Archives for April, 2004

Dari mailing-list Kalam Salman, alumni Masjid Salman ITB, saya memperoleh tulisan bagus dari KH. Jalaluddin Rakhmat. Sebagian dari kita barangkali sudah pernah mendengar hadits “kelebihan” iman pengikut pada masa sekarang, namun diungkapkan dengan bahasa yang indah, kisah tersebut tetap menarik disimak.

Subuh Yang Indah Bersamamu, Ya Rasulallah
oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang.

Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang dikau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air pada kalian?”

Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.

Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.

Qad qâmatish shalâh, qad qâmatish shalah….

Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anâm. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku.

Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.

Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”

Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.

“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”

“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”

“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?

Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”

Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”

Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka…(QS. Al-Baqarah; 3)”

Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah….

Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat.”

Yâ wajîhan ‘indallâh, isyfa’lanâ ‘indallâh. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah…

* Tulisan ini diturunkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, 12 Rabiul Awwal 1422 H


Ketika Hidayah Itu Datang

Filed under Islam Aktual

Labbaik… Allahumma Labbaik..
Ya Allah.. aku datang kepadaMu

Sungguh, telah Engkau robahkan rasa dalam hatiku
Yang tak kan mampu aku menolak atau pun memintanya
Kau telah luluhkan diriku
Melebur dalam ketiadaan…

irene1.jpg

Dengerin Ceramahnya [copy link url ini, buka Winamp atau MediaPlayer, lalu Open URL, paste link tsb. Mainkan!] Khusus Internal DeGromiest.

Terimakasih Mbak Ike, yang telah ngirim artikel ini, dari sumber lain. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua, untuk menambah keimanan dan keteguhan.

HJ. IRENA HANDONO
MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA

Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik. Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:

Mendapat hidayah di Biara

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan.

Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku. Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah.

Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu. Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakakku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati. Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan.

Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya. Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi. Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam.

Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

irene2.jpg

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina. Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Kebenaran surat Al Ikhlas

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang- panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.

irene3.jpg

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakan, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.” “Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan. “Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam. Dosen menjawab, “Tidak bisa!” Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti. “Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana? “Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu. “Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi. “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan. “Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia. Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas.

Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?. “Sebetulnya saya tahu,” ucapku. “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka. “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.” “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti. Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Keluar dari Biara

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi. Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.

Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu. Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam. Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah.

irene4.jpg

Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat. Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.

Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai! Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya. Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama.

Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu. Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?” “Siap!” jawabku. “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau. “Pernikahan saya!” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. “Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi. “Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Shalat pertama kali

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

irene5.jpg

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat.

Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia.

Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang. Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit sesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam. Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.


Jalan uang terpanjang

Filed under Intriguing Idea

Coretan ini terinspirasi dari fenomena di tanah air yang disampaikan Unchu Dije beberapa waktu yang lalu, juga teringat email mas Taufik Budiarjo, sudah agak lama memang. Mas Taufik mengungkapkan “kebingungannya” terhadap seorang pengusaha yang mengeluh bahwa pajak yang dibayarkan di korupsi setengahnya oleh oknum petugas pajak. Kemudian “pengusaha” ini disarankan untuk melaporkan kejadiannya ke polisi, namun sipungasaha enggan melakukan itu karena pajak yang dibayarkan juga sudah “disimpan” setengahnya dari jumlah total yang harus di bayar. Ha..ha…, jadi tambah bingung. Pesan yang dapat ditangkap dari ungkapan tersebut bahwa betapa korupsi sudah “menggurita” dalam kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari tingkatan yang kecil sampai ke level yang sangat besar, sehingga setiap tahun survey yang dilakukan terhadap Negara-negara terkorupsi selalu menempatkan tanah air kita pada posisi atas

Tentunya coretan ini tak bermaksud menambah bingung, ya…sebut saja sebagai “gugatan ringan” atau apalah namanya. Dan bukan juga ditujukan untuk menambah panjang deretan tulisan-tulisan yang sebenarnya banyak orang sudah memaklumi kandungannya. Namun sebuah asa (harapan), sekecil apapun dia terhadap perubahan signifikan dengan keterlibatan secara personal atau yang lebih besar secara bersama, dimanapun personal itu berada.
Beberapa waktu yang lalu saya dapat kiriman email dari beberapa milist berbeda
(walaupun saya sendiri belum tahu kepastian berita tersebut. Dan juga tidak tahu bagaimana realisasinya setelah lembaga ini dibubarkan) bahwa pesangon karyawan BPPN menyebut angka yang sangat wah, hampir 200 milyar. Oow, kalau nilai sebanyak
itu ditukar dengan uang kertas lima ribu rupiah dan disambung satu dengan lainnya, maka panjangnya bisa jadi menghubungkan ujung pulau Jawa bagian barat sampai ke timur. Tidak percaya? Coba saja hitung secara sederhana, uang kertas lima ribu rupiah yang berukuran lebih kurang 10 cm. Dengan jumlah 40 juta lembar, apabila dikalikan dengan ukuran 10 cm tersebut, berarti 400 juta centimeter, sama dengan 4 juta meter (4000 kilometer). Adakah panjang pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai ujung Banyuwangi sejauh 4000 km? …saya tidak tahu….Angka yang lebih fantastis lagi kalau dihitung dana-dana salah urus lainnya (baca: korupsi). Sebut saja Kasus Buloggate I dan II, Kasus BNI, BRI, Rekening 502, penjualan indosat, penebangan hutan liar dan sebagainya. Bagi yang pernah membaca buku kecil tentang korupsi di Indonesia yang ditulis oleh ketua BAPPENAS Kwik Kian Gie, maka akan geleng-geleng kepala, walaupun sebenarnya sudah mendengar berita-berita tentang korupsi pada banyak kesempatan. Saya sendiri masih ingat uang yang dilarikan Eddi Tansil senilai 1,3 trilyun beberapa tahun yang lalu, pelakunya tidak pernah tertangkap. Kalau disambung lagi uang kertas dari total yang dicuri itu maka akan tertutuplah semua jalan besar yang ada di seluruh pelosok tanah air ini. Bisa jadi bukan uang kertas lima ribu yang digunakan, tetapi senilai seratus ribu rupiah. Kalau dilakukan penelitian jumlah uang melayang itu, dan panjang total jalan-jalan besar di Indonesia, maka lagi-lagi akan tercatat dalam buku rekor dunia, bukan lagi rekor nasional (MURI), dengan judul “Jalan Uang Terpanjang di Dunia”. Menarik juga kalau saja uang-uang tersebut dipajang ditengah jalan. Namun saya yakin dengan hitungan detik sebahagian besar akan melayang lagi dengan berbagai sebab. Banyak sekali masyarakat miskin yang butuh makan terhampar di sisi-sisi jalan besar itu, tentu mereka sangat butuh uang tersebut.Lembar seratus ribu cukup mampu membuat mereka makan sekeluarga dalam seminggu.Sepersekian persen saja dari para koruptor itu insyaf, sadar dan bertaubat, serta mengembalikan uangnya kepada negara, akan mampu mengatasi kemiskinan yang sudah tambah parah di tanah air yang kaya raya ini. Tentu juga masaalah demam berdarah yang sekarang sedang mewabah di tanah air dan telah merenggut banyak nyawa anak-anak bisa diatasi, bahkan bisa dilakukan upaya preventif dengan cara menciptakan lingkungan bersih, sehingga nyamuk demam berdarah tidak bisa tumbuh. Dari sepersekian persen juga, banyak permasalahan lain bangsa yang akan dapat diatasi. Namun sayang karena tidak ada dari para penyamun itu yang insyaf, malah sebaliknya semakin banyak penyamun baru, mulai dari pusat sampai ke daerah, maka jadilah Indonesia tetap menjadi negara ironi. Ya, ironis, kaya namun punya hutang yang sangat banyak. Padahal hutang tersebut juga bisa ditutupi dengan sepersekian lagi dari dana hilang.
Sebuah nurani sudah hilang dihati, sehingga sensitivitas untuk merasakan penderitaan sesama sudah menipis, biarkan kaum dhuafa tetap dengan perjuangannya mempertahankan sesuap nasi dipagi dan petang, sementara diriku “bergelimang” dengan kemewahan, bahkan mungkin diperoleh dari cara “mengambil” bagian kaum dhu’afa itu.
Mungkinkah yang begini sudah mendarah daging bagi banyak orang di tanah air ?…bisa jadi lebih parah lagi. Seorang yang mencuri ayam dikarenakan tidak punya uang untuk makan, dikenakan hukuman beberapa bulan, atau bahkan sudah duluan dibikin babak belur oleh massa, sementara seorang yang mencuri dengan jumlah yang sangat besar dan dampaknya bisa saja membuat mati banyak orang, tetap saja lolos dari lubang jeratan hukum dan masih saja tetap eksis dengan kepala tegak….tapi tentu tidak dimata Allah SWT, tidak ada lubang sekecil apapun untuk lolos dari hisab (perhitungan) Allah SWT.

Seringkali terlintas dalam pikiran saya isi ceramah yang disampaikan oleh berbagai ustadz pada banyak kesempatan, bahwa takutlah kepada Allah SWT, karena dengan demikian akan menyelamatkan diri kita dunia dan akhirat, akan membuat hidup ini damai dan tentram. Karena tidak ada rasa takut pada Allah SWT, membuat orang bisa melakukan apa saja yang dikehendaki, karena mereka bisa menghindar dari pengamatan manusia. Tetapi sesungguhnya Allah SWT akan selalu melihat kita di manapun berada, apapun posisi kita dan sekecil apapun perbuatan kita.
Mungkin hanya hati nurani yang takut pada Allah SWT lah yang bisa membuat fenomena yang terjadi tanah air menjadi lebih baik, bukan hanya masaalah korupsi yang dikupas dalam coretan ini, namun juga permasaalahan moral yang sudah jauh dari nilai-nilai.


Feynman The Sexist Pig

Filed under Bedah Buku

(Artikel yang sama sudah dimuat di www.febdian.com)

“Feynman si penjahat gender” ini adalah terjemahan dari salah satu bab buku “What Do You Care What People Think” - RP Feynman.

Ceritanya singkat, padat, tapi kocak. Tentang bagaimana Feynman dituding oleh sekolompok organisasi wanita atas tuduhan rasialis gender.

Mudah2an ada manfaatnya.

Beberapa tahun setelah saya memberi kuliah untuk mahasiswa baru di Caltech (yang dipublikasikan sebagai the Feynman Lectures on Physics“), saya menerima sebuah surat yang panjang dari sebuah grup feminis. Saya dituduh anti-perempuan kadare dua hal: pertama adalah diskusi yang saya bawakan saat mengajar kecepatan, dan melibatkan seorang pengemudi wanita yang distop polisi. Diskusinya tentang sebepara cepat si wanita mengemudi, dan saya juga menceritakan keberatan wanita yang ditangkap tersebut tentang defenisi kecepatan yang diberikan polisi. Surat itu mengatakan saya membuat kaum perempuan terlihat bodoh.

Hal kedua mereka tujukan adalah ketika saya sedang menceritakan astronom terkenal Arthur Eddington, yang baru saja menghasilkan sebuah teori bahwa bintang-bintang mendapatkan tenaga dari pembakaran hidrogen dalam reaksi nuklir yang menghasilkan helium. Dia menceritakan bagaimana, pada malam setelah penemuan itu, dia sedang duduk di bangku bersama pacarnya. Pacarnya berujar, “Hey lihat betapa indahnya bintang-bintang itu bersinar!” yang lalu dijawab oleh Eddington “Ya, dan sekarang, saya adalah satu-satunya orang di dunia yang tau bagaimana mereka bersinar”. Dia sedang mendeskripsikan semacam kesepian yang menakjubkan ketika kamu baru saja menemukan sesuatu (dalam kata lain: itu adalah hal yang sering terjadi di kalangan saintis di saat-saat mereka berhasil menemukan sebuah jawaban atas misteri fisika).

Surat itu mengklain bahwa saya sedang mengatakan bahwa pacar Eddington itu tidak sanggup untuk mengerti reaksi nuklir.

Saya berpikir tidak ada satupun hal penting dalam menjawab tuduhan mereka secara detil, jadi saya menulis sebuah surat singkat kepada mereka: “Jangan ganggu saya!” (inggrisnya: Don’t bug me, man!”).

Tidak butuh untuk mengatakan, bahwa surat saya tidak begitu memperbaiki suasana. Surat berikutnya datang: “Respons anda terhadap surat kami Sep 29th tidaklah memuaskan…” - bla bla bla. Surat ini menperingatkan bahwa jita saya tidak mengontak pihak pencetak buku untuk memperbaiki hal-hal yang menjadi objek mereka, maka akan ada masalah.

Saya abaikan saja surat itu dan lalu lupa. (Feynman memang suka lupa hal-hal tertentu yang bagi dia tidak begitu penting).

Setahun kemudian, American Association of Physics Teachers memberikan penghargaan pada saya atas buku the Feynman Lectures on Physics, dan meminta saya untuk berbicara pada pertemuan mereka di San Fransisco. Adik saya, Joan, tinggal di Palo Alto - satu jam-an dari SF - jadi saya tinggal bersama dia semalam sebelumnya dan lalu kita ke pertemuan bersama-sama.

Ketika kita mendekati lecture hall, kita jumpai beberapa orang berdiri dan membagi-bagikan semacam selebaran pada orang yang lalu lalang. Kita lalu ambil satu dan melihatnya sekilas. Pada bagian atas tertulis “SEBUAH PROTES”. Lalu selebaran itu memperlihatkan beberapa kutipan dari surat yang mereka kirimkan ke saya dan respons saya secara lengkap (yang cuma 1 kalimat). Selebaran itu juga mencakup sebuah kalimat dengan tulisan besar: “FEYNMAN THE SEXIEST PIG”.

Joan tiba-tiba berhenti dan berbalik ke arah demonstaran seraya berujar: “Ini sangat menarik”, dia berkata pada para demonstran. “Saya ingin beberapa lagi”.

Ketika dia kembali dan kami berjalan lagi, dia berkata. “Oh Tuhan, Richard; apa yang sudah kamu lakukan?”.

Saya ceritakan padanya apa yang sudah terjadi selagi kita berjalan ke balai pertemuan.

Di depan balai, di dekat panggung, ada 2 tokoh wanita dari American Association of Physcs Teachers. Salah satunya bertanggung jawab pada urusan wanita untuk organisasi, dan yang satu lagi adalah Fay Ajzenberg, seorang profesor fisika yang saya tahu, dari Pennsylvania. Mereka melihat saya datang lalu turun menghampiri saya didampingi kami. Fay berjalan menghampiri Joan yang tangannya penuh dengan selebaran (yang Fay pikir adalah salah satu demonstran) dan berkata, “Apakah kamu sadar bahwa Profesor Feynman punya saudara perempuan yang dia dorong untuk mempelajari fisika, dan bahwa dia memiliki Ph.D. di fisika?”.

“Tentu saja saya tahu”, ujar Joan. “Saya adalah saudaranya itu!”.

Fay dan temannya menjelaskan kepada saya bahwa para demonstran adalah sebuah grup - yang ironisnya dipimpin oleh seorang laki-laki, dan selalu suka menganggu pertemuan-pertemuan di Barkeley. “Kita akan duduk disampingmu untuk memperlihatkan solidaritas kita, dan sebelum kamu bicara, saya akan berdiri dan mengucapkan sesuatu untuk mendiamkan para demonstran”, ujar Fay.

Sebab ada pembicara sebelum saya, saya ada waktu untuk berpikir sesuatu yang ingin saya ucapkan nanti. Saya berterimakasih pada Fay, tapi saya tolak tawarannya.

Segera giliran saya bicara datang, hampir setengah lusin demonstran berbaris dan berjalan ke arah panggung, menggenggam papan-papan protes tinggi-tinggi dan bernyanyi, “Feynman si penjahat gender! Feynman si penjahat gender!” beulang-ulang.

Saya memulai pidato saya dengan mengatakan kepada para demonstran, “Saya meminta maaf bahwa jawaban pendek saya untuk suat anda membawa anda semua kesini secara tidak efektif. Ada beberapa tempat serius yang bisa dipakai untuk menarik perhatian orang untuk memperbaiki status wanita dalam fisika daripada (yang anda lakukan sekarang) secara relatif adalah kesalahan sepele - jika anda ingin menyebutnya demikian - dalam buku teks. Tapi mungkin, secara keseluruhan, ini adalah hal yang bagus bahwa anda datang. Untuk kaum wanita sesungguhnya menderita dari prasangka dan diskriminasi dalam fisika, kehadiran anda hari ini di sini untuk mengingatkan kami pada permasalahan-permasalahan ini dan kebutuhan untuk mengobati mereka”.

Para demonstran saling pandang satu sama lain. Papan protes mulai turun secara berlahan, seperti pelannya perahu layar yang berlayar dalam angin tidak berhembus terlalu kuat.

Saya lanjutkan: “Walaupun American Association Physics Teachers sudah memberikan saya penghargaan untuk mengajar, saya harus akui saya tidak begitu tahu bagaimana mengajar. Oleh karena itu, saya tidak punya hal untuk dikatakan tentang mengajar. Tetapi sebaliknya, saya akan berbicara tentang sesuatu yang sangat diminati kaum wanita yang hadir di sini: saya akan membicarakan tentang struktur proton”.

Para demonstran meletakkan papan protesnya dan berjalan keluar. Tuan rumah mengatakan pada saya kemudian bahwa grup itu dan laki-laki yang memimpinnya tidaklah pernah dikalahkan sedemikian gampang.

(Akhirnya saya temukan draft pidato saya, dan apa yang saya ucapkan di awal tidaklah terlihat sedramatik yang saya ingat. Apa yang saya ingat ketika berpidato jauh lebih menakjubkan daripada apa yang barusan saya ceritakan!).

Setelah pidato saya, beberapa demonstran datang untuk menekan saya tentang cerita pengemudi wanita itu. “Kenapa itu harus wanita?” tanya mereka. “Kamu sedang mengatakan bahwa wanita adalah bukan pengemudi yang bagus”.

“Tapi wanita membuat polisi terlihat jelek”, ujar saya. “Kenapa kamu tidak peduli tentang polisi?”.

“Itu yang kamu harapkan dari polisi (bahwa mereka harus terlihat jelek)!” kata seorang demonstran. “Mereka semua adalah babi (maksudnya: suka membedakan gender)!”.

“Tapi kamu seharusnyalah peduli”, kata saya. “Saya lupa mengatakan dalam cerita itu, bahwa polisi tersebut adalah seorang wanita!”.


Ayah Nyoblos Apa?

Filed under Parenting

Aku terkejut sekali, ketika anakku yang berumur 2 tahun, si Malik, bertanya “Ayah nyoblos apa?” Biasanya kalau di telepon dia lebih sering bernyani lagu anak-anak seperti Semut Hitam, Kelinciku, dan Burung Unta. Kali ini dia mulai bicara politik.

“Nyoblos moncong putih ya yah.”

“Hah? Kok moncong putih? Kalau Aik nyoblos apa?”

“Aik sama Mbak Lala nyoblos moncong putih yah. Ayah nyoblos apa?”

“Ayah nyoblos P**. Nyoblos apa Ik?”

“P**.”

Selengkapnya…


Kenapa Gelas dan Kaca Tembus Pandang?

Filed under GPMPS

[seri populer science article - artikel dengan materi yang sama sudah di'publish' di www.febdian.net]

EDISI REVISI SILA TENGOK KE: diary.febdian.net

Gelas dan kaca termasuk benda yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari. Gak usah diterangin dech, manfaat dan kegunaannya. Dan juga gak usah ditanya dech, kenapa kita butuh gelas dan kaca.

Namun pernahkah kita berpikir kenapa gelas dan kaca bisa tembus pandang? Bagi kita-kita yang gak pedulian amat gak akan ambil pusing. Tapi bagi mereka yang tahu gelas dan kaca itu terbuat dari Silicon Dioxide (SiO2) yang notabene juga ada dalam pasir dan batu, mungkin ada yang bakalan pusing… kenapa pasir dan batu gak tembus pandang ya?

Kenapa ya? Sebelum kita bahas kenapa, ada baiknya kita pahami dulu apa itu transparan (transparan) dalam pandangan fisika.

Apa itu Transparan?

Transparan dikaji secara khusus dalam optik. Sebuah material dikatakan bersifat transparant ketika dia melewatkan cahaya (light). Misalnya udara bersih, air jernih, gelas, kaca, dan plastik.

Bagaimana proses transparansi itu?

Kita bisa melihat pada jarak pandang sampai berkilometer melewati udara bersih. Ini dimungkinkan karena elektron yang ada dalam material udara, yang menyerap photon kalau ditembakkan cahaya, tidak memiliki level energi yang dibutuhkan untuk menyerap phonon tersebut. Sehingga photon tersebut diteruskan saja.

Tunggu tunggu.. apa itu photon? Apa pula itu level energi?

Photon adalah quantisasi dari cahaya. Secara sederhana bisa disebut “partikel cahaya”. Haa??? Cahaya itu partikel? Bagaimana bisa? Ya, pada dasarnya karena phonon inilah cahaya (light) dan benda (matter) memiliki apa yang disebut sifat “dualisme partikel-gelombang”. Baik cahaya maupun benda bisa bersifat sebagai partikel (punya massa), disaat yang lain bisa sebagai gelombang (punya frekuensi).

Level energi adalah tingkatan energi pada orbit atom yang didefenesikan oleh Bohr dalam model atom Hidgrogennya:

E = - (13.6 / n^2) [eV]

(Tanda minus menyatakan besarnya energi yang dibutuhkan sistem, atau disebut juga Binding Energy).

Dimana eV adalah electron Volt, satuan energi yang biasa dipakai dalam skala atomik, dan n adalah nomor orbit. n = 1 adalah orbit pertama atau terdekat dengan inti atom. Bayangkan peredaran tata surya kita adalah atom, matahari adalah inti atom dan planet2 adalah elektron yang beredar memutari inti atom. Bumi berada pada n = 3.

Arti fisis dari persamaan itu adalah, electron yang berada di n=1 butuh energi sebanyak 13.6 [eV] untuk pergi dari orbitnya. Dari mana dia dapat energi itu? Dari photon, yang menyumbangkan energi sebanyak hv. Jadi, untuk berpindah ke n=2, elektron itu butuh suntikan energi sebesar:

E (yg dibutuhkan) = E(n=1) + hv

Dimana h = konstanta planck, dan v = frekuensi photon.

Selanjutnya kita masuk pada bagian penting dari postulat Bohr tentang Quantum Atom. Kalau elektron itu melompat ke n yang lebih rendah (spontan emition), maka elektron itu akan MENGHASILKAN photon. Sebaliknya, untuk melompat ke n yang lebih tinggi, elektron MEMBUTUHKAN photon. Kalau ternyata tidak ada lagi n yang tersedia untuk dilompati, maka photon tadi cuma numpang lewat saja, tidak diapa2in. Digoda aja kagak…

INILAH yang terjadi pada gelas dan kaca. Struktu kristal SiO2 dalam gelas dan kaca tidak memungkinkan elektron melompat ke kulit yang lebih tinggi walau sudah mendapat suntikan tenaga dari photon, sehingga photon tadi dilewatkan begitu saja.

Apa akibatnya kalau photon itu dilewatkan saja?

Maka mata kita akan menerima cahaya yang berasal dari balik gelas atau kaca itu, dan bayangan2 benda akan jatuh di retina mata kita memungkinkan kita MELIHAT benda di balik gelas atau kaca tadi.

Itulah mengapa gelas dan kaca tembus pandang, sementara batu tidak.

Sebagai tambahan, pewarnaan gelas dan kaca mungkin dilakukan dengan sedikit merubah struktur kristal SiO2, sehingga ada photon yang terserap, dan yang tidak terserap akan memberikan efek warna. Kalau photon yang tidak terserap adalah warna kuning, maka gelas atau kaca akan berwarna kuning.

Mudah2an setelah membaca artikel ini semakin bisa kita menikmati keindahan kaca dan gelas… globalnya takjub kita pada keajaiban alam ini, kebesaran Sang Penciptanya.

Sebagai penutup, kalaulah ada pemahaman yang keliru tentang materi ini sudilah kiranya dikoreksi. Dalam artikel ini saya mencoba melakukan pendekatan pemahaman Solid State dari sisi Quantum Theory.

Referensi:
* H. Haken & H. C. Wolf, “The Physics of Atoms and Quanta”, Chapter 8, 6th edition, Springer
* C. Kittel, “Introduction to Solid State Physucs”, mostly Chapter 11, 7th edition, John Wiley & Sons


The Making of a Scientist (Part 3/3)

Filed under Bedah Buku

Maaf euy… peng-copy-paste-an bagian terakhir tertunda begitu lama, baik karena alasan teknis maupun non-teknis.

Mudah2an masih sabar menanti bacaan terakhir ini. Bagi yang sudah lupa bagian awalnya, silakan ditengok2 lagi di bagian “Bedah Buku”.

Kali ini adalah bagian terakhir dari chapter pertama buku “What Do You Care What People Think”, di mana Feynman di’ttraining’ menjadi saintis. Ada hal yang menarik untuk disimak, adalah ide Ayah Feynman tentang “bagaimana menghargai sesuatu”. Apakah pandangan Feynman Senior ini dipengaruhi pandangan kaum yahudi yang saat itu memang sedang menjadi kekuatan baru dunia? Ataukah benar sekedar pandangan human being yang humanis?

Selamat menikmati…

ada waktu itu sepupu saya, yang tiga tahun lebih tua, adalah murid SMU. Dia sedang mengalami kesulitan dengan aljabar, jadi seorang guru akan datang. Saya diijinkan untuk duduk di sudur ruangan sementara guru akan mencoba mengajari sepupusaya aljabar. Saya dengar dia sedang berbicara tentang x.

Saya berkata pada sepupu saya, “Apa yang sedang kamu coba lakukan?”.

“Saya sedang mencoba memikirkan apa x itu, seperti pada 2x + 7 = 15”.

Saya berkata, “Maksudmu 4”.

“Ya, tapi kamu melakukannya dengan aritmatika. Kamu harus lakukan dengan aljabar”.

Saya belajar aljabar, untugnya, tidak di sekolah, tapi menemukannya di catatan sekolah yang sudah tua milik tante saya di loteng, dan saya mengerti kesemua ide untuk mencari apa itu x – tidak masalah bagaimana kamu melakukannya. Bagi saya, tidak ada itu namanya melakukan “dengan aritmatika”, atau “dengan aljabar”. “Melakukan dengan aljabar” adalah seperangkat aturan di mana jika kamu ikuti dengan buta, dapat menghasilkan jawaban: “kurangi 7 dari kedua sisi; jika kamu punya faktor pengalu, bagila kedua sisi dengan faktor pengali itu”, dan selanutnya – langkah-langkah berurutan yang mana kamu dapat menjawab pertanyaan jika kamu tidak mengerti apa yang sedang kamu coba lakukan. Aturan sudah dibuat sedemikian rupa sehingga anak-anak yang harus mempelajari aljabar bisa lulus. Dan itu sebabny sepupu saya tidak pernah bisa melakukan aljabar.

Ada beberapa seri matematika di perpustakaan lokal kami di mana dimulai dengan Arithmetic for the Principle Man. Lalu keluar Algebra for the Practical Man, dan lalu Trigonometry for the Practical Man. (Saya belajar trigonometri dari sana, tapi saya segera lupa, karena saya tidak begitu mengerti). Ketika saya sekitar 13 tahun, perpustakaan akan segera mendapatkan Calculus for the Practica Man. Pada saat itu yang saya tahu, dari membaca ensiklopedia saya, kalkulus adalah sebuah subjek yang penting dan menarik, dan saya harus mempelajarinya.

Ketika pada akhirnya saya melihat buku itu ada di perpusataan, saya sangat gembira. Saya pergi ke perpustakaan untuk meminjamnya, tapi penjaga perpustakaan melihat memperhatikan saya dan berkata, “Kamu masih kecil. Untuk apa kamu pinjam buku ini?”.

Ini adalah satu dari beberapa kali dalam hidup saya, saya merasa tidak nyaman dan saya berbohong. Saya katakan buku ini untuk ayah saya.

Saya bawa buku itu ke rumah dan mulai belajar kalkulus. Saya pikir buku itu cukup sederhana dan langsung pada tujuan. Ayah saya mulai membacanya juga, tapi dia merasa buku itu membingungkan dan dia tidak mengerti. Jadi saya coba untuk menjelaskan padanya. Saya tidak tahu dia sangat terbatas, dan itu sangat mengganggu saya sedikit. Itu adalah saat pertama kali saya menyadari bahwa saya sudah mempelajadi lebih banyak pada beberapa hal daripada dia.

Satu dari banyak hal yang ayah saya ajarkan di samping fisika – apakah itu benar atau tidak – adalah ketiadaan respek pada hal-hal tertentu. Sebagai contoh, ketika saya masih kecil, dan dia memangku saya di atas lututnya, dia memperlihatkan saya New York Times – sebuah foto yang baru keluar di surat kabar.

Suatu waktu, kita sedang melihat foto Paus dan orang-orang membungkuk di depannya. Ayah saya berkata, “Sekarang coba perhatikan manusia-manusia itu. Ini ada satu manusia berdiri di sini, dan sisanya membungkuk di depan dia. Kenapa ada perbedaan? Yang ini adalah Paus” – ngomong-ngomong dia benci Paus. Dia berkata “Perbedaannya adalah topi yang dia pakai”. (Secara umum, itu karena pangkat. Itu selalu berhubungan dengan pakaian, seragam, posisi). “Tapi”, lanjutnya, “Orang ini memiliki masalah yang sama dengan yang lain: kalau dia makan, dia harus ke kamar mandi. Dia adalah manusia biasa”. (Ngomong-ngomong, ayah saya bekerja untuk perusahaan yang menganut sistem “seragam” itu tadi, jadi dia tahu betul apa perbedaan seseorang yang sedang berseragam dan tidak berseragam – mereka adalah manusia yang sama baginya).

Saya percaya dia begitu gembira dengan saya. Sekali, ketika saya baru datang dari MIT (saya sudah di sana untuk beberapa tahu), dia berkata pada saya, “Sekarang kamu sudah menjadi terpelajar tentang hal-hal itu (sains), saya punya ada satu pertanyaan yang tidak pernah saya mengerti dengan baik”.

Saya tanya dia, apa itu.

Dia berkata, “Saya mengerti bahwa ketika sebuah atom membuat transisi dari satu state ke state yang lain, dia akan memancarkan partikel cahaya yang disebut photon”.

“Itu benar”, kata saya.

Dia berkata, “Apakah photon dan atom itu ada pada saat yang bersamaan?”.

“Tidak, tidak ada photon sebelum itu”.

“Hmm, jadi…” katanya, “Dari mana photon itu datang? Bagaimana dia keluar?”.

Saya mencoba menjelaskannya – bahwa jumlah photon tidaklah kekal (seperti energi yang kekal; mereka cuma diciptakan oleh pergerakan elektron – tapi saya tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Saya berkata, “Ini seperti suara yang saya buat sekarang; suara itu tidak ada sebelumnya”. (Tidak seperti anak laki-laki saya, yang tiba-tiba mengumumkan bahwa dia tidak bisa lagi mengeluarkan beberapa kata – kata itu akhirnya diketahui adalah “kucing” – sebab ‘kantong kata’nya sudah kehabisan kata itu. Tidak ada ‘kantong kata’ yang membuat kamu memakai kata-kata yang keluar dari sana; dalam hal yang sama, tidak ada ‘kantong photon’ pada atom).

Dia tidak begitu puas dengan saya pada masalah itu. Saya tidak pernah dapat menjelaskan sesuatu yang dia tidak mengerti dengan baik. Jadi dia tidak sukses: dia mengirim saya ke beberapa universitas dalam rangka untuk menemukan jawaban hal-hal sains, dan dia tidak pernah mendapatkan jawaban itu.

Walaupun ibu saya tidak tahu apa-apa tentang sains, dia memberi pengaruh yang luar biasa pada saya. Secara khusus, dia memiliki rasa humor yang bagus, dan saya belajar dari dia bahwa bentuk tertinggi dari pengertian yang bisa kita raih adalah tertawa dan saling mengasihi sesama manusia.