Archives for May, 2005

Silaturrahim Mei 2005

Filed under Agenda deGromiest

Setelah silaturrahim April 2005 ditiadakan, Mei ini mudah-mudahan tidak ada lagi halangan dan rintangan.

Insya Allah, Silaturrahmi Mei 2005 akan diadakan pada :

Sabtu, 28 Mei 2005 pukul 18.00
di Concordiastraat 67 A
dengan pembicara seorang saudara muallaf dari Den Haag yang akan berbagi visi dan pengalamannya

Kehadiran saudara-saudari semua amat diharapkan, mengingat kemungkinan bahwa Silaturrahim kali ini adalah yang terakhir yang dapat kita laksanakan di rumah Mas Amal, Mba Heni, Rayhan, Safira, dan tidak ketinggalan, Khairul


Bawang dan Tangisan

Filed under Dokumentasi

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di suplemen iptek Pikiran Rakyat, Cakrawala, lewat artikel “Tak “Cengeng” Saat Kupas Bawang.

Beberapa hari yang lalu saya minjem bawang ke tetangga… bawangnya bukan bawang bombai yang biasanya saya pakai di Belanda ini, melainkan bawang yang biasa kita pakai di Indonesia: kecil, bulet, dan kulitnya tebal (haha, di mana-mana bawang itu kulit semua.) Entah darimana bawang itu dia dapat, yang jelas saya senang sekali.

Akhirnya saya kupaslah bawang itu, tentu saja tidak lupa sambil berurai air mata dan ditambah ingus. Benar-benar nangis dech…

Kemudian pertanyaan lama itu muncul. Kenapa kita menangis saat mengiris bawang? Apakah benar air mata dari tangisan itu bagus buat mata? Dan bisakah memotong bawang tanpa menangis?

Semua pertanyaan itu, seperti biasa, terjawab kalau kita mengerti bagaimana bawang bisa membuat kita menangis saat mengirisnya.

Mengiris Bawang Tanpa Menangis

Sebenarnya menangis karena memotong bawang bisa menyehatkan mata. Beberapa pakar percaya bahwa air mata yang keluar karena rangsangan hawa bawang membersihkan mata dan kelopaknya dari debu dan kuman. Ini membuat mata bening dan berbinar. Menangis karena mengiris bawang juga mengurangi efek “merah-merah” pada mata, yang biasanya diakibatkan oleh polusi udara, keseringan begadang, terlalu lama kena radiasi dari monitor tv/komputer, atau juga karena faktor usia.

Namun sebenarnya, tangisan oleh bawang itu adalah akibat iritasi. Jadi kalau terlalu banyak justru tidak sehat. Mari kita lihat, bagaimana mengiris bawang memancing kita menangis.

Bagaimana hawa bawang membuat kita menangis?

Sel-sel kulit bawang terdiri dari dua bagian, satu mengandung enzim alinase (allinases), dan yang lainnya enzim sulfida (sulfides). Sat bawang diiris, sel tersebut pecah dan dua enzim tersebut lepas ke udara. Di udara enzim alinase menguraikan enzim sulfida menjadi asam sulfonat (SHSO3)

Asam sulfida termasuk senyawa yang tidak stabil, dia segera berubah menjadi gas asam sulfoksida amino. Gas inilah yang mengenai mata kita dan bereaksi dengan cairan di retina mata, menghasilkan asam sulfur lunak. Asam sulfur lunak ini mengakibatkan iritasi pada syaraf retina mata. Iritasi ini membuat mata kita terasa pedih, dan air matapun keluar sebagai respons untuk mengurangi iritasi tersebut.

Yang menarik, enzim yang sama itulah yang memberi rasa khas pada bawang.

Bagaimana tidak menangis saat mengiris bawang?

Seperti yang sudah diuraikan di atas, tangisan akibat bawang adalah karena iritasi. Air mata yang keluar memang bagus untuk membersihkan mata, tapi iritasi terlalu lama justru tidak sehat lagi untuk mata. Jadi yang harus dicegah adalah iritasi yang berlebihan, bukan air mata yang keluar.

Inilah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata dari bawang.

  1. Tindakan yang paling gampang adalah menjaga jarak mata dengan bawang saat dikupas. Semakin jauh jaraknya, semakin berkurang gas asam sulfoksida amino sampai ke mata.
  2. Basahi tangan dan bawang sebelum mengiris bawang. Ini membuat sebagian gas asam sulfoksida amino tersebut bereaksi dengan air yang membasahi bawang dan tangan kita. Membahasi wajah juga membantu mengurangi iritasi tersebut.
  3. Bernapaslah berlahan-lahan, sekali-kali dengan mulut. Bernapas cepat dan dari hidung mempercepat gas asam sulfoksida amino sampai di mata. Beberapa orang mengigit roti saat mengiris bawang, sehingga aliran udara ke hidung tidak mempercepat asam sulfoksida amino sampai ke mata, disamping itu roti menyerap gas tersebut.
  4. Kupaslah lapisan kulit terluar bawang, dan dinginkan beberapa menit dalam kulkas. Temperatur yang rendah mengurangi reaktif enzim alinase dan sulfida.
  5. Hindari mengucek mata saat terasa pedih, karena hanya akan menambah iritasi. Kalau terpaksa harus mengucek, bersihkan tangan dan sirami mata dengan air. Kalau dirasa tidak cukup, bersihkan pakai sabun dengan hati-hati.

Demikianlah beberapa tip untuk mengurangi iritasi mata saat mengiris bawang. Anda bisa memilih tip mana yang dirasa cocok.

Semoga bermanfaat, dan selamat mencoba.


Do’a, Dzikir dan Ikhtiar

Filed under Renungan & Hikmah

Apa rahasia kekuatan do’a? Apakah do’a betul-betul dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik? Pada prinsipnya, setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun cara terkabulkannya do’a ada empat macam. Pertama, kontan. Yaitu langsung dikabulkan saat itu juga. Kedua, ditangguhkan. Yaitu diberikan nanti pada saat yang tepat dan pada saat orang yang berdo’a tersebut masih hidup di dunia. Yang ketiga diberikan separuh di dunia dan separuh di akhirat. Yang dimaksud separuh itu bisa fifty-fifty dan bisa juga forty-sixty, terserah yang mengabulkan. Yang keempat diberikan semuanya setelah orang yang berdo’a tersebut meninggal alias diberikan di akhirat.

Kenapa do’a tidak diberikan kontan saja? Ada alasannya. Coba bayangkan kalo semua orang di kota Bandung berdo’a untuk diberikan mobil. Maka sesuai dengan jumlah penduduk kota Bandung yang berjumlah kira-kira sekitar 2 juta orang, maka akan turun sekaligus mobil sebanyak 2 juta buah. Jalanan di kota Bandung akan macet dan padat. Maka satu-satunya jalan adalah tidak semua do’a akan dikabulkan dengan sifat kontan karena hanya akan merusak keseimbangan dan keharmonisan di dunia saja. Ingat bahwa Tuhan adalah pemelihara alam ini yang selalu senantiasa menjaga keseimbangan dan keharmonisannya. Tidak akan ada daun jatuh sehelai pun tanpa seizin-Nya. Semua yang terjadi di alam ini sudah terjadi sesuai dengan kehendak-Nya dan seizin-Nya.

Memang kadang-kadang kita mengeluh karena do’a yang kita panjatkan tidak pernah Beliau berikan. Namun Tuhan Maha Tahu. Mungkin di mata kita, bisa jadi sesuatu itu baik sedangkan di mata Tuhan hal tersebut tidak baik. Dan begitu pun sebaliknya. Siapa yang bisa lebih tau daripada Tuhan? Kita sebagai manusia yang punya sangat banyak keterbatasan tentu tidak tahu apa rencana yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita. Dan yang lebih baik pandangan dan juga rencananya adalah tentu pandangan Tuhan dan rencana Tuhan. Karena apa yang selalu kita rencanakan belum tentu semua itu dapat terjadi, tapi rencana Tuhan pasti terjadi.

Do’a bisa juga menjadi pengubah takdir kita. Mungkin yang tadinya kita ditakdirkan miskin maka setelah berdo’a, JREG!!!, datanglah surat kontrak terbaru untuk kita karena do’a kita. Maka mintalah do’a untuk supaya mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena ada contoh yang memperlihatkan ada orang yang selalu berbuat baik semasa hidupnya namun meninggal dalam keadaan suul khatimah. Dan jangan pula merasa tidak enak karena banyak sekali permintaan kepada Tuhan. Memang kalo manusia diminta terus-terusan oleh temannya maka akan marah. Tapi Tuhan tidak. Semakin banyak do’a manusia kepadaNya maka semakin senang Beliau kepada kita.

Apakah ada yang lebih utama daripada kekuatan do’a? Ada, yaitu kekuatan dzikir. Sesungguhnya dzikir adalah lebih utama daripada do’a. Dzikir astagfirullah sesungguhnya bisa menghapus do’a dan meningkatkan derajat kita, memberikan kemudahan di saat kesempitan dan datangnya rizqi di saat yang tidak terduga-duga. Rasulullah pun setiap harinya tidak pernah ketinggalan membaca astagfirullah padahal beliau adalah manusia yang dimaksum oleh Tuhan sehingga tidak akan melakukan dosa/kesalahan. Dan yang terakhir adalah kekuatan ikhtiar. Dengan ikhtiar maka kehidupan kita akan berubah. Ini sudah pasti akan mudah diterima oleh akal pikiran kita karena banyak orang yang hanya ahli ikhtiar saja, kehidupannya sangat baik. Ini sangat banyak terjadi dimana-mana di belahan dunia ini.

Dengan menggabungkan tiga kekuatan yang telah saya sebutkan di atas, yaitu kekuatan do’a, kekuatan dzikir dan kekuatan ikhtiar, maka sudah komplitlah senjata yang kita miliki. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan teori mudah di atas ini menjadi aplikasi sehari-hari sehingga kita bisa menjadi ahli di tiga bidang tersebut.


Kota Bandung

Filed under Catatan Pribadi

Hari ini adalah hari rabu tanggal 20 April 2005. Ini adalah hari pertamaku di kota Bandung semenjak aku menginjakkan kakiku di negara Indonesia tercinta ini. Aku berangkat dari Jakarta jam setengah sembilan pagi dengan memakai kijang inova baru milik ibuku. Kakakku yang pertama-tama menyetir karena dia pun ingin mencoba mobil baru ini. Dia bilang kijang naik kelas karena sekarang segala accesorinya dari mulai mesin hingga dashboard dibuat dengan kualitas yang sangat bagus. Kakakku mengantarku hanya sampai perbatasan, dia masih ada urusan di Jakarta. Kemudian perjalanan selanjutnya dilanjutkan oleh supir pribadiku, Ajat. Kami tiba di kota Bandung pukul 11.30 siang. Kami langsung menuju kantor imigrasi Bandung untuk memperpanjang pasporku yang harus diperpanjang 5 tahun lagi. Disana sudah menunggu seseorang yang memang bekerja untuk mengurus dan memudahkan segala keperluan orang yang ingin memperpanjang paspor. Karena aku memang tidak punya banyak waktu untuk mengurus sendiri dan memang kalau aku mengurus sendiri akan memakan waktu yang sangat lama, maka aku putuskan untuk memakai jasa seseorang, mumpung sekalian bagi-bagi rezeki kepada orang yang membutuhkan, mudah-mudahan Tuhan menerima niat baikku ini.

Urusan paspor berjalan dengan sangat lancar. Ternyata sudah tiba waktu makan siang. Aku telepon teman lamaku yang sudah pulang bekerja dari negeri Norwegia di salah satu perusahaan swasta terbesar di dunia di bidang perminyakan. Dia sudah keluar dari perusahaan tersebut karena pada umurnya yang juga seumuranku dia sudah divonis oleh dokter menderita sakit hypertensi kronis akibat kelelahan bekerja di perusahaan swasta tersebut. Namun departemen sumber daya manusia perusahaan tersebut bermain sinetron dengan departemen tenaga kerja untuk tidak memberikan pesangon yang selayaknya kepada temanku tersebut. Malang nian nasibnya. Oleh karena itu kuniatkan untuk bertemu dengannya sekalian melepaskan rindu setelah sekian tahun tidak bertemu dengannya. Sekarang dia bisnis sendiri di rumahnya dengan melalui internet. Yaitu bisnis forex alias foreign exchange. Beli dengan harga rendah dan jual dengan harga tinggi. Atau beli dengan harga tinggi dan jual dengan harga yang lebih tinggi lagi. Simpel dan sederhana. Cukup main satu bulan sekali saja, yaitu pada saat sentimen pasar yang sangat tinggi untuk menjamin profit yang cukup besar. Dia menceritakan kepadaku kapan saja waktu yang tepat untuk bermain. Sekali main bisa profit sampai 2000 US dollar. Jumlah yang fantastis untuk satu jam permainan. Tentu saja risiko ruginya pun ada, yaitu ketika salah menterjemahkan sentimen pasar. Uang yang ada bisa ludes sekaligus.

Dia bercerita kalau kondisi pasar Amerika memang mirip dengan kondisi pasar di Indonesia. Banyak peluang potensi pasar dan yang sukses bisa sukses banget dan yang bangkrut bisa bangkrut banget. Memang benar. Namun di Eropa, sistem sudah sangat mapan sehingga tidak ada orang miskin dan tidak ada orang kaya, semua sama rata. Menurutku dia terlalu mengeneralisir. Kondisi seperti ini hanya ada di negara-negara scandinavia saja, seperti Norwey, Denmark dan Finlandia. Belanda memang menganut sistem sosial namun karena krismon yang dashyat seperti saat ini, negeri ini pun dilanda kemiskinan. Tentunya kemiskinan yang disesuaikan dengan kondisi dan standar negara belanda dan tidak bisa dibandingkan dengan kemiskinan absolut yang diderita oleh masyarakat di negara Indonesia. Di Eropa yang paling dijunjung tinggi adalah hukum dan hak asasi manusia serta kode etik. Memang sebagian benar tapi tetap tidak bisa digeneralisir begitu saja. Tentunya seperti di semua negara dan di dunia rusak ini, dimana-mana outlier akan selalu ada. Ini pasti. Seperti telah diajarkan oleh hukum statistik.

Makan siang terjadi di Bandung Indah Plaza. Aku memesan nasi timbel komplit dengan dua ayam goreng ditambah sayur asam ditambah dengan minuman es kelapa muda dan teh botol dingin. Rasanya nikmat tidak terkira karena memang menu ini adalah menu favoritku setiap aku pulang ke Indonesia. Sambil makan kami mengobrol banyak tentang ini dan itu selayaknya waktu jaman dahulu ketika kami kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan matematika. Bedanya sekarang kami sudah pernah mengalami apa yang dinamakan dengan dunia kerja yang keras. Sekarang sudah bukan waktunya untuk main-main lagi seperti jaman di universitas, namun sekarang hutan rimba yang ada di depan mata kami. Kalau tidak cerdik, akan diterkam oleh harimau. Kalau tidak pintar, akan lenyap ditelan gelapnya malam di tengah-tengah hutan belantara. Selayaknya teori evolusi Darwin, survival of the fittest tetap berlaku pada manusia karena sebenernya menurut Darwin, manusia adalah termasuk salah satu jenis binatang yang mempunyai akal pikiran. Jadi binatang pintar maksudnya dia begitu. Namun saya punya argumentasi lain yang berbeda dengan Darwin, manusia tetap berbeda dengan binatang, manusia mempunyai hati. Seburuk atau sejelek apa pun manusia, tetap ada sisi kebaikannya, aku yakin akan hal ini. Inilah yang membuatku bisa tetap exist di dunia manusia ini. Kalau aku sudah tidak percaya terhadap kaum manusia, aku tidak akan bisa hidup di dunia yang penuh dengan kerusakan dan kebusukan dan lengkap dengan tipu dayanya ini.

Setelah selesai makan siang aku pun pergi lagi ke kantor imigrasi Bandung untuk foto dan mengambil paspor baruku. Kemudian setelah itu aku pergi ke Geger Kalong Bandung untuk menginap di MQ Guest House. Ternyata nona Shirley yang cantik dan manis itu masih mengenaliku disana dan dia tersenyum sangat lebar menyambutku. “Kapan datang dari belanda pak?”, tanyanya. “Ooh, ini hari ketiga saya berada di Indonesia”, jawabku. “Mau menginap disini pak?”, tanyanya. Aku sedikit mengerutkan kening karena bukankah sudah jelas bahwa aku akan menginap disini karena aku membawa koper dan ransel serta keresek penuh dengan makanan. Namun aku segera ingat bahwa memang budaya di Indonesia untuk selalu berbasa-basi. Lalu aku pun mengangguk dan menyambut basa-basi tersebut dengan basa-basi lagi. Bersambutlah percakapan tersebut dengan sangat enak dan ramah. Sesuatu yang tidak mungkin aku bisa dapatkan di negeri Eropa. Di Eropa, segala sesuatu ada harganya, walaupun itu senyum atau pun sekadar basa-basi saja. Di Indonesia, masih ada dan mungkin tidak banyak aku pun tidak tahu karena belum pernah mengadakan riset tentang hal ini, orang yang tulus dan ikhlas untuk saling membantu dan memberi. Sayangnya di dunia rusak ini sudah semakin sedikit saja orang seperti ini.

Karena aku dianggap tamu langganan, aku pun mendapat diskon. Memang mungkin sudah menjadi rejekiku untuk mendapatkan diskon hari ini di MQ Guest House. Sudah tempatnya enak ditambah servicenya juga memuaskan. Setelah mandi dan membersihkan diri dari keringat busuk selama di perjalanan 3 jam Jakarta Bandung, aku pun pergi ke MQ Travel untuk memberikan paspor baruku ke seseorang yang bernama kang Sukarta. Beliau bekerja sebagai customer service dan bertugas untuk mengurus dan membantu serta melayani customer dalam setiap acara. Yang membuat saya terkesan adalah walaupun kaki kanan beliau lumpuh namun beliau sangat mandiri dan tidak membutuhkan bantuan orang lain. Bahkan dari segi finansial beliau adalah orang yang sudah sangat mandiri. Kekaguman saya akan beliau sangat tinggi sehingga mengingatkan saya pada seseorang di negeri Belanda yang juga sangat saya kagumi kepribadiannya, yaitu Cak Fu. Malam itu pula saya ajak kang Sukarta ke Warnet untuk mengunjungi web site Cak Fu dan kami mengirimkan email kepada beliau agar kang Sukarta dan Cak Fu bisa saling berkenalan dan saling berbagi cerita, ide dan gagasan. Tidak terkira senang dan bahagianya kang Sukarta ketika saya ceritakan segalanya mengenai Cak Fu dan DeGromiest. Dia tidak pernah mengira bahwa hari ini akan ada seseorang yang memberi tahu informasi ini. Ini adalah pertama kalinya dia mengetahui akan keberadaan seorang Cak Fu. Dan hal ini merupakan intan berlian penuh emas permata bagi seorang seperti Kang Sukarta.

Setelah selesai mengirim email saya pun mencoba berbaur dengan masyarakat sekitar untuk mengetahui lebih jauh kondisi setempat di Geger Kalong. Seperti apa komposisi masyarakatnya dan apa saja kegiatan disana. Sangat impresif menurut pandangan saya. Semua ini dimulai dari 3M, yaitu mulai dari diri sendiri, mulai dari hal-hal yang kecil dan mulai saat ini juga. Akhirnya lingkaran kecil ini bertambah besar dan bertambah besar lagi, bahkan bukan tidak mungkin bahwa akhirnya lingkaran besar ini menjadi lingkaran cosmic yang menutupi seluruh jagat raya. Siapa tau? Yang terpenting adalah setiap orang menyadari posisinya masing-masing dan kalau setiap orang sudah menerapkan 3M ini, maka bukan tidak mungkin, peradaban manusia yang kita damba-dambakan akan terwujud. Yaitu peradaban civil society yang diliputi oleh perasaan tentram, damai, tenang, penuh dengan kepercayaan satu sama lain, saling tolong-menolong dan saling membantu baik itu dalam kesulitan ataupun saling membantu dalam kesenangan. Saling mengingatkan dan sangat didambakan bahwa seorang manusia menjadi saudara bagi manusia lainnya dan bukan menjadi mangsa dan pemangsa. Bukan pula survival of the fittest karena kita tidaklah sama dengan bangsa binatang.


Wardi

Filed under Catatan Pribadi

Setelah update berita mengenai perkembangan milis yang akhir-akhir ini makin seru, ada satu conversation antara Wangsa dan Mia yang mengingatkan saya pada seseorang. Alkisah, ada seorang jejaka bernama Wardi. Wardi ini lahir dan besar di Pemalang. Pendidikannya cuma sampai kelas 4 SD. Sampai dengan umur 24 tahun, dia bekerja di sawah, mengkomando kerbau narik bajak, menemani sang kerbau merumput (tentunya si Wardi tetap makan nasi dan nggak ikut merumput), dan bantu-bantu hal lainnya. tidak jelas apakah si Wardi ini termasuk pengangguran terselubung atau bukan. Suatu hari, kakak ipar wardi yang bekerja di Jakarta pulang kampung dan menawarkan pekerjaan di Jakarta, karena menurut sang kakak, value si Wardi ini bisa ditingkatkan. Kalau di Pemalang, pendapatan Wardi tidak bisa dinilai dengan uang. Di Jakarta bisa. Paling tidak, tiap dua bulan sekali bisa beli satu kambing, dan masih bersisa untuk keperluan sehari-hari dan ditabung.

Wardi yang selalu membawa kartu anggota NU di dompetnya itu, awalnya agak bimbang. Maklumlah, embel-embel di depan nama Wardi itu “mas”. Kalau “uda”, tanpa berfikir dua kali pasti sudah dikemas pakaiannya yang tidak seberapa banyak itu dalam kurang dari sepuluh menit.

Sesampainya di Jakarta, Wardi bekerja sebagai “office boy“. Memang, job description agak berbeda dengan yang biasa dia kerjakan di sawah dengan kerbaunya. Tetapi pada hakikatnya, tetap kerja sedikit ini, sedikit itu (tapi kalau digabung jadi banyak juga), namun dengan beban relatif lebih ringan. Wardi diberikan sebuah kamar di kantornya tempat dia tinggal. Tidak bisa dibilang bagus, tetapi masih lebih bagus dari kamarnya di Pemalang. Paling tidak, sekarang kamarnya dikelilingi tembok, dan kaca yang tergantung di tembok itu ukurannya 5 kali lipat dari kaca spion yang dahulu selalu dia gunakan waktu menyisir rambutnya. Di meja di dekat kaca tersebut, ada sebuah radio tape lengkap dengan pemutar CDnya. Dan, yang paling membuat Wardi senang adalah, itu kamarnya sendiri. nggak usah bagi-bagi dengan orang lain.

Setiap hari Wardi dapat makanan dari kantornya. Walaupun selera makan Wardi cukup besar, namun jatah dari kantornya itu masih mencukupi. Sehabis main course, Wardi selalu menyiapkan dua hal untuk pencuci mulut. Secangkir kopi tubruk, dan dua batang rokok kretek. Sehari-hari, Wardi jarang meninggalkan kantor itu. Bukan karena tidak boleh atau tidak ada waktu karena mengejar deadline, tetapi karena memang dia tidak melihat kepentingannya untuk jalan-jalan. Saat malam-malam banyak anak muda nongkrong di belakang kantor di sekitar warung rokok, lantunan suara Wardi yang melagukan ayat-ayat suci Al-Qur’an itu sayup-sayup terdengar dari arah kamarnya.

Suatu ketika, salah seorang “boss” Wardi bertanya :”Di, kamu tuh punya pacar enggak sih?” Wardi menjawab :”Enggak Mas”, sambil tersipu-sipu dengan cengkok Pemalangnya yang masih kental. “Biar dicariin di kampung aja”, lanjutnya lagi. Pada hari lainnya, ada penggantian perabot di wilayah “kekuasaan” Wardi di kantor itu. Tivi yang biasa ia tonton, dipindahkan, dan diganti dengan tivi yang lebih besar dan lebih bagus. Akses ke saluran tivi kabel yang dahulu hanya ada di ruang rapat dan kamar kerja para boss juga diberikan. Keesokan paginya, saat “boss besar” datang, Wardi menghampirinya, seraya berkata “Pak, mohon maaf, tapi, apa saya boleh minta tivi yang dulu saja? saya bingung mau nonton yang mana, dan tivinya besar sekali, pusing Pak”. Sang bos besar cuma bisa melongo saja mendengar curhat si Wardi. Akhirnya tivi si Wardi yang kecilpun dipasang kembali. Namun, walau sekarang menggunakan antena biasa, akses tivi kabelnya dibiarkan menggantung di sebelah tivi tersebut, kalau-kalau saja suatu waktu nanti Wardi tiba-tiba berhasrat ingin menonton MTV.

Wardi itu cuma salah satu contoh orang yang kehidupannya sederhana, dan tidak banyak maunya. Saat musim naik gaji, Wardi sempat bertanya, mengapa ia terima uang banyak sekali, sementara pendapat kebanyakan orang adalah :”gak bisa tambah lagi ya?”. Memang disatu sisi, sepertinya kehidupannya monoton, datar, tidak berkembang. . Tetapi, dilain pihak, Wardi merasa kesejahteraannya terjamin, dan ia merasa senang sentosa. nggak pingin motor, mobil, gak pingin komputer dengan prosesor 4GHz dan Windows 64 bit, gak pingin mikir negara kesatuan atau federal, gak pingin punya saham Philip Morris. Relatif jarang ya orang kayak gini?

Ada yang berminat dengan Wardi? masih belum punya pacar lho… ^_^