Archives for January, 2005

Energi dari senandung keprihatinan

Filed under Adik Asuh

Diskusi kecil usai acara silaturrahmi bulanan deGromiest sekaligus perayaan Iedul Adha Sabtu 22 Januari 2005 berlangsung santai, tetapi tidak berlebihan kalau diklaim menghasilkan sebuah “komitmen” untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang bermanfaat untuk sebuah kegiatan sosial. Berbagai macam ide dan usulan muncul sebagai wujud kerinduan berkontribusi untuk sebuah aktivitas. Mulai dari ide sederhana, dengan kemungkinan implementasi yang bisa dilakukan dalam waktu dekat sampai sebuah ide besar dalam jangka panjang. Merujuk kepada apa yang telah dan sedang dilakukan oleh “anak-anak Indonesia” yang berdomisili di kota bagian Utara Belanda ini, rasanya bukanlah sebuah mimpi ataupun angan-angan belaka untuk merealisasikan ide-ide yang muncul. Apalagi salah seorang dari anggotanya sudah menyatakan komitmen untuk menyumbangkan (atau bahasa lain mewakafkan) “aset” nya untuk mewujudkan salah satu bahasan penting dari diskusi tersebut.

Untuk bahasan ini menyangkut bukan hanya jangka pendek namun juga sebuah rencana besar untuk jangka panjang. Apa dan bagaimana bentuk kegiatan ini mungkin tidak akan menjadi bahasan dalam tulisan ini, karena masih akan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi dan pertemuan lanjutan. Walaupun pada pembicaraan awal sudah mengerucut kepada hal yang lebih konkrit.

Tulisan ini hanya mengusung sebuah pesan moral yang dari sebuah diskusi kecil itu. Kekhawatiran akan “tersendat” nya implementasi ide ini bukan tidak mengemuka, karena banyak permasaalahan-permasaalahan yang mungkin menjadi hambatan, mulai dari hambatan yang bersifat teknis semisal susahnya menghubungi bekas anggota deGromiset yang sudah tersebar di mana-mana sampai kepada permasaalahan non-teknis, semisal berkurangnya sebuah idealisme. Namun nada optimisme, Insya Allah mendominasi diskusi. Saya sendiri merasakan prediksi yang kuat untuk implementasi ide-ide tersebut. Sekali lagi bukan tidak berdasar, tetapi melihat apa yang telah, sedang dan akan dilakukan, salah satunya adalah berupaya berbuat seoptimal mungkin untuk membantu saudara-saudara yang tertimpa musibah di Aceh dan sekitarnya. Ide-ide dalam diskusipun sebenarnya adalah salah satu perpanjangan dari kerja-kerja ini.

Salah satu faktor yang membuat ide-ide ini semakin menguat adalah karena keprihatinan yang mendalam tehadap permasaalahan riil yang dihadapai masyarakat Indonesia saat ini, masaalah anak-anak yatim piatu yang kehilangan orang tua akibat musibah tsumani, kemiskinan yang diakibatkan dan kalau ingin diperluas dalam ruang lingkup Indonesia (bukan hanya yang diakibatkan oleh musibah tsunami) maka permasaalahan tersebut tidak akan bisa diselesaikan oleh satu, dua atau tiga lembaga, atau pemerintah saja, namun melibatkan semua unsur yang terpanggil untuk berbuat sesuatu dalam meminimalisasi masaalah ini.

Keprihatinan yang timbul di tanah air bukan hanya yang diakibatkan oleh peristiwa-peristiwa alam seperti musibah tsunami. Tapi juga diakibatkan oleh menipisnya nilai-nilai moral ditengah masyarakat dari berbagai level. Berkurangnya aktualisasi nilai-nilai agama, menipisnya “ketakutan” (khauf) kepada Allah SWT dalam konsep taqwa. Keengganan “bertaqarub” pada Allah SWT, menempatkan hati nurani tidak lagi sebagai rujukan untuk memutuskan sesuatu, tidak lagi menjaga hati dan lain-lain. Korupsi yang merajalela adalah salah satu produk dari “penyakit moral ini”.

Diberbagai kesempatan kita selalu dengan sangat mudah menemukan ungkapan-ungkapan keprihatinan terhadap bangsa Indonesia, di pertemuan-pertemuan resmi seperti seminar atau konferensi, dalam forum diskusi kecil, media masa, mailing lis dan media-media lain. Bahkan kalau kita merenung sendiri akan sangat mudah menemukan betapa prihatinnya kita melihat kondisi yang ada sekarang. Siapa yang tidak akan geleng-geleng kepala mendengar berita ada orang yang memanfaatkan dana bantuan bencana alam (seperti yang terjadi dalam gempa bumi di Liwa, Lampung) beberapa tahun yang lalu untuk kepentingan pribadi. Belajar dari kejadian itu maka banyak orang “berteriak” supaya jangan pula terjadi korupsi atas bantuan bencana alam itu dalam musibah Aceh kali ini. Kalaulah ada yang memanfaatkannya maka tidak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan betapa “aneh” nya orang itu.

Kalau dipajang satu-satu ungkapan keprihatinan kita terhadap kondisi yang ada saat ini, sungguh tidaklah akan cukup dimuat dalam beberapa lembaran kertas putih. Tidak sedikit yang akhirnya punya kesimpulan bahwa, ya…sudahlah memang begitu keadaanya. Mengambil contoh masaalah korupsi, yang mulai dari tingkatan RT, dalam mengurus KTP, berbagai kasus “curang” penerimaan PNS yang baru-baru ini dilakukan, sampai yang jumlahnya luar biasa dan tak tersentuh hukum. Seolah-olah tidak ada celah lagi untuk mengatasinya bahkan menguranginya, karena sudah mendarah daging. Mendarah daging maksudnya adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa sulitnya menghapus korupsi ini. Kalau sudah menjadi darah dan daging, bukankah itu adalah syarat dari sebuah kehidupan bagi tubuh ?. Tatkala darah dan daging dihabisi tentu sudah tidak ada lagi kehidupan dalam tubuh itu.

Sebagai seorang yang percaya pada Allah SWT, tentu kita tidak akan berputus asa untuk melihat perbaikan-perbaikan dari segala aspek kehidupan, karena yang terbaik di mata Allah SWT adalah sesuatu yang lebih baik hari ini apabila dibandingkan dengan hari kemaren, dan hari selanjutnya adalah harus lebih baik dari hari ini. Hanya meratapi segala keprihatinan yang ada bukanlah sebuah solusi. Tentu tidak bijaksana juga kalau menjadikan keprihatinan tersebut hanya sebuah bahan obrolan. Adalah sebuah keniscayan merubah keprihatinan-keprihatinan dalam diri terhadap kondisi yang ada menjadi sebuah energi yang kuat untuk berbuat dan beramal kearah perbaikan-perbaikan. Energi itu diharapkan mampu memotivasi untuk melakukan sesuatu yang signifikan, sebesar apapun dia. Energi itu juga sudah seharusnya mampu menggerakkan diri untuk mengidentifikasi potensi-potensi yang ada dan menggunakannya dalam beraktivitas. Aktivitas individu dalam bentuk kecil, apabila digabung dalam sebuah komunitas akan mampu menghasilkan output besar.

Ide-ide yang muncul dari diskusi kecil sesudah acara silaturrahmi dan peringatan Iedul Adha Sabtu yang lalu, mudah-mudahan merupakan salah satu bentuk energi penggerak untuk berbuat sesuatu, ya…energi yang lahir atas keprihatinan musibah-musibah yang menimpa saudara-saudara di tanah air tercinta. Mudah-mudahan Allah SWT memberikan kekuatan, Amiin.


Menjalani Kegagalan

Filed under Renungan & Hikmah

Salah seorang teman kami menceritakan sekelumit pengalaman ruhani mendapat ketenangan batin dengan jalan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal yang berkesan olehnya adalah cerita tentang si fulan (biasanya diperankan dengan tokoh Abu Nawas?) yang mencari kunci yang hilang dengan mengacak-acak halaman, di luar, rumah. Setelah ditanya seseorang, dia menjawab bahwa kunci tersebut hilang di dalam rumah. Seharusnyalah “mencari sesuatu” tersebut dilakukan dari dalam terlebih dulu, jangan mengacak-acak dan sibuk di luar. Akhirnya kembali pada hati dan jiwa kita, karena itulah “bagian dalam”, interior, yang dimiliki manusia.

Teman yang menceritakan pengalaman ruhani ini mempraktekkannya dengan ikhlas, melakukan adjustment terhadap dirinya, dan alhamdulillah, masalah kritis yang dihadapi dapat diselesaikan. Mudah-mudahan ridla Allah besertanya, yang telah berusaha memperbaiki keadaan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dulu.

Cerita mencari “di dalam” atau “di luar” di atas menjadi favorit teman yang lain pada sisi sebaliknya. Dia berpendapat bahwa apabila pencarian kita di dalam hanya berpusing-pusing seperti mengurai benang kusut dan menguras tenaga terlalu banyak, ada saatnya pergi keluar, menjauh (bukan menghindar) dari benang kusut tersebut dan melihat persoalan dari sudut pandang “luar” yang jelas lebih lapang dan kemungkinan beroleh pemandangan yang berbeda.

Jika kita sudah sampai pada substansial yang lebih hakiki: apa sebenarnya “luar” dan “dalam”? Batasnya hanya setipis pintu. Penekanan sebenarnya pada introspeksi terhadap diri sendiri — yang hal itu dapat diperoleh dari melihat diri kita sendiri atau menyadari keragaman yang terdapat di luar.

Hidup sendiri tidak selalu seperti film Hollywood yang menyederhanakan persoalan dengan jagoan segera dimenangkan. Bagaimana jika dalam cerita teman tentang pengalaman ruhani tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan? Ini penting, karena pertama, tidak semua harapan kita merupakan sesuatu yang memang baik atau cocok dengan kondisi kita. Sebagian orang malah seperti “tidak berpengharapan” dalam konteks meyakini bahwa segala sesuatu yang dialami dalam perjalanan hidupnya itulah yang terbaik baginya. Mereka bukan orang-orang pasrah yang kemudian menjalani hidup dengan bermalas-malas, melainkan para pekerja keras karena percaya dalam “tiada berpengharapan” tersebut mereka harus tetap bermanfaat bagi sesama.

Kedua, semata-mata memang harapan tersebut belum juga segera terwujud. Sebuah email dari teman lama pernah mempertanyakan hal itu kepadaku: saya sudah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, namun mengapa persoalan ini belum juga usai?

Doaku kepada mereka yang masih seperti berkelanjutan menghadapi masalah seperti tidak ada ujung akhirnya tersebut: semoga rahmat Allah dicurahkan kepada mereka, sehingga dihindarkan mereka dari putus asa. Saya tetap harus menjawab pertanyaan tersebut — tampaknya yang ia perlukan hari ini adalah seorang teman yang dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Saya perlu berhati-hati agar tidak overdosis menasehati dia untuk mengorek kekurangan diri sendiri terus (kurang ikhlas, kurang beribadah, kurang dekat dengan Allah, misalnya), karena memikirkan diri sendiri terus-menerus dengan tensi berat dapat berakhir dengan putus asa karena frustasi.

Saya jawab begini,

Menurutku, semua hal/persoalan/keadaan senantiasa ada batas akhirnya, karena kita hidup di dunia yang fana. Batas akhirnya bisa berupa persoalan tersebut diselesaikan baik-baik atau tidak pernah selesai namun kita menjemput maut (yang berarti persoalan tsb. selesai, kan?). Tidak ada masalah yang abadi, karena Tuhan juga Maha Adil; atau sebaliknya, kita manusia demikian tidak bisa bersyukur sehingga setiap hari dianggap bermasalah.

Maksud dari penjelasanku di atas bukan menyudutkanmu. Bukan pula membela pihak lain. Atau sebaliknya. Kalimat-kalimat di atas itu netral, berlaku untuk semua hubungan antarmanusia.

Jika kita berpendapat kondisi yang sedang dialami sekarang merupakan “penderitaan”, coba dicari akar persoalannya: bagian mana penyebab penderitaan tersebut. Apabila sudah didapat, coba pertimbangkan baik-baik kondisi seharusnya (yang kita inginkan). Apabila dalam waktu dekat kondisi seharusnya tersebut sulit dicapai, beri batas waktu akhir dari persoalan tsb. menurut kita. Karena tidak mungkin seseorang hidup dalam persoalan terus-menerus sepanjang hidupnya, apalagi jika persoalan tsb. dibuat/terjadi karena keputusan manusia (lain).

Nah, dalam menuju batas jangka panjang tersebut, kita harus menghargai solusi-solusi jangka pendek. Misalnya menikmati hidup, mensyukuri pemberian-Nya, dan hal-hal lain yang barangkali bagi orang lain tidak terlihat. Rasakan dengan mata hati, sehingga dalam menuju batas jangka panjang tersebut kita bisa ikhlas.

Setelah itu, apabila dalam jangka panjang persoalan tersebut tetap tidak dapat diselesaikan sendiri, lakukan perundingan yang baik terhadap penyebab kondisi tersebut. Dalam beberapa hal, terkadang diperlukan pihak ketiga yang dapat melihat persoalan tersebut dengan lebih jernih dan adil.

Hidup memang sulit, jika kita kita sibuk mengitari bagian yang sulit; dan sebaliknya, hidup juga mudah, jika kita berusaha mendapatkan bagian-bagian yang memudahkannya. Di antara keduanya itu ada penderitaan, pengorbanan, dan keikhlasan.


Menyambut 2005: Tahun Fisika Dunia

Filed under GPMPS

Ada yang istimewa di tahun 2005, tahun ini adalah ulang tahun revolusi di dunia fisika. Seratus tahun yang lalu, pada tahun 1905, Albert Einstein (yang kala itu berusia 26 tahun) mempublikasikan tulisannya pada majalah ilmiah berkala Jerman “Annalen der Physik”. Tulisan itu berjudul “On the Electromagnetic of Moving Body”, di dalamnya terdapat sebuah ide revolusioner: teori Relativitas Khusus.

Begitu besarnya arti revolusi tersebut, Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi Internasional (International Union of Pure and Applied Physics, IUPAP) atas permintaan Masyarakat Fisika Eropa (Europian Physical Sociaty, EPS) mendeklarasikan tahun 2005 sebagai Tahun Fisika Dunia. Artikel ini membahas secara popular arti besarnya revolusi yang dilakukan Einstein muda dan dampaknya pada pemahaman kita terhadap alam semesta.

Perkembangan Fisika Sebelum 1900

Perkembangan fisika selalu menjurus pada penyatuan (atau unifikasi) teori-teori. Semakin banyak sebuah teori menjelaskan fenomena, semakin fundamentallah teori itu. Sebelum 1900, sejarah mencatat dua unifikasi teori yang merevolusi pemahaman kita terhadap alam semesta. Pertama adalah unifikasi teori Gravitasi oleh Isaac Newton (Inggris, 1642 – 1727) pada tahun 1687. Kedua adalah unifikasi teori listrik-magnet-cahaya oleh James Clerk Maxwell (Skotlandia, 1831 – 1879) pada tahun 1855.

Teori Gravitasi Newton (atau sering disebut Hukum Gravitasi Newton) adalah teori unifikasi pertama yang dibuat manusia, yang sukses menyatukan hukum pergerakan planet Kepler (Johannes Kepler, Jerman, 1571 – 1630) dan hukum fenomena dinamika dan inersia Galileo (Galileo Galilei, Itali, 1564 – 1642). Newton menjelaskan idenya dalam “Principia Mathematica”, publikasi pertama yang menjelaskan fisika memakai bahasa metematika.

Karya Newton benar-benar merubah wajah dunia. Hukum pergerakan benda kemudian menjadi dasar dari Mekanika Klasik dan Fluida. Sementara hukum pegerakan planet dipakai menjadi acuan oleh para astronom untuk mempelajari tata surya.

Teori listik-magnet (atau sering disebut teori elektromagnetik) sukses menyatukan fenomena listrik dan magnet – yang sebelumnya ditemukan oleh Michael Faraday (Inggris, 1797 – 1867) pada tahun 1831 – dengan fenomena cahaya. Salah satu prediksi penting dari teori ini menyatakan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan kecepatan konstan ~ 3×10E8 m/s.

Teori Elektromagnetik ini adalah teori unifikasi kedua yang dibuat manusia, dan menjadi teori fundamental fisika kedua setelah Hukum Gravitasi Newton. Kalau Newton berlaku untuk benda berukuran massif (makro), maka Maxwell untuk benda berukuran ringan (mikro).

Kontradiksi Newton - Maxwell

Suksesnya dua teori unifikasi tersebut bukan tanpa masalah. Ada sebuah kontradiksi yang tidak terpecahkan pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Kontradiksi ini lahir dari persamaan gerak benda Newton dan persamaan Maxwell. Persamaan Maxwell mengatakan bahwa tidak perduli kita berlari mengejar atau menjauhi berkas cahaya, kecepatan cahaya tetap konstan, tidak peduli betapa cepat kita berlari. Berbeda dengan hukum gerak benda Newton, yang mengizinkan kita bisa mengejar kecepatan cahaya asal memiliki percepatan yang cukup.

Bagaimana mungkin kecepatan cahaya tidak terlihat bertambah cepat atau lambat relatif terhadap kita yang bergerak menjauh atau mendekatnya?

Disinilah Einstein merubah segala-galanya. Kecepatan adalah sebuah ukuran jarak tempuh dibagi oleh lama waktu tempuh, dan ini jelas tergantung oleh ruang (space) dan waktu (time). Semua konsep fisika yang dibangun dari dua teori unifikasi ini memandang ruang dan waktu adalah dua hal yang tetap dan tak-berubah oleh apapun fenomena di alam semesta. Ruang dan waktu menjadi dua referensi utama dalam pengamatan dan pengukuran fenomena alam.

Dan sangat kontras dengan persepsi ini, Einstein menyatakan ruang dan waktu tidak tetap dan tidak tak-berubah. Sebaliknya, ruang dan waktu ini seperti karet yang bisa memanjang dan memendek. Ruang dan waktu mengatur diri mereka sendiri untuk menjaga sesuatu yang lain – kecepatan cahaya – konstan, tidak peduli pergerakan benda itu mendekati atau menjauhi berkas cahaya. Dengan kata lain, benda yang bergerak menuju atau menjauhi berkas cahaya merasakan ruang dan waktu memuai atau memendek, sehingga kecepatan cahaya pada akhirnya tetap konstan.

Praktisnya, ini berarti jika kita mengukur panjang sebuah mobil yang sedang bergerak, hasilnya akan berkurang dibandingkan ketika kita mengukur panjang mobil ini sedang diam (penyempitan ruang). Dan jika kita pasang jam pada mobil yang bergerak ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan jam ini berputar lebih lambat daripada jam yang sama yang tidak bergerak (dilatasi waktu). Kesimpulannya, benda bergerak akan melihat ruang memendek dan waktu melambat. Perubahan ruang-waktu ini semakin besar ketika benda bergerak mendekati kecepatan cahaya.

Inilah revolusi terbesar fisika yang merubah cara pandang kita terhadap alam semesta. Ruang dan waktu bukan lagi sesuatu yang konstan, melainkan kecepatan cahaya lah yang konstan dan dan nilainya absolut. Tidak ada yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

Teori Relativitas Khusus menyatukan konsep ruang dan waktu yang diperlakukan berbeda pada fisika sebelumnya menjadi satu: konsep ruang-waktu (spacetime). Dan inilah cikal bakal revolusi kedua oleh Einstein, lewat Teori Relativitas Umumnya pada tahun 1915.

Usaha Einstein dalam merubah cara pandang kita terhadap alam semesta tidak dilakukan dengan mudah. Butuh kejeniusan khusus memang, dan orang-orang seperti Einstein tidak dilahirkan setiap saat di dunia ini. Tapi ada satu hal yang dicontohkan Einstein yang pantas kita tiru: berani berpikir keluar dari pola yang ada. Inilah salah satu kunci dari kesuksesan Einstein selain kerja kerasnya yang menakjubkan.

2005: Tahun Fisika Dunia

IUPAP lewat PBB mencanangkan tahun 2005 ini sebagai Tahun Fisika Dunia. Di Indonesia, kesadaran umum masyarakat berkurang tentang fisika dan pentingnya fisika dalam keseharian. Jumlah mahasiswa yang belajar fisika berkurang secara dramatis. Banyak penelitian yang tidak jalan, lab kosong dan diskusi-diskusi teori berkurang. Dalam seleksi masuk perguruan tinggi pun, jurusan Fisika biasanya menjadi jurusan alternatif.

Padahal fisika bukan saja berperan penting dalam pembangunan sains dan teknologi, tapi juga membawa dampak pada masyarakat kita. Fisika mengajarkan kita berpikir ilmiah, bertindak seirama dengan prilaku alam. Semakin banyak sarjana fisika yang konseptual dan membahasakannya pada masyarakat, semakin tinggilah pengetahuan-dasar umum masyarakat itu. Hingga pada suatu titik kreativitas masyarakat yang sudah ada bisa dikembangkan lewat pola-pola ilmiah sehingga hasilnya lebih efektif, efesien, dan bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak.

Indonesia memiliki banyak bibit-bibit unggul. Yang muncul di permukaan lewat lomba internasional fisika, matematika, biologi, astronomi dan sains lainnya hanyalah baru secuil. Di pelosok desa dan kampung yang tersebar di seluruh Indonesia pastilah berlimpah mutiara-mutiara yang mampu menerangi dan memajukan bangsa kita lewat fisika ataupun sains lainnya.

Mudah-mudahan memanfaatkan moment Tahun Fisika Dunia, perhatian pemerintah pada pendidikan Fisika dan sains umumnya – baik itu teori maupun eksperimental – meningkat dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan juga semangat ini mengilhami para generasi muda kita untuk mulai berkenalan dengan fisika.