Archives for “Islam Aktual”

Tulisan oleh Prof. Diana L. Eck ini menarik sekali untuk membantu kita mamahami makna pluralisme. Dia menekankan, “..pluralisme bukan sekedar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Saya ingin katakan bahwa pluralisme adalah sebuah ikatan –bukan pelepasan– perbedaan dan kekhususan.”

——-

Rujukan untuk Diskusi di Indonesia
22-26 Agustus 2005

Diana L. Eck
Professor of Comparative Religion and Indian Studies
Director of the Pluralism Project
Harvard University

Kubah putih raksasa dari sebuah mesjid dengan menara-menaranya yang menjulang di atas ladang jagung di Toledo, Ohio. Kita bisa melihat pemandangan ini saat mengendarai mobil di jalan tol antar-negara bagian. Sebuah kuil Hindu dengan pahatan gambar gajah di pintu masuknya berdiri di pinggiran sebelah barat kota Nashville, Tennessee. Sebuah kuil Budha Kamboja beserta padepokan dengan atap khas Asia Tenggara tampak di daerah pertanian sebelah selatan Minneapolis, Minnesota. Di daerah sekitar Fremont, California, sejumlah bendera berkibar dari kubah-kubah emas gurdwara Sikh di Hillside Terrace, yang sekarang diubah namanya menjadi Gurdwara Terrace.

Peta agama di Amerika telah berubah drastis dalam empat puluh tahun terakhir, tapi kebanyakan penduduk Amerika belum menyadari dimensi dan ruang lingkup dari perubahan tersebut.kendati perlahan, perubahan tersebut terjadi secara kolosal. Ini bukanlah gambaran dari Amerika yang religius yang dibayangkan banyak orang di berbagai belahan dunia. A.S. biasanya diidentikkan dengan Kristen, kadang-kadang bahkan Kristen yang sangat konservatif, terpolitisasi, serta yang penuh dengan misi-misi sayap kanan. Atau, A.S. dipandang sebagai bangsanya kaum Kristen dan Yahudi. Atau, bagi sebagian orang, Amerika merupakan negara yang sekuler. Memang, bahkan di A.S. sendiri, banyak orang Amerika yang saya temui terkejut saat menyadari bahwa ada 1400 mesjid dan pusat Islam di Amerika, bahwa ada lebih banyak Muslim daripada penganut Episkopal, serta bahwa jumlah umat Muslim dan Yahudi di Amerika hampir sebanding, yakni sekitar lima sampai tujuh juta orang. Di Amerika sendiri, orang-orang terkejut saat menyadari bahwa Los Angeles merupakan kota dengan umat Budha yang paling bervariasi di dunia, dengan adanya penganut Budha dari berbagai tempat di Asia mulai dari Sri Lanka sampai Korea, yang bercampur dengan penganut Budha kelahiran Amerika. Kita tahu bahwa banyak di antara dokter penyakit dalam, dokter bedah, dan perawat kita berasal dari India, tapi tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa mereka pun memiliki kehidupan beragama, bahwa mereka mungkin meluangkan waktu barang lima menit di pagi hari untuk berdoa di altar ruang tamu di kediaman mereka, bahwa mereka mungkin membawa buah-buahan dan bunga-bungaan ke kuil Shiva-Vishnu lokal di akhir minggu.

Semua ini diawali dengan .imigrasi baru., yang dipicu oleh kebijakan imigrasi tahun 1965, di mana orang-orang dari seluruh dunia datang ke Amerika dan menjadi warga negara. Bersama mereka datang pula tradisi keagamaan dunia.Muslim, Hindu, Budha, Jainisme, Sikh, Zoroaster, Afrika dan Afro-Karibia. Proyek Pluralisme, yang saya prakarsai di Universitas Harvard, telah mendokumentasikan Amerika baru yang religius ini selama lebih dari satu dekade. [Lihat http://www.pluralism.org]

Mungkin Anda bertanya, bagaimana ini semua terjadi? Pada tanggal 4 Juli 1965, President Lyndon Baines Johnson megesahkan sebuah UU Imigrasi baru di bawah Patung Liberty. Pintu-pintu Amerika terbuka bagi para imigran dari seluruh dunia. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Sejak 1924, sebuah sistem kuota yang sangat ketat telah menghentikan imigrasi, dan bukan rahasia lagi bahwa imigrasi dari Asia sangat dibatasi, yang diawali dengan dikeluarkannya Kebijakan Pengucilan Orang Cina pada tahun 1882. Dekade demi dekade, cakupan .pengucilan orang Asia. meluas meliputi orang Jepang, Korea, dan orang Asia lainnya. Imigran yang lahir di Asia tidak dapat menjadi warga negara, demikianlah putusan Mahkamah Agung dalam kasus Bhagat Singh Thind pada tahun 1920an. Thind adalah penganut Sikh, ia merupakan warga yang telah dinaturalisasi, dan telah mengabdi pada Angkatan Darat A.S. dalam Perang Dunia I. Pada tahun 1923, kewarganegaraannya dicabut. UU Kemigrasian 1924 telah mengucilkan orang-orang yang tak berhak atas kewarganegaraan, dan ini artinya seluruh orang Asia.

Kebijakan Imigrasi 1965 terkait dengan semangat dalam Kebijakan Hak-hak Sipil yang dikeluarkan tahun 1964. Dengan semakin sadarnya orang-orang Amerika atas struktur rasisme yang tertanam dalam bangsa mereka, mereka pun menyadari bahwa diskriminasi ras masih mewarnai UU Keimigrasian, mengucilkan orang-orang dari apa yang saat itu dikenal sebagai .segitiga Asia-Pasifik.. Di awal kepemimpinannya, Presiden John F. Kennedy menyiapkan rancangan UU untuk .menghapuskan diskriminasi antar individu dan antar bangsa yang berdasarkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan kontribusi yang dapat diberikan oleh para imigran, serta yang tidak konsisten dengan tradisi bangsa kita yang penuh penerimaan.. Robert Kennedy, sang Jaksa Agung, mengatakan, .Seiring dengan upaya kita dalam menghapuskan gejala-gejala rasisme dari kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa lagi mempertahankan rasisme sebagai dasar UU Keimigrasian kita..

Dengan demikian dimulailah sebuah era baru keimigrasian, serta sebuah babak baru yang kompleks dan penuh warna dalam kehidupan beragama di Amerika. Amerika masih baru terjaga dan berjuang dengan berbagai dimensi dari realitas baru ini. Sensus tahun 2000 mengungkapkan bahwa lebih dari 10% penduduk Amerika sekarang ini lahir di negara lain. Persentase terbesar dari para imigran baru berasal dari Asia dan Amerika Latin.

Sering kali ketika saya berbicara di depan audiens Amerika belakangan ini, tahun 2005, saya mencoba menjelaskan bahwa yang disebut-sebut sebagai .dunia Islam. tidak berada di bagian dunia lain. Kenyataan sebenarnya adalah, Amerika Serikat adalah bagian dari dunia Islam itu. Chicago dengan tujuh puluh mesjidnya beserta setengah juta umat Muslim, lengkap dengan Majelis Organisasi Islam di Chicago Raya, adalah bagian dari dunia Islam. Weekend berikut, pada hari Buruh Amerika, di Chicago, Masyarakat Islam Amerika Utara akan mengadakan pertemuan tahunan. Sekitar 30.000 Muslim akan ambil bagian dalam salah satu pertemuan tahunan terbesar di Amerika ini. Tema utama dari pertemuan tersebut adalah .Muslim di Amerika Utara: Berbagai Tantangan dan Jalan ke Depan.. Mereka akan membahas masalah, .Pluralisme: Berkah atau Masalah.. Topik-topik lainnya mencakup Hubungan antara Suami-Istri dan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Melawan Islamofobia dan Fitnah, Umat Muslim dan Kebijakan Publik, Wanita dan Pria dalam Mesjid di Amerika, Respons Umat Muslim terhadap Bencana Tsunami. Dalam hal hubungan antar umat beragama, mereka akan membicarakan tentang fatwa menentang terorisme yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Dewan Fiqh Amerika Utara serta tanggung jawab komunitas Muslim Amerika untuk memahami dan menindaklanjuti .teror kembar ekstremisme dan terorisme agama.. Mereka juga akan mengadakan pameran kesenian, pameran buku, dan turnamen bola basket. Pertemuan seperti ini merupakan sebuah pernyataan publik yang terbuka dari apa yang saya maksud dengan sebuah .Amerika Baru yang Religius..

Keragaman kehidupan beragama di Amerika sekarang ini berjalan seiring dengan sebuah komitmen yang konstitusional akan kebebasan beragama dan kebebasan menentukan pendapat. Memang banyak di antara para pendiri Amerika yang beragama Kristen, namun mereka dengan gigih berupaya menciptakan suatu pemerintahan yang tidak didominasi oleh kepercayaan mereka atau kepercayaan lainnya.

Bagi Madison dan banyak pendiri bangsa lainnya, argumen bagi ketidakharusan menganut agama tertanam secara teologis. Dalam berjuang untuk kebebasan beragama, kami menghargai kebebasan yang diperintahkan oleh Tuhan. Tidak mengherankan bila umat Muslim Amerika, yang sependapat dengan Qur.an bahwa tidak boleh ada paksaan dalam agama, melihat hal ini sejalan dengan semangat para pendiri Amerika.

Mereka yang menulis kalimat ini tidak membayangkan keragaman agama di Amerika dewasa ini dengan warganya yang memeluk Islam, Budha, Aliran Jainisme, dan Hindu. Meskipun demikian, prinsip-prinsip yang kokoh mengenai kebebasan menjalankan ibadah agama dan ketidakharusan menganut agama telah mampu bertahan mengatasi ujian waktu seiring dengan semakin meluasnya keragaman agama di Amerika. Pluralisme agama yang kaya di Amerika dewasa ini adalah hasil langsung dari komitmen kita kepada kebebasan beragama. Tradisi humanis sekuler Amerika juga merupakan produk kebebasan hati nurani yang dibangun menyatu dalam pondasi Konstitusi. Kebebasan agama adalah juga kebebasan dari agama apapun. Ketika warga Prancis Alexis de Tocqueville mengadakan lawatan mengelilingi Amerika pada 1820an, dia menemukan bahwa memutus hubungan antara gereja dan negara sesungguhnya membuat agama semakin kuat, bukannya malah melemahkan. Hal ini cukup membuatnya heran.

Dewasa ini, seperti yang kita semua ketahui, hal ini terus berlanjut. Apa yang disebut Kristen kanan aktif secara politis, sangat vokal, dan bekerja untuk memilih pejabat-pejabat publik yang akan memajukan agendanya. Demikian juga dengan Kristen kiri. Demikian juga halnya dengan gerakan Damai Kristen. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Yahudi, Muslim, dan Hindu. Demikian juga dengan koalisi yang dinamakan Aliansi Antar-keyakinan (Interfaith Alliance). Demikian juga dengan organisasi sekuler yang penuh semangat seperti American United for the Separation of Church and State (Amerika Bersatu untuk Pemisahan Gereja dan Negara). Sebagian rakyat Amerika memang masih beranggapan bahwa Amerika adalah sebuah .negara Kristen,. namun mereka akan mendapati banyak pemikiran lain di arena publik. Amerika adalah juga sebuah negara dimana warga Muslim Amerika berdiri di balai pertemuan Kongress untuk menyampaikan doa untuk umum, mengadakan barbeque kotak suara untuk mendaftar Muslim yang akan memberikan suaranya, dan menyelenggarakan hari-hari lobbi Muslim (Muslim lobbying days) di Capitol Hill di Washington. Amerika adalah negara simana warga Buda Amerika menahbiskan biarawan baru di kuil yang mengibarkan bendera Amerika, warga Hindu Amerika mencalinkan diri untuk jabatan di tingkat lokal dan negara bagian dan menyerahkan laporan kepada Mahkamah Agung, dan warga Sikh Amerika mendesak hak-hak konstitusional untuk mengenakan turban dan mempertahankan rambut mereka tetap dipelihara di tempat kerja.

Tantangan negara multiagama yang sesungguhnya sangat banyak terbentang dihadapan kita sekarang ini. Ini adalah waktu ujian yang sesungguhnya bagi dua prinsip ketidakharusan menganut agama dan kebebasan menjalankan ibadah agama. Kaum mayoritas mungkin memenangkan pemilu, tetapi Konstitusi dilindungi oleh pengadilan atas nama individu, anggota komunitas minoritas, yang tidak akan pernah memenangi pemilu tetapi hak-haknya untuk melaksanakan ibadah agama ada di di jantung janji kewarganegaraan kita. Musim panas ini, isu-isu ini banyak muncul di agenda. Apakah sebuah county di negara bagian Kentucky menempelkan Sepuluh Perintah Injil di Gedung Pengadilan Countynya? Tidak, pengadilan memutuskan pada musim panas ini. Haruskah Angkatan Udara AS mengambil inisiatif untuk memastikan kadetnya yang beragama Islam diberi waktu untuk menjalankan ibadah agamanya? Ya, Departemen Pertahanan akan mendesak pada musim panas ini. Apakah seorang saksi Muslim bersaksi atas kebenaran pernyataanya dengan manaruh telapak tangannya di atas Kitab Suci Al-Qur.an? Ya, kata the American Civil Liberties Union (Serikat Kebebasan Sipil Amerika) dalam tuntutan perkara di North Carolina. Dapatkah seorang perempuan Muslim menuntut sebuah perusahaan di Florida yang melarang dia mengenakan tutup kepala (jilbab) di tempat kerja? Ya, kata the Equal Employment Opportunity Commission (Komisi Kesempatan Memperoleh Pekerjaan yang Setara). Dia dapat menuntut atas perlakuan diskriminasi di bawah Undang-UndangHak-hak Sipil Florida.

Sebuah moto biasanya mudah diingat tetapi sulit untuk bertahan lama. Amerika Serikat dan Indonesia, dalam satu hal, memiliki kesamaan moto yang memberi gambaran kekompleksitasan kita. Untuk Indonesia ada .Bhineka Tunggal Ika,. .Berbeda-beda tetapi Satu.. Untuk Amerika Serikat ada, .E Pluribus Unum,. .Satu dari banyak.. Di Amerika, kalimat ini tercetak di mata uang koin yang ada dalam kantong pakaian kita yang begitu kita kenali, sehingga kadang kita jarang memikirkan apa artinya. Apakah ukuran dari banyaknya kita? Apa makna dari ke satuan kita?

Ditengah-tengah semua pluralitas ini, ungkapan unum, satu ke satuan kita, memerlukan banyak pemikiran, masing-masing memberi kontribusi dengan caranya sendiri . seperti suara orang Muslim yang akan mempertahankan .kebenaran yang nyata (self-evident truth). dari kesetaraan manusia bukan hanya karena ia tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan, tetapi karena ia adalah juga bagian dari ajaran al-Qur.an dan sebuah prinsip keyakinan mereka sebagai Muslim. Mendengar cara-cara baru memberi ungkapan ke pada gagasan Amerika adalah tantangan yang kita hadapi dewasa ini.

Dalam memulai menyatakan perbedaan pada masyarakat umum, satu kata mungkin menandai perubahan dalam kesadaran dan pengakuan bahwa sebuah masyarakat baru sedang berlangsung. Misalnya, seiring dengan jumlah Muslim yang semakin banyak dan kentara di masyarakat Amerika, para pejabat publik mulai berpindah dari berbicara tentang .gereja dan synagog. ke .gereja, synagog, dan masjid..

Pada 1996, Angkatan laut AS mengangkat Imam Muslim pertamanya, Lt. Malak Ibn Noel, dan pada 1998 masjid Angkatan Laut AS pertama dibuka di pangkalan Angkatan Laut Norfolk di Virginia, dimana Letnan Noel ditempatkan. Ketika limapuluh pelaut menghadiri sholat Jum.at di masjid ini, mereka memberi tanda kepada kita adanya era baru kehidupan beragama Amerika.

Satu hal yang sudah pasti E Pluribus Unum tidak berarti .Dari banyak agama, satu agama.. Dari sudut pandang tradisi banyak agama di Amerika, .ke satuan. kita bukan berarti pencampuran berbagai agama kedalam sejenis tempat pertemuan agama. Mungkin ada yang berpindah agama, seperti yang telah banyak terjadi. Sesungguhnya, warga Amerika keturunan Eropa dan Amerika keturunan Latin banyak yang menjadi Muslim. Keturunan Korea beragama Buda menjadi Kristen. Pemeluk Protestan dan Katolik mulai menjalankan ibadah agama Buda dan menyatakan mereka adalah pengikut Buda. Ada juga perkawinan antar agama, seperti pernikahan kaum muda antara pemeluk Islam dan Kristen, Hindu dan Yahudi. Ada kebaktian antar agama pada acara perayaan nasional atau tragedi, dimana kaum Kristen, Yahudi, Muslim, dan Buda menyampaikan doa, masing-masing dengan caranya yang berbeda. Tetapi tidak pernah ada ke satuan agama. Ia lebih berupa ke satuan komitmen kepada janji kewarganegaraan diluar banyaknya tradisi agama, keragaman cara dan dunia agama.

Setiap tradisi agama mempunyai caranya sendiri dalam mengartikulasikan banyaknya keyakinan. Pada June 25, 1991, seorang imam Muslim berdiri di majelis (chamber) DPR AS di pagi hari dan menyampaikan doa singkat, sebagai imam untuk hari itu. Itu adalah peristiwa pertama kali dalam sejarah Amerika seorang Muslim melakukan hal itu. Imam tersebut adalah Siraj Wahaj, pemimpin Muslim Amerika keturuann Afrika dari Brooklyn, New York. Dia telah mengubah pojok kota yang kotor yang didominasi oleh penjual obat-obatan menjadi sebuah masjid, namanya Mashid al Taqwa, rumah bagi komunitas Muslim Brooklyn yang penuh semangat. Doa di depan Kongress yang sangat penting dijadwalkan sedekat mungkin ke hari besar Agama Islam, Idhul Adha, perayaan untuk berkorban, ketika kaum Muslim mengenang ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhan yang siap mengorbankan putranya Ismail. Doa yang disampaikan oleh Siraj Wahaj memasukkan ayat-ayat dari Al-Qur.an yang menjelaskan istilah pluribus dan unum, yang menjadi pertanyaan kita. .Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Puji kami panjatkan kepadaMu yang membentuk dan memberi warna kamidalam kandungan ibu kami, memberi kami warna putih, coklat, merah, kuning. Segala puji kami panjatkan kepadaMu yang telah menciptakan kami dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku bangsa yang membuat kami saling mengenal..

Ayat Al-Qur.an yang beliau singgung disini adalah ayat yang sering dikutip oleh kaum Muslim untuk memperkuat bahwa keragaman manusia dalam hal ras, jender, suku bangsa, dan bangsa adalah berada dalam pemeliharaan Tuhan. Lagipula, Tuhan bisa saja menciptakan satu jenis manusia, tetapi seperti yang Al-Qur.an nyatakan, Tuhan menciptakan kita kedalam berbagai bangsa dan suku bangsa, bukan dimaksudkan agar kita bercerai berai, melainkan untuk saling mengenal..

Pada tahun 1915, seorang imigran Yahudi, Horace Kallen yang adalah seorang ahli sosiologi menulis sebuah artikel yang banyak dibicarakan dalam The Nation mengenai visi pembauran (melting pot) di Amerika. Dia lah orang pertama yang menggunakan istilah .pluralisme. untuk melukiskan sebuah visi alternatif. Artikel tersebut berjudul .Democracy Versus Melting Pot. (Demokrasi Melawan Pembauran) dan di situ ia menulis bahwa ide .pembauran. bersifat anti-demokrasi. Hal ini bertentangan dengan prinsip Amerika yang sangat mendasar. Lagi pula, salah satu kebebasan yang dihargai di Amerika adalah kebebasan menjadi diri sendiri tanpa menghilangkan budaya seseorang yang menjadi ciri khasnya. Kallen melihat kemajemukan dan kesatuan di Amerika dalam sebuah gambaran simfoni dan bukannya pembauran.

Merupakan sebuah gambaran yang menarik . simfoni sebuah masyarakat di mana masing-masing kelompok mempertahankan perbedaannya, bersama-sama mendengarkan musik secara utuh. Kallen terkesan lebih menyamakan hal itu dengan musik jazz ketika dia menulis bahwa, tidak seperti halnya peradaban, sebuah simfoni disusun sebelum dimainkan. Akan tetapi, dalam musik jazz, permainan adalah penulisan.

Lalu, apakan pluralisme itu jadinya? Tentunya ini menjadi topik yang kontroversial di Indonesia saat ini, terutama mengingat pada pertemuan bulan lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pluralisme, sekularisme, bentuk liberalisme dalam Islam, dan doa bersama antarumat beragama. Sementara fatwa tersebut terkesan melarang .pluralisme., fatwa itu juga memiliki pemahaman mengenai pluralisme yang memandang semua agama adalah sama, berlaku sejajar, dengan kebenaran yang relatif. Seperti dikutip The Jakarta Post, Ketua Komisi Fatwa, Ma.ruf Amin berkata, .Pluralisme dalam arti seperti itu adalah haram karena membenarkan agama lain.. Banyak tokoh ternama Indonesia yang menanggapi fatwa tersebut termasuk Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri; Ulil Abshar Abdalla, Sekjen Konferensi Agama dan Perdamaian Indonesia. Tetapi di Indonesia seperti halnya di A.S., istilah pluralisme sering disalahartikan dengan kritik sebagai penilaian bahwa semua agama adalah sama. Hal ini jauh dari arti pluralisme yang seharusnya. Bahasa pluralisme bukanlah bahasa mengenai kesamaan atau sekedar bahasa tentang perbedaan, namun bahasa tentang dialog. Pluralisme adalah mengenai keterikatan, keterlibatan, dan keikutsertaan. Pluralisme adalah bahasa mengenai arus, pertukaran, dialog, dan debat. Pluralisme adalah bahasa yang dibutuhkan oleh demokrasi agar dapat bertahan hidup. Ada tiga hal tentang pluralisme yang dapat menjelaskan arti Proyek Pluralisme.

Pertama, saya berpendapat bahwa .pluralisme. bukan hanyak beragam atau majemuk, Pluralisme lebih dari sekedar mejamuk atau beragam dengan ikatan aktif kepada kemajemukan tadi. Meski pluralisme dan keragaman terkadang diartikan sama, ada perbedaan yang harus ditekankan. Keragaman adalah fakta yang dapat dilihat tentang dunia dengan budaya yang beraneka ragam di Amerika Serikat dan Indonesia. Pluralisme membutuhkan keikutsertaan.

Di dunia di mana kita hidup saat ini, keragamam belaka tanpa usaha ikut dalam hubungan nyata dengan mereka yang berbeda dan tanpa usaha untuk menciptakan masyarakat yang harmonis akan menimbulkan masalah yang terus bertambah.

Kedua, saya ingin katakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi. Pluralisme lebih dari sekedar toleransi dengan usaha yang aktif untuk memahami orang lain. Meskipun toleransi sudah pasti merupakan sebuah langkah ke depan dari ketidaktoleransian, toleransi tidak mengharuskan kita untuk mengetahui segala hal tentang orang lain. Toleransi dapat menciptakan iklim untuk menahan diri, namun tidak untuk memahami. Toleransi saja tidak banyak menjembatani jurang stereotipe dan kekhawatiran yang bisa jadi justru mendominasi gambaran bersama mengenai orang lain. Sebuah dasar yang terlalu rapuh untuk sebuah masyarakat yang kompleks secara religius seperti kami.

Kini, dengan kebebasan menjalankan ibadah agama di negara kita dan di sekitar kita, sebuah masyarakat yang sejatinya pluralis harus berkembang melebihi toleransi untuk mencapai pemahaman yang konstruktif. Kita harus memiliki sekolah-sekolah yang giat mengajarkan agama-agama di dunia dalam konteks bidang studi sosial atau sejarah. Kita membutuhkan pemimpin agama yang terlatih yang tidak hanya mampu menanamkan keyakinan yang dalam pada komunitasnya, namun juga terpelajar secara agama, dan mampu mencegah para agamawan lainnya salah menafsirkan dan mencemarkan komunitas agama lain. Toleransi tidak dapat menghilangkan ketidaktahuan kita tentang orang lain dan meninggalkan kebenaran lainnya dan kekhawatiran yang mendasari pola lama perpecahan dan kekerasan. Di dunia yang kita tinggali ini, ketidaktahuan kita akan semakin mahal harganya.

Ketiga, dan yang paling penting bagi mereka yang khawatir akan pluralisme, saya ingin tekankan bahwa pluralisme bukan sekedar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Saya ingin katakan bahwa pluralisme adalah sebuah ikatan — bukan pelepasan — perbedaan dan kekhususan. Bahkan MUI tampak menunjukkan kalau muslim menerima fakta bahwa .masyarakat percaya pada perbedaan agama.. Seperti yang diungkapkan Ma.ruf, .Karenanya, kita harus saling menghormati dan hidup bersama secara damai.. Namun harus ditambahkan bahwa hidup bersama dalam sebuah masyarakat yang penuh semangat bukan hanya sekedar hidup berdampingan tanpa memedulikan orang lain. Hal itu membutuhkan ikatan, kerjasama, dan kerja yang nyata. Ikatan komitmen yang paling dalam, perbedaan yang paling mendasar dalam menciptakan masyarakat secara bersama-sama menjadi unsur utama dari pluralisme.

Ikatan perbedaan dalam masyarakat yang pluralistik tidaklah dibentuk berdasarkan struktur peperangan, namun struktur dialog. Ikatan yang penuh semangat, bahkan argumentasi bersama menjadi penting bagi masyarakat yang demokratis. Dengan kata lain, keyakinan beragama juga menjadi sangat penting yang didapat bukan karena kebiasaan atau warisan, namun dalam konteks dialog dengan komitmen dari mereka yang menganut keyakinan lain. Dialog seperti ini tidak ditujukan untuk mencapai kesepakatan, namun mencapai hubungan. Komitmen tidak ditinggalkan. Bahasa pluralisme adalah dialog dan pertemuan, memberi dan menerima, serta kritik dan kritik diri. Dalam dunia kita ini, bahasa inilah yang harus kita pelajari.


Seputar Fatwa MUI

Filed under Islam Aktual

Topik-topik yang diangkat MUI dalam fatwanya tahun 2005 merupakan topik yang muncul saat ini di masyarakat, atau kontemporer. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mempelajari permasalahan kontemporer umat Islam di Indonesia dengan berkaca pada fatwa MUI. Artikel ini dimaksudkan sebagai ‘pengumpul’ atau ‘gatherer’ pendapat-pendapat para ulama/cendikiawan seputar fatwa MUI. Tujuannya agar kita bisa belajar dengan lebih konprehensif dari berbagai sudut pandang. Apa yang ada di sini bukan menunjukkan persetujuan atau dukungan. Hanya sebagai bahan kita untuk belajar meluaskan horizon.

Temen2 yang punya akses ke Cafe ini juga bisa menambahkan.

Republika
Salahuddin Wahid
Ketua Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI
“Dialog, Solusi Menyelesaikan Masalah Ahmadiyah”

Detik.com
Hidayat Nur Wahid
Ketua MPR
Hidayat secara pribadi bisa menerima fatwa MUI itu. Bahkan dia meminta kepada masyarakat untuk menyikapinya dengan arif dan tidak menjadikan fatwa itu untuk alasan melakukan tindakan pelanggaran hukum.

Jawa Pos
Mustofa Bistri
Salah satu hak manusia paling asasi adalah keyakinan. Kita bisa mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, tapi tak bisa memaksakannya. Nabi Ibrahim as dengan segala kebijaksanaannya tidak bisa membuat ayahnya sendiri meyakini keyakinannya, meski keyakinannya itu benar. ..

[.... to be added ....]

Sumber tambahan
EraMuslim
Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
Masalah Toleransi dalam Islam
Butir-butir Kesesatan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dan Sikap Kita


[Sumber]

1. Secara formal organisatoris, NU tidak punya hubungan apa pun dengan MUI, meskipun diakui di sana ada elemen-elemen NU. Maknanya, bahwa secara formal-organisatoris NU tidak terikat dan tidak bisa diikat oleh fatwa MUI.

2. Fatwa adalah aplikasi norma Fiqh yang disasarkan kepada tindakan / perbuatan (amaliyah) obyektif seperti judi, korupsi, suap, money politics, dsb. Fatwa yang disasarkan terhadap pemikiran dan pandangan hidup (seperti pluralisme, sekularisme dan liberalisme) terasa melampaui jurisdiksi dan tidak lazim. Ini sejalan dengan definisi baku dari Fiqh, “ Ilmu ttg hukum-hukum syar’iyah amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci / al-ilm bi al-ahkam as-syar’iyyah al-ama;iyah almuktasab min adillatiha at-tafshiliyat”.

3. Lagi pula, kegiatan menetapkan hukum (judgment) sebagai tahap mengambilan kesimpulan (natijah) tidak bisa ujug-ujug, melainkan musti melewati satu tahap mutlak yang disebut tashawwur (rekonstruksi dan definisi masalah). Artinya, jika kita mau menjatuhkan hukum atas sst perkara maka haruslah jelas lebih dahulu apa yang dimaksud dengan perkara-perkara itu sebagaimana adanya. Bukan sebagaimana yang saya maui atau saya khayalkan sendiri. Tashawwur inilah yang akan menentukan mutu dari hokum yang disimpulkan. Rendah mutu tashawwur, rendah pula mutu hokum yang ditetapkannya.

4. Fatwa MUI tentang liberalisme, pluralisme dan sekularisme jelas tidak didahului oleh proses tashawwur secara obyektif, bagaimana para pengusung (selaku tertuduh) pemikiran-pemikiran itu mendefinisikannya. Apa yang dilakukan MUI dalam proses pembahasannya yang begitu singakat, hanyalah tashawwur menurut imajinasi mereka yang sejak mula sudah dibimbing oleh prasangka dan curiga. Dengan kata lain, fatwa seperti itu tidak memenuhi syarat dan bahkan cenderung (maaf) gegabah.

5. Di saat-saat dimana kecenderungan amook massa begitu mudah terbekar, mengeluarkan fatwa seperti itu sungguh beresiko; sangat dikhawatirkan fatwa-fatwa seperti itu akan dipakai oleh orang-orang yang sudah ketagihan (addicted) dengan kekerasan untuk menjustifikasi aksi-aksi mereka seperti yang sudah terbukti terhadap saudara sebangsa kita beraliran Ahmadiyah di Parung dan Kuningan. Jika ini terjadi sulit dihindari pandangan orang bhw MUI telah menjadi inspirator tindakan-tindakan kekerasan itu.

6. Khusus tentang fatwa sesat terhadap faham atau aliran yang dipandang tidak sesuai dengan keyakinan sendiri, jika memang MUI merasa berwenang menetapkannya dan bersikeras untuk memfawakannya, kami kira itu teserah saja. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak bisa diacu oleh aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan kekerasan atas nama Negara, karena satu prinsip: Negara adalah lembaga public milik orang banyak, ia tidak boleh dibajak menjadi alat keyakinan tertentu untuk mendukung dirinya dan atau menghancurkan lawannya.

7. Kecenderungan umat Islam untuk berlindung pada cara-cara kekerasan, termasuk kekeraan dengan fatwa, dalam menghadapi orang/pihak lain justru mengindikasikan rendahnya kepercayaan mereka terhadap keunggulan agamanya dan kualitas umatnya. Jika benar bahwa Islam unggul nan takterungguli (ya’lu wa laa yu’la alaih) dan keunggulan itu bisa dibuktikan kepada orang lain dengan keunggulan argument dan kemuliyaan perilaku, pastilah segala macam pembelaan dengan kekerasan tidak bisa dipahami lain kecuali penghinaan terhadap Islam itu sendiri.

8. Akhirnya, dengan tidak mengurangi keinginan menghormati MUI, kami mengimbau kiranya Fatwa lembaga ini khususnya berkaitan dengan keharaman pandangan pluralisme/ sekularisme/ liberalisme dapat ditarik dahulu untuk dipikirkan kembali dengan kearifan dan kedalaman ilmiyah sesuai dengan karakter sejati dari ulama dan keulamaan.

9. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang diridloi-Nya. Hadaa nallah wa iyyakum ajma’in.

Masdar Farid Mas’udi
Ketua PBNU & Ketua P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat).


11 Fatwa MUI 2005

Filed under Islam Aktual

[sumber:...]

Ada sebelas fatwa. Yang kedua, berupa rekomendasi yaitu merekonmendasikan tentang suatu masalah kepada MUI yang akan datang untuk membahas kaidah-kaidah toleransi penafsiran agama. Ini yang belum difatwakan. Dititipkan pada MUI yang akan datang. Rekomendasi kedua, memohon kepada MUI agar mensosialisikan fatwa MUI yang ditetapkan pada Munas 5 tahun lalu tentang Riswah, Ghuluh dan hadiah kepada pejabat..

Kemudian menganai fatwa yang telah ditetapkan pada hari ini, setelah dibahas maka disini akan kami bacakan diktumnya saja.

1. fatwa soal perlindungan kekayayaan hak intelektual HAKI
1. ketentuan umum:
Dalam fatwa ini yang dimaksud kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah fikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk mnusia dan diakui oleh negara berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Oleh karenanya HAKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari hasil dari suatu kreatifitas inteletual dari yang bersangkutan sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan dan memroleh perlindungan atas karya intelektualnya. Sebagai bentuk penghargaan atas kreatifitas intelektualnya tersebut, negara memberi hak eksklusif kepada pendaftarnya dan atau pemiliknya sebagai pemegang hak yang sah di mana pemagang hak mempunyai hak melarang orang lain yang tanpa persetujuannya atau tanpa hak memperdagangkan atau memakai hak tersebutdalam segala bentuk dan cara.

Hak inteletual ini meliputi:
1. Hak perlindungan varieatas tanaman
2. Hak hak rahasia dagang
3. Hak desain industri
4. Hak desain tata letak terpadu
5. Paten
6. Hak atas merek
7. Hak cipta.

keketuan hukum
1. Dalam hukum Islam hak kekayaan inteletual dipandang sebagai salash satu hukum malia ata hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum atau Masytunun Syaraan sebagaimana harta.
2. Hak kekeyaan intelektual yang mendapat perlindungan hukum isalm sebagaimana dimaksu pada angka dtersbut adalah hak inteletual yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dua, HAKI dapat dijadikan obyek pertuakaran atau komersidal atau on komersial serta dapat diwakafkan dan diwariskan.

Setiap bentuk pelanggaran HAKI termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan menyerahkan, meyediakan, mengumumkan, memperbanyaki, menjiplak, memalsu, membajak HAKI milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezoliman dan hukuknya haram.

2. Fatwat tentang Perdukunan dan Peramalan
Setelah menimbang, mengingat, memperhatikan, memutuskan, dan enetapkan:
1. Segala bentuk praktek perdukukunan dan peramalan hukumnya haram
2. Mempublikasikan praktek perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun, hukumnya haram
3. Memanfaatkan, menggunakan, dan atau mempercayai segala praktek perdukunan dan peramalan hukumnya haram.

3. fatwa tentang Doa Bersama
Setelah menimbang, mengingat, dan seterusnya.menetapkan:

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan
1. Doa bersama adalah berdoa yang dilakukan secara bersama antara umat Islam dengan non Islam dalam acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan dalam waktu dan tempat bersamaan. Baik dilakukan dalam bentuk atau beberapa orang berdoa sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
2. Mengamini orang yang berdoa termasuk doa

2. Ketentuan hukum
1. Doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non muslim tidak dikenal dalam Islam, oleh karenanya termasuk bid’ah
2. Doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran maka orang Islam haram menguikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non mislim
3 Doa bersama dalam bentuk muslim dan non muslim berdoa secara serentak, misalnya mereka membaca teks doa secara bersama-sama, ukumnya haram.
4 Doa bersama dalam bentuk seorang non muslim memimpin doa, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamininya.
5. Doa bersama seorang tokoh Islam memimpin doa hukumnya mubah.
6. Doa bersama dalam bentukk setiap orang berdiaoa enurut agam masing-masing, hukumnya mubah.

4. Fatwa tentang Perkawinan Beda Agama
setelah menimbang dan seterusnya..menetapkan:
1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah
2. Perkawinan laki-laki mslim dengan wanita ahlul kitab, menurut mukamar adalah haram dan tidak sah.

5. Fatwa tentang Pewarisan Beda Agama
setelah menimbang, menguingat, dst, menetapkan :
1. Hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewarisi antara orang-orang beda agama (antara muslim dan non muslim)
2. Pemberian antara orang berbeda agama hanya dapt dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.

6. Fatwa Kriteria Maslahah
setelah menimbang, mengingat, dan selanjutnya.. menetapkan kriterai Maslahah:
1. Maslahat atau kemaslahatan menurut hukum Islam adalah tercapainya tujuan syariah yang diwujudjkan dalam bentuk terpeliharanya
5 kebutuhan primer, yaitu agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.
2. Maslahat yang dibenarkan syariat adalah maslahat yang tidak bertentangan dengan nash, karena maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash.
3. Lembaga yang menentukan maslahat tidaknya menurut syara’, adalah lembaga yang memilki kompetensi di bidang syariah dan dilakuiakn melalui ijtihad jama’i

7.Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularise Agama.
Setelah menimbang, menguingat, memperhatikan dan menetapkan

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme adalah faham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Karena itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sementara agama yang lain. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk akan hidup berdampingan di dalam surga.

2. Plularitas agama adaah sebuah kenyataan bahwa di negara/ daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

3. Liberalisme adalah memahami memahami nash nash agama (Al quran dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

4. sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sementara hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasar kesepakatan sosial.

Ketentuan Hukum
2. Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah faham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam
2. Umat Islam haram mengikuti faham pluralimse, sekulraisme, dan liberalisme agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencapur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan akidah dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam artian tetap melakukan ergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.

8. Fatwa tentang Pencabutan Hak Milik Pribadi untuk kepentingan Umum
setelah menimbang, dst menetapkan :
1. ketentuan Umum
1. Hak Milik pribadi adalah kepemilikan sesuatu yang manfaatnya hanay dinikmati oelh pemiliknya, seseorang atau beberapa orang tertentu.
2. Kepentingan umum adalah kepentingan adalah kepentinan yang manfaatnya dinikmati oleh masyarakat bujum tanpa ada diskriminasi.
2. Ketentuan Hukum
1.Hak milik pribadi wajib dilindungi oleh negara atau pemrintah dan dijamin hak-haknya secara penuh. Tidak seorang pun, termasuk pemerintah, boleh mengurangi, mempersempit, atau membatasinya. Pemilknmuya berkuasa atas miliknya dan berhak mempergunakan atau memanfaatkannya dalam- batas-batas yang dibenarkan hukum Islam.
2.Jika terjadi benturan antara kepentingan pribadi dan uymum maka yang didahulukan adalah kepentingan umum. pemerintah dapat mencabut hak milik pribadi dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Ditempuh lewat musyawarah antara pemerirntah dan pemilik tempat tanpa adanya pemaksaan.
b. Harus diberi ganti rugi yang layak.
c. Penanggungjawab kepentingan umum adalah pemerintah
d. Penetapan kepentinan umum oleh DPR atau DPRD dengan memperhatikan fatwa dan pendapat MUI
e. Kepentingan umum tidak boleh dialih fungsikan untuk kepentingan lain terutama yang bersifat komersial.
f.
9. Fatwa tentag Wanita menjadi Imam sholat
setelah menimbang. Menguingat dan seterusnya.. menetapkan
1. wanita menjadi imam sholat yang diantara makmumnya terdapat laki-laki hukumnya haram.
2. wanita menjadi imam sholat yang makmumnya wanita hukumnya mubah.

10. Fatwa tentang Aliran Ahmadiyah
setelah menibang, dst. menetapkan :
1. mengaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II tahun 1980 yang menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)
2. Bagi mereka yang terlanjurt mengikutui ahmadiyah supaya kembali ke ajaran Islam yang hak sejalan dengan Al quran dan Hadist.
3. pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham ahmadiayh di seluruh indonesia dan membekukan organisasi serta menuruto smeua tempat kegiatannya.

11. Fatwa Hukuman Mati dalam Tindak Pidana Tertentu
setelah meimbang dst, menetapkan :
1. Islam mengakui eksistensi dan memberlakukannya dalam tindak pidana khudud, qishos dan Ta’zir.
2. Negara boleh melaksanakan hukuman mati terhadap poelaku kejatan pidana tertentu.


Di milis deGromiest saat ini sedang rame diskusi tentang Fatwa MUI. Saya melihat diskusi ini sebagai sebuah upaya yang positif untuk memahami persoalan umat. Fatwa yang dikeluarkan MUI tentu tidak sembarangan fatwa, dan tentu melalui proses pemikiran yang menyeluruh dari para ulama. Tulisan ini agak panjang untuk di milis, jadinya saya posting juga di Cafe. Mohon maaf.

DARI 7 fatwa haram MUI, tampaknya nomor 1 s/d 5 (euthanasia, perkawinan, perdukunan, kewarisan, dan wanita imam) tidak menimbulkan keresahan.

FATWA nomor 6, tentang Ahmadiyah, menimbulkan berbagai tuntutan dan dampak, seperti munculnya rasa was-was penganut Ahmadiyah di Bandung. Artinya, fatwa ini berdampak pada hidup mati penganut Ahmadiyah atas kemungkinan munculnya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat kepada mereka. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini, dimana negera belum bisa memberi jaminan keamanan, kekhawatiran itu semakin bertambah. Mereka juga punya anak, bayi, istri seperi halnya manusia yang lain. Berita di kompas spt yang jadi awal thread diskusi ini (baca ini) melaporkan tuntutan tersebut.

FATWA nomor 7, tentang hampir diharamkannya pluralisme dan liberalisme, juga dilaporkan oleh Republika diminta dicabut oleh Ketua PBNU, temennya Cak Fu, Masdar Farid Masoedi. Menurt Masdar, fatwa ini terlalu gegabah, karena tidak didasari oleh “pendefinisian masalah”. Masa sampai begitu? Kalau kita riset, pertama yang musti didefinisikan adalah masalahnya dulu, tapi dalam hal fatwa ini, tahapan ini dilewati.

Penasaran, kulihat webnya MUI, ternyata hanya sedikit informasi di sana tentang fatwa pluralisme ini. Hanya diberikan arsip koran Tempo. Ada yg tahu link ke daftar fatwa dan latar belakangnya? Bagi dong…

SOAL hampir haramnya liberalisme dan pluralisme bukankah belum jadi fatwa namun baru jadi rekomendasi untuk munas mendatang? (lihat di web tsb) Namun, melihat reaksi tokoh masyarakat dan cendikiawan (lihat pula konferensi pers Ulil, Azyumardi, dll) tentang pandangan MUI soal liberalisme dan plurisme, poin ini tampaknya cukup meresahkan.

TENTANG definisi keduanya: “Liberalisme itu memandang agama dengan alam pikiran, sedangkan pluralisme berarti membenarkan semua agama,”kata Maruf. Aku sendiri baru tahu kalau definisinya begitu.

Selama ini aku mengikuti definisi pluralisme kira-kira begini: “pluralisme adalah pengakuan akan keberagaman dan menerima keberagaman itu dalam kehidupan bersama. Ada peacefull co-existence dalam pluralisme. Seorang yang tidak pluralis adalah yang (sejak dalam gagasan) tidak mengakui adanya keberagaman dan (sebagai konsekuensinya) tidak bisa hidup damai dalam keberagaman tersebut” (dari milis sebelah).

Dan dari Dictionary.com:

“pluralism”

1. The condition of being multiple or plural.

  • A condition in which numerous distinct ethnic, religious, or cultural groups are present and tolerated within a society.

  • The belief that such a condition is desirable or socially beneficial.

3. Ecclesiastical. The holding by one person of two or more positions or offices, especially two or more ecclesiastical benefices, at the same time.
4. Philosophy.

  • The doctrine that reality is composed of many ultimate substances.

  • The belief that no single explanatory system or view of reality can account for all the phenomena of life.

Rasanya nothing wrong dengan pluralisme, bahkan ini adalah sebuah kondisi harmoni yang diharapkan oleh para pendiri bangsa kita melalui Bhinneka Tunggal Ika.

MOTO bangsa kita ini, menurut saya, merupakan pencapaian pemikiran dan perenungan yang luar biasa. Para pendiri itu lahir dari pahit getirnya perjoangan negeri ini. “Pancasila” dan seloka “bhinneka tunggal Ika” adalah ungkapan yang menurut Dr Soewito dalam tulisannya Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana (1975)- “is a magic one of great significance and it embraces the sincere hope the whole nation in its struggle to become great, unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community”.

PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar dan seloka negara kita, tentu bukan sembarangan ciptaan manusia. Jika tidak ada dualisme dalam Ketauhidan, tentu kita yakin keduanya juga dari Tuhan yang dilahirkan melalui para pendiri negara kita.

Rasanya begitu dalam maknanya, begitu dekat dengan rasa Keakbaran Allah, Kasih Sayang Allah. Bagaimana bisa, itu semua direduksi hingga tinggal bermakna “membenarkan semua agama”? Semoga saya salah memahami maksud fatwa ini. Semoga para ulama yang ikut munas, sudah benar-benar melihat bangsa Indonesia (bukan hanya umat Islam) secara menyeluruh. Tugas ulama, menurut saya, bukan sekedar menjaga akidah umat Islam saja, ‘rohmatan lil muslimin’. Tetapi menjadi ‘rohmatan lil alamin’, untuk semua alam (termasuk manusia, binatang, alam, planet, dll).

SORE tadi sempat merenung, bertanya-tanya sendiri, bagaimana seharusnya hubungan antara para ulama (mereka yang berilmu dan diformalkan dalam sebuah institusi) dengan umatnya? Apakah seperti seorang ayah yang memberitahu anaknya mana yang benar mana yang salah? Tentu, tidak ada ayah yang ingin mencelakakan anaknya. Apa yang disampaikan pun untuk kebaikan anaknya. Namun, bagaimana dengan anaknya yang membangkang, menurut dia? (belum tentu sebenarnya membangkang, mungkin sang ayah yang belum paham pemikiran anaknya. ini yang sering terjadi, khususnya saya ke Lala dan Malik).

SAYA (weleh.. kadang pake aku, kadang saya.. gimana Ndra, pakar Kita, Kami, dan Revans?) rasa bangsa kita ini membutuhkan jiwa yang luas dan dalam untuk bisa merangkul berjuta perbedaan yang ada. Kita adalah negara maritim, yang luas lautnya. Jika rumput yang bergoyangnya Ebiet G. Ade pun bisa bicara, tentu lautan pun akan bertutur kepada kita. Pernahkan kita mendengarkan tuturannya? “Lihatlah diriku, yang menerima segala keragaman yang dilempar ke dalam dasarku. Tak satupun yang kutolak. Semua kuterima, semua kurangkul. Nyi Roro Kidul pun (kalau memang ada) beristana di dalam dasarku. Namun lihat, aku tetap samudera yang tunduk patuh kepada perintahNya untuk selalu bertasbih memujiNya.”

Sang Samudera

Di tepian pantai,
gemuruh ombak memukul dan mencabik karang
saling berebut tempat dan jalan
dengan kuat dan tajam

Sekejap waktu tiba,
sang ombak kembali ke induknya
membawa serta butiran pasir yang terkikis
lalu kembali lagi, menghantam!

Pelaut pun berlayar semakin jauh,
meninggalkan hiruk-pikuk ombak dan karang
di atas luasnya samudera
dia berlabuh

Waktu seolah berhenti,
ketika di atas permukaan biru,
badai menerjang
menghancurkan kapal

Di kedalaman hati samudera
ditemukannya kedamaian
tempat kembali segala yang yang dipermukaan
kapal, besi, kayu, bangkai, emas, harta karun, kotoran, dslb…


PENGAJIAN ONLINE

Hari : Minggu
Tanggal : 17 Juli 2005
Jam : 15.00-18.00
Tempat : Yahoo mesengger
Judul : Tips memilih makanan halal
Pembicara : ukhti Suryani *)

Siaran ulang (on-demand): klik http://lofar.let.rug.nl:8000/content/salaama-juli.pls

*) bekerja pada badan/ lembaga sertifikasi makanan halal MUI.


To be a Muslim in the west

Filed under Islam Aktual

Praatje De Gromiest, zaterdag 28 mei 2005

by Jan Bakker

Dutch culture is based on Christian values. Christian values are basically the same as Islamic values. For example: 10 commands from the Bible (Nabi Musaa), charity, giving alms, speaking the truth etc. Although there is hypocrisy (as in many Muslim countries), the right for Muslims to practise their religion is secured by the law, and in most situations there are no real problems.

After World War II, a process of secularisation started. Religion, including Christianity, was banned to a large extent from public life. As being a Muslim is practising Islam not only in the private sphere, but also in public, this can cause some difficulties. But nobody has any problem with spending zakat (as collecting money for social purposes is an outstanding Dutch tradition), Friday prayer or hajj, as long as they are not visually confronted with Muslim presence in the public sphere.

Most visible are hijab, “Muslim” clothes and daily shalat. Mosques are tolerated if not too recognisable, but minarets and calling adzan still causes problems, although many recently built mosques do have minarets and few are allowed to call adzan at least before Friday Prayer. Not long ago the fundamentalist Christian party SGP started a campaign against adzan in Zeist. They called a public glorification of a non-Christian god in a foreign language blasphemy. But they were set back by the Court. Also problematic are prayer rooms in offices and universities, but when you ask if you can use a meeting room or another suitable space for your prayers, normally no objections will be made.

Why Christians are afraid of Islam? I see two clusters of possible reasons:

1. Ideologically it is rooted in history (Crusades), Islam is an unknown religion and a lot of stereotypes (often based on false stories dating back to the Crusades) are repeated again and again. Finally there are orientalists and journalists who spread literal interpretations of the Qur’aan neglecting the context (the husband has the right to beat his wife into obedience, Muslims have to kill the unbelievers wherever they meet them, etc.).

2. Practically: a lot of people have had bad experiences with Muslim immigrants (neighbours, colleagues). The majority of Muslim immigrants come from the Moroccan Rif region and Turkish Anatolia. Rifi’s (Berber) are low educated and outcasts of the Moroccan Arab society and Anatolians are illiterate farmers with a very nationalistic and conservative attitude.

For the Dutch, it is not easy to distinguish between Muslims by choice and traidtional Muslims. Muslims by choice may be converts, but also born Muslims who practice Islam and study Islamic ethics. When you ask them “why…”, they will quote the Qur’aan, ahadieth or opinions of scholars and explain it in their own words according to their own experience. Traditional Muslims may practise Islam, but too often they just practise traditions which even may be un-Islamic. They lack a theoretical basis. When you ask them “why…”, they will answer that they do what their parents did and their imams tell them to do. For many of them their only connection with Islam is the notion that they are considered to be Muslims by the legal system of their country of origin.

I am a Muslim, keep in touch with my neighbours and work in a lawyer’s office dominated by white employees. I can perform shalat and get off for Friday prayer, unless there are urgent matters to be handled. Many colleagues are interested to learn about my opinions and experiences, as I am virtually the only Muslim they have ever met (and probably the only one they will meet during their whole life). I was interviewed for the staff magazine about my hajj.

My colleagues accept me as a Muslim, partly because I know how to explain my faith to them, partly because they are highly educated people who know how to deal with different opinions and don’t in the first place judge by gossip and stereotypes. Faith is no issue when it comes to be a loyal employee.

I can live in a non-Muslim environment because I practise the verse: “there is no compulsion in Islam”. Islam is my choice, others make their own choice. As long as they leave me in peace, I don’t feel the need to criticise them. If a non-Muslim wants to practice homosexuality – let him do it. It is not my business; Dutch law allows him to do. I can criticise a Muslim gay, but not a non-Muslim gay. As a Muslim I have to contribute to my society. Let my input be positive.

Critics often ask “are you Dutch or are you a Muslim? Where lays your loyalty?” Many immigrant Muslims consider themselves still no Dutch citizens. They even claim converts are no longer Dutch citizens. But when I choose for Islam, I didn’t choose for another culture (not even the Arab culture) or for another nationality. I choose a religion. I am Dutch by nationality and Muslim by religion. Religion and citizenship are totally different notions. There are Muslims with Moroccan, Arab, and Syrian citizenship and among Dutch citizens are Christians, Jews, Hindus, humanists, atheists and Muslims. Being a Muslim does not make me less Dutch and being Dutch does not make me a poor Muslim. Muslims must consider themselves as Dutch citizens and as a consequence take responsibility for the improvement of the Dutch society as a whole.

Dutch people at the other hand have to accept Islam as a new contribution to their culture, like there were foreign contributions before, for instance French enlightenment (Trias Politica), Jewish immigrants, Christian faith (Christian ethics) and Roman occupation (Roman legislation and Greek philosophy). Even pagan religion/culture originated from Indo-German tribes who once came from Eastern Europe or even Central Asia. Now Islam is entering the arena and will unmistakably leave its marks on Dutch society. Anti-Islamic critics are just afraid for change and loss of known values.


Star Trek dan Agama

Filed under Islam Aktual

Star Trek, Star Trek, fiksi tentang alam semesta masa depan yang punya fans banyak karena penggarapan detilnya top. Ada Fisika Star Trek, Bahasa Klingon yang sudah punya situs Wikipedia sendiri. Alhasil sekarang sampailah pada topik yang boleh jadi sensitif, sekalipun ini “hanya sebuah fiksi”: bagaimana agama dalam pandangan Star Trek?

Pencetus Star Trek sendiri, Gene Roddenberry, adalah seorang ateis, sehingga seperti dituliskan oleh Bernd Schneider, Star Trek’s takes on religious topics are often critical, and they almost routinely close with a victory of science over faith.

Dengan penikmat Star Trek yang luas, apakah nasib agama akan kandas seperti perannya di dalam film tsb.? Ini bukan kecemasan, namun lebih-lebih ingin menengok kemungkinan menghadirkan agama dalam perspektif modern, sambil mengingat pengaruh opini yang sekarang datang dari segenap penjuru.


CHATTING DGN TUHAN

Filed under Islam Aktual

BUZZ

TUHAN : Kamu memanggilKu ?
AKU: Memanggilmu? Tidak.. Ini siapa ya?

TUHAN : Ini TUHAN. Aku mendengar doamu. Jadi
Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
AKU: Ya, saya memang sering berdoa, hanya
agar saya merasa lebih baik.Tapi sekarang saya
sedang sibuk, sangat sibuk.

TUHAN : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
AKU: Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya
waktu luang sedikitpun.Hidup jadi seperti diburu-
buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

TUHAN : Benar sekali. Aktifitas memberimu
kesibukan. Tapi Produktifitas memberimu hasil.
Aktifitas memakan waktu, Produktifitas
membebaskan waktu.
AKU: Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak
dapat menghidarinya. Sebenarnya, saya tidak
mengharapkan Tuhan mengajakku chatting
seperti ini.

TUHAN : Aku ingin memecahkan masalahmu
dengan waktu, dengan memberimu beberapa
petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin
menggunakan medium yang lebih nyaman
untukmu daripada mimpi, misalnya.
AKU: OKE, sekarang beritahu saya, mengapa
hidup jadi begitu rumit?

TUHAN : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani
saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit.
AKU: Kalau begitu mengapa kami manusia tidak
pernah merasa senang?

TUHAN : Hari ini adalah hari esok yang kamu
khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir
karena kamu menganalisa. Merasa khawatir
menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak
pernah merasa senang.
AKU: Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir
jika ada begitu banyak ketidakpastian.

TUHAN : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari.
Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
AKU: Tapi, begitu banyak rasa sakit karena
ketidakpastian.

TUHAN : Rasa Sakit tidak bisa dihindari, tetapi
Penderitaan adalah sebuah pilihan.
AKU: Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang
baik selalu menderita?

TUHAN : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan.
Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang
baik melewati rintangan, tanpa menderita.
Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi
lebih baik bukan sebaliknya.
AKU: Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

TUHAN : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah
guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian
dulu, baru pemahamannya.
AKU: Tetapi, mengapa kami harus melalui semua
ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas
dari masalah?

TUHAN : Masalah adalah Rintangan yang
ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental
(Purposeful Roadblocks Offering Beneficial
Lessons (to) Enhance Mental
Strength). Kekuatan dari dalam
diri bisa keluar dari perjuangan dan rintangan,
bukan dari berleha-leha.
AKU: Sejujurnya ditengah segala persoalan ini,
kami tidak tahu kemana harus melangkah…

TUHAN : Jika kamu melihat keluar, maka kamu
tidak akan tahu kemana kamu melangkah.
Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi.
Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu
penglihatan. Hati memberimu arah.
AKU: Kadang-kadang ketidakberhasilan
membuatku menderita. Apa yang dapat saya
lakukan?

TUHAN : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat
oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang
dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan
perjalanan akan terasa lebih memuaskan
daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan.
Bekerjalah dengan kompas, biarkan orang lain
bekejaran dengan waktu.
AKU: Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya
bisa tetap termotivasi?

TUHAN : Selalulah melihat sudah berapa jauh
saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya
harus berjalan. Selalu hitung yang harus kau
syukuri, jangan hitung apa yang tidak kau peroleh.
AKU: Apa yang menarik dari manusia?

TUHAN : Jika menderita, mereka
bertanya “Mengapa harus aku?”. Jika mereka
bahagia, tidak ada yang pernah
bertanya “Mengapa harus aku?”.
AKU: Kadangkala saya bertanya, siapa saya,
mengapa saya disini?

TUHAN : Jangan mencari siapa kamu, tapi
tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah
mencari mengapa saya di sini. Ciptakan tujuan
itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah
proses penciptaan.
AKU: Bagaimana saya bisa mendapat yang
terbaik dalam hidup ini?

TUHAN : Hadapilah masa lalu-mu tanpa
penyesalan. Peganglah saat ini dengan
keyakinan. Siapkan masa depan tanpa rasa takut.
AKU: Pertanyaan terakhir. Seringkali saya
merasa doa-doaku tidak dijawab.

TUHAN : Tidak ada doa yang tidak dijawab.
Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
AKU: Terima Kasih Tuhan atas chatting yang
indah ini.

TUHAN : Oke. Teguhlah dalam iman, dan
buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk
dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan.
Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu
tahu cara untuk hidup.

TUHAN has signed out.

ps. ini tulisan temen saya, ermenegildo


Ketika Hidayah Itu Datang

Filed under Islam Aktual

Labbaik… Allahumma Labbaik..
Ya Allah.. aku datang kepadaMu

Sungguh, telah Engkau robahkan rasa dalam hatiku
Yang tak kan mampu aku menolak atau pun memintanya
Kau telah luluhkan diriku
Melebur dalam ketiadaan…

irene1.jpg

Dengerin Ceramahnya [copy link url ini, buka Winamp atau MediaPlayer, lalu Open URL, paste link tsb. Mainkan!] Khusus Internal DeGromiest.

Terimakasih Mbak Ike, yang telah ngirim artikel ini, dari sumber lain. Semoga ini bermanfaat bagi kita semua, untuk menambah keimanan dan keteguhan.

HJ. IRENA HANDONO
MENDAPAT HIDAYAH DI BIARA

Allah selalu memberi petunjuk kepada siapa saja yang mencari kebenaran, di mana pun hamba-Nya berada, di biara sekali pun. Itulah yang terjadi pada Irena Handono yang mendapat hidayah justru saat mencari kelemahan Islam. Ketika membaca surat Al Ikhlas hatinya tunduk akan keesaan Allah swt. Ia mengakui bahwa tak ada yang paling berkuasa dan patut disembah di jagad raya ini selain Sang Khalik. Berikut penuturannya kepada Siwi WulAndari dari Majalah Hidayah:

Mendapat hidayah di Biara

Aku dibesarkan dalam keluarga yang rilegius. Ayah dan ibuku merupakan pemeluk Katholik yang taat. Sejak bayi aku sudah dibabtis, dan sekolah seperti anak-anak lain. Aku juga mengikuti kursus agama secara privat. Ketika remaja aku aktif di organisasi gereja. Sejak masa kanak-kanak, aku sudah termotivasi untuk masuk biara. Bagi orang Katholik, hidup membiara adalah hidup yang paling mulia, karena pengabdian total seluruh hidupnya hanya kepada Tuhan. Semakin aku besar, keinginan itu sedemikian kuatnya, sehingga menjadi biarawati adalah tujuan satu-satunya dalam hidupku.

Kehidupanku nyaris sempurna, aku terlahir dari keluarga yang kaya raya, kalau diukur dari materi. Rumahku luasnya 1000 meter persegi. Bayangkan, betapa besarnya. Kami berasal dari etnis Tionghoa. Ayaku adalah seorang pengusaha terkenal di Surabaya, beliau merupakan salah satu donatur terbesar gereja di Indonesia. Aku anak kelima dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara. Aku amat bersyukur karena dianugrahi banyak kelebihan.

Selain materi, kecerdasanku cukup lumayan. Prestasi akademikku selalu memuaskan. Aku pernah terpilih sebagai ketua termuda pada salah satu organisasi gereja. Ketika remaja aku layaknya remaja pada umumnya, punya banyak teman, aku dicintai oleh mereka, bahkan aku menjadi faforit bagi kawan-kawanku. Intinya, masa mudaku kuhabiskan dengan penuh kesan, bermakna, dan indah.

Namun demikian aku tidak larut dalam semaraknya pergaulan muda-mudi, walalupun semua fasilitas untuk hura-hura bahkan foya-foya ada. Keinginan untuk menjadi biarawati tetap kuat. Ketika aku lulus SMU, aku memutuskan untuk mengikuti panggilan Tuhan itu. Tentu saja orang tuaku terkejut. Berat bagi mereka untuk membiarkan anak gadisnya hidup terpisah dengan mereka. Sebagai pemeluk Katholik yang taat, mereka akhirnya mengikhlaskannya. Sebaliknya dengan kakak-kakakku, mereka justru bangga punya adik yang masuk biarawati. Tidak ada kesulitan ketika aku melangkah ke biara, justru kemudahan yang kurasakan.

Dari banyak biarawati, hanya ada dua orang biara yang diberi tugas ganda. Yaitu kuliah di biara dan kuliah di Institut Filsafat Teologia, seperti seminari yang merupakan pendidikan akhir pastur. Salah satu dari biarawati yang diberi keistimewaan itu adalah saya. Dalam usia 19 tahun Aku harus menekuni dua pendidikan sekaligus, yakni pendidikan di biara, dan di seminari, dimana aku mengambil Fakultas Comparative Religion, Jurusan Islamologi. Di tempat inilah untuk pertama kali aku mengenal Islam.

Di awal kuliah, dosen memberi pengantar bahwa agama yang terbaik adalah agama kami sedangkan agama lain itu tidak baik. Beliau mengatakan, Islam itu jelek. Di Indonesia yang melarat itu siapa?, Yang bodoh siapa? Yang kumuh siapa? Yang tinggal di bantaran sungai siapa? Yang kehilangan sandal setiap hari jumat siapa? Yang berselisih paham tidak bisa bersatu itu siapa? Yang jadi teroris siapa? Semua menunjuk pada Islam. Jadi Islam itu jelek.

irene2.jpg

Aku mengatakan kesimpulan itu perlu diuji, kita lihat negara-negara lain, Philiphina, Meksiko, Itali, Irlandia, negara-negara yang mayoritas kristiani itu tak kalah amburadulnya. Aku juga mencontohkan negara-negara penjajah seperti terbentuknya negara Amerika dan Australia, sampai terbentuknya negara Yahudi Israel itu, mereka dari dulu tidak punya wilayah, lalu merampok negara Palestina. Jadi tidak terbukti kalau Islam itu symbol keburukan. Aku jadi tertarik mempelajari masalah ini. Solusinya, aku minta ijin kepada pastur untuk mempelajari Islam dari sumbernya sendiri, yaitu al-Qur’an dan Hadits. Usulan itu diterima, tapi dengan catatan, aku harus mencari kelemahan Islam.

Kebenaran surat Al Ikhlas

Ketika pertama kali memegang kitab suci al-Qur’an, aku bingung. Kitab ini, mana yang depan, mana yang belakang, mana atas mana bawah. Kemudian aku amati bentuk hurufnya, aku semakin bingung. Bentuknya panjang- panjang, bulat-bulat, akhirnya aku ambil jalan pintas, aku harus mempelajari dari terjemah.

Ketika aku pelajari dari terjemahan, karena aku tak mengerti bahwa membaca al-Quran dimulai dari kiri, aku justru terbalik dengan membukanya dari kanan. Yang pertama kali aku pandang, adalah surat Al Ihlas. Aku membacanya, bagus surat al-Ikhlas ini, pujiku. Suara hatiku membenarkan bahwa Allah itu Ahad, Allah itu satu, Allah tidak beranak, tidak diperanakkan dan tidak sesuatu pun yang menyamai Dia. “Ini ‘kok bagus, dan bisa diterima!” pujiku lagi.

Pagi harinya, saat kuliah teologia, dosen saya mengatakan, bahwa Tuhan itu satu tapi pribadinya tiga, yaitu Tuhan Bapak, Tuhan Putra dan Tuhan Roh Kudus. Tiga Tuhan dalam satu, satu Tuhan dalam tiga, ini yang dinamakan trinitas, atau tritunggal. Malamnya, ada yang mendorong diriku untuk mengaji lagi surat al-Ihklas. “Allahhu ahad, ini yang benar,” putusku pada akhirnya.

irene3.jpg

Maka hari berikutnya terjadi dialog antara saya dan dosen-dosen saya. Aku katakan, “Pastur (Pastur), saya belum paham hakekat Tuhan.” “Yang mana yang Anda belum paham?” tanya Pastur. Dia maju ke papan tulis sambil menggambar segitiga sama sisi, AB=BC=CA. Aku dijelaskan, segitiganya satu, sisinya tiga, berarti tuhan itu satu tapi pribadinya tiga. Tuhan Bapak sama kuasanya dengana Tuhan Putra sama dengan kuasanya Tuhan Roh Kudus. Demikian Pastur menjelaskan. “Kalau demikian, suatu saat nanti kalau dunia ini sudah moderen, iptek semakin canggih, Tuhan kalau hanya punya tiga pribadi, tidak akan mampu untuk mengelola dunia ini. Harus ada penambahnya menjadi empat pribadi,” tanyaku lebih mendalam. Dosen menjawab, “Tidak bisa!” Aku jawab bisa saja, kemudian aku maju ke papan tulis. Saya gambar bujur sangkar. Kalau dosen saya mengatakan Tuhan itu tiga dengan gambar segitiga sama sisi, sekarang saya gambar bujur sangkar. Dengan demikian, bisa saja saya simpulkan kalau tuhan itu pribadinya empat. Pastur bilang, tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Tanya saya semakin tak mengerti. “Ini dogma, yaitu aturan yang dibuat oleh para pemimpin gereja!” tegas Pastur. Aku katakan, kalau aku belum paham dengan dogma itu bagaimana? “Ya terima saja, telan saja. Kalau Anda ragu-ragu, hukumnya dosa!” tegas Pastur mengakhiri.

Walau pun dijawab demikian, malam hari ada kekuatan yang mendorong saya untuk kembali mempelajari surat al-Ikhlas. Ini terus berkelanjutan, sampai akhirnya aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang membuat mimbar, membuat kursi, meja?” Dia tidak mau jawab. “Coba Anda jawab!” Pastur balik bertanya. Dia mulai curiga. Aku jawab, itu semua yang buat tukang kayu. “Lalu kenapa?” tanya Pastur lagi. “Menurut saya, semua barang itu walaupun dibuat setahun lalu, sampai seratus tahun kemudian tetap kayu, tetap meja, tetap kursi. Tidak ada satu pun yang membuat mereka berubah jadi tukang kayu,” saya mencoba menjelaskan. “Apa maksud Anda?” Tanya Pastur penasaran. Aku kemudian memaparkan, bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan seluas isinya termasuk manusia. Dan manusia yang diciptakan seratus tahun lalu sampai seratus tahun kemudian, sampai kiamat tetap saja manusia, manusia tidak mampu mengubah dirinya menjadi Tuhan, dan Tuhan tidak boleh dipersamakan dengan manusia. Malamnya, kembali kukaji surat al-Ikhlas.

Hari berikutnya, aku bertanya kepada Pastur, “Siapa yang melantik RW?” Saya ditertawakan. Mereka pikir, ini ‘kok ada suster yang tidak tahu siapa yang melantik RW?. “Sebetulnya saya tahu,” ucapku. “Kalau Anda tahu, mengapa Anda Tanya? Coba jelaskan!” tantang mereka. “Menurut saya, yang melantik RW itu pasti eselon di atasnya, lurah atau kepala desa. Kalau sampai ada RW dilantik RT jelas pelantikan itu tidak syah.” “Apa maksud Anda?” Mereka semakin tak mengerti. Saya mencoba menguraikan, “Menurut pendapat saya, Tuhan itu menciptakan alam semesta dan seluruh isinya termasuk manusia. Manusia itu hakekatnya sebagai hamba Tuhan. Maka kalau ada manusia melantik sesama manusia untuk menjadi Tuhan, jelas pelantikan itu tidak syah.”

Keluar dari Biara

Malam berikutnya, saya kembali mengkaji surat al-Ikhlas. Kembali terjadi dialog-dialog, sampai akhirnya saya bertanya mengenai sejarah gereja. Menurut semua literratur yang saya pelajari, dan kuliah yang saya terima, Yesus untuk pertama kali disebut dengan sebutan Tuhan, dia dilantik menjadi Tuhan pada tahun 325 Masehi. Jadi, sebelum itu ia belum menjadi Tuhan, dan yang melantiknya sebagai Tuhan adalah Kaisar Constantien kaisar romawi. Pelantikannya terjadi dalam sebuah conseni (konferensi atau muktamar) di kota Nizea. Untuk pertama kali Yesus berpredikat sebagai Tuhan. Maka silahkan umat kristen di seluruh dunia ini, silahkan mencari cukup satu ayat saja dalam injil, baik Matius, Markus, Lukas, Yohanes, mana ada satu kalimat Yesus yang mengatakan ‘Aku Tuhanmu’? Tidak pernah ada.

Mereka kaget sekali dan mengaggap saya sebagai biarawati yang kritis. Dan sampai pada pertemua berikutnya, dalam al-Quran yang saya pelajari, ternyata saya tidak mampu menemukan kelemahan al-Qur’an. Bahkan, saya yakin tidak ada manusia yang mampu. Kebiasaan mengkaji al-Qur’an tetap saya teruskan, sampai saya berkesimpulan bahwa agama yang hak itu cuma satu, Islam. Subhanaallah. Saya mengambil keputusan besar, keluar dari biara. Itu melalui proses berbagai pertimbangan dan perenungan yang dalam, termasuk melalui surat dan ayat. Bahkan, saya sendiri mengenal sosok Maryam yang sesungguhnya dari al-Qur’an surat Maryam. Padahal, dalam doktrin Katholik, Maryam menjadi tempat yang sangat istimewa. Nyaris tidak ada doa tanpa melalui perantaranya. Anehnya, tidak ada Injil Maryam. Jadi saya keluar dengan keyakinan bahwa Islam agama Allah.

irene4.jpg

Tapi masih panjang, tidak hari itu saya bersyahadat. Enam tahun kemudian aku baru mengucapkan dua kalimah syahadat. Selama enam tahun, saya bergelut untuk mencari. Saya diterpa dengan berbagai macam persoalan, baik yang sedih, senang, suka dan duka. Sedih, karena saya harus meninggalkan keluarga saya. Reaksi dari orang tua tentu bingung bercampur sedih.

Sekeluarnya dari biara, aku melanjutkan kuliah ke Universitas Atmajaya. Kemudian aku menikah dengan orang Katholik. Harapanku dengan menikah adalah, aku tidak lagi terusik oleh pencarian agama. Aku berpikir, kalau sudah menikah, ya selesai! Ternyata diskusi itu tetap berjalan, apalagi suamiku adalah aktifis mahasiswa. Begitu pun dengan diriku, kami kerap kali berdiskusi. Setiap kali kami diskusi, selalu berakhir dengan pertengkaran, karena kalau aku mulai bicara tentang Islam, dia menyudutkan. Padahal, aku tidak suka sesuatu dihujat tanpa alasan. Ketika dia menyudutkan, aku akan membelanya, maka jurang pemisah itu semakin membesar, sampai pada klimaksnya. Aku berkesimpulan kehidupan rumah tangga seperti ini, tidak bisa berlanjut, dan tidak mungkin bertahan lama.

Aku mulai belajar melalui ustadz. Aku mulai mencari ustadz, karena sebelumnya aku hanya belajar Islam dari buku semua. Alhamdulillah Allah mempertemuka saya dengan ustadz yang bagus, diantaranya adalah Kyai Haji Misbah (alm.). Beliau ketua MUI Jawa Timur periode yang lalu. Aku beberapa kali berkonsultasi dan mengemukakan niat untuk masuk Islam. Tiga kali ia menjawab dengan jawaban yang sama, “Masuk Islam itu gampang, tapi apakah Anda sudah siap dengan konsekwensinya?” “Siap!” jawabku. “Apakah Anda tahu konsekwensinya?” tanya beliau. “Pernikahan saya!” tegasku. Aku menyadari keinginanku masuk Islam semakin kuat. “Kenapa dengan dengan perkawinan Anda, mana yang Anda pilih?” Tanya beliau lagi. “Islam” jawabku tegas.

Akhirnya rahmat Allah datang kepadaku. Aku kemudian mengucapkan dua kalimat syahadat di depan beliau. Waktu itu tahun 1983, usiaku 26 tahun. Setelah resmi memeluk Islam, aku mengurus perceraianku, karena suamiku tetap pada agamanya. Pernikahanku telah berlangsung selama lima tahun, dan telah dikaruniai tiga orang anak, satu perempuan dan dua laki-laki. Alhamdulillah, saat ini mereka telah menjadi muslim dan muslimah.

Shalat pertama kali

Setelah aku mengucapkan syahadat, aku tahu persis posisiku sebagai seorang muslimah harus bagaimana. Satu hari sebelum ramadhan tahun dimana aku berikrar, aku langsung melaksanakan shalat. Pada saat itulah, salah seorang kakak mencari saya. Rumah cukup besar. Banyak kamar terdapat didalamnya. Kakakku berteriak mencariku. Ia kemudian membuka kamarku. Ia terkejut, ‘kok ada perempuan shalat? Ia pikir ada orang lain yang sedang shalat. Akhirnya ia menutup pintu.

irene5.jpg

Hari berikutnya, kakakku yang lain kembali mencariku. Ia menyaksikan bahwa yang sedang shalat itu aku. Selesai shalat, aku tidak mau lagi menyembunyikan agama baruku yang selama ini kututupi. Kakakku terkejut luar biasa. Ia tidak menyangka adiknya sendiri yang sedang shalat. Ia tidak bisa bicara, hanya wajahnya seketika merah dan pucat.

Sejak saat itulah terjadi keretakan diantara kami. Agama baruku yang kupilih tak dapat diterima. Akhirnya aku meninggalkan rumah. Aku mengontrak sebuah rumah sederhana di Kota Surabaya. Sebagai anak perempuan satu-satunya, tentu ibuku tak mau kehilangan. Beliau tetap datang menjenguk sesekali. Enam tahun kemudian ibu meninggal dunia.

Setelah ibu saya meninggal, tidak ada kontak lagi dengan ayah atau anggota keluarga yang lain sampai sekarang. Aku bukannya tak mau berdakwah kepada keluargaku, khususnya ibuku. Walaupun ibu tidak senang, ketegangan-ketegangan akhirnya terjadi terus. Islam, baginya identik dengan hal-hal negatif yang saya contohkan di atas. Pendapat ibu sudah terpola, apalagi usia ibu sudah lanjut.

Tahun 1992 aku menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah aku diberikan rejeki sehingga bisa menunaikan ibadah haji. Selama masuk Islam sampai pergi haji, aku selalu menggerutu kepada Allah, “kalau Engkau, ya Allah, menakdirkanku menjadi seorang yang mukminah, mengapa Engkau tidak menakdirkan saya menjadi anak orang Islam, punya bapak Islam, dan ibu orang Islam, sama seperti saudara-saudaraku muslim yang kebanyakan itu. Dengan begitu, saya tidak perlu banyak penderitan. Mengapa jalan hidup saya harus berliku-liku seperti ini?” ungkapku sedikit sesal.

Di Masjidil-Haram, aku bersungkur mohon ampun, dilanjutkan dengan sujud syukur. Alhamdulillah aku mendapat petunjuk dengan perjalan hidupku seperti ini. Aku merasakan nikmat iman dan nikmat Islam. Padahal, orang Islam yang sudah Islam tujuh turunan belum tentu mengerti nikmat iman dan Islam. Islam adalah agama hidayah, agama hak. Islam agama yang sesuai dengan fitrah manusia. Manusia itu oleh Allah diberi akal, budi, diberi emosi, rasio. Agama Islam adalah agama untuk orang yang berakal, semakin dalam daya analisis kita, insya Allah, Allah akan memberi. Firman Allah, “Apakah sama orang yang tahu dan tidak tahu?”

Sepulang haji, hatiku semakin terbuka dengan Islam, atas kehendak-Nya pula aku kemudian diberi kemudahan dalam belajar agama tauhid ini. Alhamdulillah tidak banyak kesulitan bagiku untuk belajar membaca kitab-kitab. Allah memberi kekuatan kepadaku untuk bicara dan berdakwah. Aku begitu lancar dan banyak diundang untuk berceramah. Tak hanya di Surabaya, aku kerap kali diundang berdakwah di Jakarta. Begitu banyak yang Allah karuniakan kepadaku, termasuk jodoh, melalui pertemuan yang Islami, aku dilamar seorang ulama. Beliau adalah Masruchin Yusufi, duda lima anak yang isterinya telah meninggal dunia. Kini kami berdua sama-sama aktif berdakwah sampai ke pelosok desa. Terjun di bidang dakwah tantangannya luar biasa. Alhamdulillah, dalam diri ini terus menekankan bahwa hidupku, matiku hanya karena Allah.


Pada kesempatan dua kali mengobrol dengan Ustadz Yassin, yakni
bersama dengan acara Silaturahmi Maret 2004 dan sekali kesempatan
ekstra mengikuti tadarus pada pekan berikutnya, beliau dua kali
memaparkan bahwa pada masa lalu, ajaran Islam dibawa oleh tindak-tanduk
pengikutnya. Para pedagang dari Gujarat atau belahan Timur Tengah
lain datang ke negeri-negeri tujuan dengan akhlak yang barangkali
hanya sekian persen dari yang dicontohkan Nabi Muhammad, namun sudah
mengena di hati orang-orang sekitarnya.

Ferry M Simatupang
menimpali pada salah satu pembicaraan itu bahwa di kalangan orang
Amerika saat ini muncul anggapan kalau mau belajar Islam
bukan dari pemeluknya, melainkan lebih baik
langsung dari sumber-sumber otentiknya.

Memang hal ini kesadaran yang lebih bagus — karena dengan
demikian dapat melihat lebih proporsional (bukan memisahkan) —
antara ajaran Islam itu sendiri dan perilaku pemeluknya. Di sisi
lain tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi kaum muslimin sendiri
untuk menampilkan Islam yang “lebih mendasar”. Karena sudah banyak
orang jera dengan simbolisme yang hanya baju atau kulit.

Hari Ahad yang lalu, 21 Maret, di href="http://www.sltrib.com">Salt Lake Tribune, dimuat opini
salah seorang Mormon (Salt Lake terkenal sebagai “Kota Pemeluk
Mormon”) tentang Islam dan ajakan kepada pembacanya untuk
mempelajari lebih jauh agama yang href="http://www.sltrib.com/2004/Mar/03212004/commenta/149533.asp">“memiliki keyakinan tunggal, cinta, dan toleransi” ini. Termasuk
dijelaskan dengan bahasa sederhana pandangan tentang makna
sesungguhnya dari “jihad” dan kewajiban mengenakan hijab.


Tamu, tak seperti biasa….

Filed under Islam Aktual

Tidak biasanya pemandangan itu terlihat pada waktu shalat Isya di masjid Selwerd, tidak berapa jauh dari ?winkel centrum paddepoel?. Di bagian belakang tersusun kursi-kursi dengan rapi yang biasanya digunakan untuk duduk-duduk seperti berbuka puasa bersama. Setiap hari kursi tersebut terletak diluar ruangan utama. Kali ini lain. Ada apa gerangan ?.

Sebahagian jamaah sudah selesai melaksanakan shalat sunnah, sementara yang lainnya masih pada rakaat terakhir. Beberapa yang terlambat terlihat tetap memilih berdiri dibanding ikut shalat sunnah, karena tidak berapa saat setelah itu iqamah pertanda shalat berjamaah di mulai berkumandang. Di saat pikiran masih sibuk memperkirakan gerangan acara yang akan digelar, tiba-tiba datang serombongan ?warga bule? yang berjumlah 15 orang, 4 orang diantaranya berumur sekitar 35-45 tahun, selebihnya seusia siswa SMP atau SMA. Mereka mengambil tempat duduk pada kursi yang telah tersusun dengan rapi. Seorang jamaah dengan suara pelan menyambut kedatangan mereka sambil mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda. Seketika setelah itu mereka duduk dengan tenang tanpa ada sedikit suarapun. Iqamah pun berkumandang, sang Iman ? al-hafidz (hafal 30 juz Al-qurán) dengan suara murotal/bacaan Quránnya seperti lantunan Abdurrohman Sundaise yang sering kita dengar dari kaset rekaman atau browse internet ? mulai mengimami shalat.
Setelah shalat Isya berjamaah, seperti biasanya jamaah berdzikir dan shalat sunnah Isya. Saya sempat bertanya kepada pengurus masjid, dari mana para tamu itu datang. Sang pengurus menjelaskan bahwa mereka dari sebuah gereja di daerah Friesland (penghasil susu cap bendera yang terkenal di tanah air itu). Mereka ingin tahu lebih jauh tentang Islam dan bagaimana cara shalat. Tentunya setelah itu mereka mendapat penjelasan dari 2-3 orang jamaah sebagai pemandu. Tempat diskusi dipindahkan ke ruangan luar.

Di perjalanan pulang ingatan saya kembali tertuju pada diskusi kecil sehari sebelumnya bersama pak Ketua deGromiest, Pak Guru website serta astronom Bung Ferry. Diskusi yang diawali Bung Ferry tentang sebuah artikel seorang ?biolog? di jurnal science ? Jurnal dengan high impact factor itu ? yang bicara tentang kehidupan homo/lesbian, melebar ke berbagai realita Islam di Negara Barat. Beberapa bahan diskusi tersebut langsung kembali teringat setelah melihat ?kunjungan para bule? ke Masjid Selwerd. Salah satunya adalah telah dijadikannya undang-undang pelarangan simbol-simbol agama di wilayah publik oleh pemerintah Prancis. Rancangan undang-undang ini mendapat tantangan tidak hanya dari pihak Muslim tetapi juga pihak non-muslim sehingga gerakan penentangan ini menyebar ke hampir di seluruh penjuru dunia ini. Tak kurang Ulama kontemporer terkenal Dr. Yusuf Al-Qardawi mengirim surat khusus untuk Presiden Chirac. Undang-undang tersebut tidak membolehkan siswa/mahasiswa muslim menggunakan jilbab ke sekolah/perguruan tinggi. Perkembangan Islam yang cukup pesat di Prancis bisa jadi menjadi salah satu konsideran lahirnya undang-undang tersebut, tentunya dibalik semua itu Allah SWT lah yang mengetahuinya.

Mas Ismail sampai kepada sebuah ?analisa? bahwa Prancis sekarang sedang ber-eksperimen dan akan dilihat hasilnya dengan berjalannya waktu. Dan penentangan yang sedemikian kuat terhadap simbol agama itu (masalah jilbab yang paling menonjol) justeru akan menambah keingintahuan orang untuk memperlajari Islam, semakin kuat ?intimidasi, penyebutan teroris serta opini buruk lainnya terhadap Islam akan menambah deretan orang-orang Barat yang ingin belajar tentang Dienul Islam.

Realita ini banyak terjadi setelah terjadinya peristiwa 11 September yang fenomenal itu. Segera setelah runtuhnya gedung ternama dijantung kota Newyork ?WTC- itu, pemerintah Amerika menuduh kelompok Islam sebagai pelakunya. Terlepas adannya bukti atau tidak istilah teroris menjadi isu yang sangat kuat menjalar ke seluruh jagat ini. Semakin menambah kuatnya opini buruk orang-orang Barat terhadap Islam. Sebagaimana hukum alam banyak orang yang termakan oleh opini yang dibentuk serta disebarkan melalui media dengan teknologi canggih itu, sebaliknya juga banyak orang yang tidak begitu saja mempercayainya. Golongan ke dua inilah biasanya berusaha mencari tahu bagaimana sesungguhnya.

Bersamaan dengan gencarnya pembentukan opini kurang bersahabat terhadap Islam, banyak warga Amerika ingin tahu lebih jauh tentang agama Islam. Mereka datang kepada ulama atau sebaliknya mengundang ulama untuk menjelaskan kepada mereka. Salah satu yang sangat sering dipanggil dan didatangi untuk menjelaskan tentang agama Islam itu adalah seorang warga Negara Indonesia yang diangkat sebagai imam di salah satu masjid di kota New York. Ustadz Syamsil Ali demikan dia dipanggil, menjadi lebih padat jadwalnya dengan undangan untuk tujuan ini. Pria dengan umur masih kurang dari 40 tahun ini, diberikan kesempatan oleh Allah SWT menjelaskan tentang agama Islam kepada orang-orang yang ingin belajar.
Barangkali karena alasan itu juga pemandangan ahad malam itu saya saksikan, tapi tentunya saya tidak tahu persis?


Berita terbaru dari Muslim Consumer Group di US tentang beberapa produk kosmetik dan farmasi:

update: 9-1-2004

ORAL B DENTAL FLOSS & TOOTH BRUSHES ARE FREE OF ANIMAL DERIVED INGREDIENTS

Oral B tooth brushes and Dental flosses are not made with any animal derived ingredients.

update: 31-13-2003

Produk obat2at bebas alkohol dan komponen yang diturunkan dari hewan

Triaminic: semua sirup obat batuk dan tablet hisap lunak untuk anak2
Pediasure
Vicks
Halls

Data ini diperoleh dari hasil penelitian yang dilakukan oleh organisasi ini terhadap produk2 tersebut di atas yang beredar di US.


Muslim Consumer Group, telah menyusun daftar lengkap tentang status E-numbers (hala, haram atau mushbooh alias meragukan) . Mudah2an ini menjadi rujukan yang bisa dipercaya secara ilmiah dan syariahnya.

silahkan kilk di sini: http://www.muslimconsumergroup.com/enumbers.htm

sebenarnya tidak hanya makanan yang masuk daftar, tapi juga kosmetik dan obat2an, tetapi sebagian produk itu beredar untuk kalangan US (sesuai domisili organisasi ini).

mungkin ada baiknya jika dalam setiap edisi buletin deGromiest mendatang, disisipi informasi mengenai status produk yang beredar di pasaran. Gimana tim redaksi????? Atau dibuatkan edisi khusus buletin deGromiest yang mencantumkan informasi tersebut yang sudah dikemas dalam bahasa indonesia, sehingga lebih mudah dan enak dibaca.

Apa perlu juga saya terjemahkan langsung dari sumber aslinya dan dimasukkan ke dalam serambi deGromiest, atau perlu juga rembugan dulu….monggo yang lain kasih masukan ya…..

wassalam,