Archives for September, 2004

Doa Khatam Quran

Filed under Renungan & Hikmah

Allahummarhamni Bil Quran
Waj’alhu lii Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah
Allahumma Dzakkirni Minhu maa Nasiitu
Wa’allimni Minhu maa Jahiiltu
Warzuqnii Tilaawatahu
Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari
Waj’alhu lii Hujjatan
Yaa Rabbal ‘Alamin

Ya Allah Kasih Sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan karuniailah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

Ya Allah Tuhan semesta alam


Sound of a mother

Filed under Catatan Pribadi

I go to the hills when my heart is lonely
I know I will hear what I’ve heard before
My heart will be blessed with the sound of music
And I’ll sing once more

Maria: “I can’t seem to stop singing whatever I am! And whats worse, I can’t seem to stop saying things-anything and everything I think and feel!

“Sound of music”, aku suka film ini. Mengingatkanku ketika kegelisahan itu muncul dalam benakku. Kegelisahan yang sama dengan Maria ketika dia merasa berbeda dari teman-temannya di biara, ketika dia selalu ingin bernyanyi, dan tak bisa berhenti berbicara. Suatu hal yang tabu dilakukan oleh seorang wanita calon biarawati.

Kegelisahan yang sama?…ya kegelisahan yang membuat aku merasa berbeda dari para ibu pada umumnya. Aku sangat-sangat bersyukur ketika Allah memberiku bayi mungil yang terlahir dari rahimku. Aku nikmati peran sebagai ibu dengan segala rasa syukur yang ada. Sempat terbersit dalam batin untuk tidak saja cuti kerja tapi juga berhenti. Namun, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui, semuanya menjadi berbeda. Kenapa aku merasa bosan, kenapa aku merasa jenuh, kenapa aku menjadi sensitif, kenapa aku jadi marah-marah melulu. Semua rutinitas ini seperti membuatku ‘mati’. Aku rindu bertemu pasienku, aku rindu mendengarkan seminar kedokteran, aku rindu kawan-kawanku. Aku rindu semua…kerinduan yang dalam untuk selalu berpikir dan bertemu dengan sesuatu yang baru.

Mengapa perasaan ini muncul dan terus menderaku ya Allah, salahkah aku? Bukan istri yang sholeh kah aku? Ibu yang jahat kah aku sehingga tidak bisa menikmati peran yang baru saja kujalani beberapa bulan? Wanita lain bisa menikmati peran ini kenapa aku tidak? Apakah aku wanita yang terlahir dengan abnormalitas tinggi sehingga aku merasakan semua ini? Lantas, kenapa pula Kau biarkan aku diterima di Fakultas Kedokteran? Kenapa Kau luluskan semua keinginanku untuk selalu mengikuti kegiatan ini dan itu. Ketika kawan-kawanku sibuk belajar di rumah, aku malah sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung mencari dana, bersama teman-teman seperjuangan menculik mobil bapakku dan membawanya ke Jakarta tanpa ijin. Saat pihak Fakultas tak mengijinkan pergi liburan dengan bis Fakultas sewaktu semua peserta sudah kadung menunggu, aku dan teman-teman nekat pergi . Lagi-lagi ‘menculik’ beberapa mobil dan tak satupun mobil dikendarai pria, hanya untuk sekedar menikmati pangandaran bersama teman-teman. Banyak orang geleng-geleng kepala, tapi kami selalu bilang inilah yang namanya hidup, seru, penuh warna, penuh tantangan dan penuh kejutan.

Nyatanya lagi, semua itu sangat membantu ketika aku menjalani profesiku. Aku bertemu dengan banyak orang, banyak karakter, mengambil keputusan ketika bayi dihadapanku sudah membiru dan bernafas satu-satu, harus mengkhitan seorang anak yang penisnya terjepit resleting tanpa ada siapapun yang membantuku. Hm..semuanya kadang membuat adrenalin meningkat, but… I love it and enjoy it.

Aku tidak pernah meminta semua ini Tuhan. Salahkah aku ketika semua perasaan itu menghantuiku, abnormalkah aku Tuhan? Aku cinta keluargaku, aku cinta suami dan anak-anakku, aku syukuri semuanya. Bayi mungil ini amanahMu ya Allah, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Tapi mengapa ??? Hmmh….jangan-jangan…aku memang betul-betul abnormal. Kalau begitu aku harus berubah, aku harus menghilangkan semua perasaan itu. Ya…aku harus berubah!.

Lalu, aku pergi ke toko buku, aku ikuti semua seminar tentang pengasuhan anak yang terbaru, dan aku coba untuk menerapkannya pada anakku. Semua berkata sama, bersyukurlah telah menjadi ibu yang bisa menemani masa golden periode anak. Bersyukurlah dan bersyukur itu lah yang aku coba lakukan. Namun mengapa perasaan rindu itu tak kunjung hilang Tuhan, perasaan itu datang dan pergi bersama warna-warninya kehidupan. Aku ingin melenyapkannya Tuhan! kenapa aku tak bisa???

Aku percaya, tidak ada sesuatupun yang terjadi karena kebetulan di dunia ini. Aku kembali mencari, dan Allah yang Maha Baik memberikan aku sebuah jawaban. Ternyata aku bukan wanita yang abnormal, ternyata bukan hanya aku yang gelisah, ternyata… aku tidak sendirian.. Aku bertemu dengan buku itu, buku ‘Ketika Ibu Harus Memilih’ milik Susan Chira. Dia berkata dalam bukunya “Selama bertahun-tahun saya mengira hanya bisa memilih salah satu : pekerjaan atau anak-anak. Dan saya membiarkan kekhawatiran yang muncul itu menekan hasrat saya untuk menjadi seorang ibu. Kemanapun saya menengok, dan apapun yang saya baca dan hampir semua orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa saya menginginkan sesuatu yang mustahil-yakni bekerja dengan baik sekaligus menjadi seorang ibu yang baik. Saya terus berusaha mengabaikan suara hati saya hampir sepanjang hidup…”

Backcover buku itu berbicara, ‘Anda tak perlu heran jika kegelisahan Susan Chira tersebut juga menjadi kegelisahan anda. Para ibu masa kini memang seolah serba salah. Masyarakat cenderung menyepelekan ibu yang tinggal di rumah, namun disisi lain juga menuduh para ibu bekerja telah menelantarkan anak-anak mereka. Dalam buku ini, wartawan senior New York Times, Susan Chira, menyajikan berbagai fakta dan hasil penelitian yang membuatnya mampu mengikis kegelisahan itu, membuat perspektif baru yang menjawab kebimbangan para ibu: bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri tak terabaikan.’

Eureka! Begitu rasanya ketika membaca buku ini, seperti mendapatkan pembenaran untuk bisa melenggang kangkung pergi bekerja. Namun ternyata teman-teman yang kontra malah berkata sebaliknya, ‘Dia itu feminis Nes, bukan muslim, kenapa kamu begitu saja percaya dengan penelitiannya’. Hmh..lagi-lagi kepala ini dibuat pusing tujuh keliling. Hanya doa yang aku bisa panjatkan ya Allah semoga Engkau memberi jawaban. Beberapa buku aku cari lagi, entah mengapa semua buku yang aku temui bersuara sama, seorang ibu harus bahagia, tidak merasa bersalah atau menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan batinnya agar bisa mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan baik, itu kata kuncinya.

Perenungan yang dalam, tidak ingin kehilangan masa emas anakku yang tak kan terulang, membuat aku memutuskan untuk tidak PTT, tetapi tetap bekerja pagi-sore di klinik dekat rumah , dan sempat juga di sebuah rumah sakit. Semua membuatku puas, anak-anakku tidak terlantar, dan batinku terpuaskan. Sampai akhirnya suamiku membawa berita bahwa dia akan mengajakku ke negeri Belanda.

Wow senang dan bangga tentu saja, bisa melihat dunia lain yang diimpikan oleh banyak wanita di negeriku. Tetapi aku kembali dihadapkan pada sebuah kegelisahan, siapkah aku meninggalkan pekerjaanku dan semua milikku yang aku cintai di tanah airku? Beranikah aku mengambil sebuah keputusan untuk lebih memilih keluarga ketimbang karir, kepuasan batin, dan keinginan untuk melanjutkan sekolah yang selalu mengembara dalam kepalaku? Diskusi panjang dan perenungan yang dalam kembali aku lakukan, sambil berdoa kepada Tuhan semoga aku diberi jalan terang untuk memilih.

Sekian lama berpisah dengan suamiku akibat rumitnya urusan visa merupakan jawaban Tuhan. Ternyata apapun yang terjadi tidak ada yang dapat memisahkan kami. Janji hidup bersama didepanNya, dan pemberian amanah dua bocah mungil yang masih dalam periode emas ini menjadi alasan yang tak terbantah bagiku untuk tetap pergi kemanapun suamiku pergi. “Rumahku adalah dimana suamiku berada “. Itulah jawaban yang diberikan Tuhan dari segala penderitaan yang muncul ketika aku harus berpisah dengan suamiku. Inilah jalan yang telah diberikan Allah padaku.

Aku akan menjadi seorang ibu rumah tangga penuh di negeri orang, of course tanpa pembantu, dan aku akan meninggalkan pekerjaanku. Itu adalah keputusan yang telah aku ambil, aku harus ikhlas, aku harus bersyukur, dan aku harus siap menanggung semua akibat dari pilihanku. Kuncinya adalah aku harus bahagia, tidak merasa menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan bathinku. Tapi…mungkinkah itu terjadi bila aku sama sekali tidak melakukan pekerjaan lain selain mengurus rumah dan keluarga?. Kembali jalan terang itu datang. Tiba-tiba saja aku ingin belajar menulis, dan menulislah aku. Tiba-tiba lagi tulisan pertamaku langsung dimuat di koran PR, bahagia tentu. Aku seperti mendapatkan petunjuk inilah cara yang dapat membuatku tidak ‘mati’, dan tetap aktual.

Betulkah aku sudah siap? Oke, aku coba bertanya kepada sahabatku yang juga bernasib sama, yang satu di Jepang, satulagi di Inggris. Ternyata mereka menjawab sama..’tidak mudah Nes walaupun akhirnya bisa…’ Aku cuma bisa bertanya dan bergumam dalam hati ‘Masa sih, kan asik tinggal di negeri orang, apa susahnya, diikhlas-in aja dong, ini kan pekerjaan mulia, kenapa sih dibuat susah, dinikmati aja kenapa, mestinya bersyukur dong, oranglain pengen lho kaya kalian…’ dan mereka menjawab sama..’Ya coba aja deh Nes, nggak akan bisa ngerasain deh kalo nggak ngalamin sendiri…’

Oh God, kenapa mereka bilang begitu, pasti berat, apalagi dulu keduanya terkenal cerdas, yang di Inggris bahkan sudah mengeluarkan puluhan juta dan sempat ‘disiksa’ selama tahun pertama melanjutkan studi spesialis di bagian Anak. Kalau begitu aku musti siapkan mental, aku benar-benar harus bisa mengikhlaskan dan mensyukuri semuanya supaya tidak mengalami hal yang sama. ‘Aku pasti bisa, apalagi aku sudah membawa bekal menulis untuk tetap ‘hidup’, mereka pergi tanpa persiapan itu toh’, begitu pikirku.

Here I am now, in Groningen-Netherland-Europa, tempat yang membuat iri banyak orang. Seminggu, dua minggu, sebulan dan kini.. telah 3 bulan lamanya aku berada disini. Menyesalkah aku? Tidak bahagiakah aku, tidak bersyukurkah aku? Rasanya aku akan menjadi orang yang paling kufur nikmat bila aku melakukannya.

Berbelitnya urusan visa yang akhirnya tuntas, dan perpisahan mencekam yang tak lagi kami rasakan sungguh suatu anugrah buatku. Namun aku tidak bisa pungkiri bahwa yang dikatakan sahabat-sahabatku benar adanya. Berbicara syukur dan berbicara ikhlas menasehati sahabat-sahabatku dulu, untuk mau menerima dan menikmati perannya memang perkara mudah. Tetapi nyatanya, ketika merasakannya sendiri, aku baru benar-benar paham. Ternyata memang tidak mudah untuk menjalani proses ini walaupun aku sudah berusaha untuk menyiapkan diri. Tanpa bermaksud untuk berkeluh kesah atau meminta empati, dan bukan pula hendak menakut-nakuti, namun inilah kenyataan yang aku dan ‘sesamaku’ hadapi.

Tidak selamanya manusia berada diatas, warna-warni akan selalu muncul dalam kehidupan manusia, kadang gelap kadang terang. Mengapa semua menjadi tidak mudah? Karena dikala warna indah membangunkan hariku, aku betul-betul menikmati keberadaanku menjadi seorang ibu tanpa pembantu. Tetapi, dikala warna gelap menyelimuti diriku, semua kenangan manis tentang kepuasan batin itu menari-nari dikepalaku, menyesakkan dada dan memekikkan telinga.

‘Kenapa tidak kau usir saja mereka!’ begitu bisik hatiku, dan aku mencoba mengusirnya, mengeluarkan semua teori dari buku dan seminar yang pernah aku ikuti. Meneguhkan diri betapa mulianya tugas ini, betapa bersyukurnya aku, dan berbagai peneguhan positif lainnya. Berhasil kah aku? Hmm.. Aku hanya bisa berusaha. Semua rasa itu bukan milikku, aku tidak pernah meminta rasa itu datang, aku hanya wadah, yang cuma bisa mengembalikan semuanya kepada yang Maha Memiliki Rasa. Aku justru bersyukur ketika masih bisa menikmati rasa itu, karena begitulah hidup yang sebenarnya…hidup yang penuh warna. Apa jadinya bila hanya terang yang menyelimuti diriku, aku tak akan pernah jatuh dan tak akan pernah belajar. Toh memang hidup seperti inilah yang aku suka, penuh kejutan, tantangan dan selalu berwarna.

Belajar dan berproses memang tak kenal kata akhir. Kini, aku sedang belajar dan belajar lagi untuk menjadi ibu rumah tangga penuh yang tetap bisa menjaga kebahagiaan dan kepuasan batinku sendiri.‘Kenapa pula kau harus egois mementingkan kepuasan batinmu sendiri’ begitu bisik hatiku suatu hari. Suara hati lain menjawab, ‘Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku hanya manusia, yang terlahir dengan segala masa lalu yang membuatku merasa ‘mati’ dikala aku tidak dapat memuaskan batinku. Tapi wanita lain tak pernah bicara tentang kepuasan batin, toh mereka bisa dan mereka tetap baik-baik saja, kenapa aku tidak?’ begitu bisik batinku lagi. Apakah aku salah? Apakah wanita lain itu salah?.

Hmh semua membuatku pening. Aku tidak tahu, namun satu hal yang aku yakini dan aku ingat selalu, guru spiritualku* pernah berkata “Tidak ada yang salah di dunia ini, semua telah berjalan sesuai dengan skenario-Nya. Perbedaan adalah rahmat, dunia tak akan tampak indah bila tak berwarna. Itulah kehidupan, manusia diciptakan dengan berbagai sifat, kondisi dan latar belakang yang berbeda sesuai dengan tugasnya masing-masing. Tinggal hendak bagaimana manusia menyikapinya dan menjalankannya, apakah ingin membuat semua menjadi satu warna, menjadi hitam-putih, menjadi benar-salah, atau tetap indah sesuai dengan kehendakNya. Be wise Nes…” begitu kata guruku…

Dengan segala rasa cinta yang ada, kupersembahkan tulisan ini untuk seorang suami yang telah sangat-sangat mengerti aku dan sangat mendukungku.

Ps: Buat mbak Diana, semua orang tentunya punya idealisme masing-masing. Untukku, aku hanya ingin mengemban amanah ini dengan memberikan segala yang terbaik yang aku bisa buat anak-anakku. Bukan untuk menyuruh mereka bersaing dan menjadikan mereka nomor satu, tetapi semata-mata untuk membuat mereka mengenal diri mereka sendiri dan menjadi diri sendiri. Ibu bukanlah tempat untuk bergantung, tetapi tempat yang akan membuat anak-anaknya tidak lagi bergantung. Dan sebuah anugrah buatku bila aku bisa mengantarkan anak-anakku hanya bergantung kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri….

*Guru spiritual = pak kyai


Materi Persiapan Ramadhan 1425H

Filed under Agenda deGromiest

Atas izin Allah SWT. tidak lama lagi bulan mulia Ramadhan 1425H akan datang atau didatangi. Menjalankan ibadah puasa dan melewati bulan mulia yang penuh ampunan dan maghfirah tentu merupakan kenikmatan tersendiri di Groningen. Beberapa hal di bawah ini dapat dijadikan materi persiapan menyambut Ramadhan kali ini.

Pengumuman awal Ramadhan

Penentuan awal bulan Ramadhan mengikuti ketetapan yang disetujui/digunakan oleh Masjid Selwerd, Groningen. Pertimbangan yang digunakan: kita berada di Groningen dan Masjid Selwerd merupakan representasi resmi kegiatan Islam di Groningen — sekaligus masjid yang dihadiri lebih banyak anggota De Gromiest. Dengan demikian ketetapan yang dikeluarkan Masjid Selwerd lebih memiliki legitimasi dalam pemilihan jadwal waktu sholat dan perayaan hari-hari besar Islam (termasuk awal Ramadhan). Biasanya awal Ramadhan ditetapkan oleh pengurus masjid setelah shalat Isya’ dan secara langsung akan diumumkan baik lewat situs Web, mailing list, atau silakan kontak lewat telepon. Lebih jauh teknis pelaksanaannya akan diumumkan menjelang awal bulan Ramadhan.

Jadwal waktu berbuka dan sahur

Jadwal yang digunakan untuk aktivitas puasa mengikuti jadwal sholat. Untuk waktu sholat harian, sudah tersedia di Serambi De Gromiest dan sedang perbaikan jadwal per bulan. Versi lama jadwal bulanan ini tersedia di album situs versi lama. Apabila terdapat perubahan URL, nanti akan diumumkan.

Hal lain yang perlu diperhatikan, pada tanggal 31 Oktober akan berlaku perubahan waktu (Daylight Saving Time) sehingga perlu diperhatikan agar tidak salah dalam menggunakan jadwal berpuasa.

Insya Allah jadwal waktu berbuka dan sahur ini akan disediakan di situs Web De Gromiest dengan menggunakan acuan jadwal waktu sholat yang digunakan oleh Masjid Selwerd.

Kegiatan di Masjid Selwerd

Secara umum setiap hari terdapat kegiatan ibadah shaum di Masjid Selwerd, yakni buka puasa bersama dan sholat taraweh. Demikian juga di Masjid Turki yang berada di Koreweg. Buka puasa di Masjid Selwerd diselenggarakan untuk semua hadirin yang datang pada jam buka puasa dan disediakan cuma-cuma. Makanan yang tersedia khas Timur Tengah dan pengurus masjid sangat berharap keikutsertaan jamaah masjid pada acara tersebut. Jadi jangan ragu-ragu dengan undangan tersebut!

Sedangkan shalat taraweh dilangsungkan mengikuti jadwal sholat Isya’ dengan dimundurkan sekitar setengah jam untuk menunggu jamaah berkumpul. Hadirin shalat taraweh banyak (jamaah memenuhi masjid bagian dalam) dan dilangsungkan delapan rakaat dengan bacaan surah Al Quran satu juz setiap malam. Menjelang akhir bulan Ramadhan terdapat acara yang lebih khusus untuk taraweh ini dikaitkan dengan malam Lailatul Qadar.

De Gromiest merencanakan acara pembacaan Al Quran (tadarus) satu juz setiap malam dan dilaksanakan setelah shalat taraweh, di Masjid Selwerd. Insya Allah saya dan Bang Fahmi akan mengusahakan agar pembacaan Al Quran ini dapat rutin setiap hari, oleh karena itu diharapkan partisipasi dari sahabat-sahabat lainnya. Tadarusan ini biasanya juga diikuti oleh jamaah Masjid Selwerd secara umum (tidak banyak jumlahnya).

Kegiatan di akhir pekan

Setiap hari Sabtu direncanakan akan diselenggarakan acara buka shaum bersama dilanjutkan dengan sholat wajib berjamaah dan taraweh, serta tadarus. Tempat pelaksanaan di rumah anggota dan akan ditentukan kemudian. Mempertimbangkan kondisi selama bulan puasa, sebaiknya dibicarakan teknis persiapan acara (terutama masakan) agar tidak memberatkan pelaksana.

Acara ini sekaligus menjadi pengganti acara Baca Al Quran setiap hari Sabtu.

Kemungkinan kegiatan tambahan adalah mengikuti shalat taraweh di Masjid An-Noer, Hoogezand, tempat komunitas Jawa-Suriname. Saya akan mengusahakan kontak dengan saudara-saudara kita dari Suriname yang kemungkinan pergi ke sana, untuk keperluan transportasi. Tentu saja, jumlah peserta dalam satu kloter ke sana dibatasi. Gambaran kunjungan ke Hoogezand pernah saya tulis di Masjid An Noer, Hoogezand.

Penyaluran Zakat

De Gromiest akan membantu penyaluran zakat mal dan zakat fitrah dari anggota bekerja sama dengan KZIS (Ibu Nung). Teknis pelaksanaan akan diumumkan kemudian setelah mendapat kabar dari KZIS Belanda.

====

Demikian gambaran kegiatan Ramadhan berdasarkan pengalaman yang sudah dijalankan tiga kali bersama De Gromiest. Insya Allah pada Silaturahmi Oktober nanti hal ini akan dibahas secara terbuka dan tulisan ini dapat dijadikan bekal pembahasan. Silakan kemukakan pendapat dalam bentuk komentar di bawah ini yang sekaligus dapat dijadikan bahan perbaikan tulisan di atas.

Terima kasih.


Demokrasi dan de Gromiest

Filed under Agenda deGromiest

Tanggal 18 September Avond kemarin telah terjadi pemilihan ketua de Gromiest untuk periode 2004-2005. Pemilihan tersebut berlangsung cukup Demokratis dengan musyawarah mufakat. Demokratis pada kalimat sebelumnya dicetak miring, karena kemudian muncul sedikit pertanyaan menggelitik dalam benak, Demokratis itu, dus Demokrasi itu apa sih? apa iya, bahwa pemilihan ketua yang diserahkan pada tim formatur demokratis? bukankah sebagian besar anggota de Gromiest yang tidak termasuk tim formatur kehilangan hak suaranya? dalam pemilu di tanah air saja seorang Profesor Doktor dengan seorang yang tidak pernah sekolah saja memiliki hak suara yang sama!

Plato dalam republik utopianya memang pernah memberikan solusi, ditengah-tengah kekecewaannya mengenai keadaan negerinya pada saat itu, bahwa pengambilan keputusan dalam menentukan nasib negara, termasuk memilih pemimpin negara tersebut diberikan hanya kepada orang-orang yang memiliki kompetensi untuk itu. Pendek kata, politik oleh golongan elit. Sehingga orang-orang yang kurang berpendidikan, yang tidak punya cukup pengalaman kehilangan hak pilihnya dan kehilangan haknya dalam menentukan kebijakan negara. Kemudian, pertanyaan tadi malah lebih menggelitik : “apakah dengan demikian anggota tim formatur lebih memiliki kompetensi dalam mengatur dan merencanakan kegiatan de Gromiest daripada anggota yang lain?” Masa iya? pastinya ada orang yang memiliki kapabilitas lebih di luar tim formatur… toch?

Ternyata, langkah yang diambil de Gromiest dengan tim formaturnya adalah suatu hal yang sedikit berbeda dari apa yang dikatakan plato dalam republik utopianya diatas. Suara dari sekian banyak anggota de Gromiest diwakilkan kepada anggota tim formatur yang dianggap mewakili aspirasi anggota yang mengajukannya. Mirip dengan pelajaran tata negara atau PPKN /PMP di sekolah ? hehe.. tidak begitu.. karena tim formatur bukan DPR. Tugas tim ini hanya sekali selesai, tidak berjalan beriringan dengan ketua dan kabinetnya. Akan tetapi memang disini terlihat sekali ada Demokrasi Perwakilan. Tetapi, bukankah dengan keanggotaan yang tidak sampai satu kelurahan bisa diadakan demokrasi langsung? pemilihan presiden untuk suatu negara yang berpenduduk di atas 200 juta pun bisa dengan pemilihan langsung kan? makin menggelitik rupanya pertanyaan-pertanyaan yang mulai berdatangan ini.

Mungkin pada saat penentuan teknis pemilihan ketua hal ini belum terpikirkan oleh sebagian atau malah semua anggota degromiest. Dengan terbentuknya formatur, pertukaran pemikiran dapat dilaksanakan dengan lebih dalam, dan lebih cepat, karena tidak terlalu banyak yang didengarkan pendapatnya. Bandingkan dengan apabila diskusi dilakukan dengan seluruh anggota de Gromiest,.. pasti, selain yang benar-benar berdiskusi, ada grup-grup tertentu yang bergosip, mencicip makanan, atau sekedar nonton tivi .. sehingga kurang efisien. Dengan diskusi dan keterbukaan, kepemimpinan de Gromiest kali ini terlaksana dengan musyawarah mufakat dan bukan voting. para kandidat pun ditanya dulu kesediaannya untuk menjadi ketua, sehingga benar-benar dengan kelapangan hati, atas konsensus semua. Sehingga yang terjadi kemarin malam adalah suatu penggabungan yang cantik antara demokrasi perwakilan dan musyawarah mufakat.

Kemudian muncul pula pemikiran, bahwa apabila yang terjadi kemarin malam itu dipraktekkan dalam level negara, mungkin dapat memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi bangsa indonesia yang menurut sebagian orang sedang berada dalam ambang kehancuran. Apakah mungkin? perbandingan suatu organisasi skala de Gromiest dengan skala Republik Indonesia mungkin ibarat membandingkan manusia dengan quark-quark yang menyusun manusia itu sendiri.. apakah patut diperbandingkan? Tetapi, ada baiknya bila kita tilik ke belakang menyusuri waktu, tidak terlalu jauh sampai pada saat bumi dan langit masih menyatu, tetapi jauh setelah “Big Bang”, yaitu pada saat munculnya demokrasi.

Demokrasi, suatu kata yang seringkali kita dengar pada masa sekarang ini, terutama di CNN atau Fox news, kala seorang George W. Bush memberikan justifikasi penyerangan ke Irak. Tetapi apa sih Demokrasi? Ingat-ingat dari pelajaran SMA, asal katanya adalah Demos dan Kratos. Demos, artinya rakyat, sedangkan Kratos adalah kekuatan (morfologi ke dalam bahasa belanda menjadi “kracht” walaupun dalam konteksnya saat ini lebih pas kalau diartikan dengan “macht”). Mudah untuk menebak kelanjutannya ceritanya, bahwa dalam demos kratos di yunani ini, yang berangkat dari pemikiran filsuf-filsufnya, diangkat dan dipraktekkan dalam kehidupan bernegara dengan sistem one man one vote. Sehingga arah kebijakan negara benar-benar mengikuti keinginan mayoritas penduduk suatu negara. Keadaan ini kurang disukai Plato, karena dengan demikian, negara berada ditengah ombang-ambing kemauan penduduknya, sedangkan belum tentu kemauan penduduknya walaupun mayoritas adalah benar dan terbaik. Apabila suatu saat mayoritas rakyat menginginkan perang sedangkan tidak cukup sumberdaya untuk itu, maka pasti negara akan kalah, namun karena itu kemauan rakyat, maka harus dilaksanakan. Plato kemudian berpikir, bahwa diperlukan suatu standar tertentu, patokan tertentu, untuk membatasi keterombang-ambingan tersebut. Siapakah yang menentukan standar tersebut? tentu orang-orang pintar nan cerdas pada saat itu (padahal sih, mereka kan juga bisa terombang-ambing ya..). Merekalah yang kemudian oleh Plato diposisikan sebagai para pengambil keputusan yang paling kompeten, sehingga tidak ada hak pilih bagi kelompok di luar mereka.

Demokrasi model Plato memang hampir, atau malah tidak pernah terpakai. Karena, terutama pada zaman sekarang ini, hal itu pasti akan dilihat sebagai pemasungan HAM. Padahal, kalau kita mau kembali pada keadaan dimana semua konsep pemikiran di dunia ini belum ada, (mirip pada keadaan dimana materi itu belum ada… hehe), HAM itu apa sih? siapa yang mematok standarnya? demikian sering didengung-dengungkan.. tapi apa sih patokan HAM itu? siapa yang membuat patokannya? mudah sekali orang berteriak pelanggaran HAM sekarang ini.. tapi apakah yang berteriak itu tahu apa hakikat HAM itu sebenarnya? tetapi kembali kita ke Demokrasi. Demokrasi di Yunani kemudian berevolusi menjadi demokrasi yang kita kenal sekarang dengan segala variasinya. Sehingga, dengan hal-hal lain produk yunani, negara (atau lebih tepat wilayah) ini sering disebut sebagai “craddle of western civilisation”. Western? memangnya ada yang bukan western ya? Syura.. bukan western. Kesimpulan sampai saat ini, setelah membaca beberapa literatur, inti dari Syura itu sendiri sebenarnya mirip dengan Demokrasi, walaupun Syura bukanlah demokrasi! ada suatu perbedaan besar, selain dari awal munculnya, yaitu pada zaman Rasulullah, Syura selalu mengakar kepada Al Qur’an dan Hadits. Sehingga selalu ada patokan pelaksanaan, dan tidak terombang-ambing dibawa arus keinginan mayoritas, (tentunya apabila rakyatnya ikut patokan). Sehingga tidak diperlukan Utopianisme Plato.

Yang menjadi permasalahan pada masa kini adalah pengkultusan dan pencatutan nama dan semangat Demokrasi itu sendiri. Ada demokrasi sosialis, ada demokrasi liberal, demokrasi terpimpin, demokrasi pancasila, dan entah apalagi. Mungkin hal ini disebabkan, apabila ada yang menggunakan nama lain, seperti misalnya pemerintahan sosialis, pasti akan dimusuhi barat. kata-kata demokrasi adalah suatu kata yang keramat, yang kalau tidak disebut, akan mengakibatkan ke”sengsaraan”.. mirip dengan kata-kata pembangunan dan orde baru di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Sehingga, si negara yang katanya kuat itu, mencatut demokrasi sebagai alasan pembenar menyerang Irak.. to uphold democracy .. katanya..

Padahal, kalau memang mau jujur, melihat pemikiran plato dan perkembangan negara-negara di dunia, Demokrasi dengan pengertian yang berlaku umum pada masa kini (kekuatan dan kemauan mayoritas) itu bukan harga mati. Demokrasi, dengan semangat people powernya memang merupakan suatu sistem pengambilan keputusan dan pemerintahan yang baik. Tetapi apakah demikian pada semua situasi dan kondisi? Bagaimanapun demokrasi yang dikenal luas dan “sepertinya” dipraktekkan sekarang ini adalah produk barat. Dengan demikian, mengusung nilai-nilai dan diwarnai oleh kultur barat, craddlenya. Bukan berarti semua produk barat itu buruk, namun, dalam ilmu sosial, penerapan suatu sistem nilai yang sama sekali asing ke dalam suatu kebudayaan yang sama sekali berbeda seringkali menemui kegagalan. Nilai tersebut, harus diadaptasikan dahulu kedalam sistem nilai yang berlaku, baru kemudian bisa diintegrasikan. Ibarat rice cooker miyako yang dibawa ke Inggris, harus dicarikan adapter dengan 3 colokan dahulu, baru bisa digunakan. Sebagai tambahan saja, studi hukum pun juga mengenal legal culture, dimana tidak bisa hukum dari suatu negara ditransplantasikan begitu aja ke negara lain. Harus memperhatikan legal culturenya juga, atau sistem itu akan menemui kegagalan, atau permasalahan yang cukup pelik. Paling tidak dalam ilmu hukum, sudah terbukti secara empiris. Sehingga, Demokrasi, apabila memang mau diterapkan, perlu adaptasi terlebih dahulu.

Dalam suatu organisasi setingkat negara pada masa kini, memang sulit untuk mewujudkan terjadinya mufakat dari sekian ratus juta rakyatnya. Demokrasi perwakilan sudah pernah kita cicipi. Dan secara empiris, tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mengapa? mungkin dikarenakan paling tidak ada 2 hal yang melenceng pada saat pelaksanaan. Pertama, rakyat yang memilih wakilnya tidak mengetahui kapasitas si wakil. Dahulu kita memilih partai. Sekarang sudah lebih baik.. sedikit. Kita memilih orang. Apa kita kenal orang itu? apa mereka sudah berbuat untuk kesejahteraan rakyat? bagaimana profilnya? apakah mereka se-aspirasi dengan kita? apakah mereka pantas dipilih? sulit untuk menjawabnya, karena kurangnya input untuk diproses. Dahulu para pilihan kita itu memilih presiden bak tim formatur de Gromiest memilih ketua. Permasalahan kedua muncul pula disini. Tidak amanahnya para wakil kita tersebut, membuat musyawarah mufakat untuk kepemimpinan 32 tahun tidak berganti. Musyawarah ini dapat dikatakan semu.. karena begitu di”merdeka”kan dari tekanan, baru kelihatan aslinya, semua memiliki keinginan yang berbeda-beda. Sekali lagi sulit untuk mengatur hal-hal seperti ini dalam organsisi setingkat negara. Beruntung pada organsisasi setingkat quark seperti de Gromiest, si pemilih mengenal langsung sang wakil dalam formatur, dan sang formatur, Insya Allah bertindak amanah dalam menjalankan tugasnya. Tadi malam itu adalah contoh demokrasi perwakilan yang baik sistem dan pelaksananya berjalan sebagaimana rencana.

Sekarang ini kita memilih langsung presidennya, tidak melalui wakil lagi. Tetapi, apakah pilihan itu tepat? bebas ? merdeka? objektif? sepertinya kita belum bisa mewujudkan kebebasan memilih itu. Dahulu kita terkungkung tekanan. Sekarang, kita terkungkung money politics, penampilan kandidat, ikut-ikutan orang karena tidak mengerti, sehingga akhirnya pemilihan presiden tak ubahnya Akademi Fantasi atau Indonesian Idol, minus nyanyi. Semua ditentukan popularitas, kita terkungkung popularitas sehingga penentuan bukan didasarkan kompetensi. Bedanya pemilihan presiden di TPS, kalau AFI atau Indonesia Idol bisa lewat SMS. Mungkin sebagian dari kita ada yang merasa tidak terkungkung. Benar. Terutama kita yang beruntung telah mengecap pendidikan yang jika dibandingkan dengan seluruh rakyat Indonesia, cukup tinggi. Tetapi bayangkan rekan-rekan ditanah airkita yang hingga kini, setelah beberapa kali pergantian presiden masih belum juga bisa baca tulis, (apalagi baca email dan mendiskusikan spam), yang tidak tahu menahu berita di pusat kekuasaan Jakarta, tiba-tiba harus memilih presidennya. Bagaimanapun salah satu sendi dasar demokrasi adalah pemberitaan yang memadai mengenai situasi dan kondisi kepemimpinan dan kenegaraan, dan pemberitaan ini mencapai dan dimengerti oleh rakyat. (Para pencinta game Civilization III pasti mahfum, kalau mau mengganti sistem pemerintahan dengan demokrasi, harus memiliki dahulu teknologi berita cetak!) ..Berapa banyak dari yang bisa membaca, tetapi kemudian tidak mengerti? Dalam kebingungan dan akhirnya ketidakpeduliannya, 5 atau 10 Euro mungkin sudah lebih dari cukup untuk menentukan pilihan.

Demokrasi, ataupun Syura, mungkin merupakan suatu sistem yang dirasakan “teradil” yang dapat dihasilkan manusia,.. saat ini. Namun, bukan berarti, sistem teradil ini tanpa kekurangan. Banyak sekali kekurangannnya, sehingga perlu diadakan perbaikan disana-sini, ibarat microsoft berulang kali mempublikasikan “patch” untuk internet explorer. Dan bukan tidak mungkin, pada suatu ketika, saat makin banyak “patch” yang dibutuhkan, mungkin lebih baik untuk membangun internet explorer dari awal. Mungkin Demokrasi juga perlu kita bangun dari awal agar lebih memenuhi kebutuhan kita. de Gromiest, paling tidak tadi malam telah menyumbang kepada khazanah demokrasi, bahwa pakem umum yang berlaku dapat diubah dan dapat menghasilkan keputusan yang diterima semua orang. Mungkin masih lama evolusi untuk dapat menghasilkan Demokrasi gaya baru. Tetapi paling tidak, Quark menyusun atom, atom menyusun molekul, molekul menyusun protein, protein menyusun sel, dan sel menyusun manusia. Mungkin berhasil, mungkin tidak, tetapi de Gromiest telah memulai.


Tulisan ini adalah tulisan Populer Sains yang menyertai presentasi “Kuliah Umum” yang berlangsung hari Minggu tanggal 12 September 2004 di Concordiastraat 67.

Hampir rata-rata kita tertarik untuk mengamati alam semesta. Kalau malam hari kepala lagi mumet, coba lah keluar. Kalau beruntung langit bersih, maka akan terlihat gemerlab bintang-bintang di angkasa. Berbaring dan nikmatilah… Pikiran jadi tenang, lupa dengan mumetnya dan berganti pada pengembarangan imajinasi… Apakah kita sendiri di sini? Di mana bintang-bintang itu? Adalah kehidupan di sana? Dari mana mereka berasal? Kalau mereka begitu banyak, seberapa besar alam ini?

Selengkapnya…