Archives for “Islam di Groningen”

Hanze Magazine, Wednesday, 5 November 2008 [PDF]

A letter from Nanie Medyagustia [Budhe Nanie] to Executive board chairman Henk Pijlman started the whole process in 2005. ‘There are so many people of different nationalities and religions here that feel the need to pray, meditate, or just need a moment for contemplation. Could you make a special room for them?, I asked him.’ Three years later her idea has been realised. In December the new silence centre next to the Atrium (room E1.06), will be officially opened.

Cover majalah HanzeMag

Cover majalah HanzeMag

Daftar Isi HazeMag

Daftar Isi HazeMag

Artikel Stiltecentrum

Artikel Stiltecentrum

Artikel dalam bhs Inggris (hal 21)

Artikel dalam bhs Inggris (hal 21)


[Foto: Muhsin]

Pintu masuk dengan tulisan Stiltecentrum (Meditation room)

Tempat Wudhu

Interior Stiltecentrum

Interior Stiltecentrum


Budhe Nanie menyampaikan berita bagus tentang Stilteruimte atau Ruang Hening di Hanze. Rencana peresmian STILTERUMTE dibulan januari, kita bikin opties: tgl 13, 14 atau 28 januari 2009, karena Balkenende (perdana menteri Belanda) agendanya penuh banget, kita rencakan Wallage (walikota Groningen) yang akan meresmikan. Peresmian antara jam 16.00-18.00.

Kalau stilteruimte mau dipakai, silahkan, sekarangpun bisa, asal sesudah sholat sajadahnya dikembalikan di kotak/lemari, yang disediakan disebelah tempat wudhu.

Selengkapnya…


Jadwal Shalat (Selwerd)

Filed under Islam di Groningen

Klik bulan di bawah untuk mendownload file jadwal shalat untuk daerah Groningen sesuai dengan edaran dari Masjid Selwerd.

2005
Oktober


Kesulitan mencari tempat sholat? Nee, gampang kok. Bumi Allah itu luas, bisa sholat di mana2. Cuma hati-hati, kalau sholat di taman, dibersihkan dulu dari hondpup. Berikut ini daftar tempat sholat yg ada di Groningen:

Masjid Selwerd

Lokasi: Selwerd Park
Bahasa: Arab

selwerd.jpg

Mesjid Turki

Alamat Mesjid Turki di Karreweg :
Korreweg 200.

Sebenarnya ada juga Mesjid Turki di
“Oude Boteringstraat 56″

Kalau memang jadwalnya padat dan ada sedikit waktu luang, bisa memilih masjid Turki yang di korreweg. Karena di sana khutbahnya hanya sebentar (sekitar 5 menit) hanya dalam bahasa Turki , dan di mulai tepat saat waktu dzuhur masuk (tidak hrs menunggu jam 14.00 pd summer time).

Bisa mudah di capai dengan mengikuti jalur bus 1, di jalan Korreweg (jalan besar), sekitar 500 meter sejak awal memasuki jl korreweg. terlihat gedung bekas gereja dengan menara bagian atasnya runcung warna hijau.

Kompleks Zernike

Ponky: “Buat yg mo shalat di natuurkunde zernike, sila dtg ke ruang 150110, selantai dgn bibliotheek chem/fysica ato perpustakaan kimia/fisika…gak jauh2 dari perpus kok, ruang lab yg gak(blom) kepake, di pojok kanan ada ruang kecil…nah itu dia. udah digelar 2 sajadah dan sepasang mukenah…kalo mo wudhu di kran air lab, usahakan jgn belepotan ya…enjoy your praying!”

Kompleks Harmonie Building

Tidak ada tempat khusus. Tapi bisa numpang di kamarnya Indra (lt 2, Rechten) atau Ismail (lt 4, Alfa Informatica).

Kompleks Farmasi & AZG/UMCG

Dimana niih? Tolong kasih tahu ya…

Anda punya info lagi

Tolong tambahkan di komentar, nanti kami masukkan ke daftar ini.


Ruangan Sholat di Universitas

Filed under Islam di Groningen

Dua minggu ini UK–majalah mingguan RUG–sedang giat mengangkat isu tentang ruangan sholat di universitas. Setidaknya mereka sudah tertarik dengan isu ini sejak setahun yang lalu, namun baru sekarang mulai mendapat respon hangat dari berbagai pihak.

Yang ingin membaca atau “mencoba membaca” beritanya silahkan klik link berikut. Ini copy halaman per halaman dari majalah UK yg memuat berita tersebut.

April 2004:
Roken vs Bidden
Ruimte voor Gebed?
Moslemstudenten vragen om gebedsruimte
Wawancara dengan Ponky


Jezus is Een Profeet

Filed under Islam di Groningen

Safira, anak perempuan bungsu saya, sepulang dari sekolah sehari sebelum libur Hari Paskah (passendaag) bercerita, “Pak, tadi aku di sekolah melihat God di tv.” Wah, ini menarik, karena di Sekolah Dasar Negeri di Belanda tidak ada pelajaran agama. Dugaan saya ini acara tambahan menonton televisi tentang agama. Ehm, “melihat” Tuhan? Seperti apa kira-kira…

Saya tanya Safira, “Seperti apa God yang dilihat itu, Dik?” Dia seperti heran dengan pertanyaan ini, jadi tidak langsung dijawab. Sebelum itu, si kakak, Rayhan, memberi penjelasan, “Bapak tahu kan, God itu apa? Allah, kan?” Mereka memang belum tahu kata “Tuhan”, karena dikenalkan nama “Allah” terlebih dulu, dan setelah itu mendapat kata “God” dari buku dan dari mendengar di sekolah.

Saya ganti pertanyaan untuk Safira, “Siapa nama God yang dilihat di tv, Dik?” Safira mengingat-ingat sebentar, “Jess, Jesen…. mmm” Langsung saya yakinkan, “Oooh… Jezus, ya?” (bacaan untuk “u” memang dekat dengan “eu”). Ah, benar! Safira langsung menjelaskan dengan lancar bahwa beberapa temannya mengacungkan tangan pada saat ibu guru bertanya, “Wie gelofte van Jezus?” (Siapa yang “beriman” [akan] Yesus?)

“Jezus itu siapa, pak?” Seperti biasa, sebelum berlanjut pada tanya-jawab yang lebih kompleks, saya jelaskan bagian yang sederhana terlebih dulu, “Jezus is een profeet (seorang nabi).” Tentu saja segera disusul dengan pertanyaan, “Apa profeet itu?” Karena mereka akan sulit menerima terjemahan “nabi”, jadi saya jelaskan dengan contoh: seperti Muhammad, jadi orang yang diberi tahu oleh Allah, misalnya tentang sholat, puasa.

Safira menegaskan, “Jadi bapak geloft juga ke Jezus?” Karena tampaknya konteks pertanyaan dia dikaitkan dengan teman-temannya yang mengacungkan tangan, saya lebih baik menjelaskan lebih panjang dan bertahap, “Begini Dik, Bapak geloft van Jezus tapi bukan God seperti yang dilihat di tv. atau seperti teman-teman di sekolah. Bagi Bapak, Jezus itu profeet, orang, seperti kita.” Rayhan ikut menimpali, “Itu yang tahu sholat, ya Pak?” Iya, “Profeet itu diberi tahu oleh Allah misalnya tentang cara sholat dan kemudian orang Islam mengikuti dari dia.”

Seperti biasa, Safira merasa perbedaan tersebut membuatnya heran: mengapa begitu? Karena memang berbeda, Dik. Kita kan orang Islam; God adalah Allah, sedangkan Jezus itu adalah profeet.

Agaknya inilah “telur paskah” yang saya peroleh tahun ini: diskusi persoalan keagamaan dengan anak-anak, dengan bahasa sederhana namun berisi makna akan keyakinan. Tentu saja, sebagian istilah dan konsep tersebut masih baru bagi mereka. Namun biarlah mereka menyimpannya dulu dan akan mendapatkannya sedikit demi sedikit sambil menapak ilmu nantinya.

Yang saya usahakan adalah: mereka menyadari adanya perbedaan tersebut dengan sikap awal memahami keadaan masing-masing.