Archives for August, 2009

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 10 Ramadhan 1430 H

Oleh: Eka Amhalia

Beberapa waktu lalu saya singgah di website salah seorang kawan lama. Di salah satu artikelnya kawan saya bercerita betapa cinta sebenarnya adalah sebuah pekerjaan berat yang hanya mampu diemban oleh orang-orang kuat. Tulisan kawan saya itu menggugah perasaan dan logika berpikir saya. Saya pun terus membaca artikel kawan saya itu sampai akhir. Lewat tulisannya itu kawan saya berpendapat bahwa ketika kita mencintai seseorang maka seharusnya cinta tidak hanya melibatkan emosi sebagai salah satu bagian dari eksisitensi cinta itu sendiri, tetapi bagaimanapun juga, seharusnya ketika dua orang saling mencintai maka mereka harus dapat mensinergikan cintanya tersebut menjadi sebuah kekuatan untuk mencintai sesuatu yang lebih besar yakni cinta kepada Illahi dan Rasulullah SAW, selain itu cinta pun selayaknya mampu mendewasakan akal dua orang yang saling mencintai, saling membiarkan keduanya berkembang ke arah yang lebih baik, saling menguatkan dan menyempurnakan bentuk keduanya, saling mengikhlaskan satu sama lain, dan cinta pun selayaknya menghimpun para pecintanya di dalam sebuah madrasah cinta: saling belajar dan memberi pelajaran, saling mengayomi dan mengembangkan. Hmmm…saya sempat tertegun dan berpikir bahwa benar cinta memang bukan pekerjaan yang mudah dilakukan.

Cinta bagi saya pribadi memang merupakan subjek yang selalu menarik untuk saya bagi, saya ceritakan, dan saya diskusikan dengan orang-orang di sekeliling saya. Sangat menarik ketika saya mengetahui bagaimana orang-orang di sekeliling saya menilai dan menimbang cinta. Bagaimana ketika seorang teman saya, katakanlah mas X menolak bercerita lebih jauh tentang cinta karena baginya cinta itu tak ada, yang ada hanya kesempatan untuk senantiasa berbagi dan berbuat baik pada sesama. Lalu bagaimana cinta mas pada orang tua, atau keluarga dan teman-teman? tanya saya. Mas X pun berkata itu cinta yang lain. Lalu saya pun berkata pada diri saya sendiri bukankah cinta adalah sebuah integritas? Sebagai seorang muslim saya percaya bahwa cinta adalah sebuah fitrah yang diberikan Illahi kepada setiap manusia yang kemudian terdefragmentasikan menjadi cinta kepada Illahi Rab yang porsinya terbesar, cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, cinta kepada orang tua dan keluarga dan tentunya yang tidak dapat dipungkiri adalah cinta dan kesukaan terhadap lawan jenis. Hanya saja seringkali para pencinta seringkali menjabarkan cinta yang terakhir saya sebutkan lebih kepada perasaan atau emosi yang meluap-luap sehingga seringkali mengabaikan komponen cinta lainnya yang seharusnya senantiasa dijaga keseimbangannya. Ketika misalnya kita mencintai pasangan hidup kita seringkali kita juga kehilangan komposisi diri kita, atas nama cinta kita seringkali meleburkan kepribadian kita untuk misalnya menyenangkan hati orang yang kita cintai. Yep..cinta memang selayaknya membuat para pecintanya bergerak ke arah yang lebih baik, namun tidak berarti membinasakan karakter pribadi yang telah terpupuk. Cinta pun selayaknya bisa membuat para pecintanya saling memberikan kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik, namun tak jarang karena merasa saling memiliki kita pun seringkali mengikat pasangan hidup kita sehingga menyulitkannya untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna dan yang lebih membuat saya prihatin atas nama cinta pun seringkali kekerasan fisik maupun mental tak jarang kita lakukan.

Lalu saya masih ingat pendapat seorang sahabat saya mas Y katakanlah. Cinta itu kalau kita ibaratkan seperti lingkaran yang terbagi-bagi (saya lalu mengasosiasikan lingkaran itu dengan lingkaran yang sering saya lihat pada paparan statistika). Kenapa lingkaran? karena itulah bentuk yang tak pernah berakhir..karena seperti itulah cinta. Proporsi terbesar adalah cinta untuk Allah, kemudian cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, lalu cinta pada keluarga, cinta pada sahabat dan lingkungan dan yang terakhir tentunya cinta pada pasangan hidup kita. Nah jika salah satu cinta, misalnya cinta pada pasangan, porsinya membesar maka konsekwensinya cinta pada komponen lain pun akan berkurang..Nah kewajiban kita adalah menjaga kesemuanya tetap menjadi seimbang Ka, karena semua komponen itu adalah sebuah kesatuan. Paparan yang sangat rasional sekaligus bijaksana mas:-)

Lalu saya juga teringat mas Z, kawan lama saya..Cinta itu ternyata kata kerja Ka dan aku baru menyadarinya sekarang ketika aku mengalami sendiri pasang surut dalam kehidupan cintaku. Kamu tau kan bagaimana ceritaku? Ketika cinta itu habis dan kebencian merasukiku manakala kekasihku mengabaikan aku, ternyata hal terbaik yang bisa akau lakukan adalah dengan memberikan cinta itu sendiri..hmmmm, rumusan yang cukup sulit saya mengerti, tapi toh cukup bijaksana.

Saya pun ingat teman karib saya ketika menuntut ilmu di Belanda. Sebagai sesama orang Asia, kami cukup bisa memahami satu sama lain. Mba A, katakanlah begitu, mengatakan: Cinta itu kompleks Ka. Terlalu sulit untuk kita pahami, tapi toh ketika kamu menjalaninya kamu pasti akan semakin bersyukur. Sebelumnya saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana mungkin saya bisa menikah dengan suami saya sekarang. We’re totally different, berbeda kebangsaan dan juga tempat tinggal. Tapi toh nyatanya, setelah melewati masa yang sulit kami bisa menyatukan cinta kami.hmmm…

Teman saya yang lainnya, Mba B, misalnya berkata pada saya “…turbulensi waktu pasti suatu waktu akan membawamu pada seseorang yang tepat Ka…kepada seseorang yang memang menjadi setengah bagian darimu. Percayalah someday you’ll find him”
Insyaallah Mba…:-)

Dan seorang kawan saya yang lainnya juga bercerita bahwa laki-laki dan perempuan sebenarnya dulu adalah sebuah kesatuan bulat yang diibaratkan sebagai bola bumi yang kemudian karena tekanan tata surya akhirnya terbagi dua..nah melalui revolusi waktu, ke dua bentuk yang terpisah ini pun mencari bentuknya yang lain. Nah ketika dia bisa menemukan separuh dirinya yang lain, maka mereka pun menjadi satu kesatuan utuh seperti semula…seperti itulah cinta menyatukan manusia.

Hmm..cinta..cintaa…


deGromiest Online

Filed under Audio, Dokumentasi

Topik: Ramadhan Terbaikku
Nara Sumber: Pak Agus
Waktu: Minggu 30 Agustus 2009, 20.00 CET

dG online 30082009


Assalamu’ alaikum wr wb,

Berikut jepretan foto yang diambil pada hari sabtu yang bahagia menyambut Ramadhan hari pertama.

 

 

 

 

 

 

Selengkapnya bisa dilirik di link berikut:

http://degromiest.multiply.com/photos/album/43/Dokumentasi_Buka_Bersama_DeG_220809_

 

Wassalam,

Moderator deG


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 9 Ramadhan 1430 H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Soekarno adalah bung Karno, salah satu bapak proklamator bangsa Indonesia. Thariq bin Ziyad adalah pemimpin pasukan Islam, penakluk Andalusia, Spanyol. Agung dalam cerita ini imajiner; tokoh bangsa Indonesia di medio awal abad 21, seorang mahasiswa Indonesia di kota Groningen tahun 2009.

Mereka berjumpa dalam suatu kesempatan.

Soekarno (S): Assalaamualaikum pak Thoriq. Tak dapat kesempatan berpuasa lagi kita, sudah puluhan tahun nampaknya.

Thoriq bin Ziyad (T): Waalaikum salam Bung. Situ baru puluhan tahun, saya sudah 15 abad.

S: Betul Pak, memang jaman ini bukan jaman kita lagi. Tak terbilang beda suasananya. Ah, apa kabar bangsaku sekarang? Saya rindu dengan dengan tegur sapanya, dengan ta’jilan Ramadhannya, dengan halal bihalalnya. Saya kira di tempatnya pak Thoriq ga ada tuh halal bilalal.

T: Memang tidak ada di tanah kami. Halal bihalal kan tradisi bangsa sampeyan, budaya bangsa yang mesti dijaga tuh.. Eits, sekarang bukan waktunya marah Bung, bulan Ramadhan nih.

S: Nah, itulah. Eh, mas Agung diem aja ga ikut ngobrol nih. Crita-critalah kabar sekarang. Ato jangan-jangan lagi lemes gara-gara puasa?

Agung (A): Bung, kami di Groningen puasanya panjang sekarang. Sahur pukul setengah lima, buka setengan sembilan lebih. Maklumlah, di sini sedang musim panas. Nyaman sekali puasa di kampung kita di sana.

T: Mas, justru itulah tantangannya. Dengan begitu kawan-kawan mas Agung bisa dapat kesempatan dapat pahala yang banyak. Lebih-lebih kalau sambil puasa, ada pula capaian lain berujud produktivitas.

S: Di Groningen musim panas ya? Ya ya, memang tidak ada musim panas di negeriku dan mas Agung, walaupun tiap hari serasa musim panas. Tapi betul kata pak Thoriq, toh dengan kondisi panas itu, kita tidak terhalang untuk produktif di bulan puasa. Mas Agung mungkin tahu, proklamasi kemerdekaan bangsa kita terjadi di bulan Ramadhan? Ah, jadi ingin mengenang kembali masa-masa itu. Rumitnya menyusun naskah proklamasi, semalam suntuk kita rapat. Anak-anak muda seusia mas Agung itulah.. energi mereka besar sekali. Tapi alhamdulillah, bersama pak Hatta, kita berhasil merumuskan naskah yang memuaskan semuanya.

Jadi ingat, setelah itu, kami sahur sendiri-sendiri di rumah Laksamana Maeda. Pak Hatta mojok di dapur tuh (hihi..).

A: Oh iya, saat itu Ramadhan terjadi bulan Agustus ya. Hm.. tahun ini Ramadhan kita tidak nabrak tanggal 17 Bung, tahun depan baru kena puasa tanggal 17 Agustus. Tapi untungnya, kita jadi bisa bazar-bazar dan makan-makan tanggal 17 itu.

T: Bung Karno, betul tadi kata Bung, tak terhitung lagi bedanya sekarang dengan jaman kita. Bung mungkin rindu dengan sapaan “Merdeka!”, sekarang sapaan itu ga jaman lagi. No offense ya Bung.

Mas Agung sudah ke mana saja selama di Eropa? Sudah mengunjungi Spanyol-kah? Di sana banyak sekali peninggalan jaman keemasan Islam. Mas Agung tahu tidak ya, kami dulu memasuki Andalusia di Spanyol itu di bulan Ramadhan juga. Jadi ingin nostalgia juga. Masih segar di memori bagaimana kami dulu membakar kapal agar tidak ada yang ingin lari mundur. Semangat menggelora, ditambah pasokan kekuatan ruhani akibat ibadah bulan Ramadhan. Hasilnya, Islam berkembang cukup pesat juga di sana. Masjid al-Hambra di Granada saksinya. Sedih sekali rasanya, masa itu tinggal sejarah saja. Al-Hambra dan masjid Cordoba hanya menjadi situs wisata.

A: Saya memang belum berkunjung ke sana, pak Thoriq, dan saya juga belum membuat prestasi seperti bung Karno di tahun 1945.

S: Jangan salah, Mas. Prestasi itu bukan hanya memproklamasikan kemerdekaan, atau menaklukkan suatu negeri seperti yang dilakukan Pak Thoriq. Achievement kata orang, tahu kan? Itu tidak harus spektakuler dan dalam skala besar. Bukan.. Saya kira saya dan pak Thoriq sejalan pikirannya. Cerita kami adalah untuk menegaskan, Ramadhan bukan masa untuk banyak membuat pembenaran buat bermalas-malas. Semangatlah, banyak capaian bisa dilakukan. Mas Agung kan mahasiswa, buatlah target capaian akademik tertentu di bulan Ramadhan ini. Rasanya, capaian dalam level apapun patut diberi penghargaan.

T: Sepakat lagi, Bung. Satu lagi poin saya. Kisah kemenangan kami maupun proklamasi yang dibacakan bung Karno di bulan Ramadhan itu sering cuma jadi bumbu pengantar menjelang Ramadhan. Dibaca dan diposting ulang di milis-milisnya mas Agung itu tiap bulan Ramadhan datang. Lalu banyak yang berbangga dengan capaian yang bukan prestasi mereka itu. Pepatah bangsa kami mengatakan, bukan pemuda namanya kalau cuma bisa bilang, “ini bapakku”, tapi pemuda itu yang mengatakan, “itu lho aku”. Mas Agung ngerti maksud saya kan?

A: Saya paham, pak Thoriq. Saya kira, kisah Bapak dan bung Karno itu bukan diceritakan untuk berbangga-bangga koq. Yah, mungkin ada yang begitu, tapi tidak banyak. Rasanya, tujuannya seperti kata bung Karno tadi, itu untuk memotivasi kita semua. Kawan-kawan saya sepikiran semuanya, saya kira. Kami pun bisa membuat prestasi di bulan ini. Hehe.. seperti lagunya AFI Junior,”Aku bisa.. aku pasti bisa..” Tapi pak Thoriq dan bung Karno pasti ga kenal dengan mereka.

T: Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu kita tunggu prestasinya.

A: Terima kasih Pak, atas obrolannya yang berkualitas.

S: Ya, selamat berpuasa jika begitu. Mohon maaf lahir dan batin.

*Judul serupa ini diinpirasi oleh salah satu tulisan Ust. Rahmat Abdullah (almarhum), dimuat di majalah Tarbawi, long time ago.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 8 Ramadhan 1430 H

Oleh: Sri Aktaviyani

Sering kali hati kecilku berkata, mengapa doa-doaku tak kunjung dikabulkan. Tak sabar rasanya hati menanti jawaban atas doa-doa yang selama ini sudah kumunajatkan. Walaupun terkadang,munajat itu dilantunkan diakhir sholat-sholatku yang masih jauh dari khusyu’. 

Aku juga sering berpikir, bukankan Allah Maha Mengetahui bahwa ruhaniku yang ringkih ini, sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani semua ujian kehidupan yang Ia Berikan. Bukankah Allah tidak akan menguji selain sesuaidengan kemampuanhamba-Nya? (QS Al Baqarah : 286). Ya Rabb.. apakah ini yg namanya tergesa-gesa, berharap agar do’a dikabulkan? Atau ini merupakan bentuk prasangka burukku kepada-Mu wahai pencipta alam semesta raya? Na’udzubillahimin dzalik…

Tapi, mengapa hingga saat ini masih belum ada jawabannya? Skenario indah seperti apa yang sebenarnya tengah Engkau rencanakan untuk hidupku,Ya Rabb..? Bukankah semua hal itu mudah bagi-Mu, apalagi hanya sekedar mengabulkan do’aku yang tidakada apa-apanya jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta ciptaan-Mu?

Sejenak aku teringat kisah Nabi Nuh a.s. (QS Nuh). Seorang manusia sholih yang diutus Allah untuk menyampaikan risalahnya di muka bumi ini. Beliau berdakwah kepada kaumnya siang dan malam, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan. Namun, apa hasilnya? Kaumnya malah berlari meninggalkannya dan menutup telinga dengan pakaian mereka, agar tidak mendengarkan apa yang diucapkannya. Setelah 950 tahun berusaha dan terus berdo’a, barulah pertolongan Allah itu datang. Dengan cara mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan seluruh kaum kafir saat itu, dan hanya menyisakan  orang-orang yang beriman dengan jumlah yang tidak lebih dari 100 orang.

Aku berpikir, ternyata pertolongan Allah datang kepada seorang manusia sholih seperti Nuh, setelah beliau menanti hingga 950 tahun, yang sama sekali bukanlah waktu yang singkat. Bentuk pertolongan yang Allah berikan pun bukan dengan menyadarkan orang-orang yang selama ini membangkang, namun Allah punya cara-Nya sendiri. Yaitu dengan memusnahkan para pembangkang itu, dan hanya menyisakan orang-orang yang beriman..

Lain lagi kisahnya nabi Ayyub a.s. Beliau diberi Allah ujian berupa penyakit borok yang tumbuh di sekujur tubuhnya dan mengeluarkan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Akibatnya, istri dan anak-anaknya pun  pergi meninggalkan beliau dalam kondisi sakit parah. Setelah menanti selama delapan tahun, barulah Allah mengabulkan do’a nabi Ayyub dengen memberikan kesembuhan pada penyakitnya, dan mengembalikan keluarganya (QS AlAnbiya’ :83-84). Hmm… delapan tahun, bukanlah waktu yang singkat juga..

Ibrahim a.s. sang khalilullah (kekasih Allah) pun mengalami ujian yang sangat panjang. Telah lama beliau berharap untuk mendapatkan keturunan. Hingga pada saat berusia 90 tahun, Allah memberikan kabar gembira melalui malaikat Jibril, bahwa istrinya Sarah akan mengandung. Sarah pun berkata”bagaimana mungkin aku seorang wanita tua lagi mandul dapat mempunyai seorang anak?” (QS Adz dzariyat : 24-30). Sungguh tidak ada yang sulit bagi Allah jika ingin mengabulkan do’a hamba-Nya. Setelah puluhan tahun menanti, ternyata Allah mengaruniakan kepada Ibrahim keturunan, yang bukansembarang keturunan. Allah menjadikan keturunan nabi Ibrahim menjadi para Nabi, yaitu Ishaq dan isma’il, yang masing-masingnya juga menjadi ayah dari para nabi. Dari Nabi Ishaq lahirlah ya’kub a.s, Yusuf a.s dan seterusnya hingga Isa a.s. Sedangkan Ismail a.s. merupakan asal usul keturunan nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim diberi gelar Abul Anbiya (bapak para nabi).

Subhanallah.. batinku berkata. Orang-orang shaleh bergelar rasulullah –yang tentunya sangat dicintai Allah- seperti mereka saja butuh waktu yang panjang untuk menempuh ujian dan butuh waktu yang lama menanti terkabulnya do’amereka. Lalu apakah pantas aku seorang yang tidak adaapa-apanya dibandingkan mereka mengeluh, dan berkata mengapa do’aku belum kunjung diijabah, mengapa ujian yang kuhadapi ini tak kunjung usai. Padahal, Allah tidak akan mungkin memberikan ujian kepadaku lebih berat dari ujian yang diberikan kepada para Rasul. Karena Rasulullah pernah bersabda, bahwa ujian yang paling berat itu diberikan kepada para Rasul, kemudian, kepada para tabi’in, dan kemudian kepada orang yang semisalnya.

Jika berkaca diri, dibandingkan dengan “orang yang semisalnya” pun aku masih jauh kualitasnnya. Berarti ujian yang aku hadapi pun tentu kualitasnya jauh lebih rendah dari mereka. Ya Allah, rasanya terlalu cepat bagiku untuk berkata bahwa do’aku tak  kunjung dikabulkan dan ujian yang kuhadapi terlalu panjang.

Jika menengok ke belakang, ternyata banyak sekali do’a-do’aku yang selama ini sudah dikabulkan oleh Allah. Terkadang sekedar harapan lepas pun Allah kabulkan. Satu hal lagi Ya Rabb.. Engkau mengabulkan do’aku dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang aku  minta dan dari jalan yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Ya Allah.. engkau memang lebih tau apa yang terbaik untukku. Dan Engkau juga lebih tau, kapan saat yang tepat untuk mengabulkan do’a-do’aku.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 7 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Pada suatu ketika Ono bercerita kepada teman ceweknya, Wati, bahwa dia sedang jatuh cinta.

“Wati, aku mendapatkan sebuah pengalaman luar biasa” Ono bercerita kepada Wati.
“Apa?” Tanya Wati.
“Jum’at malam kemarin aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Aku diperbolehkan untuk berkunjung ke rumahnya.” Jawab Ono. 
“Ngapain aja kalian?” Tanya Wati ingin tahu.
“Kita ngobrol, becanda, makan bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing.” Ono jawab.
“Siapa yang masak, trus apa yang dimasak?” Wati ingin tahu lebih jauh.
“Aku yang masak makanan utama, dia yang bikin salad Yunani.” Jawab Ono tanpa rincian lebih jauh lagi apa yang dimasak olehnya.
“Apa yang luar biasa dari acara masak-memasak itu?” Wati heran karena acaranya ternyata hanya masak-memasak.
“Perasaanku seakan mengawang-awang, aku seakan berada di dunia lain ketika aku bersamanya. Dunia yang penuh dengan keindahan. Perasaan ini tak aku rasakan jika aku bersama wanita lain.” Jawab Ono simpel.
Lalu Ono melanjutkan ceritanya.
“Setelah selesai makan, lalu kita saling bertukar lagu, aku yang pertama kali memainkan gitar sambil bernyanyi, aku mainkan lagu kesayanganku yang sempat aku pelajari ketika aku SMP. Setelah aku selesai bernyanyi, dia bilang dia suka laguku. Lalu aku pun berikan gitar kepadanya, aku bilang kepadanya, sekarang giliranmu. Kemudian dia pun mulai menyanyikan lagunya. Ketika gadis tersebut mulai memainkan gitarnya, aku amati jari-jarinya yang mungil yang sangat mahir memainkan nada-nada gitar. Ketika dia mulai bernyanyi, seakan-akan aku berada di langit ketujuh. Jiwaku bergetar. Suaranya indah, permainannya cantik. Ada sesuatu dalam hatiku yang mengatakan, inilah indahnya surga. Aku sedang di surga. Terima kasih Tuhan.”

“Perasaan itu begitu besar” Ono menyudahi ceritanya.
“Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta No” Wati menyatakan dengan tegas.
“Oh ini bukan cinta” Ono menolak pernyataan Wati.
“Lho, kalau itu bukan cinta lalu apa dong? Jangan kamu nanti menyesal karena kamu sedang mengingkari perasaanmu sendiri” Tanya Wati yang semakin bingung.

“Aku tidak sedang mengingkari perasaanku. Maksudku, aku tahu apa yang aku rasakan, dan aku sangat menikmatinya. Tapi aku tidak ingin mereduksi apa yang aku rasakan menjadi hanya sebuah label belaka yang bernama cinta. Banyak orang mendefinisikan cinta sesuai dengan apa yang mereka definisikan sendiri. Sedangkan apa yang aku rasakan, perasaan agung dan indah ini, tak terdefinisikan hanya dengan sebuah kata sederhana, cinta. Jika aku reduksi menjadi sebuah kata cinta, maka banyak sekali embel-embel yang bisa diganduli seperti cinta gombal, cinta buaya, cinta monyet atau cinta nafsu. Tapi ini bukan rasa yang aku rasakan. Perasaan ini begitu dashyat dan aku tak berusaha untuk mengingkarinya, tapi aku hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri kepada Sang Maha Pemberi yang telah memberikan rasa indah ini.”

“Tapi itu namanya cinta No” Wati tetap keras kepala.

“Aku tidak ada masalah jika kamu mau menamakan ini cinta, tapi aku sendiri tak mau mereduksinya.” Ono pun keras.

“Tapi aku melihat kalau kamu sedang berada dalam proses penolakan dan pengingkaran. Aku nggak mau kamu menyesal di hari kemudian. Apakah kamu takut? Wati ingin tau lebih jauh lagi, dia sayang kepada sahabatnya. Dia hanya ingin membantu.

“Memang ada perasaan takut dalam diri ini, tapi aku pikir ini wajar, karena perasaan takut ini ada gunanya juga. Untuk menjaga hati ini agar jangan menderita. Hati tidak suka menderita, itulah alamiahnya hati manusia, takut menderita.”

“Apa yang kamu takutkan? Wati semakin tidak mengerti.

“Aku takut cinta ini akan berakhir disini saja. Aku ingin cinta yang sebenarnya. Aku ingin cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta-cintaan belaka. Aku ingin cinta yang selamanya. Aku ingin menikmati keindahan surga ini tak hanya detik ini saja, tapi selama aku hidup, selama-lamanya.”

“Apakah mungkin ada cinta seperti itu?” tanya Wati.

“Ada” Jawab Ono.

“Dimanakah mencarinya?”

“Di hati nurani yang paling dalam. Begitu dekat, sekaligus jauh. Begitu mudah ditemukan, sekaligus sangat sulit.

“Maksudmu?”

“Di dalam diri ini terdapat alam semesta yang sangat luas, seluas jagad raya, bahkan mungkin jauh lebih luas. Disitulah kamu akan menemukan cinta. Bukan di luar, bukan pula di gadis yang aku temui atau lelaki yang sedang kau pacari. Jika kamu mencarinya di lelaki yang engkau temui, maka dijamin engkau tidak akan menemukan cinta. Engkau akan selalu kecewa”

“Lalu apa gunanya pacar?”

“Pacar adalah teman yang membantumu mencari cinta, dalam dirimu sendiri. Pacar itu bagaikan cermin. Tempat kita berkaca.”

“Lalu apa sebenarnya perasaanmu pada gadis tersebut?” tanya Wati.

“Perasaan cinta, kalaupun tetap kau ingin namakan ini cinta baiklah akan aku gunakan sementara kata yang sangat terbatas ini, perasaan yang aku miliki ini hanyalah seperti embun dibandingkan dengan lautan Cinta-Nya. Namun embun ini asalnya dari samudra lautan. Embun ini berasal dari-Nya. Tapi jika kita berhasil mengenal embun ini, maka kita akan mengenal samudera. Karena asalnya sama. Aku percaya bahwa aku sedang diajari-Nya untuk lebih mengenal-Nya lewat perasaan yang dia berikan padaku. Aku sedang diajari oleh Sang Maha Guru. Banyak orang yang gagal dalam menemukan cinta”

“Mengapa banyak yang gagal?”

“Karena banyak yang tidak mengerti bahwa dia sedang diajari-Nya. Lihat saja bumi ini, jika semua orang telah menemukan cinta, maka bumi ini akan lebih mirip surga daripada neraka. Banyak yang salah dalam memahami cinta, cinta lebih sering direduksi menjadi pemuas hawa nafsu sex belaka, kenikmatan sementara yang dinamakan ejakulasi. Tapi itu bukan cinta yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan kotoran-kotoran jiwa yang melekat pekat di tubuh manusia seperti kesombongan, iri, dengki, cemburu dan lain-lain, ini membuat cinta semakin sulit untuk ditemukan. Akhirnya jiwa kita tertutup rapat oleh kita sendiri.”

“Aku ingin mengenal cinta”.

“Kenalilah dahulu pemilik Cinta. Dialah yang mengurusmu semenjak kamu belum lahir. Dialah yang memberimu kehidupan, membuatmu bernafas, membuat mulutmu berbicara dan membuatmu berpikir. Dialah yang menggerakkan keinginanmu. Dialah yang membuat semua rasa dalam tubuhmu bisa kau rasakan dan kau nikmati. Dialah yang mengatur sehingga segala panca indra dalam tubuhmu bisa kau gunakan. Dia yang menuliskan garis hidupmu. Kamu hanyalah instrument-Nya. Alat-Nya. Semua ini milik-Nya. Termasuk gadis cantik itu. Dia pun milik-Nya. Oleh karena itu aku tak mau mengekang dia. Aku biarkan dia bebas mencari cintanya sendiri. Bebas seperti burung merpati. Jika dia berbahagia dengan orang lain, aku pun akan berbahagia untuknya. Perasaanku tulus. Tak ada perasaan untuk memiliki dalam diri ini, karena memang aku tak memiliki apa-apa. Bahkan tubuhku sendiri bukan milikku. Jiwaku bukan milikku. Ruhku pun bukan milikku.”

“Lalu siapa kamu?”

“Itulah tugasku dalam dunia ini, untuk mengenal diriku lebih jauh lagi. Semua rahasia alam ada di dalam diriku. Jika aku mengenal diriku sendiri, aku pun akan mengenal-Nya. Jika aku mengenal-Nya, aku akan mengerti apa itu Cinta.”


deGromiest online

Filed under Audio, Dokumentasi

Topik: Tips Sehat dan Bugar Menjalankan Shaum Ramadhan
Nara Sumber: Mbak Agnes
Waktu: Minggu 23 Agustus 2009, 20.30 CET

dG online 23082009

Topik: Bahasa Ibu Bahasa Penuh Cinta
Nara Sumber: Mbak Dessy
Waktu: Selasa 5 Mei 2009, 19.00 CET

dG online 05052009 part 1

dG online 05052009 part 2

dG online 05052009 part 3


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Muhammad Iqbal

Seorang sahabat pernah berkomentar tentang foto-foto bunga di sela-sela kompetisi foto dG periode April lalu. Kami berbincang tentang keindahan foto-foto bunga yang dikirimkan para kontestan. Menurut beliau, tentunya dengan redaksi yang tidak tepat sama, bunga yang pada dasarnya sudah indah pastilah lebih mudah diekstrak kemolekannya dalam sebuah potret kepada pihak ke tiga bila dibandingkan dengan harus menyuguhkan sisi unik dari objek yang penampakannya biasa-biasa saja, atau bahkan tidak biasa. Tapi tetap saja, bagi mereka yang punya kemampuan dan naluri tinggi dalam berkamera ria, hasil jepretannya bisa membuat sebuah objek nampak lebih menarik dari aslinya. Saya sependapat dengan itu, keindahan sebuah potret jadi nampak relatif.

Salah satu fitrah dari bunga adalah tampak indah. Tulip dan mawar menawarkan keindahan dengan cara mereka masing-masing. Sekuntum tulip berwarna orange yang ditakdirkan mekar di tengah kebun bunga Keukenhof musim semi tahun ini jadi nampak tidak terlalu istimewa karena berada di tengah lautan bunga lainnya. Tulip ini hanyalah satu di antara sekian banyak bunga lainnya yang sama-sama menyajikan keindahan yang serupa. Sebuah perspektif yang berbeda akan muncul ketika satu tangkai mawar berwarna putih dihadirkan oleh seseorang yang terkasih di hari ulang tahun kita. Indahnya mawar memberikan amplifikasi keindahan momen ulang tahun kita. Di sisi lain, mawar tersebut jadi terlihat jauh lebih indah dibanding mawar-mawar lainnya yang pernah dilihat sang penerima bunga. Keindahan bunga jadi nampak relatif.

Mari kita lakukan analogi tentang keindahan bunga dengan berbagai nikmat Allah kepada kita. Kita akan mulai tersadar bahwasanya kita sering melupakan nikmat-Nya hanya karena nikmat itu selalu kita dapatkan secara kontinu. Mungkin juga karena semua orang di sekitar kita mendapatkan nikmat yang serupa dengan yang kita miliki. Hela nafas saat membaca tulisan ini sering tidak terasa istimewa karena kita menghirup udara setiap saatnya. Memang benar bahwa udara yang kita konsumsi ini tidak memberikan tagihan di akhir bulan, tapi itu bukan alasan yang tepat bagi kita untuk lupa bahwa udara ini adalah salah satu nikmat Allah untuk makhluk-Nya. Cerita yang berbeda tentang dua-tiga hela nafas akan kita peroleh dari seorang yang pernah hampir tewas karena tenggelam. Dua-tiga hela nafasnya di waktu itu layaknya mawar dari orang yang terkasih, memberikan kesan yang mendalam Makna dari suatu nikmat terasa berbeda ketika kita benar-benar membutuhkannya, atau jika kita belum pernah memperoleh nikmat yang serupa di waktu yang telah lalu. Kembali, semua jadi nampak relatif.

Kita kembali dengan cerita orang yang mengambil potret dengan kamera. Objek apapun bisa terlihat bagus hasilnya, jika dan hanya jika kita tahu cara memotret dengan benar. Apalagi jika kamera yang dipergunakan kualitasnya memukau, hasilnya pastinya akan semakin mantap. Bisakah kita menganalogikan ilmu yang kita miliki dengan kamera? Dan kemudian menganalogikan objek foto dengan semua hal yang menimpa kita, baik itu nikmat ataupun musibah? Orang yang bisa menghasilkan potret memukau dari objek yang indah layaknya seseorang yang bisa mensyukuri nikmat yang ia peroleh. Orang yang bisa membuat potret berkualitas tinggi dari jenis objek apapun layaknya seseorang yang bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dalam kehidupannya.

Galeri hidup yang ada di dalam hati kita ini tentunya akan terasa sepi jika hanya diisi beberapa bingkai potret saja. Semoga Ramadhan ini memberikan pelajaran kepada kita tentang memotret indahnya hidup, amin.  M. Iqbal, 2009


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Teman-teman, kita semua sedang dalam perjalanan, kehidupan adalah perjalanan. Tidak tepat jika dikatakan bahwa untuk menjalani perjalanan spiritual kita harus meninggalkan kedudukan kita di dunia ini. Tidak ada yang mempunyai tempat tetap dalam kehidupan ini. Kita semua berjalan, bergerak, menuju suatu tempat.

Kehidupan ini bisa kita bagi dua bagian, kehidupan nuraniah atau batiniah (dalam), dan kehidupan lahiriah atau badaniah (luar). Yang dimaksud dengan kehidupan nuraniah atau batiniah ini adalah sebuah kehidupan menuju kesempurnaan, kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan, dalam bahasa agama, menuju Tuhan. Kehidupan nuraniah ini tidak berarti bertolak belakang dengan kehidupan dunia, justru dengan kehidupan nuraniah ini kita akan menjalani kehidupan dunia dengan lebih sempurna.

Kehidupan dunia terbatas, kehidupan nuraniah tak terbatas.

Seseorang yang menjalani kehidupan nuraniah seakan-akan tanpa dosa, seperti layaknya anak-anak. Namun sekaligus juga sangat bijaksana. Ini menunjukkan perkembangan dalam dua sisi. Di satu sisi nurani yang mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa, di sisi lain akal yang mendapatkan pengetahuan yang bijaksana.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat mereka mempunyai keseimbangan ini? Jika mereka berdiri di hadapan Tuhannya, hati mereka penuh dengan-Nya. Jika mereka ingin belajar dari Tuhannya, mereka lupakan apa yang telah mereka pelajari dari dunia. Jika mereka sedang berada bersama Tuhannya, tidak ada lagi ke-‘aku’-an. Tidak ada lagi keterikatan.

Tujuan dari kehidupan nuraniah ini adalah agar Tuhan menjadi sebuah kenyataan, bukan lagi sekadar imajinasi belaka. Selama ini banyak yang bertanya, apakah Tuhan ada? Dimanakah Tuhan itu kalau Tuhan itu ada? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa konsep Tuhan masih abstrak dan kabur, tak tersentuh. Bagaimana mungkin akan ada pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan jika Tuhan baginya adalah sebuah kenyataan?

Ketika nabi-nabi besar seperti nabi Isa saw dan nabi Muhammad saw turun ke muka bumi ini, bagi mereka Tuhan adalah sebuah kenyataan. Mereka menyebarkan pesan Tuhan lewat ucapan. Ucapan adalah suara, yang dikemas dalam kata-kata, dan akhirnya ditulis dalam huruf-huruf. Huruf-huruf adalah benda mati, sedangkan Tuhan Maha Hidup. Bagaimanakah bisa menerangkan Tuhan yang Maha Hidup hanya dengan huruf-huruf yang mati? Terjadi proses reduksi disini. Yang tadinya Tuhan sebagai kenyataan dalam diri nabi-nabi, sebuah kenyataan besar yang sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata, namun mau tidak mau dengan proses verbal harus disampaikan. Disampaikannya kepada orang yang belum tentu berada dalam stadium yang sama dengan penyampai. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam proses ini. Untuk bisa memahami secara utuh apa yang disampaikan, maka caranya adalah memiliki stadium yang sama dengan stadium penyampai. Namun kebanyakan orang tidak atau belum sampai ke stadium ini. Maka banyak orang yang sulit untuk mengerti fenomena Tuhan ini, apalagi jika mereka hanya membaca kitab suci saja, yang notabene berisi huruf-huruf.

Dengan hanya berbekal kehidupan lahiriah saja, maka Tuhan akan tetap menjadi sesuatu yang abstrak dan tak tersentuh. Dengan kehidupan nuraniahlah Tuhan akan menjelma sebagai bentuk perwujudan, realisasi dan kenyataan.


Diary Ramadhan: Edisi Tanggal 5 Ramadhan 1430 H

Oleh: Siti Aini

Entah darimana aku harus memulai ceritaku…aku tidak pandai merangkai kata indah nan puitis layaknya

pujangga…hanya bisa menulis apa yang kurasa…walaupun tidak beraturan…namun ini yang kurasa..

Namaku Siti Rahmatul Aini…aku biasa dipanggil Aini…tapi khusus untuk Mas Teguh…beliau memanggilku Jeng Siti…hehehe…untuk seorang sufi seperti beliau..aku berikan pengecualian hehehe..

Kisahku berawal ketika ditahun 2004 aku menikah tepatnya 27 Juni 2004…tiga bulan setelah menikah…aku diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk hamil…ya…hamil pertamakali setelah menikah..ya iya lah…masak sebelum menikah hehehe…

Ketika mengetahui kehamilanku..aku sangat bersyukur pada Allah…segala puja dan puji hampir tak pernah berhenti kuucapkan…suatu perasaan yang sangat senang..sangat bahagia karena Allah (saat itu) mengabulkan doa-doaku…Akhirnya aku hamil..Alhamdulillah..

Mungkin saat itu bisa kukatakan…itulah puncak tertinggi dari ibadahku…setiap saat,setiap waktu aku bersyukur..semakin kuperbaiki diriku..semakin kutingkatkan ibadahku…kalau boleh kubilang…saat itu aku merasa “sangat dekat” dengan Tuhan…sangat dekat…(GR banget ya)

Sampai akhirnya,disuatu ketika..aku memeriksakan diri dibulan ketiga usia kehamilanku..dokter berkata,janinku tidak berkembang…dan tidak mungkin dipertahankan..dan aku harus dikuret..

Ya Allah…bergetar tubuhku mendengar berita itu…lemas lututku mendengar diagnosa dokter..aku tidak percaya…saat itu juga aku mencari dokter lain…Tiga dokter kudatangi malam itu…dan semua dokter mengatakan hal yang sama..Aku harus dikuret…karena lambat laun…janin ini akan meluruh dan keluar dengan sendirinya dalam wujud darah…

Aku takut…sangat takut…aku tidak ingin kehilangan janinku dan aku juga takut mendengar kata kuret…

Semakin kukencangkan doa-doaku…semakin kukuatkan ibadahku..aku memohon..saat itu doa yang kuucapkan adalah

“YA ALLAH…HAMBA MEMOHON KEPADAMU…TOLONG JANGAN KAU AMBIL JANIN INI…TOLONG LINDUNGI JANIN INI..JANGAN KAU AMBIL…HAMBA AKAN ABDIKAN DIRI HAMBA HANYA KEPADAMU…HAMBA MOHON…”

Tapi apa mau dikata..dari hari kehari darah sedikit demi sedikit kudapati..sampai akhirnya aku pingsan dikamar mandi dan segumpal benda keluar dari tubuhku..Yah…hari itu…aku keguguran…dan harus dikuret…

Aku benci Tuhan…benci …kemana Dia saat aku betul-betul membutuhkan perlindungan-Nya…

Aku benci…sejak saat itu…aku putuskan utk tidak berhubungan lagi dengan Tuhan…aku putuskan segala bentuk

komunikasi dengan-Nya…tidak…NO WAY…

Sembilan bulan lamanya aku menjauh…Bukan ketenangan yang kudapati…justru kesusahan…namun aku masih sakit hati pada-Nya..

Sampai akhirnya…dibulan kesepuluh setelah itu…aku hamil lagi…kali ini aku tidak berani terlalu gembira…ada ketakutan dihatiku…bagaimana kalo diambil lagi…

Aku mulai berusaha mendekati-Nya lagi…dengan segala kelemahanku…aku datang pada-Nya…kembali lagi segala doa kuucapkan…namun kali ini berbeda…

Aku bahagia karena hamil lagi…tapi aku juga harus sadar…bahwa sewaktu2 bila Allah berkendak mengambilnya..aku harus siap…bukan berarti aku mengabaikan janin ini…bukan…hanya saja…aku berbeda dalam menyikapi kehamilanku…

Ya Allah…Engkau yang maha tau yang terbaik buatku…aku sudah berusaha menjaga sebaik mungkin titipan-Mu…selebihnya aku pasrahkan segala-Nya pada-Mu..

Benar saja…hanya dua bulan janin itu bertahan…dan aku harus kehilangan lagi..kali ini,bukan satu…tapi dua…ada dua janin…keguguranku kali ini sangat berbeda dari yang pertama…aku tidak pingsan… darah tidak banyak keluar…dan aku bisa melihat kedua janin itu…kedua-duanya aku letakkan ditelapak tanganku…

Kupandangi..kuciumi…kubungkus dengan jilbab putihku…anak-anakku sayang..maafkan mama yang tidak bisa menjagamu…kuletakkan disampingku…

Semalaman kedua janin itu menemaniku…sampai akhirnya mereka kukuburkan…

Perasaan sedih tentu saja ada…namun aku lebih siap menerima kejadian yang kedua…aku yakin..Allah lebih mengetahui segalanya…Mungkin Aku belum amanah..sehingga belum dipercaya utk memiliki anak..

Aku pasrahkan diriku…seutuhnya…aku memohon diberikan kekuatan dalam menerima takdir ini…

Aku yakin, Bahasa Tuhan adalah bahasa cinta yang penuh dengan misteri….

Aku yakin…dan Alhamdulillah….keyakinanku berbuah manis….tanggal 3 Mei 2006…aku dikarunia bayi kembar…cantik dan

lucu seperti diriku hehehehe..(maaf kalo narsisnya gak habis2)…

Ini jawaban Tuhan…dari segala pertanyaanku dulu…Bidadari-bidadari kecilku kini berusia tiga tahun…mereka sehat,cerdas, dan lucu..

Terimakasih Tuhan…Bahasa cinta-Mu memang penuh misteri…satu misteri telah terjawab…dan masih banyak lagi misteri

yang sedang coba kupahami…

Aku hanya manusia biasa…yang tidak lepas dari salah dan dosa…bantu aku dalam memahami bahasa cinta-Mu yang penuh

misteri…


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 4 Ramadhan 1430 H

Oleh : Puri Handayani

Meskipun tidak selalu meluangkan diri untuk membaca Al Quran, (karena cenderung hubud dunya,ketika sampai rumah sudah capai, dan langsung tidur), setiap saat saya membaca Al Quran selalu kebetulan menemukan ayat yang pas dengan keadaan saya dan membuat hati menjadi lebih tenang dan matab setelah membacanya. Ayat-ayat itu tidak lain adalah ayat-ayat yang menyatakan janji dan bukti kalo Alloh akan selalu menolong hambanya. Banyak sekali ayat seperti itu di Al Quran. Salah satunya adalah ayat yang kebetulan saya baca saat hari pertama Ramadhan, yaitu surat Al Imran ayat 123:

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”

Tentu saja saat ini saya tidak berada dalam keadaan seperti perang Badar. Keadaan saya tentu lebih aman dan tentram dibandingkan para pejuang yang berusaha bertahan dan mengalahkan musuh di perang Badar dengan taruhan nyawa mereka. Begitu juga kondisi ruhani saya pasti jauh berbeda. Pejuang Badar pastilah manusia pilihan yang kuat hati dan imannya, serta telah siap jiwa dan raga berjuang di jalan Alloh. Meskipun demikian, barangkali saat itu kekuatan musuh jauh lebih besar secara logika sehingga Alloh perlu menenangkan mereka dengan ayat tersebut. Dan sebagaimana diceritakan dalam ayat selanjutnya, dengan pertolongan Alloh para pejuang kebenaran itu menang.

Bagaimana dengan saya? Mungkin karena saya tidak sekuat mereka maka saya dihidupkan pada jaman ini. Wallohualam. Tapi tetap saja dimasa yang tidak perlu taruhan nyawa ini ada saja saat-saat saya merasa lemah, tidak siap berhadapan dengan ujian hidup sehingga ayat-ayat yang berisi janji Alloh untuk menolong hambaNya selalu menjadi ayat favorit saya.

Contoh perasaan lemah itu saya rasakan menjelang ramadhan kemaren.Sampai dengan seminggu menjelang Ramadhan rasanya saya tidak sanggup untuk menjalani ramadhan. Secara fisik saya merasa tidak mampu puasa di musim panas, dan secara hati saya juga tidak siap untuk memasuki ramadhan. Ketika sekian banyak sms dan email masuk mengucapkan marhaban ya ramadhan bukannya saya makin mantab, tapi makin bingung saja, kira-kira kuat ga yaa saya puasa. Ada rasa khawatir kalo ramadhan nanti saya sakit karena puasa. Tahun lalu saya sempat demam satu minggu di minggu kedua ramadhan. Alhamdulillah saya masih bisa puasa meskipun selama sakit itu benar-benar hanya berbaringdirumah dan tidak bekerja sama sekali. Tahun ini sepertinya saya harus bekerja selama ramadhan, jadi tidak bolehsakit.

Pikiran tentang pekerjaan itulah mungkin yang membuat saya takut puasa, takut kalo nanti kurang minum,capek, stamina turun dan kemudian sakit. Benar-benar kelihatan kalo iman saya begitu lemah sehingga saat dimintapuasa saja sudah sedemikian khawatirnya saya. Apalagi kalo diminta pergi perang badar. Astagfirullahalazim.

Maafkan hambaMu yang lemah ini ya Alloh. Beberapa teman yang saya ajak curhat meyakinkan saya kalo saya pasti kuat. Tapi tetap saja waktu itu saya masih pesimis dan ga yakin bakalan siap memasuki ramadhan. Bahkan ketika ada kemungkinan puasa dimulai hari jumat, hati saya masih tidak bisa menerima. Saya siapnya puasa hari sabtu bukan jumat. Astagfirulloh.

Kekuatan itu muncul ketika adik sepupu saya sms. Yang intinya mengingatkan saya kalo puasa itu ujian bagi kita. Ya Alloh, adik kecilku yang 25 tahun lalu ku gendong-gendong dan merengek-rengek minta diajak main, ramadhan kali ini berhasil menguatkan mbaknya. Saya setuju dengan adik saya, kalo ramadhan ini adalah ujian untuk keimanan kita. Sayangnya selama setahun ini kehidupan dunia begitu menyibukkan saya sehingga saat ujian tiba, saya benar-benar tidak siap. Ya sudah akhirnya saya pasrah. Kalo memang tahun ini saya tidak lulus ujian ya sudah memang itu salah saya karena tidak mempersiapkannya.

Saya pilih alternatif lain, mungkin ramadhan kali ini bisa jadi sarana latihan bagi saya untuk kembali ke jalan yang benar sehingga kalo suatu saat saya harus ujian saya bisa lulus dan naik kelas. Berbekal pemikiran itu saya akhirnya berniat puasa. Alhamdulillah puasa mulai hari sabtu, jadi saya tidak terlalu panik untuk mengatur ulang jadwal kerja, karena bagaimanapun tetap saja secara fisik saya mengalami perubahan.

Begitu juga Alhamdulillah saat pagi hari pertama puasa saya dipertemukan dengan ayat diatas sehingga rasa optimis semakin kuat, Alloh akan menolong saya Insya Alloh karena saya puasa atas perintah Alloh. Bahkan ketika multivitamin yang saya beli tidak bisa saya minum karena ada gelatinya pun hati saya tetap tenang, tetap yakin kalo saya kuat, dan terbukti hari pertama bisa saya lalui dengan menyenangkan. Masih bisa ngukur di lab, masih bisa naik sepeda Zernike-Haydnlaan, masih bisa merayakan ultahnya Mila , dankembali bersepeda lagi ke acara buka puasa bareng. Alhamdulillah. Insya Alloh hari-hari selanjutnya lebih mantaplagi.

Bismilahi tawakaltu alallah. Laa haula walaa quata illa billah. Aku berniat puasa karenaMu ya Alloh J

Zernike, hari ke-2 Ramadhan

Puri


Opruiming

Filed under Ramadhan 2009,

Diary Ramadhan : Edisi tanggal 4 Ramadhan 1430 H

Oleh: Rachmawati

Sebentar lagi musim panas akan berakhir, tergantikan musim gugur. Seperti halnya pergantian musim lainnya, akhir musim panas kali ini pun diwarnai sale besar-besaran. Kata aanbieding, opruiming, op=op, korting, 3 halen 2 betalen, dan 2 halen 1 betalen pun ramai mewarnai dinding kaca toko-toko di sekitaran shopping center. Kesempatan mendapatkan barang bagus dengan harga lebih murah? Tentu saja orang-orang jadi lebih semangat membelanjakan euro-nya.

Jika ditelaah lebih jauh, Ramadhan pun mirip seperti acara sale tersebut. Dengan mengandaikan kehidupan sebagai perniagaan antara makhluk dan khaliknya, bulan Ramadhan diwarnai opruiming pahala serta aanbieding keberkahan dalam banyak hal. Berbagai kemudahan mendapat rahmat dan ridha Allah SWT pun ditawarkan untuk mengimbangi perintah shaum yang diwajibkan pada manusia. Di sini tentu saja manusia bisa memilih untuk mengambil tawaran tersebut atau mengabaikannya.

Sebagai manusia yang tidak mau rugi, tentunya saya lebih memilih mengambil kupon sale tersebut. Kapan lagi coba? Belum tentu umur saya sampai pada Ramadhan tahun depan. Ketika rasa malas mulai melanda (karena walaupun selama bulan Ramadhan ini semua setan dibelenggu, tetap saja ada rasa malas :D), biasanya saya bertanya pada diri sendiri: mau pilih surga, atau mau pilih malas? Mengingat umur saya bukan lagi berada di daerah rentang anak SD, saya jadi malu pada diri sendiri kalo secara nyata memilih rasa malas. Apalagi kalau mengingat semangat belanja kalau melihat tanda korting atau opruiming :D. Jadi, saya pun memaksakan diri, mendikte diri sendiri untuk sebanyak-banyaknya mengambil keuntungan di bulan Ramadhan ini. Menargetkan amalan di bulan ini tentu saja tidak mudah. Saya harus menerapkan target yang realistis, tapi tidak mau juga target yang ece-ece. Kalau terlalu rendah targetnya, berarti saya tidak mengoptimalkan tawaran pahala berlimpah yang sudah jelas di depan mata. Kesannya jadi tidak sinkron dengan prinsip ekonomi yang selalu saya terapkan ketika berbelanja: dapatkan keuntungan sebanyak mungkin.

Kebetulan, di Yellow Building ini pada semangat shalat berjama’ah, tarawih bersama, bahkan sahur bersama. Alhamdulillah, rasa kangen sholat berjama’ah pun terobati. Saya juga menargetkan untuk tidak tidur lagi setelah Shubuh. Saya paksakan untuk membaca Al-Qur’an karena walaupun tidur orang yang sedang shaum itu adalah ibadah, saya ingin mengoptimalkan penggunaan kupon sale-nya. Sebagai penyemangat, saya sempatkan juga membaca terjemahannya. Kebetulan kalau terjemahannya menarik, bisa jadi alasan untuk menambah bacaan beberapa maqrah. Terkadang malu juga, saya lebih semangat menamatkan baca novel, artikel koran atau blog walking dibanding baca terjemah Al-Qur’an. Padahal kalau dibaca lebih dalam dan mencoba menghayati artinya, banyak kata-kata indah dan bermakna di situ (saya bandingkan dengan puisi atau quote-quote yang terkadang jadi sumber pencerahan saat perlu penyemangat hidup). Mengutip perkataan Umar bin Khatab, “ajarkan sastra kepada anak-anakmu agar mereka berani“, sastra memang dikenal bisa menumbuhkan kekuatan juga melembutkan hati. Membaca karya sastra seperti novel atau tulisan lainnya tentu tidak dilarang. Namun saya ingatkan diri saya sendiri, bahwa Al-Qur’an adalah bahasa sastra paling tinggi yang sudah sepantasnya dipelajari.

Untuk melawan rasa kantuk setelah Shubuh, saya membiasakan diri olahraga, walaupun hanya sebatas senam, skipping, atau sit up beberapa kali. Kalo ada pepatah mengatakan “tidak perlu menunggu tua dulu untuk rajin beribadah”, barangkali memang “tidak perlu menunggu berlemak dulu untuk mulai merutinkan olah raga. Saya pun ingat bahwa hari yang baik itu diawali dengan senyum dan menjaga wudhu. Kali ini sebagai bonus saya tambahkan, lebih baik lagi kalo wudhunya dipakai untuk shalat Dhuha. Jika orang Belanda menyempatkan coffee break di pagi hari, maka tidak ada salahnya untuk mengalokasikan waktu lima menit untuk shalat. Faedah shalat Dhuha di antaranya adalah lancar rezeki di dunia dan dibangunkan rumah di surga. Saat masih kecil dulu, saya sangat semangat shalat Dhuha, salah satunya karena membayangkan akan punya rumah megah di surga sana, lebih megah dari rumah mainan Barbie. Untuk umur sekarang ini, tentu saja bukan Barbie lagi bandingannya, melainkan rumah beneran. Saya bayangkan, dengan konsep opruiming yang sedang saya telaah saat ini, shalat Dhuha di bulan Ramadhan akan mempermudah perolehan kredit untuk mendapatkan rumah di surga nanti. Bukan tidak mungkin kalau saya mendapat bonus bisa memilih ornamen rumah sesuka hati, atau jika kreditnya cukup bisa punya istana, bukan lagi dari kristal Swarovski, tapi bisa langsung dari berlian dan yakut (walau saya belum tau, permata yakut itu yang seperti apa? Yang jelas masih termasuk yang blink-blink lucu gitu kali ya :D).

Perlu ditekankan pula bahwa yang harus dipelihara lebih utama adalah yang wajibnya dahulu. Jika kebetulan shalat fardhunya tidak tepat waktu, saya mencoba mengompensasi itu dengan ibadah yang lain, misal dengan menambah bacaan Al-Qur’an, menambah dzikir, atau memaksakan diri membaca satu artikel keagamaan baru. Saya pun ingat betul bahwa salah satu faedah shalat sunah adalah bisa menambal cacat shalat fardhu. Saya sadar, shalat fardhu saya masih jauh dari khusyu. Jadi saya paksakan untuk sebisa mungkin mengerjakan shalat rawatibnya. Shalat tarawih tentunya menjadi bagian tak terpisahkan di bulan Ramadhan ini. Saya ingin mendapat poin lebih. Jadi saya usahakan mengerjakan shalat sunah yang lain, seperti shalat hajat misalnya, walau baru sebatas dua rakaat saja. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.

Ibadah yang baik itu bisa menumbuhkan akhlak yang baik, dan sebaliknya perbuatan yang tidak baik dapat mengikis iman yang ada. Dalam rangka mendidik dan mendewasakan diri, saya berusaha menghadirkan hati saat shalat (walaupun ini bukan perkara mudah), saat membaca Al-Qur’an, dan saat berdo’a. Yang saya tau, hikmah Ramadhan yang penuh berkah ini salah satunya adalah maqbulnya do’a. Kalau pada hari-hari biasa mungkin sebelum mencapai Arasy do’a-do’a manusia di-screen dahulu prioritasnya, barangkali di bulan Ramadhan ini do’a-do’a di-by pass dan malah masuk fast track. Saya senang bahwa pada saat berdo’a saya tidak perlu berpura-pura tegar menghadapi kehidupan, tidak perlu bersusah payah meredam emosi. Allah lebih tau kondisi saya, dan lebih mengetahui apa-apa yang terjadi, dan tentu saja lebih kuasa terhadap apa pun. Saya bisa menumpahkan apa pun uneg-uneg yang ada di kepala saya, menceritakan kerisauhan hati, dan memohon solusi. Tentunya dengan keyakinan bahwa apa pun do’a yang dikabulkan atau tidak dikabulkan, itu adalah untuk kebaikan saya sendiri.

Selalu saya ingat bahwa ketika seorang hamba membaca Al-Qur’an, ada malaikat yang menemani, mendengarkan bacaan tadi dengan penuh khidmat, sebagaimana layaknya punggawa yang khidmat ketika mendengar titah rajanya. Dari sini lantas saya pun memahami konsep maqbulnya do’a yang diucapkan setelah membaca Al-Qur’an, karena malaikat yang menjadi saksi bacaan Al-Qur’an tadi turut mengaminkan do’a. Dengan mencoba memahami keberadaan malaikat ini, saya jadi berpikir, sesungguhnya saya memang tidak pernah sendiri. Bahkan tidak ada alasan untuk sedih ketika menghadapi suatu persoalan, karena saat seorang hamba yang dicintai Allah sedang sedih hatinya, Allah menurunkan malaikat-malaikat untuk menghibur hati hamba tersebut. Bahkan, dari yang pernah saya baca, nama hamba yang dicintai Allah itu terpajang indah di kerjaan langit, di mana seluruh penduduk langit jadi mengenalnya dan turut pula mencintainya, senantiasa mendo’akan kebaikan untuknya. Pertanyaannya adalah, apakah saya termasuk hamba yang tingkah lakunya diridhai Allah? Apakah level saya termasuk hamba yang dicintai Allah?

Yang namanya berhayal, tentu saja harus sadar diri. Berhayal berhasil mendapatkan banyak keuntungan berkah Ramadhan ini tentunya juga harus dibarengi niat yang tulus serta konsistensi tinggi. Hayalan bisa saja dianggap muluk, namun saya membiasakan hati untuk menerima kemungkinan bahwa hayalan -layaknya harapan- dapat berubah menjadi do’a yang terkabulkan. Adalah suatu fakta bahwa kapan pun di mana pun, Allah melihat, mendengar, dan menyaksikan semua hal yang saya perbuat. Tak bisa ditampik kenyataan bahwa selama ini ada malaikat Raqib dan Atid di samping kanan kiri saya, yang senantiasa mencatat detail apa-apa yang saya perbuat, merunut apa-apa yang terlintas di pikiran saya, juga mendokumentasikan apa-apa yang tersimpan dalam hati saya. Saya sadar bahwa di akhirat nanti saya akan diminta pertanggungjawaban atas itu semua. Saya tahu masih banyak hal yang perlu saya perbaiki. Namun saya yakin bahwa Tuhan saya, Allah SWT, adalah Tuhan yang Maha Pengampun, Maha Pemurah, dan Maha Penyayang, yang tidak akan pernah menyia-nyiakan amal hamba-Nya. Bahkan untuk amalan yang paling kecil sekalipun, saya yakin Allah akan menggembirakan hamba-Nya dengan memberi balasan yang lebih baik.

Sungguh suatu berkah bahwa kita semua masih diberi izin memasuki hari ke-4 bulan Ramadhan ini. Bulan di mana sepuluh hari pertamanya adalah rahmat, sepuluh hari keduanya penuh dengan ampunan, serta sepuluh hari ketiganya terbebas dari api neraka. Andaikan ada agen iklan untuk mengampanyekan berkah Ramadhan di Groningen ini, barangkali bunyi iklannya adalah: Gefeliciteerd! Nog 26 dagen voordeel: supersale speciaal voor u … Opruiming en extra korting op uw favoriete artikel… Profiteer nu!

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan.


Diary Ramadhan : Edisi Tanggal 3 Ramadhan 1430 H

Oleh : Wangsa

Saat tak tercekat untaian suara

Mengalir tak terjamah oleh akal

Dan hati hanya bisa berteriak

Saat tak tercekat gumaman pilu

Mengalir tak terjamah oleh deru

Dan hati hanya bisa berkeluh

Saat tak tercekat untaian suara

Terkatup asma ribaan pencipta

Membawa kalbu menerawang angan

Menggerakkan tangan menggapai hantaran

Runtuhan kasih sayang dari sang maha

Saat tak tercekat untaian suara

Saat tak ada hati merasa hampa

Saat tak berbalas kecintaan seorang hamba

Saat tak berpeluh cucuran doa

Saat tak berputar sang kala

Saat tak lekang simpuhan dosa

Kerinduan hati menggapai

Ramadhan yang tak sunyi pun tak ramai


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 3 Ramadhan 1430 H
Oleh: Lia Atwa

Seorang perempuan tampak sedang kebingungan, tatapannya kosong menerawang. Ramadhan kali ini ia jalani dengan bersedih hati. Dia menghela napas cukup berat, suara dalam dirinya tak berhenti mengusik,”Ramadhan kali ini, berapa dosa yang aku ajak kesana, berapa banyak khilaf yang coba aku kikis, berapa banyak kesedihan yang coba aku sembuhkan, dan berapa banyak kemarahan, dengki, dan sakit hati yang ingin kukubur sedalam mungkin.” Hatinya terasa berat, terlalu banyak dosa yang coba dia hapuskan, sungguh tak kuat dia melihat sejarah hidupnya sebelum Ramadhan tiba. Rasa kehilangan, ketakutan, rasa bersalah, terus-menerus menghantuinya. Pakaian yang menempel padanya sudah tak putih, terlalu banyak bercak noda, warna-warni, kebanyakan suram kelam. Sungguh hal itu memalukan.

Ah itu adalah ulah setan dengan segala taktik liciknya,  benarkah? Apakah dia akan terus menyalahkan setan untuk setiap dosa, kesedihan, sesak yang terus menghimpitnya. Tapi apa mungkin itu datang dari dirinya, hati-pikiran, darah-daging, jiwa, kesatuan itulah penyebabnya, kelalaian dan kebodohan yang tak bisa dikendalikannya. Setan mungkin hanya pembisik dikala keyakinan diri terkikis, masuk mengetuk ketiadaan iman.

Suatu hari, diantara amarah, kesedihan yang sangat, disaat dosa menancapkan giginya yang tajam seperti lintah yang menghisap, perempuan tadi berkata kepada temannya, “Aku sholat, 5 kali sehari, aku tak lupa sedikitpun gerakannya. Itu kewajiban. Tapi untuk bertobat, berdoa, dan meminta sesuatu pada Allah, aku malu pada-Nya. Sungguh aku benar-benar malu.”

Pilihannya hanya dua, semakin terjerumus, mencelupkan dirinya dalam segala dosa, atau mencoba bertahan, berpegang pada dirinya sendiri tanpa harus meminta pertolongan Allah.  dia butuh kekuatan cukup besar, karena kesedihan, rasa marah, ketakutan, itu seperti penyakit yang datang tak diundang, kadang terbawa angin yang membisikinya, kadang datang dalam mimpi meneror lelap tidurnya, atau suara-suara entah darimana, seperti hantu yang katanya tak berwujud tapi terasa dan mendatangkan suasana horor, terus menghantamnya tanpa henti. Sedangkan tak ada tiang penyangga untuknya berpegang, berpeluh, menangis, hanya satu individu yang siap yang dipaksa menjalaninya.  Imannya tergores, jiwanya limbung, terhempas, kembali diping-pong, terangkat tinggi, lalu dijatuhkan seketika.

Temannya berkata, “kau terlalu sombong. Bahkan untuk berdoa kau takut dan malu. Allah tak mungkin sedangkal itu, Dia yang Maha Tahu akan setiap jengkal mahluk-Nya. Ada kalanya kita bahkan tak kuat menjalani suatu ujian, maka berpeluh kesah lah kepada-Nya, kepada Allah yang Maha memiliki hati-hati manusia, yang bisa dengan gampangnya membolak-balikan hati. Mencabut kesedihan, penyesalan, sesak yang menghimpit diri.”

Larilah dirinya ke seorang perempuan shaleh. Perempuan itu menatap tajam dirinya. Lalu dengan kelembutannya berkata. “Hidup penuh ujian, seperti ujian kenaikan kelas. Mungkin ada yang lulus, ada juga yang harus mengulang. Ini masalah menang-kalah akan ujian itu. Allah menyiapkan semua ujian itu, ujian yang bisa menguatkan moral, mental, penghargaan, rasa syukur. Ketika satu ujian selesai, ujian lain akan menanti. Tapi itulah yang membentuk karakter seseorang. Bersujudlah kepada Allah, untuk diberi kekuatan, keteguhan hati dalam menjalani setiap ujian. Karena ketika dirimu lupa, semuanya akan mudah terhempaskan. Sabar, percaya, dan bersyukur, berpeganglah pada tiga hal itu, Insya Allah hatimu akan tenang menghadapi setiap hal yang menyapa.”

Kemudian dia mencari ke tempat lain, seorang sahabat lain. Sang sahabat hanya tersenyum mendengar keluh kesahnya. Dia berkata bahwa dia tak khawatir mendengar itu, melihat lelah  seorang teman karena terus berlari mencari solusi untuk hidupnya. Siapapun pernah salah, berdosa, menjadi hina, dan disesatkan oleh kebimbangan dan kebingungan dalam mencari jawaban. Itu wajar, ucapnya kemudian. Rasakanlah semua warna hidup di dunia, sedih, senang, haru-biru, marah, benci, cinta, patah hati, luka, sesak, semua warna, karenanya seseorang bisa lebih menghargai hidup. Rasa kehilanganlah, sakit, dan semua jenis perasaan itulah yang membuatnya belajar menghargai dan mensyukuri apa yang didapatnya sekarang. Terkadang hati digelisahkan oleh semua dugaan, prasangka akan masa depan, tertarik mundur oleh sejarah dirinya, dengan semua tragedi-kejadian, kenistaan, kesenangan, itulah ketakutan akan masa depan. Tapi ingat satu hal, hidup itu penuh dengan kejutan-kejutan, bahkan disaat harapan sudah padam, mimpi sudah dikubur dalam-dalam, hidup selalu punya banyak cara untuk membuat mata kembali terbelalak, menghantam ketidaksadaran diri untuk terbangun dan berdiri.

Perempuan tadi, si pencari jawaban, merubah wajah sedih dan muramnya, mencoba tersenyum, berdamai dengan segalanya, dengan keadaan, dengan dirinya sendiri, dengan alam, dengan semua ciptaan yang berputar  dan hadir di kehidupannya. Kemudian dia bersujud, mencoba berdoa, memberanikan diri, melawan semua kesombongan, tersungkur, meminta dengan sangat kepada sang Pencipta, yang bahkan lebih dekat dari nafasnya. Dia mengawali Ramadhan kali ini dengan penuh pengharapan. Kesedihan, kemarahan, ketakutan, rasa bersalah, kehilangan, tak semudah itu terpupus hapus, itulah yang membuatnya nyata, membuatnya tersadar akan banyak rasa di dunia, ada ujian, ada rasa lelah, tapi keberpalingannya akan sosok tuhan, Allah Yang Maha Tahu, hanya membuatnya semakin terperosok lebih dalam. Tekadnya sudah bulat, ini momen yang tepat untuk membalikkan garis hidupnya, berhenti bersedih dan untuk tidak kalah.


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 2 Ramadhan 1430 H

Oleh: Buyung

Saat tulisan ini sudah saya publish di blog saya, saya teringat acara tahunan de Gromiest: diari GPR (Gerakan Pecinta Ramadan). Karena kesibukan duniawi, sudah lama tidak menjenguk dG. Tulisan ini saya kirimkan untuk diari GPR, jikalau isinya tidak berbobot, setidak-tidaknya dapat menjadi penyambung silaturahim.

Surabaya, 1 Ramadan 1040 / 21 Agustus 2009

Baru saja kami menyelesaikan juz 1 dalam acara tadarus grup saya, fisika teori PHOTON. Ada satu ayat yang mengingatkan saya pada masalah-masalah kehidupan yang pernah (dan sedang) saya hadapi. Saya sitir ayat tersebut, yaitu ayat ke-45 surat Al-Baqarah:

Al Baqarah ayat 45

Q. S. Al Baqarah ayat 45

“Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusuk.”

Ayat ini diulang lagi pada ayat ke-153 dengan redaksi: “Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu (mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat), sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Kapan kita butuh pertolongan? Logikanya adalah ketika sedang menghadapi masalah. Allah telah memberikan pedoman bagi kita untuk menyelesaikan masalah, apapun masalah itu, yaitu dengan sabar dan salat.

Salat mungkin tidak masalah, terlepas dari persoalan khusuk, karena kita mampu memperbanyak salat ketika dibutuhkan. Terutama ketika sedang mendapat masalah. Ada banyak salat yang dapat kita lakukan, seperti salat tahajud, salat istikhorah, dan salat-salat khusus lainnya. Sangat gampang mata kita bercucuran air ketika dalam posisi mengemis kehadirat Allah untuk diberi keringanan dan diangkat permasalahan kita. Namun, sabar belum tentu ada dalam diri kita.

Sabar… Apa sih sabar itu?

Berlapang dada? mungkin benar…

Tahan menghadapi cobaan? mungkin benar…

Tak lekas putus asa atau marah atau patah hati? mungkin benar…

Tenang, kalem, kepala dingin? mungkin benar…

Ditempeleng, tapi diam saja? ini jelas tidak!

Jadi, apa sih sebenarnya sabar itu?

Berikut saya kutip tentang sabar dari buku Tafsir Ibnu Katsir Jilid 1 untuk surat Al-Baqarah ayat ke-45

***

Menurut Mujahd, yang dimaksud dengan kesabaran adalah puasa. Al-Qurthubi dan ulama lainnya mengatakan: “Oleh karena itu bulan Ramadlan disebut bukan kesabaran.”

Ada juga yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan sabar pada ayat ke-45 ini adalah menahan diri dari perbuatan maksiat, karena disebutkan bersamaan dengan pelaksaan berbagai macam ibadah, dan yang paling utama adalah ibadah salat.

Dari Umar bin al-Khattab ra., beliau berkata: “Sabar itu ada dua: sabar ketika mendapatkan musibah adalah baik, dan yang lebih baik lagi adalah bersabar ketika menahan diri dari mengerjakan apa yang diharamkan Allah.”

Ibnul Mubarak meriwayatkan dari Said bin Jubair, beliau berkata: “Kesaraban itu adalah pengaduan hamba kepada Allah atas apa yang menimpanya dan mengarapkan keridloan dari sisi-Nya serta menghendaki pahala-Nya. Terkadang seseorang merasa cemas tetapi ia tetap tegar, tidak terlihat darinya kecuali kesabaran.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Hudzaifah bin al-Yaman ra., beliau berkata: “Rasulullah SAW jika ditimpa suatu masalah, maka segera mengerjakan salat.” (hadis riwayat Abu Dawud)

***

Begitulah, sabar tidaklah sesempit yang kita duga. Puasa adalah sabar itu sendiri dan sekarang kita melakukannya. Semoga bulan Ramadan ini menolong kita atas segala masalah yang kita punya, di samping, tentu saja yang paling utama, menjadikan kita bertaqwa kepada Allah SWT.

Surabaya, 1 Ramadan 1430


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 2 Ramadhan 1430 H

Oleh : Eka Amhalia

 

Ramadhan kali ini adalah Ramadhan ke dua, jauh dari keluarga, dari sahabat-sahabat dan dari kampung halaman yang saya cintai.
Ramadhan kali ini adalah Ramadhan yang membuat saya belajar lebih banyak tentang hidup dan cinta.
Ramadhan kali ini saya belajar menjadi orang yang kembali berserah kepada Dia.
Ramadhan kali ini membuat saya kembali merindu Indonesia..
Saat hari pertama Ramadhan kemarin, saya mengingat betapa gegap gempitanya Ramadhan di tanah air.
Saya merindukan shalat tarawih berjamaah di masjid depan rumah saya,
Saya merindu menamatkan bacaan AlQuran saya di sepanjang Ramadhan,
Saya merindukan kultum menjelang waktu berbuka di televisi,
Saya merindu buka bersama dengan keluarga saya dan safari buka puasa bersama dengan kawan-kawan lama saya di SD, SMP, SMA, Kuliah bahkan di tempat kerja.
Ramadhan saya ke dua jauh dari Indonesia, saya kembali merindu gema adzan yang berkumandang dari mesjid dan surau yang berada tak jauh dari rumah saya,
Saya mengangeni jalan-jalan yang dipenuhi pedagang penjaja makanan berbuka puasa,
Saya mengangeni pasar yang penuh sesak ibu-ibu yang mulai sibuk berbelanja penganan berbuka dan bahkan sibuk membuat kue-kue lebaran.
Saya juga mengangeni sensasi mencari tempat berbuka puasa saat harus berbuka di mall dan tempat keramaian.
Saya juga merindu kebersamaan bersama keluarga, merindu saat kami membantu mama memasak menjelang Idul Fitri.
Saya juga mengangeni kebersamaan saat shalat Idul Fitri, silaturahim bersama tetangga dan keluarga besar,
Saya juga mengangeni tawa saya karena melihat satu persatu kemenakan saya tumbuh besar dan cerdas.
Ramadhan kali ini,
Saat saya sempat menahan tangis menyampaikan maaf saya pada Bunda saya karena tahun lalu saya berjanji akan berada di rumah saat Ramadhan dan Idul Fitri,
Menahan rindu karena berada jauh dari Depok.
Kota kecil yang penuh macet setiap hari
Yang berhias mall di kanan-kiri jalan protokol.
Kota yang saya rindukan saat berada jauh dari sana.
Ramadhan kali ini,
Saya belajar lebih bersabar dari sebelumnya,
Saya belajar untuk menjadi selangkah lebih dekat pada-Nya
Saya belajar memaknai setiap detik yang saya miliki di sini,
Saya belajar untuk memahami Al-Quran dengan lebih baik lagi
Dan Ramadhan kali ini pun saya belajar untuk menyimpan spirit of Ramadhan dalam hati saya,meski berada di tengah-tengah masyarakat yang nota bene non-muslim.
Ramadhan kali ini saya pun tak lupa bermunajat pada Allah agar Dia selalu mengasihi dan melindungi Ayah-Ibu serta adik-adik saya saat saya berada jauh dari mereka.
@ Mama: Makasih ya ma..insyaallah saya belajar bersabar tanpa batas dan belajar untuk terus mensyukuri anugrah ini. Love you…:-)

*Terinspirasi oleh catatan Ramadhan di multiply Egon…Thanks Gon..smangaddd yaaa!!!*

 
 
 
 
 

 


Jadwal Shalat Ramadhan 1430H

Filed under Dokumentasi

Assalamu’ alaikum,

 

Ada jadwal updated dari pihak mesjid Selwerd. Mudah2an bermanfaat.

Wassalam,

Pengurus Degromiest


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 1 ramadhan 1430 H

oleh : Teguh Sugihartono

 

 

Hidup adalah sebuah perjalanan. Setidaknya begitulah yang aku rasakan. Perjalanan ini akan menuju suatu tempat. Kita semua sedang berjalan menjalani jalannya kehidupan, menuju suatu tempat. Adapun jalan yang kita lalui berbeda-beda. Ada yang berjalan lewat jalan tol, ada yang berjalan lewat kubangan. Ada yang lewat rel kereta api, ada yang lewat udara. Masing-masing orang memilih jalannya masing-masing. Berat ringannya perjalanan tergantung dari jalan yang kita pilih dan beban yang kita bawa.

 

Di dalam perjalanan ini ada dua kategori orang. Ada orang yang membawa beban yang sangat berat di pundaknya. Ada orang yang merasa beban yang dibawanya bukanlah bebannya. Orang yang berada di dalam kategori pertama akan merasa berat dan letih dalam perjalanannya. Sedangkan orang yang berada dalam kategori kedua akan merasa ringan, karena dia merasa bukan pembawa beban.

 

Beban yang dimaksud penulis adalah barang-barang yang kita anggap sebagai milik kita, baik barang-barang yang bersifat konkrit (terlihat) maupun barang-barang yang bersifat psikis (tidak terlihat). Barang-barang yang bersifat konkrit bisa kita kategorikan seperti sekolahku, pekerjaanku, karirku, hartaku, anak istri/suami-ku, mobilku, rumahku, agamaku dan semua yang kumiliki. Barang-barang yang besifat psikis bisa termasuk di dalamnya mengakui sifat-sifat/kepribadian seperti milik pribadi seperti aku yang baik, aku yang ramah, aku yang pintar, aku yang murah hati, aku yang kuat dan tegar, aku yang murah senyum, aku yang soleh, aku yang taat beragama dan lain sebagainya.

 

Namun, siapa aku ini sebenarnya? Apakah aku yang mempunyai semua itu? Mengapa ada yang merasa sakit dalam diriku jika yang aku pikir tidak menjadi kenyataan? Mengapa ada yang merasa sakit di dalam diriku jika dalam kenyataannya aku tidak sepintar yang aku kira, tidak sebaik yang aku kira, tidak sekuat yang aku kira tidak setaat dalam agama seperti yang aku inginkan dan sebagainya. Mengapa ada yang merasa sedih di dalam diriku jika aku tidak memiliki apa yang aku inginkan? Mengapa ada sesuatu dalam diriku yang sering menginginkan sesuatu yang bukan hakku? Siapakah aku ini sebenarnya? Untuk apa aku mengalami semua ini? Apakah tujuan di balik ini semua? Kemanakah aku akan pergi dalam perjalanan ini? Mengapa perjalananku aku rasa begitu berat dan susah?

 

Dalam menjalani perjalanan hidup ini, sebaiknya kita membuang barang-barang yang mengganduli kita. Semakin enteng pundak kita, semakin kita bisa menikmati perjalanan ini. Semua barang-barang itu bukan punya kita. Hidup ini bukan milik kita. Badan ini bukan milik kita. Pekerjaan kita bukan milik kita. Suami/istri kita bukan milik kita. Harta kita bukan milik kita. Semakin besar keterikatan dengan barang-barang tersebut, semakin berat perjalanan hidup ini. Intinya adalah keterikatan. Lepaskan keterikatan itu. Kembalikan barang-barang tersebut kepada tempatnya. Gunakan seperlunya, jangan gunakan lebih daripada yang seharusnya.

 

Sesungguhnya hidup ini adalah perdagangan yang adil. Kita menerima apa yang telah kita usahakan. Jika kita menanam buah, maka buah lah yang akan kita petik. Jika kita menebar racun, maka racun pun yang akan kita dapatkan, lengkap dengan bunganya. Jika kita berlaku curang maka kecurangan itu akan datang kembali kepada kita, baik saat ini maupun nanti, beserta bunganya. Maka, sebelum memulai perjalanan, bayarlah hutang-hutang kita terlebih dahulu. Kita semua punya hutang, hutang kepada teman, hutang kepada orang tua, hutang kepada anak, hutang kepada orang yang kita temui dalam perjalanan kita. Jika hutang-hutang ini tidak dibayar, maka kita akan menerimanya kembali di kemudian hari berikut bunganya. Dan hutang-hutang ini akan memberati perjalanan kita.

 

Banyak pertanyaan-pertanyaan yang kita tanyakan dalam menjalani perjalanan hidup ini. Dalam usaha kita untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini kita melakukan pencarian. Dalam pencarian ini kita berusaha untuk menemukan apa yang kita cari. Banyak orang melakukan usaha yang bermacam-macam dalam pencarian ini. Ada yang pergi ke dukun, pergi ke orang pintar, ada yang baca buku, ada yang bertanya ke orang soleh.

 

Di dalam perjalanan hidup ini, kita sering bertemu dengan sesama pejalan hidup. Dalam pertemuan ini kita saling berbagi cerita dan pengalaman. Ada beberapa pejalan yang berjalan di jalan yang enak, ada juga yang berjalan di jalan yang bolong-bolong. Hanya sedikit yang memilih jalanan yang enak dan mulus lurus, kebanyakan pejalan memilih jalanan yang penuh lubang, banyak kubangan dan berkelok-kelok.

 

Pejalan hidup yang berada di jalan yang enak dan mulus lurus sering berkata, “Kenali dirimu, maka engkau akan mengenalNya”. Semua yang kita butuhkan dalam perjalanan ini berada di dalam diri ini. Banyak sekali yang mencoba mencari di luar, namun tidak ketemu, karena sebenarnya apa yang kita cari ada di dalam diri, bukan di luar.

 

Ada cerita yang mengkisahkan hal serupa. Cerita ini sudah sangat terkenal di kalangan pejalan ke dalam diri. Kisah ini mengisahkan si Fulan yang sedang kebingungan mencari kunci rumah. Dia mencari kunci rumahnya karena dia tidak bisa masuk ke dalam rumahnya sendiri. Dia mencari kunci rumah tersebut di halaman rumahnya yang besar dan diliputi oleh rumput-rumput dan ilalang lebat. Setelah satu jam mencari, belum ketemu juga, kemudian ada tetangganya lewat.

 

Tetangganya: “Hey Fulan, kau sedang mencari apa?”

Fulan pun menjawab: “Aku sedang mencari kunci rumahku. Aku tidak bisa masuk tanpa kunci itu. Maukah kau membantuku mencarinya?”

 

Tetangganya pun turut membantu Fulan mencari kunci rumahnya di halaman depan. Mereka mencari-cari di bawah batu, di sela-sela rumput dan ilalang. Berjam-jam mereka telah mencari tapi tidak ketemu-temu. Tetangga-tetangga yang lain pun pada ikut membantu. Seratus orang akhirnya ikut membantu tapi setelah seharian mencari kunci rumah itu tidak lah ketemu. Sampai salah seorang pejalan kaki yang kebetulan sedang lewat dan melihat orang-orang beramai-ramai mencari kunci rumah bertanya:

 

“Hey Fulan, apakah kau sudah mencari kunci rumah itu di dalam bajumu sendiri?”

 

Ketika si Fulan merogoh kantung saku bajunya, dia pun menemukan kunci rumahnya disana.

 

Pesan dari cerita ini adalah jika engkau mencari ke dalam diri, maka engkau akan menemukannya. Jika engkau mencari ke luar dirimu, maka engkau tidak akan menemukannya.


Diary Ramadhan

Filed under Ramadhan 2009,

Assalamu’alaikum wr. wb.,

Dalam bulan suci Ramadhan yang penuh barokah ini, kami mengajak semua warga dGromiest untuk berpartisipasi dalam program Diary Ramadhan yang merupakan bagian dari rangkaian Gempita Program Ramadhan - deGromiest (GPR-dG). Program  Diary Ramadhan ini diharapkan menjadi media untuk berbagi dalam bentuk tulisan; pengalaman, pemikiran, ide dan lain sebagainya. Tulisan harus original, diutamakan bertema Ramadhan, akan tetapi tema yang lebih umum juga diperbolehkan. Jumlah tulisan yang boleh dikirimkan tidak dibatasi, kami sebanyak mungkin.

Tulisan bisa dikirim ke Lia Atwa untur disortir dan kemudian dirlis di cafe dG.

 Mari mulai siapkan ide, mencari inspirasi, dan merangkai kata untuk digoreskan.

Ditunggu partisipasinya……

salam,

Panitia GPR-dG

-Lia Atwa-

 

 

 


Assalamu’alaikum wr. wb.
Dalam rangka menyambut dan memakmurkan Bulan Suci Ramadhan 1430 H,
dGromiest menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang dirangkum sebagai
Gempita Program Ramadhan - deGromiest (GPR-dG) 1430 H.
Adapun GPR dG tahun ini meliputi rangkaian acara:
1. Tadarusan

Koordinator : Nandi & Yusuf

Tadarusan di bulan Ramadhan diselenggarakan ba’da Ashar,

3 kali pertemuan/minggu, Senin-Rabu-Jumat. 10 hari terakhir

Ramadhan akan diintensifkan. Tempat di student house

(door to door) dengan durasi sekitar 1 jam.

2. Buka Bareng

Koordinator : Iqbal & Pandji

Diselenggarakan 1 kali/minggu,

Acara buka puasa minggu pertama Ramadhan akan diselenggarakan di kediaman

Kang Intan Taufik di Amalia van Solmsstraat 46B.pada tanggal 22 Agustus 2008,

dimulai pada pukul 19:30, catatan: waktu berbuka sekitar pukul 20.56 CEST

3. deGromiest OL

Koordinator : Alia, Faizah

dG OL bulan Ramadhan diselenggarakan sekali seminggu pada hari MInggu.

Sambil menunggu “bedug” berbuka dengan durasi sekitar 30 menit.

4. Diary Ramadhan

Koordinator : Lia

Sebuah media untuk berbagi melalui bentuk tulisan, khusus bagi

warga dG yang budiman. Semua diperbolehkan dan diencourage

untuk mengirimkan tulisannya ke Lia. Temanya kalau bisa

berhubungan dengan Ramadhan, atau yang sifatnya lebih umum

juga diperbolehkan. Setelah disortir, nanti akan dirilis di milis,

café dG, dan atau media lainnya.

5. Zakat

Koordinator : Wahono

Dikoordinasikan dengan tim Galiro (versi RZI).

Detail dari masing-masing acara akan dikemukakan oleh masing masing
koordinator kegiatan Semoga ridho Allah swt senantiasa menyertai semua
aktifitas kita. Dan semoga Ramadhan kita tahun ini adalah Ramadhan terbaik
kita,.. Amiiiin,…
So,..  dont miss it,..  
Wassalamu’alaikum wr. wb.
duo GPR,
Iqbal & Pandji