Archives for November, 2004

Artikel ini dikirim pada bulan Ramadhan 1425H yang lalu. Ditulis oleh Abdul Gafur.

“Het recht is er, doch het moet worden gevonden, in de vondst zit het nieuwe” (Scholten, 1954: 15)

(artinya : “Hukum itu ada, tetapi ia harus diketemukan, dalam pendapat itulah terdapat yang baru”)

Bismillahirahmanirahim

“Abdul, loe puasa ya?”, tanya salah seorang teman Londo Belanda kepada saya dihari pertama bulan Ramadhan”. Aku menganggukan kepala, namun tampaknya dia memancing pertanyaan awal itu untuk memulai pembicaraan. ” Oh iya aku punya pertanyaan nih buat loe”, dia melanjutkan pembicaraan, “aku dengar kalau puasa itu dimulai dari sunrise hingga sunset tapi gimana kalau ada kasus seperti di negara Finlandia dimana ada wilayah yang mataharinya terbit sangat jarang sekali bahkan hampir tidak ada, bagaimana loe akan menentukan untuk memulai dan mengakhirkan puasa?” Tampaknya pertanyaan ini simple namun dalam dan harus ditemukan suatu dalil untuk dapat menjawabnya. Berikut saya sampaikan hubungan pertanyaan ini dengan pemikiran saya dan Islam.

Dalam islam dikenal ada sumber hukum yang dapat diambil untuk dapat memutuskan perkara yang ada yakni: Alqur’an, Al Hadits, Ijtihad (Qiyas dan Ijma). Dari sumber hukum inilah maka seorang muslim dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. pertanyaan yang muncul dari seorang “diluar agama islam” (bahkan kadang seorang muslim sendiri) tampaknya menarik untuk dapat saya hubungkan dengan bidang kajian saya. Dalam Hukum Organisasi Internasional untuk dapat memutuskan suatu perkara ada keputusan yang harus diambil atas beberapa dalil yang dikenal dengan konsep power. Hukum (organisasi) internasional menjabarkan apa yang dinamakan express power, implied power, inherent power, dan assumed power. pengertiannya adalah sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan Express Power adalah keputusan yang diambil atas dasar apa yang ditulis dalam ketentuan perundangan yang ada (sebagai constitution - pedoman mendasar), atau kalau kita mengaitkan dengan konsep Islam apa yang tertera dalam Al Qur’an, itulah yang menjadi dalil utama pengambilan keputusan. Jika dalam kasus puasa sebagai contoh kita sebagai orang Indonesia yang saat itu sedang berada di negara Indonesia tentu akan mengatakan dengan mudah kapan waktu memulai dan mengakhirkan puasa atas dasar peredaran matahari. sesuai dengan apa yang ada didalam Al Qur’an dimana puasa dimulai dari terbit fajar hingga waktu terbenamnya matahari. Hal yang sama juga akan berlaku untuk beberapa negara dimana peredaran matahari tidaklah menjadi persoalan dan dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang. Express power yang berlaku dalam hukum organisasi internasional adalah segala kata-kata yang ada dalam setiap keputusan konstitusi organisasi internasional itu baik yang sifatnya binding (mengikat - dalam islam wajib) atau non binding (tidak mengikat - dalam islam sunah), sebagai contoh Charter of United Nations dan ILO constitution. Dengan kata lain keputusan yang diambil harus melihat pada konteks yang ada dalam perundangan tersebut.

Namun ada kalanya drafter s dari konstitusi tadi sengaja membiarkan ruang lingkupnya menjadi terbuka atau men-general-kan pemaknaan kata dari pasal dengan pertimbangan up-dating dari konstitusi tadi. Dalam hal ini berada di “grey area” atau dalam islam sifatnya Makruh atau Mubah. Ketika kita coba mengkomparasi dengan Al Qur’an, apakah Allah SWT sebagai Yang Maha Tahu melakukan hal yang sama dengan para drafters tadi, yang notabene adalah human being yang mungkin dapat alpa terhadap pengetahuan yang mereka miliki?

Ketika aku kecil, waktu sekolah di Madrasah Diniyah (jadwal sekolah dimulai selepas sekolah dasar umum reguler, umumnya kebiasaan ini berlaku bagi warga betawi termasuk keluargaku), Ustadz (guru) dari tempatku belajar mengatakan ” dalam AlQur’an disamping makna yang tersurat ada makna yang tersirat”. Pernyataan Ustadzku ini (semoga Allah SWT membalas kebaikannya) terus terngiang dalam alam fikiranku, namun waktu itu ilmuku belum sampai, sehingga terus saja pertanyaan itu menggelimuti hatiku, “tersirat?”.

Kembali kepada drafters yang sengaja membiarkan pemaknaan pasal tadi menjadi luas, untuk menjawabnya dalam hukum (organisasi) internasional ada yang dinamakan Implied Power. Implied Power adalah perumusan makna yang karena kondisi, konstitusi tadi sengaja tidak menggambarkan secara detail pemaknaannya dalam tataran praktis, maka pembuat keputusan baik sifatnya individu dalam hal ini hakim atau collective misalnya General Assembly mencoba melakukan penggalian kepada pemaknaan apa sebenarnya yang terfikirkan atau yang dimaksud oleh drafters dari konstitusi tadi sebelum keputusan itu dibuat. Dengan kata lain mencoba menjabarkan makna lebih luas dari konstitusi tadi. Dalam Islam inilah yang menurut saya dikenal sebagai konsep Al Hadits yang bersumber dari karakter Rasulullah SAW baik prilaku sehari-hari atau perkataan beliau.

Kalau mengaitkan dengan puasa, saya melihat bahwa disamping Indonesia atau negara yang “memiliki” matahari, ada negara yang seperti Belanda mungkin matahari “agak ngumpet”. untuk itulah maka diperkenankan memakai batasan. Ada hadits yang mengatakan “tuntutlah ilmu dari lahir (fikiran secara insting dalam kandungan untuk mulai mengenal makanan yang diberikan oleh ibu, atau tanda pergerakan halus dari janin ketika calon ayah merapatkan telinga ke perut calon ibu, otak bawah sadar mulai menyerap suara azan yang dikumandangkan oleh sang Ayah, dsb.) hingga liang lahat (proses pembelajaran dalam hidup baik secara formal atau non formal sebelum ajal)”. Dalam konteks ini saya memaknai terjadinya sebuah ruang lingkup pembatasan (scope). Untuk kasus Finlandia jawaban awal saya adalah dengan melihat atau mengenali daerah lain yang masih masuk dalam “batas” negara Finlandia. Mungkin saja ada daerah di Finlandia dimana tidak terdapat matahari (seperti kutub) tapi bukan berarti dalam batas negara tadi semua daerah mengalami kondisi yang sama. Dengan kata lain ada daerah lain yang tetap memiliki pola kapan matahari terbit dan kapan terbenam walaupun hanya satu bulan durasi pola tersebut berlangsung secara reguler. (namun dengan ditemukannya berbagai tekhnologi mutahkhir, untuk mendeteksi dan kemungkinan menentukan schedule dari si “matahari” tadi saya kira menjadi lebih mudah, sebagai contoh dapat dilihat di Yahoo Weather). Dalam bahasa hukum organisasi internasional konteks ini dikenal istilah maksim “Expressie unius est exclusio elterius” yang juga dikenal sebagai “argumentum a contrario” yang artinya aturan yang sebagai contoh memuat ketentuan mengenai A dan B, jika hanya berbicara mengenai A, ketentuan yang ada juga akan berlaku tidak hanya terhadap A namun juga terhadap B.

Namun demikian fikiran saya menewarang setelah melontarkan jawaban tersebut, apa tidak mungkin adanya kemunculan jawaban yang lain? Lalu bagaimana halnya kalau ada kasus yang menyatakan bahwa matahari tadi benar-benar tidak ada? atau waktu untuk berpuasa tadi berlebihan seperti kasus di Amerika Serikat atau di Kanada dimana pernah pada tahun 80-an, puasa berlangsung 16 hingga 17 jam?

Ada tatabahasa atau maksim yang mengatakan “expressum facit cassare tacitum” yang artinya kata-kata yang dicantumkan secara tegas mengakhiri pencarian mengenai maksud dari perundang-undangan. Dengan kata lain memiliki kekuatan sebagai kata putus terakhir. Namun bagaimana halnya jika kata putus terakhir disamping implied power yang telah dilakukan mengalami suatu kemenduan (ambiguity) yang secara logis tidak menggambarkan kondisi yang jelas? Intrepetasi bagaimana yang kemudian harus dilakukan?

Dalam AlQur’an dikatakan tidaklah kamu mengenal Ilmu - Ku kecuali yang sangat kecil sekali. Artinya apa? Saya menafsirkan jika makna tersirat dalam Al Qur’an tadi memerlukan adanya penggalian lebih dalam. Disamping dari apa yang telah ada dalam Hadits, ada kalanya terjadi kasus terhadap prilaku atau penemuan baru dalam konteks masa kini yang sejalan dengan perkembangan tekhnologi dimana kejadian atau tindakan tersebut belum pernah dicontohkan oleh Rasul. Sebagai ilustrasi pada zaman Rasul belum ada yang namanya Tadarus melalui Telefon atau Teleconference, zaman Rasul belum ada dimana dimesjid untuk mengeraskan suara digunakan Mikrofon. Untuk itulah maka islam memperkenalkan pencarian hukum dengan menggunakan prinsip ijtihad yang terbagi dua yakni Qiyas dan Ijma.

Hukum (organisasi) internasional juga memperkenalkan konsep yang dinamakan inherent power. Artinya; kondisi pencarian dan penemuan hukum ini dimungkinkan ketika dalam perkembangan hukum tadi ternyata tidak ditemukan ketentuan yang sifatnya tertulis atau memungkinkan penjabaran. Inherent power ini mengacu kepada substansi tujuan dari pemaknaan untuk memecahkan persoalan. artinya apa? artinya ibarat koin logam dimana dimuka koin tersebut terdapat dua sisi. kedua sisi itulah yang dimaknai dalam law making sebagai sesuatu yang sifatnya inherent. sebagai contoh, dalam konvensi Montevidio, yang menjadi inherent dari negara adalah Wilayah (territory), Penduduk (population), dan Pemerintah (control government). Ketiga unsur itu mutlak diperlukan untuk dapat disebut suatu negara pada sisi yang berbeda.

Dari gambaran dua sisi ini, jik dilihat pada konteks hukum, memungkinkan penambahan sesuatu yang baru dari aturan yang lama. Dengan kata lain, terbukanya kesempatan bagi para law maker misalnya hakim untuk melakukan intrepetasi ini. Jadi, hakim tidak hanya berhenti pada melakukan penafsiran namun memperluas, mengisi, bahkan menciptakan peraturan baru (Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2000: hal.100). Dengan kata lain pencarian hukum terus dilakukan akibat penemuan fakta atau kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau dalam bahasa Scholten “………..mengacu pada keseluruhan, tujuan sosial, serta hasil dari penerapan, perkembangan sejarahnya sebagai faktor yang diperhitungkan untuk menentukan apa yang menurut undang-undang merupakan hukum pada suatu kasus tertentu”.

Perintah pertama yang Allah berikan kepada kita bukanlah dengar atau lihat tapi “Iqra” atau “bacalah!”. Pengertian perintah membaca ini bagi saya bukanlah seperti mengenal pengetahuan dari konteks luar saja misalnya dari buku namun kepada penglihatan terhadap substansi untuk terus melakukan penelitian (pencarian). Proses penemuan pengetahuan itu tidaklah bersifat instant namun berawal dari sebuah realita permasalahan, dimana dalam permasalahan itu otak manusia bekerja untuk dapat menemukan jawaban atas persoalan. Jawaban yang didapat tidak saja berpedoman dari apa yang sudah ada sebagai “faktor ketahuan” namun bisa juga dengan melakukan komparasi atau menemukan hipotesis baru. Jawaban inilah yang memungkinkan untuk menarik alam fikiran kita kepada sesuatu yang kita ketahui sebagai bentuk pengetahuan. Jika pengetahuan tadi dikembangkan, digabungkan, atau diperbandingkan memungkinkan untuk menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah lahir suatu keumuman atau generality yang diterima secara luas. Faktor penerimaan ini jika mengikuti metode scientific akan menjadi suatu kajian untuk dijadikan asas atau teori. Jika teori ini telah dibangun melalui pengujian berulang-ulang dan terbukti memungkinkan untuk dapat diterapkan dalam kondisi yang berbeda dengan hasil yang sama, inilah yang kemudian dinamakan ilmu. Disamping memakai kebakuan, hukum organisasi internasional mengenal apa yang dinamakan sebagai costumery intentional law yang artinya sebagai hukum kebiasaan. Kebiasaan itu harus dimaknai sebagai keterbukaan sistem hukum akibat “kekosongan dalam hukum”.

Dalam Hukum (organisasi) internasional juga dikenal istilah Assumed Power. Assumed power adalah proses penemuan hukum atas dasar kasus atau realita dari tindakan yang sebelumnya dianggap “violating law” - belum ada kepastian hukum untuk menentukan bersalah atau tidak) namun kemudian menjadi preseden dan diterima sebagai hukum sepanjang tidak adanya majority yang menentang dan mempermasalahkan dengan sangat (misalnya terjadi suatu unanimity - kesepakatan, tindakan tersebut diperkenankan akibat beberapa faktor misalnya politik atau kemungkinan jika tindakan tadi tidak dilakukan, memungkinkan “law violation” yang sifatnya bisa lebih merusak). Penemuan hukum ini kemudian menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menurut Fitzgerald harus memiliki kondisional faktor yakni; kelayakan atau masuk akal atau pantas “mulus usus abolendus est” (misalnya hak waris mulai berlaku jika pewarisan yang bersumber dari kepala keluarga, kepalanya meninggal dunia), pengakuan atas kebenarannya dan diikuti secara terbuka dalam masyarakat atau pihak yang hendak dilibatkan (bisa saja dalam konteks hukum organsisai internasional negara), memiliki latar belakang sejarah yang tidak dapat dikenali lagi mulainya (artinya praktek ini berlangsung secara kontinu dan menjadi mapan akibat terbentuk oleh waktu yang panjang) dan diterima dalam hukum perundangan sebagai hukum yang dominan (artinya berlakunya kebiasaan tidak bertentangan dengan hukum perundangan) (Fitzgerald, Salmond on Jurisprudence, 1966:190-191).

Konteks diterima dan kesepakatan itulah yang menurut saya sebagai faktor kunci dari berlakunya assumed power. Untuk lebih jelasnya, sebagai gambaran; Agressi Amerika Serikat menyerang Iraq pertama kali sekitar tahun 90-an (yang secara hukum telah melakukan intervensi terhadap suatu negara dan itu tidak diperkenankan dalam hukum internasional - illegal, unlawful atau arbitrary), namun pada kenyataannya tidak terjadi pertentangan di banyak negara (walaupun saya sendiri mungkin dapat memperdebatkan argumentasi ini kalau dilihat bukan dalam konteks hukum) sedasyat Agresi AS yang kedua kali. Tindakan ini dimungkinkan karena tindakan Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein yang melakukan invasi terhadap Quwait itu, dianggap telah melakukan arbitray terhadap hukum internasional yang jelas illegal atau violation of international law. Tindakan AS (agresi I) kemudian mendapat persetujuan atas dasar kesepakatan dan dapat diterima oleh UN dan hukum (organisasi) internasional dengan dalih assumed power tadi.

Kalau mengaitkan ke dalam konteks Islam yang memperbolehkan adanya konsep itjihad, konsep ini melahirkan berbagai macam intepretasi yang berbeda (sama halnya dengan hukum internasional dalam konteks inherent power dan assumed power) namun kemudian “dapat diterima”. Perbedaan intepretasi inilah yang kemudian melahirkan paham atau mazhab yang berbeda seperti Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki. Menurut saya saya interpretasi tadi syah-syah saja karena dalam Islam ada sunnah dalam pencarian “jika benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala”. Yang artinya menurut penafsiran theleologis saya (harfiah) sebagai anjuran untuk terus mencari dalam ilmu sebagai suatu ibadah. sebagai contoh saya gambarkan pemaknaan hadits “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bagi sebagian orang yang mungkin berkutat kepada faktor geografis, Cina diartikan sebagai faktor wilayah, namun bagi saya tidak hanya terbatas kepada faktor itu saja namun juga kepada kepada konsep nation character dari bangsa Cina itu yang tersebar diberbagai negara dengan banyak kelebihan sebagai anugerah Allah SWT. Kedua penafsitan tadi sifatnya diperkenankan dan dapat diterima.

Menurut penafsiran tadi, saya mengambil kesimpulan jika Inherent Power dikenal dalam Islam sebagai konsep Qiyas, sementara untuk Assumed Power sebagai Ijma (kesepakatan)

Kembali kepada pertanyaan teman Londo Belanda saya atau kepada kasus yang saya lontarkan atas puasa di Amerika Serikat yang pernah berlangsung selama beberapa waktu lebih lama dari “kenormalan” yang ada diwilayah lain; bagi saya, diperkenankan untuk melakukan itjihad sebagai sebuah flexibility dalam beragama (”agama itu mudah, namun jangan dimudah-mudahkan”)

Untuk kasus puasa di Amerika, bagi saya bisa saja dilakukan pembatalan misalnya setelah 12 jam - jika kita merasa tidak lagi mampu sebagai interpretasi dari hukum kebiasaan puasa ditempat lain (sekitar 12 hingga 13 jam); terlepas dari kondisi yang diperkenankan untuk membatalkan puasa misalnya sakit, penyakit menahun yang kalau puasa dapat mengakibatkan sesuatu yang sifatnya “fatal”, Wanita yang sedang haid (menstruasi) dan Nifas (menyusui bayi). Namun dapat pula dituntaskan untuk puasa jika kita mampu.

Sementara untuk kasus Finlandia bisa saja dilakukan suatu pencarian penemuan hukum atas intrepetasi yang mungkin muncul : Pertama, dengan memakai implied power dengan mengacu kepada pedoman jam berapa (kapan) wilayah lain di Finlandia memulai dan mengakhirkan puasa. Kedua, dengan memakai inherent power misalnya dengan intrepetasi melalui penggunaan tekhnologi perkiraan waktu siang dan malam (walaupun di wilayah ini dikatakan hampir setiap hari malam, namun dapat dijadikan patokan jika dalam satu tahun kemungkinan munculnya matahari dan terbenamnya matahari itu kapan). Kalau dalam penemuan itu kemudian menyatakan jika matahari terbit dan terbenam hanya dalam waktu lima atau enam jam saja, ya fakta tersebut harus diterima dan selama waktu itulah kita dapat menjalankan puasa (kalau berpedoman pada intrepetasi secara inherent power - Qiyas).

Ketiga dengan menggunakan assumed power dengan melihat kebiasaan sebelumnya (saya sendiri skeptis jika orang Finlandia zaman dulu telah mengadakan “puasa”, karena sepengetahuan saya, kebanyakan orang Finlandia yang muslim adalah pendatang) dan kebiasaan atas dasar pertimbangan waktu yang kemudian disepakati (Ijma) menjadi suatu ketetapan hukum.

Inti dari proses pen-training-an selama puas, tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga namun juga menjauhkan diri atas segala hal-hal yang dilarang selama Ramadhan (seperti sex, amarah) menuju substansi obyektif dari arti “puasa” (untuk mendekatkan diri kepada Allah (bertawakal) dan menjadikan kita sebagai hamba yang berserah diri dengan menjalankan perintah-Nya atas dasar kemampuan optimal dari kita).

Saya melihat Allah maha Adil dan Maha Mengatur atas segala sesuatu (asumsi saya secara logika; waktu puasa di daerah dingin agak lebih pendek, dimana tubuh pada saat dingin selalu merasa lapar sehingga perlu asupan (intake) untuk dapat bertahan hidup dan untuk itu maka dengan keadilan Allah diberikan dengan waktu yang lebih pendek dibandingkan wilayah lain). Allah dalam Al Qur’an berfirman”tidak akan Aku bebankan kepadamu kecuali atas kemampuan yang kamu miliki”. Sehingga kata terakhir yang saya sampaikan kepada teman Londo Belanda saya adalah “God is the Most Merciful, God knows that we have done our best”


Rasulullah Membenci Poligami

Filed under Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.


Hari ini saya membaca sebuah berita di detik.com tentang boikot terhadap katering Wong Solo. Boikot ini dilakukan sebagian aktivis perempuan NU, yang dimotori Ibu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, dengan alasan pemilik Wong Solo telah melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dengan melakukan poligami.

Baca berita lengkap di

Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pendukung poligami. Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan kampanye anti poligami yang dilakukan oleh sebagian kalangan anti poligami. Biasanya mereka mengusung 2 tema besar, keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Tapi seberapa objektifkah tema ini dibawakan.

Bicara soal keadilan, maka pertanyaan yang selalu diusung adalah mempukah laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap adil.

Bagi saya pertanyaan “mampukah bersikap adil?” ini, lebih baik ditanyakan kepada SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, atau Hamzah Haz ketika mereka akan mencalonkan diri menjadi Presiden dulu. Sebab seandainya saja, katakan seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap tidak adil, maka yang terzhalimi hanyalah istri-istri dan anak-anaknya saja. Sedangkan bila calon-calon Presiden itu yang bersikap tidak adil, maka akan ada ribuan keluarga yang terzhalimi. Tapi ini menjadi tidak penting bagi kita, karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kemudian ketika berbicara soal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya merasa ada kecenderungan dewasa ini untuk mengindentikkan poligami dengan kekerasan di rumah tangga. Jadi poligami = kekerasan di rumah tangga, dan sebaliknya kekerasan di rumah tangga = poligami. Padahal kekerasan di rumah tangga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki beristri satu. Dan sebaliknya pengayoman terhadap perempuan juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Maka saya menjadi heran kenapa kita bisa begitu toleran memisahkan secara objektif, misalnya, siaran TV, pengaruh baiknya, dan pengaruh buruknya, tapi tidak demikian halnya dengan poligami dan kekerasan di rumah tangga. Sekali lagi, ini mungkin karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kita kembali lagi ke masalah boikot terhadap Wong Solo-nya Puspo Wardoyo yang menjadi inspirasi saya menulis ini.

Sebagian kita mungkin sudah mengenal siapa Puspo Wardoyo. Pria setengah baya, beristri empat, pemilik rumah makan Wong Solo, dan selama ini dikenal sebagai icon-nya poligami karena kegetolannya berpromosi soal poligami.

Saya sendiri bukan orang yang tahu mendetail tentang Puspo Wardoyo. Tapi kebetulan kami sama-sama berasal dari satu kota, Medan, dan salah seorang anaknya adalah kakak kelas saya di SMU.

Nama Puspo Wardoyo sendiri rasanya sudah berkali-kali dihujat, khususnya oleh para aktivis perempuan, karena keputusannya berpoligami. Namun pernahkah mereka melihat sisi lain dari Puspo Wardoyo si pelaku poligami ini?

Di saat laki-laki pengusaha lainnya begitu giat mengeksploitasi pekerja perempuannya untuk memperoleh keuntungan, maka Puspo Wardoyo mewajibkan semua pekerja perempuan di restorannya menggunakan kerudung.

Puspo Wardoyo pun berkali-kali membuka pintu lebar-lebar untuk wartawan datang ke rumahnya, dan mewawancarai istri-istrinya. Pesannya adalah “Silahkan lihat rumah tangga saya yang berpoligami ini, dan tanyakan kepada istri-istri saya apakah saya menzholimi mereka?”

Suatu saat Puspo Wardoyo pun pernah diwawancarai dalam sebuah acara di Metro TV. Selesai acara, seperti biasa pembawa acara, yang kebetulan hari itu perempuan, menyalami, dengan berjabat tangan, dengan si nara sumber. Tapi dia menolak. Pesan apa yang saya tangkap adalah, “Betul saya beristri empat, tapi saya hanya mau menggauli muhrim saya”.

Membaca petikan-petikan cerita di atas, masihkah kita menganggap Puspo Wardoyo yang beristri empat itu, lebih rendah laki-laki yang memang beristri satu tapi mata dan tangannya entah sudah ‘merayap’ kemana-mana?

Saya sedikit pun tidak hendak berkata bahwa Puspo Wardoyo itu adalah dewa. Cerita Puspo Wardoyo ini saya majukan hanya untuk menunjukkan betapa seringnya masyarakat bersikap tidak objektif terhadap kasus poligami.

Dan tulisan ini saya buat bukan untuk mengubah pendapat orang menjadi setuju terhadap poligami. Karena saya harap kita bisa sama-sama berkata ‘no’ untuk berpoligami dan ‘no’ untuk dipoligami, namun kali ini dalam bingkai yang lebih objektif.

Mungkin kah? Ah, rasanya susah, karena ini menyangkut perasaan, apalagi perasaan wanita.

Semoga bermanfaat

Wassalam

-henry-


CHATTING DGN TUHAN

Filed under Islam Aktual

BUZZ

TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi
Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya
agar saya merasa lebih baik.Tapi sekarang saya
sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya
waktu luang sedikitpun.Hidup jadi seperti diburu-
buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu
kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas
membebaskan waktu.
AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak
dapat menghidarinya. Sebenarnya, saya tidak
mengharapkan Tuhan mengajakku chatting
seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu
dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin
menggunakan medium yang lebih nyaman
untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa
hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani
saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak
pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu
khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir
karena kamu menganalisa. Merasa khawatir
menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak
pernah merasa senang.
AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir
jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena
ketidakpastian.

TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi
Penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang
baik selalu menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang
baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi
lebih baik bukan sebaliknya.
AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah
guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian
dulu, baru pemahamannya.
AKU: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua
ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas
dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang
ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental
(Purposeful Roadblocks Offering Beneficial
Lessons (to) Enhance Mental
Strength). Kekuatan dari dalam
diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan,
bukan dari berleha-leha.
AKU: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini,
kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu
tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu
penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU: Kadang-kadang ketidakberhasilan
membuatku menderita. Apa yang dapat saya
lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat
oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang
dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan
perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain
bekejaran dengan waktu.
AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya
bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh
saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya
harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau
syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU: Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka
bertanya “Mengapa harus aku?”. Jika mereka
bahagia, tidak ada yang pernah
bertanya “Mengapa harus aku?”.
AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya,
mengapa saya disini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi
tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah
mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan
itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah
proses penciptaan.
AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang
terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa
penyesalan. Peganglah saat ini dengan
keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya
merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang
indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan
buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk
dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu
tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.

ps. ini tulisan temen saya, ermenegildo


Pluralitas di PPI

Filed under Renungan & Hikmah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Mengapa?

Ketika masing-masing diri kita memasuki ruangan debat, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dinafikan. Perasaan yang tidak bisa diabaikan. Perasaan yg tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan yang menuntut untuk diterima dan diakui keberadaannya. Karena perasaan itulah wakil dan perwujudan dari masing-masing diri kita.

Perasaan apa itu?

Perasaan bahwa: saya berbeda dengan anda!

Luar biasa, ketika saya mencoba melihat ‘perbedaan’ ini dari kaca mata lain, kacamata ‘Bhinneka Tunggal Ika’, saya melihat sebuah kekuatan. Dan saya semakin kagum saja dengan para pendiri negara Indonesia yg telah menemukan semboyan tersebut. Dengan semboyan itu, saya merasa ‘diakui’ bahwa saya orang Jawa Timur, beragama Islam, memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan kawan2 saya dari Madura, Batak, Irian Jaya. Dan bukan hanya diakui, namun saya merasa ’satu’ dengan mereka semua.

Saya bersyukur sekali, bahwa semboyan negara kita bukan “United Indonesia”. Karena, tidak terasa adanya ‘ruh pengakuan’ atas ‘perbedaan’ dalam semboyan itu. Semua satu. Semua sama.

Mengapa perbedaan perlu diakui dan diangkat ke permukaan?

Saya teringat dua minggu lalu, bersama istri membacakan buku buat kedua anak saya, Lala (5th) dan Malik (3th), sebelum mereka tidur. Saya ajak mereka berimajinasi. Saya bertanya: “Jika Lala dan Malik menjadi burung, mau melakukan apa?” Saya pikir mereka semua sama. Sama-sama anak2. Sama-sama suka burung. Apa yang terjadi?

Malik langsung menjawab, “Aku mau terbang ke Indonesia, mengambil mainan dinosaurus yang tertinggal.” Kalau Lala mau apa? Lala merengut, marah dan bilang “Lala bukan burung! Lala manusia!” Tapi ini hanya imajinasi saja, La. “Lala ndak mau jadi burung, Lala mau jadi kupu-kupu, karena cantik!”

Disitu saya tersadar, bahwa meskipun mereka sama-sama anak2, yang dengan mudah bisa saja kita abaikan perasaan mereka, namun pada dasarnya MEREKA BERBEDA. Mereka Unik. Dan keunikan mereka menuntut untuk diakui dan difasilitasi. Lala protes jika disamakan dg Malik. Dia menuntut saya untuk memberi ruang bagi dia mengungkapkan perasaannya yang berbeda. Dia menuntut saya memfasilitasi keunikannya.

Harapan saya….

Kita di PPI, tidak berbeda dengan anak-anak itu. Sudah terang dan jelas, bw kita berbeda. Tidak ada yg memungkiri itu. Saya berharap, PPI mendatang tidak lagi merasa ‘tabu’, ’sungkan’, atau ‘ragu’ membicarakan perbedaan-2 yang ada dalam diri kita. Kita akui, kita berbeda agama, keyakinan, minat, hobi, bidang studi, kedewasaan, kebutuhan, dll. Kita akui, ada PD dan deGromiest yg menjadi simbol keunikan perbedaan dalam hal spiritualitas, seperti halnya kita mengakui adanya group di PPI yg suka bola, fulzaal, game, jalan-jalan, dll.

Saya berharap, kita berani bilang bahwa “kita berbeda, dan kita mengenali perbedaan itu”. Dengan mengakui adanya perbedaan, kita akan mengenali diri kita sendiri. Mengenali apa yang diinginkan oleh masing-2 elemen itu. Setelah mengenali, kita bisa memfasilitasi.

Saya khawatir, mengingkari adanya perbedaan, sama saja dengan meingingkari eksistensi elemen2 yang berbeda unik itu. Seperti kasus Lala, saya bisa mematikan daya imajinasi kreatif unik dia. Dan dalam lingkup PPI, pengingkaran tersebut akan terus menimbulkan perasaan yang tidak enak dan tak terungkapkan. Tampak bagus diluar, tapi sakit di dalam.

Saya memimpikan, di milis MIG, elemen2 yang berbeda itu diakui. Mereka diberi ruang untuk berbicara. PD bisa mengumumkan pemikirannya, acara2nya di milis MIG. deGromiest juga bisa menyampaikan info2 kepada anggotanya yg banyak di mlis MIG. Persis spt temen2 yang suka futzal, basket dan bola meramaikan milis MIG. Tanpa ada perasaan sungkan, kuatir diprotes (seperti beberapa tahun lalu), atau yg tersinggung. Karena semua sudah mengakui dan menerima adanya perbedaan. Ini hanya satu contoh pengakuan dan penerimaan atas perbedaan itu.

Pertanyaan saya (untuk direnungkan atau dibahas), bukan hanya buat para kandidat. Tapi buat semua anggota PPIG:

Bisakah kita melebarkan pintu hati kita, untuk menerima perbedaan, mengakuinya, dan kemudian melihat indahnya ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di keluarga besar kita ini?

Semoga Tuhan YME merahmati dan selalu menerangi hati dan pikiran kita.

Wassalam,

Ismail Fahmi
- anggota PPI dan mantan ketua deGromiest 2003/2004


Pembersih Jiwa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keduabelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Bersih… bersiiih… Ulfa Dwiyanti berteriak dengan gembira pada salah satu iklan komersial yang beredar di televisi swasta di Indonesia. Sang ikon masyarakat ini lalu berlari ke sana kemari dengan sebuah botol pembersih di tangan kiri dan kain pel di tangan kanannya. Ida Kusumah yang berlakon sebagai nyonya rumah dengan mata terbelakak melihat lantai rumahnya yang bersih dan wangi, tidak hanya bebas dari kotoran tetapi juga enak dipandang oleh mata. Pembersih bermerek ZyXrWT ini memang ampuh…

Terpaku memandang jam yang tergantung pada tembok di hadapan, sudah hampir jam 12.30, waktu setempat, sholat Jumah belum juga mulai. Kultum yang menurut kebiasaan setempat selalu diselenggarakan harusnya sudah berlalu sejak . mungkin setengah jam yang lalu. Hahaha, mungkin harus diganti namanya menjadi Kultung : Kuliah dugi ka tutung . Alhamdulillah, akhirnya mulai juga Bang berdendang, tapi ini baru Bang pertama lho, sesudah sholat sunnah dua rakaat, barulah Bang kedua diperdengarkan dan imam akhirnya memulai ceramahnya, yang sudah ditunggu sejak sekitar satu jam yang lalu. Hari itu memang hujan sangat lebat, namun menurut warga setempat, memang begitulah adanya. Masjid sudah penuh sejak satu jam sebelumnya bukan karena hujan tapi memang begitu kebiasaannya. Maklum, di negri bernafaskan kental ke-Islaman ini memang hanya menyelenggarakan sholat Jumat pada masjid tertentu. Ingin yang lebih fenomenal? Bagi sebagian umat Islam di sini, sholat Jumat BUKAN merupakan suatu kewajiban. Wah, reformasi?

Bla .. bla .. bla .. dan entah apa lagi yang imam sampaikan dalam ceramahnya. Sampai akhirnya … .. Para jamaah sekalian, sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Ramadhan ini, jangan lah lupa kita akan kewajiban membayarkan zakat fitrah. Ibadah ini diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sebagai sarana membersihkan diri dan harta kita dari kotoran yang menggerogoti nilai kehalalan harta kita. Jadi, pakcik, jika dalam perniagaan berbuat suatu kesilapan dengan mencurangi timbangan dan semacamnya, marilah kita bersihkan dengan zakat fitrah ini . Ajakan yang mulia, yang memang merupakan esensi dari zakat fitrah yang seharusnya dilaksanakan pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Ehem, benarkah? Bukan kah itu berarti Islam membenarkan kita untuk berlaku curang, melakukan kesilapan yang secara sadar dilakukan. Bukan kah itu berarti kita bisa berbuat kesalahan dan membersihkannya setiap kali ada kesempatan seperti pada akhir bulan Ramadhan ini. Benarkah zakat fitrah itu tak ada bedanya dengan pembersih yang iklannya beredar diseantero dunia pertelevisian?

Zakat fitrah. Membawa yang melaksanakannya kembali kepada fitrah. Fitrah? Ya, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih, seperti lembaran kertas putih, menurut kata ulama. Lembaran kertas yang dapat ditulisi apa saja? Yang dapat dilipat ke dalam bentuk apa saja? Yang dapat dibakar hingga tak berbekas? Mengapa tidak terlahir bagaikan lantai yang putih, setidaknya jika terbakar hingga gosong pun masih bisa digosok sekeras-kerasnya agar kembali menjadi putih. Kertas terbakar berubah menjadi putih bersih? Perlu tukang sulap rasanya.
Mungkin Rasulullah atau bahkan Allah subhanahu wa taala sendiri yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah sarana pembersihan dosa. Benarkah? Segala yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya adalah selalu benar adanya, bukan begitu?

Zakat fitrah, sarana pembersihan dosa. Dosa yang BOLEH diulang-ulang karena memang sudah tersedia alat pembersihnya, begitukah? Ibarat lantai putih yang kita injak dengan sepatu kotor, lalu dipel kembali, lalu diinjak kembali dengan sepatu kotor, dipel kembali dan begitu seterusnya . Mengapa kita tidak belajar daripadanya dan membersihkan sepatu setiap kali akan menginjak lantai. Menjaganya agar tetap bersih. Membersihkan lantai secara teratur bukan karena selalu kotor terinjak tapi karena memang kita mencintai kebersihan, mencintai lantai yang tampak rupawan jika berada dalam keadaan bersih. Seperti zakat fitrah yang dilaksanakan karena kita mencintai Allah dan takut kepada-Nya, bukan karena ingin kembali menjadi bersih dari dosa karena memang sudah kita jaga semampu kita untuk terhindar dari padanya.

Entahlah, mungkin kini saatnya Ulfa mulai berteriak dengan gembira: Zakat fitrah. Zakat fitraaaah.


Zakat Fitrah: Sesuatu yang Istimewa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesebelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Diana Jirjis.

Tulisan ini mencoba mengungkap pernak pernik zakat fitrah, lebih-lebih yang berkenaan dengan sisi fiqhnya. Terima kasih yang dalam kepada guru-guruku, especially gus Ghofur, pak Sahiron, pak Mustaqim yang telah memperbolehkan saya untuk berani-beraninya (baca: wani-wanine) merangkum pelajaran dari mereka.Ihdinash shiraathal mustaqiim.

Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung.

Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan zakat-zakat lainnya yang lebih berfungsi untuk “membersihkan harta”, zakat fitrah adalah satu-satunya zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk “menyucikan jiwa”. Oleh karena itu, zakat fitrah tidak saja diwajibkan bagi mereka yang kaya, akan tetapi juga bagi mereka yang kurang berkecukupan. Jadi meskipun orang itu ‘miskin’ menurut kategori umum, dia tetap wajib membayar zakat fitrah namun dia pun berhak menerima zakat fitrah.

Zakat fitrah selain berfungsi melengkapi puasa Ramadhan, juga berfungsi menyambut lebaran Idul Fitri. Karena itu, fungsi kedua dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin. Dua hikmah ini, dengan baik disampaikan oleh Ibn Abbas: “RasululLah men-fardhukan zakat fitrah untuk menyucikan diri seorang yang puasa dari al-laghw dan rafats, dan untuk memberi makan orang-orang miskin.”
Fungsi kedua dari zakat fitrah ini meniscayakan pendistribusian zakat tersebut untuk fakir miskin, agar di hari raya idul fitri mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya, tidak bersedih karena tidak bisa makan di hari itu. Meskipun di dalam ayat tentang zakat disebutkan ada 8 kelompok mustahiq zakat, namun khusus untuk yang zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir miskin.

Siapa aja yang harus berzakat fitrah?

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak) sebagaimana diungkapkan Ibn Umar, dalam riwayat Imam Bukhari: RasululLah men-fardhukan zakat fitrah, satu “shaa” dari kurma, atau satu “shaa” dari biji sya’ir, kepada orang yang bebas dan seorang hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dewasa dari mereka yang beragama Islam. Syarat wajib lainnya adalah muslim tersebut sempat menyaksikan Ramadhan dan malam 1 Syawal juga mempunyai kelebihan rizki untuk mengeluarkan zakat fitrah, paling tidak ketika di malam 1 Syawal. So, bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di hari terakhir Ramadhan juga termasuk wajib zakat.

Berapa ukuran zakat fitrah?

Zakat fitrah ini tujuan utamanya untuk mengenyangkan fakir miskin sehari saja, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Karena itu besarnya pun tidak seberapa. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, ”RasululLah men-fardhukan zakar fitrah dari Ramadhan, satu “shaa” buah korma atau satu “shaa” dari biji sya’iir. ” Hadits ini menjadi pijakan mayoritas ulama dalam menentukan kadar zakat fitrah, yakni satu shaa’ dari makanan pokok setempat.
Berapa satu shaa? Satu shaa sama dengan empat “mud”. Satu mud sama dengan 0. 688 liter. Jadi satu shaa adalah 2. 752 liter. Demikian ukuran yang dapat dilacak dari batasan Nabi. Beliau tidak menggunakan ukuran berat (kilo), tapi volume (liter). Batasan yang demikian ini kemudian memang menyulitkan, karena tidak setiap bahan makan sama beratnya. Dengan asumsi densitas beras lebih besar daripada kurma tentunya satu liter beras akan lebih berat dari satu liter kurma. (belom lagi kalo kurmanya gedhe-gedhe sehingga porositas bulknya besar :))
Maka dapat dimengerti jika ukuran zakat fitrah diperselisihkan di antara ulama. Tapi ada satu hal yang tak perlu diperdebatkan, yakni diperbolehkannnya membayar lebih dari batas ketentuan, bahkan sudah barang tentu dianjurkan.

Bisa ga membayar dengan uang?

Di berbagai negara Islam, zakat fitrah tidak dikeluarkan dari bahan makanan, akan tetapi dari nilai tukar (qiimah) bahan makanan tsb. Selain memudahkan si pembayar zakat, mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai juga dipandang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Walaupun pendapat diperbolehkannya membayar nilai tukar hanya diwakili oleh madzhab Hanafi, namun perkembangan di tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai kalangan justru memilihnya. Sementara madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali, yang melarang pembayaran tersebut tidak lagi banyak dijalankan.

Dari sudut pandang fiqih humanis kontemporer, perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah yang dianjurkan senilai dengan yang dimakan setiap orang dalam sekali makan, memiliki pesan dinamik karena daya konsumsi makan masing-masing orang berbeda. Tentunya tidak adil bila seseorang yang biasa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan hanya membayar zakat fitrah senilai satu shaa bahan makanan. Bukankah dia juga bakal males kalau disuruh makan yang hanya senilai satu shaa bahan makanan?

Kapan musti bayar?

Zakat fitrah diwajibkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan untuk menyambut Idul Fitri. Karena itu, diwajibkan setelah berakhirnya puasa, dan memasuki Idul Fitri. Disunahkan membayarnya pada hari Idul Fitri sebelum salat Id berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Rasulullah saw. memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum orang berangkat salat.” (H.R. Jamaah).

Sebagian ulama menetapkan permulaan waktu zakat fitrah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan sebagian lain menetapkannya setelah terbit fajar di pagi harinya (tgl 1 Syawal). Sementara waktu akhir pembayaran, sebagian ulama menutupnya hingga salat Id, dan sebagian lain memperpanjang hingga sehari penuh di hari lebaran. Pengeluaran zakat setelah itu dianggap qadha, seperti menjalankan salat subuh setelah terbitnya matahari.

Gimana kalo bayar zakat fitrah sebelum berakhirnya bulan Ramadhan?
Diantara ulama yang mempelopori tidak diperbolehkannya pembayaran zakat sebelum waktunya adalah Imam Ibn Hazm. Menurutnya, tak satupun zakat yang diperbolehkan mengeluarkannya sebelum waktu. Memang afdhalnya zakat fitrah dibayarkan setelah berakhirnya bulan puasa dan memasuki Idul Fitri namun pada prakteknya berbagai kalangan sahabat justru tidak melakukannya sehingga pendapat Ibn Hazm banyak ditinggalkan.

Namun begitu, para ulama yang memperbolehkan “ta’jil” (membayar zakat lebih awal dari waktunya) berselisih pendapat mengenai batas waktunya. Imam Syafi’i memperbolehkan pembayaran zakat sejak awal Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu dari dua sebab zakat. Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik membatasinya hanya satu-dua hari menjelang Idul Fitri. Sebagian Malikiyah membatasinya dengan tiga hari menjelang Id. Sebagian Hanabilah, memperbolehkan pembayaran zakat hingga pada pertengahan bulan Ramadhan.

Melihat pendapat-pendapat yang ada ini, mungkin bisa ditawarkan sbb: 1. Panitia bisa memungut harta zakat mulai pertengahan bulan. Lebih mendekati hari raya lebih baik. 2. Harta zakat didistribusikan kepada fakir-miskin (diterima oleh mereka) di hari lebaran, atau menjelang lebaran pada kisaran 1-2-3 hari. Lebih dekat kepada Idul Fitri semakin baik karena tujuan zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan di hari lebaran.

Bolehkah membagikan zakat ke luar daerah dimana zakat dipungut?
Bisa dikemukakan bahwa pola distribusi zakat mengikuti sistem “otonomi daerah”. Harta yang dihasilkan satu daerah pendistribusiannya diutamakan untuk daerah itu sendiri seperti tertuang dalam hadits “Zakat itu diambil dari orang kaya di kalangan mereka dan dikembalikan (dibayarkan) kepada kaum fakirnya”.

Dalam satu riwayat, RasululLah saw. mendelegasikan sahabat Muadz bin Jabal, untuk menarik harta zakat dari orang-orang kaya di daerah Yaman, dan membagikannya kepada kaum fakir miskin di daerah tersebut. Kebijakan RasululLah ini, yang memerintahkan agar membagikan harta zakat kepada fakir-miskin dimana zakat dipungut, juga dijalankan sahabat Muadz saat ia menjadi pejabat di masa Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab ra. Namun pada suatu ketika, di era Umar ra, ia mengirimkan harta zakat ke Madinah, pusat pemerintahan Umar ra. Mula-mula Umar ra menolaknya, namun kemudian menerimanya setelah Muadz ra. menyatakan bahwa dia tidak menemukan seorangpun yang berhak menerima zakat di Yaman.

Riwayat di atas, menjadi rujukan ulama untuk menentukan hukum boleh-tidaknya, dan juga sah-tidaknya, memindahkan harta zakat dari tempat dipungut ke tempat yang lain. Secara umum, bolah boleh saja mengalihkan zakat fitrah ke luar tempat tinggal orang yang mengeluarkannya bila di negeri itu terdapat orang yang lebih membutuhkan dan jika hal tersebut dapat mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi kaum muslimin, atau jika lebih dari kebutuhan kaum fakir yang ada di negerinya.

Soooo… gimana dooong?

Skema pembayaran zakat fitrah sebagaimana yang ditawarkan KZIS cabang Belanda yaitu: membayar zakat fitrah di Belanda, tempat dimana kita mukim saat ini, dengan qiimah (nilai tukar) sebesar minimal 8 euro (angka ini merupakan kesepakatan yang diperoleh dari biaya rata2 sekali makan lengkap di Belanda) dan didistribusikan di Indonesia, insyaAllah sah dan sudah tepat. Semoga zakat fitrah kita penuh dengan hikmah. Allahu alam bish shawaab.

Naaa apalagi yang dinanti? Cepetan bayar zakat fitrah yaaaa jangan sampai ketinggalan :)


Sepertiga Terakhir

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesepuluh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Elfahmi Yaman.

Waktu berjalan sangatlah cepat, terasa belum begitu lama kita berbicara tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan, ternyata sekarang sudah memasuki pertigaan terakhir, sepertiga bulan yang menurut para ulama dalam menukil hadist adalah waktu ditutupnya pintu neraka. Lalu bagaimana dengan pertigaan pertama dan kedua yang sudah berlalu. Apakah kita bisa merasakan sepertiga awal sebagai masa mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT ?, begitu juga dengan sepertiga kedua, apakah kita bisa merasakan meraih ampunan (maghfirah) atas dosa-dosa yang telah sengaja atau tidak, melumuri diri ?. Allahu ‘alam, Allah lah yang maha tahu, karena ini memang hak “mutlak” dari Sang Pencipta. Yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-qur’an dan hadist Rasullullah serta penjelasan para ulama. Namun proses evaluasi (mutaba’ah) tentu kita bisa lakukan merujuk kepada parameter-parameter yang dijelaskan dalam petunjuk-petunjuk tersebut. Hari demi hari kita lalui dengan berbagai aktivitas seperti biasa, sekolah, bekerja, menulis, berkarya, beribadah, membaca. Barangkali dengan intensitas yang lebih kuat demi berupaya menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Pada suatu kesempatan seorang guru menganalogikan keberhasilan seseorang dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan itu dengan hitungan matematik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rumus integral, diferensial, atau apalah namanya yang rumit-rumit. Andaikan “kualitas” iman, ibadah, kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan bisa dinilai dengan angka 5, maka saat berproses selama bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah yang meningkat, itupun kalau dilakukan dengan niat ikhlas maka nilai meningkat menjadi 15 diakhir bulan. Selanjutnya sebagaimana biasa setelah bulan puasa intensitas ibadah berkurang, tidak ada lagi puasa wajib, taraweh dan lain-lain sehingga berkurang menjadi 12 atau 10. Sang guru berkesimpulan bahwa yang demikian ini berarti berhasil meraih keutamaan bulan Ramadhan. Yang sering terjadi adalah nilai tersebut berbalik kembali ke jumlah semula, atau malah lebih kurang ?. Pertanyaan kritis yang juga sangat sederhana muncul, terus bagaimana mengukurnya sehingga keluar angka-angka kuantitatif tersebut. Nah disinilah masaalahnya karena itu merupakan ketetapan Allah SWT terhadap individu. Sang guru kemudian melanjutkan bahwa individu tersebut sebenarnya bisa merasakan perubahan dalam dirinya sendiri, misal mulai dari semakin sensitifnya diri dalam menindak lanjuti kebaikan-kebaikan dan sebaliknya, semula susah sabar menjadi relatif lebih bisa mengontrol emosi, jadi lebih takut kepada Allah SWT dalam melakukan berbagai tindakan.

Perubahan-perubahan yang dirasakan ini dengan sendirinya berpengaruh keluar diri sehingga memberikan manfaat kepada orang lain. Sebuah pertanyaan “nakal” menghampiri benak walau tidak sampai pada sang guru. Bagaimana kalau sebelum Ramadhan korupsinya M-M an, terus puasa dan setelah lebaran korupsinya berkurang jadi J-J an, apakah termasuk berhasil meraih keutamaan puasa ?. Lha, jelas saja tidak, karena berapapun jumlahnya korupsi itu tetap dilarang karena memakan yang bukan hak. Kalau begitu betapa banyak yang berpuasa namun tidak meraih keutamaannya, seperti sebuah hadits bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Buktinya memerangi korupsi di Indonesia sangat sulit sekali bahkan banyak orang yang sudah pesimis terhadapnya. Belum laginya yang namanya “korupsi non materi”.

Kembali kepada evaluasi (mutaba’ah), tentu merupakan suatu yang urgen dilakukan, karena dengan demikian bisa diketahui pencapaian-pencapaian dari target yang telah ditetapkan. Sebuah penelitian butuh pertemuan pihak terkait sekali seminggu dengan memaparkan apa yang telah dilakukan, bagaimana hasilnya, kenapa ada kendala serta berbagai pertanyaan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk masa selanjutnya. Kalau proses evaluasi tidak dilakukan maka sulit mengukur sudah sampai dimana pencapaian target. Cukupkah waktu 7-8 hari ini bisa melengkapi “nilai” puasa sebagai sebuah hasil mutaba’ah 22 hari yang lalu ? Semoga Allah SWT “melembutkan hati ini” sehingga senantiasa selalu terbuka menerima kebaikan-kebaikan serta tergerak melkukannya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan energi dalam rangka berlari mendekati-Nya, Amiin.


Backpacking Around?

Filed under Traveling Club

Oleh Tukang Bola (Ario) dan istri tercinta (Ratih)

Download file

Kuliah di Belanda kurang lengkap rasanya kalau belum mengunjungi negara sekitar. Maklum, negara-negara tetangga sudah tidak asing lagi di telinga kita. Nah permasalahannya adalah bagaimana cara mengunjungi negara-negara tersebut dengan dana dan waktu yang terbatas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, coba susun skala prioritas. Pada kesempatan kali ini, saya (tukang bola) dan istri tercinta ingin sekali mengunjungi negara-negara eksotis seperti Spanyol dan Italia. Jadi prioritas utama kami adalah kedua negara tersebut. Tetapi mengingat luas dan biaya yang harus kami keluarkan di kedua negara tersebut, kami kecilkan lagi skala tersebut menjadi negara mana yang akan kami luangkan lebih banyak waktu mengingat keterbatasan waktu dan biaya yang kami miliki. Secara singkat, kami menyusun beberapa rencana sebelum berangkat agar biaya dan waktu perjalanan tidak melewati batas yang kami anggarkan yang ada dalam poin-poin berikut ini:

1.Rencanakan minimal dua bulan sebelum keberangkatan
2.Batas waktu yang kami miliki (misalnya 1-2 minggu)
3.Biaya yang kami miliki (misalnya ?550/ orang, all in)
4.Negara(-negara) tujuan (misalnya Spanyol, Italia) dan rute perjalanan
5.Bagaimana sampai di sana dan kembali (pesawat, kereta, bis) dan biaya
6.Tinggal di mana nanti (hotel, hostel/ pension, camping, youth hostel) dan biaya
7.Biaya sekunder (makan, transportasi dalam kota, tiket masuk museum, oleh-oleh)
8.Apa saja yang akan dikunjungi
9.Apa saja yang perlu dibawa terutama uang atau kartu atm
10.Re-check

Setelah menentukan batas waktu dan anggaran biaya total yang kami miliki, kami mencoba untuk mencari informasi mengenai negara-negara yang akan kami kunjungi melalui internet. Informasi-informasi tersebut adalah mengenai peta (untuk setidaknya mengetahui berapa luas kota tersebut), alamat kantor informasi turis di negara tersebut, dan daftar-daftar hostel di negara tersebut.

Setelah memperoleh informasi umum yang diperlukan, perburuan tiket pesawat murah kami lakukan. Untuk tujuan Spanyol dan Italia sebenarnya kami tidak merekomendasikan untuk menggunakan bis. Memang terkadang lebih murah tetapi trade-off-nya adalah waktu tempuh dan stamina yang terkuras karena duduk terlalu lama. Sedangkan kereta hanya kami rekomendasikan untuk tujuan Italia. Selain lamanya waktu perjalanan, biaya yang harus dikeluarkan jika hendak bepergian ke Spanyol dengan menggunakan kereta api sangatlah tinggi. Saya punya pengalaman ditertawakan oleh petugas NS saat menanyakan biaya kereta api ke Spanyol. Tanpa basa-basi petugas tersebut mengatakan “you better take the plane.” Karena ingin tahu saya tanyakan lagi berapa kira-kira biayanya. Edan! Sekitar 500 euro sampai Barcelona, belum lagi pergantian keretanya.

Pesawat
Diurutkan berdasarkan pengalaman atas kenyamanan (***).

Basiq air *** http://www.basiqair.com/
Transavia *** http://www.transavia.nl/
Ryan air * http://www.bookryanair.com/skylights/cgi-bin/skylights.cgi?language=EN

Budget air lainnya:
Easyjet http://www.easyjet.com/en/book/index.asp
Air Berlin http://www.easyjet.com/en/book/index.asp

Atau bisa juga melalui situs penjualan tiket online seperti:
ATP http://online.atp.nl/tc.dll?ac=return&tid=atpen
Vliegwinkel http://www.vliegwinkel.nl/default.aspx?language=EN

Dalam memilih pesawat perhatikan juga :
1.Waktu keberangkatan pesawat
2.Lokasi keberangkatan

Pengalaman saat nonton Euro 2004 di Portugal, pesawat Transavia berangkat dari Schiphol menuju Faro (Portugal) jam 7 pagi sehingga saya terpaksa tidur di bandara karena kereta paling pagi dari Groningen baru sampai Schiphol sekitar jam 8 pagi. Demikian juga di Roma Ciampino, saya dan istri harus tidur di trotoar yang berdebu dan dingin karena airport harus dikosongkan setelah jam 12 malam. Hal lainnya adalah biaya dari Groningen menuju kota keberangkatan. Contohnya Eindhoven, walaupun pesawat lebih murah beberapa sen, biaya kereta dari Groningen menuju Eindhoven akan lebih besar jika berangkat dari Rotterdam, misalnya. Tetapi hal ini juga ditentukan oleh ketersediaan pesawat. Pemesanan online dan kartu kredit adalah mutlak! Mengakalinya adalah dengan meminjam kartu kredit teman atau keluarga dan menggantinya dengan uang tunai.

Kereta
Tentu saja penghitungan biaya dimulai sejak dari Groningen, dengan demikian NS juga harus masuk dalam perhitungan biaya.

Belanda (NS) http://www.ns.nl
Italia (Trenitalia) http://www.trenitalia.com/home/en/index.html
Spanyol (Renfe) http://horarios.renfe.es/hir/ingles.html
Jerman (DB) http://www.bahn.de/pv/view/int_guest/subhome/international_guests.shtml
Dan lain-lain

Perjalanan antar kota dalam negeri dengan menggunakan kereta biasanya sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan bis. Jika hendak bepergian antar negara dengan menggunakan kereta sebaiknya pilih kereta malam sehingga bisa menghemat biaya penginapan. Biasanya ditawarkan tiket yang berlaku untuk beberapa waktu tertentu dengan biaya yang lebih murah (paket). Di Jerman, jika bepergian dengan 5 orang akan lebih murah jika dibandingkan dengan 1 atau 2 orang. Tiket kereta bisa dibeli langsung di loket atau mesin-mesin tiket yang tersedia di stasiun kereta. Jangan khawatir, pada umumnya mesin juga memiliki fitur bahasa Inggris. Penjaga loket pun pada umumnya mampu berbahasa Inggris.

Bis
Eurolines http://www.eurolines.com/

Pada umumnya perjalanan antar negara paling murah adalah dengan menggunakan bis (asumsi tarif normal). Hanya, konsekuensinya adalah waktu tempuh yang relatif lama. Seperti halnya kereta, bis juga menawarkan paket perjalanan dengan wilayah dan biaya tertentu.

Tempat Tinggal
Untuk memperlancar dan mempermudah perjalanan ada baiknya untuk memesan tempat tinggal jauh hari sebelum perjalanan terutama saat musim panas. Karena memang kami berdua dasarnya gila, kami tidak pernah memesan hostel sebelum berangkat. Alasannya karena kami tidak pernah bepergian saat musim panas dan kami selalu yakin untuk mendapat kamar ketika tiba di tempat tujuan. Gila kan.

Jika diurutkan dari yang paling murah, maka urutannya adalah sebagai berikut:
1.Camp site (biasanya camp site juga menyediakan kamar, bahkan private)
2.Youth hostel (mulai dari dorm hingga private)
3.Pension, budget hotel, dan kamar penduduk (khusus Portugal)
4.Hotel

Untuk mempermudah, link untuk melihat ketersediaan youth hostel adalah sebagai berikut:

http://www.hostelworld.com/
http://www.hostels.com/

Kebetulan, saat perjalanan ke Barcelona-Girona-Venice-Florence-Pisa-Roma-Paris, kami menemukan beberapa alternatif cukup murah untuk menginap:

Barcelona Usahakan dekat La Rambla. Yang kami tempati adalah rumah:
Ms. Jasmine, Calle Carassa 4 # 4.2, akses dgn metro Jaume I nomer HP (kode negara) 628049579

Venice Camping Fusina: http://www.camping-fusina.com/main.htm atau Casa Chiumento, Santa Croce 1465, San Giacomo dell’Orio, Corte Scura, nomer telepon (+41)5240054, email [email protected]

Florence Siggiorno Livi (Mrs. Livi), Sleep in Florence, Via Faenza #20, 50123, Firenze atau Siggiorno Burchi, Via Faenza #20, telepon (+41)55268481-414454, fax (+41)55268481

Rome Hotel dan hostel banyak ditemui di daerah dekat Termini Station Roma. Untuk list hostel dan hotel dapat meminjam dan men-copy dari saudara Buana Girisuta.

Paris Hotel dengan harga hostel adalah Formule 1 Hotel. Untuk booking dapat dilihat di:
http://www.hotelformule1.com/formule1/index.html sebaiknya ambil yang beralamat di Paris Porte de Montreuil (Metro line 9). Jika ingin lebih dekat ke pusat kota Paris silakan cari hotel atau hostel di daerah Gare du Nord. Lokasi ini juga berdekatan dengan La Fayette.

Perjalanan
Jangan membawa barang terlalu banyak. Barang yang umumnya dibawa:
Paspor (biasanya kami tinggal di kamar hotel) dan kartu izin tinggal
Dokumen perjalanan (bukti pemesanan dan tiket) dan ISIC card
Peta (bisa diambil di tourist information, usahakan yang ada nama jalannya)
Pakaian (kami hanya bawa 4 potong - termasuk yang dipakai selama seminggu, pakaian dalam, jaket, dll)
Makanan secukupnya (jika ingin menghemat jangan makan di luar terlalu banyak terutama di Italia yang ada ongkos duduknya! Makanan bisa beli di Aldi atau Lidl, atau di supermarket di tempat tujuan, roti perancis yang keras dan panjang itu menjadi pilihan yang bagus karena kerasnya dan tahan lama untuk mengganjal perut)
Obat-obatan (paling penting hansaplas untuk jaga-jaga kapalan atau lecet di kaki)
Peralatan dokumentasi (kamera dan atau handycam, jangan lupa chargernya, special untuk Itali memerlukan colokan listrik yang khusus)
HP (jangan lupa chargernya)

Jika memutuskan untuk melakukan perjalanan tanpa melakukan pemesanan hotel terlebih dahulu, sebaiknya simpan barang di tempat penyimpanan barang di stasiun kereta supaya tidak mencari hotel dengan beban yang berat. Usahakan untuk selalu berangkat pagi jika ingin melihat obyek-obyek wisata karena belum terlalu penuh dan tidak perlu mengantri untuk naik transportasi umum.

Barcelona Jika menggunakan Basiq air atau Ryan air dengan tujuan Girona, setelah mendarat silakan ambil bis dengan tujuan Girona airport-Girona (return ticket open date lebih murah jika kembali dari bandara yang sama). Dari Girona ambil kereta (Renfe) tujuan Barcelona. Pembelian tiket bisa dilakukan di loket maupun mesin tiket. Silakan minta yang paling murah (regional).
Di Barcelona, untuk mempersingkat waktu perjalanan silakan ambil tiket metro T-10 berlaku untuk 10 kali perjalanan.
Karena kami memiliki waktu dan keuangan yang terbatas, kami hanya mengunjungi Parc Guell (gratis kecuali museumnya), Sagrada Familia (tidak masuk karena menghabiskan waktu dan mahal), La Rambla dan sekitarnya, dan Port Vell. Jangan lupa makan Paella (nasi goreng seafood khas Spanyol). Kami mengunjungi sebuah restoran yang disarankan oleh Ms.Jasmine, lokasinya dekat tempat tinggal kami di Barcelona, sekitar Gothic Youth Hostel. Tempatnya bagus, mewah dari luar tapi harga makanannya tidak mahal. Untuk paella hanya max 10 euro. Katanya restoran ini tidak akan buka kalau mereka tidak mendapatkan ikan segar dari laut.
Jika masih ada waktu saat kembali ke Girona, jangan lupa untuk menyisakan waktu di kota tersebut. Kota tersebut merupakan kota tua Yahudi dan menurut kami sangat indah.

Venice Silakan naik water bus menuju Piazza San Marco pada saat matahari terbit dan berjalan kaki untuk kembali ke arah stasiun kereta melalui jembatan Rialto. Di Italia kami tidak masuk museum sama sekali karena harus bayar. Jangan lupa makan es krim saat di Italia!

Florence Kotanya sangat kecil dan merupakan tempat yang cocok untuk belanja barang bermerek maupun khas Italia (kulit). Tidak perlu menggunakan kendaraan umum untuk berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Kami tidak menghabisakan banyak waktu di kota ini karena menurut kami kurang menarik (berbeda tiap orang). Menurut kami Prato (selatan Florence) merupakan kota yang lebih indah karena terletak di pegunungan.
Jika masih memiliki waktu silakan mengunjungi Pisa karena letaknya sangat dekat dengan Florence dan tidak menghabiskan banyak waktu (obyeknya hanya menara Pisa).

Roma Roma adalah kota yang tidak bisa dikunjungi hanya dalam satu hari. Luangkan paling tidak dua hari di kota yang indah ini. Jika masih ada biaya silakan ambil Trampbus Open untuk mengelilingi kota Roma. Tiket berlaku selama satu hari (bis terakhir berangkat jam 8 malam). Karena kami hanya punya waktu satu hari di kota tersebut, kami mengkalinya dengan mengikuti rute Trampbus tersebut. Pertama-tama kami turun di Vatican, lalu kembali naik Trampbus dan turun di tempat dekat Spanish Steps (hanya bagus saat musim panas). Kunjungan berikutnya adalah Trevi Fountain (kalau mau lempar koin silakan). Menjelang sore, setelah tidur-tiduran di Termini Station, kami kembali naik Trampbus menuju tempat dekat Pantheon. Kami sengaja menunggu matahari terbenam di Colloseum dan Foro Romano. Kalau mau cepat dan murah silakan menggunakan metro.

Paris Metro adalah sarana transportasi paling ekonomis menurut pendapat kami. Memang cukup “ribet” tapi tetap saja gampang. Karena kami tinggal dekat Gare du Nord, kunjungan pertama kami adalah Sacre Coeur/ Mont Marte. Setelah itu kami mengambil metro dengan tujuan Louvre dan sekitarnya (jika ini adalah kunjungan pertama menuju Paris mungkin sebaiknya mulai dengan Notredam dan berjalan melaui Louvre/Camps Elysees menuju Arc de Triomp atau sebaliknya). Setelah itu kami mengunjungi Eifel (efek lampunya baru dan hanya menyala sekitar 15 menit setiap jam) melalui Defense hingga Trocadero. Kami tidak mengunjungi Versailles (musim panas sangat indah) karena jauh dan cuaca buruk.

Untuk lebih detailnya, kami membuat sebuat tabel (time table) dan biaya aktual perjalanan seperti yang tercantum di halaman berikut ini (Dari total pengeluaran yang dianggarkan, kami masih berhasil menekan pengeluaran sebesar ?61.11 di bawah anggaran pengeluaran kami):

Jika ada pertanyaan, bisa ditanyakan langsung lewat email [email protected], [email protected], atau telepon langsung HP (+31)645560107.

Time Table Spain-Italy-France, October 2004