Archives for 2004

Star Trek dan Agama

Filed under Islam Aktual

Star Trek, Star Trek, fiksi tentang alam semesta masa depan yang punya fans banyak karena penggarapan detilnya top. Ada Fisika Star Trek, Bahasa Klingon yang sudah punya situs Wikipedia sendiri. Alhasil sekarang sampailah pada topik yang boleh jadi sensitif, sekalipun ini “hanya sebuah fiksi”: bagaimana agama dalam pandangan Star Trek?

Pencetus Star Trek sendiri, Gene Roddenberry, adalah seorang ateis, sehingga seperti dituliskan oleh Bernd Schneider, Star Trek’s takes on religious topics are often critical, and they almost routinely close with a victory of science over faith.

Dengan penikmat Star Trek yang luas, apakah nasib agama akan kandas seperti perannya di dalam film tsb.? Ini bukan kecemasan, namun lebih-lebih ingin menengok kemungkinan menghadirkan agama dalam perspektif modern, sambil mengingat pengaruh opini yang sekarang datang dari segenap penjuru.


Artikel ini dikirim pada bulan Ramadhan 1425H yang lalu. Ditulis oleh Abdul Gafur.

“Het recht is er, doch het moet worden gevonden, in de vondst zit het nieuwe” (Scholten, 1954: 15)

(artinya : “Hukum itu ada, tetapi ia harus diketemukan, dalam pendapat itulah terdapat yang baru”)

Bismillahirahmanirahim

“Abdul, loe puasa ya?”, tanya salah seorang teman Londo Belanda kepada saya dihari pertama bulan Ramadhan”. Aku menganggukan kepala, namun tampaknya dia memancing pertanyaan awal itu untuk memulai pembicaraan. ” Oh iya aku punya pertanyaan nih buat loe”, dia melanjutkan pembicaraan, “aku dengar kalau puasa itu dimulai dari sunrise hingga sunset tapi gimana kalau ada kasus seperti di negara Finlandia dimana ada wilayah yang mataharinya terbit sangat jarang sekali bahkan hampir tidak ada, bagaimana loe akan menentukan untuk memulai dan mengakhirkan puasa?” Tampaknya pertanyaan ini simple namun dalam dan harus ditemukan suatu dalil untuk dapat menjawabnya. Berikut saya sampaikan hubungan pertanyaan ini dengan pemikiran saya dan Islam.

Dalam islam dikenal ada sumber hukum yang dapat diambil untuk dapat memutuskan perkara yang ada yakni: Alqur’an, Al Hadits, Ijtihad (Qiyas dan Ijma). Dari sumber hukum inilah maka seorang muslim dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. pertanyaan yang muncul dari seorang “diluar agama islam” (bahkan kadang seorang muslim sendiri) tampaknya menarik untuk dapat saya hubungkan dengan bidang kajian saya. Dalam Hukum Organisasi Internasional untuk dapat memutuskan suatu perkara ada keputusan yang harus diambil atas beberapa dalil yang dikenal dengan konsep power. Hukum (organisasi) internasional menjabarkan apa yang dinamakan express power, implied power, inherent power, dan assumed power. pengertiannya adalah sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan Express Power adalah keputusan yang diambil atas dasar apa yang ditulis dalam ketentuan perundangan yang ada (sebagai constitution - pedoman mendasar), atau kalau kita mengaitkan dengan konsep Islam apa yang tertera dalam Al Qur’an, itulah yang menjadi dalil utama pengambilan keputusan. Jika dalam kasus puasa sebagai contoh kita sebagai orang Indonesia yang saat itu sedang berada di negara Indonesia tentu akan mengatakan dengan mudah kapan waktu memulai dan mengakhirkan puasa atas dasar peredaran matahari. sesuai dengan apa yang ada didalam Al Qur’an dimana puasa dimulai dari terbit fajar hingga waktu terbenamnya matahari. Hal yang sama juga akan berlaku untuk beberapa negara dimana peredaran matahari tidaklah menjadi persoalan dan dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang. Express power yang berlaku dalam hukum organisasi internasional adalah segala kata-kata yang ada dalam setiap keputusan konstitusi organisasi internasional itu baik yang sifatnya binding (mengikat - dalam islam wajib) atau non binding (tidak mengikat - dalam islam sunah), sebagai contoh Charter of United Nations dan ILO constitution. Dengan kata lain keputusan yang diambil harus melihat pada konteks yang ada dalam perundangan tersebut.

Namun ada kalanya drafter s dari konstitusi tadi sengaja membiarkan ruang lingkupnya menjadi terbuka atau men-general-kan pemaknaan kata dari pasal dengan pertimbangan up-dating dari konstitusi tadi. Dalam hal ini berada di “grey area” atau dalam islam sifatnya Makruh atau Mubah. Ketika kita coba mengkomparasi dengan Al Qur’an, apakah Allah SWT sebagai Yang Maha Tahu melakukan hal yang sama dengan para drafters tadi, yang notabene adalah human being yang mungkin dapat alpa terhadap pengetahuan yang mereka miliki?

Ketika aku kecil, waktu sekolah di Madrasah Diniyah (jadwal sekolah dimulai selepas sekolah dasar umum reguler, umumnya kebiasaan ini berlaku bagi warga betawi termasuk keluargaku), Ustadz (guru) dari tempatku belajar mengatakan ” dalam AlQur’an disamping makna yang tersurat ada makna yang tersirat”. Pernyataan Ustadzku ini (semoga Allah SWT membalas kebaikannya) terus terngiang dalam alam fikiranku, namun waktu itu ilmuku belum sampai, sehingga terus saja pertanyaan itu menggelimuti hatiku, “tersirat?”.

Kembali kepada drafters yang sengaja membiarkan pemaknaan pasal tadi menjadi luas, untuk menjawabnya dalam hukum (organisasi) internasional ada yang dinamakan Implied Power. Implied Power adalah perumusan makna yang karena kondisi, konstitusi tadi sengaja tidak menggambarkan secara detail pemaknaannya dalam tataran praktis, maka pembuat keputusan baik sifatnya individu dalam hal ini hakim atau collective misalnya General Assembly mencoba melakukan penggalian kepada pemaknaan apa sebenarnya yang terfikirkan atau yang dimaksud oleh drafters dari konstitusi tadi sebelum keputusan itu dibuat. Dengan kata lain mencoba menjabarkan makna lebih luas dari konstitusi tadi. Dalam Islam inilah yang menurut saya dikenal sebagai konsep Al Hadits yang bersumber dari karakter Rasulullah SAW baik prilaku sehari-hari atau perkataan beliau.

Kalau mengaitkan dengan puasa, saya melihat bahwa disamping Indonesia atau negara yang “memiliki” matahari, ada negara yang seperti Belanda mungkin matahari “agak ngumpet”. untuk itulah maka diperkenankan memakai batasan. Ada hadits yang mengatakan “tuntutlah ilmu dari lahir (fikiran secara insting dalam kandungan untuk mulai mengenal makanan yang diberikan oleh ibu, atau tanda pergerakan halus dari janin ketika calon ayah merapatkan telinga ke perut calon ibu, otak bawah sadar mulai menyerap suara azan yang dikumandangkan oleh sang Ayah, dsb.) hingga liang lahat (proses pembelajaran dalam hidup baik secara formal atau non formal sebelum ajal)”. Dalam konteks ini saya memaknai terjadinya sebuah ruang lingkup pembatasan (scope). Untuk kasus Finlandia jawaban awal saya adalah dengan melihat atau mengenali daerah lain yang masih masuk dalam “batas” negara Finlandia. Mungkin saja ada daerah di Finlandia dimana tidak terdapat matahari (seperti kutub) tapi bukan berarti dalam batas negara tadi semua daerah mengalami kondisi yang sama. Dengan kata lain ada daerah lain yang tetap memiliki pola kapan matahari terbit dan kapan terbenam walaupun hanya satu bulan durasi pola tersebut berlangsung secara reguler. (namun dengan ditemukannya berbagai tekhnologi mutahkhir, untuk mendeteksi dan kemungkinan menentukan schedule dari si “matahari” tadi saya kira menjadi lebih mudah, sebagai contoh dapat dilihat di Yahoo Weather). Dalam bahasa hukum organisasi internasional konteks ini dikenal istilah maksim “Expressie unius est exclusio elterius” yang juga dikenal sebagai “argumentum a contrario” yang artinya aturan yang sebagai contoh memuat ketentuan mengenai A dan B, jika hanya berbicara mengenai A, ketentuan yang ada juga akan berlaku tidak hanya terhadap A namun juga terhadap B.

Namun demikian fikiran saya menewarang setelah melontarkan jawaban tersebut, apa tidak mungkin adanya kemunculan jawaban yang lain? Lalu bagaimana halnya kalau ada kasus yang menyatakan bahwa matahari tadi benar-benar tidak ada? atau waktu untuk berpuasa tadi berlebihan seperti kasus di Amerika Serikat atau di Kanada dimana pernah pada tahun 80-an, puasa berlangsung 16 hingga 17 jam?

Ada tatabahasa atau maksim yang mengatakan “expressum facit cassare tacitum” yang artinya kata-kata yang dicantumkan secara tegas mengakhiri pencarian mengenai maksud dari perundang-undangan. Dengan kata lain memiliki kekuatan sebagai kata putus terakhir. Namun bagaimana halnya jika kata putus terakhir disamping implied power yang telah dilakukan mengalami suatu kemenduan (ambiguity) yang secara logis tidak menggambarkan kondisi yang jelas? Intrepetasi bagaimana yang kemudian harus dilakukan?

Dalam AlQur’an dikatakan tidaklah kamu mengenal Ilmu - Ku kecuali yang sangat kecil sekali. Artinya apa? Saya menafsirkan jika makna tersirat dalam Al Qur’an tadi memerlukan adanya penggalian lebih dalam. Disamping dari apa yang telah ada dalam Hadits, ada kalanya terjadi kasus terhadap prilaku atau penemuan baru dalam konteks masa kini yang sejalan dengan perkembangan tekhnologi dimana kejadian atau tindakan tersebut belum pernah dicontohkan oleh Rasul. Sebagai ilustrasi pada zaman Rasul belum ada yang namanya Tadarus melalui Telefon atau Teleconference, zaman Rasul belum ada dimana dimesjid untuk mengeraskan suara digunakan Mikrofon. Untuk itulah maka islam memperkenalkan pencarian hukum dengan menggunakan prinsip ijtihad yang terbagi dua yakni Qiyas dan Ijma.

Hukum (organisasi) internasional juga memperkenalkan konsep yang dinamakan inherent power. Artinya; kondisi pencarian dan penemuan hukum ini dimungkinkan ketika dalam perkembangan hukum tadi ternyata tidak ditemukan ketentuan yang sifatnya tertulis atau memungkinkan penjabaran. Inherent power ini mengacu kepada substansi tujuan dari pemaknaan untuk memecahkan persoalan. artinya apa? artinya ibarat koin logam dimana dimuka koin tersebut terdapat dua sisi. kedua sisi itulah yang dimaknai dalam law making sebagai sesuatu yang sifatnya inherent. sebagai contoh, dalam konvensi Montevidio, yang menjadi inherent dari negara adalah Wilayah (territory), Penduduk (population), dan Pemerintah (control government). Ketiga unsur itu mutlak diperlukan untuk dapat disebut suatu negara pada sisi yang berbeda.

Dari gambaran dua sisi ini, jik dilihat pada konteks hukum, memungkinkan penambahan sesuatu yang baru dari aturan yang lama. Dengan kata lain, terbukanya kesempatan bagi para law maker misalnya hakim untuk melakukan intrepetasi ini. Jadi, hakim tidak hanya berhenti pada melakukan penafsiran namun memperluas, mengisi, bahkan menciptakan peraturan baru (Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2000: hal.100). Dengan kata lain pencarian hukum terus dilakukan akibat penemuan fakta atau kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau dalam bahasa Scholten “………..mengacu pada keseluruhan, tujuan sosial, serta hasil dari penerapan, perkembangan sejarahnya sebagai faktor yang diperhitungkan untuk menentukan apa yang menurut undang-undang merupakan hukum pada suatu kasus tertentu”.

Perintah pertama yang Allah berikan kepada kita bukanlah dengar atau lihat tapi “Iqra” atau “bacalah!”. Pengertian perintah membaca ini bagi saya bukanlah seperti mengenal pengetahuan dari konteks luar saja misalnya dari buku namun kepada penglihatan terhadap substansi untuk terus melakukan penelitian (pencarian). Proses penemuan pengetahuan itu tidaklah bersifat instant namun berawal dari sebuah realita permasalahan, dimana dalam permasalahan itu otak manusia bekerja untuk dapat menemukan jawaban atas persoalan. Jawaban yang didapat tidak saja berpedoman dari apa yang sudah ada sebagai “faktor ketahuan” namun bisa juga dengan melakukan komparasi atau menemukan hipotesis baru. Jawaban inilah yang memungkinkan untuk menarik alam fikiran kita kepada sesuatu yang kita ketahui sebagai bentuk pengetahuan. Jika pengetahuan tadi dikembangkan, digabungkan, atau diperbandingkan memungkinkan untuk menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah lahir suatu keumuman atau generality yang diterima secara luas. Faktor penerimaan ini jika mengikuti metode scientific akan menjadi suatu kajian untuk dijadikan asas atau teori. Jika teori ini telah dibangun melalui pengujian berulang-ulang dan terbukti memungkinkan untuk dapat diterapkan dalam kondisi yang berbeda dengan hasil yang sama, inilah yang kemudian dinamakan ilmu. Disamping memakai kebakuan, hukum organisasi internasional mengenal apa yang dinamakan sebagai costumery intentional law yang artinya sebagai hukum kebiasaan. Kebiasaan itu harus dimaknai sebagai keterbukaan sistem hukum akibat “kekosongan dalam hukum”.

Dalam Hukum (organisasi) internasional juga dikenal istilah Assumed Power. Assumed power adalah proses penemuan hukum atas dasar kasus atau realita dari tindakan yang sebelumnya dianggap “violating law” - belum ada kepastian hukum untuk menentukan bersalah atau tidak) namun kemudian menjadi preseden dan diterima sebagai hukum sepanjang tidak adanya majority yang menentang dan mempermasalahkan dengan sangat (misalnya terjadi suatu unanimity - kesepakatan, tindakan tersebut diperkenankan akibat beberapa faktor misalnya politik atau kemungkinan jika tindakan tadi tidak dilakukan, memungkinkan “law violation” yang sifatnya bisa lebih merusak). Penemuan hukum ini kemudian menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menurut Fitzgerald harus memiliki kondisional faktor yakni; kelayakan atau masuk akal atau pantas “mulus usus abolendus est” (misalnya hak waris mulai berlaku jika pewarisan yang bersumber dari kepala keluarga, kepalanya meninggal dunia), pengakuan atas kebenarannya dan diikuti secara terbuka dalam masyarakat atau pihak yang hendak dilibatkan (bisa saja dalam konteks hukum organsisai internasional negara), memiliki latar belakang sejarah yang tidak dapat dikenali lagi mulainya (artinya praktek ini berlangsung secara kontinu dan menjadi mapan akibat terbentuk oleh waktu yang panjang) dan diterima dalam hukum perundangan sebagai hukum yang dominan (artinya berlakunya kebiasaan tidak bertentangan dengan hukum perundangan) (Fitzgerald, Salmond on Jurisprudence, 1966:190-191).

Konteks diterima dan kesepakatan itulah yang menurut saya sebagai faktor kunci dari berlakunya assumed power. Untuk lebih jelasnya, sebagai gambaran; Agressi Amerika Serikat menyerang Iraq pertama kali sekitar tahun 90-an (yang secara hukum telah melakukan intervensi terhadap suatu negara dan itu tidak diperkenankan dalam hukum internasional - illegal, unlawful atau arbitrary), namun pada kenyataannya tidak terjadi pertentangan di banyak negara (walaupun saya sendiri mungkin dapat memperdebatkan argumentasi ini kalau dilihat bukan dalam konteks hukum) sedasyat Agresi AS yang kedua kali. Tindakan ini dimungkinkan karena tindakan Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein yang melakukan invasi terhadap Quwait itu, dianggap telah melakukan arbitray terhadap hukum internasional yang jelas illegal atau violation of international law. Tindakan AS (agresi I) kemudian mendapat persetujuan atas dasar kesepakatan dan dapat diterima oleh UN dan hukum (organisasi) internasional dengan dalih assumed power tadi.

Kalau mengaitkan ke dalam konteks Islam yang memperbolehkan adanya konsep itjihad, konsep ini melahirkan berbagai macam intepretasi yang berbeda (sama halnya dengan hukum internasional dalam konteks inherent power dan assumed power) namun kemudian “dapat diterima”. Perbedaan intepretasi inilah yang kemudian melahirkan paham atau mazhab yang berbeda seperti Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki. Menurut saya saya interpretasi tadi syah-syah saja karena dalam Islam ada sunnah dalam pencarian “jika benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala”. Yang artinya menurut penafsiran theleologis saya (harfiah) sebagai anjuran untuk terus mencari dalam ilmu sebagai suatu ibadah. sebagai contoh saya gambarkan pemaknaan hadits “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bagi sebagian orang yang mungkin berkutat kepada faktor geografis, Cina diartikan sebagai faktor wilayah, namun bagi saya tidak hanya terbatas kepada faktor itu saja namun juga kepada kepada konsep nation character dari bangsa Cina itu yang tersebar diberbagai negara dengan banyak kelebihan sebagai anugerah Allah SWT. Kedua penafsitan tadi sifatnya diperkenankan dan dapat diterima.

Menurut penafsiran tadi, saya mengambil kesimpulan jika Inherent Power dikenal dalam Islam sebagai konsep Qiyas, sementara untuk Assumed Power sebagai Ijma (kesepakatan)

Kembali kepada pertanyaan teman Londo Belanda saya atau kepada kasus yang saya lontarkan atas puasa di Amerika Serikat yang pernah berlangsung selama beberapa waktu lebih lama dari “kenormalan” yang ada diwilayah lain; bagi saya, diperkenankan untuk melakukan itjihad sebagai sebuah flexibility dalam beragama (”agama itu mudah, namun jangan dimudah-mudahkan”)

Untuk kasus puasa di Amerika, bagi saya bisa saja dilakukan pembatalan misalnya setelah 12 jam - jika kita merasa tidak lagi mampu sebagai interpretasi dari hukum kebiasaan puasa ditempat lain (sekitar 12 hingga 13 jam); terlepas dari kondisi yang diperkenankan untuk membatalkan puasa misalnya sakit, penyakit menahun yang kalau puasa dapat mengakibatkan sesuatu yang sifatnya “fatal”, Wanita yang sedang haid (menstruasi) dan Nifas (menyusui bayi). Namun dapat pula dituntaskan untuk puasa jika kita mampu.

Sementara untuk kasus Finlandia bisa saja dilakukan suatu pencarian penemuan hukum atas intrepetasi yang mungkin muncul : Pertama, dengan memakai implied power dengan mengacu kepada pedoman jam berapa (kapan) wilayah lain di Finlandia memulai dan mengakhirkan puasa. Kedua, dengan memakai inherent power misalnya dengan intrepetasi melalui penggunaan tekhnologi perkiraan waktu siang dan malam (walaupun di wilayah ini dikatakan hampir setiap hari malam, namun dapat dijadikan patokan jika dalam satu tahun kemungkinan munculnya matahari dan terbenamnya matahari itu kapan). Kalau dalam penemuan itu kemudian menyatakan jika matahari terbit dan terbenam hanya dalam waktu lima atau enam jam saja, ya fakta tersebut harus diterima dan selama waktu itulah kita dapat menjalankan puasa (kalau berpedoman pada intrepetasi secara inherent power - Qiyas).

Ketiga dengan menggunakan assumed power dengan melihat kebiasaan sebelumnya (saya sendiri skeptis jika orang Finlandia zaman dulu telah mengadakan “puasa”, karena sepengetahuan saya, kebanyakan orang Finlandia yang muslim adalah pendatang) dan kebiasaan atas dasar pertimbangan waktu yang kemudian disepakati (Ijma) menjadi suatu ketetapan hukum.

Inti dari proses pen-training-an selama puas, tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga namun juga menjauhkan diri atas segala hal-hal yang dilarang selama Ramadhan (seperti sex, amarah) menuju substansi obyektif dari arti “puasa” (untuk mendekatkan diri kepada Allah (bertawakal) dan menjadikan kita sebagai hamba yang berserah diri dengan menjalankan perintah-Nya atas dasar kemampuan optimal dari kita).

Saya melihat Allah maha Adil dan Maha Mengatur atas segala sesuatu (asumsi saya secara logika; waktu puasa di daerah dingin agak lebih pendek, dimana tubuh pada saat dingin selalu merasa lapar sehingga perlu asupan (intake) untuk dapat bertahan hidup dan untuk itu maka dengan keadilan Allah diberikan dengan waktu yang lebih pendek dibandingkan wilayah lain). Allah dalam Al Qur’an berfirman”tidak akan Aku bebankan kepadamu kecuali atas kemampuan yang kamu miliki”. Sehingga kata terakhir yang saya sampaikan kepada teman Londo Belanda saya adalah “God is the Most Merciful, God knows that we have done our best”


Rasulullah Membenci Poligami

Filed under Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.


Hari ini saya membaca sebuah berita di detik.com tentang boikot terhadap katering Wong Solo. Boikot ini dilakukan sebagian aktivis perempuan NU, yang dimotori Ibu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, dengan alasan pemilik Wong Solo telah melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dengan melakukan poligami.

Baca berita lengkap di

Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pendukung poligami. Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan kampanye anti poligami yang dilakukan oleh sebagian kalangan anti poligami. Biasanya mereka mengusung 2 tema besar, keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Tapi seberapa objektifkah tema ini dibawakan.

Bicara soal keadilan, maka pertanyaan yang selalu diusung adalah mempukah laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap adil.

Bagi saya pertanyaan “mampukah bersikap adil?” ini, lebih baik ditanyakan kepada SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, atau Hamzah Haz ketika mereka akan mencalonkan diri menjadi Presiden dulu. Sebab seandainya saja, katakan seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap tidak adil, maka yang terzhalimi hanyalah istri-istri dan anak-anaknya saja. Sedangkan bila calon-calon Presiden itu yang bersikap tidak adil, maka akan ada ribuan keluarga yang terzhalimi. Tapi ini menjadi tidak penting bagi kita, karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kemudian ketika berbicara soal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya merasa ada kecenderungan dewasa ini untuk mengindentikkan poligami dengan kekerasan di rumah tangga. Jadi poligami = kekerasan di rumah tangga, dan sebaliknya kekerasan di rumah tangga = poligami. Padahal kekerasan di rumah tangga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki beristri satu. Dan sebaliknya pengayoman terhadap perempuan juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Maka saya menjadi heran kenapa kita bisa begitu toleran memisahkan secara objektif, misalnya, siaran TV, pengaruh baiknya, dan pengaruh buruknya, tapi tidak demikian halnya dengan poligami dan kekerasan di rumah tangga. Sekali lagi, ini mungkin karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kita kembali lagi ke masalah boikot terhadap Wong Solo-nya Puspo Wardoyo yang menjadi inspirasi saya menulis ini.

Sebagian kita mungkin sudah mengenal siapa Puspo Wardoyo. Pria setengah baya, beristri empat, pemilik rumah makan Wong Solo, dan selama ini dikenal sebagai icon-nya poligami karena kegetolannya berpromosi soal poligami.

Saya sendiri bukan orang yang tahu mendetail tentang Puspo Wardoyo. Tapi kebetulan kami sama-sama berasal dari satu kota, Medan, dan salah seorang anaknya adalah kakak kelas saya di SMU.

Nama Puspo Wardoyo sendiri rasanya sudah berkali-kali dihujat, khususnya oleh para aktivis perempuan, karena keputusannya berpoligami. Namun pernahkah mereka melihat sisi lain dari Puspo Wardoyo si pelaku poligami ini?

Di saat laki-laki pengusaha lainnya begitu giat mengeksploitasi pekerja perempuannya untuk memperoleh keuntungan, maka Puspo Wardoyo mewajibkan semua pekerja perempuan di restorannya menggunakan kerudung.

Puspo Wardoyo pun berkali-kali membuka pintu lebar-lebar untuk wartawan datang ke rumahnya, dan mewawancarai istri-istrinya. Pesannya adalah “Silahkan lihat rumah tangga saya yang berpoligami ini, dan tanyakan kepada istri-istri saya apakah saya menzholimi mereka?”

Suatu saat Puspo Wardoyo pun pernah diwawancarai dalam sebuah acara di Metro TV. Selesai acara, seperti biasa pembawa acara, yang kebetulan hari itu perempuan, menyalami, dengan berjabat tangan, dengan si nara sumber. Tapi dia menolak. Pesan apa yang saya tangkap adalah, “Betul saya beristri empat, tapi saya hanya mau menggauli muhrim saya”.

Membaca petikan-petikan cerita di atas, masihkah kita menganggap Puspo Wardoyo yang beristri empat itu, lebih rendah laki-laki yang memang beristri satu tapi mata dan tangannya entah sudah ‘merayap’ kemana-mana?

Saya sedikit pun tidak hendak berkata bahwa Puspo Wardoyo itu adalah dewa. Cerita Puspo Wardoyo ini saya majukan hanya untuk menunjukkan betapa seringnya masyarakat bersikap tidak objektif terhadap kasus poligami.

Dan tulisan ini saya buat bukan untuk mengubah pendapat orang menjadi setuju terhadap poligami. Karena saya harap kita bisa sama-sama berkata ‘no’ untuk berpoligami dan ‘no’ untuk dipoligami, namun kali ini dalam bingkai yang lebih objektif.

Mungkin kah? Ah, rasanya susah, karena ini menyangkut perasaan, apalagi perasaan wanita.

Semoga bermanfaat

Wassalam

-henry-


CHATTING DGN TUHAN

Filed under Islam Aktual

BUZZ

TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi
Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya
agar saya merasa lebih baik.Tapi sekarang saya
sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya
waktu luang sedikitpun.Hidup jadi seperti diburu-
buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu
kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas
membebaskan waktu.
AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak
dapat menghidarinya. Sebenarnya, saya tidak
mengharapkan Tuhan mengajakku chatting
seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu
dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin
menggunakan medium yang lebih nyaman
untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa
hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani
saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak
pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu
khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir
karena kamu menganalisa. Merasa khawatir
menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak
pernah merasa senang.
AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir
jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena
ketidakpastian.

TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi
Penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang
baik selalu menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang
baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi
lebih baik bukan sebaliknya.
AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah
guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian
dulu, baru pemahamannya.
AKU: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua
ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas
dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang
ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental
(Purposeful Roadblocks Offering Beneficial
Lessons (to) Enhance Mental
Strength). Kekuatan dari dalam
diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan,
bukan dari berleha-leha.
AKU: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini,
kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu
tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu
penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU: Kadang-kadang ketidakberhasilan
membuatku menderita. Apa yang dapat saya
lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat
oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang
dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan
perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain
bekejaran dengan waktu.
AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya
bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh
saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya
harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau
syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU: Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka
bertanya “Mengapa harus aku?”. Jika mereka
bahagia, tidak ada yang pernah
bertanya “Mengapa harus aku?”.
AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya,
mengapa saya disini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi
tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah
mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan
itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah
proses penciptaan.
AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang
terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa
penyesalan. Peganglah saat ini dengan
keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya
merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang
indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan
buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk
dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu
tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.

ps. ini tulisan temen saya, ermenegildo


Pluralitas di PPI

Filed under Renungan & Hikmah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Mengapa?

Ketika masing-masing diri kita memasuki ruangan debat, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dinafikan. Perasaan yang tidak bisa diabaikan. Perasaan yg tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan yang menuntut untuk diterima dan diakui keberadaannya. Karena perasaan itulah wakil dan perwujudan dari masing-masing diri kita.

Perasaan apa itu?

Perasaan bahwa: saya berbeda dengan anda!

Luar biasa, ketika saya mencoba melihat ‘perbedaan’ ini dari kaca mata lain, kacamata ‘Bhinneka Tunggal Ika’, saya melihat sebuah kekuatan. Dan saya semakin kagum saja dengan para pendiri negara Indonesia yg telah menemukan semboyan tersebut. Dengan semboyan itu, saya merasa ‘diakui’ bahwa saya orang Jawa Timur, beragama Islam, memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan kawan2 saya dari Madura, Batak, Irian Jaya. Dan bukan hanya diakui, namun saya merasa ’satu’ dengan mereka semua.

Saya bersyukur sekali, bahwa semboyan negara kita bukan “United Indonesia”. Karena, tidak terasa adanya ‘ruh pengakuan’ atas ‘perbedaan’ dalam semboyan itu. Semua satu. Semua sama.

Mengapa perbedaan perlu diakui dan diangkat ke permukaan?

Saya teringat dua minggu lalu, bersama istri membacakan buku buat kedua anak saya, Lala (5th) dan Malik (3th), sebelum mereka tidur. Saya ajak mereka berimajinasi. Saya bertanya: “Jika Lala dan Malik menjadi burung, mau melakukan apa?” Saya pikir mereka semua sama. Sama-sama anak2. Sama-sama suka burung. Apa yang terjadi?

Malik langsung menjawab, “Aku mau terbang ke Indonesia, mengambil mainan dinosaurus yang tertinggal.” Kalau Lala mau apa? Lala merengut, marah dan bilang “Lala bukan burung! Lala manusia!” Tapi ini hanya imajinasi saja, La. “Lala ndak mau jadi burung, Lala mau jadi kupu-kupu, karena cantik!”

Disitu saya tersadar, bahwa meskipun mereka sama-sama anak2, yang dengan mudah bisa saja kita abaikan perasaan mereka, namun pada dasarnya MEREKA BERBEDA. Mereka Unik. Dan keunikan mereka menuntut untuk diakui dan difasilitasi. Lala protes jika disamakan dg Malik. Dia menuntut saya untuk memberi ruang bagi dia mengungkapkan perasaannya yang berbeda. Dia menuntut saya memfasilitasi keunikannya.

Harapan saya….

Kita di PPI, tidak berbeda dengan anak-anak itu. Sudah terang dan jelas, bw kita berbeda. Tidak ada yg memungkiri itu. Saya berharap, PPI mendatang tidak lagi merasa ‘tabu’, ’sungkan’, atau ‘ragu’ membicarakan perbedaan-2 yang ada dalam diri kita. Kita akui, kita berbeda agama, keyakinan, minat, hobi, bidang studi, kedewasaan, kebutuhan, dll. Kita akui, ada PD dan deGromiest yg menjadi simbol keunikan perbedaan dalam hal spiritualitas, seperti halnya kita mengakui adanya group di PPI yg suka bola, fulzaal, game, jalan-jalan, dll.

Saya berharap, kita berani bilang bahwa “kita berbeda, dan kita mengenali perbedaan itu”. Dengan mengakui adanya perbedaan, kita akan mengenali diri kita sendiri. Mengenali apa yang diinginkan oleh masing-2 elemen itu. Setelah mengenali, kita bisa memfasilitasi.

Saya khawatir, mengingkari adanya perbedaan, sama saja dengan meingingkari eksistensi elemen2 yang berbeda unik itu. Seperti kasus Lala, saya bisa mematikan daya imajinasi kreatif unik dia. Dan dalam lingkup PPI, pengingkaran tersebut akan terus menimbulkan perasaan yang tidak enak dan tak terungkapkan. Tampak bagus diluar, tapi sakit di dalam.

Saya memimpikan, di milis MIG, elemen2 yang berbeda itu diakui. Mereka diberi ruang untuk berbicara. PD bisa mengumumkan pemikirannya, acara2nya di milis MIG. deGromiest juga bisa menyampaikan info2 kepada anggotanya yg banyak di mlis MIG. Persis spt temen2 yang suka futzal, basket dan bola meramaikan milis MIG. Tanpa ada perasaan sungkan, kuatir diprotes (seperti beberapa tahun lalu), atau yg tersinggung. Karena semua sudah mengakui dan menerima adanya perbedaan. Ini hanya satu contoh pengakuan dan penerimaan atas perbedaan itu.

Pertanyaan saya (untuk direnungkan atau dibahas), bukan hanya buat para kandidat. Tapi buat semua anggota PPIG:

Bisakah kita melebarkan pintu hati kita, untuk menerima perbedaan, mengakuinya, dan kemudian melihat indahnya ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di keluarga besar kita ini?

Semoga Tuhan YME merahmati dan selalu menerangi hati dan pikiran kita.

Wassalam,

Ismail Fahmi
- anggota PPI dan mantan ketua deGromiest 2003/2004


Pembersih Jiwa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keduabelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Bersih… bersiiih… Ulfa Dwiyanti berteriak dengan gembira pada salah satu iklan komersial yang beredar di televisi swasta di Indonesia. Sang ikon masyarakat ini lalu berlari ke sana kemari dengan sebuah botol pembersih di tangan kiri dan kain pel di tangan kanannya. Ida Kusumah yang berlakon sebagai nyonya rumah dengan mata terbelakak melihat lantai rumahnya yang bersih dan wangi, tidak hanya bebas dari kotoran tetapi juga enak dipandang oleh mata. Pembersih bermerek ZyXrWT ini memang ampuh…

Terpaku memandang jam yang tergantung pada tembok di hadapan, sudah hampir jam 12.30, waktu setempat, sholat Jumah belum juga mulai. Kultum yang menurut kebiasaan setempat selalu diselenggarakan harusnya sudah berlalu sejak . mungkin setengah jam yang lalu. Hahaha, mungkin harus diganti namanya menjadi Kultung : Kuliah dugi ka tutung . Alhamdulillah, akhirnya mulai juga Bang berdendang, tapi ini baru Bang pertama lho, sesudah sholat sunnah dua rakaat, barulah Bang kedua diperdengarkan dan imam akhirnya memulai ceramahnya, yang sudah ditunggu sejak sekitar satu jam yang lalu. Hari itu memang hujan sangat lebat, namun menurut warga setempat, memang begitulah adanya. Masjid sudah penuh sejak satu jam sebelumnya bukan karena hujan tapi memang begitu kebiasaannya. Maklum, di negri bernafaskan kental ke-Islaman ini memang hanya menyelenggarakan sholat Jumat pada masjid tertentu. Ingin yang lebih fenomenal? Bagi sebagian umat Islam di sini, sholat Jumat BUKAN merupakan suatu kewajiban. Wah, reformasi?

Bla .. bla .. bla .. dan entah apa lagi yang imam sampaikan dalam ceramahnya. Sampai akhirnya … .. Para jamaah sekalian, sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Ramadhan ini, jangan lah lupa kita akan kewajiban membayarkan zakat fitrah. Ibadah ini diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sebagai sarana membersihkan diri dan harta kita dari kotoran yang menggerogoti nilai kehalalan harta kita. Jadi, pakcik, jika dalam perniagaan berbuat suatu kesilapan dengan mencurangi timbangan dan semacamnya, marilah kita bersihkan dengan zakat fitrah ini . Ajakan yang mulia, yang memang merupakan esensi dari zakat fitrah yang seharusnya dilaksanakan pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Ehem, benarkah? Bukan kah itu berarti Islam membenarkan kita untuk berlaku curang, melakukan kesilapan yang secara sadar dilakukan. Bukan kah itu berarti kita bisa berbuat kesalahan dan membersihkannya setiap kali ada kesempatan seperti pada akhir bulan Ramadhan ini. Benarkah zakat fitrah itu tak ada bedanya dengan pembersih yang iklannya beredar diseantero dunia pertelevisian?

Zakat fitrah. Membawa yang melaksanakannya kembali kepada fitrah. Fitrah? Ya, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih, seperti lembaran kertas putih, menurut kata ulama. Lembaran kertas yang dapat ditulisi apa saja? Yang dapat dilipat ke dalam bentuk apa saja? Yang dapat dibakar hingga tak berbekas? Mengapa tidak terlahir bagaikan lantai yang putih, setidaknya jika terbakar hingga gosong pun masih bisa digosok sekeras-kerasnya agar kembali menjadi putih. Kertas terbakar berubah menjadi putih bersih? Perlu tukang sulap rasanya.
Mungkin Rasulullah atau bahkan Allah subhanahu wa taala sendiri yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah sarana pembersihan dosa. Benarkah? Segala yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya adalah selalu benar adanya, bukan begitu?

Zakat fitrah, sarana pembersihan dosa. Dosa yang BOLEH diulang-ulang karena memang sudah tersedia alat pembersihnya, begitukah? Ibarat lantai putih yang kita injak dengan sepatu kotor, lalu dipel kembali, lalu diinjak kembali dengan sepatu kotor, dipel kembali dan begitu seterusnya . Mengapa kita tidak belajar daripadanya dan membersihkan sepatu setiap kali akan menginjak lantai. Menjaganya agar tetap bersih. Membersihkan lantai secara teratur bukan karena selalu kotor terinjak tapi karena memang kita mencintai kebersihan, mencintai lantai yang tampak rupawan jika berada dalam keadaan bersih. Seperti zakat fitrah yang dilaksanakan karena kita mencintai Allah dan takut kepada-Nya, bukan karena ingin kembali menjadi bersih dari dosa karena memang sudah kita jaga semampu kita untuk terhindar dari padanya.

Entahlah, mungkin kini saatnya Ulfa mulai berteriak dengan gembira: Zakat fitrah. Zakat fitraaaah.


Zakat Fitrah: Sesuatu yang Istimewa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesebelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Diana Jirjis.

Tulisan ini mencoba mengungkap pernak pernik zakat fitrah, lebih-lebih yang berkenaan dengan sisi fiqhnya. Terima kasih yang dalam kepada guru-guruku, especially gus Ghofur, pak Sahiron, pak Mustaqim yang telah memperbolehkan saya untuk berani-beraninya (baca: wani-wanine) merangkum pelajaran dari mereka.Ihdinash shiraathal mustaqiim.

Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung.

Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan zakat-zakat lainnya yang lebih berfungsi untuk “membersihkan harta”, zakat fitrah adalah satu-satunya zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk “menyucikan jiwa”. Oleh karena itu, zakat fitrah tidak saja diwajibkan bagi mereka yang kaya, akan tetapi juga bagi mereka yang kurang berkecukupan. Jadi meskipun orang itu ‘miskin’ menurut kategori umum, dia tetap wajib membayar zakat fitrah namun dia pun berhak menerima zakat fitrah.

Zakat fitrah selain berfungsi melengkapi puasa Ramadhan, juga berfungsi menyambut lebaran Idul Fitri. Karena itu, fungsi kedua dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin. Dua hikmah ini, dengan baik disampaikan oleh Ibn Abbas: “RasululLah men-fardhukan zakat fitrah untuk menyucikan diri seorang yang puasa dari al-laghw dan rafats, dan untuk memberi makan orang-orang miskin.”
Fungsi kedua dari zakat fitrah ini meniscayakan pendistribusian zakat tersebut untuk fakir miskin, agar di hari raya idul fitri mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya, tidak bersedih karena tidak bisa makan di hari itu. Meskipun di dalam ayat tentang zakat disebutkan ada 8 kelompok mustahiq zakat, namun khusus untuk yang zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir miskin.

Siapa aja yang harus berzakat fitrah?

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak) sebagaimana diungkapkan Ibn Umar, dalam riwayat Imam Bukhari: RasululLah men-fardhukan zakat fitrah, satu “shaa” dari kurma, atau satu “shaa” dari biji sya’ir, kepada orang yang bebas dan seorang hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dewasa dari mereka yang beragama Islam. Syarat wajib lainnya adalah muslim tersebut sempat menyaksikan Ramadhan dan malam 1 Syawal juga mempunyai kelebihan rizki untuk mengeluarkan zakat fitrah, paling tidak ketika di malam 1 Syawal. So, bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di hari terakhir Ramadhan juga termasuk wajib zakat.

Berapa ukuran zakat fitrah?

Zakat fitrah ini tujuan utamanya untuk mengenyangkan fakir miskin sehari saja, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Karena itu besarnya pun tidak seberapa. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, ”RasululLah men-fardhukan zakar fitrah dari Ramadhan, satu “shaa” buah korma atau satu “shaa” dari biji sya’iir. ” Hadits ini menjadi pijakan mayoritas ulama dalam menentukan kadar zakat fitrah, yakni satu shaa’ dari makanan pokok setempat.
Berapa satu shaa? Satu shaa sama dengan empat “mud”. Satu mud sama dengan 0. 688 liter. Jadi satu shaa adalah 2. 752 liter. Demikian ukuran yang dapat dilacak dari batasan Nabi. Beliau tidak menggunakan ukuran berat (kilo), tapi volume (liter). Batasan yang demikian ini kemudian memang menyulitkan, karena tidak setiap bahan makan sama beratnya. Dengan asumsi densitas beras lebih besar daripada kurma tentunya satu liter beras akan lebih berat dari satu liter kurma. (belom lagi kalo kurmanya gedhe-gedhe sehingga porositas bulknya besar :))
Maka dapat dimengerti jika ukuran zakat fitrah diperselisihkan di antara ulama. Tapi ada satu hal yang tak perlu diperdebatkan, yakni diperbolehkannnya membayar lebih dari batas ketentuan, bahkan sudah barang tentu dianjurkan.

Bisa ga membayar dengan uang?

Di berbagai negara Islam, zakat fitrah tidak dikeluarkan dari bahan makanan, akan tetapi dari nilai tukar (qiimah) bahan makanan tsb. Selain memudahkan si pembayar zakat, mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai juga dipandang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Walaupun pendapat diperbolehkannya membayar nilai tukar hanya diwakili oleh madzhab Hanafi, namun perkembangan di tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai kalangan justru memilihnya. Sementara madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali, yang melarang pembayaran tersebut tidak lagi banyak dijalankan.

Dari sudut pandang fiqih humanis kontemporer, perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah yang dianjurkan senilai dengan yang dimakan setiap orang dalam sekali makan, memiliki pesan dinamik karena daya konsumsi makan masing-masing orang berbeda. Tentunya tidak adil bila seseorang yang biasa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan hanya membayar zakat fitrah senilai satu shaa bahan makanan. Bukankah dia juga bakal males kalau disuruh makan yang hanya senilai satu shaa bahan makanan?

Kapan musti bayar?

Zakat fitrah diwajibkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan untuk menyambut Idul Fitri. Karena itu, diwajibkan setelah berakhirnya puasa, dan memasuki Idul Fitri. Disunahkan membayarnya pada hari Idul Fitri sebelum salat Id berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Rasulullah saw. memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum orang berangkat salat.” (H.R. Jamaah).

Sebagian ulama menetapkan permulaan waktu zakat fitrah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan sebagian lain menetapkannya setelah terbit fajar di pagi harinya (tgl 1 Syawal). Sementara waktu akhir pembayaran, sebagian ulama menutupnya hingga salat Id, dan sebagian lain memperpanjang hingga sehari penuh di hari lebaran. Pengeluaran zakat setelah itu dianggap qadha, seperti menjalankan salat subuh setelah terbitnya matahari.

Gimana kalo bayar zakat fitrah sebelum berakhirnya bulan Ramadhan?
Diantara ulama yang mempelopori tidak diperbolehkannya pembayaran zakat sebelum waktunya adalah Imam Ibn Hazm. Menurutnya, tak satupun zakat yang diperbolehkan mengeluarkannya sebelum waktu. Memang afdhalnya zakat fitrah dibayarkan setelah berakhirnya bulan puasa dan memasuki Idul Fitri namun pada prakteknya berbagai kalangan sahabat justru tidak melakukannya sehingga pendapat Ibn Hazm banyak ditinggalkan.

Namun begitu, para ulama yang memperbolehkan “ta’jil” (membayar zakat lebih awal dari waktunya) berselisih pendapat mengenai batas waktunya. Imam Syafi’i memperbolehkan pembayaran zakat sejak awal Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu dari dua sebab zakat. Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik membatasinya hanya satu-dua hari menjelang Idul Fitri. Sebagian Malikiyah membatasinya dengan tiga hari menjelang Id. Sebagian Hanabilah, memperbolehkan pembayaran zakat hingga pada pertengahan bulan Ramadhan.

Melihat pendapat-pendapat yang ada ini, mungkin bisa ditawarkan sbb: 1. Panitia bisa memungut harta zakat mulai pertengahan bulan. Lebih mendekati hari raya lebih baik. 2. Harta zakat didistribusikan kepada fakir-miskin (diterima oleh mereka) di hari lebaran, atau menjelang lebaran pada kisaran 1-2-3 hari. Lebih dekat kepada Idul Fitri semakin baik karena tujuan zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan di hari lebaran.

Bolehkah membagikan zakat ke luar daerah dimana zakat dipungut?
Bisa dikemukakan bahwa pola distribusi zakat mengikuti sistem “otonomi daerah”. Harta yang dihasilkan satu daerah pendistribusiannya diutamakan untuk daerah itu sendiri seperti tertuang dalam hadits “Zakat itu diambil dari orang kaya di kalangan mereka dan dikembalikan (dibayarkan) kepada kaum fakirnya”.

Dalam satu riwayat, RasululLah saw. mendelegasikan sahabat Muadz bin Jabal, untuk menarik harta zakat dari orang-orang kaya di daerah Yaman, dan membagikannya kepada kaum fakir miskin di daerah tersebut. Kebijakan RasululLah ini, yang memerintahkan agar membagikan harta zakat kepada fakir-miskin dimana zakat dipungut, juga dijalankan sahabat Muadz saat ia menjadi pejabat di masa Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab ra. Namun pada suatu ketika, di era Umar ra, ia mengirimkan harta zakat ke Madinah, pusat pemerintahan Umar ra. Mula-mula Umar ra menolaknya, namun kemudian menerimanya setelah Muadz ra. menyatakan bahwa dia tidak menemukan seorangpun yang berhak menerima zakat di Yaman.

Riwayat di atas, menjadi rujukan ulama untuk menentukan hukum boleh-tidaknya, dan juga sah-tidaknya, memindahkan harta zakat dari tempat dipungut ke tempat yang lain. Secara umum, bolah boleh saja mengalihkan zakat fitrah ke luar tempat tinggal orang yang mengeluarkannya bila di negeri itu terdapat orang yang lebih membutuhkan dan jika hal tersebut dapat mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi kaum muslimin, atau jika lebih dari kebutuhan kaum fakir yang ada di negerinya.

Soooo… gimana dooong?

Skema pembayaran zakat fitrah sebagaimana yang ditawarkan KZIS cabang Belanda yaitu: membayar zakat fitrah di Belanda, tempat dimana kita mukim saat ini, dengan qiimah (nilai tukar) sebesar minimal 8 euro (angka ini merupakan kesepakatan yang diperoleh dari biaya rata2 sekali makan lengkap di Belanda) dan didistribusikan di Indonesia, insyaAllah sah dan sudah tepat. Semoga zakat fitrah kita penuh dengan hikmah. Allahu alam bish shawaab.

Naaa apalagi yang dinanti? Cepetan bayar zakat fitrah yaaaa jangan sampai ketinggalan :)


Sepertiga Terakhir

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesepuluh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Elfahmi Yaman.

Waktu berjalan sangatlah cepat, terasa belum begitu lama kita berbicara tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan, ternyata sekarang sudah memasuki pertigaan terakhir, sepertiga bulan yang menurut para ulama dalam menukil hadist adalah waktu ditutupnya pintu neraka. Lalu bagaimana dengan pertigaan pertama dan kedua yang sudah berlalu. Apakah kita bisa merasakan sepertiga awal sebagai masa mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT ?, begitu juga dengan sepertiga kedua, apakah kita bisa merasakan meraih ampunan (maghfirah) atas dosa-dosa yang telah sengaja atau tidak, melumuri diri ?. Allahu ‘alam, Allah lah yang maha tahu, karena ini memang hak “mutlak” dari Sang Pencipta. Yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-qur’an dan hadist Rasullullah serta penjelasan para ulama. Namun proses evaluasi (mutaba’ah) tentu kita bisa lakukan merujuk kepada parameter-parameter yang dijelaskan dalam petunjuk-petunjuk tersebut. Hari demi hari kita lalui dengan berbagai aktivitas seperti biasa, sekolah, bekerja, menulis, berkarya, beribadah, membaca. Barangkali dengan intensitas yang lebih kuat demi berupaya menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Pada suatu kesempatan seorang guru menganalogikan keberhasilan seseorang dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan itu dengan hitungan matematik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rumus integral, diferensial, atau apalah namanya yang rumit-rumit. Andaikan “kualitas” iman, ibadah, kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan bisa dinilai dengan angka 5, maka saat berproses selama bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah yang meningkat, itupun kalau dilakukan dengan niat ikhlas maka nilai meningkat menjadi 15 diakhir bulan. Selanjutnya sebagaimana biasa setelah bulan puasa intensitas ibadah berkurang, tidak ada lagi puasa wajib, taraweh dan lain-lain sehingga berkurang menjadi 12 atau 10. Sang guru berkesimpulan bahwa yang demikian ini berarti berhasil meraih keutamaan bulan Ramadhan. Yang sering terjadi adalah nilai tersebut berbalik kembali ke jumlah semula, atau malah lebih kurang ?. Pertanyaan kritis yang juga sangat sederhana muncul, terus bagaimana mengukurnya sehingga keluar angka-angka kuantitatif tersebut. Nah disinilah masaalahnya karena itu merupakan ketetapan Allah SWT terhadap individu. Sang guru kemudian melanjutkan bahwa individu tersebut sebenarnya bisa merasakan perubahan dalam dirinya sendiri, misal mulai dari semakin sensitifnya diri dalam menindak lanjuti kebaikan-kebaikan dan sebaliknya, semula susah sabar menjadi relatif lebih bisa mengontrol emosi, jadi lebih takut kepada Allah SWT dalam melakukan berbagai tindakan.

Perubahan-perubahan yang dirasakan ini dengan sendirinya berpengaruh keluar diri sehingga memberikan manfaat kepada orang lain. Sebuah pertanyaan “nakal” menghampiri benak walau tidak sampai pada sang guru. Bagaimana kalau sebelum Ramadhan korupsinya M-M an, terus puasa dan setelah lebaran korupsinya berkurang jadi J-J an, apakah termasuk berhasil meraih keutamaan puasa ?. Lha, jelas saja tidak, karena berapapun jumlahnya korupsi itu tetap dilarang karena memakan yang bukan hak. Kalau begitu betapa banyak yang berpuasa namun tidak meraih keutamaannya, seperti sebuah hadits bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Buktinya memerangi korupsi di Indonesia sangat sulit sekali bahkan banyak orang yang sudah pesimis terhadapnya. Belum laginya yang namanya “korupsi non materi”.

Kembali kepada evaluasi (mutaba’ah), tentu merupakan suatu yang urgen dilakukan, karena dengan demikian bisa diketahui pencapaian-pencapaian dari target yang telah ditetapkan. Sebuah penelitian butuh pertemuan pihak terkait sekali seminggu dengan memaparkan apa yang telah dilakukan, bagaimana hasilnya, kenapa ada kendala serta berbagai pertanyaan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk masa selanjutnya. Kalau proses evaluasi tidak dilakukan maka sulit mengukur sudah sampai dimana pencapaian target. Cukupkah waktu 7-8 hari ini bisa melengkapi “nilai” puasa sebagai sebuah hasil mutaba’ah 22 hari yang lalu ? Semoga Allah SWT “melembutkan hati ini” sehingga senantiasa selalu terbuka menerima kebaikan-kebaikan serta tergerak melkukannya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan energi dalam rangka berlari mendekati-Nya, Amiin.


Backpacking Around?

Filed under Traveling Club

Oleh Tukang Bola (Ario) dan istri tercinta (Ratih)

Download file

Kuliah di Belanda kurang lengkap rasanya kalau belum mengunjungi negara sekitar. Maklum, negara-negara tetangga sudah tidak asing lagi di telinga kita. Nah permasalahannya adalah bagaimana cara mengunjungi negara-negara tersebut dengan dana dan waktu yang terbatas.

Untuk mengatasi masalah tersebut, coba susun skala prioritas. Pada kesempatan kali ini, saya (tukang bola) dan istri tercinta ingin sekali mengunjungi negara-negara eksotis seperti Spanyol dan Italia. Jadi prioritas utama kami adalah kedua negara tersebut. Tetapi mengingat luas dan biaya yang harus kami keluarkan di kedua negara tersebut, kami kecilkan lagi skala tersebut menjadi negara mana yang akan kami luangkan lebih banyak waktu mengingat keterbatasan waktu dan biaya yang kami miliki. Secara singkat, kami menyusun beberapa rencana sebelum berangkat agar biaya dan waktu perjalanan tidak melewati batas yang kami anggarkan yang ada dalam poin-poin berikut ini:

1.Rencanakan minimal dua bulan sebelum keberangkatan
2.Batas waktu yang kami miliki (misalnya 1-2 minggu)
3.Biaya yang kami miliki (misalnya ?550/ orang, all in)
4.Negara(-negara) tujuan (misalnya Spanyol, Italia) dan rute perjalanan
5.Bagaimana sampai di sana dan kembali (pesawat, kereta, bis) dan biaya
6.Tinggal di mana nanti (hotel, hostel/ pension, camping, youth hostel) dan biaya
7.Biaya sekunder (makan, transportasi dalam kota, tiket masuk museum, oleh-oleh)
8.Apa saja yang akan dikunjungi
9.Apa saja yang perlu dibawa terutama uang atau kartu atm
10.Re-check

Setelah menentukan batas waktu dan anggaran biaya total yang kami miliki, kami mencoba untuk mencari informasi mengenai negara-negara yang akan kami kunjungi melalui internet. Informasi-informasi tersebut adalah mengenai peta (untuk setidaknya mengetahui berapa luas kota tersebut), alamat kantor informasi turis di negara tersebut, dan daftar-daftar hostel di negara tersebut.

Setelah memperoleh informasi umum yang diperlukan, perburuan tiket pesawat murah kami lakukan. Untuk tujuan Spanyol dan Italia sebenarnya kami tidak merekomendasikan untuk menggunakan bis. Memang terkadang lebih murah tetapi trade-off-nya adalah waktu tempuh dan stamina yang terkuras karena duduk terlalu lama. Sedangkan kereta hanya kami rekomendasikan untuk tujuan Italia. Selain lamanya waktu perjalanan, biaya yang harus dikeluarkan jika hendak bepergian ke Spanyol dengan menggunakan kereta api sangatlah tinggi. Saya punya pengalaman ditertawakan oleh petugas NS saat menanyakan biaya kereta api ke Spanyol. Tanpa basa-basi petugas tersebut mengatakan “you better take the plane.” Karena ingin tahu saya tanyakan lagi berapa kira-kira biayanya. Edan! Sekitar 500 euro sampai Barcelona, belum lagi pergantian keretanya.

Pesawat
Diurutkan berdasarkan pengalaman atas kenyamanan (***).

Basiq air *** http://www.basiqair.com/
Transavia *** http://www.transavia.nl/
Ryan air * http://www.bookryanair.com/skylights/cgi-bin/skylights.cgi?language=EN

Budget air lainnya:
Easyjet http://www.easyjet.com/en/book/index.asp
Air Berlin http://www.easyjet.com/en/book/index.asp

Atau bisa juga melalui situs penjualan tiket online seperti:
ATP http://online.atp.nl/tc.dll?ac=return&tid=atpen
Vliegwinkel http://www.vliegwinkel.nl/default.aspx?language=EN

Dalam memilih pesawat perhatikan juga :
1.Waktu keberangkatan pesawat
2.Lokasi keberangkatan

Pengalaman saat nonton Euro 2004 di Portugal, pesawat Transavia berangkat dari Schiphol menuju Faro (Portugal) jam 7 pagi sehingga saya terpaksa tidur di bandara karena kereta paling pagi dari Groningen baru sampai Schiphol sekitar jam 8 pagi. Demikian juga di Roma Ciampino, saya dan istri harus tidur di trotoar yang berdebu dan dingin karena airport harus dikosongkan setelah jam 12 malam. Hal lainnya adalah biaya dari Groningen menuju kota keberangkatan. Contohnya Eindhoven, walaupun pesawat lebih murah beberapa sen, biaya kereta dari Groningen menuju Eindhoven akan lebih besar jika berangkat dari Rotterdam, misalnya. Tetapi hal ini juga ditentukan oleh ketersediaan pesawat. Pemesanan online dan kartu kredit adalah mutlak! Mengakalinya adalah dengan meminjam kartu kredit teman atau keluarga dan menggantinya dengan uang tunai.

Kereta
Tentu saja penghitungan biaya dimulai sejak dari Groningen, dengan demikian NS juga harus masuk dalam perhitungan biaya.

Belanda (NS) http://www.ns.nl
Italia (Trenitalia) http://www.trenitalia.com/home/en/index.html
Spanyol (Renfe) http://horarios.renfe.es/hir/ingles.html
Jerman (DB) http://www.bahn.de/pv/view/int_guest/subhome/international_guests.shtml
Dan lain-lain

Perjalanan antar kota dalam negeri dengan menggunakan kereta biasanya sedikit lebih murah jika dibandingkan dengan menggunakan bis. Jika hendak bepergian antar negara dengan menggunakan kereta sebaiknya pilih kereta malam sehingga bisa menghemat biaya penginapan. Biasanya ditawarkan tiket yang berlaku untuk beberapa waktu tertentu dengan biaya yang lebih murah (paket). Di Jerman, jika bepergian dengan 5 orang akan lebih murah jika dibandingkan dengan 1 atau 2 orang. Tiket kereta bisa dibeli langsung di loket atau mesin-mesin tiket yang tersedia di stasiun kereta. Jangan khawatir, pada umumnya mesin juga memiliki fitur bahasa Inggris. Penjaga loket pun pada umumnya mampu berbahasa Inggris.

Bis
Eurolines http://www.eurolines.com/

Pada umumnya perjalanan antar negara paling murah adalah dengan menggunakan bis (asumsi tarif normal). Hanya, konsekuensinya adalah waktu tempuh yang relatif lama. Seperti halnya kereta, bis juga menawarkan paket perjalanan dengan wilayah dan biaya tertentu.

Tempat Tinggal
Untuk memperlancar dan mempermudah perjalanan ada baiknya untuk memesan tempat tinggal jauh hari sebelum perjalanan terutama saat musim panas. Karena memang kami berdua dasarnya gila, kami tidak pernah memesan hostel sebelum berangkat. Alasannya karena kami tidak pernah bepergian saat musim panas dan kami selalu yakin untuk mendapat kamar ketika tiba di tempat tujuan. Gila kan.

Jika diurutkan dari yang paling murah, maka urutannya adalah sebagai berikut:
1.Camp site (biasanya camp site juga menyediakan kamar, bahkan private)
2.Youth hostel (mulai dari dorm hingga private)
3.Pension, budget hotel, dan kamar penduduk (khusus Portugal)
4.Hotel

Untuk mempermudah, link untuk melihat ketersediaan youth hostel adalah sebagai berikut:

http://www.hostelworld.com/
http://www.hostels.com/

Kebetulan, saat perjalanan ke Barcelona-Girona-Venice-Florence-Pisa-Roma-Paris, kami menemukan beberapa alternatif cukup murah untuk menginap:

Barcelona Usahakan dekat La Rambla. Yang kami tempati adalah rumah:
Ms. Jasmine, Calle Carassa 4 # 4.2, akses dgn metro Jaume I nomer HP (kode negara) 628049579

Venice Camping Fusina: http://www.camping-fusina.com/main.htm atau Casa Chiumento, Santa Croce 1465, San Giacomo dell’Orio, Corte Scura, nomer telepon (+41)5240054, email [email protected]

Florence Siggiorno Livi (Mrs. Livi), Sleep in Florence, Via Faenza #20, 50123, Firenze atau Siggiorno Burchi, Via Faenza #20, telepon (+41)55268481-414454, fax (+41)55268481

Rome Hotel dan hostel banyak ditemui di daerah dekat Termini Station Roma. Untuk list hostel dan hotel dapat meminjam dan men-copy dari saudara Buana Girisuta.

Paris Hotel dengan harga hostel adalah Formule 1 Hotel. Untuk booking dapat dilihat di:
http://www.hotelformule1.com/formule1/index.html sebaiknya ambil yang beralamat di Paris Porte de Montreuil (Metro line 9). Jika ingin lebih dekat ke pusat kota Paris silakan cari hotel atau hostel di daerah Gare du Nord. Lokasi ini juga berdekatan dengan La Fayette.

Perjalanan
Jangan membawa barang terlalu banyak. Barang yang umumnya dibawa:
Paspor (biasanya kami tinggal di kamar hotel) dan kartu izin tinggal
Dokumen perjalanan (bukti pemesanan dan tiket) dan ISIC card
Peta (bisa diambil di tourist information, usahakan yang ada nama jalannya)
Pakaian (kami hanya bawa 4 potong - termasuk yang dipakai selama seminggu, pakaian dalam, jaket, dll)
Makanan secukupnya (jika ingin menghemat jangan makan di luar terlalu banyak terutama di Italia yang ada ongkos duduknya! Makanan bisa beli di Aldi atau Lidl, atau di supermarket di tempat tujuan, roti perancis yang keras dan panjang itu menjadi pilihan yang bagus karena kerasnya dan tahan lama untuk mengganjal perut)
Obat-obatan (paling penting hansaplas untuk jaga-jaga kapalan atau lecet di kaki)
Peralatan dokumentasi (kamera dan atau handycam, jangan lupa chargernya, special untuk Itali memerlukan colokan listrik yang khusus)
HP (jangan lupa chargernya)

Jika memutuskan untuk melakukan perjalanan tanpa melakukan pemesanan hotel terlebih dahulu, sebaiknya simpan barang di tempat penyimpanan barang di stasiun kereta supaya tidak mencari hotel dengan beban yang berat. Usahakan untuk selalu berangkat pagi jika ingin melihat obyek-obyek wisata karena belum terlalu penuh dan tidak perlu mengantri untuk naik transportasi umum.

Barcelona Jika menggunakan Basiq air atau Ryan air dengan tujuan Girona, setelah mendarat silakan ambil bis dengan tujuan Girona airport-Girona (return ticket open date lebih murah jika kembali dari bandara yang sama). Dari Girona ambil kereta (Renfe) tujuan Barcelona. Pembelian tiket bisa dilakukan di loket maupun mesin tiket. Silakan minta yang paling murah (regional).
Di Barcelona, untuk mempersingkat waktu perjalanan silakan ambil tiket metro T-10 berlaku untuk 10 kali perjalanan.
Karena kami memiliki waktu dan keuangan yang terbatas, kami hanya mengunjungi Parc Guell (gratis kecuali museumnya), Sagrada Familia (tidak masuk karena menghabiskan waktu dan mahal), La Rambla dan sekitarnya, dan Port Vell. Jangan lupa makan Paella (nasi goreng seafood khas Spanyol). Kami mengunjungi sebuah restoran yang disarankan oleh Ms.Jasmine, lokasinya dekat tempat tinggal kami di Barcelona, sekitar Gothic Youth Hostel. Tempatnya bagus, mewah dari luar tapi harga makanannya tidak mahal. Untuk paella hanya max 10 euro. Katanya restoran ini tidak akan buka kalau mereka tidak mendapatkan ikan segar dari laut.
Jika masih ada waktu saat kembali ke Girona, jangan lupa untuk menyisakan waktu di kota tersebut. Kota tersebut merupakan kota tua Yahudi dan menurut kami sangat indah.

Venice Silakan naik water bus menuju Piazza San Marco pada saat matahari terbit dan berjalan kaki untuk kembali ke arah stasiun kereta melalui jembatan Rialto. Di Italia kami tidak masuk museum sama sekali karena harus bayar. Jangan lupa makan es krim saat di Italia!

Florence Kotanya sangat kecil dan merupakan tempat yang cocok untuk belanja barang bermerek maupun khas Italia (kulit). Tidak perlu menggunakan kendaraan umum untuk berpergian dari satu tempat ke tempat lainnya. Kami tidak menghabisakan banyak waktu di kota ini karena menurut kami kurang menarik (berbeda tiap orang). Menurut kami Prato (selatan Florence) merupakan kota yang lebih indah karena terletak di pegunungan.
Jika masih memiliki waktu silakan mengunjungi Pisa karena letaknya sangat dekat dengan Florence dan tidak menghabiskan banyak waktu (obyeknya hanya menara Pisa).

Roma Roma adalah kota yang tidak bisa dikunjungi hanya dalam satu hari. Luangkan paling tidak dua hari di kota yang indah ini. Jika masih ada biaya silakan ambil Trampbus Open untuk mengelilingi kota Roma. Tiket berlaku selama satu hari (bis terakhir berangkat jam 8 malam). Karena kami hanya punya waktu satu hari di kota tersebut, kami mengkalinya dengan mengikuti rute Trampbus tersebut. Pertama-tama kami turun di Vatican, lalu kembali naik Trampbus dan turun di tempat dekat Spanish Steps (hanya bagus saat musim panas). Kunjungan berikutnya adalah Trevi Fountain (kalau mau lempar koin silakan). Menjelang sore, setelah tidur-tiduran di Termini Station, kami kembali naik Trampbus menuju tempat dekat Pantheon. Kami sengaja menunggu matahari terbenam di Colloseum dan Foro Romano. Kalau mau cepat dan murah silakan menggunakan metro.

Paris Metro adalah sarana transportasi paling ekonomis menurut pendapat kami. Memang cukup “ribet” tapi tetap saja gampang. Karena kami tinggal dekat Gare du Nord, kunjungan pertama kami adalah Sacre Coeur/ Mont Marte. Setelah itu kami mengambil metro dengan tujuan Louvre dan sekitarnya (jika ini adalah kunjungan pertama menuju Paris mungkin sebaiknya mulai dengan Notredam dan berjalan melaui Louvre/Camps Elysees menuju Arc de Triomp atau sebaliknya). Setelah itu kami mengunjungi Eifel (efek lampunya baru dan hanya menyala sekitar 15 menit setiap jam) melalui Defense hingga Trocadero. Kami tidak mengunjungi Versailles (musim panas sangat indah) karena jauh dan cuaca buruk.

Untuk lebih detailnya, kami membuat sebuat tabel (time table) dan biaya aktual perjalanan seperti yang tercantum di halaman berikut ini (Dari total pengeluaran yang dianggarkan, kami masih berhasil menekan pengeluaran sebesar ?61.11 di bawah anggaran pengeluaran kami):

Jika ada pertanyaan, bisa ditanyakan langsung lewat email [email protected], [email protected], atau telepon langsung HP (+31)645560107.

Time Table Spain-Italy-France, October 2004


Reportase Nuzulul Quran

Filed under Ramadhan 2004

(Reportase Nuzulul Quran dari seorang Buyung)

Alhamdulillah, semua puji syukur pada Allah Semesta Alam. Sudah kita lewati lagi satu dari sekian rangkaian acara Gerakan Perindu Ramadhan dengan selamat dan insyaallah penuh hikmah. Acara ini adalah Nuzulul Quran, bisa dikatakan acara puncak Gerakan Perindu Ramadhan kita.

Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan dan ketulusan hati mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada rakyat deGromiest yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Acara ini adalah acara kita bersama; tidak ada yang berhak mengklaim secara pribadi maupun kelompok, tapi ini adalah milik ummat Islam yang kebetulan diamanahkan kepada kita untuk diselenggarakan di bumi Groningen.

Namun, Gerakan Perindu Ramadhan belum selesai. Perjalanan masih panjang, Ramadhan masih tersisa 13 atau 14 hari lagi. Mari saling membahu dan saling mengingatkan untuk membakar semangat menjadi energi. Energi ini yang kita pakai untuk mengisi detik demi detik Ramadhan dengan penuh hikmah, zikir, fikir, dan ibadah. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang benar-benar bertaqwa, amien ya Rabbal Alamin.

Kisah Di Bawah Meja (makan)

Nama GPR (Gerakan Perindu Ramadhan) sebenarnya lahir dari celoteh Bang Is yang saat itu masih terpengaruh dengan lahirnya Gerombolan Pencicip Makanan Pencinta Sains (gpmps). Nama itu langsung saya resmikan sebagai nama kepanitian yang diamanahkan kepada saya untuk menjadi event organizer deGromiest selama bulan suci Ramadhan.

Dari sekian banyak acara, Nuzulul Quran justru luput dari perhatian saya. Syukurlah beberapa rekan mengingatkan saya dengan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam tersebut. Itulah untungnya mensosialisasikan ide-ide kepada massa.

Format acara prematur segera disusun berdasarkan hasil obrolan dengan rekan-rekan. Ketika dilemparkan ke publik, mendapatkan tanggapan positif. Langsung saja, pada tanggal 16 Oktober 2004, saat buka puasa pertama di Websterbadstraat 48, pembagian peran di mulai. Cara pembagian peran yang terlihat ganjil, tapi ternyata dirasakan tepat seperti yang rekan-rekan nikmati malam tadi. Mudah2an memang Allah lah yang sudah memilihkannya untuk kita.

Tim materi mengadakan rapat maraton lewat email, membahas apa tema utama dan bagaimana menyampaikan pesan-pesannya. Minggu 24 Oktober 2004 menjadi hari bersejarah dalam persiapan Nuzulul Quran ini. Para aktor berkumpul di Bezettingslaan 30 untuk mematangkan materi dan berlatih. Format acara pasti disusun, seperti yang rekan-rekan nikmati tadi malam.

Terungkap bahwa, lagu “Doa Khatam Quran” yang kita bawakan tadi bukanlah lagu gampangan. Indra, Bang Budi, dan Pak Toto, pemusik yang bisa dibilang handal di bidang masing-masing butuh waktu setengah hari untuk menemukan chordnya. Teguh, salah satu musisi handal kita terus terang pada saya menyerah untuk mempelajari chord lagu ini dalam satu hari. Itulah alasannya kenapa kita tidak melihat Teguh tampil tadi malam.

Pak Toto menguraikan bahwa lagu ini tidak mengikuti pakem biasanya. Kuncinya tidak berulang, melainkan berubah-rubah terus dari awal sampai akhir. Sebagai musisi Pak Toto tidak suka dengan alur demikian, karena ini mengurangi harmonisnya sebuah lagu.

Namun, ada sesuatu yang lain. Lagu ini bukan lah lagu pop yang biasa kita dengar. Ini adalah doa, doa kepada Allah, sebuah harapan. Dan doa ini dibawakan dan dinikmati oleh hati. Sehingga ketidakpakeman tidak menghalangi pendengar untuk menikmatinya. Karena yang menikmatinya bukan telinga, tapi hati. Subhanallah.

Ada lagi cerita lain. Beberapa rekan merasa keberatan dengan plot yang saya buat berkenaan waktu dan sajian makanan. Saya bersikeukeuh untuk mengadakannya selepas Maghrib dan menghindari makanan serius demi tercapainya kesyahduan acara. Sementara dari sisi lain, ini bisa mengurangi minat orang yang datang. Alasannya, makanan adalah daya tarik utama dan jam 7pm dirasa terlalu larut untuk orang beraktivitas. Namun, Alhamdulillah huznusan saya tidaklah melenceng terlalu jauh; acara tetap syahdu (walau ini tentu relatif) dan rekan-rekan yang datang tidak harus kelaparan. Alhamdulillah.

Selain itu, kedatangan para wakil dari KBRI memberi warna tersendiri. Kita bisa meluaskan manfaat dari acara GPR: kesempatan bagi warga Indonesia di Groningen bertemu para wakil KBRI dan melakukan “Lapor Diri”. Diskusi intens juga terjadi antara para tokoh deGromiest dengan wakil KBRI. Lagi-lagi, Alhamdulillah.

Merdunya alunan surah Al Baqarah 1-10 dari Indra, indahnya terjemahaan dari Ratih, disambung oleh Loedroek Cap Martini Tower yang dimotori trio Cak Tri, Cak Fu, dan Cak Toto benar-benar membuka Nuzulul Quran begitu bewarna. Warnanya kental, dan mempesona, terasa sampai ke belakang di mana rekan-rekan non-muslim yang sedang menunggu selesainya proses “Lapor Diri”. Mudah-mudahan ini menjadi dakwah, amin.

Tidak hanya sampai di sana, nyanyi “Doa Khatam Quran” yang di pandu oleh Uda Khairul, Kak Agnes, dan Yunia dan diiringi oleh flute Pak Toto, gitar Indra dan Bang Budi membuat penonton larut. Larut bersama harapan untuk mendapatkan berkah dengan membaca Al Quran. Saya berharap, pesan untuk membudayakan membaca Al Quran sampai hendaknya pada penonton.

Acara disambung oleh puisi Kematian oleh Bang Ismail. Saya merasa terhanyut oleh ekspresi beliau yang begitu menjiwai pesan-pesan maut dari Taufiq Ismail. Kemudian, dengan cantiknya, kontras dengan puisi pertama, puisi Kehidupan pun dikumandangkan oleh saya sendiri. Sebuah puisi yang lahir dari refleksi pemahaman saya pada fisika partikel dan kosmologi yang saya dalami, mencoba mengajak kita senantiasa berfikir dan berzikir setiap saat dalam kehidupan ini. Saya tidak tahu apakah pesan tersebut tersampaikan, kalau tidak mudah-mudahan resume singkat ini membantu.

Akhirul kalam…

Dan, akhirnya kepengerusan deGromiest resmi beralih dari zaman Ismail Fahmi ke zaman trio Wangsa, Toto, dan Indra. Sebuah suksesi yang begitu cantik, di hari baik di tanggal baik di bulan baik. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, langkah kanan insyaallah sudah kita mulai untuk de Gromiest ke depan.

Masih banyak agenda kita, masih banyak yang harus dibenahi. Perjuangan masih panjang, revolusi belum berhenti. Riak-riak mungkin terjadi, tapi mari selalu saling mengingatkan supaya perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah. Ayo kita bahu-membahu menuntaskan revolusi yang sudah kita mulai, lewat deGromiest untuk Islam!

…
Biar apa pun luka yang terbina
Takkan gentar merela kehendakNya
Terdengarlah bicara tersembunyi
Yang tertebar di langit dan bumi

Siapakah yang mampu menundukkan bayu?
Siapakah yang tahu hanya ada Satu.

…

4.17am, 30 Oktober 2004
Duindoornstraat 121

Febdian Rusydi
Pesuruh 1 Gerakan Perindu Ramadhan


Ramadhan yang Senyap

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesembilan dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Az-Zumar: 53.

Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian. Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan disebut sebagai hadits hasan dalam kitab Sahih Jami’ Shagir - 5235.

Kedua dalil naqli di atas ditulis sebagai awal buku DR. Yusuf Qardhawi, Tuntunan Taubat. Buku tersebut dengan jelas membawa kabar gembira, harapan, dan kasih sayang Allah kepada anak Adam yang — disadari atau tidak — tentu memiliki dosa sepanjang perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini. Sifat manusia itu sendiri yang tidak lepas dari kekhilafan, yang berada di antara sifat-sifat baik dan nafsu, atau karena keadaan lingkungannya, sedikit atau banyak tentulah berlumur dosa.

Sebagian pendapat mengelompokkan dosa sebagai dosa besar dan dosa kecil, namun yang lebih penting bagi kita adalah dorongan untuk segera bertobat, meminta ampunan Allah, dan tidak berputus asa dengan rahmat-Nya. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi kemudian, sehingga menunda-nunda bertobat justru dapat mencelakakan kita sendiri. Dosa kecil pun yang disepelekan dapat menjadi dosa besar karena keangkuhan pelakunya, sedangkan dosa besar yang disesali dan dimintakan ampunan kepada Allah tentulah akan dikabulkan. Seperti yang telah dijanjikan sendiri oleh Allah dan sifat Allah itu sendiri yang Maha Penerima Taubat (At Tawwab).

Bertobat dapat dijadikan sarana untuk “mengosongkan” diri kita. Meluruhkan semua endapan-endapan perasaan dan sikap tidak terpuji yang telah menggumpal. Dengan meminta maaf kepada orang lain — sebagai salah satu syarat bertobat, sebelum meminta ampun kepada Allah — kita dapat menjalankan amanah yang diminta Allah kepada umat-Nya. Bahkan dengan sangat bagus, Jalaluddin Rakhmat menulis bahwa ibadah untuk Allah itu adalah berpuasa dengan pengkhidmatan kepada sesama ciptaan-Nya.

Ah, Ramadhan ini, aku ingin terus berada di dalam suasanamu yang senyap, sehingga dapat kudengar hatiku sendiri yang bersuara lebih bening. Jika Engkau memberi banyak waktu-waktu baik untuk berdoa selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan balasan untuk amal perbuatan baik di bulan ini, aku ingin berhenti berpikir egois bahwa itu semua dilimpahkan untuk diriku, melainkan kesempatan yang lebih banyak lagi untuk menghamba hanya kepada-Mu.


Kuliah Umum Prof. Azyumardi Azra

Filed under Ramadhan 2004

Pak Azra, panggilan beliau, akan memberikan kuliah umum dengan topik “Pendidikan di Indonesia: Permasalahan dan Gagasan”. Topik ini diambil, karena sejalan dengan hasil diskusi deGromiest di rumah Mbak Sari beberapa bulan yang lalu, serta sejalan dengan permasalahan besar Bangsa Indonesia yang terletak pada pendidikan. Satu lagi, ini juga sejalan dengan gagasan KBRI untuk mengajak kita berpikir tentang nasib pendidikan di Indonesia dan menyumbangkan pemikiran kepada Mendiknas yang baru.

Kesempatan bagus ini merupakan tawaran dari Atase Dikbud KBRI.

Jadi, kita akan ada gawe lagi, dengan kedatangan tamu penting ini. Bagi yang sudah kenal pemikiran beliau, pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini. Yg baru kenal, silahkan lihat ini:

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/azyumardi-azra/index.shtml

Hari/Tanggal: Minggu/31 Oktober 2004
Waktu : jam 2.45 - 7.00 pm (sharp!!!!)
Tempat : Concordiastraat 67A
Rumah Mas Amal dan Mbak Heni
Agenda : 3.30 - 5.00 pm (kuliah umum dan tanya jawab)
5.xx - selesai (buka puasa dan sholat maghrib)
Rombongan KBRI pulang ke Den Haag.


Susunan Acara Nuzulul Quran 1425H

Filed under Ramadhan 2004

HALOW HALOW RAKYAT RRG TERCINTA

GPR dengan ini mengundang semua rekan-rekan untuk datang menghadiri peringatan hari penting kita: Nuzulul Quran.

Tanggal: 29 November 2004
Tempat: Tuinzaal, Academic Gebouw
Jam: 5pm - 9pm

Acara ini juga akan dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI

Alokasi waktu

5pm - 6.15pm = Lapor diri bersama KBRI
6.15pm - 7pm = Persiapan berbuka, Maghrib, berbuka ala kadarnya bagi rekan-rekan yang berbuka di Tuinzall
7pm - 8.20pm = Nuzulul Quran
8.20pm - 9pm = Serahterima kepengurusan deGromiest

AJAK LAH sanak keluarga handai tolan, mantu mertua kakak adik, pacar teman sodara.
Akan disajikan makanan ala kadarnya (bukan nasi + lauk pauk seperti berbuka puasa bersama). Insyaallah cukup mengenyangkan selagi menikmati kesyahduan acara. Jangan lupa untuk membawa minuman ala kadarnya (uangnya akan diganti oleh deGromiest) yaaaa.

Rangkaian Acara

* Pembukaan
- Kepala kafilah deGromiest
- Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI

*Pembacaan Ayat Suci Al-Quran
qori’ : Indra Muliawan
saritilawah: Kak Agnes (?)

* Dialog Nuzulul Quran
bersama “Loedroek Tjap Martini Tower”
Cak Fu & Cak Tri, diiringi flute Cak Totok

* Nyanyian Kalbu, “Doa Khatam Quran”
Bersama-sama kita alunkan dipandu oleh Grup Pemuda/I Bernyanyi Gromiest
Diiringi petikan merdu gitar oleh Indra dan Pak Budi
Serta alunan flute Cak Totok

* Puisi Kematian
“Sebuah Ziarah Ke Kubur Sendiri”
karya: Taufiq Ismail
dibacakan oleh: Ismail
diiringi flute Cak Totok

* Puisi Kehidupan
“Kurahap Kalian Belum Bosan”
oleh Febdian Rusydi
diiringi petikan gitar Indra

* Penutup

Rangkaian acara serah terima kepengurusan deGromiest ke periode 2004/2005

* Sebuah Perpisahan
Ismail Fahmi
Ketua deGromiest periode 2003/2004

* Menatap Masa Depan
Indra Muliawan
Pjs Ketua deGromiest periode 2004/2005

* Serah Terima tongkat estafet

* Peresmian Radio Digital Minaara
Radio “Indahnya Kebersamaan Menuju Kemenangan”
(Menandai gebrakan 100 detik pertama kabinet baru)

* Doa dan Penutup


Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kedelapan dari hajatan Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul F. Masduqie.

Setiap tahun di bulan Ramadhan, Zakat menjadi primadona yang marak dibicarakan orang disampaing puasa yang merupakan isu pokok dibulan Ramadhan. Banyak orang ramai membicarakan Zakat baik melalui artikel, opini dikoran dan majalah ataupun menjadi tema pokok dalam acara ceramah subuh dan dialog menjelang berbuka puasa ditelevisi.

Memang zakat selain merupakan salah satu rukun Islam, Zakat juga memiliki kedudukan sangat penting dalam Al Quran. Oleh karena itu Allah s.w.t meletakkan perintah zakat ini pada posisi kedua setelah sholat. Ada sekitar 30 ayat dalam Al Quran yang menerangkan Zakat dan sekitar 27 ayat diantaranya mencantumkan kata zakat bersamaan dengan perintah sholat. “Aqimish sholaata wa atuzhzhakaata….”. dari sini kita dapat melihat betapa urgennya persoalan zakat ini. Sholat sebagai manifestasi keimanan umat pada sang Khaliq, sementara Zakat merupakan berkas sinar keimanan seorang hamba yang terpancarkan melalui kepedulian sosial.

Sebenarnya inilah inti pokok ajaran Islam. Islam tidak hanya mengutamakan persoalan uhrawi, namun keshalehan spiritual seorang muslim haruslah berimbas pada lingkungan disekitarnya dimana seorang muslim berada. Dengan kata lain seorang Muslim dituntut untuk memiliki keseimbangan relasi antara dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, “hablum minal Allaah wa hablum minan naas”.

Menurut Masdar F. Masudi, Zakat dan Puasa memiliki dua tujuan yang sama yaitu sebagai sarana pensucian.Puasa adalah sarana untuk mensucikan diri dengan cara mengendalikan nafsu makan, minum, seks, emosi dan sebagainya. Sedangkan zakat lebih spesifik pada pensucian harta,dimana harta yang kita dapat ada sebagian darinya yang merupakan hak bagi saudara kita yang tercantum sebagai 8 asnaf (penerima zakat).

Pengelolaan Zakat di Indonesia secara teknis sudah tergolong modern dengan pembentukan lembaga-lembaga zakat dan terakhir penulis dengar seorang wajib zakat bisa membayar zakat melalui sms. Namun secara subtansial zakat masih dipahami secara textual atau tradisional. Pengertian obyek atau sasaran Zakat masih merefer pada zaman semasa Rasulullah Muhammad seperti pertanian, emas, perdagangan,peternakan (onta, domba dll). Memang onta pada masa itu menjadi symbol kekayaan yang dibanggakan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman tentu hal tersebut perlu untuk disesuaikan. Definisi amwal yang berarti harta benda atau kekayaan dalam kalimat Hudz min amwaalihim shadaqatan tuthahiruhum…… dalam kontext sekarang tentulah harus disesuaikan. Jabatan dan profesi bisa dimaknai sebagai kekayaan karena keduanya dapat menjadi sumber kehidupan dan menghasilkan harta benda sebagaimana onta dan domba di masa Nabi.

Dengan demikian seorang mentri atau presiden tidaklah layak jika hanya mengeluarkan sekian ton beras dan gula setiap tahun yang mereka anggap sebagai zakat mereka. Sedangkan kebanyakan harta yang mereka miliki bukan hanya dari gaji sebagai president, mentri, ataupun pejabat eselon. Namun tak jarang dari mereka yang merangkap sebagai komisaris sebuah perusahaan, memiliki tanah, villa, emas dan deposit di bank. Jika mengikuti ketentuan zakat maka 2.5% dari total harta masing-masing dari mereka harus dikeluarkan sebagai pembayaran zakat. Sebagaimana pernah dilaporkan oleh sebuah lembaga pemeriksa kekayaan pejabat beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang memiliki total kekayaan senilai 6 milyard rupiah atau bahkan lebih dari itu. Umpamakan saja 6 milyard dikalikan 2.5 % sudah ada sekitar 150 juta rupiah, itu untuk satu pejabat. Asumsinya negara kita mayoritas penduduknya adalah muslim sehingga para pejabatnya pun kebanyakan juga muslim. Hal ini belum termasuk para pedagang, konglomerat, pialang saham, para direktur dan eksekutif.

Memang Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka seharusnya zakat bisa menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Jumlah muslim yang 90% dari total populasi 200 juta, maka anggap saja muslim yang wajib zakat sekitar 60% sehingga ada sekitar 120 juta penduduk. Jika diasumsikan harga 2.5 Kg beras Rp.5000 maka pada malam hari raya Idul Fitri bisa terkumpul uang sebesar 600 milyard rupiah, itu belum termasuk zakat harta, infaq dan shadaqah para orang kaya dan pejabat yang bisa mencapai 150 juta rupiah per orang. Anggap saja jumlah konglomerat muslim di indonesia ada sekitar 1 juta orang, jika setiap konglomerat membayar zakat 100 juta rupiah maka totalnya bisa mencapai 100 trilyun rupiah. Sehingga bila digabung maka jumlahnya bisa setara dengan APBN kita.

Jika pengelolaan zakat tersebut dapat dilakukan dengan baik maka maka persoalan sosial seperti TKI terlantar, pengungsi, anak jalanan, anak putus sekolah, dan pengangguran akan dapat teratasi. Karena pada dasarnya harta hasil Zakat dapat dikelola menjadi lebih modern dan berdaya guna semisal pemberian beasiswa, pemberian kursus ketrampilan, peminjaman modal usaha dll. Namun sekali lagi yang perlu disayangkan adalah bahwa Zakat masih lebih banyak dimaknai sebagai rutinitas dan ritualitas yang maknanya tak lepas dari 2.5 Kg beras yang dibayarkan menjelang malam Idul Fitri.

Saya mensarankan kepada pelaku survey kemiskinan agar melakukan research kemiskinan di Indonesia menjelang malam Idul Fitri, bisa dipastikan angka kemiskinan akan turun sangat drastis dimalam itu dan jangan melakukan research di hari lain karena seusai shalat Idul fitri angka kemiskinan akan kembali melonjak sangat drastis pula.

Mungkin ini bisa menjadi bahan pemikiran masyarakat deGromist seusai study dan tinggal di Indonesia.Pengelolaan Zakat dapat menjadi salah satu agenda program alumni deGromiest untuk melanjutkan pertautan silaturrahiim diantara kita. Amiin.


Radio deGromiest

Filed under Agenda deGromiest

Sun, 24 Oct 2004 23:19:22

Assalamu’alaikum…

Selepas latihan nyanyi, puisi, dan dialog untuk Nuzulul Quran, di Jalan Pendudukan, yang tersisa adalah obrolan yang sangat positif tentang gerakan deGromiest selanjutnya. Ada Pak Toto, Pak Budi, Pak Tri, Indra, Buyung, Ismail, Agnes, Lala dan Malik (ikut2an nggangguin…)

DEJAVU

Seperti dejavu, nostalgia, Pak Toto memberikan pandangan yang panjang lebar tentang pendapat beliau mengenai mahasiswa Indonesia khususnya di Groningen ini. Seperti ada semangat yg menyala di mata mahasiswa2 tersebut. Berbicara tentang asumsi, teori, ideologi, idealisme… meingingatkan beliau pada 15 tahun yang lalu. Ketika keputusan harus diambil: turun ke jalan atau tidak?

RUANG IDEALISME

Yang dapat kutarik dari obrolan tersebut adalah: apa yang kita lakukan di sini, sebagai mahasiswa Indonesia, ketika kita melakukan hal-hal di luar tugas utama seperti kuliah, riset, dll… adalah untuk menciptakan sebuah ruang dalam hati dan pikiran kita. Ruang yang nantinya sangat diperlukan, yang akan mengarahkan tindakan ketika kita sudah kembali ke tanah air. Ruang yang memihak kepada bangsa. Ruang yang bersifat idealis. Ruang yang sangat penting, ketika roda kerja memaksa kita harus pragmatis dan praktis, berpikir pendek dan mungkin hanya ‘mengambil kesempatan’. Ruang yg akan membawa kita menjadi khalifah, rahmatan lil alamin, bukan hanya untuk diri sendiri.

RAPAT MEJA BUNDAR

Oleh karena itu, digelar lah rapat meja bundar ketika berbuka puasa (siomay, bakso, udang goreng, ayam champignon..), antara oknum IM, FR, IF, AT, LL, dan MK.. mendorong diadakannya sebuah revolusi di tubuh deGromiest. Sudah saatnya kini deGromiest melangkah ke dunia luar, membuka diri dari sekat kota kecil Groningen. Uang logam 2 euro yagn diinfaqkan, lalu disalurankan ke Indonesia, adalah salah satu hal yang paling nyata dari gerakan kepedulian yg bisa kita lakukan. Kenapa? Karena 2 euro, benar2 sampai di tanah air.

Selain itu, ternyata sangat perlu untuk membangun ruang idealisme di diri kita. Satu kaki berpijak pada hal-hal yang idealis, satu kaki lagi berpijak pada hal-hal yang pragmatis.

REVOLUSI

deGromiest sudah cukup sukses dengan web2nya. Ada Serambi, Cafe, Wong, dan Journal. Terimakasih yg sangat besar kepada Raihan dan Safira yang telah ‘menggerakkan’ Cak Amal untuk memulai upaya mulia membangun Media bagi deGromiest. Ini ibarat saluran, yang melancarkan kebuntuan dan kemacetan pemikiran yang menyambungkan diri2 kita.

Setelah hampir satu tahun, sebuah revolusi perlu dibuat. Kita perlu melangkah kepada saluran yang lebih besar. Gambar dan teks rasanya tidak lagi mampu menampung aliran kebutuhan dan semangat para anggota. Contohnya, Fathiya, Raihan, Safira, Lala, dan Malik.. belum bisa secara langsung menikmati atau mendaptkan manfaat dari media ini. Bukankah mereka juga anggota deGromiest? Jangan sampai menunggu mereka menuntut revolusi. Kita sendiri yang harus memulainya.

RADIO DEGROMIEST

Bayangkan, jika sebelum tidur, anak2 kita bisa mendengarkan kisah heroik perang jaman Nabi Muhammad, Kesabaran Nabi Ayyub, Taubat Nabi Adam, Hensel and Gretel, Nisa dan Mio yang berani tidur sendiri… Para orang tua mendengarkan wawancara dengan Mas Tomi (ayahnya Faiz) tentang bagaimana mendidik anaknya… Pagi-pagi sudah bisa mendengar rangkuman berita Nasional dari Indra… Kuliah umum kosmologi yang bersemangat… Wawancara dengan mahasiswa2 yang sudah selesai study tentang hasil riset mereka.. Kisah kehidupan muslim di Belanda, baik dari mualaf, komunitas suriname, dan mahasiswa2 indonesia.. Ceramah2 dari ustad Indonesia (Aa Gym, Miftah Faridl, …), Tips2 tinggal di Groningen bagi mahasiswa yg baru dateng… dan tak lupa.. lagu2 Bimbo, Siti Nurhaliza, Debu, Sulis & Haddad Alwi, Raihan, Chrisye, Ebiet, Iwan Fals… yang ‘menggerakkan’.

Bayangkan, jika itu semua ada di http://radio.degromiest.nl….

Wassalam.

PS: Selanjutnya Indra akan memaparkan secara detail gagasan
revolusi ini.
Monggo mas….

Purn. Ismail


24 Oct 2004 23:33:44
Penjelasan dari Jendral Indra

Assalamu’alaikum,
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Setelah Introduksi dan Pembeberan plot Panglima Besar Revolusi Jenderal Hampir Purnawirawan Daripada Yang Mana Ismail Fahmi, saya rasa semua udah jelas, bahwa sebentar lagi radio deGromiest akan segera mengudara di ruang maya.

Nama dan Motto radio ini sebenarnya belum diputuskan, sehingga untuk sementara, kita pakai nama Radio deGromiest,.. dengan tidak menutup kemungkinan pemakaian nama itu dapat diteruskan apabila memang tidak ditemukan yang lebih cocok..

Sang Jenderal Daripada Yang Mana Ismail Fahmi memang sudah punya ide ini sejak beberapa waktu yang lalu, tetapi akibat pembadaian otak di konferensi meja bundar (KMB) sore tadi, akhirnya dikonkretkanlah rencana pengudaraan radio tersebut. Karena, konsep tetap akan berada di tatanan konsep dan mungkin larut dalam pragmatisme kehidupan sehari2 kalau tidak dilaksanakan.

Intinya, radio itu adalah corong suara kita yang dapat didengar di seluruh dunia, tentunya untuk yang punya internet verbinding yang cukup cepat untuk streaming.. hehehe..

Untuk itu, peran kita semua amat ditunggu untuk mengisi slot acara di Radio.. mungkin Cak Fu mau nyanyi lagi Iwan Fals ? atau Bang Fahmi mau iklan Bakso? atau Itobh mau pamer resep Sabar Jaya? dan lain sebagainya.. sampai saat ini, slot acara yang sudah dipersiapkan adalah (tidak diurutkan berdasarkan apapun) :

1. Acara Anak-anak, pembacaan cerita “malam hari” yang rencananya akan diasuh oleh Kak Agnes. Terbuka juga kemungkinan acara yang diisi oleh anak2 sendiri. Yang masih merasa anak2 tentu boleh ikut.. hehe..

2. Acara diskusi dengan berbagai topik. Bisa dari GPMPS, atau live discussion dengan orang2 pilihan produser acara (IF)

3. Pemutaran lagu.. wajiblah disemua Radio.. lagu2nya akan disupply dari febdian.net, dari koleksi pribadi Indra, dan mungkin sekali dari ketua terpilih de Gromiest, Wangsa, yang udah ancang2 upgrade harddisk karena udah hampir penuh dengan MP3.. kayaknya sih bakal terima request juga lho..

4. Summary berita mingguan. Bisa dari tanah air, bisa bukan dari tanah air, .. kebetulan aja saya tiap hari baca koran online, dan kadang2 yang offline.. jadi kalo gak sempat baca dan ingin dengar berita, silakan simak radio deGromiest..

5. Monolog.. hasil perenungan pribadi, puisi, dan lain-lain..

6. Orasi dan Opini, diasuh oleh Uda Buyung yang memang kita kenal punya hobi orasi. Opininya harus kita supply.. kalo nggak acara ini jadi corong Buyung.. hehehe..

7. Anda sakit perut karena makan kepala udang? badan memar2 tertabrak oma fiets? atau kurang gizi karena nggak bisa masak? ikuti siaran “Kak Agnes menjawab” segala permasalahan kesehatan akan dibahas disini.. Dan karena slot ini diproduseri Kak Agnes, maka mungkin akan dilebarkan sehingga mencakup acara FTM, atau parenting.. hanya mohon diingat,.. ini bukan Agnes L. Tobing..

8. Wawancara profil dan hasil riset. Pengalaman, profil dan pengalaman serta mungkin, hasil riset dari orang2 seperti alumni2 yang sudah pulang, atau handai taulan kita yang memang perlu ditilik alur hidup dan pengalamannya yang mungkin bisa kita manfaatkan.. dan kalau bisa, kita coba wawancara dengan Presiden Yudhoyono atau para ex-president.. tapi gak janji deeh.. hehe

9. Kehidupan muslim di Groningen sehari-hari dari berbagai perspektif.. masalah kesulitan tempat shalat di kampus.. daging2 halal, ataupun isu2 hoofddoek yang sempat mengegerkan perancis.. akan dibahas disini..

10. Ceramah2 dari uztad2 di tanah air, tentu bukan live, karena cuma ngambil aja dari rekaman2 yang ada. Diusahakan dimintakan izin kepada uztad ybs ..

11. Resensi buku baru, film2 baru, yang dikemas dalam bentuk obrolan santai menikmati kopi hangat beserta nasi dan lauk pauk lengkap.. hehehe..

12. ….tidak ketinggalan… kuliah umum GPMPS … !

13. Pembahasan isu2 internasional.. kekacauan di Irak, dinamika kehidupan uni eropa, ekspansi pasar cina, atau isu lokal.. seperti ada penyebab demonstrasi serikat buruh di Amsterdam, laporan lalulintas sepeda disekitar groningen, jadwal kereta, … kesemua isu ini diusahakan aktual.. (biro jodoh? gimana nih yung? hehe)

Acara-acara ini masih bersifat tentatif, dan penjadwalannya juga masih akan diatur lebih lanjut.. sehingga jangan ragu2 layangkan sumbang sarannya.. kalau nggak sumbang saran, para produser mungkin akan segera menyusun acara “dari desa ke desa”, “kelompencapir”, atau sandiwara radio saur sepuh…

Sembari nunggu saran masuk, daripada ditunda, radio ini akan diusahakan “on air” minggu2 ini.. tentu dengan format siaran percobaan dulu.. url, softwer, dll, akan diumumkan kemudian oleh sang Jenderal hampir punakawan, eh.. purnawirawan Ismail Fahmi.. (atau menteri telekomunikasi, Prof. Ikhlasul Amal?)

Wassalam,
Indra


Mon, 25 Oct 2004 03:59:45
Penjelasan dari Prof. Ikhlasul Amal

Bismillahhirrahmanirrahim.

Oke, oke…
Di mana-mana anak-anak muda tidak sabaran. Tengah malam yang gelap gulita tiba-tiba minta dipasangkan pemancar radio. Kalau zaman Harmoko harus minta izin dulu tuh, tidak bisa langsung FM (kecuali sebagian sahamnya punya anak babe), apalagi ini langsung minta versi siber.

Jadilah saya yang sedang enak-enak mendengar sayup-sayup lagu nostalgia dari Voice of Indonesia, dan sedikit terkantuk-kantuk di sebelah Atijembar, langsung turun ambil sari jeruk dan secawan kudapan agar mata terjaga lagi. Instal ini dan itu, email yang datang kemudian memang dari para superhero, atau tukang ronda keliling (satu dari sektor Selatan, satu lagi tetangga masjid, dan satu lagi penjaga Centrum).

Semua melakukan provokasi tentang stasiun radio, padahal sudah diotak-atik di bagian yang misterius, tetap saja “streaming” belum bekerja. Duh, masak kalah dengan sistem operasi jendela yang dipakai di pemancar gelap tanpa izin di Asrama Kuning!

Sampai akhirnya, keluar jurus Dewa Ngantuk — yang entah dari mana tidak jelas, pokoknya tiba-tiba merasa seperti dibisiki oleh Google, dan dicoba… jreng! Pakai XMMS (maaf, tidak terima WinAmp apalagi Windows Media Player) akses pakai HTTP… bunyi!

Silakan dicoba siaran perdana:

* http://radio.degromiest.nl
-atau, kalau gagal-
* http://radio.degromiest.nl:8000

Karena belum ada stok bunyi-bunyian yang akan diperdengarkan, maka sementar semau saya dulu.

Wassalam @ 04.00

amal


Bulan Sabit Pun Bersinar

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketujuh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Febdian Rusydi.

Sebuah Nasihat Abadi Pada Diri Saya

Tentu kita sudah memikirkan bahwa Bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan dari cahaya Matahari. Namun sudah pernah kah kita memikirkan kenapa dia bisa memantulkan sedemikian rupa? Apakah kalau kita di Bulan juga akan melihat Bumi memantulkan cahaya Matahari?

Ach, tinggalkan dulu pertanyaan itu. Kita nikmati sejenak sinar sang rembulan ini.

Sinar Bulan memang membuat dia indah, tak peduli betapa capuk wajahnya. Lagian berapa banyak yang tahu wajahnya capuk? Sama dengan kegunaannya. “Tentu saja Bulan lebih berguna daripada Matahari. Bulan terbit malam ketika gelap, sementara Matahari terbit siang ketika hari sudah terang,” Begitu seloroh polos Badrun teman saya.

Salah kah mereka? Kalau mereka memang tertipu oleh indahnya sinar sang Bulan, mereka jelas tidak salah. Tahu tertipu pun siapa yang peduli, kala malam datang sinar Bulan menolong mereka menerangi jalan.

Bulan ini mirip-mirip dengan kita. Banyak sekali orang-orang pintar yang terlahir merubah wajah dunia ini. Sebut saja Isaac Newton, hanya dengan memakai persamaan geraknya bangsa Amerika sudah berkali-kali menerbangkan roket bolak-balik Bumi — luar angkasa. Dan banyak lagi contoh orang-orang terkenal lainnya. Mereka itu memang bulan. Suka atau tidak, mereka sudah menerangi beberapa jalan pada kita. Terlepas dari pilihan kita untuk setuju atau tidak, tho wajah peradaban dunia sudah digaris-garisi oleh kehadiran mereka.

Kita juga adalah bulan. Kita mencerahkan orang, dengan segala kelebihan yang kita punya. Namun, wajah kita tak luput dari capuk. Capuk? Ya. Capuk karena kita resah, walau disisi lain orang lain tercerahkan karena kita. Atau capuk karena tak sanggup mencerahkan orang lain. Lebih parah lagi, terang kita seperti bulan sabit.

Tengoklah bulan sabit. Dia tetap bersinar walau cuma separuh atau malah kurang. Sinarnya remang-remang. Coba lah keluar saat bulan sabit bersinar. Jalanan gelappun masih bisa terlihat, walah kadang ga bisa bedakan selokan ama rumput.. Keindahannua juga berkurang. Namun demi praktis kita masih berpikir “selama emang masih bisa menuntun, peduli apa dengan keindahan?”.

Semakin banyak ilmu yang kita pahami, semakin banyak rahasia alam yang kita mengerti, semakin bersinar lah kita. Namun sinar itu belum membuat kita menjadi purnama. Sialnya lagi, malah mulai berpikir seperti Badrun teman saya.

Berapa banyak orang-orang pintar kemudian menafikan keeksistesian Tuhan? Apakah lantas kemudian Tuhan mencabut kasihNya? Atau tiba-tima membuatnya jadi bodoh? Mereka seperti Bulan sabit, tetap bersinar walau cuma separuh.

Sementara itu ada orang-orang seperti Kang Bejo. Siapa yang sangka beliau yang cuma tahu mencangkul begitu bahagia dengan sebatang rokoknya. Dia tidak tahu bahwa alam semesta ini mengembang, dia tidak tahu bahwa paradigma kita tentang dimensi alam semesta harus dirubah, dari 4 ke 11 dimensi, jikalau Superstring Theory adalah benar. Dia malah mungkin masih menganut geometri euclidian. Dia tidak peduli tetangganya berlomba-lomba mencari harta. Baginya hidup adalah kesederhanaan, tak perlu muluk-muluk dengan dunia. Jalani sajalah sambil tetap bersukur. Kesedikittahuannya pada modernisasi justru membuatnya tetap dekat dengan Tuhannya. Dia juga bersinar, walau mungkin hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, sebegitukahnya kita sehingga, sengaja atau tidak, mengacuhkan saudara yang lain yang butuh pencerahan? Keegosian tanpa sengaja ini juga ibarat Bulan sabit, bersinar tapi cuma separuh.

Tuhan memang Maha Adil. Bulan purnama bersinar, yang sabitpun bisa bersinar. Walau, kalau kita boleh memilih tentu lebih ingin menjadi purnama. Kecapukan kita mungkin tak terhilangkan. Namun keindahan kita bisa ditambah untuk mengimbangi kecapukan tersebut.

Siapa sih yang ga pengen jadi Bulan Purnama, berotak Newton berhati Kang Bejo?


Istana dalam Lumpur

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keenam dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Agnes Tri Harjaningrum.

Your daily life is your temple and your religion, Kahlil Gibran.

Setiap orang boleh-boleh saja untuk setuju atau antipati dengan kalimat ini. Apalagi jelas-jelas kalimat tersebut ‘hanya’ milik seorang penyair, bukan sebuah hadist maupun ayat-ayat Al Qur’an. Akan tetapi, sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan bahwa seekor semut pun terkadang membawa kebenaran. Jadi bisa saja kalimat diatas menyimpan kebenaran bukan? Cerita berikut barangkali bisa sedikit menyingkap betulkah ada kebenaran dalam kalimat sang penyair.

Alkisah, di sebuah kota metropolitan ternama, hiduplah seorang lelaki setengah baya yang kaya raya dan sangat mulia akhlaknya. Hal lain yang menjadikannya istimewa adalah karena senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.Tentu saja bukan senyuman milik orang gila, sebab si lelaki masih sangat-sangat waras. Lantas, apa pantasnya lelaki ini dijadikan bahan cerita?

Seperti hidup manusia lainnya, perjalanan kehidupan tak pernah sama. Kadangkala dipenuhi tawa dan bahagia, terkadang pula diiringi tangis dan kesedihan. Terlahir di sebuah dusun terpencil dengan orangtua yang miskin, membuatnya ingin mencicipi kemewahan dunia. Dikaruniai otak yang terbilang lumayan, dikejarnya mimpi melanjutkan studi di kota besar. Berjuang melawan saingan, diraihnya pula impian meneruskan studi di negeri orang. Sepulang dari tanah orang, hidupnya bagai dalam genggaman. Bekerja menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar, berapapun uang yang diperlukan tak lagi menjadi hambatan.

Ada pepatah yang bilang, ’semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup’, begitu pula kehidupan membawanya. Hidup memang tak lagi kekurangan, namun harga yang harus dibayar pun semakin mahal. Hitam kelamnya dunia bisnis dan persaingan terkadang memusingkan kepalanya setiap hari. Dihina, dicaci dan dibenci oleh lawan menjadi makanannya sehari-hari. Kawan yang menentramkan pun banyak pula dijumpai, namun ulah lawan bisnis ataupun bawahan yang menjengkelkan selalu hadir dalam kehidupannya setiap hari.

Klise memang, cerita biasa mungkin. Namun ternyata, dia lelaki luar biasa. Silih bergantinya masalah yang timbul setiap hari, selalu dilaluinya dengan senyuman. Bukan senyuman palsu karena paksaan, tetapi senyuman tulus dari lubuk hatinya yang juga selalu tersenyum. Kesedihan, kekesalan dan kemarahan yang datang, kegalauan ketika beragam masalah muncul, terkadang memang memporak-porandakan hati dan pikiran. Tetapi semua ‘lumpur’ itu tetap berhasil membuatnya serasa hidup dalam istana. Rasa sedih, rasa marah, kecewa, benci, dendam dan semua rasa negatif yang muncul dihatinya, selalu bisa diolah dan ‘dijinakkan’ sehingga yang muncul hanyalah sebuah senyuman dan kata-kata penuh kedamaian.Tak pernah dibiarkannya si ‘lumpur’ berlama-lama bertengger dalam hatinya. Tidak pernah pula terlontar ucapan dan tingkah laku yang menjengkelkan. Hatinya selalu damai, selalu tentram apapun ‘lumpur’ yang datang. Dia memang istimewa karena telah berhasil membangun istana dalam lumpur di hatinya.

Dia, si lelaki tengah baya, selalu mengingat dan melakukan pesan guru mengajinya di langgar desa dulu. ” Hiduplah seperti Rosulullah nak, ketika berkali-kali diludahi seorang yahudi, sewaktu ditinggal Khodijah-istri yang teramat dicintainya, saat gundah dan gelisah datang melihat tingkah laku umat-umat dan musuhnya, sebagai manusia biasa, rasa sedih, kesal, kecewa, marah, benci,dan berbagai rasa pasti berkunjung juga di hatinya. Namun hatinya laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Hati adalah wadah, kalbu adalah tempat untuk menampung segalanya. Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu mu sendiri, nafsu yang setiap hari mengembara di hatimu, Nak. Ketika kau telah berhasil merubah semua ‘lumpur’ dan segala kepahitan yang muncul di hatimu menjadi kedamaian dan kebahagiaan, dikala itulah kau telah berhasil mengalahkan nafsumu sendiri.”

Kehidupan manusia, siapapun dia, mulai dari abang becak, mahasiswa, direktur sampai artis kenamaan , dalam kesehariannya pasti selalu berjumpa dengan masalah. Ketika itu terjadi, rasa marah, kecewa, kesal, sedih dan beragam rasa ‘lumpur’ lainnya selalu berkunjung ke hati manusia manapun. Bukan hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali rasa itu datang, tetapi setiap hari. Manusia yang berhasil meredamnya, merubah semua pahit menjadi bahagia laksana telaga, dialah manusia yang sedang beribadah, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri.

Tak perlu jauh-jauh ingin pergi haji jika memang belum mampu, tak usah pergi ke medan perang di Afghanistan kalau memang tak mungkin, tak perlu jua menyesal ketika belum bisa menyantuni anak yatim. Karena sesungguhnya ibadah besar ada dipelupuk mata. Sepele mungkin, sederhana tampaknya, tetapi melaksanakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengolah kesal saat dimarahi atasan, menjinakkan marah ketika anak di rumah berlaku menjengkelkan, dan mengatasi berbagai gundah gelisah yang muncul di hati menjadi sebuah nikmat adalah sebuah perjuangan. Sehari-hari meredam diri, menjinakkan hati dari semua ‘lumpur’ yang datang adalah sebuah jihad akbar. ‘Your daily life is your temple and your religion’ menyimpan sebuah kebenaran ketika manusia berhasil melakukannya, membangun istana dalam lumpur di kehidupan sehari-hari.

Wallahualam bissawab.


Berikut ini adalah daftar anggota dan kafilah deGromiest untuk tahun 2004/2005. Melalui daftar ini, anda dapat mengetahui siapa saja yang saat ini berada di Groningen, dan siapa contact person untuk tiap-tiap kafilah (berdasarkan student house atau lokasi), sehingga memudahkan anda menjalin silaturahmi.

Berdasarkan Student House

Albertine Agnesplein

Bisschop Nierman C.

Blekerslaan
Tanti Sugiharti (4C2, 9724 EJ, Groningen)
Pak Sateriadi

Kornoeljestraat / Blue Building (Selwerd I)
Abdul Gafur (2E18, 9741 JB, Groningen)
Agum (2A2)
Budi (2K13)

Esdoorlaan / Red Building (Selwerd II)
Guruh Kusumo

Duindoornstraat / Yellow Building (Selwerd III)
Buyung

Kraneweg/Melkweg

Moesstraat

van Starkenborgh

Martinihouse

Nijenborgh / Kontainer
Henry
Riko
Ali
Adit
Ponky Ivo
Era
Mbak Nur
Syarif

Basaltflat
Pak Toto
Pak Wahyu
Nina
Meli
Shanty
Bayu

Berdasarkan Lokasi Rumah / Buurt

Corpus De Hoorn

Bezettingslaan 30, 9728 EH
Ismail Fahmi & Agnes
Lala & Malik
Mobile: #06 410 54573 (ismail)
Mobile: #06 209 08509 (agnes)

Selwerd/Paddepoel

Dierenriemstraat 171
El-Fahmi Yaman & Yulia
Fathiya & Nurul
Yunia Sribudiyani

Concordiastraat 67a
Ikhlasul Amal & Heni Rahmawati
Raihan & Safira
Khairul Saleh

Wilgenlaan 54
Teguh Sugihartono & Margareth
Michele

Centrum

Haddingestraat 28B
Wangsa Tirta Ismaya

Muh. Arfan
Grote Markt 16, 9712HT
Mobile: 0638154614

Hoofstraat 1, 9712 JA
Eko Hardjanto
Mobile #: 0652240619
Apartment # 050-3187291


Edaran KZIS ISNET

Filed under Ramadhan 2004

Berikut ini kami teruskan edaran dari KZIS tentang pembayaran zakat, infaq dan shodaqah. DeGromiest bekerja sama dengan KZIS untuk menerima dan menyalurkan ZIS kepada yang berhak menerima di Indonesia. Besar zakat fitrah adalah 8 euro/jiwa.

Pembayaran zakat fitrah untuk wilayah Groningen dilakukan sebagai berikut:

  • Langsung kepada bendahara deGromiest

  • Transfer bank ke rekening deGromiest

KZIS Perwakilan Groningen, Belanda

Diana Jirjis
Account No : 9690278 a.n. De Gromiest
Bank: Post Bank Groningen
Address : Westerbadstraat 48, 9726 CS Groningen
Phone : 050 116444 atau 0619046578 (mobile)
e-mail : [email protected]


KOMITE ZAKAT, INFAQ DAN SHADAQAH (KZIS) - ISNET
Bogor, 13 Oktober 2004 No : 01/KZIS/X/2004

Kepada :
Jama’ah Pengajian/ Kaum Muslimiin/ Muslimaat
di Manca Negara

Hal : EDARAN/TAWARAN PELAKSANAAN IFTHAR (BUKA BUASA), PENGUMPULAN INFAQ, SHADAQAH, ZAKAT MAAL, ZAKAT FITRAH DAN FIDYAH RAMADHAN

AsSalamu ‘alaikum waRahmatuLLahi waBarokaatuh,

BismiLLahirRahmanirRahim,

Alhamdu lillahi ladzi hadaa naa lihadza, wamaa kunna linah tadiya laulaa an hadaa naa Allah, was sholatu wassalaamu `ala sayyidina Rasulillah Muhammad bin Abdillah, wa `ala aalihi, wasahbihi waman tab`a hudaa hu ila yaumi yal qaahu.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS 2:177).

Saudara-saudara seiman yang dirahmati Allah SWT.

Insya Allah akan tiba bulan yang akan menjadi ladang amal bagi kita, yaitu bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, dengan izin-Nya, kita berharap dapat melaksanakan jihad, ijtihad dan mujahadah, membersihkan diri kita dari niat buruk, dendam, benci, marah, iri hati dan penyakit hati lainnya. Kita berfikir dan bekerja keras mensucikan kehormatan dan diri kita dari maksiat, dosa, kemunafikan dan kefasikan. Dan di penghujung bulan Ramadhan kita akan bersihkan harta kita dari barang haram dan syubhat.

Sungguh, orang-orang baik akan minum dari gelas berisikan kafur, mata air surga yang diminum hamba-hamba Allah, mereka pancarkan airnya melimpah ruah. Mereka penuhi nazar, takutkan hari yang azabnya menyebar. Mereka berikan makanan yang mereka perlukan kepada orang-orang miskin, yatim dan tawanan (seraya berkata): kami berikan kalian makanan hanya karena mengharap ridha Tuhan, kami tak mengharapkan balasan dari kalian, tidak juga ucapan terimakasih (QS 76:5-12).

Inilah tazkiyatul maal, penyucian harta. Harta yang diperoleh dengan kerja keras dan halal. Namun betapapun senangnya kita memiliki harta tersebut, kita dianjurkan untuk menginfaqkan dan menyisihkan sebagiannya buat mereka yang memerlukan, mereka yang menderita, yang melarat dan sengsara, sebagai implementasi kebajikan yang dianjurkan Allah SWT.

Terkait dengan hal itu, kami dari Komite Zakat, Infaq dan Shodaqoh (KZIS) ISNET, Insya Allah bersedia menerima titipan zakat mal, zakat fitrah, fidyah, serta infaq dan shadaqah dari saudara-saudara semuanya untuk disalurkan kepada mereka yang berhak menerima; antara lain, melalui kegiatan-kegiatan yang dipersiapkan di tanah air berikut:

  • Ifthar (buka puasa) Ramadhan bersama anak yatim/-piatu dan kaum dhuafa.

  • Santunan bagi anak-anak yatim/-piatu yang miskin.
  • Santunan bagi orang-tua fakir-miskin.
  • Santunan bagi mu’allaf yang miskin.
  • Pemberian modal usaha bagi mu’allaf yang dha’if.
  • Pemberian modal usaha bagi fakir miskin/dha’if.
  • Dukungan bagi para da’i/da’iah.
  • Santunan untuk pendidikan.
  • Santunan untuk pembangunan tempat peribadatan.
  • Program penyaluran zakat fitrah dan fidyah kepada kaum muslimin yang berhak menerimanya di wilayah Indonesia.

Demikian hal ini kami sampaikan, mudah-mudahan Allah SWT. berkenan meringankan langkah dan melapangkan hati kita untuk senantiasa tunduk dan patuh kepada segala perintahNya. Amin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Bila saudara-saudara yang berkenan menyalurkan ZIS melalui kami, silakan menghubungi relawan KZIS setempat yang tercantum di bawah ini.

JazakaLLahuma khairan katsiran,
WasSalaamu ‘alaikum waRahmatuLLaahi waBarokaatuh,

Ketua ————- Sekretaris

Muaz Junaidi —— Arnita

(*) zakat fitrah untuk wilayah Belanda ditetapkan sebesar 8 EUR/ jiwa

Bendahara Umum KZIS:

Hanies Ambarsari
Balai Teknologi Lingkungan =96 BPPT Gedung 412
Kawasan PUSPITEK Serpong 15314 Tangerang, Banten.
Telp (021) 756-0919
Fax (021) 756-3116
HP 08179998237
[email protected]

Bank Central Asia (BCA) KCP Pamulang
No. Rekening: 4730201023 a/n. Hanies Ambarsari


Agenda Ramadhan 1425

Filed under Ramadhan 2004

Selamat Iedul Fitri 1425 H
Taqobbalallahu Minna Waminkum

Agenda Ramadhan Bersama deGromiest

Sabtu, 16 Okt 04
Buka puasa bersama
Westerbadstraat 48
(Rumah Itob)

* Jam 16.30 - 22.00
* Rapat Nuzulul Quran
* Kultum Pak Sateriadi
* Buka puasa & tarawih

Sabtu, 23 Okt 04
Buka puasa bersama
Wilgenlaan 54
(Rumah Teguh & Margareth)

* Jam 16.30 - 22.00
* Laporan kegiatan deGromiest periode 2003/2004
* “Rasanya menjadi muslim”, bersama seorang Muallaf Belanda
* Buka puasa & tarawih

Jum’at, 29 Okt 04
Peringatan Nuzulul Quran
Tuinzall Academie Gebow

* Jam 18.00 - 21.00
* Buka puasa
* Drama dialog
* Baca Puisi & Lagu
* Serah Terima Kepengurusan

Minggu/31 Oktober 2004
Kuliah Umum Prof. Azyumardi Azra
Waktu : jam 2.45 - 7.00 pm (sharp!!!!)
Tempat : Concordiastraat 67A
Rumah Mas Amal dan Mbak Heni
Agenda : 3.30 - 5.00 pm (kuliah umum dan tanya jawab)
5.xx - selesai (buka puasa dan sholat maghrib)
Rombongan KBRI pulang ke Den Haag.

Sabtu, 6 Nov 04
Buka puasa bersama
Bezettingslaan 30
(Rumah Ismail & Agnes)

* Jam 16.30 - 22.00
* Tema “Islam dan Media”, bersama Mas Tomi Satryatomo (ayah Faiz)
* Diskusi bebas
* Buka puasa & tarawih

11 Nov 04
Hari terakhir pembayaran Zakat Fitr
Melalui Bendahara

* Teknis: lewat transfer bank atau langsung.

Sabtu, 13 Nov 04
Sholat Iedul Fitri

Lokasi: Masjid Selwerd
Waktu: Jam 09.10

Minggu, 14 Nov 04
Halal-bi-Halal

Martini House (Student House)
Hosted by teman2 dari Bappenas
* Jam: ????

20 Nov 04
Perayaan Idul Fitri bersama PPI
Informasi menyusul

* Silaturahmi Iedul Fitri (halal bi halal)
* Pemilihan ketua PPI


Era Teknologi dan Kedewasaan Umat

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kelima dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul Fuad.

Heboh tentang pemikiran Abu Zayd yang kontroversial tersebut adalah imbas dari kemajuan teknologi Informasi dewasa ini. Ide atau pemikiran yang sebenarnya hanya untuk konsumsi kalangan terbatas menjadi milik publik. Ide pak Abu Zayd tentang Kritik Nalar al Quran, sebenarnya bukanlah barang aneh bagi orang-orang yang pernah belajar Ilmu tafsir lebih khusus sejarah tafsir. Dikalangan anak-anak IAIN jurusan Ilmu Tafsir Hadist pemikiran Abu zayd ini menjadi salah satu kajian bahkan salah satu buku beliau jadi bahan referensi mereka.

Sedikit dari ilmu tafsir, menurut ilmu ini Al-Quran terdiri dari dua unsur pokok. Pertama adalah Text, dia adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Karena Al Quran adalah media komunikasi antara Allah dan manusia. Bahasa Allah yang transendent,qodim,azali dan mutlak tentu tidak akan dapat dipahami oleh manusia. Oleh karena itu butuh perantara, yaitu al Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab. Tentu bukan bahasa Jawa, Padang ataupun Inggris karena memang nabi Muhammad tidak lahir di Padang melainkan di Arab. Menurut para ilmuwan bahasa itu kan produk budaya, simbol-simbol yang dikodifikasikan oleh manusia untuk menandai sesuatu, bisa berupa barang, nama orang dll. Nah yang menjadi persoalan, Kalamullah yang azali,qodim dan mutlak itu harus diterjemshksn dslsm bahasa lisan dan bahkan tulis dari manusia yang sifatnya terbatas. Tentu bahasa tidak mampu sepenuhnya menerjemahkan maksud Allah yang amat agung, universal dan mutlak.

Unsur kedua adalah pesan yang terkandung di balik text itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Al Quran itu kan tidak diturunkan Allah gedebug..30 juz seperti sekarang yang kita punya sekarang. Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahunan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ummat kala itu. Maka sesungguhnya urutan Al Quran itu tidak seperti yang kita punya sekarang. Yang pertama kan “Iqra’ bismirabbikal ladhi khalaq” trus yang terakhir kan “Al Yauma Akmaltu lakum diinakum…. ” Nah Al Quran turun itu kan pesannya disampaikan secara general, umum sehingga ummat waktu itu pun ada yang kurang jelas. Sehingga muncullah Hadist sebagai penjelasan Al Quran.

Al Quran sudah berumur lebih dari 1400 tahun. namun tetap utuh tak satupun huruf yang hilang. Seperti janji Allah “Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kamilah yang akan menjaganya”. maka Insya Allah bunyi Al Quran itu akan abadi hingga yaumil Qiamah. Nah yang menjadi perdebatan para ulama itu kan penafsirannya. Menyingkap pesan di balik text al Quran. Semenjak dahulu, sepeninggal Rasulullah banyak ulama’ yang menafsirkan Al Quran denag beraneka ragam, karena memang sudah tidak ada lagi yang di jadikan tempat klarifikasi (Nabi Muhammad). Sekedar info, madzab fiqih itu sebenarnya bukan hanya 4 tapi ada lebih dari 350 an madzab. Nah lo…

Bagi saya “pribadi” apa yang dilontarkan pak Abu Zayd bahwa Al Quran adalah produk budaya juga tidaklah terlalu salah, untuk tidak mengatakan benar. Dalam konteks memamang Al Quran turun untuk merenpon kondisi masyarakat setempat yang tidak lepas dari budaya setempat juga. (ini untuk saya pribadi bukan untuk ummat).

Saya juga melihat bahwa sebagai konsekuensi dari kemajuan tehnologi informasi, maka ide Abu Zayd ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga menimbulkan berbagai kelompok pro atau kontra yeng sebenarnya bisa memberi keuntungan pada kelompok yang ingin memecah belah ummat Islam. Ide abu zayd yang sebenarnya hanya pada tataran tafsir, seolah-olah menjadi Abu Zayd ingin merubah Al Quran. Sebagai umat Islam seharusnya kita lebih waspada dengan pihak ketiga ini.

Apa yang terjadi pada diri pak zayd bisa dilihat sebagai pergulatan pemikiran atau proses mencari kebenaran seorang anak manusia yang penuh dengan keterbatasan. Sehingga tidak layak bagi kita untuk mencaci maki dia, mengkafirkan dll. Karena kalo kita pertanyakan siapakah sebenarnya yang benar atau yang salah, kita tidak pernah tahu karena Allahlah yang maha tahu. Seperti seorang anak yang bertanya pada ayahnya “bagaimana bentuk Tuhan dan di mana Dia? ” tentu sangat tidak bijaksana kalo ayahnya memarahi anaknya karena pertanyaan yang jujur itu. Begitu pula Allah, dengan sifat rahman rahimnya Dia akan senyum-senyum melihat tingkah pak Abu zayd. Bukan seperti sebagian kita yang mencaci maki bahkan mengkafirkan atau menuduhnya sebagai agen Yahudi dan Kristen. Subhanallaah……Bukankah di Al Quran dikatakan bahwa “janganlah sekali kamu mencaci sebagian dari kamu, karena sesungguhnya kamu belum tentu lebih baik dari yang kamu caci”.

Nah sebagai masyarakat awam saya hanya mengambil hikmah dari dua beda pendapat ini. Sehingga saya sebenarnya punya keuntungan ganda untuk dapat juga belajar dari pemikiran Abu Zayd dan kelompok yang menentangnya. namanya kan kalo ada perbedaan dikalangan ulama’ maka itu kan menjadi rahmah bagi ummatnya.

Saya bersyukur dilahirkan sebagai ummat Islam, karena Islam sangat luas sekali dan kaya akan ilmu pengetahuan. Ini hanya sebagian kecil dari khasanah Islam, kita belum lihat yang lainnya, psikologi, politik, hukum, fisika, biologi dll.


Taubat Tiada Tak Berampun

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keempat dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Musim kering belum juga berakhir, walaupun hujan memang sudah mulai turun beberapa kali. Iklim memang sudah mulai berubah, tidak lagi mengikuti mantra pakem yang dipelajari sewaktu masih sekolah dasar dulu.

Sepertinya musim hujan terus bergeser, dan untuk sebagian orang kehadirannya setiap tahun dinantikan seperti halnya tamu agung. Musim hujan menyebabkan suasana yang lebih sejuk, air yang turun dengan melimpah dipandang sebagai berkah yang tak terkira. Anehnya, sering juga pada saatnya tiba malah menimbulkan segala macam bencana seperti banjir dan tanah longsor. Pada kala itu, musim hujan malah dikait-kaitkan sebagai hukuman buat manusia yang semena-mena terhadap lingkungan. Mother nature sedang marah, katanya. Wajar toch, setelah segala macam perbuatan manusia.

Ramadhan, kehadirannya dinanti-nantikan tidak jauh berbeda dengan musim hujan. Ramadhan membawa kesejukan bagi ruh setiap muslim yang sepanjang sebelas bulan terlalaikan oleh kesibukan duniawi. Seperti halnya hujan, bulan Ramadhan penuh dengan cucuran rahmat Allah: pintu-pintu ampunan dan rezeki dibuka lebar-lebar, iblis dan syaithan diikat sehingga umat Islam dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk. Ada anehnya? Tentu, bulan Ramadhan juga terkadang dikaitkan dengan menurunnya etos kerja seorang muslim. Benar? Wallahu alam. Tapi satu yang pasti berbeda: tidak ada yang mengatakan bahwa Allah sedang marah.

Mungkin disinilah letak perbedaan musim hujan dan bulan Ramadhan dimulai. Terlepas dari segala macam tindakan yang diambil seorang muslim dalam sebelas bulan lainnya, Allah tidak marah. Allah maha pengampun, Allah justru membukakan pintu maaf untuk apapun yang telah terjadi. Kuncinya hanya satu, meminta maaf. Sulitkah? Tentu tidak karena meminta maaf “hanya” melibatkan harga dan kebanggaan diri, terlumurkan keegoisan dan keangkuhan: saat mulai berdo’a dan memohon agar dosa yang telah diperbuat dimaafkan diikuti dengan alasan dan cerita yang melatarbelakangi mengapa semuanya terjadi ….

Adalah harfiah bahwa manusia berbuat kesalahan dan kerusakan. Sering dikatakan bahwa mengulangi kesalahan yang sama adalah suatu kebodohan karena ketidakmampuan untuk mengambil hikmah dari kesalahan yang dibuat. Adalah baik jika dari suatu kesalahan yang terjadi dapat diambil hikmahnya lalu dijadikan pelajaran agar tidak terulang. Namun bukan berarti tidak ada hikmah dibelakang setiap dosa dan kesalahan yang diulangi. Setiap kali suatu kesalahan diulang, setiap kali itu pula seseorang ditantang untuk mau memohon maaf dengan menanggalkan lindungan rasa malu. Setiap kali taubat diantarkan ke hadapan Allah atas dosa yang dilakukan, entah berapa banyaknya pun telah diulangi, setiap kali itulah Allah melihat kecintaan hamba-Nya. Keinginan seorang hamba untuk memanjatkan taubat, memohon maaf dalam keadaan keimanan tercabik seperti apapun, menunjukkan keinginan suci dari ruh manusia untuk merasa dekat dengan Allah. Usaha untuk mendapatkan kembali perhatian dan kecintaan-Nya yang sebenarnya tidak pernah meninggalkannya.

Taubat yang sesungguhnya dipanjatkan dengan bersih, dilandasi oleh perasaan untuk berbuat lebih baik dan menghindari kesalahan yang telah diperbuat. Sekedar keinginan pun sudah merupakan awal yang bagi Allah bahkan sudah merupakan ungkapan taubat. Dengan tidak bermaksud bahwa manusia boleh melakukan dosa dan kesalahan dengan semena-mena karena Allah pasti akan memaafkan, namun berbuat dosa bukan akhir dari segalanya. Selalu ada kesempatan untuk memulai dan taubat adalah awal yang baik.


Ustadz VS Entertainer

Filed under Catatan Pribadi

“Wah…lucu banget yah tuh ustadz, saya sampe sakit perut nih ketawa-ketawa terus” ujar seorang ibu yang baru saja keluar dari sebuah majelis ta’ lim. “Iya bagus banget tuh ceramahnya…lucu. Kapan2 kita undang lagi yah ke mesjid kita.” sahut ibu2 yang satunya.

Begitu kira-kira komentar sebagian besar jamaah yang pada malam itu hadir di majelis ta’ lim Mesjid Al-Muslih. Memang, malam itu warga setempat terlihat berbondong-bondong mendatangi mesjid Al-Muslih guna memperingati Isra Mi’ raj junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Setelah sebelumnya aparat pemerintah di lingkungan tersebut mengedarkan undangan bahwa pada malam itu akan hadir seorang ustadz yang cukup terkenal untuk memberikan sedikit siraman rohani dalam rangka memperingati hari besar umat Islam itu.

Saya pun tidak mau ketinggalan dalam peringatan hari itu, cari tempat strategis agar bisa melihat sang ustadz “beraksi”.
Hmmmm……setelah melihat langsung, harus saya akui bahwa ustadz tersebut (walaupun saya lebih cenderung menyebutnya penceramah) piawai dalam menarik perhatian jamaah yang hadir pada malam itu. Semua terpingkal-pingkal mendengarkan banyolan-banyolan yang disisipkan sang ustadz dalam ceramahnya.

Jujur saja, pada awalnya saya merasa jengah dengan keadaan ini. Karena saya selalu berfikir ritual agama atau segala sesuatu yang menyangkut peribadahan harus dilaksanan dengan sekhusyuk mungkin, dalam keadaan tenang. Bukannya dengan gelak tawa ataupun hingar bingar. Baik ibadah yang dilakukan sendiri ataupun yang melibatkan orang banyak. Bagi saya hal seperti ini akan mengurasi esensi dari sebuah ibadah tersebut.

Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku lagi yah…..setidaknya dalam peringatan hari besar yang mengundang salah satu nara sumber. Sudah seperti seleksi alam, biasanya penceramah yang seperti itu semakin kurang diminati oleh para jamaah. Tentu saja hal ini mengakibatkan mereka semakin jarang diundang untuk mengisi acara siraman rohani. Sebaliknya hanya penceramah-penceramah yang piawai menghidupkan suasana dengan lelucon-lelucon segar lah yang semakin digandrungi.

Saya jadi berfikir, sebenernya seorang penceramah sekarang tidak ada bedanya dengan penghibur (entertainer) donk……Saya tidak tahu, apakah ini disebabkan oleh makin tingginya tingkat stress manusia dalam menjalani hidup, sehingga dalam hal penyegaran rohani pun mereka lebih cenderung memilih yang bisa membuat mereka terhibur dan melepaskan ketegangan syaraf, atau memang ini merupakan pergeseran esensi kita dalam menjalankan ritual agama yah??
Well, jawabannya tentu saja saya serahkan kembali pada masing-masing pribadi. Toh pada akhirnya saya beranggapan hal tersebut sah-sah saja, asalkan tidak menyimpang dari ajaran agama itu sendiri.


Hidup Itu Gampang

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketiga dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Hidup ini sebenarnya gampang kok. Kita makan satu piring juga sudah kenyang…, demikian yang diucapkan oleh Bahrul Fuad, salah seorang teman yang dipanggil dengan Cak Fu. Teman satu ini memang istimewa: berbekal kegiatan di LSM di Indonesia, beasiswa dari Ford Foundation mengantarkan menjelajah ilmu sampai di Groningen. Sekalipun diakui bahwa dia terkadang têngêr-têngêr (merasa seperti percaya atau tidak) merenungkan bahwa tidak disangka dan dinyana sampai ke tempat yang jauh sekali dari tempat kelahirannya di Kediri, Jawa Timur.

Benar, hidup itu sebenarnya sederhana, gampang, dan seharusnya menjadi berkah bagi semua orang. Lha untuk apa Gusti Allah meniupkan ruh ke dalam bakal manusia di dalam rahim jika kemudian hanya untuk dibuat bersusah-payah dan menjalani hidup seperti pesakitan yang dipenjara di muka bumi? Apalagi seperti yang dijanjikan sendiri oleh-Nya bahwa semua yang melata pun sudah dijamin rezeki dan penghidupannya, masak terus Gusti Allah lupa dengan janjinya begitu saja.

Makan nasi satu piring cukup; jika tidak ada satu piring, setengah juga dimakan dengan bersyukur. Jika sedang tidak ada juga, ya sudah puasa. Saya pernah menerima telepon dan si pembicara di ujung sana dengan lugasnya menasehati saya, Lha wong orang puasa juga nggak akan mati kok! Iya benar juga: kalau Gusti Allah belum berkehendak saya pergi dari hidup yang fana ini, seharusnya kalau hanya lapar saja tidak akan menyebabkan saya meninggal.

Tapi kok seperti nggaya saya sok “berpuasa karena tidak ada nasi” segala? Bukankah tidak ada nasi, roti pun makanan sehari-hari di Belanda, atau patat, atau jenis lainnya? Esensinya yang lebih penting: bahwa kalau tidak dapat meraih sesuatu yang sepertinya menjadi hak kita, ya monggo kita redakan nafsu yang bergemuruh itu dengan mensyukuri hal lain yang masih kita miliki. Jika orang lain berlomba memiliki mobil pribadi misalnya, dan duit yang kita miliki belum sampai di situ, naik sepeda juga rezeki, bersama-sama penumpang lain di angkot dan bis kota juga rezeki.

Bukankah dengan fasilitas yang lebih bagus, hasil yang diperoleh lebih maksimal? Barangkali benar juga — saya sebut barangkali lho, karena Gusti Allah dalam hal-hal lain juga tidak main seruduk harus yang maksimal. Fotosintesis pada tumbuhan hijau barangkali kalah efisien dibanding pembakaran pada mesin-mesin yang dibuat manusia, namun Pembuatnya sudah memikirkan bahwa hasil akhirnya bukan hanya bermanfaat bagi tumbuhan itu sendiri, namun juga makhluk lain yang menghirup oksigen, hasil dari pembakaran tersebut.

Jangan-jangan pernyataan sederhana tersebut hanya kedok saja karena malas berusaha, bekerja secukupnya, dan setelah itu pasrah. Tentu saja tidak ada orang lain yang tahu persis motivasi setiap orang dengan sikapnya, tidak juga mereka yang menuding seperti itu. Hati yang jernih dan jujur itulah yang dapat menilai dengan tepat. Karena orang malas tentu dikuasai oleh nafsu malasnya, sedangkan orang yang bergemuruh dadanya ingin memiliki semua gunung emas di muka bumi juga dikuasai oleh nafsu kebanggaan yang menyala-nyala.

Ah, bulan Ramadhan sudah menjelang datang. Saya ingin memasukinya untuk lebih menghayati lagi makna hidup yang sebenarnya gampang.