Archives for August, 2005

Terhitung pada tanggal 13 Agustus 2005, Rincian total dana deGromiest adalah :

1. Kartu ATM beserta kelengkapan rekening deGromiest = 1188,8 Euro*
2. Kotak ajaib Wangsa (hasil sumbangan sukarela pada beberapa acara kumpul-kumpul) = 59 Euro
3. Uang tunai = 670,9 Euro

Total = 1918,70 Euro

keterangan : * Oleh karena satu dan lain hal, pengurusan penggantian “holder” rekening deGromiest sampai saat ini belum dapat dilakukan. Sehingga, agar terdapat kepastian mengenai keberadaan serta akses kepada kas deGromiest, akan dibuat rekening baru untuk menyimpan kas deGromiest. Sedangkan rekening deGromiest yang lama akan dikosongkan dan dinon-aktifkan.

Pada tanggal 13 Agustus 2005, antara pukul 22.00 dan pukul 23.45 waktu Groningen, atau setidak-tidaknya antara setelah terbenamnya matahari dan terbitnya matahari, Bendahara deGromiest, Diana Jirjis, telah mengalihkan sementara sebagian dari kas deGromiest kepada Indra Muliawan, dengan dihadiri saksi-saksi:

1. Senaz
2. Ponky
3. Yunia
4. Mas Widy
5. Itobh

Dana yang dialihkan adalah yang disebutkan pada angka 1 (satu) dan 2 (dua) dari rincian total kas deGromiest di atas. Sedangkan uang tunai sejumlah 670,9 Euro pada angka 3 (tiga) akan ditransfer oleh Diana ke rekening baru segera setelah rekening baru tersebut dapat dipergunakan.

Pengalihan sementara tersebut dilakukan karena Diana akan segera meninggalkan Groningen menuju Yogyakarta pada tanggal 14 Agustus 2005. Demi tertib organisasi, maka, segera setelah bendahara baru terpilih pada pemilihan pengurus deGromiest periode 2005/2006, penguasaan kas deGromiest akan dialihkan ke bendahara yang baru terpilih tersebut.

Hal-hal yang belum dilaksanakan dalam peralihan sementara kas deGromiest ini, akan dilakukan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.

Demikian untuk diketahui.

—-
update 14 Agustus 2005 : Dari jumlah 670,9 Euro yang pada awalnya akan ditransfer ke rekening baru, telah diserahkan secara tunai sebesar 500 Euro. Sisanya akan ditransfer kemudian.


Siapa yang mencuri itu?

Filed under Renungan & Hikmah

Wahai pencuri, siapakah dirimu? Telah sekian lama malamku hilang bersama lelah. Pagiku menguap seperti embun tertimpa sinar mentari. Siangku berlalu mengikutimu. Kau curi semua itu. Siapakah gerangan dirimu?

Kidung dan pujian yang semestinya buat tuanku, telah kau curi kehidmatannya. Yang kau sisakan hanyalah mantera tanpa jiwa. Siapakah gerangan dirimu?

Duhai tuanku, jadikanlah kidung ini sebagai rantai yang mengikat jiwa bersama kursimu. Melindungi diriku dari keinginan dan suara besarnya sendiri. Agar tak terbawa oleh sang pencuri.

Jika kidung ini hanya menarik hadirnya lebih banyak pencuri, jangan lagi kau mampukan aku untuk meniup seruling. Agar tidak ada lagi yang bisa diambilnya dariku. Diriku pun hanya bisa duduk di depanmu.

Terimakasih tuanku. Pagi ini telah kau pertemukan aku dengan salah seorang dari kawanan itu. Dia mengaku bernama waktu. Bersikeras meminta perhatianku, berargumen menentukan detik-detikku. Memaksaku pergi dari ruang tamumu. Tadi aku telah berbicara dengannya. Ternyata dia hanya ingin diakui saja, tuanku. Dan untuk sementara dia mengambil jarak. Aku sejenak bisa berhidmat kepadamu.


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah, pada tanggal 13 Agustus 2005, akan diadakan dua acara. Acara utamanya adalah perpisahan dengan Bendahara kita yang telah menyelesaikan studinya di Groningen, Diana Jirjis. Oleh karena mau tak mau dalam acara tersebut pasti akan terjadi silaturrahim, maka, dengan persetujuan pemilik acara utama, acara tersebut juga ditunggangi sebagai Silaturrahim bulanan deGromiest untuk Agustus 2005. Acara tersebut akan diadakan di :

Kediaman Itobh, Ponky, Diana, dan Mas Widy*
Westerbadstraat 48, Groningen
Pukul 17.00 18.30** waktu Stasiun Groningen CS

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:
Diana Jirjis di :
[email protected] yahoo. com
0619046578

*tidak terdaftar di Gemeente Groningen
** sudah dikonfirmasi


Ziarah

Filed under Renungan & Hikmah

Setelah tidak bertemu muka hampir empat tahun, saya menjumpai adik
kandung di kota kecamatan tempat kami dilahirkan. Lebih tepat lagi
di rumah yang masih saya ingat persis ada pohon rambutan di bagian
dalam, pagar kawat di bagian depan, sebuah sumur pompa tangan, dan
lorong kecil di sisi kiri tempat ari-ari jabang bayi kami berdua –
saya dan adik — ditanam. Bangku kayu di beranda juga masih seperti
puluhan tahun lalu, termasuk warna abu-abu, yang hingga kini tidak
berubah. Salah satu momen nostalgia di bangku itu adalah pada saat
kami — ibu, adik, dan saya — bercakap-cakap santai beberapa bulan
setelah bapak berpulang ke rahmatullah dan saya bersiap-siap
beberapa hari berikutnya akan ikut UMPTN di kota kabupaten.

Sebuah keping sejarah yang selanjutnya mengantarkan saya pada keadaan
sekarang ini.

Adik saya tidak berubah; di antara sekian preferensinya dalam
menikmati hari-hari sibuknya di kota kecamatan, dia menyambut saya
dengan sebuah hadiah: buku tulisan Sindhunata, salah satu kolumnis
Kompas yang aktif, tentang kesenian Jawa Timur, Ludruk. Dengan judul
Prabu Minohek — Ilmu Ngglethek, buku ini disebut oleh penulisnya
tidak akan sanggup bercerita secara utuh tentang seorang Kartolo,
melainkan lebih merupakan sebuah “feature” tentang Kartolo “and his
gang”.

Saya yang membaca buku tersebut sepanjang perjalanan kembali dari
Jember ke Bandung, mau tidak mau tersenyum simpul sendiri — untuk
menghindari tergelak seorang diri — menelusuri bab demi bab yang
kira-kira separuh lebih ditulis dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan
dan Malang. Di sana-sini diumbar ungkapan urakan khas Kartolo dan
grupnya jika sudah seperti “in trance” di panggung. Ironi,
kekonyolan, kesombongan-setengah-ndablek gaya Basman, sampai dengan
ejek-ejekan khas Surabaya, “Guuuuoooblokkkk!”, hahahaha… (gaya
Basman kalau sehabis memuji dirinya sendiri yang digambarkan penuh
kekonyolan).

Di Surabaya, saya hanya menghirup udara sekitar stasiun Gubeng dan
warung nasi rawon di pojokannya. Tidak sempat saya kitari kota
“mlaku-mlaku nang Tunjungan” ini seperti saya kagumi Paris yang
glamor dan saya puji kota Eiffel ini cocok untuk kaum bohemian.
Benar, Paris agak angkuh karena yang disodorkan adalah aroma “seni
untuk seni” dengan titik pusat pada nama-nama besar dan cita rasa.
Jika kita merumput di tempat-tempat publik di Paris dan terdengar
alunan musik klasik, seperti itulah kita membayangkan sebuah
adikarya yang kompleks.

Dan saya telah kembali di kampung sendiri dengan penjelasan bahwa
kesenian yang diusung Kartolo dan teman-temannya adalah sebuah seni
yang sebenarnya “tidak berisi apa-apa”. Jika kita sedikit kecewa
karena ternyata Kartolo hanya menceritakan kehidupannya sehari-hari,
mengulang guyonan yang dibawa teman-temannya, dan mengolok-olok
kepahitan hidup di negeri ini, itulah yang kemudian disebut “ilmu
ngglethek”. (Ngglethek: ungkapan “oh ternyata…”)

Itulah kehidupan kesenian yang menjadi semacam bohemianisme para
pekerja seni Ludruk dan diterima secara massal. Kaset rekaman
Kartolo meledak terjual dan dinikmati semua lapisan masyarakat.
Jula-juli (semacam pantun, parikan) yang dilantunkan dapat menyentuh
salah satu pendengarnya menjadi bertobat dari kecanduan judi dan
salah satu hasil “industrialisasi” kaset rekaman itu adalah Kartolo
menikmati tempat tinggal yang memadai, menyekolahkan kedua putrinya
sampai jenjang perguruan tinggi, dan mengantarkan dia dan isterinya
berhaji. Dia sendiri kemudian mulai aktif mengasuh majelis Yasinan.

Banyu urip akeh tandurane,
mliwis netes manuk dara
urip ning donya ibarate wong mampir ngombe
wis pantese wong urip ora golek pekara

Dan cukup sekian,

Yu Painten kleleken andha
cekap semanten kidungan kula


Seputar Fatwa MUI

Filed under Islam Aktual

Topik-topik yang diangkat MUI dalam fatwanya tahun 2005 merupakan topik yang muncul saat ini di masyarakat, atau kontemporer. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mempelajari permasalahan kontemporer umat Islam di Indonesia dengan berkaca pada fatwa MUI. Artikel ini dimaksudkan sebagai ‘pengumpul’ atau ‘gatherer’ pendapat-pendapat para ulama/cendikiawan seputar fatwa MUI. Tujuannya agar kita bisa belajar dengan lebih konprehensif dari berbagai sudut pandang. Apa yang ada di sini bukan menunjukkan persetujuan atau dukungan. Hanya sebagai bahan kita untuk belajar meluaskan horizon.

Temen2 yang punya akses ke Cafe ini juga bisa menambahkan.

Republika
Salahuddin Wahid
Ketua Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI
“Dialog, Solusi Menyelesaikan Masalah Ahmadiyah”

Detik.com
Hidayat Nur Wahid
Ketua MPR
Hidayat secara pribadi bisa menerima fatwa MUI itu. Bahkan dia meminta kepada masyarakat untuk menyikapinya dengan arif dan tidak menjadikan fatwa itu untuk alasan melakukan tindakan pelanggaran hukum.

Jawa Pos
Mustofa Bistri
Salah satu hak manusia paling asasi adalah keyakinan. Kita bisa mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, tapi tak bisa memaksakannya. Nabi Ibrahim as dengan segala kebijaksanaannya tidak bisa membuat ayahnya sendiri meyakini keyakinannya, meski keyakinannya itu benar. ..

[.... to be added ....]

Sumber tambahan
EraMuslim
Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
Masalah Toleransi dalam Islam
Butir-butir Kesesatan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dan Sikap Kita


[Sumber]

1. Secara formal organisatoris, NU tidak punya hubungan apa pun dengan MUI, meskipun diakui di sana ada elemen-elemen NU. Maknanya, bahwa secara formal-organisatoris NU tidak terikat dan tidak bisa diikat oleh fatwa MUI.

2. Fatwa adalah aplikasi norma Fiqh yang disasarkan kepada tindakan / perbuatan (amaliyah) obyektif seperti judi, korupsi, suap, money politics, dsb. Fatwa yang disasarkan terhadap pemikiran dan pandangan hidup (seperti pluralisme, sekularisme dan liberalisme) terasa melampaui jurisdiksi dan tidak lazim. Ini sejalan dengan definisi baku dari Fiqh, “ Ilmu ttg hukum-hukum syar’iyah amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci / al-ilm bi al-ahkam as-syar’iyyah al-ama;iyah almuktasab min adillatiha at-tafshiliyat”.

3. Lagi pula, kegiatan menetapkan hukum (judgment) sebagai tahap mengambilan kesimpulan (natijah) tidak bisa ujug-ujug, melainkan musti melewati satu tahap mutlak yang disebut tashawwur (rekonstruksi dan definisi masalah). Artinya, jika kita mau menjatuhkan hukum atas sst perkara maka haruslah jelas lebih dahulu apa yang dimaksud dengan perkara-perkara itu sebagaimana adanya. Bukan sebagaimana yang saya maui atau saya khayalkan sendiri. Tashawwur inilah yang akan menentukan mutu dari hokum yang disimpulkan. Rendah mutu tashawwur, rendah pula mutu hokum yang ditetapkannya.

4. Fatwa MUI tentang liberalisme, pluralisme dan sekularisme jelas tidak didahului oleh proses tashawwur secara obyektif, bagaimana para pengusung (selaku tertuduh) pemikiran-pemikiran itu mendefinisikannya. Apa yang dilakukan MUI dalam proses pembahasannya yang begitu singakat, hanyalah tashawwur menurut imajinasi mereka yang sejak mula sudah dibimbing oleh prasangka dan curiga. Dengan kata lain, fatwa seperti itu tidak memenuhi syarat dan bahkan cenderung (maaf) gegabah.

5. Di saat-saat dimana kecenderungan amook massa begitu mudah terbekar, mengeluarkan fatwa seperti itu sungguh beresiko; sangat dikhawatirkan fatwa-fatwa seperti itu akan dipakai oleh orang-orang yang sudah ketagihan (addicted) dengan kekerasan untuk menjustifikasi aksi-aksi mereka seperti yang sudah terbukti terhadap saudara sebangsa kita beraliran Ahmadiyah di Parung dan Kuningan. Jika ini terjadi sulit dihindari pandangan orang bhw MUI telah menjadi inspirator tindakan-tindakan kekerasan itu.

6. Khusus tentang fatwa sesat terhadap faham atau aliran yang dipandang tidak sesuai dengan keyakinan sendiri, jika memang MUI merasa berwenang menetapkannya dan bersikeras untuk memfawakannya, kami kira itu teserah saja. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak bisa diacu oleh aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan kekerasan atas nama Negara, karena satu prinsip: Negara adalah lembaga public milik orang banyak, ia tidak boleh dibajak menjadi alat keyakinan tertentu untuk mendukung dirinya dan atau menghancurkan lawannya.

7. Kecenderungan umat Islam untuk berlindung pada cara-cara kekerasan, termasuk kekeraan dengan fatwa, dalam menghadapi orang/pihak lain justru mengindikasikan rendahnya kepercayaan mereka terhadap keunggulan agamanya dan kualitas umatnya. Jika benar bahwa Islam unggul nan takterungguli (ya’lu wa laa yu’la alaih) dan keunggulan itu bisa dibuktikan kepada orang lain dengan keunggulan argument dan kemuliyaan perilaku, pastilah segala macam pembelaan dengan kekerasan tidak bisa dipahami lain kecuali penghinaan terhadap Islam itu sendiri.

8. Akhirnya, dengan tidak mengurangi keinginan menghormati MUI, kami mengimbau kiranya Fatwa lembaga ini khususnya berkaitan dengan keharaman pandangan pluralisme/ sekularisme/ liberalisme dapat ditarik dahulu untuk dipikirkan kembali dengan kearifan dan kedalaman ilmiyah sesuai dengan karakter sejati dari ulama dan keulamaan.

9. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang diridloi-Nya. Hadaa nallah wa iyyakum ajma’in.

Masdar Farid Mas’udi
Ketua PBNU & Ketua P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat).


11 Fatwa MUI 2005

Filed under Islam Aktual

[sumber:...]

Ada sebelas fatwa. Yang kedua, berupa rekomendasi yaitu merekonmendasikan tentang suatu masalah kepada MUI yang akan datang untuk membahas kaidah-kaidah toleransi penafsiran agama. Ini yang belum difatwakan. Dititipkan pada MUI yang akan datang. Rekomendasi kedua, memohon kepada MUI agar mensosialisikan fatwa MUI yang ditetapkan pada Munas 5 tahun lalu tentang Riswah, Ghuluh dan hadiah kepada pejabat..

Kemudian menganai fatwa yang telah ditetapkan pada hari ini, setelah dibahas maka disini akan kami bacakan diktumnya saja.

1. fatwa soal perlindungan kekayayaan hak intelektual HAKI
1. ketentuan umum:
Dalam fatwa ini yang dimaksud kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah fikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk mnusia dan diakui oleh negara berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Oleh karenanya HAKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari hasil dari suatu kreatifitas inteletual dari yang bersangkutan sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan dan memroleh perlindungan atas karya intelektualnya. Sebagai bentuk penghargaan atas kreatifitas intelektualnya tersebut, negara memberi hak eksklusif kepada pendaftarnya dan atau pemiliknya sebagai pemegang hak yang sah di mana pemagang hak mempunyai hak melarang orang lain yang tanpa persetujuannya atau tanpa hak memperdagangkan atau memakai hak tersebutdalam segala bentuk dan cara.

Hak inteletual ini meliputi:
1. Hak perlindungan varieatas tanaman
2. Hak hak rahasia dagang
3. Hak desain industri
4. Hak desain tata letak terpadu
5. Paten
6. Hak atas merek
7. Hak cipta.

keketuan hukum
1. Dalam hukum Islam hak kekayaan inteletual dipandang sebagai salash satu hukum malia ata hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum atau Masytunun Syaraan sebagaimana harta.
2. Hak kekeyaan intelektual yang mendapat perlindungan hukum isalm sebagaimana dimaksu pada angka dtersbut adalah hak inteletual yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dua, HAKI dapat dijadikan obyek pertuakaran atau komersidal atau on komersial serta dapat diwakafkan dan diwariskan.

Setiap bentuk pelanggaran HAKI termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan menyerahkan, meyediakan, mengumumkan, memperbanyaki, menjiplak, memalsu, membajak HAKI milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezoliman dan hukuknya haram.

2. Fatwat tentang Perdukunan dan Peramalan
Setelah menimbang, mengingat, memperhatikan, memutuskan, dan enetapkan:
1. Segala bentuk praktek perdukukunan dan peramalan hukumnya haram
2. Mempublikasikan praktek perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun, hukumnya haram
3. Memanfaatkan, menggunakan, dan atau mempercayai segala praktek perdukunan dan peramalan hukumnya haram.

3. fatwa tentang Doa Bersama
Setelah menimbang, mengingat, dan seterusnya.menetapkan:

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan
1. Doa bersama adalah berdoa yang dilakukan secara bersama antara umat Islam dengan non Islam dalam acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan dalam waktu dan tempat bersamaan. Baik dilakukan dalam bentuk atau beberapa orang berdoa sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
2. Mengamini orang yang berdoa termasuk doa

2. Ketentuan hukum
1. Doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non muslim tidak dikenal dalam Islam, oleh karenanya termasuk bid’ah
2. Doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran maka orang Islam haram menguikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non mislim
3 Doa bersama dalam bentuk muslim dan non muslim berdoa secara serentak, misalnya mereka membaca teks doa secara bersama-sama, ukumnya haram.
4 Doa bersama dalam bentuk seorang non muslim memimpin doa, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamininya.
5. Doa bersama seorang tokoh Islam memimpin doa hukumnya mubah.
6. Doa bersama dalam bentukk setiap orang berdiaoa enurut agam masing-masing, hukumnya mubah.

4. Fatwa tentang Perkawinan Beda Agama
setelah menimbang dan seterusnya..menetapkan:
1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah
2. Perkawinan laki-laki mslim dengan wanita ahlul kitab, menurut mukamar adalah haram dan tidak sah.

5. Fatwa tentang Pewarisan Beda Agama
setelah menimbang, menguingat, dst, menetapkan :
1. Hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewarisi antara orang-orang beda agama (antara muslim dan non muslim)
2. Pemberian antara orang berbeda agama hanya dapt dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.

6. Fatwa Kriteria Maslahah
setelah menimbang, mengingat, dan selanjutnya.. menetapkan kriterai Maslahah:
1. Maslahat atau kemaslahatan menurut hukum Islam adalah tercapainya tujuan syariah yang diwujudjkan dalam bentuk terpeliharanya
5 kebutuhan primer, yaitu agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.
2. Maslahat yang dibenarkan syariat adalah maslahat yang tidak bertentangan dengan nash, karena maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash.
3. Lembaga yang menentukan maslahat tidaknya menurut syara’, adalah lembaga yang memilki kompetensi di bidang syariah dan dilakuiakn melalui ijtihad jama’i

7.Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularise Agama.
Setelah menimbang, menguingat, memperhatikan dan menetapkan

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme adalah faham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Karena itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sementara agama yang lain. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk akan hidup berdampingan di dalam surga.

2. Plularitas agama adaah sebuah kenyataan bahwa di negara/ daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

3. Liberalisme adalah memahami memahami nash nash agama (Al quran dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

4. sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sementara hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasar kesepakatan sosial.

Ketentuan Hukum
2. Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah faham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam
2. Umat Islam haram mengikuti faham pluralimse, sekulraisme, dan liberalisme agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencapur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan akidah dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam artian tetap melakukan ergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.

8. Fatwa tentang Pencabutan Hak Milik Pribadi untuk kepentingan Umum
setelah menimbang, dst menetapkan :
1. ketentuan Umum
1. Hak Milik pribadi adalah kepemilikan sesuatu yang manfaatnya hanay dinikmati oelh pemiliknya, seseorang atau beberapa orang tertentu.
2. Kepentingan umum adalah kepentingan adalah kepentinan yang manfaatnya dinikmati oleh masyarakat bujum tanpa ada diskriminasi.
2. Ketentuan Hukum
1.Hak milik pribadi wajib dilindungi oleh negara atau pemrintah dan dijamin hak-haknya secara penuh. Tidak seorang pun, termasuk pemerintah, boleh mengurangi, mempersempit, atau membatasinya. Pemilknmuya berkuasa atas miliknya dan berhak mempergunakan atau memanfaatkannya dalam- batas-batas yang dibenarkan hukum Islam.
2.Jika terjadi benturan antara kepentingan pribadi dan uymum maka yang didahulukan adalah kepentingan umum. pemerintah dapat mencabut hak milik pribadi dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Ditempuh lewat musyawarah antara pemerirntah dan pemilik tempat tanpa adanya pemaksaan.
b. Harus diberi ganti rugi yang layak.
c. Penanggungjawab kepentingan umum adalah pemerintah
d. Penetapan kepentinan umum oleh DPR atau DPRD dengan memperhatikan fatwa dan pendapat MUI
e. Kepentingan umum tidak boleh dialih fungsikan untuk kepentingan lain terutama yang bersifat komersial.
f.
9. Fatwa tentag Wanita menjadi Imam sholat
setelah menimbang. Menguingat dan seterusnya.. menetapkan
1. wanita menjadi imam sholat yang diantara makmumnya terdapat laki-laki hukumnya haram.
2. wanita menjadi imam sholat yang makmumnya wanita hukumnya mubah.

10. Fatwa tentang Aliran Ahmadiyah
setelah menibang, dst. menetapkan :
1. mengaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II tahun 1980 yang menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)
2. Bagi mereka yang terlanjurt mengikutui ahmadiyah supaya kembali ke ajaran Islam yang hak sejalan dengan Al quran dan Hadist.
3. pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham ahmadiayh di seluruh indonesia dan membekukan organisasi serta menuruto smeua tempat kegiatannya.

11. Fatwa Hukuman Mati dalam Tindak Pidana Tertentu
setelah meimbang dst, menetapkan :
1. Islam mengakui eksistensi dan memberlakukannya dalam tindak pidana khudud, qishos dan Ta’zir.
2. Negara boleh melaksanakan hukuman mati terhadap poelaku kejatan pidana tertentu.


Di milis deGromiest saat ini sedang rame diskusi tentang Fatwa MUI. Saya melihat diskusi ini sebagai sebuah upaya yang positif untuk memahami persoalan umat. Fatwa yang dikeluarkan MUI tentu tidak sembarangan fatwa, dan tentu melalui proses pemikiran yang menyeluruh dari para ulama. Tulisan ini agak panjang untuk di milis, jadinya saya posting juga di Cafe. Mohon maaf.

DARI 7 fatwa haram MUI, tampaknya nomor 1 s/d 5 (euthanasia, perkawinan, perdukunan, kewarisan, dan wanita imam) tidak menimbulkan keresahan.

FATWA nomor 6, tentang Ahmadiyah, menimbulkan berbagai tuntutan dan dampak, seperti munculnya rasa was-was penganut Ahmadiyah di Bandung. Artinya, fatwa ini berdampak pada hidup mati penganut Ahmadiyah atas kemungkinan munculnya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat kepada mereka. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini, dimana negera belum bisa memberi jaminan keamanan, kekhawatiran itu semakin bertambah. Mereka juga punya anak, bayi, istri seperi halnya manusia yang lain. Berita di kompas spt yang jadi awal thread diskusi ini (baca ini) melaporkan tuntutan tersebut.

FATWA nomor 7, tentang hampir diharamkannya pluralisme dan liberalisme, juga dilaporkan oleh Republika diminta dicabut oleh Ketua PBNU, temennya Cak Fu, Masdar Farid Masoedi. Menurt Masdar, fatwa ini terlalu gegabah, karena tidak didasari oleh “pendefinisian masalah”. Masa sampai begitu? Kalau kita riset, pertama yang musti didefinisikan adalah masalahnya dulu, tapi dalam hal fatwa ini, tahapan ini dilewati.

Penasaran, kulihat webnya MUI, ternyata hanya sedikit informasi di sana tentang fatwa pluralisme ini. Hanya diberikan arsip koran Tempo. Ada yg tahu link ke daftar fatwa dan latar belakangnya? Bagi dong…

SOAL hampir haramnya liberalisme dan pluralisme bukankah belum jadi fatwa namun baru jadi rekomendasi untuk munas mendatang? (lihat di web tsb) Namun, melihat reaksi tokoh masyarakat dan cendikiawan (lihat pula konferensi pers Ulil, Azyumardi, dll) tentang pandangan MUI soal liberalisme dan plurisme, poin ini tampaknya cukup meresahkan.

TENTANG definisi keduanya: “Liberalisme itu memandang agama dengan alam pikiran, sedangkan pluralisme berarti membenarkan semua agama,”kata Maruf. Aku sendiri baru tahu kalau definisinya begitu.

Selama ini aku mengikuti definisi pluralisme kira-kira begini: “pluralisme adalah pengakuan akan keberagaman dan menerima keberagaman itu dalam kehidupan bersama. Ada peacefull co-existence dalam pluralisme. Seorang yang tidak pluralis adalah yang (sejak dalam gagasan) tidak mengakui adanya keberagaman dan (sebagai konsekuensinya) tidak bisa hidup damai dalam keberagaman tersebut” (dari milis sebelah).

Dan dari Dictionary.com:

“pluralism”

1. The condition of being multiple or plural.

  • A condition in which numerous distinct ethnic, religious, or cultural groups are present and tolerated within a society.

  • The belief that such a condition is desirable or socially beneficial.

3. Ecclesiastical. The holding by one person of two or more positions or offices, especially two or more ecclesiastical benefices, at the same time.
4. Philosophy.

  • The doctrine that reality is composed of many ultimate substances.

  • The belief that no single explanatory system or view of reality can account for all the phenomena of life.

Rasanya nothing wrong dengan pluralisme, bahkan ini adalah sebuah kondisi harmoni yang diharapkan oleh para pendiri bangsa kita melalui Bhinneka Tunggal Ika.

MOTO bangsa kita ini, menurut saya, merupakan pencapaian pemikiran dan perenungan yang luar biasa. Para pendiri itu lahir dari pahit getirnya perjoangan negeri ini. “Pancasila” dan seloka “bhinneka tunggal Ika” adalah ungkapan yang menurut Dr Soewito dalam tulisannya Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana (1975)- “is a magic one of great significance and it embraces the sincere hope the whole nation in its struggle to become great, unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community”.

PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar dan seloka negara kita, tentu bukan sembarangan ciptaan manusia. Jika tidak ada dualisme dalam Ketauhidan, tentu kita yakin keduanya juga dari Tuhan yang dilahirkan melalui para pendiri negara kita.

Rasanya begitu dalam maknanya, begitu dekat dengan rasa Keakbaran Allah, Kasih Sayang Allah. Bagaimana bisa, itu semua direduksi hingga tinggal bermakna “membenarkan semua agama”? Semoga saya salah memahami maksud fatwa ini. Semoga para ulama yang ikut munas, sudah benar-benar melihat bangsa Indonesia (bukan hanya umat Islam) secara menyeluruh. Tugas ulama, menurut saya, bukan sekedar menjaga akidah umat Islam saja, ‘rohmatan lil muslimin’. Tetapi menjadi ‘rohmatan lil alamin’, untuk semua alam (termasuk manusia, binatang, alam, planet, dll).

SORE tadi sempat merenung, bertanya-tanya sendiri, bagaimana seharusnya hubungan antara para ulama (mereka yang berilmu dan diformalkan dalam sebuah institusi) dengan umatnya? Apakah seperti seorang ayah yang memberitahu anaknya mana yang benar mana yang salah? Tentu, tidak ada ayah yang ingin mencelakakan anaknya. Apa yang disampaikan pun untuk kebaikan anaknya. Namun, bagaimana dengan anaknya yang membangkang, menurut dia? (belum tentu sebenarnya membangkang, mungkin sang ayah yang belum paham pemikiran anaknya. ini yang sering terjadi, khususnya saya ke Lala dan Malik).

SAYA (weleh.. kadang pake aku, kadang saya.. gimana Ndra, pakar Kita, Kami, dan Revans?) rasa bangsa kita ini membutuhkan jiwa yang luas dan dalam untuk bisa merangkul berjuta perbedaan yang ada. Kita adalah negara maritim, yang luas lautnya. Jika rumput yang bergoyangnya Ebiet G. Ade pun bisa bicara, tentu lautan pun akan bertutur kepada kita. Pernahkan kita mendengarkan tuturannya? “Lihatlah diriku, yang menerima segala keragaman yang dilempar ke dalam dasarku. Tak satupun yang kutolak. Semua kuterima, semua kurangkul. Nyi Roro Kidul pun (kalau memang ada) beristana di dalam dasarku. Namun lihat, aku tetap samudera yang tunduk patuh kepada perintahNya untuk selalu bertasbih memujiNya.”

Sang Samudera

Di tepian pantai,
gemuruh ombak memukul dan mencabik karang
saling berebut tempat dan jalan
dengan kuat dan tajam

Sekejap waktu tiba,
sang ombak kembali ke induknya
membawa serta butiran pasir yang terkikis
lalu kembali lagi, menghantam!

Pelaut pun berlayar semakin jauh,
meninggalkan hiruk-pikuk ombak dan karang
di atas luasnya samudera
dia berlabuh

Waktu seolah berhenti,
ketika di atas permukaan biru,
badai menerjang
menghancurkan kapal

Di kedalaman hati samudera
ditemukannya kedamaian
tempat kembali segala yang yang dipermukaan
kapal, besi, kayu, bangkai, emas, harta karun, kotoran, dslb…