Archives for “Ramadhan 2005”

Salah satu tradisi deGromiest setiap bulan Ramadhan datang, yang dimulai pada Ramadhan tahun 2004, adalah membuat tulisan berhikmah di Cafe, satu tulisan setiap hari. Khusus untuk Ramadhan tahun 2005, kita mengumpulkan semua artikel beserta komentar yang diposting pembaca, ke dalam sebuah buku elektronik (e-book).

Ebook “Diary Ramadhan 1426H” ini bisa didownload di link berikut:

>>Diary-ramadhan-2005 (500 KB)


29 Ramadhan

Oleh: Eko Hardjanto

Siapa yang tidak mengenal Umar ibn Khattab ? sahabat mulia Rasullullah SAW. Dengan ketegasannya menjalankan perintah Islam, ia dijuluki Al-Faruq, Sang Pembeda. Dia tegas dan jelas membedakan antara yang haq dan bathil. Rasullulah SAW bersabda, setan pun lari ketika bertemu Umar ibn Khattab. Subhanallah.

Dalam do’a Rasullullah di awal da’wah Islam di kota Makkah, Rasullullah SAW pernah berdo’a, ” Ya Allah, kuatkanlah agamamu ini dengan salah satu di antara 2 Umar”. Akhirnya hidayah Allah diberikan kepada Umar ibn Khattab, ketika alunan ayat suci At-Thaha yang dibacakan adik perempuannya meluluhlantakkan hatinya, menggetarkan tangannya yang telah menghunus pedang untuk membunuh siapa saja yang ber-Islam. “Di mana Muhammad ?” gertaknya kepada adiknya, kemudian Umar dengan pedang terhunus menemui Sang Rasul, bersimpuh di hadapannya, lunglai tak berdaya, sinar Islam telah menghunjam hatinya.

Selengkapnya…


Ibu

Filed under Ramadhan 2005

26 Ramadhan

Oleh: Ilan Asqolani

Ketika berumur 1 tahun ibu menyuapi dan memandikan kita. Kita berterima kasih dengan menangis sepanjang malam. Ketika berumur 4 tahun, ibu selalu mengajak kita bermain ke tempat2 hiburan. kita berterima kasih padanya dengan selalu merengek untuk dibelikan permen. Menjelang umur 7 tahun, ibu menyekolahkan kita dengan harapan dapat menjadi orang yang berguna. Kita hanya bisa berterima kasih padanya dengan meminta uang jajan dan uang buku.

Pas usia remaja tiba, ibu berusaha keras supaya kita dapat masuk SMP dan SMU. Lalu kita pun berterima kasih kepadanya dengan meminta uang eksul (extrakurikuler) lah, uang baju lah, atau bahkan uang wisata. Di usia 20 tahun, ibu semakin terbebani dengan biaya kuliah kita di universitas dan biaya kost rumah. Lagi-lagi kita hanya berterima kasih padanya dengan tanpa memberi kabar, telepon ataupun surat tentang keadaan kita dan perkuliahan kita. Pulang ke rumah pun rasanya kalo pas lebaran saja. sekedar setor muka.

Menjelang pacaran, ibu disibukan dengan nasehat2 untuk mewanti2 kita supaya berhati2 dalam bergaul. Kita pun dengan enaknya mendengar nasehat2 tersebut seperti masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Ketika waktunya menikah, ibu berpesan supaya memakai adat tradisional aja. Kita pun menolaknya karena adat tradisional dilihat kurang ‘prestigious’. Jadi lebih memilih adat modern. Setelah menikah, kita pun ga tanggung2 berterima kasih padanya dengan meninggalkannya dalam kesepiannya yang mendalam menunggu kedatangan kita. Ketika ibu meminta kita untuk mengunjunginya, dengan tegas kita bilang ‘Kita sangat sibuk, ga da waktu’. Ibu hanya bisa menghela napas.

Ketika bayi udah terlahir, ibu lagi2 telepon untuk selalu merawat bayi sendiri. Tapi bagi kita itu buang2 waktu dan menghabiskan tenaga. Selagi masih bisa bayar babysitter kenapa musti repot2. Waktu pun terus berjalan tanpa sedikit perhatian pun kepada ibu. Sampai suatu hari pun tiba. suara telepon tetangga di kampung memberitahukan bahwa ibu telah tiada. Betapa kagetnya kita saat mendengar berita tersebut. Terbersit segala tingkah laku kita yang telah membuat dia menderita dan sedih. Rasa sesal datang menghampiri. Air mata pula lah sebagai wujud dari rasa sesal kita.Tapi semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Dia sudah kembali ke hadapan-Nya. Kita hanya bisa menyesali apa yang telah kita perbuat.


25 Ramadhan

Oleh: Palmira Bachtiar

Tulisan ini dibuat karena ingin menanggapi komentar mbak Uyung terhadap tulisan mas Teguh. Mbak Uyung sungguh heran mengapa teman biologist nya tidak percaya Tuhan. Saya merasa teman biologist itu juga merasa heran mengapa mbak Uyung percaya Tuhan dan memakai jilbab, 5 x sehari sholat serta 30 hari puasa menahan lapar, haus dan segala nafsu. Ada teman saya yang pernah bilang begitu. “Kenapa sih perempuan Islam harus menyembunyikan rambutnya yang indah dan tubuhnya yang molek?” Saya bilang padanya, “kalau kamu dilahirkan di Indonesia, dalam tradisi keluarga yang agama Islam yang ketat dan dengan pengalaman keagamaan yang sungguh romantis, saya yakin kamu saat ini sedang berjilbab”

Seandainya teman biologist itu diletakkan dalam konteks mbak Uyung, mengalami sejarah dan pengalaman hidup seperti mbak Uyung, sangat mungkin dia tidak mempertanyakan lagi keberadaan Tuhan. Di lain pihak, jika mbak Uyung lahir dan dibesarkan dalam keluarga teman biologist itu, sangat mungkin juga saat ini pertanyaan tentang Tuhan timbul dalam diri mbak Uyung. Wallahualam.

Ada cerita lain lagi. Tanteku sudah sejak lama tinggal di Belanda dan bersuamikan orang Belanda. Saudaraku, anak2 tanteku itu, sudah punya anak2 tapi mereka belum menikah, hanya samen leven saja. Kata tanteku, “Tolong jangan menilai mereka dari sudut pandang orang Indonesia. Mereka lahir dan dibesarkan di sini, jadi wajar jika nilai2 yang dianutnya adalah nilai2 di sini.” Saya pikir, betul juga. Mungkin seandainya saya lahir dan dibesarkan di Belanda dalam tradisi Belanda, sangat mungkin saat ini saya ga beda dengan saudaraku itu, samen leven dan tidak beragama. Wallahualam.

Kata temanku orang Arab, ada pepatah Arab yang bunyinya begini: kata2mu akan berbeda jika tanganmu ada dalam air panas. Artinya, hanya sebagian kecil saja dari tubuh kita ada dalam kondisi yang berbeda, persepsi kita sudah berbeda … apalagi jika seluruh tubuh kita diletakkan dalam kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi sekarang.

Kadang2 renunganku menjadi lebih panjang. Seandainya saya terlahir nun di Afghanistan sana, sangat mungkin saat ini saya sedang memakai burka, buta huruf, atau sedang dalam kamp pelatihan Al Qaeda … hehehe bad luck!…. (footnote: asumsi Al Qaeda betul berada di Afghanistan!). Kedengarannya lucu tapi hanya dengan menempatkan diri dalam konteks itu, saya mengerti mengapa ada orang yang kemudian memilih menjadi teroris. Dia dibesarkan dalam tradisi yang sangat ekstrim, dicuci otak, diberi iming2 mati syahid dan langsung masuk surga. Buatnya, mati sekarang jauh lebih baik daripada mati sepuluh atau dua puluh tahun lagi … toh dia tidak punya apa2 di dunia ini. Tidak ada pekerjaan, tidak ada jabatan, tidak ada uang … hanya kemiskinan. Lalu, mengapa harus menunda mati dan masuk surga? Hai dunia, tolong mengertilah dia.

Tapi kemudian, bagaimana jika saya terlahir sebagai orang Yahudi? Aduh amit2 jabang bayi …. sungguh ngeri membayangkan diriku dibenci oleh seluruh umat Islam. Tapi seandainya saya lahir sebagai orang Palestina, saya pun akan sangat benci orang Yahudi karena mereka menyerobot tanahku. Ah … akhirnya saya memang harus bersyukur tidak terlahir seperti itu.

Perenunganku sampai pada kesimpulan: sangat sulit untuk menilai seseorang tanpa melihat sejarah dan pengalaman hidupnya. Sejarah dan pengalaman hidup kita saat ini menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan beberapa abad yang lalu karena pesatnya perkembangan teknologi informasi, transportasi dan telekomunikasi. Siapa tahu suatu waktu nanti, teman biologist itu bertemu seorang Muslim di internet dan menikah dengannya dan kemudian percaya kepada Tuhan? Kenapa tidak? Zaman yang cepat berubah menuntut kita lebih banyak mengerti orang lain. Insya Allah orang lain juga akan mengerti kita. Amin.


Ora et labora

Filed under Ramadhan 2005

24 Ramadhan

Oleh: Palmira Bachtiar

Mungkin slogan berbahasa Latin dan Yunani ini bukanlah hal yang popular bagi kaum muslim. Mungkin juga banyak kaum muslim yang agak alergi dengan hal2 berbau Nasrani atau Kristiani. Tapi izinkanlah saya tetap menulis pendapatku tentang makna slogan ini.

Saya ingin memulainya dengan pendapat tentang kehidupan. Ada dua kehidupan. Kehidupan sebelum mati dan kehidupan sesudah mati. Yang pertama adalah hidup di dunia fana yang kita semua sedang jalani, sementara yang terakhir adalah kehidupan abadi bersamaNya. Tentu saja yang terakhir itu hanya dipercayai oleh mereka yang beragama, yang percaya pada Allah S.W.T.: bahwa padaNyalah kita semua akan kembali, dan bahwa dimana dan bagaimana kita sesudah mati tergantung pada bagaimana kita sebelum mati.

Mana diantara kedua kehidupan itu yang lebih penting? Bagi yang beragama, jawabnya tentu kehidupan abadi itu. Saya ingat udztadku. Katanya, Rasulullah bersabda: hidup ini adalah jembatan menuju ke hidup sesudahnya. Maka janganlah kalian membangun istana di atas jembatan itu. Nanti lupa akan tujuan akhir itu. Sabda ini merupakan peringatan untuk tidak terbuai oleh hiasan2 dunia sehingga lupa akan akhirat.

Namun dilain kesempatan sang udztad juga berkata. Rasulullah bersabda, janganlah kalian menjadi miskin karena miskin itu mendekatkanmu dengan kekufuran. Tentu saja makna miskin menjadi sangat relatif. Tapi mari kita tidak berdebat mengenai ukuran akuratnya, melainkan sepakat bahwa yang dimaksud miskin disini adalah mereka yang tidak bisa hidup laik sehingga imannya dengan mudah tertukar oleh sebungkus mie siap saji, misalnya.

Bagi saya kedua sabda itu mengisyaratkan adanya keseimbangan antara dua kehidupan. Betul, akhirat adalah tujuan kita. Tapi dalam mencapai tujuan akhirat, kita masih dihadang oleh kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan. Artinya tujuan hidup sesudah mati (dalam konteks abad 21) makin diperberat oleh tugas2 dalam kehidupan sebelum mati.

Bagaimana mencari keseimbangan itu?

Dulu bekerja keras, sekarang bekerja keras dan bekerja cerdas. Khas kapitalis? Tidak apa2. Toh kapital itu ada macam2, bukan hanya finansial kapital tapi juga human capital, social capital, natural capital, physical capital. Jadi maknanya memang luas.

Dulu bekerja sendiri-sendiri, sekarang harus bekerjasama. Ibaratnya sapu lidi. Satu batang sapu lidi mungkin tidak ada gunanya. Tapi satu ikat sapu lidi, halaman rumahpun jadi bersih. Jadi, mari bekerja cerdas bersama2.

Kembali ke ora et labora, berdoa dan bekerja. Bagi saya, iman kita dan keyakinan kita terhadap kehidupan sesudah mati harus lebih dimaknai oleh kerja keras dan kerja cerdas secara bersama2 dalam kehidupan sebelum mati. Mari bekerja memerangi kemiskinan, kebodohan dan ketidakadilan sekarang juga. Insya Allah hal ini akan mendekatkan kita kepadaNya. Amin.


23 Ramadhan

Oleh: Teguh Sugihartono

Waktu aku masih tinggal di kampung halamanku Indonesia, rasanya kepalaku pening dan sumpek dengan segala permasalahan yang ada di negeri tersebut. Mulai dari cerita-cerita korupsi yang hampir kudengar saban hari, kolusi, dan macam-macam ketidakberesan lainnya yang tidak kalah parahnya seperti polusi, kemacetan dan keruwetan tata kota. Salah satu hal yang paling menggangguku adalah kenyataan bahwa kebanyakan penduduk negara Indonesia adalah orang Islam, tapi mereka tidak mempraktekkan nilai-nilai islami. Sedangkan dari cerita-cerita yang kudapat tentang nabi dan sahabat-sahabatnya adalah sangat lain dengan yang kulihat sehari-harinya.

Waktu aku pergi ke negeri Belanda untuk belajar, aku melihat kenyataan yang lain. Disini hampir segalanya teratur rapi, bersih, dan jarang sekali aku mendengar kasus korupsi atau kolusi. Dan masyarakatnya pun madani. Sebelum aku kesini aku punya pikiran kalo orang barat hidupnya individualistis, ternyata mereka disini sangat sosial, banyak santunan untuk orang-orang yang tidak punya atau miskin. Dan mereka tidak segan-segan untuk menolong sesama. Aku banyak sekali mendapat pertolongan. Yang bikin aku tertegun adalah kebanyakan masyarakat belanda tidak percaya Tuhan. Mereka hanya percaya pada diri mereka sendiri.

Ada kejadian yang sempat bikin aku shock ketika aku pertama kali berada di belanda. Aku tinggal di international student house. Aku tanya ke temanku yang berasal dari Spanyol. Aku tanya, “Kamu agamanya apa?”, Trus dia jawab, “saya tidak beragama, saya tidak percaya Tuhan, saya percaya pada diri saya sendiri”. Jawaban seperti ini belum pernah kudengar waktu aku masih di Indonesia. Terang saja aku kaget, kaget karena belum pernah mendengar hal yang seperti itu dan kaget karena keberanian dan kelugasan temanku menjawab pertanyaanku. Aku butuh waktu beberapa saat untuk bisa mencerna maksud dari temanku itu. Terus terang aku tidak mengerti apa maksudnya aku percaya sama diri sendiri. Aku pikir bagus toh, percaya diri? Ternyata maksud mereka, mereka percaya pada tubuh mereka sendiri yang konkret dan real, sedangkan Tuhan tidak bisa mereka lihat, jadi tidak real. Hmm..logis juga.

Ada juga hal lain yang bikin aku kaget. Waktu aku naek sepeda, ketika di perempatan tanpa lampu lalu lintas, mobil-mobil berhenti untuk mempersilakan aku lewat terlebih dahulu. Waktu itu aku masih hangat dari Indonesia, jadi ya bisa dibayangkan saja betapa kagetnya diriku. Sempat suatu kali aku tanyakan kenapa kok negara belanda bisa begini? Malah aku sempet berpikiran kalo negara islam itu memang seharusnya seperti ini. Santun kepada orang yang lebih rendah. Ada seseorang yang mengatakan bahwa kebaikan orang-orang belanda itu dulu kalanya berasal dari agama kristen. Dulu penduduk negara belanda beragama kristen. Trus aku pikir balik, mengapa negara-negara islam kok malah banyak korupsi, kemiskinan, dan masalah-masalah berat lainnya. Ada seseorang yang menjawab, itu karena negara-negara islam tidak menerapkan nilai-nilai islam.

Semakin lama aku bergaul dengan mereka semakin aku berpikiran sama dengan mereka. Hmm.. mungkin memang Tuhan tidak ada. Kalo Tuhan ada mana mungkin ada kesengsaraan di muka bumi ini. Di afrika banyak anak-anak kelaparan. Di bosnia orang-orang dibantai seperti tidak ada harganya. Kalo Tuhan ada maka akan sangat mudah bagi Dia untuk mencegah hal-hal seperti ini terjadi di muka bumi ini. Tapi keliatannya Tuhan tidak mencegah hal-hal mengerikan ini terjadi di muka bumi ini. Aku jadi sangsi bahwa Tuhan ada. Toh tidak ada Tuhan di belanda, orang-orangnya hidupnya baik. Maka apa perlunya ada Tuhan. Kalaupun Tuhan ada, tunjukkanlah apa tanda-tanda adanya Tuhan. Kira-kira begitulah yang ada dalam pikiranku waktu itu. Aku mulai jarang solat dan menunggu datangnya tanda bahwa Tuhan itu ada.

Malapetaka itu datang. Aku terkena musibah. Tubuhku sudah sangat lelah, hampir tidak bisa aku rasakan lagi. Kalut. Gelap. Tidak ada rasanya setitik cahaya solusi akan datang dari permasalahanku. Diriku bergetar tak berdaya. Kesendirian, kelelahan yang sangat, ketidak berdayaan dan kegelisahan semuanya terjadi bersamaan. Rasanya sudah mau mati. Sudah berapa lama aku tidak tidur waktu itu. Ketika itu aku berdoa kepada Tuhan. Tiba-tiba datang secercah rasa ketenangan. Tiba-tiba kurasakan bahwa aku tidak sendiri di dunia ini. Ada semacam jawaban datang dari lubuk hatiku yang paling dalam bahwa Tuhan mendengar doáku. Ternyata Tuhan itu ada. Tuhan itu dekat sekali dengan kita. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku bisa keluar dari keadaanku waktu itu. Tapi aku dituntun dan dibimbingNya keluar dari masalah yang aku hadapi. Aku berterima kasih sekali bahwa Tuhan telah menolongku, dan yang paling berharga yang aku rasakan adalah bahwa Tuhan telah memberikan aku anugerah terindah, yaitu nikmat iman. Terima kasih Tuhan.

Ketika semua hal di dunia ini sudah tidak lagi berarti. Ketika tubuh ini sudah tidak bisa kita gunakan lagi. Maka barulah terasa bahwa kita bukanlah tubuh kita. Di dalam tubuh ini ada “sesuatu”. Apakah kita hidup di dunia ini hanya untuk memenuhi segala keinginan tubuh ini? Bagaimana dengan “sesuatu” itu? Apakah “sesuatu” itu? Ini pertanyaanku selanjutnya yang akan membuatku sibuk beberapa waktu kedepan.


Flu Burung

Filed under Ramadhan 2005

22 Ramadhan

Oleh: Agus Purwoko

Melihat dari kata flu, mungkin mas itob lebih kompeten untuk mengulasnya, tetapi dengan adanya kata burung, saya boleh dikatakan dapat sedikit mengulasnya. Cuma saja, mas itob juga pengamat burung, hanya burung-burung yang saya amati jauh lebih banyak dan beragam.

Wabah flu burung sudah menyebar ke mana-mana dan di Indonesia lebih banyak terkonsentrasi di P. Jawa. Bahkan di Jawa Barat, sudah ada korban (manusia) dengan terjangkitnya flu burung, menurut evaluasi team Kesehatan RI, sehingga satu keluarga korban sedikit diisolasi guna pencegahan merebaknya flu burung pada manusia. Pertanyaanya adalah apakah flu burung bisa menjangkit pada manusia?

Secaara medis mas itob bisa menjelaskan tetapi saya akan mengulas, penyebaran dan distribusinya. Gejala flu burung sama dengan gejala flu pada manusia dan penyebabnya adalah virus. Sampai sekarang flu pada manusia belum ada obatnya, mengapa? Virus flu yang meyerang manusia dengan sangat cepatnya mampu bermutasi, tentu saya dengan mengubah struktur genetiknya sehingga bila ada obat atau racun yang bisa membunuhnya, dengan hitungan detik, generasi berikutnya sudah kebal. Jadi cara yang mudah untuk menghidari flu adalah dengan menjaga stamina yang prima sehingga virus flu tidak bisa bersarang di tempat yang berlendir pada kerongkongan dan hidung. Flu burung juga meyerang pada tempat yang sama, akan tetapi tidak pada manusia melaikan pada unggas. Dua hari yang lalu, saya monton tv jerman yang menayangkan gambar virus flu burung dan bagaiman cara virus ini mengekspansi inangnya (bukan inang dari Medan). Virus ini berbentuk bulat dengan banyak tonjolan di permukaanya, bentuknya seperti ranjau kapal selam dengan banyak trigernya . Dari tonjolan itu, virus flu burung meninjeksikan sitoplasmanya ke dalam jaringan inang, kemudian dengan segera menduplikasikan dirinya dan menyerang inang, sebagian lagi keluar dari tubuh inang dan bebas di udara. Apakah mungkin virus yang sama menyerang pada manusia?

Hasil analisa pengkodean genetik, menunjukkan bahwa virus penyebab flu pada burung dan manusia berbeda. Oleh sebab itu, ada media yang menyangsikan akan hasil observasi team Kesehatan RI tentang sebab musababnya koraban flu burung di Jabar.

Di duga virus ini berasal dari Siberia dan dataran Cina (mungkin gejala umum yang banyak dan baru ditemukan di sana). Penyebarananya lewat udara, sehingga tanpa kontakpun bisa terjangkit dengan flu burung (sesama burung, lho…). Dengan demikian orang-orang (terutama para pengamat) mulai menuding bahwa pembawa virus flu burung adalah burung migarasi. Mengapa harus burung migrasi? Sebab utama ayam dari Siberia tidak bisa terbang ke Jawa. (wah.. bukan itu jawabanya….). Burung migrasi adalah kelompok burung camar, kedidi, trinil, gajahan, kuntul, dara laut dan bangau. (saya sebutkan yang umum saja). Ada jalur penerbangan rutin burung migrasi ini, jauh sebelum ada pesawat terbang dan mereka sudah melaksanakannya setiap tahun. Bila musim dingin tiba di Siberia dan Cina, dan anak-anak mereka sudah bisa terbang, maka mereka akan mulai melakukan penerbangan jarak jauh. Tujuannya adalah benua Australia. Coba bayangkan (merenung dulu lho…) mereka terbang ribuan kilometer jauhnya, dan tentu tidak bisa direct flight, seperti pesawat Boeng767, walaupun dengan ketinggian yang hampir sama. Jalur pertama (jalur ke dua tidak saya ulas), mereka singgah di Korea, mengisi bahan bakar, setelah cukup lemak yang dikumpulkan di tubuhnya, mereka melanjutkan terbang ke Australia, sebagian singgah di Aceh, Sumatera Selatan, Malaysia. Sama halnya di Korea, persinggahan ke dua mereka juga harus mengumpulkan energi guna terbang jarak jauh. Persinggahan berikutnya adalah Irian, kemudian diteruskan ke Australia. Sebaliknya bila musim dingin di Australia tiba, mereka kembali lagi ke Siberia dan daratan Cina.

Pertanyaanya adalah apakah mungkin burung-burung itu menularkan flu ke ayam, padahal burung tersebut tidak singgah di P. Jawa.? Di Sumatera Selatan, jarak antara tempat singah burung migrasi dengan tempat ternak ayam lebih kurang 100 km dan burung migrasi tidak akan memberikan salam kepada ayam, karena mereka tidak mempunyai kepentingan apapun. Apakah benar tudingan khalayak tentang mereka penyebar flu? Di Sumatera tidak ada survey tentang itu (saya hanya monitor populasinya saja), tetapi di Malesia ada. Team ornithologist Malaysia mengambil 47sample darah dari berbagai burung migrasi dan hasilnya nihil. Tidak ada satu burungpun yang membawa virus flu. Semua sehat dan perkasa (terbang ribuan kilometer). Masa bisa ya… semua sehat. Satu hal yang perlu diperhatikan, burung migrasi untuk terbang jarak jauh perlu persiapan yang matang. Pertama mereka harus cukup bahan bakar, pimpinan migrasi akan mengecek cuaca, dengan terbang dahulu kemudian memberitahukan kelompoknya bahwa cuaca mendukung untuk terbang jarak jauh, tetapi bila cuaca tidak bersahat, kelompok kecil yang survey cuaca akan turun kembali dan menunda penerbangan. Biasanya mereka berangkat bermigrasi pada sore hari. Bila cuaca baik, mereka memulai perjalanan dan burung yang tidak siap atau sakit akan ditinggalkan, tentu yang ditinggal akan mati (karena kedinginan dan penyakit), kalaupun ada yang memaksakan diri (biasanya ada) di perjalanan burung yang nekat itu, akan jatuh dan mati, baik kelelahan atau tidak kuat terhadap terpaan angina dingin. Jadi alam telah menyeleksi mereka agar tegar dan kuat sehingga bisa lulus hidup.

Kembali ke darat, kepada flu burung yang meyerang ayam di areal peternakan. Menurut saya, virus flu ada di mana saja (dalam udara) dan siap menginfasi inangnya. Kondisi lingkungan yang buruk, lebak, pengap dan kotor, seprti yang terjadi di areal peternakan ayam, meyebabkan virus flu burung berkembang dengan mudah. Kondisi kedua, adalah stamina ayam yang dimanja (ayam ras atau broiler) dengan makanan yang tersedia dan sedikit tantangan alam, menyebabkan daya tahan tubuh menjadi rendah dibandingkan dengan ayam kampong yang harus kuar pagi-pagi mengais-ngais mencari makan dengan tantangan ditangkap maling ayam.

Pada intinya, untuk bebes dari flu, perlu stamina yang prima dan menjaga kebersiha karena kebersiahan adalah sebagian dari iman. Semoga info ini ada faedahnya setidaknya sebagai penambah wawasan kita bersama.


Hidayah Untuk Ku Rengkuh

Filed under Ramadhan 2005

21 Ramadhan

Oleh: Yunia Sribudiani

Diary Ramadhan yang diusulkan GPR ini, memang sungguh ide cemerlang. Seseorang yang tidak pandai menulis seperti saya ini mau tidak mau akhirnya harus mengerahkan seluruh kemampuan yang ada untuk merangkai sebuah cerita/pengalaman.

Lama sekali saya berpikir, tema apa yang hendak saya angkat, pengalaman apa yang hendak saya bagi dengan teman-teman yang lain. Akhirnya, sampai pada satu keputusan….saya ingin berbagi cerita/ pengalaman batin saya sekitar hampir 5 tahun yang lalu. Sebelumnya mohon maaf jika cerita saya ini tidak berkenan pada sebagian teman-teman. Bukan bermaksud menggurui….ini semata-mata hanya berbagi cerita, semoga bermanfaat.

Hidayah Untuk Ku Rengkuh

Ramadhan tahun 2000, saat itu aku masih kuliah apoteker, kembali menjadi anak kos setelah Ibuku memutuskan untuk pindah ke kota lain. Alasan beliau pindah .…..ingin dekat dengan saudara-saudaranya yang lain dan juga makam Bapak… Sedih juga untuk pertamakalinya ramadhan tidak dihabiskan bersama ibu dan untuk kedua kalinya ramadhan tanpa kehadiran bapak…..sahur seadanya…berbuka seadanya….karena memang tidak bisa memasak …..yang lebih berat lagi karena saat itu aku sedang menempuh ujian…wah merana deh.

Tempat kos yang mungil di Kidang Pananjung itu dihuni oleh 7 orang ahkwat….semua berjilbab kecuali aku…menjelang magrib terdengar lantunan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an hampir di setiap kamar, kecuali di kamarku……setelah adzan Isya berkumandang, semua penghuni kosan berkumpul di ruang tamu..mereka solat taraweh berjamaah…kecuali aku…aku lebih memilih diam di kamar dan melototi catatan kuliah dari salah satu Prof.essor super kiler di farmasi…jadwal taraweh bareng di ruang tamu hanya saya hadiri setiap 2 hari sekali…selebihnya aku taraweh sendiri

Walau jauh dari Ibu….rasanya Ramadhan kali itu tetap terasa spesial…ada Mbak Tika yang aku anggap sebagai pengganti Ibuku….wah, mbak-ku yang satu itu baiknya luarrrrrrrrr biasa, tidak hanya teman di kos-an tapi juga teman nge-lab (alias satu bimbingan di PAU tercinta)….sayang, kami sama-sama tidak bisa masak …setiap kali saya absen taraweh, pasti deh si mbak ini nengok ke kamarku…mengajak aku untuk ikut taraweh….walau kebanyakan ajakannya aku tolak dengan alasan sibuk ujian….

Lama kelamaan malu juga aku tidak ikut bergaul dengan mereka, kumpul hanya saat berbuka saja dan selebihnya lebih sibuk dengan tetek bengek perkuliahan yang memang gak akan ada habis-habis…akhirnya aku putuskan untuk mulai solat taraweh berjama’ah ….subhanAllah…rasanya indah sekali kebersaman kami saat itu. Berbagi cerita, berbagi ilmu dan taraweh bareng…karena sistem taraweh bareng ini juga kita harus bergantian jadi imam….nah lho, untuk sementara…..aku dibebas tugaskan dulu untuk urasan menjadi Imam itu, step by step..mungkin mereka pikir aku ikut tarawehan saja sudah untung..:). Seiring dengan berjalannya waktu…semakin dekat hubungan kami bertujuh di rumah mungil itu…kami biasa tadarus setiap ada kesempatan kosong, walaupun bacanya masing-masing (maklum…bacaan ku jauh tertinggal di bandingkan teman-teman yang lain).

Saat yang paling aku nanti-nantikan….bukan saja buka bersama, tapi juga obrolan ngalor ngidul setelah selesai taraweh. temanya sangat beragam, mulai dari masalah kuliah, masalah menu berbuka, sampai masalah jilbab. Nah…ini memang topik yang sensitif buatku berhubung memang aku yang saat itu tidak berjilbab. Seribu satu alasan aku ungkapakan kenapa aku tidak mau berjilbab….dan mereka sangat menghargai apapun pendapatku. Tapi memang tak dapat dipungkiri….keinginanku untuk berjilbab semakin kuat saat aku berada ditengah-tengah mereka….bukan semata-mata karena ikut-ikutan, tapi ini adalah panggilan hati nurani yang memang semakin lama semakin keras gaungnya. Tapi keraguan itu selalu muncul…banyangan-bayangan hal-hal buruk selalu mengganjal niatku yang satu itu….susah mendapat pekerjaanlah, membatasi pergaulan, seribusatu alasan bisa aku sebutkan saat itu.

Satu nasihat mbak-ku yang selalu aku ingat: Uyung, walaupun kamu tidak berjilbab, jika memang itu bukan rezeki kamu…maka kamu tidak akan mendapatkannya. Percayalah Allah maha pengasih, dan Dia adalah sebaik-baiknya pelindung, jika kamu niat dengan Ikhlas…isnyaAllah semuanya akan baik-baik saja.

Lama aku merenungi nasihat mbak-ku itu, malam itu aku solat tahajud dan bermunajat…..mengharapkan jawaban atas semua keraguanku. Saat subuh menjelang, selesainya kami solat subuh berjamaah…bulatlah tekadku untuk berjilbab. Aku utarakan niat itu pada mbak-ku…..saat itu, tidak sehelai jilbabpun aku miliki…..mbak Tikalah yang memberikan jilbab pertamaku. Hari itu ada satu ujian yang harus aku ikuti…mbak Tika pulalah yang memakaikan jilbabnya…Subhanallah…persahabatan yang sangat indah…. Saat itu juga aku telpon Ibuku, dan mengabari beliau kalau hari itu aku sudah resmi berjilbab….Ibu hanya bisa menangis dan mengucapkan selamat…(saat itu beliau belum berjilbab).

Pergi kuliah dengan hati yang sangat lapang…bahagia membucah hatiku….aku…dengan …aku yang baru. Sore hari menjelang berbuka, mbak-ku menyodorkan hadiah….benar-benar kejutan yang manis…beliau bilang sebagai hadiah untuk adikku…..aku buka hadiah itu…wah, 2 helai jilbab yang sangat cantik, dan sehelai kartu mungil yang berisikan tulisan yang sangat indah dan tidak mungkin aku lupakan sampai saat ini :

Uyung adikku sayang,

Terbitnya matahari dipenghujung tahun 2000 ini
Adalah awal dari kamu yang baru

Hidayah bukan untuk kau nanti adikku
Hidayah untuk kau rengkuh dalam hari-harimu dengan busana jilbabmu

Mbak Tika

Menangis, hanya itu yang mampu aku lakukan saat itu….persaudaraan yang sangat indah, Subhanallah…betapa aku bersyukur telah Engkau pertemukan dengan mbak-ku yang satu itu.

Menangis, itu pulah yang mampu aku lakukan saat ini, saat aku menuliskan kembali cerita 5 tahun yang lalu. Bergetar tubuhku mengingat betapa sangat jauhnya aku saat itu dengan aku yang sekarang…

Iman memang pasang surut, dan seharunya memang selalu kita pupuk. Sedih saat ini…karena harus aku akui…keimananku saat ini benar-benar berada di level terendah yang pernah aku miliki….ya Allah, maafkan kekhilafanku…maafkan jika perbuatanku menodai kesucian jilbab yang aku kenakan….Engkau sebaik-baiknya Pelindung….Lindungilah aku dari Api Neraka yang menyala-nyala…Amin

24 Oktober 2005

Yunia


20 Ramadhan

Oleh: Febdian Rusydi

Tidak terasa baru saja kemarin kita sudah melewati sebuah hari sangat penting dalam sejarah Islam: Nuzulul Quran.

Saya berusaha mati-matian menghayati hari ke-17 Bulan Ramadhan itu, walau rasanya masih jauh dari khusuk.

Pada malam ke-17 bacaan tadarusan kami baru sampai juz ke-16. Setelah sempat tersibukkan oleh urusan [malaikat, iblis, jin, dan setan](http://febdian.net/al_hijr_26-40) pada malam sebelumnya, malam tersebut kami membaca Surat Al Israa’ dan Al Kahfi). Kebetulan sekali dua kali cerita pembangkangan iblis ini diulang: Surat Al Israa ayat 61-65 dan Surat Al Kahfi ayat 50.

Yang menarik adalah Surat Al Kahfi ayat 50 ini, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujuhlah mereka kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain daripadaKu, sedang mereka adalah musuhmu? Amat burulah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.”

Dari ayat tersebut, sepertinya keterangan saya pertama salah. Iblis adalah dari golongan jin. Sesuai dengan saran saya, dan saya masih konsisten dengan saran tersebut, usahlah kita fokus membahas masalah seperti ini.

Selain cerita pembangkangan iblis, juz 14 sampai juz 17 banyak bercerita tentang nabi-nabi. Misalnya dalam Surat Al Hijr (surat ke-15) ada cerita Nabi Ibrahim kedatangan “tamu-tamu” yang menyampaikan kabar bahwa Ibrahim akan mendapatkan keturunan anak yang alim (catatan kaki Al Quran saya menyebutkan bahwa itu adalah nabi Ishak) - ayat 51 - 58.

Ada cerita kaum Nabi Luth yang dibinasakan ketika matahari akan terbit dengan cara Allah membalikkan tanah kota mereka lantaran mereka berprilaku homoseksual - ayat 59 - 75. Di penghujung surat Al Hijr diceritakan contoh kaum-kaum yang mendustakan rasul-rasul Allah.

Selain itu ada cerita Nabi Isa, Nabi Musa (dengan Nabi Harun, Fir’aun, dan Khidr), Nabi Yahya, Isra’ Mi’raj, Goa Kahfi, dan banyak lagi. Saya merasakan waktu berjalan terlalu cepat. Surat An Nahl (surat ke-16) yang masih berada di juz 14 belum sempat saya baca terjemahannya. Mau dibahas satu persatu pun rasanya tidak akan cukup waktu dalam diskusi di meja makan ini.

Ada lagi yang menari, yang menjadi topik obrolan kita kali ini:

Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah, “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Rasanya sih ini sebuah pernyataan keras dan jelas, bahwa kita memang tidak diberi pengetahuan tentang roh kecuali sedikit saja. Wajar saja tidak ada Tuhan dalam fisika - sekitar dua tahun lalu saya pernah menulis tentang ini, namun sayang tidak ada arsipnya lagi; insyaallah saya akan luangkan waktu untuk bicara tentang ini lain waktu. Meski demikian, ada beberapa hal yang kita ketahui tentang roh.

Apa saja itu? Tentu saya tidak tahu apa-apa saja yang kita ketahui tentang ruh. Kalau saya lihat Al Quran sekilas, ayat ke-9 dari Surat As Sajdah (surat ke-32 - yang tentu saja belum sampai tadarusan kami) berbunyi, “Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.”

Selain itu, balik ingatan ke beberapa malam sebelumnya, di Surat Al-A’raaf (surat ke-7) ayat ke-172: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (ke-Esaan Tuhan)“.

Kalau melihat dari sisi ini, fitrahnya memang setiap manusia mengakui Tuhan yang sama, fisiknya lah yang kemudian mengingkarinya. Ini adalah sebuah kenyataan yang tegas. Ada kisah pendek perihal ini yang tertuang dalam Surat Ali Imran (surat ke-3). Saat terjadi perselisihan utusan Nasrani Najran dengan Muhammad SAW perihal kisah Nabi Isa,
Rasul kemudian mengajak bermubahalah utusan tersebut (ayat ke-59 - 63). (Muhaballah adalah mengajak masing-masing pihak yang berbeda pendapat untuk sama-sama berdoa kepada Allah dengan sungguh-sungguh agar Allah melaknati pihak yang berdusta.) Ajakan ini ditolak oleh utusan Nasrani Najran.

Kemudian Rasul atas perintah Allah berkata, “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu apapun dan tidak (pula) sebagian kita menjadi sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika kamu berpaling, maka saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (ayat ke-64).

Subhanallah, Allahu akbar.

Kalau semuanya kembali ke fitrah sesuai ayat ke-172 Surat Al-A’raaf tadi, yang pertama hilang adalah golongan atheis (walau Cak Nur pernah berkata sebenarnya atheis itu tidak ada, yang ada mereka mengganti Tuhan dalam bentuk lain).

Hanya ada satu Tuhan, tidak ada sekutuNya dengan sesuatu apapun atau dengan seseorang bagian dari kita.

Setelah itu apa? Setelah itu adalah seperti dalam ayat ke-158 dalam surat yang sama, “Katakanlah (hai Muhammad), “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat (kitab-kitab)-Nya dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.

Lantas, kalau ada yang berpaling? Tidak usah terlalu banyak kita pikirkan, karena azab Allah itu teramat pedih. Yang penting, seperti ayat ke-64 Surat Ali Imran tadi: Jika kamu berpaling, maka saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).

Selain itu, apa lagi yang kita ketahui tentang ruh? Entahlah, seperti yang saya sebutkan tadi, saya tidak tahu.

Obrolan saya ini, seperti biasa, selain di atas meja makan, adalah obrolan yang terbit seusai tadarus yang insyaallah rutin kita adakan.

Mari kita berlindung kepada Allah, supaya ditunjuki jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang dianugrahkanNya nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat, amin ya rabbil alamin.

Goenoeng Koening,
5.03 am 19 Ramadhan 1426


Doaku Hari Ini

Filed under Ramadhan 2005

19 Ramadhan

Oleh: Marly Arifin

Saya bener-bener bingung ketika disuruh bercerita, saya tidak pandai bercerita. Jadi saya sharing doa aja. Kalimat-kalimat dalam doa ini, secara nggak sengaja, jadi kebiasaan yang rutin saya ucapkan dipagi, ketika keluar rumah, dan dimalam hari. Terutama untuk yang keluar rumah, biasanya sekalian bersepeda. Ini bisa dibilang resep supaya saya tetap semangat dan bertenaga untuk kuliah dan mengerjakan kegiatan sehari-hari, dan biasanya hati jadi tenang dan senang setelah itu (jadi tetep gembira biarpun keujanan).
Semoga melalui doa-doa ini, bisa membagi perasaan tenang dan senang yang saya rasakan dengan teman-teman semua.

Doa di pagi hari

Terima kasih Tuhan,
Semalam Kau telah memberikan tidur yang nyenyak sehingga aku terbangun dengan segar pagi ini.

Terima kasih Tuhan,
Kau masih memberikanku kesehatan yang baik sampai hari ini.

Terima kasih Tuhan,
Kau masih memberikanku kesempatan untuk melanjutkan kembali aktivitasku pada hari ini.

Terima kasih Tuhan,
Atas rezeki yang berlimpah, perlindungan, rahmat dan berkat-Mu yang kau berikan kepadaku, orangtua, keluarga, teman-teman, dan seluruh orang didunia ini. Mohon Kau berikan kebahagiaan selalu dalam hari-hari kami.

Terima kasih Tuhan,
Sampai saat ini Kau telah mempertemukanku dengan orang-orang yang baik, yang selalu membantuku dan hadir untukku setiap saat. Semoga aku pun bisa menjadi orang baik itu untuk sesamaku.

Semoga hari ini aku bisa berbuat kebaikan yang lebih banyak lagi dari pada kemarin, dan semoga aku bisa menjadi orang yang lebih berguna lagi untuk sesama.

Amien

Doa ketika keluar rumah

Terima kasih Tuhan,
Kau masih memberikanku cuaca yang baik (biasanya kalau belum ujan).

Ya Tuhan,
Lindungilah aku dalam bersepeda. Semoga aku bisa sampai ditujuan dengan selamat. (kalau ujan)

Terima kasih Tuhan,
Sepedaku dalam keadaan baik sehingga tidak ada halangan bagiku untuk pergi ke tempat tujuan.

Terima kasih Tuhan,
Atas perlindunganMu sehingga aku selamat sampai ditujuan tanpa kurang suatu apapun.

Amien

Doa di malam hari

Terima kasih Tuhan atas hari ini. Semoga aku telah melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan baik dalam mengerjakan tugas dan kegiatanku maupun dalam membantu orang lain.

Terima kasih Tuhan,
Atas segala rahmat,bimbingan, penerangan, dan perlindungan yang Kau berikan kepadaku sehingga aku bisa menjalankan hari ini dengan baik.

Ya Tuhan, ampunilah jika hari ini aku telah berbuat yang tidak baik, membuat orang lain kesal atau merugikan orang lain.

Terima kasih Tuhan,
Kau memberikanku kesempatan untuk kembali beristirahat di malam ini.

Ya Tuhan, jagalah, lindungilah dan berikanlah mimpi yang indah dalam tidur kami.

Amien


Ayahku dalam memori

Filed under Ramadhan 2005

18 Ramadhan

Oleh: Riri Buna

Saat itu, malam jam 21.15 WITA , 13 November 2001. Aku baru saja selesai menidurkan kedua anakku . Terdengar deringan telpon di ruang tamu, suamiku yang mengangkat. Dari kejauhan terdengar suamiku mengucapkan kata “Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.”. “Siapa lagi nih yang meninggal?” Pikirku. Ternyata, bagai disambar petir, yang meninggal dunia adalah ayahku. Tidak ada khabar berita tentang sakit ataupun kecelakaan, ayahku meninggal tiba-tiba. Malam itu kami harus berjuang untuk sampai ke kota Makassar tempat ayahku akan dimakamkan. Bagaimana tidak? Kami sekeluarga tinggal di Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara, dimana untuk bisa sampai ke Makassar harus naik Ferry (kapal laut) selama 8 jam dan disambung lagi dengan mobil selama 5 jam. Malam itu angin sangat kencang, tentu saja ombak di laut juga kencang. Jadwal keberangkatan Ferry yang harusnya berangkat jam 11 malam, ditunda menjadi jam 2 malam menunggu ombak reda. Bersama suamiku dan kedua anak kami yang masih kecil (3 tahun dan 5 bulan) kami berangkat menuju Makassar.

Disepanjang jalan aku tak henti berfikir. Ayahku yang sehat wal afiat, yang baru saja 2 minggu lalu kami bertemu di Makassar dalam rangka Hakikah anakku yang kedua, tiba-tiba sudah dipanggil oleh Allah SWT. Masih terbayang dibenakku ayah meminta untuk menghakikah cucu laki-lakinya. Untuk mengsinkronkan waktu kerjaku dan waktu luang ayah yang masih aktif bekerja (ayah bekerja di PT INCO Soroako), akhirnya anakku baru dihakikah pada umur 5 bulan. Ayahku sendiri yang menyembelih kambingnya, ayah yang membakar ikan di halaman rumah, dan ayah juga yang mengatur kursi2 dan tenda untuk para tamu. Beliau sangat sibuk mempersiapkan acara hakikah cucunya.

Dan masih terbayang pula ketika aku pamitan hendak pulang ke Kolaka, beliau menimang2 anakku dan bermain sepuasnya dengan kedua cucunya seolah2 tiada kebahagiaan lain selain bersendagurau bersama cucunya tercinta, sampai mobil datang menjemput kami. Saat itu kulihat wajah ayah benar-benar bersih, bercahaya, dan sangat tampan. Dalam hatiku terbertik, “Kok ayah jadi keliharan lebih muda dari umurnya?” Mungkin itu suatu pertanda, namun tidak aku sadari. Beliaupun (ayah dan ibuku) mengantar kami sampai ke depan pintu mobil dan menasehati agar kami selalu sabar dan tabah dalam menjalani hidup.

Keesokan harinya kami baru sampai di Makassar pada jam 15.15 sore setelah menempuh lebih dari 13 jam perjalanan. Rasanya seperti mimpi, di depan rumah terlihat bendera putih (tanda dirumah itu ada yang meninggal), dan jalanan di depan rumah kami sudah penuh sesak dengan pelayat. Aku berharap ini hanya mimpi, namun ternyata bukan. Di dalam rumah, ayahku sudah terbungkus rapi dengan kain kafan dan siap untuk dimakamkan, hanya tinggal menunggu aku. Hanya 10 menit setelah kedatanganku ayah diantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Ayah meninggal di usia 64 tahun.

Sepulang dari pemakaman baru aku mengetahui kejadian yang sesungguhnya tentang proses meninggalnya ayahku. Hari itu, 13 November 2001 ayah masih ke kantor dan seperti biasa pulang jam 5 sore. Setelah itu beliau masih sempat membersihkan halaman rumah, menyiangi rumput di halaman rumah di Soroako. Saat itu ibuku sedang berada di Makassar mengantar adik bungsuku yang mau masuk Universitas. Jadi ayah tinggal hanya berdua dengan adikku yang laki2 yang baru saja bekerja di PT. INCO Soroako. Setelah membersihkan halaman, ayah mandi dan shalat Magrib berjamaah dengan adikku. Ayah sempat nonton TV dan menyelesaikan sisa pekerjaan di kantor. Setelah itu menyuruh adikku untuk pergi membeli makanan untuk makan malam. Pulang dari membeli makanan jam 20.15, adikku menatanya di meja makan. Setelah itu ia mengetuk kamar ayah memanggilnya untuk makan malam. Ternyata Ayah sedang shalat Isya, tak lama kemudian terdengar suara ayah mengaji dari dalam kamar. Jam 20.45 ayah keluar dari kamar dan mengajak adikku untuk makan bersama. Baru saja ayahku hendak memasukkan suapan yang kedua kedalam mulutnya, tiba2 beliau jatuh dari kursi makan, dan langsung tak sadarkan diri. Adikku panik dan langsung membawanya ke rumah sakit. Jarak antara rumah sakit dan rumah ayah sangat dekat, 10 menit sudah sampai. Namun sesampainya di rumah sakit dokter mengatakan bahwa Ayah sudah tidak ada, sudah meninggal dunia. Innalillahi Wainna Ilaihi Rajiun.

Proses kepergian Ayah begitu cepat, tidak ada yang menyangka secepat itu. Semasa hidupnya ayah tidak pernah mengeluh akan suatu penyakit. Paling hanya batuk-batuk dan flu biasa. Seingat aku, selama jadi anaknya, ayah tidak pernah masuk rumah sakit, dan amat sangat jarang ke dokter. Kata dokter penyebab kematian ayah adalah tekanan darahnya drop secara drastis. Itu menurut diagnosa dokter. Malam itu juga jenazah ayah dimandikan dan dishalatkan di Mesjid dekat rumah, dan jam 23.00 malam itu juga langsung dibawa ke Makassar (dari Soroako) dengan iring2an lebih dari 20 mobil. Tiba di Makassar keesokan harinya jam 11.00 siang.

Satu hal yang saya tarik dari hikmah kepergian ayah adalah, beliau tidak pernah mengeluh dan menyusahkan orang lain. Dimasa hidupnya beliau selalu berkata “Sedapat mungkin selesaikanlah sendiri seluruh pekerjaanmu tanpa menyusahkan orang lain.” Sehingga Allahpun memanggilnya dengan cara yang amat sangat indah, tanpa penderitaan penyakit yang berkepanjangan dan tanpa menyusahkan orang lain. Ayah terkenal sebagai sosok pekerja keras, mandiri dan taat beribadah. Ayah meninggalkan kami semua tanpa utang 1 rupiah pun, dan semuanya sudah beliau atur dalam surat wasiat yang sudah beliau siapkan jauh-jauh sebelumnya. Itu semua baru kami ketahui setelah ayah tiada.

Andai boleh aku bermohon pada Allah SWT, wafatkan lah aku senikmat Engkau mewafatkan Ayahku, tanpa penderitaan yang berkepanjangan, dan tanpa menyusahkan orang lain.

Ya Allah….. tempatkanlah Ayahku di tempat yang terindah disisiMu. Terimalah amal ibadahnya dan ampunilah dosa-dosanya, Amien.


Syukur Hati

Filed under Ramadhan 2005

17 Ramadhan

Oleh: Febdian Rusydi

Karena bolos tadarus pada malam ke-13, baru hari ini saya membaca surat Ibrahim (surat ke-14). Ada satu ayat yang sering dikumandangkan dan begitu akrab di telinga kita, yaitu ayat ke-7, yang berbunyi “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Tentunya saya kembali teringat silaturahim de Gromiest bulan September yang silam di rumah Bang Ismail Fahmi. Saat itu saya dituntut untuk memberikan kultum (kuliah tujuh menit) yang kemudian berubah menjadi or2tum (orasi dua kali tujuh menit). Bagi rekan-rekan yang datang saat itu, obrolan meja makan saya kali ini mungkin hanya sekedar pengulangan saja. Namun, mudah-mudahan masih bermanfaat bagi kita semua.

Saat itu saya bicara tentang syukur. Banyak sekali ayat dalam Al Quran maupun Hadits yang menyuruh kita tidak berhenti bersyukur. Bagaimana tidak, keberadaan kita sekarang adalah karena nikmat Allah. Kalau tidak suka dengan apa yang kita peroleh, maka carilah Bumi yang bukan punya Allah, kira-kira ada ayat Al Quran yang berbunyi begitu bagi mereka yang memungkiri kemurahan Allah. Lha, mau pergi ke mana lagi? Jangankan ke Bumi yang bukan ciptaan Allah, ke Bulan saja belum tentu kita bisa hidup.

Bagaimana sih bersyukur itu? Yang paling gampang dan kasat mata adalah mengucapkan Hamdalah, melakukan sujud sukur, bersadaqah, dan bernazar. Yang tidak kasat mata? Misalnya syukur hati. Wah, bagaimana pula ini?

Sebelum itu, mari kita tengok kapan saja kita bersyukur. Kita bersyukur biasanya karena tiga hal mendasar: diberi rezeki, diberi kemudahan masalah, dan diberi kesehatan dan keselamatan. Sukses dalam bekerja, berhasil menggapai cita-cita, terima gaji, nilai bagus, istri melahirkan, naik pangkat, lulus ujian, utang ditangguhkan, dan lain-lain adalah contoh-contoh nikmat yang wajib disyukuri. Namun bagaimana kalau kita tidak tidak sukses, tidak dapat nilai bagus, pangkat tidak naik, gagal ujian, utang bertambah, badan sakit-sakitan meski sudah berobat, apakah kemudian kita tidak bersyukur? Atau dengan kata lain, apakah itu tidak pantas untuk disyukuri?

Kalau kembali ke teori awal, bahwa segala sesuatu dalam hidup ini adalah atas kemurahan Allah, maka tentu kita wajib bersyukur setiap saat. Namun, bagaimana cara mensyukuri kejadian-kejadian yang menurut pandangan kita sama sekali bukan sesuatu nikmat? Itulah yang saya sebut syukur hati.

Ada beberapa cara untuk tetap bersyukur dalam setiap saat. Cara yang paling sering kita pakai adalah selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, dan kemudian mensyukurinya. Ini disebut berpikir positif. Keyakinan yang begitu kuat bahwa selalu ada rahmat Allah dalam setiap peristiwa seburuk-buruknya peristiwa selalu berakhir dengan keindahan. Bukankah Allah tidak akan pernah membebankan ummatNya sesuai dengan kekuatannya masing-masing?

Namun kadang metoda ini bisa membutakan kita. Saking positive thinkingnya, kita tidak lagi bisa membedakan mana yang nikmat, mana yang laknat, mana yang ujian, mana yang hukuman, astagafirullah. Untuk itu, selalu berserah diri kepada Allah dalam berpikir positif sangatlah penting, supaya kita tidak salah konsep dalam berpikir positif.

Metoda kedua adalah merubah paradigma, cara pandang kita. Kalau selama ini “berhasil” atau “sukses” didefenisikan sebagai sebuah hasil, yaitu cocoknya keinginan dengan kenyataan, maka sekarang diubah menjadi sebuah proses. Proses yang bagaimana? Yaitu proses yang sesuai dengan surat Al ‘Ashr (surat ke-103): (1) tidak membuang-buang waktu, (2) bagian dari ibadah.

Inilah salah satu nasihat berharga dari papa saya sewaktu saya masih kecil. “Nak, selagi kamu tidak membuang-buang waktu, maka hasil yang kamu terima, apapun juga, adalah hadiah dari Allah. Maka syukurilah.” Sepertinya gampang, tapi maknanya begitu dalam. Saya selalu berusaha mengamalkan nasihat ini, dan memang tidak gampang. Kuncinya: jangan membuang-buang umur.

Berdasarkan metoda ini, kita kemudian bisa mengidentifikasikan mana yang nikmat, mana yang laknat, mana yang ujian, dan mana yang hukuman. Kalau kita gagal karena membuang-buang waktu, sudah jelaslah kriterianya apa. Kalau kita gagal karena tidak membuang-buang waktu, percayalah, inilah hadiah istimewa dari Allah. Istimewa karena hanya diberikan pada hamba-hamba pilihanNya (Bukankah Allah tidak akan pernah membebankan hambaNya sesuai dengan kekuatannya masing-masing?) Bersyukurlah, dan nikmatilah… insyaallah inilah yang dari tadi saya sebut syukur hati.

Tapi jangan lupa syarat kedua dari paradigma tersebut, adalah bagian dari ibadah. Belajar, bekerja, membanting-tulang menafkahi keluarga adalah bagian dari ibadah - maka paradigma ini bisa dipakai. Tapi kalau paradigma ini dipakai untuk berjudi, taruhan pacuan kuda, gosip dan bergunjing, dan perbuatan-perbuatan maksiat lainnya, meski mungkin saja efektif dan berhasil, tapi niscayalah ini sama sekali bukan kriteria nikmat Allah.

Semoga kita menjadi hambaNya yang selalu dan pandai bersyukur, amien.


Enjoy Ramadhan!

Filed under Ramadhan 2005

17 Ramadhan

Oleh: Deva Rahma

Dear diary,

Di bulan Ramadhan ini aku merenung.. Bersyukur rasanya tetap bisa bertahan hidup sampai detik ini.. Awalnya memang berat, tapi kuharap untuk berikutnya aku sudah mulai membiasakan diri..Hidup jauh dari keluarga dan kerabat dekat, dengan pola hidup yang berbeda dan masalah yang berbeda.. Huffff.. Dibalik kesusahan selalu ada kemudahan.. Setidaknya kalimat itu sedikit menghibur hatiku..

Aku juga sadar..kalau niatnya baik dan mau bersabar, pasti akan selalu ada ‘tangan-tangan Tuhan’ yang akan siap menolong.. At least, itu yang aku rasakan selama hidup di sini.. Yah.. banyak orang yang sudah berkontribusi dalam hidupku yang belum genap dua bulan ini sebagaimana prinsip manusia adalah makhluk sosial. Mulai dari masalah akademis di sekolah, tempat tinggal, komputer kena virus, ban sepeda kempes di tengah jalan, gotongin kulkas..hal-hal yang kecil tapi sangat berarti.. yang menandakan kalau kita hidup selalu membutuhkan orang lain dan selalu mengingatkan kita untuk tidak lupa bersyukur dengan Sang Pemberi Takdir.

Dan ya itu tadi..hidup tak lepas dari masalah..dan Allah itu pasti memberikan masalah/ cobaan tidak akan melebihi batas kemampuan kita.. Aku percaya, sabar dan syukur adalah inti dari hidup kita ini..

Sekarang aku mulai optimis kembali untuk melangkahkan kaki ini.. Semoga pemikiran simple ini juga dapat membangkitkan kembali motivasi bagi yang lagi butuh motivasi.. Jadi kalo punya masalah jangan disusah-susahin tapi dinikmatin aja.. Enjoy your life!! Enjoy Ramadhan!!!

Wassalam,
Deva


Renungan Manusia Kereta

Filed under Ramadhan 2005

Pemimpin Adalah Pelayan Bagi Rakyatnya

16 Ramadhan

Oleh: Eko Hardjanto

Jakarta setelah pukul 5 sore, wajah-wajah lelah penuhi stasiun kota. Pakuan Express lewat 5 menit, Aku tunggu kereta ekonomi delapan gerbong, buatan Jepang, sudah sangat tua. Di sisi stasiun, jalan raya Sudirman padat bau asap menyengat. Kendaraan merayap perlahan, bis kota miring ke kiri, tak ada yang peduli. Di dalam kereta, tak ada celah lagi, aku berdiri dekat pintu, sambil berharap angin segar menerpa wajah membuang bau. Manusia berjejal bagaikan sampah, di bawah sana Mercedez mewah melintas tak mau tahu.

Satu jam setengah perjalanan menuju rumah dimulailah cerita yang lain. Tak ada cerita kenyamanan, hanya wajah kusam di hadapan, diselingi lalu lalang penjaja makanan. Sekumpulan orang di pojok gerbong sempat-sempatnya menggelar tikar koran, duduk di lantai kotor kereta saling berhadapan. Dengan tawa dan canda mereka bermain domino mencari hiburan. Aku masih berdiri dekat pintu, terhimpit, semakin lama semakin terbawa ke dalam. Tak kuasa menahan arus masuk penumpang, di setiap stasiun deras menerjang.

Sepertiga perjalanan, Stasiun Kalibata, keringat mengucur deras. Wajah-wajah menegak ke atas, mulut megap-megap mencari nafas. Panas, berdesakan, seperti sekumpulan ikan. Basah sudah baju kemeja khas seorang konsultan, Aku tak peduli karena memang tak ada transportasi pilihan. Di bawah kaki-kaki berdiri menegang, seorang anak lusuh berlutut mengais sampah, membersihkan lantai kereta dengan selembar koran. Berharap uluran tangan penumpang sejumlah uang.

Dari kejauhan dalam kereta terdengar suara samar-samar sendu, seorang ibu dengan mata buta menyanyikan sebuah lagu. Sebuah lagu entah apa, dia berharap belas iba. Sang ibu itu tanpa mata menggendong seorang bayi lugu, semua penumpang termangu bisu. Serentak beberapa tangan memberi uang recehan, berharap sang ibu teringankan dari beban.

Di Stasiun Pasar Minggu kereta berhenti lagi, arus masuk penumpang masih tak berkurang. Kondektur kereta, petugas PT. KAI, datang berdua, masuk ke dalam gerbong siap memeriksa. Kondektur meminta tiket kereta kepada setiap penumpang, penumpang bergeming, kondektur tak kuasa. Sebagian lain dengan wajah ngantuk pura-pura, membuang muka dari kondektur sambil berkata “ Abu…” , Abunement maksudnya. Sekali lagi kondektur tak kuasa memaksa. Aku tak berprasangka, walau sekian banyak penumpang mengatakan hal yang sama, ”Abu”. Kondektur lewat berjalan, seorang penumpang ‘nyeletuk’ lucu, “ Abu…Abu Bakar kaliii….”. Aku tergelak menahan tawa….ah’ ada-ada saja.

Kondektur masih memeriksa, di sudut gerbong sana seorang bapak mengeluarkan selembar uang ribuan, sebagai pengganti tiket yang tak dibeli. Untung-untungan, siapa tahu kondektur tak memeriksa hari ini. Uang ribuan masuk kantong kondektur, lagi-lagi aku tak mau berprasangka, semua penumpang sudah memaklumi.

Stasiun Depok lewat, gerbong kereta semakin lowong. Udara segar kembali menghembus badan dari jendela kereta yang bolong. Setelah satu jam perjalanan, aku rebahkan badan renggangkan kaki di tempat duduk kosong. Sekumpulan mahasiswa UI bekumpul di ujung gerbong, memepet tas pinggang mereka di depan badan, takut pencopet. Kereta terus melaju kencang, jarak anatara stasiun sekarang semakin renggang. Menunggu tiga puluh menit sisa waktu perjalanan menuju stasiun akhir tujuan, Stasiun Bogor Kota Beriman.

Sekelumit cerita kehidupan manusia kereta, antara Bogor dan Jakarta. Setiap hari terulang tanpa ada jeda. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bertahun-tahun demikianlah adanya. Aku sering merenung, ini salah siapa. Tak ada jawaban pasti hanya teringat ajaran agama, “Pemimpin adalah pelayan bagi rakyatnya….”.

Ya Allah, aku merindukan Umar ibn Khattab ketika ia memanggul sendiri gandum rakyat, untuk dibagikan, di punggungnya.

Ya Allah, aku merindukan Umar ibn Abdul Aziz ketika rakyatnya tak menerima zakat, karena semua telah merdeka.

Groningen, 14 Ramadlan, 1426 H


Teladan tak terucap

Filed under Ramadhan 2005

(in memoriam Drs. Hartoyo, my father in law)

15 Ramadhan

Oleh: Ariyo Bimmo Soedjono

Bulan puasa sangat erat pertaliannya dengan Hari
Lebaran. Ya, hari dimana umat islam merayakan
kemenangan setelah sebulan penuh berikhtiar, mencari
keridhoan Allah dengan berpuasa dan ibadah-ibadah
lainnya. Namun hari lebaran kali ini nampaknya akan
berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya bagi keluarga
kami. Selain karena kami tidak dapat merayakannya
bersama, lebaran tahun ini mengingatkan kami akan
Bapak Hartoyo, bapak mertua saya, yang meninggalkan
kami setahun yang lalu, 4 hari setelah Iedul Fitri.

Pada saat saya mengenal (calon) istri saya, Bapak
sudah dalam keadaan yang kurang sehat. Bagaimana
tidak, beliau telah terkena stroke lebih dari 2 kali.
Dan serangan terakhir agaknya telah melumpuhkan
sebagian syarafnya sehingga beliau tidak mapu untuk
berjalan secara normal (harus memakai kursi atau
dipapah) dan kemampuan verbalnya sangat terbatas.
Dalam keadaan seperti itu, beliau masih sangat
bersemangat ketika mengetahui rencana pernikahan kami
(mungkin karena menikahkan anak perempuannya merupakan
tanggung jawabnya yang belum beliau lakukan). Bahkan
semenjak lamaran, beliau sempat minta untuk dilatih
mengucapkan kata-kata yang digunakan dalam proses ijab
kabul, karena inginnya beliau sendiri yang menikahkan
kami. Mendengarnya, kami hanya tersenyum kecut
mengingat keadaan beliau yang sangat kurang
memungkinkan. Namun kami sangat menghargai maksud
tersebut.

Saya sendiri kurang banyak berbicara dengan beliau,
kalaupun ada, hanya bersifat satu arah karena
banyaknya saya tidak mengerti apa yang beliau coba
ungkapkan.

Setelah kami menikah (yang menikahkan kakak kandung
yang merupakan saudara satu-satunya dari istri saya),
kami tinggal di rumah Bapak. Keadaan beliau tidak
kunjung membaik, bahkan sempat masuk kembali ke rumah
sakit untuk operasi prostat. Setelah itu, jenis
makanan yang dapat beliau konsumsi menjadi sangat
terbatas. Keadaan beliau sangat lemah, saya pribadi
kadang hanya dapat memandang dengan perasaan iba.
Beliau juga menjadi sering marah-marah, entah apa
penyebabnya. Namun beliau sangat senang apabila kami
ajak jalan-jalan, meskipun untuk menaikannya ke mobil
juga perlu perjuangan keras.

Demikian pula ketika datang bulan puasa, kami
mengajaknya jalan-jalan ke Monas, salah satu diantara
sedikit tempat di Jakarta yang memungkinkan kami
berjalan-jalan dengan kursi dorongnya (baru saya
sadari setelah di Groningen, betapa manusiawinya kota
ini dengan taman-tamannya).

Lebaran pun tiba. Seusai shalat ied (yang kebetulan di
jalanan depan rumah, karena rumah kami berseberangan
dengan mesjid), Ibu menceritakan bahwa Bapak, ketika
sehatnya, aktif di kegiatan mesjid dan bershalat
jamaah bila ada di rumah. Kemudian, tamu-tamupun
berdatangan, karena seusai bermaaf-maafan di depan
mesjid melihat Bapak yang sedang dduduk di teras.
Entah mengapa, tamu yang berkunjung untuk
bersilaturahmi banyak sekali. Lebih dari biasanya,
demikian kata Ibu. Karena kondisi Bapak memang kurang
baik, semua keluarga mendatanginya pada hari kedua.

Besoknya Bapak terlihat sangat kelelahan. Dan matanya
agak menerawang. Sulit sekali menggerakan bagian
tubuhnya, bahkan untuk memindahkannya ke kursi dorong
amatlah sulit. Malam itu, beliau tidur ditemani
perawat.

Hari selanjutnya, pagi-pagi saya dikagetkan oleh
teriakan perawat Bapak. Saya bergegas menghampiri
kamarnya dan melihat Bapak tengah terbujur dengan
nafas yang sangat berbeda dari biasanya. Segera saya
menjemput dokter yang kebetulan adik iparnya Ibu.
Jalanan terasa macet sekali, padahal baru beberapa
hari setelah lebaran. Sampai di rumah, sebagian badan
Bapak sudah kaku dan … dingin. Masya Allah, inikah
sakaratul maut? Bagi saya, baru pertama kali saya
menyaksikannya, berada di samping seseorang yang
sedang dalam proses tersebut. Tak beberapa lama, entah
bagaimana, tetangga-tetangga terdekat sudah berkumpul
di rumah kami dan selang beberapa saat, dokter
menyatakan bahwa Bapak telah pergi. Innalilahi wa inna
ilahi rojiun.

Hari-hari setelah kepergian Bapak diisi dengan
berbagai kenangan dari Ibu dan istri saya tentang
Bapak. Dari cerita tersebut saya mengetahui bahwa
meskipun tidak banyak bicara, bahkan dapat dikatakan
pendiam, Bapak adalah seorang suami dan ayah yang
baik, sabar, setia serta sangat bertanggung jawab.
Meski demikian, tersirat rasa sedih istri saya karena
selama hidupnya, ia kurang begitu banyak berinteraksi
dengan Bapak. Rasanya, baru kemarin ia sangat gembira
karena akhirnya Bapak dapat punya waktu untuk
mengantarkannya ke Taman Ria. Dan itu hanya terjadi
sesekalli saja dalam hidupnya. Sungguh waktu cepat
berlalu. Kemudian Ibu mengeluarkan foto-foto waktu
Bapak muda, jauh sekali penampilannya dengan ketika
saya mengenalnya. Gagah dan tegap untuk ukuran seorang
sipil. Ternyata Bapak juga juara badminton (meskipun
tingkat antar kelurahan). Selama ini saya cuma tahu
bahwa Bapak dulu pandai main golf, tapi bukan olahraga
energik seperti itu. Bapak juga adalah tetangga yang
baik. Terbukti dengan berlimpahnya perhatian dan
bantuan yang kami terima selama sakit dan wafatnya
Bapak.

Bapak juga pekerja keras dan dikenal jujur
dilingkungan Departemen dimana beliau bekerja. Saking
jujurnya, tidak banyak harta yang ditinggalkan untuk
Ibu, meskipun beliau merupakan salah satu orang
penting di bidang perindustrian, penggagas penerapan
standar internasional dan sempat menjabat sebagai
komisaris di BUMN besar. Ketika meninggal, salah satu
mantan anak buahnya yang telah menjadi Dirjen
memberikan sambutan mewakili rekan-rekan sejabat,
menyatakan bahwa dia sangat terkesan dengan sosok
Bapak.

Dan yang lebih mencegangkan bagi saya, ketika
membereskan barang-barangnya, ternyata beliau adalah
seorang yang sangat rapih dan teratur (at least ketika
masih sehat). Semua arsip sampai dengan ijasah, surat
pengangkatan PNS, copy dokumen-dokumen milik anak
istri, sertifikat tanah, perijinan bangunan dan
lain-lainnya, bahkan kwitansi pemabayarasn
tagihan-tagihan tertentu, masih tersimpan secara baik
dan sistematis. Saya sendiri sampai sekarang
dokumentasinya masih berantakan. Tersirat kekaguman
yang mendalam pada beliau ketika itu.

Sebenarnya ada lagi tambahan cerita ini, masih
berhubungan dengan Bapak dan terjadi pada bulan puasa
tahun ini. Seorang saudara (yang masih terhitung
sepupu dengan Bapak), masih berumur di bawah 40 tahun,
tiba-tiba jatuh dan meninggal dunia. Ternyata dia
menderita pendarahan otak (saya kurang mengerti
mengenai penyebabnya).

Dari cerita yang saya share diatas, saya ingin juga
berbagi apa yang menjadi pemikiran saya menyikapi
perginya beliau dan juga saudara kami tersebut. Saya
membayangkan bahwa Bapak, ketika masih sehatnya adalah
seorang yang sangat mandiri, tidak tergantung pada
orang lain dan sangat teratur. Dimasa sakitnya, beliau
sangat tergantung pada perawat (karena kami semua
bekerja dan Ibu juga sudah berumur), tidak dapat
mengatur dirinya sendiri. Ketika sehat, beliau sabar
dan dapat menahan emosi. Namun pada saat sakitnya,
beliau menjadi sangat labil. Dan ketika meninggalnya,
saya sendiri ikut menurunkannya di liang lahat, saya
saksikan sendiri bahwa beliau tidak membawa suatu
apapun kecuali kain kafan yang menjadi penutup
tubuhnya.

Lalu saya mencoba merefleksikannya semua kejadian
tersebut pada diri saya. Pada saat ini, alhamdulillah,
saya masih sehat. (Merasa) muda, berambisi, aktif,
idealis dan lain sebagainya sebagaimana layaknya orang
seumuran saya. Namun saya bertanya dalam hati, sampai
kapan saya dapat miliki dan gunakan semua itu?

Sampai kapan saya terus bisa mengendalikan pikiran
saya?

Sampai kapan saya masih bisa solat dan puasa?

Apakah yang sudah saya lakukan selama ini? Apakah
cukup banyak kebaikan diantara hal yang sudah
dilakukan tersebut?

Untuk apa?

Untuk siapa?

Sampai kapan…. sampai kapan…?

Sampai kapan Allah meminjamkan tubuh dan pikiran ini,
sehingga saya bisa melakukan banyak hal, bisa bekerja,
menjaga keluarga, sekolah bahkan untuk menulis seperti
ini?

Sedangkan ketika tua atau sakit, jangankan untuk
bekerja, untuk solat dan makan saja bisa jadi susah
sekali.

Namun jangan membayangkan bahwa kita pasti akan tua,
bahkan orang yang usianya tidak jauh diatas saya,
tanpa aba-aba sebelumnya, meninggalkan pekerjaan,
keluarga (dengan 2 anak) dan kesempatan untuk mengejar
hal-hal lainnya.

Saya terkadang (saya sadar kadar ketakwaan saya masih
naik turun) menyesal mengapa jarang mengupayakan solat
berjamaah. Apalagi sekarang, mohon maaf, solat
jumatpun terpaksa saya subtitusi dengan solat dhuhur,
karena bentrok dengan kuliah. Itupun terkadang harus
lewat karena sulit menemukan tempat yang dekat.

Bapak, ketika sehatnya, melakukan hal-hal yang baik,
hebat dan sebagainya. Namun tetap saja menjelang ujung
hayatnya, tiada seorangpun dapat menolong kecuali
menaruh rasa iba akan kesakitannya.

Saya cuma berharap mudah-mudahan semua ini
mengingatkan kita, terutama saya sendiri, bahwa usia
kita tidak kekal. Bahkan bukan hanya usia, kemampuan
kita pun tidak kekal. Jadi, selama hayat masih ada dan
tangan dapat berbuat, marilah kita banyak berbuat
kebaikan, memperbanyak ibadah dan saling mengingatkan
karena mungkin hanya itulah yang dapat kita bawa
sampai ke liang kubur.

Proses wakit dan wafatnya Bapak telah memberikan saya
contoh nyata dari kata-kata “Bekerjalah seolah-olah
kamu hidup selamanya, dan beribadahlah seolah-olah
kamu akan mati besok” (saya tidak tahu asal dari
kata-kata ini, mohon maaf dan mohon dikoreksi oleh
yang lebih mengerti).

Bapak telah meninggalkan banyak kenangan baik diantara
orang-orang, karya pekerjaan yang berguna bagi
keluarga dan masyarakat (negara) nya… dan sebuah
teladan yang tidak pernah beliau ceritakan atau
katakan sama sekali pada saya semasa hidupnya.

Farewell, pak. Doa saya selalu menyertai.

Wassalam


15 Ramadhan

Oleh: Febdian Rusydi

Ngobrol di meja makan memang enak, baik karena makanannya atuapun obrolannya. Tidak semua obrolan di meja makan kemudian menjadi ide bermutu atau sesuatu yang harus dikerjakan. Tapi tidak jarang obrolan di meja makan melahirkan pencerahan, pada otak dan hati, dan pada jiwa dan nurani. Itulah sebabnya saya senang sekali berdiskusi apa saja di meja makan.

Saya ingat, saat itu ada di meja makan Soto Jawa (dekat Bioskop Pathe), bersama Indra dan Diana kami ngolor-ngidul membahas cerita-cerita izraeliat (maaf kalau salah eja, yang maksudnya cerita-cerita yang belum tentu kebenarannya tapi bermutu dan bisa meningkatkan iman) sampai gosipan para ulama tentang malaikat, iblis, jin, dan setan. Obrolan ini terlintas lagi di kepala malam ini, saat tadarusan kami sudah sampai pada surat ke-15 (Jus 14), yaitu surat Al Hijr.

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (26). Dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas (27). Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk (28). Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalam ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (29).

Tentu kita sudah tahu bagaimana kelanjutannya, sebagaimana dalam ayat lanjutan: “Maka bersujudlah para malaikat itu semua bersama-sama (30), kecuali iblis. Ia enggan bersujud bersama-sama (malaikat) yang sujud itu (31).”

Iblis memang tidak mau bersujud. Disebutkan dalam sebuah hikayat bahwa saat itulah dosa pertama terjadi, kesombongan. Angkuh, takabur, riya, niat atau sikap berlebih-lebihan adalah rangkaian dari dosa pertama tersebut, sombong. Sudah bukan rahasia lagi kalau sifat sombong ini sangat susah terdeteksi. Sombong besar mungkin gampang, tapi sombong kecil seperti riya? Sombong sering hadir dalam diri kita, sadar atau tidak, sengaja atau tidak, diniatkan atau tidak. Tidak heran kalau orang barat punya pepatah “vanity is the favorite sin.” Karena itu Rasulullah SAW selalu menyuruh kita untuk selalu meminta ampun pada Allah atas sikap sombong kita ini.

Tapi apa benar kesombongan adalah dosa pertama? Dengan kata lain, apakah benar Iblis saat itu sombong?

Allah berfirman, “Hai Iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” (32). Berkatalah Iblis, “Aku sekali-sekali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lupur hitam yang diberi bentuk” (33).

Sampai di sini memang terlihat bahwa Iblis memang angkuh, merasa dirinya lebih baik daripada Adam. Cerita selanjutnya sudah bisa ditebak, Iblis diusir dari surga sesuai ayat ke-34 dan ke-35. Iblis kemudian memohon penangguhan kematian (ayat ke-36), dan dikabulkan oleh Allah (ayat ke-37 dan 38). Iblispun senang, dan kemudian berkata “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka Bumi dan pasti aku akan menyesatkan mereka semua (39), kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka (40).”

Iblis sesat karena diperintahkan Allah untuk sesat, bukan karena kehendak dia untuk sesat. Sesuai gosipan para ulama (Diana saat itu menyebutkan beberapa sumber tapi saya tidak bisa mengingat kembali), Iblis sebelumnya adalah termasuk jajaran malaikat yang sangat, sangat patuh kepada Allah. Saking patuhnya, disuruh membangkangpun mau, subhanallah.

Iblis termasuk jajaran malaikat? Ya, berdasarkan gosipan tersebut, Iblis adalah nama malaikat, seperti nama malaikat Jibril atau Mikail. Tidak ada keterangan Al Quran atau hadits yang menyebutkan bahwa Iblis adalah jin atau jenis jin seperti banyak di antara kita yang berpikir demikian. Yang pasti, Iblis bukanlah setan. Kok bisa? Karena setan adalah kata sifat (bukan nama makhluk). Malaikat diciptakan dari cahaya, manusia dari tanah, dan jin dari api. Contoh jin yang paling terkenal dengan kesetanannya adalah Ifrit, yang menurut hikayah membuntuti perjalanan Isra’ Mi’raj Rasulullah SAW. Jadi Iblis bukan jin.

Tentu saja kita tidak tahu apakah benar Iblis dulunya termasuk jajaran malaikat yang sangat, sangat patuh pada Allah. Dan kita tidak perlu membuang waktu mencari jawabannya. Yang jelas, Iblis memiliki misi di dunia fana ini untuk menyesatkan manusia, dan manusia memiliki misi di dunia ini untuk beribadah kepadaNya. Dua misi yang jelas berbeda dan saling bertentangan, itu saja sudah cukup bagi kita untuk menentukan pilihan hidup.

Sebenarnya saat itu ada lagi obrolan menarik, seperti “apakah benar tempat kejadian peristiwa di surat Al Hijr ayat 29-40 itu benar-benar di surga?” Ini melanjutkan hipotesis Muhammad Isa Daud (pengarang buku Dialog dengan Jin) dalam bukunya “Para Penghuni Bumi Sebelum Kita.” Tentu saja obrolan ini kita bahas saat ini, mungkin lain kali di lain hari.

Semoga Allah tetap memberikan kesehatan dan kekuatan kepada kita sehingga kita bisa memaksimalkan ibadah di Bulan Ramadhan ini, amien.


14 Ramadhan

Oleh : Nandang Mufti

“karena sesunguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, itulah salah satu petikan dari surat alam nashrah ayat 5-6”, kata pak kyai pada sebuah pengajian yang dihadiri murid-muridnya.

“ pak kyai, dalam surat tersebut , kenapa kalimat sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, diulang sampai dua kali?” si murid bertanya sambil menunjukkan wajah keheranan.

“ begini” kata pak kyai, sambil mencoba menghela napas “ kata al-‘usri yang berma’na kesulitan merupakan isim ma’rifat , atau kl dalam bahasa inggris adalah “singular” sedangkan kata yusron yang berma’na kemudahan merupakan isim nakhira atau “plural”

“terus…” kata si murid penasaran mendengar keterangan pak kyai,

“ dalam qaidah bahas arab kalau isim ma’rifat di ulang ma’nanya sama, sedangkan kalau isim nakhirah di ulang ma’nanya berbeda” kata.. pak kyai,

“ jadi ma’na yang terkandung dalam ayat tersebut adalah bahwa di dalam setiap kesulitan / cobaan maka akan ada dua kemudahan/ hikmah yang akan kita peroleh” pak kyai meneruskan keterangannya.

“ pak kyai, kenapa allah menurunkan ujian/ cobaan kepada manusia, bukankah allah itu maha pengasih lagi maha penyayang? ” tanya si murid,..

“Allah menurunkan berbagai ujian kepada manusia bertujuan untuk menentukan golongan yang benar-benar ikhlas beriman kepada Allah dan bagi memastikan golongan yang purapura beriman kepada Allah., juga sebagai membuktikan kekuasaan dan kebijaksanaan Allah di dalam mencipta alam ini.” Kata pak kyai

“ooh….” Sambil mengangguk2 dia bertanya lagi “ Gimana tindakan yang sebaiknya dilakukan dalam menghadapi sebuah ujian..?”

“ walah…walah, kamu itu banyak bertanya…?” gurau pak kyai, “tapi baiklah, sebagai orang yang beriman maka tindakan yang harus dilakukan dalam menjalani ujian Allah, pertama-tama menyadari ujian yang menimpa ke atas dirinya hanya bersifat sementara, kedua Semakin meningkatkan semangat beribadat kepada Allah dengan penuh reda dan tawadu., ketiga berusaha dengan bersungguh-sungguh untuk menyelesaikan cobaan yang menimpa dirinya, dan terakhir Menerima ujian Allah dengan sabar, tenang dan tabah”.

Wallohu a’lam


Renungan Untaian Kata-kata

Filed under Ramadhan 2005

13 Ramadhan

Oleh: Mochamad Chalid

Teman,
Mari kita renungi sejenak kehidupan ini
Sungguh Alloh sangat sayang pada kita
DilahirkanNya kita dalam bentuk yang paling sempurna
DiberiNya kita akal dan fikiran sebagai software kehidupan
Dan diberiNya pula kita berbagai fasilitas kehidupan
Semua itu adalah titipanNya pada kita

Teman,
Pernahkah kita berfikir dengan hati yang jernih
Apa yang akan terjadi pada diri kita, bila Alloh mengambil salah satu milikNya dari kita
Siapkah kita….. bila Dia mengambil penglihatan kita….
Siapkah kita….. bila Dia mengambil tangan kita….
Siapkah kita….. bila Dia mengambil fungsi otak kita….
Bahkan Siapkah kita….. bila Dia mengambil semua milikNya dari kita….

Teman,
Sungguh itu semua … sangat mudah bagiNya
Seorang pakar yang bertahun-tahun dipandang banyak orang karena ilmunya….
Kini harus kehilangan semua oleh karena salah satu jaringan syarafnya terhimpit…

Teman,
Sungguh kasihNya tiada terbilang dan sayangNya tiada tara pada kita
Walau dosa kita menumpuk bagaikan gunung, namun Dia masih sayang pada kita
Kita masih diberiNya banyak nikmat dan kesempatan

Teman,
Kadang kita bangga atas kesuksesan kita, namun kita lupa pada yang memberikan kesuksesan
Kadang kita bangga atas ilmu kita, namun kita lupa pada yang memberikan ilmu
Kadang kita bangga atas jabatan kita, namun kita lupa pada yang memberikan jabatan
Dan banyak lagi kebanggaan-kebanggaan lain, sementara kita lupa pada pemberinya

Teman,
Kadang kita merasa gundah gulana saat suatu kesempitan datang
Dalam hati dan kadang ucapan kita keluar sumpah serapah
Kadang saat seperti ini, kita baru tersadarkan….Dia menyapa hangat kita
Namun kadang timbul rasa benci padaNya karena kesempitan itu
Padahal, itu hanyalah sebuah buih dibandingkan samudra kenikmatanNya

Teman,
Sudahkah kita berterimakasih padaNya
Sudahkah kita berusaha keras untuk membaca dan mengamalkan surat cintaNya pada kita
Sungguh seringkali kita lupa padaNya
Mari kita lebih berbenah diri

Teman,
Terima kasih Anda telah membaca untaian kata-kata ini
Dari orang yang selalu ingin kehidupannya lebih baik dari waktu ke waktu

Van Slingelandtstraat 56
Al-fakiru ila Allohi
MC


Berpikir tentang makna puasa

Filed under Ramadhan 2005

12 Ramadhan

Oleh: Jarir Atthobari

Tahun ini adalah tahun ke-empat saya menjalankan ibadah Ramadhan di Groningen. Tentunya situasinya sangat berbeda jika menjalankan ibadah puasa ini di Indonesia. Pertama kali Ramadhan di Belanda 4 tahun yang lalu, waktu itu Ramadhan jatuh pada bulan Desember (winter season), yang berarti waktu berpuasanya lebih singkat. Saya masih ingat diminggu terakhir Ramadhan 2002, Subuh jatuh pada pukul tujuh pagi dan waktu Maghrib jatuh pada pukul 4 sore. Bahkan beberapa orang teman sampai saat ini sengaja memanfaatkan ‘waktu yang pendek’ pada musim dingin ini untuk berpuasa senin-kamis. Saya sempat berpikir waktu itu, bagaimana dengan waktu berpuasa di negara-negara yang letaknya lebih utara, tentunya akan lebih singkat lagi.

Tetapi bagaimana pula dengan Ramadhan pada saat musim panas (summer), dimana waktu maghrib sangat dekat dengan waktu subuh, yang berarti juga waktu berpuasa akan lebih panjang. Kembali saya berpikir tentang Ramadhan pada musim panas terutama di negara-negara yang letaknya paling utara, yang saya dengar ‘light-time’-nya mencapai 23 jam.

Saya yakin bahwa ‘Islam as Rahmatan Lil’Alamin’ (Qur’an 21:107; 7:158; 34:28; 33:40), a mercy all unto the worlds, dan berarti juga Islam pastilah bisa dijalankan di seluruh tempat di alam ini.

Sebenarnya yang menjadi perhatian saya bukanlah masalah waktu (panjang atau pendeknya berpuasa), tetapi lebih pada masalah kebutuhan cairan dan kesehatan ginjal. Kebetulan research-project yang sedang saya kerjakan saat ini sangat berhubungan dengan masalah ginjal. Teman-teman sejawat dan para profesor ditempat saya bekerja sering menanyakan efek berpuasa terhadap ginjal. Pertanyaan mereka ini sebenarnya sangat beralasan karena manusia membutuhkan air 3 liter perhari untuk pria dan 2.5 liter untuk wanita. Selama jantung masih melakukan pemompaan darah ke tubuh manusia, pada saat yang sama ginjal akan terus bekerja melakukan filtrasi nya. Jadi ginjal sangat berbeda dengan organ pencernaan yang ‘beristirahat’ menjalankan fungsinya selama puasa. Selama berpuasa ginjal masih terus bekerja. Ginjal terus akan memproduksi urine (air seni) 2.2 liter per hari. Jika jumlah cairan dalam tubuh berkurang, maka ginjal akan menghasilkan urine dengan konsentrasi yang tinggi. Ini mengakibatkan glomerulus (jaringan yang bertugas sebagai penyaring) ginjal akan bekerja lebih berat.

Saya pernah coba menghitung seberapa besar efek yang terjadi pada ginjal, apakah jumlah air minum yang teguk setelah saya berbuka puasa mampu mengkompensasi jumlah cairan yang dibutuhkan seharian dan mampu pula mengembalikan fungsi ginjal secara normal. Tetapi jawabannya masih belum memuaskan diri saya.

Opini di atas tentunya hanya opini manusia dan teori yang berkembang pada era kodekteran modern saat ini. Dan “Allah lah yang lebih tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya”. Saya terus berpikir masih banyak misteri kebaikan-kebaikan Ramadhan yang belum terungkap, terutama kaitannya dengan kesehatan.

Saya terus mencari jawaban dari pertanyaan teman sejawat di atas. Setiap Ramadhan mereka kembali datang pertanyaan yang sama : “You know how important drink for your health and how bad is the effect of dehidration to your kidney”. Mereka bukannya tidak respect terhadap puasa yang saya lakukan, tetapi mereka mengajak berpikir tentang makna dibalik semua perintah Allah SWT tsb. Walau mereka bukanlah muslim, tetapi pola pikir seperti itu saya sukai.

Akhirnya jawaban itu datang juga. Beberapa hari yang lalu saya menemukan jawabannya. Saya berhasil menemukan salah satu penelitian terbaru mengenai efek Ramadhan terhadap penderita yang mendapatkan transplantasi ginjal. Penelitian ini diterbitkan di salah satu jurnal acuan bagi para ahli ginjal sedunia. Penelitian ini mengungkapkan bahwa puasa selama bulan Ramadhan tidak berpengaruh buruk terhadap penderita yang mendapatkan transplantasi ginjal, baik yang masih normal maupun yang sudah pada ginjal yang sudah rusak. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa puasa itu sangat aman, bahkan bagi penderita dengan ginjal yang buruk sekalipun. Akhirnya sayapun lega, bukan karena telah mampu menjawab pertanyaan teman-teman sejawat saya, tetapi lebih karena saya tahu makna dibalik puasa itu sendiri.

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pikiran” (QS Shaad, 38:29).

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu adalah peringatan. Maka barangsiapa menghendaki, niscaya dia mengambil pelajaran daripadanya (Al-Qur’an). Dan mereka tidak akan mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun.” (QS. Al-Muddatstsir, 74: 54-56).

Ya Allah, Engkaulah yang menciptakan daku, memberikan petunjuk kepadaku, memberi makanan padaku, memberikan minuman kepadaku, mematikan daku, dan membangkitkan daku semula.


Curhat aja kali yeee

Filed under Ramadhan 2005

11 Ramadhan

Oleh: Ponky Ivo

Indah…sungguh indah masa kecil itu. Aku ingat betapa semangatnya menjalankan puasa di waktu kecil karena iming-iming duit. Kalau ‘pol’ puasanya sebulan penuh, tentu mendapat uang yang lebih besar daripada puasa yang ada bolongnya. Dan rasa senang mendapat kado fulus itu, berbanding lurus dengan rasa bangga di hati jika orang bertanya, “Pol gak puasanya?”. Dengan mebusungkan dada, aku menjawab, “Iya dong.”

Semakin besar menjalankan ibadah yang satu ini, dikala rasa lapar dan haus sudah terkendalikan, masih terasa ada yang kurang. Apa ya? Ternyata puasa itu tidak sekedar memperlambatkan tempo kerja mesin pengolah makanan tubuh kita setahun sekali. Bukan hanya merasakan penderitaan kaum papa agar kita semakin sayang kepada mereka. Bukan hanya menghabiskan malam-malam Ramadhan dengan shalat tarawih dan lantunan ayat-ayat suci untuk berlomba-lomba mengkhatamkan Al Quran tanpa mendalami apa yang tersirat di dalamnya. Dari semua itu yang paling berat menurutku adalah mengendalikan hawa nafsu. Bagaimana aku dapat mengendalikannya sehingga membawa dampak positif sesudah Ramadhan. Bagaimana menahan mulut untuk tidak bergunjing, mengumpat atau sekedar mengatakan hal-hal yang menurutku brilian tapi menyakitkan hati orang yang mendengarnya. Bagaimana membersihkan hati, pikiran dan tenaga untuk fokus agar semua yang aku lakukan, lillahi ta’ala. Masih banyak hal-hal yang aku lakukan hanya untuk kesenangan pribadi semata atau hanya ingin orang lain mengakui keberadaanku. Berat nian…

Akh, Ramadhan…layakkah aku mendapat sajian istimewa dari Allah ini?

Terkadang aku berpikir, untuk apa Allah memberi semua nikmat kepadaku kalau aku sendiri tak mampu untuk mensyukurinya? Berikan saja kepada orang lain yang mampu mengemban amanat dengan nikmat yang Allah berikan. Beres.

Syahadan, aku pernah protes keras ke Allah karena Dia memberikan ujian yang aku gak sanggup menjalankannya. Ampyunnn deh…Jika hendak ditampung derai air mata yang aku keluarkan, mungkin sudah sejerigen. Saking kerasnya protes itu, aku memutuskan untuk tidak menjalankan shalat lima waktu. Untuk apa aku bersusah payah shalat sementara orang lain yang tidak menjalankannya saja Engkau masih kasih nikmat kepada mereka? Engkau tidak beri ujian ini kepada mereka. Aku merasa Allah gak adil. Niat busuk itu aku kemukakan ke orang-orang terdekatku. Mereka maklum dengan kondisiku yang sedang labil. Satu sobat cuma minta aku untuk bersabar dan istighfar. Sobat lainnya cuma memaklumi dan menahan diri untuk tidak terkesan menggurui. “Ujian ini hadiah, Ponk.” Hadiah kok pahit ginih? Hadiah apaan ini? Dari ceting yang gak jelas kemana arahnya, waktu shalat zhuhur sebentar lagi akan habis. Aku pamit shalat. Sobat ceting ku di seberang menggoda …”Katanya tadi gak mau shalat?” Aku cuma mesem-mesem gak jelas…Aje gile, ternyata gue masih butuh Allah taukkkk….

Hari-hari penuh “hadiah” aku jalani dengan setengah hati. Walaupun aku mengumpulkan ayat-ayat encouragement such as dibalik kesulitan ada kemudahan, Allah tidak akan memberikan ujian di luar kesanggupan kita, boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu dan sebaliknya dan ayat-ayat lainnya deh, masih saja tersirat rasa iri kepada nasib orang lain yang lebih baik Ihh bete deh…sebel banget punya hati yang gak ikhlas ginih terima nasib. Rasanya aku berpikir sudah saatnya aku konsultasi ke ahli jiwa. Ingin rasanya membeli hati baru een kilo di Vish Markt. Hati yang bersih, bebas dari asap polusi ketidakikhlasan, dengki dan iri. Andai ada toko yang menjual hati-hati yang bersih…hati-hati di jalan….:P maunyaaaaa….

Well, emang gak ada pointnya ini diary. Cuma sekedar curhat bahwa BENAR BANGET point ayat-ayat suci yang aku sebut secara gak lengkap di atas. Kalau ingat peristiwa protes itu, aku jadi malu abis dengan Allah karena sempat berpikir Allah gak adil. Malu juga karena ternyata aku baru sadar bahwa aku perlu banyak belajar tentang kesabaran. Perlu banyak belajar untuk berpikir jernih mencari hikmah hidup. Mudah-mudahan di bulan penuh rahmat dan ampunan ini Allah maklum…dan tambah sayang sama aku (asal jangan sering-sering kasih “hadiah” ya Allah….hihihi…do’anya kok conditional sentence ginih :)


Kang Bejo tentang ‘Aku’

Filed under Ramadhan 2005

11 Ramadhan

Oleh: Ismail Fahmi

Sebelumnya..

“Namun, apa yang dilakukannya setelah itu? Setelah kami bertemu? Dia berpesta! Pesta pora! Ketika kawan-kawannya lesu, lemah, terbelenggu, dan tak banyak daya, ‘aku’ berpesta. Ketika semua berpuasa, dia menyantap semua makanan. Dia seperti baru bebas dari penjara, menghirup udara dalam-dalam dengan rakusnya. Dia lahap semua sajian dari langit!” seru sekali cerita kang Bejo tentang pertemuannya pertama kali dengan ‘aku’nya. Pencarianku yang masih berlanjut ini telah mempertemukan aku kembali dengan kawan lama. Aku memanggilnya Kang Bejo, karena dia selalu bejo atau beruntung.

“Terus gimana Kang? Apa Kang Bejo ndak kecewa? Dia yang dicari-cari, ternyata di bulan puasa gini malah ndak puasa. Gimana Kang?” tanyaku dengan bingung.

“Ya begitulah adanya. Aku bukannya kecewa, malah geleng-geleng kepala sendiri.”

“Kenapa Kang?”

“Ternyata selama ini aku salah prasangka sama Gusti Allah. Pernah dulu aku merasa ndak pantas sholat, karena duh.. kotor banget diri ini. Banyak dosa lah. Mau ketemu presiden saja musti rapi. Lha ini kan mau ketemu Gusti Allah… ketemu Kanjeng Pangeran jee.. Kudu bersih tho?” kenang Kang Bejo. “Setelah bertemu ‘aku’, baru tahu nih awak.. ternyata Gusti Allah itu Maha Welas Asih. Pikiranku sendiri yang bikin urusan jadi susah. Pikiranku sendiri yang bikin aku ndak PeDe beribadah. Merasa jauh. Padahal, bener lho.. Gusti Allah itu deket banget.”

“Lha emang begitu kan Kang, seperti dibilang di Quran juga? Terus bedanya apa sekarang Kang?”

“Gini. Ketika aku puasa, kan yang namanya nafsu, perasaan, dan pikiran ini jadi agak lebih mudah dikendalikan. Ndak tahu kenapa, pokoknya gitu yang kurasakan.”

“Oke Kang.. aku percoyo aja. Terus gimana?”

“Nah, sebelum masuk bulan puasa ini, aku ketemu sama Kyai Subrun. Sampeyan inget tho? Tahun lalu sampeyan juga ketemu beliau, waktu belajar soal syukur itu.”

“Oh iya.. inget-inget. Aku belajar agar bisa ‘bersyukur karena belum bisa bersyukur‘. Kang Bejo belajar apa sama pak kyai?”

“Ndak tahu ya, tiba-tiba aku diajari melakukan ’sholat khusuk’. Awalnya aku wegah (malas, red). Lha gimana bisa khusuk, pikiran full sama BBM yang naik, barang-barang naik. Pusiiiing.”

“Terus gimana? Ndak jadi belajarnya?”

“Kupikir-pikir, ndak ada ruginya lah nyoba. Dari pada ntar sutres, musti konsultasi ke RSJ, siapa tahu yang ini bisa membantuku, bikin tenang, jadi ndak marah-marah lah kalau bini ngomel ndak punya minyak tanah.”

“Wah, boleh juga nih, aku mau belajar ’sholat khusuk’. Terus gimana Kang? Berhasil?”

“Kowe kuwi (kamu itu, red) kok tidak sabar. Oke, aku ceritain sedikit yang kulakuin. Soalnya ndak banyak yang dijelasin.”

“He..he.. sory Kang. Habis seru nih dengernya. Aku akan jadi pendengar yang baik deh. Monggo Kang.”

“Kyai Subrun pertama-tama bilang, kalau mau sholat khusuk, musti tahu dulu siapa yang sholat. Apakah perasaan, pikiran, badan, atau siapa? Kalau ndak tahu siapa yang sholat, ya sholatnya tanpa terasa akan dibawa sama pikiran. Sudah coba konsentrasi, sampe merengut-merengut (berkerut, red), keringeten, ya jangan salahkan pikiran kalau dia mengembara kemana-mana.”

“Wah, betul..betul Kang. Aku juga begitu. Pernah pas konsentrasi, inget pelajaran tentang konsentrasi zat dalam cairan kimia. Lalu kebayang botol-botol eksperimen. Inget kerja di lab malam-malam. Terus inget perut lapar, dan biasanya pergi ke Simpang Dago beli nasi goreng 9 rasa. Jalanan gelap, becek, bau got… wah.. njlei tenan pikiran ini. Terus musti gimana Kang?”

“Lha iya, gitu tuh.. pikiran kalau lagi mengembara di alam sholat. Dia bilang sebenarnya khusuk 100% itu juga susah banget. Berusaha khusuk juga tidak bisa. Karena hakekatnya.. inget ya, ini bicara soal hakekat hehehe.. hakekatnya adalah kita bukan melakukan sholat dengan ‘khusuk’, tetapi kita ‘dikhusukkan’ oleh Gusti Allah.”

“Wah jero (dalam, red) tenan ini. Musti menyimak dengan baik-baik nih. Oke maksudnya gimana Kang?”

“Maksudnya, tidak perlu susah payah mengatur pikiran, hapalan, konsentrasi, dan segala macem yang bikin berat sholat. Cukup temukan sesuatu di dalam diri yang bisa membedakan kerjanya nafsu, rasa, dan pikiran. Sesuatu itu adalah ruh. Itulah ‘aku’, si ruh yang dulu bersaksi di alam azali.”

“Ck..ck..ck.. hebat betul Kang Bejo. Sampe susah banget aku memahaminya. Gimana sih Kang?”

“Ya ini kayak cerita gimana rasanya punya istri, tapi sampeyan calon aja belum punya. Musti dipraktekkan, bukan dipikir-pikir mulu. Ndak bermanfaat kalau semua cuma jadi pengetahuan aja. Coba deh pejamkan mata biar mudah. Jangan tidur. Musti dalam kondisi sadar. Pusatkan kesadaran di dada, bukan di pikiran. Pikiran itu seperti langit. Tinggi. Makanya suka mengembara kemana-mana. Di dalam dada, itu ada hati, tempatnya ruh, tempat rasa dari Gusti Allah, rasa sejuk, nikmat, bahagia. Hati itu ibarat bumi, tempat berpijak, dalam ke bawah, masuk ke dalam diri.”

“Angel (susah, red) Kang. Gimana sih?”

Bersambung


10 Ramadhan

Oleh; Ismail Fahmi

“Bagaimana keadaannya Bu?” tanyaku. “Sudah selasa kemaren Le,” jawab ibuku di ujung lain sambungan 0900-0207. Nadanya seperti biasa saja, cenderung rendah suaranya. Sepertinya beliau sedang mengingat peristiwa Selasa (11 Oktober 2005) jam 6 malam, dua hari yang lalu. Aku sendiri baru tadi pagi mengetahui beritanya dari sebuah email yang masuk ke mailboxku. Email yang dikirim dari desa, melalui sambungan Telkomnet instant. Email dari ayahku. “Sepertinya hanya ibu saja yang ditunggunya,” ibuku melanjutkan cerita. Saat itu saudara dan keluarga sudah berkumpul. Bersama-sama melantumkan sebuah kalimat untuk memandu. “Begitu ibu tiba, dan masuk ke kamar, ibu bisikkan di telinganya tiga kali, kalimah Laa ilaaha illallaah Muhammadarrasulullah.”

Sosok tubuh yang terbaring itu seperti tinggal tulang saja. Sejak Agustus, ketika mulai merasakan kembung di perutnya, dia sudah tidak mau makan. Padahal, beberapa bulan sebelumnya, beliau masih bisa membantu di dapur ketika Titin, adikku yang paling kecil, menikah. Mula-mula masih mau bubur. Namun, sejak di bawa ke Surabaya untuk diperiksa, wanita berumur 74 tahun itu sudah tidak mau makan. Hanya susu yang masuk ke tubuhnya. Itu pun hanya seperempat gelas sehari. Untuk menunjang kebutuhan zat makanan, sebuah jarum infus harus ditusukkan ke bawah kulitnya yang sudah sangat tua.

“Dokter di Bojonegoro maupun di Surabaya sampe heran le. Biasanya pasien mereka yang terkena kanker pankreas seperti mbah putri tidak kuat. Mereka pada umumnya akan koma,” ibuku mengisahkan pengalamannya ketika membawa nenek ke dokter. “Tapi mbah putri tidak pernah mengeluh sakit, apalagi memperlihatkan wajah kesakitan. Dia tampak biasa saja, hanya merasa kembung dan semakin lemah saja.” kenangnya ketika menemani nenek dan mengetahui bahwa operasi tidak mungkin dilakukan karena kanker sudah menyebar.

Aku ingin sekali mendengar cerita tentang nenekku lebih banyak lagi. Apa yang membuat beliau bisa kuat seperti ini? “Beliau itu, kalau misal dianugerahi rejeki banyak oleh Allah, pasti sudah dibagi-bagi ke anak-anak, saudara, dan orang-orang yang membutuhkan. Dengan sedikit saja kepunyaannya, mbah putri senang bikin makanan dan dikasih ke orang-orang,” kenang ibuku.

“Semangat hidupnya itu lho Le, luar biasa. Meski sudah sakit parah, lemah, tidak mau makan, mbah putri tetap ingin jalan, tidak mau diam di tempat tidur karena merasa tersiksa,” ibuku mengenang masa beberapa bulan yang lalu. Memang, nenekku dari ibu sewaktu masih sehat tidak pernah bisa diam. Beliau suka bersih-bersih rumah. Semua harus bersih. Di depan rumah seberang jalan ada sebuah musholla. Meski usianya sudah 74 tahun, beliau selalu rajin menyapu dan merawat musholla kecamatan itu. Jika tidak ada kesibukan, misalnya dagang lontong pecel di pasar, nenek memilih untuk berkunjung ke rumah anak-anak dan saudaranya. Meskipun jarak jauh, beliau selalu berusaha berkunjung membangun silaturahmi.

Terakhir kali aku cium tangan dan pipi nenek adalah tiga tahun yang lalu. Saat itu Malik baru 1 tahun lebih dan aku sekeluarga ke Jawa Timur, ke sebuah desa tempat kedua orang tuaku tinggal. Kini, setiap aku mendengarkan lagu “Marhaban Ya Ramadhan” Bimbo, terlintas kenangan mengendarai mobil siang malam dari Bandung ke desa tempat kelahiranku. Sedih dan kangen bercampur menjadi satu. Dalam kunjungan waktu itu, ku ajak keluargaku dari Bandung untuk bertemu dengan keluarga-keluarga ayah ibuku. 25 tahun sebelumnya, aku masih setinggi pinggang nenek. Namun ketika aku memeluk nenek saat itu, aku harus sedikit membungkuk. Beliau tampak sudah sangat tua, namun tetap energik, sibuk, dan rajin sholat.

“Mbah putri rajin sekali sholat dan baca Quran,” lanjut ibuku. “Ketika mau ibu bawa ke rumah ibu biar bisa ibu rawat, mbah putri tidak mau. Dia takut tidak bisa membaca Quran seperti yang dilakukannya di musholla kecil di rumahnya.” Selama terbaring sakit, nenekku tetap tidak pernah meninggalkan sholat. Walau hanya bisa terbaring lemah, tetap dia minta dimandikan, dikeramasi rambutnya dan diminyaki biar bersih dan wangi, lalu dipakaikan mukena untuk sholat. Karena rumah ibuku jauh dari rumah nenek, ibu berpesan kepada saudara-saudara yang merawat nenek, untuk selalu membantu nenek melakukan sholat, tidak boleh tertinggal.

“Beberapa hari sebelum ibu datang, kotoran-kotoran sepertinya sudah dikeluarkan semua dari tubuh mbah putri,” kata ibuku dengan sedikit menyesal karena selama Ramadhan, ibuku tidak bisa setiap hari menjenguk. Murid-murid di sekolah yang diajarnya sedang mengadakan kegiatan Ramadhan yang perlu bimbingan. “Padahal tidak ada lagi makanan dan minuman yang masuk. Namun mbah putri buang air besar dan kecil cukup banyak.” Aku senang sekali mendengar ini, “sepertinya mbah putri sebelum dipangggil dibersihkan dulu ya bu.”

Mata sosok yang terbaring itu tetap terpejam seperti sedang tidur nyenyak. Beberapa detik kemudian, setelah ibuku menyelesaikan bisikannya, nafas satu-satu dari mulut itu pun berhenti. Nenekku telah berpulang, kembali kepada Sang Pencipta. Kembali dengan bersih, meninggalkan anak cucu yang semoga bisa mengikuti jejaknya ketika akhir tiba.

Mendengar cerita ibuku hampir setengah jam itu, membuat aku lega. Bukan sedih, tetapi ada aliran kesejukan dan kebahagiaan yang kurasakan. Di bulan suci ini, beliau kembali, seperti doa dan harapanku beberapa minggu lalu, agar beliau sempat mencicipi bulan ini. “Nenek, selamat jalan. Cucumu yang jauh di sini berdoa semoga Allah menempatkanmu di tempat orang-orang yang ikhlas di sisiNya. Semoga semua ini adalah pertanda bagi kami, bahwa engkau sudah bersih dari dosa dan Allah ridha menerimamu,” kurasakan aliran hangat di pipiku.


Edaran KZIS ISNET 2005

Filed under Ramadhan 2005

Berikut adalah edaran KZIS ISNET mengenai pembayaran zakat, infaq dan sadaqah untuk tahun 2005. Seperti tahun 2004, tahun 2005 ini deGromiest melanjutkan kerja sama dengan KZIS untuk penerimaan dan penyaluran zakat, infaq dan sadaqah. Besar zakat fitrah untuk tahun ini ditetapkan sebesar 8 euro per orang. Untuk wilayah Groningen pembayaran bisa dilakukan dengan cara mentransfer uang ke rekening 623394189 atas nama Teguh Sugihartono, Wilgenlaan 54, 9741BV, Groningen.

**********************************************
KOMITE ZAKAT INFAQ DAN SHADAQAH I S N E T
Homepage: http://zakat.isnet.org
e-mail: [email protected], mailing list:
[email protected]
**********************************************

Bogor, 5 Oktober 2005

Nomor : 02/KZIS-PUS/X/2005
Kepada : Jama’ah Pengajian di Mancanegara
Kaum Muslimiin/muslimaat di Mancanegara
Hal : Penerimaan & Penyaluran ZIS

Assalaamu’alaykum warohmatulloohi wabarokaatuh,

Bismillaahirrahmaanirrahiim

“Dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Rabbnya, mendirikan shalat,dan menafkahkan sebagian rejeki yang Kami berikan kepada mereka ecara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan
kebaikan, orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik)”
(QS.13:22)

Allhamdullillah, bulan suci Ramadhan telah di datang. Bulan yang penuh rahmat, bulan di mana segala amal ibadah kita dilipat-gandakan pahalanya oleh Allah SWT.

Komite Zakat, Infaq dan Shodaqah, merupakan salah satu komite kerja di bawah Islamic Network (Isnet) yang berupaya meningkatkan kesadaran ummat untuk melaksanakan perintah zakat dan pentingnya infaq, dan shodaqah. KZIS didukung oleh relawan-relawan yang tersebar di beberapa negara menerima amanah zakat, infaq, dan shodaqah (ZIS), serta menyalurkan ZIS
kepada mereka yang berhak menerimanya di tanah air.

Dalam rangka mengisi kegiatan di bulan Ramadhan tahun ini, semua relawan KZIS telah mempersiapkan berbagai program penyaluran ZIS dan fidyah di antaranya :

1. Santunan bagi anak-anak yatim/-piatu yang miskin
2. Santunan bagi orang-tua fakir-miskin
3. Santunan bagi mu’allaf yang miskin
4. Pemberian modal usaha bagi mu’allaf yang dha’if
5. Pemberian modal usaha bagi fakir miskin/dha’if
6. Dukungan bagi para da’i/da’iah
7. Santunan untuk pendidikan
8. Santunan untuk pembangunan tempat peribadatan
9. Program penyaluran zakat fitrah dan fidyah kepada
kaum muslimin yang berhak menerimanya di wilayah
Indonesia

Demikian Surat Edaran ini kami sampaikan,
mudah-mudahan Allah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.
Amin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Silahkan hubungi bendahara wilayah KZIS Isnet untuk penyaluran
zakat fitrah(*)/zakat maal/infaq/shadaqah/fidyah Anda.

Terlampir di bawah daftar bendahara KZIS Isnet di beberapa negara di dunia (Indonesia, Malaysia, Singapore, Jerman, Perancis, Belanda, Inggris, Belgia, Kanada dan USA)

Wassalaamu’alaikum waRohmatulloohi waBarokaatuh,

ttd. ttd.
H. Muaz Junaidi Hanies Ambarsari
(Ketua Umum) (Bendahara Umum)

================================================
* Bagi para muzaki yang berkenan menitipkan ZIS
Ramadhan 1426 H kepada KZIS-NL hal berikut mohon
diperhatikan

1. Zakat fitrah untuk wilayah Belanda ditetapkan
sebesar 8 EUR/ jiwa
2. Batas waktu penitipan ZIS adalah tanggal 25
Oktober 2005.

================================================

DAFTAR BENDAHARA
KOMITE ZAKAT INFAQ DAN SHADAQAH ISNET

INDONESIA

Rekening Bank Central Asia (BCA) Kantor Cabang
Pembantu Pamulang
No. Rekening: 4730201023 ; Switch Code: CENA IDJA
Atas nama: Hanies Ambarsari

1) Bendahara Umum
Hanies Ambarsari, BSc., M.ApplSc.
Balai Teknologi Lingkungan (BTL) – BPPT
Gedung 412 Kawasan PUSPIPTEK Serpong 15314
Telephone :
* (home) HP 08179998237
* (office) (021) 7563116, 7560919 or 7560562 ext. 4648

e-mail: [email protected],
[email protected]

BELGIA

Tegoeh Tjahjowidodo
Brusselsestraat 165/Fx281
B3000- Leuven
Belgium
e-mail : [email protected]

GERMANY

Contact Person : Hadi Pardianto
E-mail: [email protected]

MALAYSIA

Contact Person : Norliza Binti Abdul Wahab
Bank Account: Malayan Banking Berhad,
Account : Norliza Binti A.Wahab
Account No.: 114011 - 821055 (saving account)

Home Address:
No 18, Jalan 2/4D, Seksyen 2,
Bandar Rinching,43500
Semenyih, Selangor, Malaysia.
Phone: 603 - 87243423 (home)
e-mail: [email protected]

KZIS Perwakilan Belanda
Contact Person :

AMSTERDAM :
Ibu Siti Hapsah
Giro No. 6464645
a/n. MW A. ATMA
Address : Dijkwater 68, 1025 CX Amsterdam
e-mail : [email protected]

DELFT :
a. Gea O.F. Parikesit
Account No. : 47 66 66 163
Bank :ABN Amro (Delft)(a.n.: G.O.F.Parikesit)
Mobile : 31 - 0650852282
e-mail: [email protected]

b. Diah Chaerani
Address : Mekelweg 4 Room 7.300 2628 CD Delft
Phone : 015-278-7271
email : [email protected]
Account : 51 64 30 211 (ABN Amro Delft)

ENSCHEDE :
a. Nining Wahyuningrum
Account No. : 31 72 66 950
Bank : RABOBANK, Enschede
Phone : +31645922561
e-mail : [email protected]

b. Eko Hari Purnomo
email : [email protected]

EINDHOVEN :
a. Oki Muraza
Account No. : 47 39 49 210

Bank :ABN Amro (Eindhoven)(a.n.: O.Muraza)
Mobile : +31 - 0618 588 142
e-mail:[email protected]

b. Muhammad Fajrul Azmi
Account no : 1500.11.709
Rabo Bank Eindhoven
Mobile : 0647592862
email: [email protected]

GRONINGEN

a. Ismail Fahmi
Account No : 9690278 a.n. De Gromiest
Bank: Post Bank Groningen
Address : Bezettingslaan 30, 9728 Gronigen
Phone : 31 - 06 - 41054573 (mobile)
e-mail : [email protected]

b. Wangsa Tirta Ismaya
Account Number 42.95.78.148
Bank: ABN Amro Groningen
Address: Haddingestraat 28B, 9711 KE Groningen
Phone: 31-50-3634396 dan 31-62-4672704
e-mail: [email protected]

c. Diana Jirjis
Account No : 9690278 a.n. De Gromiest
Bank: Post Bank Groningen
Address : Westerbadstraat 48, 9726 CS Groningen
Phone : 050 116444 atau 06190! 46578 (mobile)
e-mail : [email protected]

d. Teguh Sugihartono
Account No : 623394189
Bank : ABN AMRO Bank
Address : Wilgenlaan 54, 9741BV, Groningen
Phone : 0624529383
email : [email protected]

MAASTRICHT
a. Hasanul A. Hasibuan
Gandhiplein 16, 6229HN Maastricht
ABN AMRO 51.97.50.616
+31 62 5005067 (Mobiel)
[email protected]

b. Ahmad Daryanto
Account No. : 51 69 61 306
Bank : ABN Amro
Address : Zakstraat 4, 6211 PS, Maastricht
Mobile : 31 - 06 - 46218096
e-mail : [email protected]

WAGENINGEN
Nurmi Puri Handayani
ABN AMRO (N. PURI DWI PANGESTI)
51 90 45 505
Address: Bornsesteeg 1-14A-2, 6708 GA Wageningen
Mobile : 0610601119
Email: [email protected]

SINGAPORE

Temporarily inactive

UNITED KINGDOM

Temporarily inactive

UNITED STATES OF AMERICA

Temporarily inactive

JAPAN

Contact Person : Yusril Yusuf

Bank: Japanese Postal Saving
No 17490 – 60451051

Home Address:
Fukuoka-shi, Higashi-ku Hakozaki 7-chome 20-12-70,
Japan 812-0053
Telp: +81 – 92-651-7289
HP: 09082886214
E-mail: [email protected]

NEW ZEALAND:

Hery Setiawan
2/146A Lihfield street
Christchurch
New Zealand
ph. 64-3-3656018
Fax. 64-3-3656013
email. [email protected]

Account:
The National Bank
Christchurch Branch
06-0942-0175963-00
holder: Hery Setiawan

=====================================
Lampiran : Rencana Distribusi

Sebaran Paket Hari Raya KZIS Isnet Tahun 1426 H
meliputi antara lain
wilayah berikut beserta contact personnya.

1. Aceh CP: Alfi Rahman
2. Medan CP: Munawar Jihad & Arnita Piliang
3. Jakarta CP: Dwitas Ananda
4. Surabaya & Madura CP: Ahmad Supardi
5. Darmaga Bogor CP: Sri Nurdiati
6. Tangerang CP: Hanies Ambarsari & Aflakhur
Ridlo
7. Bandung CP: Pujo Rahardjo
8. Bogor CP: Muaz Junaidi
9. Jateng/Yogya CP: Dwi Atmodjo
10. Pasuruan CP: Warsito
11. Malang CP: Abdillah H
12. Ambon CP: Suhfi Madjid
13. Denpasar CP: Triyudani
14. Singaraja CP: Nurazizah Junaidi
15. Lombok Mataram CP: Hasanain
16. Sorong, Papua CP: Denny Yapari
17. Gorontalo CP: Adnan Entengo
18. Lampung CP: Warsito


9 Ramadhan

Oleh: Yulia Helmi

Ini untuk yang keempat kalinya saya merasakan Ramadhan di negeri orang. Memang sangat jauh sekali dari yang saya rasakan di negeri tercinta karena tidak ada sedikitpun suasana Ramadhan terasa. Empat tahun yang lalu terasa sangat berat karena baru pertama kali tidak berpuasa ditengah keluarga tercinta (ayah, ibu dan adik-adik) ditambah lagi saat itu saya sedang hamil anak ke dua, dan usia kehamilan saya saat itu sekitar lima bulan. Karena berada disamping suami tercinta yang selalu ingin melindungi dan menolong serta bila saya rasakan kondisi fisik saya cukup kuat saya berusaha untuk puasa dan berbuka bila tidak kuat.

Menjelang 10 terakhir Ramadhan, suami saya mengikuti kursus di Bochum, saya dan anak kami diajak serta maka jadilah kami bersafari Ramadhan. Saya ingat saat itu weekend dan kami keluar kota, walaupun sedang puasa suami tetap bersemangat mengajak jalan-jalan karena memang Jerman lebih indah dan luas, apalagi untuk tafakur alam ditunjang lagi dengan biaya transportasi yang lebih murah dibandingkan dengan di Belanda. Hanya saja saat berbuka kami harus mencari tempat makanan halal agar dapat berbuka dengan makanan yang bergizi tidak hanya dengan bekal seadanya yang kami siapkan dari rumah. Kami mencoba mencari makanan turki yang juga menyediakan nasi, maklum orang Indonesia tulen yang belum terasa makan kalau tidak dengan nasi. Segala upaya kami coba lakukan, dari mempelototi jendela toko makanan turki yang cukup banyak berjejeran untuk mencari tulisan helal juga menelpon salah seorang teman muslim yang bermukim di daerah tersebut. Hal ini kami lakukan karena kami pernah mendengar bahwa shalat kita tidak diterima oleh Allah selama 40 hari bila dalam tubuh masuk makanan yang tidak disembelih dengan nama Allah. Tapi terkadang pencarian tidak membuahkan hasil sehingga akhirnya makannya dirumah dan ini sangat kami syukuri karena 10 hari di Bochum kami kos di rumah salah seorang studen sehingga untuk sahur dan berbuka bisa menggunakan dapurnya.

Karena sudah kecapean biasanya sampai dirumah kami tidur tapi alhamdulillah terkadang masih bisa mengerjakan shalat tarawih berjamaah dengan suami. Karena sedang hamil dan lelah kondisi ruh dalam diri agak berkurang, sering datang godaan agar minta dimaklumi bila rasa malas datang.

Sebagai wanita, sudah fitrahnya mengalami menstruasi dan hamil, terkadang saya merasa dengan kondisi tersebut sangat sulit sekali dapat memaksimalkan Ramadhan dari tahun ke tahun. Program pribadi dengan target-target tertentu sulit sekali diraih. Padahal Allah sudah mengatur semuanya, untuk wanita yang hamil diberi keringanan dengan diperbolehkannya tidak berpuasa bila merasa tidak mampu baik itu untuk dirinya dan anak yang dikandung di dalam rahimnya dengan mengganti dikemudian hari dan membayar fidyah juga untuk yang menstruasi di wajibkan mengganti diluar Ramadhan. Sedangkan amalan lainnya masih bisa dilakukan, misalnya untuk wanita yang hamil masih bisa memperbanyak shalat sunnah juga memperbanyak bacaaan Qurán (tilawah). Begitu pula untuk wanita yang menstruasi, bacaan-bacaan islami juga tafsir Qurán bisa mengisi hari-hari selama jeda tersebut.

Tapi entah kenapa, mungkin persiapan sebelum Ramadhan yang kurang atau juga ruh yang ada dalam diri masih tarik menarik dengan nafsu sehingga keinginan untuk merasakan manisnya Ramdhan kurang terasa dan tidak ada bedanya dengan bulan-bulan yang lain. Padahal saya sudah mencoba menanamkan dalam diri bahwa Ramadhan adalah bulan yang paling istimewa dan saya harus mencoba meraihnya. Tapi tetap saja hambar terasa, ibarat masakan walaupun sudah diberi garam tapi karena kurang pas takaran garamnya maka masakan itu kurang lezat. Apalagi kalau sedang tidak berpuasa kurang sabar terhadap anak juga monotonnya amalan yang dilakukan menunjukkan nafsu sebagai pemenang. Sungguh rugi sekali diri ini bila tidak dapat merasakan manisnya Ramadhan dan saya masih tetap berharap mudah-mudahan di Ramadhan tahun ini cukup rasa hambar itu hanya diawal saja dan insyaallah saya masih dapat merasakan kemanisannya untuk 25 hari mendatang. Wallahuálam bishawab.


9 Ramadhan

Oleh: Eko Hardjanto

Suatu senja di Kota Hujan tahun itu. Aku pulang menuju rumah sendiri, tak seperti biasa, setelah sekian lama hidup bersama orang tua. Penat dan lelah seharian kerja, ditambah suguhan kemacetan kota, tak lama lagi ‘kan sirna. Harapan apa lagi ada di hati, selain bertatap muka dengan anak dan istri.

Kuketuk pintu rumah mungil di sudut kota, sampaikan salam sejahtera. Ah’ istriku, tambatan hati ini, kau sambut aku di sana dengan senyuman. Alangkah indahnya saat itu, kutermenung sejenak dalam pelukan istri, nikmat Allah mana lagi yang aku dustakan.

Pukul sembilan malam menjelang, kamar kecil kutuju, kubasuh debu diwajah, sempurnakan Wudlu. Di kamar kecil, anak-anak berbaris rapi menunggu, dengan tawa dan canda, menunggu aku pimpin sholat Isya’. Istriku, di dapur kau rapikan hidangan, yang kau siapkan sejak siang, dan segelas air pembasah kerongkongan. Alangkah indahnya saat itu, kupandang sejenak wajah istri, nikmat Allah mana lagi yang aku dustakan.

Larut menggelayut, anak-anak tertidur lelap. Istriku, kau mulai cerita hari ini. Cerita panjang perjuangan, mendidik anak, mengelola uang. Kutatap lelah di wajahmu, tak mudah mengatur rumah, menyiapkan makanan, mengantar anak-anak ke sekolah dan membeli buku baru. Semakin kusadari, tak ringan pengorbananmu, terkadang aku lupa, ma’afkan aku.

Istriku, sebuah nasihat lama kuucapkan, hidup adalah perjuangan. Tak sedikit di luar sana, ibu dan anak mengais sampah, mencari sisa makanan. Istriku, inilah perjalanan hidup entah sampai kapan, menuju kampung akhirat surga idaman. Terkulum senyum di bibirmu, kau mengerti maksud nasihatku. Alangkah indahnya saat itu, kutatap lagi wajah istri, nikmat Allah mana lagi yang aku dustakan.

Istriku, bulan ini Ramadlan. Bertambah usiamu, aku di sini, tak sempat kita rayakan. Istriku, selamat ulang tahun. Sesungguhnya engkaulah nikmat itu, istri shalehah-ku..
Istriku, sungguh, engkaulah nikmat yang tak aku dustakan.

Ar-Rahmaan, ’allamal qur’an………….fabiaayi aala irobbikumaa tukadzibaan.

Assen, 9 Ramadlan, 1426 H