Archives for “Dokumentasi”

Sarana komunikasi dan diskusi anggota deGromiest antara lain adalah:

a. Website : http://cafe.degromiest.nl

b. Facebook: https://www.facebook.com/degromiest.belanda

c. Group di facebook: deGromiest Belanda

d. Mailing list : [email protected], silakan kirim email ke

[email protected] dan moderator akan membantu memasukkan dalam mailing list.


Beberapa informasi penting:

Ketika berbelanja produk-produk pangan seperti roti, biskuit, kue, dan lain sebagainya, harap diperhatikan komposisi (ingredients) barang yang akan dibeli.

· Jangan mengonsumsi bahan makanan yang mengandung alcholol, gelatin, varken, rum, weipoeder, likeur, lechitin, dan monoglicerida vetzuren. lechitine (kecuali yang berasal dari tumbuhan, misalnya soja, sunflower), dan mono-and-di-glyceride fatty acid.

· Makanan yang mengandung e-code E120, E441, E542, E904 haram dikonsumsi.

· Hindari makanan mengandung e-code E140, E141, E153, E160a, E161a, E161b, E161g, E252, E422, E430, E431, E432 s/d E436, E470 s/d E478, E481 s/d E483, E485, E491, E492, E494, E570, E572, E631, E632, E635, E913, E920, E921, . Hukum subhats karena bisa berasal dari hewan, di Eropa lazim berasal dari babi. Jika dipastikan berasal dari tumbuhan / label halal dari komite halal setempat, boleh dikonsumsi.

Masjid

· Selwerd (Stichting Moskee en Islamitisch Centrum Groningen) Park Selwerd 1, 9741 JP, Groningen

· Masjid Komunitas Turki Eyup Sulthan, Korreweg, Groningen

Makanan

Untuk mendapatkan makanan halal terutama daging dapat diperoleh di:

· Toko Nazar, Nieuwe Ebbingestraat 137, Telp.+31 50 5792121.

· Hielal Islamitische Slagerij. Folkingestraat 51, 9711 JV Telp.+31 50 3125672

· Toko Masjid Selwerd, di jalan Park Selwerd 1, 9741 JP. Berada di dalam mesjid. Buka setiap hari dari jam 10.00 sampai Isya, kecuali pada waktu shalat dan hari Minggu.

· Toko Al Fysal Irislaan 55,9713 RC danSteentilstraat 9711 GJ Telp. +31 6 19178695

· Toko Halal Food di Semarangstraat.


Kegiatan Rutin deGromiest

Filed under Dokumentasi

Kegiatan rutin yang menjadi agenda adalah

a. Tadarus mingguan setiap jumat malam. Kegiatan ini mempunyai tujuan selain untuk membaca AlQuran juga sebagai ajang silaturahmi mingguan antar sesama mahasiswa.

b. Silaturahmi bulanan. Acara ini diadakan sekali dalam sebulan.

c. Kegiatan selama ramadhan. Selama bulan ramadhan, maka tadarus akan menjadi 3 kali seminggu dan silaturahmi diganti dengan acara buka bersama seminggu sekali.

d. Halal bi halal. Acara ini merupakan acara tahunan yang biasanya menjadi ajang perkenalan mahasiswa baru sekaligus menjadi ajang lapor diri dengan melibatkan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia.

e. Acara Kemuslimahan. Acara ini merupakan khusus untuk wanita. Waktu dan format acaranya menyesuaikan dengan keadaan, dan sering ditambah dengan acara tambahan seperti tips kesehatan atau memasak .

f. Galiro. Merupakan singkatan dari Gerakan Lima Euro, ini merupakan gerakan untuk menyalurkan zakat infaq dan shodaqoh bagi masyarakat muslim di Groningen untuk kemudian disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.

g. Sholat Idul fitri dan Idul Adha. Dengan beberapa pertimbangan, biasanya komunitas dari Indonesia mengadakan sholat id secara mandiri.


Assalamuálaikum,

Alhamdulillaahirrabil’aalamin, hari ini, sabtu 24 November 2012, de Gromiest telah melaksanakan suksesi kepengurusan dan pelantikan ketua baru deGromiest. Telah resmi rekan kita Muhammad Asrofi diamanahi sebagai ketua deGromiest periode 2012/2013.

Serah terima jabatan ketua deGromiest 2011/2012, Irfan Prabudiansyah (kanan) kepada ketua deGromiest 2012/2013, Muhammad Asrofi (kiri)

Pemilihan dilakukan dengan jalan musyawarah 8 orang calon ketua deGromiest dan anggota KPU deGromiest. Pada musyawarah tersebut, diputuskan juga rekan kita Auliya Suwantika menjadi wakil ketua deGromiest.

Mari sama-sama kita bantu Mas Asrofi dan Mas Auliya untuk deGromiest yang lebih baik. Niatkan untuk ibadah, semoga Allah memberkahi keberjalanan organisasi kita ini. Aamiinn

Salam,

deGromiest


Sore itu, Ahad  23 September 2012, Groningen hanya bersuhu belasan. Situasi ini semakin sempurna dengan hujan rintik-rintik plus angin dingin yang sangat kencang. Musim gugur menjadi pembuka tahun ajaran baru di Groningen. Dan ini biasanya ditandai dengan kehadiran banyak muka-muka baru di kalangan para pelajar maupun deGromiest (The Groningen Moeslem’s Society).

Kami menggelar acara halal bihalal 2012 bagi seluruh warga Indonesia yang tinggal di Groningen. Halal bihalal sudah menjadi agenda wajib tahunan dan merupakan yang terbesar dari segi jumlah peserta yang berpartisipasi.

Hal ini tidaklah mengherankan karena acara ini merupakan hasil kolaborasi dan koordinasi dua organisasi besar pelajar serta masyarakat Indonesia di Groningen yaitu PPIG (Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen) dan deGromiest yang merupakan paguyuban masyarakat dan pelajar muslim Indonesia di Groningen. Biasanya acara ini dilaksanakan dalam suasana Hari Raya (bulan Syawal). Namun untuk tahun ini, acara ini harus dimundurkan karena PPIG mengadakan peringatan Hari Kemerdekaan RI terlebih dulu setelah Hari Raya Idul FItri 1433H lalu.

Agenda utama dari acara ini adalah ramah tamah antarpelajar yang baru datang dengan masyarakat Indonesia yang telah lama berada di Groningen. Melalui acara ini, tali silaturahmi serta rasa kekeluargaan sesama perantau yang berasal dari berbagai kota di nusantara diharapkan semakin terjaga. Para pelajar yang baru datang ini tersebar di berbagai jenjang pendidikan mulai dari bachelor, master maupun doctoral yang tentu saja juga mendalami berbagai bidang ilmu.

Sebagian besar dari mereka adalah para pemenang beasiswa dari berbagai sponsor. Selain muka-muka baru ini, turut hadir pula warga Indonesia yang telah menetap lama di Groningen dengan alasan pernikahan maupun pekerjaan serta beberapa kerabat asing yang punya ikatan persahabatan yang hangat dengan teman-teman pelajar Indonesia.

Turut diundang dan yang mewakili dari pihak KBRI Den Haag adalah Bapak Ramon Mohandas sebagai atase pendidikan. Ia memberikan apresiasi pada PPIG yang dalam acara ini mengakomodir kegiatan Lapor Diri. Ia juga mengapresiasi keaktifan pengurus PPIG yang kerap menyelenggarakan kegiatan-kegiatan positif yang selalu di dukung oleh KBRI Den Haag seperti misalnya Indonesian Dinner dan Groenscup.

Kegiatan Lapor Diri ini sendiri, sangat penting bagi para pelajar yang baru datang di negeri Belanda karena banyak sekali manfaat dari Lapor Diri ini, terlebih lagi sebagai Warga Negara Indonesia memang sudah menjadi kewajiban untuk melaporkan dirinya jika akan berada di luar negeri dalam jangka waktu yang cukup lama.

Selain Lapor Diri, serangkaian acara hiburan ditampilkan oleh tim acara yang merupakan kontribusi dari kalangan pelajar itu sendiri. Tarian tradisional asal Aceh bertajuk Tari Saman berhasil membuat hadirin bertepuk tangan panjang. Penampilan akustik serta drama pendek melengkapi pemutaran Film berjudul “Kita Disana”, sebuah Film Pendek yang mewakili PPIG dan berhasil memenangkan berbagai kategori penghargaan Kompetisi Film Pendek pada acara Temu Eropa 2011 yang berlangsung Mei tahun lalu di Rotterdam.

Seperti yang disampaikan oleh Irfan Prabudiansyah, Presiden deGromiest yang mewakili panitia, acara ini merupakan ajang perkenalan untuk menguatkan tali silaturahmi dan kekompakan antarpelajar dan masyarakat Indonesia di Groningen. Tentu saja, kehangatan rasa kekeluargaan yang terasa saat acara diharapkan tidak hanya tinggal dan menghilang selepas acara, melainkan akan terus berlanjut dalam keseharian selama menjalani hari-hari dingin di Groningen.

Artikel: Rifki Furqan

Foto: Surahyo Sumartono

www.republika.co.id/berita/komunitas/perhimpunan-pelajar-indonesia/12/09/26/maxlb6-halal-bihalal-pelajar-indonesia-di-groningen


Eid Mubarak! Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa Ramadhan akhirnya tibalah Idul Fitri, hari raya terbesar umat Islam. Tahun ini mayoritas umat muslim di berbagai belahan dunia merayakan Idul Fitri di hari yang sama, yakni hari minggu, 19 Agustus 2012. Demikian pula dengan umat muslim yang tinggal di Belanda. Kami beruntung karena Idul Fitri tahun ini jatuh pada akhir pekan, sehingga kami bisa merayakannya tanpa harus mengambil cuti kerja. Di Belanda yang muslimnya minoritas, perayaan Idul Fitri tidak termasuk hari libur nasional seperti di tanah air.

Antara Idul Fitri dan Pesta Gula

Jika di Indonesia Idul Fitri dikenal dengan istilah  ‘Lebaran’, di Belanda dikenal dengan ‘Suikerfeest’. Mayoritas warga asli Belanda bahkan tidak mengenal istilah ‘Idul Fitri’. Penamaan Suikerfeest diadopsi dari perayaan Idul Fitri oleh muslim Turki yang dikenal dengan ‘Sayker bayram’ yang artinya ‘Pesta Gula’. Di namakan pesta gula karena pada saat berakhirnya Ramadhan, muslim turki selalu merayakannya dengan menyediakan berbagai jenis makanan yang serba manis. Mayoritas muslim di belanda memang berasal dari turki sehingga tidak heran jika tradisi mereka sangat dikenal di Belanda. Kebiasaan tersebut tentu saja berbeda dengan kebiasaan muslim Indonesia. Namun apapun istilah yang dipakai untuk menamakan Idul Fitri dan bagaimana pun cara merayakannya, yang terpenting adalah kita tidak kehilangan makna dari Idul Fitri itu sendiri.

Takbir bersama di hari raya

Tahun ini komunitas muslim Indonesia di kota Groningen melaksanakan sholat Ied bersama di Gedung De Holm yang berada di pusat kota. Sejak pukul 07.00 pagi rekan-rekan muslim indonesia  sudah berdatangan untuk menghadiri sholat Ied bersama. Acara diawali dengan menyuarakan tahmid, tahlil dan takbir bersama, dilanjutkan dengan Sholat Ied berjamaah yang dilaksanakan pukul 8.30. Setelah Sholat kami mendengarkan khutbah Idul Fitri yang disampaikan oleh Ustadz Siswanto, mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S3 di Utrecht. Dalam khutbahnya Ustadz Siswanto menyampaikan pentingnya menerapkan semangat Ramadhan di bulan-bulan lainnya. Menurutnya, bulan Ramadhan harus meninggalkan bekas yang mendalam dalam pemaknaan ibadah kita, sehingga kita bisa mengimplementasikan nilai-nilai keagamaan tersebut dalam kehidupan kita di 11 bulan berikutnya. Rangkaian acara sholat Ied diakhiri dengan momen salam-salaman dan maaf-maafan antar sesama warga muslim Indonesia.

Khutbah Idul Fitri oleh Ustadz Siswanto

Ada Idul Fitri, Ada Silaturahmi

Perayaan Idul Fitri memang sangat identik dengan momen silaturahmi. Itu pulalah yang menjadi agenda kami selanjutnya. Seusai sholat Ied, kami berkumpul bersama dalam acara silaturahmi spesial lebaran yang bertempat di kediaman Mas Surahyo Sumarsono. Suasana silaturahmi berlangsung begitu hangat dan meriah. Acara dimulai sekitar pukul 14.00 dengan sambutan dari tuan rumah dilanjutkan dengan taushiyah dari Ustadz Abdul Muizz tentang indahnya silaturahmi. Dalam taushiyahnya beliau menyampaikan bahwa silaturahmi dapat memperluas pintu rezeki dan juga memanjangkan usia kita, sesuai dengan hadis Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang menyukai untuk mendapatkan kelapangan rezeki dan panjang umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan dengan saudaranya (silaturahmi).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Acara yang paling dinantikan tentu saja adalah makan-makan. Menu utama pada silaturahmi ini adalah opor ayam dan lontong yang merupakan hidangan spesial lebaran khas Indonesia. Tak ketinggalan pula menu penutup berupa es buah, agar-agar, rujak, dan berbagai jenis kue.  Berikut ini adalah sebagian momen Idul Fitri bersama komunitas muslim Indonesia di kota Groningen yang sempat kami abadikan.

Suasana sholat idul fitri

Suasana sholat idul fitri

Sesi salam-salaman dan maaf-maafan

Sesi salam-salaman dan maaf-maafan

Silaturahmi dan makan-makan spesial lebaran

Hidangan lebaran khas indonesia

Hidangan lebaran khas indonesia

Hidangan lebaran khas indonesia

Menikmati hidangan lebaran khas indonesia

Menikmati hidangan lebaran khas indonesia

Begitulah cara kami merayakan idul fitri di Groningen, Belanda. Kami sangat bersyukur karena meskipun harus merayakan idul fitri jauh dari keluarga, tapi kami masih bisa merasakan hangatnya kebersamaan Idul Fitri di sini. Meksipun momen Ramadhan dan Idul Fitri sudah berakhir, kami berharap bahwa semangat kebersamaan dan persaudaraan ini akan tetap terjaga di hari-hari berikutnya.

Kami segenap keluarga besar muslim Indonesia Groningen mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1433 H. Minal aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan bathin.

Groningen, 3 Syawal 1433 H

Irfan Prabudiansyah

Photo: Surahyo Sumarsono

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/22/hangatnya-idul-fitri-dan-pesta-gula-di-belanda/


Tidak terasa Ramadhan sudah memasuki hari terakhir. Hanya dalam hitungan jam kita akan segera berpisah dengan bulan penuh berkah ini. Setiap Ramadhan selalu ada momen istimewa dan juga hikmah yang saya dapatkan. Demikian pula dengan Ramadhan kali ini. Ini adalah tahun kedua saya menjalani puasa Ramadhan di kota Groningen, sebuah kota kecil di utara Belanda. Menjalani ibadah puasa di negeri orang dan jauh dari keluarga tentunya adalah suatu tantangan besar. Apalagi dua tahun terakhir di sini, Ramadhan bertepatan dengan musim panas yang waktu siangnya lebih lama.

Ya, di sini saya harus berpuasa selama hampir 18 jam. Waktu imsak/Subuh berkisar antara jam 03.30-04.00 pagi, sedangkan waktu berbuka adalah sekitar jam 21.30 malam. Setelah berbuka saya masih harus menunggu waktu Isya untuk shalat tarawih dan baru selesai sekitar jam 12 malam. Praktis hanya ada waktu sekitar 3 jam antara Isya dan Subuh. Karena waktu malam yang singkat ini, di minggu pertama Ramadhan saya lebih sering menunggu waktu Subuh tanpa tidur dulu karena khawatir kebablasan dan telat sahur. Namun setelah memasuki minggu kedua, saya jadi lebih terbiasa untuk mengatur jam tidur.

Menjalani Ramadhan di Belanda mengajarkan kepada saya untuk lebih menghargai waktu dan juga lebih bersyukur atas keluangan waktu yang saya dapatkan selama ini. Saya pun sadar bahwa seberat apapun puasa di sini tidaklah seberapa jika dibandingkan negara-negara eropa di bagian utara, seperti Finlandia. Tahun ini saudara-saudara kita di Finlandia harus menjalankan puasanya selama hampir 20 jam dari mulai 3.30 pagi hingga pukul 11.30 malam. Mudah-mudahan muslim di sana diberikan kekuatan untuk bisa menjalani Ramadhan dengan sempurna.

Tetap Bertahan di Tengah Godaan

Bagi teman-teman saya yang baru pertama kali menjalani Ramadhan di Belanda atau negara eropa lainnya tentu tidaklah mudah. Bukan hanya karena harus menahan lapar dan haus lebih lama, tetapi juga karena lingkungan sekitar yang tidak mendukung. Jangan bayangkan atmosfir Ramadhan di sini sama seperti di Indonesia. Di sini tidak ada suara adzhan magrib yang bersahutan di mesjid-mesjid. Tidak  ada lantunan tadarus lewat pengeras suara saat menjelang berbuka. Tidak ada lagi suara teriakan atau suara pentungan yang membangunkan orang untuk sahur.

Di Belanda yang muslimnya minoritas, banyak sekali tantangan dan godaan selama puasa yang menuntut kita untuk memiliki kesabaran yang luar biasa. Rumah makan tetap buka di siang hari, orang–orang tetap makan dan minum seperti biasa. Banyak dari mereka bahkan tidak tahu dan tidak peduli jika kita sedang berpuasa. Tantangan lain puasa di musim panas terutama bagi para pria adalah bertebarannya kaum wanita dengan pakaian yang sangat ‘terbuka’ baik itu di jalan-jalan ataupun di tempat bekerja. Saya pun harus lebih bisa menjaga hati dan pandangan agar godaan tersebut tidak membatalkan atau mengurangi pahala puasa.

Menemukan Keluarga Kedua

Di tengah beratnya ujian puasa di Groningen, saya bersyukur karena saya tidak menjalaninya sendirian. Muslim yang tinggal di sini cukup banyak, mayoritas berasal dari Turki, Maroko, Pakistan, dan Arab Saudi yang jumlahnya lebih dari 400 orang. Muslim dari Indonesia sendiri ada sekitar 100 orang. Komunitas muslim Indonesia di Groningen di kenal dengan nama deGromiest (de Groningen Indonesian Moslem Society). Komunitas muslim yang didirikan tahun 2001 ini terdiri dari para mahasiswa, pekerja, dan juga muslim Indonesia yang sudah lama menetap di Groningen.

Bersama dengan deGromiest saya merasakan kekeluargaan dan kehangatan yang luar biasa. Di luar kegiatan kantor saya bisa berkumpul, berinteraksi, belajar, serta berbagi ilmu dan pengalaman bersama mereka. Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang membuat saya merasa tidak sendiri menjalani Ramadhan di sini. Tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa Degromiest adalah keluarga kedua bagi saya. Keluarga yang selalu mengingatkan ketika saya lalai dan lupa. Keluarga yang selalu memberikan semangat saat sedang ditimpa kesulitan. Keluarga yang mengajarkan untuk senantiasa istiqomah dan berpegang teguh dalam menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim meski tinggal di negeri yang muslimnya minoritas.

Keluarga deGromiest Belanda

Keluarga deGromiest Belanda

Menghidupkan Suasana Ramadhan

Untuk menciptakan atmosfir Ramadhan yang kondusif, deGromiest mengadakan berbagai kegiatan spesial bulan Ramadhan yang diberi nama Gebyar Ramadhan Groningen. Koordinator Kegiatan Ramadhan deGromiest, Habiburrahman Zulfikri, mengatakan bahwa diharapkan dengan kegiatan ini selain bisa menghidupkan suasana Ramadhan juga bisa meningkatkan ukhuwah antar sesama muslim yang tinggal di Groningen.

Salah satu kegiatan rutin deGromiest adalah tadarus atau membaca Alquran bersama yang dilaksanakan tiga kali dalam sepekan setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat. Kegiatan tadarus ini dilaksanakan di rumah rekan-rekan muslim Indonesia secara bergiliran. Acara tadarus dimulai pukul 19.30 hingga menjelang berbuka, dilanjutkan dengan buka bersama dan sholat magrib berjamaah. Makanan untuk berbuka puasa juga disiapkan secara bergiliran oleh tuan rumah. Kebersamaan tadarus dan berbuka puasa ini juga turut diramaikan oleh beberapa rekan muslim yang berasal negara lain, seperti Mauritania dan Maroko.

Tadarus bersama menjelang berbuka puasa

Kegiatan rutin deGromiest lainnya adalah silaturahmi mingguan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu sore selama bulan Ramadhan. Acara diawali dengan ceramah atau taushiyah, dilanjutkan dengan obrolan santai, lalu diakhiri dengan buka puasa bersama dan sholat magrib berjamaah. Hampir setiap minggunya silaturahmi ini dihadiri oleh sekitar 50 muslim Indonesia. Momen silaturahmi ini adalah yang paling saya tunggu-tunggu, karena selain bisa berkumpul dengan teman-teman Indonesia lainnya, saya  juga bisa  menikmati makanan khas Indonesia. Berbagai menu khas Indonesia yang disediakan saat silaturahmi ini memang sangat beragam dari mulai menu untuk ta’jil seperti kolak, es buah, bakwan, lumpia, molen, lemper, dan berbagai jenis kue. Tidak ketinggalan pula makanan berat khas Indonesia seperti soto, sop daging, opor ayam, rendang, tahu, tempe, dan lainnya. Suasana silaturahmi selalu berlangsung hangat dan meriah. Sesaat saya merasa seperti sedang berada di Indonesia. Ini adalah salah berkah Ramadan yang luar biasa.

Silaturahmi dan buka bersama deGromiest

Menu buka puasa khas Indonesia

Tim konsumsi yang sedang menyiapkan hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Menikmati hidangan buka puasa

Selain mengadakan silaturahmi, selama bulan Ramadhan ini degromiest juga bekerja sama dengan komunitas Radio Pengajian. Radio Pengajian adalah radio Islam online yang dikhususkan untuk Muslim Indonesia yang berada di berbagai penjuru dunia. Radio ini dapat didengarkan melalui situs http://radiopengajian.com/.  Salah satu materi pengajian online yang paling ditunggu di bulan Ramadhan ini adalah sharing pengalaman tentang berpuasa dari teman-teman muslim di berbagai negara.

Memasuki akhir bulan Ramadhan deGromiest dan Galiro (Gerakan Lima Euro) mengkoordinir dan melayani pembayaran zakat firah, zakat mal, fidyah, dan infaq Ramadhan. Seluruh zakat dan infaq yang terkumpul dikirimkan ke Rumah Zakat Indonesia (http://rumahzakat.org) untuk disalurkan kepada para penerima zakat/mustahiq di tanah air. Alhamdulillah, berkat adanya program zakat ini, saya dan teman-teman di sini bisa membayar zakat dan berbagi kepada saudara-saudara kita di tanah air.

Bulan Ramadhan ini juga menjadi momen untuk menjalin silaturahmi dengan muslim yang berasal dari negara lain. Di saat tidak ada kegiatan tadarus, rekan-rekan deGromiest biasanya melaksanakan buka puasa bersama di mesjid. Mesjid yang paling sering dikunjungi adalah mesjid Maroko. Setiap hari selama Ramadhan di mesjid ini disediakan ta’jil dan juga makanan berat untuk berbuka puasa . Buka puasa di sini biasanya diawali dengan kurma dan air putih, lalu sholat magrib berjamaah, dilanjutkan dengan makanan berat yang terdiri dari sup daging, roti, dan menu khas Maroko dengan porsi yang sangat besar. Yang unik dari buka puasa di mesjid Maroko ini adalah dari cara makannya. Semua hidangan disediakan dalam satu piring besar dan di makan secara bersama-sama oleh 4-5 orang. Mungkin cara ini dilakukan untuk lebih meningkatkan rasa kebersamaan saat berbuka.

Itulah sedikit gambaran mengenai suasana Ramadhan di Groningen. Banyak hikmah dan pelajaran yang bisa saya ambil di sini. Menjalankan puasa Ramadhan jauh dari keluarga dan saudara mengajarkan saya tentang arti kebersamaan dan indahnya persaudaraan. Saya merasa beruntung karena telah dipertemukan dengan saudara-saudara muslim di sini yang begitu hangat dan bersahabat. Saya berharap kebersamaan di bulan Ramadhan ini juga bisa saya rasakan di bulan-bulan lainnya.  Benar sekali apa yang disampaikan oleh Rasullulah SAW dalam haditsnya:

Seandainya saja umatku tahu tentang keutamaan dan kelebihan Bulan Ramadhan, maka mereka akan menginginkan Ramadhan sepanjang tahun (Hadits).

Mudah-mudahan Allah memberikan kesempatan bagi saya dan kita semua untuk bertemu kembali dengan Ramadhan serta merasakan keberkahannya.

Groningen, 29 Ramadhan 1433 H

Irfan Prabudiansyah

Photo: Miftahul Ilmi

http://luar-negeri.kompasiana.com/2012/08/18/ramadhan-ala-indonesia-di-belanda/


Berangkat: Bukan Curhat

Filed under Dokumentasi

Diary Ramadhan - Edisi 10 Ramadhan 1433H

Di bulan Ramadhan ini, kita menyaksikan sebagian rekan-rekan kita yang telah menyelesaikan studinya atau sekedar liburan bersiap atau bahkan sudah tiba di tanah air.  Hal ini menjadikan saya teringat akan pengalaman sendiri ketika tiga bulan lalu pulang ke Indonesia dalam rangka ambil data. Sama persis juga ketika tahun lalu berangkat dari Jakarta menuju Groningen. Pengalaman berangkat dari Jakarta ke Groningen atau sebaliknya selalu meninggalkan perasaan yang campur aduk, antara sedih dan senang karena meninggalkan atau bertemu dengan keluarga.  Namun satu hal yang membuat saya sibuk yaitu persiapan keberangkatan itu sendiri.

Saya begitu sibuk dengan daftar bawaan yang mesti di bawa.  Tahun lalu, saya selalu rajin berkirim email pada senior, menanyakan barang-barang apa saja yang mesti di bawa dari Indonesia. Masih segar dalam ingatan, berpanas-panas di bulan puasa dalam rangka mencari jaket musim dingin di bogor. Sudah lumayan jauh, tidak dapat pula jaket yang diinginkan.  Yang paling riweuh justru ketika tiga bulan lalu.  Rela pergi jauh-jauh ke Amsterdam dalam rangka mencari oleh-oleh yang murah juga di jalani. Berbagai daftar titipan juga sudah di siapkan. Borong coklat dan keju di ah atau lidl pasti tidak ketinggalan. Kado istimewa buat keluarga apalagi. Mendekati hari keberangkatan, saya harus makin siap, pamitan ke sana ke mari dan tidak lupa titip doa. Pas hari-H, jangan sampai telat di bandara. Minimal 2 jam sebelum keberangkatan sudah harus absen ke petugasnya.

Padahal jika di pikir-pikir, keberangkatan itu kan sifatnya belum pasti. Biasanya memang jadwal penerbangan sudah tetap tapi ada saja delay yang mungkin pernah kita alami, seperti pengalaman balik ke Groningen dengan emirates yang tertunda selama 2 jam. Bahkan pernah saya baca di koran ada penerbangan yang di batalkan. Jadi tidak ada yang bisa menjamin 100% bahwa kita pasti berangkat pada hari dan jam yang telah di tentukan. Namun, ada satu keberangkatan yang sifatnya pasti: kematian. Walaupun kita tidak mengetahui kapan jadwal ‘berangkat’ kita tetapi itu pasti sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam (QS. al-Ankabut (29): 57):’Semua yang bernyawa pasti akan mati’. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan’.

Jika dalam keberangkatan ke Jakarta atau Groningen sudah begitu sibuk, saya pribadi merasa persiapan keberangkatan ke kampung akhirat masih jauh dari kurang. Walaupun masih tetap sholat 5 waktu, tapi tidak tahu bagaimana kualitasnya ya? ? Sedekah masih sedikit, paling kasih recehan pas ada kotak amal di masjid maroko yang ketika recehan itu menyentuh dasar, bunyinya bikin malu. Tilawah quran jarang-jarang, apalagi hafalan quran masih bisa dihitung dengan jari, ga ada penambahan yang signifikan. Belajar bahasa inggris belum becus, apalagi bahasa arab dari dulu belajar putus sambung malah akhirnya ga bisa-bisa. Berangkat haji belum pernah, sholat tahajud bablas terus. Beli oleh-oleh sampai Amsterdam sana sanggup dan semangat, eh giliran ada jadwal pengajian deGromiest, saya seperti mengayuh sepeda dengan beban 100 ton.  Tapi kalo ada jadwal makan-makannya ya bisa dipertimbangkanlah….:D

Saya jadi khawatir apakah dengan bekal sekedarnya ini sanggup mengantar saya ke kampung akhirat ketika jadwal keberangkatan saya tiba. Allah berfirman ……dan berbekallah, karena sebaik-baik bekal itu adalah takwa. (Al-Baqarah (2): 197). Tapi sekali lagi apakah bekal takwa saya ini mencukupi untuk mendapatkan tiket surga? Orang yang keliatan baik belum tentu masuk surga, begitu juga sebaliknya, orang jahat masih ada kesempatan untuk mendapatkan surga. Jadi saya masih menyimpan harapan bahwa semoga Allah akan memberangkatkan saya dengan bekal minimal agama Islam yang saya miliki. ….’dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan tunduk (Muslim)’ (Ali Imran (3): 102).

10 Ramadhan 1433H/29 Juli 2012

Menjelang sahur


Diary Ramadhan - Edisi 9 Ramadhan 1433H

Oleh: Sri Pujiyanti

Ada anak bertanya pada bapaknya,
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya,
Tadarus tawareh apalah gunanya
Puasa mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Taraweh mendekatkan diri pada Illahi

Bimbo-Anak Bertanya Pada Bapaknya

Sebagai seseorang yang sedikit hmm, kecanduan pada media sosial (pengakuan, red), saya mengamati bahwa setiap sore di Indonesia (atau sekitar tengah hari di Groningen sini) pada saat berbuka puasa, komputer saya akan dibanjiri oleh foto-foto makanan untuk berbuka. Instagram, Path, Twitter, foto-foto makanan itu ada di mana-mana. Saya yang doyan makan dan selalu kangen makanan di Indonesia, cuma bisa menatap dengan iri pada foto-foto itu (kadang bertekad untuk suatu saat mencoba bikin sendiri dengan harapan tidak gagal). Saya tidak pernah berpikir ada yang salah dengan foto-foto itu, hingga suatu saat, seseorang yang saya ikuti (followed) di twitter, mengucapkan opininya begini, “Bulan Puasa itu saatnya nanya, tetangga sebelah makan apa, pembantu makan apa, tukang makan apa. Bukan pamer kita punya makanan banyak.”*
Dan sayapun merasa disindir. Di Indonesia, setiap kali hendak berbuka puasa, saya sudah memikirkan jauh-jauh sebelum buka mau makan apa, kemudian membelinya. Di jalan, seringkali saya menemukan makanan lain yang juga menarik, dan membelinya. Begitu seterusnya, hingga ketika pulang ke rumah untuk berbuka, saya punya tiga atau empat macam makanan untuk berbuka. Kemudian saya bakal makan terus sampai waktunya tidur. Tidur dengan perut kekenyangan. Sahurpun begitu. Ibu saya dulu pernah bilang, saat puasa, justru anggaran untuk makan biasanya akan membengkak karena makan, pada bulan Ramadhan ini, dianggap sebuah keistimewaan yang harus dirayakan.
Tidak ada yang salah dengan kebiasaan saya itu?
Saya baru kali ini berpuasa di Groningen. 18 jam lebih menahan lapar. Di Indonesia, puasa tidak pernah jadi tantangan untuk saya, tapi di sini, hari kedua saya tumbang. Pusing-pusing. Entah karena memang badan kurang fit atau belum-belum, saya sudah mengkerut memikirkan harus berpuasa 18 jam. Intinya, beberapa kali saya tidak kuat. Ketika saya sedang mengunyah makanan di sore hari sementara beberapa orang masih berpuasa sampai jam 10 malam, tiba-tiba saya berpikir tentang orang-orang yang harus berpuasa, bukan karena alasan agama atau kesehatan atau untuk menurunkan berat badan, tapi karena mereka memang tidak punya makanan untuk dimakan. Berapa lama mereka harus ‘berpuasa’ dan apakah makanan yang kemudian mereka temukan setelah ‘puasa’ cukup bernutrisi untuk mereka? (jangan bicara soal enak tidak enak dulu).
FAO mensinyalir ada sekitar hampir 1 milyar orang yang kelaparan di tahun 2010 atau lebih dari 13% jumlah penduduk bumi**. Satu dari tujuh orang kelaparan. FAO menyebutkan mereka-mereka ini undernourished atau menurut bahasa awam saya, kurang makan. Yang lucunya (atau tidak lucu), masih menurut FAO, jumlah makanan yang diproduksi di dunia ini cukup untuk memberi makan semua orang dengan 2720 kalori per hari (lebih dari cukup). Permasalahan utamanya menurut FAO adalah, orang-orang yang kelaparan ini tidak punya cukup uang untuk membeli makanan mereka. Tidak seperti saya, yang bisa membeli apa saja makanan yang saya inginkan, pilihan untuk 13% penduduk bumi ini tidak cukup banyak atau malah tidak ada.
Puasa mengajarmu rendah hati selalu.
Tentu saja, kita tidak bisa berpura-pura miskin dan menolak makan berhari-hari demi solidaritas dengan hampir 1 milyar orang yang kelaparan. Tentu saja, memfoto makanan itu diperbolehkan. Membagi foto itu di media sosial dan membuat semua orang ngiler adalah suatu kebahagiaan di atas ngilernya orang lain. Tapi mungkin, akan lebih bermakna ketika kita tidak berbuka dengan berlebihan. Ketika sebelum buka, alih-alih berpikir mau makan apa, pertanyaan itu kita ganti dengan tetangga saya makan apa, ya, pembantu saya makan apa, saudara saya makan apa. Karena kita tidak bisa memberi makan seluruh dunia, setidaknya kita bisa memastikan bahwa orang-orang di sekitar kita tidak kelaparan. Dan kemudian kebiasaan ini kita teruskan di luar bulan Ramadhan. Dan bukan hanya soal makanan tapi juga barang lain yang kita konsumsi secara berlebihan.
Dari ustad Khalid Latif (imam mesjid NY University, ceramah2nya bisa dilihat di Youtube), saya membaca ini, “What fasting teaches you is the reality of your own situation and those around you. It allows you to think of what you can start changing about yourself.”
Untuk saya, daftarnya panjang kalau bicara soal apa yang bisa diubah tentang diri saya. Hal itu berarti mengurangi makan berlebihan saat berbuka puasa. Mencoba untuk meneguhkan diri berpuasa 18 jam yang sebenarnya masih lebih pendek daripada di Finlandia dan mungkin jauh jika dibandingkan dengan kelaparan yang dialami saudara kita di Somalia dan Ethiopia. Mencoba untuk bangun subuh tepat pada waktunya (saya tukang tidur). Mencoba untuk bersabar. Belajar untuk melihat sudut pandang orang lain. Dan mudah-mudahan, dengan latihan tersebut sepanjang Ramadhan, puasa bisa mengajari saya untuk rendah hati, dan peduli. Seperti maknanya yang sejati. Amin.

*quote tadi dari twitternya @treespotter
** datanya saya baca dari www.worldhunger.org


Diary Ramadhan - Edisi 8 Ramadhan 1433H

Oleh: Irfan Prabudiansyah

Bulan Ramadhan sudah memasuki pekan kedua. Subhanallah! Rasanya baru kemarin kita berada di bulan Rajab dan Sya’ban. Bersyukurlah kepada Allah karena hingga detik ini kita masih mendapatkan kesempatan untuk menjalani Ramadhan, serta menikmati berkah dan rahmat yang melimpah dari-Nya. Bagi sebagian besar dari kita mungkin ini adalah Ramadhan yang kesekian kalinya. Dari sekian banyak Ramadhan yang sudah kita lalui tentunya banyak sekali pelajaran dan hikmah yang kita dapatkan.

Lantas bagaimana kabar Ramadhan kita sejauh ini? Masihkah kita bersemangat seperti saat kita menantikan kedatangannya di bulan Sya’ban lalu? Masih bergembirakah kita seperti saat menyambutnya seminggu yang lalu? Mari kita merenung sejenak, merefleksikan diri, dan mengevaluasi Ramadhan yang sudah kita lalui.

Cobalah tanyakan kepada diri kita sendiri,

Sudah berapa juz Al-Qur’an yang kita baca?
Sudah berapa banyak infaq dan sedekah yang kita berikan?

Sudahkah kita khusyuk dalam sholat kita?

Sudahkah kita menjaga hati, lisan, dan perbuatan kita dari hal-hal yang dilarang-Nya?

Sudahkah kita mesyukuri setiap nikmat dan anugerah-Nya?

Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya?

Masing-masing dari kita mempunyai jawaban sendiri terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Lalu mau dijadikan seperti apa tiga pekan Ramadhan berikutnya? Semuanya tergantung pada kita. Apakah kita akan memaksimalkannya dengan kegiatan yang bernilai ibadah atau hanya membiarkannya berlalu dan berakhir begitu saja.

Ingatlah kembali saat-saat kita memasuki hari terakhir Ramadhan tahun lalu. Apakah kita puas dengan Ramadhan tersebut? Sudahkah kita maksimal dalam beribadah? Semakin dekatkah kita kepada Allah atau sebaliknya? Bagaimana perasaan kita pada saat akhir Ramadhan? Bahagiakah kita? Sedih? Ataukah kecewa? Sebagian dari kita mungkin merasa sudah cukup puas dengan apa yang sudah dijalani. Namun tidak sedikit dari kita yang mungkin merasa belum maksimal dalam mengisi Ramadhan yang lalu.

Kesempatan menjalani Ramadhan adalah salah satu anugrah terindah dari Allah SWT. Di bulan ini Allah membuka pintu rahmat dan ampunan yang sebesar-besarnya. Sehingga tidak pantas rasanya jika kita bermalas-malasan dan membuang waktu untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Jadikanlah Ramadhan sebagai momen untuk belajar dan terus memperbaiki diri, menjadi pribadi yang lebih dewasa dalam berpikir dan bersikap. Jangan biarkan Ramadhan berlalu sia-sia, tanpa memberikan perubahan dalam diri kita. Alangkah ruginya jika Ramadhan ini hanya menjadi ritual tahunan yang tidak bermakna.

Mari kita jadikan Ramadhan ini menjadi bulan Ramadhan yang terbaik yang pernah kita jalani. Bisa jadi ini adalah Ramadhan terakhir bagi kita. Tidak ada yang menjamin dan tidak ada yang tahu kapan, di mana, dan dalam kondisi apa kita akan meninggalkan dunia ini. Mudah-mudahan kita dapat meraih hasil yang terbaik di akhir Ramadhan nanti dan menyandang gelar “Muttaqin”.

Apa kabar Ramadhanmu hari ini?


Diary Ramadhan - Edisi 7 Ramadhan 1433H

Sejak berjamurnya Account social seperti Facebook, Twitter, Friendster and other networking. Banyak hal bisa diamati terutama terjadinya tingkat kenarsisan, suka pamer, sering mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Bagaimana tidak salah!!! Coba kita amati terutama FB and twitter betapa banyak pengguna account salah mengguna wall/tweet mereka sebagai tempat berdoa, bukankah agama “Islam”? Telah mengatur Waktu-waktu untuk berdoa mustajab. Antara lain:
“Pada bulan Ramadhan, terutama pada malam Lailatul Qadar, Pada waktu wukuf di ‘Arafah, ketika menunaikan ibadah haji, Ketika turun hujan, Ketika akan memulai shalat dan sesudahnya, Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan, Di tengah malam, Di antara adzan dan iqamat, Ketika I’tidal yang akhir dalam shalat, Ketika sujud dalam shalat, Ketika khatam (tamat) membaca Al-Quran 30 Juz, Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur, Sepanjang hari Jumat, karena mengharap berjumpa dengan saat ijabah (saat diperkenankan doa) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jumat itu, antara Zhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Maghrib, Pada waktu pengajian (belajar) di suatu majelis dan Pada waktu minum air zam-zam”
Tempat-tempat baik untuk berdoa “Di kala melihat Ka’bah, Di kala me1ihat masjid Rasulullah Saw, Di tempat dan di kala melakukan thawaf, Di sisi Multazam. Di dalam Ka’bah, Di sisi sumur Zamzam, Di belakang makam Ibrahim, Di atas bukit Shafa dan Marwah, Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga, Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Masjid dan tempat-tempat peribadatan lainnya.
Nah seperti dijelaskan di atas jelas bahwa tempat dan waktu mustajab berdoa, bukan saat buka Facebook/twitter, sebaiknya social networking dimanfaatkan sebagai tempat berbagi informasi bersifat memotivasi bukan bersifat keluh kesah. Karena Allah tidak menyukai hamba yang suka mengeluh.
Dan tanpa kita sadari, kita lebih banyak mengadu masalah di efbe dari pada mengadu kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala, lebih mengutamakan update status daripada shalat dan dzikir kepada ALLOH Subhana Wa Ta’ala.
Hendaknya kita mengeluh di tempat yang tepat yaitu tempat memberi ketenangan diri seperti dijelaskan dalam al-Quran “Sesungguhnya aku mengeluhkan keadaanku dan kesedihanku hanya kepada Allah,“ (Qs. Yusuf: 86)”, Saudaraku, mengeluhkan penderitaan hanya kepada Allah SWT adalah bagian dari kesabaran.
Menurut pengamatan ternyata social networking merupakan wadah paling empuk bagi seseorang untuk mengeluh, pamer, galau, nasris dan berdoa di tempat yang salah. Ada berbagai varian doa yang tertulis dalam Facebook, bahkan bingung juga apakah benar-benar berdoa atau mengeluh dengan cantik. Bukan tidak boleh dan melarang teman berdoa lewat Facebook atau twitter, bahkan Islam memperoleh kita berdoa dimana dan kapan pun kecuali di toilet/kamar mandi. Tetapi akan lebih elok dan berkah doa yang kita untaikan di tempat-tempat telah dicontohkan Rasulullah SAW seperti paparan di atas. Jangan sampai doa di publish jadi bahan guyonan, ingin diketahui publik dan ajang narsis.
Hal seperti itu takutnya akan berdampak pula dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi manusia tidak disukai atau dijauhi oleh teman, relasi dan keluarga. Bagaimana bisa dijauhi? Ya iyalah siapa juga mau bertemen dengan orang yang suka mengeluh, pamer, galau dan narsis. Sebelum itu benar-benar terjadi dalam kehidupan kita, mari account social dimanfaatkan, dipergunakan, dikelola sebagai ajang silaturahim.
Berikut contoh doa kopas (copy paste) status teman FB “Ya Allah…jika Canon EOS 7D layak untukku…dekatkan ia… dan jika Engkau tambahkan lensa EF-S 15-85mm IS juga tak apa, dengan senang hati ya Allah… amiiin… nuhun buat yang udah ikut mengAminkan… :) hehe”. Coba teman analisis dan amati doa tersebut di antara berharap dan bercanda. (masih banyak lagi doa’-doa diungkapkan lewat FB/Twitter antara galau, narsis dan bercanda).
Yuk ukhti wa ikhwan jangan sampai kita terikut pula dengan behaviour seperti itu suka mengeluh dan berdoa di tempat yang salah. Dan mari kita pergunakan account social untuk menebar semangat, kebaikan, menebar syukur, silaturahim dan taujih bukan menebar keluh kesah, galau dan narsis tiada ujung. Status tertulis bukan mendapat solusi kongkret malah sebaliknya diguyonin dan diketawakan dengan tujuan tidak jelas.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/07/21594/berdoa-kok-di-fb/#ixzz21j3KGtmD


Assalamuálaikum warahmatullahi wabarakatuh,

A picture is worth a thousand words

Tim Divisi Hobi deGromiest mengadakan Sayembara Logo deGromiest untuk menjaring ide-ide kreatif dan segar dari warga deGromiest yang datang dari berbagai latar belakang. Terdapat 8 buah usulan logo (UsLo) yang dapat dipilih sebagai logo favorit.

1. Usul Logo H oleh Arif Matbolor

2. Usul Logo G oleh Panji Triadyaksa

3. Usul Logo F oleh Intan Taufik

4. Usul Logo E oleh Areev

5. Usul Logo D oleh Muhammad Iqbal

6. Usul Logo C oleh Edy Soeharto

7. Usul Logo B oleh Edy Soeharto

8. Usul Logo A oleh Pandji Triadyaksa

Untuk menyuarakan suara pilihan, bisa disampaikan di milis deGromiest dengan menyatakan nama dan UsLo (A,B,C,D,E,F,G,H) favorit paling lambat tanggal 18 Juni 2012.

Kampanye untuk memenangkan UsLo favorit masing-masing dipersilakan dengan catatan tidak menjelekkan UsLo yang lain.

Untuk UsLo pilihan tim juri, keputusan akan diambil oleh tim formatur deG 2012 yang diketuai oleh Bapak Irfan Prabudiansyah dengan mempertimbangkan masukan dari berbagai elemen.

Selamat memilih…

Panitia Sayembara Logo deGromiest 2012.


Komunitas muslim indonesia di Groningen, Belanda (deGromiest) hari kamis, 17 Mei lalu, mengadakan acara silaturahmi muslim dan tabligh akbar dengan menghadirkan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) sebagai penceramah. Bertempat di Gedung Treslinghuis, Groningen, acara ini dihadiri oleh sekitar 100 orang peserta yang mayoritas adalah pelajar Indonesia yang tinggal di kota Groningen.

Setiap bulannya deGromiest memang selalu mengadakan acara silaturahmi dengan tujuan untuk mempererat rasa kekeluargaan dan kebersamaan di antara masyarakat muslim Indonesia di Groningen. Kehadiran Aa Gym dalam silaturahmi kali ini ternyata juga mampu menarik perhatian masyarakat Indonesia dari berbagai kota lain di Belanda untuk datang bersilaturahmi. Di antaranya adalah pelajar dan ibu-ibu pengajian dari Rotterdam, Enschede, Nijmegen, dan Amsterdam.

Suasana silaturahmi berlangsung dengan hangat dan meriah. Para peserta dijamu dengan santapan berupa hidangan khas Indonesia dan tentu saja semakin lengkap dengan santapan rohani berupa ceramah dari Aa Gym. Dalam ceramahnya Aa Gym menyampaikan tentang pentingnya memahami tauhid yang merupakan fundamental bagi seorang muslim. Gaya ceramahnya yang santai dan diselingi oleh humor membuat pada peserta begitu terhibur dan antusias.  Beliau menyatakan bahwa muslim yang benar-benar memahami tauhid pasti akan selalu optimis dalam mengatasi berbagai masalah dalam hidupnya. “Semua masalah yang kita hadapi terasa berat dan tak ada jalan keluarnya karena kita selalu berusaha memecahkannya dengan cara kita sendiri tanpa pernah melibatkan Allah di dalamnya. Tapi jika kita melibatkan Allah tak akan ada yang berat. Maka serahkanlah masalah itu kepada Yang Punya kehidupan”, kata Aa Gym.

Dalam sesi tanya jawab Aa Gym menyampaikan tips kepada para peserta tentang bagaimana agar tetap berpegang teguh kepada Islam meski tinggal di negara yang muslimnya minoritas seperti belanda. Di penghujung ceramah, Aa Gym menutup dengan muhasabah dan doa.

Kunjungan Aa Gym ke Belanda ini merupakan salah satu dari rangkaian agenda ceramah beliau di Eropa selama bulan Mei ini. Selain ke Belanda beliau juga berkunjung ke negara lain di antaranya Belgia dan Jerman. Rangkaian kegiatan Aa Gym ini terselenggara berkat kerja sama dengan Persatuan Pemuda Muslim eropa (PPME) yang merupakan wadah silaturahmi bagi seuruh masyarakat Muslim Indonesia yang tinggal di Eropa.

Berikut adalah sebagian foto acara silaturahmi bersama Aa Gym di Groningen, Belanda.

Groningen, 24 Mei 2012

Irfan Prabudiansyah

Foto:  Surahyo Sumarsono dan Arief Matbolor Setiawan


Jadwal Shalat Agustus 2011


Jadwal Shalat Juli 2011


jadwal shalat juni 2011


jadwal shalat mei 2011


Jadwal Shalat April 2011







Fotografi

Filed under Dokumen & Ebook,

Berikut materi kajian deGromiest bertemakan fotografi yang diselenggarakan tanggal 12 Juni 2010.

Kajian DG-fotografi