Archives for “Ramadhan 2004”

Dalam acara Halal bi Halal deGromiest tahun 2007, Lala dan Malik membacakan puisi berjudul “Demi Matahari”, yang merupakan terjemahan dari surat Asy-Syams (Matahari) ke dalam bahasa Indonesia (Malik) dan Belanda (Lala).

Di Youtube, video ini telah ditonton sebanyak 2,295 kali (per 11 Nov 2008). Selamat menikmati:



Salah satu tradisi deGromiest setiap bulan Ramadhan datang, yang dimulai pada Ramadhan tahun 2004, adalah membuat tulisan berhikmah di Cafe, satu tulisan setiap hari. Khusus untuk Ramadhan tahun 2005, kita mengumpulkan semua artikel beserta komentar yang diposting pembaca, ke dalam sebuah buku elektronik (e-book).

Ebook “Diary Ramadhan 1426H” ini bisa didownload di link berikut:

>>Diary-ramadhan-2005 (500 KB)


Artikel ini dikirim pada bulan Ramadhan 1425H yang lalu. Ditulis oleh Abdul Gafur.

“Het recht is er, doch het moet worden gevonden, in de vondst zit het nieuwe” (Scholten, 1954: 15)

(artinya : “Hukum itu ada, tetapi ia harus diketemukan, dalam pendapat itulah terdapat yang baru”)

Bismillahirahmanirahim

“Abdul, loe puasa ya?”, tanya salah seorang teman Londo Belanda kepada saya dihari pertama bulan Ramadhan”. Aku menganggukan kepala, namun tampaknya dia memancing pertanyaan awal itu untuk memulai pembicaraan. ” Oh iya aku punya pertanyaan nih buat loe”, dia melanjutkan pembicaraan, “aku dengar kalau puasa itu dimulai dari sunrise hingga sunset tapi gimana kalau ada kasus seperti di negara Finlandia dimana ada wilayah yang mataharinya terbit sangat jarang sekali bahkan hampir tidak ada, bagaimana loe akan menentukan untuk memulai dan mengakhirkan puasa?” Tampaknya pertanyaan ini simple namun dalam dan harus ditemukan suatu dalil untuk dapat menjawabnya. Berikut saya sampaikan hubungan pertanyaan ini dengan pemikiran saya dan Islam.

Dalam islam dikenal ada sumber hukum yang dapat diambil untuk dapat memutuskan perkara yang ada yakni: Alqur’an, Al Hadits, Ijtihad (Qiyas dan Ijma). Dari sumber hukum inilah maka seorang muslim dapat menemukan jawaban atas pertanyaan yang ada. pertanyaan yang muncul dari seorang “diluar agama islam” (bahkan kadang seorang muslim sendiri) tampaknya menarik untuk dapat saya hubungkan dengan bidang kajian saya. Dalam Hukum Organisasi Internasional untuk dapat memutuskan suatu perkara ada keputusan yang harus diambil atas beberapa dalil yang dikenal dengan konsep power. Hukum (organisasi) internasional menjabarkan apa yang dinamakan express power, implied power, inherent power, dan assumed power. pengertiannya adalah sebagai berikut :

Apa yang dimaksud dengan Express Power adalah keputusan yang diambil atas dasar apa yang ditulis dalam ketentuan perundangan yang ada (sebagai constitution - pedoman mendasar), atau kalau kita mengaitkan dengan konsep Islam apa yang tertera dalam Al Qur’an, itulah yang menjadi dalil utama pengambilan keputusan. Jika dalam kasus puasa sebagai contoh kita sebagai orang Indonesia yang saat itu sedang berada di negara Indonesia tentu akan mengatakan dengan mudah kapan waktu memulai dan mengakhirkan puasa atas dasar peredaran matahari. sesuai dengan apa yang ada didalam Al Qur’an dimana puasa dimulai dari terbit fajar hingga waktu terbenamnya matahari. Hal yang sama juga akan berlaku untuk beberapa negara dimana peredaran matahari tidaklah menjadi persoalan dan dapat dilihat secara jelas dengan mata telanjang. Express power yang berlaku dalam hukum organisasi internasional adalah segala kata-kata yang ada dalam setiap keputusan konstitusi organisasi internasional itu baik yang sifatnya binding (mengikat - dalam islam wajib) atau non binding (tidak mengikat - dalam islam sunah), sebagai contoh Charter of United Nations dan ILO constitution. Dengan kata lain keputusan yang diambil harus melihat pada konteks yang ada dalam perundangan tersebut.

Namun ada kalanya drafter s dari konstitusi tadi sengaja membiarkan ruang lingkupnya menjadi terbuka atau men-general-kan pemaknaan kata dari pasal dengan pertimbangan up-dating dari konstitusi tadi. Dalam hal ini berada di “grey area” atau dalam islam sifatnya Makruh atau Mubah. Ketika kita coba mengkomparasi dengan Al Qur’an, apakah Allah SWT sebagai Yang Maha Tahu melakukan hal yang sama dengan para drafters tadi, yang notabene adalah human being yang mungkin dapat alpa terhadap pengetahuan yang mereka miliki?

Ketika aku kecil, waktu sekolah di Madrasah Diniyah (jadwal sekolah dimulai selepas sekolah dasar umum reguler, umumnya kebiasaan ini berlaku bagi warga betawi termasuk keluargaku), Ustadz (guru) dari tempatku belajar mengatakan ” dalam AlQur’an disamping makna yang tersurat ada makna yang tersirat”. Pernyataan Ustadzku ini (semoga Allah SWT membalas kebaikannya) terus terngiang dalam alam fikiranku, namun waktu itu ilmuku belum sampai, sehingga terus saja pertanyaan itu menggelimuti hatiku, “tersirat?”.

Kembali kepada drafters yang sengaja membiarkan pemaknaan pasal tadi menjadi luas, untuk menjawabnya dalam hukum (organisasi) internasional ada yang dinamakan Implied Power. Implied Power adalah perumusan makna yang karena kondisi, konstitusi tadi sengaja tidak menggambarkan secara detail pemaknaannya dalam tataran praktis, maka pembuat keputusan baik sifatnya individu dalam hal ini hakim atau collective misalnya General Assembly mencoba melakukan penggalian kepada pemaknaan apa sebenarnya yang terfikirkan atau yang dimaksud oleh drafters dari konstitusi tadi sebelum keputusan itu dibuat. Dengan kata lain mencoba menjabarkan makna lebih luas dari konstitusi tadi. Dalam Islam inilah yang menurut saya dikenal sebagai konsep Al Hadits yang bersumber dari karakter Rasulullah SAW baik prilaku sehari-hari atau perkataan beliau.

Kalau mengaitkan dengan puasa, saya melihat bahwa disamping Indonesia atau negara yang “memiliki” matahari, ada negara yang seperti Belanda mungkin matahari “agak ngumpet”. untuk itulah maka diperkenankan memakai batasan. Ada hadits yang mengatakan “tuntutlah ilmu dari lahir (fikiran secara insting dalam kandungan untuk mulai mengenal makanan yang diberikan oleh ibu, atau tanda pergerakan halus dari janin ketika calon ayah merapatkan telinga ke perut calon ibu, otak bawah sadar mulai menyerap suara azan yang dikumandangkan oleh sang Ayah, dsb.) hingga liang lahat (proses pembelajaran dalam hidup baik secara formal atau non formal sebelum ajal)”. Dalam konteks ini saya memaknai terjadinya sebuah ruang lingkup pembatasan (scope). Untuk kasus Finlandia jawaban awal saya adalah dengan melihat atau mengenali daerah lain yang masih masuk dalam “batas” negara Finlandia. Mungkin saja ada daerah di Finlandia dimana tidak terdapat matahari (seperti kutub) tapi bukan berarti dalam batas negara tadi semua daerah mengalami kondisi yang sama. Dengan kata lain ada daerah lain yang tetap memiliki pola kapan matahari terbit dan kapan terbenam walaupun hanya satu bulan durasi pola tersebut berlangsung secara reguler. (namun dengan ditemukannya berbagai tekhnologi mutahkhir, untuk mendeteksi dan kemungkinan menentukan schedule dari si “matahari” tadi saya kira menjadi lebih mudah, sebagai contoh dapat dilihat di Yahoo Weather). Dalam bahasa hukum organisasi internasional konteks ini dikenal istilah maksim “Expressie unius est exclusio elterius” yang juga dikenal sebagai “argumentum a contrario” yang artinya aturan yang sebagai contoh memuat ketentuan mengenai A dan B, jika hanya berbicara mengenai A, ketentuan yang ada juga akan berlaku tidak hanya terhadap A namun juga terhadap B.

Namun demikian fikiran saya menewarang setelah melontarkan jawaban tersebut, apa tidak mungkin adanya kemunculan jawaban yang lain? Lalu bagaimana halnya kalau ada kasus yang menyatakan bahwa matahari tadi benar-benar tidak ada? atau waktu untuk berpuasa tadi berlebihan seperti kasus di Amerika Serikat atau di Kanada dimana pernah pada tahun 80-an, puasa berlangsung 16 hingga 17 jam?

Ada tatabahasa atau maksim yang mengatakan “expressum facit cassare tacitum” yang artinya kata-kata yang dicantumkan secara tegas mengakhiri pencarian mengenai maksud dari perundang-undangan. Dengan kata lain memiliki kekuatan sebagai kata putus terakhir. Namun bagaimana halnya jika kata putus terakhir disamping implied power yang telah dilakukan mengalami suatu kemenduan (ambiguity) yang secara logis tidak menggambarkan kondisi yang jelas? Intrepetasi bagaimana yang kemudian harus dilakukan?

Dalam AlQur’an dikatakan tidaklah kamu mengenal Ilmu - Ku kecuali yang sangat kecil sekali. Artinya apa? Saya menafsirkan jika makna tersirat dalam Al Qur’an tadi memerlukan adanya penggalian lebih dalam. Disamping dari apa yang telah ada dalam Hadits, ada kalanya terjadi kasus terhadap prilaku atau penemuan baru dalam konteks masa kini yang sejalan dengan perkembangan tekhnologi dimana kejadian atau tindakan tersebut belum pernah dicontohkan oleh Rasul. Sebagai ilustrasi pada zaman Rasul belum ada yang namanya Tadarus melalui Telefon atau Teleconference, zaman Rasul belum ada dimana dimesjid untuk mengeraskan suara digunakan Mikrofon. Untuk itulah maka islam memperkenalkan pencarian hukum dengan menggunakan prinsip ijtihad yang terbagi dua yakni Qiyas dan Ijma.

Hukum (organisasi) internasional juga memperkenalkan konsep yang dinamakan inherent power. Artinya; kondisi pencarian dan penemuan hukum ini dimungkinkan ketika dalam perkembangan hukum tadi ternyata tidak ditemukan ketentuan yang sifatnya tertulis atau memungkinkan penjabaran. Inherent power ini mengacu kepada substansi tujuan dari pemaknaan untuk memecahkan persoalan. artinya apa? artinya ibarat koin logam dimana dimuka koin tersebut terdapat dua sisi. kedua sisi itulah yang dimaknai dalam law making sebagai sesuatu yang sifatnya inherent. sebagai contoh, dalam konvensi Montevidio, yang menjadi inherent dari negara adalah Wilayah (territory), Penduduk (population), dan Pemerintah (control government). Ketiga unsur itu mutlak diperlukan untuk dapat disebut suatu negara pada sisi yang berbeda.

Dari gambaran dua sisi ini, jik dilihat pada konteks hukum, memungkinkan penambahan sesuatu yang baru dari aturan yang lama. Dengan kata lain, terbukanya kesempatan bagi para law maker misalnya hakim untuk melakukan intrepetasi ini. Jadi, hakim tidak hanya berhenti pada melakukan penafsiran namun memperluas, mengisi, bahkan menciptakan peraturan baru (Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, 2000: hal.100). Dengan kata lain pencarian hukum terus dilakukan akibat penemuan fakta atau kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalau dalam bahasa Scholten “………..mengacu pada keseluruhan, tujuan sosial, serta hasil dari penerapan, perkembangan sejarahnya sebagai faktor yang diperhitungkan untuk menentukan apa yang menurut undang-undang merupakan hukum pada suatu kasus tertentu”.

Perintah pertama yang Allah berikan kepada kita bukanlah dengar atau lihat tapi “Iqra” atau “bacalah!”. Pengertian perintah membaca ini bagi saya bukanlah seperti mengenal pengetahuan dari konteks luar saja misalnya dari buku namun kepada penglihatan terhadap substansi untuk terus melakukan penelitian (pencarian). Proses penemuan pengetahuan itu tidaklah bersifat instant namun berawal dari sebuah realita permasalahan, dimana dalam permasalahan itu otak manusia bekerja untuk dapat menemukan jawaban atas persoalan. Jawaban yang didapat tidak saja berpedoman dari apa yang sudah ada sebagai “faktor ketahuan” namun bisa juga dengan melakukan komparasi atau menemukan hipotesis baru. Jawaban inilah yang memungkinkan untuk menarik alam fikiran kita kepada sesuatu yang kita ketahui sebagai bentuk pengetahuan. Jika pengetahuan tadi dikembangkan, digabungkan, atau diperbandingkan memungkinkan untuk menjadi kebiasaan. Dari kebiasaan inilah lahir suatu keumuman atau generality yang diterima secara luas. Faktor penerimaan ini jika mengikuti metode scientific akan menjadi suatu kajian untuk dijadikan asas atau teori. Jika teori ini telah dibangun melalui pengujian berulang-ulang dan terbukti memungkinkan untuk dapat diterapkan dalam kondisi yang berbeda dengan hasil yang sama, inilah yang kemudian dinamakan ilmu. Disamping memakai kebakuan, hukum organisasi internasional mengenal apa yang dinamakan sebagai costumery intentional law yang artinya sebagai hukum kebiasaan. Kebiasaan itu harus dimaknai sebagai keterbukaan sistem hukum akibat “kekosongan dalam hukum”.

Dalam Hukum (organisasi) internasional juga dikenal istilah Assumed Power. Assumed power adalah proses penemuan hukum atas dasar kasus atau realita dari tindakan yang sebelumnya dianggap “violating law” - belum ada kepastian hukum untuk menentukan bersalah atau tidak) namun kemudian menjadi preseden dan diterima sebagai hukum sepanjang tidak adanya majority yang menentang dan mempermasalahkan dengan sangat (misalnya terjadi suatu unanimity - kesepakatan, tindakan tersebut diperkenankan akibat beberapa faktor misalnya politik atau kemungkinan jika tindakan tadi tidak dilakukan, memungkinkan “law violation” yang sifatnya bisa lebih merusak). Penemuan hukum ini kemudian menjadi kebiasaan.

Kebiasaan menurut Fitzgerald harus memiliki kondisional faktor yakni; kelayakan atau masuk akal atau pantas “mulus usus abolendus est” (misalnya hak waris mulai berlaku jika pewarisan yang bersumber dari kepala keluarga, kepalanya meninggal dunia), pengakuan atas kebenarannya dan diikuti secara terbuka dalam masyarakat atau pihak yang hendak dilibatkan (bisa saja dalam konteks hukum organsisai internasional negara), memiliki latar belakang sejarah yang tidak dapat dikenali lagi mulainya (artinya praktek ini berlangsung secara kontinu dan menjadi mapan akibat terbentuk oleh waktu yang panjang) dan diterima dalam hukum perundangan sebagai hukum yang dominan (artinya berlakunya kebiasaan tidak bertentangan dengan hukum perundangan) (Fitzgerald, Salmond on Jurisprudence, 1966:190-191).

Konteks diterima dan kesepakatan itulah yang menurut saya sebagai faktor kunci dari berlakunya assumed power. Untuk lebih jelasnya, sebagai gambaran; Agressi Amerika Serikat menyerang Iraq pertama kali sekitar tahun 90-an (yang secara hukum telah melakukan intervensi terhadap suatu negara dan itu tidak diperkenankan dalam hukum internasional - illegal, unlawful atau arbitrary), namun pada kenyataannya tidak terjadi pertentangan di banyak negara (walaupun saya sendiri mungkin dapat memperdebatkan argumentasi ini kalau dilihat bukan dalam konteks hukum) sedasyat Agresi AS yang kedua kali. Tindakan ini dimungkinkan karena tindakan Iraq yang dipimpin oleh Saddam Husein yang melakukan invasi terhadap Quwait itu, dianggap telah melakukan arbitray terhadap hukum internasional yang jelas illegal atau violation of international law. Tindakan AS (agresi I) kemudian mendapat persetujuan atas dasar kesepakatan dan dapat diterima oleh UN dan hukum (organisasi) internasional dengan dalih assumed power tadi.

Kalau mengaitkan ke dalam konteks Islam yang memperbolehkan adanya konsep itjihad, konsep ini melahirkan berbagai macam intepretasi yang berbeda (sama halnya dengan hukum internasional dalam konteks inherent power dan assumed power) namun kemudian “dapat diterima”. Perbedaan intepretasi inilah yang kemudian melahirkan paham atau mazhab yang berbeda seperti Syafii, Hanafi, Hambali, dan Maliki. Menurut saya saya interpretasi tadi syah-syah saja karena dalam Islam ada sunnah dalam pencarian “jika benar dapat dua pahala, jika salah dapat satu pahala”. Yang artinya menurut penafsiran theleologis saya (harfiah) sebagai anjuran untuk terus mencari dalam ilmu sebagai suatu ibadah. sebagai contoh saya gambarkan pemaknaan hadits “tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina. Bagi sebagian orang yang mungkin berkutat kepada faktor geografis, Cina diartikan sebagai faktor wilayah, namun bagi saya tidak hanya terbatas kepada faktor itu saja namun juga kepada kepada konsep nation character dari bangsa Cina itu yang tersebar diberbagai negara dengan banyak kelebihan sebagai anugerah Allah SWT. Kedua penafsitan tadi sifatnya diperkenankan dan dapat diterima.

Menurut penafsiran tadi, saya mengambil kesimpulan jika Inherent Power dikenal dalam Islam sebagai konsep Qiyas, sementara untuk Assumed Power sebagai Ijma (kesepakatan)

Kembali kepada pertanyaan teman Londo Belanda saya atau kepada kasus yang saya lontarkan atas puasa di Amerika Serikat yang pernah berlangsung selama beberapa waktu lebih lama dari “kenormalan” yang ada diwilayah lain; bagi saya, diperkenankan untuk melakukan itjihad sebagai sebuah flexibility dalam beragama (”agama itu mudah, namun jangan dimudah-mudahkan”)

Untuk kasus puasa di Amerika, bagi saya bisa saja dilakukan pembatalan misalnya setelah 12 jam - jika kita merasa tidak lagi mampu sebagai interpretasi dari hukum kebiasaan puasa ditempat lain (sekitar 12 hingga 13 jam); terlepas dari kondisi yang diperkenankan untuk membatalkan puasa misalnya sakit, penyakit menahun yang kalau puasa dapat mengakibatkan sesuatu yang sifatnya “fatal”, Wanita yang sedang haid (menstruasi) dan Nifas (menyusui bayi). Namun dapat pula dituntaskan untuk puasa jika kita mampu.

Sementara untuk kasus Finlandia bisa saja dilakukan suatu pencarian penemuan hukum atas intrepetasi yang mungkin muncul : Pertama, dengan memakai implied power dengan mengacu kepada pedoman jam berapa (kapan) wilayah lain di Finlandia memulai dan mengakhirkan puasa. Kedua, dengan memakai inherent power misalnya dengan intrepetasi melalui penggunaan tekhnologi perkiraan waktu siang dan malam (walaupun di wilayah ini dikatakan hampir setiap hari malam, namun dapat dijadikan patokan jika dalam satu tahun kemungkinan munculnya matahari dan terbenamnya matahari itu kapan). Kalau dalam penemuan itu kemudian menyatakan jika matahari terbit dan terbenam hanya dalam waktu lima atau enam jam saja, ya fakta tersebut harus diterima dan selama waktu itulah kita dapat menjalankan puasa (kalau berpedoman pada intrepetasi secara inherent power - Qiyas).

Ketiga dengan menggunakan assumed power dengan melihat kebiasaan sebelumnya (saya sendiri skeptis jika orang Finlandia zaman dulu telah mengadakan “puasa”, karena sepengetahuan saya, kebanyakan orang Finlandia yang muslim adalah pendatang) dan kebiasaan atas dasar pertimbangan waktu yang kemudian disepakati (Ijma) menjadi suatu ketetapan hukum.

Inti dari proses pen-training-an selama puas, tidak hanya untuk menahan lapar dan dahaga namun juga menjauhkan diri atas segala hal-hal yang dilarang selama Ramadhan (seperti sex, amarah) menuju substansi obyektif dari arti “puasa” (untuk mendekatkan diri kepada Allah (bertawakal) dan menjadikan kita sebagai hamba yang berserah diri dengan menjalankan perintah-Nya atas dasar kemampuan optimal dari kita).

Saya melihat Allah maha Adil dan Maha Mengatur atas segala sesuatu (asumsi saya secara logika; waktu puasa di daerah dingin agak lebih pendek, dimana tubuh pada saat dingin selalu merasa lapar sehingga perlu asupan (intake) untuk dapat bertahan hidup dan untuk itu maka dengan keadilan Allah diberikan dengan waktu yang lebih pendek dibandingkan wilayah lain). Allah dalam Al Qur’an berfirman”tidak akan Aku bebankan kepadamu kecuali atas kemampuan yang kamu miliki”. Sehingga kata terakhir yang saya sampaikan kepada teman Londo Belanda saya adalah “God is the Most Merciful, God knows that we have done our best”


Pembersih Jiwa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keduabelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Bersih… bersiiih… Ulfa Dwiyanti berteriak dengan gembira pada salah satu iklan komersial yang beredar di televisi swasta di Indonesia. Sang ikon masyarakat ini lalu berlari ke sana kemari dengan sebuah botol pembersih di tangan kiri dan kain pel di tangan kanannya. Ida Kusumah yang berlakon sebagai nyonya rumah dengan mata terbelakak melihat lantai rumahnya yang bersih dan wangi, tidak hanya bebas dari kotoran tetapi juga enak dipandang oleh mata. Pembersih bermerek ZyXrWT ini memang ampuh…

Terpaku memandang jam yang tergantung pada tembok di hadapan, sudah hampir jam 12.30, waktu setempat, sholat Jumah belum juga mulai. Kultum yang menurut kebiasaan setempat selalu diselenggarakan harusnya sudah berlalu sejak . mungkin setengah jam yang lalu. Hahaha, mungkin harus diganti namanya menjadi Kultung : Kuliah dugi ka tutung . Alhamdulillah, akhirnya mulai juga Bang berdendang, tapi ini baru Bang pertama lho, sesudah sholat sunnah dua rakaat, barulah Bang kedua diperdengarkan dan imam akhirnya memulai ceramahnya, yang sudah ditunggu sejak sekitar satu jam yang lalu. Hari itu memang hujan sangat lebat, namun menurut warga setempat, memang begitulah adanya. Masjid sudah penuh sejak satu jam sebelumnya bukan karena hujan tapi memang begitu kebiasaannya. Maklum, di negri bernafaskan kental ke-Islaman ini memang hanya menyelenggarakan sholat Jumat pada masjid tertentu. Ingin yang lebih fenomenal? Bagi sebagian umat Islam di sini, sholat Jumat BUKAN merupakan suatu kewajiban. Wah, reformasi?

Bla .. bla .. bla .. dan entah apa lagi yang imam sampaikan dalam ceramahnya. Sampai akhirnya … .. Para jamaah sekalian, sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Ramadhan ini, jangan lah lupa kita akan kewajiban membayarkan zakat fitrah. Ibadah ini diajarkan oleh Rasulullah sallallahu alaihi wassalam sebagai sarana membersihkan diri dan harta kita dari kotoran yang menggerogoti nilai kehalalan harta kita. Jadi, pakcik, jika dalam perniagaan berbuat suatu kesilapan dengan mencurangi timbangan dan semacamnya, marilah kita bersihkan dengan zakat fitrah ini . Ajakan yang mulia, yang memang merupakan esensi dari zakat fitrah yang seharusnya dilaksanakan pada setiap akhir bulan Ramadhan.

Ehem, benarkah? Bukan kah itu berarti Islam membenarkan kita untuk berlaku curang, melakukan kesilapan yang secara sadar dilakukan. Bukan kah itu berarti kita bisa berbuat kesalahan dan membersihkannya setiap kali ada kesempatan seperti pada akhir bulan Ramadhan ini. Benarkah zakat fitrah itu tak ada bedanya dengan pembersih yang iklannya beredar diseantero dunia pertelevisian?

Zakat fitrah. Membawa yang melaksanakannya kembali kepada fitrah. Fitrah? Ya, bahwa setiap manusia terlahir dalam keadaan bersih, seperti lembaran kertas putih, menurut kata ulama. Lembaran kertas yang dapat ditulisi apa saja? Yang dapat dilipat ke dalam bentuk apa saja? Yang dapat dibakar hingga tak berbekas? Mengapa tidak terlahir bagaikan lantai yang putih, setidaknya jika terbakar hingga gosong pun masih bisa digosok sekeras-kerasnya agar kembali menjadi putih. Kertas terbakar berubah menjadi putih bersih? Perlu tukang sulap rasanya.
Mungkin Rasulullah atau bahkan Allah subhanahu wa taala sendiri yang menyatakan bahwa zakat fitrah adalah sarana pembersihan dosa. Benarkah? Segala yang berasal dari Allah dan Rasul-Nya adalah selalu benar adanya, bukan begitu?

Zakat fitrah, sarana pembersihan dosa. Dosa yang BOLEH diulang-ulang karena memang sudah tersedia alat pembersihnya, begitukah? Ibarat lantai putih yang kita injak dengan sepatu kotor, lalu dipel kembali, lalu diinjak kembali dengan sepatu kotor, dipel kembali dan begitu seterusnya . Mengapa kita tidak belajar daripadanya dan membersihkan sepatu setiap kali akan menginjak lantai. Menjaganya agar tetap bersih. Membersihkan lantai secara teratur bukan karena selalu kotor terinjak tapi karena memang kita mencintai kebersihan, mencintai lantai yang tampak rupawan jika berada dalam keadaan bersih. Seperti zakat fitrah yang dilaksanakan karena kita mencintai Allah dan takut kepada-Nya, bukan karena ingin kembali menjadi bersih dari dosa karena memang sudah kita jaga semampu kita untuk terhindar dari padanya.

Entahlah, mungkin kini saatnya Ulfa mulai berteriak dengan gembira: Zakat fitrah. Zakat fitraaaah.


Zakat Fitrah: Sesuatu yang Istimewa

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesebelas dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Diana Jirjis.

Tulisan ini mencoba mengungkap pernak pernik zakat fitrah, lebih-lebih yang berkenaan dengan sisi fiqhnya. Terima kasih yang dalam kepada guru-guruku, especially gus Ghofur, pak Sahiron, pak Mustaqim yang telah memperbolehkan saya untuk berani-beraninya (baca: wani-wanine) merangkum pelajaran dari mereka.Ihdinash shiraathal mustaqiim.

Hakikat zakat adalah proses penyucian diri yang berdimensi kemanusiaan. Di satu sisi, zakat merupakan wujud ketaatan pada perintah Allah sebagai konsekuensi pernyataan keimanan. Selain itu juga merupakan penegasan bahwa dalam Islam, setiap ritual selalu mempunyai dimensi sosial yang menyentuh sisi kemanusiaan secara langsung.

Berbicara tentang zakat, ada sesuatu yang special dengan Zakat Fitrah. Berbeda dengan zakat-zakat lainnya yang lebih berfungsi untuk “membersihkan harta”, zakat fitrah adalah satu-satunya zakat yang diwajibkan bagi setiap muslim untuk “menyucikan jiwa”. Oleh karena itu, zakat fitrah tidak saja diwajibkan bagi mereka yang kaya, akan tetapi juga bagi mereka yang kurang berkecukupan. Jadi meskipun orang itu ‘miskin’ menurut kategori umum, dia tetap wajib membayar zakat fitrah namun dia pun berhak menerima zakat fitrah.

Zakat fitrah selain berfungsi melengkapi puasa Ramadhan, juga berfungsi menyambut lebaran Idul Fitri. Karena itu, fungsi kedua dari zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan dengan fakir miskin. Dua hikmah ini, dengan baik disampaikan oleh Ibn Abbas: “RasululLah men-fardhukan zakat fitrah untuk menyucikan diri seorang yang puasa dari al-laghw dan rafats, dan untuk memberi makan orang-orang miskin.”
Fungsi kedua dari zakat fitrah ini meniscayakan pendistribusian zakat tersebut untuk fakir miskin, agar di hari raya idul fitri mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang lainnya, tidak bersedih karena tidak bisa makan di hari itu. Meskipun di dalam ayat tentang zakat disebutkan ada 8 kelompok mustahiq zakat, namun khusus untuk yang zakat fitrah lebih diutamakan kepada fakir miskin.

Siapa aja yang harus berzakat fitrah?

Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim (laki-laki dan perempuan, dewasa dan anak-anak) sebagaimana diungkapkan Ibn Umar, dalam riwayat Imam Bukhari: RasululLah men-fardhukan zakat fitrah, satu “shaa” dari kurma, atau satu “shaa” dari biji sya’ir, kepada orang yang bebas dan seorang hamba sahaya (budak), laki-laki dan perempuan, anak-anak dewasa dari mereka yang beragama Islam. Syarat wajib lainnya adalah muslim tersebut sempat menyaksikan Ramadhan dan malam 1 Syawal juga mempunyai kelebihan rizki untuk mengeluarkan zakat fitrah, paling tidak ketika di malam 1 Syawal. So, bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di hari terakhir Ramadhan juga termasuk wajib zakat.

Berapa ukuran zakat fitrah?

Zakat fitrah ini tujuan utamanya untuk mengenyangkan fakir miskin sehari saja, yaitu pada hari raya Idul Fitri. Karena itu besarnya pun tidak seberapa. Diriwayatkan oleh Ibn Umar, ”RasululLah men-fardhukan zakar fitrah dari Ramadhan, satu “shaa” buah korma atau satu “shaa” dari biji sya’iir. ” Hadits ini menjadi pijakan mayoritas ulama dalam menentukan kadar zakat fitrah, yakni satu shaa’ dari makanan pokok setempat.
Berapa satu shaa? Satu shaa sama dengan empat “mud”. Satu mud sama dengan 0. 688 liter. Jadi satu shaa adalah 2. 752 liter. Demikian ukuran yang dapat dilacak dari batasan Nabi. Beliau tidak menggunakan ukuran berat (kilo), tapi volume (liter). Batasan yang demikian ini kemudian memang menyulitkan, karena tidak setiap bahan makan sama beratnya. Dengan asumsi densitas beras lebih besar daripada kurma tentunya satu liter beras akan lebih berat dari satu liter kurma. (belom lagi kalo kurmanya gedhe-gedhe sehingga porositas bulknya besar :))
Maka dapat dimengerti jika ukuran zakat fitrah diperselisihkan di antara ulama. Tapi ada satu hal yang tak perlu diperdebatkan, yakni diperbolehkannnya membayar lebih dari batas ketentuan, bahkan sudah barang tentu dianjurkan.

Bisa ga membayar dengan uang?

Di berbagai negara Islam, zakat fitrah tidak dikeluarkan dari bahan makanan, akan tetapi dari nilai tukar (qiimah) bahan makanan tsb. Selain memudahkan si pembayar zakat, mengeluarkan zakat dalam bentuk nilai juga dipandang lebih bermanfaat bagi fakir miskin. Walaupun pendapat diperbolehkannya membayar nilai tukar hanya diwakili oleh madzhab Hanafi, namun perkembangan di tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa berbagai kalangan justru memilihnya. Sementara madzhab Maliki, Syafii dan Hanbali, yang melarang pembayaran tersebut tidak lagi banyak dijalankan.

Dari sudut pandang fiqih humanis kontemporer, perlu kiranya dipahami bahwa zakat fitrah yang dianjurkan senilai dengan yang dimakan setiap orang dalam sekali makan, memiliki pesan dinamik karena daya konsumsi makan masing-masing orang berbeda. Tentunya tidak adil bila seseorang yang biasa menghabiskan ratusan ribu rupiah untuk sekali makan hanya membayar zakat fitrah senilai satu shaa bahan makanan. Bukankah dia juga bakal males kalau disuruh makan yang hanya senilai satu shaa bahan makanan?

Kapan musti bayar?

Zakat fitrah diwajibkan untuk menyempurnakan puasa Ramadhan, dan untuk menyambut Idul Fitri. Karena itu, diwajibkan setelah berakhirnya puasa, dan memasuki Idul Fitri. Disunahkan membayarnya pada hari Idul Fitri sebelum salat Id berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a., “Rasulullah saw. memerintahkan membayar zakat fitrah sebelum orang berangkat salat.” (H.R. Jamaah).

Sebagian ulama menetapkan permulaan waktu zakat fitrah setelah terbenamnya matahari di akhir Ramadhan, dan sebagian lain menetapkannya setelah terbit fajar di pagi harinya (tgl 1 Syawal). Sementara waktu akhir pembayaran, sebagian ulama menutupnya hingga salat Id, dan sebagian lain memperpanjang hingga sehari penuh di hari lebaran. Pengeluaran zakat setelah itu dianggap qadha, seperti menjalankan salat subuh setelah terbitnya matahari.

Gimana kalo bayar zakat fitrah sebelum berakhirnya bulan Ramadhan?
Diantara ulama yang mempelopori tidak diperbolehkannya pembayaran zakat sebelum waktunya adalah Imam Ibn Hazm. Menurutnya, tak satupun zakat yang diperbolehkan mengeluarkannya sebelum waktu. Memang afdhalnya zakat fitrah dibayarkan setelah berakhirnya bulan puasa dan memasuki Idul Fitri namun pada prakteknya berbagai kalangan sahabat justru tidak melakukannya sehingga pendapat Ibn Hazm banyak ditinggalkan.

Namun begitu, para ulama yang memperbolehkan “ta’jil” (membayar zakat lebih awal dari waktunya) berselisih pendapat mengenai batas waktunya. Imam Syafi’i memperbolehkan pembayaran zakat sejak awal Ramadhan, karena Ramadhan adalah salah satu dari dua sebab zakat. Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik membatasinya hanya satu-dua hari menjelang Idul Fitri. Sebagian Malikiyah membatasinya dengan tiga hari menjelang Id. Sebagian Hanabilah, memperbolehkan pembayaran zakat hingga pada pertengahan bulan Ramadhan.

Melihat pendapat-pendapat yang ada ini, mungkin bisa ditawarkan sbb: 1. Panitia bisa memungut harta zakat mulai pertengahan bulan. Lebih mendekati hari raya lebih baik. 2. Harta zakat didistribusikan kepada fakir-miskin (diterima oleh mereka) di hari lebaran, atau menjelang lebaran pada kisaran 1-2-3 hari. Lebih dekat kepada Idul Fitri semakin baik karena tujuan zakat fitrah adalah berbagi kebahagiaan di hari lebaran.

Bolehkah membagikan zakat ke luar daerah dimana zakat dipungut?
Bisa dikemukakan bahwa pola distribusi zakat mengikuti sistem “otonomi daerah”. Harta yang dihasilkan satu daerah pendistribusiannya diutamakan untuk daerah itu sendiri seperti tertuang dalam hadits “Zakat itu diambil dari orang kaya di kalangan mereka dan dikembalikan (dibayarkan) kepada kaum fakirnya”.

Dalam satu riwayat, RasululLah saw. mendelegasikan sahabat Muadz bin Jabal, untuk menarik harta zakat dari orang-orang kaya di daerah Yaman, dan membagikannya kepada kaum fakir miskin di daerah tersebut. Kebijakan RasululLah ini, yang memerintahkan agar membagikan harta zakat kepada fakir-miskin dimana zakat dipungut, juga dijalankan sahabat Muadz saat ia menjadi pejabat di masa Abu Bakar ra dan Umar bin Khaththab ra. Namun pada suatu ketika, di era Umar ra, ia mengirimkan harta zakat ke Madinah, pusat pemerintahan Umar ra. Mula-mula Umar ra menolaknya, namun kemudian menerimanya setelah Muadz ra. menyatakan bahwa dia tidak menemukan seorangpun yang berhak menerima zakat di Yaman.

Riwayat di atas, menjadi rujukan ulama untuk menentukan hukum boleh-tidaknya, dan juga sah-tidaknya, memindahkan harta zakat dari tempat dipungut ke tempat yang lain. Secara umum, bolah boleh saja mengalihkan zakat fitrah ke luar tempat tinggal orang yang mengeluarkannya bila di negeri itu terdapat orang yang lebih membutuhkan dan jika hal tersebut dapat mewujudkan maslahat yang lebih besar bagi kaum muslimin, atau jika lebih dari kebutuhan kaum fakir yang ada di negerinya.

Soooo… gimana dooong?

Skema pembayaran zakat fitrah sebagaimana yang ditawarkan KZIS cabang Belanda yaitu: membayar zakat fitrah di Belanda, tempat dimana kita mukim saat ini, dengan qiimah (nilai tukar) sebesar minimal 8 euro (angka ini merupakan kesepakatan yang diperoleh dari biaya rata2 sekali makan lengkap di Belanda) dan didistribusikan di Indonesia, insyaAllah sah dan sudah tepat. Semoga zakat fitrah kita penuh dengan hikmah. Allahu alam bish shawaab.

Naaa apalagi yang dinanti? Cepetan bayar zakat fitrah yaaaa jangan sampai ketinggalan :)


Sepertiga Terakhir

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesepuluh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Elfahmi Yaman.

Waktu berjalan sangatlah cepat, terasa belum begitu lama kita berbicara tentang persiapan menyambut bulan Ramadhan, ternyata sekarang sudah memasuki pertigaan terakhir, sepertiga bulan yang menurut para ulama dalam menukil hadist adalah waktu ditutupnya pintu neraka. Lalu bagaimana dengan pertigaan pertama dan kedua yang sudah berlalu. Apakah kita bisa merasakan sepertiga awal sebagai masa mendapatkan rahmat yang berlimpah dari Allah SWT ?, begitu juga dengan sepertiga kedua, apakah kita bisa merasakan meraih ampunan (maghfirah) atas dosa-dosa yang telah sengaja atau tidak, melumuri diri ?. Allahu ‘alam, Allah lah yang maha tahu, karena ini memang hak “mutlak” dari Sang Pencipta. Yang bisa kita lakukan adalah berupaya mengikuti petunjuk-petunjuk yang telah ditetapkan dalam Al-qur’an dan hadist Rasullullah serta penjelasan para ulama. Namun proses evaluasi (mutaba’ah) tentu kita bisa lakukan merujuk kepada parameter-parameter yang dijelaskan dalam petunjuk-petunjuk tersebut. Hari demi hari kita lalui dengan berbagai aktivitas seperti biasa, sekolah, bekerja, menulis, berkarya, beribadah, membaca. Barangkali dengan intensitas yang lebih kuat demi berupaya menggapai keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan.

Pada suatu kesempatan seorang guru menganalogikan keberhasilan seseorang dalam meraih keutamaan bulan Ramadhan itu dengan hitungan matematik sangat sederhana, tidak perlu menggunakan rumus integral, diferensial, atau apalah namanya yang rumit-rumit. Andaikan “kualitas” iman, ibadah, kedekatan (taqarrub) kepada Allah SWT sebelum memasuki bulan Ramadhan bisa dinilai dengan angka 5, maka saat berproses selama bulan Ramadhan dengan aktivitas ibadah yang meningkat, itupun kalau dilakukan dengan niat ikhlas maka nilai meningkat menjadi 15 diakhir bulan. Selanjutnya sebagaimana biasa setelah bulan puasa intensitas ibadah berkurang, tidak ada lagi puasa wajib, taraweh dan lain-lain sehingga berkurang menjadi 12 atau 10. Sang guru berkesimpulan bahwa yang demikian ini berarti berhasil meraih keutamaan bulan Ramadhan. Yang sering terjadi adalah nilai tersebut berbalik kembali ke jumlah semula, atau malah lebih kurang ?. Pertanyaan kritis yang juga sangat sederhana muncul, terus bagaimana mengukurnya sehingga keluar angka-angka kuantitatif tersebut. Nah disinilah masaalahnya karena itu merupakan ketetapan Allah SWT terhadap individu. Sang guru kemudian melanjutkan bahwa individu tersebut sebenarnya bisa merasakan perubahan dalam dirinya sendiri, misal mulai dari semakin sensitifnya diri dalam menindak lanjuti kebaikan-kebaikan dan sebaliknya, semula susah sabar menjadi relatif lebih bisa mengontrol emosi, jadi lebih takut kepada Allah SWT dalam melakukan berbagai tindakan.

Perubahan-perubahan yang dirasakan ini dengan sendirinya berpengaruh keluar diri sehingga memberikan manfaat kepada orang lain. Sebuah pertanyaan “nakal” menghampiri benak walau tidak sampai pada sang guru. Bagaimana kalau sebelum Ramadhan korupsinya M-M an, terus puasa dan setelah lebaran korupsinya berkurang jadi J-J an, apakah termasuk berhasil meraih keutamaan puasa ?. Lha, jelas saja tidak, karena berapapun jumlahnya korupsi itu tetap dilarang karena memakan yang bukan hak. Kalau begitu betapa banyak yang berpuasa namun tidak meraih keutamaannya, seperti sebuah hadits bahwa banyak orang yang berpuasa namun hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Buktinya memerangi korupsi di Indonesia sangat sulit sekali bahkan banyak orang yang sudah pesimis terhadapnya. Belum laginya yang namanya “korupsi non materi”.

Kembali kepada evaluasi (mutaba’ah), tentu merupakan suatu yang urgen dilakukan, karena dengan demikian bisa diketahui pencapaian-pencapaian dari target yang telah ditetapkan. Sebuah penelitian butuh pertemuan pihak terkait sekali seminggu dengan memaparkan apa yang telah dilakukan, bagaimana hasilnya, kenapa ada kendala serta berbagai pertanyaan lainnya. Berdasarkan hasil evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk masa selanjutnya. Kalau proses evaluasi tidak dilakukan maka sulit mengukur sudah sampai dimana pencapaian target. Cukupkah waktu 7-8 hari ini bisa melengkapi “nilai” puasa sebagai sebuah hasil mutaba’ah 22 hari yang lalu ? Semoga Allah SWT “melembutkan hati ini” sehingga senantiasa selalu terbuka menerima kebaikan-kebaikan serta tergerak melkukannya. Semoga Allah SWT memberikan kekuatan energi dalam rangka berlari mendekati-Nya, Amiin.


Reportase Nuzulul Quran

Filed under Ramadhan 2004

(Reportase Nuzulul Quran dari seorang Buyung)

Alhamdulillah, semua puji syukur pada Allah Semesta Alam. Sudah kita lewati lagi satu dari sekian rangkaian acara Gerakan Perindu Ramadhan dengan selamat dan insyaallah penuh hikmah. Acara ini adalah Nuzulul Quran, bisa dikatakan acara puncak Gerakan Perindu Ramadhan kita.

Sekali lagi, saya dengan segala kerendahan dan ketulusan hati mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya pada rakyat deGromiest yang tak mungkin saya sebutkan satu persatu. Acara ini adalah acara kita bersama; tidak ada yang berhak mengklaim secara pribadi maupun kelompok, tapi ini adalah milik ummat Islam yang kebetulan diamanahkan kepada kita untuk diselenggarakan di bumi Groningen.

Namun, Gerakan Perindu Ramadhan belum selesai. Perjalanan masih panjang, Ramadhan masih tersisa 13 atau 14 hari lagi. Mari saling membahu dan saling mengingatkan untuk membakar semangat menjadi energi. Energi ini yang kita pakai untuk mengisi detik demi detik Ramadhan dengan penuh hikmah, zikir, fikir, dan ibadah. Mudah-mudahan kita menjadi orang yang benar-benar bertaqwa, amien ya Rabbal Alamin.

Kisah Di Bawah Meja (makan)

Nama GPR (Gerakan Perindu Ramadhan) sebenarnya lahir dari celoteh Bang Is yang saat itu masih terpengaruh dengan lahirnya Gerombolan Pencicip Makanan Pencinta Sains (gpmps). Nama itu langsung saya resmikan sebagai nama kepanitian yang diamanahkan kepada saya untuk menjadi event organizer deGromiest selama bulan suci Ramadhan.

Dari sekian banyak acara, Nuzulul Quran justru luput dari perhatian saya. Syukurlah beberapa rekan mengingatkan saya dengan peristiwa paling penting dalam sejarah Islam tersebut. Itulah untungnya mensosialisasikan ide-ide kepada massa.

Format acara prematur segera disusun berdasarkan hasil obrolan dengan rekan-rekan. Ketika dilemparkan ke publik, mendapatkan tanggapan positif. Langsung saja, pada tanggal 16 Oktober 2004, saat buka puasa pertama di Websterbadstraat 48, pembagian peran di mulai. Cara pembagian peran yang terlihat ganjil, tapi ternyata dirasakan tepat seperti yang rekan-rekan nikmati malam tadi. Mudah2an memang Allah lah yang sudah memilihkannya untuk kita.

Tim materi mengadakan rapat maraton lewat email, membahas apa tema utama dan bagaimana menyampaikan pesan-pesannya. Minggu 24 Oktober 2004 menjadi hari bersejarah dalam persiapan Nuzulul Quran ini. Para aktor berkumpul di Bezettingslaan 30 untuk mematangkan materi dan berlatih. Format acara pasti disusun, seperti yang rekan-rekan nikmati tadi malam.

Terungkap bahwa, lagu “Doa Khatam Quran” yang kita bawakan tadi bukanlah lagu gampangan. Indra, Bang Budi, dan Pak Toto, pemusik yang bisa dibilang handal di bidang masing-masing butuh waktu setengah hari untuk menemukan chordnya. Teguh, salah satu musisi handal kita terus terang pada saya menyerah untuk mempelajari chord lagu ini dalam satu hari. Itulah alasannya kenapa kita tidak melihat Teguh tampil tadi malam.

Pak Toto menguraikan bahwa lagu ini tidak mengikuti pakem biasanya. Kuncinya tidak berulang, melainkan berubah-rubah terus dari awal sampai akhir. Sebagai musisi Pak Toto tidak suka dengan alur demikian, karena ini mengurangi harmonisnya sebuah lagu.

Namun, ada sesuatu yang lain. Lagu ini bukan lah lagu pop yang biasa kita dengar. Ini adalah doa, doa kepada Allah, sebuah harapan. Dan doa ini dibawakan dan dinikmati oleh hati. Sehingga ketidakpakeman tidak menghalangi pendengar untuk menikmatinya. Karena yang menikmatinya bukan telinga, tapi hati. Subhanallah.

Ada lagi cerita lain. Beberapa rekan merasa keberatan dengan plot yang saya buat berkenaan waktu dan sajian makanan. Saya bersikeukeuh untuk mengadakannya selepas Maghrib dan menghindari makanan serius demi tercapainya kesyahduan acara. Sementara dari sisi lain, ini bisa mengurangi minat orang yang datang. Alasannya, makanan adalah daya tarik utama dan jam 7pm dirasa terlalu larut untuk orang beraktivitas. Namun, Alhamdulillah huznusan saya tidaklah melenceng terlalu jauh; acara tetap syahdu (walau ini tentu relatif) dan rekan-rekan yang datang tidak harus kelaparan. Alhamdulillah.

Selain itu, kedatangan para wakil dari KBRI memberi warna tersendiri. Kita bisa meluaskan manfaat dari acara GPR: kesempatan bagi warga Indonesia di Groningen bertemu para wakil KBRI dan melakukan “Lapor Diri”. Diskusi intens juga terjadi antara para tokoh deGromiest dengan wakil KBRI. Lagi-lagi, Alhamdulillah.

Merdunya alunan surah Al Baqarah 1-10 dari Indra, indahnya terjemahaan dari Ratih, disambung oleh Loedroek Cap Martini Tower yang dimotori trio Cak Tri, Cak Fu, dan Cak Toto benar-benar membuka Nuzulul Quran begitu bewarna. Warnanya kental, dan mempesona, terasa sampai ke belakang di mana rekan-rekan non-muslim yang sedang menunggu selesainya proses “Lapor Diri”. Mudah-mudahan ini menjadi dakwah, amin.

Tidak hanya sampai di sana, nyanyi “Doa Khatam Quran” yang di pandu oleh Uda Khairul, Kak Agnes, dan Yunia dan diiringi oleh flute Pak Toto, gitar Indra dan Bang Budi membuat penonton larut. Larut bersama harapan untuk mendapatkan berkah dengan membaca Al Quran. Saya berharap, pesan untuk membudayakan membaca Al Quran sampai hendaknya pada penonton.

Acara disambung oleh puisi Kematian oleh Bang Ismail. Saya merasa terhanyut oleh ekspresi beliau yang begitu menjiwai pesan-pesan maut dari Taufiq Ismail. Kemudian, dengan cantiknya, kontras dengan puisi pertama, puisi Kehidupan pun dikumandangkan oleh saya sendiri. Sebuah puisi yang lahir dari refleksi pemahaman saya pada fisika partikel dan kosmologi yang saya dalami, mencoba mengajak kita senantiasa berfikir dan berzikir setiap saat dalam kehidupan ini. Saya tidak tahu apakah pesan tersebut tersampaikan, kalau tidak mudah-mudahan resume singkat ini membantu.

Akhirul kalam…

Dan, akhirnya kepengerusan deGromiest resmi beralih dari zaman Ismail Fahmi ke zaman trio Wangsa, Toto, dan Indra. Sebuah suksesi yang begitu cantik, di hari baik di tanggal baik di bulan baik. Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang, langkah kanan insyaallah sudah kita mulai untuk de Gromiest ke depan.

Masih banyak agenda kita, masih banyak yang harus dibenahi. Perjuangan masih panjang, revolusi belum berhenti. Riak-riak mungkin terjadi, tapi mari selalu saling mengingatkan supaya perbedaan itu menjadi sesuatu yang indah. Ayo kita bahu-membahu menuntaskan revolusi yang sudah kita mulai, lewat deGromiest untuk Islam!

…
Biar apa pun luka yang terbina
Takkan gentar merela kehendakNya
Terdengarlah bicara tersembunyi
Yang tertebar di langit dan bumi

Siapakah yang mampu menundukkan bayu?
Siapakah yang tahu hanya ada Satu.

…

4.17am, 30 Oktober 2004
Duindoornstraat 121

Febdian Rusydi
Pesuruh 1 Gerakan Perindu Ramadhan


Ramadhan yang Senyap

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kesembilan dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Katakanlah: Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS Az-Zumar: 53.

Jika kalian melakukan kesalahan-kesalahan (dosa) hingga kesalahan kalian itu sampai ke langit, kemudian kalian bertaubat, niscaya Allah SWT akan memberikan taubat kepada kalian. Hadist diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abi Hurairah, dan disebut sebagai hadits hasan dalam kitab Sahih Jami’ Shagir - 5235.

Kedua dalil naqli di atas ditulis sebagai awal buku DR. Yusuf Qardhawi, Tuntunan Taubat. Buku tersebut dengan jelas membawa kabar gembira, harapan, dan kasih sayang Allah kepada anak Adam yang — disadari atau tidak — tentu memiliki dosa sepanjang perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini. Sifat manusia itu sendiri yang tidak lepas dari kekhilafan, yang berada di antara sifat-sifat baik dan nafsu, atau karena keadaan lingkungannya, sedikit atau banyak tentulah berlumur dosa.

Sebagian pendapat mengelompokkan dosa sebagai dosa besar dan dosa kecil, namun yang lebih penting bagi kita adalah dorongan untuk segera bertobat, meminta ampunan Allah, dan tidak berputus asa dengan rahmat-Nya. Hal ini penting karena kita tidak pernah tahu peristiwa yang akan terjadi kemudian, sehingga menunda-nunda bertobat justru dapat mencelakakan kita sendiri. Dosa kecil pun yang disepelekan dapat menjadi dosa besar karena keangkuhan pelakunya, sedangkan dosa besar yang disesali dan dimintakan ampunan kepada Allah tentulah akan dikabulkan. Seperti yang telah dijanjikan sendiri oleh Allah dan sifat Allah itu sendiri yang Maha Penerima Taubat (At Tawwab).

Bertobat dapat dijadikan sarana untuk “mengosongkan” diri kita. Meluruhkan semua endapan-endapan perasaan dan sikap tidak terpuji yang telah menggumpal. Dengan meminta maaf kepada orang lain — sebagai salah satu syarat bertobat, sebelum meminta ampun kepada Allah — kita dapat menjalankan amanah yang diminta Allah kepada umat-Nya. Bahkan dengan sangat bagus, Jalaluddin Rakhmat menulis bahwa ibadah untuk Allah itu adalah berpuasa dengan pengkhidmatan kepada sesama ciptaan-Nya.

Ah, Ramadhan ini, aku ingin terus berada di dalam suasanamu yang senyap, sehingga dapat kudengar hatiku sendiri yang bersuara lebih bening. Jika Engkau memberi banyak waktu-waktu baik untuk berdoa selama bulan Ramadhan ini, melipatgandakan balasan untuk amal perbuatan baik di bulan ini, aku ingin berhenti berpikir egois bahwa itu semua dilimpahkan untuk diriku, melainkan kesempatan yang lebih banyak lagi untuk menghamba hanya kepada-Mu.


Kuliah Umum Prof. Azyumardi Azra

Filed under Ramadhan 2004

Pak Azra, panggilan beliau, akan memberikan kuliah umum dengan topik “Pendidikan di Indonesia: Permasalahan dan Gagasan”. Topik ini diambil, karena sejalan dengan hasil diskusi deGromiest di rumah Mbak Sari beberapa bulan yang lalu, serta sejalan dengan permasalahan besar Bangsa Indonesia yang terletak pada pendidikan. Satu lagi, ini juga sejalan dengan gagasan KBRI untuk mengajak kita berpikir tentang nasib pendidikan di Indonesia dan menyumbangkan pemikiran kepada Mendiknas yang baru.

Kesempatan bagus ini merupakan tawaran dari Atase Dikbud KBRI.

Jadi, kita akan ada gawe lagi, dengan kedatangan tamu penting ini. Bagi yang sudah kenal pemikiran beliau, pasti tidak akan melewatkan kesempatan ini. Yg baru kenal, silahkan lihat ini:

http://www.tokohindonesia.com/ensiklopedi/a/azyumardi-azra/index.shtml

Hari/Tanggal: Minggu/31 Oktober 2004
Waktu : jam 2.45 - 7.00 pm (sharp!!!!)
Tempat : Concordiastraat 67A
Rumah Mas Amal dan Mbak Heni
Agenda : 3.30 - 5.00 pm (kuliah umum dan tanya jawab)
5.xx - selesai (buka puasa dan sholat maghrib)
Rombongan KBRI pulang ke Den Haag.


Susunan Acara Nuzulul Quran 1425H

Filed under Ramadhan 2004

HALOW HALOW RAKYAT RRG TERCINTA

GPR dengan ini mengundang semua rekan-rekan untuk datang menghadiri peringatan hari penting kita: Nuzulul Quran.

Tanggal: 29 November 2004
Tempat: Tuinzaal, Academic Gebouw
Jam: 5pm - 9pm

Acara ini juga akan dihadiri oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI

Alokasi waktu

5pm - 6.15pm = Lapor diri bersama KBRI
6.15pm - 7pm = Persiapan berbuka, Maghrib, berbuka ala kadarnya bagi rekan-rekan yang berbuka di Tuinzall
7pm - 8.20pm = Nuzulul Quran
8.20pm - 9pm = Serahterima kepengurusan deGromiest

AJAK LAH sanak keluarga handai tolan, mantu mertua kakak adik, pacar teman sodara.
Akan disajikan makanan ala kadarnya (bukan nasi + lauk pauk seperti berbuka puasa bersama). Insyaallah cukup mengenyangkan selagi menikmati kesyahduan acara. Jangan lupa untuk membawa minuman ala kadarnya (uangnya akan diganti oleh deGromiest) yaaaa.

Rangkaian Acara

* Pembukaan
- Kepala kafilah deGromiest
- Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI

*Pembacaan Ayat Suci Al-Quran
qori’ : Indra Muliawan
saritilawah: Kak Agnes (?)

* Dialog Nuzulul Quran
bersama “Loedroek Tjap Martini Tower”
Cak Fu & Cak Tri, diiringi flute Cak Totok

* Nyanyian Kalbu, “Doa Khatam Quran”
Bersama-sama kita alunkan dipandu oleh Grup Pemuda/I Bernyanyi Gromiest
Diiringi petikan merdu gitar oleh Indra dan Pak Budi
Serta alunan flute Cak Totok

* Puisi Kematian
“Sebuah Ziarah Ke Kubur Sendiri”
karya: Taufiq Ismail
dibacakan oleh: Ismail
diiringi flute Cak Totok

* Puisi Kehidupan
“Kurahap Kalian Belum Bosan”
oleh Febdian Rusydi
diiringi petikan gitar Indra

* Penutup

Rangkaian acara serah terima kepengurusan deGromiest ke periode 2004/2005

* Sebuah Perpisahan
Ismail Fahmi
Ketua deGromiest periode 2003/2004

* Menatap Masa Depan
Indra Muliawan
Pjs Ketua deGromiest periode 2004/2005

* Serah Terima tongkat estafet

* Peresmian Radio Digital Minaara
Radio “Indahnya Kebersamaan Menuju Kemenangan”
(Menandai gebrakan 100 detik pertama kabinet baru)

* Doa dan Penutup


Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kedelapan dari hajatan Zakat: Sumberdaya yang Terabaikan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul F. Masduqie.

Setiap tahun di bulan Ramadhan, Zakat menjadi primadona yang marak dibicarakan orang disampaing puasa yang merupakan isu pokok dibulan Ramadhan. Banyak orang ramai membicarakan Zakat baik melalui artikel, opini dikoran dan majalah ataupun menjadi tema pokok dalam acara ceramah subuh dan dialog menjelang berbuka puasa ditelevisi.

Memang zakat selain merupakan salah satu rukun Islam, Zakat juga memiliki kedudukan sangat penting dalam Al Quran. Oleh karena itu Allah s.w.t meletakkan perintah zakat ini pada posisi kedua setelah sholat. Ada sekitar 30 ayat dalam Al Quran yang menerangkan Zakat dan sekitar 27 ayat diantaranya mencantumkan kata zakat bersamaan dengan perintah sholat. “Aqimish sholaata wa atuzhzhakaata….”. dari sini kita dapat melihat betapa urgennya persoalan zakat ini. Sholat sebagai manifestasi keimanan umat pada sang Khaliq, sementara Zakat merupakan berkas sinar keimanan seorang hamba yang terpancarkan melalui kepedulian sosial.

Sebenarnya inilah inti pokok ajaran Islam. Islam tidak hanya mengutamakan persoalan uhrawi, namun keshalehan spiritual seorang muslim haruslah berimbas pada lingkungan disekitarnya dimana seorang muslim berada. Dengan kata lain seorang Muslim dituntut untuk memiliki keseimbangan relasi antara dengan Tuhan dan dengan sesama manusia, “hablum minal Allaah wa hablum minan naas”.

Menurut Masdar F. Masudi, Zakat dan Puasa memiliki dua tujuan yang sama yaitu sebagai sarana pensucian.Puasa adalah sarana untuk mensucikan diri dengan cara mengendalikan nafsu makan, minum, seks, emosi dan sebagainya. Sedangkan zakat lebih spesifik pada pensucian harta,dimana harta yang kita dapat ada sebagian darinya yang merupakan hak bagi saudara kita yang tercantum sebagai 8 asnaf (penerima zakat).

Pengelolaan Zakat di Indonesia secara teknis sudah tergolong modern dengan pembentukan lembaga-lembaga zakat dan terakhir penulis dengar seorang wajib zakat bisa membayar zakat melalui sms. Namun secara subtansial zakat masih dipahami secara textual atau tradisional. Pengertian obyek atau sasaran Zakat masih merefer pada zaman semasa Rasulullah Muhammad seperti pertanian, emas, perdagangan,peternakan (onta, domba dll). Memang onta pada masa itu menjadi symbol kekayaan yang dibanggakan. Namun sejalan dengan perkembangan zaman tentu hal tersebut perlu untuk disesuaikan. Definisi amwal yang berarti harta benda atau kekayaan dalam kalimat Hudz min amwaalihim shadaqatan tuthahiruhum…… dalam kontext sekarang tentulah harus disesuaikan. Jabatan dan profesi bisa dimaknai sebagai kekayaan karena keduanya dapat menjadi sumber kehidupan dan menghasilkan harta benda sebagaimana onta dan domba di masa Nabi.

Dengan demikian seorang mentri atau presiden tidaklah layak jika hanya mengeluarkan sekian ton beras dan gula setiap tahun yang mereka anggap sebagai zakat mereka. Sedangkan kebanyakan harta yang mereka miliki bukan hanya dari gaji sebagai president, mentri, ataupun pejabat eselon. Namun tak jarang dari mereka yang merangkap sebagai komisaris sebuah perusahaan, memiliki tanah, villa, emas dan deposit di bank. Jika mengikuti ketentuan zakat maka 2.5% dari total harta masing-masing dari mereka harus dikeluarkan sebagai pembayaran zakat. Sebagaimana pernah dilaporkan oleh sebuah lembaga pemeriksa kekayaan pejabat beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang memiliki total kekayaan senilai 6 milyard rupiah atau bahkan lebih dari itu. Umpamakan saja 6 milyard dikalikan 2.5 % sudah ada sekitar 150 juta rupiah, itu untuk satu pejabat. Asumsinya negara kita mayoritas penduduknya adalah muslim sehingga para pejabatnya pun kebanyakan juga muslim. Hal ini belum termasuk para pedagang, konglomerat, pialang saham, para direktur dan eksekutif.

Memang Zakat sesungguhnya merupakan potensi ekonomi yang amat besar bagi bangsa Indonesia. Jika kita menengok jumlah muslim yang mayoritas di negara kita maka seharusnya zakat bisa menjadi solusi bagi pemecahan masalah kemiskinan di Indonesia. Jumlah muslim yang 90% dari total populasi 200 juta, maka anggap saja muslim yang wajib zakat sekitar 60% sehingga ada sekitar 120 juta penduduk. Jika diasumsikan harga 2.5 Kg beras Rp.5000 maka pada malam hari raya Idul Fitri bisa terkumpul uang sebesar 600 milyard rupiah, itu belum termasuk zakat harta, infaq dan shadaqah para orang kaya dan pejabat yang bisa mencapai 150 juta rupiah per orang. Anggap saja jumlah konglomerat muslim di indonesia ada sekitar 1 juta orang, jika setiap konglomerat membayar zakat 100 juta rupiah maka totalnya bisa mencapai 100 trilyun rupiah. Sehingga bila digabung maka jumlahnya bisa setara dengan APBN kita.

Jika pengelolaan zakat tersebut dapat dilakukan dengan baik maka maka persoalan sosial seperti TKI terlantar, pengungsi, anak jalanan, anak putus sekolah, dan pengangguran akan dapat teratasi. Karena pada dasarnya harta hasil Zakat dapat dikelola menjadi lebih modern dan berdaya guna semisal pemberian beasiswa, pemberian kursus ketrampilan, peminjaman modal usaha dll. Namun sekali lagi yang perlu disayangkan adalah bahwa Zakat masih lebih banyak dimaknai sebagai rutinitas dan ritualitas yang maknanya tak lepas dari 2.5 Kg beras yang dibayarkan menjelang malam Idul Fitri.

Saya mensarankan kepada pelaku survey kemiskinan agar melakukan research kemiskinan di Indonesia menjelang malam Idul Fitri, bisa dipastikan angka kemiskinan akan turun sangat drastis dimalam itu dan jangan melakukan research di hari lain karena seusai shalat Idul fitri angka kemiskinan akan kembali melonjak sangat drastis pula.

Mungkin ini bisa menjadi bahan pemikiran masyarakat deGromist seusai study dan tinggal di Indonesia.Pengelolaan Zakat dapat menjadi salah satu agenda program alumni deGromiest untuk melanjutkan pertautan silaturrahiim diantara kita. Amiin.


Bulan Sabit Pun Bersinar

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketujuh dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Febdian Rusydi.

Sebuah Nasihat Abadi Pada Diri Saya

Tentu kita sudah memikirkan bahwa Bulan tidak memancarkan cahayanya sendiri, melainkan memantulkan dari cahaya Matahari. Namun sudah pernah kah kita memikirkan kenapa dia bisa memantulkan sedemikian rupa? Apakah kalau kita di Bulan juga akan melihat Bumi memantulkan cahaya Matahari?

Ach, tinggalkan dulu pertanyaan itu. Kita nikmati sejenak sinar sang rembulan ini.

Sinar Bulan memang membuat dia indah, tak peduli betapa capuk wajahnya. Lagian berapa banyak yang tahu wajahnya capuk? Sama dengan kegunaannya. “Tentu saja Bulan lebih berguna daripada Matahari. Bulan terbit malam ketika gelap, sementara Matahari terbit siang ketika hari sudah terang,” Begitu seloroh polos Badrun teman saya.

Salah kah mereka? Kalau mereka memang tertipu oleh indahnya sinar sang Bulan, mereka jelas tidak salah. Tahu tertipu pun siapa yang peduli, kala malam datang sinar Bulan menolong mereka menerangi jalan.

Bulan ini mirip-mirip dengan kita. Banyak sekali orang-orang pintar yang terlahir merubah wajah dunia ini. Sebut saja Isaac Newton, hanya dengan memakai persamaan geraknya bangsa Amerika sudah berkali-kali menerbangkan roket bolak-balik Bumi — luar angkasa. Dan banyak lagi contoh orang-orang terkenal lainnya. Mereka itu memang bulan. Suka atau tidak, mereka sudah menerangi beberapa jalan pada kita. Terlepas dari pilihan kita untuk setuju atau tidak, tho wajah peradaban dunia sudah digaris-garisi oleh kehadiran mereka.

Kita juga adalah bulan. Kita mencerahkan orang, dengan segala kelebihan yang kita punya. Namun, wajah kita tak luput dari capuk. Capuk? Ya. Capuk karena kita resah, walau disisi lain orang lain tercerahkan karena kita. Atau capuk karena tak sanggup mencerahkan orang lain. Lebih parah lagi, terang kita seperti bulan sabit.

Tengoklah bulan sabit. Dia tetap bersinar walau cuma separuh atau malah kurang. Sinarnya remang-remang. Coba lah keluar saat bulan sabit bersinar. Jalanan gelappun masih bisa terlihat, walah kadang ga bisa bedakan selokan ama rumput.. Keindahannua juga berkurang. Namun demi praktis kita masih berpikir “selama emang masih bisa menuntun, peduli apa dengan keindahan?”.

Semakin banyak ilmu yang kita pahami, semakin banyak rahasia alam yang kita mengerti, semakin bersinar lah kita. Namun sinar itu belum membuat kita menjadi purnama. Sialnya lagi, malah mulai berpikir seperti Badrun teman saya.

Berapa banyak orang-orang pintar kemudian menafikan keeksistesian Tuhan? Apakah lantas kemudian Tuhan mencabut kasihNya? Atau tiba-tima membuatnya jadi bodoh? Mereka seperti Bulan sabit, tetap bersinar walau cuma separuh.

Sementara itu ada orang-orang seperti Kang Bejo. Siapa yang sangka beliau yang cuma tahu mencangkul begitu bahagia dengan sebatang rokoknya. Dia tidak tahu bahwa alam semesta ini mengembang, dia tidak tahu bahwa paradigma kita tentang dimensi alam semesta harus dirubah, dari 4 ke 11 dimensi, jikalau Superstring Theory adalah benar. Dia malah mungkin masih menganut geometri euclidian. Dia tidak peduli tetangganya berlomba-lomba mencari harta. Baginya hidup adalah kesederhanaan, tak perlu muluk-muluk dengan dunia. Jalani sajalah sambil tetap bersukur. Kesedikittahuannya pada modernisasi justru membuatnya tetap dekat dengan Tuhannya. Dia juga bersinar, walau mungkin hanya untuk dirinya sendiri.

Namun, sebegitukahnya kita sehingga, sengaja atau tidak, mengacuhkan saudara yang lain yang butuh pencerahan? Keegosian tanpa sengaja ini juga ibarat Bulan sabit, bersinar tapi cuma separuh.

Tuhan memang Maha Adil. Bulan purnama bersinar, yang sabitpun bisa bersinar. Walau, kalau kita boleh memilih tentu lebih ingin menjadi purnama. Kecapukan kita mungkin tak terhilangkan. Namun keindahan kita bisa ditambah untuk mengimbangi kecapukan tersebut.

Siapa sih yang ga pengen jadi Bulan Purnama, berotak Newton berhati Kang Bejo?


Istana dalam Lumpur

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keenam dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Agnes Tri Harjaningrum.

Your daily life is your temple and your religion, Kahlil Gibran.

Setiap orang boleh-boleh saja untuk setuju atau antipati dengan kalimat ini. Apalagi jelas-jelas kalimat tersebut ‘hanya’ milik seorang penyair, bukan sebuah hadist maupun ayat-ayat Al Qur’an. Akan tetapi, sebuah ayat Al Qur’an menyebutkan bahwa seekor semut pun terkadang membawa kebenaran. Jadi bisa saja kalimat diatas menyimpan kebenaran bukan? Cerita berikut barangkali bisa sedikit menyingkap betulkah ada kebenaran dalam kalimat sang penyair.

Alkisah, di sebuah kota metropolitan ternama, hiduplah seorang lelaki setengah baya yang kaya raya dan sangat mulia akhlaknya. Hal lain yang menjadikannya istimewa adalah karena senyuman yang selalu tersungging di bibirnya.Tentu saja bukan senyuman milik orang gila, sebab si lelaki masih sangat-sangat waras. Lantas, apa pantasnya lelaki ini dijadikan bahan cerita?

Seperti hidup manusia lainnya, perjalanan kehidupan tak pernah sama. Kadangkala dipenuhi tawa dan bahagia, terkadang pula diiringi tangis dan kesedihan. Terlahir di sebuah dusun terpencil dengan orangtua yang miskin, membuatnya ingin mencicipi kemewahan dunia. Dikaruniai otak yang terbilang lumayan, dikejarnya mimpi melanjutkan studi di kota besar. Berjuang melawan saingan, diraihnya pula impian meneruskan studi di negeri orang. Sepulang dari tanah orang, hidupnya bagai dalam genggaman. Bekerja menjadi pemimpin sebuah perusahaan besar, berapapun uang yang diperlukan tak lagi menjadi hambatan.

Ada pepatah yang bilang, ’semakin tinggi pohon, semakin kencang angin bertiup’, begitu pula kehidupan membawanya. Hidup memang tak lagi kekurangan, namun harga yang harus dibayar pun semakin mahal. Hitam kelamnya dunia bisnis dan persaingan terkadang memusingkan kepalanya setiap hari. Dihina, dicaci dan dibenci oleh lawan menjadi makanannya sehari-hari. Kawan yang menentramkan pun banyak pula dijumpai, namun ulah lawan bisnis ataupun bawahan yang menjengkelkan selalu hadir dalam kehidupannya setiap hari.

Klise memang, cerita biasa mungkin. Namun ternyata, dia lelaki luar biasa. Silih bergantinya masalah yang timbul setiap hari, selalu dilaluinya dengan senyuman. Bukan senyuman palsu karena paksaan, tetapi senyuman tulus dari lubuk hatinya yang juga selalu tersenyum. Kesedihan, kekesalan dan kemarahan yang datang, kegalauan ketika beragam masalah muncul, terkadang memang memporak-porandakan hati dan pikiran. Tetapi semua ‘lumpur’ itu tetap berhasil membuatnya serasa hidup dalam istana. Rasa sedih, rasa marah, kecewa, benci, dendam dan semua rasa negatif yang muncul dihatinya, selalu bisa diolah dan ‘dijinakkan’ sehingga yang muncul hanyalah sebuah senyuman dan kata-kata penuh kedamaian.Tak pernah dibiarkannya si ‘lumpur’ berlama-lama bertengger dalam hatinya. Tidak pernah pula terlontar ucapan dan tingkah laku yang menjengkelkan. Hatinya selalu damai, selalu tentram apapun ‘lumpur’ yang datang. Dia memang istimewa karena telah berhasil membangun istana dalam lumpur di hatinya.

Dia, si lelaki tengah baya, selalu mengingat dan melakukan pesan guru mengajinya di langgar desa dulu. ” Hiduplah seperti Rosulullah nak, ketika berkali-kali diludahi seorang yahudi, sewaktu ditinggal Khodijah-istri yang teramat dicintainya, saat gundah dan gelisah datang melihat tingkah laku umat-umat dan musuhnya, sebagai manusia biasa, rasa sedih, kesal, kecewa, marah, benci,dan berbagai rasa pasti berkunjung juga di hatinya. Namun hatinya laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan dan mengubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan. Hati adalah wadah, kalbu adalah tempat untuk menampung segalanya. Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu mu sendiri, nafsu yang setiap hari mengembara di hatimu, Nak. Ketika kau telah berhasil merubah semua ‘lumpur’ dan segala kepahitan yang muncul di hatimu menjadi kedamaian dan kebahagiaan, dikala itulah kau telah berhasil mengalahkan nafsumu sendiri.”

Kehidupan manusia, siapapun dia, mulai dari abang becak, mahasiswa, direktur sampai artis kenamaan , dalam kesehariannya pasti selalu berjumpa dengan masalah. Ketika itu terjadi, rasa marah, kecewa, kesal, sedih dan beragam rasa ‘lumpur’ lainnya selalu berkunjung ke hati manusia manapun. Bukan hanya seminggu sekali, atau sebulan sekali rasa itu datang, tetapi setiap hari. Manusia yang berhasil meredamnya, merubah semua pahit menjadi bahagia laksana telaga, dialah manusia yang sedang beribadah, berjuang melawan hawa nafsunya sendiri.

Tak perlu jauh-jauh ingin pergi haji jika memang belum mampu, tak usah pergi ke medan perang di Afghanistan kalau memang tak mungkin, tak perlu jua menyesal ketika belum bisa menyantuni anak yatim. Karena sesungguhnya ibadah besar ada dipelupuk mata. Sepele mungkin, sederhana tampaknya, tetapi melaksanakannya tak semudah membalikkan telapak tangan. Mengolah kesal saat dimarahi atasan, menjinakkan marah ketika anak di rumah berlaku menjengkelkan, dan mengatasi berbagai gundah gelisah yang muncul di hati menjadi sebuah nikmat adalah sebuah perjuangan. Sehari-hari meredam diri, menjinakkan hati dari semua ‘lumpur’ yang datang adalah sebuah jihad akbar. ‘Your daily life is your temple and your religion’ menyimpan sebuah kebenaran ketika manusia berhasil melakukannya, membangun istana dalam lumpur di kehidupan sehari-hari.

Wallahualam bissawab.


Edaran KZIS ISNET

Filed under Ramadhan 2004

Berikut ini kami teruskan edaran dari KZIS tentang pembayaran zakat, infaq dan shodaqah. DeGromiest bekerja sama dengan KZIS untuk menerima dan menyalurkan ZIS kepada yang berhak menerima di Indonesia. Besar zakat fitrah adalah 8 euro/jiwa.

Pembayaran zakat fitrah untuk wilayah Groningen dilakukan sebagai berikut:

  • Langsung kepada bendahara deGromiest

  • Transfer bank ke rekening deGromiest

KZIS Perwakilan Groningen, Belanda

Diana Jirjis
Account No : 9690278 a.n. De Gromiest
Bank: Post Bank Groningen
Address : Westerbadstraat 48, 9726 CS Groningen
Phone : 050 116444 atau 0619046578 (mobile)
e-mail : [email protected]


KOMITE ZAKAT, INFAQ DAN SHADAQAH (KZIS) - ISNET
Bogor, 13 Oktober 2004 No : 01/KZIS/X/2004

Kepada :
Jama’ah Pengajian/ Kaum Muslimiin/ Muslimaat
di Manca Negara

Hal : EDARAN/TAWARAN PELAKSANAAN IFTHAR (BUKA BUASA), PENGUMPULAN INFAQ, SHADAQAH, ZAKAT MAAL, ZAKAT FITRAH DAN FIDYAH RAMADHAN

AsSalamu ‘alaikum waRahmatuLLahi waBarokaatuh,

BismiLLahirRahmanirRahim,

Alhamdu lillahi ladzi hadaa naa lihadza, wamaa kunna linah tadiya laulaa an hadaa naa Allah, was sholatu wassalaamu `ala sayyidina Rasulillah Muhammad bin Abdillah, wa `ala aalihi, wasahbihi waman tab`a hudaa hu ila yaumi yal qaahu.

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak yatim, orang-orang miskin, musafir dan orang-orang yang meminta-minta dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertaqwa (QS 2:177).

Saudara-saudara seiman yang dirahmati Allah SWT.

Insya Allah akan tiba bulan yang akan menjadi ladang amal bagi kita, yaitu bulan Ramadhan. Selama sebulan penuh, dengan izin-Nya, kita berharap dapat melaksanakan jihad, ijtihad dan mujahadah, membersihkan diri kita dari niat buruk, dendam, benci, marah, iri hati dan penyakit hati lainnya. Kita berfikir dan bekerja keras mensucikan kehormatan dan diri kita dari maksiat, dosa, kemunafikan dan kefasikan. Dan di penghujung bulan Ramadhan kita akan bersihkan harta kita dari barang haram dan syubhat.

Sungguh, orang-orang baik akan minum dari gelas berisikan kafur, mata air surga yang diminum hamba-hamba Allah, mereka pancarkan airnya melimpah ruah. Mereka penuhi nazar, takutkan hari yang azabnya menyebar. Mereka berikan makanan yang mereka perlukan kepada orang-orang miskin, yatim dan tawanan (seraya berkata): kami berikan kalian makanan hanya karena mengharap ridha Tuhan, kami tak mengharapkan balasan dari kalian, tidak juga ucapan terimakasih (QS 76:5-12).

Inilah tazkiyatul maal, penyucian harta. Harta yang diperoleh dengan kerja keras dan halal. Namun betapapun senangnya kita memiliki harta tersebut, kita dianjurkan untuk menginfaqkan dan menyisihkan sebagiannya buat mereka yang memerlukan, mereka yang menderita, yang melarat dan sengsara, sebagai implementasi kebajikan yang dianjurkan Allah SWT.

Terkait dengan hal itu, kami dari Komite Zakat, Infaq dan Shodaqoh (KZIS) ISNET, Insya Allah bersedia menerima titipan zakat mal, zakat fitrah, fidyah, serta infaq dan shadaqah dari saudara-saudara semuanya untuk disalurkan kepada mereka yang berhak menerima; antara lain, melalui kegiatan-kegiatan yang dipersiapkan di tanah air berikut:

  • Ifthar (buka puasa) Ramadhan bersama anak yatim/-piatu dan kaum dhuafa.

  • Santunan bagi anak-anak yatim/-piatu yang miskin.
  • Santunan bagi orang-tua fakir-miskin.
  • Santunan bagi mu’allaf yang miskin.
  • Pemberian modal usaha bagi mu’allaf yang dha’if.
  • Pemberian modal usaha bagi fakir miskin/dha’if.
  • Dukungan bagi para da’i/da’iah.
  • Santunan untuk pendidikan.
  • Santunan untuk pembangunan tempat peribadatan.
  • Program penyaluran zakat fitrah dan fidyah kepada kaum muslimin yang berhak menerimanya di wilayah Indonesia.

Demikian hal ini kami sampaikan, mudah-mudahan Allah SWT. berkenan meringankan langkah dan melapangkan hati kita untuk senantiasa tunduk dan patuh kepada segala perintahNya. Amin Yaa Robbal ‘Aalamiin.

Bila saudara-saudara yang berkenan menyalurkan ZIS melalui kami, silakan menghubungi relawan KZIS setempat yang tercantum di bawah ini.

JazakaLLahuma khairan katsiran,
WasSalaamu ‘alaikum waRahmatuLLaahi waBarokaatuh,

Ketua ————- Sekretaris

Muaz Junaidi —— Arnita

(*) zakat fitrah untuk wilayah Belanda ditetapkan sebesar 8 EUR/ jiwa

Bendahara Umum KZIS:

Hanies Ambarsari
Balai Teknologi Lingkungan =96 BPPT Gedung 412
Kawasan PUSPITEK Serpong 15314 Tangerang, Banten.
Telp (021) 756-0919
Fax (021) 756-3116
HP 08179998237
[email protected]

Bank Central Asia (BCA) KCP Pamulang
No. Rekening: 4730201023 a/n. Hanies Ambarsari


Agenda Ramadhan 1425

Filed under Ramadhan 2004

Selamat Iedul Fitri 1425 H
Taqobbalallahu Minna Waminkum

Agenda Ramadhan Bersama deGromiest

Sabtu, 16 Okt 04
Buka puasa bersama
Westerbadstraat 48
(Rumah Itob)

* Jam 16.30 - 22.00
* Rapat Nuzulul Quran
* Kultum Pak Sateriadi
* Buka puasa & tarawih

Sabtu, 23 Okt 04
Buka puasa bersama
Wilgenlaan 54
(Rumah Teguh & Margareth)

* Jam 16.30 - 22.00
* Laporan kegiatan deGromiest periode 2003/2004
* “Rasanya menjadi muslim”, bersama seorang Muallaf Belanda
* Buka puasa & tarawih

Jum’at, 29 Okt 04
Peringatan Nuzulul Quran
Tuinzall Academie Gebow

* Jam 18.00 - 21.00
* Buka puasa
* Drama dialog
* Baca Puisi & Lagu
* Serah Terima Kepengurusan

Minggu/31 Oktober 2004
Kuliah Umum Prof. Azyumardi Azra
Waktu : jam 2.45 - 7.00 pm (sharp!!!!)
Tempat : Concordiastraat 67A
Rumah Mas Amal dan Mbak Heni
Agenda : 3.30 - 5.00 pm (kuliah umum dan tanya jawab)
5.xx - selesai (buka puasa dan sholat maghrib)
Rombongan KBRI pulang ke Den Haag.

Sabtu, 6 Nov 04
Buka puasa bersama
Bezettingslaan 30
(Rumah Ismail & Agnes)

* Jam 16.30 - 22.00
* Tema “Islam dan Media”, bersama Mas Tomi Satryatomo (ayah Faiz)
* Diskusi bebas
* Buka puasa & tarawih

11 Nov 04
Hari terakhir pembayaran Zakat Fitr
Melalui Bendahara

* Teknis: lewat transfer bank atau langsung.

Sabtu, 13 Nov 04
Sholat Iedul Fitri

Lokasi: Masjid Selwerd
Waktu: Jam 09.10

Minggu, 14 Nov 04
Halal-bi-Halal

Martini House (Student House)
Hosted by teman2 dari Bappenas
* Jam: ????

20 Nov 04
Perayaan Idul Fitri bersama PPI
Informasi menyusul

* Silaturahmi Iedul Fitri (halal bi halal)
* Pemilihan ketua PPI


Era Teknologi dan Kedewasaan Umat

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kelima dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Bahrul Fuad.

Heboh tentang pemikiran Abu Zayd yang kontroversial tersebut adalah imbas dari kemajuan teknologi Informasi dewasa ini. Ide atau pemikiran yang sebenarnya hanya untuk konsumsi kalangan terbatas menjadi milik publik. Ide pak Abu Zayd tentang Kritik Nalar al Quran, sebenarnya bukanlah barang aneh bagi orang-orang yang pernah belajar Ilmu tafsir lebih khusus sejarah tafsir. Dikalangan anak-anak IAIN jurusan Ilmu Tafsir Hadist pemikiran Abu zayd ini menjadi salah satu kajian bahkan salah satu buku beliau jadi bahan referensi mereka.

Sedikit dari ilmu tafsir, menurut ilmu ini Al-Quran terdiri dari dua unsur pokok. Pertama adalah Text, dia adalah tulisan yang dibuat oleh manusia. Karena Al Quran adalah media komunikasi antara Allah dan manusia. Bahasa Allah yang transendent,qodim,azali dan mutlak tentu tidak akan dapat dipahami oleh manusia. Oleh karena itu butuh perantara, yaitu al Qur’an yang ditulis dengan bahasa Arab. Tentu bukan bahasa Jawa, Padang ataupun Inggris karena memang nabi Muhammad tidak lahir di Padang melainkan di Arab. Menurut para ilmuwan bahasa itu kan produk budaya, simbol-simbol yang dikodifikasikan oleh manusia untuk menandai sesuatu, bisa berupa barang, nama orang dll. Nah yang menjadi persoalan, Kalamullah yang azali,qodim dan mutlak itu harus diterjemshksn dslsm bahasa lisan dan bahkan tulis dari manusia yang sifatnya terbatas. Tentu bahasa tidak mampu sepenuhnya menerjemahkan maksud Allah yang amat agung, universal dan mutlak.

Unsur kedua adalah pesan yang terkandung di balik text itu sendiri. Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa Al Quran itu kan tidak diturunkan Allah gedebug..30 juz seperti sekarang yang kita punya sekarang. Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur selama 23 tahunan untuk menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi oleh ummat kala itu. Maka sesungguhnya urutan Al Quran itu tidak seperti yang kita punya sekarang. Yang pertama kan “Iqra’ bismirabbikal ladhi khalaq” trus yang terakhir kan “Al Yauma Akmaltu lakum diinakum…. ” Nah Al Quran turun itu kan pesannya disampaikan secara general, umum sehingga ummat waktu itu pun ada yang kurang jelas. Sehingga muncullah Hadist sebagai penjelasan Al Quran.

Al Quran sudah berumur lebih dari 1400 tahun. namun tetap utuh tak satupun huruf yang hilang. Seperti janji Allah “Kami yang menurunkan Al Quran dan sesungguhnya kamilah yang akan menjaganya”. maka Insya Allah bunyi Al Quran itu akan abadi hingga yaumil Qiamah. Nah yang menjadi perdebatan para ulama itu kan penafsirannya. Menyingkap pesan di balik text al Quran. Semenjak dahulu, sepeninggal Rasulullah banyak ulama’ yang menafsirkan Al Quran denag beraneka ragam, karena memang sudah tidak ada lagi yang di jadikan tempat klarifikasi (Nabi Muhammad). Sekedar info, madzab fiqih itu sebenarnya bukan hanya 4 tapi ada lebih dari 350 an madzab. Nah lo…

Bagi saya “pribadi” apa yang dilontarkan pak Abu Zayd bahwa Al Quran adalah produk budaya juga tidaklah terlalu salah, untuk tidak mengatakan benar. Dalam konteks memamang Al Quran turun untuk merenpon kondisi masyarakat setempat yang tidak lepas dari budaya setempat juga. (ini untuk saya pribadi bukan untuk ummat).

Saya juga melihat bahwa sebagai konsekuensi dari kemajuan tehnologi informasi, maka ide Abu Zayd ini bisa diakses oleh seluruh lapisan masyarakat. Sehingga menimbulkan berbagai kelompok pro atau kontra yeng sebenarnya bisa memberi keuntungan pada kelompok yang ingin memecah belah ummat Islam. Ide abu zayd yang sebenarnya hanya pada tataran tafsir, seolah-olah menjadi Abu Zayd ingin merubah Al Quran. Sebagai umat Islam seharusnya kita lebih waspada dengan pihak ketiga ini.

Apa yang terjadi pada diri pak zayd bisa dilihat sebagai pergulatan pemikiran atau proses mencari kebenaran seorang anak manusia yang penuh dengan keterbatasan. Sehingga tidak layak bagi kita untuk mencaci maki dia, mengkafirkan dll. Karena kalo kita pertanyakan siapakah sebenarnya yang benar atau yang salah, kita tidak pernah tahu karena Allahlah yang maha tahu. Seperti seorang anak yang bertanya pada ayahnya “bagaimana bentuk Tuhan dan di mana Dia? ” tentu sangat tidak bijaksana kalo ayahnya memarahi anaknya karena pertanyaan yang jujur itu. Begitu pula Allah, dengan sifat rahman rahimnya Dia akan senyum-senyum melihat tingkah pak Abu zayd. Bukan seperti sebagian kita yang mencaci maki bahkan mengkafirkan atau menuduhnya sebagai agen Yahudi dan Kristen. Subhanallaah……Bukankah di Al Quran dikatakan bahwa “janganlah sekali kamu mencaci sebagian dari kamu, karena sesungguhnya kamu belum tentu lebih baik dari yang kamu caci”.

Nah sebagai masyarakat awam saya hanya mengambil hikmah dari dua beda pendapat ini. Sehingga saya sebenarnya punya keuntungan ganda untuk dapat juga belajar dari pemikiran Abu Zayd dan kelompok yang menentangnya. namanya kan kalo ada perbedaan dikalangan ulama’ maka itu kan menjadi rahmah bagi ummatnya.

Saya bersyukur dilahirkan sebagai ummat Islam, karena Islam sangat luas sekali dan kaya akan ilmu pengetahuan. Ini hanya sebagian kecil dari khasanah Islam, kita belum lihat yang lainnya, psikologi, politik, hukum, fisika, biologi dll.


Taubat Tiada Tak Berampun

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan keempat dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Wangsa Tirta Ismaya.

Musim kering belum juga berakhir, walaupun hujan memang sudah mulai turun beberapa kali. Iklim memang sudah mulai berubah, tidak lagi mengikuti mantra pakem yang dipelajari sewaktu masih sekolah dasar dulu.

Sepertinya musim hujan terus bergeser, dan untuk sebagian orang kehadirannya setiap tahun dinantikan seperti halnya tamu agung. Musim hujan menyebabkan suasana yang lebih sejuk, air yang turun dengan melimpah dipandang sebagai berkah yang tak terkira. Anehnya, sering juga pada saatnya tiba malah menimbulkan segala macam bencana seperti banjir dan tanah longsor. Pada kala itu, musim hujan malah dikait-kaitkan sebagai hukuman buat manusia yang semena-mena terhadap lingkungan. Mother nature sedang marah, katanya. Wajar toch, setelah segala macam perbuatan manusia.

Ramadhan, kehadirannya dinanti-nantikan tidak jauh berbeda dengan musim hujan. Ramadhan membawa kesejukan bagi ruh setiap muslim yang sepanjang sebelas bulan terlalaikan oleh kesibukan duniawi. Seperti halnya hujan, bulan Ramadhan penuh dengan cucuran rahmat Allah: pintu-pintu ampunan dan rezeki dibuka lebar-lebar, iblis dan syaithan diikat sehingga umat Islam dapat beribadah dengan tenang dan khusyuk. Ada anehnya? Tentu, bulan Ramadhan juga terkadang dikaitkan dengan menurunnya etos kerja seorang muslim. Benar? Wallahu alam. Tapi satu yang pasti berbeda: tidak ada yang mengatakan bahwa Allah sedang marah.

Mungkin disinilah letak perbedaan musim hujan dan bulan Ramadhan dimulai. Terlepas dari segala macam tindakan yang diambil seorang muslim dalam sebelas bulan lainnya, Allah tidak marah. Allah maha pengampun, Allah justru membukakan pintu maaf untuk apapun yang telah terjadi. Kuncinya hanya satu, meminta maaf. Sulitkah? Tentu tidak karena meminta maaf “hanya” melibatkan harga dan kebanggaan diri, terlumurkan keegoisan dan keangkuhan: saat mulai berdo’a dan memohon agar dosa yang telah diperbuat dimaafkan diikuti dengan alasan dan cerita yang melatarbelakangi mengapa semuanya terjadi ….

Adalah harfiah bahwa manusia berbuat kesalahan dan kerusakan. Sering dikatakan bahwa mengulangi kesalahan yang sama adalah suatu kebodohan karena ketidakmampuan untuk mengambil hikmah dari kesalahan yang dibuat. Adalah baik jika dari suatu kesalahan yang terjadi dapat diambil hikmahnya lalu dijadikan pelajaran agar tidak terulang. Namun bukan berarti tidak ada hikmah dibelakang setiap dosa dan kesalahan yang diulangi. Setiap kali suatu kesalahan diulang, setiap kali itu pula seseorang ditantang untuk mau memohon maaf dengan menanggalkan lindungan rasa malu. Setiap kali taubat diantarkan ke hadapan Allah atas dosa yang dilakukan, entah berapa banyaknya pun telah diulangi, setiap kali itulah Allah melihat kecintaan hamba-Nya. Keinginan seorang hamba untuk memanjatkan taubat, memohon maaf dalam keadaan keimanan tercabik seperti apapun, menunjukkan keinginan suci dari ruh manusia untuk merasa dekat dengan Allah. Usaha untuk mendapatkan kembali perhatian dan kecintaan-Nya yang sebenarnya tidak pernah meninggalkannya.

Taubat yang sesungguhnya dipanjatkan dengan bersih, dilandasi oleh perasaan untuk berbuat lebih baik dan menghindari kesalahan yang telah diperbuat. Sekedar keinginan pun sudah merupakan awal yang bagi Allah bahkan sudah merupakan ungkapan taubat. Dengan tidak bermaksud bahwa manusia boleh melakukan dosa dan kesalahan dengan semena-mena karena Allah pasti akan memaafkan, namun berbuat dosa bukan akhir dari segalanya. Selalu ada kesempatan untuk memulai dan taubat adalah awal yang baik.


Hidup Itu Gampang

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan ketiga dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Hidup ini sebenarnya gampang kok. Kita makan satu piring juga sudah kenyang…, demikian yang diucapkan oleh Bahrul Fuad, salah seorang teman yang dipanggil dengan Cak Fu. Teman satu ini memang istimewa: berbekal kegiatan di LSM di Indonesia, beasiswa dari Ford Foundation mengantarkan menjelajah ilmu sampai di Groningen. Sekalipun diakui bahwa dia terkadang têngêr-têngêr (merasa seperti percaya atau tidak) merenungkan bahwa tidak disangka dan dinyana sampai ke tempat yang jauh sekali dari tempat kelahirannya di Kediri, Jawa Timur.

Benar, hidup itu sebenarnya sederhana, gampang, dan seharusnya menjadi berkah bagi semua orang. Lha untuk apa Gusti Allah meniupkan ruh ke dalam bakal manusia di dalam rahim jika kemudian hanya untuk dibuat bersusah-payah dan menjalani hidup seperti pesakitan yang dipenjara di muka bumi? Apalagi seperti yang dijanjikan sendiri oleh-Nya bahwa semua yang melata pun sudah dijamin rezeki dan penghidupannya, masak terus Gusti Allah lupa dengan janjinya begitu saja.

Makan nasi satu piring cukup; jika tidak ada satu piring, setengah juga dimakan dengan bersyukur. Jika sedang tidak ada juga, ya sudah puasa. Saya pernah menerima telepon dan si pembicara di ujung sana dengan lugasnya menasehati saya, Lha wong orang puasa juga nggak akan mati kok! Iya benar juga: kalau Gusti Allah belum berkehendak saya pergi dari hidup yang fana ini, seharusnya kalau hanya lapar saja tidak akan menyebabkan saya meninggal.

Tapi kok seperti nggaya saya sok “berpuasa karena tidak ada nasi” segala? Bukankah tidak ada nasi, roti pun makanan sehari-hari di Belanda, atau patat, atau jenis lainnya? Esensinya yang lebih penting: bahwa kalau tidak dapat meraih sesuatu yang sepertinya menjadi hak kita, ya monggo kita redakan nafsu yang bergemuruh itu dengan mensyukuri hal lain yang masih kita miliki. Jika orang lain berlomba memiliki mobil pribadi misalnya, dan duit yang kita miliki belum sampai di situ, naik sepeda juga rezeki, bersama-sama penumpang lain di angkot dan bis kota juga rezeki.

Bukankah dengan fasilitas yang lebih bagus, hasil yang diperoleh lebih maksimal? Barangkali benar juga — saya sebut barangkali lho, karena Gusti Allah dalam hal-hal lain juga tidak main seruduk harus yang maksimal. Fotosintesis pada tumbuhan hijau barangkali kalah efisien dibanding pembakaran pada mesin-mesin yang dibuat manusia, namun Pembuatnya sudah memikirkan bahwa hasil akhirnya bukan hanya bermanfaat bagi tumbuhan itu sendiri, namun juga makhluk lain yang menghirup oksigen, hasil dari pembakaran tersebut.

Jangan-jangan pernyataan sederhana tersebut hanya kedok saja karena malas berusaha, bekerja secukupnya, dan setelah itu pasrah. Tentu saja tidak ada orang lain yang tahu persis motivasi setiap orang dengan sikapnya, tidak juga mereka yang menuding seperti itu. Hati yang jernih dan jujur itulah yang dapat menilai dengan tepat. Karena orang malas tentu dikuasai oleh nafsu malasnya, sedangkan orang yang bergemuruh dadanya ingin memiliki semua gunung emas di muka bumi juga dikuasai oleh nafsu kebanggaan yang menyala-nyala.

Ah, bulan Ramadhan sudah menjelang datang. Saya ingin memasukinya untuk lebih menghayati lagi makna hidup yang sebenarnya gampang.


Awal Ramadhan dan Ukhuwah

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan kedua dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ikhlasul Amal.

Menentukan awal bulan Ramadhan merupakan pekerjaan rutin Departemen Agama di negara kita. Lazimnya, mereka membentuk panitia yang bertanggung jawab dan penentuannya berdasarkan rembugan dengan beberapa ahli yang biasanya juga merupakan wakil organisasi massa besar di Indonesia. Di kampung saya dua puluhan tahun lalu, kami menunggu tanda awal Ramadhan dan akhir Ramadhan dari bedug yang ditabuh bertalu-talu di Masjid Jami’ (masjid utama) kecamatan. Pada saat televisi belum banyak dimiliki, informasi dari masjid merupakan cara yang paling praktis dan diikuti oleh banyak orang.

Di kabupaten kami juga terdapat kyai muda “nyentrik” pada zamannya: kyai muda ini membuat teleskop dengan kerangka utama dari pipa paralon. Hasil karyanya sempat ditampilkan di alun-alun kabupaten pada acara Pameran Pembangunan. Selain kami anak-anak lebih dapat membayangkan ilmu falak yang digunakan untuk penentuan tanggal-tanggal penting di almanak hijriyah, merupakan ketertarikan tersendiri mengetahui teleskop yang dibuat oleh kyai dari pondok pesantren.

Mengikuti waktu yang berjalan, kian banyak pengetahuan yang kita dapatkan dalam hal penentuan awal Ramadhan. Media massa melaporkan dengan seksama dan sudah lumrah terdapat tulisan ahli-ahli tentang ilmu falak praktis pada saat-saat seperti sekarang. Pengunjung situs falak seperti yang disusun Ferry M. Simatupang juga meningkat. Ringkasnya, cara penentuan awal Ramadhan sudah menjadi pengetahuan luas yang dapat dipelajari oleh siapapun yang berminat.

Karena menyangkut keyakinan dan dipakai bersama, tetap saja bagi banyak orang perasaan “aman” untuk menjalankan ibadah adalah sesuatu yang penting. Setelah mengikuti banyak pendapat, akhirnya mayoritas orang akan sampai pada pertanyaan, Kalau begitu, kapan saya mulai puasa? Pilihan selanjutnya adalah preferensi pribadi yang boleh jadi tidak secara langsung menggunakan rujukan yang didengar sebelumnya.

Demikianlah, karena di Belanda tidak terdapat Departemen Agama yang secara resmi mengelola penentuan awal Ramadhan, saya mempercakapkan hal ini dengan salah seorang imigran dari Aljazair yang sering saya jumpai di sekolah anak-anak. Karena saya tahu bahwa dia akan menggunakan rujukan pengumuman dari Masjid Selwerd, saya melanjutkan dengan bertanya, Anda cukup yakin dengan tanggal tersebut? Dia menjawab balik, Itu kita tahu dari pengumuman masjid nanti.

Kemudian lebih jauh dari pertanyaan saya, dilanjutkan dengan pandangannya bahwa seharusnya dengan keputusan yang ditetapkan nanti, semua kaum muslimin di negara ini dapat memulai puasa Ramadhan secara bersama-sama. Dia juga tahu bahwa ada perbedaan pandangan, misalnya dari sisi mahzab atau alasan keilmuan, namun dia menekankan bahwa kebersamaan yang dia bayangkan tersebut dalam konteks sebuah jamaah dan ukhuwah Islamiyah.

Karena saya sama sekali tidak berniat beradu argumen dengan dia, saya tidak melanjutkan dengan pertanyaan “yang lebih sulit” misalnya: siapa yang memiliki legitimasi mengeluarkan keputusan; batas yang dimaksud berupa apa (nasional, pakta, area?), karena ada cerita di perbatasan Aljazair dan Tunisia, tempat yang berjarak hanya beberapa kilometer menggunakan tanggal mula Ramadhan yang berbeda; sampai dengan: apakah pengertian ukhuwah Islamiyah itu harus sama sampai dalam persoalan tanggal?

Bagi saya hal itu dapat dipikirkan oleh mereka yang lebih ahli dan memiliki pengaruh, dan barangkali pada prioritas yang kesekian. Yang saya lihat sebagai mutiara pada percakapan tersebut adalah keinginan “orang-orang biasa” untuk berukhuwah dengan sebanyak mungkin orang; yang barangkali dengan pengertian dia sedapatnya, disimbolkan dengan memulai ibadah Ramadhan bersama-sama.

Benarlah, tiga jam kemudian saya bertemu dia lagi dan sudah dibawakan jadwal waktu sholat dari masjid dan ditunjukkan tanggal 1 Ramadhan yang untuk sementara sudah ditentukan oleh pengurus masjid. Bagi saya, tidak lain, hal itu adalah harapan dia agar saya menyambut Ramadhan; dan saya percaya, semua harapan baik sudah merupakan doa.


Daftar Kiyai Online deGromiest

Filed under Ramadhan 2004

Berikut adalah panduan daftar dan jadwal KoG (Kiyai online deGromiest) untuk GPR kita tahun ini. Ingat, ini adalah sekedar panduan, artinya bukan hukum yang wajib diikuti. Jikalau rekan-rekan ada bahan lain yang dikira pantas dan cocok, dipersilakan memuatnya.

Sekedar tip untuk menulis bagi para penulis:
1. Berniatlah menulis bukan untuk menggurui, melainkan berbagi pengalaman dan ilmu, serta belajar.
2. Galilah ide dari keseharian kita, boleh berupa refleksi dari pribadi atau juga hikmah sebuah kejadian yang pernah dialami. Bisa juga, kalau memang sudah jago dan berilmu tinggi, berbagi ilmu kayak ceramah Aa’ Agym.
3. Usahakan ide tersebut terpaut dengan tema utama yang sudah ditetapkan.
4. Jangan takut salah dalil atau salah pemahaman, disini kita saling berbagi dan saling belajar. Kalau ada yang salah, insyaallah akan ada yang membetulkan (mungkin lewat komentar).

Kalaulah ada para KoG yang merasa ga cocok jadwal atau topik, jangan sungkan2 untuk bersabar dan mencoba menerima takdir ini… (artinya: panitia ga terima protes hihi… Becanda ding). Segera kasih tau yaa… Dan kompromikan.

Kita juga masih mengundang rekan2 yang lain untuk berpartisipasi; pak Rico misalnya…, Uni Yulia, Mbak Ike, Tabib Itob, juga suhu ngebor kita Hari…. Dan lain-lain yang ga mungkin disebutkan satu persatu, ayo ayo kita saling berbagi…

Teknis
* Isi materi diluar tanggung jawab Mas Amal, beliau hanya merapikan tulisan sebelum dipasang
* Tulisan diketik dalam format “Plain Text”. Kalau menggunakan MS Words, save-lah dengan extension: .txt
* Artikel maksimal 7 sampai 10 paragraf.

Generalisasi Topik
* H-7: a Perihal penyambutan Ramadhan, b) persiapan puasa
* 10-1: a) Rahmah, b) Hidayah,
* 10-2: a) Pengampunan, b) tobat, c) zakat fitr
* 10-3: a) Lailatur Qadr, b) i’tikaf, c) zakat fitr, d) kembali ke fitr & penyambutan Idul Fitr

Sistem waktu
T1 = H-7 dimulai dari tanggal 7 Oktober 04 (perkara 1 Ramadhan jatuhnya bukan tanggal 15, tidak masalah)
T2 = 10-1 dimulai dari tanggal 1 Ramadhan
T3 = 10-2 dimulai dari tanggal 11 Ramadhan
T4 = 10-3 dimulai dari tanggal 21 Ramadhan

Misal:
Buyung: 7okt:T1a; 3rmd:T2b
Artinya: si Buyung kebagian menulis untuk 7 Oktober dengan topik “Perilah Penyambutan Ramadhan”, dan tanggal 3 Ramadhan dengan topik “Hidayah”.

Daftar kiai Online deGromiest untuk GPR 04
=============================
Nama - Tanggal:Topik
=============================

1. Bang Ismail - 7okt:T1a; 10rmd:T2b; 28rmd:T4a

2. Uda Henry Aspan - 8okt:T1b; 11rmd:T3a; 29rmd:T4b

3. Bang Abdul Gafur - 9okt:T1a; 12rmd:T3b; 30rmd:T4c

4. Cak Fuad - 10okt:T1b; 13rmd:T3c

5. Bang Amirul - 11okt:T1a; 14rmd:T3a

6. Bang Indra - 12okt:T1b; 15rmd:T3b

7. Uda Fahmi - 13okt:T1a; 16rmd:T3c

8. Mas Amal - 14okt:T1b; 17rmd:T3a

9. Mas Adit - 15okt:T1a; 18rmd:T3b

10. Aa’ Teguh - 1rmd:T2a; 19rmd:T3c

11. Kak Senaz - 2rmd:T2b; 20rmd:T3a

12. Kak Agnes - 3rmd:T2a; 21rmd:T4a

13. Kak Ican - 4rmd:T2b ; 22rmd:T4b

14. Koko’ Wangsa - 5rmd:T2a; 23rmd:T4c

15. Bang Farhad - 6rmd:T2b; 24rmd:T4d

16. Pak Toto - 7rmd:T2a; 25rmd:T4a

17. Teteh Yunia - 8rmd:T2b; 26rmd:T4b

18. Uda Buyung - 9rmd:T2a; 27rmd:T4c


Acara Gerakan Perindu Ramadhan

Filed under Ramadhan 2004

Berikut adalah rencana aktivitas deGromiest untuk memeriahkan Ramadhan tahun ini. Rencana aktivitas ini masih terus dimatangkan, namun insyaallah kita tidak bergantung pada seberapa jauh keidealan acara ini.

Semua kritikan dan masukan sila lempar dalam bentuk komentar (di Cafe), mailing list, maupun email pribadi ke febdian [at] febdian.net atau febdian [at] jtan.com.

Daftar isi:
1. Buka Puasa Bersama
2. Artikel Ramadhan Online
3. Zakat Fitrah
4. Tadarus
5. Nuzul Quran
6. Perayaan Idul Fitri

=====================
1. Buka Puasa Bersama
=====================

Tempat:
* Bang Ismail/Mbak Agnes dengan pembicara: Ustad Yasin
* Uda Fahmi/Uni Yulia dengan pembicara: Badr
* Teguh/Margareth dengan pembicara: William Abd Nasse

Cadangan tempat:
* Mas Amal/Mbak Heni,
* Itob/Diana/Mbak Ike,

Acara:
* Secara default dimulai 4.30pm
* dibuka dengan Kuliah Umum dari pembicara,
* diskusi/tanya jawab/berbagi opini
* berbuka dan Maghrib
* Bersantap malam.
* Isya dan taraweh berjamaan

Logistik & biaya:
* Tuan rumah diharapkan kesabarannya menanggung biaya dulu untuk kemudian di-reimburst ke bendahara
* Setiap tamu diharapkan kesadarannya membawa makanan/minuman untuk membantu tuan rumah
* Pembawaan makanan/minuman oleh sukarelawan akan diumumkan setiap hari Rabu setiap minggunya
* Setelah acara berbuka bersama selesai, mari bergotong royong membersihkan ruangan

Yang belum dipastikan:
() Urutan lokasi tempat berbuka - masih menunggu konfirmasi dari Willian Abd Nasse dan Badr

==========================
2. Artikel Ramadhan Online
==========================

Tema:
* H-7: Perihal penyambutan Ramadhan & persiapan puasa
* 10 pertama: Rahmah, Hidayah,
* 10 kedua: Pengampunan, Tobat, zakat fitr
* 10 ketiga: Kemerdekaan (dari dosa & neraka?), i’tikaf, zakat fitr, penyambutan Idul Fitr

Teknis (disarikan dari email Mas Amal):
* Isi materi diluar tanggung jawab Mas Amal, beliau hanya merapikan tulisan sebelum dipasang
* Tulisan diketik dalam format “Plain Text”. Kalau menggunakan MS Words, save-lah dengan extension: .txt
* Artikel maksimal 7 sampai 10 paragraf.

Penulis & Jadwal:
* Lihat posting “Daftar Kiyai Online deGromiest”

===============
3. Zakat Fitrah
===============

* Kerjasama dengan Kzis - Insyaallah Diana akan membantu menjadi tempat pembayaran sebelum disalukan ke Kasis.
* Sadakah ramadhan bisa disalurkan setiap acara buka bersama langsung pada Bendahara deGromiest

==============================
4. Tadarusan di Masjid Selwerd
==============================

Bagi yang mau tadarusan usah taraweh, sila datang ke masjid Selwerd. Untuk iftikaf, deGromiest akan mencoba membantu untuk membicarakan dengan pihak masjid.

==============
5 Nuzul Quran
==============

Waktu & tempat:
* Kemungkinan besar 29/30 Oktober atau 5/6 November (kalau Sabtu ruangan tidak bisa dipinjam, maka acara akan diadakan hari Jumat)
* di Academic gebouw, jam 7pm ~ 9pm

Acara:
* Pembukaan dengan bacaan Al Quran dan tilawah
* Ceramah Nuzul Quran dengan metoda “drama dialog”
* Pembacaan puisi
* Nyanyi, kandidat utama: Doa Khatam Quran (Bimbo)
* Serah terima kepengurusan deGromiest dari yang lama ke yang baru
* Doa bersama

Teknis persiapan:
* Mengingat ini adalah acara puncak dan kudu serius, akan dibentuk tim materi khusus untuk mematangkan acara ini. Tim materi ini yang sudah pasti adalah: Buyung, Bang Is, Mas Amal, Indra, Fuad, dan Goffur, Yunia. Juga diharapkan Uda Fahmi, Henri Aspan, Uda Khairul bergabung bersama. Selanjutnya akan diadakan rapat maraton untuk membicarakan detil acara. Rapat bersifat terbuka, setiap anggota deGromiest dipersilakan datang (Cuma tolong bawa goreng2an dikit lah hehe).

======================
6. Perayaan Idul Fitri
======================

Waktu & Tempat
* Kemungkinan besar di akhir pekan pada minggu 1 Syawal: 19/20 Nov 04
* Bertempat di Academic Gebouw selama 2 jam

Acara:
* Silaturahim,
* Makan-makan
* Acara kesenian(?): baca puisi, nyanyi, dll
* dll?

Teknis:
* deGromiest akan mencoba menggandeng PPI untuk mengadakan acara ini

=============
Perlengkapan
=============

() reporter
* Tugas: menjilid Artikel Ramadhan setiap sekali seminggu dalam bentuk buletin (softcopy, juga bisa menulis reportase kegiatan GPR
* Pelaku: Buyung & Kak Agnes

() Dokumentasi
* tugas: foto2 & film, publikasikan via website
* pelaku resmi: Indra - semua warga deGromiest yang punya kamera dipersilakan menyumbangkan hasil jepretannya.

() Bendahara acara
* Tugas: kalkulasi/taksiran dana, mengumpulkan kuitansi belanjaan tuan rumah buka bersama
* Pelaku: Yunia


Kesadaran dan Pikiran

Filed under Ramadhan 2004

Tulisan pertama dari hajatan Tasbih Ramadhan yang disajikan sepanjang bulan Ramadhan 1425H.
Artikel ini ditulis oleh Ismail Fahmi.

Kang Bejo kini lebih berhati-hati sebelum memasuki pintu Ramadhan. Dengan i’tikad beribadah untuk Gusti Allah semata, langkah diayun. Malam itu, Kang Bejo berjamaah Maghrib bersama anak dan bininya. Sebuah ayat favorit dibacakan pada rakaat pertama:

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (Ulul Albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Ali Imran :191-192).

Selesai sholat, dia tertegun, seolah tersadarkan oleh sebuah pesan yang menarik hatinya dari ayat tersebut. Orang-orang yang berakal adalah orang yang berdzikir, mengingat, atau memiliki kesadaran akan Allah, dan tidak berhenti disitu saja, mereka kemudian bertafakur atau berpikir tentang ciptaanNya. Mengapa dzikir disebut terlebih dahulu? Apakah ada maksud khusus dengan mendahulukan dzikir baru diikuti tafakur?

Terjadilah diskusi hangat dengan anaknya yang kuliah di jurusan filsafat. Meski pendidikannya tidak terlalu tinggi, Kang Bejo memiliki minat yang lumayan dalam hal mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis. Untung ada anaknya yang bisa jadi sparring partner di meja makan.

“Begini Be. Menurut buku yang ane bace, ide, konsep, kebenaran, atau sensasi yang kita pegang itu bisa berasal dari dua sumber. Pertama dari kesadaran awal atau sudah ada dalam diri manusia sejak dulu, dan kedua dari pengalaman. Babe kenal pak modin kita yang bernama Plato kan? Nah, dia bilang kalau ide itu sebenarnya sudah ada dalam diri manusia, tidak perlu dari pengalaman dulu. Untuk mengeluarkan ide itu, barulah manusia melakukan perenungan, mencarian inspirasi, deelel yang berhubungan dengan pikiran. Nah, Om Einstein, Be, tukang balon tetangga kita itu juga bilang kalau imanjinasi itu lebih penting baginya dari pada pengetahuan. Imajinasi ini kan mirip-mirip dengan sensasi yang berasal dari dalam diri manusia.”

“Terus, ape hubungannye?”

“Kayaknya nih Be, hal yang sama sebenarnya juga sudah disampaikan dalam ayat yang Babe baca tadi. Gusti Allah melalui anugerahNya berupa agama Islam, ingin memberitahu manusia betapa pentingnya posisi hati di atas pikiran. Islam mengutamakan kesadaran dalam hati, karena hati lebih luas dan cerdas dari pada pikiran. Ilham, ide atau konsep itu muncul sebenarnya, menurut Pak Kyai Ghazaly, melalui nur yang dipancarkan Gusti Allah ke dalam hati manusia. Ndak perlu pake alasan atau keterangan terlebih dahulu. Kemudian pikiran yang sehat mengikuti ilham itu, mengasahnya, membuktikannya, dan mengalaminya di dunia nyata agar bisa diterangkan dan diterima orang lain.”

“O begitu. So, jika ingin menghasilkan penemuan-penemuan baru, musti rajin mengasah hati ya Le (Tole, red). Termasuk jika ingin bisa memahami AlQuran, menemukan teori-teori baru, deelel.”

“Iya, tapi seperti disebut dalam ayat tadi, ndak cukup dengan cuma merenung, zikir, menyendiri.. Musti bekerja keras, menggunakan pikiran untuk menemukan dan membuktikannya di alam. Kalau ndak mau kerja keras, ya sama aja dengan dukun. Perkara nanti membuahkan hasil atau belum, itu hak prerogatif Allah. Yang penting sikap berusaha dan bekerja ini harus ada. Bukan begitu Be?”

“Wah, pinter kowe le.. Kalau begitu, puasa Ramadhan ini bagus sekali untuk latihan agar hati kita lebih terasah. Agar kesadaran bathiniah semakin tajam. Nanti kita akan lebih banyak membaca Quran, shalat malam, zikir dibanding hari-hari biasa. Ya jangan dilihat pahalanya ya le. Tapi bagaimana kesadaran ini bisa meningkat, bahwa batin kita selalu dekat dengan Allah, selalu diatur oleh Allah, dan semakin cinta sama Allah. Kalau sudah begitu, yang namanya Taqwa akan tumbuh.”

“Betul Be. Kayaknya ada topik baru lagi yang bisa kita diskusikan Be. Yaitu apa dan bagaimana kesadaran dalam hati, batin atau jiwa yang disebut dengan dzikir itu?”

“Ya udah.. cukup dulu. Pusing babe nih lama-lama diskusi sama kamu.”


Kuperpanjang Sujudku

Filed under Ramadhan 2004

Wahai manusia! Sesungguhnya diri-dirimu tergadai karena amal-amalmu, maka bebaskanlah dengan istighfar. Punggung-punggungmu berat karena beban (dosa)-mu, maka ringankanlah dengan memperpanjang sujudmu.” Sabda Lelaki Agung itu ketika menyambut Ramadhan ratusan tahun yang silam, mengandung makna yang sangat dalam.

Rupanya ini penjelasan yang dicari-cari oleh Kang Bejo tentang pertikaian yang terjadi dalam dirinya. Pergumulan seru berlangsung setiap saat antara nafsu, hati dan pikirannya. Dia merasa, setiap ada hal baik atau buruk yang dilakukan, tertorehlah sebuah jejak. Misal, ketika sebuah sukses dipetik, ada sebuah dorongan untuk mengakui kehebatan, kecerdasan, atau kelebihan diri yang membawa sukses itu. Perasaan senang kalau disanjung pun sering muncul tanpa diundang dan tanpa dirasa.

Yang lebih gila lagi (menurut hasil teropong ke dalam dirinya), Kang Bejo sering merasa dia telah melangkah di jalan yang benar, bahkan yang paling benar. Pengetahuannya bahwa Islam, agama yang mengajarkan dia untuk berpuasa Ramadhan, adalah agama penutup yang paling sempurna, membuat dia merasa seolah sudah mendapatkan tiket masuk syurga. Dijamin, garansi 99,9%. Memang, dia tahu bahwa belum tentu dia dijamin selamat, tetapi dia juga tidak tahu, kok ada perasaan tenang dengan cukup beragama Islam dan menjalankan petunjuk dalam manual berIslam.

Suatu malam menjelang Ramadhan dia merenung. “Apa yang mendorongku melakukan ini semua? Mengapa aku menjadi sangat bersemangat mengisi Ramadhan dengan berlomba melakukan amalan yang baik?” tanyanya saat itu. Tahun lalu, dia sudah mengkhatamkan Al-Quran selama Ramadhan. Dia merasa senang karena kalau diibaratkan, ganjarannya sama dengan mengkhatamkan AlQuran sebanyak 6666 kali. Shalat tarawih juga tidak ketinggalan. Dia juga isi dengan amalan-amalan lain yang baik. Semua ini menjadikan dia merasa sudah dalam koridor kebenaran. “Tapi, mengapa tanpa terasa, aku mudah memandang salah orang lain, atau merasa lebih dari orang lain? Kenapa amalan-amalan itu seolah menumbuhkan kesombongan spiritual? Kenapa penyakit-penyakit hatiku masih tumbuh subur? Masih mudah telingaku menjadi merah kalau dikritik atau dipojokkan orang? Kenapa?” genderang pertanyaan bertubi-tubi mendera hatinya.

Kang Bejo, seolah mendapat pencerahan baru. Khutbah Sang Lelaki Agung ratusan tahun silam, menggema kembali di kalbunya. “Diriku ternyata belum merdeka. Ikatan keakuanku, yang meng-aku-aku segala yang kuterima, telah membuatku lupa. Amalan-amalan yang kulakukan, hanya berujung pada penggadaian diriku pada keakuanku. Astaghfirullah…. Duh Gusti… ampunilah aku..,” tersungkur dia di atas sajadah panjang. Seperti baja dalam kawah, luluh lantak keakuannya.

Sujud, sujud, dan sujud lah Kang Bejo di atas sajadah panjang kehidupannya. Dia sujud, melalui dialog dengan sang ego, agar sudi berserah diri kepada Gusti Allah. Dia sujud, melalui puasa seluruh jiwa-raga, agar lemah segala unsur keakuannya dan mengakui ke-AKU-anNya atas segala yang terjadi. Dia sujud, dengan mensyukuri hadirnya kekurangan, penderitaan dan penyakit. Dia sujud, melalui penerimaan yang ikhlas atas segala yang menimpanya, baik itu sanjungan ataupun cacian, kesuksesan maupun kegagalan. Dia sujud, bersama para tamu agung yang dihadirkan Tuhan untuk mengajarinya tentang kehidupan.

Itulah ilham yang dihadirkan Gusti Allah kepada Kang Bejo di malam yang sunyi. “Ya Allah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku adalah untukMu. Bimbinglah aku ya Gusti, agar aku bisa menjalani Ramadhan kali ini dengan hikmah dariMu. Agar aku beribadah hanya untukMu semata, bukan untuk mendapatkan hadiah-hadiah dariMu. Dan berilah hidayah kepadaku untuk memahami makna berserah diri ini…”

Kang Bejo seperti mendapatkan energi baru. Dia solah melihat dunia di depan matanya dengan warna-warni yang indah. Duka-lara, sedih-gembira, kemiskinan-kekayaan, kebodohan-kepandaian,… semua indah, memperkaya pelangi kehidupan. Dia pun ingin berterimakasih kepada semua tamu agung — baik yang berbaju penyakit, hutang, kemiskinan, musuh, keterasingan, dll — yang membawa pesan penting dari Gusti Allah. Semua itu dihadirkan agar dia kembali berpikir. Agar dia kembali merenung. Agar dia kembali membuka mata hati.

Marhaban Ya Ramadhan…
Ijinkan aku kali ini memasukimu dengan segala ketidakpunyaanku..