Archives for April, 2005

Ruangan Sholat di Universitas

Filed under Islam di Groningen

Dua minggu ini UK–majalah mingguan RUG–sedang giat mengangkat isu tentang ruangan sholat di universitas. Setidaknya mereka sudah tertarik dengan isu ini sejak setahun yang lalu, namun baru sekarang mulai mendapat respon hangat dari berbagai pihak.

Yang ingin membaca atau “mencoba membaca” beritanya silahkan klik link berikut. Ini copy halaman per halaman dari majalah UK yg memuat berita tersebut.

April 2004:
Roken vs Bidden
Ruimte voor Gebed?
Moslemstudenten vragen om gebedsruimte
Wawancara dengan Ponky


Yang Mau Nolong Tuhan, Gendeng Dhewe!

Filed under Diskusi Milis

Diskusi ini berasal dari ceramah umum yang diberikan Gus Dur di desa Sukadadi pada hari Rabu, 6-April-2005. Pada intinya Gus Dur berpendapat bahwa Tuhan tidak perlu ditolong, karena Dia berkuasa atas segalanya �Innahu �ala kulli syai�in qadir”. Karenanya, menurut Gus Dur, Tuhan cukup kita ingat kebesaran-Nya. �Itu sudah cukup.� Ulasan selengkapnya bisa dibaca di Gusdur.net.

Adapun rangkuman diskusi yang terjadi di mailing list adalah sebagai berikut:
Saudara Farhat M. Mahfud berpendapat sebagai berikut di bawah ini:
Assalamu alikum Wr Wb.,
Hahaha….Betul sekali pendapat beliau. Artikel yg menarik Cak Fu.
Seperti apa yang saya pelajari, apa bila tidak ada perbedaan, semua
(alam semesta) akan stagnan.
1. Tidak ada beda Temperatur: maka tidak akan ada panas dan dingin,
2. Tidak ada beda konsentrasi: maka tidak ada banyak dan sedikit,
3. Tidak ada beda Tekanan: maka tidak ada air/udara mengalir,
4. Tidak ada beda jenis kelamin: tidak ada regenerasi manusia/hewan,
5. dst…
Hehe…Mungkin bukan ini yang dimaksud tapi kok saya melihat ada
kemiripan ya…
Subhanallah….Allahu Akbar!!
Wassalam wr. wb.,

Selengkapnya…


Gempa: Bagaimana, Mengapa, dan Apa

Filed under Dokumentasi

Tulisan ini lahir dari kegelisahan pikiran saya atas bencana alam yang menimpa Sumatera, tanah kelahiran saya, dan kegundahan hati saya pada kondisi orang tua saya di Padang. Harapan saya, ini bisa menjawab pertanyaan rekan-rekan “how your family is doing, Febdian?”

Mama, Papa, maafkan kalau hanya doa yang bisa kukirimkan engkau dari sini untuk saat ini.

Science is about learning how Nature works, not addressing why She works like the way She does!

Ungkapan senada terlontar dari fisikawan terkenal seperti Richard Feynman (Nobelis 1965) dan Stephen Weinberg (Nobelis 1979). Entah apa yang ada di benak kita mendengar ungkapan itu, tapi yang pasti ungkapan itu lahir dari pergulatan panjang orang-orang dalam membuka tabir alam semesta ini.

Bagi saya, ungkapan itu adalah kenyataan: kenyataan bahwa karunia ilmu Allah pada kita hanya sebatas “mengerti bagaimana alam bekerja” namun tidak untuk “kenapa alam bekerja seperti itu”. Saya resapi ungkapan itu sebagai sebuah filosofi dasar dari sains.

Mau contoh? Misalnya foton, si partikel cahaya. Dalam keseharian foton diyakini sebagai gelombang. Dengan demikian sebagian sifat-sifat cahaya seperti dipantulkan, dibiaskan, dan terpolarisasi. Namun, ada juga yang tidak terjelaskan dengan menganggap foton itu adalah gelombang. Misalnya: efek fotolistrik yang dipakai pada sumber energi sel surya.

Ketika permukaan logam Na dalam vakum disinari cahaya1 maka logam Na itu akan melepaskan beberapa elektronnya. Ini membuat Logam Na terionisasi, dalam hal ini menjadi ion positif. Sehingga dengan demikian logam Na menghasilkan arus listrik. Inilah prinsip kerja sel surya yang sering dipakai di rumah-rumah atau gedung-gedung sebagai salah satu sumber energi alternatif.

Nah, fenomena di atas tidak bisa dijelaskan kalau kita masih keukeuh cahaya itu adalah gelombang. Cahaya bisa bersifat sebagai partikel. Dan fakta ini disebut sebagai dualisme partikel-gelombang. Dan sifat ini tidak berlaku hanya pada foton saja, tapi juga pada elektron dan partikel lainnya.

Pertanyaannya: kapan foton menjadi dirinya sebagai partikel, kapan dia menjadi gelombang? Apakah seperti praktik dokter, menjadi gelombang setiap Selasa-Kamis dan partikel untuk Senin-Rabu, jumat dan akhir pekan libur?

Nobody knows! Yang kita tahu hanyalah: cahaya bisa bersifat sebagai partikel dan ini menjelaskan fenomena fotolistrik, dan menjadi gelombang untuk melakukan fenomena pembiasan ataupun pemantulan. Subhanallah

Seperti biasa, saya selalu larut dan lupa diri kalau sudah berbicara tentang fisika. Padahal, saya mau bercerita sedikit tentang bencana alam yang terjadi di Sumatera akhir-akhir ini.

* * *

Saya bukan geologis ataupun fisikawan bumi, jadi pemahaman saya pada fenomena gempa bumi dan gunung meletus hanya sebatas rule of thumb. Dalam tulisan di bawah ini, saya banyak memakai aturan ini dalam menjabarkan fenomena yang ada. Ulasan teknis dan pembahasan detil sangat terbuka terutama bagi mereka yang menguasai fisika bumi dan/atau geologi.

Gempa Tektonik

Gempa 26 Desember 04 di Aceh yang mengakibatkan tsunami di Samudra Pasifik, Gempa 8.2 SR yang terjadi di Nias satu hari setelah Hari Raya Paskah 05 dan 6.7 SR di Mentawai 11 April 05, semuanya masih berasal dari satu wilayah lempeng yang sama. Di bawah lempengan bumi ada magma yang bergerak. Gerakan ini menghasilkan gaya yang dirasakan oleh lempengan terutama pada daerah sambungan antar lempeng. Secara garis besar ada tiga macam gaya yang diderita oleh sambungan ini: membuat lempengan saling dorong, saling menjauh, atau saling gesek. Pada satu saat, gaya ini benar-benar membuat lempengan bergerak. Gerakan ini membuat tanah di atasnya dan juga magma di bawahnya bergetar (vibrasi). Getaran ini akan diteruskan sampai ke permukaan tanah, dan inilah yang disebut gempa (lebih tepatnya: gempa tektonik). (Cerita yang sama pernah saya ulas saat menjawab pertanyaan Lala.)

Selain mengakibatkan gempa, pergeseran lempengan tadi juga bisa mengalirkan magma dari perut bumi ke permukaan bumi. Magma yang sudah keluar dari perut bumi ini disebut lava. Lava ini bisa keluar “baik-baik”, atau “tidak baik-baik” seperti disemburkan dari gunung berapi. Saya tidak tahu persisnya, tapi bisa jadi Gunung Talang di Solok yang mulai menyemburkan debu dan belerangnya semenjak 11 April 05 ini masih berasal dari “sungai” magma yang sama dengan lempengan di Mentawai, Nias, dan Aceh…

Kekuatan gempa diukur oleh alat yang disebut seismografi, dan satuan gempa dinyatakan dalam Skala Richter (SR). Dalam skala mikro, seismografi menunjukkan gempa selalu terjadi yang artinya lempengan bumi selalu bergerak. Tapi kita tidka merasakannya. Beberapa binatang bisa mendeteksi gempa pada 2 SR, sementara rata-rata manusia adalah pada 4 sampai 4,5 SR. Gempa dengan 5 SR sudah cukup merusak, terutama wilayah yang dekat dengan episentrum. Saya tidak tahu bagaimana hubungan antara kekuatan gempa pada episentrum dengan efeknya pada radius tertentu. Seharusnya ada.

Memprediksi kapan gempa terjadi

Dalam sains, untuk mempelajari sebuah fenomena kita menyelidiki mekanismenya. Begitu mekanismenya dimengerti, akan diuji dengan eksperimen. Hasil eksperimen akan menjadi judgment buat teori mekanisme tadi. (Karena alasan eksperimen inilah Stephen Hawking belum bisa mendapatkan hadiah nobel atas teori gemilangnya tentang Lubang Hitam di jagad raya.) Setelah mekanisme itu valid, maka selanjutnya tugas para insinyur berkarya membuat berbagai macam aplikasi untuk kemaslahatan umat.

Begitu juga dengan gempa. Mekanisme terjadinya gempa harus dipelajari untuk memprediksi gempa-gempa selanjutnya. Beberapa parameter yang jelas kita harus tahu adalah posisi sambungan antar lempengan yang ada di kulit bumi. Pengkategorian yang mana berbahaya dan yang mana kurang berbahaya kemudian akan menjadi topik tersendiri. Selain itu kondisi tanah yang melapisi sambungan lempengan itu juga sangat penting, termasuk keberadaan gunung berapi. Dan tak kalah penting adalah pola aliran magma yang menjadi sebab utama gempa tektonik.

Pengetahuan kita pada how the earthquake happens hanya sanggup memprediksi gempa dengan orde presisi ratusan atau bahkan ribuan tahun. Ini menandakan minim sekali pengetahuan kita pada parameter-parameter gempa. Apakah ini limitasi ilmu kita? Saya rasa bukan, ini hanyalah masalah waktu. Saya yakin (dan juga penasaran) rekan-rekan fisika bumi dan geologi sudah memikirkan sebuah model mekanisme utuh gempa tektonik. Sayang selama ini saya tidak tertarik dengan masalah ini sehingga minim sekali informasi yang bisa saya tuangkan di sini.

Rule of thumb yang lain

Ada juga rule of thumb yang lain tentang bencana alam. Bencana alam seperti gempa biasanya terjadi berulang pada perioda waktu tertentu. Daerah yang paling berbahaya terjadi bencana alam biasanya justru paling lama perioda perulangannya.

Sebutlah Gunung Kratau yang ledakannya pada Agustus 1883 membunuh 2/3 penduduk Sumatera dan Jawa, mengakibatkan tsunami yang bekas-bekasnya masih terlihat di Lampung, Banten, pantai timur Jawa, Kalimantan Barat, juga Afrika dan Asia Selatan. Jangan tanya semburannya, debunya sampai menutupi daratan Eropa!2. Itulah bencana alam terdahsyat yang tercatat dalam dokumentasi peradaban manusia. Tahun 1927, anak Krakatau lahir, bersama gugusan pulau-pulau kecil lainnya yang tanahnya masyaallah subur dan kaya tanam-tanaman!

Sekarang, 100 tahun berlalu tidak ada aktivitas apa-apa pada anak Krakatau. Masuk akal karena 100 tahun itu terbilang sebentar dalam evolusi Bumi. Tsunami di Aceh menurut hikayat pernah terjadi ratusan tahun silam, dan dari beberapa tetua di beberapa kampung yang masing teringat cerita turun-temurun itu memberi peringatan pada warganya untuk lari ke atas bukit.

Aturan gigit ibu jari itu dengan kata lain mengatakan: semakin sering gempa terjadi maka semakin tidak berbahaya ia, karena gempa dahsyat hanya terjadi sekali-sekali tapi mematikan.

… dan apa yang bisa kita perbuat?

Kasarnya: tidak ada. Itulah resiko hidup di Bumi. Teringat ujar-ujar seorang sahabat dekat, Beda orang rajin berolahraga dengan yang tidak adalah, olahragawan mati dalam keadaan sehat. Moralnya adalah: pada akhirnya semua mati, dan itulah salah satu jalan yang dilalui semua makhluk. Kita harus ikhlas, suka atau tidak suka, that’s how life works.

Namun, “tidak ada” bukan berarti kita berpangku tangan. Menyelematkan nyawa, menurut saya, adalah kewajiban kita.

Orang akhir-akhir ini sudah ribut dengan early warning system. Saya pikir ini memang ide bagus dan harus serius untuk diwujudkan. Dalam seminar Indonesia Setengah Tiang, Professor Loehner menceritakan kolaborasi beberapa universitas di Jerman dalam mewujudkan teknologi pendeteksian tsunami. Konsep yang sama juga dilakukan Inggris, Jepang, dan Amerika yang berkolaborasi dengan beberapa universitas di Asia seperti di Thailand dan Cina.

Usaha ini adalah salah satu bentuk “tindakan untuk menyelamatkan diri” dari bencana alam, tapi sama sekali bukan untuk membatalkan bencana alam itu terjadi. Prediksi yang dilakukan mesin-mesin itu adalah prediksi yang bersifat alarm, bukan prediksi pola perioda waktu bencana alam terjadi (misalnya orang sudah bisa memprediksi perioda gerhana matahari ataupun kapan Komet Halley melintasi Bumi lagi.)

Di level pemilik kebijakan (pemerintah) sudah ramai-ramai membicarakan management disasater: tentang bagaimana mengatur bala bantuan, penanganan pengungsi, rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur kota, dan lain sebagainya. Tentu ini sangat bagus, terutama di negara yang rawan bencana alam seperti Indonesia.

Menurut saya, Departemen Sosial kita harusnya sudah melakukan hal ini jauh-jauh hari karena terlalu bodoh bagi mereka tidak tahu Indonesia dilewati cincin api. Jepang tahu ini, dan mereka sudah melakukan ini jauh-jauh hari. Mulai dari pengembangan infrastruktur gedung yang dibangun sedemikian rupa sehingga tidak retak dan rubuh dilanda gempa sampai pada SR tertentu, sampai dengan pelatihan penyelamatan diri untuk rakyat mereka.

Sementara kita? Entahlah, saya tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana. Yang jelas, sampai sekarang saya melihat penanganan bencana alam di Indonesia semuanya sporadis. Malah mengolah bantuan dari orang saja kacau balau. Saya cerita papa saya saat Gunung Merapi di Batusangkar meledak sekitar akhir tahun 70-an (peristiwa ini disebut galodo oleh penduduk sekitar, yang artinya: batu-batu besar.) Batu-batu sebesar gajah meluluhlantakkan kampung-kampung sekitar termasuk kampung kelahiran papa saya, Pasialaweh. Sampai sekarang batu-batu itu masih di sana, kalau ada kesempatan rekan-rekan bisa datang dan menengok. Saat itu Pemerintah Pusat mengirim doa dan belangsungkawa, Pemerintah Daerah mengerahkan bantuan seadanya mencari mayat dan hal-hal ringan lainnya. Soeharto masih berkuasa, sehingga manipulasi duka pun tersusun rapi dan sekarang musibah itu hanya menjadi cerita guru-guru surau pada anak-anak pengajiannya menunggu Isa datang.

Memang sebaiknya Departemen Sosial (atau mungkin yang lain, saya tidak tahu persis harus di bawah naungan siapa) menyeriusi ide management disaster itu daripada sibuk membagi-bagi makanan gratis lewat warteg seperti yang dilakukan Hardianti Rukmana pada tahun 1997-1998. Ide konyol dan gila!

Riset fisika Bumi di institut pendidikan Indonesia saya harapkan juga mengarah pada penelitian lempengan Bumi ini. Tentu saja dampaknya bukan pada early warning system, tapi inovasi-inovasi lainnya akan banyak lahir dari sana, dan sangat cirikhas yang hanya bisa dilakukan oleh negara yang dilintasi cincin api. Ingat, keberadaan cincin api dan beberapa garis lempengan yang melintasi ranah Indonesia membuat negri kita menjadi satu-satunya tanah tersubur dan terkaya seantero jagad raya!

Selain itu, peningkatan pengetahuan-dasar umum masyarakat kita juga harus ditingkatkan. Para staf BMG harusnya sudah mulai mengasuh rubrik khusus pada media massa setempat, baik lewat koran, radio, ataupun televisi. Kalau mau keren, bisa buat weblog sendiri!

Membangun jembatan memang penting, masjid, gereja, sekolah, jalan, dll., memang penting. Tapi pencerahan intelektual pada sains untuk masyarakat umum juga tak kalah pentingnya, dan ini jangan hanya mengandalkan sekolah saja. Dan masyarakat umum juga harus mulai sadar bahwa fisika dan ilmu sains lainnya bukan untuk ditakuti atau dijauhi. Kita butuh mereka untuk mengerti prilaku alam ini, karena dengan mengerti dia lah kita bisa hidup lebih baik!

Being cool is not to conquer the Nature, but to be friend with Her!

Penutup

Tidak ada sebenarnya yang mesti saya ketikkan dalam subjudul Penutup ini. Tapi kebiasaan menulis menuntun saya untuk membuat sebuah uraian untuk menutup kajian yang saya buat.

Tapi kali ini, biarlah bab Penutup ini menjadi syarat terpenuhinya artikel yang baik dan benar.

Saya harap, artikel ini membawa kemasylahatan buat kita semua.

* * *

1Saya harus hati-hati dengan mengatakan “cahaya”, karena cahaya itu bermacam-macam. Interpretasi umum kita cahaya adalah sinar tampak, Cahaya tampak ini hanyalah bagian kecil dari skala cahaya yang panjang, sama seperti skala musik yang panjang namun ada batas not tertinggi dan terendah yang bisa kita dengar. Skala cahaya dapat dideskripsikan oleh angka - disebut frekuensi - dan jika angka ini bertambah, cahaya terlihat dari merah menjadi biru padahal sinar tampak adalah bagian kecil dari jenis cahaya. Semakin tinggi frekuensinya, semakin tinggi energi yang dibawa foton itu.

2Saya ketik paragraf ini pada jam 11.48pm dengan tangan menggigil ketakutan, who dares against the Nature, in the end She is the one whom we have to be friend of, not we are the one who claim to conquere her!.


Perjalanan ini aku mulai dari kota Koeln dengan menaiki kereta api super cepat Thalys. Aku dan kakakku berangkat dari Koeln jam 10 pagi dan kami tiba di station Gare du Noord, Paris jam 2 siang. Total perjalanan hanya 4 jam saja sedangkan jarak Koeln - Paris adalah 600 km. Dengan memakai perhitungan fisika sederhana, rata-rata kecepatan kereta Thalys trayek Koeln - Paris adalah 150 km/jam. Setelah tiba di station Gare du Nord, aku rangkul kakakku dan aku bilang, “We are in France my friend”, kakakku langsung protes, “my broer!”. Kemudian aku bilang, “Kalo aku bilang broer, situ yang enak sedangkan sini tidak enak, situ big brother sini little brother yang biasanya harus nurut sama big brother, so.. this time, I’ll call you my friend, then we are equal, okay?”. Kemudian kami menuju pusat informasi turis. Disana kami mem-booking hotel seharga 60 euro dan kami pun mendapatkan booklet yang berisi informasi tentang kota Paris dan informasi tentang transportasi-line di kota Paris seperti Metro dan Bus. Tempat-tempat touristic pun ada dan lengkap di booklet tersebut sehingga kami tidak membutuhkan buku tambahan lainnya. Setelah mendapatkan informasi tersebut kami pun turun ke underground untuk membeli tiket terusan mengelilingi kota Paris dalam dua hari. Tiket tersebut berharga 28 euro untuk dua orang, dengan tiket ini kami berhak menggunakan Metro dan Bus selama dua hari penuh di seluruh kota Paris.

Selengkapnya…


Aku berangkat pada hari Senin jam 10 pagi dari kota Eindhoven, Nederland, memakai kereta Intercity menuju kota Bonn, Germany. Aku dan kakakku berencana mengunjungi kakak ipar kami orang jerman yang sedang 6 bulan bekerja di kota Bonn, Germany. Kakak iparku bernama Michael Henk, namun dia dipanggil dengan nama Michelle oleh kedua orang tuanya. Perjalanan kereta memakan waktu kira-kira 3 jam. Dari Eindhoven ke Venlo, kemudian dari Venlo ke kota Muenchenglabach, dari Muenchenlabach ke Koeln dan dari Koeln baru ke Bonn. Di Bonn sudah menanti Mike, julukanku untuk kakak iparku, di peron kereta. Hari Senin itu kebetulan sekali hari libur nasional, paskah, di negara jerman sehingga Mike mempunyai waktu untuk menjemput kami. Kemudian kami diantar untuk berkeliling kota Bonn sore itu. Pertama-tama Mike bercerita bahwa di station kereta Bonn sangat tidak aman. Banyak sekali anak-anak mudanya yang mengedarkan ganja secara illegal. Memang di negara jerman ini, soft drugs tidak dijualbelikan secara legal seperti halnya di negara tetangganya, belanda. Saya sempat membaca suatu hasil riset yang meneliti tentang perilaku pemakaian drugs di negara-negara eropa. Walaupun drugs dijualbelikan secara legal di negara Belanda, tetapi percentage orang-orang muda belanda dalam memakai drugs terkecil bila dibandingkan dengan negara-negara eropa lainnya seperti Perancis, Germany, Italy dan Spain. Ternyata, barang yang dilarang mempunyai daya tarik yang lebih tinggi bila dibandingkan barang yang dijual bebas. Malah keuntungan lainnya dari penjualan bebas drugs ini adalah bahwa jumlahnya bisa dikontrol sehingga tidak over, selain itu pun pemerintah mendapat untung dari pajak yang dikenakannya. Pintar sekali negara belanda ini bah.

Di kota Bonn itu kita lanjutkan acara jalan-jalan keliling. Kita mengunjungi rumah Bethoven. Yak, benar sekali saudara-saudara sekalian. Bethoven lahir dan tinggal serta mati di kota Bonn. Malahan di kota Bonn ini, patung Bethoven didirikan secara megahnya dan menjadi simbol kota Bonn. Di rumah Bethoven, keajaiban terjadi. Kami bertemu dengan enam orang pelajar Indonesia yang kebetulan juga sedang menikmati sejarah Bethoven. Malahan, 3 orang pelajar Indonesia tersebut berasal dari kota Bandung, sehingga membuatku langsung ngomong bahasa sunda dengan mereka. Kan aneh yach, sudah jauh-jauh di negara jerman, eh, malahan ketemunya sama orang Indonesia lagi. Itulah, Tuhan Maha Kuasa dan Maha Berencana. Setelah capai berjalan-jalan dan becanda ria dengan orang-orang Indonesia itu, tak lupa tentunya aku minta nomor telepon gadis bandung yang belajar di kota Dusseldorf tersebut, kami berjalan pulang menuju kediaman rumah Mike. Disana ibunda Mike telah memasak ayam goreng untuk kami semua. Akhirnya sore itu kami makan sepuas-puasnya sampai perut kami kenyang tidak karuan. Hmm.. enak sekali rasa ayam goreng itu. Setelah makan malam selesai, aku, kakakku dan Mike pergi ke atas untuk beristirahat. Sebelum tidur, kami mengobrol tentang kondisi Indonesia. Mike bercerita bahwa di kota Bonn ini, yang dulunya bekas capital city negara jerman, banyak sekali diplomat-diplomat Indonesia petatang peteteng memakai mobil mercedes terbaru. Hatiku rasanya sakit mendengar hal ini karena aku merasa bahwa masih banyak orang-orang miskin di negara Indonesia yang setiap harinya untuk mencari makan saja sudah sulit, apalagi untuk memenuhi kebutuhan lainnya seperti baju, rumah, pendidikan anak, pensiun, kesehatan, boro-boro memikirkan refreshing, pergi ke bioskop atau pun makan enak di restaurant mahal. Malangnya nasib orang miskin di negaraku.

Keesokan harinya kami semua diantar oleh ayahanda Mike mengelilingi kota Bonn sekitarnya. Kami pergi dengan menaiki mobil Renault Scenic kepunyaannya. Mobil ini sangat bagus dan modern. Tidak pakai kunci, tapi hanya memakai kartu untuk membuka pintu dan menstarter mesin mobilnya. Semua peralatan elektronik di dashboardnya sudah memakai sistem digital dan tidak ada lagi manual. Kereen bo! Pertama-tama kami berkunjung ke atas gunung untuk bisa melihat kota Bonn dari atas. Ayahanda Mike sudah berumur 72 tahun tapi masih menyetir mobil layaknya umur 26 tahun saja. Dia pun masih kuat untuk mendaki gunung sedangkan aku dan kakakku sudah ngos-ngosan. Sesampainya di puncak gunung, ternyata ada restaurant kelas atas bernama Rolandsbogen. Bill Clinton pernah kesini waktu dia berkunjung di negara jerman. Ternyata restaurant ini ada sejarahnya, yaitu dulunya, sekitar tahun 1200, rumah ini kepunyaan seorang rider, atau knight. Waktu si Knight ini berangkat perang, istri si Knight ini mengira bahwa suaminya sudah mati di medan perang dan tidak akan pernah kembali lagi. Akhirnya istri si Knight ini memutuskan untuk menjadi biarawati dan dia pun turun gunung untuk memasuki sekolah katolik. Ketika si Knight ini pulang dari peperangan, dia mendapati istrinya sudah tidak ada lagi di rumahnya. Dan dia mendengar kabar bahwa istrinya berada di sekolah katolik yang dari puncak gunung itu bisa terlihat jelas ke bawah. Akhirnya laki-laki malang tersebut hanya bisa meratapi nasibnya dengan melihat sekolah katolik itu dari puncak gunung. Cerita yang mengiris hati, namun nyata.

Sigit Wahyunandika 126a.jpg

Dari puncak gunung tersebut kita melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja Mike, kakak iparku. Mike bekerja di toko sepeda besar di kota Bonn. Sepeda-sepeda di tokonya sangat banyak sekali. Tapi tidak ada merk sepeda-sepeda belanda. Tidak ada Batavus, Maxwel atau pun merk lainnya. Hanya merk terkenal jerman yang ada seperti Hercules, Kepler dan lainnya. Harganya pun jauh lebih murah dibanding sepeda belanda. Dan sekilas saya lihat, sepeda buatan jerman jauh lebih bagus kualitasnya. Tidak akan mudah rusak seperti sepeda belanda yang saya miliki. Sebagai contoh saja, sepeda terbaik belanda, batavus, harganya berkisar antara 800 sampai lebih dari 1000 euro. Sedangkan sepeda terbaik jerman, Hercules, hanya 400 euro saja. Memang edan harga-harga di negeri belanda ini. Sepulang dari sana, aku dan kakaku jalan-jalan sendirian di kota Bonn. Kami mengunjungi universitas Bonn. Memang indah sekali. Aku yang kebetulan senang dengan matematika, menyempatkan diri untuk mengunjungi museum Arithmeum yang kebetulan tidak jauh dari universitas Bonn. Disana adalah tempat bagi discrete matematik. Disana aku melihat alat-alat matematika yang dibuat pada zaman dahulu. Ada alat hitung abacus, ada batu yang ditulisi oleh bahasa mesir, ada alat fancy yang fungsinya aku tidak tahu. Ada alat hitung seperti komputer yang bernama millioner, dibuat oleh orang jerman yang bernama Otto Steiger pada tahun 1893. Alat ini berharga 3000 Swiss Franc pada saat itu. Salah satu fungsinya bisa untuk menghitung berapa dividend yang harus dibayarkan kepada investors. Ada juga IBM Mainframe Computer Maestro, S/390 G3 Enterprise Server, 10-Way-Parralel Processor, Nenek moyangnya computer jaman sekarang, namun komputer ini gede banget.

Tidak lupa di kota Bonn ini kami menonton film Miss Congeniality 2 yang dibintangi oleh Sandra Bullock. Namun sayang, dari awal film sampai akhir film tidak ada satu kalimat yang saya mengerti karena film ini didubbing oleh bahasa jerman. Ini yang saya tidak begitu mengerti. Negara yang superpower seperti jerman ini masih saja mendubbing film-filmnya dengan bahasa jerman. Kapan kalo begitu anak-anak mudanya belajar bahasa inggris? Padahal kalau saya berdiskusi dan berdebat ekonomi dengan orang-orang jerman tentang kapitalisme dan sosialisme, Adam Smith versus Karl Marx, bahasa inggris mereka jauh lebih bagus daripada bahasa inggris saya. Macam-macam saja negara jerman ini, macam-macam pula negaraku. Malam terakhir kami di kota Bonn, ayahanda Mike, ibunda Mike dan Mike beserta kami menonton video rame-rame. Video itu bercerita tentang kota Bonn di waktu setelah perang dunia kedua. Hancur lebur. Tidak ada gedung-gedung, jalan-jalan hancur dibom oleh sekutu. Namun yang mengherankan dan ajaib adalah kota Bonn dalam kurun waktu lima tahun saja sudah kembali seperti semula dan malah lebih bagus dan lebih maju lagi. Orang-orang kota Bonn sendirilah yang pada saat itu, termasuk ayahanda Mike, yang membangun dan membersihkan puing-puing kota. Mereka bekerja keras untuk membangun kotanya sendiri. Ada satu kebanggaan terpancar dari raut muka ayahanda Mike ketika beliau bercerita mengenai hal ini. Hal yang membuatku dan kakakku menjadi semangat untuk membangun kota kelahiran kami, Tasikmalaya, menjadi kota yang lebih tertib, lebih teratur dan lebih baik dari keadaan sekarang.

Kalau kita mau saja merenung sedikit, negara jerman pada saat setelah perang dunia kedua sudah sangat hancur lebur. Keadaan saat itu sangat parah. Negara tersebut kalah perang. Harus bayar ini dan itu. Namun yang tidak hilang adalah semangat untuk berjuang dan melawan. Mereka membangun kembali negaranya dengan semangat yang tinggi. Dan dalam kurun waktu lima sampai sepuluh tahun, pulihlah negara jerman ini sedikit demi sedikit. Dan sekarang bisa kita lihat hasilnya. Negara jerman adalah salah satu negara adidaya di dunia. Kapan negara kita, Indonesia, negara yang kita cintai bisa seperti ini? Jawabannya tentu berpulang kepada kita-kita semua sebagai anak-anak bangsa. Mau dikemanakan negara kita? Mau dikemanakan negara ini bapak-bapak yang sudah duduk-duduk enak sekali di kursi pemerintahan? Sila menjawab di komentar di bawah ini. Silakan.

Sigit Wahyunandika 192a.jpg


Aku ingin berbagi cerita kepada teman2 semua mengenai perjalananku mengelilingi beberapa negara di Eropa. Perjalanan ini dimulai dari tanggal 26 Maret 2005 sampai dengan 31 Maret 2005. Hanya enam hari perjalanan, namun perjalanan ini sangat berkesan di hatiku. Perjalanan pertama aku lakukan dari kota Groningen ke kota Eindhoven. Disana aku bertemu kakak kandung yang bernama Sigit yang sudah dua hari satu malam menginap di tempat teman lamanya, Sinta. Sinta sudah 14 tahun tinggal di Belanda. Bahasa Belandanya pun sangat fasih. Namun begitu, budaya Indonesianya pun masih kental dan terlihat jelas. Ini terbukti waktu kita makan malam, spaghetti yang aku makan sangat pedas karena Sinta menambahkan sambal ABC banyak-banyak. Terpaksa tidak aku makan karena perut penulis tidak tahan pedas.

Keesokan harinya, aku dan kakakku dan Sinta dan temannya Sinta beserta anaknya berangkat ke Belgia memakai mobil kepunyaan Sinta. Kami menuju kota Eiper. Dalam perjalanan menuju kota Eiper, kami melewati kota-kota terkenal Belgia seperti Antwerpen, Brussel, Gent dan Brugge. Akhirnya setelah 3 jam perjalanan, sampailah kami di kota Eiper. Kami menuju Disneyland nomer duanya Belgia, yaitu Walabi. Disana banyak sekali terdapat mainan anak-anak dari mulai bom-bom car sampai roller coaster. Anak temennya Sinta senang sekali bermain dengan mainan-mainan tersebut. Namun aku tidak mampu mengikuti keinginan anak kecil karena setelah satu kali bermain teh poci putar, perutku sangat mual dan rasanya ingin muntah dan terpaksa berhenti saja.

Ada satu pengalaman menarik yang menggelitik hatiku. Yaitu ketika anak temennya Sinta ingin main salah satu mainan yang namanya aku tidak tau, dia salah masuk pintu. Dia masuk lewat pintu keluar bersama kakakku. Anak kecil tersebut beserta kakakku telah berada di depan mainan tersebut dan tinggal masuk saja. Namun si penjaga pintu tidak mengizinkan anak kecil itu dan kakakku untuk masuk mainan. Malahan si penjaga pintu tersebut menyuruh anak kecil dan kakak untuk kembali keluar dan lewat dari pintu masuk yang sebenarnya, bukan dari pintu keluar. Tentu saja ibu si anak kecil, Sinta dan kakak sewot. Karena memang tinggal satu langkah dari pintu mainan tapi disuruh keluar lagi. Tapi memang karena kejadian ini bertempat tinggal di Belgia dan memang ini adalah aturan Belgia, maka tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain menuruti permintaan si penjaga pintu. Aku bayangkan apabila kejadian ini terjadi di negaraku, mungkin saja anak kecil dan kakak sudah masuk mainan tanpa susah payah tanpa harus balik keluar lagi. Ada-ada saja Belgia, ada-ada saja negaraku.

Setelah berputar-putar kesana kemari di Disneyland keduanya Belgia, Walabi, akhirnya kami capai dan kami memutuskan untuk menengok tempat kerja suaminya Sinta, Henk. Henk bekerja di salah satu mainan yang besar dan memerlukan tenaga ahli yang harus mengupayakan agar mainan tersebut bekerja dengan baik dan benar dan yang terpenting aman. Henk sudah bekerja beberapa hari di tempat tersebut tanpa pulang ke rumah, ini yang membuat kita semua menengoknya. Apa saja yang dikerjakannya? Memang dia bekerja di mainan tersebut dan memang benar pekerjaannya dia sangat penting karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Jadi Henk tidak bisa main-main. Karena perut sudah lapar dan keroncongan maka kita semua, tidak termasuk Henk karena masih harus bekerja, keluar dari Walabi dan mencari restaurant Chinese. Ternyata, restaurant Chinese di Belgia dua kali lipat lebih mahal daripada restaurant chinese di Belanda. Namun apa daya, perut lapar butuh makan dan makan butuh duit. Dengan berat hati diberikanlah uang untuk membeli makanan tersebut.

Sore harinya kami pulang lagi ke Eindhoven. Kami mampir di tempat temennya Sinta untuk mengantarkan temennya Sinta dan anaknya. Disini keajaiban terjadi. Saya bertemu dengan suaminya temennya Sinta dan ternyata 15 tahun yang lalu, aku pernah bertemu dengannya di kota Tasikmalaya di rumahku. Dia mengajariku bermain keyboard dan sekarang kami bertemu di Eindhoven. Memang segala sesuatunya di bumi ini sudah ada yang mengatur. Bukan saya yang berencana untuk bertemu dengannya, tetapi Tuhan telah merencanakan pertemuan ini, dan saya pun hanyalah sekedar menjalankan apa yang sudah ditakdirkan olehNya. Sungguh saya tidak punya kemampuan apa-apa untuk membuat hal ini terjadi. Namun takdirNya sudah pasti dan tidak ada seorang pun yang bisa melawan kehendakNya.

Sigit Wahyunandika 079d.jpg


Muslim di Belanda

Filed under Catatan Pribadi

Tadi siang, sehabis shalat jum’at, ada ajakan dari pengurus masjid Groningen untuk duduk dan mendengarkan selama 30 menit diskusi dengan para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Adapun inisiatif diskusi tersebut datang dari para pemimpin partai politik di pemerintahan kota Groningen. Mereka ingin mengetahui apa pendapat dan pengalaman orang-orang muslim di kota Groningen khususnya, dan negara belanda pada umumnya. Hal ini dilandasi oleh keadaan panas yang terjadi beberapa bulan terakhir ini di negeri belanda setelah terjadinya kasus penembakan Theo van Gogh oleh Muhammad B., immigrant Maroko yang sudah berwarga negara Belanda. Kasus ini begitu merebak apalagi setelah media membuat kasus ini malah kian memanaskan keadaan. Mesjid2 dibakar, ketegangan antar orang muslim dan orang non-muslim lebih menjadi2. Malah ketegangan ini merebak menjadi ketegangan antara orang yang beragama dan orang yang tidak beragama. Contoh dari hal ini adalah gereja2 dibakar.

Dari diskusi yang saya dengar, dari pengakuan orang2 muslim di Groningen ini, kehidupan mereka tidaklah menyenangkan. Mereka hidup dalam ketakutan. Mereka tidak bisa secara bebas berjalan di luar tanpa orang lain melihat mereka secara rendah. Mereka tidak bisa hidup secara tenang di negeri belanda ini tanpa orang lain mencibir terhadap diri mereka. Salah seorang diantara mereka bilang malah kondisi seperti ini dimulai dari tragedi 11 September 2001. Dan semakin kemari semakin sulit. Contoh lain lagi adalah ketika wanita muslim keturunan afro yang memakai jilbab keluar rumah, ada orang yang menjaili mereka. Dan banyak contoh2 lainnya lagi. Sebelum saya mendengar lebih banyak lagi saya keluar dari masjid karena saya tidak tahan untuk mendengarkan lebih lanjut lagi. Saya tidak tahan mendengar bahwa ada orang lain yang berkeyakinan sama dengan saya menderita sedangkan saya merasakan nikmat dan rahmat. Dan yang paling saya tidak tahan adalah bahwa saya tidak bisa melakukan apa2!

Kemudian keajaiban terjadi, saya bertemu dengan Cak Fu di C1000, Padepoel. Saya ceritakan apa yang telah terjadi di masjid Selwerd. Dan Beliau berkata, “Mas Teguh, jika semua orang diam, tidak akan ada perubahan.” Saya pun berkata balik, “Cak Fu, diam pun adalah suatu sikap, dan dengan diam bukan berarti saya tidak melakukan apa2. Saya merasa belum menjadi orang yang baik, maka saya akan perbaiki diri saya sendiri dulu baru saya akan berkata atau bertindak untuk memperbaiki yang salah.” Kemudian Cak Fu berkata kembali, “Kalau semua individu baik memang gampang, tetapi dunia ini tidak seperti ini. Nabi Muhammad pun datang untuk melakukan perubahan. Seperti pemimpin revolusi lah beliau itu.” Saya setuju untuk melakukan perubahan. Tetapi kemudian saya bilang kembali, “Perjuangan yang paling sulit adalah melawan hawa nafsu sendiri. Diri sendiri adalah musuh yang paling sulit untuk ditaklukan. Maka dari itu memang 3M lah yang paling baik yang bisa kita lakukan. Yaitu Mulai dari diri sendiri, Mulai dari hal2 yang kecil dan Mulai dari sekarang.”

Kemudian diskusi kita terus berlanjut ke hal2 yang lain. Namun ada satu hal yang menggelitik hati saya. Memang kalo kita diam terus, tidak akan ada perubahan yang terjadi di sekitar kita. Kita harus mulai, walaupun dari hal2 yang sekecil mungkin. Mungkin dengan tulisan ini saya memulai untuk melakukan perubahan2. Mungkin dengan tulisan ini ada yang tergelitik dengan keadaan muslim2 di kota Groningen. Mungkin dengan tulisan ini ada yang memiliki ide cemerlang untuk mengatasi dan memberikan solusi yang nyata agar masalah ini bisa terselesaikan. Kalau saya sendirian memang tidak akan mampu untuk memecahkan masalah serumit dan sekompleks ini. Tapi dengan bantuan teman2 semua, insya Allah, masalah serumit dan sekompleks apa pun akan bisa ditemukan jalan solusinya. Insya Allah. Terima kasih Cak Fu atas diskusinya.


Bagi siapa saja yang kelak ingin punya anak, atau yang sudah punya anak dan nantinya akan menyekolahkan anaknya di TK/SD di Indonesia, ada baiknya menyimak uraian berikut. Semoga bermanfaat.

“Ha ha ha, huehehe…” Si kecil Lala tertawa terbahak-bahak, tapi setelah itu dia diam dan malah bertanya “Bunda, kenapa sih orang-orang pada ngomongin
setan?” begitu pertanyaan Lala. Entah mengerti atau tidak dengan pembicaraan kami waktu itu, tapi dia ikut juga tertawa ketika kami sedang menyimak cerita
tentang setan. Ya maklumlah, namanya juga anak-anak, kadang suka ikut-ikutan nggak jelas :-) Lalu apa hubungannya pertanyaan Lala dengan masalah menyekolahkan anak?

Malam itu, di sebuah rumah yang nyaman di dekat Hornsmeer, Tuan dan nyonya rumah sedang mengadakan acara syukuran bagi kelahiran bayi mungil mereka, Dhafin. Tentu saja DeGromiest and the gang menyempatkan hadir di acara tersebut. Setelah menyantap makan malam yang lezat, dan sholat maghrib bergantian, sekelompok ibu-ibu dan juga yang belum berstatus ibu, asyik bercanda ria dan berbagi cerita. Mulai dari cerita tentang penculikan anak yang kian marak di Indonesia, kisah serunya pengalaman mbak Heni waktu dihipnotis, sampai kepada cerita tentang setannya mbak Ponky–yang membuat Yunia panik :-) dan si kecil Lala bingung.

Tak hanya sampai disitu, ada kisah menarik yang disampaikan mbak Diana dan membuat curiousity saya meningkat. “Di Jerman, ada sebuah kasus menarik, seorang anak 5 tahun dari Indonesia yang sudah bisa membaca, ternyata oleh
gurunya malah dikatakan bahwa orangtuanya telah melakukan child abuse” begitu kira-kira kisahnya.

Hal ini bagi saya menarik, karena Lala pun mengalami kasus yang sama di Belanda, tapi oleh gurunya sebaliknya malah didukung dan sedang diupayakan agar bisa naik kelas lebih cepat. Ada apa sebenarnya? Padahal Jerman dan Belanda sama-sama memberlakukan aturan, anak baru ‘diajarkan’ membaca saat usianya 7 tahun. Kalau begitu apa jadinya dengan sebagian besar
anak Indonesia ya, umumnya di usia 5 tahun mereka sudah mampu membaca bukan?

Selain itu, hal ini mengingatkan saya pada diskusi menarik–tentang masalah kemampuan membaca anak Indonesia beserta kurikulum pendidikannya–dengan mbak Ike dulu. Akhirnya, permasalahan ini saya lempar ke salah satu milis yang saya ikuti. Dari hasil diskusi itu telah dibuat resumenya, dan kebetulan ada 2 orang ibu dari Jerman yang ikut memberikan komentar.

Resumenya, silahkan dilihat disini :
http://wrm-indonesia.org/index.php?option=content&task=view&id=302

Tapi bagi yang ‘malas’ membaca karena rangkumannya pun cukup panjang, saya coba untuk memberikan kesimpulan dari diskusi tersebut.

***

Kata kunci dari permasalahan di atas adalah ‘keterpaksaan’. Bisa jadi kasus di Jerman itu memang kerap terjadi. Di Jerman, perlindungan terhadap anak
memang sangat ketat. Karena disana anak baru ‘diajarkan’ membaca saat anak berusia 7 tahun, tak heran bila ketidaklaziman ini membuat mereka berhati-hati terhadap kasus yang tidak biasa. Selain itu, pendefinisian terhadap pengajaran membaca itu sendiri belum jelas. Bisa saja materi yang diberikan pada anak dibawah 7 tahun di Jerman oleh beberapa orang dikatakan bukan mengajarkan membaca. Tapi oleh sebagian yang lain hal itu sudah bisa dikatakan pengajaran membaca (proses menuju membaca).

Dari diskusi tersebut, hampir semua ibu sepakat bahwa yang disebut child abuse sebenarnya bukanlah pengajaran membacanya melainkan pemaksaannya. Ketika seorang anak enjoy-enjoy saja dan have fun dengan
pengajaran membaca, why not? Guru-guru di Jerman pun akan mengerti dan tidak akan menganggap tindakan ini sebagai child abuse bila alasan yang dikemukan jelas, bahkan mungkin akan didukung seperti yang terjadi pada
Lala di Belanda.

Apalagi bagi anak yang memang punya kemampuan otak di atas rata-rata atau memang sejak kecil sudah biasa dibacakan buku oleh orangtuanya. Mereka begitu familiar dengan huruf dan cepat sekali menyerap apa-apa yang mereka lihat. Sehingga sangat wajar bila akhirnya minat mereka untuk bisa membaca begitu besar. Pada anak-anak seperti ini, kebanyakan orangtua akhirnya ‘mengajarkan’ anak-anaknya membaca. Tetapi metodanya pun diupayakan agar sesuai dengan dunia anak–dunia bermain– dan tentu saja menyenangkan.
Karena hal-hal itulah maka tak heran bila di Indonesia, terdapat cukup banyak kasus anak-anak kecil–yang tanpa dipaksa–sudah bisa membaca.

Tapi, tentu saja yang juga patut diperhatikan adalah motivasi dibalik pengajaran orangtua pada anak-anak dengan minat besar tersebut. Betulkah memang karena minat besar si anak? ataukah lantaran keinginan pribadi yang terkait dengan proud as parents–yang bangga jika melihat anak-anaknya kecil-kecil sudah bisa membaca? Hal ini terpulang kepada hati nurani masing-masing orangtua.

Kalau tanpa dipaksa oke, bagaimana dengan yang dipaksa? Ini lah yang patut dikuatirkan dan layak disebut child abuse tampaknya. Apalagi, di Indonesia
sekolah TK yang melakukan metoda pengajaran membaca dengan paksaan ini pun cukup marak. Bahkan dibeberapa sekolah ada pula yang konsepnya ‘bermain sambil belajar’ tapi ujung-ujungnya tetap saja ‘belajar sambil bermain’ Sebagai informasi dari saya, ternyata ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa pemaksaan pengajaran membaca di usia dini, malah bisa menurunkan
tingkat IQ saat di SD kelak! Hmm pantas saja bila akhirnya dikatakan child abuse bukan?

Indonesia memang sedang ‘terkapar’ di segala bidang, termasuk pendidikan. Orangtua di Indonesia yang memiliki anak usia TK kerap bingung memilih sekolah dan bagaimana seharusnya bertindak. Di satu sisi kurikulum anak SD kelas 1 mengharuskan anak untuk sudah bisa membaca. Di sisi lain, orangtua yang sadar dan tidak ingin memaksa anaknya, tetap dihadapkan pada tuntutan tersebut. Sehingga mau tak mau tetap saja mereka harus mengajarkan anaknya membaca. Dari kondisi tersebut, akhirnya banyak orangtua yang malah meminta guru-guru TK untuk mengajarkan anaknya membaca lewat
les. Guru-guru TK pun ‘asik-asik’ saja karena malah mendapat penghasilan tambahan barangkali.

Masalah ini memang menjadi dilema bagi banyak orangtua di Indonesia. Jadi, bagi anak-anak balita yang akan bersekolah di Indonesia, tampaknya orangtuanya harus berpikir masak-masak sebelum memutuskan untuk memilih
sekolah. Keliru pilih sekolah atau main paksa sama anak , jangan heran kalau akhirnya orang-orang di negara lain malah menuduh kita telah melakukan child
abusing.


30 Menit yang Berharga

Filed under Catatan Pribadi

Minggu sore (3/4/05), bersama teman-teman deGromiest aku ke rumah Hari dan Dian di Hornsemeer. Tuan rumah mengadakan syukuran atas kelahiran Dhafin, sang calon pemimpin, yang meskipun prematur tetapi selamat dan semakin baik keadaannya. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah Sang Pengasih kepada setiap hambaNya.

hehehee..

Seperti biasa kalau lagi ngumpul, selalu diwarnai dengan ngobrol ngalor ngidul, guyon sana sini, dan ngrumpi ini itu. Di atas sebuah sofa yang empuk, aku duduk bersama Pak Totok dan Mas Nandang. Di pinggirku duduk Mas Eko di kursi kecil yang agak keras, tak seempuk sofa yang menopang berat badanku. Teman-teman yang lain di kursi seberang, asyik dengan obrolan hangat yang ditemani berbagai jenis jajanan. Sementara para ibu dan mbak-mbak memilih lesehan di atas karpet, sambil menyanyikan lagu Sunda “Abdi Teh Ayeu Na” bagi Michelle. Kasihan sekali anak Teguh ini. “Didoktrin” paham Sunda oleh Uyung dan kawan-kawan.

Obrolanku sendiri bermula dari cerita Eko tentang semakin mahalnya biaya pendidikan di Indonesia. Untuk biaya masuk SD di Bogor–contoh kasus anaknya Eko–sekolah mematok 10 juta. Itu pun sudah termasuk yang murah. Sedikit banyak kami membandingkan dengan kondisi di sini, sekolah yang gratis namun cukup berkualitas. Lalu diskusi mengalir ke arah penyebab mahalnya sekolah di Indonesia. Salah satunya karena kecilnya belanja sosial yang dikeluarkan pemerintah untuk kesehatan dan pendidikan. Karena anggaran yang sangat kecil untuk pendidikan, akhirnya masyarakat sendiri yang harus membayar mahal.

Nah, dari sini lah diskusi jadi makin hangat, ketika Pak Totok yang sudah kenyang dengan asam garam dunia pengambilan kebijakan, menyampaikan pandangan dan pengalamannya yang dilatarbelakangi oleh arena bermainnya di lingkaran pusat kebijakan. Tentu tak lupa diselingi dengan guyonan sana sini. Kadang-kadang komentarnya sangat tegas dan pedas. Kami membahas soal kemiskinan, data kemiskinan–di PPI baru saja ada diskusi hangat tentang data kemiskinan ini–dan soal kenaikan BBM. Terlalu panjang kalau diceritakan di sini.

Sebagai bocoran saja, inti atau moral dari pendapat pak Totok adalah bangsa Indonesia itu sudah sangat lelah tak berdaya menghadapi kronisnya penyakit yang diderita. Masalah KKN? Itu masalah klasik, tatapi itulah realitasnya. Masalah kenaikan harga BBM saja sebenarnya cukup kompleks, bukan sekedar masalah banyaknya orang miskin yang semakin miskin karena tak mampu membeli BBM. Kalau di runut dari sejarah awal subsidi BBM dan pembangunan di Indonesia, kita akan bisa melihat permasalahan yang tidak populer ini mulai berakar. Banyak perusahaan yang minta disubsidi melalui BBM. Dan hingga saat ini, perusahaan seperti itu yang paling boros meminum subsidi BBM, bukan rakyat kecil.

Sementara sebagian orang menganjurkan alternatif lain, selain dari mencabut subsidi, misalnya penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, Pak Totok memperlihatkan secara sederhana betapa sulitnya borok itu diobati. Dari ujung ke ujung bisa dilihat borok tersebut di sana sini. Mau menyalahkan siapa? Pemerintah? Apa yang bisa pemerintah lalkukan untuk memberantas korupsi dalam waktu yang singkat, ketika dirinya juga termasuk dalam lingkaran penyakit?

Akhirnya beliau memberikan saran tentang apa yang bisa dan paling realistik kita lakukan. Sarannya mengingatkanku pada Gandhi yang mengajak rakyat India untuk bangkit dengan segala kemampuan yang ada, yang dimiliki masing-masing. Penting sekali bangsa Indonesia menyadari bahwa kita sedang tak berdaya melawan sang penyakit. Saling menyalahkan tidaklah banyak membantu. Yang dibutuhkan oleh tubuh bangsa ini adalah agar masing-masing anggota tubuh melakukan ’self-healing’. Melakukan yang paling baik dan paling bermanfaat yang bisa dia lakukan saat ini. Sarannya juga mengingatkanku pada konsep Aa Gym: 3M. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, mulai saat ini juga. Beliau menekankan, itulah yang bisa dilakukan oleh bangsa Indonesia, kalau bisa dari para warga, pak RT, hingga presiden. Sebagai pelajar ada yang bisa kita lakukan. Dalam lingkup keluarga juga demikian.

TIga puluh menit telah berlalu, namun diskusi rasanya masih hangat dan belum selesai. Pak Totok dan kawan-kawan dari Bappenas sebenarnya memiliki pengalaman segudang dan lebih dari itu, mereka telah mendapatkan ‘wisdom’ masing-masing yang tidak atau belum didapatkan oleh kaum muda yang sedang belajar di sini. Aku merasakan sebuah aliran “kesadaran” dari ‘pemahaman tentang kondisi global bangsa Indonesia’ yang kemudian membawa kepada ‘pilihan aksi lokal’ walaupun itu sekedar membantu kawan kita mendapatkan beasiswa. Ini sudah merupakan hal luar biasa untuk ’self-healing’.

Aku meminta kesediaan pak Totok, agar suatu saat kita bisa diskusi khusus tentang permasalahan bangsa dari sudut pandang makro dan riil ini. Dari penyebaran semangat dan pengetahuan ini, diharapkan akan mengalir sebuah semangat “Now Habit”, untuk melakukan sekecil apapun hal positif saat ini dengan sekecil apapun yang kita miliki, untuk diri, keluarga, dan bangsa. “Ada yang tertarik ndak?” tanya beliau.


Di bawah ini penjelasan tugas dan wewenang moderator mailing list De Gromiest, baik degromiest ataupun degromiest-intern.

Tugas Utama:
1. Membantu administrasi keanggotaan (membership) anggota De Gromiest di mailing list. Termasuk pekerjaan ini: pendaftaran, perubahan setting keanggotaan, berhenti sebagai anggota mailing list, dan membantu mengatasi persoalan mailing list yang dihadapi anggota.

2. Membantu kegiatan De Gromiest, seperti pemberitahuan informasi tentang Groningen, undangan kegiatan, pengingat (reminder). Berdasarkan pertemuan dengan pengurus disepakati bahwa ada “koordinator” yang menyediakan pengumuman dan undangan. Walaupun demikian, jika tidak merepotkan sangat baik sekali membantu hal ini; sila dikoordinasikan dengan pengurus/koordinator.

3. Mengakomodasi kemauan anggota dalam berdiskusi, seperti mengatur lalu-lintas diskusi (administratif), mendiskusikan usulan dari anggota tentang mailing list, dan menjadi penghubung dengan pihak luar (misalnya: ada keperluan dari pengunjung mailing list yang bukan anggota De Gromiest dan ingin kontak ke forum). Tidak berarti semua diskusi harus diikuti. Biar saja pembicaraan mengalir mengikuti kemauan anggota mailing list.

Tugas Tambahan:
1. Mengupayakan agar mailing list aktif dan menarik anggota untuk berpartisipasi.

2. Mengelola kebijakan yang lebih baik tentang mailing list; misalnya dikaitkan dengan perubahan yang terjadi di Yahoogroups, kebijakan tentang sumber daya mailing list (arsip, kalender, file-upload).

Wewenang:
Wewenang yang diberikan adalah moderator dengan otoritas penuh dalam mengatur administrasi mailing list kecuali hak menghapus mailing list dari Yahoogroups.

Salam hangat dari kami bertiga,
Moderator Oeloeng (Teguh), Wakil Moderator (Ismail Fahmi), dan Guru (Ikhlasul Amal).


Susunan Kepengurusan DeGromiest

Filed under Meja Informasi

Struktur Kepengurusan DeGromiest Periode 2004/2005

SUSUNAN PENGURUS DEGROMIEST 2004-2005

Ketua Tertinggi dan koordinator tadarrus mingguan Wangsa Tirta Ismaya (w.t.ismaya @ rug.nl)
Ketua Saja dan koordinator silaturahmi bulanan Indra
Muliawan
(i.muliawan @ gmail.com)
Juga Ketua Saja (Demisioner) Shri
Mulyanto
(totski03 @ yahoo.com)
Pemegang Buku Besar Keuangan dan (tentu saja) Uangnya (Demisioner) Diana Jirjis (dheeyana @ yahoo.com)



IT dan permilisan

Disepakati bahwa IT dan permilist-an de Gromiest dijadikan lembaga independent dengan harapan
kelangsungannya tidak bergantung pada kepengurusan. Pengurus de Gromiest akan memberikan dukungan
yang bersifat menjaga keberadaan dan kelancaran fasilitas yang digunakan dan memberikan input berupa
informasi kegiatan dan kepengurusan. Koordinator permilist-an dipegang oleh Teguh dan Ismail, untuk
bidang IT dikoordinir oleh Ikhlasul Amal dan Febdian Rusydi (buyung)

Lain-lain

Kegiatan-kegiatan lain akan ditentukan kemudian sesuai aspirasi warga DeGromiest.
Sementara ini, telah ditunjuk seorang pengurus untuk bidang :

- Juragan Loak yaitu Mbak Agnes Triharjaningrum. Klik disini untuk keterangan lebih lanjut

————-

Powered by X-DickTait-OrTemplate(tm)


DeGromiest menerima hibah barang dari anggota. Hasil penjualan barang akan dimasukkan ke dalam kas deGromiest. Jika anda sudah menyelesaikan studi di Groningen dan ingin menghibangkan barang, atau jika ingin membeli barang yang dilelang, silahkan hubungi: Agnes Tri Harjaningrum (bundaagnes @ yahoo.com, tel: 0641 054 573).

Berikut ini adalah daftar barang yang dilelang deGromiest:

No. Nama Barang              Lokasi
1.  Ranjang + Matras         Wangsa
2.  Buku Tasawuf (2 bh)     Mbak Yulia
3.  Buku Bank Islam          Mbak Yulia
4.  Tape recorder              Mbak Yulia
5.  Lem, tambalan ban       Mbak Yulia
6.  Water cooker (2lt)        Wangsa
7.  Water cooker (1,7lt)      Wangsa
8. Sepeda perempuan        Indra

DAFTAR BARANG-BARANG DARI MBAK HENI, LOKASI : DI RUMAH KEL. PAK TRI

No	Nama Barang 	                   Banyaknya
1	Selimut     	                         7
2	Bantal	                                  6
3	Sprei	                                  4
4	Topi	                                  11
5	Baju anak2	                      banyak
6	Celana anak2	                    banyak
7	Baju dewasa	                     beberapa
8	Celana dewasa	                   1
9	Bantalan kursi	                     8
10	Buku2	                               4
11	Gelas	                                banyak
12	Mangkok	                             beberapa
13	Piring 	                                 beberapa
14	Hanger	                               banyak
15	Sendok + garpu dll	          beberapa
16	Panci pegangan panjang	      1
17	Baskom plastik lobang2	       2
18	Tempat sendok garpu	      1
19	Teko 	                               1
20	Cangkir	beberapa
21	CD	banyak
22	Gelas ukur plastik	          1
23	Tatakan panci	                   4
24	Kabel expansi
25	Jam dinding	                    1
26	Baki	                                2
27	Kertas gosok	                   beberapa
28	Lampu tidur	                    1
29	Lampu belajar	                  1
30	Payung	                             1
31	Pemotong lakband	       1
32	Gunting	                             4
33	Tempat sampah	               3
34	Cukuran rambut	               2
35	Sandal + sepatu	                beberapa
36	Raket DDC power + control (dlm 1 tempat)	2
37	Kereta untuk bawa keranjang	3
38	Gantungan baju	                 2
39	Kasur kecil	                     3
40	Meja setrika	                    1
41	Kipas angin hitam	         1
42	rak plastik	                     1
43	Lemari laci plastik 3 laci	1
44	Lemari dinding kayu	      1
45	Karpet 1x2 m	                 1
46	Karpet 2x3 m	                  1
47	scooter	                              1
48	Cermin	                            2
49	Kursi biru lipat	            1
50	Kursi putih	                     2
51	Perangkat dapur
52	Kursi kecil plastik	          2
53	Tempat organ	                1
54	Plastik tempat baju kotor     1
55	Seperangkat kabel internet
56	Seperangkat peralatan sepeda
57	Ujung (pipa) penyedot debu	1
58	Perlengkapan ngepel, sikat ngepel dll
59	Tempat majalah kayu	    1
60	Timba plastik	                  3
61	Speaker aktif	                   1 set
62	Tempat mainan anak2 meja dan 2 kursi	1 set
63	Tempat piring/rak piring	1
64	Bola anak2	                  2
65	Oven	                            1
66	Mixer	                             1
67	Tas laptop	                   1
68	Jaket kulit dewasa	       1
69	Keyboard komputer	    1
70	Gorden	                           1 set
71	Rak plastik tempat bunga putih	1
72	Rak besi besi kecil hitam	1
73	Rak besi putih	                   1
74	Rak plastik	                     1