Archives for “diary ramadhan”

Diary Ramadhan - Edisi 7 Ramadhan 1433H

Sejak berjamurnya Account social seperti Facebook, Twitter, Friendster and other networking. Banyak hal bisa diamati terutama terjadinya tingkat kenarsisan, suka pamer, sering mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Bagaimana tidak salah!!! Coba kita amati terutama FB and twitter betapa banyak pengguna account salah mengguna wall/tweet mereka sebagai tempat berdoa, bukankah agama “Islam”? Telah mengatur Waktu-waktu untuk berdoa mustajab. Antara lain:
“Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di ‘Arafah, ketika menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya, Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan, Di tengah malam, Di antara adzan dan iqamat, Ketika I’tidal yang akhir dalam shalat, Ketika sujud dalam shalat, Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz, Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur, Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu, antara Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Maghrib, Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis dan Pada waktu minum air zam-zam”
Tempat-tempat baik untuk berdoa “Di kala melihat Ka’bah, Di kala me1ihat masjid Rasulullah Saw, Di tempat dan di kala melakukan thawaf, Di sisi Multazam. Di dalam Ka’bah, Di sisi sumur Zamzam, Di belakang makam Ibrahim, Di atas bukit Shafa dan Marwah, Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.
Nah seperti dijelaskan di atas jelas bahwa tempat dan waktu mustajab berdoa, bukan saat buka Facebook/twitter, sebaiknya social networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Karena Allah tidak menyukai hamba yang suka mengeluh.
Dan tanpa kita sadari, kita lebih banyak mengadu masalah di efbe dari pada mengadu kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala, lebih mengutamakan update status daripada shalat dan dzikir kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala.
Hendaknya kita mengeluh di tempat yang tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam al-Quran “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86)”, Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran.
Menurut pengamatan ternyata social networking merupakan wadah paling empuk bagi seseorang untuk mengeluh, pamer, galau, nasris dan berdoa di tempat yang salah. Ada berbagai varian doa yang tertulis dalam Facebook, bahkan bingung juga apakah benar-benar berdoa atau mengeluh dengan cantik. Bukan tidak boleh dan melarang teman berdoa lewat Facebook atau twitter, bahkan Islam memperoleh kita berdoa dimana dan kapan pun kecuali di toilet/kamar mandi. Tetapi akan lebih elok dan berkah doa yang kita untaikan di tempat-tempat telah dicontohkan Rasulullah SAW seperti paparan di atas. Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan, ingin diketahui publik dan ajang narsis.
Hal seperti itu takutnya akan berdampak pula dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi manusia tidak disukai atau dijauhi oleh teman, relasi dan keluarga. Bagaimana bisa dijauhi? Ya iyalah siapa juga mau bertemen dengan orang yang suka mengeluh, pamer, galau dan narsis. Sebelum itu benar-benar terjadi dalam kehidupan kita, mari account social dimanfaatkan, dipergunakan, dikelola sebagai ajang silaturahim.
Berikut contoh doa kopas (copy paste) status teman FB “Ya Allah…jika Canon EOS 7D layak untukku…dekatkan ia… dan jika Engkau tambahkan lensa EF-S 15-85mm IS juga tak apa, dengan senang hati ya Allah… amiiin… nuhun buat yang udah ikut mengAminkan… :) hehe”. Coba teman analisis dan amati doa tersebut di antara berharap dan bercanda. (masih banyak lagi doa’-doa diungkapkan lewat FB/Twitter antara galau, narsis dan bercanda).
Yuk ukhti wa ikhwan jangan sampai kita terikut pula dengan behaviour seperti itu suka mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Dan mari kita pergunakan account social untuk menebar semangat, kebaikan, menebar syukur, silaturahim dan taujih bukan menebar keluh kesah, galau dan narsis tiada ujung. Status tertulis bukan mendapat solusi kongkret malah sebaliknya diguyonin dan diketawakan dengan tujuan tidak jelas.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21594/berdoa-kok-di-fb/#ixzz21j3KGtmD


Diary Ramadhan - Edisi 4 Ramadhan 1433H

Ada beberapa tanda-tanda yang menunjukkan iman sedang lemah. Setidaknya ada 22 tanda yang dijabarkan dalam artikel ini. Tanda-tanda tersebut adalah:
1. Ketika Anda sedang melakukan kedurhakaan atau dosa. Hati-hatilah! Sebab, perbuatan dosa jika dilakukan berkali-kali akan menjadi kebiasaan. Jika sudah menjadi kebiasaan, maka segala keburukan dosa akan hilang dari penglihatan Anda. Akibatnya, Anda akan berani melakukan perbuatan durhaka dan dosa secara terang-terangan.

Ketahuilah, Rasululllah saw. pernah berkata, “Setiap umatku mendapatkan perindungan afiat kecuali orang-orang yang terang-terangan. Dan, sesungguhnya termasuk perbuatan terang-terangan jika seseirang melakukan suatu perbuatan pada malam hari, kemudian dia berada pada pagi hari padahal Allah telah menutupinya, namun dia berkata, ‘Hai fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begini,’ padahal sebelum itu Rabb-nya telah menutupi, namun kemudian dia menyibak sendiri apa yang telah ditutupi Allah dari dirinya.” (Bukhari, 10/486)

Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada pezina yang di saat berzina dalam keadaan beriman. Tidak ada pencuri yang si saat mencuri dalam keadaan beriman. Begitu pula tidak ada peminum arak di saat meminum dalam keadaan beriman.” (Bukhari, hadits nomor 2295 dan Muslim, hadits nomor 86)

2. Ketika hati Anda terasa begitu keras dan kaku. Sampai-sampai menyaksikan orang mati terkujur kaku pun tidak bisa menasihati dan memperlunak hati Anda. Bahkan, ketika ikut mengangkat si mayit dan menguruknya dengan tanah. Hati-hatilah! Jangan sampai Anda masuk ke dalam ayat ini, “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (Al-Baqarah:74)

3. Ketika Anda tidak tekun dalam beribadah. Tidak khusyuk dalam shalat. Tidak menyimak dalam membaca Al-Qur’an. Melamun dalam doa. Semua dilakukan sebagai rutinitas dan refleksi hafal karena kebiasaan saja. Tidak berkonsentrasi sama sekali. Beribadah tanpa ruh. Ketahuilah! Rasulullah saw. berkata, “Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main.” (Tirmidzi, hadits nomor 3479)

4. Ketika Anda terasas malas untuk melakukan ketaatan dan ibadah. Bahkan, meremehkannya. Tidak memperhatikan shalat di awal waktu. Mengerjakan shalat ketika injury time, waktu shalat sudah mau habis. Menunda-nunda pergi haji padahal kesehatan, waktu, dan biaya ada. Menunda-nunda pergi shalat Jum’at dan lebih suka barisan shalat yang paling belakang. Waspadalah jika Anda berprinsip, datang paling belakangan, pulang paling duluan. Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Masih ada saja segolongan orang yang menunda-nunda mengikuti shaff pertama, sehingga Allah pun menunda keberadaan mereka di dalam neraka.” (Abu Daud, hadits nomor 679)

Allah swt. menyebut sifat malas seperti itu sebagai sifat orang-orang munafik. “Dan, apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas.”

Jadi, hati-hatilah jika Anda merasa malas melakukan ibadah-ibadah rawatib, tidak antusias melakukan shalat malam, tidak bersegera ke masjid ketika mendengar panggilan azan, enggan mengerjakan shalat dhuha dan shalat nafilah lainnya, atau mengentar-entarkan utang puasa Ramadhan.

5. Ketika hati Anda tidak merasa lapang. Dada terasa sesak, perangai berubah, merasa sumpek dengan tingkah laku orang di sekitar Anda. Suka memperkarakan hal-hal kecil lagi remeh-temeh. Ketahuilah, Rasulullah saw. berkata, “Iman itu adalah kesabaran dan kelapangan hati.” (As-Silsilah Ash-Shahihah, nomor 554)

6. Ketika Anda tidak tersentuh oleh kandungan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak bergembira ayat-ayat yang berisi janji-janji Allah. Tidak takut dengan ayat-ayat ancaman. Tidak sigap kala mendengar ayat-ayat perintah. Biasa saja saat membaca ayat-ayat pensifatan kiamat dan neraka. Hati-hatilah, jika Anda merasa bosan dan malas untuk mendengarkan atau membaca Al-Qur’an. Jangan sampai Anda membuka mushhaf, tapi di saat yang sama melalaikan isinya.

Ketahuilah, Allah swt. berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (Al-Anfal:2)

7. Ketika Anda melalaikan Allah dalam hal berdzikir dan berdoa kepada-Nya. Sehingga Anda merasa berdzikir adalah pekerjaan yang paling berat. Jika mengangkat tangan untuk berdoa, secepat itu pula Anda menangkupkan tangan dan menyudahinya. Hati-hatilah! Jika hal ini telah menjadi karakter Anda. Sebab, Allah telah mensifati orang-orang munafik dengan firman-Nya, “Dan, mereka tidak menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali.” (An-Nisa:142)

8. Ketika Anda tidak merasa marah ketika menyaksikan dengan mata kepala sendiri pelanggaran terhadap hal-hal yang diharamkan Allah. Ghirah Anda padam. Anggota tubuh Anda tidak tergerak untuk melakukan nahyi munkar. Bahkan, raut muka Anda pun tidak berubah sama sekali.

Ketahuilah, Rasulullah saw. bersabda, “Apabila dosa dikerjakan di bumi, maka orang yang menyaksikannya dan dia membencinya –dan kadang beliau mengucapkan: mengingkarinya–, maka dia seperti orang yang tidak menyaksikannya. Dan, siapa yang tidak menyaksikannya dan dia ridha terhadap dosa itu dan dia pun ridha kepadanya, maka dia seperti orang yang menyaksikannya.” (Abu Daud, hadits nomor 4345).

Ingatlah, pesan Rasulullah saw. ini, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Kalau tidak sanggup, maka dengan hatinya, dan ini adalah selemah-lemahnya iman.” (Bukhari, hadits nomor 903 dan Muslim, hadits nomor 70)

9. Ketika Anda gila hormat dan suka publikasi. Gila kedudukan, ngebet tampil sebagai pemimpin tanpa dibarengi kemampuan dan tanggung jawab. Suka menyuruh orang lain berdiri ketika dia datang, hanya untuk mengenyangkan jiwa yang sakit karena begitu gandrung diagung-agungkan orang. Narsis banget!

Allah berfirman, “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Luqman:18)

Nabi saw. pernah mendengar ada seseorang yang berlebihan dalam memuji orang lain. Beliau pun lalu bersabda kepada si pemuji, “Sungguh engkau telah membinasakan dia atau memenggal punggungnya.” (Bukhari, hadits nomor 2469, dan Muslim hadits nomor 5321)

Hati-hatilah. Ingat pesan Rasulullah ini, “Sesungguhnya kamu sekalian akan berhasrat mendapatkan kepemimpinan, dan hal itu akan menjadikan penyesalan pada hari kiamat. Maka alangkah baiknya yang pertama dan alangkah buruknya yang terakhir.” (Bukhari, nomor 6729)

“Jika kamu sekalian menghendaki, akan kukabarkan kepadamu tentang kepemimpinan dan apa kepemimpinan itu. Pada awalnya ia adalah cela, keduanya ia adalah penyesalan, dan ketiganya ia adalah azab hati kiamat, kecuali orang yang adil.” (Shahihul Jami, 1420).

Untuk orang yang tidak tahu malu seperti ini, perlu diingatkan sabda Rasulullah saw. yang berbunyi, “Iman mempunyai tujuh puluh lebih, atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menghilangkan sesuatu yang mengganggu dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari keimanan.” (Bukhari, hadits nomor 8, dan Muslim, hadits nomor 50)

“Maukah kalian kuberitahu siapa penghuni neraka?” tanya Rasulullah saw. Para sahabat menjawab, “Ya.” Rasulullah saw. bersabda, “Yaitu setiap orang yang kasar, angkuh, dan sombong.” (Bukhari, hadits 4537, dan Muslim, hadits nomor 5092)

10. Ketika Anda bakhil dan kikir. Ingatlah perkataan Rasulullah saw. ini, “Sifat kikir dan iman tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba selama-lamanya.” (Shahihul Jami’, 2678)

11. Ketika Anda mengatakan sesuatu yang tidak Anda perbuat. Ingat, Allah swt. benci dengan perbuatan seperti itu. “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tiada kamu perbuat.” (Ash-Shaff:2-3)

Apakah Anda lupa dengan definisi iman? Iman itu adalah membenarkan dengan hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan. Jadi, harus konsisten.

12. Ketika Anda merasa gembira dan senang jika ada saudara sesama muslim mengalami kesusahan. Anda merasa sedih jika ada orang yang lebih unggul dari Anda dalam beberapa hal.

Ingatlah! Kata Rasulullah saw, “Tidak ada iri yang dibenarkan kecuali terhadap dua orang, yaitu terhadap orang yang Allah berikan harga, ia menghabiskannya dalam kebaikan; dan terhadap orang yang Allah berikan ilmu, ia memutuskan dengan ilmu itu dan mengajarkannya kepada orang lain.” (Bukhari, hadits nomor 71 dan Muslim, hadits nomor 1352)

Seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Orang Islam yang manakah yang paling baik?” Rasulullah saw. menjawab, “Orang yang muslimin lain selamat dari lisan dan tangannya.” (Bukhari, hadits nomor 9 dan Muslim, hadits nomor 57)

13. Ketika Anda menilai sesuatu dari dosa apa tidak, dan tidak mau melihat dari sisi makruh apa tidak. Akibatnya, Anda akan enteng melakukan hal-hal yang syubhat dan dimakruhkan agama. Hati-hatilah! Sebab, Rasulullah saw. pernah bersabda, “Barangsiapa yang berada dalam syubhat, berarti dia berada dalam yang haram, seperti penggembala yang menggembalakan ternaknya di sekitar tanaman yang dilindungi yang dapat begitu mudah untuk merumput di dalamnya.” (Muslim, hadits nomor 1599)

Iman Anda pasti dalam keadaan lemah, jika Anda mengatakan, “Gak apa. Ini kan cuma dosa kecil. Gak seperti dia yang melakukan dosa besar. Istighfar tiga kali juga hapus tuh dosa!” Jika sudah seperti ini, suatu ketika Anda pasti tidak akan ragu untuk benar-benar melakukan kemungkaran yang besar. Sebab, rem imannya sudah tidak pakem lagi.

14. Ketika Anda mencela hal yang makruf dan punya perhatian dengan kebaikan-kebaikan kecil. Ini pesan Rasulullah saw., “Jangan sekali-kali kamu mencela yang makruf sedikitpun, meski engkau menuangkan air di embermu ke dalam bejana seseorang yang hendak menimba air, dan meski engkau berbicara dengan saudarmu sedangkan wajahmu tampak berseri-seri kepadanya.” (Silsilah Shahihah, nomor 1352)

Ingatlah, surga bisa Anda dapat dengan amal yang kelihatan sepele! Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa yang menyingkirkan gangguan dari jalan orang-orang muslim, maka ditetapkan satu kebaikan baginya, dan barangsiapa yang diterima satu kebaikan baginya, maka ia akan masuk surga.” (Bukhari, hadits nomor 593)

15. Ketika Anda tidak mau memperhatikan urusan kaum muslimin dan tidak mau melibatkan diri dalam urusan-urusan mereka. Bahkan, untuk berdoa bagi keselamatan mereka pun tidak mau. Padahal seharusnya seorang mukmin seperti hadits Rasulullah ini, “Sesungguhnya orang mukmin dari sebagian orang-orang yang memiliki iman adalah laksana kedudukan kepala dari bagian badan. Orang mukmin itu akan menderita karena keadaan orang-orang yang mempunyai iman sebagaimana jasad yang ikut menderita karena keadaan di kepala.” (Silsilah Shahihah, nomor 1137)

16. Ketika Anda memutuskan tali persaudaraan dengan saudara Anda. “Tidak selayaknya dua orang yang saling kasih mengasihi karean Allah Azza wa Jalla atau karena Islam, lalu keduanya dipisahkan oleh permulaan dosa yang dilakukan salah seorang di antara keduanya,” begitu sabda Rasulullah saw. (Bukhari, hadits nomor 401)

17. Ketika Anda tidak tergugah rasa tanggung jawabnya untuk beramal demi kepentingan Islam. Tidak mau menyebarkan dan menolong agama Allah ini. Merasa cukup bahwa urusan dakwah itu adalah kewajiban para ulama. Padahal, Allah swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kalian penolong-penolong (agama) Allah.” (Ash-Shaff:14)

18. Ketika Anda merasa resah dan takut tertimpa musibah; atau mendapat problem yang berat. Lalu Anda tidak bisa bersikap sabar dan berhati tegar. Anda kalut. Tubuh Anda gemetar. Wajah pucat. Ada rasa ingin lari dari kenyataan. Ketahuilah, iman Anda sedang diuji Allah. “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: Kami telah beriman, sedang mereka belum diuji.” (Al-Ankabut:2)

Seharusnya seorang mukmin itu pribadi yang ajaib. Jiwanya stabil. “Alangkah menakjubkannya kondisi orang yang beriman. Karena seluruh perkaranya adalah baik. Dan hal itu hanya terjadi bagi orang yang beriman, yaitu jika ia mendapatkan kesenangan maka ia bersyukur dan itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia tertimpa kesulitan dia pun bersabar, maka hal itu menjadi kebaikan baginya.” (Muslim)

19. Ketika Anda senang berbantah-bantahan dan berdebat. Padahal, perbuatan itu bisa membuat hati Anda keras dan kaku. “Tidaklah segolongan orang menjadi tersesat sesudah ada petunjuk yang mereka berada pada petunjuk itu, kecuali jika mereka suka berbantah-bantahan.” (Shahihul Jami’, nomor 5633)

20. Ketika Anda bergantung pada keduniaan, menyibukkan diri dengan urusan dunia, dan merasa tenang dengan dunia. Orientasi Anda tidak lagi kepada kampung akhirat, tapi pada tahta, harta, dan wanita. Ingatlah, “Dunia itu penjara bagi orang yang beriman, dan dunia adalah surga bagi orang kafir.” (Muslim)

21. Ketika Anda senang mengucapkan dan menggunakan bahasa yang digunakan orang-orang yang tidak mencirikan keimanan ada dalam hatinya. Sehingga, tidak ada kutipan nash atau ucapan bermakna semisal itu dalam ucapan Anda.

Bukankah Allah swt. telah berfirman, “Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: ‘Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia’.” (Al-Israa’:53)

Seperti inilah seharusnya sikap seorang yang beriman. “Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: ‘Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil.’” (Al-Qashash:55)

Nabi saw. bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau diam.” (Bukhari dan Muslim)

22. Ketika Anda berlebih-lebihan dalam masalah makan-minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan. Gandrung pada kemewahan yang tidak perlu. Sementara, begitu banyak orang di sekeliling Anda sangat membutuhkan sedikit harta untuk menyambung hidup.

Ingat, Allah swt. telah mengingatkan hal ini, ”Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (Al-A’raf:31). Bahkan, Allah swt. menyebut orang-orang yang berlebihan sebagai saudaranya setan. Karena itu Allah memerintahkan kita untuk, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang terdekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan, dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (Al-Isra’:26)

Rasulullah saw. bersabda, “Jauhilah hidup mewah, karena hamba-hamba Allah itu bukanlah orang-orang yang hidup mewah.” (Al-Silsilah Al-Shahihah, nomor 353).

Sumber : http://www.dakwatuna.com/2008/22-tanda-iman-anda-sedang-lemah/


The new crescent moon has been sight in the night sky. All the Muslims around the world  recite takbir on the biggest day of the year. Yeah, after the completion of ramadhan fasting, it’s time now to celebrate Eid ul fitr. Actually, Eid is not a celebration of the end of fasting. Eid is a celebration of gratitude to Allah for his blessing in our life and a moment to express best wishes to all brothers and sisters.

Every Eid I always do a tradition called ‘mudik‘, which means going back home, to celebrate Eid with my parents and all family members. But, Eid this year is a bit different for me because I had to celebrate Eid in groningen, netherlands. It was my first time celebrating Eid far away from Indonesia. Eid in netherlands is called Suikerfeest which means sweet feast. It was adapted from the tradition of Eid in Turkey which called Seker Bayrami (Bayram of Sweets). Do you know why it’s called sweet feast? because turkish people always have a lot of sweet foods and cakes which specially made for eid celebration.

The atmosphere of eid here is really different from eid in Indonesia. You know, for indonesian people, Eid is the biggest festival of the year. We call it ‘lebaran‘, which literally means ‘the end of something’, in this case, the end of fasting month. All Government offices and private organizations are closed on Eid day. Here in netherlands, Eid is not declared as national public holiday and the celebration is hmm.. quite simple. Well.. it’s maybe because muslim are the minority here. Most muslim here are from Turkey, Marocco, and Indonesia.

So, how was our Eid celebration? This year, Indonesian muslim student association, PPIG-deGromiest, organized the eid celebration for Indonesian muslim in groningen. The Eid prayer was held in De Holm, near the city centre of groningen. We started by takbir at 07.00 in the morning, followed by shalat (pray) and khutbah (speech), and ended by ‘halal bi-halal’ to ask forgiveness from everyone.

After the Eid prayer, we all went to our friends house, to gather, and of course.. to eat. Hha.. the celebration of Eid ul Fitr is not complete without food. It’s always a tradition to have special eid dish. There we had typical indonesian food like rendang (beef curry),  opor ayam (coconut chicken), lontong (rice cake), and some sweet foods for dessert. Unfortunately, we don’t have ketupat on our table. Yeah.. ketupat (rice steamed in woven packets of coconut fronds) is really special because it is a symbol of Eid ul-Fitr feast in Indonesia. Overall we really enjoyed the food there. Even though we far away from home and couldn’t have our Eid with our family, we could still feel Indonesian eid atmosphere here. Thank you for everyone here for being a great friend and family.

Here are a few moments of our Eid ul fitr celebration in Groningen

We started eid celebration by takbir early in the morning

Khutbah, eid ul Fitr speech by Ustad Muizz

Kids also join eid prayer and kutbah

‘Halal bi halal’ to ask forgiveness from everyone

Family and friends in groningen

Special eid dish, without ketupat..

Special eid dish including opor ayam and rendang..

Everbody really enjoyed the food

Kids celebrate eid in their own way.. :)

Well, that is how we celebrate Eid here. Ramadhan fasting and Eid ul Fitr in Neterlands where Muslims are the minority was definitely a great experience.

Greetings from us here in Groningen!

Happy Eid everyone!
Minal a’idin wal faizin
May Allah bless us and gives us all the kindness..

Groningen, 31 Agustus 2011

Irfan Prabudiansyah

Foto:  Surahyo Sumarsono and Amel Arramel


Diary Ramadhan - Edisi 16 Ramadhan 1432H
0leh: Kang Wahono
———————————————————————————
Sebagai seorang manusia, tak dapat dipungkiri bahwa kehilangan seseorang yang dekat dengan kita bahkan dicintai pasti menyisakan duka.
Bagaimana Rasulullah Saw mencontohkan saat kita berada dalam situasi ini?

Di saat seorang sahabat Rasulullah Saw kehilangan salah seorang anaknya, Nabi menyampaikan sebuah hadis qudsi di tengah kerumuman sahabat-sahabatnya.

Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku.
Allah bertanya kepada malaikatNYA “Sudahkah engkau cabut ruh hambaKU? “Sudah ya Allah”, jawab malaikat. Kemudian Allah SWT kembali bertanya “Sudahkah engkau cabut ruh buah hatinya?”. Malaikat menjawab, “Sudah ya Allah”.
Allah bertanya “Apa yang diucapkan oleh hambaKU itu?”, malaikat pun menjawab “Dia memuji Engkau ya Allah dan beristirja”.
Allah Ta’ala kemudian berkata “Buatkanlah baginya rumah yang indah di surga dan jadikanlah rumah itu selalu dipuji oleh siapapun yang melihatnya kelak (baitul hamd)”. (H.R. Ahmad)

Berat, berat atas kehilangan orang yang sangat kita sayangi. Seseorang yang menghadapi ujian ini hendaklah bersabar dan beristirja yaitu mengucapkan innalillaahi wainna ilaihi roji’un. Kata sederhana yang tersurat dalam Al Qur’an ini menyiratkan kesadaran bahwa semua yang ada di muka bumi ini, bahkan alam semesta adalah milik Allah SWT semata. Tiada yang kekal di alam ini selain Allah SWT.
Rasulullah Saw bersabda bahwa menakjubkan keadaan seorang mu’min itu, segala urusan menjadi baik untuknya. Jika ia peroleh kesenangan/ni’mat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Dan bila ia ditimpa kesusahan, kemalangan (segala yang tidak mengenakkan baginya), ia bersabar dan yang demikian itu baik baginya.

Rasulullah Sa pun mengajarkan do’a yang sangat indah bagi kita yang ditimpa musibah
Ya Allah, jadikanlah hatiku ridha untuk menerima segala ketetapanMU dan berkahilah segala apa yang Engkau takdirkan bagiku agar aku tidak ingin mempercepat apa yang Engkau lambatkan bagiku dan agar aku tidak ingin memperlambat apa yang Engkau cepatkan bagiku. (H.R. Ibnu Sunni)

Dalam suatu kesempatan, kanjeng nabi pernah mengabarkan kepada para sahabatnya
Jibril datang kepadaku dan mengatakan “Wahai Muhammad, hiduplah semaumu; namun sungguh engkau akan mati. Cintailah seseorang sesukamu, tapi sungguh engkau akan berpisah darinya. Dan berbuatlah sesukamu, sungguh engkau akan dimintai pertanggungjawaban kelak”. “Ketahuilah bahwa kemuliaan seseorang terletak pada shalat malamnya dan kewibawaannya terletak pada sikap merasa cukup dari bantuan orang lain”. (H.R. Bukhari-Muslim)

Kabar Jibril itu sangat penting bagi Rasulullah Saw. Beliau seolah tersadar bahwa tidak lama lagi, seseorang yang ia cintai akan berpisah darinya. Dan itu benar-benar terjadi ketika Khadijah r.a., istri yang mencintai dan sangat dicintai, setia menemani beliau, wafat.
Allah SWT ingin mengingatkan nabi bahwa derajat cinta kepada sesama makhluk tidaklah sebanding dengan cinta kepada sang Maha Cinta, Rabbal ‘Aalamiin.


Diary Ramadhan - Edisi 15 Ramadhan 1432H

Setengah abad yang lalu amat mudah mendapatkan kota atau negeri yang homogen, dihuni oleh satu kelompok etnik, budaya atau agama tertentu. Tapi sekarang tidak lagi. Mobilitas penduduk yang bergerak sangat dinamis, didukung oleh perkembangan iptek yang luar biasa, telah menyebabkan struktur dan komposisi penduduk di berbagai daerah berubah cepat. Di mana-mana muncul masyarakat multikultural, masyarakat bhinneka dengan heterogenitas yang semakin tinggi, sehingga menuntut adanya saling pengertian dan saling menghargai agar bisa hidup bersama dalam satu masyarakat yang utuh.

Sikap dan pandangan hidup bagaimana yang diperlukan dalam suatu masyarakat multkultural telah melahirkan Multikulturalisme sebagai suatu faham yang dituntut oleh perkembangan masyarakat global yang plural. Faham ini berangkat atas dasar kesamaan martabat manusia (equal dignity of human rights), dimana dignity adalah salah satu prinsip hidup manusia. Dalam masyarakat multicultural setiap kelompok berhak mengembangkan diri sesuai dengan “jalan” jati diri atau karakteristik kelompoknya (HAR Tilaar, 2004). Faham ini tidak menganggap cukup dengan adanya Hukum dalam suatu demokrasi konstitusional, karena dalam masyarkat multicultural dibutuhkan adanya jaminan terhadap hak-hak kelompok minoritas untuk mengembangkan martabat atas dasar jati diri mereka. Jadi dibutuhkan adanya kesadaran kolektif yang mendorong munculnya kebudayaan politik yang ditandai oleh adanya penghormatan timbal-balik atas hak-hak manusia, sebab dengan demikianlah demokrasi konstitusional bisa menjamin hak-hak kelompok minoritas untuk duduk bersama dengan kebudayaan kelompok-kelompok lain, tanpa ada rasa takut akan kehilangan identitas atau “ditelan” oleh kelompok mayoritas yang dominan.

Apa relevansi multikulturalisme bagi kita sebagai muslim dan warga bangsa Indonesia? Pertama, berangkat dari realita kita sebagai bangsa yang penuh keragaman. De facto bangsa ini tersebar di 17.000 lebih pulau, terdiri dari puluhan etnik dengan bahasa, tradisi, dan agama yang tidak sama. De jure, kita sebenarnya telah mengadopsi semangat multikulturalisme sekalipun dengan aktualisasi yang masih gamang. Pancasila dan UUD 1945 telah mencoba merangkul semua unsur keragaman itu, sebagaimana teukir tegas pada simbol (Garuda) negara dengan kalimat Bhinneka Tunggal Ika. “Berbeda-beda tetapi tetap satu”, sungguh merupakan semboyan yang paling pas untuk merangkum prinsip-prinsip multikulturalisme. Sayang kita baru berkutat-katit pada slogan tetapi lemah dalam tindakan, sehingga multikulturalisme terasa asing atau bahkan dicurigai.

Kedua, pengalaman pada masa pemerintahan yang lalu bisa menjadi pelajaran berharga tentang perlunya sikap istiqomah pada semangat multikulturalisme, demi kelangsungan hidup bangsa yang memang bersifat multikultural. Kebijakan pemerintah Orde Baru yang otoriter-sentralistik sejak lama telah “membongsai” kebhinnekaan daerah-daerah demi keTunggal Ikaan yang semu. Atas nama persatuan dan kesatuan ruang gerak keanekaragaman kultural yang terdapat di daerah-daerah dipersempit, sehingga menghancurkan local cultural geniuses, seperti tradisi pemerintahan nagari di Minangkabau, pela gandong di Ambon, komunitas dalihan natolu di Tapanuli. Padahal keanekaragaman tradisi sosio-kultural seperti ini merupakan kekayaan kultural yang luar biasa, yang mengandung pranata-pranata sosial yang antara lain berfungsi sebagai defense mechanism untuk memelihara integrasi dan keutuhan sosio-kultural masyarakat (Azyumardi Azra, 2003). Maka pantas diduga jika kekerasan dan konflik bernuansa perbedaan etnik-agama yang marak sejak tahun 1996, tidak lepas dari kebijakan yang telah memandulkan local geniuses tersebut.

Ketiga, pengalaman pendek era Reformasi yang mendebarkan karena kebijakan desentralisasi kekuasaan pemerintah ke daerah-daerah cenderung memperlihatkan gejala “daerahisme” yang tampil tumpang tindih dengan etnisitas“sukuisme”. Kecenderungan ini, jika tidak terkendali, mempunyai bobot ancaman yang lebih besar terhadap keutuhan bangsa dibandingkan dengan pengalaman yang salah dari pemerintahan Orde Baru yang sentralistik. Jika dulu kebhinnekaan yang terancam, sekarang bandul ancaman itu bergerak ke sisi keTunggal Ikaan. Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan pengungkapan identitas etnik dan agama karena di dalamnya ada kebanggan karakter diri dan kemartabatan kultural yang diperlukan oleh tiap bangsa untuk maju dan kuat. Namun dalam suatu masyarakat yang multikultural, pengungkapan identitas yang sempit bisa menimbulkan antiklimaks yang mengancam kepentingan bersama (masyarakat).
Keempat adalah posisi umat Islam yang mayoritas, sehingga kelangsungan hidup bangsa ini tidak salah kalau disandarkan pada kearifan orang-orang muslim dalam menghargai keanekaragaman kultural tersebut. Apa yang seharusnya kita lakukan dari perspektif dakwah?

Harus disadari bahwa keragaman atau pluralitas kultural itu sudah merupakan suatu kenyataan yang umum, sejalan dengan arah perkembangan masyarakat dari berbagai dimensi. Persoalannya adalah bagaimana pluralitas itu disikapi dan dikonseptualisasikan tanpa harus menghadang laju perkembangan masyarakat. Al-Qur’an pun memastikan trend perkembangan ke arah masyarakat yang multikultural itu, sekaligus mengajarkan bagaimana manusia harus mensikapi keragaman tersebut sebagaimana tersurat pada Al-Hujarat 13: “Hai manusia, sesungguhnya Kami ciptakan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbagai bangsa dan kelompok agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah mereka yang paling takwa. Allah Maha Tahu dan Maha Teliti”.

Tuntunan normatif yang diberikan Islam terhadap keniscayaan gender dan pluralitas kultural adalah sesuatu yang positif, yaitu: (1). Masuk ke dalam pluralitas itu dengan pikiran terbuka, untuk mengenal dan dikenal (lita’arofuu), mengembangkan proses interaksi interpersonal dan sosial bil hikmah. (2) Taqwa menjadi modal pokok ketika berinteraksi dalam masyarakat multicultural, yaitu taqwa pada pengertiannya yang dasar yaitu “waqaa” atau menjaga diri, (3) Melakukan dua petunjuk itu secara teliti, dalam perspektif dakwah terhadap masyarakat multicultural yang kompleks, untuk memuliakan martabat (dignity) Islam.
Bagaimana tuntunan normatif ini dijabarkan, paling tepat kita lihat ulang bagaimana Nabi membangun masyarakat multikultural di Madinah 1400 tahun yang lalu. Heterogenitas kultural masyarakat kota Madinah dapat dilihat dari hasil cacah penduduk yang dilakukan atas perintah Nabi, berdasarkan hadits riwayat Bukori (Ali Bulac, 2001), di mana dari 10.000 jiwa penduduk Madinah kala itu kaum muslim adalah minoritas (15%). Mayoritas adalah orang musyrik Arab (45%) dan orang Yahudi (40%). Tingkat heterogenitas ini lebih tinggi lagi manakala dipaparkan bahwa masing-masing kelompok Muslim, Musyrik Arab, dan Yahudi itu di dalamnya terdiri dari berbagai kabilah atau sub-kelompok. Kaum muslim sendiri terdiri dari dua kelompok besar Muhajirin (migran) dan Anshor (non-migran), yang masing-masing terdiri dari berbagai suku atau kabilah yang punya tradisi bermusuhan karena kuatnya akar sukuisme dalam masyarakat Arab.

Dalam struktur masyarakat Arab yang tradisional, organisasi sosial sangat bergantung kepada ikatan darah dan kekerabatan. Tetapi di Madinah, untuk pertama kalinya (tahun 622 M) orang-orang yang berasal dari latar belakang suku, agama, dan asal geografis yang berbeda terhimpun bersama dan mengidentifikasi diri sebagai satu kelompok sosial tertentu. Pada Piagam Madinah yang berisi 47 pasal itu, disebutkan di pasal (1) “Muhammad, Nabi Allah, mewakili kaum Mukmin Quraisy dan Yastrib menyatakan bergabung dengan kelompok masyarakat lainnya, ikut berjuang bersama mereka. (2) Membentuk sebuah ummah yang lain daripada manusia-manusia sebelumnya “. (Ali Bulac, 2001). Sangat terasa adanya rasa percaya diri dan pengungkapan dignity dalam rumusan kalimat di kedua pasal tersebut, dan dengan modal itu Nabi serta sahabat-sahabatnya tampil sebagai pengambil inisiatif untuk berdakwah mengembangkan ummah yang multikultural di Madinah.

Jaidi sekalipun pada posisi minoritas, Nabi saw bersama sahabat-sahabatnyas bukan hanya aktif berinteraksi dengan warga kelompok mayoritas, tetapi bahkan mengambil inisiatif untuk membangun struktur masyarakat baru yang sesuai dengan sikon zaman. Tetapi harus dicatat, awal dari semua langkah inisiatif yang berani ini adalah dengan perhitungan atau siyasah yang terukur. Dimulai dengan suatu cacah penduduk, lalu melakukan konsolidasi internal untuk mengukuhkan soliditas kaum muslim yang terdiri dari berbagai kelompok-suku. Pasal 3 sampai 23 dari Piagam Madinah dapat difahami sebagai upaya konsolidasi internal, memperkuat sel-sel jaringan Ukhuwah Islamiyah sebagai persiapan untuk memenangkan “pertarungan” interaksi sosial antarkelompok dalam kompleksitas masyarakat yang multikultural. Ambil contoh dari pasal (17) “Perdamaian di antara Muslimin adalah satu. Tidak seseorang muslim pun boleh bersepakat untuk menyetujui perdamaian dengan mengenyahkan muslim lainnya”, dan pasal (23) “Bila terdapat perbedaan tentang sesuatu hal, hendaklah diserahkan kepada Allah dan Muhammad”. Kedua dictum ini sangat jelas tertuju pada maksud mempersatukan kaum Muslim yang memang berpotensi konflik karena karakter heterogenitasnya.

Jadi, belajar dari apa yang dicontohkan Nabi dan para sahabat di Madinah, salah satu persiapan untuk memasuki masyarakat global yang multikultural itu adalah kemampuan managerial untuk mempersatukan kaum muslim yang tidak homogen. Kaum muslim yang terbelah-belah sudah merupakan realitas sejarah, persoalannya adalah kepemimpinan siapa yang mampu mempersatukan untuk membawa mereka dengan percaya diri dan bermartabat ke kompleksitas masyarakat yang multikulutral, bukan hanya sebagai obyek tetapi sebagai inisiator yang mampu mengaktualisasikan ajaran-ajaran Islam sebagai rahmat bagi semua kelompok masyarakat yang ada.

Berikutnya adalah membangun ukhuwah wathoniyah & bashariah di tengah pluralitas ummah yang ingin hidup bersama secara damai, dengan cara saling menjaga diri (taqwa). Tiap kelompok punya otonomi kultural sendiri, dan mereka berhak mengekspresikan diri sesuai dengan kriteria-kriteria hukum agama dan budayanya. Jaminan atas hak ini dalam Piagam Madina antara lain terlihat pada pasal (25) “Agama orang-orang Yahudi untuk mereka sendiri, agama kaum muslim untuk mereka sendiri. Hal ini termasuk mawla mereka dan diri (person) mereka sendiri”. Diktum ini yang sekarang disebut sebagai salah satu prinsip dalam Multikulturalisme, yaitu bisa menghargai orang lain seperti apa adanya - you are what you are, sebenarnya tak lebih dari upaya sosialisasi atas prinsip-prinsip kebebasan serta oengakuan atas adanya perbedaan agama seperti yang difirmankan Tuhan (S.al-Kafirun) sebelumnya pada periode makkiyah dengan kalimat lakum dienukum wa liyadien.

Bagaimana dengan tugas dakwah? Dakwah tetap berlangsung wajar di tengah-tengah pluralitas yang saling menghargai, untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran ilahiah terhadap warga masyarakat yang semakin kompleks. Dakwah dalam masyarakat yang multikultural berakentuasi pada proses interaksi antarkelompok yang ada, yaitu lewat perilaku-perilaku warga muslim yang menimbulkan proses saling mempengaruhi dengan warga dari kelompok lain. Tuntunan normatif yang diberikan al-Qur’an untuk tampil dengan sikap terbuka, percaya diri, dan menjaga dignity Islam, sebagaimana telah disebut di atas, dimaksudkan untuk efektivitas penularan norma-norma dan nilai Islam dalam proses interaksi antarkelompok tersebut. Sementara tuntunan tentang taqwa, sikap selalu menjaga diri, dimaksudkan untuk memupuk pengendalian diri terhadap potensi-potensi konflik yang lazim ada dalam proses interaksi antarkelompok. Dengan demikian setiap muslim diharapkan bisa tampil dengan perilaku interaksi yang berbobot dakwah bil haal, baik dalam hubungan-hubungan yang bersifat asosiatif maupun yang bersifat disasosiatif.

Fenomena global yang menumbuhkan masyarakat-masyarakat multikultural meyakinkan orang mukmin akan universalitas Islam, karena embrio pengembangan masyarakat multikultural tersebut telah didemonstrasikan Nabi pada periode Madina 1400 tahun yang lalu. Apa yang dituntunkan Nabi adalah: (1) Keberanian untuk memasuki masyarakat multikultural (ummah) secara terbuka, percaya diri, dan menjunjung tinggi martabat Islam (2) Konsolidasi internal dengan membangun ukhuwah Islamiyah. Berbeda pendapat (khilafiyah) sudah merupakan keniscayaan, maka adagium yang tepat adalah “bersatu dalam ushul, bertoleransi dalam furu’ “ (KHM Isa Anshary, 1984). (3) Interaksi sosial dengan kelompok-kelompok lain atas dasar saling menjaga diri dengan saling menghargai dan menghormati perbedaan-perbedaan yang ada. (4) Membangun ukuwah wathoniyah wa bashariyah antarkelompok etnik-agama yang ada.

Kualifikasi dai bagaimana yang dibutuhkan untuk bisa memenuhi empat tuntunan di atas, antara lain dapat disebut beberapa hal.

Pertama harus beriman dan ikhlas terhadap agama yang hendak didakwahkan, sebab keberanian, percaya diri, dan kesetiaan untuk menjaga martabat Islam hanya muncul dari iman serta sifat ikhlas tersebut. Perlu dibangun kesadaran baru tentang makna kewajiban dakwah sebagai tugas untuk menyampaikan kebenaran-kebenaran ilahiah secara hikmah kepada semua orang. Keihlasan dalam dakwah membuat seorang dai bisa lebih berlapang dada. Soal orang masuk Islam haruslah dengan kesadaran diri dan dengan hidayah Allah. “ Tidak ada paksaan dalam beragama, sungguh sudah jelas beda antara hidayah dengan kesesatan” (Al-Baqarah, 256). Jadi tidak perlu ada perasaan berjasa dengan mengislamkan orang, sebab “ bahkan Allahlah yang berjasa ketika ia membimbing untuk beriman, jika kamu benar-benar beriman”(Al-Hujurat, 17).

Kedua bersifat adil, dalam arti hanya mendakwahkan apa yang sudah diamalkan (Al-Baqarah, 44), tidak menyembunyikan kebenaran Tuhan (Al Imran, 187) karena berbagai kepentingan, dan mendakwahkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Ketiga memiliki hikmah sehingga mampu berdakwah sesuai dengan sikon obyeknya. Dakwah untuk masyarakat kota yang mengalami rasionalisasi dan alienasi sudah tentu - dengan sifat hikmah - didekati dengan cara yang berbeda jika berhadapan dengan masyarakat desa yang stagnan. Dakwah dengan pendekatan esoteris atau estetis dapat dilakukan untuk masyarakat kota, sementara untuk masyarakat desa tersebut dakwah dilakukan dengan pendekatan etis. Penyajian materi dakwah pun tentu bilhikmati, yaitu ke masyarakat kota yang dinamik-plural dengan hidayah sentris sementara ke masyarakat desa yang stagnan dengan rasio sentris. Tetapi bagaimana hikmah bisa dimiliki seseorang (dai), Al-Ghazali mengajukan empat prasyarat: ‘ilmu, iffah, saja’ah, dan ‘adlu.

Keempat, berakhlaq karimah agar bisa tampil sebagai sosok teladan seperti yang dicontohkan dan menjadi kunci sukses dakwah Rasulullah Saw.
Nabi dan para sahabat tampil sebagai inisiator masyarakat multicultural di Madinah dalam posisi sebagai kelompok minoritas. Kaum muslim di Indonesia yang mayoritas (85%) mestinya bisa lebih berhasil dengan menjadikan jejak-jejak sejarah Nabi tersebut sebagai model dakwah dalam membangun masyarakat bangsa yang multikultural.

Wallahu a’lamu bisshowab.


Diary Ramadhan - Edisi 14 Ramadhan 1432H

Selalu diriku menggunakan kalkulasi matematika

Ketika menghitung total pahala yang telah kukumpulkan

Plus atau minus?

Jika plus, hmmm ada kesempatan untuk rileks, ya rileks dari dunia pengabdian terhadap-Mu

Jika minus, sujudku bertambah kepada-Mu Ya Allah

Semakin tambah umur ini,

Otak ini pun telah lelah untuk melakukan kalkulasi matematika plus minus

Semakin lelah diriku untuk menghitung berapa jumlah dosa yang telah kulakukan

Semakin lelah diriku menghitung berapa jumlah sujud yang harus kulakukan kepada-Mu

Ya, Allah

Aku sekarang ikhlas

Ikhlas akan ketentuan akhir di dunia perhitungan nanti

Yang ku tahu sekarang,

Bahwa sujudku kepada-Mu,

Hanyalah penyerahan diri hamba yang penuh kekurangan ini

Tidak ada hitungan matematika yang rumit didalamnya

Hanyalah penyerahan diri ini untuk sujud menyembah-Mu

Yang Maha Besar

18 Agustus 2011, NF


Diary Ramadhan - Edisi 13 Ramadhan 1432H

Pagi itu Iskandar bersiap-siap untuk ke kampus seperti biasa. Memanaskan mobil dan membuka pintu pagar seperti biasa. Tidak ada yang luar biasa, tidak ada yang kelihatan aneh. Suasana di komplek perumahan tempat Iskandar tinggal, terlihat seperi biasa, sunyi, sepi, seolah-olah tidak ada kehidupan. Tidak ada tetangga yang kelihatan sedang ngerumpi mencuci mobil, atau membersihkan halaman. Tidak ada sesiapa kecuali petugas keamanan yang mungkin sedang khusyu’ dan tawadhu’s berbakti kepada agama, bangsa dan negara, menjalankan tugasnya, menjaga kemanan komplek.
Sudah 1 bulan Iskandar berpindah ke komplek perumahan itu, tapi dia masih belum pernah melihat sosok tetangga yang tinggal dekat dengan rumahnya, apalagi berkenalan dan beramah mesra. Walaupun sudah seminggu berpuasa, Iskandar tetap tidak melihat kemeriahan warga di kompleknya, baik saat mau berbuka puasa, tarawih, maupun sahur. Suasana di komplek itu sama seperti bulan-bulan lainnya, sunyi dan sepi.
Pagi itu, seperti biasa, setelah mengunci pintu pagar, Iskandar memundurkan mobilnya sebelum melewati portal yang terletak persis di hadapan rumahnya. Hal yang tidak biasa adalah saat dia sedang memundurkan mobilnya, tiba-tiba Iskandar menabarak sesuatu. Badannya mental ke depan, terdengar bunyi benturan dan kaca pecah.
“Wah, ada apa ini?” Iskandar bertanya di dalam hati, berasa kaget dengan apa yang baru terjadi.
Iskandar segera membuka pintu dan keluar dari mobil untuk melihat apa yang terjadi.
“Ya, Allah! Kok bisa ada mobil di sini!” Iskandar berasa kaget luar bisa karena dia baru saja menabrak sebuah mobil, besar, dan berwarna hitam. Lampu mobilnya pecah.
“Kok bisa, aku menabrak mobil sebesar ini? Saat matahari bersinar ceria?” Iskandar tidak habis pikir, seolah-olah tidak percaya apa yang baru saja dia lihat. Ada sebuah mobil hitam Innova yang sedang parkir di depan rumah tetangganya. Mobil hitam itu, sedang duduk diam, tidak bergerak, tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan, tidak ada suara, tidak ada sedikit pun permintaan untuk ditabrak dan pagi itu, ia ditabrak oleh sebuah mobil kecil, Estillo silver. Tidak tau mobil siapa, belum pernah bertemu, belum pernah berkenalan, belum pernah bertegur sapa, tidak tau salah apa, mobil hitam Innova ditabrak oleh Estillo putih yang aneh, di pagi hari yang biasa, yang berubah menjadi luar biasa.
“Permisi…permisi…permisi” Iskandar tidak biasanya membuat keributan di depan rumah tetangganya, yang biasanya tidak ada tanda-tanda kehidupan, tidak ada orang, dan tidak ada mobil hitam itu.
“Oh, tidak!” Iskandar menggelengkan kepalanya berkali-kali melihat mobil hitam itu, yang sepertinya baru saja turun dari langit ke-5 saat dia memundurkan mobilnya.
Tidak ada yang menjawab. Sunyi, sepi. Iskandar melihat ke depan, coba untuk mengkatifkan kemampuan tembus pandangnya, melihat aktivitas yang ada di dalam rumah tetangganya. Tidak berhasil, Iskandar coba mengaktifkan kemampuannya sensor panasnya untuk mendeteksi pergerakan panas. Gagal, sepertinya kemampuan yang dipertontonkan di filem-filem asing itu merupakan sebuah pembohongan publik.
Tidak ada pilihan lain, Iskandar menggunakan kemampuan satu-satunya, suaranya yang merdu untuk memanggil tuan rumah.
“Permisi…permisi..permisi” jerit Iskandar sambil menunggu dengan penuh sabar.
“Ya Pak, ada apa?” tidak lama, keluar sosok manusia, ya, seratus persen manusia. Iskandar mengkonfirmasi bahwa komplek perumahan itu didiami oleh para manusia, bukan para jin atau makhluk asing yang mempunyai kemampuan menyembunyikan pergerakan serta keahlian melakukan sesuatu secra diam, sunyi dan sepi.
“Maaf Bu, ini mobil siapa ya? Barusan saya menabrak mobil ini” kata Iskandar sambil menunjuk mobil Innova yang baru saja ditabraknya.
“Oh, itu mobil Pak Adek” Sosok manusia itu buru-buru masuk ke dalam rumah, mungkin coba memanggil Pak Adek.
“Pak Adek itu tetangga aku atau bukan ya?” Iskandar coba membayangkan sosok Pak Adek. Apakah dia mempunyai kemampuan magis, menurunkan mobil hitamnya yang besar itu, dari langit ke-5 saat Iskandar ingin memundurkan mobilnya.
“Ada apa Mas?” lamunan Iskandar tehenti, kembali ke alam nyata, melihat sesosok manusia laki-laki, tinggi dan besar, berkulit sawo matang dan memegang kunci. Iskandar sekali lagi menkonfirmasi di dalam hatinya kalau sosok yang baru dlihatnya adalah seorang manusia, dan sepertinya pemilik mobil Innova hitam yang baru saja ditabrakya.
“Maaf Pak, ini mobil Bapak ya?
“Iya” jawwabnya pendek.
”Maaf Pak, tadi saya lagi buru-buru pas mau memundurkan mobil, tidak melihat ada mobil Bapak. Tau-tau sudah ketabrak Pak!” ceritaku dengan sepenuh hati dan perasaan.
“Salah saya Pak karena tidak melihat cermin belakang. Biasanya tidak ada mobil di sini, makanya saya langsung tancap gas saat mundur. Nggak tau kalau hari ini tiba-tiba ada mobil. Tapi, memang salah saya Pak. Seharusnya saya melihat ke belakang terlebih dahulu sebelum mundur”
Iskandar coba meyakinkan Pak Adek seolah-olah mobil itu tidak ada di situ saat dia mau memundurkan mobil dan entah bagaimana, tiba-tiba mobil Pak Adek bisa bertabrakan dengan mobilnya.
“Mas tinggal di mana?”
“Di rumah sebelah Pak” Iskandar menunjukkan rumahnya, yang memang persis, seratus persen berada disebelah rumah Pak Adek, tetangga sebelah rumahnya yang mobilnya baru saja ditabrak sebentar tadi.
“Oh, belum kenalan Pak. Saya Iskandar”
“Saya Adek. Saya jarang ada di sini”
“Punten Pak, sesama tetanggan belum kenalan tau-taunya langsung mobil Bapak ditabrak”
“Tidak apa, nanti saya bawa mobil ke bengkel untuk diganti lampunya. Yang kentop juga tinggap di ketok magic” kata Pak Adek singkat.
Iskandar berasa aneh. Bukankah biasanya kalau terjadi tabrakan, pihak yang terlibat akan saling ngotot dan beragumentasi dan menjadi sebuah drama panjang dan sedikit tragis. Tapi pagi itu, di komplek perumahan itu, baru saja terjadi tabrakan mobil, dan semudah itu, secepat itu, terjadi kesepakatan di antara kedua pihak yang terlibat. Iskandar sungguh berasa aneh bin ajaib.
“Ya Allah, sungguh Kau Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” Iskandar memanjatkan puji dan syukur di dalam hatinya.
“Sekali lagi maaf Pak. Nanti bon nya diserahkan ke saya ya Pak” Iskandar coba meyakinkan Pak Adek kalau kalau dia sepenuhnya mau bertanggungjawab atas apa yang terjadi.
“Ya, tidak apa” singkat jawab Pak Adek. Sangat ringkas, tepat dan padat.
“Oh ya, sore nanti silakan buka puasa di temat saya, sekalian silaturrahmi!”
“Insya Allah Pak” Iskandar bersalaman dengan Pak Adek sebelum masuk ke mobilnya. Dengan berhati-hati, Iskandar melihat cermin belakang, melihat ada sebuah mobil hitam besar yang baru saja ditabraknya, menekan gas perlahan-lahan dan meninggalkan rumahnya dan komplek perumahan itu.
Di dalam perjalanan ke kampus, Iskandar berasa bersyukur karena akhirnya dapat berkenalan dengan tetangga sebelah rumah, walaupun perkenalan itu harus terjadi lewat tabarakan. Iskandar coba untuk melihat apa yang terjadi secara jernih. Sungguh Allah itu Maha Hebat dan Maha Mengatur segala sesuatu. Memberikan rejeki kepada hambanya dari jalan yang tidak disangka-sangka. Dengan terjadinya tabrakan itu, akan mendatangkan rejeki buat penjual lampu mobil, tukang ketok magic dan para tukang parkir dan yang lebih penting, Iskandar dapat berkenalan dan bersilaturrahmi dengan tetangganya. Setiap seuatu yang terjadi itu pasti ada hikmahnya. Hanya saja manusia mau mencermatinya atau tidak, menerima dengan hati yang terbuka dan berpikir secara bijaksana.
“Wah, harus berapa mobil yang kutabrak ya untuk berkenalan dengan tetangga lainnya!” Iskandar tertawa kecil, memikirkan apa yang baru saja terjadi, di hari biasa yang luar bisa; saat mobil jatuh dari langit ke-5.

Abduh Hehamahua
Bandung, 17 Agustus 2011.


Diary Ramadhan - Edisi 12 Ramadhan 1432H
Ditulis ulang oleh : Tessa Sitorini

Pengajian Serambi Suluk ::: Disampaikan oleh : Zamzam AJT

Dulu, saat di bangku SMA saya dibuat gelisah dan sangat bingung tentang beberapa istilah dalam Al Qur’an. Apakah perbedaan antara iman dan taqwa? Kalau orang sholatnya baik, iman atau taqwanya yang bertambah? Apa beda istighfar dan taubat? Kalau saya istighfar banyak-banyak apakah sudah dikategorikan bertaubat? Seperti apa taubat yang sebenarnya? Kapan kita mengetahui bahwa Allah menerima taubat kita? Tahapan taubat itu seperti apa? Apa beda taufiq dan rahmat Allah? Kita diperintahkan untuk “berjihadlah pada jalan-Nya”, jalan yang mana? Jihad yang mana?

Sadarilah sahabat bahwa semua istilah dalam agama itu harus mengerti betul, jangan dianggap tidak ada masalah manakala kita masih menerka-nerka apa maksud dari setiap kata yang Allah turunkan itu, justru sikap seperti itu akan menjadi masalah di kemudian hari. Karena semua istilah tersebut diturunkan dari Al Qur’an, semata-mata karena Allah menggunakan kalimat-kalimat ini untuk mendeskripsikan suatu persoalan penting.

Tentang Thariqah

Istilah thariqah berasal dari kata kerja tharaqa , artinya memukul sesuatu dengan palu. Atau menempa sesuatu menjadi tipis. Karena itu dalam sebuah thariqah, isinya penempaan. Dari besi yang tidak berbentuk, dibakar dan ditempa jadi pedang tipis yang tajam. Atau arti lainnya, mengetuk pintu. Semua mempunyai makna dalam yang sama, yaitu sesuatu yang dilakukan terus menerus dan mempunyai tujuan tertentu.

Kaitan thariqah dan suluk  diterangkan oleh Rasulullah saw dalam hadits berikut :
Barangsiapa yang menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalan ke surga.

Bila kita perhatikan lebih dalam redaksional hadis itu, maknanya adalah barangsiapa menempuh (salaka) suatu thariqan (jalan) yang dengan jalan itu tersentuh suatu ilmu, maka Allah akan mudahkan ke surga. Jadi ada ilmu yang terbuka. Kuncinya adalah memasuki sebuah jalan, dan ini yang kita harus cari, apa itu jalan yang dimaksud.

Istilah thariq tercantum juga dalam QS [46]: 30
Hai kaumku, sesungguhnya aku telah mendengar sebuah kitab yang telah diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab  yang sebelumnya. Kitab Al quran itu memberi petunjuk kepada Al Haqq dan thariqi mustaqiim (jalan yang lurus)

Al Haqq adalah kebenaran yang bersifat umum. Tentang Al Haqq, ada kalimat dari Ali ra:
“Janganlah engkau mencari kebenaran dari manusia, temukan dulu kebenaran (Al Haq) oleh engkau baru engkau akan mengetahui siapa-siapa yang mengikuti kebenaran.”

Artinya penting untuk mencari Allah dulu dalam hati setiap manusia. Memanjatkan doa “Ya Allah, tunjukkan hamba kepada Al Haqq” Nanti Allah akan menunjukkan dengan cara-Nya yang indah. Bisa jadi melalui kata-kata seseorang, perbuatan seseorang, kejadian tertentu dsb.

Karena kalau kita mencari kebenaran dari manusia kerap terhijab oleh keadaan fisiknya, penampilannya, kemampuannya, kemuliaannya, kefasihannya dsb.
Maka Rasulullah berkata, “Ambillah Al Haqq walau dari mulut orang munafik”.
Sebaliknya sesuatu yang walaupun itu diucapkan oleh ‘orang besar’, tapi isinya keburukan maka jangan diambil.

Istilah thariq identik dengan istilah “shirath”, Allah menggunakan nama lain di depan kata mustaqiim, hanya pada ayat ini saja, yaitu thariqi mustaqiim. Karena di banyak ayat lain disebut sebagai shiraathal mustaqiim. Jika kita berdoa dalam shalat “ihdinashiraathal mustaqiim” sebenarnya identik dengan “ihdina thariqa mustaqiim”

Shiraathal Mustaqiim

Kita berdoa setiap hari dalam shalat, memohon ditunjukkan pada jalan yang lurus ihdina shiraathal mustaqiim. Setidaknya 17 kali setiap hari, karena inti surat Al Fatihah terletak pada doa itu. Sebagai muslim kita harus mengerti apa yang kita minta, jangan meminta pada Allah sesuatu yang kita tidak pahami karena pada saat Allah mengabulkan atau tidak mengabulkan, kita tidak akan tahu . Padahal dalam Al Quran dikatakan, “Janganlah mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya” (QS Al Isra’ [17]: 36)

Maka wajib membaca dan memahami Al Quran, karena apa kata Allah ttg shiraathal mustaqiim, bagaimana ciri-ciri orang-orang yang berada di shiraathal mustaqiim semua diterangkan detail di dalamnya. Sehingga kita tidak berdoa atau shalat dengan hati lalai karena tidak mengerti apa yang sebenarnya kita mohonkan.

Serambi suluk bicara ttg berbagai jalan, dari jalan yg umum hingga ke jalan-jalan yang khusus. Al Haqq itu kebenaran yang sifatnya umum, yang semua manusia harus mengenalnya. Tapi thariq itu bersifat spesifik per individu. Ini terkait orbit diri dan misi suci masing-masing yang diamanahkan Allah Ta’ala saat di alam musyahadah (persaksian) dulu QS [7]:172.

Jadi berdoa ihdina shiraathal mustaqiim, sebetulnya sama dengan meminta agar Allah Ta’ala menunjukkan agar kita masing-masing ditunjuk pada misi hidupnya. Karena setiap orang mempunyai misi hidup yang tidak sama. Seorang waliyullah menggambarkan bahwa manusia membuat asbak, fungsinya ya untuk abu rokok; cangkir adalah untuk air minum; ember utk cuci mobil dsb. Apa yang dibuat oleh manusia saja ada fungsinya, apalagi manusia makhluk termulia di alam semesta, tidak mungkin diciptakan hanya sekedar sekolah, menikah, punya anak, kerja, pensiun dan mati. Tidak mengenal fungsi spesifiknya (misi hidup) di dunia. Kita harus mengenal apa misi hidup masing-masing, itu adalah thariq dan shiraathal mustaqqim kita.

QS An Nisaa [4]: 168
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni dosa mereka, dan Allah tidak akan menunjukkan mereka kepada sebuah jalan (thariqan)

Jadi istilah shiraathal mustaqiim itu bukan semata-mata jembatan yang ada di akhirat nanti, yang katanya seperti titian serambut dibelah tujuh dan tajam seperti pisau, ini menggambarkan betapa sulitnya menempuh jalan tersebut. Sadarilah bahwa shiraathal mustaqiim itu kita minta saat ini juga, ia adalah sebuah jalan yang membentang sejak hari ini hingga ke hari akhir nanti, ke sebuah zaman yang sangat jauh. Artinya kita harus bisa menemukan dalam kehidupan yang samar ini sebuah jalan yang lurus (thariqan) . Itulah kenapa dalam konteks suluk harus dibuka mata hati, agar kita bisa melihat jalan yang satu itu. Dalam keseharian seorang pejalan akan nampak sama saja beraktivitas seperti orang lain. Tapi bedanya yang satu berada dalam thariq, yang lain bukan.

Mulailah mendekatkan diri pada Allah Ta’ala dengan mengerjakan semua perintah-Nya dan mempelajari Al Qur’an secara sungguh-sungguh. Sambil senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala untuk menunjukkan, apakah benar langkahku telah berada dalam kodrat-Nya?

Jika kita tekun mempelajari Al Qur’an dan memperbaiki diri melalui tazkiyatun nafs. Insya Allah akan terbuka jalan masing-masing. Karena mustahil seseorang ingin menemukan jalan kodrat dirinya masing-masing tanpa mendirikan sholat dan mempelajari Al Qur’an. Al Quran adalah peta dalam kehidupan. Tidak hanya itu, ia adalah transformator jiwa kita, hingga mata hati terbuka, jiwa bercahaya, dan jalan itu makin jelas adanya.

QS Al Jin [72]: 16
Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus (istaqomu) di atas sebuah thariqah, maka benar-benar Kami akan memberi kepada mereka air yang segar

Jadi siapa yang istiqomah dalam sebuah thariqah maka akan diberi air yg segar.
Maka pertama kali harus menemukan apa itu thariqah, lalu berjihadlah di dalamnya, berjalan sungguh-sungguh dalam mandat Allah diantaranya dengan tazkiyatun nafs (penempaan jiwa), maka Allah akan menurunkan air yang segar, air pengetahuan (ilmu). Yaitu imu yang baru, bukan ilmu yang lama dan diulang-ulang. Karena Al Quran sangat luas seperti samudera, maka setiap orang akan menemukan ilmunya masing-masing.

Ketika pulang dari Perang Badar (pertempuran besar pertama umat Islam dengan perbandingan 300-an pasukan kaum Muslimin melawan sekitar 1000 pasukan lawan), Rasulullah saw bersabda

”Sesungguhnya kita baru pulang dari jihad yang kecil dan kita akan menuju kepada jihad yang akbar, yaitu berperang melawan hawa nafsu.”

Jadi menempa diri kita dalam sebuah thariq adalah suatu jihad yang besar (jihadul akbar).

Semoga Allah Ta’ala memberi kita hati yang berserah diri dan kekuatan dalam menempuh jalan-Nya. Amiin


Diary Ramadhan - Edisi 11 Ramadhan 1432H
Ditulis ulang oleh : Tessa Sitorini

Pengajian Serambi Suluk ::: Disampaikan oleh : Zamzam AJT
Bintaro, 14 Mei 2008

Dalam Hadis Shahih Muslim dikatakan ada 3 pilar Ad Diin - yang sering diterjemahkan sebagai agama, walaupun kurang pas. Sehingga kita akan tetap memakai redaksional aslinya di sini, yaitu Ad Diin.

Tiga pilar itu adalah Al Islam, Al Iman dan Al Ihsan. Jadi kalau kita ingin menegakkan Ad Diin, mk harus menegakkan ketiga pilar itu.

Kalau kita baca secara teliti, sebenarnya Jibril bukanlah bertanya kepada Rasululullah karena tentu Jibril sudah sangat tahu apa itu Ad Diin, sebagaimana Rasulullah mengetahui itu. Adapun peritiswa ini adalah cara yang indah bagaimana Allah mengajari para sahabat ttg Ad Diin. Maka kita harus betul-betul mempelajari ketiga pilar ini. Kadang kita dalam melaksanakan Ad Diin baru berkutat dalam aspek Al Islam, dalam pengertian kalau sudah mengerjakan shalat, zakat, shaum dan haji, seolah-olah sudah menegakkan Ad diin, padahal ada pilar lain yaitu Iman dan Ihsan.

Bisa jadi seseorang shaum, zakat, haji, umrah tapi masih korupsi, berarti dalam diri orang itu belum berbuah aspek syariah itu karena belum takut kepada Allah Ta’ala. Maka Islam, Iman dan Ihsan adalah suatu jenjang. Sebuah proses pertumbuhan. Seperti sebuah benih ditanam, akarnya keluar, tumbuh batang yang bercabang-cabang kemudian berdaun banyak dan berbuah.

Diantara proses Islam-Iman-Ihsan yang relatif terukur adalah aspek Al Islam, ada ilmu fiqihnya, jadi kalau ada penyimpangan kelihatan jelas. Walaupun dalam fiqih ada berbagai mazhabnya, misal perbedaan dalam meletakkan tangan dalam shalat dsb, itu tidak apa-apa tergantung keyakinan masing-masing.

Untuk membedakan orang Islam atau tidak, bisa dari apakah orang tersebut mengerjakan shalat atau tidak, karena shalat adalah tiang Ad Diin. Ini relatif mudah. Tapi bagaimana mengukur keimanan seseorang? Ini lebih sulit, karena menyangkt dimensi lain. Sebagaimana sulit untuk menilai kekhusyukan seseorang dalam shalat. Maka Islam-Iman dan Ihsan dalam seseorang bertingkat-tingkat adanya.

Tentang Thariqah

Pembahasan “Serambi Suluk” banyakmembongkar tentang Thariqah.

Suluk adalah perjalanan, dari kata dasar salaka yang berarti menempuh atau memasuki seusatu. Yaitu alam syariah memasuki alam thariqah.

Dalam perkembangannya muncullah berbagai istilah, ada disebut tasawuf, sufi, mysticism dsb. Sebetulnya tasawuf hanya nama saja, orang bisa menamakan apa saja. Tapi intinya harus dipahami, karena sebetulnya aspek syariah itu terdiri dari dua hal; (1) syariat lahiriah ; (2) syariat batiniah. Karena Rasul juga mengajarkan tidak boleh sombong, merendahkan orang lain, mengeluh dsb semuanya adalah sebuah syariat batin.

Kadang orang mengetatkan syariat lahiriah tapi menghasil kesombongan dalam dirinya. Padahal dalam hadis Rasulullah mengatakan “Tidak akan masuk sorga orang yang dalam hatinya ada kibir (takabur/bangga diri) walaupun sebesar dzarrah.” Jadi yang menjamin ke surga bukan hanya zakat, shalat, shaum, dan haji tapi juga tidak boleh kibir, tidak merendahkan orang lain dsb.  Dengan demikian sama pentingnya memegang kedua syariat ini.

Para sufi dalam thariqah itu banyak berkecimpung dalam menata yang batin. Adapun mereka juga sangat memegang syriat, bukan berarti tidak bersyariat. Mereka shalat, shaum dsb. Tapi ilmu tentang syariat lahir ini sudah ada fuqahanya, agama itu sangat luas, jadi masing-masing saling melengkapi.

Istilah thariqah dalam Al Qur’an bisa kita lihat di QS [23]: 17 “Dan sungguh Kami telah menciptakan di atasmu 7 buah jalan”

Di atas kita masing-masing terbentang 7 buah langit dengan 7 buah jalan, dan 7 buah pintunya. Nanti kita akan mengerti bahwa itu harus ditempuh, ini yang disebutthariqah.

Kalau kita berthariqah, maka akan terbuka aspek haqiqat, karena thariqah itu fokusnya pembersihan hati.

Ingat urutan perjalanan suluk Syariat à Thariqat à Haqiqat à Ma’rifat

Kalau hijab qalbnya runtuh seiring dengan pembersihan qalb maka akan mukasyafah, akan terbuka. Mukasyafah akan diikuti oleh musyahadah (penyaksian).

Dengan ber-thariqah maka akan terbuka aspek Al Haqq QS [41]: 53 ini janji Allah Ta’ala. Akan Kami perlihatkan kepada mereka ayat-ayat Kami di segenap ufuk (hal yang terjauh dari diri kita) dan ke dalam anfus (jiwa-jiwa)

Ini adalah sebuah tahapan, di ufuk dulu, kemudian Allah tarik ke dalam diri sendiri. Jadi akan diperjalankan keluar, baru ditarik ke dalam. Mengenal diri (jiwa/nafs).

Man arafa nafsahu faqad arafa Rabbahu (hadits)

Ini sebuah proses, maka yang membuat urutan syariat, thariqah, haqiqat, ma’rifat adalah para ulama yang mengerti ttg jalan ini. Mengenal haqiqat yaitu mengenal aspek hakiki dari semua ciptaan Allah. Semua alam semesta-Nya baik yang diluar kita maupun yang di dalam diri kita.

Adapun ma’rifat bukan mengenal tentang ciptaan-Nya, tapi ttg Sang Pencipta.

Kalau para sufi, para waliyullah itu diperkenalkan, di mi’rajkan , ditampakkan rahasia langit dan bumi , tidak lain agar mereka menyembah-Nya lebih dalam. Lebih mencintai Allah, lebih murni ketaatannya.

Awaluddina ma’rifatullah (hadits)

Jadi orang dikatakan beragama, awalnya adalah ma’rifatullah. Utk mencapai ma’rifat harus melampaui syariat , thariqat dan haqiqat. Hanya ketika kita mengenal siapa yang kita sembah, baru agamanya (Ad Diin) kita tegak. Kebanyakan manusia walau kita sudah syahadat, sholat, zakat naik haji tapi dalam hatinya masih goyang keyakinannya tentang siapa Allah sebenarnya, banyak dari kita kadang berprasangka buruk pada Allah , ini bukti iman dan ihsannya masih goyang. Kadang begitu diuji dalam kehidupan langsung timbul prasangka buruk atau bingung. Maka orang beriman wajib membaca Al Quran karena semua aspek kehidupan ada di Al Quran. Kenapa saya bekerja disini? kenapa uijannya begitu? kenapa saya kena fitnah padahal saya rajin sholat? kenapa justru orang yang tidak sholat malah makmur dan sukses? Nah itu di tahap haqiqat kehidupan, kalau tidak kita masih berjalan dengan menyimpan prasangka buruk dan keraguan kepada Allah Ta’ala, artinya belum mengenal Allah (ma’rifatullah), dengan demikian belum tegak pula Ad Diin (agama)nya.

Dalam Shahih Bukhari hadis no 85 dan 86 disebutkan sbb:

Dari Abu Hurairah ra. Ssaya berkata kepada Rasulullah, “Ya rasulullah saya banyak menerima hadis dari engkau tetapi saya banyak lupa.” Kata Rasulullah, “Hai Abu Hurairah, singkapkanlah jubahmu!” Lalu aku menyingkapkan jubahku, kemudian Rasulullah menyaup (memasukkan sesuatu ke dalam dada Abu Hurairah) “ “Kumpulkanlah” kata Rauslullah. Lalu kukumpulkan hadis itu dan setelah itu aku tidak lupa lagi.

Dari Abu Hurairah ra.”Saya hafal dua karung hadis dari Rasulullah, yang satu karung telah saya terangkan kepada kalian, sedangkan yang satu karung lagi kalau saya terangkan kepada kalian, niscaya akan dipotong leher saya oleh kalian.”

Dari hadis terakhir di atas berarti ada pengetahuan yang khusus, yang sensitif , yang akal umat kebanyakan belum bisa menerima. Rasulullah menyampaikan kepada Abu Hurairah karena imannya sudah tinggi, sehingga Rasulullah bisa menerangkan banyak hal ttg haqiqat. Rasulullah tentu akan memberikan pengetahuan kepada yang berhak menerimanya.

Apakah dengan demikian Rasullah tidak amanah? Kok ada hal yg tidak sampai ke kita? Tidak, aspek yang “satu karung” itu adalah aspek hakikat dan itu akan ditemukan oleh siapapun yang mencari Allah dengan ikhlas. Siapapun dia, jika ia mencari Allah sungguh-sungguh maka akan terbuka hakikat itu, tidak akan hilang, karena panduannya Al Quran, ia yang akan mendefinisikan apa yang mereka alami.

Dalam sebuah buku Thariqah Tijaniyah ada hadis Rasulullah saw, dalam kitab Mizan Al Qubra juz 1.

“Sesungguhnya syariatku datang dengan membawa 360 thariqatan siapapun yang menempuh (salaka) salah satunya akan sampai.”

Jadi banyak sekali thariqah yang Allah sediakan, maka tidak boleh merasa dirinya paling benar. Dengan demikian ada 360 cara penempuhan utk menempuh 7 pintu langit yang tercantum dalam QS [23]: 17.

Yang penting senantiasa kembangkan sikap mencari Allah dalam diri. Karena hal yang paling mustahil di dunia ini adalah kalau kita mencari Allah, lalu Allah tidak menuntun. Yakinkan kalau kita berbisik di hati yang terdalam, “ya Allah tuntunlah hamba”… selama dzikir itu terus digaungkan, maka insya Allah tidak akan tersesat.

Tapi kalau kita sudah sampai di level manapun dalam agama, kalau tidak berdzikir seperti itu maka bisa tergelincir. Jangan kuatir salah memilih jalan, yang penting mohon yang kuat pada Allah Ta’ala. “Ya Allah jika ini batil tampakkan kebatilannya, dan jika itu benar, maka tampakkan kebenarannya…”

Al Mawaathin Insaan

Mawaathin itu jamak dari mauthin. Dari kata wathana, artinya menempati.

Mauthin artinya tempat menetap.

Khazanah ini diambil dari Kitab Risalah al Anwar (Risalah Cahaya-Cahaya) karangan Ibnu Arabi. Beliau adalah seorang waliyullah besar, sering terfitnah karena mengurus ‘karung yang lain’. Karena kebanyakan orang tidak sampai pada apa-apa yang beliau ungkapkan.

Ibnu Arabi menceritakan tentang 7 alam (mauthin) yang akan ditempuh oleh manusia.

1. Mauthin syahadah

2. Mauthin rahim

3. Mauthin dunia

4. Mauthin barzakh

5. Mauthin mahsyar

6. Mauthin akhirat

7. Mauthin al-katsiib (bukit pasir)

Kita sekarang ada di mauthin dunia. Kita tinggal di sini beberapa tahun saja. Katakanlah 80 tahun. Tapi dibanding alam barzakh? Sangat jauh…

Rasulullah saw hidup di dunia 63 tahun (tahun komariah) dan beliau sekarang ada di alam barzakh ribuan tahun lamanya.  Belum lagi kehidupan di alam mahsyar, akhirat dst. Dan sebetulnya semua mukmin yang ada di alam barzakh, bukan tidur! Mereka sholat, belajar, ma’rifah , berkomunikasi. Semua masih ada dan beraktifitas. Memang ada orang yang mendapat azab kubur. Camkanlah tentang hal ini, dan renungkalnah bahwa sesulit apapun kehidupan yang kita hadapi di alam duniasungguh tidak ada artinya jika dibandingkan dengan ratusan ribuan tahun (bahkan lebih) kehidupan di alam barzakh dan alam lainnya.

Maka ketika manusia -dikisahkan dalam Al quran-  ditanya, berapa lama tinggal di dunia? Mereka menjawab, “sehari atau setengah hari saja”. Saking lamanya tinggal di alam lain maka mereka merasa hidup di dunia sungguh sekejap mata.

Tapi yang luar biasa, justru kehidupan kita di dunia yang singkat ini justru yang paling menentukan nasib kita selanjutnya. Maka dunia disebut negeri bekal. Jika saat kita masuk ke alam barzakh dalam keadaan masih kurang bekal, bisa dibayangkan kesulitannya! Adapun kebanyakan manusia kurang bersyukur dan banyak mengeluhnya. Padahal sedahysat apapun kesulitan yang mendera seseorang di alam dunia ini masih belum apa-apa dibanding kesulitan yang akan dihadapi di alam-alam lain.

Thariqah adalah utk membangun bahtera di alam dunia agar tidak tenggelam. Kita bekerja dan berkarya di bumi ini tapi jangan sampai tenggelam di dalamnya. Bukan juga dengan cara meninggalkan dunia. Tapi bagaimana membangun bahtera individu, bekerja dan paham hakikat dunia dan kehidupan. Jadi membangunsyariat, thariqat, haqiqat dan ma’rifat adalah menyiapkan bekal saat di dunia untuk perjalanan di alam selanjutnya.

Tujuan sejati thariqah adalah untuk mengenal diri kita. Karena setiap orang punya misi sucinya masing-masing. Jalannya bermacam-macam, ada yg melakukan dzikir banyak, ada yang riyadhoh dsb. Tapi intinya hijab hati harus terbuka, sehingga mencapai musyahadah (penyaksian) tentang siapa diri kita.

Rumi membuat perumpamaan begini: Ada seorang raja menyuruh menterinya ke sebuah negeri Sang raja berkata “Pergilah ke suatu negeri dan bangunlah jembatan di sana!”.  Si menteri kemudian pergi ke negeri itu, dan menemukan banyak persoalan di sana. Kemudian ia mengerjakan banyak hal, membangun gedung, rumah, jalan dsb. Hingga pada suatu waktu kembalilah si menteri menghadap raja dan mengaku sudah mengerjakan banyak hal. Kata sang raja, “Bagaimana dengan jembatan itu?”. Adapun sang menteri lupa mengerjakannya…

Manusia banyak yang mengerjakan banyak hal di bumi ini, tanpa mengerti apa sebenarnya tugas spesifik yang diamanahkan kepada kita. Kita sudah sekian tahun hidup, tapi belum mengenal apa yang ada di dalam kita. Sungguh ini harus kita kejar, jika tidak kita akan kembali pada Allah Ta’ala dan kesulitan memberikan pertanggungjawaban.

Semua yang bertarekat harus menemukan kodratnya, ruhul qudus-nya . (sacred mission on earth), karena itu adalah amal sholeh tertinggi manusia. Misi itu tidak akan pernah diketahui kalau tidak mengenal jiwa yang paling dalam, yaitu jiwa yang bertemu Allah Ta’ala di mauthin syahadah QS [7]: 172.

Karena itu mauthin pertama, mauthin syahadah dikenal sbg mauthin alastu.

Sebelum kita dilahirkan dari rahim ibu kita masing-masing, ada jiwa yang ditiupkan.

Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak Adam dari tulang punggung mereka,

Saat usia janin 120 hari (4 bulan) di alam rahim, sang jiwa (nafs) ditiupkan ke rahim ibu. Ini adalah peristiwa yang penting. Saat sebelumnya pada janin ada ruh bapak dan ibunya, di usia 4 bulan individu janin sesungguhnya yang akan ditiupkan (ini tercantum dalam hadits bukhari), pada saat itu ditiupkan jiwa dan ruhnya. Perhatikan adalah berbeda antara jiwa dan ruh itu.

Maka disebut man arafa nafsahu bukan arafa ruh.

Ruh dibungkus di dalam jiwa, sedangkan jiwa dibungkus di dalam raga.

Sebelum ditiupkan ke dalam masing-masing raga manusia, semua nafs (jiwa) dipanggil ke hadapan Allah Ta’ala

Allah mengambil kesaksian atas anfus (jiwa) mereka, QS [7]: 172

Perhatikan di sini yang bersaksi adalah jiwa, bukan ruh.

Bukankah Aku Rabbmu?

Mereka mengatakan ‘balaa syahidna’ (kami bersaksi)

Jadi jiwa terdalam kita sudah mengenal Allah ketika ditiupkan ke dalam raga. Akan tetapi karena wadah jiwa masih dalam bentuk janin, maka akal raganya belum berkembang optimal, jadi belum siap menerima pengetahuan yang diterima si jiwa. Kemudian pengetahuan itu terkunci dalam jiwa yang ada dalam jasad. Seiring dengan pertumbuhan raga tumbuh, si jiwa justru makin ‘tercekik’ di dalam oleh sayyiah dan dosa yang ada.

Kemudian melalui riyadhoh dan tazkiyatun nafs (pensucian jiwa), semua pengetahuan ini kembali akan terbongkar. Pada saat jiwa muncul dan menceritakan saat pertemuan dengan Allah dulu, dan si raga akan diberitahu apa tugasnya.

Perhatikan bahwa raga bahkan belum terbentuk saat jiwa masih di alam syahadah, menyaksikan Sang Rabb. Dan saat kita meninggal nanti, raga ini hancur ditelan bumi, adalah jiwa yang kemudian menerima siksa atau nikmat di alam barzakh. Jadi kita yang sebetulnya adalah komponen jiwa. Adapun raga adalah bayangan dari jiwa kita.

Saat kita berkata balaa syahidna, pada saat itu juga dikatakan apa misi hidup kita di muka bumi.

Man arafa nafsahu yaitu mengenal jiwa yang dulu dikirim ke raga yang dulu pernah bersaksi di hadapan Allah, maka akan mengenal Rabb-nya, karena dia akan menunjukkan. Jika kita mengerjakan apa yang dimandatkan Allah, itu yang akan membuat kita mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan.


Diary Ramadhan edisi 10 Ramadhan 1432H
Oleh : Abdul Muizz

Dalam berbagai kesempatan, terlontar harapan untuk meraih berkah. Saat bertemu dengan sesama muslim, kita berucap, “Assalaamualaikum warahmatullah wa barakaatuh, semoga keselamatan tercurah padamu, juga rahmat Allah dan barakahNya.” Di saat mengawali makan, kita berdoa, “Allaahumma baarik lanaa.. Ya Allah, berikan barakah pada kami atas apa yang Engkau rizkikan pada kami..”

Saat menghadiri undangan pernikahan, Rasulullah mengajarkan untuk mendoakan pasangan yang menikah dengan doa, “Baarakallaahu lakumaa.., semoga barakah Allah terlimpah atas kalian..” Saat seseorang berulang tahun, kita mendoakan, “semoga dikaruniai umur yang barakah.” Kepada mereka yang sukses menyelesaikan studinya, “semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan barakah.” Kepada keluarga atau saudara yang akan merantau atau mencari pekerjaan, “semoga mendapatkan rezeki yang halal dan barakah.” Saat ada kenalan yang meraih prestasi, “mabruk.. atau baarakallaah..”

Ketika seorang bayi baru dilahirkan, selain ucapan syukur, selamat dan doa untuk si bayi, tak jarang terselip pula sebuah doa, “baarakallah..”

Bagi sebagian kaum muslimin (wa bil khusus para perantau jauh dari keluarga), puasa tanpa sahur tak jadi soal. Ini soal kebiasaan, setelah beberapa hari toh akan terbiasa juga. Namun adalah janji Nabi, “Bersahurlah, karena di dalam sahur itu ada barakah” yang menjadi salah satu motivasi untuk bangun bersahur, sekalipun hanya seteguk air. Sahur adalah sunnah. Tanpa sahur mungkin akan tetap kuat berpuasa, tapi berkah melayang sudah.

MISTERI BERKAH

Entah apa yang ada di pikiran Jabir RA. Dia mengundang hanya Rasulullah SAW dan satu atau dua orang sahabat lain dan menyiapkan makanan ala kadarnya di rumah. Namun Rasul yang mulia tak sampai hati meninggalkan para sahabatnya meneruskan menggali parit untuk perang Khandaq dalam keadaan lapar, sementara beliau menghadiri jamuan makan. Maka bukan seorang dua orang, tapi seluruh sahabat Muhajirin dan Anshar beliau ajak menuju rumah Jabir. Semangat mulia menjamu tamu itu seketika berubah menjadi kebingungan dan kepanikan tuan rumah.

Tapi begitulah adegan barakah itu kemudian dipertontonkan: Rasulullah mulai membagikan roti dan sekerat daging kepada tiap orang sahabat, dan terus melakukannya sampai semua orang merasa kenyang. Jabir RA bersaksi, “sungguh mereka semua makan sampai kenyang sebelum kemudian pergi, sementara kuali milikku tetap utuh seperti semua dan adonan rotiku bisa dibuat roti seperti biasa.” (HR. Bukhari)

BERBUAH DAN BERTAMBAH

Atau kisah luar biasa shahabiyah (sahabat wanita) Ummu Sulaim RA. Tatkala balita kesayangannya meninggal setelah beberapa hari sakit, Ummu Sulaim memiliki alasan yang lebih dari cukup untuk menangisi kepergiannya. Tapi Ummu Sulaim yang bersabar menyembunyikan berita ini kepada suaminya yang baru pulang dan kelelahan. Ia berdandan dan menjamu sang suami malam itu sepenuh hati. Keesokan paginya setelah suaminya merasa segar kembali, baru ia beritahukan kabar wafatnya putra mereka.

Siapa nyana, Allah langsung mengganti balita mereka. Ummu Sulaim mengandung dari hasil hubungan malam itu. Tak berhenti di situ, putranya yang diberi nama Abdullah bin Thalhah ini kelak memiliki tujuh orang putra, yang semuanya penghafal alQuran. Rupanya bukan hanya lantaran keutamaan sang ibu, tapi ada campur tangan doa Rasulullah setelah diceritakan tentang kisah luar biasa kesabaran Ummu Sulaim itu, “semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan barakah pada malam pengantin kalian berdua.”

RAHASIA ALLAH

Sebagai penutup, tak dapat disangka dalam bentuk apa tambahan kebaikan ini. Dalam bukunya, Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim, Salim A. Fillah mengatakan:

“Barakah adalah bertambahnya kebaikan dari setiap kejadian yang kita alami dari waktu ke waktu. Barakah dalam kekata Ibnul Qayyim adalah semakin dekat dan akrabnya kita pada Allah. Pada tataran apapun, barakah menghadirkan dunia yang tak tertembus oleh mata kasat kita. Barakah telah menghapus ukuran-ukuran dan standar yang kita pakai untuk mendefinisikan kata ‘bahagia’.”

Semoga Allah mengaruniakan berkah pada diri kita, umur kita, keluarga kita dan apapun aktivitas kita, amin..


Diary Ramadhan edisi 9 Ramadhan 1432H
Oleh :
Abduh Hehamahua
Tuhan
Kau tau betapa aku merindukan
Hadirnya Ramadhan
Bulan seribu ampunan
Bulan penuh keberkatan
Bulan seribu harapan
Bulan penuh ketaqwaan

Tuhan
Aku bersimpuh menadahkan tangan
Memohon dengan penuh harapan

Tuhanku

Ampunilah dosaku
Dosa orang tuaku
Dosa istriku
Dosa anakku
Dosa keluargaku
Dosa mereka yang mengenaliku
Dosa mereka yang tidak mengenali diriku
Dosa mereka yang hidup sebelumku
Dosa mereka yang hidup setelah diriku

Tuhan
Beri aku kekuatan
Menjalani kehidupan
Mencari sinar harapan
Menemukan jawaban
Meraih ketenangan
Mendapatkan ampunan
Memperoleh kemenangan
Di bulan suci Ramadhan

Bandung, 12 Agustus 2011.

Diary Ramadhan edisi 8 Ramadhan 1432H
Oleh : Ummu Nabiel

Dear Nabiel yang Sholeh…

Saat ini Nabiel belum bisa membaca surat dari ummi ini, tapi InsyaAllah suatu saat Nabiel bisa membacanya. Ummi berharap surat ini menjadi salah satu kenang-kenangan yang indah dari ummi untuk Nabiel.

Nabiel sayang, setiap kali ummi bepergian bersama Nabiel, sering kali orang-orang memuji mata Nabiel yang indah. Mulai dari “mooi ogen”, “beautiful eyes”, sampai “matanya bagus sekali ya” adalah komentar favorit orang-orang tentang Nabiel. Alhamdulillah, Ummi bersyukur sekali Allah telah memberikan keturunan dengan mata yang Indah seperti Nabiel. Entah gen dari mana yang diwarisi, tapi rasanya mata Ummi dan Abi tidak ada yang seperti mata Nabiel.

Nabiel Sholeh, taukah Nabiel bahwa mata itu adalah jendela hati. Jadikanlah mata yang indah itu semakin indah karena memancarkan cahaya hati yang suci dan penuh keimanan. Keimanan yang kokoh seperti pohon besar yang akarnya menghujam ke dalam hati, dahannya menjulang ke angkasa, dan buahnya dapat bermanfaat bagi orang di sekitarnya.. Ummi doakan agar nabiel menjadi orang yang kokoh imannya, karena dengan modal itulah kita dapat berkumpul bersama kembali di surga nanti. Jangan samapai keindahan mata itu rusak karena pancaran hati yang kotor dan dikuasai oleh keangkuhan serta nafsu mamarah.

Nabiel sholeh, taukah Nabiel bahwa mata itu juga merupakan jendela dunia. Gunakanlah mata indah itu untuk menatap kebesaran ayat-ayat Allah melalui segala ciptan-Nya. Jelajahilah bumi Allah ini untuk membuatmu belajar, dan bersyukur atas segala nikmat-Nya. Tafakurilah setiap kejadian yang Nabiel lihat, ada banyak hikmah di dalamnya, karena hikmah adalah harta mukmin yang terserak, sehingga kita harus memungutnya.

Jadikanlah mata yang indah itu sebagai modal untuk mempelajari Ayat-ayat Allah dalam Al quran, membaca, memahami, serta menghafalkannya. Jangan biarkan cahayanya redup karena jarang membaca Al quran. Ummi berharap kelak nabiel menjada sahabat Al quran yang terus berinteraksi dan menghafalkannya.

Jangan pernah kotori keindahan matamu dengan pandangan-pandangan maksiat, yang tidak dihalalkan oleh Allah. Peliharalah mata indah itu agar tidak memandang sesuatu, kecuali kebaikan. Satu lagi, jangan sampai mata indah itu berubah menjadi mata duitan, apa lagi mata keranajng, na’udzubillahi min dzalik.. Suatu saat nanti, mata tersebut akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah, dia akan bercerita, untuk apa saja ia digunakan selama Nabiel hidup di dunia. Pada saat itu tiada yang bisa membela, kecuali amal sholihmu.

Jadikanlah mata indahmu itu, menjadi mata yang terjaga di malam hari untuk tertunduk menghadap Rab-Nya. Mata yang senantiasa basah, meneteskan bulir-bulir air mata karena bermunajat dan memohon ampunan dari Allah.

Nabiel sholeh, berlindunglah kepada Allah agar mata tersebut tidak buta oleh silaunya gemerlap dunia yang fana ini. Bersyukurlah atas karunia mata yang indah itu, dengan cara menghiasinya, dan menjaganya agar tetap indah, hingga matamu tertutup untuk selamanya.

Semoga Allah masih memberi kesempatan kepada ummi dan abi untuk dapat membesarkan dan tetap menatap mata indahmu hingga Nabiel dewasa, Amiiin…

Groningen, 11 Agustus 2011

Ummu Nabiel


Diary Ramadhan edisi 7 Ramadhan 1432H
Oleh : Elzan

Dear diary….

Aku gak nyangka kali ini bakal ngerasain puasa di bulan Ramadhan di negeri suaminya nyonya meneer lagi… (untuk kedua kalinya..finally!!!)

Tapi sekarang beda euyy….

Dua tahun lalu aku ngerasain puasa di negeri kincir angin ini sendirian…. alias single fighter…. makan di tempat kos, bengong sendiri… bahkan saking malesnya, Cuma minum air putih sama cookies, beressss… terus tidur lagi abis sholat subuh…

Sekarang, bedaaa…. aku udah punya istri, hohohoho….. kata orang, asik banget… n beda bangettt….;)

Aku terangin dikit mengenai diri aku and istriku… aku lagi ambil sekolah lagi di negeri angin ini… kebetulan aku dapat kesempatan untuk nerusin sekolah lagi… kata orang bilang, tuntutlah ilmu sampai ke Negeri Cina… kayaknya aku juga kebawa sama pepatah itu, malah nggak hanya sampai Cina, bahkan sampai ke Eropa lagi sekarang.. Alhamdulillah!!! Padahal ke Cina aja belum pernah.. :-)

Terus mengenai istriku ini, dulu dia pujaan hatiku waktu sekolah di sini juga, dua tahun lalu, di negeri seribu angin ini.. (istilah yang aku pake untuk negara yang gak pernah berhenti yang namanya angin ini.. brrrr…). Dia di mataku, kembang kampus (nggak pas kelilipan loh waktu itu)… kalo gak percaya, boleh tanya ke temen aku, di grup aku sekarang ini, namanya Burcu, cewek Turki. Kalo cewek aja bilang dia beautiful, apalagi cowok khan?? :D

Singkat cerita, akhirnya Allah SWT, ngasih rezeki ke aku, untuk aku persunting dia sebelum aku berangkat sekolah dan dia sekarang bareng sama aku, ngejalanin bulan puasa di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Dan ternyata, Allah bener-bener sayang sama aku… istri aku sekarang hamil kira-kira udah hampir 2 bulan… and now the story di bulan Ramadhan ini, begins

Bisa khan dibayangin, kalo cewek hamil terus kerjaannya mual-mual, dan bahkan gak seneng ngerasain bau dapur sama makanan?? Alhasil, akhirnya aku yang udah ngebayangin bakal dilayanin sama istriku selama bulan Ramadhan ini, jadi 180 derajad kebalik, aku yang ngelayani istri dan sang jabang bayi di perutnya.

Aku inget banget dalam surat Al-Baqarah 233 yang artinya kurang lebih :

“…Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. (QS. 2: 233).

Ini yang menjadikan aku di bulan Ramadhan kali ini bener bener terasa banget ujiannya, apalagi waktu nyiapin sarapan dan makan siang buat istri dan sang jabang bayi, sementara kita berpuasa. Seneng banget rasanya bisa bikinin masakan pertama kali di awal Ramadhan (meski cuma telur dadar sama nasi goreng, yang kata dia enak banget). Bener juga ya, seseorang itu tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya… Aku waktu itu cuma jago bikin nasgor sama telur dadar, tapi karena bisanya Cuma itu, dan repotnya… wanita hamil berubah-ubah sama makanan… terus akhirnya dilanjutin deh dengan pesen catering sama pemilik rumah di PL 427…. Lumayan deh, jadi terasa ringan kerjaanku… makanya, catering jadi pilihan kita deh…. dan gak repot juga buat aku… Cuma ya gitu deh…berarti siang2 harus nyiapin makanan deh buat do’i… bayangin deh, bau masakan di siang hari…. kriukkkk… kriukkkk… bunyi deh perut… :-)

Aku jadi keinget juga salah satu hadist yang mengatakan begini :

“Berbuat baiklah terhadap istri kalian, karena wanita tercipta dari tulang rusuk. Sesungguhnya bagian terbengkok dari tulang rusuk adalah bagian atasnya. Jika engkau hendak meluruskannya, maka akan mematahkannya, dan jika engkau biarkan, maka ia tetap bengkok. Untuk itulah, berbuat-baiklah kalian kepada istri-istri.” (HR. Muttafaq’Alaih)

Waktu inget hadist ini, apalagi tahu istri lagi hamil n sering mual-mual gini, aduhhh… Jadi bisa ngebayangin juga betapa susahnya dan gak enaknya kalo mual apalagi sampai muntah. Ternyata berat ya, jadi istri… apalagi pas hamil mual mual terus hampir seharian..

Ngebayangin beratnya kayak gitu, rasanya kalo cuma nyiapin sarapan sama manasin masakan, kayaknya jadi gak seberapa berat, meski di bulan puasa gini. Itung-itung nyari pahala dibulan yang penuh berkah ini. Betul gak prens??

Di bulan puasa ini juga, kerasa banget kita perlu belajar sabar dan tenang.. Bayangin aja kawans, masa’ gara-gara Cuma ngeliat brosur makanan salah satu supermarket terbesar di Belanda ini, disuruh jauhin dari pandangan mata dia, karena bikin mual… hadeuuhh… padahal kemaren dia yang liat-liat sendiri itu brosur….

Memang di bulan puasa ini, nilai kesabaran merupakan nilai yang paling besar ibadahnya di mata Allah dan yang paling sering disebut dalam Al Quran.

Salah satunya ada di surah Muhammad 31, Allah berfirman :

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar diantara kalian.” (Muhammad:31)

Ayat ini bener-bener pas banget rasanya sebagai ujian buat aku di bulan puasa ini, apalagi menghadapi perempuan hamil dan lagi mual… ahhhh…. Kalo bisa belajar sabar gini, rasanya puasa ini tambah afdol kayaknya… hehehehe… ngademin hati sendiri, :-) ….

Wahhh….. ternyata udah mau jam 6 sore nih…. Ampe lupa ngerjain tugas utama di kampus, harusnya ngetik chapter 1 disertasi aku… malahan jadi banyak ngetik n curhat di diaryku ini….

Okay…. Ntar sambung lagi yach, diaryku…. :-):-)


Diary Ramadhan edisi 6 Ramadhan 1432H
Oleh : Ismail Fahmi


Ini hari Jum’at siang. Sebentar lagi saya akan jum’atan di sebuah masjid Turki di dekat kantor, masih di area Amsterdam Centraal. Sambil menunggu waktu berangkat, iseng-iseng saya buka situs Google Trends (http://www.google.com/trends).

Saya ingin mengetahui bagaimana pengguna Internet di Indonesia ‘menahan hawa nafsu’ ketika berpuasa di bulan Ramadhan, dan apakah mereka masih bisa menahannya setelah Ramadhan lewat atau malah mengumbarnya ibarat orang minum setelah kehausan? Untuk mendapatkan data ini, saya bandingkan volume pencarian untuk dua kata kunci berikut.

Eksperimen

Kata kunci pertama adalah ‘puasa’. Biasanya di bulan puasa banyak pengguna yang mencari informasi seputar puasa, sehingga saya bisa gunakan waktu pencarian ini untuk menandai bahwa sepanjang waktu itu adalah bulan puasa.

Kata kunci kedua adalah ‘porn’. Saya pilih kata kunci ini sebagai representasi kata kunci-kata kunci yang menggambarkan adanya dorongan hawa nafsu di dalam diri pengguna Internet dari Indonesia. Saya juga bisa menggunakan kata kunci lain yang serupa, seperti ‘porno’, ‘telanjang’, dan you-know-what-i-mean lainnya.

Ok, sekarang waktunya bereksperimen. Di halaman Google Trends saya ketik kedua kata kunci tersebut (dipisahkan oleh koma): puasa, porn. Lalu saya tekan tombol ‘enter’. Setelah mendapatkan hasil trend pencarian oleh pengguna di seluruh dunia untuk kedua kata kunci ini, saya persempit negara asal penggunanya: Indonesia. Walaa, saya dapatkan grafik trend yang menarik.

https://lh6.googleusercontent.com/-d2nCEH65J1Q/TjvP4hRTFHI/AAAAAAAAAeY/tcFu9a63lyE/gtrends-puasa.png

URL: https://lh6.googleusercontent.com/-d2nCEH65J1Q/TjvP4hRTFHI/AAAAAAAAAeY/tcFu9a63lyE/gtrends-puasa.png

Grafik berwarna biru menggambarkan volume pencarian untuk ‘puasa’, dan warna merah untuk ‘porn’. Dari gambar diatas tampak jelas bahwa pencarian untuk kata kunci ‘puasa’ paling banyak dilakukan pada bulan-bulan tertentu di setiap tahun, dan itu adalah bulan Ramadhan. Sedangkan pencarian untuk kata kunci ‘porn’ dilakukan sepanjang waktu dalam setahun.

Berhasil menahan hawa nafsu?

Ada yang menarik dari gambar di atas. Ketika volume pencarian ‘puasa’ meningkat tajam, yang menggambarkan bahwa periode tersebut adalah periode bulan Ramadhan, ternyata volume pencarian ‘porn’ turun cukup drastis. Fenomena ini berlaku tidak hanya dalam satu waktu saja, tetapi di setiap tahun.

Apa yang bisa kita simpulkan? Ternyata ada korelasi yang kuat antara bulan puasa dengan volume pencarian ‘porn’. Selama bulan puasa, sebagian pengguna Internet dari Indonesia yang terbiasa mencari material pornografi telah berusaha untuk menahan diri, menahan hawa nafsunya, dengan tidak mencari material tersebut. Kemungkinan mereka benar-benar tidak ingin puasanya batal karena melihat material yang bisa membangkitkan hawa nafsunya.

Serasa melepaskan dahaga?

Namun, kalau kita perhatikan grafik berwarna merah setelah bulan Ramadhan lewat, yang digambarkan dengan volume pencarian ‘puasa’ yang telah mendekati nol, ternyata grafik merah tersebut mengalami ‘spike’ atau peningkatan yang sangat-sangat tajam, lebih tinggi dari yang paling tinggi sebelum puasa Ramadhan sekalipun. Para pengguna Internet di Indonesia yang sebelumnya sudah menahan diri untuk tidak mengakses material yang bisa membangkitkan hawa nafsu, ternyata seperti orang yang sedang melepas dahaga di sebuah oase setelah lama kehausan dalam perjalanan panjangnya.

Dan di bulan-bulan berikutnya, pencarian ‘porn’ naik dan turun seperti biasa sebelum bulan puasa. Puasa seolah hanya berhasil membuat pengakses dari Indonesia tersebut untuk menahan diri ketika bulan puasa saja. Sesudahnya, seperti tak berbekas.

Begitu jugakah puasa kita?

Kita mungkin bukan di antara mereka yang tergambar dalam grafik merah di atas, mungkin juga iya, wallahu ‘alam. Namun, yang menjadi bahan perenungan penting adalah, akankah puasa kita sebatas pada lapar dan dahaga saja? Akankah hanya itu yang kita dapatkan?

Sudah banyak sekali kita dengar, pelajari, dan pahami bahwa puasa itu untuk meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah. Akah akhirnya grafik pengendalian diri kita seperti diperlihatkan oleh Google Trends di atas?


Diary Ramadhan edisi 5 Ramadhan 1432H
Oleh : Adinda Tessa Sitorini

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa (shiyam), sebagaimana telah  diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu. Agar kamu bertakwa”(QS Al –Baqarah [2]:183)

Menjelang Ramadhan kita sering mendengar ayat di atas dikutip dalam setiap ceramah. Dan setiap kali kita mendengar dan mengamini doa sang ustadz sontak kita termanggut-manggut dan menjawab dengan lantang “Aamiin..!!” pada doa yang dipanjatkan “Semoga ramadhan ini membawa kita menjadi umatNya yang bertaqwa”. Kemudian kita kembali kepada rutinitas sehari-hari, sebagai pelajar, pekerja di kantor, ilmuwan, ibu rumah tangga, pedagang, profesional dll dengan membawa bekal dalam hati, semoga doa sang ustadz terwujud, saya harus jadi orang yang bertaqwa.

Namun, pernahkah Sahabat bertanya dan mencari tahu, apa itu makna taqwa? Apa kaitan shaum yang kita kerjakan dengan terbangunnya ketaqwaan dalam diri? Apa tandanya bahwa kita sudah mulai bertaqwa? Apa kaitannya ketaqwaan dengan momen yang senantiasa kita rayakan sebagai hari kembali kepada fitrah (Idul Fitri) ?

Jawaban dari semua pertanyaan dasar ini sangat penting sebagai koridor yang jelas dalam diri untuk mengevaluasi apakah ibadah dan kehidupan kita berada dalam jalan yang benar, yaitu sesuai dengan apa yang Allah Ta’ala kehendaki. Salah satu ciri orang beriman yaitu melakukan introspeksi diri (muhasabah) sebagai bagian dari rutinitas hariannya.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. [Q.S.Al-Hasyr (59):18]

Al Hasan mengatakan : orang-orang mumin selalu mengevaluasi dirinya karena Allah. Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia

Sahabat yang Allah sayangi, ayat ke-183 dalam surat Al Baqarah di atas memberikan tahapan yang sistematis, berkelindan dan mengagumkan berkaitan dengan iman, shaum, dan taqwa. Mari kita telaah satu persatu.

Shaum adalah perintah untuk kaum yang beriman

Seruan untuk shaum ternyata bukan ditujukan pada setiap manusia, tampak dari kata-kata seruan ‘Yaa ayyuhalladziina ‘aamanu’ “Hai orang-orang beriman” alih-alih “Yaa ayyuhannaas” “Hai manusia..” Jadi, yang terpanggil dengan sadar untuk melakukan ibadah shaum sesungguhnya hanya orang-orang beriman.

Pertanyaan berikutnya adalah, apakah iman itu? Apakah saya sudah termasuk hamba-Nya yang beriman? Apa ciri-ciri orang yang beriman?

Sesungguhnya keimanan seseorang itu bertingkat-tingkat sebagaimana yang diterangkan Imam Al Ghazali (semoga Allah memberkahinya). Yaitu sbb:

Iman Awami, yaitu iman orang awam yang letaknya sekedar di lisan.

Iman Mutakalimin, merupakan tingkatan iman yang lebih kuat karena sudah mulai didukung dengan hujjah, sang hamba mulai mencari ilmu dan berusaha mengamalkannya.

Iman ‘Arifin (Nur Iman). Yaitu iman yang berupa cahaya Allah yang memancar di qalb orang yang Allah kehendaki bersih dari segala sesuatu yang tidak disukai-Nya.

Jenis iman berupa ‘cahaya Allah’ inilah yang merupakan hakikat iman yang sebenarnya. Iman kategori ini yang dapat membawa kepada ketaqwaan sejati dan tentu menuntun kita untuk kembali ke fitrah diri.

Ternyata tidak mudah bagi seseorang untuk mengaku beriman atau telah menjadi mukmin dengan kategori iman yang sebenarnya, perhatikan ayat suci berikut:

“…katakanlah (kepada mereka), kamu belum beriman! Tapi katakanlah kamu baru berserah diri, sebab iman itu belum masuk ke dalam qalb-mu”

(QS Al Hujurat [49]:14)

Dengan demikian berdasarkan ayat di atas iman itu diawali dari Islam (berserah diri), dan tidaklah seseorang bisa berserah diri kecuali Allah Ta’ala bukakan hatinya.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan shadr (hati)nya oleh Allah untuk berserah diri lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang hatinya membatu?)…” (QS Az Zumar [39]: 22)

Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah saw perihal ayat ini:

Lalu bertanya seseorang kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima cahaya tersebut dengan seluas-luasnya.”

Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?” Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.”

Inilah salah satu ciri orang beriman yang diisyaratkan Rasulullah saw, yaitu mereka yang hatinya mulai berpaling dari dunia dan bersedia melepaskan ego dan keinginan dirinya untuk ‘mati’ dari pengaturan diri sendiri dan menyerahkan kehidupannya seutuhnya kepada kehendak Allah Ta’ala.

Selain itu, patut kiranya kita bercermin kepada ciri orang-orang beriman yang Allah Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an diantaranya dalam Al Mu’minuun [23]: 1-9, sebagai bahan introspeksi diri, apakah kita sudah termasuk memiliki sifat-sifat orang beriman. (Ingat bahwa kata-kata iman yang dimaksud dalam Al Qur’an senantiasa merujuk pada iman tingkatan iman ‘arifin, yaitu iman yang berwujud cahaya di dalam hati):

  1. Orang yang khusyuk dalam shalatnya
  2. Menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna
  3. Menunaikan zakat
  4. Memelihara kemaluannya, kecuali terhadap pasangannya yang sah.
  5. Memelihara amanat dan janjinya
  6. Memelihara shalat

Dengan demikian, perintah shaum dalam QS Al Baqarah 183 tersebut juga merupakan seruan bagi kita untuk memperbaiki kualitas iman masing-masing, sebagai prasyarat untuk meraih ketaqwaan.

Puasa dan pembentukan ketaqwaan

Ibadah puasa sebenarnya sudah dilakukan selama berabad-abad dalam berbagai agama di dunia. Selain kaum Muslim, puasa juga ditemui pada kaum Nasrani, Yahudi, Konfusianis, Hindu, Taois dan agama lainnya. Bahkan suku pedalaman di Amerika Utara melakukan ritual puasa untuk menghindari bencana. Penduduk asli Mexico dan Inca di Peru melakukan puasa untuk “memuaskan para dewa”. Pada masa lampau, penduduk Asyiria dan Babilonia melakukan puasa sebagai bukti penebusan dosa.

Ibadah puasa dalam Islam menempati posisi yang spesial dibandingkan ibadah-ibadah lainnya, hal ini nampak pada sabda Rasulullah Saw menceritakan firman Tuhannya Azza wa Jalla:

“Setiap kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipat hingga 700 kali, kecuali puasa, karena puasa itu bagiku dan Akulah yang membalasnya.”

“Sesungguhnya dia meninggalkan syahwat dan makanan serta minumannya demi Aku, maka puasa itu bagi-Ku dan Aku yang membalasnya.”

Tidak diragukan lagi puasa berkaitan erat dengan proses memperkuat iman yang salah satu tandanya adalah ‘merenggangkan diri dari dunia’. Karena salah satu hal dahsyat yang dapat diperoleh dari puasa adalah melemahkan syahwat manusia yang merupakan faktor penarik kuat pada cinta dunia, sebagaimana hadis Rasulullah saw berikut:

“Kalau saja setan-setan tidak berkeliaran di hati anak Adam, tentulah mereka melihat kepada kerajaan langit. Puasa itu membantu mematahkan syahwat.”

Sebagaimana keadaan iman yang bertingkat-tingkat pada manusia, maka kondisi puasa seseorang ditentukan oleh keadaan imannya masing-masing. Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddinmenjelaskan tiga tingkatan puasa:

Pertama, mereka yang dikelompokkan sebagai orang awam. Kelompok ini berpuasa tidak lebih dari sekadar menahan lapar, haus, dan hubungan seksual di siang hari Ramadhan

Kelompok kedua adalah mereka yang selain menahan lapar, haus dan hubungan suami isteri di siang hari, mereka juga menjaga lisan, mata, telinga, hidung, dan anggota tubuh lainnya dari segala perbuatan maksiat dan sia-sia. Mereka menjaga lisannya dari berkata bohong, kotor, kasar, dan segala perkataan yang bisa menyakiti hati orang. Mereka juga menjaga lisannya dari perbuatan tercela lainnya, seperti ghibah, mengadu domba, dan memfitnah. Mereka hanya berkata yang baik dan benar atau diam saja.

Kelompok ketiga, menurut Al-Ghazali adalah mereka yang berada dalam kategori khususul khusus atau al-Khawwas. Mereka tidak saja menjaga telinga, mata, lisan, tangan, dan kaki dari segala yang menjurus pada maksiyat kepada Allah, akan tetapi mereka juga menjaga hatinya dari selain mengingat Allah. Mereka mengisi rongga hatinya hanya untuk mengingat Allah semata-mata. Mereka tidak menyisakan ruang sedikitpun dalam hatinya untuk urusan duniawi. Mereka benar-benar mengontrol hatinya dari segala detakan niat yang menjurus pada urusan duniawi.

Maka semakin baik kualitas puasa seseorang semakin efektif menumbuhkan ketaqwaan. Karena orang yang sudah berada pada tingkat puasa khususul khusus akan semakin berhati-hati dalam hidupnya, yang merupakan salah satu ciri orang bertaqwa.

Seorang sahabat Rasul SAW, Ubay bin Ka’ab pernah memberikan gambaran yang jelas tentang hakikat taqwa. Pada waktu itu, Umar bin Khaththab bertanya kepada Ubay tentang apa itu taqwa. Ubay balik bertanya :

“Apakah Anda tidak pernah berjalan di tempat yang penuh duri?” Umar menjawab : “Ya.” Ubay bertanya lagi : “Lalu Anda berbuat apa?” Umar menjawab: “Saya sangat hati-hati dan bersungguh-sungguh menyelamatkan diri dari duri itu.” Ubay menimpali : “Itulah taqwa.”

Di dalam Al Qur’an, makna taqwa terdiri dari tiga macam:

Perasaan takut

”Dan kepada-Ku lah kamu harus takut (tinggalkanlan maksiat karena takut kepada Allah Ta’ala)”

Bakti dan tunduk

”Wahai sekalian orang yang beriman berbaktilah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya bakti”

Membersihkan hati dari segala dosa (pensucian jiwa). Inilah hakikat taqwa

”Siapa-siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut kepada Allah serta taqwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang beruntung”

Kaitan antara iman dan taqwa

Taqwa dalam Al Qur’an digambarkan sebagai pohon. Pohon taqwa ini merupakan pohon kehidupan diri masing-masing insan, yang merupakan kalimah thayyibah (kalimah yang baik).

“Tidakkah kamu melihat bagaimana Allah telah membuat perumpamaan bagi kalimah yang baik adalah bagaikan sebuah pohon yang baik, akarnya kokoh dan cabang-cabangnya (merentang) di langit. Pohon itu berbuah pada setiap musim dengan seizin Rabb-Nya. Dan Allah membuat perumpamaan bagi manusia agar mereka selalu ingat.”(Q.S. Ibrahim : 24-25)

Akar pohon ini melambangkan aspek-aspek keimanan yang diteguhkan oleh Nur Iman, akarnya kokoh menghujam bumi diri dan bumi jagat secara. Batang pohon melambangkan ketaqwaan yang tumbuh diatas landasan akar keimanan yang kokoh; seperti yang Rasulullah SAW ungkapkan bahwa buah-buah keihsanan yang dihasilkan dari pohon taqwa ini, dari kalimah at-taqwa, adalah al-hasanah. Sari yang dihasilkan al-hasanah berupa minyak yang berkilau terang menampakkan wajah pengetahuan tersembunyi, pengetahuan tentang haqiqah kehidupan, pengetahuan tentang rahasia Al-Haqq.

“Iman itu telanjang, pakaiannya taqwa, buahnya ilmu dan hiasannya malu.” (Al-Hadits)

“Bertaqwalah kepada Allah, maka Allah akan mengajarimu. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Baqarah : 282)

Peran taqwa dalam meraih fitrah

Ketahuilah bahwa fitrah Allah, sebagai kondisi dan keadaan yang dengannya Allah menciptakan sesuatu, merujuk kepada keadaan esensial kemaujudan manusia. Ia adalah sesuatu yang ada dalam esensi penciptaan manusia itu . Tujuan sejati dari suatu pensucian jiwa(tazkiyatu-nafs) adalah untuk menemukan fitrah, yang merupakan qudrah atau kuasa Allah Swt yang ada di dalam nafs, sebagai mandat atau misi hidup yang harus dimanifestasikan.

Dengan demikian hakikat taqwa yang merupakan penyucian jiwa, juga berarti menemukan fitrah atau misi hidup masing-masing insan.

Barangsiapa mengenal nafs-nya maka akan melihat qudrah dirinya sebagai bayangan terbatas dari qudrah-Nya, dan barangsiapa yang mengenal kuasa-Nya maka akan mengenal Rabb-Nya, sebagaimana dikatakan Rasulullah Saw, “man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu.” Dan kodrat diri ini tak lain merupakan fitrah Allah Swt yang disematkan kepada diri insan tertentu yang telah menegakkanad-diin dalam dirinya.

“ Maka tegakkanlah wajahmu kepada ad-diin secara hanif. Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah, itulah diin yang tegak, namun sebagian besar manusia tidak mengetahui.” (Q. S. Ar-Ruum [30] : 30).

Jika seseorang merealisasi fitrah dirinya, maka sebagaimana petala langit dan bumi ia hidup dalam energi minimalnya, dan akan mengalirkan suatu kekaryaan suci yang berguna untuk masyarakat. Apa yang ia lahirkan tak lain merupakan harta terpendam (kanzun makhfi)-Nya yang merahmati alam semestanya. Seorang insan yang telah berhasil merealisasi fitrah dirinya adalah seorang yang telah berhasil menegakkan ad-diin dalam dirinya, dan ini berarti ia telah berjalan dalam shirath al-mustaqim-nya.

Semakin seorang hamba bertaqwa, maka fitrahnya akan semakin teridentifikasi melalui mekanisme petunjuk yang senantiasa Allah berikan dalam hidupnya.

“Kitab (Al Qur’an ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa

..yaitu mereka yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

(QS Al Baqarah [2]: 2, 5)

Penutup

Demikianlah paparan singkat dan sederhana, sekedar ikhtiar menyambungkan khasanah yang terjalin indah dalam Al Qur’an, bahwaIman yang mempersyaratkan berserah diri( islam), merupakan modal untuk melakukan shaum dengan derajat khususul khusus. Dengan shaum berkualitas seperti ini ketaqwaan akan terbangun dalam diri seseorang, untuk suatu tujuan yaitu menemukan fitrah (kodrat diri) masing-masing.

Mari kita memperbaiki setiap aspek ibadah lahir dan batin dalam bulan Ramadhan ini, karena saat setan-setan dibelenggu realtif lebih mudah untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat. Tiada lain agar iman dan taqwa kita menjadi lebih kuat tidak hanya pada saat Ramadhan, tapi juga pada bulan-bulan selanjutnya, insya Allah. Dengannya semoga Allah mudahkan jalan ketaqwaan kita dalam menemukan shiraathal mustaqiim yaitu kodrat diri masing-masing dan memperkuat pijakan kita di dalamnya.

Sebagai kata penutup, izinkan saya mengutip kata-kata indah Imam Khomeini, semoga bermanfaat menguatkan hati kita dalam jalan ini. Aamiin

Fitrah itu adalah fitrah untuk memalingkan wajah guna menatap Kekasih Mutlak; dan Ia tak berubah. Sesungguhnya tak ada perubahan dalam ciptaan Allah. Ia adalah kecenderungan untuk mencari ma’rifah (pengetahuan tentang) Allah. Sampai kapan engkau akan menyia-nyiakan cinta fitri yang dilimpahkan Allah dengan mencintai sembarang kekasih karena khayalanmu yang sesat? Jika obyek cintamu adalah keindahan-keindahan tak sempurna, dan kesempurnaan-kesempurnaan yang terbatas, maka mengapakah api cintamu tak mereda setelah mencapainya dan mengapakah api cintamu semakin berkobar untuk mencapainya? Kini bangunlah dari tidur nyenyak yang membuatmu lupa, sambutlah kabar gembira ini, bergembiralah karena engkau memiliki seorang kekasih yang tanpa ketaksempurnaan, tanpa cacat, tanpa batas. Cahaya yang kau cari adalah Cahaya yang sinarnya menerangi alam semesta.

Referensi

  1. Al Qur’an dan Terjemahnya. Penerbit Darus Sunah. 2002
  2. Soleh. A Khudori. Puasa, Antara Shaum dan Shiyam. http://www.scribd.com/doc/4857963/Puasa-Antara-Shaum-dan-Shiyam
  3. Dahlan. MD. Perjalanan Bangsa Kembali ke Fithrah Melalui Shaum Ramadhan.http://islamiccenter.upi.edu/wp-content/uploads/2011/03/PERJALANAN-BANGSA-KEMBALI-KE-FITHRAH-MELALUI-SHAUM-RAMADHAN.pdf
  4. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Catatan Materi Serambi Suluk. Yayasan Islam Paramartha. 1998
  5. Imam Khomeini. 40 Hadis Nabi saw, telaah atas Hadis-Hadis Mistis dan Akhlak
  6. “Fasting,” Microsoft® Encarta® 98 Encyclopedia. © 1993-1997 Microsoft Corporation.
  7. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Struktur Insan Dalam Al Qur’an dan Hadis: Misykat Cahaya-Cahaya. Yayasan Islam Paramartha. 1998
  8. Tanuwijaya, Zamzam AJ. Yahdin Kuswandani. Shalat dan Transformasi Fitrah Diri. Yayasan Islam Paramartha. 2004
  9. Soetomo, Herman. Kalimah Taqwa: Pohon Taqwa. Pengantar Mengenal Tashawwuf. Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS). 2002
  10. Soetomo, Herman. Kalimah Taqwa: Cahaya Iman. Pengantar Mengenal Tashawwuf. Paramartha International Center for Tashawwuf Studies (PICTS). 2002
  11. Imam Al Ghazali. The Inner Dimension of Fasting. http://www.tasawwuf.org/basics/ghazali_fasting.htm
  12. Imam Al Ghazali. Minhajul ‘Abidin. Terjemahan KH Abdullah bin Nuh. Penerbit Yayasan Islamic Center Al-Ghazaly. Januari 1994. Hal 120-121.


Diary Ramadhan edisi 4 Ramadhan 1432H
Oleh :
Teguh Sugihartono

Umar bin Khatab, sahabat nabi, berkata:
“Suatu hari kami duduk bersama Rasulullah saw kemudian muncullah seseorang di depan kami, berjubah putih dan berambut hitam. Tidak ada tanda-tanda bahwa dia telah melakukan perjalanan. Tidak ada diantara kami yang mengenali beliau. Dia pun duduk bersama Rasulullah saw.
Dia berlutut dan menempatkan tangannya di paha dan berkata: “Muhammad, jelaskan padaku tentang Islam.”
Nabi Muhammad saw menjawab: “Islam adalah ketika kamu bersaksi tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah, kamu melaksanakan shalat, membayar zakat, saum di bulan Ramadhan dan melaksanakan haji, jika mampu.”
Orang tersebut berkata: “Kamu telah berkata benar”.
Orang tersebut bertanya lagi: “Jelaskan padaku tentang Iman”.
Nabi Muhammad saw menjawab: “Iman adalah jika kamu beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-malaikat Allah, beriman kepada kitab-kitab suciNya, beriman kepada nabi-nabiNya, beriman kepada hari penghisaban, dan beriman kepada Qada dan Qadr.”
Orang tersebut berkata: “Kamu telah berkata benar.”

Kembali orang tersebut bertanya: “Jelaskan kepadaku tentang Ihsan”.
Nabi Muhammad saw menjawab: “Ihsan adalah jika kamu mengabdi kepada Allah seakan-akan kamu melihat Beliau, jika kamu tidak melihat Beliau, sesungguhnya Beliau melihatmu.
Kemudian orang tersebut pergi, tetapi aku tetap bersama Rasulullah saw.
Nabi Muhammad saw berkata kepadaku: “Umar, tahukah siapa yang bertanya tadi?”
Umar berkata: “Hanya Allah dan RasulNya yang mengetahui”.
Nabi Muhammad saw berkata: “Dia adalah Malaikat Jibril. Dia datang untuk mengajarkan kalian tentang Ad-Diin”.
Dalam hadis ini malaikat Jibril menanyakan tiga hal utama dalam Ad-Diin. Ketiga hal tersebut mencakup Islam, Iman dan Ihsan. Islam adalah baju luar dari Ad-Diin. Iman adalah keyakinan akan hal-hal yang tidak dapat dilihat dan keyakinan akan ajaran-ajaran Rasulullah saw. Ihsan adalah mengabdi kepada Allah seakan-akan seseorang melihatNya.
Seseorang yang ber-Ad Diin secara utuh mengamalkan ketiga aspek ini. Ketiga aspek ini tidaklah sejajar. Seseorang yang telah berislam belum tentu mencapai derajat Iman. Seseorang yang telah mencapai derajat Iman belum tentu ber-Ihsan. Namun orang yang telah ber-Ihsan telah melewati tahap Islam dan Iman.
Guru sejati mengajarkan ketiga aspek ini. Guru Sharia mengajar dalam tingkatan Islam. Guru Aqida mengajar aspek-aspek keimanan. Guru sejati mengajar dalam tingkatan Ihsan.


Diary Ramadhan edisi 3 Ramadhan 1432H
Oleh :
Puri Handayani

Pada saat saya kecil, ibu saya yang bekerja sebagai guru SD sering membawa saya ke sekolah karena tidak ada pengasuh yang betah lama mengasuh saya. Begitu juga saat lik Karep yang mengasuh adik juga menikah dan tidak ada gantinya, kami berdua selalu dibawa ibu ke sekolah. Nah tempat teraman untuk menaruh saya dan adik saat ibu mengajar atau rapat adalah perpustakaan. Kebetulah ibu memang diberi tugas mengelola perpustakaan itu. Sebenarnya sih saya dan adik lebih suka bermain di halaman sekolah. Tetapi nampaknya ibu jadi tidak tenang mengajar kalo saya dan adik bermain diluar, karena sering kali terjadi hal-hal yang tak terduga seperti kami menemukan silet, bermain-main dengan silet tersebut dan akhirnya adik harus dibawa kerumah sakit karena jarinya berdarah-darah.

Di perpustakaan selain kami bebas memilih buku untuk dibaca dan dilihat-lihat, saya dan adik juga diberdayakan oleh ibu untuk memberi stempel pada buku-buku itu dan juga menata buku-buku itu di rak yang disediakan. Saat itu sih rasanya biasa-biasa saja, saya senang berlomba dengan adik siapa yang lebih banyak memberi stempel dibuku dan siapa yang paling rapi menyusun buku. Hasilnya pun bisa ditebak, ibu sebagai juri tunggal akan selalu memenangkan adik karena kalo tidak adik akan menangis. Meskipun dibelakang adik, ibu akan memberi kompensasi atas kesediaan saya mengalah pada lomba tersebut. Setelah besar saya baru menyadari betapa beruntungnya kami saat itu punya akses ke perpustakaan sekolah dengan mudah dan dibiasakan oleh ibu untuk berteman dengan buku. Meskipun sederhana dan buku-bukunya terbatas, tetapi cukup banyak buku bagus yang bisa kami baca. Anggaran keuangan ibu pun bisa disalurkan untuk membeli buku-buku yang tidak ada diperpustakaan sehingga lebih banyak buku yang bisa kami baca.

Buku yang paling saya senangi adalah buku cerita anak. Meskipun ibu juga berusaha menyemangati untuk membaca buku yang berisi pengetahuan umum atau ilmiah, tetapi tetap yang paling saya nikmati adalah membaca cerita anak. Sampai sekarang masih ada buku cerita yang saya ingat isinya meskipun judul dan nama tokohnya sudah lupa.

Salah satu buku yang saya baca saat itu adalah cerita tentang orang bodoh yang pergi mencari ilmu. Alkisah orang bodoh ini tinggal di desa dan sangat miskin. Pada suatu malam dia bermimpi ditemui orang tua yang memberi nasehat agar dia belajar kepada orang besar di kota. Hanya dengan cara itu lah dia bisa mengubah hidupnya yang miskin sengsara menjadi kaya dan bahagia. Karena kehidupan didesanya memang tidak memberikan harapan apapun, maka si orang bodoh ini memutuskan nekat mengikuti mimpinya. Pergilah dia ke kota mencari orang besar di kota. Karena sangat bodoh, dia tidak tahu apa yang dimaksud dengan orang besar. Setelah keliling-keliling kota dia tidak menemukan orang yang besar seperti dalam angan-angannya. Sampai akhirnya dia melihat gajah di depan istana kerajaan. Saking bodohnya dan belum pernah melihat gajah dia berfikir inilah orang besar. Maka mulailah dia mengabdi pada gajah itu, membersihkannya, mengelus-elus kakinya dan menyediakan makanan untuknya, berharap akan ada ilmu yang bisa dia pelajari. Orang-orang mengejek dia dan menganggapnya orang gila karena mengabdi pada gajah. Penjaga gajah pun berusaha mengusirnya.Tetapi dia tidak peduli dan menganggap gajah itulah yang dimaksud sebagai orang besar dalam mimpinya, sampai akhirnya orang tidak peduli lagi dengan apa yang dilakukannya.

Karena setiap hari dia membersihkan dan merawat gajah itu dengan sabar, lama-lama gajah itu pun menjadi jinak dan mudah dikendalikan olehnya. Hingga suatu hari pada saat gajah itu tiba-tiba ngamuk, si orang bodoh itu lah yang akhirnya berhasil menenangkannya. Karena keberhasilannya menenangkan gajah itu, sang raja kemudian memanggilnya. Dia ditanya ingin hadiah apa. Si orang bodoh ini bilang dia tidak minta apa-apa, dia hanya ingin belajar pada orang besar ini saja. Untungnya si raja cukup bijaksana memahami kebodohan orang tersebut. Raja pun mengijinkan dia untuk “belajar” pada gajah tersebut. Selain itu, raja juga mengirim guru-guru ke kandang gajah agar bisa mengajarkan ilmu kepada si orang bodoh tersebut. Pada awalnya si bodoh tidak tahu dan tidak suka dengan tidakan raja mengirim orang untuk mengajarinya ilmu. Tapi karena takut menolak perintah raja dan takut tidak diijinkan “belajar” pada gajah lagi dia pun menurut. Mulailah dia belajar pada guru-guru tersebut. Si bodoh pun lama-lama menjadi pintar dan menyadari kekeliruannya. Bukan gajahlah orang besar yang dimaksud dalam mimpinya, tetepi guru-guru yang bisa mengajarkan ilmu kepadanya.

Waktu saya kecil cerita itu hanya sebuah cerita anak saja, begitu selesai dibaca segera saya lupakan karena saya sudah berganti membaca cerita lain. Tetapi cerita sederhana tersebut malah bisa menghibur saya pada saat ini. Pada saat saya merasa susah payah mencari ilmu dan sering kali salah arah. Pada saat sudah capek mengerjakan sesuatu tetapi akhirnya saya sadar yang saya kerjakan itu tidak penting bahkan mungkin tidak perlu. Pada saat saya menyadari kesalahan yang saya lakukan dan kemudian menyesal mengapa saya memilih cara ini dan bukan cara lain yang benar dan efektif. Dalam keadaan susah payah meloloskan diri dari jeratan thesis yang tidak selesai-selesai ini, cerita si bodoh yang sederhana itu ternyata bisa mengingatkan saya untuk tetap sabar dan bisa menghibur diri. Mungkin memang saya harus salah dulu agar bisa belajar dari kesalahan tersebut dan akhirnya menemukan jalan yang benar. Meskipun kadang kala masih menggerutu dan berandai-andai jika saya diberi petunjuk yang benar dari sejak awal mungkin tidak akan banyak waktu dan tenaga yang terbuang. Tetapi cerita si bodoh yang berusaha belajar pada orang besar tersebut memberi satu keyakinan pada saya meskipun berputar-putar jalannya dan sering kali salah, saya yakin pada akhirnya akan bisa menemukan apa yang saya cari.


Diary Ramadhan edisi 2 Ramadhan 1432H
Oleh: Rifki Furqan

Walaupun selama tahun lalu aku cukup jarang ke mesjid, namun dengan cepat aku rasakan bahwa mesjid disini terlalu kosong. Bukan, bukan ingin membanding-bandingkan kondisi yang jelas berbeda. Jangankan membandingkan Oldenburg dengan Langsa, Aceh ataupun Indonesia pada umumnya yang memang kebanyakan mengaku muslim. Istanbul yang aku kunjungi akhir tahun lalu saja sudah menunjukkan perbedaan suasana beribadah secara gamblang di Eropa daratan pada umumnya.

Semalam adalah tarawih pertama tahun ini. Entah karena masih gegar budaya yang menyebabkan lupa, atau pula karena memang sudah cukup lama aku menghabiskan malam tarawih pertama tidak di kampung halamanku, Langsa. Begitu banyak ceremonial semalam. Berbagai sambutan muncul berlomba menghabiskan waktu sebelum tarawih dimulai. Entah apa esensinya, aku pun hanya mencoba mengingat-ingat ke-efektif-an hidup selama setahun belakangan.

Tepat hari ini di tahun lalu adalah hari perwujudan mimpi, persiapan terbang lintas benua. Setelah hari itu, berbagai pengalaman yang mengubah sudut pandang mulai bermunculan. Tidak perlulah dibanding-timbangkan hal yang jelas berbeda, cukup ambil hikmahnya saja. Hidup di negara subtropis dengan fluktuasi suhu tak menentu tidak pernah sama rasanya dengan suhu tropis yang tak memerlukan prakiraan cuaca dengan tingkat ketelitian dalam satuan jam. Beribadah dalam negara yang tidak mencantumkan agama dalam data kependudukannya pasti berbeda dengan suasana ibadah di negeri yang telah dibebaskan untuk menerapkan syariat Islam dalam kesehariannya. Keduanya memberikan warna pada catatan perjalanan hidupku, sebagai rasa syukur dan bekal perjalanan selanjutnya.

Sudah beberapa hari ini aku memperhatikan perubahan, atau lebih tepatnya penyesuaian-penyesuaian budaya kembali. Mulai dari ziarah kubur sebelum puasa, duduk-duduk di warung kopi, rasa bingung kembali dengan jalan di sebelah kiri, diserobot antriannya di kantor pos maupun sempat berhenti ketika lampu jalan berwarna merah dan menjadi aneh sendiri. Semuanya kadang membuatku senyum-senyum sendiri. Owh, sudah lebih kaya rupanya pengalaman yang tak terasa membentuk diri ini.

Agenda sebulan ini jelas, meningkatkan ibadah puasa dan silaturahmi alias berbagi. Tidak ada imsak jam 4 buka jam 10 malam tahun ini. Keprihatinan menu berbuka tahun lalu akan tuntas terbalaskan tahun ini. Tapi, jujur saja aku rindu dengan perjuangan kami tahun lalu. Berjuang melawan dingin suhu yang kadang dibawah 10 tapi terbayarkan dengan lantunan khidmat bacaan sholat imam asal Yaman yang Arabnya lebih Arab dari orang Arab. Tidak ada lagi tahun ini, sempit-sempitan di mesjid yang sebenarnya rumah itu. Tidak perlu serong kanan atau kiri dalam berdiri membentuk shaf sholat seperti tahun kemarin yang dua shaf normal terpaksa menjadi tiga shaf untuk mengakomodir jama’ah yang ingin merebut sebanyak-banyaknya berkah Ramadhan. Semalam pemandangan laki-laki bersarung dan berpeci dengan baju kokonya menggantikan memori jaket plus syal tebal terbalut dileher, tanpa sarung plus kaus kaki yang tidak boleh bau dan harus hangat tahun sebelumnya. Ah, terlalu kosong rasanya mesjid disini.

Tahun lalu aku pernah jalan kaki hampir sejam disuhu mendekati satu karena melewatkan jadwal Bus yang tepat waktu. Ketika itu aku kurang memperhitungkan dan memutuskan untuk witir dulu. Tak begitu lama kami tiba di Eropa, beberapa temanpun tumbang dan kalah melawan fluktuasi suhu yang cukup menyiksa bagi tubuh tropis yang pertama kali menghirup udara bebas polusi Eropa. Tak lama memasuki Ramdhan terlama dalam hidupku tahun lalu, aku pun merelakan satu hari puasa yang telah dengan suksesnya aku bayar di winter kemarin, dengan diskon jam berlipat-lipat, imsak jam 8 pagi dan berbuka di pukul 4 sore.

Pembicaraan dalam Bus dan ketika istirahat kursus bahasa bermalam-malam lalu terganti dengan debat kusir di warung kopi dengan teman-temanku semasa sekolah dulu. Kopi hitam, sanger dingin maupun teh tarik menjadi pilihan minuman teman berbantah-bantahan, mengorek mimpi-mimpi yang tertunda, serta bumbu cerita nostalgia sekaligus menertawakan masa lalu yang serba berbeda dengan „anak jaman sekarang“. Begitu kami mencoba menarik garis pembeda generasi muda di Langsa ini.

Teman-temanku ini, hampir semuanya sudah memiliki seragam dan nominal uang tiap bulannya. Tapi, dari beberapa cerita yang mereka aku-kan maupun pendapat yang aku utarakan, kami sepakat dengan peran dan keinginan kami masing-masing. Dengan dunia yang telah kami pilih dan masuki beberapa tahun lalu. Teman-temanku ini rasanya terlalu muda untuk menggadaikan mimpi-mimpi besarnya dengan meja kerja, untuk jam kerja yang bisa datang sesuka hatinya di pagi hari tetapi berlomba paling cepat selesai di sore harinya. Sia-sia saja rasanya energi dan idealisme masa muda mereka!

Tidak ada yang salah dengan mereka. Sistemnya yang salah, begitu pembelaan mereka. Aku memakluminya karena itulah alasan utama pemuda Indonesia, menyalahkan sistem. Lalu bagaimana denganku yang telah setahun lamanya menjalani sistem berbeda di negara mapan dan berbudaya di Eropa sana? Semoga saja nanti aku bisa menggabungkan berbagai pengalaman dan sudut pandang berbeda itu dalam suatu kerangka yang mendekati sempurna, jika kesempatan itu ada..

Selamat berpuasa kawan, selamat berlomba menyempurnakan ibadah kita.

Langsa, 1 Ramadhan 1432 H


Diary Ramadhan edisi 1 Ramadhan 1432H
Oleh: Wahono

Jama’ah?

Ye e….

Oo jama’ah?

Ye e….

Alhamdu..lillah…

(Ust. Nur Maulana)

Minimal kita baca 17 kali surat Al Fatihah dalam sehari. Di akhir ayat pertama, dan juga ayat ke-tiga tersurat Ar Rahman, Ar Rahim.

Ada kisah yang menarik (setidaknya untuk saya).

Seorang teman bertanya kepada temannya, sebutlah A dan B.

Kalau Allah memiliki sifat Ar Rahman (Maha Pengasih) dan Ar Rahim (Maha Penyayang), mengapa di dunia ini masih banyak penderitaan, penindasan, dan kemiskinan?

Tidakkah Allah Maha Kuasa atas segala itu dan dapat mengubahnya menjadi kebahagiaan, kecukupan, kesejahteraan? Di manakah letak adilnya Allah?

Kemudian mendengar pertanyaan rekannya ini, B cukup keras memacu kerja glutamate dalam otaknya. Awalnya B bercerita mengenai hakikat penciptaan manusia yang oleh Allah diabadikan dalam Al Qur’an

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan ia mendengar dan melihat. (Q.S. Al Insan [76]:2)

Inilah sebenarnya hakikat penciptaan manusia. Allah Yang Maha Agung hendak menguji setiap manusia denagn keadaan yang ia alami, baik keadaan yang menyenangkan ataupun menyusahkan. Bukankah Allah membekali manusia sesuatu yang amat berharga yang untuk digunakan sebagai alat ‘survival’ dalam berbagai situasi hidup yang dialaminya? Allah telah memberinya akal. Ayat di atas menyebutkan karena itu Kami Jadikan ia mendengar dan melihat. Bukankah akal akan bekerja dengan input pendengaran dan penglihatan? Data yang masuk melalui pendengaran dan penglihatan akan dicerna melalui akal dan kemudian ia akan memutuskan langkah apa yang akan ia ambil untuk menghadapi apa yang sedang dialaminya. Jika yang ia lihat dan dengar dapat menjadikan dirinya sedih, maka ia berusaha untuk mengatasinya, pun ketika ia merasa kekurangan, demikian seterusnya.

Kalau kita lanjutkan lagi ayat tadi

Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur (Q.S. Al Insan [76]:3)

Allah menciptakan hati nurani bagi manusia, sesuatu yang dipenuhi nilai Ilahiah. Sains saat ini mulai meraba dan menyebutnya sebagai God spot. Sesuatu yang dapat menuntun jalan yang Allah ridhai. Namun, mengapa banyak orang yang tersesat walaupun ada hati yang dipenuhi dengan nilai Ilahiah? Hal itu disebabkan karena ia tidak dapat menerjemahkan sinyal-sinyal ilahiah itu. Ia selalu menutup hatinya untuk memahami. Ego dirinya lebih kuat dari keinginan untuk menerima kebenaran. Merujuk kepada surat Allah kepada kita semua

Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkan sesat dengan sepengetahuanNYA? Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya. Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)? Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran. (Q.S. Al Jatsiyah [45]:23)

Tentu kita ingat ayat yang mengisahkan saat Allah SWT menyuruh para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ruhKU kedalamnya, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. (Q.S. Al Hijr [15]:29)

Dalam tafsir Al Mishbah karya Prof. Quraish Shihab, Allah menyuruh malaikat untuk bersujud kepada ruhNYA yang ada pada manusia (Adam as), bukan kepada bentuk manusianya. Hal ini mengisyaratkan kepada kita bahwa manusia itu memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah karena ada ruh Allah SWT di dalam dirinya. Unsur ini tidak ditemukan pada iblis dan jin. Unsur ruh ini yang mengantarkan manusia lebih mampu mengenal Allah SWT, beriman, berakhlak baik, dan berperasaan halus. Dengan demikian, Allah tekah memilih manusia untuk menjadi khalifahnya di muka bumi ini. Hal yang pada mulanya bahkan dipertanyakan oleh para malaikatnya.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan mebuat kerusakan dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau? Allah berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui. (Q.S. Al Baqarah [2]:30)

Mungkin ada yang pernah mendengar nama Dr. Jeffrey Lang, mualaf asal Amerika yang menulis buku Even Angels Ask yang sudah dialihbahasakan menjadi Bahkan Malaikat pun Bertanya; menyimpulkan bahwa manusia diberi oleh Allah sesuatu yang tidak ada pada malaikat, yaitu hati dan akal.

Jadi kenapa Allah seolah-olah membiarkan kemiskinan, penderitaan, dan penindasan itu terjadi adalah karena semua itu tak lain merupakan bagian dari hakikat penciptaan manusia itu sendiri. Allah SWT ingin mengujinya dan Allah telah memberinya akal dan hati untuk bias survive dalam kehidupannya. Kemampuan ini tidak dimiliki makhluk lain.

Untuk pertanyaan yang ke-dua, di mana letak adilnya Allah?

Mungkin A lupa kalau hakikat dunia bukan tempat meraih hasil. Tersurat dalam Al Fatihah yang kita baca 17 kali itu, maaliki yaumiddin yang artinya (Allah) Yang Menguasai hari pembalasan. Bukankan pembalasan sejati itu di akhirat kelak? Kita baru dapat mengatakan seseorang telah berbuat adil kepada kita jika apa yang dilakukan telah mendapat balasannya. Bagi seorang pekerja, ia akan berkata majikannya adil jika majikan telah membayarkan upah sesuai dengan beban yang ia kerjakan. Dapatkah kita katakan Allah tidak adil saat di dunia ini, sementara hasil dari amal shalih kta belum mendapat balasan yang sempurna? Kalaupun ada, balasan itu baru sedikit sekali dan hanya kita sebut sebagai panjer atau DP, karena dunia ini bukan tempat menuai hasil yang sempurna.

Allah mengibaratkan hubungan dengan hambaNYA seperti hubungan jual beli atau tijarah yang termaktub dalam Q.S. Ash Shaff (61) ayat 10. Dala hal ini yang dimaksud bukanlah jual beli tunai karena jual beli tunai tidak memerlukan sikap saling percaya. Sebagai contoh, jika kita bertransaksi tunai, tidak perlu ada kepercayaan antara penjual dan pembeli. Asalkan tercapai kesepakatan atas kualitas barang dan harga. Tapi jika si pembeli ingin mencicilnya, si penjual membutuhkan DP atas kesungguhannya, karena itu diperlukan saling percaya dan saling menghormati. Kepercayaan inilah yang disebut dengan keimanan kepada Allah. Saat ini, di dunia, kita diperintahkah pada banyak hal dan dilarang dalam beberapa hal oleh Allah dengan sabar dan ikhlas. Jika tak ada keimanan di hati kita, bisakah kita melakukannya?

Coba kita bayangkan jika si miskin dengan do’anya tiba-tiba kaya,yang kaya karena dido’akan oleh si miskin langsung jatuh miskin. Yang sakit tiba-tiba sembuh, yang terbunuh tiba-tiba hidup kembali dan membunuh orang yang membunuhnya, yang bersedekah langsung dibalasi dengan berlipat ganda di dunia ini dengan sempurna, seorang pengendara motor yang menyalip mobil langsung terjatuh karena dido’akan celaka oleh pengendara mobil. Bukankah kacau jadinya. Coba kita tonton film Bruce Almighty.

Kembali ke pertanyaan awal, apakah ini yang disebut dengan adil? Jika semua ganjaran dari segala usaha kita balasannya di dunia ini, justru hakikat dunia sebagai tempat ujian menjadi tidak berlaku lagi. Dan yang sangat tidak adil bahkan tdai mengenakkan yaitu balasan di dunia hanya bersifat sementara, karena umur manusia pun sementara. Hampir dapat dipastikan, keimanan kita secara perlahan akan memudar karena segala bentuk ibaah kita hanya mengharapkan balasannya di dunia ini saja. Keikhlasan untuk berikhtiar karena Allah semata luntur dan terasa manisnya lagi. Taqwa hanya tinggal nama. Kita menjadi manusia-manusia yang hanya mengukur segalanya dari balasan yang diperoleh di dunia ini dan bersifat materi.