Archives for February, 2004

Yesus Bukan Berkulit Putih

Filed under Intriguing Idea

Pada hari-hari kita menikmati tulisan tentang Muhammad oleh Ismail
Fahmi, href="http://cafe.degromiest.nl/2004/02/andai_dapat_kukucup_tanganmu">Andai
Dapat Kukucup Tanganmu,
saya mendapat tulisan introspektif dan kontemplatif yang berkait dengan
film Mel Gibson paling baru tentang Nabi Isa, href="http://imdb.com/title/tt0335345/">The Passion of The
Christ.

Penulisnya, William Rivers Pitt, dari href="http://www.truthout.org">The Truthout, meletakkan judul
The Passion
of Americans
sebagai editorial. Bagian-bagian penting yang
diangkat olehnya adalah kesadaran yang sesungguhnya sebagai umat
Kristiani di Amerika. Kebetulan saya sempat membaca beberapa komentar
tentang rencana legalisasi perkawinan sesama jenis di Amerika dan saya
amati masih cukup banyak komentator yang berpendapat bahwa hal
tersebut href="http://www.amnews.com/public_html/?module=displaystory&story_id=5297&format=html">tidak
dibenarkan dari sisi Kristiani.

Akan halnya film Mel Gibson yang mulai beredar sekarang, menjadi
pertanyaan sederhana namun penting: mengapa Mel Gibson membuat
sebuah film tentang penduduk di sebuah tempat kuno di Timur Tengah
namun diperankan oleh begitu banyak orang berkulit putih? Ini cocok
dengan “tudingan” Ali Syariati bahwa Yesus menjadi “seperti Alain
Delon” karena figur itu yang muncul dan dipakai oleh orang Barat.

Persoalannya sekarang ini, figur Timur Tengah yang seharusnya
melekat pada bentuk fisik dan keturunan yang dibawa Yesus, sedang
dihindarkan oleh pandangan publik Amerika, seperti ditulis pada
editorial tersebut,

The ugly truth which never even occurs to most
Americans is that Jesus looked a lot more like an Iraqi, like an
Afghani, like a Palestinian, like an Arab, than any of the paintings
which grace the walls of American churches from sea to shining sea.
This was an uncomfortable fact before September 11. After the
attack, it became almost a moral imperative to put as much distance
between Americans and people from the Middle East as possible. Now,
to suggest that Jesus shared a genealogical heritage and physical
similarity to the people sitting in dog cages down in Guantanamo is
to dance along the edge of treason.

Biarlah bangsa Amerika melakukan introspeksi (jika mau) terhadap
kebijakan mereka sekarang ini. “Balas dendam, kekerasan, dan kebencian,
bukan sifat umat Kristen. Kasih sayang, cinta, dan kepedulian adalah
ajaran menonjol dari Yesus,” demikian tulisan tersebut diakhiri.

Bagi kita, Nabi Isa adalah salah satu dari 25 rasul yang diutus
Allah. Ajaran tentang kasih sayang dan cinta tentu bukan sesuatu
yang asing bagi kita yang percaya bahwa agama yang hak adalah
yang diturunkan dari Allah SWT lewat para
utusan-Nya.


“Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kutatap wajahmu. Kan pasti mengalir air mataku, karna pancaran ketenanganmu. Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kukucup tanganmu. Moga mengalir keberkatan dalam diriku, untuk mengikut jejak langkahmu.

Ya Rasulullah, ya Habiballah, tak pernah ku tatap wajahmu. Ya Rasulullah, ya Habiballah, kami rindu padamu…”

Alunan rindu sahabatku Raihan kepada kekasihnya sore itu, telah menyelinap masuk ke dalam jiwaku yang sedang menghadap Sumber Kedamaian. Tak terasa, jiwaku naik, demam rindu menyerang, dan air mataku pun menetes. Kulihat sang kekasih berdiri di depanku. Tersenyum menanti kehadiranku. Betapa telah lama dia menunggu dengan bimbang.. ‘ummati, ummati, …’

Debu yang menutupi mata, jurang yang mengancam, tebing yang harus ku daki, hampir-hampir membuatku putus asa bisa mencapai bukit ini. Terlintas ketakutan akan masa depan. Bertiup kekhawatiran akan kegagalan. Mengeluh karena beratnya penderitaan. Kemudian, aku pun memohon keringanan atas beban ujian. Kadang membandingkan diri dengan jiwa lain yang seolah berjalan tanpa beban. Semua rasa ini hanya membuatku merasa tersiksa saja.

Jalanku tidak seberapa dibandingkan dengan beratnya jalanmu, wahai kekasih. Engkau baru saja bertemu dengan Sumber Kedamaian. Sungguh, begitu dekat tempatmu di sisiNya. Dia begitu cinta kepadamu..

Pasti Dia telah tawarkan segalanya untukmu saat itu. Tetapi engkau pilih jalan orang-orang miskin. Bukan kemewahan yang kau bawa setelah kembali dari langit, tetapi engkau kenakan batu untuk mengganjal lapar perutmu. Paginya, kau pun pergi ke pedagang Yahudi yang tidak simpatik, untuk berhutang biji gandum agar laparmu sedikit teredam. Bukankah kau bisa meminta kepada Sang Kekasih, untuk memberimu kemudahan dan kemewahan? Tetapi engkau tidak lakukan itu. Bagaimana bisa setinggi itu jiwamu?

Sementara diriku, tidak pernah mendapati ketiadaan makanan sehingga harus mengganjal perutku dengan batu sepertimu. Tetapi mangapa masih sering merasa kalau Sumber Kedamaian tidak menolongku, tidak mempedulikanku, bahkan mencurigaiNya tidak adil kepadaku? Bukankah Dia berikan lebih banyak dari dunia ini kepadaku dari pada kepadamu? Bukankah sahabatmu pun tidak rela melihat kemiskinan di rumahmu, sementara para raja berada dalam kemewahan?

Engkau telah memilih akhirat, dan memilih selalu bersamaNya ketika di dunia. Hatimu damai, bukan karena menyendiri dan meninggalkan dunia. Hatimu damai, ketika dalam sendiri maupun perang. Engkau sudah mencapai keadaan yang tak terlukiskan ketika di langit, tetapi engkau memilih kembali ke dunia material ini. Engkau sucikan dunia dengan memasukinya, engkau damaikan alam material dengan menyatukannya kepada langit. Engkau lah rahmat bagi seluruh alam.

Engkau lah rembulan, yang memantulkan sinar Sang Mentari kepadaku yang berada dalam kegelapan malam. Karenamu, malam ku pun menjadi terang dan indah sambil menatap wajahmu. Engkau lah rembulan dalam hatiku, yang memancarkan sinar dari Sumber Cahaya di atas Cahaya. Sungguh besar cintamu kepada ummatmu.

Sungguh dekat engkau dengan diriku. Cahayamu menyatu dengan diriku. Tetapi debu nafsuku telah menghalangiku menerima cahayamu.

Semoga Sumber Kedamaian merobahkan rasa dalam hatiku, agar bisa ikhlas menerima segala yang baik dan buruk, dengan penuh cinta dan syukur. Agar aku bisa bersyukur, atas kebodohan diriku. Aku bersyukur atas ketidaktahuanku. Aku bersyukur atas kekeringan jiwaku. Aku bersyukur atas dosa-dosaku. Aku bersyukur atas segala yang Kekasihmu berikan kepadaku, segala yang ada di sisi kiri dan kanan, di atas dan di bawah, di depan dan di belakang. Semoga tidak ada satu pun yang tidak aku syukuri. Dan semoga kelak, Sang Syukur membawaku kepadamu, untuk mengucup tanganmu..

Amin..

… sebuah penghargaan kepada Annemarie Schimmel.

Puji dan syukurku kepadaNya Yang Maha Akbar, yang menciptakan manusia berbeda-beda dalam meyakiniNya …

Entah aku orang kafir atau beriman-
Hanya Allah sajalah yang tahu, siapa aku!
Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi,
Yang menjadi penguasa Madinah

Sir Kishan Prasad Shad
Perdana Meteri Hindu dari Negara Bagian Hyderabad


Tamu, tak seperti biasa….

Filed under Islam Aktual

Tidak biasanya pemandangan itu terlihat pada waktu shalat Isya di masjid Selwerd, tidak berapa jauh dari ?winkel centrum paddepoel?. Di bagian belakang tersusun kursi-kursi dengan rapi yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk seperti berbuka puasa bersama. Setiap hari kursi tersebut terletak diluar ruangan utama. Kali ini lain. Ada apa gerangan ?.

Sebahagian jamaah sudah selesai melaksanakan shalat sunnah, sementara yang lainnya masih pada rakaat terakhir. Beberapa yang terlambat terlihat tetap memilih berdiri dibanding ikut shalat sunnah, karena tidak berapa saat setelah itu iqamah pertanda shalat berjamaah di mulai berkumandang. Di saat pikiran masih sibuk memperkirakan gerangan acara yang akan digelar, tiba-tiba datang serombongan ?warga bule? yang berjumlah 15 orang, 4 orang diantaranya berumur sekitar 35-45 tahun, selebihnya seusia siswa SMP atau SMA. Mereka mengambil tempat duduk pada kursi yang telah tersusun dengan rapi. Seorang jamaah dengan suara pelan menyambut kedatangan mereka sambil mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda. Seketika setelah itu mereka duduk dengan tenang tanpa ada sedikit suarapun. Iqamah pun berkumandang, sang Iman ? al-hafidz (hafal 30 juz Al-qurán) dengan suara murotal/bacaan Quránnya seperti lantunan Abdurrohman Sundaise yang sering kita dengar dari kaset rekaman atau browse internet ? mulai mengimami shalat.
Setelah shalat Isya berjamaah, seperti biasanya jamaah berdzikir dan shalat sunnah Isya. Saya sempat bertanya kepada pengurus masjid, dari mana para tamu itu datang. Sang pengurus menjelaskan bahwa mereka dari sebuah gereja di daerah Friesland (penghasil susu cap bendera yang terkenal di tanah air itu). Mereka ingin tahu lebih jauh tentang Islam dan bagaimana cara shalat. Tentunya setelah itu mereka mendapat penjelasan dari 2-3 orang jamaah sebagai pemandu. Tempat diskusi dipindahkan ke ruangan luar.

Di perjalanan pulang ingatan saya kembali tertuju pada diskusi kecil sehari sebelumnya bersama pak Ketua deGromiest, Pak Guru website serta astronom Bung Ferry. Diskusi yang diawali Bung Ferry tentang sebuah artikel seorang ?biolog? di jurnal science ? Jurnal dengan high impact factor itu ? yang bicara tentang kehidupan homo/lesbian, melebar ke berbagai realita Islam di Negara Barat. Beberapa bahan diskusi tersebut langsung kembali teringat setelah melihat ?kunjungan para bule? ke Masjid Selwerd. Salah satunya adalah telah dijadikannya undang-undang pelarangan simbol-simbol agama di wilayah publik oleh pemerintah Prancis. Rancangan undang-undang ini mendapat tantangan tidak hanya dari pihak Muslim tetapi juga pihak non-muslim sehingga gerakan penentangan ini menyebar ke hampir di seluruh penjuru dunia ini. Tak kurang Ulama kontemporer terkenal Dr. Yusuf Al-Qardawi mengirim surat khusus untuk Presiden Chirac. Undang-undang tersebut tidak membolehkan siswa/mahasiswa muslim menggunakan jilbab ke sekolah/perguruan tinggi. Perkembangan Islam yang cukup pesat di Prancis bisa jadi menjadi salah satu konsideran lahirnya undang-undang tersebut, tentunya dibalik semua itu Allah SWT lah yang mengetahuinya.

Mas Ismail sampai kepada sebuah ?analisa? bahwa Prancis sekarang sedang ber-eksperimen dan akan dilihat hasilnya dengan berjalannya waktu. Dan penentangan yang sedemikian kuat terhadap simbol agama itu (masalah jilbab yang paling menonjol) justeru akan menambah keingintahuan orang untuk memperlajari Islam, semakin kuat ?intimidasi, penyebutan teroris serta opini buruk lainnya terhadap Islam akan menambah deretan orang-orang Barat yang ingin belajar tentang Dienul Islam.

Realita ini banyak terjadi setelah terjadinya peristiwa 11 September yang fenomenal itu. Segera setelah runtuhnya gedung ternama dijantung kota Newyork ?WTC- itu, pemerintah Amerika menuduh kelompok Islam sebagai pelakunya. Terlepas adannya bukti atau tidak istilah teroris menjadi isu yang sangat kuat menjalar ke seluruh jagat ini. Semakin menambah kuatnya opini buruk orang-orang Barat terhadap Islam. Sebagaimana hukum alam banyak orang yang termakan oleh opini yang dibentuk serta disebarkan melalui media dengan teknologi canggih itu, sebaliknya juga banyak orang yang tidak begitu saja mempercayainya. Golongan ke dua inilah biasanya berusaha mencari tahu bagaimana sesungguhnya.

Bersamaan dengan gencarnya pembentukan opini kurang bersahabat terhadap Islam, banyak warga Amerika ingin tahu lebih jauh tentang agama Islam. Mereka datang kepada ulama atau sebaliknya mengundang ulama untuk menjelaskan kepada mereka. Salah satu yang sangat sering dipanggil dan didatangi untuk menjelaskan tentang agama Islam itu adalah seorang warga Negara Indonesia yang diangkat sebagai imam di salah satu masjid di kota New York. Ustadz Syamsil Ali demikan dia dipanggil, menjadi lebih padat jadwalnya dengan undangan untuk tujuan ini. Pria dengan umur masih kurang dari 40 tahun ini, diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjelaskan tentang agama Islam kepada orang-orang yang ingin belajar.
Barangkali karena alasan itu juga pemandangan ahad malam itu saya saksikan, tapi tentunya saya tidak tahu persis?


Ini lanjutan dari cerita perjalanan ke Delft. Aku ingin segera menuliskannya, jika tidak akan lupa dan malas. Ini tentang diskusi selama di kereta, dalam perjalanan pulang dari Delft ke Groningen. Semoga upaya memaknai perjalanan ini bermanfaat.

————————-

Siapa sih yang tidak ingin merasa dekat dengan Sang Kekasih?

Seorang pemabok pun, jika ditanya apakah ingin bisa merasakan ‘kebahagiaan’, pasti jawabnya adalah “Ingin”. Terus, kenapa sulit sekali, dan rasanya kebanyakan manusia dan diri kita berjalan tidak lebih dekat kepada ‘kebahagiaan’? Kenapa rasanya selalu ada masalah setiap hari?

Jangan tanyakan kepadaku, aku pun tak tahu.

Yang ku tahu, Sang Kekasih itu ada dekaaat sekali dengan diriku. Namun diriku yang tidak melihatNya. Dia berdiri jelas di depanku, tetapi aku tidak mengenalNya. Ingin rasanya diri ini bisa merasakan kesejukan dalam setiap menghadapNya, merasakan getaran setiap mendengar namaNya. Tetapi keinginan ini semakin membuat diriku frustasi, ketika mendapati semakin kering saja sumur hati ini dari hari ke hari.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Kyai ‘nyentrik’ Subrun. “Pak Kyai, apa yang terjadi dengan diriku ini, tolong pak,” aku memulai pembicaraan.

“Aku ingin sekali bisa merasakan kesejukan dalam sholatku, pak Kyai. Aku ingin bisa merasakan indahnya sholat itu, seperti yang dibilang orang-orang. Aku sudah hapalkan bacaannya, aku sudah hapalkan arti setiap kata-kata dalam sholat, dan sudah mencoba merenunginya. Tetapi belum juga sumur hati ini terisi dengan air kesejukan, pak Kyai. ”

“Sholatku masih kering, masih sebatas memenuhi kewajiban. Rasanya kok sulit sekali menjadi dekat dengan Sang Kekasih. Katanya Dia sangat dekat, tetapi kenapa aku tidak merasakanNya. Tolong aku pak Kyai..”

“Cak Mangil, maaf ya. Bersyukurlah sampeyan bisa seperti itu. Bersyukurlah masih bisa merasakan kekeringan dan kehampaan ketika sholat. Kalau sudah tidak merasa apa-apa, kan jadi lebih menyedihkan. Bersyukur juga masih ada keinginan untuk lebih deket. Syukuri itu dulu Cak Mangil,” kata pak Kyai.

“Coba dulu ya, sampean syukuri itu. Nanti setelah sebulan, setelah sampeyan ada bahan, silahkan datang lagi ke rumah saya. Nanti kita lanjutkan.”

“Begitu saja pak Kyai? Saya hanya disuruh bersyukur?”

“Iya”

“Ndak ngerti saya pak. Masak saya harus mensyukuri kekeringan hati ini. Tapi baik lah pak, saya akan coba jalankan nasehat bapak.”

Begitulah, pertemuanku pertama kali dengan Kyai Subrun. Aku pun pulang, dengan satu pelajaran, “Syukur”. Selama satu bulan, aku belajar “alhamdulillah”. Menerima segala yang ada dengan mengucap “alhamdulillah”. Mencoba hati ini untuk menerima. Cobaan permasalahan datang terus. Mulai dari urusan anak, soal belanja, mobil mogok, penelitian yang gagal. Macem-macem, yang membuat pikiran semakin sulit untuk bisa bersyukur.

Setiap sholat, aku coba perhatikan hati ini, sambil berharap-harap ada perubahan, sumur hatiku terisi. Namun, hingga satu bulan, sumur itu masih kering, sholat masih hampa. Latihan syukur pun serasa belum memberi hasil.

Duh Gusti, betapa sulitnya mendekatiMu…

“Pak Kyai, saya sudah coba untuk bersyukur. Tapi rasanya sulit sekali pak. Saya rasanya sulit bisa bersyukur. Bagaimana pak Kyai?”

“Alhamdulillah, sampeyan musti bersyukur kalau sampeyan tidak bisa bersyukur,” jawab pak Kyai yang membuatku semakin bingung.

“Lho gimana maksud pak Kyai? Saya harus bersyukur kalau saya tidak bisa bersyukur? Maksudnya gimana pak?”

“Lha iya. Sampean itu sudah diselametin sama Gusti Allah. Coba kalau sampean bisa bersyukur, pasti saat itu “ke-aku-an” sampean akan muncul. Sampeyan akan merasa “sudah bisa bersyukur”. Nah, salah ini. Memangnya siapa di dalam diri sampean “yang bisa bersyukur” itu? Jadi, syukuri saja Cak Mangil. Sampeyan sebenarnya sedang ditolong, diselametkan. Tapi sampeyan ndak ngerasa. Syukuri itu, ada banyak hal yang belum sampeyan ketahui, apa maksud dibalik yagn sampeyan hadapi. Jadi, syukuri dulu.”

“Begitu pak Kyai. Terus apa maksud sebenarnya dari syukur itu pak?”

“Syukur itu menerima dengan ikhlas. Baik dan buruk, diterima. Dimasukkan ke dalam hati. Diterima bulat-bulat, tanpa syarat. Syukur itu berbuat sesuai dengan keinginan Sang Pemberi. Sang Pemberi ingin kita menerima dengan ikhlas segala pemberianNya. Dia ingin kita menerima, menSyukuri, tidak protes, tidak malah banyak harapan dan keinginan.”

“Susah dijelaskan ini Cak. Seperti kalau sampeyan belum pernah merasakan ‘asin’, lalu tanya ke saya. Saya jelasin rasa ‘asin’ itu seperti apa, ya sampeyan ndak akan mudeng2. Hanya bisa meraba-raba. Jadi, kuncinya, ya sampeyan harus merasakan sendiri. Baru sampeyan tahu, apa itu yang dimaksud dengan bersyukur, apa itu ikhlas. Sampeyan tahu sendiri, dan hakekatnya, sampeyan akan dibuat tahu.”

“Banyak-banyak latihan bersyukur dulu Cak Mangil. InsyaAllah, akan ada yang tumbuh atau ditumbuhkan di dalam diri sampeyan. Kalau mau tinju kelas berat, ya latihannya musti keras, gizinya oke. Kalau mau merasakan nikmat tingkat tinggi, juga sama. Latihannya juga musti oke. Dan bahan untuk latihan ndak usah dicari-cari. Ndak usah menyendiri, pergi ke hutan, atau ke gunung. Bahan itu sebenarnya sudah ada setiap hari, datang sendiri menemui kita. Tinggal kita bisa melihatnya atau tidak.”

“Silahkan Cak Mangil, bulan depan datang lagi ke saya, jika sampeyan sudah ada bahan lagi.”

“Terimakasih Pak Kyai… Mohon dibantu doa ya pak..”


Silaturrahim ke Delft

Filed under Sport Club

Kemaren, ya kemaren, tanggal 22 Februari 2003, deGromiest mengadakan kunjungan silaturahim ke saudara-saudara kita yang berada di Delft. Ini merupakan kunjungan balasan. Perjalanan, pertandingan, perbincangan, diskusi, obrolan, dan aktifitas2 lain yang dilakukan terasa sangat menarik.

Kunjungan ini diikuti oleh ismail, wangsa, khairul, itob, mbak heni, mas amal,bang fahmi, aryo, pak feri, mbak diana,bu marlin, puri, serta mantan ketua deGromiest Iman, dan juga tim anak2: rayhan, safira, dan fathiya. Berangkat pagi jam 8 dari Groningen, sampai di sana jam 11.30. Udara dingin yang sejuk langsung menyambut kami ketika keluar dari CS Delft. Agar darah tidak membeku, kami pun langsung menuju hall olah raga, yang jaraknya sepeminuman teh dari CS Delft.

Jam 12 siang, hall sudah siap buat acara ini. Temen2 muslim Delft, yang dikomandoi oleh Bung Hatami, satu per satu datang ke hall. Acara dibuka dengan perkenalan. Dari asal kota temen2 Delft yang hadir, kebanyakan dari Bandung. Mungkin Delft ini sangat favorit bagi temen2 Bandung (ups.. sara). Sementara temen2 dari Groningen, lebih beragam. Ada yang dari Riau, Padang, Semarang, Yogyakarta, Jakarta, Bojonegoro, Jember. Tapi, lagi2 mereka afiliasinya juga dari Bandung (ups.. sara lagi). Untung masih ada Diana yang tetep cinta sama Yogya, ndak ikut2an Puri hijrah ke Bandung. Kalau ndak…

Pertandingan dimulai. Ganda Khairul & Ario melawan ganda dari Delft membuka pertandingan ini. Permainan cukup alot. Hampir 1 jam untuk dua seri. Setelah itu, ganda berikutnya, berjalan lebih cepat. Bahkan ada ganda, yang pemain pembukanya saja sudah bisa membubuhkan 9 point. Pertandingan cukup keras dan alot, hingga kaki pun ada yang keseleo, linu, lecet, dan tentu.. bau.

Untuk menyenangkan tuan rumah, tim dari Groningen mengalah. Beberapa set kita beri nilai seri, dan banyak yang kita beri kemengangan buat Delft. Kita cukup mengambil yang sedikit kemenangan saja. Ya, sedikit kemenangan sudah cukup buat kita bawa pulang, karena ada kemenangan lain yang menunggu, yaitu bebek peking.

Jam 4 sore, pertandingan selesai. Nah, acara selanjutnya adalah ramah tamah di rumah salah seorang sahabat kita di Delft. Para ibu dan anak dijemput dengan oto, sementara yang lain berjalan kaki. Jarak dari hall olah raga ke rumah ini kira-kira empat cangkir minum teh. Cukup jauh? ya.. dan asyiknya, kami disapa oleh para malaikat dan bidadari berwarna putih, yang turun melayang2 dari langit. Terasa celekit-celekit kalau mengenai kulit, hingga kami pun harus berjalan cepet-cepat jika tidak ingin kedinginan.

Selama perjalanan ke rumah tujuan, kami melihat bangunan2 kampus Delft yang modern. Di sebelah kanan kami, ada bangunan yang rasa-rasanya waktu mendesain, cukup arsitekturnya membuat satu desain bangunan, lalu dengan program AutoCad, ditekan lah tombol Ctrl-C, Ctrl-V, Ctrl-V, Ctrl-V. Empat bangunan moderen pun tanpak sangat mirip, berjejeran.

Akhirnya sampai juga. Saatnya untuk menyantap hidangan telah tiba. Di rumah sahabat kita ini, telah disiapkan soup daging kambing yang panas, mie goreng yang nikmat, ayam goreng, dan minuman2 menyegarkan lainnya. Kebaikan dan kerahaman tuan rumah sangat terasa, ketika tuan rumah tidak sabar untuk mempersilahkan kami menyantap hidangan. Untung, tuan rumah menyajikan hidangan di akhir pertandingan. Jika di awal, bisa dipastikan tim Groningen yang akan banyak memenangkan pertandingan.

SMP.. ? Ah.. jangan. Kita ngobrol dulu, berbalas pantun, guyon. Ada yang serius, ada yang guyon, ada yang tertidur capek, ada yang main-main dengan anak-anak. Pokoknya rame, ndak teratur di ruangan itu. Tapi semua gembira. Sebelum pulang, kami sholat maghrib dan isya, dijamak. Kalau ndak dijamak, sampe Groningen pasti udah tidak konsentrasi shalatnya. Pada kecapekan.

Kembali ke CS Delft, kali ini kami tidak berjalan kaki, karena sebuah mobil van dan sedan dengan sigap telah mengantarkan kami. Aku naik sedan bersama Mas Amal dan Bung Ferry, dianter oleh Bung Ikhwan. Tenteram sekali rasanya di mobil itu, mendengarkan nasyid yang meningatkanku untuk sholat selalu. Iya, sholat sepanjang waktu.

Aha.. hampir lupa, ada yang ketinggalan, yaitu tasnya Ario. Syukur, masih ada rombongan terakhir yang belum berangkat. Kayaknya Ario perlu banyak minum ginko biloba.

Tidak lama menunggu di stasiun, kereta yang akan membawa ke Rotterdam pun siap berangkat. Kursi banyak yang kosong, sehingga seorang bisa duduk di empat kursi. Rotterdam.. Rotterdam.. sebuah kota yang kami nantikan. Tidak sabar ingin sampai di sana. Ada apa?

Ya, benar, ada bebek peking.

Ah, betapa adilnya Tuhan. Selalu adil, seimbang, sempurna. Disatu sisi diberi bebek peking, di sisi lain tas berisi raket ketinggalan di kereta. Bung Ferry lupa membawa turun, karena memang sejak awal tidak jelas siapa yang bertugas membawa tas itu. Bung Ferry belum pernah bawa, jadi pas turun ya ndak inget kl pas naik bawa tas itu. Its oke.. itu lah indahnya keseimbangan.

Mas Amal dan Bang Fahmi musti langsugn pulang ke Groningen, ganti kereta, karena anak2 besok harus bangun pagi dan sekolah. Yang lain boleh melanjutkan perjalanan ke peking. Di sana, aku hanya bisa berdoa “Ya Allah, halalkan olehMu, apa yang Engkau hadirkan ke dalam diriku. Bismillah Arrohman Arrohim.. ”

Abis dari peking, jam 9 malam, perjalanan pulang dilanjutkan dengan kereta berikutnya. Perjalanan yang akan lama, 3 jam. Ada yang capek tertidur pulas, ada yang ngobrol, ada yang ngantuk-ngantuk ndak bisa bobok.

Selamat tinggal Delft, sampai jumpa lagi di Groningen/Enschede.. insyaAllah…


bertambah lagi ilmuku

Filed under Catatan Pribadi

dari banyak kejadian yang kuperhatikan dan kualami sendiri, aku mengambil kesimpulan bahwa kita tidak mendapat ilmu baru sebelum kita siap untuk menerimanya. saat kita telah siap, maka ilmu itu akan kita dapat dan terasa bagaikan sebuah pintu terbuka di depan mata kita. ya, terasa bagaikan sebuah pintu terbuka. hal-hal yang sebenarnya kalo kita inget-inget, telah kita ‘ketahui’ keberadaannya, tapi belum kita sadari.

misalnya, jika suatu saat aku mencari tahu tentang arti dan penjelasan dari suatu konsep. maka hari-hari berikutnya akan banyak kutemukan contoh penerapan konsep tsb. dan setiap kali aku berfikir ulang, sebenarnya contoh-contoh konsep yang kelihatan baru mulai muncul setelah aku mencari tahu tentang konsept tsb, telah ada sebelum aku mencari pengertiannya. hanya saja sebelumnya meski mungkin aku lihat, tapi tidak aku sadari.
dalam bahasaku, saat setelah aku mencari pengertian dan arti dari konsep tsb, inilah yang kusebut sebagai saat aku telah siap untuk


Bahasa dan pengganti

Filed under Intriguing Idea

Beberapa waktu ke belakang, di eropa pernah diramaikan dengan rencana membuat bahasa artifisial yang digunakan untuk sebagai bahasa komunikasi antar negara di eropa. Entah sama atau tidak, rasanya ide ini mirip dengan pengembangan bahasa Indonesia dulu. Rencana ini pada akhirnya memang tidak berhasil dilaksanakan, chauvinism masing-masing pemilik bahasa, spanyol, italia, inggris, jerman dan, tentu saja perancis.

Bukan tentang bahasa artifisial ini yang akan berlanjut sebenarnya, tapi jika dilihat dari kesempurnaan bahasa yang digunakan. Mungkin karena bahasa Indonesia begitu sederhana sehingga mudah digunakan. Ketiadaan artikel salah satunya. Dalam bahasa Indonesia, tidak ada pembedaan antara jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Entah ini simbol awal dari emansipasi atau pembolehan kebinanan, hahahaha …

Dalam bahasa Indonesia, kita terbiasa menggunakan akhiran “-nya” sebagai kata ganti perseorangan, regardless bagi laki-laki atau perempuan. Pernah seorang teman mengatakan kalau dengan demikian, akan membingungkan karena tidak akan jelas apa yang dimaksudkan dalam suatu perkara atau kalimat tanpa terlebih dahulu dijelaskan terlebih dahulu pada awalnya, kepada siapa dialamatkan “-nya” itu. Well, banyak kata-kata ambigous lainnya seperti suffix “-nya” ini, jadi tidak heran kalau di Indonesia banyak hal-hal yang tidak jelas, what so ever …

Anyway, sebenarnya justru ada satu kelebihan suffix “-nya” yang tidak jelas ini. Apa? Misalnya pada saat kata ganti ini dialamatkan kepada Tuhan, kita bisa dengan mudah mengganti awal suffix ini dengan huruf kapital, “-Nya”. Ini yang tidak bisa dilakukan oleh bahasa-bahasa dunia yang mengenal gender. Dimanakah tergelitiknya? Sebenarnya dalam sebuah diskusi dalam bahasa Inggris, seringkali kata Tuhan dikata gantikan oleh istilah ‘he”, bukan she, they, atau lainnya. Tergelitik bahwa dalam Islam, Tuhan tidak bergender. Karena ngga ngerti bahasa arab, entah apa dalam bahasa arab (yang mengenal gender), TUhan juga dikategorikan lagi-laki.

Dalam pandangan agama lain, seseorang rasul yang diagungkan sebagai Tuhan dan kebetulan berjenis kelamin laki-laki, mm.. belum ditemukan dalam katalog seorang perempuan menjadi rasul, kalau nabi, entahlah, jumlahnya banyak sekali. Tetapi, tidak masalah. Agama ini memang didominasi oleh penganut yang menggunakan bahasa yang mengenal bergender, bahkan salah satu kesatuan terkuat di bumi ini pun menggunakan agama ini sebagai salah satu kesatuan dasarnya. He, his, him, er, sein, zijn, hij, sama toch. That’s fine, for them, maksudnya. Memang Tuhannya laki-laki, toch.

Well, dalam Islam Tuhan tidak bergender, Ia (memang nikmat memakai bahasa Indonesia) bukan laki-laki atau perempuan. Lalu kenapa dalam bahasa bergender, Ia dikategorikan sebagai “He”, bukan “She”. Padahal kalau menggunakan “SHE”, kan sudah mengandung kedua unsur laki-laki dan perempuan. Coba dipisahkan saja S+HE mengandung dua unsur HE dan SHE sekaligus. hahahaha, permainan kata-kata, menarik. Influence dari bahasa bergender? Atau influence dari agama lain, mm, menarik.

Okelah, dengan pengetahuan bahasa yang minim, sulit buat disimpulkan oleh saya. Biarkan jadi pertanyaan terbuka, biarkan saja masing-masing membuat jawaban masing-masing.


“Mbak..mbak..maaf, kalau mau duduk di sebelah sana saja..” tegur seorang satpam sebuah toko buku, sambil menunjuk 2 buah kursi di bagian tengah ruangan . Dengan sedikit kesal, si pengunjung yang sedang membaca sambil duduk di lantai itu terpaksa berdiri. Membaca sambil berdiri hampir 1 jam membuat kaki si pengunjung enggan untuk diajak kompromi. Apalagi kursi yang ditunjuk satpam nyatanya bukan kursi yang disediakan bagi pengunjung, melainkan kursi khusus bagi pencari informasi. Apa mau dikata, teguran tetap harus ditaati bila tak ingin menanggung malu.

Teguran satpam sebuah toko buku besar di bandung tadi memang cukup sopan, tetapi menegur pengunjung untuk duduk di kursi yang hanya 2 buah, apalagi kursi itu dikhususkan hanya bagi pencari informasi , sama saja artinya dengan pihak toko buku melarang pengunjung untuk membaca buku sambil duduk. Boleh-boleh saja membaca berlama-lama, tapi kaki capek dan pegal resikonya..

Ironis sekali? disaat negri ini membutuhkan manusia-manusia yang gemar membaca untuk menjadi manusia yang lebih berkualitas, disaat gemar membaca disebut-sebut sebagai salah satu cara untuk mencerdaskan bangsa, toko buku sebagai salah satu media pencerdas ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas yang memadai bagi kenyamanan pengunjung untuk bisa berlama-lama membaca, atau menikmati buku bermutu yang mungkin tidak terbeli karena faktor ekonomi. Barangkali bagi pihak toko, menyediakan fasilitas itu sama artinya dengan merugi karena akan mengurangi tingkat penjualan akibat pengunjung yg tidak jadi membeli buku. Toko buku memang bukan perpustakaan, tapi menyediakan fasilitas ini dengan niat untuk turut mencerdaskan anak bangsa bukanlah hal yang sia-sia, karena pembeli akan tetap selalu ada. Tak ada salahnya bila kita berkaca pada salah satu toko buku di negri tetangga, yang menyadari fungsinya sebagai salah satu media pencerdas bangsa. .

Kinokuniya bookstore, terletak di Takasimaya Orchad road jantungnya negri Singapura. Kesan pertama yang muncul saat memasuki toko buku ini adalah..wow?betapa luas dan nyamannya tempat ini. Pengunjung yang tidak gemar membaca atau tidak suka membeli buku pun akan betah berlama-lama di toko ini.

Udara panas singapura akan langsung terasa sejuk dan nyaman begitu memasuki ruangan. Apalagi di pinggir ruangan disediakan kursi-kursi empuk memanjang yang memang disediakan bagi pengunjung . Lantai ruangan ditutupi karpet tebal dan bersih yang membuat pengunjung tak segan untuk duduk diatasnya. Buku-buku disusun dengan rapi dalam rak-rak tinggi, sesuai dengan jenisnya. Antara setiap rak diberi jarak cukup lebar, yang membuat pengunjung bisa leluasa mencari buku, tanpa perlu berdesak-desakan. .
Pemandangan yang menarik saat melewati bagian buku-buku ilmiah adalah ketika melihat beberapa anak muda sedang duduk diatas karpet sambil membaca dan mencatat buku yang sedang dibacanya. Adapula beberapa orang yang terlihat sedang serius membaca buku sambil duduk di atas kursi yang empuk. Petugas toko buku berseliweran memeriksa buku-buku atau melayani pengunjung yang membeli buku, tapi tak ada seorangpun petugas yang menegur anak-anak muda tadi. Mereka tetap dengan serius membaca dan mencatat isi buku, tanpa terganggu.

Saat masuk ke bagian buku anak-anak, rasa nya semakin kagum dengan toko buku ini., tak akan ada anak yang tidak senang berlama-lama di sini. Pemandangan yang terlihat tidak seperti di sebuah toko buku , tapi seperti sedang berada di sebuah taman bermain. Diatas karpet tebal yang berwarna indah disediakan beberapa buah bantal besar yang lucu, rak-rak buku yang disediakan pun tidak terlalu tinggi, disusun dengan menarik, sehingga bisa dijangkau oleh anak-anak. Buku buku yg disediakan dalam berbagai ragam dan bentuk pasti sangat disukai anak-anak. Di beberapa sudut tampak ibu-ibu muda sedang duduk diatas karpet sambil membacakan buku untuk balitanya. Ada pula seorang ibu yang sedang menidurkan bayinya diatas karpet , sementara anaknya yang lain begitu antusias berlari-lari memilih buku. Petugas berseliweran kesana kemari mengerjakan tugasnya, sekali lagi, tanpa ada seorangpun yang menegur.

Melihat ini semua membuat mulut berdecak kagum, andaikan ada toko buku seperti ini di Bandung. Tidak hanya mall dan mall yang menjadi tempat kunjungan, toko buku pun bisa menjadi tempat rekreasi yang nyaman. Akan semakin banyak orang-orang yang gemar pergi ke toko buku dan mendapatkan banyak ilmu. Akan semakin banyak manusia yang berkualitas karena tahu pentingnya buku.. Buku adalah jendela ilmu, dan toko buku bisa menjadi pembuka lebih banyak jendela. Semoga?(Agnes Tri H.)


Cinta

Filed under Catatan Pribadi

Ngomong cinta di hari kasih sayang….kayaknya jadi topik hangat beberapa hari ini…..hmmppfff…….di tipi, di radio, majalah….banyak orang ngomong cinta…..orang mendewakan cinta….semua bertindak mengatas namakan cinta…..ahhhh…gak tau deh…..kayaknya bosen banget denger kata yg satu ini, padahal…conscious or not, kadang cinta dikambing hitamkan untuk mengumbar hawa nafsu semata…..trus…apa emang ini yang kita cari??? well, I hope not…..karena kita yakin ada “cinta” yang lebih abadi yang bisa kita raih…


Gamang

Filed under Renungan & Hikmah

perubahan…
haruskah itu yang jadi hambatan dalam hidup
ketika dia hadir
gamang hati, resah jiwa tak lagi berdiam diri
menuntut kenyamanan yang dulu singgah
tapi…

hati berubah
manusia berubah
keadaan berubah
bahkan dunia pun ikut berubah
menuntut suatu kedewasaan sikap
ahhhh…..mampukah bertahan???
masih seperti kemarin
tidak ada jawaban
bingung
sekedar tanda-pun tak terlihat
atau
apakah memang hati ini yang sudah terlanjur mengeras
membatu
sehingga tak lagi nampak
hal pasti didepan mata?
Kecamuk hati
gejolak jiwa
kapan berakhir
bermuara di kedamaian??


The Making of a Scientist (Part 2/3)

Filed under Bedah Buku

Berikut ini adalah bagian ke-dua dari saduran The Making of a Scientist. Mudah2an ada memberi guna dan manfaat.

Sedikit komentar: Saya baru ‘ngeh’ setelah baca komentar Bang Ferry kenapa Feynman gak pernah mau membahas tentang cosmology. Make sense sih sekarang hehe. Tapi mengenai jurnal, beliau ini banyak lho publikasinya (dibidang teoritis). Saya ada yang “The Theory of Postrons”, “Space-Time Approcah to QED”, “Matematical Formulation of the QED Interaction”. Dan yang gak saya punya pasti lebih banyak. (Jurnalnya banyak tentang partikel, interaksi partikel, dan QED itu sendiri).

Adiknya, Joan Feynman adalah Ph.D. dibidang astronomi dan menjadi salah satu staff ahli NASA.

Wassalam

….

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

Tapi sebaliknya, ayah saya sudah pernah mengajarkan saya: “Lihat burung itu”, katanya. “tu adalah Spencer si pengicau” (saya tahu dia tidak tahu nama aslinya). “Dalam bahasa Itali dia disebut Chutto Lapittida, dalam Portugis disebut Bom Peida, dalam Cina disebut Chun-long-tah, dalam Jepang Katano Tekeda. Kamu bisa tahu nama dari burung itu dalam semua bahasa di dunia ini, tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang burung itu. Kamu akan hanya tahu tentang manusia di tempat berbeda, dan nama apa yang mereka berikan pada burung itu. Ayo kita perhatikan burung itu dan lihat apa yang dia sedang lakukan – itulah cara yang benar”. (saya belajar sangat diri perbedaan antara mengetahui nama sesuatu dan mengetahui sesuatu).

Dia berkata, “Sebagai contoh, lihat: burung itu mematuk bulunya setiap waku. Lihat dia berjalan, mematuki bulunya?”.

“Ya”

Dia berkata, “Kamu pikir kenapa burung-burung mematuk bulu-bulunya?”.

Saya berkata, “Mungkin bulu-bulunya kusut saat terbang, jadi mereka mematukinya untuk meluruskannya kembali”.

“Baiklah,” katanya. “Jika itu kasusnya, lalu mereka akan sering mematuki selagi mereka terbang. Lalu setelah di tanah mereka tidak akan mematukinya terlalu banyak – kamu tahu apa yang saya maksudkan?”.

“Ya”

Dia berkata, “Mari kita perhatikan dan lihat jika mereka mematuki banyak setelah sampai di tanah”.

Ini tidak susah untuk dikatakan: tidak begitu banyak perbedaan antara burung yang baru saja mendarat dan yang sudah berjalan-jalan di tanah. Jadi saya berkata “Saya menyerah. Kenapa burung mematuki bulunya?”.

“Sebab ada kutu menganggunya”, katanya. “Kutu-kutu itu memakan lapisan protein yang keluar dari bulu burung”.

Dia lanjutkan, “Setiap kutu memiliki cairan minyak dikaki-kakinya, dan tungau memakan cairan itu. Tungau itu tidak mencernanya dengan sempurna, jadi mereka mengeluarkan dari anusnya sesuatu seperti gula, di mana bakteria berkembang”.

Akhirnya dia berkata, “Jadi kamu lihat, di mana saja ada sumber makanan, ada beberapa bentuk kehidupan yang bisa ditemui”.

Sekarang, saya tahu bahwa itu bisa saja bukan kutu, itu bisa jadi tidak tepat benar bahwa kaki kutu dihinggapi tungau. Cerita itu mungkin saja tidak benar secara detil, tapi apa yang diceritakannya adalah benar secara prinsip.

Lain waktu, ketika saya sedikit besar, dia ambil selembar daun yang gugur dari pohon. Daun ini memiliki cacat, sesuatu yang tidak kita lihat terlalu sering. Daun tersebut bisa dikatakan buruk; ada garis coklat kecil di potongan berbentuk C, mulai dari pertengahan daun dan mengkriting sampai ke ujung.

“Lihat pada garis coklat ini”, dia berkata. “Sempit pada pangkalnya dan melebar pada ujungnya. Apa ini? Ini adalah lalat, lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau datang dan bertelur di atas daun ini. Lalu, ketika telurnya menetaskan belatung, belatung ini menghabiskan seluruh waktunya memakan daun ini – tempat yang bagus baginya mendapatkan makanan. Selama dia makan, belatung itu meninggalkan bekas pada daun yang sudah dimakan di belakangnya. Sementara belatung membesar, jejak itu bertambah besar sampai dia sudah menjadi besar saat dia ada di ujung daun, dimana dia sudah berubah menjadi lalat - lalat biru dengan mata kuning dan sayap hijau – yang terbang jauh dan lalu betelur di daun lain”.

Lagi, saya tahu bahwa detilnya tidaklah terlalu benar – itu bisa saja adalah kumbang – tapi ide bahwa dia mencoba menjelaskan kepada saya sebuah lelucon dari bagian kehidupan: segala sesuatunya hanyalah pengulangan. Tidak peduli bagaimana rumitnya, intinya tetap melakukan lagi dan lagi!

Tidak punya pengalaman dengan ayah yang lain, saya tidak menyadari betapa luar biasa sekali dia. Bagaimana dia mempelajari prinsip dari sains dan mencintainya, ada apa di balik itu, dan kenapa sains bekerja sangat bermanfaat? Saya tida pernah benar-benar bertanya padanya,sebab saya hanya mengasumsikan bahwa semua itu hanya para ayah yang tahu.

Ayah saya mengajarkan saya untuk memperhatikan sesuatu dengan seksama. Satu hari, saya sedang bermain dengan “truk cepat”, sebuah mobil-mobian dengan lintasan khusus di sekelilingnya. Di atas truk tersebut ditaruh bola, dan ketika saya tarik truk itu, saya memperhatikan sesuatu tentang bagaimana bola itu bergerak. Saya datangi ayah saya dan berkata “Ayah, saya memperhatikan sesuatu. Kalau saya tarik truk ini, bola berguling ke belakang. Dan kalau saya tarik hati-hati lalu menghentikannya mendadak, bola ini berguling ke depan. Kenapa begitu?”.

“Itu, tidak seorang pun yang tahu”, dia berkata. “Prinsip umumnya adalah bahwa segala sesuatu yang sedang bergerak cendung mempertahankan geraknya, dan segala sesuatu yang diam cendrung mempertahankan diamnya, kecuali kamu paksa mereka dengan keras. Ini yang diseut ‘inersia’, tapi tk seorang pun tahu kenapa begitu”. Sekarang, barulah ini sebuah pemahaman yang dalam. Dia tidak hanya memberikan saya penamaan dari sebuah fenomena.

Dia melanjutkan, “Jika kamu melihat dari samping, kamu akan melihat bahwa ketika kamu mendorong maju truk, si bola tetap di tempat. Walau sebenarnya kalau truk digerakkan dengan hati, karena ada friksi antara truk dengan bola, bola bisa bergerak sesuai laju truk”.

Saya berlari ke truk mainan saya dan menyusun bola dan truk lalu kemudian mendorongnya. Pengamatan dari samping, saya melihat bahwa sesungguhnya ayah saya benar. Relatif terhadap arah gerak, bola bergerak sedikit ke depan.

Begitulah saya dididik oleh ayah saya, dengan contoh-contoh dan diskusi: tidak ada tekanan – hanya diskusi yang cantik dan menarik. Hal ini sudah memotivasi seluruh sisa hidup saya, dan membuat saya tertarik pada semua jenis sains. (Ini hanya kebetulan saya bisa lebih baik di Fisika).

Saya sudah menangkap sesuatu, seperti seseorang yang diberikan sesuatu yang indah saat dia kecil, dan dia selalu mencarinya lagi. Saya selalu mencari, seperti seorang anak, sesuatu yang menakjubkan yang saya tahu saya akan meneukannya – mungkin tidak setiap waktu, tapi setiap sekali saat.

(Sebagai tambahan, berikut foto Joan Feynman).

joan feynman.jpg

(Bersambung)


satu pintu lagi kubuka

Filed under Catatan Pribadi

satu pintu lagi kubuka. pintu melihat hal-hal baru yang lama. pintu melihat yang tersembunyi di depan mata. dan ternyata masih banyak sekali keindahan yang terlewatkan meski sebelumnya aku sudah merasa membuka mata lebar-lebar.

ok, yang aku bicarakan adalah tentang hobi ‘baru’-ku. fotografi. dikatakan hobi karena mungkin nggak akan lebih dari itu. dikatakan ‘baru’ (i mean with apostrophes) karena udah lama tertarik, dan jepret-jepret. tapi berhubung biaya operasional yang mahal (waktu masih menggunakan kamera film), sedikit sekali kesempatan bergumul dengan hobi ini. tapi semenjak punya kamera digital, kegiatan memotret menjadi lebih intensif. nah, apa hubungan fotografi dengan ‘pintu’ yang kuomongkan di atas? pertama, mari aku ceritakan tentang hobi ‘baru’-ku ini.

ok, mulai dari mana ya? biar ku mulai dari sebuah pengakuan aja deh: aku tidak punya dasar fotografi sama sekali. yang kumiliki hanyalah keinginan dan semangat mengabadikan sesuatu (dalam bentuk gambar/foto) hal-hal yang menurutku menarik dengan mengandalkan momen dan sudut pandang. maka jadilah jepret sana-sini, yang kalo kemudian menurutku ternyata tidak menarik, langsung kuhapus lagi (hei…, inilah keunggulan kamera digital). nah dalam mencari objek fotografi tsb, aku ‘terpaksa’ harus melihat lebih jeli setiap sudut dan pojok dimana aku berada.

Moon2003.jpg

suatu ketika, seorang teman memperkenalkan pada sebuah situs tempat para penghobi (bener begitu istilahnya?) fotografi. and for that, big thanks to cak amal.
di sini, mereka yang bergabung mulai dari level ‘point and shot‘ sampe yang master. dengan semangat berbagi dan belajar, anggota komunitas ini rajin meng-upload (aku masih males menggunakan istilah ‘mengunggah’…!) foto hasil hunting. kemudian membicarakannya. memberi komentar. memberi saran. meminta saran. dan lain-lain. diharapkan anggota komunitas bisa menambah wawasan dan skill dalam bidang fotografi ( nggak hanya ‘point and shot‘ mulu :)
kalo kamu tertarik ingin tahu komunitas apa yang kubicarakan di atas, ianya adalah fotografer.net (fn), http://www.fotografer.net/.

nah, semenjak bergabung dengan fn, kerjaan berburu menjadi lebih intens. mata menjadi selalu jelalatan mencari objek fotografi. perlahan namun pasti, sesuatu yang dari awal sudah menggelitik, mulai menyeruak keluar. sesuatu yang akhirnya kusadari keberadaannya. sesuatu yang mendorong aku membuat tulisan ini dan ingin berbagi pada kalian.

sesuatu yang kubicarakan itu adalah sebuah ‘kaca mata’. sesuatu yang kubicarakan itu adalah mirip alat bantu penglihatan. sesuatu yang kubicarakan itu membantu aku melihat ‘lebih’ dibanding biasanya. dan keindahan tiba-tiba menyeruak di depan mata. ada keindahan pada tetes-tetes air kran saat mencuci piring. ada keindahan pada butir-butir air shower saat mandi pagi ( karena sore biasanya jarang mandi :P ). ada keindahan pada gemulai tarian serpih salju saat turun ke bumi. ada keindahan pada tekstur kulit buah leci. ada keindahan pada kepak camar dan merpati di taman. ada keindahan pada tuts-tuts keyboard komputer. ada keindahan pada setumpuk uang receh kembalian belanja di vismarkt. ada keindahan pada rona merah senja saat mentari mulai lelah dan menuju peraduan (ah, yang ini bener-bener kebangetan kalo sampe terlewatkan…!!!). ada keindahan pada kelopak merah mawar. ada keindahan pada goyangan ranting di musim gugur. ada keindahan pada riak-riak air di pantai. ada keindahan pada bunga kecil di rerumputan yang biasa kita injak saat melintas lapangan. ada keindahan pada gumpalan awan yang menawarkan hujan lebat. ada keindahan pada lampu-lampu taman. dan ada sejuta keindahan lain yang tiba-tiba menyeruak di depan mataku. bahkan keindahan itu tetap ada pada nyamuk yang hinggap dan mengisap darah di lenganku (dan kemudian secara reflek tanganku terayun mengakhirnya kegiatan sang nyamuk…).

inilah yang kumaksud ‘pintu yang kubuka’. pintu yang mengantarkanku melihat lebih banyak lagi keindahan dalam lingkungan dan aktivitas sehari-hari, yang sebagian besar ternyata terlewatkan olehku. dengan hobi baruku, aku merasa dilatih lebih peka dalam melihat dan merasa keadaan sekeliling. aku jadi teringat cerita cak mangil dalam tulisan bung ismail (indahnya nol). mungkin saat ini aku agak mirip seperti dia, sedikit terbuka kesadaran pada keadaan sekitar, merasakan dan meresapi pijitan kerikil di telapak kaki dan segarnya udara pagi, dan kemudian tersenyum sendiri.
perlahan kudengar dari walkmanku sebuah lagu disenandungkan oleh ebiet. dan akupun mulai bersiul mengiringi liriknya yang puitis:

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

Tulisan ini adalah sambungan dari tulisan ‘berjalan diam-diam‘.


berjalan diam-diam

Filed under Catatan Pribadi

Tulisan ini adalah prequel dari tulisan ‘satu pintu lagi kubuka‘. he he he…, bukan film-film aja yang punya prequel-sequel :)

berjalan diam-diam
ternyata banyak makna
setiap sudut dapat aku lihat
semua yang tersembunyi
serta merta kubuka
kotor berdebu
kumuh dan kusam
seperti apa adanya
….

aku punya kebiasaan jalan kaki. alasannya bukan karena aku senang olah raga, tapi kebetulan waktu sma, dengan berjalan kaki pulang dari sekolah, maka jatah uang transportasi bisa kugunakan untuk tambahan jajan atau untuk membeli majalah. jalan kaki tsb menjadi menyenangkan walau jaraknya jauh, karena ada banyak juga temenku yang berjalan kaki pulang sekolah. dan terlebih-lebih seorang kecengan senang ikutan bareng jalan, meski ujung-ujungnya saat semua udah sampe ke rumah masing-masing, beliau ini masih harus meneruskan perjalanan dengan angkutan kota (angkot). padahal dia bisa aja langsung pake angkot dari sekolah untuk pulang, tidak perlu jalan sama sekali. (hey, i miss you) :P

nah, dari sinilah aku punya kebiasaan jalan kaki. dan dengan didukung oleh kekurangan dana transportasi waktu kuliah, kebiasaan ini terus kubawa-bawa sampai tamat kuliah di itb. saat kuliah, biasanya aku berjalan sendiri. dan dari kebiasaan ini, aku jadi punya banyak waktu untuk berfikir dan melakukan observasi terhadap apa-apa yang kulihat sepanjang jalan. dan kegiatan jalan kaki + observasi + berfikir ini kunamakan sebagai berjalan diam-diam atau berjalan dalam diam (selanjutnya akan kusingkat bdd).

banyak hal yang kuamati dan menjadi perdebatan hangat dalam batin hasil dari bdd ini. berbagai ide, wacana, protes, dll saling silang dalam benak saat melihat sesuatu yang menarik ketika melakukan bdd. sebagai contoh: suatu hari dalam perjalanan ke kampus, aku melihat seekor kucing beberapa meter di depanku bergerak perlahan, hati-hati, dengan gaya seekor pemburu sejati. gaya khas yang sangat menarik perhatianku. ternyata beberapa meter di depannya, tiga ekor burung gereja sedang mencari makan di rerumputan. pemandangan seekor feline yang sedang mengintai mangsa dan siap menerkam adalah pemandangan yang jarang diamati di kota besar. biasanya pemandangan model seperti ini hanya kita saksikan di tv, kisah feline di padang afrika atau di hutan india. sedangkan kucing-kucing saat ini, kebanyakan hanyalah menjadi binatang malas yang menunggu tuannya menyediakan makanan kaleng dalam piring kaca, atau malah hanya mengais-ngais tong sampah, seolah melupakan kodratnya sebagai seekor predator. dan pemandangan yang terpampang dihadapanku saat itu menjadi tontonan menarik yang membuat aku menghentikan langkah demi mengamati keseluruhan proses perburuan, dan supaya burung-burung tsb tidak terbang gara-gara aku melewati lapangan rumput tsb. dan wacana tentang lingkungan buatan manusia yang mengubah perilaku kucing (dll) melenceng dari kodratnya, meramaikan diskusi dalam benakku untuk hari itu.
(just in case anda penasaran, perburuan itu gagal. mungkin karena sang kucing tidak punya banyak waktu untuk latihan. ah, seandainya paruh burung-burung tsb cukup lentur, mungkin dapat kuliah senyum sinis mereka pada kucing yang kurang pengalaman tsb :)

disaat lain, aku kehujanan dalam perjalanan pulang ke tempat kost. terpaksa berteduh di simpang dago menunggu hujan reda. saat benakku sedang ramai dalam diskusi hangat (aku lupa tentang apa), tiba-tiba sebuah pohon tua yang tumbuh di pinggir jalan, tumbang oleh renggutan angin kencang yang menyertai hujan lebat saat itu. pohon menutup jalan dan menghalangi lalu lintas kendaraan. tiba-tiba seseorang meloncat ditengah hujan yang mulai reda, menenteng parang dan dengan sigap mulai membersihkan pohon yang tumbang tsb. tanpa komando, beberapa orang lainnya segera turun membantu menyingkirkan batang pohon tua yang menghalangi geliat lalu lintas yang mulai ramai. semua terjadi begitu cepat dan tanpa banyak bicara / komando, seolah-olah tiap orang tahu apa yang harus dilakukan. ya, mungkin tiap orang tahu (!) apa yang harus dilakukan, termasuk seseorang yang dengan sigap menengadahkan topi yang dipakainya untuk menarik sumbangan dari kendaraan yang melewati jalan yang sudah mulai bersih itu. semuanya berjalan seolah sebuah pementasan dari skenario yang sudah berulang kali dimainkan sehingga tiap orang hapal peran masing-masing. suatu rutinitas kota besar. lalu benakkupun riuh oleh wacana tentang manusia-manusia kota yang mulai hilang sifat manusianya.

disaat lain lagi, aku melewati sebuah jalan yang sedang dibangun. dan anak-anak kecil sedang bermain bola di sana. otomatis lirik bang iwan terngiang di telingaku. lirik tentang anak-anak kota yang kehabisan tanah lapang untuk sekedar bermain bola. dan memang sebagian jalan baru tsb dulunya adalah lapangan kecil, yang mungkin memang tempat mereka selalu bermain bola. dan (as you guess) itu menjadi wacana diskusi dalam benakku untuk hari itu.

yah…, begitulah pergumulan benak yang selalu aku dapat dari berjalan diam-diam / berjalan dalam diam. banyak hal-hal terkuak, dan seperti kata ebiet: kotor berdebu; kumuh dan kusam; seperti apa adanya.
dan berjalan diam-diam / berjalan dalam diam masih terus kulakukan sampai sekarang, melanjutkan pengamatanku tentang realitas sehari-hari.


Sciermonikoog dan Andalusia

Filed under Traveling Club

Bosan gak sih kerja atau kuliah melulu..?
Pengen liburan dan sekedar membuang kejenuhan?

Nah…Travelling club kali ini mau mengadakan acara jalan-jalan…..
Yang pertama, tujuannya Belanda dan sekitarnya.
Gimana kalau ke pulau di sebeleh utara Belanda Schiermonikoog
Waktu : Maret/April 2004
bisa di lihat di : http://www.schiermonnikoog.net/schier/index.htm

Yang kedua, ini lebih jauh lagi ke Andalusia, Spanyol.
Waktu : Juli/Agustus
Ini ada artikel tentang Sejarah Islam di Andalusia, mulai dari
Penaklukannya s/d Kejatuhannya dari saudara Farhad

Bagi yg tertarik silahkan lihat di:
http://www.geocities.com/Athens/Parthenon/4482/andalusia.html

Nah bagi teman-teman yang berminat, buruan daftar di sini…..
Mungkin juga ada komentar atau saran-saran?


The Making of a Scientist (part 1/3)

Filed under Bedah Buku

Assalamualaikum,

Halow halow…. rekan2 yang berbahagia. Alhamdulillah ujian sudah lewat, jadi saya ada waktu lagi hehe.

Siapa sih yang kenal Feynman? Mungkin banyak yang tahu hehe.. sukur dech. Kali ini saya mau mengutip artikel saduran saya dari www.febdian.com tentang beberapa petualangan beliau.

FYI, ini adalah salah satu eBook project saya, “Feynman, the adenture of curious character” - disamping “The Lord of the Rings: Beginner Point-Of-View”, yang dikerjakan dengan santai sebagai hobi. Jadi akan butuh waktu sampai benar2 selesai hehe. Mohon maaf kalau bahasa translasi saya tidak begitu bagus….

Di web asli (febdian.com), tulisan ini saya penggal menjadi 6 halaman. Di sini saya coba membuatnya 3 babak saja. Capek lho bacanya kalau kebanyakan. Mudah2an ada manfaatnya tulisan ini, terutama chapter The Making of Scientst, siapa tau memberi ilham pada rekan-rekan yang sudah punya buah hati :-)

Dan terakhir, ijinkan pula saya ngasih tau, bagi yang pingin denger kutipan suara Feynman ketika sedang memberikan kuliah, silakan download di: http://www.febdian.com/download.php?view.86

(di folder yang sama rekan-rekan bisa download juga ceramah Soekarno dalam Isra’ Miraj di Istiqal sekitar th 60-an).

Selamat menikmati….

Pengantar
(Oleh Febdian Rusydi)

Richard P. Feynman adalah salah satu makhluk super yang saya yakini sengaja diutus Allah ke dunia ini untuk memecahkan banyak misteri tentang kehidupan fisik kita.

Feynman sudah menjadi legenda semenjak awal 60-an (sebelum dia dapat nobel) karena publikasi2nya di bidang fisika teoritis - yang sedikit berbeda dari yang lain: gampang dimengerti. Diagram Feynman yang menjalaskan interaksi antar partikel adalah salah satu karya agungnya, mempersingkat perhitungan konvensional 3 sampai 4 lembar kertas A4 menjadi hanya 1/4 lembar.

Selain itu, kelegendaannya adalah dalam membuat fisika ‘gampang’ dimengerti. Kejadian yang tidak akan pernah dilupakan para kaum akademis di dunia adalah ketika dia menyanggupi memberikan kuliah fisika dasar selama 2 th untuk freshman di Califonia Institute of Technology. Dia tidak hanyak menyulap hampir semua mahasiswa yang hadir saat itu menjadi saintis handal, tapi juga materi kuliahnya yang betul2 berbeda dengan diktat fisika konvensional. Materi kuliahnya itu kemudian dibukukan dalam 3 seri “the Feynman Lecture On Physics” yang kemudian menjadi “holy book”nya para praktisi saintis sampai sekarang.

Kerja jeniusnya dalam Quantum Electrodynamics mengantarkannya pada Nobel Prize pada 1965 bersama Julian Schwinger dan Sin-itiro Tomonaga. Faktanya, QED adalah “matter and light theory” terbaik yang kita punyai sampai saat ini. (Lain kali kita akan coba bahas ini ya :-) )

Pengembaraan jeniusnya tidak hanya sampai di sana. Manusia yang digambarkan oleh Ralph Leighton (teman sesama drummer dan juga penulis buku “Surely You are joking Mr. Feynman”) sebagai “Karakter yang haus teka-teki” sudah mengalami banyak petualangan sosial yang mungkin tidak dimiliki oleh saintis lainnya. Mulai dari penakuklan penjudi kelas berat di Las Vegas, menjadi penabuh gendang pada festival rakyat di Brasil, sampai pada perjalanannya pada dunia mimpi. Dan tentu saja, semua itu dia lakukan bersama: Fisika.

Petualangan terakhirnya adalah ketika memecahkan teka-teki meledaknya pesawat Challenger tahun 1986. Dalam bukunya “What Do You Care What People Think” yang akan kita bicarakan di bawah ini, terlihat bagaimana dia harus berjuang melawan dua hal: misteri itu sendiri, dan birokrasi pemerintah.

Satu tahun setelah publikasi jawaban teka-teki tersebut, tepatnya 15 Feb 1988, Feynman meninggal akibat kanker usus.

Artikel saduran saya ini, adalah dalam rangka mengenang 16 tahun meninggalnya Richard P. Feynman.

———–

Bagaimana Orang Tua Saya Membuat Saya Menjadi Ilmuwan
*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”

feynman04.jpg

Saya punya seorang teman, dia adalah seorang seniman, dan kadangkala memiliki pandangan yang saya tidak setuju. Dia pegang setangkai bunga dan berkata “Lihat, betapa indahnya bunga ini”, dan saya setuju. Tapi kemudian dia akan berkata “Saya, sebagai seorang seniman, dapat melihat betapa indahnya setangkai bunga. Tapi kamu, sebagai seorang ilmuwan, menjadikannya terpisah-pisah dan itu membuatnya garing”. Saya pikir dia ini gila.

Pertama dan utama sekali, keindahan yang dia lihat adalah bisa dilihat oleh semua orang – dan saya juga, saya percaya itu. Walaupun saya mungkin tidak bisa merasakan bagusnya secara estetika seperti yang dia rasakan, saya dapat menghargai keindahan setangkai bunga itu. Tapi, di sisi lain, saya melihat lebih banyak hal pada bunga daripada dia. Saya dapat membayangkan sel-sel di dalam bunga, dimana juga memiliki keindahan tersendiri. Ada keindahan yang tidak hanya pada dimensi sentimeter; tapi keindahan itu juga ada pada skala yang lebih kecil.

Terdapat banyak aksi-aksi yang komplit di dalam sel tersebut, dan proses-proses lainnya. Fakta bahwa warna-wana dalam bunga sudah berkembang dalam rangka menarik serangga untuk datang dan membantu penyerbukan adalah sangat menarik; yang artinya serangga juga melihat warna-warna pada bunga tersebut. Ini menambah pertanyaan: apakah rasa estetika yang kita punya juga ada pada kehidupan bentuk rendah (dimensi skala yang kecil)? Ada beberapa jenis pertanyaan menarik lainnya yang datang dari ilmu pengetahuan, yang hanya menambah keasikan dan misteri serta kekaguman pada setangkai bunga tadi. Itu hanya menambahkan keindahan. Saya tidak mengerti bagaimana menguranginya.

Saya selalu sangat satu-sisi tentang sains, dan ketika saya sangat muda saya berkonsentrasi hampir pada semua usaha saya untuk sains. Pada masa itu, saya tidak punya waktu yang cuku, dan tidak terlalu sabar untuk mempelajari apa yang disebut humaniti. Sekalipun ada kuliah humaniti di universitas yang kau harus ambil untuk graduate, saya mencoba sebisa mungkin menghindarinya. Hanya setelah itu, ketika saya bertambah usia dan lebih santai, saya sudah sedikit banyak mempelajari hal-hal lain. Saya belajar menggambar dan membaca sedikit, tapi saua benar-benar seorang yang sangat satu-sisi dan saya tidak tahu bagaimana sebaiknya. Saya memiliki keterbatasan kecerdasan dan saya gunakan itu pada satu hal yang khusus (sains).

Sebelum saya lahir, ayah saya berkata pada ibu saya “jika dia anak laki-laki, dia akan menjadi seorang ilmuwan” *. Ketika saya balita dan duduk di kursi khusus balita, ayah saya membawa ubin-ubin kecil (untuk lantai kamar mandi) dengan berbagai macam warna. Kita bermain dengan ubin-ubin tersebut, ayah saya menyusunnya berbarik ke atas di atas kursi saya seperti layaknya domino, dan saya akan mendorongnya satu sehingga yang lain akan jatuh.

Lalu setelah beberapa lama, saya tolong dia menyusun ubin-ubin tersebut. Dalam waktu yang sebentar kita sudah menyusunnya dalam beberapa cara yang rumit: 2 ubin putih dan satu ubin biru, dua ubin putih dan satu ubin biru, dan seterusnya. Kalau ibu saya berkata “biarkan saja si kecil sendiri. Jika dia ingin meletakkan yang biru, biarkan dia meletakkan yang biru”

*Adik perempuan Richard, Joan, adalah Doktor di bidang Fisika, meskipun prasangka ini hanya anak laki-laki ditakdirkan menjadi ilmuwan.

Tapi ayah saya akan berkata “Tidak, saya ingin menunjukkan padanya seperti apa pola (penyusunan ubin-ubin itu) dan betapa menariknya mereka. Ini adalah sejenis matematika dasar”. Jadi dia memulai sangat dini untuk mengatakan pada saya tentang dunia dan betapa menariknya dunia itu.

Kami memiliki sebuah Encyclopaedia Britannica di rumah. Ketika saya kecil ayah saya memangku saya dan membacakan ensiklopedi tersebut. Kita kemudian akan membaca, katakanlah tentang Tyrannosaurus rex, dan dia akan berkata seperti “Dinasourus ini tingginya 25 kaki kepalanya berdiagonal 6 kaki”.

Ayah saya kemudian akan berhenti membaca dan bekata, “Sekarang mari kita lihat apa maksudnya. Maksudnya adalah jika dia berdiri di halaman depan kita, dia akan cukup tinggi untuk meletakkan kepalanya melewati jendela kita di sini” (kita ada di lantai dua). “Tapi kepalanya terlalu besar untuk masuk ke jendela ini”. Setiap sesuatu yang dia bacakan untuk saya selalu dia coa untuk menterjemahkan sebaik mungkin ke dalam realitas.

Ini sangat mengasikan dan sangat sangat menarik berpikir bahwa ada Karena itu binatang yang begitu besar - dan mereka sudah punah, dan tidak ada yang tahu persis kenapa. saya tidak takut bahwa mereka benar-benar datang ke jendela saya. Tapi saya belajar dari ayah saya untuk menterjemahkan: semua yang saya baca saya coba untuk memikirkan apa yang dimaksudkan, apa yang benar-benar disebutkan bacaan tersebut.

Kita biasanya perki ke Catskill Mountains, sebuah tempat dimana orang-orang dari NYC akan pergi untuk musim panas. Bapak-bapak akan kembali ke NYC untuk bekerja selama seminggu, dan kembali hanya untuk akhir minggu. Pada akhir minggu, ayah saya akan membawa saya untuk jalan-jalan di hutan kecil dan dia akan menceritakan tentang hal-hal menarik apa saja yang terjadi di hutan. Ketika ibu-ibu yang lain melihat ini, mereka berpikir ini adalah yang indah dan bahwa ayah-ayah yang lain seharusnya membawa anak-anak mereka untuk jalan-jalan seperti yang kami lakukan. Mereka mencoba melakukan itu tapi mereka tidak berhasil pertamanya. Mereka menginginkan ayah saya untuk melakukan itu, tapi tentu saja dia tidak ingin karena dia hanya punya hubungan spesial dengan saya. Jadi ini berakhir dengan ayah-ayah yang lain harus membawa anak-anak mereka jalan-jalan minggu depannya.

Senin berikutnya, ketika para ayah kembali bekerja, kita para anak-anak bermain di lapangan. Seorang anak berkata pada saya “Lihat burung itu? Jenis burung apa itu?”.

Saya jawab “Saya tidak punya ide sedikitpun apa jenis burung itu”.

Dia berkata “Itu adalah murai berparuh coklat. Ayahmu tak mengajarkanmu apa-apa!”.

(BERSAMBUNG)


saya bosen… baca artikel-artikel. Mungkin bawaan stress en syndrom kelar thesis yaa..

Cuma, satu hal yang baru gwe sadari, kalo kebanyakan kita semua disini, including me&myself, itu semua bicara ttg bagaimana cara kita berpikir, merenungi.. and etc..etc.. dalam rangka meningkatkan “tingkat spriritual” pribadi kita. Apakah itu bukan Egoism, individualis terselubung itu namanya? kalo saya pikir…emang sihh.. yang namanya iman itu digapai sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yeah.. kayak si Anu.. si Anu, kalo berpikir ttg sesuatu sangat mendalam, ditarik hikmahnya, untuk kemudian disyukuri kebesaran penciptaNya…sehingga keimanan nya bertambah dan kualitas spiritualnya meningkat. Tapi wahai anu.. sadar gak sih elo, even rasa keimanan mu meningkat, itu cuma kamu seorang yang menikmati, lalu di mana semangat keimanan sosial mu, wahai anu??
Tapi, ada nggak sih keimanan sosial? bukankah manusia sendiri adalah makhluk sosial, yang dalam penciptaannya, selain untuk habluminallah juga untuk habluminannas?.. auhh ahh gelap…jangan-jangan emang gue nya lagi ngaco..
bye2x