Archives for June, 2004

Ibu saya dan PKS

Filed under Intriguing Idea

Pagi pagi telpon nyokap di palembang… cerita sana sana, eh nyangkut ke masalah pilpres….usut punya usut,

ternyata doi juga pilih PKS.. nah lohhhh.. kirain dia pilih PAN,gubrak dehhh….cuma, katanya, sambil berkeluh kesah, kok kayaknya PKS susah banget dalam menentukan sikap untuk mendukung capres, menurut dia (setelah baca-baca republika tentunya) ternyata ada tarik menarik kepentingan di tingkat atas pimpinan PKS untuk mengambil keputusan antara mendukung amin rais dan wiranto…. kata ibu saya lagi, bukankah, karena ketegasan anak-anak muda pengusung PKS inilah beliau nyoblos PKS april lalu, namun, begitu melihat kenyataan yang ada sekarang, ibu saya, menarik kesimpulan….

Yaaaah nak, ternyata segitu gitu aja kualitas mereka…ternyata, contoh dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan dalam dilema politik.

wahh.. mak, nggak bisa gitu, kata saya, mungkin aja para pimpinan atas PKS harus ekstra hati hati dalam menentukan pilihan, sebab, apapun keputusan yang mereka ambil nanti, pasti berimbas pada pilihan massa nya….saya bilang gitu ke emak sayaa….

wahh.. kata emak saya, yang dia baca di republika itu lain.. katanya bener bahwa PKS belum menentukan pilihan… wahh wahh.. ngotot juga emak sayaa…saya pikir, ahh mungkin ini media blow up… apa mungkin…..

akhirnya, ngomong ngolor ngidul… terhentilah diskusi kilat saya via telpon…

mak.. emak.. adaada ajaa.. seriusss bangettttt……dalam hati saya berujar…

but, nggak cuma sampe di situ, hari ini, di kampus, saya baca baca koran, termasuk republika, trus, saya klik rubrik resonansi, ehh pas kebetulan, tajuk tulisan zaim uchrowi, yang judulnya, PKS memenangkan hari nurani…saya trus baca, dan sampai pada penggalan paragraf :

“===== Zaim uchrowi, resonansi Republika

Persoalan baru muncul menjelang pemilihan presiden 5 Juli ini. PKS tak segera menentukan sikap hendak mendukung siapa. Sebagian besar konstituennya menginginkan partai ini mendukung Amien Rais. Ia calon presiden paling religius, paling ”bersih”, serta paling intelektual. Hal yang memang menjadi landasan PKS selama ini. Namun, sebagian lain memilih Wiranto. Bahkan, peran Amien sebagai pembuka gerbang reformasi tak cukup menarik buat mereka. Mereka ingin presiden yang ”kuat” serta paling berpeluang mengakhiri rezim Mega. Mereka menggambarkan Wiranto seperti Khalifah Umar bin Khattab.

Penggambaran yang membuat banyak orang tercengang. Tarik-menarik jelas tak terhindarkan. Hal itu tentu mengecewakan sebagian pendukung PKS sendiri. Sosok seperti Ratih Sang bahkan tak menutupi sikapnya. Konon ia tak ragu pergi bila partai tak lagi sesuai dengan visi yang ia yakini. Yang lebih bermasalah lagi, keputusan tak kunjung keluar. Di saat pusat mempertarungkan Amien-Wiranto, sebagian pendukung pinggiran PKS menengok SBY yang justru tak direkomendasikan. Bagi masyarakat tradisional, sosok besar SBY memang figur pemimpin ideal karena ”berwibawa”.

Sebagian kalangan PKS membela ketidakjelasan itu. ”Langkah partai sudah benar, kita perlu hati-hati,” katanya. Bisa jadi ia benar. Sayangnya batas antara hati-hati dan tidak mampu mengambil keputusan sangat tipis. Partai berbeda dengan gerakan dakwah dan sosial. Sekadar kebaikan hati dan ideologi tak mencukupi. Partai adalah juga kumpulan kepentingan. Perlu sistem efektif yang mampu menjembatani atau menetralisasi kepentingan pribadi. Sistem itulah yang hingga kini belum cukup dipunyai PKS yang ternyata masih berkultur paguyuban ketimbang patembayan.

===bla..bla..bla….

akhirnya, saya pun paham, dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dipraktekkan oleh individu-individu PKS tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan pada kepentingan politik…

ternyata…seperti halnya emak saya, saya pun kecut..sebab, walopun salah salah coblos, saya sempet nusuk PKS… (setelah nusuk logo PAN )

kalo gitu, hidup mbak puri… hidup golput…

prettige avond allemal

ican


Venus lewat

Filed under Catatan Pribadi

Waktu bangun hari ini, ingat kalau ada momen besar yang akan terjadi: Venus transit di matahari. So, what? Ini kesempatan langka yang muncul belum tentu sekali dalam ratusan tahun, mungkin lebih. Momen yang sama seperti lewatnya komet dan teman-teman luar angkasa lain …..

Bangun pagi sekitar jam 06.00, untung udah subuh sebelum tidur jadi ngga buru-buru. kucek-kucek mata, nyalakan komputer dan lihat-lihat pencuci mata, melihat keluar: bagaimana mau melihat venus kalau cuaca mendung berawan seperti ini. Walhasil, malah pasang penutup mata buat nerusin tidur lagi, bebas cahaya ….

Lihat jam sudah hampir jam 09.00, langsung loncat ke kamar mandi (buat cuci muka dan sikat gigi, sudah beberapa hari malas mandi) dan siap-siap berangkat ke kantor. Sambil jalan ke arah Aa-kerk, clinguk ke atas, bertanya apa beneran venus bakal kelihatan, ya? Eh, jadi aja bus nomor 15 lewat depan mata, padahal kalau mau bergerak sedikit pasti dapat, cuma terpisah jarak 10 meter. Tapi …. ah, setiap 10 menit ada yang lewat toh, sambil senyum ngedipin supir bus yang kebetulan cakep, membiarkan dia ngeluyur ke arah Zernike (ternyata supir bus berikutnya sudah tua, hahahaha ….). Waktu duduk di bus terus terfikir, padahal kalau datang ke kantor sudah kadung terlambat dan merasa biasa aja (toh tadi malam sampai larut kerja di lab), kenapa ngga jalan aja ke Academie Gebouw nemuin mas Ferry, minta tunjukin Venus pake kacamata D-5 (yang disediain gratis) …. AH, biarin aja lah, kerjaan kan nomor satu ….

Sampe kantor tetap penasaran, ini kan momen yang ngga sekali dalam ratusan tahun, masa dilewatkan begitu saja. Jadilah, angkat telepon, kontak mas Ferry, tanya bagaimana cara melihatnya. Satu disket yang ngga kepakai jadi korban, buat gentinya kacamata D-5 …. intip-intip, eh keren juga …. kaya matahari punya tahi lalat di dagu kiri bawah, trend ala marilyn monroe kali, ya … tapi pas balik ke ruangan, hem, cuma sebegitukah? balik lagi ke luar, lihat lagi, bolak balik sampai 3 kali, tetap aja bertanya …. hanya sebegitukah?

Sekarang udah sore, hingar bingar Venus lewat juga udah sirna, malah mungkin buat beberapa orang, sudah dilupakan. Tapi kok teruus aja terfikir: Venus transit, momen besar, belum tentu terjadi lagi dalam beberapa ratus tahun ke depan (se-engga-nya ngga sejelas sekarang). Lama-lama kefikiran, kenapa menjadi momen besar? matahari kan lebih jauh, ngga ditunggu-tunggu tuh nongolnya. Bulan juga (kecuali memang diperluin buat nentuin kapan puasa dan lebaran). Bus nomor 15, apalagi …. bakal ketinggalan didepan mata juga dicuekin, udah apal ini jadualnya.

Ini masalah momen, karena hanya kali ini kesempatan buat lihat Venus seumur hidup, ngga bakalan dilewatkan. Kalo dari matahari sampai bus, itu sih udah jamak. Analog dengan hidup (sebagai suatu momen), dari nikah sampai pekerjaan juga udah jamak: hidup ngga boleh sampe salah jalan, cuma sekali, kalo nikah, skolah, kerja de ka ka, ngga cocok ya … bubar en cari lagi, hahahahaha …

Ini masalah respek, fenomena yang menurut kalangan astrolog sangat mengagumkan, kok rasanya plong gitu aja. Udah dicoba-coba merasakan keindahan waktu melihat bintik item kecil itu, hem, tetep aja ….. salah satu kegagalan mentadaburi alam? ngga tahu deh …

Ini masalah gengsi, bisa dijadikan kebanggaan kalau sempet terlibat. Se-engga-nya kalau ketemu temen: “sempet liat Venus transit, ngga? bagus en asik lho …”. Lho, teman-teman di kampus malah sudah melihat duluan. Ada teman seruangan yang ngga lihat, waktu ditanya jawabnya: lihat aja di internet, gampang en ngga bikin sakit mata. Waktu ditimpali bahwa melihat fenomenanya secara langsung beda dengan melihat foto hasil jepretan di muka komputer, cuman dicibirin aja …..

Ini masalah curiousity, kaya apa sih kalo Venus transit di matahari. Ooo, seperti itu, ya udah ….. langsung masuk recycle bin di otak ……

hehehe, koq inget sama es krim campina yang waktu jualan paddle-pop jinglenya terkenal karena tiap tukang es keliling stay tune sama kasetnya.

– I’m your Venus –
– I’m your fire —
– your desire, your desire —-


Beberapa hari yang lalu pergi nonton film di Pathe, mendengar kalau ada film bagus, referensinya cukup lengkap. Bersama-sama dengan sebelas orang (didominasi oleh gerombolan Plutolaan) kita menonton Day after tomorrow. Waktu akan berangkat, tidak ada gmabaran sama sekali tentang film itu, pernah lihat iklannya di teve, mirip-mirip armagedon atau dante’s peak, lah ….

Sepanjang menonton pun perasaan apriori dan nge-judge sudah ada, typical film Hollywood, yaa, ceritanya sudah bisa ditebak toh: happy ending dan heroic, jadi karena sudah menebak akhirnya kaya apa, yang ditunggu-tunggu momen serunya saja. Walhasil, tidak seru !!!!! ngga ada perasaan thrill sama sekali, datar, ditambah alur ceritanya yang sangat lambat (membosankan). Memang sih, ada momen-momen menyentuh seperti saat sang ayah berhasil mencapai lokasi anaknya yang terkepung dalam jebakan suasana membeku di Manhattan, waktu sang ibu hampir mengorbankan dirinya untuk menunggui pasien kecilnya karena ketiadaan ambulance …. TAPI, ya, standar Hollywood, jadi kalau bahasa dugem bilang: Basi banget ngga sich ??? Mungkin momen-momen ini terkubur di antara hebohnya cerita mengenai bencana yang terjadi. Apa lagi, ya? Arogansi pemerintah dan unjuk kecanggihan teknologi Amerika, nda usah nonton film ini pun rasanya sudah tahu. kalau sekedar untuk menonton, ini film bagus, sayangnya dibuat dalam format yang sudah standar. Entertaining tapi tidak menyentuh ….. Buat yang nda suka science, bahkan, lebih mirip kuliah Klimatologi dari pada cerita tentang suatu bencana. Sempat kesal juga karena sewaktu sang professor membuat presentasi tentang arus teluk, indonesia sama sekali menghilang dari peta dunia yang ia tampilkan.

Namun ada satu pelajaran berharga yang bisa dipetik dari film ini, yang sangat tidak diduga. Sewaktu diceritakan tentang bencana yang terjadi, segera terlintas di kepala kalau Amerika dengan heroic bisa menemukan metode atau teknologi yang bisa menyelesaikan masalah tersebut, bagaimana pun caranya. Intinya, lagi-lagi heroisme Amerika. Di sini justru kejutannya ! Dalam film ini digambarkan bagaimana Amerika memang tidak berdaya melawan bencana ini, digambarkan bagaimana Amerika memohon pada pemerintah meksiko agar memberikan bantuan (well, you know hubungan Amerika dan meksiko…), bagaimana Amerika pada saat semuanya berakhir mengucapkan terima kasih dan penghargaan untuk negara-negara DUNIA KETIGA yang (kebetulan) tidak terkena bencana dan membantu Amerika (dan negara-negara belahan bumi utara lainnya). Cerita mengenai bagaimana kekuatan sebesar apapun di muka bumi ini tidak berdaya menghadapi murkanya Alam (yang bisa diartikan sebagai kekuasaan Tuhan). Berkaitan dengan ke-Tuhan-an, memang ada yang miss di sini. Tidak ada scene yang melibatkan agama (memunculkan pastor, pendeta, berdo’a de el el). Memang sempat terucap “let’s pray” atau “we can only pray” dan semacamnya, tapi tidak lebih dari itu.

Phew, semoga saja bentuk kearoganan Amerika yang terkikis dalam film ini bisa terwujud dalam kehidupan nyata.