Archives for February, 2005

Catatan pribadi yang dibagi-bagi dari sebuah perjalanan 2 hari ke Hertogensbosch. Karena kesibukan dan kehilangan ingatan, maka tulisan ini dbagi menjadi 2 bagian. Selamat menikmati “gaya tulisan lain si Buyung” ini.

Tidak seperti biasanya, akhir pekan kemarin (5-6 Feb) saya pakai untuk jalan ke luar kota. Ini dalam rangka memenuhi undangan seorang kerabat lama yang sudah sering mengajak saya berkeliling-keliling negrinya ini. Karena saya “sok sibuk”, tidak banyak tawarannya yang bisa saya penuhi, dan lebih banyak menghabiskan waktu kosong di tempat tidur atau di meja makan. Tapi kali ini menarik, sebuah sandiwara tiga babak yang dimainkan oleh sekitar 85 ribu penduduk kota ini!

Cerita dibuka oleh perjalanan saya ke Central Station Groningen, Sabtu 5 Februari. Menjadi istimewa, karena biasanya saya pakai sepeda namun kali ini memilih memakai bis. Bukan karena akan pergi cukup lama, sepeda saya butut jadi cukup berani ditinggal di stasiun dalam waktu lama. Tentu saja di taruh di tempat yang semestinya, dikunci, dan tidak lupa tawakal. Kali ini saya naik bis, karena takut jaket yang baru berumur 2 hari kotor karena cipratan lumpur dari ban sepeda belakang yang vleknya memang tidak berfungsi baik. Jaket kulit sapi lho!*

* Maaf, ini lelucon bagi kalangan terbatas. Dengan alasan keetisan, tidak diceritakan secara resmi, namun gosip silakan terus berlangsung.

Begitulah. Hilje, teman yang mengundang ini, mengatur perjalanan saya dari Groningen ke Hertogensbosch. Naik kereta jam 11.17am menuju Zwole, lalu ganti menuju Denveter. Nanti dia yang dari Enschede akan naik kereta menuju Hertogensbosch di Denveter. Bagi saya yang bukan petualang sejati, janjian di atas kereta ini cukup menegangkan. Bermodal percaya dengan jadwal kereta api hasil contekan ns.nl, ternyata sukses juga. Kami bertemu dan menghabiskan satu setengah jam dengan diskusi buku “da Vinci Code” karya Dan Brown.

da Vinci Code

Dalam kalangan sains, da Vinci memang dikenal sebagai seorang insinyur jenius. Salah satu karyanya yang kita nikmati sekarang adalah sepeda. Selain itu, da Vinci juga seorang religius dan seniman wahid. Beberapa karya masterpiecenya dipinjam Dan Brown untuk berfantasi ria dalam novel “da Vinci Code” tersebut. Saya melihat buku ini setipe dengan film “Ocean Twelve”, film yang mengumpulkan banyak bintang terkenal hanya untuk memainkan sekuel dari “Ocean Eleven”. Apa kesamaannya? Yaitu sama-sama mencoba mencampurbaurkan antara fantasi dan realita, mencoba mengaburkan batas dunia imajinasi dengan kehidupan sehari-hari. Entah kenapa, saya kurang cocok dengan konsep seperti ini; ada perasaan menolak dalam diri saya untuk tidak mau mencampurbaurkan fantasi dan realita. Ini seperti penolakan saya terhadap sains-fiksi: karena kebanyakan fantasi sains-fiksi ini tidak benar-benar berdasarkan sains. Contohnya: Hollow-man itu harusnya buta, atau wolfman harusnya juga berubah jadi srigala kalau kena sinar matahari, atau konsep wraptime dalam star-trek yang justru melanggar Relativitas Umum Einstein.

Tapi, terlepas dari fantasi Dan Brown yang meminjam karya-karya agung da Vinci, karya-karya tersebut memang indah dan menyimpan misteri. Misalnya, dalam “Madonna of the Rock”, Dan Brown menginterpretasikan Bunda Marya (atau Maryam) mengelus kepala tak terlihat. Dan Urel (saya tidak tahu siapa ini dalam sejarah Islam) menyentuh leher makhluk tak berwujud ini dengan telunjuknya. Yang paling mengagetkan, Jesus (nabi Isa putra Maryam) malah dibabtis oleh John (nabi Yahya) – bukan sebaliknya.

Dan tentu, yang paling sadis lagi adalah interpretasi dari “the Last Supper”, jamuan terakhir yang legendaris itu. Disebutkan bahwa sehari sebelum Jesus dibunuh, Kamis malam beliau diundang untuk makan malam bersama. Dari awal beliau sudah tahu akan dikhianati oleh salah seorang dari 13 sahabatnya, yang dipercaya adalah seorang yahudi. Pengkhianatan “the jewish’s kiss” sendiri ada beberapa versi, yang paling popluer mungkin yang difilmkan oleh Mel Gibson lewat “The Passion of Christ”. Dalam sejarah yang kita kenal, ketiga belas sahabat ini adalah laki-laki, yang oleh Jesus dibagikan anggurnya dalam sebuah “Cawan Suci”. Namun, da Vinci menggambarkan ada 1 perempuan dari 13 orang yang harusnya laki-laki itu, dan satu tangan tak berbadan yang menggemgam pisau! Oleh Dan Brown, perempuan ini disebut-sebut sebagai Mary Magdalena!

Di OeteldongCentral Station

Kereta sampai di Hertegonsbosch jam 2pm. Saya baru ingat kalau pernah ke stasiun ini, setahun yang lalu ketika jalan-jalan ke Eftelling bersama [link=www.degromiest]de gromiest[/link]. Keluar dari kereta, kita menyewa sepeda. Saya baru tahu kalau harus jadi anggota dulu untuk bisa meminjam. Keren juga, teratur. Keluar stasiun, langsung disambut oleh dominasi warna merah-putih-kuning, mirip warna fast foodMcDonal. Warna-warna itu ada di baju, celana, topi, mobil, spanduk, bendera, di setiap sudut mata memandang. Dan lebih hebat lagi, label besar ‘s-Hertogebosch Central Station dicoret dan diganti “Oeteldonk Central Station”. Wow, apa pula ini?

Saya hendak bertanya pada Hilje, tapi dia keburu ngajak saya makan dulu ke sebuah kafe dekat stasiun. Tentu saja saya tidak menolak ajakan ini. Ternyata intuisi makan saya lagi-lagi benar, hidangannya memang spesial: Bosch Ball. Katanya sih, ini kayak Sate Padang-nya Belanda lah, yaitu makanan yang sangat khas di Belanda dari kota ini. Bentuknya setengah bola, isinya whipcream yang dilapisi coklas setebal 5 milimeter. Sama sekali tidak sehat, tapi lezatnya maak… nyam nyam nyam. Perut lapar pun tetap lapar, karena minta tambah. Jadilah saya nambah, plus kopi panas menjadi EUR 6.

Perjalanan di lanjutkan ke rumah Charlotte, teman Hilje yang tinggal di Hertogenbosch. Selama perjalanan, terlihat persiapan kota yang sedang menyambut sesuatu yang besar. Saya bertanya sepanjang jalan pada Hilje, apa yang sedang terjadi. Tapi jawabannya kurang memuaskan, karena Hilje sendiri juga outsider.

Persiapan diri untuk Festival

Tanda tanya itu kemudian baru terjawab setelah sampai di rumah Charlotte. Sambil menyeruput teh panas dan menikmati pancake, Charlottepun bercerita. Daerah selatan Belanda memang dulu mayoritas Katolik. Empat puluh hari menjelang peringatan kebangkitan Jesus (hari raya Paskah), mereka berpuasa. Dan tiga hari sebelum puasa dimulai, kota-kota mayoritas Katolik mengadakan pesta penyambutan. Dan di Hertogenbosch pesta penyambutan itu tiga hari lamanya, dan untuk tahun ini dimulai hari Sabtu kemarin. Itulah yang kami lihat sepanjang perjalanan.

Pengorganisasian pesta itu tak tanggung-tanggung, menjadi bagian dari agenda pemerintah lokal. Tiga hari pesta itu dijadikan hari libur. Semua kalangan dilibatkan, semua sumber daya dioptimalkan, sukarelawan bekerja beberapa bulan sebelumnya untuk persiapan acara. Saya baca, sejak November tahun lalu mereka sudah memulai pengkondisian. Gila!

Sehabis makan siang, Charlotte mengajak kami jalan-jalan ke Centrum. Pertama mengunjungi perpustakaan dulu. Di Hertogensbosch tidak ada universitas, hanya beberapa collage. Jadi perpustaan publik mereka benar-benar menjadi jendela dunia bagi penduduk kota. Ramai sekali di sana. Saya sempat melihat ada rombongan anak-anak usia 8-10 tahun dipimpin seorang dewasa sedang asik diskusi. Kata Charlotte, itu adalah grup anak SD yang sedang belajar kelompok. Saya jadi cemburu, dulu waktu SD tidak pernah diajak ke perpustakaan oleh guru. Sampai SMA juga begitu. Sehingga saat kuliah budaya ke perpustakaan itu tidak ada. Kalau butuh buku, pinjam atau foto kopi. Makanya tidak heran, begitu kuliah di RuG, air liur menetes-netes saat masuk perpustakaan yang benar-benar merangsang otot mata dan otak untuk mengencani semua buku-buku di sana.

Di depan perpustakaan, ada katedral: St. John Cathedral, yang dibangun tahun 1475. Saya diajak masuk dan tur singkat. Menarik sekali. Ada banyak lukisan-lukisan, ornamen, dan patung-patung. Charlotte seorang guide yang baik, selain banyak tahu tentang sejarah agama (Islam, Kristen, dan Yahudi), dia juga pandai bercerita. Dia menjelaskan tentang air suci, sistem trinitas dalam Katolik, sembahyang dan berdoa, dan juga tentang saints dengan halonya. Diskusi the Last Supper-nya da Vinci dengan Hilje tadi terangsang untuk dibuka, tapi tentu tidak akan saya ceritakan di sini.

Sehabis dari sana, saya diajak ke pusat pembelajaan untuk membeli kostum pesta. Banyak sekali pilihannya, beraneka-ragam corak dan rupa. Saya tertarik untuk beli kostum monk. Saya jadi ingat game[link=http://aow2.heavengames.com/]Age of Wonder[/link]. Baju monk ini sederhana, merakyat, dan hangat. Cool. Tapi berhubung harganya sampai ratusan euro, akhirnya saya memutuskan membeli sweater lengkap dengan boneka kodok buat ditempelkan di belakang sweater. Apapun kostum anda, harus memiliki dua identitas: warna merah-putih-kuning, dan kodok!

Kok kodok?

Dulu, kota Hertogenbosch penuh rawa-rawa, dan banyak sekali kodok. Kodok ini menjadi simbol kota saat itu, sehingga terleknal dengan sebutan Kota kodok, atau Oeteldonk. Oetel adalah kodok, dan donk adalah kota kecil – dua kata ini dari dialek setempat.

. . . bersambung . . .