Archives for May, 2004

“Hidup penuh dengan teka-teki…”

Psikiater yang dikunjungi Sakti mencoba menenangkan kliennya. Seorang eksekutif muda yang sedang didera oleh pertanyaan, “mengapa aku tidak bisa normal seperti orang-orang, dokter?” Sebuah pencarian yang sulit. Haruskah aku membiarkan orang-orang tahu kondisiku sebenarnya? Akankah mereka lari jika tahu aku seperti apa? Mustikah aku mengikuti aliran jiwa aneh dalam diriku? Apakah aku salah?

“Itulah gunanya teman, kawan,” dikala jiwa rapuh dan orang-orang paling dicintai tidak bisa membantu, teman datang dengan membawa empati. Dalam konflik kehidupan, persahabatan dipertaruhkan. Prinsip-prinsip diuji. Kepahitan dan kegetiran lah yang kemudian mengasah kebencian, kemarahan dan kekecewaan menjadi kilauan permata.

Sangat kreatif. Lucu. Berani. Melawan arus. Konflik. Nyata.

Aku pribadi acung jempol dengan filem karya Nia Di Nata ini (http://www.imdb.com/title/tt0374506/). Berangkat dari acara sehari-hari para istri eksekutif ibu kota, ‘Arisan’, sang sutradara berhasil mengangkat konflik, permasalahan dan kemunafikan yang selama ini masih tabu dibicarakan di masyarakat Indonesia. Disajikan dengan gaya humor dan lucu yang tampak alamiah tidak dibuat-buat. Aku menikmati filem ini, sekaligus mendapat pesannya. Terlepas dari keyakinan kita tentang ini:

‘Sakti bisa menjadi teman sejati bagi kita.’

Sekali lagi, menikmati filem, merasakan perjalanan pikiran sang sutradara, mengagumi akting. Setuju dengan pesan yang disampaikan? Itu lain cerita. Aku kira ini debatable. Tapi aku percaya, itulah realitas yang ada sekarang. Dihadirkan Tuhan untuk pelajaran. Untuk aku renungkan.

Jam 00:15. Pulang.

Namun, sejam sebelum acara nonton ‘Arisan’ dimulai, kita punya acara penting. Tepat setelah ngaji dan menyantap soto ayam yang aduhai rasanya — racikan Mbak Vira yang disiapkan dari Westerbadstraat — sebuah diskusi yang produktif, singkat, padat dan ‘to the point’ digelar. Ada apa dengan deGromiest? AADD? Apakah kita harus mempermasalahkan gay?

Bukan itu.

Kita sedang mengevaluasi kegiatan deGromiest, khususnya sejak kepengurusan yang baru (since December 2003). Ada yang bilang deGromiest sudah berubah 180 derajat. Ups.. yang berubah bukan deGromiestnya, tapi ketuanya (kata siapa Alia?). Menjadi agak-agak funky dan ndak karu-karuan. Yang lain masih baik-baik saja. (Jadi tahun depan diganti aja ya he.he..)

SATU

“200 euro kas kita berkurang sejak Desember tahun lalu,” kata Jeng Puri bendahara deGromiest yang kecil tapi paling energik. Isu soal keuangan ini membuka diskusi. Kenapa?

Tuhan telah me-”wujud”-kan salah satu SifatNya melalui ‘uang’. Sifat ‘Maha Pengasih dan Penyayang’. Melalui realitas Tuhan ini, manusia bisa menyayangi sesama, berbuat kebaikan, membangun kebudayaan dan masyarakat. Misalnya kita membantu adik asuh agar bisa terus sekolah, infaq ke mesjid Selwerd yang masih sering ‘tekort’, dan menjalankan berbagai kegiatan yang membangun ukhuwah dan silaturahmi.

Jadi, mengelola keuangan menjadi sangat penting.

Ada beberapa analisa mengapa ada penurunan kas deGromiest. Sebelum kepengurusan yang baru, pengumpulan dana dilakukan melalui iuran bulanan dengan jumlah tertentu. Namun cara ini dirasakan kurang enak. Rasanya anggota dipaksa. Padahal yang diinginkan adalah keihlasan beramal. Pemikiran ini membawa ke keputusan penting: menghapus iuran bulanan.

Sebagai gantinya apa?

Kita buat program “50-cents”. Idenya, setiap silaturahmi bulanan bendahara memberi amplop kosong kepada anggota. Setiap ada koin sisa belanja, dipersilahkan untuk ditabung ke amplop tersebut. Pada pertemuan bulan selanjutnya, amplop dalam kondisi tertutup dikumpulkan ke bendahara. Berapapun jumlahnya, tidak masalah. Ini bertujuan membiasakan hati untuk ingat kepada infaq.

Ide praktis ini ternyata “tidak praktis”. Terlalu banyak kerjaan harus mengelola amplop koin. Giliran pas mau silaturahmi, lupa ndak dibawa. Yang terjadi akhirnya, anggota begitu menerima amplop, langsung diisi secara spontan dan diberikan lagi ke bendahara. Amplop tidak dibawa pulang. Repot dan capek.

Program ini berjalan dengan baik, setidaknya sebelum dua bulan terakhir. Pada dua pertemuan terakhir tersebut, hampir tidak jalan. Ini diakui, memang kelalaian ketua untuk mengingatkan adanya sesi pengumpulan dana infaq pada dua pertemuan terakhir. Terlalu asyik diskusi dan ngobrol, dan baru ingat pas mau pulang. Selain itu program ini tidak disosialisasikan dengan baik. Setidaknya perlu selalu ada yang mengingatkan di setiap acara.

Apakah pada bulan-bulan sebelumnya cukup sukses? Iya. Bendahara bisa mengumpulkan setidaknya 50 euro per bulan dari infaq spontan ini.

Akhirnya diputuskan, program “50-cents” diganti dengan program “Amplop Infaq Spontan” pada waktu silaturahmi bulanan. Bendahara memberikan amplop kosong ke anggota pada awal acara, dan dipersilahkan memasukkan ke kontak sebelum mereka pulang.

Rumit ya ngurus pengumpulan dana. Kok susah-susah musti pake amplop segala? Kenapa ndak pake iuran saja yang pasti dan praktis? Ya, alasannya sudah jelas. Bukan terkumpulnya dana saja yang jadi tujuan, tetapi penumbuhan rasa sayang dan keihlasan berinfaq ini yang jauuuuuuuh lebih penting. 50 cents yang ikhlas lebih berat timbangannya dari pada 5 euro yang merasa terpaksa dan karena kewajiban organisasi.

So, Anda sudah mengerti kan alasannya?

“Plok..plok..plok?”

Semua applaus.. buat Mbak Heni. Karena amplop? Bukan. Tapi karena tak disengaja, acara jalan-jalan — istilah pesantren Krapyak-nya tadabbur alam — ke Efteling (www.efteling.nl) beberapa bulan lalu, telah berhasil menyisakan dana cukup banyak. Dan dana itu dimasukkan ke kas deGromiest. A new invention of a fund rising?

Ya. Tepat sekali.

Nulisnya diselingi lari pagi dulu. Jalur depan rumah, menyusuri tepian sungai, StadPark — di bawah pohon2 yang rindang, melihat2 kebun binatang mini — lalu keluar lewat Piezerweg dan terakhir Westerbadstraat (rumah Itob). Makan rujak nanas and mangga.

Oke, udah lumayan seger meski belum mandi. Aku lanjutkan reportasenya.

Seksi fund rising atau pengumpulan dana, adalah seksi yang ndak enak. Biasanya begitu, karena musti berurusan dengan perasaan orang. Perjalanan ke Efteling yang lalu semoga bisa menjawab tantangan ini. Biasanya untuk jalan-jalan, ndak masalah ngeluarin duwit. Jadi, sambil mengajak jalan-jalan, sekaligus juga mengajak berinfaq. Semoga perjalannnya lebih barokah. Lebih bermanfaat. Dilindungi Allah.

Jadi, nantinya setiap acara jalan-jalan yang dikoordinir deGromiest, bisa menjadi salah satu sumber pemasukan. Tentunya tidak perlu ditarget, cukup jika ada sisa dana. Ndak perlu banyak-banyak. Secukupnya saja. Cukup untuk beli server. Cukup untuk bantu bayar akses internet bulanan. Cukup untuk segalanya. “Ieu mah kemaruk, Jang!” komentar si Asep. Asep siapa? Ngawur.

“Kalau untuk acara ngaji Sabtu, dana dari mana untuk nyediain konsumsi?” tanya orang yang duduk di depanku (siapa ya, aku lupa, ndak dicatet semua sih). “Biasanya Wangsa nyiapin sebagian besar konsumsi. Temen2 yang datang kadang juga ikut bawain minuman, bahan-bahan masakan, atau buah2an,” kata Puri. Setuju. Kita gotong royong saja untuk acara sabtu ini, jadi tidak pernah menggunakan dana kas. Cuma perlu ada yang jadi kompor. Nanyain and kofirmasi. Jangan sampe tiba-tiba semua bawa barang yang sama: Ijs Thee semua.

DUA

“Ngomong-ngomong, gimana nih dengan trend terakhir acara ngaji sabtu? Kok seperti hesitate alias sungkan?” topik diskusi pindah ke isu yang lain. Sebuah isu yang aku sendiri sudah berpikir keras mencari solusi yang paling enak. Jalan tengah. Aku belum bisa memutuskan hingga saat itu. Udah diskusi dengan Puri, mbak Ike, Diana, Wangsa, Itob, Mas Amal, Bang Fahmi… Aku memilih mengendapkan dulu beberapa alternatif solusinya. Jangan sampe salah mengambil keputusan.

Isu apa sih? Sepertinya heboh banget. Pengen tahu ya..

Biasa aja sebenarnya. Sengaja dibuat agak heboh. Begini. “Awalnya bersama Pak Agus, acara ngaji sabtu ini bertujuan simple. Agar kita ada kegiatan bermanfaat di malam minggu. Ngaji Al Quran. Setelah itu mau ada acara yang lain silahkan. Jadi, mulai dari yang belum bisa ngaji, belum ngerti huruf Arab (apa lagi yang gundul), hingga yang moderate dan yang mahir baca, sama-sama ngaji. Yang ndak bisa ya cukup datang ndengerin aja.

“Abis itu kita diskusikan beberapa topik yang menarik dari surat yang dibaca. Dari kita dan untuk kita. Kita semua sama-sama belajar. Tidak ada guru atau murid. Semua pasti punya perasaan dan pemikirannya masing-masing terhadap topik yang diangkat. Itu yang kita saling tukarkan,” kira-kira demikian kata Wangsa. Sang tuan rumah dan yang dulu ikut membidani acara ngaji ini.

Perkembangan selanjutnya, kita mendapat anugerah, kehadiran Ustad Yasin dari Siria. Beliau ilmunya luas. Bacaannya bagus. Pernah tinggal di Malaysia, bisa “sikik-sikik ucap Melayu.” Senang sekali beliau membimbing kita membaca Al-Quran dan membahas segala pertanyaan kita. Alhamdulillah, banyak sekali masukan yang kita dapet. Rasanya sejak ada beliau, acara ngaji menjadi lebih berbobot. Tidak sedikit temen-temen yang menjadi bersemangat karena bisa memperdalam ilmu agama. Pertanyaan-pertanyaan ilmiah juga bisa dijawab. Seperti tetesan embun di gurun pasir.

Bukankah itu bagus? Emang. So what? What is the problem?

“Masalah” — kalau mau dibilang masalah — muncul ketika Ustad Yasin mulai memperbaiki bacaan. Awalnya, beliau mengikuti saja bacaan peserta ngaji. Benar atau salah dibiarkan saja. Setelah itu diskusi. Nah, setelah beberapa pertemuan, dirasakan perlu ada peningkatan. Bacaan yang salah mulai dibenarkan. Sebagian besar — khususnya yang memang sudah lancar dan ingin memperbaiki bacaan — merasa senang dan tidak masalah. Tapi yang sama sekali belum bisa baca, atau masih banyak sekali salahnya, rasanya kok gimana gitu. Ndak enak. Terlalu banyak salahnya. Jadinya muncul rasa sungkan.

Diakui memang, kalau tujuannya untuk meningkatkan bacaan, forum spt ini kurang bagus. Menyatukan yang belum bisa, baru bisa, dan sudah mahir jadi satu dengan seorang guru, adalah model yang kurang pas. Beberapa temen yang dulu mau hadir, tapi karena sungkan belum lancar, jadinya tidak hadir. Inilah masalahnya. So, you got the point? Bagaimana pun, kita ingin merangkul sebanyak mungkin temen2 untuk bisa ngumpul ngaji, diskusi, masak-masak dan akhirnya movie clubbing..

Apa penyebab utama sungkan itu?

Ketemu jawabnya. Bukan karena adanya Ustad, tetapi karena perbaikan bacaan yang nota bene kemampuan bacaan peserta sangat beragam. So, solusinya bagaimana? Harusnya lebih mudah sekarang. Setidaknya mulai terbayang celah tengah, jalan tengah. Antara kebutuhan untuk meningkatkan pemahaman serta tujuan untuk mengajak sebanyak mungkin peserta.

Solusinya begini.

“Dari empat minggu sebulan, satu sudah dipakai untuk silaturahmi bulanan. Jadi kita punya 3 pertemuan lagi seminggu untuk ngaji sabtu. Kita akan undang Ustad Yasin di salah satu pertemuan itu. Dengan metode seperti biasa. Dua pertemuan lagi dilakukan bener-bener dari kita, oleh kita, untuk kita,” demikian usulan Jarir ‘Masya Allah’ Atthobari. Diharapkan bener-bener cair. Seperti tadi malam.

Istirahat lagi ya. Jam 14.30. Musti ke Wangsa bantu benerin sepeda. Risky juga, Wangsa naik sepeda kemaren ke ACLO. Di tengah jalan sampe kecapekan. Tapi semangat 45 nya mengalahkan rasa sakit. Lucu juga lihat Wangsa cengar-cengir sepanjang jalan menahan sakit.

TIGA

Oke, kita lanjut lagi. Sekarang tentang 17 Agustus 2004 dan acara silaturahmi bulan Juni. Untuk tempatnya, sudah dua bulan yang lalu aku booking dan minta ijin ke tuan rumah. Farhad. Di rumahnya kita akan ngumpul-ngumpul lagi. Topik utama yang akan dibahas di pertemuan mendatang adalah tentang acara 17 Agustus-an yang telah diamanahkan oleh sidang paripurna deGromiest pada malam tahun baru 2004 yang lalu di Concordiastraat 67A.

Tidak ada pembicara yang akan kita undang seperti biasanya. Tapi akan bagus juga jika acara dimulai dengan “ular-ular” 10 menitan. Aku tertarik dengan diskusi di depan cafe ACLO dua bulan lalu dengan Farhad. Tentang sejarah Islam. Minatnya tentang sejarah tak tertandingi. Bukunya cukup banyak dibanding punyaku, tentang sejarah Islam. Jadi, kalau beliau — Farhad — berkenan, aku ingin memberikan “corong” kepadanya. 10 menit tentang sejarah Islam, dan bagaimana kita menapakinya. Sekali lagi, ini kalau beliau berkenan memberikan ular-ular.

Bagaimana Farhad? Setuju?

Setelah itu, kita akan membahas rencana penyelenggaraan peringatan 17 Agustusan di Groningen. Mengapa kita perlu menggelarnya? Berapa besar komunitas Indonesia dan yang berjiwa Indonesia di Groningen? Suriname, Indo-blesteran, Indonesia aseli, Indonesia berpassport belanda, dan juga para mahasiswa Indonesia. Bagaimana kalau kita kumpulkan mereka? Asyik ndak? Apa acara yang menarik dalam peringatan tersebut? Bagaimana kalau tarik tambang, balap karung, lomba makan krupuk, lari kelereng, keroncongan, dangdutan, qosidahan, lomba masak a la Indonesia? Siapa yang nanti bertanggung jawab jadi ketua panitia? Siapa saja panitianya? Bagaimana kalau gabungan dari deGromiest, PPI, juga dari warga Indonesia/berjiwa Indonesia di Groningen? Ah.. endless questions… kita bahas saja nanti. Oke?

Pak Dubes menyambut positif ide ini. Beliau langsung menyambungkan saya ke Pak Bambang, ketua panitia 17 Agustusan KBRI. “Tolong diinformasikan ke saya, rencana acara 17 Agustusan yang akan kalian adakan di Groningen,” pinta pak Bambang. Beliau ingin mendapat masukan, agar acara di Den Haag juga oke. Sempat juga nyentil-nyentil dikit masalah dana dengan bendahara KBRI. Belum sampai serius, tapi setidaknya introduksi ide dan rencana kita ini kepada beliau-beliau disela-sela Groens-CUP yang lalu cukup penting. Mbak Sari juga menyampaikan hal yang sama, jadi semoga gelombang ini kedengaran cukup nyaring sampai KBRI. Kita perlu dukungan.

Kapan kita bicarakan ini?

Sebenarnya aku tetap ingin diadakan di pertengahan Juni, meski aku masih di Indonesia. Tapi Buyung yang aku kedip-kedipin biar menggantikan aku menjelaskan ide acara ini di pertemuan mendatang keberatan. “Nanti saja nunggu balik ke sini,” usulnya. Oke, kalau begitu:

26 Juni 2004. 16:00 - selesai. Di rumah Farhad cs.

Sekalian, kalau ada ide apa saja yang musti aku bawa dari Indo untuk acara 17-an, di list saja. Filem Naga Bonar, lagu-2 perjuangan, bendera merah putih yang banyak?.. Asal ndak berat2 amat biar masuk bagasi.

EMPAT

“Kita akan kedatangan tamu dari Delft. Saudara-sudara kita dari PKS — tahu kan kepanjangannya? — ingin bersilaturahmi ke Groningen. Nanti kita adakan pertandingan olah raga persahabatan,” demikian info dari Khairul “Superman” Saleh. Kapan pak cik waktunya? Setelah dilihat-lihat lagi kalendar kegiatan deGromiest, insyaAllah kita bisa siap menerima kedatangan mereka di awal Juli. Oke pak cik. Setuju.

“Kayaknya kita perlu juga silaturahmi ke kota lain. Gimana kalau ke Enschede?” tanya Bung Superman. Ya, bagus sekali. Kita ntar ketemu The Fenomenal Supporter — Ime. Tapi rasanya sampai Agustus kita sudah full. Jadi setelah Agustus saja kita rencanain lagi.

“Oh iya, itu Ibu Aisyah tadi nelpon saya. Nanyain kapan mau main ke Delfzail?” tambah Mbak Heni. Perlu sodara-sodara ketahui, Bu Aisyah ini ibunya Bakhtiar yang cakep itu. Mereka hadir di pertemuan bulanan di rumah Mbak Sari. Bu Aisyah asli Indonesia, menikah dengan orang Belanda. Sekarang sudah menjadi warga sini. Setelah pertemuan yang lalu bubar, kami ngobrol-ngobrol tentang 17-Agustusan. Wah, semangat sekali beliau. Banyak ide keluar tentang bagaimana nanti model acaranya. Seperti kerinduan pada kampung halaman yang sangat mendalam. Seolah akan terobati. Aku ingin meminta kalau berkenan agar bu Aisyah ikut di dalam kepanitiaan 17-an nanti.

Delftzail. Kita akan ke sana. Setuju kan? Tinggal soal waktunya kita cari yang pas.

“Bowling..bowling dong..” usul Itob dan Wangsa. Iya, perlu ada variasi oleh raga nih. Selain olah raga mingguan, nantinya deGromiest juga akan mengadakan variasi olah raga seperti Bowling. Ini tentu di luar anggaran kas deGromiest. Dipersilahkan bagi anggota yang berminat untuk mengkoordinir sendiri. Waktu yang bagus adalah setelah acara ngaji sabtu. Jadi kalau tidak ada movie klub, bisa langsung ke bowling arena. Itob dan Wangsa yang akan mengkoordinir.

Awas, jangan sampe jadi bolanya…

Hampir lupa. Ada perubahan dikit tentang acara olah raga mingguan di ACLO. Biasanya hanya 2 jam, sekarang ditambah jadi 3 jam. Biar puas mainnya. Terus, kalau biasanya masing-masing yang datang ikut iuran sewa ruangan seharga 2 sms — alias 50 cents –, sekarang dibuat seharga sebungkus patat asin — 1 euro. Masih cukup murah kan?

LIMA

Oke, kita pindah ke topik selanjutnya. Tentang Buletin deGromiest. Bagaimana Wangsa? Bisa dilaporin? “Buletin sudah terbit sekali. Rasanya kita punya kendala di masalah administratif saja. Seperti mendata siapa yang perlu dikirimi, alamatnya, dan pengirimannya,” jelas Wangsa. Oke, rasanya agak susah ya ini dipecahkan. Kerjaan yang cukup berat, karena harus maintain data muslim di Groningen, khususnya yang tidak bisa ikut kegiatan deGromiest. Seperti bu Aisyah, dll. Diragukan kalau ada orang yang mau memegang tanggung jawab ini. Berat, tetapi tantangannya kurang.

Bagaimana kalau modelnya diubah? Dari buletin cetak, menjadi buletin elektronik saja? Bukankah sekarang udah jamannya internet? Toh, orang2 spt bu Aisyah juga punya akses internet. “Internet adalah salah satu bentuk kesederhanaan hidup di Belanda,” kata mas Amal. Mengapa tidak kita manfaatkan? Kita nanti tidak perlu pusing-pusing soal distribusi. Dengan demikian, kita bisa fokus pada content alias isi.

Ide adanya buletin ini penting sekali dan harus ada. Tinggal sasaran dan strateginya saja yang perlu direvisi. Nantinya kita buat sebuah tim redaksi. Kerjaannya aku kira cukup menantang. Setidaknya tiap minggu, berdiskusi, tukar pikiran tentang topik apa yang musti diangkat di buletin elektronik. Lalu menuliskannya.

Jiwa jurnalistik akan muncul. Pikiran yang kritis, curious, dan terus bertanya akan terasah. Menantang, karena kita dituntut untuk mengetahui hal-hal terbaru, penting, dan menarik untuk diangkat. Tidak hanya berpikir tentang bidang yang lagi digeluti di lab saja. Tetapi isu sosial, global, lokal, pasar Vismark, perubahan kebijakan imigrasi Belanda, dll bisa diangkat. Sangat-sangat bermanfaat.

Dimana bisa beli ikan yang paling murah di Vismark? E-471 itu apa? Halal ndak sih? Bagaimana kebijakan Belanda sekarang tentang pendatang baru? Bagaimana prosedur mendapatkan verblijf dokumen dengan policy yang baru sekarang? Bagaimana tanggapan masyarakat Belanda di Groningen tentang muslim, khususnya setelah mereka sering melihat berita tentang teroris dari muslim? Mengapa Fatamorgana di Efteling seolah menggambarkan kehidupan Arab yang sangat buruk? Apa ide dibalik itu? Apa dampaknya bagi orang Belanda yang melihatnya? Ah.. banyak pertanyaan kan yang bisa diangkat. Rasanya tiap minggu akan selalu ada topik menarik untuk dibahas dan ditulis.

“Oke, Buyung dan wangsa ntar diskusi juga dengan Mas Amal ya. Membahas strategi dan teknis dari tim redaksi buletin deGromiest,” segera aku ambil keputusan.

“Oke bang,” sanggup Buyung.

ENAM

Topik terahir, Internet… Ah lega. Udah mau selesai nulis reportasenya. Udah ndak sabar mau lihat rumah barunya Pak Tri dan Pak Ketut. Just 200 meters away from mine.

“Bulan depan kita musti bayar domain lagi. 19 euro.” kata Mas Amal yang mbahurekso server deGromiest. Domain ini dibayar hanya sekali setahun. Dengan membayar ini, kita punya alamat di internet yang keren itu: degromiest.nl.

Selain itu, mengingat besarnya pemanfaatan server oleh deGromiest, sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut membantu membayar akses internet bulanan. Selama ini atas budi baik keluarga Mas Amal dan Mbak Heni. Jadi kita punya server, bisa diakses dengan kenceng, selama ini numpang di rumah beliau.

“Bagaimana Jeng Puri? Bisa kita alokasikan tiap bulan untuk ikut iuran bayar internet?”

Ada ide bagus untuk fund rising. Mengingat banyak sekali dokumentasi foto, kalau didownload satu per satu juga berat. Terutama kalau sudah di Indonesia, pake dial-up lagi. So, “bagaimana kalau dibuat jasa burning CD berisi koleksi foto2 kegiatan deGromiest?” usul Mas Amal. Bang Ferry bisa menyiapkan file-filenya. Dana yang terkumpul bisa dimasukkan ke kas deGromiest.

So, jika Anda ingin pesen CD foto2 Anda di kegiatan deGromiest, silahkan kontak Mas Amal dan Bang Ferry. Lumayan kan untuk bahan sejarah bagi anak-cucu Anda.

YOUR 5 MINUTES, FOR A BETTER DEGROMIEST

Anda punya usulan, saran, kritik bagi deGromiest setelah membaca reprotase evaluasi di atas? Please, duduk 5 menit saja dan tuliskan komentar Anda di form di bawah ini.

Wassalam.

31 Mei 2004. A day before home sweet home…


Waktu sholat Jumat yang lalu karena saya ndak paham bhs arabnya, saya cuma menanangkap pesan soal pemimpin saja. Rasanya bacaan waktu sholat yang lebih ‘menyejuki’ kekeringan jiwa ini. So, terimakasih Bang udah memuatnya di Cafe. Tadinya tulisan ini komentar bagi artikelnya Bang Fahmi. Tapi karena kepanjangan, biar enak dibaca dengan font besar, aku upload jadi artikel saja.

Jadi, kita bicara soal anak nih?

Sebenarnya ini mudah sekali. Benarkah? Buktinya? Kalau untuk menguasai bahasa Belanda, technical writing, presentation in English etc kita bela2in ikut kursus, nah, giliran untuk mendidik anak, kita tidak perlu kursus. Seolah hal yang mudah, sehingga biar berjalan dengan sendirinya.

Selengkapnya…


Amanah dan pemimpin

Filed under Renungan & Hikmah

Coretan ini terinspirasi dari dialog yang dibangun oleh mas Amal dengan anak-anak dan tulisan John Don’t nya mbak Agnes, serta sebagian kandungan khotbah Jum’at yang disampaikan oleh khatib (Ustadz Mustafa) di Masjid Selwerd pekan ini. Lo..judulnya kok jadi seperti di atas ?.
Keseharian Safira dan Rehan di nukil dalam sebuah situs yang kadangkala berupa dialog kecil dipicu oleh pertanyaan keingintahuan sang anak terhadap berbagai hal. Fenomena alam dan perilaku yang baru saja dikenal mereka, membuat banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Sehingga sang Bapak seringkali memutar otak mencari jawaban yang “pas” serta tidak sekenanya. Karena tentu saja jawaban yang didengar mereka akan terpatri dalam ingatan sehingga kalau hal yang menyangkut konsep, bisa jadi lahir menjadi sebuah keyakinan. Tentu proses ini tidak akan timbul seketika dengan satu-dua pertanyaan saja namun berkesinambungan di saat-saat waktu tumbuh berkembangnya sang anak.

Mbak Agnes dalam tulisannya di koran PR dan disalin ulang di café degromiest mengungkapkan bahwa kata-kata “jangan” yang selalu dilontar kepada sang anak bisa berdampak kurang baik bagi perkembangan emoasi sang anak. Bisa jadi menghilangkan sikap kritis dan kreatif. Bukan berarti pula bahwa kita membiarkan begitu saja semua yang diungkapkan dan yang dikerjakan sang anak sehingga mereka akhirnya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan sehingga melahirkan kebaikan dan mana seharusnya yang mereka pahami sebagai sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan. Bangunan komunikasi yang pas bagi anak-anak pada saat umur-umur berkembangnya sangat menentukan “warna” (atau bisa disebut celupan = sibghah, Arab) sang anak kelak nanti diusia meraka dewasa.
Itu baru dua contoh saja dari “pernik-pernik” proses pembinaan anak yang kalau kita bisa memahami dengan baik akan berakibat baik juga kepada hasilnya. Sebagai orang tua yang punya anak “seumur itu” saya sangat ingin belajar dari berbagai cara pandang, terutama dari segi psikologi anak (Sepertinya bu Ike perlu ngasih training kepada kita-kita nih). Dan saya melihat sisi praktisnya juga tidak mudah karena berhadapan dengan berbagai aspek, termasuk juga emosi orang tua saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya, di saat kondisi orang tua sedang baik-baik rasanya sangat mudah mencari kata-kata yang tepat dalam menjawab atau menyampaikan sesuatu, namun kadangkala disaat-saat sibuk dan tegang bisa jadi kata-kata “jangan” akan mudah keluar.
Siapapun orang tuanya tentu berharap anak-anaknya menjadi pintar, cerdas, shaleh dan shalehah. Orang tau akan menjadi bahagia tiada tara kalau anaknya berhasil dalam berbagai aspek. Setidaknya keberhasilan yang bisa diukur dengan kasat mata manusia, misalnya anak pintar bisa diukur dengan hasil proses pendidikan, perilakunya juga bisa diukur dengan bagaimana cara berinteraksi, dan keshalehannya yang bisa dilihat dengan cara memelihara ibadahnya serta yang lain-lain. Orang tua akan bahagia kalau anaknya menjadi juara dikelas, dekat dengan Allah dalam segala aktifitasnya. Bagi saya tentu masih cukup lama sampai Fathiya dan adiknya mencapai umur baligh sehingga parameter-parameter tersebut bisa terukur.
Ustadz Mustafa dalan khotbahnya Jum’at kemaren mengungkapkan bahwa, keluarga adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, isteri/suami adalah amanah, anak-anak juga amanah. Kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabkannya kelak. Demikian sedikit dari beberapa ungkapan khotbah yang bisa saya tangkap. Karena dalam bahasa Arab maka tidak bisa mengerti sepenuhnya. Minimal sebagai pemimpin diri sendiri, kita akan diminta pertanggungjawabanya bagaimana me”manage” diri dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk Allah SWT. Sebagai orang tua, punya amanah untuk mendidik anak-anak sehingga pada saatnya nanti juga sebagai pemimpin bagi dirinya dan itu akan dipertanggungjawabkan nanti.
Terkadang ada perasaan “khawatir” dalam diri. Sebagai orang tua dari Fathiya dan Nurul yang masih lucu-lucunya saat ini, setiap apa yang dilakukan mereka adalah sebuah pandangan yang enak diperhatikan, bahkan dalam kondisi menangis sekalipun. Bukan berati tidak ada yang membuat saya sebagai orang tua menjadi tidak sabar, jelas ada. Tapi saya lebih menilainya sebagai kekurangarifan saya dalam menyikapinya, karena memang mereka masih kanak-kanak. Akan seperti apa mereka kelak ketika dewasa ? Ini yang membuat saya terkadang “khawatir” kalau gambaran saat itu nanti tidak seperti yang saya harapkan sebagai orang tua. Namun bukan merupakan kekhawatiran terhadap ketentuan Allah SWT yang telah ditetapkan. Khawatir kalau peran saya sebagai orang tua yang secara SunatuLLah mempunyai andil besar dalam membinanya tidak sebaik yang seharusnya saya lakoni. Dan seperti ungkapan khatib Jum’at di atas bahwa itu akan dipertanggungjawabkan kelak di sisi Allah SWT. Konsekwensi “pertanggungjawaban” ini, sebenarnya lebih merupakan “warning” di awal, sehingga sebagai orang yang diberikan amanah, kita selalu mempersiapkan diri secara matang sehingga mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Salah satu do’a yang diambil langsung dari ayat al-Qur’an yang berbunyi “Rabbana hablana min azwajina, wa zurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama” mungkin akan mengurangi kekhawatiran saya tersebut. Semoga Allah menjadikan pasangan, dan keturunan enak dipandang mata (qurrata a’yun) dan menjadi orang-orang muttaqin.
Amanah dan pemimpin pada contoh keluarga seperti di atas adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat, generasi berikutnya yang akan menggantikan generasi sekarang sangat menentukan bagaimana “warna” masyarakat pada waktunya mereka mendapatkan amanah kepemimpinan. Keterpurukan Indonesia saat ini jamak diketahui sebagai olahan pemimpin yang tidak amanah dari semua level. Sudah sepantasnya semua masyarakat memahami dengan betul bagaimana menjadi amanah dari kepemimpinan yang diemban. Sekali lagi.. kepemiminan dari skala kecil sebagai pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimimpin apa saja. Pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya, tatkala gagal dalam amanah ini maka dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya kalau kepemimpinan berhasil maka akan dirasakan oleh semua orang. Dan Indonesia saat ini, dengan kondisi seperti ini, butuh pemimpin yang betul-betul amanah bukan hanya sekedar retorika…
Demikian coretan singkat ini, yang kalau diperlebar masing-masing bagiannya akan bisa dijadikan topik tulisan lagi, dan biarlah sebagai “uitnodiging” (undangan) coretan saya bagi yang lain agar membagi ilmunya kepada kita semua, bahkan mungkin sampai pada tahapan praktis.
Semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua….

Wallahu ‘alam


It’s as Simple as One, Two, Three…

Filed under Bedah Buku

Ayo…. kita ikuti salah satu petualangan seorang Penegak Hukum yang terkenal dengan Quantum Electrodynamicnya.

Kali ini kita akan melihat bagaimana keingintahuan sang maestro pada cara berhitung mengantarkannya pada sebuah karya (yang menurut saya) ilmiah dan bisa jadi tesis buat rekan-rekan master malah, namun bagi dia adalah cuman sebuah permainan sik-asik…

Mudah-mudahan translate ini memberikan secuil inspirasi pada kita-kita semua, berpikir ilmiah tidaklah sulit, pada akhirnya fisika memang bukan sesuatu yang musti ditakuti :-)

It’s as Simple as One, Two, Three…

*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”
Dialihbahasakan oleh Febdian Rusydi (www.febdian.com), Mei 2004

feynman06.jpg

Ketika saya dibesarkan di Far Rockaway, saya punya seorang teman bernama Bernie Walker. Kami berdua punya “labor” di rumah, dan kami melakukan berbagai macam “eksperiment”. Suatu waktu, kami sedang terlibat diskusi – saat itu kami sekitar sebelas atau duabelas tahun - dan saya berkata “Tapi berpikir itu tiada lain tiada bukan selain berbicara pada dirimu sendiri”.

“Oh ya?” jawab Bernie. “Apakah kamu tahu bentuk dari poros dalam sebuah mobil?”

“Ya, kenapa rupanya?”

“Bagus. Sekarang, katakan pada saya: bagaimana kamu mendeskripsikannya ketika kamu sedang bicara pada dirimu sendiri?”.

Jadi saya belajar dari Bernie bahwa berpikir juga bisa visual sebagaimana bicara.

Selanjutnya, ketika kuliah, saya tertarik pada mimpi. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu dapat terlihat begitu nyata, seperti halnya cahaya jatuh ke retina mata, sementara mata sedang tertutup: apakah sel-sel syaraf pada retina benar2 terangsang oleh suatu cara – mungkin oleh otak itu sendiri – atau apakah otak memiliki sebuah “departemen kehakiman” yang berkeliaran selama mimpi berlangsung? Saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan seperti itu dari psikologi, sekalipun saya menjadi sangat tertarik pada “bagaimana otak bekerja”. Namun, banyak sekali bisnis tentang penafsiran mimpi, dan seterusnya. (1)


(1) Saya pikir, maksud Feynman adalah: dia tidak pernah mendapatkan jawaban memuaskan walau dia sendiri sudah melakukan pencarian lewat mempelajari kerja otak. Dia juga tertarik pada bagaimana para cenayang penafsir mimpi bekerja, tapi kemudian dia tahu semua adalah bohong. Cerita tentang Feynman dan mimpi dibahas juga pada “Surely You’re Joking, Mr. Feynman”, spesifik dibahas malah pada bab “Altered State” (dunia yang lain).
—-

Ketika saya lulus dari Princenton University, sebuah paper (yang saya pikir bodoh) diterbitkan dan memicu banyak diskusi. Penulisnya memutuskan bahwa sesuatu yang mengontrok time sense (2) dalam otak adalah reaksi kimia yang melibatkan besi. Pikir saya, “Sekarang, bagaimana orang ini dapat berpikir demikian?”

—-
(2) Time sense bisa diartikan perasaan kita menyangkut hitungan waktu.
—-

Baiklah, cara yang dia lakukan adalah, istrinya terserang panas kronik dimana suhu badannya sering naik-turun. Entah bagaimana dia dapat ide untuk menguji time sense istrinya. Dia meminta istrinya untuk menghitung per detik (tanpa melihat jam), dan dia cek berapa lama istrinya menghitung sampai 60. dia meminta wanita yang malang itu untuk berhitung sepanjang hari: ketika panas turun, dia menghitung lebih lambat. Oleh karena itu, dia berpikir sesuatu yang mengatur time sense dalam otak pastilah berjalan cepat ketika panas istrinya sedang naik, dan sebaliknya melambat ketika panasnya turun.

Sedang menjadi seorang yang sangat saintifik, psikologis ini tahu bahwa laju reaksi kima bervariasi terhadap temperature sekitarnya oleh sebuah formula tertentu yang tergantung pada energi reaksi. Dia ukur perbedaan dalam kecepatan istrinya berhitung, dan menentukan berapa banyak temperature mengubah kecepatan itu. Lalu dia mencoba untuk mencari sebuah reaksi kimia yang lajunya bervariasi terhadap temperatur ang sama saat istrinya berhitung. Dia menemukan bahwa reaksi besi adalah yang paling cocok dengan pola ini. Jadi dia menarik kesimpulan bahwa time sense istrinya diaturh oleh reaksi kimia dalam badan yang melibatkan besi.

Hmm… ini semua terlihat omong kosong bagi saya – ada begitu banyak hal yang bisa salah dalam rantai alasan yang dia buat. Tapi, ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik: apakah yang menentukan time sense? Ketika kamu sedang mencoba berhitung pada laju rata-rata, terhadap apa laju ini bervariasi (dengan kata klain: laju ini tergantung besaran fisis apa) ? Dan apa yang bisa kamu lakukan untuk merubah ini?

Saya memutuskan untuk menyeledikinya. Saya mulai dengan berhitung per detik – tanpa melihat jam tentunya – sampai 60 dalam ritme yang lambat tapi stabil: 1, 2, 3 ,4 ,5 … Ketika mencapai 60, saya cek waktu ternyata 48 detik, tapi itu tidak menganggu saya: masalahnya bukan menghitung tepat 1 menit, tapi menghitung laju standard. Selanjutnya saya berhitung sampai 60, 49 detik berlalu. Selanjutnya 48, lalu 47, 48, 49, 48, 48, …. Jadi saya temukan saya dapat berhtiung dengan standar yang cukup bagus.

Sekarang, jika saya cuma duduk saja tanpa menghitung, dan menunggu sampai saya pikir sudah 1 menit berlalu, hasilnya sangat tidak pasti – variasi sangat komplet. Jadi saya temukan perkiraan dugaan menentukan 1 menit sangat payah. Tapi dengan berhitung, saya dapat lakukan sangat akurat.

Sekarang bahwa saya tahu saya dapat berhitung dengan lanju standard, pertanyaan selanjutnya adalah – apakah yang mempengaruhi laju tersebut?

Mungkin ini ada kaitannya dengan laju jantung berdetak. Jadi saya mulai berlari naik-turun tangga untuk membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Lalu saya masuk ke ruangan saya, membuang diri ke tempat tidur, dan mulai berhitung sampai 60.

Saya juga mencoba berlari naik-turun tangga dan menghitung ketika sedang berlari.

Orang-orang melihat saya berlari naik-turun, dan mereka tertawa. “Kamu lagi ngapain sih?

Saya tidak bisa jawab mereka – yang membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa berbicara ketika saya berhitung dalam hati - dan tetap berlari naik-turun tangga, pokoknya terlihat seperti seorang idiot.

(Para mahasiwa graduate sudah terbiasa dengan saya yang terlihat idiot. Pernah, contohnya, seorang rekan datang ke ruangan saya – saya lupa mengunci pintu selama melakukan “eksperimen” – dan menemukan saya duduk dikursi memakai jaket domba tebal, mencondongkan badan keluar jendela yang terbuka ditengah musim dingin, memegang pot dan tangan lainnya mengaduk pot tersebut. “Jangan ganggu saya, jangan ganggu saya”, kata saya. Saya sedang mengaduk Jell-O dan mengamatinya secara cermat: saya lagi penasaran apakah Jell-O akan membeku dalam dingin jika kamu tetap menggerakkannya setiap waktu.)

Baiklah, setelah mencoba setiap kombinasi berlari naik-turun tangga dan berbaring di tempat tidur, hasilnya mengejutkan! Laju detak jantung tidak berpengaruh. Dan karena saya kepanasan setelah berlari naik-turun tungga, saya berpikir temperatur juga tidak ada hubungan dengan laju standar berhitung (walaupun saya harus sudah tahu bahwa temperatur tidak akan terlalu naik tinggi saat berolahraga). Kenyataannya, saya tidak mendapatkan apapun yang mempengaruhi laju berhitung saya.

Lari naik-turun tangga cukup membosankan, jadi saya mulai berhitung sementara saya mengeluarkan cucian, saya harus mengisi formulir menyebutkan berapa banyak baju yang saya punya, celana, dan selanjutnya. Saya dapati saya menjawab “3” di depan “celana”, atau “4” di depan “baju”, tapi saya tidak dapat menghitung kaos kaki. Mereka terlalu banyak: saya sudah dan sedang menggunakan mesin berhitung saya! – 36, 37, 38, - dan ini semua adalah kaos kaki di depan saya – 39, 40, 41,… Bagaimana saya menghitung mereka?

Saya dapati saya dapat mengatur mereka dalam pola geometric – seperti bujur sangkar, contohnya: sepasang kaos kaki di sudut ini, sepasang di sudut sana, sepasang di sini, dan sepasang di sana, 8 kaos kaki.

Saya lanjutkan permainan menghitung dengan pola ini, dan saya temukan saya dapat menghitung jumlah baris artikel dalam surat kabar dengan mengelompokkan baris-baris itu ke dalam pola 3, 3, 3, dan 1 untuk mendapatkan jumlah 10; lalu 3 dari pola itu, 3 dari pola satu lagi, 3 dari pola satu laginya lagi, dan 1 pola terakhir untuk membuat 100. Saya baca koran seperti itu. Setelah selesai menghitung sampai 60, saya tahu di mana saya berada berdasarkan pola yang saya buat dan dapat berkata, “Saya ada pada hitungan 60, dan ada 113 baris yang sudah saya lewati”. Saya temukan saya malah dapat membaca artikel sementara saya berhitung sampai 60, dan ini tidak mempengaruhi laju berhitung saya! Kenyataannya, saya dapat lakukan apa saja sementara berhitung dalam hati – kecuali selagi berbicara keras tentunya.

Bagaimana dengan menulis – menyalin kata-kata dari buku? Saya dapati bahwa saya dapat melakukannya juga, tapi disini waktu saa terpengaruh. Saya sangat gembira: akhirnya, saya sudah temukan sesuatu yang terlihat mempengaruhi laju hitungan saya! Saya menyelediki lebih lanjut.

Saya lanjutkan terus, mengetik kata-kata sederhana lebih cepat, berhitung dalam hati 19, 20, 21, terus mengetik, berhitung 27, 28, 29, terus mengetik, sampai –apaan nich kata yang saya ketik? – oh ya – dan lalu lanjut berhitung 30, 31, 32, dan seterusnya. Ketika saya sampai pada 60, saya telat (dari laju standar saya).

Setelah beberapa instropeksi dan pengamatan lebih jauh, saya menyadari apa yang sudah (musti) terjadi: saya menginterupsi hitungan saya ketika saya mengetik kata-kata susah yang “butuh sedikit otak” untuk mengatakannya. Laju berhitung saya tidak melambat; namun proses berhitung sendiri tertahan sementara dari waktu ke waktu. Berhitung sampai 60 pada akhirnya menjadi otomatis yang saya bahkan tidak menyadari interupsi yang terjadi pada pertama kalinya.

Pagi berikutnya, setelah sarapan pagi, saya laporkan hasil tersebut pada beberapa teman di meja makan. Saya katakan pada mereka semua hal yang bisa saya lakukan sementara berhitung dalam hati, dan satu-satunya yang saya gak bisa lakukan selagi berhitung dalam hati adalah berbicara.

Salah seorang dari mereka, bernama John Tukey, berkata, “Saya tidak percaya kamu bisa membaca, dan saya tidak melihat kenapa kamu tidak dapat bicara. Saya bertaruh kamu bisa bicara ketika berhitung dalam hati, dan saya bertaruh kamu tidak bisa membaca”.

Jadi saya berikan demonstrasi: mereka memberi saya buku dan saya membaca dan jua berhitung dalam hati. Ketika sudah mencapai 60, saya berkata, “Sekarang!” – 48 detik, waktu regular saya - waktu yang biasa saya butuhkan untuk mencapai hitungan ke-60. lalu saya katakana pada mereka apa yang sudah saya baca.

Tukey terpesona. Berikutnya giliran Tukey. Setelah mengecek beberapa kali laju standar berhitungnya, dia mulai bicara, “Mary had a little lamb; I can say anything I want to, it doesn’t make any difference; I don’t know what’s bothering you” – bla blab la bla, and finally, “Oke!” Dia mencapai waktu regularnya! Saya tidak bisa percaya!

Kami bicarakan mengenai hal tersebut, dan kami menemukan sesuatu menarik. Ternyata Tukey berhitung dengan cara yang lain: dia membayangkan sebuah tape (3) dengan angka-angka pada tape tersebut berjalan. Dia mengatakan, “Mary had a little lamb” dan dia melihat tape tersebut! Sekarang jelas, dia “melihat” pada tapenya yang terus berjalan, jadi dia tidak bisa membaca, dan saya “berbicara” dalam hati ketika berhitung, jadi saya tidak bisa bicara.

—-
(3) Saya rasa tape di sini adalah seperti gulungan pita film yang berputar pada rolnya dan kita bisa “berhitung” dengan melihat pita itu berputar dengan ritme tertentu.
—-

Setelah penemuan itu, saya mencoba memikirkan sebua cara untuk membaca keras sementara juga berhitung – sesuatu yang tidak bisa kami lakukan. Saya pikir saya harus memakai bagian dari otak saya yang tidak akan menganggu dengan department melihat atau berbicara, jadi saya putuskan memakai jari-jemari saya, karena hanya melibatkan sense of touch.

Saya sukses dengan cepat dalam berhitung dengan jari dan membaca dengan keras. Tapi saya inginkan semua proses berlangsung dalam batin saya, tidak melibatkan aktifitas secara fisik. Jadi saya coba membayangkan jari-jemari saya bergerak sementara saya membaca keras.

Saya tidak pernah berhasil. Saya pikir bahwa ini disebabkan bukan karena saya kurang berlatih, tapi ini mungkin sesuatu yang tidak mungkin: saya tidak akan pernah menemui orang yang dapat melakukannya.

Dari pengalaman Tukey dan saya menemukan bahwa: apa yang berlangsung pada kepala berlainan orang ketika mereka berpikir mereka sedang melakukan hal yang sama – sesuatu yang sesederhana berhitung – adalah berbeda pada setiap orang (4). Dan kami temukan bahwa kamu, secara eksternal dan objektif, dapat mengetes bagaimana otak bekerja: kamu tidak perlu bertanya pada orang bagaimana dia menghitung dan mempercayai pengamatannya sendiri; sebaliknya, kamu mengamati apa yang dia bisa dan tidak bisa lakukan ketika dia berhitung. Tes ini absolute. Tidak ada cara lain yang mengalahkannya, tidak ada cara untuk memalsukannya.

—-
(4) Dengan kata lain: si A dan si B sedang memikirkan hal yang sama, – misal: berhitung dalam hati – namun kenyataannya dalam pikiran A dan B terjadi proses yang bisa jadi bertolak belakang.
—-

Ini alamiah untuk menjelaskan sebuah ide dalam kerangka apa yang kamu sudah punya dalam pikiranmu. Konsep-konsep bertumpuk di atas konsep yang lain: ide ini diajarkan dalam keranga ide itu, dan ide itu diajarkan dalam kerangka ide yang lain, yang datang dari berhitung, dapat dapat begitu berbeda untuk setiap orang.

Saya sering berpikir tentang hal tersebut, terutama ketika saya sedang mengajarkan beberapa teknik esoterik (5) seperti Integral Fungsi Bessel (6). Ketika saya lihat persamaan itu, saya melihat tulisannya bewarna – saya gak tahu kenapa. Selagi berbicara, saya melihat samar-samar gambar dari Fungsi Bessel itu dari buku Jahnke dan Emde, dengan j coklat terang, n violet kebiru-biruan, dan x coklat gelap terbang sekeliling saya. Dan saya bertanya-tanya cem mana rupanya mahasiswa saya melihat hal yang sama?

—-
(5) Saya gak tau apakah ini bahasa Indonesia atau bukan. Kata aslinya esoteric yang artinya hal-hal yang Cuma diketahui beberapa orang saja.
(6) Fungsi Bessel adalah sebuah fungsi matematika yang sering dipakai fisikawan untuk memecahkan solusi fungsi gelombang dari persamaan Schrodinger untuk spherical coordinate, dimana j(x) dan n(x) adalah parameter untuk gelombang sinusoidal tersebut.


Karena promosi yang gencar dan pengaruh teman-teman di sekolah, href="http://coretmoret.web.id/fs/">kedua anak begitu
mengidam-idamkan BeyBlade.
Setelah dibelikan, keduanya antusias beradu gasing (yah, demikian
disebut oleh Oom Wangsa).

Sampai pada hari Minggu pagi, salah satu ujung Beyblade, berupa
sepucuk kecil logam, lepas dan hilang. Bisa dibayangkan betapa panik
pemiliknya. Dicari di lokasi pertandingan gasing di seluruh penjuru
rumah, tetap tidak ditemukan. Sampai zak penghisap debu terpaksa
dibongkar untuk memastikan barang sangat kecil tersebut tidak
tersedot di dalam. Tidak ditemukan juga!

Sampailah mereka pada “cara alamiah” yang sering dilakukan menjelang
tidur, Ya Allah, mudah-mudahan lancip-lancipan itu
ketemu.
Keduanya berdoa sambil bertanya, Pak, boleh kan
berdoa minta agar lancipan ketemu?
Tentu saja boleh.

Namun sampai sore berdoa kok barang kecil itu belum ketemu juga?

+ Allah tahu di mana lancipan itu?
- Tentu tahu, dong.
+ Kalau begitu, di mana, Pak?
- Lho, bapak kan bukan Allah.
He… he… semua tertawa. Tapi masih berharap cemas,
+ Apakah Allah mendengar Rayhan?

Karena sampai sore belum ditemukan juga, saya harus memberikan
penjelasan yang lebih mendalam dan dapat diterima (tentu saja juga
harus siap-siap menerima pertanyaan balik yang dapat
“mencemaskan”…).
+ Kenapa Allah belum menunjukkan lancipan itu?
- Nanti kalau sudah waktunya, kalian akan dapat menemukannya
juga.
+ Tapi mengapa Allah tidak ngomong sekarang dan aku dengar?
Sambil dipikir…
+ Tapi bagaimana Allah ngomongnya?
(Soalnya sebelumnya mereka memperoleh penjelasan bahwa cara Allah
itu kalau mau “ngomong” kepada Nabi lewat malaikat dan malaikat itu
“tidak kelihatan”. Kesimpulannya: Dedek takut kalau ada suara
“ngomong” tapi tidak kelihatan orangnya…)

Keluarlah penjelasan itu…
Kalau memang lancipan itu tidak ditemukan, ya sudah… besok beli
lancipannya saja di toko mainan. Jadi begini, kalau orang bisa
melakukan sendiri, misalnya dengan membeli atau membuat, maka
lakukan saja sendiri.

+ Tapi, wens (berdoa) boleh kan, Pak?
- Boleh. Berdoanya terus saja, nanti kan bapak juga bisa bantu
dengan membelikan di toko. Tidak apa-apa berdoa dan membeli.

Persoalan itu sudah selesai. Entah apa yang ada di pikiran
anak-anak, yang jelas acara besok siang setelah pulang dari sekolah
adalah beli lancipan Beyblade. Sempat terpikir untuk dibelikan
sendiri pada saat mereka sedang sekolah, namun karena sibuk mengurus
keperluan lain paginya, sudahlah nanti siang beli bersama sepulang
mereka sekolah. Pikiran “rasional” saya mengakhiri kasus ini dengan
“membeli di toko” dan biarlah mereka tidak kehilangan sense
untuk tetap berdoa.

Benarlah sepulang dari sekolah saya langsung ditagih untuk segera
berangkat. Oke, siap-siap dulu. Ambil kunci sepeda, memasukkan
dompet, dan… sesaat sebelum membuka pintu mengambil remah-remah di
dekat bangku kecil: ujung lancip Beyblade ada di situ!

Kijk allemal, ik heb gevonden!
Oohhhhhh! Semua menjerit histeris.
Si bungsu langsung berkata, tanpa dipikir lagi, Pak, Allah kok
cepat dengernya… Cepat ya, Pak?

Seperti setengah percaya, setengah takjub.


Bunda, dari Mana Aku Lahir?

Filed under Parenting

SEJAK pagi, Lala, si gadis kecil yang kritis dan ceriwis terlihat kesal.

Dari mulut mungilnya keluar ocehan kekesalan kepada tantenya. “Tante … Lala marah sama Bunda!”

“Lho, kenapa, La?” tanya Tante Lala yang perutnya sedang membuncit karena hamil. “Lala cuma tanya, tapi Bunda nggak mau jawab. Katanya Lala masih terlalu kecil. Hmh Lala sebel sama Bunda! Padahal Lala kan umurnya 4 tahun Tante, sudah besar. Lala keseel banget!”

“Memangnya Lala tanya apa La?” si tante kembali menyahut. “Lala tanya, kenapa perut Tante buncit. Kata Bunda, perut Tante ada adeknya, dulu perut Bunda juga buncit waktu Lala masih dalam perut Bunda. Terus Lala tanya lagi Tante, waktu Lala dalam perut, keluarnya lewat mana Bunda? Eh … Lala malah dimarahin Tante, disuruh diem, nggak boleh tanya-tanya lagi sama Bunda. Pokoknya Lala marah deh Tante!” jawab Lala sambil cemberut.

BILA gadis kecil tadi menjelma menjadi seorang remaja, barangkali temannya akan berkomentar, “Kasiaan deh lo …!” Namun, dia hanya seorang gadis kecil berusia 4 tahun yang masih senang bertanya dan menyimpan beragam pertanyaan dalam kepalanya. Pertanyaan serupa sering dilontarkan anak balita seusia Lala. Kebanyakan orang tua menjawab sama, “Kamu masih terlalu kecil, tidak boleh tanya-tanya masalah itu, diam, diam, dan diam”, begitulah jawaban sebagian orang tua. Pada umumnya mereka masih menganggap seksualitas adalah sesuatu yang tabu dan saru untuk dibicarakan.

Selengkapnya…