Archives for July, 2005

Kita, Kami, dan Revans

Filed under Catatan Pribadi

Pada hari rabu tanggal 27 Juli 2005, setelah sempat beberapa hari tidak bersentuhan dengan internet, saya menyempatkan diri membaca beberapa blog dan situs berita mengenai tanah air. Pendek kata, setelah membuka-buka beberapa halaman situs, mata saya mulai terasa gatal. Ternyata setelah diperhatikan, ada beberapa penggunaan bahasa Indonesia yang sedikit membuat saya “tersinggung”.

Masalah penggunaan “kami” dan “kita” memang sudah mengusik saya sejak lama. Hanya saja, “serangan” yang bertubi-tubi pada hari Rabu kemarin itu, membuat saya ingin menumpahkan kerisauan saya di tempat yang dapat dibaca oleh publik luas. Media mana lagi yang lebih cocok dari café degromiest yang ratingnya di google sudah amat tinggi ini?

Kami dan Kita

Perhatikan contoh dibawah ini :

A ingin mengungkapkan kepada B, bahwa ia dan X kemarin beli ikan Tongkol di Vismarkt.

A: “Eh, B, kemarin aku dan X ke Vismarkt lho.. kita beli ikan Tongkol masing-masing 3 ekor!
B: “Wah.. berarti aku bisa ke rumah mu ya malam ini, numpang makan.. maklum, di Gedung Kuning udah enggak ada makanan lagi”

Sebelum dibahas lebih lanjut, ada baiknya kita (!) mengulangi sedikit pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 3 SD. Dalam suatu percakapan, “Kita” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan si lawan bicara (orang kedua). Sedangkan “kami” digunakan untuk mengacu kepada si pembicara (orang pertama), dan orang lain (orang ketiga), selain si lawan bicara (orang kedua).

Sehingga, menurut kaidah bahasa Indonesia, A pada contoh diatas, seakan-akan mengatakan bahwa A dan B lah yang beli ikan tongkol di Vismarkt, dan bukan A dan X. Seharusnya, A menggunakan “kami”, bukan “kita”.

Dalam percakapan sehari-hari, sering sekali kesalahan macam ini terjadi. Mungkin, karena sudah terlalu sering, otak kita (!) cenderung untuk mengabaikannya. Atau bahkan, penggunaan “kita” untuk contoh diatas sudah dirasa benar, dan penggunaan “kami” malah dirasa janggal. Tetapi, bagi yang memperhatikan, tentu telinganya akan menderita gatal-gatal yang tidak bisa disembuhkan oleh dokter THT.

Selama ini, sering terdengar keluhan, bahwa Bahasa Indonesia banyak menyerap kata-kata dari bahasa lain, karena Bahasa Indonesia itu tidak memiliki kosa kata yang cukup, sehingga harus dilengkapi oleh bahasa lain. Contoh diatas, telah membuktikan, bahwa keluhan tersebut tidak sepenuhnya benar. Bandingkan dengan bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang hanya punya “we” dan “wij”, sementara bahasa Indonesia punya “kami” dan “kita”. Bukankah dalam hal ini bahasa kita lebih kaya?

Revans

Penggunaan kata serapan, dalam hal memang tidak ada padanannya dalam bahasa Indonesia, memang dapat diterima, atau malah dianjurkan. Akan tetapi, apabila diperhatikan, banyak juga kata serapan yang seharusnya tidak perlu diserap, karena padanan katanya sudah terdapat dalam Bahasa Indonesia.

Pada hari yang sama, hari Rabu kemarin, di salah satu rubrik olahraga situs berita dari tanah air, saya menjumpai kata “revans”. Ini juga bukan yang pertama kali kata ini saya jumpai. Namun, kali ini karena dijumpai di salah satu situs berita yang menurut beberapa informan diakses sekian ratus ribu kali perharinya, saya menjadi amat prihatin. Penggunaan “revans” pada situs itu adalah kira-kira sebagai berikut:
“Dalam olahraga X, A ingin revans terhadap B”.

Setelah beritanya dibaca, ternyata yang dimaksud oleh si penulis berita dengan “revans” adalah “balas dendam”. Apakah begitu nistanya bahasa Indonesia sehingga si penulis harus menggunakan “revans”? atau apakah tujuannya agar pembaca situs itu tahu, bahwa si penulis berita sudah mengerti bagaimana cara menggunakan kata “revenge” dalam bahasa Inggris?


Kemalasan berbahasa Indonesia yang baik dan benar (bukan propaganda orba ya..) akhir-akhir ini sema(ng)kin memprihatinkan. Makin banyak kosa kata bahasa kita hilang ditelan bumi, karena sudah tidak digunakan lagi, diganti dengan kata lain, dan dari bahasa lain. Di lain pihak, kekayaan bahasa kita makin dipermiskin, bahwa walaupun sedianya ada “kita” dan “kami”, saat ini secara perlahan-lahan “kami” sedang dalam proses pengikisan dari kosa kata bahasa Indonesia.

Dengan tetap chusnudzan, saya ingin berkata bahwa mungkin, program pengajaran bahasa Inggris di tanah air sudah sedemikian hebatnya, sehingga para pemakai bahasa Indonesia sudah mulai lupa dengan bahasa ibunya (English disease – mulai mewabah di Belanda), , dan siap “Go International”. Tetapi sepertinya, saya belum bisa berkata demikian. Pejabat negara bagian pariwisata saja, bahasa inggrisnya masih “belepotan”. Masa sudah lupa bahasa Indonesia?

Repot amat sih sama bahasa Indonesia? So What Gitu Lho!!?


Saya ingat pemutaran film Harry Potter pertama kali, sekitar akhir tahun 2001. Saat itu saya masih di Maryland, Amerika Serikat. Tidak beberapa lama kemudian diputar The Lord of the Ring: The Fellowship of the Rings. Saya mengenal fantasi Rowling lebih dulu daripada fantasi Tolkien, jadi ketika The Fellowship of the Rings diputar, saya hanya mencibir sambil berujar, “Ah, satu lagi karya film mendompleng ketenaran karya lain.” (Ini merujuk pada pengalaman yang sudah-sudah, satu film laris akan diikuti oleh film-film sejenisnya.)

Desember 2003, beberapa hari menjelang ujian akhir Subatomic Physics. Seorang sahabat pribumi mengajak saya ke peluncuran perdana The Lord of the Rings: The Return of the King. Malam itu saya harus menjilat kembali cibiran 2 tahun yang lalu. Tidak beberapa lama 4 kitab fantasi Tolkien, The Silmarillion, The Hobbits, The Lords of the Rings, dan Unfinished Tales saya khatami - hanya bagian indeks yang tidak saya baca. *This is the greatest and the only one favorite fantasy for me*. (Eventhough I quite agree that Mahabarata is better, but for some reason I choose Tolkien.)

Bagaimana dengan Harry Potter?

Fantasi Rowling bagus, buktinya menarik balik minat baca anak-anak seluruh dunia dari ketergantungan menonton tivi. Itu berarti ceritanya menarik, dan pada kenyataannya memang menarik. Pembaca Harry Potter bisa disebut segala umur, walau saya belum pernah tahu kalau ada generasi 50-an membaca Harry Potter (berbeda dengan fantasi Tolkien yang jadi cerita sebelum bobo sampai kakek-kakek).

Popularitas Harry Potter makin melangit setelah suksesnya versi layar lebar, Harry Potter and the Sorcerer’s Stone. Layar lebar kedua, Harry Potter and The Chamber of Secret, menurutku sangat mengesankan. Dan terakhir, Harry Potter and The Prizoner of Azkaban, sedikit menurun kualitasnya. Yang paling mengecewakan adalah alurnya yang tidak benar. Kalau tidak salah saya sampai marah-marah dengan seorang teman dekat gara-gara dia saya tuduh tidak menceritakan alur dengan benar - setelah dicek ternyata alur di film yang salah. *Itu lho*, adegan Harry mengeluarkan mantera mengusir Dementhor yang mengerubungi Sirius Black - saya sendiri juga sudah lupa bagian mana yang tidak benar.

Nah, kenapa saya marah-marah? Ternyata, selama ini saya adalah penikmat Harry Potter palsu. Saya gemar mendengar diskusi para penggemar Harry Potter, tanya ini-itu, kemudian menceritakan kembali ke orang lain dengan lagak yang seakan-akan sudah baca. Hehehe…

Tapi tentu saja saya tidak tergantung pada ajian menguping itu. Sebelum menguping, saya baca dulu bukunya. Bedanya, kalau penggemar Harry Potter asli membaca kata demi kata, halaman demi halaman, seakan-akan tidak mau kehilangan momen-momen penting, saya membaca buku itu hanya dalam hitungan menit.

Caranya? Cukup baca 3 bab pertama + 10 halaman terakhir. Tiga bab pertama dibaca dari kiri ke kanan, selayaknya membaca buku teks, dan sepuluh halaman terakhir dibaca dari kiri ke kanan selayaknya mebaca Al Quran. Saya jamin, inti dari cerita satu buku sudah ada di kepala anda. Kata orang padang, “Kalau bisa melakukan dengan lebih cepat dengan hasil yang sama, kenapa cari jalan yang berbelit-belit?” He he he… Sayangnya ajian itu tidak berlaku dengan untuk The Lord of the Rings dan karya Tolkien lainnya.

Nah dengan ajian itu, hari Minggu 17 Juli saya sudah menyelesaikan Harry Potter and the Half-blood Prince (yang saya terjemahkan: Harry Potter dan Pangeran Setengah-berdarah, hihihi). Hari Senin, dengan polosnya saya email beberapa teman penggemar Harry Potter untuk mendiskusikan beberapa hal, dan yang paling penting adalah teori konspirasiku terhadap pembunuhan Dumdumdum (ini cara saya mengeja nama kepala sekolah sihir Hogwart, tempat sekolah Harry Potter) yang dilakukan Snape. (Btw, Snape sejak dulu sudah menjadi idolaku. Di film juga dia cool, aduuh, ganteng dech!)

Ini dia: the Conspiration Theory

Saya berteori bahwa pembunuhan ini adalah rekayasa Dumdumdum untuk meyakinkan Voldemort (the guy who doesn’t know his name) bahwa Snape ada di pihak mereka. Peran agen ganda memang diperlukan di mana-mana, kalau tidak Sekutu tidak akan pernah menang lawan Jerman dan Jepang, atau Amerika Serikat tidak akan berhasil meruntuhkan Soviet. Teori itu berlandaskan bahwa tingginya kepercayaan yang diberikan Dumdumdum pada Snape pada buku ke-5: Order of The Phoenix (yang kalau diperhatikan alurnya mirip-mirip dengan The Fellowship of the Rings).

Namun ternyata saya mendapat amuk marah dari mereka-mereka penggemar Harry Potter. Katanya saya spoiler. Setelah saya cek di kamus, spoiler ini artinya kandidat yang tidak punya kesempatan untuk menang tapi bisa membuat kandidat yang lain tidak menang. Bisa juga artinya sesuatu atau seseorang yang membuat makanan basi. Hehe, mungkin arti ke dua lebih tepat dalam kasus ini. Saya diprotes: jangan ganggu kesenangan orang lain. Lha, kalau begitu, sama artinya saya disuruh berhenti bersenang-senang? Hihihi.

Ternyata memang ada semacam kesepakatan etika yang dibangun di antara para penggemar sejati Harry Potter: tidak boleh berdiskusi atau mendiskusikan buku terbaru di depan seseorang yang belum baca. Dan aturan ini benar-benar dipegang teguh oleh mereka.

Seseorang diantaranya memarahi saya karena tidak pernah serius kalau bercerita tentang Harry Potter. Mulai dari banyaknya kesalahejaan nama tokoh, sampai ke alur cerita yang sudah dipelintir kesana-kemari oleh saya.

Sementara bagi saya, si penggemar palsu ini, Harry Potter adalah buku untuk bersenang-senang: saya beli, saya bebas interpretasikan semena-mena saya, dan saya bebas mengemukakan pendapat. Itulah cara saya menikmat Harry Potter.

Saya jadi tergelitik untuk bertanya, saat fantasi Tolkien diterbitkan satu per satu, apakah juga seperti itu? Saya dulu penggemar dan langganan Doraemon, Dragon Ball, Kungfu Boy, Cityhunter, Tapak Sakti, dan majalah Ananda. Saya juga punya klub pecinta komik yang sama, dan kami tidak punya etika seperti itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat perbedaan sehingga kami dulu tidak punya etika itu dan sementara generasi sekarang memilikinya?

Banyak kemungkinan terpikir: zaman yang berbeda, faktor media massa, jenis bacaan… dan salah satunya: faktor pribadi. Dari sekian banyak yang protes ke saya, tidak satupun yang datang dari fisikawan seperti saya. Teman sekantor saya malah asik-asik saja dengan ulah tersebut, walau tetap mengolok-ngolok saya yang diprotes banyak orang. (Dia juga pembaca Harry Potter dan The Lords of the Rings, saya ceritakan kejadian tersebut ke dia.)

Menarik sekali dengan etika “no spoiler” ini. Kalau untuk yang beginian kawan-kawan muda kita sudah bisa membangun dan melaksanakannya, apakah bisa dikembangkan ke etika-etika yang lain? Misalnya etika tidak menjadi plagiat di sekolah, etika tidak menyuap dan berkolusi tidak sehat, dan etika-etika yang bermanfaat untuk lebih banyak orang. Entahlah…

Yang jelas, dengan segala ketulusan hati saya minta maaf kepada semua penggemar asli Harry Potter atas ulah saya di atas. Percayalah, buku ketujuh akan jauh lebih hebat daripada buku keenam, jadi jangan membenci Harry Potter cuma gara-gara ulah spoiler ini.


PENGAJIAN ONLINE

Hari : Minggu
Tanggal : 17 Juli 2005
Jam : 15.00-18.00
Tempat : Yahoo mesengger
Judul : Tips memilih makanan halal
Pembicara : ukhti Suryani *)

Siaran ulang (on-demand): klik http://lofar.let.rug.nl:8000/content/salaama-juli.pls

*) bekerja pada badan/ lembaga sertifikasi makanan halal MUI.


Silaturrahim Juli 2005

Filed under Agenda deGromiest

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Insya Allah, Silaturrahim Juli 2005 akan diadakan di :

Kediaman Hari, Dian & Dafin
M.L.Kingstraat 12, Groningen
tanggal 23 Juli 2005
Pukul 17.00 waktu Hoornsemeer

Yang tidak membawa kendaraan pribadi, dapat menumpang bus Lijn 6. Selain dari halte-halte yang dilalui trayeknya, bus lijn 6 dapat juga dinaiki dari Groningen Centraal Station. Pastikan naik ke jurusan “Hoornsemeer”, dan turun di b s f von suttnerstraat/s o j. Sebagai pelengkap, disebelah kiri (di seberang halte) ada supermarket “Albert Heijn”. Jalan kaki sedikit ke arah datangnya bus, M.L.Kingstraat ada di sebelah kiri.

Pembicara adalah juga warga baru di Groningen, jadi sekaligus perkenalan, Mas Mochammad Chalid.

Sesuai dengan aspirasi beberapa warga degromiest, kali ini bapak-bapak yang akan menyiapkan konsumsi. Walaupun demikian, sebagaimana biasa, seluruh bantuan akan diterima dengan senang hati. Terutama “cadangan” apabila masaknya gagal.

Rekan-rekan, om, tante yang akan pulang diharapkan datang, terutama dari rombongan Bappenas, yang akan meninggalkan Groningen pada tanggal 30 Juli. Jadi sekalian, selain perkenalan, juga ada perpisahan.

Untuk keterangan lebih lanjut, sila hubungi:
Indra Muliawan di :
[email protected] yahoo. com
0642111769


The Da Vinci Code

Filed under Bedah Buku

Beberapa saat setelah peluncurannya, buku karangan Dan Brown ini menjadi best seller dan laris di mana-mana. Apakah yang menjadi “rahasia” kesuksesan buku ini?

Ada dua “menu” yang dihadirkan buku ini :

1. Ketegangan (suspens) dan alur
Jika diperhatikan, cerita yang dihadirkan oleh Dan Brown adalah “petualangan” seorang Robert Langdon. Brown menghadirkan permasalahan ke depan Langdon, yang pemecahannya harus menggunakan ilmu simbologi yang dimiliki Landon terhadap beberapa karya Leonardo Da Vinci. Sementara itu, dalam menganalisa dan memecahkan teka-teki yang dihadapinya, unsur ketegangan dihadirkan dengan “berlari”nya Langdon dari kejaran polisi dan pihak-pihak yang juga menginginkan apa yang tersembunyi dalam beberapa karya Da Vinci tersebut.

Alur utama yang disajikan Dan Brown adalah kronologis. Teka-teki sedikit demi sedikit terbuka. Selain itu, ada pula beberapa kejutan yang cukup membuat pembaca berfikir. Kemudian, ada beberapa alur kilas balik, yang kesemuanya berfungsi untuk membantu pembaca memahami secara penuh rangkaian peristiwa yang berujung kepada petualangan Brown tersebut.

2. Fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus
Hampir seluruh bagian dari novel ini, diwarnai oleh fakta/fiksi di sekitar karya Leonardo da Vinci yang berhubungan dengan Jesus. Adapun fakta/fiksi tersebut, mungkin sekitar 10%nya saja yang diciptakan oleh Brown. Sementara sisanya memang sudah diketahui oleh komunitas yang memang punya perhatian terhadap masalah-masalah itu. Dengan kata lain, untuk komunitas-komunitas tersebut, fakta/fiksi ini bukan lagi barang baru. Namun demikian, jumlah “anggota” komunitas-komunitas ini memang tidak banyak dibandingkan dengan pembaca lainnya dari novel ini.

——

Memang tidak dapat dielakkan, kepiawaian Brown dalam meracik fakta/fiksi tersebut ke dalam alur yang ia buat, telah membuat novelnya menjadi best seller, dan tentu menambah tabungan Brown. Selain itu, fakta/fiksi yang dihadirkan Brown memang cukup “mengguncang” pemikiran orang-orang yang bukan “anggota” dari komunitas-komunitas di atas, karena dirasa mendobrak mainstream yang dipercaya dan dianut di hampir seluruh dunia.

Akan tetapi, dari segi cerita, sajian Dan Brown tidak dapat dikatakan terlalu istimewa. Para pembaca buku-buku thriller tentu sudah terbiasa dengan penyajian seperti diatas. Bahkan mungkin ada dari beberapa pembaca yang sudah dapat kurang lebih menebak akhir ceritanya. Pembaca “The Da Vinci Code” setelah membaca novel tersebut akan hampir selalu terpancing untuk mendiskusikan fakta/fiksi tersebut. Sedangkan di lain pihak, sedikit yang akan tertarik untuk mendiskusikan alur , ketegangan, serta jalan ceritanya itu sendiri.

Dari analisa singkat di atas, sepertinya, jawaban dari pertanyaan di awal artikel ini :”apakah yang menjadi rahasia kesuksesan buku ini?” sudah dapat terjawab.
Pertama, Brown cukup berhasil mengawinkan fakta/fiksi dengan alur dan ketegangan yang ia sajikan. Kedua, Brown mengangkat perihal yang kontroversial, yang mengguncang kemapanan mainstream yang telah ada. Tidak tanggung-tanggung, Brown mengguncang kemapanan salah satu agama yang penganutnya cukup besar di muka bumi ini.

Namun, perlu ditekankan, bahwa ada catatan kecil dibalik dua rahasia sukses di atas. Yang dilakukan Brown selain alur cerita dan ketegangannya, ia hanya mengangkat perihal yang sudah bukan barang baru, dari publik terbatas ke publik yang lebih luas. Dan dalam topik ini, Brown bukanlah yang pertama. Walaupun begitu, boleh jadi dia adalah yang pertama yang menjadi kaya karenanya.


To be a Muslim in the west

Filed under Islam Aktual

Praatje De Gromiest, zaterdag 28 mei 2005

by Jan Bakker

Dutch culture is based on Christian values. Christian values are basically the same as Islamic values. For example: 10 commands from the Bible (Nabi Musaa), charity, giving alms, speaking the truth etc. Although there is hypocrisy (as in many Muslim countries), the right for Muslims to practise their religion is secured by the law, and in most situations there are no real problems.

After World War II, a process of secularisation started. Religion, including Christianity, was banned to a large extent from public life. As being a Muslim is practising Islam not only in the private sphere, but also in public, this can cause some difficulties. But nobody has any problem with spending zakat (as collecting money for social purposes is an outstanding Dutch tradition), Friday prayer or hajj, as long as they are not visually confronted with Muslim presence in the public sphere.

Most visible are hijab, “Muslim” clothes and daily shalat. Mosques are tolerated if not too recognisable, but minarets and calling adzan still causes problems, although many recently built mosques do have minarets and few are allowed to call adzan at least before Friday Prayer. Not long ago the fundamentalist Christian party SGP started a campaign against adzan in Zeist. They called a public glorification of a non-Christian god in a foreign language blasphemy. But they were set back by the Court. Also problematic are prayer rooms in offices and universities, but when you ask if you can use a meeting room or another suitable space for your prayers, normally no objections will be made.

Why Christians are afraid of Islam? I see two clusters of possible reasons:

1. Ideologically it is rooted in history (Crusades), Islam is an unknown religion and a lot of stereotypes (often based on false stories dating back to the Crusades) are repeated again and again. Finally there are orientalists and journalists who spread literal interpretations of the Qur’aan neglecting the context (the husband has the right to beat his wife into obedience, Muslims have to kill the unbelievers wherever they meet them, etc.).

2. Practically: a lot of people have had bad experiences with Muslim immigrants (neighbours, colleagues). The majority of Muslim immigrants come from the Moroccan Rif region and Turkish Anatolia. Rifi’s (Berber) are low educated and outcasts of the Moroccan Arab society and Anatolians are illiterate farmers with a very nationalistic and conservative attitude.

For the Dutch, it is not easy to distinguish between Muslims by choice and traidtional Muslims. Muslims by choice may be converts, but also born Muslims who practice Islam and study Islamic ethics. When you ask them “why…”, they will quote the Qur’aan, ahadieth or opinions of scholars and explain it in their own words according to their own experience. Traditional Muslims may practise Islam, but too often they just practise traditions which even may be un-Islamic. They lack a theoretical basis. When you ask them “why…”, they will answer that they do what their parents did and their imams tell them to do. For many of them their only connection with Islam is the notion that they are considered to be Muslims by the legal system of their country of origin.

I am a Muslim, keep in touch with my neighbours and work in a lawyer’s office dominated by white employees. I can perform shalat and get off for Friday prayer, unless there are urgent matters to be handled. Many colleagues are interested to learn about my opinions and experiences, as I am virtually the only Muslim they have ever met (and probably the only one they will meet during their whole life). I was interviewed for the staff magazine about my hajj.

My colleagues accept me as a Muslim, partly because I know how to explain my faith to them, partly because they are highly educated people who know how to deal with different opinions and don’t in the first place judge by gossip and stereotypes. Faith is no issue when it comes to be a loyal employee.

I can live in a non-Muslim environment because I practise the verse: “there is no compulsion in Islam”. Islam is my choice, others make their own choice. As long as they leave me in peace, I don’t feel the need to criticise them. If a non-Muslim wants to practice homosexuality – let him do it. It is not my business; Dutch law allows him to do. I can criticise a Muslim gay, but not a non-Muslim gay. As a Muslim I have to contribute to my society. Let my input be positive.

Critics often ask “are you Dutch or are you a Muslim? Where lays your loyalty?” Many immigrant Muslims consider themselves still no Dutch citizens. They even claim converts are no longer Dutch citizens. But when I choose for Islam, I didn’t choose for another culture (not even the Arab culture) or for another nationality. I choose a religion. I am Dutch by nationality and Muslim by religion. Religion and citizenship are totally different notions. There are Muslims with Moroccan, Arab, and Syrian citizenship and among Dutch citizens are Christians, Jews, Hindus, humanists, atheists and Muslims. Being a Muslim does not make me less Dutch and being Dutch does not make me a poor Muslim. Muslims must consider themselves as Dutch citizens and as a consequence take responsibility for the improvement of the Dutch society as a whole.

Dutch people at the other hand have to accept Islam as a new contribution to their culture, like there were foreign contributions before, for instance French enlightenment (Trias Politica), Jewish immigrants, Christian faith (Christian ethics) and Roman occupation (Roman legislation and Greek philosophy). Even pagan religion/culture originated from Indo-German tribes who once came from Eastern Europe or even Central Asia. Now Islam is entering the arena and will unmistakably leave its marks on Dutch society. Anti-Islamic critics are just afraid for change and loss of known values.