Archives for August, 2004

If tomorrow never comes

Filed under Renungan & Hikmah

Ini bukan lagu yang dinyanyikan Gary Barlow, tapi isi dari sebuah film yang ditayangkan di Net5 pada malam senin, 29 Agustus 2004. Alur ceritanya biasa saja, kemampuan akting pemainnya juga,kalau tidak dibilang pas-pasan, cukup bagus. Namun ada suatu pesan moral yang sangat bagus rasanya untuk diperhatikan.

Phil adalah seorang reporter televisi yang cukup terkenal. Ia dikenal sebagai pekerja keras yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Namun, seperti halnya para workholic, Phil sangat terlarut dalam bidangnya sehingga melupakan kehidupan sosial disekitarnya. Semua yang berkaitan dengan hidupnya dijalani secara profesional, dilihat dari untung rugi, usaha untuk memanipulasi orang lain dan lingkungan untuk kepentingan pribadi. Egosentris, ya, itu gambaran singkatnya.

Hidupnya berjalan sangat lancar hingga satu pagi, saat sedang melakukan liputan di sebuah desa terpencil, sesudah terjaga dari tidurnya, ia menemukan bahwa apa yang dia sedang jalani sama persis dengan apa yang terjadi kemarin, de ja vu fikirnya. Satu kali, dua kali, berikutnya, Phil mulai merasa bosan dan kesal dengan apa yang terjadi. Setiap jam alarm membangunkannya setiap jam enam pagi, sudah terbayang di depan mata, apa yang akan terjadi setiap detik berikutnya. Dalam suatu diskusi di kedai minum pada suatu malam, ia memutuskan untuk melakukan apa yang sesuka hati, seperti apa yang ia inginkan. Hasilnya? Bosan. Hingga tiba pada satu saat dimana Phil frustasi dan memilih jalan nekat: bunuh diri. Haislnya? sama saja, ia bangun dikeesokan-harinya dengan keadaan yang sama: frustasi. Akhirnya, Phil mencoba untuk bisa menghadapi kondisi ini, caranya? Mencoba membuat hari-harinya menyenangkan, bersikap baik dengan - dan membantu orang lain. Walhasil, semua orang menyukainya, Phil menjadi orang yang popular, rekan kerja wanitanya (yang selama ini ia sukai namun terlalu egois untuk mengakuinya) menjadi luluh hatinya dan ikut memperebutkannya. Pada saat itulah keajaiban terjadi, hari berlanjut kekeesokan-harinya.

Ceritanya biasa saja, toh? Namun sepanjang menonton film itu terus selalu terfikir: bagaimana kalau hal hari berlanjut pada saat Phil melakukan hal-hal yang konyol, memalukan, membuatnya dibenci oleh orang lain. Phew …

Phil orang yang beruntung. Berulang kali ia dapat kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, membuat harinya menjadi lebih berarti. Bagaimana dengan kehidupan kita, kehidupan nyata, yang tidak mengenal istilah “break” dan “repeat”. Bagaimana kalau kita menyakiti orang lain, sesuatu yang buruk, bahkan sangat buruk. Bagaimana kalau besok tidak datang, bukan karena hari berulang, tapi … Phil perlu ratusan kali untuk menyadari, bahwa membuat hari ini cukup berharga untuk dilanjutkan ke hari berikutnya. Bagaimana dengan kehidupan kita, yang bahkan tidak ada kali ke dua untuk menyadarinya. Ketika sadar, kesempatan itu telah berlalu. Jadi terfikir, mungkin ini maksudnya, kita harus selalu melakukan kebaikan. Hari tidak akan berulang, hanya melangkah maju.

If tomorrow never comes, jika esok tidak akan datang, pertanyaan yang akan hadir setiap hari, setiap kali kita akan melakukan suatu aktivitas, setiap kali sebelum tidur.

Jika hari ini dan hari-hari yang telah dilalui begitu indah teringat dan penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan tindakan baik yang membuat hidup ini bermakna, tidak ada lagi.

If tomorrow never comes, I don’t care
I did something good today
I am something today


Tulisan ini sumbangan dari Sdr. Andreas Ismar.

17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka Nusa dan Bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia?..

Jika anda mengingat kembali masa2 sekolah anda di Indonesia, maka lagu di atas tentunya tidak menjadi asing lagi di telinga. Lagu tersebut hampir selalu dikumandangkan di setiap upacara bendera, hari-hari besar nasional dari mulai Istana Merdeka hingga gang-gang kecil di pelosok. Bahkan lagu tersebut makin sering terdengar menjelang Peringatan Proklamasi kemerdekaan kita yang lebih popular dikenal dengan tujuhbelasan.

Tidak berbeda dengan kampung halaman, gegap gempita yang sama juga dirasakan oleh masyarakat Indonesia di segala penjuru dunia. Setiap kedutaan NKRI mengadakan berbagai acara pada hari ?sakral? tersebut di berbagai negara, tak jarang berlangsung marathon selama beberapa minggu; dan tak terhitung berapa banyak lagi yang diadakan oleh berbagai penyelenggara. Di Groningen, utara Belanda, beberapa pelajar merasa kegerahan menjelang tujuhbelasan. Kerinduan akan suasana kampung halaman dan berkumpul bersama menjadi pendorong untuk mengadakan acara. Bak gayung bersambut, hal serupa juga dirasakan oleh berbagai individu dalam komunitas ini. Gerah menjadi gairah.

Kegairahan yang nyata terlihat dalam setiap lomba, dan dari wajah-wajah partisipan. Acara tersebut sendiri diadakan pada hari Minggu, 15 Agustus di kawasan Zernike Complex, lokasi kampus RuG dan Hanze, dengan jumlah partisipan mendekati 70 orang. Rangkaian acaranya meliputi lomba-lomba: makan kerupuk, balap kelereng, tarik tambang, sepakbola sarung dan memasukkan pensil ke botol, nyanyi-nyanyi dan pembagian hadiah. Sementara para peserta terbagi atas kaum pelajar, keluarga yang telah menetap lama, dan warga Belanda yang afektif terhadap Indonesia. Yang paling mengagumkan adalah mungkin usia mereka. Dari yang berusia 4 tahun hingga 50-an, semua aktif ikut lomba. Suasana akrab dan lepas, walaupun banyak dari mereka yang baru kenal, mendorong partisipan menjadi aktif, atau beberapa orang mungkin mengatakan: tidak tahu malu! Pernahkan anda membayangkan ibu-ibu berusia 50 tahun ikut balap kelereng di RT anda? Atau bapak-bapak yang melahap kerupuk dengan rakusnya?

Yah, memang acara ini tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan yang ada di Indonesia. Bahkan tambang untuk lomba sendiri dibuat dari lipatan-lipatan gorden rumah! Acara yang dimotori oleh de Gromiest (Groningen Moslem Society) ini dapat dibilang merupakan proyek nekat, mengingat belum pernah diadakannya acara serupa, keterbatasan dana, lokasi serta mepetnya waktu persiapan. Namun, di balik segala keterbatasan dan hambatan, acara tersebut berhasil menyatukan berbagai insan dalam sebuah kegairahan massal. Kegairahan tanpa batas-batas usia, suku, agama bahkan kewarganegaraan. Kami direkatkan menjadi satu keluarga. Kesatuan dalam kegairahan terhadap Indonesia, kerinduan dan harapan akan negeri kita. Terdengar seperti sebuah istilah PMP? Nasionalisme, kalau tidak salah?

Bukan di tengah gemerlapnya panggung, atau kemegahan lapangan upacara; namun justru pada acara kecil ini hatiku berteriak: ?Hidup Indonesia!?. Selamat ulang tahun Indonesia, selamat ulang tahun negeriku tercinta. (ism)

?.Kita tetap setia, tetap sedia?


(Tulisan ini awalnya dikirim ke PR, tapi…)

“Satu..dua..tiga..mulai!” teriakan seorang panitia lomba menggema di lapangan berumput hijau Hanzeborg Zernike complex, ketika mengawali pertandingan tarik tambang pria. Tarik-menarik tali dengan jumlah peserta lima lawan lima orang ini berlangsung cukup alot selama beberapa detik. Namun tiba-tiba…’tass….!’ tali itu putus dan tubuh-tubuh kekar berjumpalitan jatuh ke tanah. Salah seorang peserta meringis kesakitan akibat terkena lecutan tali yang putus. Peserta lain tesenyum-senyum sambil menahan nyeri akibat jatuh. Walaupun demikian baik peserta, panitia dan pengunjung yang hadir malah merasa terhibur dan tertawa-tawa menyaksikan adegan yang cukup seru dan lucu ini. Tali putus? kok bisa? Tentu saja, karena tali yang dipergunakan untuk perlombaan tarik tambang itu ternyata adalah… kain gorden!

Tak ada rotan akar pun jadi, demikian kata pepatah. Pepatah ini betul-betul digunakan oleh panitia penyelenggara perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia (RI) yang ke-59 di kota Groningen. Mengingat sempitnya persiapan waktu, pencarian lokasi, serta dana yang terbatas, pihak panitia harus menggunakan dana seefektif dan seefisien mungkin. Karena harga tambang cukup mahal di kota ini, akhirnya panitia memutuskan untuk menggunakan kain gorden rumah yang sudah tidak terpakai untuk dijadikan tali tambang. Kain gorden dipotong memanjang, kemudian dijalin dan diikat sedemikian rupa sehingga dianggap cukup kuat untuk dijadikan tali yang menyerupai tambang.

Sehari sebelum acara, 4 orang mahasiswa yang sedang mengambil program PhD di Universitas Groningen, 1 orang mahasiswa Master fisika teoretis, 1 orang mahasiswa S1 ekonomi bisnis, dan 1 orang profesional pengeboran lepas pantai, mendesain dan “menyulap” kain gorden menjadi tali tambang. Saat dilakukan uji coba, tali dianggap dapat berfungsi dengan baik sehingga panitia optimis perlombaan tarik tambang tetap dapat dilaksanakan. “Tak ada tambang, gorden pun jadi” ujar panitia dengan penuh keyakinan.

Sebelum perlombaan tarik tambang pria, tali ini sempat digunakan oleh peserta wanita dan berjalan lancar walaupun satu dari tiga kain yang dijalin sempat putus. Setelah panitia memperbaikinya, perlombaan dilanjutkan dengan kaum pria yang notabene memang jauh lebih kuat. Ternyata sang tali tak sanggup bertahan melawan tarikan para pria dan benar-benar putus. Namun, saran jitu dari seorang panitia yang di kota ini sedang mengambil program Phd bidang biokimia, telah membuat pertandingan tetap berjalan. Tambang yang putus pun menyatu kembali dan pertandingan tetap berlangsung dengan seru walaupun harus mengurangi jumlah peserta.

Itulah gambaran sekilas tentang perlombaan tarik tambang di kota Groningen Belanda oleh masyarakat Indonesia dalam rangka memperingati hari kemerdekaan RI ke-59. Peringatan dilaksanakan pada hari minggu tanggal 15 Agustus 2004. Tanggal tersebut dipilih semata-mata karena acara tidak mungkin dilaksanakan pada hari kerja. Perayaan hari kemerdekaan RI di kota ini baru pertama kali dilaksanakan. Mengorganisir suatu acara memang bukan perkara mudah. Terlebih lagi dengan kesibukan dan jadwal kegiatan yang padat dari tiap warga Indonesia. Barangkali itulah yang menjadi alasan mengapa kegiatan seperti ini tidak pernah diselenggarakan di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya warga Indonesia di Groningen yang berminat merayakan hari kemerdekaan akan bergabung ke kota lain. Delft maupun Den Haag yang berpenduduk Indonesia lebih banyak dan telah rutin mengadakan acara perayaan hari kemerdekaan setiap tahunnya, sering menjadi pillihan bagi warga Indonesia di Groningen. Namun, kendala jarak dan biaya menyebabkan tidak semua warga Indonesia dapat menyempatkan diri pergi ke kota tersebut. Karena itulah panitia berusaha merealisasikan perayaan hari kemerdekaan di kota ini.

Walaupun acara dilaksanakan dengan segala keterbatasan, perayaan berlangsung cukup meriah dan dihadiri oleh sekira 70 orang masyarakat Indonesia yang tinggal di propinsi paling Utara Belanda ini. Ismail Fahmi, selaku ketua panitia acara sekaligus ketua deGromiest (perkumpulan warga muslim asal Indonesia di kota Groningen), yang sedang mengambil program Phd bidang Computational Linguistic mengatakan, â??Perayaan ini bertujuan untuk mempererat persaudaraan di antara warga Indonesia serta yang berjiwa Indonesia di Groningen. Acara ini juga diharapkan dapat mengobati kerinduan masyarakat Indonesia yang sudah lama berada disini, agar tidak lupa akan Indonesia dan tetap cinta pada negerinya.â?? Ujar Ismail.
â??Ide awal acara sebetulnya dimulai dari diskusi anggota deGromiest. Jauh lebih baik mengadakan acara perayaan sendiri ketimbang harus pergi ke kota lain. Mengingat cukup banyak warga Indonesia yang tinggal di Groningen, dan sama sekali belum pernah diadakan acara peringatan hari kemerdekaan setiap tahunnya, maka deGromiest merasa perlu mengadakan acara semacam ini. DeGromiest memutuskan untuk menjadi pioneer, dan mengkoordinasi serta mendanai acara kali ini. Sebetulnya ini termasuk proyek nekat, mengingat waktu untuk mempersiapkan hanya seminggu, pencarian lokasi yang cukup merepotkan dan dana yang terbatas. Tetapi alhamdulillah acara dapat berjalan lancar disertai cuaca yang juga sangat mendukung. Padahal biasanya cuaca sering diwarnai hujan karena musim panas tahun ini memang agak berbeda dari sebelumnya.â?? Demikian keterangan Ismail.
Dalam peringatan kali ini, deGromiest mengajak berbagai kalangan yang bersedia untuk menjadi panitia. Sebagian besar panitia terdiri dari mahasiswa, baik muslim maupun non muslim, serta beberapa warga Indonesia yang sudah lama menetap dan bekerja di Groningen. Peserta yang datang adalah masyarakat Indonesia maupun yang berjiwa Indonesia. Terbukti ketika acara berlangsung tampak hadir beberapa warga belanda yang beristrikan atau bersuamikan warga Indonesia, bahkan juga warga Belanda yang merasa memiliki keterikatan dengan Indonesia, dan sangat peduli terhadap warga Indonesia.

Salah satunya adalah Pak Bein (Profesor Beintema), yang merupakan pakar dalam bidang biokimia. Pak Bein cukup fasih berbahasa Indonesia dan mempunyai keterikatan batin yang kuat dengan Indonesia. Pada tahun 1966-1967 beliau pernah tinggal di Indonesia dan menjadi dosen di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung. Sejak saat itu hingga kini, beliau sering pulang-pergi Groningen-Indonesia untuk mengadakan kerjasama dalam proyek-proyek di Indonesia, dan membantu pengiriman mahasiswa serta staf-staf peneliti Indonesia yang ingin melanjutkan studi di Universitas Groningen. Beliau juga merupakan salah satu pendiri jurusan kimia di Fakultas MIPA Unpad Bandung. Saat ini beliau sudah pensiun tetapi tetap aktif menjadi pembimbing bagi peneliti-peneliti di bidang biokimia.

Selain pak Bein, hadir pula seorang nenek warga Belanda bernama Ans, yang tetap semangat dan energik mengikuti lomba balap kelereng serta tarik tambang. Perlombaan yang diselenggarakan memang terbuka bagi segala usia, mulai dari 2,5 tahun sampai 64 tahun seperti Ans. Bukan saja tarik tambang serta balap kelereng, acara ini juga diwarnai perlombaan lain seperti lomba makan kerupuk, lomba memasukan pensil ke dalam botol, lomba sepak bola dengan kostum sarung dan mata ditutup kain hitam ala bajak laut.

Acara puncak yang sekiranya diisi dengan lomba sepak bola ala bajak laut ternyata tidak menjadi puncak. Pengunjung merasa lebih puas dengan acara lomba tarik tambang yang putus. Selain itu karena siang telah menjelang, beberapa pengunjung sudah tampak gelisah tak bisa â??kompromiâ?? dengan perut mereka. Akhirnya, panitia segera menghidangkan makan siang dengan menu ala Indonesia seperti bakmie goreng dan kerupuk. Panasnya mentari musim panas pun segera hilang begitu melihat panitia menyediakan semangka merah menggiurkan yang membuat air liur menetes. Beberapa warga juga ada yang berbaik hati membawakan kolak, wajit serta kue lumpur khas Indonesia yang langsung laris-manis â??diserbuâ?? pengunjung.

Setelah perut tak lagi â??bernyanyiâ??, acara dilanjutkan dengan pembagian hadiah bagi pemenang lomba. Pemenang diminta naik ke atas podium sederhana yang disusun dari kayu dan kursi bekas pungutan berwarna merah. Kontainer sampah yang kebetulan berwarna merah putih menjadi latar belakang podium dan cukup mengesankan bahwa podium tersebut memang sengaja dibuat dengan latar belakang merah putih. Setelah pembagian hadiah selesai, semua warga berkumpul mengelilingi podium dan bernyanyi bersama menyanyikan lagu-lagu kebangsaan Indonesia serta lagu-lagu kenangan. Diiringi petikan gitar, lagu Indonesia Raya dinyanyikan dengan cukup syahdu dan memunculkan getar-getar kerinduan akan tanah kelahiran. Rasanya masih ingin bernyanyi dan mengingat kembali kenangan indah tentang Indonesia. Namun, waktu jua lah yang memisahkan. Acara diakhiri dengan foto bersama dan teriakan merdeka !.

Walaupun di negeri orang dengan acara yang sederhana, bahkan tali tambang pun terbuat dari kain gorden, namun peringatan kali ini menyimpan banyak kenangan dan makna. Tambang gorden telah menyatukan segenap insan, tanpa mengenal batas usia, perbedaan warna kulit, kewarganegaraan dan agama. Semua bersatu dalam gelak tawa dan kesyahduan, mengobati kerinduan akan kampung halaman, serta menambah kecintaan pada Indonesia. Selamat ulang tahun Indonesia. Meskipun jauh di negeri orang â??engkauâ?? tak akan kami lupakan dan tetap kami banggakan.

Tanah airku, tidak kulupakan.
Kan terkenang selama hidupku.
Biarpun saya pergi jauh.
Tidak kan hilang dari kalbu.
Tanah ku yang kucintai,….engkau kuhargai.

Walaupun banyak negri kujalani,
yang mashyur permai dikata orang.
Tetapi kampung dan rumahku,
disanalah ku rasa senang.
Tanah, ku tak kulupakan….
engkau kubanggakan…

(Agnes Tri H)

Foto-foto 17-Agustusan:

http://ferry.degromiest.nl/Gallery/17an-20040815/index.html (Koleksi Bung Ferry)
http://atijembar.degromiest.nl/album/thumbnails.php?album=22 (Koleksi Indra M)
http://ario-perdana.fotopic.net/c267258.html (Koleksi Ario, Tukang Bola)


Tambang Gorden pun Putus!

Filed under Agenda deGromiest

tariktambang.jpg Tambang yang dibuat dari bahan gorden, didesain oleh 4 orang PhD, 1 orang Master fisika teoretis, dan 1 orang profesional pengeboran lepas pantai itu, ternyata langsung putus. Hanya dalam sekali tarik, group tarik tambang wanita telah memutuskan satu dari tiga tali yang dipintal jadi tambang. Akhirnya tambang pun benar-benar putus setelah group laki-laki berikutnya menarik dengan lebih kuat. Badan-badan kekar itu pun langsung berjempalitan, bergulung-gulung, jatuh ke tanah. Namun, saran jitu dari pakar biokimia telah membuat pertandingan tetap berlangsung. Tambang yang putus itu pun menyatu kembali.

Alhamdulillah, acara 17-Agustusan yang dipersiapkan dalam waktu yang sangat singkat, satu minggu, berjalan dengan sukses. Diikuti oleh lebih dari 50 orang, terdiri dari mahasiswa, warga Indonesia, dan warga belanda yang memiliki hubungan kuat dengan Indonesia. Dari anak-anak hingga kakek dan nenek menikmati acara yang baru pertama kali dilaksanakan di kota Groningen ini.

Cuaca juga sangat mendukung. Dimulai dengan pagi yang sangat cerah, dan ketika terik, mendung datang memayungi pertandingan di lapangan. Setelah selesai pertandingan bola, mendung gelap pun pergi, hingga sinar mentari menyinari arena lagi. Membuat hawa sedikit panas, tapi juga membuat selera makan meningkat begitu melihat potongan-potongan semangka merah yang sangat manis disajikan.

Semua pertandingan akhirnya berhasil dilaksanakan dengan baik. Meski demikian, ada banyak kekurangan sekaligus juga kelebihan dari acara ini. Seperti, acara yang baru bisa dimulai pada pukul 11. Semula diharapkan mulai 30 menit lebih awal. Karena jumlah peserta hanya 50, tidak memungkinkan dibuat pertandingan secara paralel. Semua berjalan beriringan, sehingga waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Dan banyak hal lain yang perlu dievaluasi dan didokumentasikan. Ini penting sekali untuk pelaksanaan acara serupa di tahun mendatang.

Oleh karena itu, melalui forum meja Cafe ini, kami mengundang teman-teman yang melihat pelaksanaan acara 17-an kemaren, untuk memberikan evaluasi berdasarkan pandangan masing-masing. Dengan memposting melalui komentar di bawah, diharapkan evaluasi akan lebih demokratis, komprehensif, dan terdokumentasi.

Silahkan.. berikan evaluasi dan komentar anda di bawah ini. Dan, terimakasih banyak atas partisipasinya dalam acara 17-Agustusan kemaren.

Merdeka!


Salam perjoeangan!!
17 Agustus hari kemerdekaan kita bung!!

Kepada para mahasiswa dan warga Indonesia dan yang berjiwa Indonesia di Groningen, bersama ini dioemoemkan, bahwa perayaan 17-Agustus di Groningen akan diselenggarakan pada:

Hari : Minggu
Tanggal : 15 Agustus 2004
Jam : 09.00 s/d selesai
Tempat : Di Gedung dan Lapangan Gedung Biru Hanzeborg
(let op: lokasi berubah dari yg diumumkan
sebelumnya)

Alamat : Zernikeplein 23 (depan), Grouwelerie 6 (belakang)

Rute ke lokasi
————–

- Sepeda :

Lewat fietspad crematorium: lurus, lewat
samping/belakang Natuurkunde/Scheidunde lab, Jl. Nijenborg,
gedung tentament masih terus sedikit.

atau

Lewat Zernikelaan: lurus sampai pemberhentian bis terakhir,
sebelah kanan ada gedung biru (Hanzeborg).Samping gedung tsb
ada jalan sepeda, belok kiri untuk kelokasi.

- Mobil:

Masuk Zernikecomplex, lewat Zernikelaan lurus, sebelum
pemberhentian bis, ada tembok merah sebelah kanan jalan,
belok kanan, masuk Nijenborg, terus belok kiri
Grouwelerie.

Rancangan Acara:
—————-

+ Lomba-lomba:
- Tarik Tambang (dewasa)
- Balap Kelereng (anak2 & dewasa)
- Makan Krupuk (anak2 & dewasa)
- Masukin pensil ke botol (anak2 & dewasa)

(pendaftaran dilakukan di lokasi)

+ Pertandingan Hiburan:
- Sepak Bola Sarung

+ Pemberian hadiah bagi pemenang lomba
dan partisipan

+ Menyanyi bersama, lagu-lagu perjuangan dan kenangan.
(teks lagu akan disiapkan panitia)

+ Foto2 bersama.

+ Makan bersama.

RAPAT PANITIA

Bagi temen2 yang berkenan membantu menjadi panitia, bersama ini kami
mengundang untuk rapat koordinasi terakhir menjelang acara, pada:

Hari : Jum’at
Tanggal : 13 Agustus 2004
Jam : 18.00 s/d selesai
Lokasi : Rumah Mbak Heni
Concordiastraat 67a (Paddepoel)

Mari kita sukseskan acara peringatan 17-Agustus, hari kemerdekaan
negara kita tercinta.

Wassalam.


Rencana 17-Agustusan 2004

Filed under Agenda deGromiest

Salam Merdeka!

Ada sebuah tanggal, yang jika kita mendengarnya, akan kita rasakan aliran semangat orang2 terdahulu…hingga kini. Yang menjadi titik pertemuan sekaligus perpisaan status, antara negara kita dengan negeri yang kita diami saat ini. Antara Indonesia dan Belanda.

Tanggal itu adalah 17-Agustus.

Dan kita sebentar lagi akan melewatinya.

Konon, seorang teman baru bisa merasakan bahwa ada ‘cinta’ dalam dirinya kepada sang ibu pertiwi, ketika berada jauh di perantauan, di negeri orang. Ketika berada di sini. Air matanya menetes, setelah lama tidak mendengar lagu kebangsaan dinyanyikan. Itulah cinta. Sebuah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Sebuah Anugerah yang mendorongnya untuk berbuat ’sesuatu’ bagi negerinya.

Mari, kita datangi ‘cinta’ itu. Mari.. mari kita bersama-sama, merasakan dan menemukan ‘dia’ di dalam hati kita. Mari kita lihat ‘dia’ di hati saudara-saudara kita yang sudah lama meninggalkan negeri kelahirannya. Mereka sudah tidak bisa membayangkan seperti apa sekarang Indonesia, tetapi masih cinta dengan ‘Garuda Pantjasila’.

—————————————————

15 Agustus 2004
Di Taman Depan Masjid Selwerd
Mulai jam 09.00 s/d 14.00

PERAYAAN 17-AGUSTUSAN
WARGA INDONESIA DAN YG BERJIWA INDONESIA
DI GRONINGEN

Berbagai lomba akan digelar:
- Tarik Tambang
- Makan Krupuk
- Balap Kelereng
- Masukin Pensil ke Botol

Dan sebuah grand permainan:
“Pertandingan Sepak Bola Sarung”

Nikmati juga sajian sate dan masakan
khas kontribusi peserta keluarga.
—————————————————

Kepada Teman-teman mahasiswa Indonesia di Groningen, dipersilahkan partisipasinya, baik menjadi peserta maupun panitia di lokasi acara. Berikut ini adalah susunan penanggung jawab dan acaranya. Semua acara masih membutuhkan bantuan panitia pelaksana.

Untuk temen2 PPI, partisipasi sbg panitia akan dikoordinir oleh “Bung Andre”.

Tugas panitia di masing2 acara adalah:
- menyiapkan aturan main
- menyiapkan perlengkapan
- membuka pendaftaran di lokasi acara
- menyelenggarakan lomba
- menentukan pemenang

———————————————-
RAPAT PANITIA TERAKHIR, AKAN DILAKSANAKAN

13 Agustus 2004
Jum’at, jam 18.00
Di Concordiastraat 67a
Rumah Mbak Heni Rachmawati
———————————————-

Berikut ini detail rencana, berisi susunan lomba, info, dan penanggung jawabnya. Tanda ‘??’ artinya masih perlu keikutsertaan temen2 sebagai panitia.

Koord Acara: Wangsa Tirta Ismaya

1. Lomba Tarik Tambang (dewasa)

Panitia:
- Koord: ??
- membuat aturan main
- pendaftaran dan perlombaan
- Logistik: Indra Muliawan
- menyiapkan tambang dari gordyn yang di potong dan di
anyam.
- bahan gordyn ada di Ismail
- Anggota: ??

2. Lomba Makan Krupuk (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: Ikhlasul Amal
- membuat aturan main
- pendaftaran (anak dan dewasa)
- logistik: krupuk dan tali2
- perlombaan
- Anggota: ??

3. Lomba Balap Kelereng (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: Alia K.
- menyiapkan kelereng dan sendok
- aturan main
- pendaftaran
- perlombaan
- Anggota: ??

4. Lomba Masukin Pensil ke Botol (dewasa & anak2)

Panitia:
- Koord: ??
- aturan main
- pendaftaran
- perlombaan
- Logistik:
- Pensil dan tali (Indra M)
- Botol (Alia K)
- Anggota: ??

5. Pertandingan Sepak Bola Sarung

Panitia:
- Koord: Buyung
- Aturan main
pake sarung, mata sebelah ditutup, dll
- pembentukan 2 tim
- pertandingan

- Anggota: ??
- Logistik:
- Bola (Khairul)
- Sarung (Wangsa, Khairul, Ismail)

Pendukung Acara:

1. Konsumsi:
Koord: Mbak Heni Rachmawati
Anggota: Mbak Yulia, Senaz, Agnes, Dian, ???

2. Pembawa Acara:
- Wangsa
- Bude Nanie
- ??

3. Tatib: ??

4. Dokumentasi:
- Bang Ferry ‘Forever’
- ??

5. Hiburan Guitar: Teguh & Indra Muliawan
- Menyiapkan lirik lagu2 perjuangan (diprint di kertas dan dibagi
ke peserta waktu nyanyi bersama):
- 17 Agustus
- … silahkan usul…
-
- Kemesraan

6. EHBO:
- Itob
- Agnes

7. Transportasi:
- Hariyadi

8. Hadiah Lomba:
- Alia
- Agnes

9. Kontak personen warga Indonesia:
- Ibu Asyah
- Bapak Suganda
- Om Anton Branratu
- Bapak Achmad

10. Lain2 (Logistik):
- Pengeras suara (toa): Bang Fahmi
- Tape: Ismail F (tapenya udah tua, ada yg punya lg?)
- Kaset lagu2 perjuangan: ??
- Alas & kantong sampah: Indra M
- Tenda makanan: Mbak Heni

Penasehat:
- Bude Nanie
- Bang Fahmi
- Mbak Heni Rachmawati

Dana:
- DeGromiest
- Iuran sukarela waktu acara

Penanggung Jawab Acara:
- Ismail Fahmi (deGromiest)

Demikian pengumuman, sekaligus detail rencana acara 17-an ini. Perlu diketahui, bahwa acara ini dirancang semudah mungkin, sehingga dalam seminggu kepanitiaan dibentuk, diharapkan acara tetep bisa berhasil.

Terimakasih, dan Merdeka!!!


Ketika aku kecil

Filed under Dokumentasi

Dear de Gromiest,

Sudah lama gak nulis… kesibukan silih berganti datang… kepala penat. Benar, setelah status berganti, yang bukan lagi seorang student, terasa tanggung jawab dan beban yang lebih berat…pffff…

Beberapa hari yang lalu, sewaktu aku mengayuh sepeda menuju TU, terlihat kupu kupu indah berterbangan..indah memang. Aku pun berhenti mengayuh, lalu kususuri jalan setapak menuju kampus. Tak sengaja, terlihat seekor ulat bulu dan kepompong di pohon. Ah, inilah awal dari suatu keindahan nantinya.

Aku teringat pada sebuah peristiwa yang pernah kualami ketika aku kecil. Pernah kulihat seekor ulat bulu yang meliuk-liuk menuju tempat daun segar makanannya. Aku terbelalak, terasa jijik memang. Karena penasaran, tak tertahankan tangan ini terulur dan berusaha menyentuh ulat berbulu tersebut dengan jemariku. Aku tersentak. Jariku terasa gatal. Namun tetap ku coba meraihnya lagi, rasa gatal dan tersengat terkalahkan oleh keingintahuanku. Kuletakkan ulat tersebut di telapak tanganku…. aku tertawa geli sambil mengamati sebagian ciptaan Tuhan ini. Takjub dan dipenuhi rasa kagum. Ketika aku kecil, aku begitu mudahnya merasa takjub dengan sekelilingku. Ulat yang menjadi kupu-kupu, pelangi sehabis hujan turun, bahkan ketika hujan turun pun, dengan gembira aku berlari keluar rumah menyongsongnya. Sering kuabaikan teriakan ibu atau ayahku demi keriangan menyongsong curahan air hujan.

Ah, betapa mudahnya kita merasa takjub dan terpesona ketika kecil. Semuanya tampak indah, mempesona dan menakjubkan.

Lalu aku bertambah besar, berkembang menjadi dewasa, dan barangkali sudah tak terhitung berapa banyak ulat bulu yang dulunya kukagumi kini kuinjak injak dengan penuh perasaan jijik. Mungkin, ini juga yang pernah anda alami sekarang. Keajaiban kupu-kupu tak lagi menarik perhatian kita. Segalanya tampak biasa-biasa saja. Keindahan alam yang dulu terlihat oleh mata anak kecil kita, kita tampak biasa dan tak lebih dari sebuah gejala alam semata… perlahan, logika berpikir mengambil alih pikiran kita dan merampas ketakjuban yang sering hadir tatkala kita kecil.

Mengapa ”penglihatan” kita berbeda dari anak-anak? mungkin ada beberapa hal penyebabnya. Pertama, berbeda dari anak-anak, kita cenderung melakukan segala sesuatu dengan tergesa-gesa. Kita pun sering mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Kita mungkin sarapan pagi sambil membaca koran dan menonton televisi, menyetir mobil sambil menjawab telepon. Bahkan mungkin, anda berbicara dengan bawahan sambil mengetik di komputer.

Akibatnya kita tak sepenuhnya menyadari apa yang sedang terjadi. Kita jarang benar-benar ada di sini saat ini untuk menikmati dan menyadari segala sesuatu. Lebih parah lagi, kita cenderung digerakkan dari luar, bukannya dari dalam diri kita sendiri.

Orang bilang, untuk bisa menikmati keajaiban justru kita harus memperlambat irama hidup Anda. Lebih peka terhadap sekitar kita, dan seperti yang pernah ditulis oleh Mas Ferry, bukalah pintumu selebar-lebarnya. Manusia bukanlah human doing yang terus menerus melakukan pekerjaan. Kita adalah human being. Ini hanya akan terjadi kalau kita hidup dengan irama yang lebih pelan. Hidup seperti ini jauh lebih efektif, lebih berseni sekaligus lebih kaya. Hidup lebih pelan memberikan kita waktu untuk berhenti, berpikir, merenung, dan memutuskan sesuatu dengan penuh kesadaran. Kesadaran inilah pintu untuk melihat keajaiban.

Kedua, kita kurang menghargai hal-hal kecil. Kita cenderung memikirkan hal-hal yang kita anggap ”besar.” Padahal alam semesta ini didesain dari hal-hal kecil yang sangat rinci dan kompleks. Eknath Easwaran, seorang guru meditasi, mengatakan bahwa keajaiban Tuhan memiliki dimensi yang unik, yaitu ”lebih kecil dari yang paling kecil dan lebih besar dari yang paling besar.” Coba perhatikan serangga dan hewan-hewan kecil lainnya. Lihatlah jutaan planet dan galaksi di alam raya. Coba perhatikan susunan tubuh kita sendiri. Anda akan merasa takjub dan kagum luar biasa.

Kalau kita menghargai setiap hal yang kita jumpai kita akan menikmati keajaiban yang tiada habis-habisnya. Anda akan senantiasa mendengar suara Tuhan pada setiap nafas yang berhembus, pada desir angin yang berbisik.

Ketiga, dan ini lebih serius lagi, anak-anak mampu menangkap keindahan karena mereka masih jernih, otentik, dan bersih. Mereka masih sangat dekat dengan jiwa sejati kita.

Sewaktu kecil kita betul-betul merupakan makhluk spiritual. Pada saat itu kebutuhan jasmani kita amat terbatas. Kita hanya mengonsumsi benda-benda sebatas kebutuhan kita. Namun, semakin dewasa kebutuhan kita semakin banyak. Yang lebih parah lagi, kita telah mencampuradukkan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan kita sebetulnya berbatas, tapi keinginan tak ada batasnya. Bahkan, setelah sebuah keinginan terpenuhi, keinginan yang lain
pun segera bermunculan.

Masalahnya, semakin kita memperturutkan keinginan, semakin jauhlah kita dari diri kita yang asli. Keinginan selalu mengajak kita meninggalkan diri sejati menuju ego. Padahal ego inilah akar dari segala permasalahan yang kita hadapi. Semakin kita mendekati ego, semakin kita akan kehilangan kontak dengan jiwa sejati kita. Ini biasanya ditandai dengan keadaan depresi, mudah marah, masalah lambung, dan tekanan darah tinggi.

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan kembali mendekati jiwa sejati kita. Inilah yang akan melahirkan ketentraman sejati. Diri sejati sebenarnya berada sangat dekat, bahkan lebih dekat dari tubuh kita
sendiri. Inilah sebenarnya akar dari semua keberadaan kita. Di sini lah kita akan menemukan solusi dari setiap persoalan.

Kalau kita mendekati diri sejati kita, setiap momen akan terasa segar, indah, dan menakjubkan. Lebih dari itu, perasaan-perasaan takjub ini akan melahirkan satu hal: perasaan rindu untuk bertemu dengan Yang Maha Indah.
Kita sadar sepenuhnya bahwa tak ada sesuatu pun yang diciptakan-Nya dengan sia-sia.

wallahu alam
===

tulisan ini ditulis atas pengalaman pribadi ketika melihat seekor ulat bulu, saat berjalan menuju TU, plus ditambah dari sebuah tulisan lain, yang kebetulan terbaca saat lagi mengembara di dunia maya yang tanpa batas ini…