Archives for March, 2005

Jezus is Een Profeet

Filed under Islam di Groningen

Safira, anak perempuan bungsu saya, sepulang dari sekolah sehari sebelum libur Hari Paskah (passendaag) bercerita, “Pak, tadi aku di sekolah melihat God di tv.” Wah, ini menarik, karena di Sekolah Dasar Negeri di Belanda tidak ada pelajaran agama. Dugaan saya ini acara tambahan menonton televisi tentang agama. Ehm, “melihat” Tuhan? Seperti apa kira-kira…

Saya tanya Safira, “Seperti apa God yang dilihat itu, Dik?” Dia seperti heran dengan pertanyaan ini, jadi tidak langsung dijawab. Sebelum itu, si kakak, Rayhan, memberi penjelasan, “Bapak tahu kan, God itu apa? Allah, kan?” Mereka memang belum tahu kata “Tuhan”, karena dikenalkan nama “Allah” terlebih dulu, dan setelah itu mendapat kata “God” dari buku dan dari mendengar di sekolah.

Saya ganti pertanyaan untuk Safira, “Siapa nama God yang dilihat di tv, Dik?” Safira mengingat-ingat sebentar, “Jess, Jesen…. mmm” Langsung saya yakinkan, “Oooh… Jezus, ya?” (bacaan untuk “u” memang dekat dengan “eu”). Ah, benar! Safira langsung menjelaskan dengan lancar bahwa beberapa temannya mengacungkan tangan pada saat ibu guru bertanya, “Wie gelofte van Jezus?” (Siapa yang “beriman” [akan] Yesus?)

“Jezus itu siapa, pak?” Seperti biasa, sebelum berlanjut pada tanya-jawab yang lebih kompleks, saya jelaskan bagian yang sederhana terlebih dulu, “Jezus is een profeet (seorang nabi).” Tentu saja segera disusul dengan pertanyaan, “Apa profeet itu?” Karena mereka akan sulit menerima terjemahan “nabi”, jadi saya jelaskan dengan contoh: seperti Muhammad, jadi orang yang diberi tahu oleh Allah, misalnya tentang sholat, puasa.

Safira menegaskan, “Jadi bapak geloft juga ke Jezus?” Karena tampaknya konteks pertanyaan dia dikaitkan dengan teman-temannya yang mengacungkan tangan, saya lebih baik menjelaskan lebih panjang dan bertahap, “Begini Dik, Bapak geloft van Jezus tapi bukan God seperti yang dilihat di tv. atau seperti teman-teman di sekolah. Bagi Bapak, Jezus itu profeet, orang, seperti kita.” Rayhan ikut menimpali, “Itu yang tahu sholat, ya Pak?” Iya, “Profeet itu diberi tahu oleh Allah misalnya tentang cara sholat dan kemudian orang Islam mengikuti dari dia.”

Seperti biasa, Safira merasa perbedaan tersebut membuatnya heran: mengapa begitu? Karena memang berbeda, Dik. Kita kan orang Islam; God adalah Allah, sedangkan Jezus itu adalah profeet.

Agaknya inilah “telur paskah” yang saya peroleh tahun ini: diskusi persoalan keagamaan dengan anak-anak, dengan bahasa sederhana namun berisi makna akan keyakinan. Tentu saja, sebagian istilah dan konsep tersebut masih baru bagi mereka. Namun biarlah mereka menyimpannya dulu dan akan mendapatkannya sedikit demi sedikit sambil menapak ilmu nantinya.

Yang saya usahakan adalah: mereka menyadari adanya perbedaan tersebut dengan sikap awal memahami keadaan masing-masing.


Up date 18 Maret 2005

Filed under Meja Informasi

Hasil diskusi sesudah acara tadarus di rumah Indra Muliawan mengenai rencana dan peningkatan kualitas kegiatan de Gromiest.

I. KEGIATAN INTI
Untuk program “peningkatan kualitas” tadarus dan silaturahmi, maka disepakati untuk merancang

kegiatan de Gromiest per minggu setiap bulannya sebagai berikut:

Minggu I
Tadarus khataman Al Qur’an, diarahkan kepembacaan Qur’an dengan target minimal 1 juz dibaca pada

pertemuan tersebut.

Minggu II
Tadarus dengan variasi penafsiran ayat-ayat diikuti dengan diskusi.

Minggu III
Tadarus dengan variasi peningkatan kualitas membaca melalui perbaikan tajwid, insya Allah akan

dibantu oleh Ustad Yassin.

Minggu IV
Silaturahmi bulanan

Untuk minggu I dan II, tadarus diadakan di Haddingestraat 28 B (Wangsa)
Untuk minggu III, tadarus diadakan di Concordiastraat 67 A (Amal dan Heni)
Untuk minggu IV, ditentukan secara terpisah
Koordinator kegiatan silaturahmi adalah Indra
Koordinator kegiatan tadarus adalah Wangsa

II. PROGRAM IT
Disepakati bahwa IT dan permilist-an de Gromiest dijadikan lembaga independent dengan harapan

kelangsungannya tidak bergantung pada kepengurusan. Pengurus de Gromiest akan memberikan dukungan

yang bersifat menjaga keberadaan dan kelancaran fasilitas yang digunakan dan memberikan input berupa

informasi kegiatan dan kepengurusan. Koordinator permilist-an dipegang oleh Teguh dan Ismail, untuk

bidang IT dikoordinir oleh Amal dan Buyung.

III. RIHLAH
Untuk kegiatan rihlah 2005, direncanakan untuk diadakan kunjungan ke Disneyland dan Paris (dan

sekitarnya). Kunjungan direncanakan selama 4 hari (Kamis 5 Mai - Senin 9 Mai 2005, menurut catatan

tanggal 5 Mai adalah hari libur resmi di Belanda). Pendaftaran sudah dimulai dibuka sejak tanggal 20

Maret, akan ditutup pada: Sabtu 16 April 2005 (gelombang I) dan Sabtu 23 April 2005 (gelombang II).

Resiko untuk pendaftar gelombang II adalah kemungkinan akan biaya tiket dan penginapan yang lebih

mahal. Untuk kesuksesan acara, telah disusun sebuah tim yang anggotanya sbb (berikut kontak):
1. Pendaftaran dan pembayaran: Agnes ([email protected])
2. Transportasi dan acara: Heni ([email protected])
3. Akomodasi: Wangsa ([email protected])
Tim akan segera melakukan survey dan diharapkan paling lambat tanggal 26 Maret 2005 sudah dapat

memberikan gambaran kasar mengenai acara, rencana perjalanan, dan biaya yang akan diperlukan.


Relatif…(v)itas!

Filed under Dokumentasi

“Menurut kau cemana, cantik ngga dia?”

“Hm, kaya sih iya. Tapi kalau cantik… hmm, relatif sih!”

Dialog itu sering kali kita temui, terutama kalau lagi curhat. Ukuran-ukuran yang susah dikuantitaskan (atau lebih bersifat kualitas, seperti ganteng, baik, cemburu) biasa sering disebut “relatif” terhadap lain. “Aturannya”: harus ada pembanding untuk menilai atau mengukur sesuatu

Suatu kali, saya bertanya pada seorang teman yang hobi berdiskusi, dia rajin membaca ini-itu.

“Lho, kenapa harus ada pembanding sih?”

“Ya iya dong, kan begitu sesuai dengan “prinsip pengukuran”. Kau gimana, katanya alumni FT!”

(Di Fisika Teknik, kuliah Prinsip Pengukuran adalah salah satu kuliah inti – ibarat kuliah Elektromagnetik di Elektro, atau Kesetimbangan Benda Tegar di Sipil – nyawa dari inti jurusan itu.)

“Masak sih?”

“IYE!, cerewet!”

Ga ada yang tahu persis dari mana itu aturan datang. Rene Descartes (1596 – 1650, Prancis), disebut juga pendiri filosofi modern dan bapak matematika modern (karyanya yang abadi dipakai adalah “koordinat kartesius”,) pernah memakai logika yang mirip ketika mencoba membuktikan bahwa Tuhan itu ada.

“Cogito, ergo sum – saya berpikir, oleh karena itu ini saya”, begitu Descartes memulainya. “Ada sesuatu yang tidak diragukan. Saya hanya bisa membayangkan sebuah pemikiran yang cacat, karena kecacatan itu dapat dimengerti dengan merujuk pada pemikiran yang sempurna. Jadi, sesuatu yang tidak diragukan tadi benar-benar ada”.

Dengan memakai “aturan” itu Descartes mengantarkan kita, secara filosofi, pada kesimpulan: sesuatu yang sempurna itu benar-benar ada, karena dengan itulah kita tahu mana benar dan mana salah.

Prinsip Pengkuran yang di FT itu juga mirip-mirip. Kalau mau mengukur sebuah besaran, maka butuh sebuah satuan. Atau bisa juga dibalik, sebuah satuan bisa di”kalibrasi” atau di”normalisasi” mengikuti besaran. Geen problemo, inversito iso-iso sajo (maksudnya: tidak masalah, inversi atau pembalikan itu sah dilakukan.) Besaran dan satuan saling menjadi pembanding satu sama lain.

Memilih pembanding harus pas, ketika ngukur berat Apel, kurang bagus kalau panjang jari Aik sebagai satuannya. Begitu juga saat ingin mengetahui berat badan bang Spiderman, terlalu rumit untuk memakai kecepatan download internet dari rumahnya sebagai satuannya. (Walau sebenarnya, percaya atau tidak, apapun satuan yang dipilih masih bisa bekerja di seluruh hukum Fisika! Berterima kasih pada “Hukum Kekekalan Energi-momentum”.)

Tapi sebenarnya, kita bisa mengerti sesuatu, memahami atau menilai sesuatu tanpa perlu si pembanding itu. Kenyataannya, inilah prinsip pertama kerja sains!

“HA?? Pigimane bise,” kata temanku tadi itu.

Sains ada untuk memahami fenomena alam (apapun defenisi yang anda berikan, esensinya tidak akan jauh-jauh dari itu). Tak terhingga banyaknya fenomena baik kasat mata maupun tidak di semesta ini. Tapi kita cukup cerdik, kita tidak perlu harus memperhatikan semua fenomena itu, trus dipelajar. Ga perlu. (Bayangkan dengan cara demikian, maka semua saintis di Bumi akan habis karena memperhatikan fenomena yang jumlahnya lebih banyak dari umamt manusia di Bumi, ditambah makhluk lainnya berupa jin, hantu genduruwo, dan Martian dari Mars.) Kita cukup memprediksi!

Prediksi. Ya, prediksi. Dengan kata lain, kita bangun sebuah teori, dan kita prediksi fenomena itu dari teori tersebut.

Untuk itu, kita butuh tahu mekanisme bagaimana fenomena itu tercipta.

Semua kita mengetahui, bahwa dari dapur Itob bisa keluar berbagai macam masakan enak. Dari opor ayam, tiramitsu, gulai kepala ikan, rendang, (wah, enak sekali – saya jadi lapar seketika), bahkan kadang bisa menghasilkan obrolan-obrolan menarik. Opor ayam, kepala ikan dan kawan-kawannya ini adalah fenomena, dan dapur Itob adalah mekanisme.

Kita tidak perlu menyelidiki kepala ikan, atau opor ayam untuk melengkapi daftar ilmu di perpustakaan, karena tidak akan pernah tuntas. Tapi pergilah ke dapur Itob, selidiki apa yang terjadi di sana, pahami bagaimana pisau bekerja, api memanggang, racikan bumbu-bumbu, serta segala tetek-bengeknya, maka niscaya kita sudah mengerti semua masakan yang dihasilkan dapur Itob tanpa perlu menyelidiki satu persatu fenomena itu. Malah, kita bisa memprediksi makanan-makanan apa saja yang bisa dilahirkan dari dapur Itob.

Namun, dalam sains, “dapur Itob” ini tidak gampang untuk ditemukan. Misalnya, Einstein butuh 20 tahun untuk menguak “dapur” fenomena grafitasi (dan ketahuilah, inilah proses pencarian dapur fundamental tercepat yang pernah dilakukan kalangan jin dan manusia). Banyak kesulitan dan kendala, sebutlah misalnya: kita tidak pernah tahu bagaimana sebenarnya mekanisme itu terjadi.

Seperti yang saya sebut tadi, kita ini memang cerdik. Untuk mengatasi masalah ini, kita melakukan sebuah trik: approximation, atau sebuah pendekatan. Kita membangun asumsi, kita anggap “kalau begini-begini-begini, maka begitu-begitu-begitu”. Dan lihatlah hasilnya: sudah berpuluh-puluh kali pesawat ruang angkasa bolak-balik Bumi-Bulan dan sekarang Mars, atau kita asik berkomunikasi cepat lewat internet, atau Amerika asik ngebom Irak dan Afganistan. Fisika kita, yang berdampak pada semua teknologi yang kita kembangkan, semuanya dibangun berdasarkan asumsi. Mengerikan!

Jadi, prinsip pertama kerja sains dalam menguak mekanisme alam bekerja adalah: pendekatan dengan asumsi. Kalau ditengah-tengah proses adanya adjustment dengan hasil eksperimen, itu kemudian menjadi bagian dari penyempurnaan teori, bukan hal pertama yang dilakukan orang.

Descartes tidak akan bisa menemukan Tuhan dalam Sains dengan cara seperti itu (selain itu sains itu sendiri adalah bagian dari manifesto Tuhan). Dan anda, ya anda, jangan “sok-sok insinyur” lagi kalau dimintai pendapat soal kecantikan atau kebaikan seseorang. (Jangan salahkan para insinyur, mereka “terbelengu” dengan Prinsip Pengukuran itu. Sementara kita kan orang merdeka.) Besaran kualitatif ini tetap bisa bernilai tanpa perlu ada pembanding!

“Jadi, cem mana, cantik ga dia?”

“Ya, cantik, buktinya kau suka!

Info
Bacaan yang menarik lainnya tentang Relativitas:


Pengalaman di Jenewa, Swiss

Filed under Bedah Buku

Berbagai macam cara dan rahasia, resep dan metoda orang untuk bahagia, menikmati hidup, atau hanya sekedar “melewati kejemuan karena hidup”. Dari sekian banyak orang-orang itu, mungkin segelintir saja yang sudah mendefenisikan kebahagiaan seperti apa yang menjadi sasaran mereka, atau hidup bagaimana yang nikmat. Saya tidak tahu memang, apakah sudah ada riset statistik untuk hal demikian. Namun, gampang sekali untuk menemukan jawabannya untuk kasus lokal: bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya menikmati pilihan-pilihan hidupku selama ini?

Ada sebuah cerita, tentang “kesederhanaan” seorang petualang yang menikmati kesimpelan hidupnya sebagai sebuah kebahagiaan. Kesederhanaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga melibatkan orang banyak.

Semoga bermanfaat…

Hotel CITY

Suatu kali, ketika saya di Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Fisika, saya berjalan-jalan dan kebetulan melewati gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Wah! Saya mau masuk dan lihat-lihat ah!” pikirku. Dandanan saya kurang pantas sebenarnya untuk jalan-jalan di dalam gedung penting itu – saya memakai celana kumal dan jaket tua. Ternyata ada semacam tur yang bisa kita ikuti untuk masuk ke dalam gedung dengan didampingi seorang pemandu.

Tur itu sendiri cukup menarik, tapi bagian yang paling mengagumkan adalah ruangan auditoriumnya yang besar dan hebat. Tahu lah, bagaimana seriusnya mereka membuat segala sesuatu untuk simbol internasional ini. Apa yang biasanya menjadi panggung sekarang terbagi beberapa lapis: anda harus menaiki seluruh anak tangga menuju panggung kayu raksasa, dan sebuah layar raksasa ada di belakang anda. Di depan anda adalah tempat duduk para tamu. Karpetnya begitu anggun, dan pintunya besar-besar dengan gagang dari kuningan yang indah. Setiap sisi auditorium, agak ke atas sedikit, ada tempat para penterjemah melakukan pekerjaannya. Tempat itu benar-benar fantastis, dan saya terus-terusan berpikir, “Wow! Saya mau sekali untuk memberi ceramah di tempat seperti ini!”

Segera sesudah itu, kami berjalan sepanjang koridor di sebelah auditorium itu. Si pemandu menunjuk lewat jendela dan berkata, “Anda lihat bangunan-bangunan di sana yang sedang dalam perbaikan? Mereka akan dipakai pertama kali nantinya untuk Konferensi Atom untuk Perdamaian, sekitar enam minggu lagi.”

Saya tiba-tiba teringat bahwa Murray Gell-Mann dan saya akan berbicara pada sebuah konferensi tentang kondisi terkini fisika energi-tinggi. Bagianku adalah di sesi pleno, jadi saya tanya si pemandu, “Pak, di mana kira-kira ceramah untuk sesi pleno pada konferensi itu?”

“Itu, di ruangan yang baru saja kita lewati tadi.”

“Oh!” kataku dengan senang. “Jadi saya akan memberi ceramah di ruangan auditorium hebat itu!” kataku dalam hati.

Pemandu itu melihat ke celana kumal dan kaos kusut saya. Saya sadar betapa buruk kesan si pemandu terhadap saya, tapi saya benar-benar senang dan bangga setelah mengetahui di mana sidang pleno akan diadakan.

Kami lanjutkan tur, dan pemandu berkata, “itu adalah ruang tunggu untuk para delegasi, di mana biasanya mereka melakukan diskusi informal.” Ada sebuah jendela berbentuk bujur sangkar kecil di pintu menuju ruang tunggu itu yang bisa dipakai untuk melihat keadaan di dalam, jadi orang-orang dalam tur melihatnya. Ada beberapa orang sedang duduk dan berbicara di ruang tunggu itu.

Saya ikutan melihat, dan saya elihat Igor Tamm, kenalasan saya seorang fisikawan Rusia. “Oh!” seruku, “saya kenal dia!” dan saya buka pintu itu.
Pemandu itu berteriak, “Jangan, jangan! Jangan masuk ke sana!” Saat itu dia sudah yakin bahwa salah seorang peserta turnya adalah maniak, tapi dia tidak bisa mengejar saya sebab dia tidak diizinkan melewati pintu sendirian!
Tamm senang saat tahu ada saya di sana, dan kita bicara sebentar. Pemandu itu merasa lega dan melanjutkan tur tanpa saya, dan saya harus berlari untuk mengejarnya.

* * *

Pada pertemuan Masyarakat Fisika, seorang teman baik saya, Bob Bacher, berkata, “Dengar: nanti bakalan susah untuk mendapatkan penginapan saat Konferensi Atom untuk Perdamaian. Kenapa kamu tidak minta tolong Departemen Kota mendapatkan satu ruangan untuk mu, jika kamu belum membuat reservasi?”

“Ah, tak usah!” jawabku. “Saya tidak akan minta tolong Departemen Kota untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu untuk saya! Saya akan lakukan sendiri.”
Ketika saya balik ke hotel yang saya tinggali sekarang, saya katakan pada mereka bahwa saya akan pulang seminggu lagi, tapi saya akan kembali lagi di penghujung musim panas nanti: “Bisakah saya membuat reservasi sekarang untuk nanti?”

“Tentu saja! Kapan anda akan kembali?”

“Minggu kedua September…”

“Oh, kami benar-benar minta maaf, Profesor Feynman; saat itu semua ruangan sudah dipesan.”

Jadi saya berkelana dari hotel satu ke hotel lainnya, dan memang mereka semua sudah dipesan enam minggu sebelum konferensi itu!
Lalu saya teringat sebuah trik yang saya pakai sekali saat seorang teman sesama fisikawan datang ke tempat saya, dia orang Inggris yang sopan dan santun.

Kita pergi melintasi Amerika Serikat dengan mobil, dan saat melewati Tulsa, Oklahoma, ada banjir di depan. Kita singgah ke kota kecil ini dan melihat banyak mobil parkir di mana-mana, dengan orang-orang serta familinya di dalam mobil berusaha untuk tidur. Temanku itu berkata, “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jelas bagi saya, kita tidak bisa jalan lebih jauh.”

“Ah, ayolah!” kataku. “Bagaimana kamu tahu? Mari kita lihat, apakah bisa kita teruskan perjalanan: saat kita sampai di sana, mungkin saja airnya sudah surut.”

“Kita seharusnya tidak membuang-buang waktu seperit itu,” jawabnya. “Mungkin kita bisa menyewa satu kamar hotel di sini kalau kita cari.”

“Ah, jangan khawatir soal itu! Ayo berangkat!” kataku.

Kami lanjutkan perjalanan sampai sepuluh atau dua belas mil dan sampai ke sebuah sungai dengan arus yang besar. Ya, bahkan untuk saya, airnya terlalu banyak. Tidak ada keraguan: kita tidak perlu mencoba melewati air itu.
Kami kembali, temanku menggerutu sepanjang jalan kalau-kalau kami tidak bisa mendapatkan kamar lagi. Saya katakan kalau tidak usah khawatir mengenai itu.

Kembali ke kota kecil itu. Kota itu benar-benar ditutupi oleh orang-orang yang tidur di mobil, jelas karena tidak ada lagi kamar yang bisa disewa. Semua hotel pasti sudah disewa. Saya lihat ada tanda di sebuah pintu: HOTEL. Hotel ini adalah jenis hotel yang saya kenal baik di Albuquerque, saat saya di sana berkeliling kota mencari berbagai keperluan untuk istriku yang sedang di rumah sakit. Hanya ada satu pintu, begitu masuk anda akan jumpai tangga ke atas dan kantornya tepat saat anda sampai di atas sana.

Kami naik ke atas menuju kantornya dan saya katakan pada manajer hotel itu, “Kami butuh satu kamar.”

“Baik pak. Kami punya satu dengan dua tempat tidur di lantai tiga.”

Teman saya kagum: satu kota penuh dengan orang-orang yang tidur di dalam mobil, kami di sini dapat satu kamar!

Kami pergi menuju kamar itu, secara perlahan-lahan menjadi jelas bagi dia jenis hotel apa itu: tidak ada pintu di kamar itu, hanyalah kain yang digantung sebagai pengganti pintu. Kamarnya cukup bersih, ada wastafel kecil untuk cuci muka dan tangan; tidak terlalu jelek. Kami bersiap untuk tidur.

“Saya mau pipis,” kata temanku.

“Ada kamar mandi di aula bawah.”

Kami dengar ada suara gadis-gadis tertawa genit dan berjalan mondar-mandir menuju aula itu. Dia cemas, dan tidak mau ke luar.

“Baiklah, pipis saja di wastafel itu,” kataku.

“Ha? Itukan tidak sehat.”

“Ah, tidak apa-apa; pastikan airnya mengalir, itu saja.”

“Saya tidak bisa pipis di wastafel,” katanya.

Kami letih, jadi kami berbaring saja. Cukup panas di sana, jadi kami tidak memakai selimut, dan temanku tidak bisa tidur sebab sedikit bising. Saya sih masih bisa tidur.

Tidak beberapa lama kemudian saya dengar bunyi orang berjalan di lantai, dan saya buka sedikit mataku. Saya lihat dia di sana, di dalam gelap, diam-diam naik ke wastafel.

* * *

Baiklah, kembali ke masalah hotel di Jenewa. Saya tahu ada hotel di sana bernama Hotel City, jenis hotel seperti yang saya ceritakan tadi: satu pintu masuk yang langsung disambut tangga menuju kantor di lantai pertamanya. Di sana biasanya ada kamar yang bisa disewa, dan tidak ada yang membuat reservasi.

Saya naik ke atas menuju kantor itu dan mengatakan pada petugas jaga bahwa saya akan kembali ke Jenewa dalam enam minggu, dan saya ingin menginap di hotel mereka: “Bisakah saya membuat reservasi untuk itu?”

“Tentu saja, pak. Tentu saja bisa!”

Petugas itu menulis namaku di selembar kertas – mereka tidak punya buku reservasi – dan saya ingat petugas itu mencoba mencari gantungan untuk meletakkan kertas itu, semacam pengingatnya biar tidak lupa nanti. Jadi saya sekarang punya “reservasi”, dan semuanya berjalan lancar.

Saya kembali ke Jenewa enam minggu kemudian, langsung menuju Hotel City, dan mereka sudah menyiapkan satu kamar untuk saya; kamar itu di tingkat paling atas. Meskipun murah, tapi bersih. (Ini Swiss, semuanya bersih!) Alas kasurnya sedikit berlubang, tapi bersih. Pagi hari mereka menyediakan sarapan ala Eropa ke kamarku; mereka senang sekali punya tamu yang membuat reservasi enam minggu di depan.

Lalu saya pergi ke gedung PBB itu untuk menghadiri Konferensi Atom untuk Perdamaian. Ada sedikit antrian di meja respsionis, tempat di mana orang-orang melaporkan kedatangannya. Seorang perempuan mencatat semua alamat dan nomor telelpon orang-orang itu, jadi pihak penyelenggara bisa menghubungi mereka kalau ada hal-hal yang dibutuhkan.

“Di mana anda menginap, Profesor Feynman?” tanyanya.

“Di Hotel City.”

“Oh, maksud anda Hotel Cité.”

“Bukan, bukan, tapi ‘City’: C-I-T-Y,” saya eja pelan-pelan. (Kenapa tidak? Kita memang menyebut “Cité” di Amerika, tapi mereka menyebut “City” di Jenewa, sebab kedengarannya aneh.)

“Tapi hotel itu tidak dalam daftar kami. Apakah anda yakin namanya ‘City’?”

“Coba lihat di buku telepon untuk mengetahui nomor teleponnya. Anda akan menemukannya.”

“Oh!” serunya, setelah mengecek buku telepon. “Daftar saya tidak lengkap! Beberapa orang masih mencari kamar, jadi mungkin saya bisa menyarankan mereka ke Hotel City.”

Dia pasti kemudian mendapatkan informasi lain tentang Hotel City dari orang lain, sebab tidak ada orang lain dari konferensi menginap di sana selain saya. Sekali waktu petugas hotel menerima telepon untuk saya dari PBB, dan mereka berlari menempuh dua lantai untuk memberi tahu saya, dengan terpesona dan gembira, untuk turun ke bawah menjawab telepon.

Ada sebuah kejadian lucu yang saya ingat di Hotel City itu. Satu malam saya sedang melihat lewat jendela kamarku ke arah halaman. Sesuatu, dari gedung di seberang halaman, tertangkap oleh sudut mataku: sepertinya mangkuk terbalik di atas bibir jendela. Saya pikir benda itu bergerak, jadi saya amati beberapa saat, tapi tidak bergerak lagi. Lalu, setelah beberapa lama, benda itu bergerak sedikit ke arah lain. Saya tidak bisa menemukan jawaban apakah benda itu.

Setelah beberapa lama saya temukan jawabannya: itu adalah seorang pria dengan sepasang teropong yang dipasangnya di atas bibir jendela, mengamati gedung di depannya ke arah kamar tepat di bawah kamarku!
Ada juga kejadian lain di Hotel City yang akan selalu saya ingat. Saat itu larut malam, saya baru kembali dari konferensi dan membuka pintu menuju tangga. Ada pemilik hotel itu di sana, berusaha telihat acuh-tak acuh dengan cerutu dan satu tangannya mendorong sesuatu di tangga. Sedikit ke atas, perempuan yang biasa menyediakan sarapan pagiku memakai dua tangannya untuk menarik benda berat itu. Dan di ujung atas tangga, menunggu seorang perempuan, dengan selendang bulu binatang palsu, dada tersembul ke luar, tangannya di paha, menunggu dengan angkuh.

“Pelanggan”nya sedikit mabuk, dan tidak mampu menaiki tangga. Saya tidak tahu apakah pemilik hotel itu tahu bahwa saya tahu apa yang terjadi; saya lewati saja mereka. Dia malu dengan kondisi hotelnya, tapi, tentu saja, bagi saya hari-hari di hotel ini sangat menyenangkan.

* * *

Cerita ini dikutip dari naskah (masih nafkah!!!) alih bahasa sebuah buku biografi seseorang. Dianjurkan untuk membaca kisahnya dari awal, biar utuh informasinya :-)

Penempelan foto tidak berhubungan langsung dengan tokoh yang diceritakan, harap maklum!

* * *

michelle_feynma.JPG


Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya

Filed under Diskusi Milis

Ada satu anekdot yang relevan dg maksud yg ingin saya sampaikan. Lagi-lagi dari Gus Dur:

Saat Presiden Gus Dur bertemu Presiden AS Bill Clinton, Januari 2000, tentu saja banyak diliput pers. Koran-koran Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton, dan Clinton terlihat ketawa terbahak sampai kepalanya mendongak.

Apa yang dikatakan Gus Dur sampqi membuat Clinton terpingkal-pingkal begitu?

Menurut Gus Dur, barangkali tentang joke yang disampaikan Presiden John Kennedy.

Gus Dur bercerita, suatau hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja Presiden AS. Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight Eisenhower menaruh peralatan golfnya.

Selengkapnya…


Kebenaran hanya milik Allah. Tapi manusia kerap merasa menjadi orang yang paling benar. Semua orang memiliki ke’aku’an yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sanggupkan keegoisan dalam diri itu luntur dan akhirnya sirna oleh tempaan kehidupan? Padahal, bila ia pergi, ‘pertemuannya’ dengan Tuhan hanya sejengkal lagi. Sulit. Sungguh sulit memang. Tentu saja butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, dan air mata mesti terkuras untuk melenyapkannya. Tapi ia–keegoisan dalam diri–tetap tak mau juga pergi.

Mengapa ia membandel? Mengapa ia suka sekali berdiam dalam jiwa manusia? Mengapa begitu sulit? Setelah badai bertubi-tubi datang, menghempas dan memporak-porandakan hati, tetap saja ia enggan pergi. Terkikis mungkin, tapi sedikit sekali. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena masih banyak lagi, ribuan bahkan jutaan manusia yang tetap mengeras seperti batu karang. Bahkan untuk sekedar menyadari bahwa ia memang ada pun sungguh sulit bagi manusia seperti ini.

Bila ia telah pergi, apapun yang datang, manusia tentu tak kan lagi terpengaruhi . Cintanya betul-betul cinta mati. Cacian menjadi sama indahnya dengan pujian. Sakit sama rasanya dengan sehat. Bahagia bergandengan sama mesranya dengan duka. Semua menjadi tiada, tak lagi terombang-ambing kesana kemari, karena di ‘dalam’ sana ada kedamaian yang luar biasa, begitu indahnya.


SUATU ketika seorang Kiai kedatangan tamu seorang Bupati. Sang Kiai dalam sambutannya mengatakan, “Kami sudah membangun beberapa kamar mandi dan saudara-saudaranya,” Hadirin pun bingung mendengarnya, termasuk pak Bupati.

Ternyata yang dimaksud sang Kiai selain kamar mandi juga telah dibangun WC. Karena di depan para tamu dan orang banyak, sang Kiai segan menyebut kata WC. Maka ia menghaluskan kata itu, karena dianggap kurang patut.

Selengkapnya…


Setelah melewati masa transisi kepengurusan yang cukup singkat, suksesi kepngurusan de Gromiest 2004/2005, melalui pembentukan tim formatur, telah menghasilkan keputusan dengan terpilihnya tiga orang kandidat ketua:
1. Shri Mulyanto
2. Indra Muliawan
3. Wangsa T. Ismaya
dan musyawarah tim formatur menetapkan Wangsa T. Ismaya sebagai ketua de Gromiest untuk masa kepengurusan 2004/2005.

Ketua terpilih kemudian diberikan waktu untuk menyusun agenda kerja dan susunan kepengurusan 2004/2005. Dengan dukungan dari anggota dan setelah melalui masa penggodokan yang memakan waktu hingga hampir satu kuartal kepengurusan, maka agenda kerja dan susunan kepengurusan de Gromiest ditetapkan sebagai berikut:

STRUKTUR ORGANISASI

De Gromiest dipimpin oleh suatu tim pengurus inti yang berangggotakan tiga orang yang diambil dari kandidat terpilih dalam masa pemilihan ketua dan seorang bendahara sebagai pemegang buku besar keuangan de Gromiest. Dengan prinsip sharing of power ini, diharapkan agar putusan yang diambil dapat lebih mewakili anggota disamping mengurangi beban tanggung jawab dari pimpinan de Gromiest.
Duduk di dalam tim inti kepengurusan adalah:
1. Wangsa T. Ismaya (koordinator tim)
2. Indra Muliawan
3. Shri Mulyanto
4. Diana Djirdjis (pemegang buku besar keuangan)
Dalam pelaksanaan kegiatan, tim bertindak sebagai koordinator dan sebagai pelaksana kegiatan lapangan akan lebih banyak melibatkan anggota aktif de Gromiest, didasarkan pada semangat oleh, dari, dan untuk anggota.

KEGIATAN
Kepengurusan de Gromiest 2004/2005 diarahkan pada mengakomodasi kebutuhan dan aspirasi anggota. Hal ini ditujukan agar keberadaan de Gromiest lebih bisa dirasakan secara langsung oleh para anggota.
Kegiatan de Gromiest dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1. Kegiatan rutin
Adalah kegiatan yang dilakukan secara rutin dan yang selama ini sudah menjadi trade mark de Gromiest. Usaha akan lebih dititikberatkan pada menjaga konsistensi pelaksanaan kegiatan dan peningkatan kualitas dari kegiatan tersebut. Kegiatan ini mencakup aktivitas:
a. Silaturahmi bulanan
b. Tadarus setiap hari Sabtu
c. Olah raga mingguan
2. Kegiatan insidentil
Kegiatan ini tidak diagendakan dan akan dilaksanakan sesuai dengan keinginan dari anggota. Tim inti akan berusaha untuk selalu menangkap dan mendengarkan keinginan anggota untuk kemudian memformulasikannya dalam bentuk rancangan kegiatan yang pelaksanaannya bergantung pada kesediaan dan kesepakatan bersama.

KEBIJAKAN LAIN
Kepengurusan de Gromiest 2004/2005 memutuskan untuk mengambil kebijakan yang terkait dengan eksistensi dan fungsi organisasi. Kebijakan-kebijakan yang diambil antara lain:
1. Melanjutkan program adik asuh de Gromiest. Dengan telah tersedianya donatur, penurus mempertimbangkan untuk memperbesar ukuran dari program dengan mengalokasikan dana yang lebih besar untuk pelaksanaan program.
2. Memulai kembali pemberian kontribusi bulana untuk operasional masjid Sellwerd yang sudah cukup lama terhenti.
3. Memulai perancangan usaha dan kegiatan yang bersifat penggalangan dana yang diharapkan bisa menjaga kelangsungan hidup de Gromiest.

Catatan kaki: mohon maaf jika penyampaian informasi kepengurusan baru ini sangat terlambat


212

Filed under Catatan Pribadi

Waktu saya kecil, saya paling suka baca bacaan Wiro Sableng, murid kesayangan eyang Sinto Gendeng di Gunung Gede. Dari bacaan itu saya mendapat pelajaran bahwa semua yang ada di dunia ini terbagi menjadi dua. Hitam putih. Atas bawah. Kiri kanan. Baik jahat. Muka belakang. Setan malaikat. Pahit manis. Gelap terang. Kering basah. Api air. Langit bumi. Udara tanah. Yin dan yang. Tetapi semua ini menuju ke satu titik. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka saya sering berkelakuan seperti Wiro Sableng. Saya bangga kalo teman2 menyebut saya dengan sebutan Teguh Sableng. Karena berarti saya saudaraan ama si Wiro dong yach? Hehehe… Memang saya ini orang sableng. Hihihihi….

Saya sempat mengikuti kuliah matematika di ITB. Waktu itu dosen saya bercerita bahwa alam semesta ini pernah dimodelkan oleh seseorang pake model matematika. Dan di alam semesta ini ada manusia, syetan, malaikat, binatang, pohon, batu, politik, ekonomi, art, history, ada gedung, ada sungai, ada matahari ada bulan, ada langit dan ada bumi, ada Tuhan dan ada makhluk2nya. Pokoknya di model matematika itu semuanya komplit deh. Nah, yang paling membuat saya terkesan adalah ketika dosen saya itu bilang, ketika variable syetan dihilangkan dari system, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Berarti dalam model alam semesta ini, syetan memang diperlukan untuk memberikan keseimbangan. Tanpa syetan, kiamatlah dunia ini. Berarti kita memang butuh syetan untuk hidup di dunia ini. Tapi kita pun harus ingat, bahwa kita lebih butuh Tuhan supaya kita hidup selamanya, tidak hanya di dunia ini tapi di dunia akhirat juga. Tinggal terserah kita saja. Kita mau berpihak sama syetan? Ataukah kita mau berpihak sama Tuhan? Terserah pilihan manusia, Tuhan sudah memberikan semua petunjuk2Nya secara jelas dan gamblang di kitab suci. Tinggal manusia yang harus menentukan sendiri apakah mereka akan berfikir dan mau mengikuti apa kata Tuhan atau mereka mau dibujuk oleh bujuk rayu syetan yang memabukkan dan menipu? Sesungguhnya janji Tuhan-lah yang harus kita pegang dan harus kita yakini. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Kalo manusia berjanji kita sulit untuk percaya. Masa sama janji Tuhan kita tidak percaya?

Wallahualam.


Ikhlas

Filed under Catatan Pribadi

Ingatan saya menerawang jauh ke 11 tahun yang lalu ketika saya belajar islam untuk pertama kalinya. Waktu itu saya masih berumur 15 tahun, masih SMA kelas satu. SMA saya dulu adalah SMA 3 Bandung. Saya sempet jadi preman mesjid di sekolah saya itu. Pelajaran pertama yang saya ingat sangat susah untuk dipraktekkan adalah pelajaran ikhlas. Kenapa sulit? Karena bentuk ikhlas itu sendiri saya tidak tau presis. Bagaimana sih ikhlas itu? Katanya ikhlas adalah kalo kita berbuat sesuatu tanpa menginginkan imbalan apa pun. Mana mungkin? Pasti lah kita kalo berbuat sesuatu akan mengharap imbalan walaupun itu dari mana saja datangnya. Mau dari manusia lagi atau juga dari Tuhan. Pasti lah kita ini ingin menerima imbalan. Makanya saya sempet frustasi dan hampir putus asa sama pelajaran ikhlas ini. Saya pikir ini pelajaran bohong banget. Mana ada orang ikhlas di dunia ini???

Setelah 11 tahun terlewati, saya pun menjadi sedikit lebih mengerti tentang arti keikhlasan. Ikhlas yang dimaksud adalah menerima segala suratan Tuhan yang telah Beliau gariskan untuk kita. Ikhlas menerima kalo kita ini dilahirkan ya di keluarga yang seperti ini. Ikhlas menerima kalo kita ini dikasih otak yang pas2an seperti ini. Ikhlas kalo kita ini cuman dikasih rezeki yang seperak ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih istri yang seperti ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih teman2 yang seperti ini. Terima aja semua ini. Ini adalah latihan yang bagus untuk bisa menjadi ikhlas. Ikhlas artinya menerima, bukan memberi. Kalu belum bisa untuk mencapai ikhlas janganlah putus asa.

Ada hadits sahih yang menjelaskan fenomena ikhlas ini. Suatu kala, Allah menciptakan gunung di bumi ini. Gunung ini sangat kuat sehingga sanggup menggetarkan bumi ini. Malaikat bertanya, apakah ada yang lebih kuat dari gunung? Jawabnya ada. Yaitu besi. Besi sanggup memapas gunung sehingga rata dengan tanah. Kemudian malaikat bertanya lagi. Apakah ada yang lebih kuat dari besi? Jawabnya ada. Yaitu api. Besi meleleh oleh api. Apakah ada yang lebih kuat dari api? Jawabnya ada. Yaitu air. Api padam diguyur oleh air. Apakah ada yang lebih kuat lagi dari air? Jawabnya ada. Yaitu angin. Angin bisa mengangkat air dan menghempaskannya. Pertanyaan terakhir. Apakah ada yang lebih tangguh dari angin? Jawabnya ada. Yaitu orang yang memberi dengan tangan kanan tapi tangan kirinya tidak tahu. Masya Allah.


Hidup di Dunia

Filed under Catatan Pribadi

Hidup di Dunia ini gampang2 susah. Dibilang gampang ga, dibilang susah juga ga. Dunia ini tergantung dari sudut pandang dan asumsi kita saja sebenarnya. Kalo kita menganggap dunia ini mudah maka akan menjadi mudah. Kalo kita menganggap dunia ini sulit maka akan menjadi sulit. Ini teori saya. Teorinya emang mudah tapi prakteknya sulit. Tapi ketahuilah, bahwa sebenarnya hanya ada dua yang harus kita pegang dalam menjalani kehidupan dunia yang serba tidak real ini. Yaitu pertama: Luruskan niat. Kedua: Sempurnakan Ikhtiar. Itu saja. Luruskan niat kita hanya untuk mencari ridha Allah swt. Dan Sempurnakan Ikhtiar kita walaupun kita hanya sekadar melipat baju.

Yang juga perlu kita ingat adalah bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Cuma sementara. Jangan terpesona dan jangan terpedaya. Istri, anak, harta, tahta dan jabatan hanyalah hiasan dunia yang menipu mata kita. Ini semua tidaklah real. Yang real adalah hati kita dan Tuhan Yang Maha Esa. Badan kita ini nantinya tidak akan kita bawa ke alam akhirat. Yang kita bawa adalah hati kita. Maka dari itu, cobalah kita selalu membersihkan hati kita dari yang kotor2. Caranya? Jaga pandangan mata. Dari mata turun ke hati. Jaga telinga dari mendengar gosip2. Jaga mulut dari perkataan kotor dan perkataan yang tidak benar. Jaga tangan ini dari menjamah barang2 yang tidak bersih. Jaga kaki ini agar jangan melangkah ke tempat yang kotor2. Insya Allah kalo hati kita sudah bersih maka pikiran pun akan jernih dan prestasi akan mudah diraih. Insya Allah.


Malaikat Kecilku

Filed under Catatan Pribadi

Ketika aku pulang dari Indonesia dua minggu lalu menuju rumahku di Wilgenlaan 54, Groningen, pikiranku diliputi oleh berbagai macam hal. Bagaimana nanti aku memperoleh rezeki untuk menafkahi keluargaku, bagaimana nanti aku berusaha keras untuk membeli makan, baju dan menafkahi keluargaku. Banyak sekali kecamuk yang ada dalam hati dan pikiranku. Namun, ketika aku bertemu dengan Michelle, anakku yang baru berusia 10,5 bulan, hatiku merasakan bahagia yang tak terkira. Hatiku merasakan ketenangan yang tiada tara. Pikiran yang tadinya kalut dan sumpek menjadi cerah sedikit demi sedikit. Apalagi ketika kuperhatikan kehidupan Michelle setiap harinya. Sepertinya dia tidak punya keluhan apa2. Sepertinya dia tidak mempedulikan dunia sekitarnya. Yang dia tahu adalah makan, minum, berak, main dan main dan main. Kalo dia lapar dia nangis, dan ayah atau ibunya akan bergerak untuk memberikan makan pada dirinya. Kalo dia haus dia pun nangis, maka ayah atau ibunya akan bergerak secepat kilat untuk memberikan air minum kepadanya. Sungguh, Michelle tidak tau apa2 di dunia ini, tetapi dia selalu mendapat rezeki yang cukup. Segala yang dia butuhkan selalu tersedia tanpa dia minta. Baju, makan, minum, mainan, kasih sayang, perhatian, dan lain2. Semua kebutuhan dia selalu tercukupi padahal ayah dan ibunya hanyalah seorang yang masih muda dan belum banyak asam garam kehidupan pahit ini. Namun rezeki Michelle tetap saja mengalir lancar. Dari teman2 kiri kanan. Dari saudara2 kiri dan kanan.

Astagfirullah. Sungguh Tuhan Maha Besar. Sungguh Tuhan Maha Adil. Sungguh Tuhan Maha Segala2nya. Saya tidak tau apa2, tapi segala kebutuhan saya pun selalu dia cukupi. Saya punya istri. Saya punya anak. Saya punya teman2 yang baik. Saya punya keluarga yang baik. Alhamdulillah. Sungguh Maha Baik Tuhan itu. Padahal dosa saya setinggi gunung, tapi rahmat Tuhan setinggi langit. Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernah saya rasakan selama hidup ini. Saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Saya merasakan nikmat karunia Tuhan yang tidak terkira. Saya… cinta Tuhan. Saya rindu untuk bertemu Tuhan, pencipta saya. Sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Badan kita tidak real, istri kita tidak real, anak kita tidak real. Namun yang real adalah hati kita dan Tuhan. Wallahualam.


Slow Motion

Filed under Renungan & Hikmah

Seorang ibu sedang menunggu pesawat di sebuah airport kota yang teramat padat. Di seberang ibu itu ada seorang bayi mungil diselimuti oleh hangatnya kereta dorong–tampaknya masih gress, berbau toko. Jalan di antara ibu itu dengan si bayi benar-benar ramai. Orang-orang dewasa melintas, lalu lalang, seperti mengejar pintu kereta yang sudah siap berangkat. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

Melintas di depan ibu itu, seorang anak laki-laki–berusia 3 tahun–menggandeng ibunya yang berjalan cepat-cepat; mereka tidak ingin terlambat ‘boarding’. Sejenak, dia menatap sang bayi. Dan seketika itu, dia lepaskan genggaman ibunya. Anak laki-laki itu berlari menuju persembuyian hangat si bayi. Tubuhnya merunduk, wajahnya mendekati sosok mungil yang lucu, lantas Teddy Bear–boneka kesayangannya–mendarat lembut di atas dahi si bayi. Makhluk mungil itu pun terjaga. Tangannya bergerak ingin meraih si Teddy. Mata mereka saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap, namun perhatian dan cinta seorang anak berusia 3 tahun itu sungguh sangat mengagumkan. Orang-orang dewasa? Mereka tetap lalu-lalang tidak menyadari kontak polos dua malaikat kecil di pagi itu.

Kita semua sibuk. Pesawat dan bus menuntut para penumpang tepat waktu; jika tidak mereka akan ditinggal. Pekerjaan menunggu di kantor. Janjian meeting menghiasi agenda hari itu. Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga sama dengan kita; mereka sama-sama akan naik pesawat. Namun, mereka masih bisa menikmati irama meredu pagi hari yang tak terdengar oleh jiwa yang grusa-grusu. Bisakah kita seperti mereka? Atau bisakah kita mengambil nafas sejenak dan membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka yang sejati–makhluk yang dermawan, tercerahkan, dan penuh perhatian?

Aku teringat setiap pagi selalu buru-buru agar Lala tidak terlambat sekolah. Selepas mengucapkan salam kepada wanita yang melahirkan kedua anakku, kami menuruni tangga rumah. Aku berusaha berjalan lebih cepat, agar sepeda keluar rumah lebih cepat. Namun, Lala dengan “slow motion” menuruni tangga itu. Seolah dia sedang menikmati setiap 5 inchi berkurangnya ketinggian di atas permukaan bumi. Tidak punya aku kesabaran seperti itu. Dan secepat Flash Gordon, sepeda pun siap di depan pintu sebelum dia menyelesaikan hitungan langkah demi langkah pagi harinya.

Alhamdulillah, aku mendapat pencerahan dari cerita ibu di airport tadi pagi. Allah sebenarnya telah hadirkan malaikat kecil yang berusaha mengajariku tentang kejernihan, syukur, dan menikmati setiap inchi kehidupan. Namun kaca mata minus kesibukan yang kupakai tak mampu memperjelas a-b-c-d-nya abjad yang menetes dari salju di penghujung musim dingin ini.

Hari-hari belakangan salju turun dengan cukup tebal. Mungkin nanti–pulang dari kantor–aku harus melepas sepatu dan kaos kaki, lantas berlari-lari di atas salju putih selembut kapas–seperti yang telah “diajarkan” oleh malaikat “Malik”-ku Kamis lalu. Sifat dan kelakuan alamiah malaikat-malaikat kecil, anak-anak kita itu, akan menyetrum kembali jiwa terdalam kita dan menghadirkan keindahan kanak-kanak ke atas hamparan kering jiwa–yang tertekan oleh derik roda kereta yang bernama modernitas dan Internet.

Do you have an Internet Addicted Disorder? Jauhi komputer, dan berlarilah dengan kaki telanjang di atas salju.

—- one day after:

“I made it!” Biarin aja kalau aku dibilang kayak Wong Ndeso yang baru lihat salju. Peduli amat juga kalau dibilang kayak anak-anak. Emang jadi seperti anak-anak itu asyik punya. Jadi wong ndeso juga asyik. Berbuat aneh—termasuk yang ndak umum—pun akan dimaklumi. Ndak perlu pasang topeng monyet gengsi. Yang penting fresh..fresh..

Indra, kayaknya kau juga bikin ginian pula. Share dong…