Archives for “deGromiest”

Sore itu, Ahad  23 September 2012, Groningen hanya bersuhu belasan. Situasi ini semakin sempurna dengan hujan rintik-rintik plus angin dingin yang sangat kencang. Musim gugur menjadi pembuka tahun ajaran baru di Groningen. Dan ini biasanya ditandai dengan kehadiran banyak muka-muka baru di kalangan para pelajar maupun deGromiest (The Groningen Moeslem’s Society).

Kami menggelar acara halal bihalal 2012 bagi seluruh warga Indonesia yang tinggal di Groningen. Halal bihalal sudah menjadi agenda wajib tahunan dan merupakan yang terbesar dari segi jumlah peserta yang berpartisipasi.

Hal ini tidaklah mengherankan karena acara ini merupakan hasil kolaborasi dan koordinasi dua organisasi besar pelajar serta masyarakat Indonesia di Groningen yaitu PPIG (Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen) dan deGromiest yang merupakan paguyuban masyarakat dan pelajar muslim Indonesia di Groningen. Biasanya acara ini dilaksanakan dalam suasana Hari Raya (bulan Syawal). Namun untuk tahun ini, acara ini harus dimundurkan karena PPIG mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan RI terlebih dulu setelah Hari Raya Idul FItri 1433H lalu.

Agenda utama dari acara ini adalah ramah tamah antarpelajar yang baru datang dengan masyarakat Indonesia yang telah lama berada di Groningen. Melalui acara ini, tali silaturahmi serta rasa kekeluargaan sesama perantau yang berasal dari berbagai kota di nusantara diharapkan semakin terjaga. Para pelajar yang baru datang ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan mulai dari bachelor, master maupun doctoral yang tentu saja juga mendalami berbagai bidang ilmu.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemenang beasiswa dari berbagai sponsor. Selain muka-muka baru ini, turut hadir pula warga Indonesia yang telah menetap lama di Groningen dengan alasan pernikahan maupun pekerjaan serta beberapa kerabat asing yang punya ikatan persahabatan yang hangat dengan teman-teman pelajar Indonesia.

Turut diundang dan yang mewakili dari pihak KBRI Den Haag adalah Bapak Ramon Mohandas sebagai atase pendidikan. Ia memberikan apresiasi pada PPIG yang dalam acara ini mengakomodir kegiatan Lapor Diri. Ia juga mengapresiasi keaktifan pengurus PPIG yang kerap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif yang selalu di dukung oleh KBRI Den Haag seperti misalnya Indonesian Dinner dan Groenscup.

Kegiatan Lapor Diri ini sendiri, sangat penting bagi para pelajar yang baru datang di negeri Belanda karena banyak sekali manfaat dari Lapor Diri ini, terlebih lagi sebagai Warga Negara Indonesia memang sudah menjadi kewajiban untuk melaporkan dirinya jika akan berada di luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama.

Selain Lapor Diri, serangkaian acara hiburan ditampilkan oleh tim acara yang merupakan kontribusi dari kalangan pelajar itu sendiri. Tarian tradisional asal Aceh bertajuk Tari Saman berhasil membuat hadirin bertepuk tangan panjang. Penampilan akustik serta drama pendek melengkapi pemutaran Film berjudul “Kita Disana”, sebuah Film Pendek yang mewakili PPIG dan berhasil memenangkan berbagai kategori penghargaan Kompetisi Film Pendek pada acara Temu Eropa 2011 yang berlangsung Mei tahun lalu di Rotterdam.

Seperti yang disampaikan oleh Irfan Prabudiansyah, Presiden deGromiest yang mewakili panitia, acara ini merupakan ajang perkenalan untuk menguatkan tali silaturahmi dan kekompakan antarpelajar dan masyarakat Indonesia di Groningen. Tentu saja, kehangatan rasa kekeluargaan yang terasa saat acara diharapkan tidak hanya tinggal dan menghilang selepas acara, melainkan akan terus berlanjut dalam keseharian selama menjalani hari-hari dingin di Groningen.

Artikel: Rifki Furqan

Foto: Surahyo Sumartono

www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/09/26/maxlb6-halal-bihalal-pelajar-indonesia-di-groningen


Assalamuálaikum Wr. Wb. & Salam sejahtera,

Keluarga muslim Indonesia Groningen (DeGromiest) bekerjasama dengan PPI Groningen mengundang warga rekan-rekan semua untuk hadir pada acara Halal Bihalal 1433H & Lapor Diri 2012 yang insyaAllah diselenggarakan pada:

hari/tanggal : Minggu, 23 September 2012
waktu : 16.00-21.00 CEST
tempat : Treslinghuis Groningen, Klaprooslaan 120, 9713 SW Groningen
acara : 16.00-17.00 CEST : Lapor Diri.
17.00-21.00 CEST : Silaturahmi, dan hiburan.

Untuk keperluan konsumsi, sewa gedung dan peralatan, diperlukan
kontribusi per orang 5 euro (dewasa) atau 3 euro (anak-anak).

Pendaftaran dapat dilakukan dengan mengisi daftar hadir HBL 2012 berikut ini.
https://docs.google.com/spreadsheet/viewform?formkey=dDhvR2s3ZFlKQVdVZUROLUxadDhRMkE6MQ

Transfer pendaftaran dapat dilakukan ke rekening Sdri. Dwi:
No. rekening : 161907075
atas nama : D.R.S.Esti
keterangan transaksi : HBL2012, <namaLengkap>, <banyakDewasa>,
<banyakAnak-anak>
dengan konfirmasi ke email [email protected] atau sms ke 063157791.

Pembayaran juga dapat dilakukan di lokasi dengan uang pas.

Terima kasih atas kerja samanya.
Kami tunggu kehadiran rekan-rekan di HBL 2012.

Salam,

deGromiest & PPIG


Eid Mubarak! Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan akhirnya tibalah Idul Fitri, hari raya terbesar umat Islam. Tahun ini mayoritas umat muslim di berbagai belahan dunia merayakan Idul Fitri di hari yang sama, yakni hari minggu, 19 Agustus 2012. Demikian pula dengan umat muslim yang tinggal di Belanda. Kami beruntung karena Idul Fitri tahun ini jatuh pada akhir pekan, sehingga kami bisa merayakannya tanpa harus mengambil cuti kerja. Di Belanda yang muslimnya minoritas, perayaan Idul Fitri tidak termasuk hari libur nasional seperti di tanah air.

Antara Idul Fitri dan Pesta Gula

Jika di Indonesia Idul Fitri dikenal dengan istilah  ‘Lebaran’, di Belanda dikenal dengan ‘Suikerfeest’. Mayoritas warga asli Belanda bahkan tidak mengenal istilah ‘Idul Fitri’. Penamaan Suikerfeest diadopsi dari perayaan Idul Fitri oleh muslim Turki yang dikenal dengan ‘Sayker bayram’ yang artinya ‘Pesta Gula’. Di namakan pesta gula karena pada saat berakhirnya Ramadhan, muslim turki selalu merayakannya dengan menyediakan berbagai jenis makanan yang serba manis. Mayoritas muslim di belanda memang berasal dari turki sehingga tidak heran jika tradisi mereka sangat dikenal di Belanda. Kebiasaan tersebut tentu saja berbeda dengan kebiasaan muslim Indonesia. Namun apapun istilah yang dipakai untuk menamakan Idul Fitri dan bagaimana pun cara merayakannya, yang terpenting adalah kita tidak kehilangan makna dari Idul Fitri itu sendiri.

Takbir bersama di hari raya

Tahun ini komunitas muslim Indonesia di kota Groningen melaksanakan sholat Ied bersama di Gedung De Holm yang berada di pusat kota. Sejak pukul 07.00 pagi rekan-rekan muslim indonesia  sudah berdatangan untuk menghadiri sholat Ied bersama. Acara diawali dengan menyuarakan tahmid, tahlil dan takbir bersama, dilanjutkan dengan Sholat Ied berjamaah yang dilaksanakan pukul 8.30. Setelah Sholat kami mendengarkan khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Siswanto, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Utrecht. Dalam khutbahnya Ustadz Siswanto menyampaikan pentingnya menerapkan semangat Ramadhan di bulan-bulan lainnya. Menurutnya, bulan Ramadhan harus meninggalkan bekas yang mendalam dalam pemaknaan ibadah kita, sehingga kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan tersebut dalam kehidupan kita di 11 bulan berikutnya. Rangkaian acara sholat Ied diakhiri dengan momen salam-salaman dan maaf-maafan antar sesama warga muslim Indonesia.

Khutbah Idul Fitri oleh Ustadz Siswanto

Ada Idul Fitri, Ada Silaturahmi

Perayaan Idul Fitri memang sangat identik dengan momen silaturahmi. Itu pulalah yang menjadi agenda kami selanjutnya. Seusai sholat Ied, kami berkumpul bersama dalam acara silaturahmi spesial lebaran yang bertempat di kediaman Mas Surahyo Sumarsono. Suasana silaturahmi berlangsung begitu hangat dan meriah. Acara dimulai sekitar pukul 14.00 dengan sambutan dari tuan rumah dilanjutkan dengan taushiyah dari Ustadz Abdul Muizz tentang indahnya silaturahmi. Dalam taushiyahnya beliau menyampaikan bahwa silaturahmi dapat memperluas pintu rezeki dan juga memanjangkan usia kita, sesuai dengan hadis Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rezeki dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan saudaranya (silaturahmi).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Acara yang paling dinantikan tentu saja adalah makan-makan. Menu utama pada silaturahmi ini adalah opor ayam dan lontong yang merupakan hidangan spesial lebaran khas Indonesia. Tak ketinggalan pula menu penutup berupa es buah, agar-agar, rujak, dan berbagai jenis kue.  Berikut ini adalah sebagian momen Idul Fitri bersama komunitas muslim Indonesia di kota Groningen yang sempat kami abadikan.

Suasana sholat idul fitri

Suasana sholat idul fitri

Sesi salam-salaman dan maaf-maafan

Sesi salam-salaman dan maaf-maafan

Silaturahmi dan makan-makan spesial lebaran

Hidangan lebaran khas indonesia

Hidangan lebaran khas indonesia

Hidangan lebaran khas indonesia

Menikmati hidangan lebaran khas indonesia

Menikmati hidangan lebaran khas indonesia

Begitulah cara kami merayakan idul fitri di Groningen, Belanda. Kami sangat bersyukur karena meskipun harus merayakan idul fitri jauh dari keluarga, tapi kami masih bisa merasakan hangatnya kebersamaan Idul Fitri di sini. Meksipun momen Ramadhan dan Idul Fitri sudah berakhir, kami berharap bahwa semangat kebersamaan dan persaudaraan ini akan tetap terjaga di hari-hari berikutnya.

Kami segenap keluarga besar muslim Indonesia Groningen mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan bathin.

Groningen, 3 Syawal 1433 H

Irfan Prabudiansyah

Photo: Surahyo Sumarsono

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/22/hangatnya-idul-fitri-dan-pesta-gula-di-belanda/


Tidak terasa Ramadhan sudah memasuki hari terakhir. Hanya dalam hitungan jam kita akan segera berpisah dengan bulan penuh berkah ini. Setiap Ramadhan selalu ada momen istimewa dan juga hikmah yang saya dapatkan. Demikian pula dengan Ramadhan kali ini. Ini adalah tahun kedua saya menjalani puasa Ramadhan di kota Groningen, sebuah kota kecil di utara Belanda. Menjalani ibadah puasa di negeri orang dan jauh dari keluarga tentunya adalah suatu tantangan besar. Apalagi dua tahun terakhir di sini, Ramadhan bertepatan dengan musim panas yang waktu siangnya lebih lama.

Ya, di sini saya harus berpuasa selama hampir 18 jam. Waktu imsak/Subuh berkisar antara jam 03.30-04.00 pagi, sedangkan waktu berbuka adalah sekitar jam 21.30 malam. Setelah berbuka saya masih harus menunggu waktu Isya untuk shalat tarawih dan baru selesai sekitar jam 12 malam. Praktis hanya ada waktu sekitar 3 jam antara Isya dan Subuh. Karena waktu malam yang singkat ini, di minggu pertama Ramadhan saya lebih sering menunggu waktu Subuh tanpa tidur dulu karena khawatir kebablasan dan telat sahur. Namun setelah memasuki minggu kedua, saya jadi lebih terbiasa untuk mengatur jam tidur.

Menjalani Ramadhan di Belanda mengajarkan kepada saya untuk lebih menghargai waktu dan juga lebih bersyukur atas keluangan waktu yang saya dapatkan selama ini. Saya pun sadar bahwa seberat apapun puasa di sini tidaklah seberapa jika dibandingkan negara-negara eropa di bagian utara, seperti Finlandia. Tahun ini saudara-saudara kita di Finlandia harus menjalankan puasanya selama hampir 20 jam dari mulai 3.30 pagi hingga pukul 11.30 malam. Mudah-mudahan muslim di sana diberikan kekuatan untuk bisa menjalani Ramadhan dengan sempurna.

Tetap Bertahan di Tengah Godaan

Bagi teman-teman saya yang baru pertama kali menjalani Ramadhan di Belanda atau negara eropa lainnya tentu tidaklah mudah. Bukan hanya karena harus menahan lapar dan haus lebih lama, tetapi juga karena lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Jangan bayangkan atmosfir Ramadhan di sini sama seperti di Indonesia. Di sini tidak ada suara adzhan magrib yang bersahutan di mesjid-mesjid. Tidak  ada lantunan tadarus lewat pengeras suara saat menjelang berbuka. Tidak ada lagi suara teriakan atau suara pentungan yang membangunkan orang untuk sahur.

Di Belanda yang muslimnya minoritas, banyak sekali tantangan dan godaan selama puasa yang menuntut kita untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Rumah makan tetap buka di siang hari, orang–orang tetap makan dan minum seperti biasa. Banyak dari mereka bahkan tidak tahu dan tidak peduli jika kita sedang berpuasa. Tantangan lain puasa di musim panas terutama bagi para pria adalah bertebarannya kaum wanita dengan pakaian yang sangat ‘terbuka’ baik itu di jalan-jalan ataupun di tempat bekerja. Saya pun harus lebih bisa menjaga hati dan pandangan agar godaan tersebut tidak membatalkan atau mengurangi pahala puasa.

Menemukan Keluarga Kedua

Di tengah beratnya ujian puasa di Groningen, saya bersyukur karena saya tidak menjalaninya sendirian. Muslim yang tinggal di sini cukup banyak, mayoritas berasal dari Turki, Maroko, Pakistan, dan Arab Saudi yang jumlahnya lebih dari 400 orang. Muslim dari Indonesia sendiri ada sekitar 100 orang. Komunitas muslim Indonesia di Groningen di kenal dengan nama deGromiest (de Groningen Indonesian Moslem Society). Komunitas muslim yang didirikan tahun 2001 ini terdiri dari para mahasiswa, pekerja, dan juga muslim Indonesia yang sudah lama menetap di Groningen.

Bersama dengan deGromiest saya merasakan kekeluargaan dan kehangatan yang luar biasa. Di luar kegiatan kantor saya bisa berkumpul, berinteraksi, belajar, serta berbagi ilmu dan pengalaman bersama mereka. Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang membuat saya merasa tidak sendiri menjalani Ramadhan di sini. Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa Degromiest adalah keluarga kedua bagi saya. Keluarga yang selalu mengingatkan ketika saya lalai dan lupa. Keluarga yang selalu memberikan semangat saat sedang ditimpa kesulitan. Keluarga yang mengajarkan untuk senantiasa istiqomah dan berpegang teguh dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim meski tinggal di negeri yang muslimnya minoritas.

Keluarga deGromiest Belanda

Keluarga deGromiest Belanda

Menghidupkan Suasana Ramadhan

Untuk menciptakan atmosfir Ramadhan yang kondusif, deGromiest mengadakan berbagai kegiatan spesial bulan Ramadhan yang diberi nama Gebyar Ramadhan Groningen. Koordinator Kegiatan Ramadhan deGromiest, Habiburrahman Zulfikri, mengatakan bahwa diharapkan dengan kegiatan ini selain bisa menghidupkan suasana Ramadhan juga bisa meningkatkan ukhuwah antar sesama muslim yang tinggal di Groningen.

Salah satu kegiatan rutin deGromiest adalah tadarus atau membaca Alquran bersama yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan tadarus ini dilaksanakan di rumah rekan-rekan muslim Indonesia secara bergiliran. Acara tadarus dimulai pukul 19.30 hingga menjelang berbuka, dilanjutkan dengan buka bersama dan sholat magrib berjamaah. Makanan untuk berbuka puasa juga disiapkan secara bergiliran oleh tuan rumah. Kebersamaan tadarus dan berbuka puasa ini juga turut diramaikan oleh beberapa rekan muslim yang berasal negara lain, seperti Mauritania dan Maroko.

Tadarus bersama menjelang berbuka puasa

Kegiatan rutin deGromiest lainnya adalah silaturahmi mingguan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sore selama bulan Ramadhan. Acara diawali dengan ceramah atau taushiyah, dilanjutkan dengan obrolan santai, lalu diakhiri dengan buka puasa bersama dan sholat magrib berjamaah. Hampir setiap minggunya silaturahmi ini dihadiri oleh sekitar 50 muslim Indonesia. Momen silaturahmi ini adalah yang paling saya tunggu-tunggu, karena selain bisa berkumpul dengan teman-teman Indonesia lainnya, saya  juga bisa  menikmati makanan khas Indonesia. Berbagai menu khas Indonesia yang disediakan saat silaturahmi ini memang sangat beragam dari mulai menu untuk ta’jil seperti kolak, es buah, bakwan, lumpia, molen, lemper, dan berbagai jenis kue. Tidak ketinggalan pula makanan berat khas Indonesia seperti soto, sop daging, opor ayam, rendang, tahu, tempe, dan lainnya. Suasana silaturahmi selalu berlangsung hangat dan meriah. Sesaat saya merasa seperti sedang berada di Indonesia. Ini adalah salah berkah Ramadan yang luar biasa.

Silaturahmi dan buka bersama deGromiest

Menu buka puasa khas Indonesia

Tim konsumsi yang sedang menyiapkan hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Selain mengadakan silaturahmi, selama bulan Ramadhan ini degromiest juga bekerja sama dengan komunitas Radio Pengajian. Radio Pengajian adalah radio Islam online yang dikhususkan untuk Muslim Indonesia yang berada di berbagai penjuru dunia. Radio ini dapat didengarkan melalui situs http://radiopengajian.com/.  Salah satu materi pengajian online yang paling ditunggu di bulan Ramadhan ini adalah sharing pengalaman tentang berpuasa dari teman-teman muslim di berbagai negara.

Memasuki akhir bulan Ramadhan deGromiest dan Galiro (Gerakan Lima Euro) mengkoordinir dan melayani pembayaran zakat firah, zakat mal, fidyah, dan infaq Ramadhan. Seluruh zakat dan infaq yang terkumpul dikirimkan ke Rumah Zakat Indonesia (http://rumahzakat.org) untuk disalurkan kepada para penerima zakat/mustahiq di tanah air. Alhamdulillah, berkat adanya program zakat ini, saya dan teman-teman di sini bisa membayar zakat dan berbagi kepada saudara-saudara kita di tanah air.

Bulan Ramadhan ini juga menjadi momen untuk menjalin silaturahmi dengan muslim yang berasal dari negara lain. Di saat tidak ada kegiatan tadarus, rekan-rekan deGromiest biasanya melaksanakan buka puasa bersama di mesjid. Mesjid yang paling sering dikunjungi adalah mesjid Maroko. Setiap hari selama Ramadhan di mesjid ini disediakan ta’jil dan juga makanan berat untuk berbuka puasa . Buka puasa di sini biasanya diawali dengan kurma dan air putih, lalu sholat magrib berjamaah, dilanjutkan dengan makanan berat yang terdiri dari sup daging, roti, dan menu khas Maroko dengan porsi yang sangat besar. Yang unik dari buka puasa di mesjid Maroko ini adalah dari cara makannya. Semua hidangan disediakan dalam satu piring besar dan di makan secara bersama-sama oleh 4-5 orang. Mungkin cara ini dilakukan untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan saat berbuka.

Itulah sedikit gambaran mengenai suasana Ramadhan di Groningen. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil di sini. Menjalankan puasa Ramadhan jauh dari keluarga dan saudara mengajarkan saya tentang arti kebersamaan dan indahnya persaudaraan. Saya merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan saudara-saudara muslim di sini yang begitu hangat dan bersahabat. Saya berharap kebersamaan di bulan Ramadhan ini juga bisa saya rasakan di bulan-bulan lainnya.  Benar sekali apa yang disampaikan oleh Rasullulah SAW dalam haditsnya:

Seandainya saja umatku tahu tentang keutamaan dan kelebihan Bulan Ramadhan, maka mereka akan menginginkan Ramadhan sepanjang tahun (Hadits).

Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan bagi saya dan kita semua untuk bertemu kembali dengan Ramadhan serta merasakan keberkahannya.

Groningen, 29 Ramadhan 1433 H

Irfan Prabudiansyah

Photo: Miftahul Ilmi

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/18/ramadhan-ala-indonesia-di-belanda/


Assalamuálaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Rekan-rekan keluarga besar deGromiest,

Alhamdulillah, sayembara Logo deGromiest 2012 telah sukses dilaksanakan dengan 8 Usul Logo (UsLo) yang sangat kreatif, menarik dan membuka wawasan.
Terdapat dua kategori pemenang pada sayembara logo ini yakni Logo Favorit pilihan warga deGromiest dan logo pilihan juri. Penentuan logo favorit dilakukan lewat voting oleh warga deGromiest melalui mailing list. Sedangkan penentuan logo pilihan juri ditentukan oleh dewan juri yang terdiri dari tim formatur deGromiest 2012 dan beberapa anggota deGromiest yang ditunjuk oleh tim formatur.
Dari hasil pemungutan suara yang dilakukan dari tanggal 1-18 Juni 2012 dengan total 47 suara, diperoleh hasil sebagai berikut:

Berdasarkan hasil rekapitulasi suara, UsLo D unggul dengan 27 suara. Oleh karena itu, Logo Favorit dimenangkan oleh UsLo D (Muhammad Iqbal).


Logo D sebagai logo Favorit

Logo pilihan juri ditentukan oleh rapat dewan juri yang dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 19 Juni 2012, bertempat di Duindoornstraat 239. Juri terdiri dari 5 orang yakni:
  1. Udhi Eko Hernawan (UEH)
  2. Rizqiya Astri Hapsari (RAH)
  3. M. Yusuf Abduh (MYA)
  4. Irfan Prabudiansyah (IP)
  5. Habiburrahman (HR)

Penilaian dilakukan berdasarkan kreativitas, orisinilitas, dan pesan yang ingin disampaikan. Juri memilih 3 logo untuk juara 1,2, dan 3. Pemilihan Juara 1, 2, dan 3 dilakukan berdasarkan 3 aspek; logo, deskripsi, dan jumlah suara dengan masing-masing aspek mempunyai bobot yang sama. Untuk setiap aspek, nilai minimal adalah 0 dan nilai maksimal adalah 1. Tiga UsLo terbaik pilihan juri adalah UsLo B, D dan H dengan nilai sebagai berikut:

Oleh karena itu ditetapkan bahwa:

Juara 1: UsLo D oleh Muhammad Iqbal

Juara 2: UsLo B oleh Edy Suharto

Juara 3: UsLo H oleh M.A. Setiawan


3 Logo pilihan juri: Logo B, logo D, dan logo H

Demikian hasil dari sayembra logo deGromiest 2012. Berdasarkan hasil rapat Tim Juri dan masukan dari warga deGromiest yang disampaikan kepada pihak panitia, dengan ini, Panitia Sayembara Logo deGromiest 2012 berkesimpulan:
  1. Warga deGromiest setuju bahwa deGromiest mempunyai logo yang bisa menjadi representasi dari keluarga Muslim Indonesia di Groningen.
  2. Logo deGromiest harus mempertimbangkan masukan dari warga deGromiest dan merupakan pengejawantahan semanagat perkumpulan yang disepakati mayoritas anggotanya.

Panitia juga merekomendasikan hal yang berikut:

  1. Logo pilihan juri (Juara 1-3) agar dipertimbangkan oleh Pengurus deGromiest 2012 untuk dijadikan logo resmi deGromiest 2012.
  2. Logo pilihan juri (Juara 1-3) masih harus dimatangkan sesuai dengn usul dan masukan dari warga deGromiest.
  3. Perlu dibentuk Satuan Tugas untuk mematangkan logo pilihan juri dengan berbagai pertimbangan sebelum mengusulkan satu logo untuk disepakati oleh warga degromiest.

Panitia ingin mengucapkan terima kasih atas partisipasi, komentar, kritik dan masukan dari teman-teman warga deGromiest.

Salam,
Panitia Sayembara Logo deGromiest 2012.


Komunitas muslim indonesia di Groningen, Belanda (deGromiest) hari kamis, 17 Mei lalu, mengadakan acara silaturahmi muslim dan tabligh akbar dengan menghadirkan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai penceramah. Bertempat di Gedung Treslinghuis, Groningen, acara ini dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta yang mayoritas adalah pelajar Indonesia yang tinggal di kota Groningen.

Setiap bulannya deGromiest memang selalu mengadakan acara silaturahmi dengan tujuan untuk mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan di antara masyarakat muslim Indonesia di Groningen. Kehadiran Aa Gym dalam silaturahmi kali ini ternyata juga mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia dari berbagai kota lain di Belanda untuk datang bersilaturahmi. Di antaranya adalah pelajar dan ibu-ibu pengajian dari Rotterdam, Enschede, Nijmegen, dan Amsterdam.

Suasana silaturahmi berlangsung dengan hangat dan meriah. Para peserta dijamu dengan santapan berupa hidangan khas Indonesia dan tentu saja semakin lengkap dengan santapan rohani berupa ceramah dari Aa Gym. Dalam ceramahnya Aa Gym menyampaikan tentang pentingnya memahami tauhid yang merupakan fundamental bagi seorang muslim. Gaya ceramahnya yang santai dan diselingi oleh humor membuat pada peserta begitu terhibur dan antusias.  Beliau menyatakan bahwa muslim yang benar-benar memahami tauhid pasti akan selalu optimis dalam mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya. “Semua masalah yang kita hadapi terasa berat dan tak ada jalan keluarnya karena kita selalu berusaha memecahkannya dengan cara kita sendiri tanpa pernah melibatkan Allah di dalamnya. Tapi jika kita melibatkan Allah tak akan ada yang berat. Maka serahkanlah masalah itu kepada Yang Punya kehidupan”, kata Aa Gym.

Dalam sesi tanya jawab Aa Gym menyampaikan tips kepada para peserta tentang bagaimana agar tetap berpegang teguh kepada Islam meski tinggal di negara yang muslimnya minoritas seperti belanda. Di penghujung ceramah, Aa Gym menutup dengan muhasabah dan doa.

Kunjungan Aa Gym ke Belanda ini merupakan salah satu dari rangkaian agenda ceramah beliau di Eropa selama bulan Mei ini. Selain ke Belanda beliau juga berkunjung ke negara lain di antaranya Belgia dan Jerman. Rangkaian kegiatan Aa Gym ini terselenggara berkat kerja sama dengan Persatuan Pemuda Muslim eropa (PPME) yang merupakan wadah silaturahmi bagi seuruh masyarakat Muslim Indonesia yang tinggal di Eropa.

Berikut adalah sebagian foto acara silaturahmi bersama Aa Gym di Groningen, Belanda.

Groningen, 24 Mei 2012

Irfan Prabudiansyah

Foto:  Surahyo Sumarsono dan Arief Matbolor Setiawan


Friday, 23 September 2011, the warm indonesian atmosphere was covering the city of groningen, Netherlands. All of the Indonesian people there came and gather together to attend the so called ‘Halal bihalal’ event. Halal bi halal is social gatherings and is part of Eid ul Fitr (suikerfeest) celebration. Do you know why it’s called Halal bi Halal? Well, the word ‘halal’ is Arabic which literally means ‘acceptable’. Halal bi halal itself means ‘to accept’ or ‘to forgive each other’. Interestingly, even though the word is Arabic, the term of ‘halal bi halal’ is only used in Indonesia.

The Halal bihalal event in groningen was organized by de Groningen Moslem Society (degromiest) and Indonesian student association in Groningen (PPIG). This event was held at the main hall of floreshuis building, in the northern of groningen. As the main theme of this event was ‘Back to Indonesia’, the hall and corridor are decorated in indonesian style. More than 200 people attended this event, they are indonesian moslem communities, indonesian students, and some special guests from Indonessian embassy, also dutch and turkish colleagues.

It started roughly at 6 pm with an opening act, the saman dance performance from Indonesian students. Right after that the MC officially opened the event, followed by an opening speech from the chairman comitee of Halal bihalal and from the chairman of Indonesian student association.

The main event started at 7 pm with the lecture/tausiyah from Ustadz Agus Purwanto. In his speech he said that it is important to show our gratitude to God for his blessing in our life. He also remind us to always get along well with others and keep our ukhuwah (brotherhood).  At 8 pm, all people had dinner together with various Indonesian food: sate, rendang,  opor ayam, lontong, etc. During dinner, people were entertained by dancing and singing performances. The night became more lively with the wonderful operet performance from indonesian students. The event was ended by ‘Silaturahmi or maaf-maafan session’ where all people shake hands and ask each other for forgiveness.

Here are a few moments of the Halal bihalal event in Groningen (thanks to Mas Surahyo Sumarsono for the great pictures)

Halal bihalal event in Floreshuis Hall

Opening act, Saman dance performance

Lecture/tausiyah from Ustadz Agus Purwanto

Singing performance from indonesian students

People were also entertained by traditional dance performance

The wonderfull operet performance

Perfect dinner with delicious Indonesian food

The audiences of Halal bihalal event

The  event was ended by  ’silaturahmi session’

That was a great night for all of us, we really enjoyed it. Thanks to all who contributed to this Halal bihalal event.

Groningen, 30 September 2011

Irfan Prabudiansyah

Foto:  Surahyo Sumarsono