Archives for “Islam”

Assalamuálaikum,

Rekan-rekan keluarga besar deGromiest, berikut ini adalah jadwal Sholat Ramadhan 1433 H untuk wilayah Groningen dan sekitarnya. Terima kasih.

Salam,
deGromiest










 


Hanze Magazine, Wednesday, 5 November 2008 [PDF]

A letter from Nanie Medyagustia [Budhe Nanie] to Executive board chairman Henk Pijlman started the whole process in 2005. ‘There are so many people of different nationalities and religions here that feel the need to pray, meditate, or just need a moment for contemplation. Could you make a special room for them?, I asked him.’ Three years later her idea has been realised. In December the new silence centre next to the Atrium (room E1.06), will be officially opened.

Cover majalah HanzeMag

Cover majalah HanzeMag

Daftar Isi HazeMag

Daftar Isi HazeMag

Artikel Stiltecentrum

Artikel Stiltecentrum

Artikel dalam bhs Inggris (hal 21)

Artikel dalam bhs Inggris (hal 21)


[Foto: Muhsin]

Pintu masuk dengan tulisan Stiltecentrum (Meditation room)

Tempat Wudhu

Interior Stiltecentrum

Interior Stiltecentrum


Budhe Nanie menyampaikan berita bagus tentang Stilteruimte atau Ruang Hening di Hanze. Rencana peresmian STILTERUMTE dibulan januari, kita bikin opties: tgl 13, 14 atau 28 januari 2009, karena Balkenende (perdana menteri Belanda) agendanya penuh banget, kita rencakan Wallage (walikota Groningen) yang akan meresmikan. Peresmian antara jam 16.00-18.00.

Kalau stilteruimte mau dipakai, silahkan, sekarangpun bisa, asal sesudah sholat sajadahnya dikembalikan di kotak/lemari, yang disediakan disebelah tempat wudhu.

Selengkapnya…



Jadwal Shalat (Selwerd)

Filed under Islam di Groningen

Klik bulan di bawah untuk mendownload file jadwal shalat untuk daerah Groningen sesuai dengan edaran dari Masjid Selwerd.

2005
Oktober


Kesulitan mencari tempat sholat? Nee, gampang kok. Bumi Allah itu luas, bisa sholat di mana2. Cuma hati-hati, kalau sholat di taman, dibersihkan dulu dari hondpup. Berikut ini daftar tempat sholat yg ada di Groningen:

Masjid Selwerd

Lokasi: Selwerd Park
Bahasa: Arab

selwerd.jpg

Mesjid Turki

Alamat Mesjid Turki di Karreweg :
Korreweg 200.

Sebenarnya ada juga Mesjid Turki di
“Oude Boteringstraat 56″

Kalau memang jadwalnya padat dan ada sedikit waktu luang, bisa memilih masjid Turki yang di korreweg. Karena di sana khutbahnya hanya sebentar (sekitar 5 menit) hanya dalam bahasa Turki , dan di mulai tepat saat waktu dzuhur masuk (tidak hrs menunggu jam 14.00 pd summer time).

Bisa mudah di capai dengan mengikuti jalur bus 1, di jalan Korreweg (jalan besar), sekitar 500 meter sejak awal memasuki jl korreweg. terlihat gedung bekas gereja dengan menara bagian atasnya runcung warna hijau.

Kompleks Zernike

Ponky: “Buat yg mo shalat di natuurkunde zernike, sila dtg ke ruang 150110, selantai dgn bibliotheek chem/fysica ato perpustakaan kimia/fisika…gak jauh2 dari perpus kok, ruang lab yg gak(blom) kepake, di pojok kanan ada ruang kecil…nah itu dia. udah digelar 2 sajadah dan sepasang mukenah…kalo mo wudhu di kran air lab, usahakan jgn belepotan ya…enjoy your praying!”

Kompleks Harmonie Building

Tidak ada tempat khusus. Tapi bisa numpang di kamarnya Indra (lt 2, Rechten) atau Ismail (lt 4, Alfa Informatica).

Kompleks Farmasi & AZG/UMCG

Dimana niih? Tolong kasih tahu ya…

Anda punya info lagi

Tolong tambahkan di komentar, nanti kami masukkan ke daftar ini.


Tulisan oleh Prof. Diana L. Eck ini menarik sekali untuk membantu kita mamahami makna pluralisme. Dia menekankan, “..pluralisme bukan sekedar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Saya ingin katakan bahwa pluralisme adalah sebuah ikatan –bukan pelepasan– perbedaan dan kekhususan.”

——-

Rujukan untuk Diskusi di Indonesia
22-26 Agustus 2005

Diana L. Eck
Professor of Comparative Religion and Indian Studies
Director of the Pluralism Project
Harvard University

Kubah putih raksasa dari sebuah mesjid dengan menara-menaranya yang menjulang di atas ladang jagung di Toledo, Ohio. Kita bisa melihat pemandangan ini saat mengendarai mobil di jalan tol antar-negara bagian. Sebuah kuil Hindu dengan pahatan gambar gajah di pintu masuknya berdiri di pinggiran sebelah barat kota Nashville, Tennessee. Sebuah kuil Budha Kamboja beserta padepokan dengan atap khas Asia Tenggara tampak di daerah pertanian sebelah selatan Minneapolis, Minnesota. Di daerah sekitar Fremont, California, sejumlah bendera berkibar dari kubah-kubah emas gurdwara Sikh di Hillside Terrace, yang sekarang diubah namanya menjadi Gurdwara Terrace.

Peta agama di Amerika telah berubah drastis dalam empat puluh tahun terakhir, tapi kebanyakan penduduk Amerika belum menyadari dimensi dan ruang lingkup dari perubahan tersebut.kendati perlahan, perubahan tersebut terjadi secara kolosal. Ini bukanlah gambaran dari Amerika yang religius yang dibayangkan banyak orang di berbagai belahan dunia. A.S. biasanya diidentikkan dengan Kristen, kadang-kadang bahkan Kristen yang sangat konservatif, terpolitisasi, serta yang penuh dengan misi-misi sayap kanan. Atau, A.S. dipandang sebagai bangsanya kaum Kristen dan Yahudi. Atau, bagi sebagian orang, Amerika merupakan negara yang sekuler. Memang, bahkan di A.S. sendiri, banyak orang Amerika yang saya temui terkejut saat menyadari bahwa ada 1400 mesjid dan pusat Islam di Amerika, bahwa ada lebih banyak Muslim daripada penganut Episkopal, serta bahwa jumlah umat Muslim dan Yahudi di Amerika hampir sebanding, yakni sekitar lima sampai tujuh juta orang. Di Amerika sendiri, orang-orang terkejut saat menyadari bahwa Los Angeles merupakan kota dengan umat Budha yang paling bervariasi di dunia, dengan adanya penganut Budha dari berbagai tempat di Asia mulai dari Sri Lanka sampai Korea, yang bercampur dengan penganut Budha kelahiran Amerika. Kita tahu bahwa banyak di antara dokter penyakit dalam, dokter bedah, dan perawat kita berasal dari India, tapi tidak pernah terpikirkan oleh kita bahwa mereka pun memiliki kehidupan beragama, bahwa mereka mungkin meluangkan waktu barang lima menit di pagi hari untuk berdoa di altar ruang tamu di kediaman mereka, bahwa mereka mungkin membawa buah-buahan dan bunga-bungaan ke kuil Shiva-Vishnu lokal di akhir minggu.

Semua ini diawali dengan .imigrasi baru., yang dipicu oleh kebijakan imigrasi tahun 1965, di mana orang-orang dari seluruh dunia datang ke Amerika dan menjadi warga negara. Bersama mereka datang pula tradisi keagamaan dunia.Muslim, Hindu, Budha, Jainisme, Sikh, Zoroaster, Afrika dan Afro-Karibia. Proyek Pluralisme, yang saya prakarsai di Universitas Harvard, telah mendokumentasikan Amerika baru yang religius ini selama lebih dari satu dekade. [Lihat http://www.pluralism.org]

Mungkin Anda bertanya, bagaimana ini semua terjadi? Pada tanggal 4 Juli 1965, President Lyndon Baines Johnson megesahkan sebuah UU Imigrasi baru di bawah Patung Liberty. Pintu-pintu Amerika terbuka bagi para imigran dari seluruh dunia. Namun pada kenyataannya tidak selalu demikian. Sejak 1924, sebuah sistem kuota yang sangat ketat telah menghentikan imigrasi, dan bukan rahasia lagi bahwa imigrasi dari Asia sangat dibatasi, yang diawali dengan dikeluarkannya Kebijakan Pengucilan Orang Cina pada tahun 1882. Dekade demi dekade, cakupan .pengucilan orang Asia. meluas meliputi orang Jepang, Korea, dan orang Asia lainnya. Imigran yang lahir di Asia tidak dapat menjadi warga negara, demikianlah putusan Mahkamah Agung dalam kasus Bhagat Singh Thind pada tahun 1920an. Thind adalah penganut Sikh, ia merupakan warga yang telah dinaturalisasi, dan telah mengabdi pada Angkatan Darat A.S. dalam Perang Dunia I. Pada tahun 1923, kewarganegaraannya dicabut. UU Kemigrasian 1924 telah mengucilkan orang-orang yang tak berhak atas kewarganegaraan, dan ini artinya seluruh orang Asia.

Kebijakan Imigrasi 1965 terkait dengan semangat dalam Kebijakan Hak-hak Sipil yang dikeluarkan tahun 1964. Dengan semakin sadarnya orang-orang Amerika atas struktur rasisme yang tertanam dalam bangsa mereka, mereka pun menyadari bahwa diskriminasi ras masih mewarnai UU Keimigrasian, mengucilkan orang-orang dari apa yang saat itu dikenal sebagai .segitiga Asia-Pasifik.. Di awal kepemimpinannya, Presiden John F. Kennedy menyiapkan rancangan UU untuk .menghapuskan diskriminasi antar individu dan antar bangsa yang berdasarkan hal-hal yang tidak berhubungan dengan kontribusi yang dapat diberikan oleh para imigran, serta yang tidak konsisten dengan tradisi bangsa kita yang penuh penerimaan.. Robert Kennedy, sang Jaksa Agung, mengatakan, .Seiring dengan upaya kita dalam menghapuskan gejala-gejala rasisme dari kehidupan bermasyarakat, kita tidak bisa lagi mempertahankan rasisme sebagai dasar UU Keimigrasian kita..

Dengan demikian dimulailah sebuah era baru keimigrasian, serta sebuah babak baru yang kompleks dan penuh warna dalam kehidupan beragama di Amerika. Amerika masih baru terjaga dan berjuang dengan berbagai dimensi dari realitas baru ini. Sensus tahun 2000 mengungkapkan bahwa lebih dari 10% penduduk Amerika sekarang ini lahir di negara lain. Persentase terbesar dari para imigran baru berasal dari Asia dan Amerika Latin.

Sering kali ketika saya berbicara di depan audiens Amerika belakangan ini, tahun 2005, saya mencoba menjelaskan bahwa yang disebut-sebut sebagai .dunia Islam. tidak berada di bagian dunia lain. Kenyataan sebenarnya adalah, Amerika Serikat adalah bagian dari dunia Islam itu. Chicago dengan tujuh puluh mesjidnya beserta setengah juta umat Muslim, lengkap dengan Majelis Organisasi Islam di Chicago Raya, adalah bagian dari dunia Islam. Weekend berikut, pada hari Buruh Amerika, di Chicago, Masyarakat Islam Amerika Utara akan mengadakan pertemuan tahunan. Sekitar 30.000 Muslim akan ambil bagian dalam salah satu pertemuan tahunan terbesar di Amerika ini. Tema utama dari pertemuan tersebut adalah .Muslim di Amerika Utara: Berbagai Tantangan dan Jalan ke Depan.. Mereka akan membahas masalah, .Pluralisme: Berkah atau Masalah.. Topik-topik lainnya mencakup Hubungan antara Suami-Istri dan Kekerasan dalam Rumah Tangga, Melawan Islamofobia dan Fitnah, Umat Muslim dan Kebijakan Publik, Wanita dan Pria dalam Mesjid di Amerika, Respons Umat Muslim terhadap Bencana Tsunami. Dalam hal hubungan antar umat beragama, mereka akan membicarakan tentang fatwa menentang terorisme yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Dewan Fiqh Amerika Utara serta tanggung jawab komunitas Muslim Amerika untuk memahami dan menindaklanjuti .teror kembar ekstremisme dan terorisme agama.. Mereka juga akan mengadakan pameran kesenian, pameran buku, dan turnamen bola basket. Pertemuan seperti ini merupakan sebuah pernyataan publik yang terbuka dari apa yang saya maksud dengan sebuah .Amerika Baru yang Religius..

Keragaman kehidupan beragama di Amerika sekarang ini berjalan seiring dengan sebuah komitmen yang konstitusional akan kebebasan beragama dan kebebasan menentukan pendapat. Memang banyak di antara para pendiri Amerika yang beragama Kristen, namun mereka dengan gigih berupaya menciptakan suatu pemerintahan yang tidak didominasi oleh kepercayaan mereka atau kepercayaan lainnya.

Bagi Madison dan banyak pendiri bangsa lainnya, argumen bagi ketidakharusan menganut agama tertanam secara teologis. Dalam berjuang untuk kebebasan beragama, kami menghargai kebebasan yang diperintahkan oleh Tuhan. Tidak mengherankan bila umat Muslim Amerika, yang sependapat dengan Qur.an bahwa tidak boleh ada paksaan dalam agama, melihat hal ini sejalan dengan semangat para pendiri Amerika.

Mereka yang menulis kalimat ini tidak membayangkan keragaman agama di Amerika dewasa ini dengan warganya yang memeluk Islam, Budha, Aliran Jainisme, dan Hindu. Meskipun demikian, prinsip-prinsip yang kokoh mengenai kebebasan menjalankan ibadah agama dan ketidakharusan menganut agama telah mampu bertahan mengatasi ujian waktu seiring dengan semakin meluasnya keragaman agama di Amerika. Pluralisme agama yang kaya di Amerika dewasa ini adalah hasil langsung dari komitmen kita kepada kebebasan beragama. Tradisi humanis sekuler Amerika juga merupakan produk kebebasan hati nurani yang dibangun menyatu dalam pondasi Konstitusi. Kebebasan agama adalah juga kebebasan dari agama apapun. Ketika warga Prancis Alexis de Tocqueville mengadakan lawatan mengelilingi Amerika pada 1820an, dia menemukan bahwa memutus hubungan antara gereja dan negara sesungguhnya membuat agama semakin kuat, bukannya malah melemahkan. Hal ini cukup membuatnya heran.

Dewasa ini, seperti yang kita semua ketahui, hal ini terus berlanjut. Apa yang disebut Kristen kanan aktif secara politis, sangat vokal, dan bekerja untuk memilih pejabat-pejabat publik yang akan memajukan agendanya. Demikian juga dengan Kristen kiri. Demikian juga halnya dengan gerakan Damai Kristen. Hal yang sama juga dilakukan oleh kaum Yahudi, Muslim, dan Hindu. Demikian juga dengan koalisi yang dinamakan Aliansi Antar-keyakinan (Interfaith Alliance). Demikian juga dengan organisasi sekuler yang penuh semangat seperti American United for the Separation of Church and State (Amerika Bersatu untuk Pemisahan Gereja dan Negara). Sebagian rakyat Amerika memang masih beranggapan bahwa Amerika adalah sebuah .negara Kristen,. namun mereka akan mendapati banyak pemikiran lain di arena publik. Amerika adalah juga sebuah negara dimana warga Muslim Amerika berdiri di balai pertemuan Kongress untuk menyampaikan doa untuk umum, mengadakan barbeque kotak suara untuk mendaftar Muslim yang akan memberikan suaranya, dan menyelenggarakan hari-hari lobbi Muslim (Muslim lobbying days) di Capitol Hill di Washington. Amerika adalah negara simana warga Buda Amerika menahbiskan biarawan baru di kuil yang mengibarkan bendera Amerika, warga Hindu Amerika mencalinkan diri untuk jabatan di tingkat lokal dan negara bagian dan menyerahkan laporan kepada Mahkamah Agung, dan warga Sikh Amerika mendesak hak-hak konstitusional untuk mengenakan turban dan mempertahankan rambut mereka tetap dipelihara di tempat kerja.

Tantangan negara multiagama yang sesungguhnya sangat banyak terbentang dihadapan kita sekarang ini. Ini adalah waktu ujian yang sesungguhnya bagi dua prinsip ketidakharusan menganut agama dan kebebasan menjalankan ibadah agama. Kaum mayoritas mungkin memenangkan pemilu, tetapi Konstitusi dilindungi oleh pengadilan atas nama individu, anggota komunitas minoritas, yang tidak akan pernah memenangi pemilu tetapi hak-haknya untuk melaksanakan ibadah agama ada di di jantung janji kewarganegaraan kita. Musim panas ini, isu-isu ini banyak muncul di agenda. Apakah sebuah county di negara bagian Kentucky menempelkan Sepuluh Perintah Injil di Gedung Pengadilan Countynya? Tidak, pengadilan memutuskan pada musim panas ini. Haruskah Angkatan Udara AS mengambil inisiatif untuk memastikan kadetnya yang beragama Islam diberi waktu untuk menjalankan ibadah agamanya? Ya, Departemen Pertahanan akan mendesak pada musim panas ini. Apakah seorang saksi Muslim bersaksi atas kebenaran pernyataanya dengan manaruh telapak tangannya di atas Kitab Suci Al-Qur.an? Ya, kata the American Civil Liberties Union (Serikat Kebebasan Sipil Amerika) dalam tuntutan perkara di North Carolina. Dapatkah seorang perempuan Muslim menuntut sebuah perusahaan di Florida yang melarang dia mengenakan tutup kepala (jilbab) di tempat kerja? Ya, kata the Equal Employment Opportunity Commission (Komisi Kesempatan Memperoleh Pekerjaan yang Setara). Dia dapat menuntut atas perlakuan diskriminasi di bawah Undang-UndangHak-hak Sipil Florida.

Sebuah moto biasanya mudah diingat tetapi sulit untuk bertahan lama. Amerika Serikat dan Indonesia, dalam satu hal, memiliki kesamaan moto yang memberi gambaran kekompleksitasan kita. Untuk Indonesia ada .Bhineka Tunggal Ika,. .Berbeda-beda tetapi Satu.. Untuk Amerika Serikat ada, .E Pluribus Unum,. .Satu dari banyak.. Di Amerika, kalimat ini tercetak di mata uang koin yang ada dalam kantong pakaian kita yang begitu kita kenali, sehingga kadang kita jarang memikirkan apa artinya. Apakah ukuran dari banyaknya kita? Apa makna dari ke satuan kita?

Ditengah-tengah semua pluralitas ini, ungkapan unum, satu ke satuan kita, memerlukan banyak pemikiran, masing-masing memberi kontribusi dengan caranya sendiri . seperti suara orang Muslim yang akan mempertahankan .kebenaran yang nyata (self-evident truth). dari kesetaraan manusia bukan hanya karena ia tertulis dalam Deklarasi Kemerdekaan, tetapi karena ia adalah juga bagian dari ajaran al-Qur.an dan sebuah prinsip keyakinan mereka sebagai Muslim. Mendengar cara-cara baru memberi ungkapan ke pada gagasan Amerika adalah tantangan yang kita hadapi dewasa ini.

Dalam memulai menyatakan perbedaan pada masyarakat umum, satu kata mungkin menandai perubahan dalam kesadaran dan pengakuan bahwa sebuah masyarakat baru sedang berlangsung. Misalnya, seiring dengan jumlah Muslim yang semakin banyak dan kentara di masyarakat Amerika, para pejabat publik mulai berpindah dari berbicara tentang .gereja dan synagog. ke .gereja, synagog, dan masjid..

Pada 1996, Angkatan laut AS mengangkat Imam Muslim pertamanya, Lt. Malak Ibn Noel, dan pada 1998 masjid Angkatan Laut AS pertama dibuka di pangkalan Angkatan Laut Norfolk di Virginia, dimana Letnan Noel ditempatkan. Ketika limapuluh pelaut menghadiri sholat Jum.at di masjid ini, mereka memberi tanda kepada kita adanya era baru kehidupan beragama Amerika.

Satu hal yang sudah pasti E Pluribus Unum tidak berarti .Dari banyak agama, satu agama.. Dari sudut pandang tradisi banyak agama di Amerika, .ke satuan. kita bukan berarti pencampuran berbagai agama kedalam sejenis tempat pertemuan agama. Mungkin ada yang berpindah agama, seperti yang telah banyak terjadi. Sesungguhnya, warga Amerika keturunan Eropa dan Amerika keturunan Latin banyak yang menjadi Muslim. Keturunan Korea beragama Buda menjadi Kristen. Pemeluk Protestan dan Katolik mulai menjalankan ibadah agama Buda dan menyatakan mereka adalah pengikut Buda. Ada juga perkawinan antar agama, seperti pernikahan kaum muda antara pemeluk Islam dan Kristen, Hindu dan Yahudi. Ada kebaktian antar agama pada acara perayaan nasional atau tragedi, dimana kaum Kristen, Yahudi, Muslim, dan Buda menyampaikan doa, masing-masing dengan caranya yang berbeda. Tetapi tidak pernah ada ke satuan agama. Ia lebih berupa ke satuan komitmen kepada janji kewarganegaraan diluar banyaknya tradisi agama, keragaman cara dan dunia agama.

Setiap tradisi agama mempunyai caranya sendiri dalam mengartikulasikan banyaknya keyakinan. Pada June 25, 1991, seorang imam Muslim berdiri di majelis (chamber) DPR AS di pagi hari dan menyampaikan doa singkat, sebagai imam untuk hari itu. Itu adalah peristiwa pertama kali dalam sejarah Amerika seorang Muslim melakukan hal itu. Imam tersebut adalah Siraj Wahaj, pemimpin Muslim Amerika keturuann Afrika dari Brooklyn, New York. Dia telah mengubah pojok kota yang kotor yang didominasi oleh penjual obat-obatan menjadi sebuah masjid, namanya Mashid al Taqwa, rumah bagi komunitas Muslim Brooklyn yang penuh semangat. Doa di depan Kongress yang sangat penting dijadwalkan sedekat mungkin ke hari besar Agama Islam, Idhul Adha, perayaan untuk berkorban, ketika kaum Muslim mengenang ketaatan Nabi Ibrahim kepada Tuhan yang siap mengorbankan putranya Ismail. Doa yang disampaikan oleh Siraj Wahaj memasukkan ayat-ayat dari Al-Qur.an yang menjelaskan istilah pluribus dan unum, yang menjadi pertanyaan kita. .Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Segala Puji kami panjatkan kepadaMu yang membentuk dan memberi warna kamidalam kandungan ibu kami, memberi kami warna putih, coklat, merah, kuning. Segala puji kami panjatkan kepadaMu yang telah menciptakan kami dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan kami berbangsa-bangsa dan bersuku bangsa yang membuat kami saling mengenal..

Ayat Al-Qur.an yang beliau singgung disini adalah ayat yang sering dikutip oleh kaum Muslim untuk memperkuat bahwa keragaman manusia dalam hal ras, jender, suku bangsa, dan bangsa adalah berada dalam pemeliharaan Tuhan. Lagipula, Tuhan bisa saja menciptakan satu jenis manusia, tetapi seperti yang Al-Qur.an nyatakan, Tuhan menciptakan kita kedalam berbagai bangsa dan suku bangsa, bukan dimaksudkan agar kita bercerai berai, melainkan untuk saling mengenal..

Pada tahun 1915, seorang imigran Yahudi, Horace Kallen yang adalah seorang ahli sosiologi menulis sebuah artikel yang banyak dibicarakan dalam The Nation mengenai visi pembauran (melting pot) di Amerika. Dia lah orang pertama yang menggunakan istilah .pluralisme. untuk melukiskan sebuah visi alternatif. Artikel tersebut berjudul .Democracy Versus Melting Pot. (Demokrasi Melawan Pembauran) dan di situ ia menulis bahwa ide .pembauran. bersifat anti-demokrasi. Hal ini bertentangan dengan prinsip Amerika yang sangat mendasar. Lagi pula, salah satu kebebasan yang dihargai di Amerika adalah kebebasan menjadi diri sendiri tanpa menghilangkan budaya seseorang yang menjadi ciri khasnya. Kallen melihat kemajemukan dan kesatuan di Amerika dalam sebuah gambaran simfoni dan bukannya pembauran.

Merupakan sebuah gambaran yang menarik . simfoni sebuah masyarakat di mana masing-masing kelompok mempertahankan perbedaannya, bersama-sama mendengarkan musik secara utuh. Kallen terkesan lebih menyamakan hal itu dengan musik jazz ketika dia menulis bahwa, tidak seperti halnya peradaban, sebuah simfoni disusun sebelum dimainkan. Akan tetapi, dalam musik jazz, permainan adalah penulisan.

Lalu, apakan pluralisme itu jadinya? Tentunya ini menjadi topik yang kontroversial di Indonesia saat ini, terutama mengingat pada pertemuan bulan lalu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa yang mengharamkan pluralisme, sekularisme, bentuk liberalisme dalam Islam, dan doa bersama antarumat beragama. Sementara fatwa tersebut terkesan melarang .pluralisme., fatwa itu juga memiliki pemahaman mengenai pluralisme yang memandang semua agama adalah sama, berlaku sejajar, dengan kebenaran yang relatif. Seperti dikutip The Jakarta Post, Ketua Komisi Fatwa, Ma.ruf Amin berkata, .Pluralisme dalam arti seperti itu adalah haram karena membenarkan agama lain.. Banyak tokoh ternama Indonesia yang menanggapi fatwa tersebut termasuk Azyumardi Azra, Rektor Universitas Islam Negeri; Ulil Abshar Abdalla, Sekjen Konferensi Agama dan Perdamaian Indonesia. Tetapi di Indonesia seperti halnya di A.S., istilah pluralisme sering disalahartikan dengan kritik sebagai penilaian bahwa semua agama adalah sama. Hal ini jauh dari arti pluralisme yang seharusnya. Bahasa pluralisme bukanlah bahasa mengenai kesamaan atau sekedar bahasa tentang perbedaan, namun bahasa tentang dialog. Pluralisme adalah mengenai keterikatan, keterlibatan, dan keikutsertaan. Pluralisme adalah bahasa mengenai arus, pertukaran, dialog, dan debat. Pluralisme adalah bahasa yang dibutuhkan oleh demokrasi agar dapat bertahan hidup. Ada tiga hal tentang pluralisme yang dapat menjelaskan arti Proyek Pluralisme.

Pertama, saya berpendapat bahwa .pluralisme. bukan hanyak beragam atau majemuk, Pluralisme lebih dari sekedar mejamuk atau beragam dengan ikatan aktif kepada kemajemukan tadi. Meski pluralisme dan keragaman terkadang diartikan sama, ada perbedaan yang harus ditekankan. Keragaman adalah fakta yang dapat dilihat tentang dunia dengan budaya yang beraneka ragam di Amerika Serikat dan Indonesia. Pluralisme membutuhkan keikutsertaan.

Di dunia di mana kita hidup saat ini, keragamam belaka tanpa usaha ikut dalam hubungan nyata dengan mereka yang berbeda dan tanpa usaha untuk menciptakan masyarakat yang harmonis akan menimbulkan masalah yang terus bertambah.

Kedua, saya ingin katakan bahwa pluralisme bukan sekedar toleransi. Pluralisme lebih dari sekedar toleransi dengan usaha yang aktif untuk memahami orang lain. Meskipun toleransi sudah pasti merupakan sebuah langkah ke depan dari ketidaktoleransian, toleransi tidak mengharuskan kita untuk mengetahui segala hal tentang orang lain. Toleransi dapat menciptakan iklim untuk menahan diri, namun tidak untuk memahami. Toleransi saja tidak banyak menjembatani jurang stereotipe dan kekhawatiran yang bisa jadi justru mendominasi gambaran bersama mengenai orang lain. Sebuah dasar yang terlalu rapuh untuk sebuah masyarakat yang kompleks secara religius seperti kami.

Kini, dengan kebebasan menjalankan ibadah agama di negara kita dan di sekitar kita, sebuah masyarakat yang sejatinya pluralis harus berkembang melebihi toleransi untuk mencapai pemahaman yang konstruktif. Kita harus memiliki sekolah-sekolah yang giat mengajarkan agama-agama di dunia dalam konteks bidang studi sosial atau sejarah. Kita membutuhkan pemimpin agama yang terlatih yang tidak hanya mampu menanamkan keyakinan yang dalam pada komunitasnya, namun juga terpelajar secara agama, dan mampu mencegah para agamawan lainnya salah menafsirkan dan mencemarkan komunitas agama lain. Toleransi tidak dapat menghilangkan ketidaktahuan kita tentang orang lain dan meninggalkan kebenaran lainnya dan kekhawatiran yang mendasari pola lama perpecahan dan kekerasan. Di dunia yang kita tinggali ini, ketidaktahuan kita akan semakin mahal harganya.

Ketiga, dan yang paling penting bagi mereka yang khawatir akan pluralisme, saya ingin tekankan bahwa pluralisme bukan sekedar relativisme. Pluralisme adalah pertautan komitmen antara komitmen religius yang nyata dan komitmen sekuler yang nyata. Pluralisme didasarkan pada perbedaan dan bukan kesamaan. Saya ingin katakan bahwa pluralisme adalah sebuah ikatan — bukan pelepasan — perbedaan dan kekhususan. Bahkan MUI tampak menunjukkan kalau muslim menerima fakta bahwa .masyarakat percaya pada perbedaan agama.. Seperti yang diungkapkan Ma.ruf, .Karenanya, kita harus saling menghormati dan hidup bersama secara damai.. Namun harus ditambahkan bahwa hidup bersama dalam sebuah masyarakat yang penuh semangat bukan hanya sekedar hidup berdampingan tanpa memedulikan orang lain. Hal itu membutuhkan ikatan, kerjasama, dan kerja yang nyata. Ikatan komitmen yang paling dalam, perbedaan yang paling mendasar dalam menciptakan masyarakat secara bersama-sama menjadi unsur utama dari pluralisme.

Ikatan perbedaan dalam masyarakat yang pluralistik tidaklah dibentuk berdasarkan struktur peperangan, namun struktur dialog. Ikatan yang penuh semangat, bahkan argumentasi bersama menjadi penting bagi masyarakat yang demokratis. Dengan kata lain, keyakinan beragama juga menjadi sangat penting yang didapat bukan karena kebiasaan atau warisan, namun dalam konteks dialog dengan komitmen dari mereka yang menganut keyakinan lain. Dialog seperti ini tidak ditujukan untuk mencapai kesepakatan, namun mencapai hubungan. Komitmen tidak ditinggalkan. Bahasa pluralisme adalah dialog dan pertemuan, memberi dan menerima, serta kritik dan kritik diri. Dalam dunia kita ini, bahasa inilah yang harus kita pelajari.


Seputar Fatwa MUI

Filed under Islam Aktual

Topik-topik yang diangkat MUI dalam fatwanya tahun 2005 merupakan topik yang muncul saat ini di masyarakat, atau kontemporer. Oleh karena itu, menjadi penting bagi kita untuk mempelajari permasalahan kontemporer umat Islam di Indonesia dengan berkaca pada fatwa MUI. Artikel ini dimaksudkan sebagai ‘pengumpul’ atau ‘gatherer’ pendapat-pendapat para ulama/cendikiawan seputar fatwa MUI. Tujuannya agar kita bisa belajar dengan lebih konprehensif dari berbagai sudut pandang. Apa yang ada di sini bukan menunjukkan persetujuan atau dukungan. Hanya sebagai bahan kita untuk belajar meluaskan horizon.

Temen2 yang punya akses ke Cafe ini juga bisa menambahkan.

Republika
Salahuddin Wahid
Ketua Majelis Pengurus Pusat (MPP) ICMI
“Dialog, Solusi Menyelesaikan Masalah Ahmadiyah”

Detik.com
Hidayat Nur Wahid
Ketua MPR
Hidayat secara pribadi bisa menerima fatwa MUI itu. Bahkan dia meminta kepada masyarakat untuk menyikapinya dengan arif dan tidak menjadikan fatwa itu untuk alasan melakukan tindakan pelanggaran hukum.

Jawa Pos
Mustofa Bistri
Salah satu hak manusia paling asasi adalah keyakinan. Kita bisa mengajak orang untuk meyakini apa yang kita yakini, tapi tak bisa memaksakannya. Nabi Ibrahim as dengan segala kebijaksanaannya tidak bisa membuat ayahnya sendiri meyakini keyakinannya, meski keyakinannya itu benar. ..

[.... to be added ....]

Sumber tambahan
EraMuslim
Ust. Ahmad Sarwat, Lc.
Masalah Toleransi dalam Islam
Butir-butir Kesesatan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad dan Sikap Kita


[Sumber]

1. Secara formal organisatoris, NU tidak punya hubungan apa pun dengan MUI, meskipun diakui di sana ada elemen-elemen NU. Maknanya, bahwa secara formal-organisatoris NU tidak terikat dan tidak bisa diikat oleh fatwa MUI.

2. Fatwa adalah aplikasi norma Fiqh yang disasarkan kepada tindakan / perbuatan (amaliyah) obyektif seperti judi, korupsi, suap, money politics, dsb. Fatwa yang disasarkan terhadap pemikiran dan pandangan hidup (seperti pluralisme, sekularisme dan liberalisme) terasa melampaui jurisdiksi dan tidak lazim. Ini sejalan dengan definisi baku dari Fiqh, “ Ilmu ttg hukum-hukum syar’iyah amaliyah yang diambil dari dalil-dalil yang terperinci / al-ilm bi al-ahkam as-syar’iyyah al-ama;iyah almuktasab min adillatiha at-tafshiliyat”.

3. Lagi pula, kegiatan menetapkan hukum (judgment) sebagai tahap mengambilan kesimpulan (natijah) tidak bisa ujug-ujug, melainkan musti melewati satu tahap mutlak yang disebut tashawwur (rekonstruksi dan definisi masalah). Artinya, jika kita mau menjatuhkan hukum atas sst perkara maka haruslah jelas lebih dahulu apa yang dimaksud dengan perkara-perkara itu sebagaimana adanya. Bukan sebagaimana yang saya maui atau saya khayalkan sendiri. Tashawwur inilah yang akan menentukan mutu dari hokum yang disimpulkan. Rendah mutu tashawwur, rendah pula mutu hokum yang ditetapkannya.

4. Fatwa MUI tentang liberalisme, pluralisme dan sekularisme jelas tidak didahului oleh proses tashawwur secara obyektif, bagaimana para pengusung (selaku tertuduh) pemikiran-pemikiran itu mendefinisikannya. Apa yang dilakukan MUI dalam proses pembahasannya yang begitu singakat, hanyalah tashawwur menurut imajinasi mereka yang sejak mula sudah dibimbing oleh prasangka dan curiga. Dengan kata lain, fatwa seperti itu tidak memenuhi syarat dan bahkan cenderung (maaf) gegabah.

5. Di saat-saat dimana kecenderungan amook massa begitu mudah terbekar, mengeluarkan fatwa seperti itu sungguh beresiko; sangat dikhawatirkan fatwa-fatwa seperti itu akan dipakai oleh orang-orang yang sudah ketagihan (addicted) dengan kekerasan untuk menjustifikasi aksi-aksi mereka seperti yang sudah terbukti terhadap saudara sebangsa kita beraliran Ahmadiyah di Parung dan Kuningan. Jika ini terjadi sulit dihindari pandangan orang bhw MUI telah menjadi inspirator tindakan-tindakan kekerasan itu.

6. Khusus tentang fatwa sesat terhadap faham atau aliran yang dipandang tidak sesuai dengan keyakinan sendiri, jika memang MUI merasa berwenang menetapkannya dan bersikeras untuk memfawakannya, kami kira itu teserah saja. Akan tetapi hal itu sama sekali tidak bisa diacu oleh aparat penegak hukum untuk mengambil tindakan kekerasan atas nama Negara, karena satu prinsip: Negara adalah lembaga public milik orang banyak, ia tidak boleh dibajak menjadi alat keyakinan tertentu untuk mendukung dirinya dan atau menghancurkan lawannya.

7. Kecenderungan umat Islam untuk berlindung pada cara-cara kekerasan, termasuk kekeraan dengan fatwa, dalam menghadapi orang/pihak lain justru mengindikasikan rendahnya kepercayaan mereka terhadap keunggulan agamanya dan kualitas umatnya. Jika benar bahwa Islam unggul nan takterungguli (ya’lu wa laa yu’la alaih) dan keunggulan itu bisa dibuktikan kepada orang lain dengan keunggulan argument dan kemuliyaan perilaku, pastilah segala macam pembelaan dengan kekerasan tidak bisa dipahami lain kecuali penghinaan terhadap Islam itu sendiri.

8. Akhirnya, dengan tidak mengurangi keinginan menghormati MUI, kami mengimbau kiranya Fatwa lembaga ini khususnya berkaitan dengan keharaman pandangan pluralisme/ sekularisme/ liberalisme dapat ditarik dahulu untuk dipikirkan kembali dengan kearifan dan kedalaman ilmiyah sesuai dengan karakter sejati dari ulama dan keulamaan.

9. Semoga Allah membimbing kita semua ke jalan yang diridloi-Nya. Hadaa nallah wa iyyakum ajma’in.

Masdar Farid Mas’udi
Ketua PBNU & Ketua P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat).


11 Fatwa MUI 2005

Filed under Islam Aktual

[sumber:...]

Ada sebelas fatwa. Yang kedua, berupa rekomendasi yaitu merekonmendasikan tentang suatu masalah kepada MUI yang akan datang untuk membahas kaidah-kaidah toleransi penafsiran agama. Ini yang belum difatwakan. Dititipkan pada MUI yang akan datang. Rekomendasi kedua, memohon kepada MUI agar mensosialisikan fatwa MUI yang ditetapkan pada Munas 5 tahun lalu tentang Riswah, Ghuluh dan hadiah kepada pejabat..

Kemudian menganai fatwa yang telah ditetapkan pada hari ini, setelah dibahas maka disini akan kami bacakan diktumnya saja.

1. fatwa soal perlindungan kekayayaan hak intelektual HAKI
1. ketentuan umum:
Dalam fatwa ini yang dimaksud kekayaan intelektual adalah kekayaan yang timbul dari hasil olah fikir yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk mnusia dan diakui oleh negara berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku. Oleh karenanya HAKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis hasil dari hasil dari suatu kreatifitas inteletual dari yang bersangkutan sehingga memberikan hak privat baginya untuk mendaftarkan dan memroleh perlindungan atas karya intelektualnya. Sebagai bentuk penghargaan atas kreatifitas intelektualnya tersebut, negara memberi hak eksklusif kepada pendaftarnya dan atau pemiliknya sebagai pemegang hak yang sah di mana pemagang hak mempunyai hak melarang orang lain yang tanpa persetujuannya atau tanpa hak memperdagangkan atau memakai hak tersebutdalam segala bentuk dan cara.

Hak inteletual ini meliputi:
1. Hak perlindungan varieatas tanaman
2. Hak hak rahasia dagang
3. Hak desain industri
4. Hak desain tata letak terpadu
5. Paten
6. Hak atas merek
7. Hak cipta.

keketuan hukum
1. Dalam hukum Islam hak kekayaan inteletual dipandang sebagai salash satu hukum malia ata hak kekayaan yang mendapat perlindungan hukum atau Masytunun Syaraan sebagaimana harta.
2. Hak kekeyaan intelektual yang mendapat perlindungan hukum isalm sebagaimana dimaksu pada angka dtersbut adalah hak inteletual yang tidak bertentangan dengan hukum Islam. Dua, HAKI dapat dijadikan obyek pertuakaran atau komersidal atau on komersial serta dapat diwakafkan dan diwariskan.

Setiap bentuk pelanggaran HAKI termasuk namun tidak terbatas pada menggunakan, mengungkapkan, membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, mengedarkan menyerahkan, meyediakan, mengumumkan, memperbanyaki, menjiplak, memalsu, membajak HAKI milik orang lain secara tanpa hak merupakan kezoliman dan hukuknya haram.

2. Fatwat tentang Perdukunan dan Peramalan
Setelah menimbang, mengingat, memperhatikan, memutuskan, dan enetapkan:
1. Segala bentuk praktek perdukukunan dan peramalan hukumnya haram
2. Mempublikasikan praktek perdukunan dan peramalan dalam bentuk apapun, hukumnya haram
3. Memanfaatkan, menggunakan, dan atau mempercayai segala praktek perdukunan dan peramalan hukumnya haram.

3. fatwa tentang Doa Bersama
Setelah menimbang, mengingat, dan seterusnya.menetapkan:

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan
1. Doa bersama adalah berdoa yang dilakukan secara bersama antara umat Islam dengan non Islam dalam acara resmi kenegaraan maupun kemasyarakatan dalam waktu dan tempat bersamaan. Baik dilakukan dalam bentuk atau beberapa orang berdoa sedang yang lain mengamini maupun dalam bentuk setiap orang berdoa menurut agama masing-masing secara bersama-sama.
2. Mengamini orang yang berdoa termasuk doa

2. Ketentuan hukum
1. Doa bersama yang dilakukan oleh orang Islam dan non muslim tidak dikenal dalam Islam, oleh karenanya termasuk bid’ah
2. Doa bersama dalam bentuk setiap pemuka agama berdoa secara bergiliran maka orang Islam haram menguikuti dan mengamini doa yang dipimpin oleh non mislim
3 Doa bersama dalam bentuk muslim dan non muslim berdoa secara serentak, misalnya mereka membaca teks doa secara bersama-sama, ukumnya haram.
4 Doa bersama dalam bentuk seorang non muslim memimpin doa, maka orang Islam haram mengikuti dan mengamininya.
5. Doa bersama seorang tokoh Islam memimpin doa hukumnya mubah.
6. Doa bersama dalam bentukk setiap orang berdiaoa enurut agam masing-masing, hukumnya mubah.

4. Fatwa tentang Perkawinan Beda Agama
setelah menimbang dan seterusnya..menetapkan:
1. Perkawinan beda agama adalah haram dan tidak sah
2. Perkawinan laki-laki mslim dengan wanita ahlul kitab, menurut mukamar adalah haram dan tidak sah.

5. Fatwa tentang Pewarisan Beda Agama
setelah menimbang, menguingat, dst, menetapkan :
1. Hukum waris Islam tidak memberikan hak saling mewarisi antara orang-orang beda agama (antara muslim dan non muslim)
2. Pemberian antara orang berbeda agama hanya dapt dilakukan dalam bentuk hibah, wasiat dan hadiah.

6. Fatwa Kriteria Maslahah
setelah menimbang, mengingat, dan selanjutnya.. menetapkan kriterai Maslahah:
1. Maslahat atau kemaslahatan menurut hukum Islam adalah tercapainya tujuan syariah yang diwujudjkan dalam bentuk terpeliharanya
5 kebutuhan primer, yaitu agama, akal, jiwa, harta, dan keturunan.
2. Maslahat yang dibenarkan syariat adalah maslahat yang tidak bertentangan dengan nash, karena maslahat tidak boleh bertentangan dengan nash.
3. Lembaga yang menentukan maslahat tidaknya menurut syara’, adalah lembaga yang memilki kompetensi di bidang syariah dan dilakuiakn melalui ijtihad jama’i

7.Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme dan Sekularise Agama.
Setelah menimbang, menguingat, memperhatikan dan menetapkan

1. Ketentuan umum
Dalam fatwa ini, yang dimaksud dengan

1. Pluralisme adalah faham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif. Karena itu setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwa hanya agamanya saja yang benar sementara agama yang lain. Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk akan hidup berdampingan di dalam surga.

2. Plularitas agama adaah sebuah kenyataan bahwa di negara/ daerah tertentu terdapat berbagai bentuk pemeluk agama yang hidup secara berdampingan.

3. Liberalisme adalah memahami memahami nash nash agama (Al quran dan Sunnah) dengan menggunakan akal dan pikiran yang bebas semata, hanya menerima doktrin agama yang sesuai dengan akal pikiran semata.

4. sekularisme adalah memisahkan urusan dunia dari agama. Agama hanya digunakan untuk mengatur hubungan pribadi dengan Tuhan, sementara hubungan sesama manusia diatur hanya dengan berdasar kesepakatan sosial.

Ketentuan Hukum
2. Pluralisme, sekularisme dan liberalisme agama sebagaimana dimaksud dalam bagian pertama adalah faham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam
2. Umat Islam haram mengikuti faham pluralimse, sekulraisme, dan liberalisme agama.
3. Dalam masalah aqidah dan ibadah, umat Islam wajib bersikap eksklusif, dalam arti haram mencapur adukan aqidah dan ibadah umat Islam dengan akidah dan ibadah pemeluk agama lain.
4. Bagi masyarakat muslim yang tinggal bersama pemeluk agama lain (pluralitas agama) dalam masalah sosial yang tidak berkaitan dengan agama dan ibadah, umat Islam bersikap inklusif, dalam artian tetap melakukan ergaulan sosial dengan pemeluk agama lain sepanjang tidak merugikan.

8. Fatwa tentang Pencabutan Hak Milik Pribadi untuk kepentingan Umum
setelah menimbang, dst menetapkan :
1. ketentuan Umum
1. Hak Milik pribadi adalah kepemilikan sesuatu yang manfaatnya hanay dinikmati oelh pemiliknya, seseorang atau beberapa orang tertentu.
2. Kepentingan umum adalah kepentingan adalah kepentinan yang manfaatnya dinikmati oleh masyarakat bujum tanpa ada diskriminasi.
2. Ketentuan Hukum
1.Hak milik pribadi wajib dilindungi oleh negara atau pemrintah dan dijamin hak-haknya secara penuh. Tidak seorang pun, termasuk pemerintah, boleh mengurangi, mempersempit, atau membatasinya. Pemilknmuya berkuasa atas miliknya dan berhak mempergunakan atau memanfaatkannya dalam- batas-batas yang dibenarkan hukum Islam.
2.Jika terjadi benturan antara kepentingan pribadi dan uymum maka yang didahulukan adalah kepentingan umum. pemerintah dapat mencabut hak milik pribadi dengan ketentuan sebagai berikut :
a. Ditempuh lewat musyawarah antara pemerirntah dan pemilik tempat tanpa adanya pemaksaan.
b. Harus diberi ganti rugi yang layak.
c. Penanggungjawab kepentingan umum adalah pemerintah
d. Penetapan kepentinan umum oleh DPR atau DPRD dengan memperhatikan fatwa dan pendapat MUI
e. Kepentingan umum tidak boleh dialih fungsikan untuk kepentingan lain terutama yang bersifat komersial.
f.
9. Fatwa tentag Wanita menjadi Imam sholat
setelah menimbang. Menguingat dan seterusnya.. menetapkan
1. wanita menjadi imam sholat yang diantara makmumnya terdapat laki-laki hukumnya haram.
2. wanita menjadi imam sholat yang makmumnya wanita hukumnya mubah.

10. Fatwa tentang Aliran Ahmadiyah
setelah menibang, dst. menetapkan :
1. mengaskan kembali keputusan fatwa MUI dalam Munas II tahun 1980 yang menetapkan bahwa aliran Ahmadiyah di luar Islam, sesat dan menyesatkan. Serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam)
2. Bagi mereka yang terlanjurt mengikutui ahmadiyah supaya kembali ke ajaran Islam yang hak sejalan dengan Al quran dan Hadist.
3. pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran faham ahmadiayh di seluruh indonesia dan membekukan organisasi serta menuruto smeua tempat kegiatannya.

11. Fatwa Hukuman Mati dalam Tindak Pidana Tertentu
setelah meimbang dst, menetapkan :
1. Islam mengakui eksistensi dan memberlakukannya dalam tindak pidana khudud, qishos dan Ta’zir.
2. Negara boleh melaksanakan hukuman mati terhadap poelaku kejatan pidana tertentu.


Di milis deGromiest saat ini sedang rame diskusi tentang Fatwa MUI. Saya melihat diskusi ini sebagai sebuah upaya yang positif untuk memahami persoalan umat. Fatwa yang dikeluarkan MUI tentu tidak sembarangan fatwa, dan tentu melalui proses pemikiran yang menyeluruh dari para ulama. Tulisan ini agak panjang untuk di milis, jadinya saya posting juga di Cafe. Mohon maaf.

DARI 7 fatwa haram MUI, tampaknya nomor 1 s/d 5 (euthanasia, perkawinan, perdukunan, kewarisan, dan wanita imam) tidak menimbulkan keresahan.

FATWA nomor 6, tentang Ahmadiyah, menimbulkan berbagai tuntutan dan dampak, seperti munculnya rasa was-was penganut Ahmadiyah di Bandung. Artinya, fatwa ini berdampak pada hidup mati penganut Ahmadiyah atas kemungkinan munculnya kekerasan yang dilakukan oleh masyarakat kepada mereka. Ditambah lagi dengan kondisi saat ini, dimana negera belum bisa memberi jaminan keamanan, kekhawatiran itu semakin bertambah. Mereka juga punya anak, bayi, istri seperi halnya manusia yang lain. Berita di kompas spt yang jadi awal thread diskusi ini (baca ini) melaporkan tuntutan tersebut.

FATWA nomor 7, tentang hampir diharamkannya pluralisme dan liberalisme, juga dilaporkan oleh Republika diminta dicabut oleh Ketua PBNU, temennya Cak Fu, Masdar Farid Masoedi. Menurt Masdar, fatwa ini terlalu gegabah, karena tidak didasari oleh “pendefinisian masalah”. Masa sampai begitu? Kalau kita riset, pertama yang musti didefinisikan adalah masalahnya dulu, tapi dalam hal fatwa ini, tahapan ini dilewati.

Penasaran, kulihat webnya MUI, ternyata hanya sedikit informasi di sana tentang fatwa pluralisme ini. Hanya diberikan arsip koran Tempo. Ada yg tahu link ke daftar fatwa dan latar belakangnya? Bagi dong…

SOAL hampir haramnya liberalisme dan pluralisme bukankah belum jadi fatwa namun baru jadi rekomendasi untuk munas mendatang? (lihat di web tsb) Namun, melihat reaksi tokoh masyarakat dan cendikiawan (lihat pula konferensi pers Ulil, Azyumardi, dll) tentang pandangan MUI soal liberalisme dan plurisme, poin ini tampaknya cukup meresahkan.

TENTANG definisi keduanya: “Liberalisme itu memandang agama dengan alam pikiran, sedangkan pluralisme berarti membenarkan semua agama,”kata Maruf. Aku sendiri baru tahu kalau definisinya begitu.

Selama ini aku mengikuti definisi pluralisme kira-kira begini: “pluralisme adalah pengakuan akan keberagaman dan menerima keberagaman itu dalam kehidupan bersama. Ada peacefull co-existence dalam pluralisme. Seorang yang tidak pluralis adalah yang (sejak dalam gagasan) tidak mengakui adanya keberagaman dan (sebagai konsekuensinya) tidak bisa hidup damai dalam keberagaman tersebut” (dari milis sebelah).

Dan dari Dictionary.com:

“pluralism”

1. The condition of being multiple or plural.

  • A condition in which numerous distinct ethnic, religious, or cultural groups are present and tolerated within a society.

  • The belief that such a condition is desirable or socially beneficial.

3. Ecclesiastical. The holding by one person of two or more positions or offices, especially two or more ecclesiastical benefices, at the same time.
4. Philosophy.

  • The doctrine that reality is composed of many ultimate substances.

  • The belief that no single explanatory system or view of reality can account for all the phenomena of life.

Rasanya nothing wrong dengan pluralisme, bahkan ini adalah sebuah kondisi harmoni yang diharapkan oleh para pendiri bangsa kita melalui Bhinneka Tunggal Ika.

MOTO bangsa kita ini, menurut saya, merupakan pencapaian pemikiran dan perenungan yang luar biasa. Para pendiri itu lahir dari pahit getirnya perjoangan negeri ini. “Pancasila” dan seloka “bhinneka tunggal Ika” adalah ungkapan yang menurut Dr Soewito dalam tulisannya Sutasoma, A Study in Javanese Wajrayana (1975)- “is a magic one of great significance and it embraces the sincere hope the whole nation in its struggle to become great, unites in frame works of an Indonesian Pancasilaist community”.

PANCASILA dan Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi dasar dan seloka negara kita, tentu bukan sembarangan ciptaan manusia. Jika tidak ada dualisme dalam Ketauhidan, tentu kita yakin keduanya juga dari Tuhan yang dilahirkan melalui para pendiri negara kita.

Rasanya begitu dalam maknanya, begitu dekat dengan rasa Keakbaran Allah, Kasih Sayang Allah. Bagaimana bisa, itu semua direduksi hingga tinggal bermakna “membenarkan semua agama”? Semoga saya salah memahami maksud fatwa ini. Semoga para ulama yang ikut munas, sudah benar-benar melihat bangsa Indonesia (bukan hanya umat Islam) secara menyeluruh. Tugas ulama, menurut saya, bukan sekedar menjaga akidah umat Islam saja, ‘rohmatan lil muslimin’. Tetapi menjadi ‘rohmatan lil alamin’, untuk semua alam (termasuk manusia, binatang, alam, planet, dll).

SORE tadi sempat merenung, bertanya-tanya sendiri, bagaimana seharusnya hubungan antara para ulama (mereka yang berilmu dan diformalkan dalam sebuah institusi) dengan umatnya? Apakah seperti seorang ayah yang memberitahu anaknya mana yang benar mana yang salah? Tentu, tidak ada ayah yang ingin mencelakakan anaknya. Apa yang disampaikan pun untuk kebaikan anaknya. Namun, bagaimana dengan anaknya yang membangkang, menurut dia? (belum tentu sebenarnya membangkang, mungkin sang ayah yang belum paham pemikiran anaknya. ini yang sering terjadi, khususnya saya ke Lala dan Malik).

SAYA (weleh.. kadang pake aku, kadang saya.. gimana Ndra, pakar Kita, Kami, dan Revans?) rasa bangsa kita ini membutuhkan jiwa yang luas dan dalam untuk bisa merangkul berjuta perbedaan yang ada. Kita adalah negara maritim, yang luas lautnya. Jika rumput yang bergoyangnya Ebiet G. Ade pun bisa bicara, tentu lautan pun akan bertutur kepada kita. Pernahkan kita mendengarkan tuturannya? “Lihatlah diriku, yang menerima segala keragaman yang dilempar ke dalam dasarku. Tak satupun yang kutolak. Semua kuterima, semua kurangkul. Nyi Roro Kidul pun (kalau memang ada) beristana di dalam dasarku. Namun lihat, aku tetap samudera yang tunduk patuh kepada perintahNya untuk selalu bertasbih memujiNya.”

Sang Samudera

Di tepian pantai,
gemuruh ombak memukul dan mencabik karang
saling berebut tempat dan jalan
dengan kuat dan tajam

Sekejap waktu tiba,
sang ombak kembali ke induknya
membawa serta butiran pasir yang terkikis
lalu kembali lagi, menghantam!

Pelaut pun berlayar semakin jauh,
meninggalkan hiruk-pikuk ombak dan karang
di atas luasnya samudera
dia berlabuh

Waktu seolah berhenti,
ketika di atas permukaan biru,
badai menerjang
menghancurkan kapal

Di kedalaman hati samudera
ditemukannya kedamaian
tempat kembali segala yang yang dipermukaan
kapal, besi, kayu, bangkai, emas, harta karun, kotoran, dslb…


PENGAJIAN ONLINE

Hari : Minggu
Tanggal : 17 Juli 2005
Jam : 15.00-18.00
Tempat : Yahoo mesengger
Judul : Tips memilih makanan halal
Pembicara : ukhti Suryani *)

Siaran ulang (on-demand): klik http://lofar.let.rug.nl:8000/content/salaama-juli.pls

*) bekerja pada badan/ lembaga sertifikasi makanan halal MUI.


To be a Muslim in the west

Filed under Islam Aktual

Praatje De Gromiest, zaterdag 28 mei 2005

by Jan Bakker

Dutch culture is based on Christian values. Christian values are basically the same as Islamic values. For example: 10 commands from the Bible (Nabi Musaa), charity, giving alms, speaking the truth etc. Although there is hypocrisy (as in many Muslim countries), the right for Muslims to practise their religion is secured by the law, and in most situations there are no real problems.

After World War II, a process of secularisation started. Religion, including Christianity, was banned to a large extent from public life. As being a Muslim is practising Islam not only in the private sphere, but also in public, this can cause some difficulties. But nobody has any problem with spending zakat (as collecting money for social purposes is an outstanding Dutch tradition), Friday prayer or hajj, as long as they are not visually confronted with Muslim presence in the public sphere.

Most visible are hijab, “Muslim” clothes and daily shalat. Mosques are tolerated if not too recognisable, but minarets and calling adzan still causes problems, although many recently built mosques do have minarets and few are allowed to call adzan at least before Friday Prayer. Not long ago the fundamentalist Christian party SGP started a campaign against adzan in Zeist. They called a public glorification of a non-Christian god in a foreign language blasphemy. But they were set back by the Court. Also problematic are prayer rooms in offices and universities, but when you ask if you can use a meeting room or another suitable space for your prayers, normally no objections will be made.

Why Christians are afraid of Islam? I see two clusters of possible reasons:

1. Ideologically it is rooted in history (Crusades), Islam is an unknown religion and a lot of stereotypes (often based on false stories dating back to the Crusades) are repeated again and again. Finally there are orientalists and journalists who spread literal interpretations of the Qur’aan neglecting the context (the husband has the right to beat his wife into obedience, Muslims have to kill the unbelievers wherever they meet them, etc.).

2. Practically: a lot of people have had bad experiences with Muslim immigrants (neighbours, colleagues). The majority of Muslim immigrants come from the Moroccan Rif region and Turkish Anatolia. Rifi’s (Berber) are low educated and outcasts of the Moroccan Arab society and Anatolians are illiterate farmers with a very nationalistic and conservative attitude.

For the Dutch, it is not easy to distinguish between Muslims by choice and traidtional Muslims. Muslims by choice may be converts, but also born Muslims who practice Islam and study Islamic ethics. When you ask them “why…”, they will quote the Qur’aan, ahadieth or opinions of scholars and explain it in their own words according to their own experience. Traditional Muslims may practise Islam, but too often they just practise traditions which even may be un-Islamic. They lack a theoretical basis. When you ask them “why…”, they will answer that they do what their parents did and their imams tell them to do. For many of them their only connection with Islam is the notion that they are considered to be Muslims by the legal system of their country of origin.

I am a Muslim, keep in touch with my neighbours and work in a lawyer’s office dominated by white employees. I can perform shalat and get off for Friday prayer, unless there are urgent matters to be handled. Many colleagues are interested to learn about my opinions and experiences, as I am virtually the only Muslim they have ever met (and probably the only one they will meet during their whole life). I was interviewed for the staff magazine about my hajj.

My colleagues accept me as a Muslim, partly because I know how to explain my faith to them, partly because they are highly educated people who know how to deal with different opinions and don’t in the first place judge by gossip and stereotypes. Faith is no issue when it comes to be a loyal employee.

I can live in a non-Muslim environment because I practise the verse: “there is no compulsion in Islam”. Islam is my choice, others make their own choice. As long as they leave me in peace, I don’t feel the need to criticise them. If a non-Muslim wants to practice homosexuality – let him do it. It is not my business; Dutch law allows him to do. I can criticise a Muslim gay, but not a non-Muslim gay. As a Muslim I have to contribute to my society. Let my input be positive.

Critics often ask “are you Dutch or are you a Muslim? Where lays your loyalty?” Many immigrant Muslims consider themselves still no Dutch citizens. They even claim converts are no longer Dutch citizens. But when I choose for Islam, I didn’t choose for another culture (not even the Arab culture) or for another nationality. I choose a religion. I am Dutch by nationality and Muslim by religion. Religion and citizenship are totally different notions. There are Muslims with Moroccan, Arab, and Syrian citizenship and among Dutch citizens are Christians, Jews, Hindus, humanists, atheists and Muslims. Being a Muslim does not make me less Dutch and being Dutch does not make me a poor Muslim. Muslims must consider themselves as Dutch citizens and as a consequence take responsibility for the improvement of the Dutch society as a whole.

Dutch people at the other hand have to accept Islam as a new contribution to their culture, like there were foreign contributions before, for instance French enlightenment (Trias Politica), Jewish immigrants, Christian faith (Christian ethics) and Roman occupation (Roman legislation and Greek philosophy). Even pagan religion/culture originated from Indo-German tribes who once came from Eastern Europe or even Central Asia. Now Islam is entering the arena and will unmistakably leave its marks on Dutch society. Anti-Islamic critics are just afraid for change and loss of known values.


Ruangan Sholat di Universitas

Filed under Islam di Groningen

Dua minggu ini UK–majalah mingguan RUG–sedang giat mengangkat isu tentang ruangan sholat di universitas. Setidaknya mereka sudah tertarik dengan isu ini sejak setahun yang lalu, namun baru sekarang mulai mendapat respon hangat dari berbagai pihak.

Yang ingin membaca atau “mencoba membaca” beritanya silahkan klik link berikut. Ini copy halaman per halaman dari majalah UK yg memuat berita tersebut.

April 2004:
Roken vs Bidden
Ruimte voor Gebed?
Moslemstudenten vragen om gebedsruimte
Wawancara dengan Ponky


Jezus is Een Profeet

Filed under Islam di Groningen

Safira, anak perempuan bungsu saya, sepulang dari sekolah sehari sebelum libur Hari Paskah (passendaag) bercerita, “Pak, tadi aku di sekolah melihat God di tv.” Wah, ini menarik, karena di Sekolah Dasar Negeri di Belanda tidak ada pelajaran agama. Dugaan saya ini acara tambahan menonton televisi tentang agama. Ehm, “melihat” Tuhan? Seperti apa kira-kira…

Saya tanya Safira, “Seperti apa God yang dilihat itu, Dik?” Dia seperti heran dengan pertanyaan ini, jadi tidak langsung dijawab. Sebelum itu, si kakak, Rayhan, memberi penjelasan, “Bapak tahu kan, God itu apa? Allah, kan?” Mereka memang belum tahu kata “Tuhan”, karena dikenalkan nama “Allah” terlebih dulu, dan setelah itu mendapat kata “God” dari buku dan dari mendengar di sekolah.

Saya ganti pertanyaan untuk Safira, “Siapa nama God yang dilihat di tv, Dik?” Safira mengingat-ingat sebentar, “Jess, Jesen…. mmm” Langsung saya yakinkan, “Oooh… Jezus, ya?” (bacaan untuk “u” memang dekat dengan “eu”). Ah, benar! Safira langsung menjelaskan dengan lancar bahwa beberapa temannya mengacungkan tangan pada saat ibu guru bertanya, “Wie gelofte van Jezus?” (Siapa yang “beriman” [akan] Yesus?)

“Jezus itu siapa, pak?” Seperti biasa, sebelum berlanjut pada tanya-jawab yang lebih kompleks, saya jelaskan bagian yang sederhana terlebih dulu, “Jezus is een profeet (seorang nabi).” Tentu saja segera disusul dengan pertanyaan, “Apa profeet itu?” Karena mereka akan sulit menerima terjemahan “nabi”, jadi saya jelaskan dengan contoh: seperti Muhammad, jadi orang yang diberi tahu oleh Allah, misalnya tentang sholat, puasa.

Safira menegaskan, “Jadi bapak geloft juga ke Jezus?” Karena tampaknya konteks pertanyaan dia dikaitkan dengan teman-temannya yang mengacungkan tangan, saya lebih baik menjelaskan lebih panjang dan bertahap, “Begini Dik, Bapak geloft van Jezus tapi bukan God seperti yang dilihat di tv. atau seperti teman-teman di sekolah. Bagi Bapak, Jezus itu profeet, orang, seperti kita.” Rayhan ikut menimpali, “Itu yang tahu sholat, ya Pak?” Iya, “Profeet itu diberi tahu oleh Allah misalnya tentang cara sholat dan kemudian orang Islam mengikuti dari dia.”

Seperti biasa, Safira merasa perbedaan tersebut membuatnya heran: mengapa begitu? Karena memang berbeda, Dik. Kita kan orang Islam; God adalah Allah, sedangkan Jezus itu adalah profeet.

Agaknya inilah “telur paskah” yang saya peroleh tahun ini: diskusi persoalan keagamaan dengan anak-anak, dengan bahasa sederhana namun berisi makna akan keyakinan. Tentu saja, sebagian istilah dan konsep tersebut masih baru bagi mereka. Namun biarlah mereka menyimpannya dulu dan akan mendapatkannya sedikit demi sedikit sambil menapak ilmu nantinya.

Yang saya usahakan adalah: mereka menyadari adanya perbedaan tersebut dengan sikap awal memahami keadaan masing-masing.