Archives for “Ramadhan 2009”

Diary Ramadhan tanggal 29 Ramadhan 1430H

Oleh : Intan Taufik.

Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran. (Khalil Gibran)

…..

Tak terbayang sebelumnya akan menginjak tanah The Netherlands, seperti juga banyak sekali hal-hal yang tidak terkira sebelumnya. Dalam perjalan hidup, kita terkadang terkejut, tercekat dan bahkan merasa asing seakan tercerabut dari akar hidup kita. Hari itu pun merupakan hari yang asing dan bahkan serasa tidak nyata. Selisik bisik mengudara mendengungkan keraguan. Tapi waktu tetap berjalan.

Keresahan hati ingin sekali menghentikan waktu. Tak ingin terpisah dari para terkasih, khususnya istri dan kedua buah hati. Tapi tak ada alat apapun, tak ada kuasa apa pun dalam diri untuk menghentikan sang masa. Waktu bergulir, berdetak dengan hentakan yang semakin lama serasa semakin cepat dan semakin pasti. Waktunya pun tiba.

Kaki kupaksa untuk melangkah, memasuki ruang-ruang asing. Katanya sebentar lagi burung besi sudah siap untuk membawaku ke ke negeri seberang nun jauh disana. Kulihat kembali ke belakang. Wajah kosong bermunculan. Belahan jiwa dan kedua buah hati. Sang sulung mulai mengerti apa yang terjadi… jatuh lunglai menyadari bahwa dia tak kuasa menahan perpisahan.

…..

Ku melangkah lagi, lamat-lamat terdengar suara kerinduan untuk berjumpa yang dikirim oleh angin dan juga benang-benang besi. Kesempatan untuk berkumpul lagi, untuk kembali dekat untuk kembali dapat melihat tanpa batas dan mendekap erat. Tapi perasaan ini serasa tak nyata. Apakah karena karena itu hanya akan menjadi sekejap? Apakah karena tak ingin kembali luka? Asing.

Wajah-wajah yang kukenal
Wajah yang kurindu
Tubuh kecil yang sudah lebih tinggi dan besar
Asing… sekaligus kurindu
Kutatap sejenak lalu kupeluk dan kubisikan… abi sudah pulang.

Sinar pagi telah menyelusup ke sela-sela kain yang menggantung di belakang kaca,
dua bola mata kecil yang tajam telah duduk di belakang
melihat dengan heran,
ya, aku adalah orang asing baginya, bagi my little prince

sedangkan dua buah lengan kecil  dari sisi lain sudah merangkul
walaupun masih terkantuk aku tahu dia pun rindu sekali terhadap ku
aku pun rindu pada mu, my little princess

perjumpaan telah membayar kerinduan
perjumpaan telah menunjukkan keterasingan
waktu, perguliranmu telah membawa perasaan yang bercampur baur

…..

laptop menyala dan dia memanggil-manggil diriku
panggilan itu, panggilan namaku
tapi mata dan tangannya, seluruh tubuh kecilnyanya, memanggil layar tipis dan bukan aku

kami nyalakan layar lainnya
dan waktu bergulir sejenak
langkah-langkah kecil kemudian mendekat dan tangannya merangkul
ya, abi sudah ada disini

…..

aku tahu waktu tak akan pernah berhenti
dan saat untuk berpisah akan datang kembali
walaupun kadang terobati karena ada harapan untuk kembali berjumpa

semoga-semoga waktu yang memisahkan terasa singkat
dan saat berkumpul dapat mnyergap dengan cepat.

….

Di sisi lain, Sang Tamu Agung Ramadhan pun telah mulai melambaikan tangan
ya sang waktu telah menunjukkan kekuatannya, kami berpisah lagi.
semoga kami dapat berjumpa dengannya  lagi.
semoga.


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 28 Ramadhan 1430 H

Oleh : Ismail Fahmi

Sering dalam perjalanan naik sepeda ke kantor, sambil menikmati pagi ala Belanda yang kadang cerah, segar, dan paling sering mendung, gerimis dan hujan, saya merenung dan bertanya dalam diri. Kemana arah perjalanan hidupku? Mengapa setelah selesai belajar selama lima tahun bukannya langsung balik ke Indonesia untuk menerapkan ilmu, tetapi malah terdampar di Amsterdam untuk waktu yang belum tahu kapan akan berakhir? Mengapa sering kurasakan perjalanan hidup ini bak pesawat yang sedang dalam mode auto-pilot, tak bisa aku belokkan ke kiri atau ke kanan. Dia naik turun suka-suka.

Kondisi seperti ini membuatku khawatir, gundah, bete, dan takut manakala ketidakjelasan menggantung seperti mendung di pagi itu. Kelabu, mungkin hingga esok hari, atau seminggu ini. Akankah pada akhirnya bermuara pada kebahagiaan, atau hanya masalah, kesempitan, dan kekurangan yang tak berujung? Tak tahu.

Hingga suatu ketika hadir sebuah cerita kepadaku. Sebuah kisah yang membuatku semakin tenang dan yakin dalam menjalani hidup. Caraku memandang apa yang terjadi atas diri ini berubah. Jika saja sejak dulu aku mendengar kisah ini, mungkin tak akan lama-lama kekhawatiran hadir di sini.

Seorang pria meminjamkan sahabat lamanya sejumlah uang. Berapa bulan kemudian ia membutuhkan uang itu, sehingga ia pergi ke rumah sahabatnya di kota tetangga, untuk meminta kembali uangnya yang ia pinjamkan. Istri sahabatnya mengatakan padanya bahwa suaminya sedang mengunjungi seseorang di sisi lain kota itu. Istri sahabatnya menunjukkan arah dan alamat yang harus dituju, lalu lelaki itu pun berangkat.

Dalam perjalanan, ia melintasi sebuah prosesi pemakaman. Karena tidak sedang terburu-buru, ia memutuskan untuk mengikuti prosesi itu, dan ikut memanjatkan doa bagi nafs almarhum.

Pekuburan kota itu sudah sangat tua. Jika kuburan baru akan digali, beberapa kuburan lama harus digali ulang untuk mengangkat dan memindahkan sisa tulang belulangnya. Ketika pria itu berdiri di samping lubang yang baru digali untuk jenasah almarhum, ia memerhatikan sisa-sisa kerangka yang baru saja diangkat, tepat di sampingnya. Di antara kedua gigi depan tengkoraknya terselib sebutir kacang pipih. Tanpa berpikir, ia ambil butiran kacang itu dan dijentikkannya ke mulutnya sendiri.

Tepat setelah itu, datanglah seorang lelaki yang seluruh janggutnya telah memutih namun tampak awet muda. Ia bertanya kepada si pria, “Kau tahu kenapa kau ada di sini sekarang?”

“Oh, tentu saja. Aku datang ke kota ini untuk mengunjungi sahabatku.”

“Bukan. Kau ada di sini karena harus memakan sebutir kacang itu. Tahukah kau, bahwa kacang itu adalah hakmu. Kacang itu bukan hak  orang itu yang sudah menjadi tulang belulang sejak bertahun-tahun lalu, sehingga ia tidak akan bisa menelannya. Kacang itu adalah hakmu, dan harus sampai kepadamu.”

Kisah ini sederhana, namun sangat membekas dalam diriku. Dia berlaku bukan hanya untuk si pria itu, tetapi bagi siapapun dan bagi segala sesuatu. Allah sendiri yang memenuhi segala hak dan kebutuhanku. Apapun yang diciptakan untuk menjadi hakku, aku pasti akan menerimanya.

Dalam sebuah kesempatan aku bertanya kepada sahabatku yang sudah lebih banyak memakan asam garam kehidupan, ketika saat itu aku sedang menghadapi sebuah kesulitan yang menurut ukuranku sangat besar, dia menjelaskan sebuah makna yang kemudian membukakan tabir pemahamanku.

Sesungguhnya, dia bilang, segala kebaikan dan keburukan yang terjadi pada kita, adalah untuk semakin mengokohkan akar keenam dari keimanan kita. Selama ini ketika kita berbicara soal keimanan, lebih banyak dimaksudkan pada keimanan kepada Allah, Malaikat-malaikat, Rasul-rasul, Kitab-kitab, dan Hari Akhir. Jika melihat batapa seringnya kita dirundung duka disamping suka, tiada pernah berhenti, bukankah ini pertanda bahwa Allah sayang kepada kita? Agar kita semakin mantap juga dengan pilar iman ke-enam, iman kepada segala kebaikan dan keburukan yang terjadi pada kita? Meyakini dan menerima keduanya dengan timbangan yang sama, sama-sama dari Allah, sama-sama membawa kebaikan, sama-sama hendak meningkatkan derajat kita. Pedih memang, ketika duka hadir. Namun ketika dibalik duka itu kita bisa menyingkap sebuah tabir tipis, sehingga kita bisa melihat cahaya Allah dibaliknya, niscaya tak ada lagi beda antara keduanya. Suka dan duka akhirnya sama-sama kita butuhkan, seperti sayap kanan dan kiri seekor elang yang membawanya tebang tinggi ke langit biru.

Kini aku semakin yakin. Di manapun aku berada, pasti sudah ada rencana dan ukurannya. Mungkin karena aku sekedar harus menakan sebutir kacang pipih itu.

[cerita di atas kudapat dari buku Cinta Bagai Anggur terjemahan temanku]


Ismail Fahmi


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 27 Ramadhan 1430 H

Oleh: Eko Hardjanto

“Seorang Muslim adalah saudara Muslim yang lain. Siapa saja yang berusaha memenuhi kebutuhan saudaranya, Allah akan memenuhi kebutuhannya. Siapa saja yang menghilangkan kesusahan dari seorang Muslim, Allah akan menghilangkan salah satu kesusahannya pada Hari Kiamat.” (HR. Muttafaq ‘alaih).

***

Cahaya Redup di Lintas Utara

Pagi itu Cahaya cerah ceria. Lima hari lagi Lebaran kan tiba. Waktu mudik kini saatnya. Ayah telah menyiapkan segala keperluan perjalanan. Ibu dan adik bersiap mengepak pakaian, dan sedikit makanan pengganjal perut. Bagi ibu, buat apa jajan di jalan. Lebih baik uang disimpan untuk kampung halaman.

Mudik tahun ini seperti biasa. Cahaya bersama ayah menggunakan sepeda motor. Ibu bersama adik naik bis antar propinsi. Mudik yang hemat. Karena tak mungkin Cahaya duduk bersama di dalam bis itu. Apalagi naik kereta AC. Atau pesawat terbang. Biru Malam, Lion Air atau Garuda sudah pasti mahal ongkosnya.

Sebagaimana layaknya anak usia 10 tahun. Cahaya sudah tidak sabar menunggu perjalanan itu. Pasti sebuah pengalaman yang seru, duduk di belakang ayah membonceng sepeda motor. Biarlah ibu tidur di dalam bis bersama adik. Di jalan, cahaya ingin melihat semua. Biar nanti di sekolah banyak cerita. Bertemu kakek dan nenek tambah bahagia.

Waktunya pun tiba.

Setelah mengantar ibu dan adik ke terminal bis antar kota. Ayah dan Cahaya pun memulai perjalanan jauh. Melewati hiruk pikuk kota Tangerang, menuju Ngawi di timur sana. Dua-tiga jam Cahaya banyak bertanya. Tentang apa saja yang dilihatnya.

“Ibu sedang apa ya Yah ?”,

“Ah paling sedang tidur bersama adik”.

“Lebih seru naik motor ya Yah”.

Siang itu matahari terik seperti biasa. Jalanan padat dipenuhi para pemudik. Ayah dan Cahaya memasuki jalur lintas Utara. Cahaya menyandarkan kepalanya di punggung ayah. Rasa kantuk karena panas dan lelah. Walau bukan di dalam kendaraan mewah, rasa kantuk sebuah nikmat yang sama.

Cahaya pun redup.

Di depan mobil Kijang Krista gagah melaju. Ayah menahan kantuk. Ia harus tetap siaga. Tidak ada alunan musik Ungu yang mengiringi perjalanan seperti mereka. Perjalanan masih jauh. Bukan AC, biarlah debu dan asap teman setia.

Memasuki kota Cirebon penuh dengan truk besar dan bus antar kota. Kendaraan merayap perlahan. Motor-motor berseliweran.

Kemacetan semakin menggila.

Truk dan bus menepi, kendaraan perlahan. Motor-motor kecil terus merangsek ke depan. Mengambil sisi jalan sebelah kanan. Mepet trotoar para pejalan. Ayah mencari celah, mencoba menembus kepadatan. Gesit, cahaya sedikit terhenyak, jalan banyak berlubang. Ayah terus melaju..terus..dan terus…

Saatnya tiba…

Di depan tak dinyana..dalam kecepatan ada sebuah becak nyelonong ke jalan…

“Awas…”, ayah berteriak…

Ayah membanting motor ke kiri. Di situ ada sebuah truk. Ayah terserempet, jatuh bersama motornya.

“Brakkk..sreeettttt…”

Gelap…

Kerumunan orang datang seketika. Seorang anak 10 tahun tergolek di belakang motor.

Mata Cahaya ditutup.

Cahaya pun redup.

 

Tak ada cerita seru di sekolah.

Hanya cerita duka.

 

***

 

Eindhoven, 16 September 2009

Kisah nyata di Lintas Utara.

Kudedikasikan untuk Cahaya dan para pemudik yang papa, kaum dhu’afa.

 

 

 


 

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 26 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Kemarin sore aku ada janji buka puasa bersama bersama Nieke, Donny, Amy dan Nopi di Pacenongan, Jakarta, makan sea food dan sebangsanya. Dari rumah kakakku di Kota Wisata aku naik taksi. Namun kali ini supir taksinya berbeda dengan supir taksi lain yang biasa saya temui. Di dalam taksi terjadi percakapan sebagai berikut:

 

“Bapak namanya siapa?” tanyaku.

“Nama saya Suyono pak.” Pak Suyono menjawab.

“Sudah berapa lama bapak tinggal di Jakarta?” tanyaku iseng-iseng saja.

“Sudah sejak tahun 2005. Sudah 4 tahun saya di Jakarta pak” jawab pak Suyono.

“Bapak asalnya darimana?”

“Dari desa kecil di dekat Solo, namanya desa Sranggren.”

“Kenapa bapak pindah ke Jakarta?”

“Ekonomi di desa sulit pak. Terpaksa saya meninggalkan desa untuk pergi ke Jakarta untuk cari uang. Kalau hanya sekedar menghidupi saya dan istri saya mungkin masih bisa dari sawah, tapi untuk sekolah anak sudah tidak bisa lagi. Anak saya tiga orang, yang paling besar sudah SMA, biaya pendidikan sekolah sangat tinggi. Yang pertama laki-laki, kedua dan ketiga perempuan”

“Berapa penghasilan bapak sebagai supir taksi?”

“Tidak banyak pak, malah masih lebih banyak pengeluaran daripada pemasukan. Tapi walaupun begitu, kami masih bisa bertahan hidup. Dan saya sangat sering bersyukur, karena saya masih bisa mendapatkan kesehatan. Kalau gak sehat kan kita tidak bisa bekerja, betul nda? Yang namanya manusia itu tentu akan banyak keinginannya, kalau kita tidak bersyukur maka akan selalu merasa kurang. Yang kaya itu kan sebenarnya orang yang pandai bersyukur. Rezeki itu cukup sehari. Yang perlu kita syukuri itu sebenarnya kesehatan, tanpa sehat kita tidak bisa cari rezeki.”

 

Aku manggut-manggut mendengarkan ucapan supir taksi itu. Ternyata walaupun hidupnya susah, tetapi beliau ini pandai bersyukur. Aku bisa belajar banyak dari beliau.

 

Supir taksi itu juga meneruskan ceritanya.

“Saya pun bersyukur memiliki istri yang tidak banyak tuntutan. Saya sempat diundang ke tempat teman saya. Waktu saya melihat rumahnya, saya sangat bersyukur bahwa keadaan saya masih jauh lebih baik. Tak usah saya jelaskan bagaimana kondisi rumah teman saya itu, tapi bapak bisa mengerti kan, kalau saya saja masih bisa bersyukur dengan keaadaan rumah saya, berarti keadaan rumah teman saya itu masih jauh di bawah saya. Ini syukur saya yang pertama. Yang kedua, istri teman saya itu waktu minta uang ke teman saya sambil bentak-bentak dan ketika uangnya itu tidak mencukupi sesuai dengan apa yang istrinya minta, dia marah-marah. Dia sampai menuduh yang bukan-bukan terhadap teman saya. Padahal saya tahu teman saya itu bekerja keras sekali untuk mencari uang.

 

“Memang kita harus bersyukur kalau bisa mendapatkan istri yang baik.” aku ikut berkomentar.

 

Sang supir tetap melanjutkan ceritanya.

 

“Saya sempat pulang ke rumah tanpa bawa uang. Istri saya minta uang karena anak harus beli buku sekolah. Tapi saya bilang sama dia, saya tak bawa uang. Istri saya menangis, saya kaget sekaligus takut. Takut dia menyesal kawin dengan saya atau sedih dengan kesulitan hidupnya. Setelah istri saya reda nangisnya saya tanya kenapa dia nangis. Dia bilang dia kasihan sama saya, sudah capek-capek kerja tapi masih tidak punya uang. Saya sangat tersentuh mendengarnya. Saya yang jadi gentian nangis pak. Saya nangis karena tidak bisa beli buku sekolah untuk anak saya.”

 

Merinding bulu kuduk saya mendengar cerita pak Suyono. Saya bisa merasakan sakit pak Suyono. Saya tahu berapa besar cinta ayah kepada anaknya. Tentu ayah manapun akan merasa tak berguna jika hanya untuk membelikan buku sekolah anaknya pun tak bisa.

 

Saya beranikan diri untuk bertanya.

 

“Kan sekolah sudah gratis pak?” tanya saya polos.

 

“Itu kan hanya slogan saja. Praktiknya tidak begitu. Lebih baik tidak ada slogan sama sekali daripada hanya slogan kosong. Memang ada sekolah yang gratis, tapi tidak semua sekolah gratis. Beli buku sekolah itu mahal. Malah zaman Suharto masih lebih enak karena  buku-buku sekolahnya bisa digunakan oleh angkatan berikutnya. Jadi lebih hemat. Kalau punya anak tiga, beli buku cukup satu kali saja. Kalau sekarang, beli buku sekolah itu tiap enam bulan sekali. Tahun depan sudah ganti lagi bukunya.”

 

Sepertinya, jika saya bandingkan keadaan saya dengan pak Suyono, saya merasa seperti hidup di surga. Semua kebutuhan tercukupi, segala keinginan terpenuhi. Mau apa saja bisa. Yang saya pikirkan hanya nanti mau liburan kemana lagi. Tempat mana yang belum saya kunjungi, makanan apa yang ingin saya cicipi. Buku apa yang ingin saya baca dan film apa yang ingin saya tonton. Olahraga apa yang ingin saya pelajari dan musik apa yang ingin saya dengarkan. Sekolah anak gratis dan kualitasnya pun bagus. Asuransi kesehatan ada, jika hilang pekerjaan akan ditunjang negara. Jika nanti pensiun tidak usah khawatir. Lalu, apa yang masih harus dikhawatirkan hidup di negeri Belanda ini?

 

Saya jadi teringat dengan banyak anak Indonesia yang nasibnya sama dengan anak pak Suyono, malah lebih parah. Mereka tidak bisa bersekolah karena tidak punya uang. Hal seperti ini  masih ada di Indonesia. Saya pun teringat akan Galiro, gerakan lima euro, inisiatif yang dimulai oleh kawan-kawan di Groningen. Idenya sangat simpel, setiap orang menyisihkan uang sebanyak lima euro saja per bulan. Tapi uang yang terkumpul ternyata cukup banyak, sehingga kita bisa punya anak asuh 4 orang anak di kota Tasikmalaya. Nama anak-anak tersebut adalah Azka, Nurul, Indri dan Iqbal. Kota Garut dan kota-kota lainnya akan menyusul dalam waktu dekat. Selain itu pun kita menjadi donatur tetap PKPU, RZI dan Dompet Dhuafa. Jika ada bencana alam, Galiro selalu siap untuk membantu. Ide yang simpel, namun sangat effektif. Rencana saya ke tasik pun akan saya gabung dengan rencana mengunjungi anak-anak asuh Galiro ini. Akan saya tanyakan kabar mereka dan surat-surat dan cendera mata dari para orang tua asuhnya akan saya sampaikan langsung kepada mereka.

Obrolan melanjut ke zaman Suharto.

 

“Enak mana pak zaman Suharto dengan sekarang?” tanya saya ingin tahu.

 

“Kalau  buat orang kecil, keadaan ekonomi sekarang itu lebih susah dibanding zamannya pak Suharto. Sekarang, rakyat kecil mau beli minyak saja susah dan mahal. Waktu zaman Suharto rakyat kecil itu tidak susah. Buku-buku sekolah bisa digunakan bertahun-tahun. Sekarang sekali pake buku itu langsung dibuang. Sekarang sekolah mahal. Waktu zaman Suharto anak-anak juga dikasih melk dan havermut.

 

“Kan zaman Suharto korupsi pak.” Aku coba protes sedikit.

 

“Dulu korupsi, sekarang juga korupsi.” Jawab supir taksi dengan pintarnya.

 

Benar juga bapak ini pikirku walaupun perbedaannya bahwa sekarang ini sudah banyak koruptor yang diadili dan dipenjara, walaupun jumlahnya masih sangat sedikit. Tomy Suharto saja mau jadi pimpinan Golkar dan calon presiden Indonesia tahun 2014. Tak habis pikir kok ini bisa terjadi. Tadinya aku ingin mengatakan lebih jauh bahwa di zaman Suharto tidak ada kebebasan mengemukakan pendapat dan terjadi banyak pelanggaran HAM, tapi kuurungkan niatku karena hal ini kurasa kurang relevant bagi kehidupan rakyat kecil. Rakyat kecil lebih butuh makan, anak bisa sekolah. Ini yang terpenting untuk mereka. Kebebasan mengemukakan pendapat tidak jadi prioritas buat mereka, dan kalau mereka tidak macam-macam Suharto tidak akan menculik dan menyiksa mereka.

 

Obrolan melanjut ke tema kehidupan di desa dan di kota.

 

“Enak mana pak hidup di kota besar seperti Jakarta ini atau hidup di desa kecil seperti desa Sranggen, dekat Solo?” tanyaku.

 

“Kalau punya uang cukup, lebih enak hidup di kota kecil. Di Sranggen saya punya sawah sebesar 4000 meter persegi dan kebun sebesar 2500 meter persegi. Namun tetap uang saya tidak cukup untuk sekolah anak-anak. Kalau makan saya cukup dari sawah dan kebun. Nasi selalu ada. Sayuran pun ada. Kalau ingin makan daging tinggal sembelih ayam atau itik. Kalau jadi petani, gak ada yang dipikirin selain menanam, memelihara dan panen. Kalau hidup di kota besar sering stress karena banyak pikiran. Mentalitas orang-orang di kota juga berbeda dengan orang-orang di desa. Orang-orang di desa masih suka gotong royong, masih suka memerhatikan sesama dan jiwa sosialnya masih tinggi. Sedangkan di kota sudah sangat individualis, hanya mementingkan dirinya sendiri. Kalau saya punya cukup uang, saya akan kembali ke desa.”

 

Taksi pun sudah sampai di tujuan. Argo menunjukkan harga 130 ribu. Saya berikan uang 150 ribu.

 

“Kembalinya untuk bapak”, bilangku.

 

“Terima kasih banyak pak”, supir taksi sangat berterima kasih.

 

“Saya yang berterima kasih pak, saya banyak belajar dari bapak.” 

 


Beruntung kasih sayang Allah kepada semua hamba-Nya tidak pernah kering. Tampaknya ada bagian doa saya terkabulkan, yaitu doa saya untuk dapat diberikan petunjuk-Nya (waktu itu belum sadar atas fenomena cobaan berbuah azab ini). Satu demi satu pencerahan bisa saya dapatkan. Dan semakin saya membuka diri atas petunjuk Allah, semakin saya rasakan kehangatan dan terang di hati saya. Hati saya semakin merasa pasrah dan otak saya mulai berhenti memberontak menuntut justifikasi. Saya pun semakin sadar bahwa cahaya petunjuk Allah selama ini sudah dan selalu ada di mana-mana di sekitar saya. Hanya diri saya sajalah yang selama ini secara tidak sadar telah menutup pintu dan jendela hati saya. Bagaimana mungkin cahaya bisa masuk ke dalam rumah yang pintu dan jendelanya ditutup rapat-rapat? Dan memang, begitu saya buka lebar-lebar pintu dan jendela hati saya, bertubi-tubi potongan petunjuk datang setiap saat. Mulai dari syair lagu D’masiv, penggalan dialog dalam sinetron Inayah, tulisan di spanduk di Simpang Dago, pembicaraan penyiar radio, sampai dengan saluran-saluran formal seperti acara ceramah  dan buku-buku keagamaan yang sengaja saya ikuti dan baca.

Dalam kesempatan ini,  saya ingin berbagi  intisari pelajaran yang saya dapatkan (captions dan sebagian narasi saya adopsi dari buku Yusuf Mansyur: Mencari Tuhan yang Hilang, Bab 2) selama proses perbaikan/penyembuhan diri saya ini.

1. Libatkan Allah sedari awal kita menghadapi masalah.
Jangan sombong atas kemampuan rasio dan emosi kita. Dan juga sebaliknya jangan pernah beranggapan bahwa kita terlalu berdosa untuk dapat kembali ke jalan-Nya. Jangan sampai kita suudzhon kepada Allah padahal ampunan dan rahmat Allah adalah tak terbatas
“Katakanlah:’Hai hamba-hamba Allah yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az-Zumar:53)
Dalam tahapan ini kita harus memuhasabahkan diri: kenapa sampai persoalan hidup ini terjadi pada diri kita. Jadi kita harus jujur pada diri kita sendiri atas segala kesalahan yang telah kita perbuat dan memohonkan ampun atasnya kepada Allah SWT.

2. Jangan berputus asa.
Kita sudah melibatkan Allah SWT dan meminta petunjuk serta pertolongan-Nya, tapi beban masalah kita tidak kunjung hilang. Putus asa bisa terjadi jika dan hanya jika kita hanya mengandalkan pikiran dan tindakan manusiawi kita, bukan kemampuan dan kekuasaan Allah yang tak terbatas. Berbagai kisah spiritual dari selebritis dan tokoh masyarakat (di e.g Inspirasi Ramadhan, Metro TV) bisa menjadi referensi atas hal ini. Pertolongan Allah bisa muncul dalam bentuk yang paling tidak terduga.

3. Biar saja permasalahan ada
Hidup tidak mungkin lepas dari masalah. Yang terpenting adalah kita tidak pernah berhenti selalu meminta petunjuk-Nya. Dalam hal ini, Allah akan memulai pertolongan-Nya dengan ketenangan. Ketenangan adalah karunia terbesar bagi setiap orang yang berada dalam masalah. Dengan ketenangan insya Allah kita akan mudah menerima petunjuk-Nya.

4. Apa yang harus dikhawatirkan?
Janganlah kita khawatir bahwa kita tidak akan pernah menemui solusi atas masalah kita. Sesungguhnya segala problem duniawi itu adalah masalah kecil, mengingat tujuan akhir kita adalah akhirat kelak. Justru kita harus lebih (benar-benar) khawatir kalau:
- kita hilang iman, kesabaran, dan kebersyukuran (insya Allah diary saya berikutnya tentang kebersyukuran ini).
- kita tidak mampu menangkap pesan dan petunjuk Allah yang Dia kirimkan melalui serangkaian kesusahan hidup
- ketenangan (sebagai pertolongan pertama dari Allah SWT) tidak kunjung datang. Bisa jadi ada yang salah dalam proses pertobatan kita. Ada kesalahan yang kita masih belum akui, ada permintaan kita kepada Allah yang tidak tulus (conditional atau janjinya tidak sepenuh hati).

5. Kepada siapa pertolongan-Nya datang?
Pertolongan Allah hanya datang pada orang-orang yang pantas ditolong. Dalam hal ini kita harus berhati-hati manakala kita merasa diberi karunia padahal kita sedang tidak taat kepada-Nya atau bahkan sedang bermaksiat. Sesungguhnya ini bukan karunia. Karunia adalah ketika kita bisa bertambah iman, bertambah takwa, dan bertambah baik di hadapan Allah dan manusia yang lain.

Kembali ke kisah saya (semoga tidak bosan ya…, insya Allah ini semata-mata keinginan saya berbagi pengalaman. Siapa tahu bermanfaat pula bagi rekan-rekan, baik saat ini atau di masa yang akan datang). Saat ini saya sedang mencoba berserah diri seutuhnya kepada Allah. Saya coba introspeksi atas segala perbuatan saya di masa lalu. Ternyata setelah ditelusuri lebih dalam, benar jualah firman-Nya dalam Al-Qashash:84 bahwa segala kejadian buruk itu adalah buah dari perbuatan saya sendiri di masa silam.

“…barang siapa yang datang dengan (membawa) kejahatan/kekejian, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS 28:84)

Dalam bahasa awam, saya telah mendapatkan karma buruk dari perbuatan saya. Maka saya berusaha memperbaikinya dengan memohon maaf secara tulus pada setiap orang yang mungkin telah saya rugikan dan berjanji tidak mengulangi perbuatan buruk tersebut di masa datang. Saya juga berusaha mengalihkan pikiran saya dari self-centered, berfokus pada masalah saya pribadi kepada masalah yang lebih besar yang dihadapi oleh orang-orang dan society di sekitar saya. Kalau dipikir-pikir, apa pentingnya sih masalah pribadi seorang Titah. Alangkah baiknya energi yang sama itu dicurahkan untuk membantu sesama/society yang memiliki masalah yang mungkin jauh lebih besar (e.g masalah hidup dan mati) dan more impactful?

Saya juga sedang berusaha untuk selalu menjaga dan kalau mungkin meng-upgrade keimanan saya dengan kembali membaca buku-buku agama (selain papers dan textbook makanan sehari-hari selama ini) dan menonton/mendengarkan ceramah di TV dan radio. Alhamdulillah, bulan Ramadhan ini benar-benar memberikan segala kemudahan bagi proses reparasi diri saya ini. Mungkin inilah hikmah dari Allah dengan mengirim saya kembali ke Indonesia untuk sementara waktu, di saat saya tidak habis pikir bagaimana mungkin semua plan (A,B,C) dari profesor-profesor saya yang begitu solid di hadapan logika manusia, gagal membuat saya untuk bisa stay continuously di Groningen.

Penutup:
Dari uraian dan cerita saya yang panjang lebar di atas, inti yang bisa kita jadikan sebagai pelajaran bagi saya pribadi dan kita bersama adalah sebagai berikut:

- kita harus sadar bahwa setiap saat kita akan mendapat cobaan dari Allah SWT (QS 29:2-3)

- cobaan itu tidak selalu berupa hal-hal yang membuat kita menderita atau sedih, tapi (terutama) juga berbagai kenikmatan (QS 39:49)

- cobaan berupa kenikmatan jika kita tidak mampu mensyukurinya akan berubah menjadi azab yang bisa jadi sangat pedih (QS 14:7)

- jika azab itu belum muncul, tidak berarti kita bisa lepas darinya. Bisa jadi kita sedang mengalami istidraj (penundaan) dan kalau ini terjadi dan kita tidak segera sadar, bersiap-siaplah atas azab yang jauh lebih besar lagi (QS 6:44)

- jika kita merasa bahwa kita sudah mendapatkan azab itu, janganlah berputus asa atas rahmat dan ampunan Allah SWT (QS 39:53). Rahmat dan kasih sayang Allah melampaui kemarahan dan kemurkaan-Nya (hadits Qudsi)

- dengan mengakui segala kesalahan kita (bukan sebaliknya malah berusaha mengingkari dan melupakannya) dan bersungguh-sunguh berjanji tidak akan melakukannya lagi, maka insya Allah segala penderitaan yang kita alami dapat berubah menjadi rahmat (QS 66:8). Mata hati kita akan terbuka sehingga petunjuk serta cahaya-Nya akan menerangi kalbu kita. Hati-hati dengan otak kita. Ia bisa mengkhianati kita karena alat favorit setan menyesatkan manusia adalah justifikasi-justifikasi hasil pemikiran otak (yang seolah-olah logis).

- petunjuk Allah bisa datang dari mana saja (termasuk potongan sinetron yang tidak sengaja kita lihat, syair lagu rock band, celetukan sopir angkot, etc). Yang penting, kita menyiapkan ‘radar’ dan ‘reseptor’ dalam hati kita.

Demikian sekilas kisah hidup yang saya alami. Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran darinya. Akhir kata, segala kebenaran adalah dari Allah SWT dan segala kesalahan/kealpaan dalam tulisan di atas adalah semata-mata timbul dari ketidaksempurnaan saya sebagai seorang manusia biasa.

Catatan:
Untuk rekan-rekan yang merasa baru atau sedang mengalami kesulitan/kesedihan hidup luar biasa, saya ingin merekomendasikan buku karangan Ustadz Yusuf Mansyur (ustadz terfavorit saya saat ini) dengan judul “Mencari Tuhan yang Hilang: 35 Kisah Perjalanan Spiritual Menepis Azab dan Menuai Rahmat”. Buku ini berisikan kisah nyata beliau (yang jelas-jelas masalahnya jauh lebih besar dari yang sedang saya hadapi…sad eyes never lie) yang ditulis dengan gaya bahasa yang padat dan mengalir disertai argumentasi yang sangat logis dan kuat. Insya Allah akan memberikan inspirasi dan kesejukan hati.


Ini tuh mahal bung !

Filed under Ramadhan 2009

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 22 Ramadhan 1430 H.

Oleh: Wahono

Ini tuh mahal bung !

     Iman adalah mutiara
     Dalam hati manusia
     Yang meyakini Allah
     Maha Esa Maha Kuasa
     …..
     …..
     Iman tak dapat diwarisi
     Dari seorang yang bertaqwa
     Ia tak dapat dijual beli
     Ia tiada di tepian pantai

Begitulah sepenggal nasyid yang dipopulerkan oleh Raihan. Lirik yang sederhana namun sarat akan makna. Ada juga sebuah lagu yang saya dapati saat saya mengenyam pendidikan di pesantren (gaya bener nih di pesantren), pesantren kilat maksudnya, kurang lebih 9 tahun silam.

Ya Allah kupanjatkan syukurku kepadaMu
Betapa banyak nikmat yang telah kau berikan
Nikmat iman
Nikmat islam
Nikmat sehat kurasakan
Ilmu, waktu luang, dan rizki kau curahkan

Yang sampai saat ini pun saya tidak tahu siapa yang mempopulerkannya (penasaran nih, siapa ya yang ngebawainnya). Kalau dipikir-pikir juga sangat benar apa yang dibawain itu. Bahwa iman itu adalah nikmat terbesar yang patut kita syukuri. Tidak ada sebuah bencana terbesar selain kehilangan iman. Mungkin kalau kita kehilangan barang yang sangat kita sayangi, kita bisa nyanyi lagunya Mocca

 …loosing you is not the end of the world…

Tapi kalau kehilangan iman ? Waah.., udah berabe seperti katanya Laluna

Selepas kau pergi
Tinggallah di sini ku sendiri
Kumerasakan sesuatu
Yang telah hilang di dalam hidupku

Iman ada dalam hati kita, mewarnai setiap aktivitas kita, bukan semata-mata datang begitu saja. Ia adalah sesuatu yang harus diusahakan, di sisi lain Allah jua yang berkehendak. Masih ingatkah tentang kisah Rasulullah Muhammad Saw yang mengumpulkan Bani Fihr dan Bani ‘Adi di atas Bukit Safa ? Di tempat itulah Rasulullah Muhammad Saw bertanya
“Apakah kamu sekalian akan percaya atau tidak sekiranya aku ceritakan bahwa di balik bukit ini ada sekumpulan musuh yang akan menyerangmu ?”
Lalu mereka menjawab
“Sudah pasti kami akan mempercayaimu karena kami belum pernah mendengar percakapan dusta darimu”
Lalu kemudian Rasulullah pun melanjutkan
“Sesungguhnya aku ini pembawa berita…”
Sontak saja, kaum yang berkumpul itu menolak keras seruan Rasulullah Saw, bahkan paman beliau Abu Lahab menentangnya dengan keras seraya berkata
“Binasalah engkau Muhammad, apakah untuk ini saja engkau mengumpulkan kami ?”

Subhanallah.., begitu kerasnya tentangan dari kaumnya. Kebayang, seandainya kita ada di antara barisan kaum yang mendengar seruan itu. Bisa jadi kita menjadi salah satu penentang Rasulullah yang utama, na’udzubillah…

Sungguh, hidayah itu hanyalah hak mutlak Allah semata. Tiada daya upaya kita untuk menggerakkan hati kecuali ada hidayah dari Allah SWT. Perlu kita garis bawahi bahwasanya hidayah itu bukan saja term yang digunakan untuk menyatakan adanya seseorang yang kemudian memeluk Islam. Tapi hidayah di sini diartikan secara luas sebagai petunjuk, penggerak, arahan ilahi. Ketika kita tidak tergerak untuk shalat, lalu kita tergerak untuk shalat, berarti kita telah mendapatkan hidayah. Ketika kita tergugah untuk beramal sedangkan sebelum-sebelumnya kita jauh dari aktivitas ini, itu juga dapat disebut bahwa kita mendapat hidayah. Di sisi lain hidayah itu tidak terlepas dari ikhtiar kita sebagai manusia. Begitu banyak orang yang akhirnya menemukan iman itu dari pekerjaannya, penemuan-penemuan, bahkan dari akhlak seorang muslim sekalipun.

Menarik, salah satu contoh kecil di kawasan Selwerd ini. Dalam 3 bulan terakhir, saya menjumpai beberapa orang Belanda yang akhirnya menjadi muslim. Di masjid sederhana itulah kadang dalam 2 minggu sekali ada saja orang yang bersyahadat, subhanallah. Ternyata ada kisah yang saudara-saudara kita itu sangat berusaha keras mencari Tuhan sampai akhirnya mendapatkan hidayahNYA. Mungkin saudara-saudara kita itu mengadopsi lagunya Blink 182

…….
We’ll never give up, it’s no use
……

Marilah kita jaga sesuatu yang tak ternilai harganya ini. Sesuatu yang dapat membuat kita tersenyum saat kita berjumpa dengan Rabb Penguasa Semesta.

Yaa muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika

Duhai Allah Pengenggam jiwa-jiwa ini, Yang Maha Membolak-balikan hati ini, tetapkanlah hati ini pada jalanMu.

Tidak ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada di antara dua ketetapan Allah SWT. Barangsiapa yang Dia kehendaki , Dia luruskan, dan barangsiapa yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan (H.R. Ahmad dan Tirmidzi)

~Wahono~


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 21 Ramadhan 1430 H

Oleh: Agnes Tri Harjaningrum

Pernah menyontek? Jujur, aku pernah. Masih tergambar jelas dalam ingatanku, ketika ibu guru matematika SMP ku menghampiri tempat dudukku.”Buka!” Ketusnya. Gemetaran, aku ambil lembar kertas paling atas di depanku. “Buka lagi!” Suaranya makin galak. Aku ikuti perintahnya sambil mengutuki degup jantungku yang bunyinya makin keras. “APA INI?!” Teriaknya. Tubuhku seketika lemas. Mati aku! SRET…SRET…! Ibu guru yang galak itu merobek-robek kertas contekanku. Uuh wajahku mendadak  bersemu merah bak kepiting rebus. Ingin rasanya aku berlari sekencang-kencangnya keluar kelas, agar terhindar dari tatapan mata teman-temanku.

Yup, di masa-masa badung itu aku memang kerap menyontek dan ketahuan menyontek. Kapok? Sebelum aku memutuskan memakai jilbabku, sayangnya tidak. Selain karena kemalasanku belajar, menyontek juga  menurutku saat itu asyik, karena membuat adrenalinku meningkat. Maklumlah namanya juga ABG, sambungan sel-sel dalam otaknya memang belum waras benar. Tapi aku berani sumpah, meski begitu, aku hanya menyontek di saat-saat ulangan harian. Masih ada kesadaran dalam diriku untuk menghargai  momen-momen ujian besar. Aku tidak berani dan tidak pernah menyontek saat ujian naik kelas apalagi ujian Ebtanas.

Belasan tahun berlalu sejak masa-masa itu. Masa yang membuat aku kini bisa geleng-geleng kepala tapi juga tertawa. Tapi aku bukan hanya geleng-geleng kepala. Aku terhenyak dan tak bisa lagi tertawa ketika mendengar cerita sahabat-sahabatku tentang menyontek berjamaah  yang kini sedang menjadi trend di lakukan di sekolah-sekolah di Indonesia.

“Anak-anak kelas 6 SD yang bersekolah di SD X itu semua menangis. Sebetulnya mereka selalu diajari untuk jujur oleh guru-gurunya. Tapi ketika hari H ujian Nasional tiba, guru pengawas dari sekolah lain malah memberitahu jawaban-jawaban soal ujian pada anak-anak itu. Tentu saja mereka menolak. Guru-guru SD X tak terima dan melaporkan kejadian itu pada dinas pendidikan. Rupanya pak pejabat cepat tanggap. Esoknya, si pejabat dinas sendiri yang datang mengawas. Dan ternyata oh ternyata…Tahu apa yang diucapkan oleh si Bapak dinas pendidikan yang terhormat ini pada anak-anak kelas 6 SD itu? Kalian anak-anak yang sombong! Diberi tahu jawaban supaya nilai kalian bagus malah tidak mau.” Begitu kira-kira cerita dari salah seorang sahabatku.

Haaa?! Aku melongo. Entah apa yang ada dalam pikiran para pejabat pendidikan itu. Rupanya kini sudah menjadi rahasia umum jika sebelum hari H ujian Nasional tiba, kunci-kunci jawaban mulai beredar. Bahkan ada peraturan tak tertulis, agar guru-guru pengawas diminta untuk membiarkan saja anak-anak murid menyontek. Kalau belum punya contekan ya diberi saja. Edan! Jaman sudah edan kan. Mendengarnya, aku jadi teringat guru matematiku dulu itu. Kemana perginya sosok-sosok guru macam itu, yang meski galak tapi tetap setia mengajarkan apa arti kejujuran.

Lima tahun aku tak pulang ke negeriku. Tapi kepulanganku rupanya membawa cerita pilu. Tak hanya sekali aku mendengar cerita serupa ini. Lagi-lagi aku mendengar cerita yang sama ketika aku hendak mendaftarkan anak-anakku ke sebuah sekolah, sebut saja sekolah Y. Untuk masuk ke sekolah Y ini memang harus waiting list, karena itu meski aku akan kembali tinggal di tanah airku entah kapan, aku tetap saja mendaftar.

Seorang ibu guru yang ramah saat itu menemuiku. Aku bertanya soal macam-macam, termasuk tentang bagaimana output sekolah itu. Mendengar jawaban sang ibu guru, aku kembali terpaku. “Hmm..sulit untuk bicara soal output,” ujarnya pelan. “Kami selalu mengajarkan kejujuran pada anak didik kami. Tapi ketika dunia di luar sana berkata lain, apa yang bisa kami katakan,” Lirihnya. “Waktu itu, setelah ujian nasional matematika selesai, anak-anak SMP didikan saya berhamburan memeluk saya. ‘Hu..hu..hu…Ibuuuu! Mereka (siswa sekolah lain) sudah menyelesaikan soal hanya dalam waktu tigapuluh menit! Hu..hu..hu’. Anak-anak didik saya bertangisan. Saya hanya bisa diam. Anak-anak sekolah lain itu sudah mendapatkan jawaban soal dari guru-guru mereka sendiri sejak sehari sebelum ujian dimulai. Kami tentu saja tidak bisa melakukan itu dan saya tahu anak-anak didik saya tidak ikut-ikutan. Mereka tetap berjuang mati-matian menyelesaikan soal, tanpa sebelumnya tahu jawaban. Saya tak tahu lagi apa yang harus saya katakan. Saya hanya bisa bilang,’Yang pasti Allah tahu dan akan melihat kejujuran kita Nak.”…

Mataku seketika berembun. Kuhapus pelan-pelan air yang keluar dari sudut mataku, khawatir ibu guru itu memerhatikan.“Bahkan anak-anak yang tidak memiliki handphone pun, diminta untuk membawa handphone saat ujian, supaya bisa mendapatkan jawaban,” lanjut ibu guru. “Hasil ujian anak-anak didik saya memang menggembirakan. Tapi kalau anak-anak sekolah lain nilainya sepuluh semua, saya bisa apa?”

Hiks. Apa yang sesungguhnya terjadi Tuhan? Menyontek berjamaah, bahkan dianjurkan oleh para pejabat tingkat atas pendidikan. Ini gila! “Ibu, mengapa bisa terjadi seperti itu, maksud Diknas apa Bu?” Tanyaku tak sabar. “Saya tak tahu pasti. Tapi dengar-dengar sih , ada uang tambahan dari pemerintah jika sekolah-sekolah yang mereka pegang mendapat nilai rata-rata ujian yang memuaskan.” Glek! Aku hanya bisa menelan ludah. Lagi-lagi hanya karena uang? Hanya karena uang, para pejabat pendidikan itu mampu menggadaikan pentingnya sebuah kejujuran. Hah…aku betul-betul tak habis pikir! Mau jadi apa anak-anak itu nanti? “Ibu, kalau begini caranya, entah kapan saya akan benar-benar tinggal dan pulang ke negeri saya sendiri.” Si ibu hanya mengulum senyum. “Yah begitulah kondisi pendidikan di Indonesia sekarang,” ujarnya kelu.

Ketika aku menceritakan kejadian ini pada suamiku, ia bilang ini namanya ‘ripple’. Untuk menuju ke ‘steady state’, keadaan tenang, selalu ada jungkir balik gelombang sebelumnya. “Negara kita sekarang sedang bergelombang. Nanti ada saatnya ia menjadi tenang,” lanjut suamiku. Ya, mungkin suamiku memang salah seorang yang optimis terhadap nasib bangsa. Tapi tetap saja, sebuah keoptimisan, sebuah keadaan tenang harus diraih dengan sebuah perjuangan bukan?

Di bulan ramadhan ini, aku menjalani puasaku di negeri orang, negeri yang katanya sekuler, tak percaya pada Tuhan. Ramadhan di negeri ini sungguh kontras dengan di negeriku. Di negeriku, gema suara adzan dimana-mana terdengar. Mesjid-mesjid pun ramai dikunjungi orang. Acara-acara rohani di TV tiba-tiba muncul seperti jamur di musim hujan. Acara buka puasa bersama dimana-mana digelar, khataman Quran, menyantuni anak yatim, pengajian; hampir seluruh kegiatan begitu agamis. Orang-orang pun begitu gembira menyambut ramadhan. Semua itu seolah menunjukkan betapa ‘sholeh’nya negeriku, negeri yang hampir seluruh penduduknya mengaku ber Tuhan. Namun bila kuingat lagi cerita sahabatku dan ibu guru itu, aku miris, sungguh miris. Apa artinya semua gembar-gembor itu, kalau arti sebuah kejujuran telah ramai-ramai digadaikan, bahkan oleh sebuah institusi yang bernama pendidikan! Adakah yang mau memperjuangkan? (Agnes Tri Harjaningrum)

Ps:
Tulisan ini dibuat tanpa mengurangi rasa hormatku pada para pendidik. Aku sadar, masih banyak pendidik yang sangat baik di negeriku. Masalahnya hanya terjadi pada segelintir orang yang kebetulan sedang memangku jabatan dan menjadi pengambil kebijakan.


Melatih Ego

Filed under Ramadhan 2009,

Diary Ramadhan : Edisi 20 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Dalam melatih ego, seseorang harus bisa membedakan mana yang menjadi hak ego dan mana yang bukan haknya ego.
Ego cenderung menginginkan sesuatu yang memang diperlukannya dan juga sesuatu yang tidak diperlukannya. Yang pertama adalah kebutuhan alamiah, yang kedua adalam ketamakan. Seperti anjing yang telah habis memakan daging dari sebuah tulang, namun anjing tersebut masih saja menjaga tulang tanpa daing dari anjing-anjing yang lain.
Selain itu, ego mempunyai kecenderungan menginginkan lebih, apalagi jika hal tersebut sangat disukainya, terlepas dari masalah keadilan dan kebenaran. Terlepas juga dari efek buruk yang bisa diakibatkannya. Contohnya makan makanan enak sampai berlebihan sehingga membahayakan kesehatan. Contoh lain adalah korupsi, mengambil uang yang bukan haknya, mungkin belum ada efek buruk, namun bisa saja suatu saat nanti efek buruknya akan tetap datang. Dunia ini adalah perdagangan yang adil.
Setiap pemenuhan keinginan akan memberikan kecenderungan untuk menginginkan lebih, dan lebih, dan lebih lagi. Dan ada juga keinginan untuk mencoba-coba hal-hal yang baru. Apalagi jika kita menyerah pada keinginan itu, keinginan ini tidak aka nada akhirnya. Keinginan yang berlebih ini akan menjadi racun dalam diri ini. Keinginan atau emosi berlebih ini akan melebihi kapasitas kita sebagai manusia, yang tentu saja mempunyai banyak keterbatasan.
Keinginan yang berlebih ini bisa mendorong kita untuk mendapatkan sesuatu yang bukan hak kita, bukan milik kita, bahkan mungkin milik orang lain. Ketika ini terjadi, ketidakadilan mulai terjadi.
Ketika keinginan ini tidak dapat dipenuhi, akan timbul rasa sakit dan kekecewaan.
Orang bijak akan melepaskan keinginan akan sesuatu yang tidak dibutuhkannya.
Melatih ego seperti prinsip ini: makan untuk hidup dan bukan hidup untuk makan. Bekerja untuk hidup dan bukan hidup untuk bekerja. Prinsip ini bisa diterapkan pada semua aspek kehidupan.
Melatih ego bukan berarti kita meninggalkan semua kenikmatan kehidupaan duniawi. Melatih ego adalah mencoba menjadi bijak akan apa yang kita inginkan, mengapa kita menginginkan sesuatu dan apa konsequensinya bila kita menginginkan hal tersebut. Kapasitas apa yang kita miliki, apa yang mampu kita capai dan apa yang kita tidak mampu capai. Kita tidak bisa mencapai semuanya. Kita pun perlu melihat dari kacamata kebutuhan, keadilan dan kebenaran.
Dalam melatih ego, hal sekecil apa pun perlu kita hindari, karena hal yang kecil bisa menjadi besar dan menguasai kita di kemudian hari.
Saya teringat tulisan legendaris dari mas Ismail beberapa tahun lalu. Tulisan tersebut kalau tidak salah berkisar tentang perjalanan kang Bejo. Judul tulisan itu Bersyukur Karena Belum Bisa Bersyukur. Justru kita harus bersyukur jika kita belum bisa bersyukur, karena kalau kita merasa sudah bisa bersyukur maka akan ada rasa sombong (walaupun mungkin sedikit) pada diri kita, padahal sebenarnya siapa yang membuat kita sudah bisa bersyukur?
Mari kita latih ego kita agar selalu bersyukur, ikhlas, sabar dan tawakkal.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 19 Ramadhan 1430 H

Oleh: Fean Davisunjaya

Alhamdulillah… setelah dua tahun belajar di negara orang dan menjalani bulan Ramadhan di sana… tahun ini sekaligus melanjutkan penelitian di Indonesia berkesempatan untuk Ramadhan di Bandung… rasanya… hmhmhmhmhm… ya begitu deh, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata… selain bersyukur karena banyak temen2 yang berharap untuk bisa pulang…
Seperti yang sudah-sudah… kalau di sini… suasana Ramadhan sangat… sangat terasa, beda sekali dengan di Groningen… yang begitu sepi, maklum juga sih… karena di sana mayoritasnya bukan umat muslim. So… rasa ini yang mungkin hilang selama Ramadhan di Groningen… terlebih dengan adanya shalat tarawih di mesjid-mesjid terus begitu banyaknya penjual makanan di jalan-jalan menjelang berbuka…and so on… and so on.
Tapi tentunya… jika ada hal yang menyenangkan akan ada hal yang kurang menyenangkan (walo sebenernya sih bisa dihilangkan dengan menganggap hal itu sedikit menyenangkan)… terus hubungannya sudah pasti berkaitan dengan sabar… dimana rasa ini bener-bener menjadi salah satu yang diuji selama bulan Ramadhan ini. Kesabaran yang dirasakan, bener-bener diuji saat di tanah air… bahkan kalo bisa dibilang, ujiannya lebih berat di sini dibandingkan saat di Groningen… ga tau sih kenapa, tapi itu yang terasa…
Walo selama di Groningen, yang berpuasa sendiri bisa diitung dengan jari (maksudnya… orang-orang sekitar, seperti di lab maupun di jalan) tapi beban terasa lebih ringan, entah kenapa… mungkin bisa saja karena diri sendiri sudah merasa cuek kalo melihat orang makan maupun minum, dll (walo kadang-kadang berharap juga mereka tidak melakukan di depan muka  ) Nah kalo di Bandung kejadian seperti itu jarang banget ditemukan orang makan dan minum di depan umum (walo entah sejak kapan, sudah mulai juga terjadi…. Astagfirullah)
Beside that, sebenernya sih yang bener-bener menjadi ujian kesabaran itu dimulai dari perjalanan menuju ke kampus ampe pulang ke rumah lagi. So… pasti udah tau maksudnya…. Ya tepat, hal ini berhubungan ama lalu lintas sepanjang perjalanan. Adanya bulan Ramadhan, waktu mulai ngantor maupun sekolah mundur, alias lebih siang. Dan sudah dipastikan jalan pun akan macet, kalo masalah lampu lalu lintas macet sih pastinya masih dimaklumi… cuma yang ga dimaklumi itu kalo para pengendara nyetir ato mengendarai motor nya ke sana kemari, udah tau macet… mencoba ngambil ke arah luar, jadinya salah satu arah lebih lebar, yang satunya lagi jadi menyempit… udah sering sih ngeliat keadaan seperti ini… yang pastinya kesel ngeliat orang-orang macam itu… orang yang ga sabaran… yang pengen duluan jalannya… yang pengen cepet nyampe, padahal kan mostly keadaan orang juga sama… tapi tetep yang ga sabaran, yang ga belajar dari pengalaman macet sebelum-sebelumnya, selalu ada… jadinya pagi-pagi pun sudah diberi suasana yang membutuhkan kesabaran tinggi…
Dilanjutkan saat ada di lab… kerjaan yang makin banyak, yang makin sedih… kerjaan dimulai kembali dari awal….. hiks.. hiks… sabar… sabar   Ga papalah… yang penting… semangat… mumpung di bulan Ramadhan, waktunya ga kepotong makan siang, so waktu kerja lebih panjang… dan kerja jadi lebih konsen… kegagalan yang ada insyaAllah merupakan keberhasilan yang tertunda (aamiinnn… walo kalo gagal mulu juga stress pastinya hehehehehhe…)
Terakhir ya.. selama pulang ke rumah… seperti di pagi harinya… kejadian di jalan… cuma emang lebih riweut lah… sebut saja dengan matinya lampu lalu lintas di beberapa persimpangan jalan menuju ke rumah. Pastinya sudah terlihat kemacetan yang panjang seperti ular naga (berlebihan dikit nih), dan seperti paginya juga tetap yang namanya orang yang ga sabaran selalu ada, menyalip di sebelah jalan yang sudah sempit, atau memutar arah yang sebenarnya sudah diberi rambu lalu lintas untuk tidak memutar.
Berharap sih dengan adanya Ramadhan ini… setiap orang dapat lebih bersabar… mengingat tentunya semua orang juga ingin cepat sampai, ingin cepat berkumpul dengan keluarga, ingin cepat beristirahat dll… Emang bener kalo dibilangin bulan ini adalah bulan untuk melatih kesabaran… kan ga mau kalo puasanya jadi ternodai dengan adanya amarah… jangan sampai deh…
Sabar itu tidak ada batasnya… cuma karena manusia itulah yang menyebutkan kesabaran itu ada batasnya. So… dengan latihan ini, di hari ke depannya bisa menjadi lebih sabar menghadapi segala kehidupan yang merentang di depan jalan… sabar itu enak, sabar itu tentram, sabar itu nyaman


Diary Ramadhan : Edisi 18 Ramadhan 1430 H

Oleh: Sri Aktaviyani

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahilladzi anzalassakinata fi qulubil mu’minin…

Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu hari aku jatuh cinta, jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang sedikitpun
Allahu Rabbi aku punya pinta
Pilihkan untukku seorang yang hatinya penuh dengan kasih-Mu dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi, pintaku yang terakhir adalah
Seandainya aku jatuh hati jangan pernah kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu, cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Aamin ya Rabb..

Sengaja aku membuat tulisan ini, karena masih sulit rasanya untuk mengungkapkan perasaan hati secara langsung, entah mungkin karena masih butuh waktu untuk menyadarkan diri bahwa saat ini aku sudah menjadi istrimu

Suamiku…
Tiada kata yang lebih layak kuucapkan selain puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memilihkan pasangan hidup yang terbaik untukku, dan engkaulah orangnya. Dalam doa-doaku selama ini, aku selalu memohon kepada Allah agar dipilihkan pasangan hidup yang dapat membimbingku menuju jalan ketaqwaan dan kecintaan kepada-Nya, seorang yang dapat berjuang bersama-sama denganku di jalan da’wah yang penuh dengan rintangan ini hingga berakhir di surganya, dan juga seorang yang dapat menjadi ayah yang baik bagi putra-putriku kelak. Saat ini Allah telah memberikan jawaban atas doaku, dan aku percaya terhadap pilihan-Nya yang ‘Alim, Muqaddim, dan Muakhkhir. Walaupun… sejujurnya seringkali terbersit keraguan di hatiku, pantaskah aku yang masih apa adanya ini mendampingimu?

Suamiku…
Aku berharap engkau tidak kecewa mempunyai isteri seperti aku. Aku bukanlah isteri sholihah yang mungkin engkau idamkan selama ini untuk menjadi perhiasan terbaikmu. Namun, aku adalah seorang isteri yang baru belajar dan jatuh bangun untuk berusaha menjadi sholihah. Karena itu, aku mohon bimbinganmu agar kita bersama–sama dapat menjadi pribadi yang sholih dan sholihah, dan kelak Allah SWT berkenan mengumpulkan kita bersama orang – orang yang sholih. Rabbana Alhiqna minasshalihin…

Suamiku…
Dalam perjalanan hidup berumah tangga kita nanti, mungkin akan banyak kesalahan-kesalahan yang aku lakukan, yang mungkin akan membuatmu kesal, atau bahkan mungkin tidak ridho kepadaku. Karena itu aku mohon, katakan dengan terus terang jika aku salah, agar aku dapat mengubah lakuku itu, dan ma’afkanlah aku. Dan aku mohon, jangan pernah ada satu malam pun yang kau lewati dengan ketidak ridhoanmu padaku. Aku bertekad InsyaAllah aku tidak akan menutup mataku untuk tidur sebelum engkau mema’afkan aku, sebab aku khawatir, jika Allah menaqdirkan mengambil nyawaku pada saat aku tidur dan dalam keadaan engkau tidak ridho kepadaku, maka akau tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa dari Allah SWT.

Suamiku…
Jika Allah mengizinkan, mungkin kita akan tinggal terpisah dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, sejak awal aku mohon ma’af dan kerelaanmu, tentu saja akan banyak kewajibanku sebagai seorang isteri yang tidak bisa kutunaikan dengan baik selama masa tersebut. Semoga Allah membalas kesabaranmu dan menggantikannya dengan surga-Nya.

Suamiku…
Aku ingin berkata jujur kepadamu. Sebenarnya, sebelum engkau datang meminangku, telah ada pinangan lain yang datang kepadaku dan aku sudah terlanjur mencintainya. Dan hingga saat ini, mohon ma’af engkau masih belum bisa menggantikan tempatnya dihatiku. Aku berharap engkau tidak cemburu kepadanya dan dapat mengerti perasaanku kepadanya. Aku telah menjual diriku kepada Allah SWT untuk ditukarkan dengan surga. Aku senantiasa berusaha mencintai Rasulullah SAW demi tercapainya kesempurnaan imanku. Serta, aku telah berjanji setia kepada Allah SWT untuk berjuang di jalan da’wah ini, baik dalam keadaan lapang ataupun sempit, dalam keadaan senang maupun susah. Saat ini diriku sudah tergadai, sehingga diriku bukanlah milikku sendiri. Aku mohon engkau mengerti dengan keadaanku ini.

Suamiku…
Terakhir, jika engkau izinkan, bolehkah aku meminta satu hadiah darimu? Anggaplah sebagai bukti cintamu kepadaku. Satu hal saja. Aku ingin kau usahakan untukku sebuah istana yang sangat indah untuk tempat tinggal kita. Di mana tempatnya? Di surganya Allah SWT di akhirat kelak. Biarlah para bidadari yang telah Allah ciptakan untukmu akan merasa cemburu kepadaku. Dan tolong ingatkan aku, agar aku tidak pernah menagih istana dan kemewahan itu padamu selagi kita masih di dunia ini.

Ya Allah anugerahkanlah kepada kami keluarga da’wah yang sakinah, mawaddah, warahmah dan jadikanlah kami keluarga ahli surga, yang rumahnya senantiasa diterangi oleh cahaya Al-Qur’an. Berikanlah kepada kami keturunan yang sholih dan menjadi generasi penerus da’wah di garis terdepan di masa yang akan datang.

Suamiku…
Simpanlah surat cinta dariku ini baik-baik. Dan jika suatu saat aku lalai, maka tunjukkanlah surat ini untuk mengingatkanku. Semoga Allah memberi kekuatan kepadaku untuk senantiasa belajar menjadi isteri yang sholihah.

Dengan cinta karena Allah
Isterimu


Diary Ramadhan: Edisi 17 Ramadhan 1430 H

Oleh: Arramel

5 September 2005

Udara dingin menerpa wajah kala keluar dari Schipol yang notabene lagi berada dalam transisi  perubahan musim. Berhubung dari dulu ga pernah naik pesawat dan sekarang harus menempuh perjalanan 17 jam, badan menjadi serasa pegal dan kaku setelah melewati beberapa belahan dunia ini. Kala itu waktu baru menunjukkan 07.17 CET, hmm terlalu pagi untuk melanjutkan perjalanan ke kota paling utara, Groningen. Langkahku kuteruskan berjalan menyisiri cafe di areal Plaza sambil memandang mirip liat mall di Jakarta aja, kemudian pandanganku dan pikiran teralih keluar bandara, rasanya ingin menghirup udara segar untuk Belanda (salah salah satu kota dg tingkat udara terbersih di dunia). Ahh aliran oksigen merupakan nikmat yang tak pernah terputus diberikan oleh Alloh SWT hingga satu detik penentuan yang tak satupun manusia di dunia tahu akan hal ini. Entah kenapa isi pikiran masih melayang jauh di tanah air tercinta, mengingat keluarga mengantar kepergian dengan penuh tangis air mata. Ada satu hal yang terbesit kala pamit dengan figur ayahanda almarhum, apakah aku akan masih diberikan kesempatan bertemu dengan beliau? Jiwa optimisme selalu dipancangkan di benak hatiku, mudah-mudahan masih diberikan waktu dan umur oleh-Nya..Tak lupa layaknya seorang anak lelaki berpamitan kepada the first leader in the family aku mencium tangannya meminta restu semoga jalan yang kupilih ini adalah direstui. Figur beliau sangatlah kentara dengan cukup mengatakan iya yang sukses belajar di negeri orang. Namun tetap ada saja perasaan  kecil yang mengganjal apakah memang ini jalan  yang ditunjukkan oleh Alloh SWT..Wallahualam.

16 Februari 2007

Hatiku tersentak bagai tersambar petir kala menerima SMS dari adikku di Bandung. “Mel, ayah sudah tak kuat lagi dan ingin berbicara langsung”. Isi pesan yang singkat ini sangat tak kuduga sama sekali karena beberapa waktu silam, kondisi ayah mulai agak membaik. Hati ini serasa pilu sekali membayangkan diri tak bisa menjenguk dan merawat orang yang sudah membesarkan dari sejak kita lahir hingga besar sekarang. Kunyalakan program Voip untuk menelepon ke Bandung, adikku yang mengangkat pertama kali dan menjelaskan ayah sudah susah untuk bangun, bahkan sudah sulit untuk mengenali ibu dan ade. Ya Alloh, ingin rasanya diriku terbang secepat kilat dan tiba di rumah ingin menyapa keluarga yang sedang dirundung kesedihan yang teramat sangat. Tapi apa daya, kehendak yang maha kuasa berkata lain. Diriku terjebak di ujung utara kota dingin ini tak kuasa untuk menjenguk mereka. Setelah ngobrol dengan ade, akhirnya aku kuatkan diriku utk berbicara dengan ayah. Gumaman serta erangan yang kudengar dari beliau, sontak saja diriku sangatlah sulit untuk menerima kenyataan ini. Karakter beliau sangatlah keras dan terpancar dari sikap dan prilakunya. Namun saat itu, suara yang parau serta runutan kata yang sulit kumengerti terucap dari mulut beliau. Tak kuasa aku minta agar aku bicara dengan ibuku saja, terdengar dari percakapan dari ibu bahwa kondisi ayah sudah tak mungkin disembuhkan. Jadi dari pihak keluarga sudah mempasrahkan kepada takdir yang sudah diguratkan dalam setiap insan manusia di bumi, ada saatnya kita datang dan kembali..

22 Desember 2007

Masih terngiang di kepala, betapa perjuangan utk mencapai hari ini sudah terlampaui dengan penuh lika-liku. Pagi yang cerah menerpa pandanganku keluar jendela rumah kami yang kecil di rumah susun yang sudah kami tinggali dari tahun 1988. Hmm tak terasa yah waktu bergulir sangatlah cepat. Tahun demi tahun berlalu dan entah kenapa diri ini serasa ingin terbang kembali ke masa kecil dulu yang indah, hmm.. Tapi hari ini adalah panggilan yang tak akan terlewatkan. Bagaimana diriku akan menuntaskan setengah perjalanan dari agama, sungguhlah indah dan sangat kunantikan bersanding dengan wanita yang menjadi belahan diri, insya Alloh.. Kala mengucapkan janji yang penuh khidmat maka dengan membaca alhamdulillah tak kuasa diri ingin bersorak sorai dan menangis dalam waktu bersamaan. Iringan doa serta ucapan selamat mengalir tak pernah berhenti dari keluarga dan kolega. Entah knapa, dari dahulu jika mengikuti resepsi pernikahan bagaikan melihat masa lalu serasa melihat replika memori kehidupan. Bertemu kembali dengan teman semasa kecil kala dahulu bermain di kebun belakang SD, atau dengan  kawan SMA yang senang menikmati rindangnya pohon karet besar yang menaungi kegiatan olahraga atau rekan sejawat di kampus universitas dahulu yang sudah membawa momongan atau anak kecil berumur 3 tahun. Hmm waktu sungguh cepat berlalu..

7 September 2009

Empat tahun lamanya sudah diri ini menikmati hidup di negeri orang. Tetap saja ada perasaan yang hilang entah mengapa diri ini selalu mengingat betapa enaknya hidup di negeri sendiri yang penuh dengan kompleksitas hidup yang beragam, sangatlah kontradiktif dengan kondisi disini..

Sambil melirik wajah istri yang sedang tidur nyenyak di sofa dan mata ini sesekali melihat rangkaian US Open 09 yang cukup menarik perhatianku, hatiku kembali mengingat rangkaian cerita hidup yang telah terlewati hingga hari ini. Sungguh banyak sekali runutan kata yang bisa ditulis dan dirangkai menjadi satu buku yang tebal. Namun paragraf dan bab buku ini tak akan pernah bisa menggantikan memori indah, sedih atau bahagia yang berjalan seiring dengan untaian waktu kehidupan..

Epilogue.

Banyak sekali nikmat dan karunia yang kita terima dan lupakan dalam hidup ini. Alangkah baiknya segala upaya serta niat yang telah kita lakukan kembalikan kepada-Nya. Semoga dalam rangkaian memori ini tak luput dari jangkauan pasang surutnya roda kehidupan yang bergulir tak  berhenti. Namun ingatlah suatu saat bahwa diri kita akan bertemu kembali dengan yang maha kuasa. Bawalah bekal yang cukup agar tidak menyesal di kemudian hari..

Ya Alloh berikan hamba petunjuk-Mu dan jagalah selalu niat serta upaya ini agar selalu berada di koridor yang ditetapkan oleh-Mu…

-AMel-


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 16 Ramadhan 1430 H

Oleh: Nur Alia Oktaviani 

Awan putih telah tertembus, tinggal tersisa kabut tipis, yang dibaliknya terlihat hamparan dengan bentuk-bentuk serupa rumah berwarna oranye, kecil-kecil di bawah sana. “Sebentar lagi pesawatnya akan mendarat, aku harus bersiap-siap” kataku dalam hati. Ada kerinduan yang begitu menyeruak dalam relung hatiku yang makin berdebar kencang. Hari ini aku akan bertemu dengan keluargaku. Dua tahun tidak bertemu mereka, adalah waktu yang tidak mudah bagiku. Dan di empat bulan terakhir ini, begitu banyak hal yang terjadi. Disaat aku baru saja memutuskan untuk melengkapi setengah Dien-ku, badai yang sangat hebat menerpa hidupku. Ibuku masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan yang sangat hebat. Hb-nya turun dari yang normal,11,  menjadi 4. Aku hanya bisa berdoa dan membantu sebisaku dari negeri kincir angin ini. Sangat sulit bagiku untuk pulang pada saat itu karena studiku hampir selesai, ditambah lagi aku memprioritaskan uangku yang jumlahnya sangat terbatas untuk biaya perawatan ibu di rumah  sakit. Sulit sekali untuk memfokuskan pikiranku pada studiku. Aku hanya bisa berkata dengan penuh kepasrahan ”Ya Allah, aku sudah mengikhlaskan diriku untuk menempuh semua yang terjadi dalam hidupku”. Satu bulan setelah kesehatan ibuku sudah mulai membaik, ayahku pun masuk rumah sakit. Awalnya, beliau terserang sakit kepala yang begitu hebat, namun pihak rumah sakit tidak tahu apa penyebab penyakitnya. Mereka hanya memberikan obat-obat penenang dengan dosis yang sangat tinggi. Akhirnya kami sekeluarga memutuskan untuk memindahkan ayahku ke RS Pelni Jakarta. Ternyata disana akhirnya diketahui bahwa ayahku menderita penyakit tipus dan radang sinusitis. Kami cukup lega mendengar ketika akhirnya penyakitnya sudah diketahui. Satu bulan setelah dirawat, akhirnya dokter membolehkan beliau untuk menjalani perawatan di rumah saja. 

Aku mengambil koperku dan menuju lobby kedatangan. Disana aku menemukan kakakku, ya kakakku tercinta. Aah dia masih saja sama seperti kakakku yang dulu, namun nampak anggun dengan jilbabnya yang rapi. Aku berlari memeluk kakakku melepas kerinduanku yang mengharu biru. Kami memutuskan untuk pulang dengan bus, masih cukup jauh memang. Ditengah perjalanan, tiba-tiba ibuku menelpon bahwa panas ayahku sangat tinggi. Ibuku meminta kami agar segera pulang secepatnya. Sesampainya di rumah, ibuku membuka pintu. Betapa terkejutnya diriku melihat ibuku yang menjadi sangat kurus. Beliau kehilangan beratnya lebih dari 20 kg. Hampir seberat koperku yang kubawa, seberat itulah berat badan ibuku hilang. Aku hanya bisa menangis dan memeluk ibuku. Setelah itu aku pun menuju kamar ayahku. Sesosok yang dulunya gagah dan segar kini berubah 180 derajat. Ayahku terbaring diatas kasur sambil meringkuk. Matanya terpejam. Badannya sangat panas.  Dia hanya membuka matanya sedikit lalu matanya terpejam kembali. Yang membuatku sangat terpukul, beliau tidak mampu lagi mengenaliku. Aku merasa sangat bersalah sekali karena kakakku mengatakan bahwa ayahku sangat rindu sekali padaku dan juga ada perasaan berat untuk melepasku yang akan menikah sebentar lagi meskipun beliau juga yang sangat bersemangat pada mulanya. Hari-hari selanjutnya ternyata jauh lebih berat dibandingkan apa yang aku alami sebelumnya. Pernah ayahku terjatuh di kamar mandi dan tak mampu lagi untuk berdiri. Bahkan, kami bertiga (aku, kakakku dan ibuku) tidak kuat untuk mengangkat beliau ke kamar.  

Kami pun berbagi tugas, kakakku bekerja juga untuk menafkahi keluarga, aku dan ibuku yang harus merawat ayahku sehari-hari. Dimulai dari memandikan, membersihkan kotorannya dan menyuapkan makanannya. Tidak ada lagi keinginan untuk melanjutkan rencana pernikahanku saat itu. Hanya saja ketika orang tua calon suamiku ingin sekali bertemu denganku, akupun memutuskan untuk bersilaturahmi kepada mereka. Setidaknya hanya silaturahmi pikirku. Namun setibanya di rumah mereka, mereka mengajakku untuk segera fitting baju. Nampaknya persiapan mereka sudah sangat jauh. Padahal keluargaku pun belum membicarakan hal ini kembali dengan keluarga besarku. Aku hanya bisa terdiam dan tak mampu berkata apa-apa lagi. Yang aku tahu, mereka sudah tahu tentang kondisi keluargaku. Dan mereka bisa menerima kondisi keluargaku. Keesokkan harinya ternyata kondisi ayahku drop kembali. Bukannya hanya badan yang panasnya saja naik yang secara drastis, tapi beliau juga tidak mampu menelan air. Kakakku menangis sambil terus memberikan aba-aba kepadaku untuk melakukan sesuatu. Jika begini terus, ayahku harus diinfus. Tidak ada jalan lain.  

Pagi itu aku menelpon kakak laki-lakiku di Jepang. Beliau juga sangat khawatir, namun saat ini beliau sangat tidak mungkin pulang, karena beliau sedang berada pada kondisi terberat masa studinya PhD-nya di Jepang. Aku mengatakan pada kakakku untuk membatalkan semua rencana pernikahanku, karena aku tidak sanggup memikirkan keduanya secara bersamaan. Aku tidak ingin menjadi anak yang egois dan hanya memikirkan diriku saja sendiri. Aku tahu bahwa aku akan menghancurkan perasaan calon suamiku, keluarganya dan tentunya perasaanku sendiri. Namun aku tidak sanggup lagi untuk berpikir. Kakakku mencoba berpikir tenang dan mengatakan untuk melihat situasi selama seminggu ke depan dan tidak tergesa-gesa untuk mengambil keputusan-keputusan besar. Aku pun mengikuti saran kakakku.  

Sorenya seorang ustadz datang menjenguk ayahku. Ibuku menceritakan kondisi ayahku yang semakin memburuk dan ayahku yang kehilangan semua ingatannya bahkan untuk sholat sekalipun. Pak ustadz hanya tersenyum ”Saat ini kewajiban suami ibu sudah gugur dikarenakan sakitnya”. Pak ustadz juga menceritakan bahwa adiknya juga menderita penyakit yang sama dengan ayahku. Penyebabnya karena dosis obat yang sangat tinggi sehingga ayahku terkena stroke. Kamipun akhirnya terdorong untuk memeriksa semua komposisi dan indikasi serta kontra-indikasi obat-obat ayahku. Ternyata ustadz itu benar. Obat-obat ini sangat keras. Beliau menyarankan kami untuk mengganti obat itu dengan habatussauda sebagaimana yang dianjurkan dalam hadist Rasulullah saw. Kami mengikuti saran itu  dan juga kami membawa ayahku untuk menjalani terapi akupuntur. Seperti keajaiban…kondisi ayahku sedikit demi sedikit membaik. Panasnya kemudian turun, beliau bisa menelan air kembali dan bahkan sedikit demi sedikit sudah bisa berjalan kembali meskipun masih dituntun. Namun ingatannya belum benar-benar pulih. 

Hari itu kami memasuki Ramadhan 1429 H dengan kondisi prihatin. Satu minggu kemudian, tanteku (adik ayahku) datang menengok ayahku. Ada bulir-bulir air mata kesedihan ketika melihat kondisi ayahku. Ibuku juga menceritakan tentang rencana pernikahanku yang terkatung-katung kepada beliau. Tanteku hanya tersenyum sambil berkata pada Ibuku, ”Uni, tidak usah khawatir, kami sudah mengadakan rapat keluarga. Niat untuk menikah adalah sebuah niatan yang sangat baik. Jangan ditunda-tunda. Kami yang akan mengurus semuanya. Dan kita juga akan bersama-sama untuk mengurus Uda yang sakit”. Setelah kunjungan tanteku, akhirnya semua pihak keluarga dari Jakarta mulai sering berdatangan ke rumahku untuk menengok ayahku dan membicarakan rencana pernikahan yang waktunya tinggal sebulan lagi.  

Dentuman hari raya Idul Fitri kali ini benar-benar terasa berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Terasa sepi dan penuh kesedihan. Empat hari kemudian, keluarga calon suamiku dan calon suamiku yang baru saja paginya tiba dari Jepang datang mengunjungi keluargaku. Itulah pertama kalinya bagi calon suamiku untuk bertemu orangtuaku setelah beliau mempinang saya kepada ayah saya melalui telepon tepat sebulan sebelum ibuku sakit. Berjalannya ia mendekati ayahku, kemudian memijit-mijit kaki ayahku. Terngiang-ngiang kata-kata kakak laki-lakiku yang mengatakan ”Kunci utama pernikahan adalah keikhlasan, karena badainya tidak sedikit”. 

Hari-haripun berlalu dan menghantarkan aku pada momen terbesar dalam hidupku. Sahabatku, yang selama ini menemani studiku di Belanda, datang mengunjungiku di malam sebelum pernikahanku. Betapa bahagianya hatiku ketika bertemunya saat itu. Wajah yang selalu menemaniku dalam suka maupun duka. Malam itu aku benar-benar sulit sekali untuk tidur. Padahal sahabatku terlihat sudah terlelap dalam mimpinya. Akhirnya kuputuskan untuk sholat, Sholat istikhoroh. Dan jawabannya akan terlihat di keesokan paginya. Malam itu aku benar-benar mengikhlaskan semuanya. Apapun yang terbaik menurut pilihan Allah. Karena aku tidak mampu melihat masa depan, namun hanya Dia-lah mengetahuinya. Pagi itu, pagi yang sangat menentukan sekali. Alhamdulillah, kondisi ayahku baik-baik saja, dibandingkan kondisi sebelumnya. Namun untuk akad nikah itu, kakak ayahku, pamanku yang menjadi wali saat itu. Proses sakral bersatunya dua insan dalam sebuah ikatan suci pernikahan sendiri hanya berlangsung beberapa menit. Setelah itu aku dipertemukan dengan suamiku. Kamipun berdoa bersama dan suamiku membaca butir-butir kewajiban yang tertulis di buku nikah. Pada saat acara sungkeman, aku tidak mampu menahan air mataku melihat ayahku yang berada di atas kursi roda. Saat itu, segala perjuangan selama ini kembali terbayang ketika aku menapaki sebuah mahligai pernikahan. 

Hampir satu tahun berlalu. Waktu telah menghantarkan aku dan suamiku untuk bertemu dan berpisah kembali, karena kami berdua masih sedang melanjutkan studi di dua belahan bumi yang berbeda, barat dan timur. Walaupun begitu, kami menjalani waktu-waktu itu dengan penuh keikhlasan, kebahagiaan dan  rasa syukur yang mendalam pada Allah SWT. Satu dan lainnya saling membantu, saling mengingatkan, saling menghibur dan bekerja sama sebagai dua insan suami-istri dalam mewujudkan cita-cita. Alhamdulillah, kini kondisi ayahku sudah semakin banyak mengalami kemajuan, meskipun beliau masih tetap belum sembuh sepenuhnya. Juga, kakakku yang berada di Jepang pun akhirnya berkesempatan untuk menengok ayahku di Indonesia. 

”Allahu akbar… Allahu akbar”. Aku tersentak dari lamunanku ketika mendengar suara adzan Magrib dari  Islamic finder di laptopku…..”Badainya sudah reda…”lirihku dalam hati 

Fainnama’al ’usri yusraa Innama ’al ’usri yusraa

”Maka sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah  5-6)


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 15 Ramadhan 1430 H
By : DTK Wardhono (Donny Boy)

Tak terasa bulan Ramadhan telah memasuki pertengahan bulan.  Banyak kegiatan yang bisa kita lakukan selama menjalani puasa di bulan suci ini, namun tidak semua ummat muslim (termasuk penulis) cukup memahami bagaimana caranya mewarnai bulan Ramadhan yang banyak orang bilang bulan Ramadhan adalah bulan penuh Rahmah dan penuh hadiah yang berlimpah pahala. Tentu kita semua menginginkan hadiah yang berlimpah ruah kan?

Setelah membaca baca Panduan Ramadhan yang diterbitkan oleh MMBI (Manajemen Masjid Baitul Ihsan), penulis merasa perlu berbagi dengan pembaca mengenai hal hal apa saja yang perlu dilakukan dalam rangka mewarnai kehidupan kita di bulan Ramadhan yang mungkin kita sudah mengetahui sebelumnya, tapi saat ini sedang alpha melaksanakannya. Ada beberapa amalan yang baik untuk mewarnai kegiatan kita selama bulan Ramadhan, antara lain:

1. Berinteraksi dengan Al Quran
Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Quran (QS.2:185).  Tidaklah aneh bila Rasulullah SAW lebih sering membacanya di bulan Ramadhan. Maka tidak aneh pula apabila pengurus de Gromiest di bulan suci ini lebih sering mengadakan tadarussan dan Insya Allah makin banyak yang mengikuti kegiatan tadarussan ini. Terus terang saja, penulis setelah kembali ke Indonesia kehilangan masa masa indah bersama teman teman di Groenny untuk tadarussan bersama, karena sangat dirasakan bahwa dengan membaca AlQuran bersama jauh lebih enak dan semangat dibandingkan membaca Quran sendiri.

2. Sholat Tarawih
Salah satu kegiatan utama di bulan Ramadhan adalah sholat malam atau yang dikenal dengan Sholat Tarawih. Sholat tarawih ini bisa dikerjakan di masjid atau di rumah kita masing masing.  Sekali lagi, penulis merasa lebih nyaman dan semangat apabila dilakukan bersama sama. Penulis selama seminggu pertama bulan Ramadhan sebelum kembali ke Indonesia, merasakan betapa dirasakan jauh lebih berat pabila melakukan sholat tarawih sendirian. Oleh karena itu, hendaknya kita bisa bersama sama melaksanakan sholat Tarawih berjamaah dan kita pun otomatis mendapatkan pahala 700 kali lipat dari biasanya.  Menarik bukan?

3. Memperbanyak zikir, doa dan istighfar
Jangan kita biarkan waktu yang cukup panjang ini dengan kegiatan yang sia sia, seperti mengobrol, becanda yang tidak perlu, menonton tivi RTL atau TMF dsb. Tapi terkadang hiburan ini sulit untuk kita hindari, sehingga yang bisa penulis sarankan adalah dengan mengurangi kegiatan tersebut selama bulan Ramadhan, tinggal setengah bulan lagi kan kita puasa?

4. Shodaqoh, Infak dan Zakat
HR. Al-Baihaqi, Alkhotib dan At-Turmudzi mengatakan sebaik baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan. Nah, menurut hemat penulis, hal ini paling gampang kita lakukan. Segeralah mendatangi masjid di Selwerd atau yang di dekat madurastraat untuk beramal. Ingatlah bahwa bulan ini seluruh amalan ibadah akan dilipatgandakan.

5. I’tikaf
I’tikaf adalah tetap tinggal di masjid dan bertaqqarub kepada Allah dan menjauhkan diri dari aktifitas keduniaan. Nilai ibadah ini juga sangat penting dan merupakan puncak ibadah di bulan Ramadhan.  Nampaknya berat untuk dilakukan.  Penulis pun pernah mencoba melakukan I’tikaf, namun ternyata tidak mudah dan harus diiringi dengan niat yang lebih kuat. Rasulullah SAW ketika memasuki 10 hari terakhir, menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Mencari Lailatul Qodar
Lailatur Qodar merupakan salah satu kemuliaan yang diberikan Allah SWT kepada Rasulullah SAW untuk ummat Islam sebagai malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan biasa. Marilah kita berlomba lomba untuk mencari malam Lailatul Qodar di sepuluh hari terakhir, khususnya malam ganjil.  Masih belum terlambat kan? 

Selamat mewarnai Ramadhan kita…….


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 14 Ramadhan 1430 H

Oleh: Faizah Fulyani

Malam ini aku mencoba berdialog dengan hatiku yang tampak selalu saja menangis di tengah keheningan malam.
Ketika semua orang masih terlelap dengan impiannya masing-masing dia setia menemani mata ini bersedih, menangis bersama

Lalu akupun bertanya,
Kenapakah engkau selalu saja bersedih wahai hati, tidak lelahkah engkau menghabiskan waktu malam-malam mu bersama mata yang memerah, basah dengan air mata..
Dia terdiam sejenak,..berusaha mengumpulkan segenap kekuatannya….terbata ia berucap

Tahukah apa yang membuatku bersedih?.. aku merasa sendirian,.. tanpa ada yang benar-benar mencintaiku…tahukah dirimu perasaan itu mencabik-cabik, menorehkan rasa yang teramat luar biasa sakit pada diri ini, membuat malam-malamku terjaga dan tergenang air mata….pedih sekali.

Aku terdiam..memikirkan tentang cinta yang ia maksudkan, lalu aku pun bertanya lagi pada diriini benarkah.., benarkah demikian adanya?

Jika kupikirkan lagi tentang diriku..mungkin hati ini benar..mungkin ia benar adanya

Tuhan, Adakah Engkau mencintai diri yang hina ini?
Tuhan, Aku tak perlu memberitahuMu lagi bukan?, Engkau lebih tahu adanya, betapa hina dan berdosanya diri ini, siapakah aku ini begitu durhaka kepadaMu, Siapakah aku yang doá nya berhak untuk didengar …yang masih jauh dari ikhlas..malangnya jika seandainya aku tidak dicintai olehMu Ya Rabb, yang menciptakan, yang membuatku ada didunia ini, yang kepadaMu aku kembali..

Nalarku tiba-tiba saja mengelak, Hei…apakah namanya bukan cinta, Ia yang memberi nafas kehidupan di setiap pagimu, ketika engkau membuka mata.. mentari bersinar di kedua matamu, kicauan burung bernyanyi ditelingamu, angin menggelitik di kulitmu..Dia memberimu kesempurnaan, kesempatan dan perlindungan, apatah itu kalau bukan cinta..

Aku terdiam dan bertanya lagi,..

Tuhan, apakah aku dicintai kedua orang tuaku? aku aku mengajukan pertanyaan ke dua….

tentu saja, nalarku menjawab, ibumu mengandungmu selama sembilan bulan, ayah ibumu membesarkanmu dengan segenap terbaik yang mereka miliki, menyekolahkanmu di tempat terbaik, menggenapkan segala kebutuhanmu diatas kebutuhan mereka, memberimu tempat bernaung, mendoakanmu..apatah yang hendak kau katakan jika itu bukan cinta..

Aku pun berdiam dan melanjtkan pertanyaanku

Tuhan, apakah adikku mencintaiku?

Hmm suara itu kembali menjawab..apatah kalau bukan cinta ketika ia datang menghiburmu dengan risoles kesukaanmu ketika engkau bersedih saat kau pikir kau kehilangan kesempatan bersekolah di sekolah impianmu, bagaimana ketika ia menemanimu semalaman untuk laporan yang engkau kerjakan begadang, pun bahkan membantumu mengetikannya, apakah bukan cinta secangkir teh hangat sehabis kau pulang dari kampus, apakah bukan cinta pelukannya saat itu…..

Aku kembali diam membisu dan melanjutkan

Tuhan, bagaimana dengan teman-temannku, adakah mereka mencintaku..adakah aku diingat dan didoakan..apakah benar mereka mencintaiku seperti doa yang sering kami ucapkan bersama..?

Tiba-tiba saja aku teringat ketika aku sakit.. ada tangan yang membantu memijitiku semalaman..walau saat itu ia terkantuk-kantuk dan kelelahan..ketika aku kesulitan di ujianku ada yang bersedia belajar bersama walau ia jadi terhambat karena itu, berjuang bersama..ketika aku lapar ada yang dengan suka rela memasakanku makanan yang enak..ketika kau berulang tahun dan sendirian ad ayang memberiku kejutan yang begitu manis..ketika aku bersedih ada sepasang telinga yang mendengarkan..apakah bukan cinta?
mendengar itu..aku terdiam..titik-titik air mata ku berlomba berjatuhan satu persatu.
Hati ku sakit, kerongkonganku tercekat, semua jawaban yang kudengar aku tahu..aku tahu bahwa aku tidaklah kekurangan cinta..begitu banyak cinta melimpah disekelilingku, hanya saja diri ini tidak tahu bagaimana seharusnya menerima cinta. Ia tidak tahu bagaimana seharusnya mensyukuri cinta itu..hari-harinya jauh dari syukur.. cinta yang datang padanya..karena itu ia tetap merasa sendiri dan kekurangan cinta..nikmat itu..

Maka nikmat tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan

Lalu akupun teringat kembali bahwa nikmat itu seharusnya dekat dengan syukur dan cinta itu adalah nikmat..

“ Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Pada akhirnya aku menyadari, bukan cinta yang tidak mendatangi ku, tapi aku yang mengabaikan cinta, barangkali aku lah yang tidak layak dicintai

Wahai cinta engkau selalu mendatangiku bukan? tapi aku tidak pernah mensyukurimu..hingga ketika kini hatiku merasa sepi tanpa cinta, itu adalah teguranku..

Tahukah aku tidak akan mengeluh lagi.. biarlah jika cinta tidak mendatangi hati ini, aku punya banyak cinta di sini..aku akan membaginya..dunia butuh cinta bukan? aku punya banyak… aku akan berhenti mengeluhkan bahwa aku tidak merasa cinta, aku dicintai itu jelas adanya jika hati ini belum merasakannya ku yakin suatu saat nanti ia akan merasakannya..aku akan perbuat apa yang bisa kulakukan aku akan mencintai..mencintai orang2 yang dulu kuabaikan cintanya..
Bagaimana?..aku akan mensyukuri semua yang diberikan Allah kepadaku, cinta terbesar Sang pencipta pada ciptaannya..seterusnya pada orang2 disekelilingku..pada bangsaku..pada dunia..untuk Islam..

somehow i feel stronger ..semoga bisa kuwujudkan..
jikalau aku memang belum layak untuk dicintai kini maka aku akan berusaha hingga kelak aku layak untuk dicintai

Kelayakan dicintai adalah definisi dari sebuah kapasitas diri.
Kapasitas yang diukur dari sejauh mana diri kita memiliki harga.
Dalam wujud amal nyata dan peran-peran yang berbukti.
Bukan status , apalagi sekedar hiasan performa dan gincu-gincu kepalsuan.
Nilai umum dari orang yang layak dicintai adalah kemanfaatan dirinya bagi kehidupan , bagi sesama, dan bagi keberlangsungan hidup diri dan orang lain

Groningen..3 Maret 2008.. ketika menatap remang lampu jalan jam satu malam


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 13 Ramadhan 1430 H

Oleh: Robby Roswanda

Kadang ku berharap tak mengenal-Mu, Tuhan
Karena dengan begitu,
mungkin aku takkan manja
karena dengan begitu,
mungkin aku tidak akan perhitungan
aku akan berbuat baik bukan karena pahala,
dan menjauhi yang buruk pun bukan karena takut dosa,
tapi aku tau karena semua itu memang baik bagiku untuk dilakukan atau dijauhi

Kadang ku berharap tak mengenal-Mu, Tuhan
Karena dengan begitu,
aku pasti akan bekerja lebih keras
karena apabila aku gagal,
aku tak akan punya apa-apa lagi

akan tetapi,
logika ini tampak terlalu angkuh untuk menafikan-Mu
jiwa ini terlalu lemah tanpa kehadiran-Mu
nurani ini akan kesepian tanpa-Mu

maafkan lah hamba-Mu yang pemalas ini ya Allah
yang hanya datang pada-Mu saat gagal
yang hanya membaca ayat cinta-Mu ketika gundah

sungguh,
diri ini terlalu kotor dengan dosa
kalau tidak kepada-Mu
kemana lagi hamba harus meminta ampun
terima lah tobat hamba-Mu ini, ya Allah

astagfirullahal’adzim… astagfirullahal’adzim… astagfirullahal’adzim…


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 12 Ramadhan 1430 H

Oleh: Lia Atwa

BERANI BERMIMPI…….mungkin dulu tak selantang ini saya ungkapkan, bukan saya takut bermimpi, tapi dulu mimpi seperti dunia lain, dunia kedua, angan, pengharapan, sesuatu yang abstrak. Saya teringat ketika saya masi di sekolah dasar mimpi saya waktu itu, sangat sederhana ingin menjadi orang kaya, punya banyak uang, mirip sebait syair lagu Opi andaresta ”Andai aku jadi orang kaya, andai tak usah pake kerja” yang terbayang waktu itu adalah semua uang itu akan bisa membeli semua mainan, boneka barbie, dan tentu saja memamerkannya pada teman-teman. Akan tetapi mimpi itu tak pernah menjadi nyata, sampai usia kemudian beranjak. mimpi aneh selanjutnya adalah ingin cepat menjadi orang dewasa, terdengar lucu. Waktu itu orang dewasa terlihat sangat “keren,” tanpa pernah saya berpikir orang dewasa punya lebih banyak masalah karena “kedewasaannya.” Seharusnya saya menyesali mimpi itu, ah tapi sudahlah, toh semua sudah lewat, dan dulu saya tetap menikmati hidup dengan mimpi-mimpi yang kemudian tersapu oleh waktu tapi tetap terdokumentasi dengan rapi di otak saya, sekedar menjadi penghibur untuk mengenang kepolosan Lia di masa lalu.  Yang paling aneh, dulu salah satu kakak saya bercita-cita menjadi seorang tukang becak, terkadang dia menempelkan handuk di lehernya, “ke alun-alun lima ratus, bolak-balik seribu” dan ternyata urusan uang pula penyebabnya.

Dulu almarhum bapak saya, kadang bertanya, soal cita-cita dan mengobrol panjang lebar soal itu, sebut saja nanti mau apa, kuliah dimana, mau jadi apa dokter, insiyur, atau apapun itu, dan sebagainya. Jawabannya kadang berubah, dari A, B, C, ah entahlah, seperti tadi gambar mimpi masa depan saya masih tidak jelas.  Bapak hanya mengiyakan semuanya, tidak mendokrin apa-apa. Itu yang saya suka dari beliau, orang yang keras kepala tapi tidak pernah memaksakan hal-hal seperti itu.  Tapi lebih dari itu, beliau mengajarkan saya untuk berani bermimpi.

Kakak laki-laki pertama saya, yang kemudian membuat saya tergoda untuk bermimpi lebih tinggi. Bagaimana dia bercerita tentang hidupnya, mimpinya sebagai seorang sarjana teknik, walaupun dia bukan lulusan universitas terkenal. Tentang keinginannya berdikari. Kemudian dia yang bercerita tentang seorang teman yang melepaskan semuanya di Indonesia dan menuntut ilmu didaratan Eropa, dia selalu bercerita betapa pintarnya si teman tadi. Tiba-tiba, entah darimana pikiran itu datang, terbersit sebuah angan, dimana sayalah orang dibicarakan sang kakak. Tampak indah, menuntut ilmu setinggi itu dengan semangat seperti itu. Dan lagi-lagi, itu hanya sebersit angan.

Mimpi-mimpi itu, dulu saya rangkai, walaupun tidak dengan keyakinan penuh, banyak hal muncul di kepala saya. Bukan lagi mimpi menjadi orang kaya untuk punya barbie mahal. Obrolan-obrolan bersama orang-orang yg senang bermimpi dan berani memperjuangkannya, mereka mentransfer energi itu. Tapi apakah mimpi hanya sebatas mimpi ? Saya tak berani berkata sekarang. Sungguh, akan sangat mudah menuliskan sejuta mimpi, tapi ada yang sifatnya hanya menempel sejenak di otak, lalu hilang. Ada juga mimpi yang membuat kita jadi terbuai, tapi ada juga yang tertanam dengan kuat.

Ketika tekad sudah bulat, sang mimpi akan menghempas setiap terjalnya batu, aral rintang. Tapi tentu saja, kadang tak semudah itu.  Kadang kita terantuk, jatuh, bahkan tak sadarkan diri. Ada yang terhempas, terlupakan atau sengaja dibuang, ada yang mengaduh rusuh, gelisah, ada yang jungkir balik, ada yang balik kanan untuk berbalik arah. Pada akhirnya mimpi adalah sebuah perjanjian yang dipertaruhkan, akankah kita kalah, menyerah bukan pada nasib, bukan menyerah pada takdir tapi menyerah pada satu, satu kesatuan antara daging-darah-tulang, hati-otak, jiwa. Teringat sebait sajak yang sangat disukai syahrir ‘’Hidup yang tidak dipertaruhkan tidak akan pernah dimenangkan.’’ Sekarang saya ingin bertaruh dengan mimpi saya, tentu saja saya tidak ingin kalah oleh buaiannya belaka, mimpi yang abstark itu sedikit-demi sedikit harus didekati. Saya tak ingin sang mimpi mengejek kekalahan saya.

Kadang saya terlalu lelap tidur, bermimpi, mimpi yg tanpa batas, ketika terbangun, limbung karena terlalu banyak tertidur. Lupa bahwa mimpi-mimpi tadi dipertaruhkan. Ketika otak dan hati ini sehat, saya bisa lari sekencang mungkin menabrak semua batasan, melepaskan semua kekangan. Tapi ada saatnya diri sendirilah yang mengencangkan semua tali tadi dan mengikatnya pada tiang-tiang, membuat tak mungkin berlari, bahkan untuk merangkak pun sulit. Dan mimpi tadi hanya menjadi sebuah tulisan atau hanya gambar yang tak berbentuk lagi.

Ada sebait sajak dari Rendra yang selalu membuat saya termenung, mengingatkan saya tentang betapa banyak rahasia Allah SWT yang belum tersingkap, dan salah satunya adalah mimpi-mimpi di masa depan. Yang tentu harus diperjuangkan.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
(W.S.Rendra)

Ada seorang teman pernah bercerita, dia mempunyai sebuah mimpi besar dalam hidupnya. Suatu hari ketakutan menyapanya, akhirnya semua terjawab dengan satu jawaban “Saya serahkan semuanya pada Allah,” ada takdir yg penuh dengan kejutan, melebihi semua ketakutan-ketakutan akan masa depan.

Tulisan ini mungkin hanya sebagai pengingat, disaat kaki sudah tak bisa bergerak, tapi selama kesadaran itu masih ada, saya yakin saya masih sedang bertaruh.  Setiap orang bergulat dengan mimpinya masing-masing, dan mungkin juga limbung dihajar ujiannya. Itu sedikit mengobati hati, ternyata manusiawi saat kita merasa lelah dan berniat menyerah. Tapi banyak pula orang yang melaju dengan kencangnya. Mereka yang lantang berbicara tentang mimpinya, lalu terdiam menutup mulut, mengisi bahan bakar, mengubahnya menjadi energi yang mendorongnya kencang berlari, melesat berlomba dengan angin yang membisiki banyak hal dan mungkin membelokkan arahnya. Sungguh saya ingin belajar pada-orang-orang ini.


Cinta

Filed under Ramadhan 2009,

Diary Ramadhan: Edisi tanggal 11 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Bagaimanakah bentuk hubungan antara manusia dengan Tuhan? Bagaimana manusia mengenal Tuhan? Apakah sebagai Bapak, sebagai Ibu, sebagai Pencipta, sebagai Hakim, sebagai Pemberi Ampunan, sebagai Teman atau sebagai Kekasih? Dalam berbagai macam situasi dan kondisi yang berbeda-beda, kita berikan tempat untuk Tuhan sesuai dengan kebutuhan kita saat itu. Ketika kehidupan manusia dimainkan oleh ketidak-adilan dan tersakiti oleh ketidak-adilan itu sendiri, dia butuh Tuhan yang sempurna akan Keadilan-Nya. Seketika itu dia akan merasakan tenang dan sakitnya pun akan terobati, dia akan temukan kedamaian dalam Keadilan Tuhan. Akan tumbuh dalam hatinya rasa Keadilan dan dia melihat dunia dalam kacamata yang lain.

Ketika manusia tak punya ayah atau ibu, maka Tuhan akan menjadi Ayah atau Ibunya. Ayah dan ibu dalam dunia ini hanya mencerminkan sedikit cinta dari Sumber Cinta Yang Maha Sempurna. Ayah dan ibu memberikan cinta yang tulus kepada anak-anaknya. Tuhan memberikan Cinta-Nya yang Tulus kepada seluruh alam semesta dan jagad raya. Dan manusia akan menemukan, bahwa Tuhan Maha Pengampun, seperti orang tua kita mengampuni kekurangan kita.

Dan manusia yang melihat Tuhan sebagai Kekasih, apalagi yang dia inginkan dalam hidup ini? Hatinya terbuka akan semua keindahan, baik nuraniah maupun lahiriah. Bagi mereka, Kekasih tak pernah pergi. Selalu ada. Ketika menutup mata dan ketika membuka mata. Telinganya mendengar Suara-Nya. Matanya melihat-Nya. Tuhan menjadi kenyataan saat ini. Tuhan ada dimana-mana, di hutan, di pantai, di kampung atau di kota, di Indonesia atau di Belanda, di pasar atau di tempat kerja, di dalam rumah atau di luar rumah, di dalam kamar atau di luar kamar, dimana-mana.

Namun manusia tak akan menemukan Kekasih dalam Tuhan, sebelum komponen cinta dalam dirinya berkembang sepenuhnya. Mereka yang cinta terhadap teman-temannya dan benci terhadap musuh-musuhnya tidak menemukan Kekasih dalam Tuhan, karena mereka tidak mengenal Tuhan. Cinta Tuhan tak membeda-bedakan. Tuhan cinta semua. Apakah Tuhan hanya cinta orang Indonesia saja dan tidak cinta orang Belanda? Apakah cinta Tuhan hanya untuk orang yang percaya kepada-Nya saja? Sedangkan orang yang tidak percaya kepada-Nya tetap diurus dan diberi kehidupan. Apakah Tuhan hanya cinta orang Islam saja dan membiarkan orang Kristen tak terurus? Bahkan kepada orang yang tak mengaku beragama pun Tuhan berikan Cinta-Nya. Kepada semua mahluk di alam semesta diberikan-Nya Rahmaan dan Rahiim.

Inilah yang dinamakan dengan cinta tak bersyarat. Analogi cinta tak bersyarat bisa ditemukan pada cinta orang tua kepada anak-anaknya. Dan cinta orang tua ini hanyalah contoh kecil dari cinta Tuhan kepada mahluk-mahlukNya. Kita semua adalah anak-anakNya. Walaupun kita berulang kali melakukan kesalahan, jika kita meminta ampunan, maka Tuhan Maha Pengampun. Jika kita butuh Dia, Dia selalu ada, bahkan lebih dekat dari urat nadi kita sendiri.

Apakah cinta tak bersyarat ini mudah didapat? Jawabannya: Tidak mudah. Apakah bisa dicapai? Jawabannya: Ya. Jika kita mencintai seseorang, kita ingin cinta kita berbalas. Kita ingin orang yang kita cintai membalas cinta kita. Kalau orang yang kita cintai tidak membalas cinta kita, cinta kita terhadapnya akan mulai menghilang. Apalagi jika orang yang kita cintai sama sekali cuek dan membiarkan kita, cinta yang tadinya kita miliki akan mulai perlahan-lahan luntur sampai akhirnya tak berbekas sama sekali. Dalam stadium tertinggi, cinta kita terhadap sesama seharusnya adalah cinta yang tak bersyarat. Baik terhadap kawan maupun terhadap lawan, kita senantiasa dianjurkan untuk mencintai mereka. Secara kawan dan lawan kita akan membuat diri kita menjadi lebih baik. Kita belajar baik dari kawan maupun lawan. Kawan dan lawan sama saja. Jika kita ingin belajar mendapatkan cinta tak bersyarat, cobalah amati bahwa di belakang segala sesuatu ada Dia. Dalam kawan kita ada Dia. Dalam lawan kita ada Dia. Ada Tuhan dimana-mana. Dan Tuhan sayang kepada mahluk-mahlukNya.

Mari kita coba kembangkan sepenuhnya element cinta dalam diri kita.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 10 Ramadhan 1430 H

Oleh: Eka Amhalia

Beberapa waktu lalu saya singgah di website salah seorang kawan lama. Di salah satu artikelnya kawan saya bercerita betapa cinta sebenarnya adalah sebuah pekerjaan berat yang hanya mampu diemban oleh orang-orang kuat. Tulisan kawan saya itu menggugah perasaan dan logika berpikir saya. Saya pun terus membaca artikel kawan saya itu sampai akhir. Lewat tulisannya itu kawan saya berpendapat bahwa ketika kita mencintai seseorang maka seharusnya cinta tidak hanya melibatkan emosi sebagai salah satu bagian dari eksisitensi cinta itu sendiri, tetapi bagaimanapun juga, seharusnya ketika dua orang saling mencintai maka mereka harus dapat mensinergikan cintanya tersebut menjadi sebuah kekuatan untuk mencintai sesuatu yang lebih besar yakni cinta kepada Illahi dan Rasulullah SAW, selain itu cinta pun selayaknya mampu mendewasakan akal dua orang yang saling mencintai, saling membiarkan keduanya berkembang ke arah yang lebih baik, saling menguatkan dan menyempurnakan bentuk keduanya, saling mengikhlaskan satu sama lain, dan cinta pun selayaknya menghimpun para pecintanya di dalam sebuah madrasah cinta: saling belajar dan memberi pelajaran, saling mengayomi dan mengembangkan. Hmmm…saya sempat tertegun dan berpikir bahwa benar cinta memang bukan pekerjaan yang mudah dilakukan.

Cinta bagi saya pribadi memang merupakan subjek yang selalu menarik untuk saya bagi, saya ceritakan, dan saya diskusikan dengan orang-orang di sekeliling saya. Sangat menarik ketika saya mengetahui bagaimana orang-orang di sekeliling saya menilai dan menimbang cinta. Bagaimana ketika seorang teman saya, katakanlah mas X menolak bercerita lebih jauh tentang cinta karena baginya cinta itu tak ada, yang ada hanya kesempatan untuk senantiasa berbagi dan berbuat baik pada sesama. Lalu bagaimana cinta mas pada orang tua, atau keluarga dan teman-teman? tanya saya. Mas X pun berkata itu cinta yang lain. Lalu saya pun berkata pada diri saya sendiri bukankah cinta adalah sebuah integritas? Sebagai seorang muslim saya percaya bahwa cinta adalah sebuah fitrah yang diberikan Illahi kepada setiap manusia yang kemudian terdefragmentasikan menjadi cinta kepada Illahi Rab yang porsinya terbesar, cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, cinta kepada orang tua dan keluarga dan tentunya yang tidak dapat dipungkiri adalah cinta dan kesukaan terhadap lawan jenis. Hanya saja seringkali para pencinta seringkali menjabarkan cinta yang terakhir saya sebutkan lebih kepada perasaan atau emosi yang meluap-luap sehingga seringkali mengabaikan komponen cinta lainnya yang seharusnya senantiasa dijaga keseimbangannya. Ketika misalnya kita mencintai pasangan hidup kita seringkali kita juga kehilangan komposisi diri kita, atas nama cinta kita seringkali meleburkan kepribadian kita untuk misalnya menyenangkan hati orang yang kita cintai. Yep..cinta memang selayaknya membuat para pecintanya bergerak ke arah yang lebih baik, namun tidak berarti membinasakan karakter pribadi yang telah terpupuk. Cinta pun selayaknya bisa membuat para pecintanya saling memberikan kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik, namun tak jarang karena merasa saling memiliki kita pun seringkali mengikat pasangan hidup kita sehingga menyulitkannya untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih sempurna dan yang lebih membuat saya prihatin atas nama cinta pun seringkali kekerasan fisik maupun mental tak jarang kita lakukan.

Lalu saya masih ingat pendapat seorang sahabat saya mas Y katakanlah. Cinta itu kalau kita ibaratkan seperti lingkaran yang terbagi-bagi (saya lalu mengasosiasikan lingkaran itu dengan lingkaran yang sering saya lihat pada paparan statistika). Kenapa lingkaran? karena itulah bentuk yang tak pernah berakhir..karena seperti itulah cinta. Proporsi terbesar adalah cinta untuk Allah, kemudian cinta pada Rasulullah dan para sahabatnya, lalu cinta pada keluarga, cinta pada sahabat dan lingkungan dan yang terakhir tentunya cinta pada pasangan hidup kita. Nah jika salah satu cinta, misalnya cinta pada pasangan, porsinya membesar maka konsekwensinya cinta pada komponen lain pun akan berkurang..Nah kewajiban kita adalah menjaga kesemuanya tetap menjadi seimbang Ka, karena semua komponen itu adalah sebuah kesatuan. Paparan yang sangat rasional sekaligus bijaksana mas:-)

Lalu saya juga teringat mas Z, kawan lama saya..Cinta itu ternyata kata kerja Ka dan aku baru menyadarinya sekarang ketika aku mengalami sendiri pasang surut dalam kehidupan cintaku. Kamu tau kan bagaimana ceritaku? Ketika cinta itu habis dan kebencian merasukiku manakala kekasihku mengabaikan aku, ternyata hal terbaik yang bisa akau lakukan adalah dengan memberikan cinta itu sendiri..hmmmm, rumusan yang cukup sulit saya mengerti, tapi toh cukup bijaksana.

Saya pun ingat teman karib saya ketika menuntut ilmu di Belanda. Sebagai sesama orang Asia, kami cukup bisa memahami satu sama lain. Mba A, katakanlah begitu, mengatakan: Cinta itu kompleks Ka. Terlalu sulit untuk kita pahami, tapi toh ketika kamu menjalaninya kamu pasti akan semakin bersyukur. Sebelumnya saya tak pernah bisa membayangkan bagaimana mungkin saya bisa menikah dengan suami saya sekarang. We’re totally different, berbeda kebangsaan dan juga tempat tinggal. Tapi toh nyatanya, setelah melewati masa yang sulit kami bisa menyatukan cinta kami.hmmm…

Teman saya yang lainnya, Mba B, misalnya berkata pada saya “…turbulensi waktu pasti suatu waktu akan membawamu pada seseorang yang tepat Ka…kepada seseorang yang memang menjadi setengah bagian darimu. Percayalah someday you’ll find him”
Insyaallah Mba…:-)

Dan seorang kawan saya yang lainnya juga bercerita bahwa laki-laki dan perempuan sebenarnya dulu adalah sebuah kesatuan bulat yang diibaratkan sebagai bola bumi yang kemudian karena tekanan tata surya akhirnya terbagi dua..nah melalui revolusi waktu, ke dua bentuk yang terpisah ini pun mencari bentuknya yang lain. Nah ketika dia bisa menemukan separuh dirinya yang lain, maka mereka pun menjadi satu kesatuan utuh seperti semula…seperti itulah cinta menyatukan manusia.

Hmm..cinta..cintaa…


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 9 Ramadhan 1430 H

Oleh: Abdul Muizz Pradipto

Soekarno adalah bung Karno, salah satu bapak proklamator bangsa Indonesia. Thariq bin Ziyad adalah pemimpin pasukan Islam, penakluk Andalusia, Spanyol. Agung dalam cerita ini imajiner; tokoh bangsa Indonesia di medio awal abad 21, seorang mahasiswa Indonesia di kota Groningen tahun 2009.

Mereka berjumpa dalam suatu kesempatan.

Soekarno (S): Assalaamualaikum pak Thoriq. Tak dapat kesempatan berpuasa lagi kita, sudah puluhan tahun nampaknya.

Thoriq bin Ziyad (T): Waalaikum salam Bung. Situ baru puluhan tahun, saya sudah 15 abad.

S: Betul Pak, memang jaman ini bukan jaman kita lagi. Tak terbilang beda suasananya. Ah, apa kabar bangsaku sekarang? Saya rindu dengan dengan tegur sapanya, dengan ta’jilan Ramadhannya, dengan halal bihalalnya. Saya kira di tempatnya pak Thoriq ga ada tuh halal bilalal.

T: Memang tidak ada di tanah kami. Halal bihalal kan tradisi bangsa sampeyan, budaya bangsa yang mesti dijaga tuh.. Eits, sekarang bukan waktunya marah Bung, bulan Ramadhan nih.

S: Nah, itulah. Eh, mas Agung diem aja ga ikut ngobrol nih. Crita-critalah kabar sekarang. Ato jangan-jangan lagi lemes gara-gara puasa?

Agung (A): Bung, kami di Groningen puasanya panjang sekarang. Sahur pukul setengah lima, buka setengan sembilan lebih. Maklumlah, di sini sedang musim panas. Nyaman sekali puasa di kampung kita di sana.

T: Mas, justru itulah tantangannya. Dengan begitu kawan-kawan mas Agung bisa dapat kesempatan dapat pahala yang banyak. Lebih-lebih kalau sambil puasa, ada pula capaian lain berujud produktivitas.

S: Di Groningen musim panas ya? Ya ya, memang tidak ada musim panas di negeriku dan mas Agung, walaupun tiap hari serasa musim panas. Tapi betul kata pak Thoriq, toh dengan kondisi panas itu, kita tidak terhalang untuk produktif di bulan puasa. Mas Agung mungkin tahu, proklamasi kemerdekaan bangsa kita terjadi di bulan Ramadhan? Ah, jadi ingin mengenang kembali masa-masa itu. Rumitnya menyusun naskah proklamasi, semalam suntuk kita rapat. Anak-anak muda seusia mas Agung itulah.. energi mereka besar sekali. Tapi alhamdulillah, bersama pak Hatta, kita berhasil merumuskan naskah yang memuaskan semuanya.

Jadi ingat, setelah itu, kami sahur sendiri-sendiri di rumah Laksamana Maeda. Pak Hatta mojok di dapur tuh (hihi..).

A: Oh iya, saat itu Ramadhan terjadi bulan Agustus ya. Hm.. tahun ini Ramadhan kita tidak nabrak tanggal 17 Bung, tahun depan baru kena puasa tanggal 17 Agustus. Tapi untungnya, kita jadi bisa bazar-bazar dan makan-makan tanggal 17 itu.

T: Bung Karno, betul tadi kata Bung, tak terhitung lagi bedanya sekarang dengan jaman kita. Bung mungkin rindu dengan sapaan “Merdeka!”, sekarang sapaan itu ga jaman lagi. No offense ya Bung.

Mas Agung sudah ke mana saja selama di Eropa? Sudah mengunjungi Spanyol-kah? Di sana banyak sekali peninggalan jaman keemasan Islam. Mas Agung tahu tidak ya, kami dulu memasuki Andalusia di Spanyol itu di bulan Ramadhan juga. Jadi ingin nostalgia juga. Masih segar di memori bagaimana kami dulu membakar kapal agar tidak ada yang ingin lari mundur. Semangat menggelora, ditambah pasokan kekuatan ruhani akibat ibadah bulan Ramadhan. Hasilnya, Islam berkembang cukup pesat juga di sana. Masjid al-Hambra di Granada saksinya. Sedih sekali rasanya, masa itu tinggal sejarah saja. Al-Hambra dan masjid Cordoba hanya menjadi situs wisata.

A: Saya memang belum berkunjung ke sana, pak Thoriq, dan saya juga belum membuat prestasi seperti bung Karno di tahun 1945.

S: Jangan salah, Mas. Prestasi itu bukan hanya memproklamasikan kemerdekaan, atau menaklukkan suatu negeri seperti yang dilakukan Pak Thoriq. Achievement kata orang, tahu kan? Itu tidak harus spektakuler dan dalam skala besar. Bukan.. Saya kira saya dan pak Thoriq sejalan pikirannya. Cerita kami adalah untuk menegaskan, Ramadhan bukan masa untuk banyak membuat pembenaran buat bermalas-malas. Semangatlah, banyak capaian bisa dilakukan. Mas Agung kan mahasiswa, buatlah target capaian akademik tertentu di bulan Ramadhan ini. Rasanya, capaian dalam level apapun patut diberi penghargaan.

T: Sepakat lagi, Bung. Satu lagi poin saya. Kisah kemenangan kami maupun proklamasi yang dibacakan bung Karno di bulan Ramadhan itu sering cuma jadi bumbu pengantar menjelang Ramadhan. Dibaca dan diposting ulang di milis-milisnya mas Agung itu tiap bulan Ramadhan datang. Lalu banyak yang berbangga dengan capaian yang bukan prestasi mereka itu. Pepatah bangsa kami mengatakan, bukan pemuda namanya kalau cuma bisa bilang, “ini bapakku”, tapi pemuda itu yang mengatakan, “itu lho aku”. Mas Agung ngerti maksud saya kan?

A: Saya paham, pak Thoriq. Saya kira, kisah Bapak dan bung Karno itu bukan diceritakan untuk berbangga-bangga koq. Yah, mungkin ada yang begitu, tapi tidak banyak. Rasanya, tujuannya seperti kata bung Karno tadi, itu untuk memotivasi kita semua. Kawan-kawan saya sepikiran semuanya, saya kira. Kami pun bisa membuat prestasi di bulan ini. Hehe.. seperti lagunya AFI Junior,”Aku bisa.. aku pasti bisa..” Tapi pak Thoriq dan bung Karno pasti ga kenal dengan mereka.

T: Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu kita tunggu prestasinya.

A: Terima kasih Pak, atas obrolannya yang berkualitas.

S: Ya, selamat berpuasa jika begitu. Mohon maaf lahir dan batin.

*Judul serupa ini diinpirasi oleh salah satu tulisan Ust. Rahmat Abdullah (almarhum), dimuat di majalah Tarbawi, long time ago.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 8 Ramadhan 1430 H

Oleh: Sri Aktaviyani

Sering kali hati kecilku berkata, mengapa doa-doaku tak kunjung dikabulkan. Tak sabar rasanya hati menanti jawaban atas doa-doa yang selama ini sudah kumunajatkan. Walaupun terkadang,munajat itu dilantunkan diakhir sholat-sholatku yang masih jauh dari khusyu’. 

Aku juga sering berpikir, bukankan Allah Maha Mengetahui bahwa ruhaniku yang ringkih ini, sudah tidak sanggup lagi untuk menjalani semua ujian kehidupan yang Ia Berikan. Bukankah Allah tidak akan menguji selain sesuaidengan kemampuanhamba-Nya? (QS Al Baqarah : 286). Ya Rabb.. apakah ini yg namanya tergesa-gesa, berharap agar do’a dikabulkan? Atau ini merupakan bentuk prasangka burukku kepada-Mu wahai pencipta alam semesta raya? Na’udzubillahimin dzalik…

Tapi, mengapa hingga saat ini masih belum ada jawabannya? Skenario indah seperti apa yang sebenarnya tengah Engkau rencanakan untuk hidupku,Ya Rabb..? Bukankah semua hal itu mudah bagi-Mu, apalagi hanya sekedar mengabulkan do’aku yang tidakada apa-apanya jika dibandingkan dengan luasnya alam semesta ciptaan-Mu?

Sejenak aku teringat kisah Nabi Nuh a.s. (QS Nuh). Seorang manusia sholih yang diutus Allah untuk menyampaikan risalahnya di muka bumi ini. Beliau berdakwah kepada kaumnya siang dan malam, baik dengan sembunyi maupun terang-terangan. Namun, apa hasilnya? Kaumnya malah berlari meninggalkannya dan menutup telinga dengan pakaian mereka, agar tidak mendengarkan apa yang diucapkannya. Setelah 950 tahun berusaha dan terus berdo’a, barulah pertolongan Allah itu datang. Dengan cara mendatangkan banjir besar yang menenggelamkan seluruh kaum kafir saat itu, dan hanya menyisakan  orang-orang yang beriman dengan jumlah yang tidak lebih dari 100 orang.

Aku berpikir, ternyata pertolongan Allah datang kepada seorang manusia sholih seperti Nuh, setelah beliau menanti hingga 950 tahun, yang sama sekali bukanlah waktu yang singkat. Bentuk pertolongan yang Allah berikan pun bukan dengan menyadarkan orang-orang yang selama ini membangkang, namun Allah punya cara-Nya sendiri. Yaitu dengan memusnahkan para pembangkang itu, dan hanya menyisakan orang-orang yang beriman..

Lain lagi kisahnya nabi Ayyub a.s. Beliau diberi Allah ujian berupa penyakit borok yang tumbuh di sekujur tubuhnya dan mengeluarkan bau tidak sedap yang sangat menyengat. Akibatnya, istri dan anak-anaknya pun  pergi meninggalkan beliau dalam kondisi sakit parah. Setelah menanti selama delapan tahun, barulah Allah mengabulkan do’a nabi Ayyub dengen memberikan kesembuhan pada penyakitnya, dan mengembalikan keluarganya (QS AlAnbiya’ :83-84). Hmm… delapan tahun, bukanlah waktu yang singkat juga..

Ibrahim a.s. sang khalilullah (kekasih Allah) pun mengalami ujian yang sangat panjang. Telah lama beliau berharap untuk mendapatkan keturunan. Hingga pada saat berusia 90 tahun, Allah memberikan kabar gembira melalui malaikat Jibril, bahwa istrinya Sarah akan mengandung. Sarah pun berkata”bagaimana mungkin aku seorang wanita tua lagi mandul dapat mempunyai seorang anak?” (QS Adz dzariyat : 24-30). Sungguh tidak ada yang sulit bagi Allah jika ingin mengabulkan do’a hamba-Nya. Setelah puluhan tahun menanti, ternyata Allah mengaruniakan kepada Ibrahim keturunan, yang bukansembarang keturunan. Allah menjadikan keturunan nabi Ibrahim menjadi para Nabi, yaitu Ishaq dan isma’il, yang masing-masingnya juga menjadi ayah dari para nabi. Dari Nabi Ishaq lahirlah ya’kub a.s, Yusuf a.s dan seterusnya hingga Isa a.s. Sedangkan Ismail a.s. merupakan asal usul keturunan nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya Nabi Ibrahim diberi gelar Abul Anbiya (bapak para nabi).

Subhanallah.. batinku berkata. Orang-orang shaleh bergelar rasulullah –yang tentunya sangat dicintai Allah- seperti mereka saja butuh waktu yang panjang untuk menempuh ujian dan butuh waktu yang lama menanti terkabulnya do’amereka. Lalu apakah pantas aku seorang yang tidak adaapa-apanya dibandingkan mereka mengeluh, dan berkata mengapa do’aku belum kunjung diijabah, mengapa ujian yang kuhadapi ini tak kunjung usai. Padahal, Allah tidak akan mungkin memberikan ujian kepadaku lebih berat dari ujian yang diberikan kepada para Rasul. Karena Rasulullah pernah bersabda, bahwa ujian yang paling berat itu diberikan kepada para Rasul, kemudian, kepada para tabi’in, dan kemudian kepada orang yang semisalnya.

Jika berkaca diri, dibandingkan dengan “orang yang semisalnya” pun aku masih jauh kualitasnnya. Berarti ujian yang aku hadapi pun tentu kualitasnya jauh lebih rendah dari mereka. Ya Allah, rasanya terlalu cepat bagiku untuk berkata bahwa do’aku tak  kunjung dikabulkan dan ujian yang kuhadapi terlalu panjang.

Jika menengok ke belakang, ternyata banyak sekali do’a-do’aku yang selama ini sudah dikabulkan oleh Allah. Terkadang sekedar harapan lepas pun Allah kabulkan. Satu hal lagi Ya Rabb.. Engkau mengabulkan do’aku dengan sesuatu yang lebih baik daripada yang aku  minta dan dari jalan yang tidak pernah kusangka sebelumnya. Ya Allah.. engkau memang lebih tau apa yang terbaik untukku. Dan Engkau juga lebih tau, kapan saat yang tepat untuk mengabulkan do’a-do’aku.


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 7 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Pada suatu ketika Ono bercerita kepada teman ceweknya, Wati, bahwa dia sedang jatuh cinta.

“Wati, aku mendapatkan sebuah pengalaman luar biasa” Ono bercerita kepada Wati.
“Apa?” Tanya Wati.
“Jum’at malam kemarin aku bertemu dengan seorang gadis cantik. Aku diperbolehkan untuk berkunjung ke rumahnya.” Jawab Ono. 
“Ngapain aja kalian?” Tanya Wati ingin tahu.
“Kita ngobrol, becanda, makan bersama dan saling mendengarkan cerita masing-masing.” Ono jawab.
“Siapa yang masak, trus apa yang dimasak?” Wati ingin tahu lebih jauh.
“Aku yang masak makanan utama, dia yang bikin salad Yunani.” Jawab Ono tanpa rincian lebih jauh lagi apa yang dimasak olehnya.
“Apa yang luar biasa dari acara masak-memasak itu?” Wati heran karena acaranya ternyata hanya masak-memasak.
“Perasaanku seakan mengawang-awang, aku seakan berada di dunia lain ketika aku bersamanya. Dunia yang penuh dengan keindahan. Perasaan ini tak aku rasakan jika aku bersama wanita lain.” Jawab Ono simpel.
Lalu Ono melanjutkan ceritanya.
“Setelah selesai makan, lalu kita saling bertukar lagu, aku yang pertama kali memainkan gitar sambil bernyanyi, aku mainkan lagu kesayanganku yang sempat aku pelajari ketika aku SMP. Setelah aku selesai bernyanyi, dia bilang dia suka laguku. Lalu aku pun berikan gitar kepadanya, aku bilang kepadanya, sekarang giliranmu. Kemudian dia pun mulai menyanyikan lagunya. Ketika gadis tersebut mulai memainkan gitarnya, aku amati jari-jarinya yang mungil yang sangat mahir memainkan nada-nada gitar. Ketika dia mulai bernyanyi, seakan-akan aku berada di langit ketujuh. Jiwaku bergetar. Suaranya indah, permainannya cantik. Ada sesuatu dalam hatiku yang mengatakan, inilah indahnya surga. Aku sedang di surga. Terima kasih Tuhan.”

“Perasaan itu begitu besar” Ono menyudahi ceritanya.
“Itu tandanya kamu sedang jatuh cinta No” Wati menyatakan dengan tegas.
“Oh ini bukan cinta” Ono menolak pernyataan Wati.
“Lho, kalau itu bukan cinta lalu apa dong? Jangan kamu nanti menyesal karena kamu sedang mengingkari perasaanmu sendiri” Tanya Wati yang semakin bingung.

“Aku tidak sedang mengingkari perasaanku. Maksudku, aku tahu apa yang aku rasakan, dan aku sangat menikmatinya. Tapi aku tidak ingin mereduksi apa yang aku rasakan menjadi hanya sebuah label belaka yang bernama cinta. Banyak orang mendefinisikan cinta sesuai dengan apa yang mereka definisikan sendiri. Sedangkan apa yang aku rasakan, perasaan agung dan indah ini, tak terdefinisikan hanya dengan sebuah kata sederhana, cinta. Jika aku reduksi menjadi sebuah kata cinta, maka banyak sekali embel-embel yang bisa diganduli seperti cinta gombal, cinta buaya, cinta monyet atau cinta nafsu. Tapi ini bukan rasa yang aku rasakan. Perasaan ini begitu dashyat dan aku tak berusaha untuk mengingkarinya, tapi aku hanya berusaha untuk menikmati dan mensyukuri kepada Sang Maha Pemberi yang telah memberikan rasa indah ini.”

“Tapi itu namanya cinta No” Wati tetap keras kepala.

“Aku tidak ada masalah jika kamu mau menamakan ini cinta, tapi aku sendiri tak mau mereduksinya.” Ono pun keras.

“Tapi aku melihat kalau kamu sedang berada dalam proses penolakan dan pengingkaran. Aku nggak mau kamu menyesal di hari kemudian. Apakah kamu takut? Wati ingin tau lebih jauh lagi, dia sayang kepada sahabatnya. Dia hanya ingin membantu.

“Memang ada perasaan takut dalam diri ini, tapi aku pikir ini wajar, karena perasaan takut ini ada gunanya juga. Untuk menjaga hati ini agar jangan menderita. Hati tidak suka menderita, itulah alamiahnya hati manusia, takut menderita.”

“Apa yang kamu takutkan? Wati semakin tidak mengerti.

“Aku takut cinta ini akan berakhir disini saja. Aku ingin cinta yang sebenarnya. Aku ingin cinta yang sesungguhnya. Bukan cinta-cintaan belaka. Aku ingin cinta yang selamanya. Aku ingin menikmati keindahan surga ini tak hanya detik ini saja, tapi selama aku hidup, selama-lamanya.”

“Apakah mungkin ada cinta seperti itu?” tanya Wati.

“Ada” Jawab Ono.

“Dimanakah mencarinya?”

“Di hati nurani yang paling dalam. Begitu dekat, sekaligus jauh. Begitu mudah ditemukan, sekaligus sangat sulit.

“Maksudmu?”

“Di dalam diri ini terdapat alam semesta yang sangat luas, seluas jagad raya, bahkan mungkin jauh lebih luas. Disitulah kamu akan menemukan cinta. Bukan di luar, bukan pula di gadis yang aku temui atau lelaki yang sedang kau pacari. Jika kamu mencarinya di lelaki yang engkau temui, maka dijamin engkau tidak akan menemukan cinta. Engkau akan selalu kecewa”

“Lalu apa gunanya pacar?”

“Pacar adalah teman yang membantumu mencari cinta, dalam dirimu sendiri. Pacar itu bagaikan cermin. Tempat kita berkaca.”

“Lalu apa sebenarnya perasaanmu pada gadis tersebut?” tanya Wati.

“Perasaan cinta, kalaupun tetap kau ingin namakan ini cinta baiklah akan aku gunakan sementara kata yang sangat terbatas ini, perasaan yang aku miliki ini hanyalah seperti embun dibandingkan dengan lautan Cinta-Nya. Namun embun ini asalnya dari samudra lautan. Embun ini berasal dari-Nya. Tapi jika kita berhasil mengenal embun ini, maka kita akan mengenal samudera. Karena asalnya sama. Aku percaya bahwa aku sedang diajari-Nya untuk lebih mengenal-Nya lewat perasaan yang dia berikan padaku. Aku sedang diajari oleh Sang Maha Guru. Banyak orang yang gagal dalam menemukan cinta”

“Mengapa banyak yang gagal?”

“Karena banyak yang tidak mengerti bahwa dia sedang diajari-Nya. Lihat saja bumi ini, jika semua orang telah menemukan cinta, maka bumi ini akan lebih mirip surga daripada neraka. Banyak yang salah dalam memahami cinta, cinta lebih sering direduksi menjadi pemuas hawa nafsu sex belaka, kenikmatan sementara yang dinamakan ejakulasi. Tapi itu bukan cinta yang sebenarnya. Ditambah lagi dengan kotoran-kotoran jiwa yang melekat pekat di tubuh manusia seperti kesombongan, iri, dengki, cemburu dan lain-lain, ini membuat cinta semakin sulit untuk ditemukan. Akhirnya jiwa kita tertutup rapat oleh kita sendiri.”

“Aku ingin mengenal cinta”.

“Kenalilah dahulu pemilik Cinta. Dialah yang mengurusmu semenjak kamu belum lahir. Dialah yang memberimu kehidupan, membuatmu bernafas, membuat mulutmu berbicara dan membuatmu berpikir. Dialah yang menggerakkan keinginanmu. Dialah yang membuat semua rasa dalam tubuhmu bisa kau rasakan dan kau nikmati. Dialah yang mengatur sehingga segala panca indra dalam tubuhmu bisa kau gunakan. Dia yang menuliskan garis hidupmu. Kamu hanyalah instrument-Nya. Alat-Nya. Semua ini milik-Nya. Termasuk gadis cantik itu. Dia pun milik-Nya. Oleh karena itu aku tak mau mengekang dia. Aku biarkan dia bebas mencari cintanya sendiri. Bebas seperti burung merpati. Jika dia berbahagia dengan orang lain, aku pun akan berbahagia untuknya. Perasaanku tulus. Tak ada perasaan untuk memiliki dalam diri ini, karena memang aku tak memiliki apa-apa. Bahkan tubuhku sendiri bukan milikku. Jiwaku bukan milikku. Ruhku pun bukan milikku.”

“Lalu siapa kamu?”

“Itulah tugasku dalam dunia ini, untuk mengenal diriku lebih jauh lagi. Semua rahasia alam ada di dalam diriku. Jika aku mengenal diriku sendiri, aku pun akan mengenal-Nya. Jika aku mengenal-Nya, aku akan mengerti apa itu Cinta.”


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Muhammad Iqbal

Seorang sahabat pernah berkomentar tentang foto-foto bunga di sela-sela kompetisi foto dG periode April lalu. Kami berbincang tentang keindahan foto-foto bunga yang dikirimkan para kontestan. Menurut beliau, tentunya dengan redaksi yang tidak tepat sama, bunga yang pada dasarnya sudah indah pastilah lebih mudah diekstrak kemolekannya dalam sebuah potret kepada pihak ke tiga bila dibandingkan dengan harus menyuguhkan sisi unik dari objek yang penampakannya biasa-biasa saja, atau bahkan tidak biasa. Tapi tetap saja, bagi mereka yang punya kemampuan dan naluri tinggi dalam berkamera ria, hasil jepretannya bisa membuat sebuah objek nampak lebih menarik dari aslinya. Saya sependapat dengan itu, keindahan sebuah potret jadi nampak relatif.

Salah satu fitrah dari bunga adalah tampak indah. Tulip dan mawar menawarkan keindahan dengan cara mereka masing-masing. Sekuntum tulip berwarna orange yang ditakdirkan mekar di tengah kebun bunga Keukenhof musim semi tahun ini jadi nampak tidak terlalu istimewa karena berada di tengah lautan bunga lainnya. Tulip ini hanyalah satu di antara sekian banyak bunga lainnya yang sama-sama menyajikan keindahan yang serupa. Sebuah perspektif yang berbeda akan muncul ketika satu tangkai mawar berwarna putih dihadirkan oleh seseorang yang terkasih di hari ulang tahun kita. Indahnya mawar memberikan amplifikasi keindahan momen ulang tahun kita. Di sisi lain, mawar tersebut jadi terlihat jauh lebih indah dibanding mawar-mawar lainnya yang pernah dilihat sang penerima bunga. Keindahan bunga jadi nampak relatif.

Mari kita lakukan analogi tentang keindahan bunga dengan berbagai nikmat Allah kepada kita. Kita akan mulai tersadar bahwasanya kita sering melupakan nikmat-Nya hanya karena nikmat itu selalu kita dapatkan secara kontinu. Mungkin juga karena semua orang di sekitar kita mendapatkan nikmat yang serupa dengan yang kita miliki. Hela nafas saat membaca tulisan ini sering tidak terasa istimewa karena kita menghirup udara setiap saatnya. Memang benar bahwa udara yang kita konsumsi ini tidak memberikan tagihan di akhir bulan, tapi itu bukan alasan yang tepat bagi kita untuk lupa bahwa udara ini adalah salah satu nikmat Allah untuk makhluk-Nya. Cerita yang berbeda tentang dua-tiga hela nafas akan kita peroleh dari seorang yang pernah hampir tewas karena tenggelam. Dua-tiga hela nafasnya di waktu itu layaknya mawar dari orang yang terkasih, memberikan kesan yang mendalam Makna dari suatu nikmat terasa berbeda ketika kita benar-benar membutuhkannya, atau jika kita belum pernah memperoleh nikmat yang serupa di waktu yang telah lalu. Kembali, semua jadi nampak relatif.

Kita kembali dengan cerita orang yang mengambil potret dengan kamera. Objek apapun bisa terlihat bagus hasilnya, jika dan hanya jika kita tahu cara memotret dengan benar. Apalagi jika kamera yang dipergunakan kualitasnya memukau, hasilnya pastinya akan semakin mantap. Bisakah kita menganalogikan ilmu yang kita miliki dengan kamera? Dan kemudian menganalogikan objek foto dengan semua hal yang menimpa kita, baik itu nikmat ataupun musibah? Orang yang bisa menghasilkan potret memukau dari objek yang indah layaknya seseorang yang bisa mensyukuri nikmat yang ia peroleh. Orang yang bisa membuat potret berkualitas tinggi dari jenis objek apapun layaknya seseorang yang bisa mengambil pelajaran dari setiap peristiwa dalam kehidupannya.

Galeri hidup yang ada di dalam hati kita ini tentunya akan terasa sepi jika hanya diisi beberapa bingkai potret saja. Semoga Ramadhan ini memberikan pelajaran kepada kita tentang memotret indahnya hidup, amin.  M. Iqbal, 2009


Diary Ramadhan: Edisi tanggal 6 Ramadhan 1430 H

Oleh: Teguh Sugihartono

Teman-teman, kita semua sedang dalam perjalanan, kehidupan adalah perjalanan. Tidak tepat jika dikatakan bahwa untuk menjalani perjalanan spiritual kita harus meninggalkan kedudukan kita di dunia ini. Tidak ada yang mempunyai tempat tetap dalam kehidupan ini. Kita semua berjalan, bergerak, menuju suatu tempat.

Kehidupan ini bisa kita bagi dua bagian, kehidupan nuraniah atau batiniah (dalam), dan kehidupan lahiriah atau badaniah (luar). Yang dimaksud dengan kehidupan nuraniah atau batiniah ini adalah sebuah kehidupan menuju kesempurnaan, kesempurnaan cinta, harmoni dan keindahan, dalam bahasa agama, menuju Tuhan. Kehidupan nuraniah ini tidak berarti bertolak belakang dengan kehidupan dunia, justru dengan kehidupan nuraniah ini kita akan menjalani kehidupan dunia dengan lebih sempurna.

Kehidupan dunia terbatas, kehidupan nuraniah tak terbatas.

Seseorang yang menjalani kehidupan nuraniah seakan-akan tanpa dosa, seperti layaknya anak-anak. Namun sekaligus juga sangat bijaksana. Ini menunjukkan perkembangan dalam dua sisi. Di satu sisi nurani yang mendapatkan ketenangan dan kedamaian yang luar biasa, di sisi lain akal yang mendapatkan pengetahuan yang bijaksana.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa yang membuat mereka mempunyai keseimbangan ini? Jika mereka berdiri di hadapan Tuhannya, hati mereka penuh dengan-Nya. Jika mereka ingin belajar dari Tuhannya, mereka lupakan apa yang telah mereka pelajari dari dunia. Jika mereka sedang berada bersama Tuhannya, tidak ada lagi ke-‘aku’-an. Tidak ada lagi keterikatan.

Tujuan dari kehidupan nuraniah ini adalah agar Tuhan menjadi sebuah kenyataan, bukan lagi sekadar imajinasi belaka. Selama ini banyak yang bertanya, apakah Tuhan ada? Dimanakah Tuhan itu kalau Tuhan itu ada? Pertanyaan-pertanyaan ini menunjukkan bahwa konsep Tuhan masih abstrak dan kabur, tak tersentuh. Bagaimana mungkin akan ada pertanyaan mengenai keberadaan Tuhan jika Tuhan baginya adalah sebuah kenyataan?

Ketika nabi-nabi besar seperti nabi Isa saw dan nabi Muhammad saw turun ke muka bumi ini, bagi mereka Tuhan adalah sebuah kenyataan. Mereka menyebarkan pesan Tuhan lewat ucapan. Ucapan adalah suara, yang dikemas dalam kata-kata, dan akhirnya ditulis dalam huruf-huruf. Huruf-huruf adalah benda mati, sedangkan Tuhan Maha Hidup. Bagaimanakah bisa menerangkan Tuhan yang Maha Hidup hanya dengan huruf-huruf yang mati? Terjadi proses reduksi disini. Yang tadinya Tuhan sebagai kenyataan dalam diri nabi-nabi, sebuah kenyataan besar yang sulit untuk dijelaskan oleh kata-kata, namun mau tidak mau dengan proses verbal harus disampaikan. Disampaikannya kepada orang yang belum tentu berada dalam stadium yang sama dengan penyampai. Banyak terjadi kesalahpahaman dalam proses ini. Untuk bisa memahami secara utuh apa yang disampaikan, maka caranya adalah memiliki stadium yang sama dengan stadium penyampai. Namun kebanyakan orang tidak atau belum sampai ke stadium ini. Maka banyak orang yang sulit untuk mengerti fenomena Tuhan ini, apalagi jika mereka hanya membaca kitab suci saja, yang notabene berisi huruf-huruf.

Dengan hanya berbekal kehidupan lahiriah saja, maka Tuhan akan tetap menjadi sesuatu yang abstrak dan tak tersentuh. Dengan kehidupan nuraniahlah Tuhan akan menjelma sebagai bentuk perwujudan, realisasi dan kenyataan.


Diary Ramadhan: Edisi Tanggal 5 Ramadhan 1430 H

Oleh: Siti Aini

Entah darimana aku harus memulai ceritaku…aku tidak pandai merangkai kata indah nan puitis layaknya

pujangga…hanya bisa menulis apa yang kurasa…walaupun tidak beraturan…namun ini yang kurasa..

Namaku Siti Rahmatul Aini…aku biasa dipanggil Aini…tapi khusus untuk Mas Teguh…beliau memanggilku Jeng Siti…hehehe…untuk seorang sufi seperti beliau..aku berikan pengecualian hehehe..

Kisahku berawal ketika ditahun 2004 aku menikah tepatnya 27 Juni 2004…tiga bulan setelah menikah…aku diberi kepercayaan oleh Tuhan untuk hamil…ya…hamil pertamakali setelah menikah..ya iya lah…masak sebelum menikah hehehe…

Ketika mengetahui kehamilanku..aku sangat bersyukur pada Allah…segala puja dan puji hampir tak pernah berhenti kuucapkan…suatu perasaan yang sangat senang..sangat bahagia karena Allah (saat itu) mengabulkan doa-doaku…Akhirnya aku hamil..Alhamdulillah..

Mungkin saat itu bisa kukatakan…itulah puncak tertinggi dari ibadahku…setiap saat,setiap waktu aku bersyukur..semakin kuperbaiki diriku..semakin kutingkatkan ibadahku…kalau boleh kubilang…saat itu aku merasa “sangat dekat” dengan Tuhan…sangat dekat…(GR banget ya)

Sampai akhirnya,disuatu ketika..aku memeriksakan diri dibulan ketiga usia kehamilanku..dokter berkata,janinku tidak berkembang…dan tidak mungkin dipertahankan..dan aku harus dikuret..

Ya Allah…bergetar tubuhku mendengar berita itu…lemas lututku mendengar diagnosa dokter..aku tidak percaya…saat itu juga aku mencari dokter lain…Tiga dokter kudatangi malam itu…dan semua dokter mengatakan hal yang sama..Aku harus dikuret…karena lambat laun…janin ini akan meluruh dan keluar dengan sendirinya dalam wujud darah…

Aku takut…sangat takut…aku tidak ingin kehilangan janinku dan aku juga takut mendengar kata kuret…

Semakin kukencangkan doa-doaku…semakin kukuatkan ibadahku..aku memohon..saat itu doa yang kuucapkan adalah

“YA ALLAH…HAMBA MEMOHON KEPADAMU…TOLONG JANGAN KAU AMBIL JANIN INI…TOLONG LINDUNGI JANIN INI..JANGAN KAU AMBIL…HAMBA AKAN ABDIKAN DIRI HAMBA HANYA KEPADAMU…HAMBA MOHON…”

Tapi apa mau dikata..dari hari kehari darah sedikit demi sedikit kudapati..sampai akhirnya aku pingsan dikamar mandi dan segumpal benda keluar dari tubuhku..Yah…hari itu…aku keguguran…dan harus dikuret…

Aku benci Tuhan…benci …kemana Dia saat aku betul-betul membutuhkan perlindungan-Nya…

Aku benci…sejak saat itu…aku putuskan utk tidak berhubungan lagi dengan Tuhan…aku putuskan segala bentuk

komunikasi dengan-Nya…tidak…NO WAY…

Sembilan bulan lamanya aku menjauh…Bukan ketenangan yang kudapati…justru kesusahan…namun aku masih sakit hati pada-Nya..

Sampai akhirnya…dibulan kesepuluh setelah itu…aku hamil lagi…kali ini aku tidak berani terlalu gembira…ada ketakutan dihatiku…bagaimana kalo diambil lagi…

Aku mulai berusaha mendekati-Nya lagi…dengan segala kelemahanku…aku datang pada-Nya…kembali lagi segala doa kuucapkan…namun kali ini berbeda…

Aku bahagia karena hamil lagi…tapi aku juga harus sadar…bahwa sewaktu2 bila Allah berkendak mengambilnya..aku harus siap…bukan berarti aku mengabaikan janin ini…bukan…hanya saja…aku berbeda dalam menyikapi kehamilanku…

Ya Allah…Engkau yang maha tau yang terbaik buatku…aku sudah berusaha menjaga sebaik mungkin titipan-Mu…selebihnya aku pasrahkan segala-Nya pada-Mu..

Benar saja…hanya dua bulan janin itu bertahan…dan aku harus kehilangan lagi..kali ini,bukan satu…tapi dua…ada dua janin…keguguranku kali ini sangat berbeda dari yang pertama…aku tidak pingsan… darah tidak banyak keluar…dan aku bisa melihat kedua janin itu…kedua-duanya aku letakkan ditelapak tanganku…

Kupandangi..kuciumi…kubungkus dengan jilbab putihku…anak-anakku sayang..maafkan mama yang tidak bisa menjagamu…kuletakkan disampingku…

Semalaman kedua janin itu menemaniku…sampai akhirnya mereka kukuburkan…

Perasaan sedih tentu saja ada…namun aku lebih siap menerima kejadian yang kedua…aku yakin..Allah lebih mengetahui segalanya…Mungkin Aku belum amanah..sehingga belum dipercaya utk memiliki anak..

Aku pasrahkan diriku…seutuhnya…aku memohon diberikan kekuatan dalam menerima takdir ini…

Aku yakin, Bahasa Tuhan adalah bahasa cinta yang penuh dengan misteri….

Aku yakin…dan Alhamdulillah….keyakinanku berbuah manis….tanggal 3 Mei 2006…aku dikarunia bayi kembar…cantik dan

lucu seperti diriku hehehehe..(maaf kalo narsisnya gak habis2)…

Ini jawaban Tuhan…dari segala pertanyaanku dulu…Bidadari-bidadari kecilku kini berusia tiga tahun…mereka sehat,cerdas, dan lucu..

Terimakasih Tuhan…Bahasa cinta-Mu memang penuh misteri…satu misteri telah terjawab…dan masih banyak lagi misteri

yang sedang coba kupahami…

Aku hanya manusia biasa…yang tidak lepas dari salah dan dosa…bantu aku dalam memahami bahasa cinta-Mu yang penuh

misteri…


Diary Ramadhan : Edisi tanggal 4 Ramadhan 1430 H

Oleh : Puri Handayani

Meskipun tidak selalu meluangkan diri untuk membaca Al Quran, (karena cenderung hubud dunya,ketika sampai rumah sudah capai, dan langsung tidur), setiap saat saya membaca Al Quran selalu kebetulan menemukan ayat yang pas dengan keadaan saya dan membuat hati menjadi lebih tenang dan matab setelah membacanya. Ayat-ayat itu tidak lain adalah ayat-ayat yang menyatakan janji dan bukti kalo Alloh akan selalu menolong hambanya. Banyak sekali ayat seperti itu di Al Quran. Salah satunya adalah ayat yang kebetulan saya baca saat hari pertama Ramadhan, yaitu surat Al Imran ayat 123:

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.”

Tentu saja saat ini saya tidak berada dalam keadaan seperti perang Badar. Keadaan saya tentu lebih aman dan tentram dibandingkan para pejuang yang berusaha bertahan dan mengalahkan musuh di perang Badar dengan taruhan nyawa mereka. Begitu juga kondisi ruhani saya pasti jauh berbeda. Pejuang Badar pastilah manusia pilihan yang kuat hati dan imannya, serta telah siap jiwa dan raga berjuang di jalan Alloh. Meskipun demikian, barangkali saat itu kekuatan musuh jauh lebih besar secara logika sehingga Alloh perlu menenangkan mereka dengan ayat tersebut. Dan sebagaimana diceritakan dalam ayat selanjutnya, dengan pertolongan Alloh para pejuang kebenaran itu menang.

Bagaimana dengan saya? Mungkin karena saya tidak sekuat mereka maka saya dihidupkan pada jaman ini. Wallohualam. Tapi tetap saja dimasa yang tidak perlu taruhan nyawa ini ada saja saat-saat saya merasa lemah, tidak siap berhadapan dengan ujian hidup sehingga ayat-ayat yang berisi janji Alloh untuk menolong hambaNya selalu menjadi ayat favorit saya.

Contoh perasaan lemah itu saya rasakan menjelang ramadhan kemaren.Sampai dengan seminggu menjelang Ramadhan rasanya saya tidak sanggup untuk menjalani ramadhan. Secara fisik saya merasa tidak mampu puasa di musim panas, dan secara hati saya juga tidak siap untuk memasuki ramadhan. Ketika sekian banyak sms dan email masuk mengucapkan marhaban ya ramadhan bukannya saya makin mantab, tapi makin bingung saja, kira-kira kuat ga yaa saya puasa. Ada rasa khawatir kalo ramadhan nanti saya sakit karena puasa. Tahun lalu saya sempat demam satu minggu di minggu kedua ramadhan. Alhamdulillah saya masih bisa puasa meskipun selama sakit itu benar-benar hanya berbaringdirumah dan tidak bekerja sama sekali. Tahun ini sepertinya saya harus bekerja selama ramadhan, jadi tidak bolehsakit.

Pikiran tentang pekerjaan itulah mungkin yang membuat saya takut puasa, takut kalo nanti kurang minum,capek, stamina turun dan kemudian sakit. Benar-benar kelihatan kalo iman saya begitu lemah sehingga saat dimintapuasa saja sudah sedemikian khawatirnya saya. Apalagi kalo diminta pergi perang badar. Astagfirullahalazim.

Maafkan hambaMu yang lemah ini ya Alloh. Beberapa teman yang saya ajak curhat meyakinkan saya kalo saya pasti kuat. Tapi tetap saja waktu itu saya masih pesimis dan ga yakin bakalan siap memasuki ramadhan. Bahkan ketika ada kemungkinan puasa dimulai hari jumat, hati saya masih tidak bisa menerima. Saya siapnya puasa hari sabtu bukan jumat. Astagfirulloh.

Kekuatan itu muncul ketika adik sepupu saya sms. Yang intinya mengingatkan saya kalo puasa itu ujian bagi kita. Ya Alloh, adik kecilku yang 25 tahun lalu ku gendong-gendong dan merengek-rengek minta diajak main, ramadhan kali ini berhasil menguatkan mbaknya. Saya setuju dengan adik saya, kalo ramadhan ini adalah ujian untuk keimanan kita. Sayangnya selama setahun ini kehidupan dunia begitu menyibukkan saya sehingga saat ujian tiba, saya benar-benar tidak siap. Ya sudah akhirnya saya pasrah. Kalo memang tahun ini saya tidak lulus ujian ya sudah memang itu salah saya karena tidak mempersiapkannya.

Saya pilih alternatif lain, mungkin ramadhan kali ini bisa jadi sarana latihan bagi saya untuk kembali ke jalan yang benar sehingga kalo suatu saat saya harus ujian saya bisa lulus dan naik kelas. Berbekal pemikiran itu saya akhirnya berniat puasa. Alhamdulillah puasa mulai hari sabtu, jadi saya tidak terlalu panik untuk mengatur ulang jadwal kerja, karena bagaimanapun tetap saja secara fisik saya mengalami perubahan.

Begitu juga Alhamdulillah saat pagi hari pertama puasa saya dipertemukan dengan ayat diatas sehingga rasa optimis semakin kuat, Alloh akan menolong saya Insya Alloh karena saya puasa atas perintah Alloh. Bahkan ketika multivitamin yang saya beli tidak bisa saya minum karena ada gelatinya pun hati saya tetap tenang, tetap yakin kalo saya kuat, dan terbukti hari pertama bisa saya lalui dengan menyenangkan. Masih bisa ngukur di lab, masih bisa naik sepeda Zernike-Haydnlaan, masih bisa merayakan ultahnya Mila , dankembali bersepeda lagi ke acara buka puasa bareng. Alhamdulillah. Insya Alloh hari-hari selanjutnya lebih mantaplagi.

Bismilahi tawakaltu alallah. Laa haula walaa quata illa billah. Aku berniat puasa karenaMu ya Alloh J

Zernike, hari ke-2 Ramadhan

Puri