betapa tersiksanya sapi tersebut. Hingga akhirnya sapi itu jatuh sekarat karena perutnya terbanjiri air dan karena sulit bernafas. Dalam masa sekarat itu, air yang diminumkan secara paksa merembes sedemikian rupa hingga masuk ke dalam pori-pori daging sapi. Karena kandungan air dalam daging, berat sapi menjadi lebih bertambah ketika dipotong. Sapi seberat 150 kg bisa mencapai 300 kg ketika ditimbang dagingnya. Padahal sebagian dari berat daging itu hanyalah kandungan air. Ketika daging dimasak ia menjadi ciut, karena kandungan air pada akhirnya menguap. Konsumen yang membeli daging sapi semacam ini telah tertipu karena telah membayar daging lebih berat dan mahal namun sebagian mengandung air. Daging sapi semacam ini disebut daging Glondongan.

Selain dua contoh di atas, sering pula kita dengar kasus bakso menggunakan daging tikus, tahu berpengawet formalin, zat pewarna pakaian dipakai untuk makanan, daging sapi dicampur daging babi hutan, dan sebagainya. Kasus-kasus semacam ini begitu marak di Tanah Air. Niatnya tetap sama, mencari keuntungan besar dengan mengelabui pembeli.

Fenomena penipuan terhadap konsumen tidak hanya terjadi pada bahan pangan. Pada penjualan pulsa isi ulang telepon genggam pun demikian. Setelah pulsa isi ulang ditambahkan kepada telepon genggam, iklan berbasis teks dalam bentuk SMS tidak henti-hentinya masuk ke dalam telepon genggam. Hal ini terjadi tanpa diminta oleh konsumen karena sudah diatur sedemikian rupa oleh operator penyedia jasa telekomunikasi. Konsumen yang tidak mengerti, selalu membaca teks iklan tanpa diundang tersebut. Dan tanpa sadar setiap kali teks-teks iklan diterima dengan mengklik tombol ‘OK’ maka sejumlah pulsa telah tereduksi dari saldo pulsa telepon genggam. Tidak ada penjelasan dari operator atau gerai penjual pulsa terhadap layanan iklan semacam ini dan dampak yang akan diterima konsumen. Anehnya pula, layanan ini terjadi by default setiap kali pembelian pulsa, dan layanan semacam itu (mungkin) tidak akan dihilangkan sampai kita mengontak customer service untuk mengehentikannya. Ini jelas-jelas penipuan untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Ada hidden cost dalam tarif pulsa.

Dalam konteks yang berbeda, tayangan TV di Tanah Air dijejali dengan iklan berbagai produk. Tidak ada sama sekali kenyamanan melihat tayangan TV. Setiap kali pemirsa TV harus menunggu lama dalam menyaksikan sebuah tayangan karena selingan iklan yang begitu menggebu-gebu, khususnya bagi tayangan premier. Ditambah lagi sifat iklan yang konsumtif dan menyesatkan. Jauh antara apa yang disampaikan dengan apa yang dikandung sebuah produk dalam iklan.

Fenomena penipuan dalam jual beli dan kondisi terkait jual beli yang merugikan konsumen memang menjadi makanan keseharian di Tanah Air. Kondisi yang jauh berbeda justru terjadi di luar negeri, di mana konsumen mendapatkan perlindungan yang istimewa. Tatanan yang baku dan tertib telah berhasil mengatur sistem jual beli dan hubungan produsen dengan konsumen. Penipuan dan kerugian konsumen dicegah dan ditekan sedemikian rupa.

Sejak dahulu fenomena jual beli memang cenderung menarik para pelakunya pada tindakan penipuan. Betapa terkenal sebuah kisah seorang wanita jujur yang tidak mau mencampur susu dengan air di masa khalifah Umar ibn Khattab RA. Mencampur susu dengan air adalah sebuah perilaku yang telah terjadi sejak dahulu kala. Dalam sebuah riwayat Rasulullah SAW mendapatkan seorang penjual buah yang menaruh buah busuk di bagian bawah tumpukan buah agar tidak terlihat pembeli. Itulah fenomena yang umum terjadi di pasar, tipu menipu, mengelabui, demi menekan kerugian dan mengejar keuntungan. Itulah mengapa dalam satu riwayat dikatakan bahwa Rasulullah SAW sangat membenci berada di dalam pasar. Karena di dalam pasar setan bergentayangan menyesatkan para pelakunya. Pasar seringkali melalaikan para pelakunya. Pasar di sini bisa diartikan secara fisik maupun secara aktifitas muámallah.

Sesungguhnya Islam secara tegas telah memberikan pedoman kepada umat manusia untuk mengurangi penipuan dalam jual beli.

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang- orang yang merugikan; dan timbanglah dengan timbangan yang lurus; Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan (QS. ASY SYU’ARAA 181-183)

Rasulullah SAW. bersabda, “Dua orang yang berjual beli itu haruslah bebas memilih sebelum mereka berpisah. Apabila keduanya jujur dan berterus-terang di dalam berjual beli, maka keduanya akan mendapatkan berkah. Tetapi apabila keduanya menyembunyikan dan berdusta, maka jual belinya itu tidak akan membawa berkah” (HR Bukhari dan Muslim)

Sayang sekali pedoman dasar tersebut tidak melekat dalam perilaku keseharian pasar di negeri kita. Sudah menjadi semacam aturan bahwa tipu menipu dalam jual beli adalah hal yang lumrah untuk mencapai keuntungan besar dan menekan kerugian sekecil mungkin. Sangat menyedihkan.

Sungguh manusia tidak menyadari bahwa hakikat keuntungan dalam jual beli sesungguhnya adalah keberkahan harta dan terhindarnya dosa. Untung sedikit namun berkah. Insya Allah membawa pemiliknya pada kesehatan, kebahagiaan, ketenangan, dan keselamatan dunia dan akhirat. Demikianlah sistem Islam yang indah mengajarkan konsep jual beli.

Rasulullah SAW. bersabda, “Semoga Allah memberi rahmat kepada seseorang yang bermurah hati sewaktu menjual, bermurah hati sewaktu membeli dan bermurah hati sewaktu menagih hutang” (HR Bukhari)

***

Bogor, 16 Ramadhan 1431 H

Eko Hardjanto


Diary Ramadhan edisi 16 Ramadhan 1431H

Oleh: Titah Yudhistira

Bertahun-tahun mengajar matakuliah Teori Probabilitas, memberi kesadaran bagi saya bahwa semua yang saya alami, jika dikaitkan dengan tujuan penciptaan manusia menurut Islam, bukanlah karena kebetulan semata. Saya akui kesadaran ini bersifat subjektif, karena dengan fakta objektif yang sama seorang atheis akan dapat tiba pada kesimpulan yang berbeda 180 derajat. Kesadaran subjektif ini selalu menjadi pengingat bagi saya bahwa ada maksud tersirat, pelajaran, dan peringatan dari Allah atas setiap hal yang saya alami atau sering saya anggap sebagai ‘nasib’.

Saat bertemu/chatting dengan teman-teman lama sering saya ditanya: ‘Sekarang di mana?’. Saat saya jawab saya sedang ambil S3 marketing di Groningen (RuG), banyak yang terkaget-kaget. Marketing? Bagaimana bisa? Saya akui keheranan mereka masuk akal. Di SMA saya jurusan fisika, S1 Teknik Industri, dan S2 Sistem Manufaktur. Melihat deret/pola ini — bayangkan soal deret angka/gambar dalam tes IQ atau TPA — marketing bukanlah sebuah lanjutan yang logis. Akan lebih logis jika saya melanjutkan sekolah di bidang manajemen operasi, system engineering, engineering design, ataupun logistik/supply chain. Dan memang, bagaimana saya bisa ditempatkan di marketing adalah benar-benar ‘nasib’. Saya tidak pernah apply ke Departemen Marketing-RuG. Awalnya saya apply proposal tentang product design and development dan berkorespondensi cukup intens hampir setahun dengan seorang calon supervisor di departemen inovasi. Walaupun calon supervisor ini akhirnya menerima proposal saya, aplikasi beasiswa saya waktu itu ditolak. Tidak menyerah, saya mencoba berbagai alternatif lain, dan alhamdulillah setelah satu setengah tahun menunggu, diselingi periode vakum yang cukup lama, ujug-ujug (tiba-tiba) saya mendapat email berisi tawaran beasiswa Bernoulli dari RuG. Di luar dugaan, tawaran beasiswa ini justru datang dari departemen marketing (yang mana saya tidak pernah apply ke sana) dan sebagai konsekuensinya saya akan disupervisori oleh seorang profesor marketing (yang juga tidak pernah saya berkoresponden dengannya sebelumnya).

Pada awalnya saya menerima kenyataan ini dengan bersyukur, tetapi bisa dikatakan ‘bersyukur sambil lalu’ (dari pada tidak dapat beasiswa sama sekali, bolehlah di marketing, mungkin begitu gampangannya). Baru setelah saya menjalani program saya ini, saya sadar bahwa saya sebenarnya telah diberi karunia luar biasa oleh Allah. Departemen Marketing ternyata merupakan departemen elite di fakultas kami. (Agak susah menjelaskan mengapa saya merasa mendapat karunia luar biasa tanpa menceritakan hal-hal berikut, tanpa terkesan menyombongkan diri. Tetapi, secara logika yang berhak sombong adalah departemennya, bukan sayanya. Jadi, be assured, niatan saya menceritakan hal-hal berikut hanya untuk menjaga keutuhan/naturalitas cerita). Ini baru saya sadari ketika ada acara kumpul-kumpul mahasiswa PhD se-fakultas sering saya ditanya dari departemen mana dan siapa supervisornya. Saat saya jawab dari marketing dan supervisor saya TB secara lempeng, tidak hanya satu dua yang mengatakan kurang lebih: ‘You’re very lucky’, ‘I wish I could be in your department’, ‘Wow, you’re working under the supervision of TB?’, etc. Lama kelamaan saya risih dengan situasi ini, meskipun mungkin saja mereka cuma basa-basi. Tapi, pada akhirnya hal inilah yang menyadarkan saya bahwa saya telah diberi yang terbaik oleh Allah dan semua komentar ini saya anggap sebagai peringatan dari Allah bahwa saya harus bersyukur atas nikmat ini dengan jalan bekerja keras dalam menyelesaikan program saya dengan baik. Saya juga mulai tersadarkan bahwa ada rencana Allah bagi saya agar saya menjadi seorang ahli di area marketing science (Note: ada juga marketing management dan marketing arts)

‘Keanehan’ berikutnya terjadi saat menyelesaikan project kedua saya tentang pengukuran konsumen dalam rangka pengembangan produk baru. Setelah proses yang cukup panjang, bahkan sudah sampai keluar findings dari analisis datanya, saya dan supervisor saya berkesimpulan bahwa project ini harus di-grounded alias tidak diteruskan karena tidak prospektif untuk publikasi. Tentu saja saya cukup sedih, tapi bagaimana lagi. Ini risiko dari riset S3 bahwa suatu project dapat di-abort karena hasilnya tidak sesuai ekspektasi awal. Saya pribadi terus terang pasrah dan menghibur diri dengan berkata dalam hati ‘toh minimal saya sudah dapat berbagai ilmu baru yang kontemporer di bidang pengukuran konsumen dan tools multivariate statistics/data analysis’. Mungkin kasihan melihat betapa pasrahnya saya, supervisor saya akhirnya mengusahakan saya untuk dapat bekerja sama dengan sebuah perusahaan riset pasar terkemuka di Eropa untuk mendapatkan data bagi pengganti project kedua yang gagal tadi. Di sini saya kembali melihat bagaimana sebuah kegagalan hanya merupakan pembukaan jalan oleh Allah bagi sesuatu yang jauh lebih baik. Tidak pernah terbayang sebelumnya saya bisa berada di sebuah ruang konferensi yang ultramodern, melakukan presentasi, berdiskusi dan bertatap muka langsung dengan top manajemen perusahaan yang namanya sebelumnya hanya bisa saya baca dari majalah atau internet. Sebuah pengalaman yang sangat berharga pula bagi saya untuk dapat beberapa hari mencicipi rasanya bekerja sebagai ekspatriat di sebuah perusahaan multinasional di Eropa sehingga dari sini saya banyak mendapat pengalaman dan ide tentang bagaimana nantinya saya mungkin dapat menerapkan berbagai praktik bisnis serupa di Indonesia, tanpa mengkhianati komitmen saya sebagai dosen nantinya (bagi yang berprofesi dosen di Indonesia, mungkin bisa mafhum dengan pernyataan saya ini). Sungguh, petunjuk dan ilham dari Allah bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

Kembali ke ‘keanehan’. Mengapa saya sebut ‘keanehan’? Karena project kedua yang baru ini lebih jauh lagi menyimpang dari background pendidikan saya sebelumnya. Di project ini saya akan meninggalkan jalan besar marketing, menyusuri area yang lebih pelosok yaitu advertising. Seperti pada banyak orang, saya tadinya berpendapat bahwa advertising sekedar identik dengan membuat dan menampilkan iklan di TV atau majalah. Tapi ternyata ia tidak sesederhana itu. Advertising ada ilmu/sainsnya. Dan ilmu ini mencakup bidang komunikasi, psikologi, ergonomi, ekonomi, statistika, control theory, riset operasional, dlsb. Untuk riset saya saat ini saya berkutat dengan berbagai teori tentang recognition, memory, believe, attitude, intention, dan akhirnya behavior. Suatu hal yang tidak terbayang sebelumnya bagi saya mempelajari bagaimana human mind bekerja dan akhirnya mengejawantah pada sikap dan tindakan kita. Namun, kembali ke pendirian saya bahwa semua ini bukan kebetulan semata, saya melihat ada pesan Allah di sini. Ada rencana Allah bagi saya mengapa saya harus terjun ke bidang yang demikian spesifik dan tampak sangat jauh dari background dan niatan saya mengambil S3 sebelumnya.

Sebagaimana sering saya tulis dalam email-email saya, saya selalu berkeyakinan bahwa selain ayat-ayat dalam Al-Quran, masih banyak ayat-ayat Allah yang lain yang bersebaran di muka bumi ini, menunggu untuk dibaca dan dimanfaatkan. Termasuk ayat-ayat ini adalah ayat-ayat tentang mekanisme pikiran manusia bekerja. Jika kita percaya bahwa segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh Allah dan berjalan dalam keteraturan (walaupun kita tidak/belum tahu apa dan bagaimana keteraturan itu) atau dengan kata lain ada hukum-hukum atau ketetapan-ketetapan tertentu bagi setiap fenomena duniawi, maka pikiran dan tindakan manusia pada dasarnya bekerja tidak random, meskipun dalam keseharian kita seringkali menjumpai pikiran atau tindakan yang dianggap ‘irrasional’ atau random (sebagai bahan bacaan ringan yang menarik dan menggugah yang mendukung premis saya ini secara empirik, silakan baca buku ‘Predictably Irrational’ karangan Dan Ariely, seorang profesor behavioral economics asal Israel). Jika premis saya benar, konsekuensinya adalah wajib kifayah hukumnya bagi kaum muslim untuk mempelajari hal (bagaimana pikiran manusia bekerja dan menghasilkan sistem believe, attitude, intention, dan behavior) ini.

Pada titik waktu ini, saya melakukan sebuah retrospeksi dengan mengajukan pertanyaan: kenapa saya tiba di posisi seperti sekarang (yang telah saya ceritakan panjang lebar di atas)? Setelah saya renungkan, jawabannya cukup mengejutkan karena jawaban ini dapat dihubungkan dengan (sebagian) pertanyaan atau kegelisahan saya yang juga sering saya sampaikan di milis deGromiest: jika Islam memang agama yang sempurna, bagaimana mungkin jutaan (atau mungkin sampai milyaran?) manusia di dunia masih tidak bisa menerima Islam dan bahkan memandang Islam secara negatif dan hina? Bagaimana jalan keluarnya?

Dari sains marketing yang saya pelajari, sebuah produk yang superb, superior, excellent, atau simply the best, jika keunggulannya tersebut dikomunikasikan dengan baik sehingga mampu membentuk kepercayaan di benak konsumen akan keunggulan-keunggulan tersebut, maka hanya masalah waktu produk tersebut akan diterima secara luas oleh pasar (teori yang sejauh ini diyakini benar dalam marketing dan bagi saya pribadi sebuah teori yang benar adalah tidak lain sebuah sunnatullah). Dalam hal ini saya berpikir, Islam adalah agama yang sempurna. Ad-din yang merupakan rahmatan lil ‘alamin. Bagaimana mungkin begitu banyak (lebih tepatnya mungkin terlalu banyak) skeptisme, sinisme, penolakan, bahkan gerakan anti-Islam di dunia? Bagi logika saya, awalnya ini adalah paradoks yang luar biasa. Namun demikian, setelah memikirkan lebih dalam saya menyadari bahwa potret kehidupan umat Islam saat ini sebagai vehicle bagi messages dienul Islam bisa jadi tidak mengkomunikasikan dengan baik messages itu. Ibaratnya mengkampanyekan produk Mercedes, tapi yang ditampilkan adalah Kancil. Akibatnya, persepsi nonmuslim terhadap Islam terdistorsi (mengutip seorang teman saya yang kristen ortodoks, “The easiest way, though not necessarily the best way, for assessing a religion is by looking at the religion believers’ deeds). Bagaimana bisa teryakinkan bahwa Islam agama cinta damai kalau hampir tiap minggu kita disuguhi serangan-serangan bom bunuh diri yang dilakukan di negara-negara Islam oleh orang-orang yang mengaku Islam, dengan korban orang-orang Islam, baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak (cf. kejadian akhir-akhir ini di Irak, Afghanistan, dan Pakistan)? Belum lagi aksi teror bunuh diri di barat (9/11, bom London, bom Madrid, etc.) yang konon dilakukan oleh orang-orang yang mengaku muslim. Bagaimana bisa dipercaya bahwa Islam menjunjung tinggi sopan santun dan kelembutan dan mengajak kebaikan dengan hikmah kalau artikel yang berseberangan pandangan/paham/keyakinan atas suatu issue ditanggapi dengan komentar-komentar arogan, ganas, dan tak jarang sarkasme? Bagaimana nonmuslim bisa teryakinkan bahwa Islam membawa misi keadilan, perlindungan bagi kaum yang lemah, kalau penindasan atas kaum lemah masih banyak terjadi di negara-negara muslim (tidak usah jauh-jauh, mari kita introspeksi negara kita yang merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia)? Hukum yang memihak kaum kaya dan berkuasa, distribusi kekayaan yang tidak adil dan menyebabkan kemiskinan kronis bagi jutaan saudara muslim kita. Dan daftar ini masih bisa diperpanjang.

Jadi, saya pribadi berkeyakinan, bahwa selain di satu sisi kita umat Islam secara sistematis perlu ‘menyembuhkan’ dirinya secara internal untuk kembali ke era kejayaannya dan berusaha mencapai kondisi ideal yang dijanjikan oleh Allah, di sisi lain kita harus mengupayakan vehicle lain untuk menyebarkan pesan-pesan mulia, gambaran tentang Islam yang sebenar-benarnya, ke kalangan external. Ini adalah hal yang krusial, karena jika message ini tersampaikan dengan baik, insya Allah umat Islam tidak akan mengalami stigmatisasi, kecurigaan, dan hambatan-hambatan beribadah terutama di dunia barat. Tidak akan ada berita tentang penentangan gigih pembangunan masjid di New York atau Swiss. Tidak akan ada kampanye pengenaan pajak untuk penggunaan jilbab oleh kaum muslimah di Belgia dan Belanda. Bahkan, bukan tidak mungkin pemeluk Islam di barat akan bertambah dengan cepat, mengingat fitrah manusia, tidak peduli dia orang Asia, Eropa, atau Amerika, adalah menjadi muslim (CMIIW).

Di sinilah saya mulai berpikir bahwa Allah telah men-challenge saya untuk memikirkan tentang ‘marketing’ Islam (in fact, sudah ada artikel di majalah The Economist, Desember 2007, tentang ‘marketing’ agama-agama di dunia, terutama Kristen dan Islam; Yahudi tidak termasuk karena pada dasarnya Yahudi adalah agama ekslusif. Dalam artikel ini terlihat bagaimana kaum misionaris Kristen sudah memanfaatkan temuan-temuan dari riset-riset marketing dalam misi mereka). ‘Marketing’ dalam sesuatu yang saya rasakan sebagai ‘challenge’ Allah kepada saya ini mungkin nantinya tidak lain adalah bentuk/strategi (bukan isi, tentu saja) yang lebih kontemporer dari syiar/dakwah Islam. Mungkin Islam perlu melakukan ‘advertising’ dalam rangka meng-edukasi publik di barat, khususnya. Selanjutnya, mencari perspektif bagi saya pribadi ke depannya, mungkin di sinilah peran yang dituntut dari saya sebagai seorang muslim oleh Allah (lewat fardhu kifayah saya), demi kejayaan Islam. Lebih spesifik lagi, dalam ‘marketing’ Islam ini, saya butuh ilmu tentang bagaimana agar pesan-pesan ke-Islam-an ini bisa efektif, baik internal maupun eksternal umat Islam. Dan, saya telah dituntun oleh Allah dengan harus mempelajari psychology of advertising, sebagaimana yang dibutuhkan dalam project saya sekarang.

Akhirnya, setelah sekian panjang tulisan ini berfokus pada saya dan saya, sebagai inti dari tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan deGromiest dan diri saya pribadi untuk selalu memikirkan dan merenungkan atas semua kejadian yang kita alami. Marilah di bulan Ramadan yang suci ini kita selain ber-introspeksi, kita juga ber-retrospeksi dan memproyeksikan langkah kita ke depan. Jika kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi atas diri kita bukanlah karena efek random (saya rasa ini juga salah satu pilar aqidah Islam, CMIIW), penting bagi kita untuk tahu kira-kira pesan apa yang Allah sedang sampaikan kepada kita. Hal ini penting bagi kita agar kita selalu dapat mensyukuri atas apapun yang terjadi atas diri kita. Juga hal ini penting untuk menyadarkan kita tentang misi atau kewajiban (fardhu kifayah) apa yang sebenarnya sedang diembankan kepada kita, terlepas dari/in addition to misi pribadi kita untuk menuntaskan kewajiban ibadah individual (fardhu ‘ain) dan mencapai surga di akhirat kelak. Apa yang dapat kita sumbangkan dari diri kita bagi Islam sebagai suatu kesatuan umat/society (Islam jelas bukan agama yang mendukung pola hidup hermetic)? Situasi yang dihadapi setiap orang pasti berbeda-beda, tapi di balik itu semua ada sebuah rencana besar, grand design, yang maha kompleks, tapi maha sempurna, dari Allah SWT, Tuhan kita yang sebaik-baiknya Pencipta Rencana.

Wallahu’alam.


Diary Ramadhan edisi 15 Ramadhan 1431H

Oleh: Ismail Fahmi

(Diterjemahkan dari The Protection: Climbing Up, Bawa Muhaiyaddeen, 1981)

Semua jenis pekerjaan, jabatan, gelar, keturunan, agama, warna kulit, dan politik adalah pendorong hidup, sehingga ketika kelaparan, penyakit, dan segala kesulitan datang ke dalam hidupmu, kamu akan naik satu tingkat lebih tinggi mendekati kualitasNya, dan dalam kecintaanmu kepadaNya.

Keyakinan kita harus naik satu tingkat. Kita tidak boleh bilang, “Dia telah memberiku penderitaan ini. Apa yang telah Dia berikan padaku?” Please, jangan katakan ini. Sesungguhnya, Dia sedang mengangkatmu ke atas.

“Ini adalah anak tangga yang goyah.
Naik lah menuju anak tangga di atas yang lebih kokoh.
Ketika masalah lain muncul,
Naik lah ke anak tangga berikutnya!
Ini adalah sebuah langkah untuk cinta
Dan keyakinanmu.”

Jangan pernah berpikir bahwa Allah sedang mengujimu.
Itu bukan pekerjaanNya.
Sebaliknya, berpikirlah bahwa Dia sedang mengangkatmu
Satu tingkat berikutnya.

„Ketika sebuah masalah muncul,
naik lah satu tingkat ke atas.
Naik lah dengan penuh keyakinan dan keimanan!

“Ketika kamu sudah menapaki ke-99 anak tangga,
Apapun yang telah kamu lihat sebelumnya dan sesudahnya akan sirna.
Yang kamu lihat hanyalah Aku.“

„Masalah-masalah itu semua hadir
Agar kamu bisa datang kepadaKu.

„Ketika mereka berkata bahwa mereka tidak menginginkanmu, naik lah!
Mereka semua adalah keburukan,
Setan dan keburukan adalah ikatan-ikatan di dalam dirimu.
Putuskan, dan naik lah ke atas.

„Naik!
Naik yang tinggi!
Naik adalah kebaikan.
Turun adalah keburukan.
Keduanya adalah tawakkal-Ku, tanggung jawab-Ku.
Mereka milik-Ku.
Datanglah ke sisiKu. Naik!“

Kita harus memiliki keyakinan itu,
Iman itu.
Baru kemudian kita akan meraih kebebasan.

Tapi jika sebaliknya kita bilang,
“Dia sedang mengujiku.
Oh Tuhan, mengapa Kau beri aku ini?
Apakah Tuhan yang seperti ini ada atau tidak?
Apa ini, oh Tuhan…“
Bukan ini yang diharapkan.

„Aku sudah menempatkan keduanya,
baik dan buruk; setan dan kebaikan,
di depan mu.
Yang itu adalah keburukan.
Yang ini adalah kebaikan.
Yang itu adalah musuh bagimu,
dan dia pasti akan berusaha mengalahkanmu.

“Naik saja satu tingkat ke atas.
Itu adalah kebaikan buatmu.
Sesuatu yang akan datang telah menanti.
Naik lah lagi satu tingkat kebaikan.
Itulah yang diharapkan.”

Seseorang yang telah melewati seluruh tingkatan
Dia lah insan kamil, seorang manusia sempurna.
Hal ini harus dipahami.

“Contoh yang telah Aku perlihatkan di depanmu
Adalah sebuah bunga lotus.
Lihatlah bagaimana dia tumbuh dari air yang kotor.
Dia hidup di tempat kotor, tetapi dia tidak membawa serta
Air yang kotor itu. Lihatlah itu!
Aku telah ciptakan kamu juga dari sesuatu yang kotor (tanah).
Tapi kau membawa serta semua yang kotor itu ke dalam dirimu.
(Kau bawa serta jabatan, gelar, agama, keturunan, politik, kekayaan ke dalam dirimu).

“Karena inilah mengapa kamu menderita.
Ini adalah penderitaanmu.
Segala sesuatu yang kamu genggam erat adalah penderitaanmu.
Bunga lotus itu tidak menggenggam air yang kotor.
Lihatlah, betapa cantiknya dia.
Oleh karena itu, naiklah!

“Aku telah perlihatkan kepadamu banyak contoh.
Lihatlah mereka dengan bijak.

“Lihat berapa banyak bunga yang telah Aku ciptakan
Untuk para lebah!
Tak terhitung banyaknya.
Betapa banyak warnanya,
betapa banyak gradasinya,
betapa banyak jenisnya!

„Namun, lebah hanya terbang menuju tujuannya.
Dia hanya mengambil apa yang menjadi haknya (madu),
dan kemudian pergi.
Apa yang menjadi sisa ditinggalkannya.

“Aku telah menempatkan
Keburukan dan kebaikan,
Dzat dan sifat,
Esensi dan ciptaan,
Di depanmu.
Ambillah apa yang menjadi hakmu, lalu datanglah padaKu.

“Lebah madu tidak berkata,
‘Semua bunga itu indah.’
Dia tidak memetik dan membawanya ke sana kemari.
Dia mengambil apa yang dibutuhkannya,
Dan meninggalkan sisanya di belakang.
Aku telah menciptakan segala sesuatu.
Di dalamnya, identifikasi apa yang menjadi hakmu,
Ambillah dan datanglah.

“Aku telah menciptakan satu jenis burung bernama penghisap madu.
Warnanya hitam, sangat hitam.
Tapi lihat bagaimana kilauannya, terang seperti petir!
Tubuhnya seperti itu.
Hitam (gelap).

“(Tubuhmu juga terbuat dari tanah yang mengandung kegelapan)
Tapi di dalam dirimu terdapat cahaya iman.
Aku telah tempatkan cahaya iman itu ke dalam dirimu.
Dia selalu bercahaya.

“Lihat bagaimana usaha kerasnya si penghisap madu
Agar dia bisa meminum madu.
Sungguh sebuah keseimbangan!
Dia menjaga keseimbangan sehingga dia kelihatan diam tak bergerak.
Tanpa menyentuh bunga,
tanpa duduk di atasnya,
dia menjulurkan paruhnya tepat di tengah
seperti diam tak bergerak,
sebuah keseimbangan.

„Seperti itu, di dalam hidupmu,
jangan duduk di atas bunga!
Kamu harus menjaga keseimbangan—laa ilaaha illaAllah:
Tidak ada sesuatu pun kecuali Engkau, ya Tuhan.
Hanya Kau lah Allah.

„Tetaplah dalam keseimbangan,
Tetap diam dan seimbang dan ambillah intinya.
Ekstrak rasanya, rasa dari ilmu.
Maka kamu akan mengerti.
Jika kamu gagal untuk tetap seimbang,
maka kamu tidak akan mampu berada di atas bunga itu.
Jika kamu jatuh duduk di atasnya,
maka dia akan melengkung dan membuatmu jatuh.
Kamu akan terjatuh.

“Aku ciptakan bunga-bunga dan warna yang indah.
Aku tempatkan begitu banyak kelopak di sana.
Tetapi aroma wangi datang dari dalamnya.
Aroma ada di dalam.

“Seperti ini, Aku telah ciptakan
Begitu banyak nafsu di dalam dirimu.
Betapa banyak kelopaknya!
Betapa banyak detailnya!

“Walau bagaimana pun, aroma wangi ada di dalam dirimu.
Aroma muncul dari dalam dirimu.
Jika keindahan dan aroma me mancar dari dirimu,
kamu akan membuat segala yang ada di dalam dirimu wangi.

“Jika kamu mengontrol nafsu-nafsu itu,
kamu akan bisa membuat mereka beraroma wangi.”

Ini adalah contoh-contoh dari Allah.
Pahami mereka.
Jangan memegang erat penderitaan.
Naiklah satu tingkat ke atas.


Diary Ramadhan edisi 14 Ramadhan 1431H

Oleh: Ismail Fahmi

(Diterjemahkan dari The Mirror: Understanding Yourself, Bawa Muhaiyaddeen, 1981)

Murid:

Jika Tuhan adalah pencipta segala sesuatu, mengapa hanya ada sangat
sedikit manusia di planet ini yang sungguh-sungguh mencari kebenaran?

Guru:

Setiap orang yang diciptakan Tuhan adalah baik, anakku.
Semua yang diciptakan Tuhan adalah orang-orang baik.
Mereka semua orang baik.
Tuhan hanya menciptakan ruh yang fitrah.
Oleh karena itu,
Tuhan tidak menciptakan satu orang jahat sekali pun.
Pertanyaan yang seharusnya adalah:
Semua orang adalah baik;
apakah aku juga menjadi orang yang baik?
Itulah pertanyaannya.

Keburukan di dalam diri sendiri itulah
yang melihat keburukan di dalam diri orang lain.
Titik keburukan di dalam diri sendiri,
setan, perilaku setan itulah, yang akan melihat setan di dalam diri orang lain.
Jika kamu melihat di dalam cermin,
kamu akan melihat apa yang ada di dalam dirimu.

Tidak ada keburukan di dalam cermin.
Tidak ada setan di dalam cermin.
Kamu berpikir dia ada di dalam cermin, tetapi tidak.
Apa yang ada di dalam diri, itulah yang akan tampak di luar.
Segala sesuatu yang kamu lihat adalah segala yang ada di dalam dirimu.
Segala sesuatu yang kamu katakan adalah titik yang ada di dalam dirimu.
Segala sesuatu yang kamu khawatirkan di luar dirimu adalah yang
terjadi di dalam dirimu.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang kamu lakukan
berasal dari apa yang ada di dalam dirimu.
Apa yang kamu nilai adalah apa yang ada di dalam dirimu.
Apa yang kamu anggap musuh adalah yang di dalam dirimu.
Apa yang kamu lawan adalah yang ada di dalam dirimu.
Karena yang ada di dalam dirimu itulah yang membuat dirimu melihat
segala perbedaan ini.

Jika kamu menjadi seorang yang baik,
maka setiap orang akan menjadi orang baik.
Jika kamu berpikir, “Akankah aku menjadi orang baik juga?”
dan jika kamu menjadi orang baik,
maka setiap orang akan menjadi baik.

Jika kamu menjadi orang baik,
semua yang hidup akan membungkuk kepadamu.
Semua makhluk akan menghormatimu.
Semua akan patuh padamu.
Matahari dan bulan akan sujud padamu.

Jika kamu tidak menjadi orang baik,
maka segala yang kamu lihat akan tampak seperti setan dan kejam.
Kamu akan melihat apa yang ada di dalam dirimu.
Semua akan tampak buruk dan jahat.

Ketika kamu menangkap ribuan spesies ikan di laut,
kamu menangkap mereka semua dengan sebuah jala.
Meskipun ada ribuan spesies ikan,
hanya akan ada satu jala.
Kamu lah yang kemudian memilah dan mengelompokkan mereka.
Mereka tidak terpilah di lautan.
Apakah mereka terpilah? Tidak.
Apakah jala memilah mereka?
Apakah air memilah mereka?
Mereka dulunya bersama-sama.
Kamu lah yang memilah mereka
ke dalam kelompok baik dan buruk.
Kamu memilah segala sesuatu ke dalam sifat baik dan buruk.
Ketika kamu memiliki pemahaman seperti air dan jala,
maka kamu akan melihat kesatuan, bukan pemilahan.
Semua ini karena dirimu sendiri yang terpisah-pisah,
sehingga kamu melihat pemilahan.

Seperti inilah sifat akal dan pikiranmu,
yang melakukan pemilahan.
Pikiranmu, akalmu, dan ide-idemu
yang melakukan pemilahan.

Air dan jala tidak melakukan pemilahan.
Mereka berkata, “Silahkan datang, silahkan pergi.”
Mereka bersama.
Mereka merangkul apapun yang datang kepada mereka.
Air mengumpulkan apapun yang datang kepadanya.

Seperti inilah, ketika kebenaran telah datang,
ia menerima semuanya.
Kebenaran bisa melihat segala sesuatu itu berguna.

Dengan kebersamaan, kasih sayang dan cinta,
ia menjadikan segala seuatu menjadi satu.
Kebenaran menerima semua kehidupan seperti miliknya sendiri.

Jika kamu juga bisa mencapai tingkatan ini,
kamu akan menerima semua kehidupan sebagai kehidupanmu sendiri.
Semua tubuh akan seperti tubuhmu sendiri.
Semua rasa lapar akan menjadi rasa laparmu.
Semua penderitaan akan menjadi penderitaanmu.
Kamu akan bisa menerima itu semua.

Kemudian, kamu akan paham apakah syetan itu.
(bersambung)


Diary Ramadhan edisi 13 Ramadhan 1431H

Oleh: Arramel

Sekilas melihat cuaca diluar kantor yang tidak bersahabat alias hujan mengingatkan kenangan penulis saat akan memasuki masjid Agung di alun-alun kota Bandung pada tahun 2002. Pandangan mata tak luput melihat hiruk pikuknya para pedagang yang menawarkan makanan untuk sekedar berbuka, khususnya di areal jalan dalem kaum menjelang adzan magrib sudah menjadi pemandangan umum Memori ini membawa kembali pikiran ketika punggung serasa pegal karena isi tas yang berisikan dua textbook Organic Chemistry setebal buku Harry Potter. Maklum pelajar dengan modal low-budget jadi pinjaman buku-buku kuliah sudah menjadi hal lumrah untuk dipinjam hampir genap satu semester. Sesaat sebelum memasuki pelataran masjid, ada satu anak perempuan kecil yang segera menyodorkan tangan kecilnya meminta sedekah dengan muka memelas. Hasrat hati ingin sekali memberikan sebagian recehanku, tapi berhubung uang yang ada saku sangat pas untuk perjalanan pulang ke rumah, dengan berat hati aku menggelengkan kepala kepadanya. Sesaat dia seperti kecewa dan sedih, tapi mimik wajahnya mengatakan jangan patah arang dan kembali tersenyum..

Badan ini kembali melangkah masuk ke bagian dalam masjid, terlihat beberapa pojok sisi masjid sudah diisi dengan orang yang sedang mengaji. Namun, ada juga orang yang memanfaatkan sejuknya udara dengan memejamkan mata sambil menunggu beduk tiba. Langkah kaki kuteruskan ke areal tempat wudhu yang ternyata sudah cukup padat dengan para jemaah lainnya. Basuhan air segar menerpa wajah dan segera menghilangkan kepenatan hari yang padat dengan jadwal kuliah dan praktikum. Selepas shalat sunnat, kucoba untuk menyempatkan membaca ayat-ayat suci Al-Qurán. Kering rasanya jika tidak melafazkan barang beberapa bacaan singkat tapi cukup bermakna apalagi di bulan suci ini, nikmat kita terus berlipat dengan nilai pahala yang berbeda dari yang biasanya. Kilasan surat An-Nisa di beberapa petikan ayat yang kubaca sungguh mengangkat harkat insan akhwat dimata Islam. Entah kenapa bacaan ini mengingatkan penggalan ingatan ketika melihat berita di TV ataupun diskusi singkat dengan rekan sejawat di kantor yang mengesankan bahwasanya Islam secara terang-terangan menekan posisi wanita, baik di kehidupan keluarga ataupun masyarakat secara umumnya. Akan tetapi, bagi para umat muslim tentunya sebagian besar mengetahui jika posisi wanita khususnya ibu adalah peluang untuk mengarahkan langkah kaki ke surga ilahi.

Satu suap lagi ya anakku sayang.. Hampir satu jam sendok kecil ini bulak-balik memasukkan asupan bagi si kecil yang umurnya tak terasa hampir berusia satu tahun. Pandangan matanya nan bersih dan tanpa beban sungguh menyegarkan pikiran dari peliknya pekerjaan di kantor. Karakter bayi memang sangatlah unik, setiap anak memiliki ciri khasnya masing-masing. Prilakunya yang menerima apa saja yang diberikan kadang harus disikapi dg hati-hati karena pola fikir anak yang belum terbentuk mana yang baik atau buruk bagi dirinya. Oleh karena itu, tugas orang tua menjadi sangat vital membantu serta mengarahkan sifat ataupun tingkah laku anak di masa depan. Terlepas kedua peran ibu dan ayah besar sama bobotnya, namun penulis ingin sekali mengangkat betapa kinerja ibu sangatlah penting untuk mendidik anak ke jalan yang diridhai oleh Alloh SWT. Maka tak salah jikalau ada kalimat ”pintu surga berada di kaki ibu “. Semua usaha susah payah yang dilakukan oleh para ibu patut diacungi jempol dan disyukuri. Teringat ketika masa dimana penulis masih menduduki sekolah dasar kelas satu, ibu mencoba untuk selalu membangunkan anaknya yang sukar bangun pagi agar pergi ke sekolah. Tak lupa menyiapkan sarapan serta menyiapkan pakaian putih-merah.Ketika anak beranjak dewasa, ibu pula yang senantiasa berupaya memenuhi kebutuhan sekolah seperti buku, alat tulis dan lain-lain. Tatkala sang anak sudah dewasa dan memiliki keluarga sendiri, sang ibu dengan tulus selalu mendoakan agar anaknya sukses dunia dan akhirat. Semoga semua usaha dan doa mampu mengiringi semua para ibu ataupun calon ibu dibalas di hari nanti, amin..

Secercah rasa lelah terlihat di pelupuk mata sang istri kala membereskan sisa makanan si kecil. Tak luput dari pandangannya, hasil cucian yang masih bertumpuk kadang membuat rasa semangat membereskannya sirna. Serta tugas lain sudah menanti seperti menyiapkan makan malam bagi anggota keluarga lainnya. Akan tetapi, para istri terus menjalani peranan dan tugas secara ikhlas dan istiqamah. layaknya siklus metabolisme tubuh yang terus berputar setiap saat.

Sekelumit tulisan singkat penulis diatas hanyalah sedikit dari rangkaian roda kehidupan wanita secara umum. Mungkin sedikit tulisan di atas bisa menjadi pengingat bahwasanya semua usaha serta doa para ibu, istri, ataupun bahkan si kecil akan menjadi bekal yang akan dinilai oleh Alloh SWT menuju lingkaran tanpa batas di akhirat kelak, amin yaa robbal alamin..


Diary Ramadhan edisi 12 Ramadhan 1431H

Oleh: Fajar Budi Prasetyo

Al-Quran adalah salah satu mukjizat dari nabi kita Nabi Muhammad SAW. Tak perlu diragukan lagi ke-absahan nya. Salah satu buktinya yang termudah adalah tidak adanya perubahan konten Al-Quran selama lebih dari 1300 tahun; waktu yang sungguh luar biasa untuk sebuah “bacaan” yang dikaji oleh 1,5 miliar penduduk bumi. Jumlah itu hanyalah jumlah penduduk muslim sekarang, belum ditambah penduduk muslim dunia dari zaman nabi Muhammad hingga sekarang yang telah wafat, ditambah lagi penduduk dunia yang beragama lain yang juga mempelajari Al-Quran. Subhanallah.. Hal ini hanyalah satu dari banyak sekali kehebatan Al-Quran yang sebenarnya sudah dijamin oleh Allah dalam surat Al-Hijr ayat ke 9 Allah berfirman:

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.”

Begitu kira kira bagaimana Allah meyakinkan umatnya tentang keabadian Al-Quran. Bulan Ramadhan sendiri adalah bulan diturunkannya Al-Quran. Terlepas dari bagaimana Allah menurunkan Al-Quran, dan kapan waktu tepat diturunkannya, bulan Ramadhan menjadi sangat special bagi kita untuk kembali menjadikan Al-Quran sebagai pedoman hidup kita. Pernah saya mengikuti sebuah kajian tentang kehebatan Al-Quran. Di dalam kajian tersebut disebutkan, mengapa zaman sahabat sahabat terdahulu disebutkan sebagai generasi terbaik. Alasannya menurut pemberi materi saat itu ada 3:

  1. Menggunakan Al-Quran sebagai satu satunya sumber sebagai dasar pemikiran hidup kita
  2. Menerapkan apa yang kita baca dalam Al-Quran sebagai rukun hidup kita. Dalam arti kata, Allah menurunkan Al-Quran agar kita mengerti apa yang Allah “mau”.
  3. Berusaha membuang jauh-jauh apa yang Allah tidak suka dengan menjadikan Islam sebagai titik tolak perubahan kita.

Ulasannya masih cukup panjang, namun intinya ternyata juga pada Al-Quran lah sabahat-sahabat nabi berpedoman. Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit berbagi pada teman-teman tentang pengalaman saya belakangan ini berinteraksi dengan Al-Quran.

Ada kebiasaan khusus yang bapak saya contohkan ketika membaca Al-Quran. “Jangan lupa baca artinya, kandungan Al-Quran akan lebih terasa ketika kita mengerti apa yang kita baca..”. Semenjak saat itu saya kadang-kadang (kalo pas lagi semangat) menandai arti dari bacaan yang saya baca yang kira-kira sangat mengena pada saya pribadi (istilah sundana mah nujleb kitu tah..hehe). Ini adalah beberapa kejadian diantaranya.

Beberapa waktu kemaren saya sangat gelisah dengan kondisi beasiswa yang saya dapat. Karena satu dan lain hal beasiswa yang saya dapat tidak diterima secara penuh. Selain itu rencana rencana ke depan yang tadinya telah dipersiapkan secara matang mendadak batal semua. Beasiswa untuk melanjutkan kuliah tiba tiba gagal, tidak dapat dan lowongan pekerjaan pun masih nihil. Di saat keadaan yang tidak menentu seperti ini saya mencoba sedikit merenung. Apa yang salah ya? Tapi setelah sekian lama, jawabannya belum kunjung datang. Masih sedikit gundah gulana, sore itu saya coba untuk membuka Al-Quran. Dan seperti yang saya kira, belum sampai selembar Al-Quran itu saya baca, disurat Al-Ankabut ayat 60 sampai ayat 63 Allah menegur saya dengan cukup keras..

Ayat 60 : Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Ayat 61 : Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

Ayat 62 : Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Ayat 63 : Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab: “Allah”, Katakanlah: “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahami(nya).

Allahu Akbar..Maha Suci Allah yang menurunkan Al-Quran..Semua sumber jawaban ternyata bermula dari Al-Quran. Seketika saya terdiam dan mengutuki perbuatan saya yang sangat tidak bersyukur. Bahkan Allah sendiri yang menjamin bahwa nyamuk adalah makanan cicak. Saya jadi teringat salah satu khutbah Aa Gym dalam ceramah nya di PT.Samsung. Beliau bercerita bagaimana cicak yang tidak pernah stress sedikitpun walaupun rezekinya adalah nyamuk atau serangga yang notabene punya sayap semua. Bagaimana bisa dia tetap hidup dan masih bisa berkembang biak kalau bukan Allah yang menjamin rezekinya..

Sebenarnya banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari Al-Quran ketika saya benar-benar mencoba untuk mencari jawaban dari permasalahannya saya di Al-Quran. Sungguh bila kita benar benar berpedoman pada Al-Quran dan Al-Hadits insya Allah kita akan menjadi orang yang ditenangkan hatinya oleh Allah dan insya Allah termasuk golongan jiwa jiwa yang tenang (Al-Fajr Ayat 27).

Insya Allah nanti dilanjutkan pada seri hikmah Al-Quran selanjutnya …

-waktusubuh-


Diary Ramadhan edisi 11 Ramadhan 1431H

Oleh: Budi Arifvianto

Ya, di tahun 2006, tepatnya seminggu setelah gempa bumi yang menggemparkan Jogja, kota tempat tinggal kami, kehidupan rumah tangga itu kami mulai. Usia kami waktu itu tergolong muda, karena kami masih terbilang fresh-graduate. Aku dan istriku baru saja menyelesaikan S1. Beberapa bulan setelah wisuda aku lalu bekerja di universitas almamaterku, sedangkan istriku masih harus menyelesaikan pendidikan profesi setelah S1-nya tamat. Kira-kira 6 bulan setelah aku bekerja, kami menikah.

Tak ubahnya seperti sepasang suami istri yang lain, kehadiran seorang anak setelah pernikahan tentu saja menjadi sebuah keinginan bagi kami. Semula kami sempat ragu dan berpendapat mungkin lebih baik menunda untuk mempunyai anak, apalagi setelah mendengar nasehat dari orang-orang di sekitar kami yang berharap aku dapat memberikan waktu untuk istriku menyelesaikan sekolahnya dulu, kemudian baru mempunyai anak. Perasaan ingin menunda punya anak itu ternyata hanya beberapa bulan saja bersemayam di hati kami. Melihat teman-teman kami yang sudah menikah dan segera mempunyai anak, rupanya kami tergiur juga. Senang rasanya bila ada seorang anak di dalam kehidupan kami. Kami memimpikan seorang anak.

Setahun usia pernikahan kami, belum juga kami mendapatkan mimpi kami itu menjadi kenyataan. Tapi, aku dan istriku bisa mengerti keadaan pada saat itu. Tugas istriku selama pendidikan profesi ternyata cukup berat. Seringkali tugas itu mengharuskannya jaga malam di rumah sakit atau pergi ke rumah sakit di luar kota. Tentu saja, selain pikirannya, fisiknya juga terkuras selama mengikuti pendidikan. Pun demikian denganku. Tahun pertama pernikahan kami, kuisi kebanyakan hari-hariku dengan mengerjakan tugas-tugas S2-ku yang cukup menyita tenaga, pikiran dan seringkali membuatku stres. Program S2-ku ternyata tidak semudah yang kukira. Dari situlah kami pahami, kecapekan dan pikiran yang sering bercengkrama dengan stres itulah yang mungkin membuat kami belum dikaruniai seorang anak.

Setahun lebih setelah menikah, akhirnya istriku berhasil menyelesaikan pendidikannya. Berarti, satu tugas sudah selesai; sebuah tugas pula untukku untuk membantu menyelesaikan sekolah istriku. Keadaan ini menurut kami sudah lebih baik daripada setahun sebelumnya. Demikian pula dengan dinamika S2 ku; sedikit demi sedikit aku telah menemukan ritme bagaimana aku harus belajar selama studiku. Saat itulah kami sudah merasa jauh lebih siap dengan mimpi kami dan berharap mimpi akan anak itu akan segera terwujud. Kami mulai intensif berkonsultasi dengan dokter obsgin.

Langkah pertama yang harus kami lakukan adalah mengikuti program pemicu ovulasi. Namun, hasilnya masih nihil. Istriku belum juga hamil. “Ah, tidak apa-apa, baru pertama, pasti ada kesempatan yang lain.” gumamku. Program itu kami ikuti lagi beberapa kali, tetapi hasilnya selalu saja masih nol persen. “Hmm… kenapa ya?” aku dan istriku sering berucap demikian.

Bulan terus berganti seiring dengan upaya kami di kala itu untuk mewujudkan mimpi hadirnya seorang anak. Rasanya masih belum putus harapan kami. Kami ikuti lagi program dari dokter obsgin kami, termasuk check-up tentang kesuburanku. Ternyata normal. Tidak ada apa-apa. Demikian juga dengan istriku. Serangkaian tes di laboratorium juga menunjukkan tidak ada masalah dengan istriku. Tidak ada gangguan apapun yang mungkin bisa menghalangi kehamilan.

Bulan Maret 2008, istriku harus terbaring di rumah sakit. Bukan karena mau melahirkan, tetapi karena operasi di salah satu organ pencernaannya. Hal ini sejenak mengistirahatkan kami untuk berlari mengejar mimpi akan seorang anak. Fokusku saat itu adalah istriku sehat kembali. Sepintas aku tersadarkan bahwa inilah jalan Alloh memudahkan aku dalam menghadapi cobaan berupa sakit yang dialami istriku, yakni dengan menunda hadirnya anak dalam kehidupan kami.

Setelah sehat kembali, kami mulai lagi menyusun mimpi kami akan seorang anak. Tahun itu, aku pun berhasil menyelesaikan S2-ku. Alhamdulillah, meski sempat terseok-seok di awal, hasilnya bisa membuatku tersenyum. Semangatku dan istriku menyeruak lagi, karena kami merasa sudah tidak ada beban yang mengharuskan kami bergulat dengan stres. Namun, ternyata usaha kami untuk mempunyai anak belum juga membuahkan hasil. Satu per satu rasa penasaran kami mulai berubah menjadi kegelisahan. Istriku apalagi. Aku bisa merasakannya. Gelisah, gundah, kadangkala minder. Seringkali istriku sering menolak jika kuajak pergi ikut reuni atau bertemu dengan teman-teman kami. Alasan yang sepele; karena biasanya mereka selalu bertanya apakah sudah hamil atau belum. Kalau dijawab belum, mereka lantas bilang “lho kok belum? Ditunda ya?”. Belum lagi kalau bertemu dengan teman-teman yang notabene umur pernikahannya lebih muda dibanding kami, tetapi sudah menggendong anak-anaknya yang lucu.

Tiga tahun usia pernikahan kami, usaha kami mewujudkan mimpi itu masih belum juga membuahkan hasil. Dalam doa kami pun tak luput ungkapan pinta kepadaNya. Tetapi, rasanya Beliau belum atau masih menunda jawaban doa-doa kami. Dokter obsgin kami pun agaknya juga sudah mulai berpikir keras. Program selanjutnya masih kami ikuti. Kami memutuskan untuk ikut program inseminasi buatan. Pikirku, mungkin inilah program ingin anak termahal menurut takaran finansial kami. Bagaimana tidak, sebagian uang tabungan kami relakan untuk program itu, sementara saat itu gajiku jarang sekali menyisakan sejumput uang untuk ditabung. Gaji istriku bekerja juga hanya cukup untuk membantuku menghadapi pengeluaran-pengeluaran yang insidentil.

Program inseminasi buatan itu dilakukan dengan sangat hati-hati, baik oleh kami maupun dokter obsgin kami. Dag-dig-dug hati kami sering berdebar menunggu hasilnya. Pada bulan yang sama, kami menunggu hasilnya, berharap istriku terlambat datang bulan dan hamil. Sehari dua hari istriku terlambat. Tetapi, di hari ketiga ternyata mengharuskan kami untuk terus bersabar menghadapinya. Belum hamil lagi. Semenjak saat itulah, kami merasa, ya sudahlah… kami merasa sudah melakukan apa yang terbaik. Apa yang kami miliki, tabungan, waktu, pikiran dan upaya sudah kami kerahkan semuanya. Tapi, kalau hasilnya memang belum, ya mau bagaimana lagi. Dokter obsgin kami sebenarnya menyarankan untuk memulai program inseminasi lagi. Tetapi waktu itu kami menolak. Selain alasan finansial, aku juga harus pergi ke luar kota untuk sebuah konferensi. Kami merasa tidak mempunyai waktu yang tepat saat itu untuk memulai program yang serupa.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, kami pun larut dalam kesibukan masing-masing. Aku sibuk dengan risetku di kampus, sementara istriku dengan prakteknya di sebuah rumah sakit swasta di Jogja. Saat itu juga, aku berkutat dengan niatanku mengambil program S3, sementara istriku juga mulai tergerak untuk melamar pekerjaan di tempat yang lain. Dan ternyata kesibukan itu cukup membuat kami merasa ‘terhibur’, meskipun kadangkala kami juga sering saling bercerita senangnya bila sudah ada anak. Upayaku mencari sekolah S3 ternyata juga tidak mudah. Beberapa universitas aku daftar, termasuk departemenku di Groningen sekarang, membuatku sedikit kecewa karena tidak menerimaku. Beberapa universitas menolakku karena proposal yang kutawarkan tidak sesuai dengan calon supervisornya. Sementara, aplikasiku di salah satu universitas di Belanda dimentahkan pada seleksi untuk beasiswanya. Pun dengan istriku. Upayanya menembus menjadi pegawai kesehatan berlabel abdi negara ternyata harus melalui tahap gagal dulu. November 2009, mungkin menjadi bulan dimana kami sama-sama berjuang. Secara hampir bersamaan, istriku mengikuti tes kerja untuk yang kedua kalinya, sementara aku terbang ke Groningen mengikuti interview sebagai kandidat mahasiswa S3. Impian kami tentang anak sudah bisa kami alihkan. Doa yang kami haturkan kepadaNya pun mulai diisi dengan harapan diterima sekolah dan bekerja. Akhir tahun 2009, Alloh memberikan jawabanNya. Aku diterima sebagai mahasiswa S3 di Groningen, sementara beberapa minggu kemudian istriku mendapatkan jawaban juga atas doanya untuk diterima bekerja. Tetapi, akhirnya istriku memutuskan untuk melepas peluangnya bekerja, lalu ikut denganku ke Groningen. Hingga awal tahun 2010, kesibukan kami beralih pada persiapan keberangkatan ke Groningen yang ternyata sangat sempit waktunya. Awal bulan Maret 2010 aku sudah harus memulai proyek S3 ku.

Suatu pagi di tengah-tengah sibuknya mempersiapkan koper dan isinya, istriku berkata padaku, “Mas, aku kok terlambat ya?” “Hah, apa iya?” jawabku,”kalo begitu nanti sore kita beli alat tes kehamilan.” Keesokan harinya, istriku mencoba melakukan tes kehamilan. Dua strip. “Ini ‘kan tanda hamil..” kata kami berdua seolah tak percaya. Kami memang belum percaya. Selang beberapa hari, istriku melakukan tes lagi. Ternyata hasilnya tetap… dua strip. “Coba kita beli merek yang lain, yang paling bagus.” saranku kepada istriku untuk membeli alat tes kehamilan lagi. Cek lagi setelah beberapa hari kemudian. Dan ternyata, dua strip lagi. Pikiran kami mulai melayang lagi ke impian kami yang sudah teralihkan. “Benarkah istriku hamil?” kataku dalam hati. Di tengah perjalanan pulang dari Jakarta untuk mengambil VISA kami ke Belanda, kami memutuskan untuk pergi ke dokter obsgin lagi. Keesokan harinya, dokter obsgin kami memeriksa rahim istriku dengan USG.

Alhamdulillah, ternyata apa yang kami nantikan telah hadir, meskipun kami sudah tidak memikirkannya dalam-dalam. Setitik hitam terlihat di foto USG istriku. Dokter obsgin menunjukkan adanya titik hitam sebagai tanda adanya embrio di rahim istriku. Istriku hamil juga akhirnya. Pulang dari dokter obsgin, kami berdua seakan masih tidak percaya. Kami kabarkan berita gembira itu kepada orang tua kami semua. Tetapi di hari itulah, kami merenungi, apakah ini bentuk rasa cinta Alloh kepada kami? Ujian yang kami lalui dengan tertundanya kehadiran seorang anak ternyata kami rasakan sebagai sebuah nikmat dariNya di hari itu. Bagaimana tidak. Jika kami menoleh ke belakang, kami melihat skenario Alloh yang begitu hebat. Mungkin Alloh menunda kami mempunyai anak agar aku bisa merasakan nikmatnya bisa menyelesaikan studi S2-ku dengan lancar serta membuat riset yang akhirnya bisa menjadi modal untuk S3-ku. Istriku juga bisa merasakan nikmatnya selesai sekolah dan bisa bekerja sesuai keinginannya tanpa terganggu dahulu oleh tangisan si buah hati. Selain itu, kami bisa merasakan bagaimana indahnya hidup berdua terlebih dahulu, bisa traveling kemana-mana tanpa harus merasa terganggu mengganti popok si bayi. Kami bisa membeli dan memenuhi apa yang kami inginkan terlebih dahulu tanpa harus ada perasaan khawatir kekurangan dana untuk membeli peralatan bayi saat itu. Belum lagi, Alloh mungkin memilihkan saat yang tepat dimana anak kami nanti lahir ketika kedewasaan kami sudah hadir, kesabaran kami sudah terasah, serta pengetahuan kami sudah diniliaiNya cukup. Subhanalloh… Ya Alloh, inikah gerangan cinta dariMu kepada kami? Hari itu, Jumat, 19 Februari 2010, tepat enam bulan yang lalu, empat hari sebelum kami berangkat menuju Groningen. Hari-hari yang mengejutkan sekaligus membahagiakan.

Groningen, 19 Agustus 2010


Diary Ramadhan edisi 10 Ramadhan 1431H

Oleh: Rahmad Mahendra

Lima belas soal mata pelajaran Kimia itu telah mereka tuntaskan di siang yang terik. Hamzah dan Iqro, dua sahabat semenjak sekolah dasar, menyelesaikan satu-satunya pekerjaan rumah di akhir pekan kali ini. Tidak seperti akhir pekan biasanya ketika setidaknya tiga dari lima mata pelajaran di hari Senin memiliki tugas, LKS, atau laporan praktikum. Belum lagi jika dihitung dengan PR untuk hari Selasa sampai Jumat pekan depannya. Pekan ini, tampaknya guru di SMA Hamzah dan Iqra bersekolah mengekang ‘nafsu’ mereka untuk memberikan setumpuk tugas untuk para siswa. Pekan pertama Ramadhan. Entah maksudnya supaya siswa punya lebih banyak waktu untuk beramal. Wallahu’alam.

“Zah, enaknya kita ngapain ya?”, Iqro memasukkan bukunya ke dalam tas. “Aye males balik nih sekarang, adek-adek aye lagi pada rame di rumah. Heboh pasti”

“Jalan-jalan yuk, Ro. Kapan lagi? Biasanya weekend tugas-tugas numpuk, cuma sempat main bola sabtu di lapangan”

“Ogah ah. Panas di luar. Bedugnya kan masih lama, Zah.” Iqro malas-malasan, malah nyender di pojok ruangan setelah mengemasi tasnya. “… kitamain game baru XBox lo aja ya, yang baru Lo beli bulan lalu.”

“Bosen ah. Jagoannya kalah mulu di stage 8. Boss nya terlalu jago deh. Sok aja atuh, kalo Lo mau maen. Gue ngenet aja deh, siapa tau ada status-status seru di Pesbuk.”

“Ah, Lo nya aja yang ga bisa maen. Sini aye ajarin.” Iqro menyalakan TV set milik Hamzah. Sejak mereka masih berseragam putih merah, Iqro telah dianggap bagian dari keluarga Hamzah sehingga Iqro tidak canggung di rumah gedongan itu.

“Babe Nyak Lo mana, Zah? Dari tadi sepi banget nih rumah?”

“Abah dan Emak lagi nengokin Mang Udin ke Karawang. Masih ingat Mang Udin ga yang dulu jadi supir Abah lima tahun lalu? Mang Udin sakit keras kabarnya”

“Innalillahi. Moga Allah memberikan kesembuhan”. Iqro melantunkan doanya, kemudian melanjutkan pertanyaan berikutnya kepada Iqro, “Kalau Vidi Aldiano?”

“Vidi Aldiano?” Hamzah yang sudah menyalakan laptop mengerutkan kening.

“Abang Lo! Dah di Indonesia kan sekarang? Lah? Kan Lo yang pernah cerita, Abang Lo suaranya mirip Vidi Aldiano kalo lagi ngaji”

“Ooo.. Kang Alif” Hamzah cengengesan sendiri. Memang dia pernah cerita seperti itu tentang abangnya yang pernah juara 2 MTQ se-DKI ketika masih mahasiswa S1 di Depok dulu. “Iya, Kang Alif dah nyampe kemaren lusa dari Groningen. Dia libur dari kerjaan PhDnya sebulan ini. Kang Alif lagi ke rumah guru SMPnya. Katanya silaturrahmi. Ada-ada aja tuh orang. Biasanya kan orang silaturrahmi pas lebaran”.

Maka dua pelajar kelas XI IPA itu pun asyik dengan aktivitas masing-masing. Iqro dengan joystick memelototkan mata ke layar monitor, mengendalikan jagoannya menaklukkan tantangan game genre action terbaru itu. Sementara Hamzah pun super serius mengklik berbagai teks dan gambar di browser-nya, menghabiskan waktu dengan plurk, twitter, dan facebook.

***

“Assalammu’alaykum” Pintu kamar Hamzah diketok dan seorang laki-laki berusia sekitar dua puluh lima tahunan telah hadir di sana.

“Waalaykumsalam,” Hamzah dan Iqro hampir bersamaan menyahut. “Dah pulang, Kang Alif?”

“Baru nyampai. Di sini toh kalian. Akang kira tadi tidak ada orang di rumah, soalnya ruang tamu dan ruang tengah sepi.” Kang Alif mengambil posisi duduk di depan dipan, membuka majalah yang dipegangnya. Tapi dia tidak membaca, malah melanjutkan percakapan dengan Hamzah dan Iqro. “Kalian lagi pada ngapain?”

“Nyobain game barunya Hamzah, Bang.” Iqro menjawab dengan semangat. Dia baru saja mengalahkan boss stage 10. Iqro kembali membuktikan kalau memang dia sekelas di atas Hamzah soal main game. Hamzah tak menjawab. Dia merasa jawaban Iqro cukup mewakili bahwa intinya mereka sedang mengisi waktu kosong dengan aktivitas santai.

“Wah, Ramadhan gini sayang loh diabisin waktunya main game. Mendingan kalian tilawah.” Kang Alif mulai berceramah di hadapan adik dan teman adiknya itu.

Hamzah cepat-cepat menimpali. “Kan abis Subuh tadi, Hamzah dah tilawah, Kang. Lima halaman lagi”

Kang Alif tersenyum. “Ya, ditambah atuh, Zah. Masa lima halaman aja dah puas. Ramadhan ini kesempatan mulia untuk mengencangkan amalan, Zah. Allah telah menjanjikan pahala yang berlipat ganda bagi ummat-Nya. Sayang kan kesempatan emas dilewatkan begitu saja. Bukan ga boleh refreshing sih, tapi coba udah berapa lama dari tadi kalian di depan layar monitor?”

Mendengar uraian Kang Alif, Iqro memencet tombol pause joy stick, menghentikan permainannya yang sebenarnya sedang seru. Dia hampir mengalahkan boss stage 11. Hamzah garuk-garuk kepala.

“Coba nih kalian lihat,” Kang Alif menyodorkan majalah yang tadi dibukanya. “Majalah Lentera pekan ini mengangkat profil yang menginsipirasi nih. Kalian pernah dengar Ummi Maktum voice?”

Hamzah dan Iqro menggeleng.

“Mereka itu LSM yang bergerak salah satunya di bidang Al Quran. Tau ga keistimewaan mereka?” Kang Alif kembali menanyakan sebuah retorika yang tak berapa lama langsung dijawab sendiri. “Mereka itu orang-orang yang diberikan ujian oleh Allah, diambil penglihatannya. Mereka tuna netra namun punya semangat untuk membaca Al Quran. Mereka juga bercita-cita mengembangkan Al Quran Braille”.

Iqro tambah khusyuk mendengarkan penjelasan Kang Alif. Hamzah yang sebenarnya malas kalau sudah mendengarkan Kang Alif berceramah pun akhirnya tak kuasa men-hibernate laptop-nya.

“Coba bandingkan mereka dengan kita. Kita seharusnya bisa leluasa membaca Al Quran, sedangkan mereka sangat terbatas inderanya…” “Baca Al Qur’an itu fadhilahnya sangat istimewa loh. Satu huruf dalam Al Qur’an dibalas pahala satu kebaikan dan satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat. Dan Alif Lam Mim itu tidak satu huruf, melainkan Alif, satu huruf dan Lam satu huruf serta Mim satu huruf.”

Kang Alif mengambil posisi berdiri dan meninggalkan kamar Hamzah. Sementara Majalah Lentera itu sudah berada di tangan Iqro yang tampaknya tertarik membaca profil LSM yang diceritakan Kang Alif. Namun tak sampai dua menit, Kang Alif masuk membawa buku agendanya, membuka sebuah halaman yang di dalamnya terdapat potongan artikel berbahasa Inggris.

“Nih, ada cerita menarik lain. Artikel ini kisah tentang bocah-bocah Palestina umur sepuluh sebelas tahunan, tapi sudah hafal 30 judz Al Qur’an. Mereka yang masih belia dan hidup dalam kondisi serba sulit ini tidak hanya khatam baca Qur’an, tapi juga hafal… Kang Alif malu sama mereka. Bukannya nambah hafalan, malah sering lupa yang sudah dihafal karena jarang diulang”. Kang Alif terdiam, tapi hanya sebentar.

“Yuk, kita tilawah. Masih ada 20 menit lagi sebelum adzan Asyar. Kita manfaatkan sebaiknya waktu Ramadhan, ni’mat kelapangan dan ni’mat indera yang telah dianugerahkan-Nya. Kalian ambil wudhu dulu, kita gantian baca sambil menanti adzan Asyar”. Kang Alif dengan komandonya.

***

Kang Alif telah menyiapkan tiga mushaf Al Qur’an begitu Hamzah dan Iqro selesai dengan wudhunya. “Nah, dimulai dari Iqro dulu kali ya, kemudian Hamzah, lalu Akang, kemudian Iqro lagi. Sementara yang satu baca, yang lain nyimak.” Kang Alif dengan instruksinya ibarat trainer outbond.

Iqro yang dapat kesempatan pertama mengelak. “Eh, saya bagian mendengar saja, Kang”. Hamzah yang sedang membolak-balik mushafnya terkikik.

“Loh? Kok cuma mendengar?” Kang Alif tak menduga kalau Iqro menolak instruksinya. “Pake malu segala dikasih giliran pertama, Ro. Apa kamu baca setelah Hamzah?”

Iqro panas dingin. Hamzah cekikikan.

“Kenapa sih Hamzah malah ketawa?” Kang Alif bingung dengan tingkah mereka berdua. Hamzah mau menjelaskan, tapi Iqro sudah lebih dulu bersuara.

“Bukan soal gilirannya, Kang. Tapi… tapi… saya malu bacanya. Saya ngajinya masih terbata-bata,” penjelasan Iqro nyaris tak terdengar karena saking pelannya.

Kang Alif manggut-manggut dan Iqro masih meneruskan, “..jadi, saya mendengarkan bacaan Kang Alif dan Hamzah saja ya, Kang?”

Seutas senyum di wajah Kang Alif tapi bukan meremehkan. “Ro, kita kan bukan lagi lomba musabaqah toh. Justru kalau kamu membaca, kita punya kesempatan sama-sama bisa memperbaiki bacaan”.

“Kamu tau ga, Ro? Rasulullah itu pernah bersabda bahwa orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan dia mahir melakukannya, kelak mendapat tempat di dalam Syurga bersama-sama dengan rasul-rasul yang mulia lagi baik. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an, tetapi dia tidak mahir, membacanya tertegun-tegun dan nampak agak berat lidahnya, dengan kata lain belum lancar bacaannya, dia akan mendapat dua pahala”. “Jadi ga usah berkecil hati dulu, Allah pun tak akan sia-sia menghargai usahamu”.

“Tapi…” Kang Alif memberi penekanan pada suaranya.

“Tapi seterusnya kamu tentu tidak mau cukup dengan dua pahala saja kan? Karena itu harus banyak berlatih ngaji. Diperbanyak membacanya dan memperdengarkannya kepada yang lain, nanti dikoreksi jika ada kesalahan. Lama-lama kamu nanti juga akan lancar.”

<“Sama saja konsepnya dengan ketika kamu pertama kali belajar bahasa Inggris. Terbata-bata kan awalnya. Sekarang malah kalian dah jago cas cis cusnya. Itu kan karena sering mengulang, sering praktek. Belajar Al Qur’an juga begitu”

“Dan kamu, Zah”, Hamzah kaget tiba-tiba Kang Alif malah menasehati dirinya. Perasaan dia sudah lancar baca Al Qur’an semenjak kelas tiga SD deh.

“Kamu itu harusnya bantu Iqro. Dah tau kalo Iqro ada kesulitan untuk baca Al Qur’an, mbok ya diajarin toh. Dan Rasulullah pun bersabda dalam hadits shahih lain bahwa sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya. Ga cukup bisa menguasai untuk diri sendiri aja, Zah tapi kamu harus juga mengajarinya untuk orang lain. Pasti kamu tau kalo ilmu itu semakin nancep kalo kamu ngasih ke orang lain.” Kali ini Iqro yang cekikikan sementara Hamzah bersemu merah wajahnya dikuliahi oleh abangnya.

“Ya udah, kayaknya udah mau Asyar nih. Setelah Asyar aja nanti kita ngajinya sekalian mendengarkan radio pengajian,” Kang Alif dengan cepat mengambil alih kondisi.

Iqro yang pendengar setia radio, berhubung di rumah dia hampir selalu kalah bersaing dengan adik-adik perempuannya soal memilih channel TV langsung nyambar memberikan komentar, “Radio apa itu, Bang? Baru denger aye. Frekuensinya berapa?”

“Radio pengajian itu streaming online yang digagas teman-teman mahasiswa muslim Indonesia di mancanegara, Ro. Soalnya di luar negeri kan tidak segampang di Indonesia mendengarkan pengajian. Jadi dengerinnya di internet. Link-nya http://radiopengajian.com.”

“Nah kebetulan abis Asyar nih, ada siaran program Tahsin Ramadhan, disingkat TaRa. Langsung dipandu oleh ustadz yang ada di Yokohama, Jepang. Pas buat ngabuburit, perbaiki bacaan, nambah tabungan amal lagi.”

“Ya udah sekarang kita siap-siap ke masjid dulu, kalau bisa kita sudah sampai duluan sebelum adzan berkumandang”. Dan mereka pun menuju Masjid Baitul Jannah yang hanya berjarak dua ratus meter dari rumah Hamzah.

***

Apa kabar sahabat sekalian? Bagaimana target bacaan dan hafalan Al Qur’an kita?

3 pekan lagi Ramadhan tersisa, moga kita memanfaatkannya sebaik mungkin.

Jangan sampai mau kalah dengan Iqro yang sudah bertekad memperbaiki bacaannya,

Hamzah yang berniat mengkhatamkan minimal 20 judz,

Kang Alif yang memasang target dapat mengingat kembali semua hafalan yang mulai berkarat dan menambah hafalan satu surat baru.

Yuk, mari berlomba-lomba dalam target Ramadhan.

Mohon maaf jika ada bagian yang tidak berkenan.

Beberapa kesamaan nama, tempat, dan latar mungkin memang disengaja,

sejumlah data dan fakta yang disampaikan insya Allah benar adanya.

Lantai 12 bangunan 275 C,

setelah Tarawih di malam 8 Ramadhan 1431 H


Diary Ramadhan edisi 9 Ramadhan 1431H

Oleh: Sri Pujiyanti

Without cause God gave us being;

Without cause, take it back again.

Jalaluddin Rumi

Seorang teman baru saja meninggal beberapa hari sebelum Ramadhan ini. Seorang perempuan cantik penuh energi yang usianya baru saja 31 tahun. Setelah dua tahun berjuang melawan kanker rahim yang telah menjalar kemana-mana, akhirnya dia pasrah. Dia menyerah. Ketika membuka laman Facebook-nya, membaca tangis kehilangan orang-orang yang mengenalnya, saya sempat tertegun ketika dia menulis ‘heaven is a concept’ di lamannya tersebut. Saya tidak pernah tahu apakah akhirnya dia menemukan kebenaran atas kata-katanya bahwa surga hanyalah sebuah konsep di kepala kita belaka.

Kematian teman saya itu menghantui saya berhari-hari. Membuat saya sedih dan merasa hidup ini sesuatu yang absurd. Pertanyaan yang dulu pernah saya tanyakan ketika kematian itu pertama kali bersinggungan secara pribadi dengan saya -mengapa kita ada di dunia ini jika hidup kita bisa sewaktu-waktu tercerabut- muncul lagi ke permukaan. Dan saya takut. Lalu bermimpi buruk.

Kematian sesuatu yang saya takuti. Sesuatu yang saya pikirkan terlalu sering. Mungkin karena dia diselimuti kegelapan. Sebuah perjalanan ke dunia tanpa peta. Tidak pernah ada orang yang pernah kembali dari kematian dan bercerita pada kita yang hidup ini mengenai situasi di dunia sana.

Kematian saya takuti mungkin karena pada kematian bersemayam neraka, yang menakutkan. Kadang saya menyalahkan komik jelek yang pernah saya baca waktu kanak-kanak yang melukiskan neraka dengan keseraman yang absolut yang seringkali memberi saya mimpi buruk hingga saat ini. Saya harus akui bahwa saya takut pada neraka, dan saya seringkali berharap bahwa nerakalah, bukan surga, yang cuma konsep di kepala manusia. Jalaluddin Rakhmat satu-satunya penulis yang bisa menenangkan ketakutan saya ketika dia mengatakan di dalam bukunya, Memaknai Kematian, bahwa neraka diciptakan seperti mesin cuci yang diciptakan untuk membersihkan semua kotoran di baju ini (perumpamaan ini saya sendiri yang membuat, bukan Kang Jalal). Neraka perlu karena disanalah kita akan membersihkan semua dosa kita, dan seperti kita menginginkan baju yang bersih, tentu saja kita juga menginginkan jiwa yang bersih.

Satu teori lain mengenai surga dan neraka yang sedikit lucu saya dapat dari sang ilmuwan Blaise Pascal yang punya teori yang menarik mengenai Tuhan, surga dan neraka. Katanya, akan lebih baik (baca:menguntungkan) kalau kita percaya Tuhan, karena jika Tuhan itu ada, jika kita mempercayai-Nya kita akan masuk surga, dan jika tidak, kita akan masuk ke neraka selama-lamanya. Jika Tuhan itu tidak ada, kita tidak rugi apapun selama hidup kita mempercayai Tuhan karena we’re dead anyway. Teori yang ditolak mentah-mentah oleh Richard Dawkins, sang atheis yang terkenal itu dengan alasan, urusan percaya-mempercayai Tuhan tidak bisa hanya mempergunakan hitungan untung rugi seperti itu. Membuat saya berpikir, apakah selama ini saya berhitung untung rugi dengan Allah? Membuat saya teringat Rabiah, sang sufi perempuan yang berdoa, “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, campakkanlah aku darinya.” Dalam hal ini, Rabiah dan Richard Dawkins sepakat :D.

Satu hal lain yang saya takuti dari kematian adalah karena kematian berarti kehilangan, ketidakberartian. Saya tipikal orang yang clingy, posesif. Dan kematian adalah mimpi buruk untuk orang seperti saya. Dulu, ketika saya masih remaja, doa saya nomor satu adalah, ‘Ya Allah, mudah-mudahan saya tidak akan pernah merasakan kehilangan karena kematian selama saya hidup. Kalau boleh, semua orang yang saya sayangi harus meninggal setelah saya.’ Saya tahu, doa yang muskil (dan harus saya akui, kadang saya masih berdoa begitu sekarang). Dan Allah mengajari saya untuk menghadapi ketakutan saya paling besar itu dengan cara yang paling indah. Saya dibenturkan pada kematian orang terdekat saya. Tanpa disangka-sangka. Datang secara tiba-tiba.

Pada saat itu, bertahun-tahun yang lalu, ketika sayap kematian itu datang dan merengkuh orang terdekat saya, saya sempat mati rasa. Saya kesulitan untuk mencernanya. Saya butuh waktu lama untuk mengangkat kepala dari keterpurukan. Saya beruntung saya dilimpahi keluarga dan sahabat yang setia mau menemani pada saat-saat terburuk saya. Ketika saya merasa jadi orang paling malang sedunia, seorang sahabat menceritakan kisah seorang perempuan dalam cerita Budha, Kisagotami, seorang perempuan yang kehilangan anaknya, jadi setengah gila, dan meminta Budha untuk menghidupkan anaknya kembali. Budha berjanji untuk menghidupkan anaknya dengan bumbu yang harus dicari Kisagotami dari rumah yang tidak pernah mengenal kematian. Kisagotami berjalan dari rumah ke rumah mencari bumbu tersebut hanya untuk mendengarkan kisah sedih mengenai kematian dari tiap rumah yang dia kunjungi. Ada yang kehilangan suami, kehilangan istri, kehilangan orangtua, kehilangan saudara. Kisagotami berhenti bersedih ketika sadar ternyata kematian adalah sebuah keniscayaan dan kepedihannya dibagi oleh semua orang di bumi ini. Tanpa kecuali. Dan saya, seperti Kisagotami, belajar untuk melihat bahwa saya bukan satu-satunya orang yang mengalami kepedihan. Dalam bahasa sahabat saya, every one has their cross to bear.

Allah mengajarkan bahwa fitrahnya, kita tidak pernah memiliki apapun, semuanya milik Allah. Bahwa segala sesuatu yang kita kasihi suatu saat akan jadi cobaan untuk kita. Kita bukan pemilik belahan jiwa kita, atau anak-anak yang lahir dan mewarisi darah kita. Akan tetapi, buat saya, rasa kehilangan itu wajar, karena saya rasa, rasa kepemilikan juga fitrah yang diberikan Allah agar kita dapat menjadi ‘penjaga’ yang baik. Rasa memiliki dan perasaan kehilangan akan menjadi elemen keseimbangan yang datang silih berganti mengasah jiwa kita. Kepedihan akan jadi pupuk agar saya belajar untuk memelihara semua yang saya kasihi sebaik-baiknya karena saya tidak pernah tahu kapan semua itu akan hilang, dan saya harus belajar mengikhlaskan semua yang selama ini saya ‘miliki’ karena semua itu bukan milik saya.

Ikhlas, ikhlas, ikhlas. Betapa sulitnya menerjemahkan kata itu ke dalam perilaku.

Satu lagi permasalahan besar saya ketika bersentuhan dengan kematian, saya cenderung fatalis. Ketika saya becermin pada hidup orang terdekat saya yang meninggal, saya ketakutan karena tiba-tiba, manusia seperti tidak ada artinya. Dunia akan terus berputar ketika kita sudah tidak ada. Dan perlahan-lahan, orang-orang yang menangisi kita akan berhenti menangis. Perlahan-lahan, kita akan dilupakan. Hal-hal yang kita wariskan di dunia ini akan hilang perlahan dan suatu saat, manusia bahkan akan lupa bahwa kita pernah hadir di dunia ini. Absurd dan menyakitkan. Saya kehilangan selera makan dan semangat hidup. Pertanyaan, ‘lalu untuk apa kita ada di dunia ini jika pada akhirnya kita akan jadi sesuatu yang terlupakan dan seolah-olah tidak pernah ada?’ muncul dan tidak mau pergi dari kepala saya. Butuh energi besar untuk mengusir pikiran negatif itu, yang kemudian selalu muncul lagi dalam riak-riak kecil (dan besar jika saya bersentuhan dengan kematian lagi seperti ketika teman saya meninggal). Saya selalu butuh untuk menguatkan diri saya sendiri bahwa saya, ya, saya mungkin tidak akan menciptakan sesuatu yang besar, akan tetapi, dengan remah kecil saya, saya dapat berkontribusi untuk dunia yang lebih baik dan insyaAllah anak-anak saya akan lebih baik dari saya, orangtua mereka. Setiap kali saya merasa tidak ada artinya, saya mengingat bahwa Islam mengajarkan bahwa tujuan manusia ada di dunia ini adalah untuk mencari ridha Allah dengan beribadah pada Allah, yang saya artikan sebagai beribadah dalam arti luas. Horizontal dan vertikal. Menciptakan surga di dunia ini dan dunia setelah kematian. Dan saya bertanggung jawab atas surga-surga itu. Saya harus melakukan sesuatu, tidak hanya berdiam diri meratapi nasib dan menunggu mati. Ucapan populer seorang sutradara, Stanley Kubrick, juga selalu menyemangati saya. Dia mengatakan, ‘The most terrifying fact about the universe is not that it is hostile but that it is indifferent, but if we can come to terms with this indifference, then our existence as a species can have genuine meaning. However vast the darkness, we must supply our own light.

Menjelang Ramadhan ini, saya berpikir kembali mengenai kematian. Mengingat seseorang yang telah bertahun-tahun meninggalkan saya dan tahun ini saya tidak sempat menjenguk makamnya. Mengingat Didi, teman saya yang meninggal karena kanker itu, dan anak yang ditinggalkannya yang masih balita. Memandang orang-orang yang saya kasihi. Apakah tahun depan saya masih akan bisa bertemu mereka dan bertemu Ramadhan? Ketika mengingat kematian, saya menyadari bahwa saya tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Saya harus terus menerus membersihkan diri. Belajar mengisi waktu saya dengan hal-hal yang bermanfaat. Belajar untuk memberi arti pada hidup saya, seperti apapun. Belajar untuk bersabar. Belajar untuk berempati. Belajar untuk berdisiplin, karena mencintai adalah kata kerja, apalagi mencintai Allah. Karena kematian mengajari saya, days maybe long, but life is short.

-untuk Didi dan A.B-


Diary Ramadhan edisi 8 Ramadhan 1431H

Oleh: Puri Handayani

“Gunakan sehatmu sebelum datang sakitmu”

Sehat memang nikmat Alloh yang luar bisa, maka sudah sewajarnya kita bersyukur dengan mengisi hari-hari sehat kita dengan hal yang berguna. Saat saya sakit flu saja rasanya sudah tersiksa sekali. Paling tidak butuh tiga hari untuk sembuh kembali, dan selama kena flu tersebut hanya bisa terkapar tidak bisa apa-apa. Pada saat sakit itulah kadang baru sadar betapa berharga waktu saya sehat, dan betapa sering kali saya menyia-nyiakan karunia sehat tersebut.

Sakit bisa menjadi ujian kesabaran yang sangat berat, apalagi jika penyakit itu diderita selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Bukan hanya buat yang sakit tetapi juga buat keluarga yang merawatnya juga. Setidaknya hal ini yang saya saksikan pada keluarga sahabat saya. Sejak awal 2000an ibunda tercinta terkena stroke hingga saat ini. Ibunda yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, membiayai kuliah putra-putrinya tiba-tiba terkena stroke tidak berapa lama setelah putra putrinya menyelesaikan kuliah dan bekerja. Hmm…kadang saya berfikir mungkin beliau selama ini menahan segala sakitnya demi terus bekerja untuk putra-putrinya. Ibunda yang dulunya terlihat tegar dan gesit, saat ini hanya bisa terbaring tidak mampu melakukan aktivitas apapun. Tidak hanya itu, beliau sekarang juga mulai pelupa. Tiba-tiba saja beliau suka marah karena merasa tidak diberi makan selama seharian, padahal sebenarnya beliau sudah makan. Kadang sahabat saya ini sampai memilih untuk membiarkan piring dan gelas yang dipakai beliau tetap dimeja, sehingga kalau beliau protes bisa diberikan bukti. Emosi beliau juga tidak stabil lagi. Beliau bisa demam tinggi karena cucu yang dikangeni tidak jadi datang menengok beliau. Sungguh berbeda sekali dengan saat pertama kali saya mengenal beliau disekitar tahun 1995, saat beliau masih sehat, saat saya melihat beliau sebagai sosok perempuan yang tegar, sandaran putra-putrinya.

Hmm…sakit memang bisa menimpa siapa saja. Sakit bisa mengubah kehidupan seseorang secara drastis, baik secara fisik, financial, maupun emosional. Hanya kesabaran dan semangat ikhtiar mungkin yang bisa melawannya. Itupun belum tentu berhasil. Menyaksikan beberapa sahabat maupun keluarga yang diberi cobaan sakit sering kali membuat saya bersyukur sekaligus khawatir, berharap agar saya dijauhkan dari cobaan itu, berdoa untuk teman dan saudara yang sakit semoga mereka bisa seperti Nabi Ayub yang sabar dan akhirnya mendapat pertolongan dari Alloh.

dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang”

Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.