Archives for “Renungan & Hikmah”

Nabi Musa a.s. dan Bani Israel

Nabi Musa a.s. dan Bani Israel

Pengantar

Tak jarang kita khawatir dengan apa yang akan terjadi di masa depan. Seperti apakah bulan depan bakal diterima sekolah, apakah akan dapat kerja, apakah jodoh tidak akan lari, apakah bisa menyelesaikan riset dan tesis? Dan banyak lagi pertanyaan serupa, sehingga kadang kita bertanya, “Apakah Allah mendengar dan melihatku yang lagi nestapa ini?”

Ini ada artikel yang menarik untuk direnungkan dan diambil hikmahnya.

[IF]

Kegaiban Hari Esok

Oleh Zamzam A. J. Tanuwijaya

KETIKA Nabi Musa as diperintahkan Allah swt untuk membawa bani Israil ke tepi laut apakah ia sudah mengetahui bahwa Allah swt akan membukakan laut bagi mereka ? Tidak sama sekali. Ia hanya meyakini bahwa di tempat itu Allah swt akan menurunkan pertolongannya, tanpa diketahui apa bentuknya.

Selengkapnya…


A rose in a mawaddah wa rohmah state

A rose in a mawaddah wa rohmah state

Ketika kita hendak menyatakan janji setia itu, sebuah pesan dari Sang Kekasih berkumandang:

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih (mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Dan kini, sepuluh tahun telah berlalu.

Sebuah perntanyaan melintas, “Apa yang telah kamu pupuk selama ini? Dan apa yang tumbuh?”

Di antara kita, Sang Kekasih telah berjanji akan menumbuhkan mawaddah (love, affection, cinta) dan rahmah (compassion, pity, sayang). Namun, itu hanya akan tumbuh jika kita telah melakukan tugas kita: memupuk dan menyiraminya.

Selengkapnya…


Ismail Fahmi [dari blog pribadi]

Seorang bijak berkata kepadaku, “Anakku, mari kita bicara tentang cinta. Cinta apa yang kau miliki?” Merasa diri ini memang belum paham apa makna cinta yang sebenarnya, maka aku dengarkan baik-baik setiap wisdom yang menyemburat seperti cahaya.

Anakku, kamu harus membuka hatimu lebar-lebar agar bisa menangkap esensi cinta yang akan aku sampaikan. Simpan pertanyaanmu nanti, karena setiap pertanyaan itu terlahir dari akal. Seperti langit, akal melayang tinggi di atas bumi tempatmu berpijak. Dan kau pun akan jauh dari hati pijakanmu, satu-satunya titik yang mampu menangkap esensi cinta.

Selengkapnya…


Salah satu tradisi deGromiest setiap bulan Ramadhan datang, yang dimulai pada Ramadhan tahun 2004, adalah membuat tulisan berhikmah di Cafe, satu tulisan setiap hari. Khusus untuk Ramadhan tahun 2005, kita mengumpulkan semua artikel beserta komentar yang diposting pembaca, ke dalam sebuah buku elektronik (e-book).

Ebook “Diary Ramadhan 1426H” ini bisa didownload di link berikut:

>>Diary-ramadhan-2005 (500 KB)


MENULIS DI ATAS PASIR

Filed under Renungan & Hikmah

Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati,tapi dengan tanpa berkata- kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang,dia menulis di sebuah batu : HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?”

Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan dan lupakan masalah lalu.

Belajarlah menulis diatas pasir.

Menuliskan hal yg tidak baik diatas “pasir” , agar masih ada kesempatan hembusan angin maaf akan menghapusnya kelak.

Belajarlah menulis kebaikan di atas batu

Selalu lah ingat kebaikan yg pernah kita terima dari orang lain


Siapa yang mencuri itu?

Filed under Renungan & Hikmah

Wahai pencuri, siapakah dirimu? Telah sekian lama malamku hilang bersama lelah. Pagiku menguap seperti embun tertimpa sinar mentari. Siangku berlalu mengikutimu. Kau curi semua itu. Siapakah gerangan dirimu?

Kidung dan pujian yang semestinya buat tuanku, telah kau curi kehidmatannya. Yang kau sisakan hanyalah mantera tanpa jiwa. Siapakah gerangan dirimu?

Duhai tuanku, jadikanlah kidung ini sebagai rantai yang mengikat jiwa bersama kursimu. Melindungi diriku dari keinginan dan suara besarnya sendiri. Agar tak terbawa oleh sang pencuri.

Jika kidung ini hanya menarik hadirnya lebih banyak pencuri, jangan lagi kau mampukan aku untuk meniup seruling. Agar tidak ada lagi yang bisa diambilnya dariku. Diriku pun hanya bisa duduk di depanmu.

Terimakasih tuanku. Pagi ini telah kau pertemukan aku dengan salah seorang dari kawanan itu. Dia mengaku bernama waktu. Bersikeras meminta perhatianku, berargumen menentukan detik-detikku. Memaksaku pergi dari ruang tamumu. Tadi aku telah berbicara dengannya. Ternyata dia hanya ingin diakui saja, tuanku. Dan untuk sementara dia mengambil jarak. Aku sejenak bisa berhidmat kepadamu.


Ziarah

Filed under Renungan & Hikmah

Setelah tidak bertemu muka hampir empat tahun, saya menjumpai adik
kandung di kota kecamatan tempat kami dilahirkan. Lebih tepat lagi
di rumah yang masih saya ingat persis ada pohon rambutan di bagian
dalam, pagar kawat di bagian depan, sebuah sumur pompa tangan, dan
lorong kecil di sisi kiri tempat ari-ari jabang bayi kami berdua –
saya dan adik — ditanam. Bangku kayu di beranda juga masih seperti
puluhan tahun lalu, termasuk warna abu-abu, yang hingga kini tidak
berubah. Salah satu momen nostalgia di bangku itu adalah pada saat
kami — ibu, adik, dan saya — bercakap-cakap santai beberapa bulan
setelah bapak berpulang ke rahmatullah dan saya bersiap-siap
beberapa hari berikutnya akan ikut UMPTN di kota kabupaten.

Sebuah keping sejarah yang selanjutnya mengantarkan saya pada keadaan
sekarang ini.

Adik saya tidak berubah; di antara sekian preferensinya dalam
menikmati hari-hari sibuknya di kota kecamatan, dia menyambut saya
dengan sebuah hadiah: buku tulisan Sindhunata, salah satu kolumnis
Kompas yang aktif, tentang kesenian Jawa Timur, Ludruk. Dengan judul
Prabu Minohek — Ilmu Ngglethek, buku ini disebut oleh penulisnya
tidak akan sanggup bercerita secara utuh tentang seorang Kartolo,
melainkan lebih merupakan sebuah “feature” tentang Kartolo “and his
gang”.

Saya yang membaca buku tersebut sepanjang perjalanan kembali dari
Jember ke Bandung, mau tidak mau tersenyum simpul sendiri — untuk
menghindari tergelak seorang diri — menelusuri bab demi bab yang
kira-kira separuh lebih ditulis dalam Bahasa Jawa dialek Suroboyoan
dan Malang. Di sana-sini diumbar ungkapan urakan khas Kartolo dan
grupnya jika sudah seperti “in trance” di panggung. Ironi,
kekonyolan, kesombongan-setengah-ndablek gaya Basman, sampai dengan
ejek-ejekan khas Surabaya, “Guuuuoooblokkkk!”, hahahaha… (gaya
Basman kalau sehabis memuji dirinya sendiri yang digambarkan penuh
kekonyolan).

Di Surabaya, saya hanya menghirup udara sekitar stasiun Gubeng dan
warung nasi rawon di pojokannya. Tidak sempat saya kitari kota
“mlaku-mlaku nang Tunjungan” ini seperti saya kagumi Paris yang
glamor dan saya puji kota Eiffel ini cocok untuk kaum bohemian.
Benar, Paris agak angkuh karena yang disodorkan adalah aroma “seni
untuk seni” dengan titik pusat pada nama-nama besar dan cita rasa.
Jika kita merumput di tempat-tempat publik di Paris dan terdengar
alunan musik klasik, seperti itulah kita membayangkan sebuah
adikarya yang kompleks.

Dan saya telah kembali di kampung sendiri dengan penjelasan bahwa
kesenian yang diusung Kartolo dan teman-temannya adalah sebuah seni
yang sebenarnya “tidak berisi apa-apa”. Jika kita sedikit kecewa
karena ternyata Kartolo hanya menceritakan kehidupannya sehari-hari,
mengulang guyonan yang dibawa teman-temannya, dan mengolok-olok
kepahitan hidup di negeri ini, itulah yang kemudian disebut “ilmu
ngglethek”. (Ngglethek: ungkapan “oh ternyata…”)

Itulah kehidupan kesenian yang menjadi semacam bohemianisme para
pekerja seni Ludruk dan diterima secara massal. Kaset rekaman
Kartolo meledak terjual dan dinikmati semua lapisan masyarakat.
Jula-juli (semacam pantun, parikan) yang dilantunkan dapat menyentuh
salah satu pendengarnya menjadi bertobat dari kecanduan judi dan
salah satu hasil “industrialisasi” kaset rekaman itu adalah Kartolo
menikmati tempat tinggal yang memadai, menyekolahkan kedua putrinya
sampai jenjang perguruan tinggi, dan mengantarkan dia dan isterinya
berhaji. Dia sendiri kemudian mulai aktif mengasuh majelis Yasinan.

Banyu urip akeh tandurane,
mliwis netes manuk dara
urip ning donya ibarate wong mampir ngombe
wis pantese wong urip ora golek pekara

Dan cukup sekian,

Yu Painten kleleken andha
cekap semanten kidungan kula


Do’a, Dzikir dan Ikhtiar

Filed under Renungan & Hikmah

Apa rahasia kekuatan do’a? Apakah do’a betul-betul dapat membuat hidup kita menjadi lebih baik? Pada prinsipnya, setiap do’a yang kita panjatkan pasti akan dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Namun cara terkabulkannya do’a ada empat macam. Pertama, kontan. Yaitu langsung dikabulkan saat itu juga. Kedua, ditangguhkan. Yaitu diberikan nanti pada saat yang tepat dan pada saat orang yang berdo’a tersebut masih hidup di dunia. Yang ketiga diberikan separuh di dunia dan separuh di akhirat. Yang dimaksud separuh itu bisa fifty-fifty dan bisa juga forty-sixty, terserah yang mengabulkan. Yang keempat diberikan semuanya setelah orang yang berdo’a tersebut meninggal alias diberikan di akhirat.

Kenapa do’a tidak diberikan kontan saja? Ada alasannya. Coba bayangkan kalo semua orang di kota Bandung berdo’a untuk diberikan mobil. Maka sesuai dengan jumlah penduduk kota Bandung yang berjumlah kira-kira sekitar 2 juta orang, maka akan turun sekaligus mobil sebanyak 2 juta buah. Jalanan di kota Bandung akan macet dan padat. Maka satu-satunya jalan adalah tidak semua do’a akan dikabulkan dengan sifat kontan karena hanya akan merusak keseimbangan dan keharmonisan di dunia saja. Ingat bahwa Tuhan adalah pemelihara alam ini yang selalu senantiasa menjaga keseimbangan dan keharmonisannya. Tidak akan ada daun jatuh sehelai pun tanpa seizin-Nya. Semua yang terjadi di alam ini sudah terjadi sesuai dengan kehendak-Nya dan seizin-Nya.

Memang kadang-kadang kita mengeluh karena do’a yang kita panjatkan tidak pernah Beliau berikan. Namun Tuhan Maha Tahu. Mungkin di mata kita, bisa jadi sesuatu itu baik sedangkan di mata Tuhan hal tersebut tidak baik. Dan begitu pun sebaliknya. Siapa yang bisa lebih tau daripada Tuhan? Kita sebagai manusia yang punya sangat banyak keterbatasan tentu tidak tahu apa rencana yang sedang Tuhan rencanakan untuk kita. Dan yang lebih baik pandangan dan juga rencananya adalah tentu pandangan Tuhan dan rencana Tuhan. Karena apa yang selalu kita rencanakan belum tentu semua itu dapat terjadi, tapi rencana Tuhan pasti terjadi.

Do’a bisa juga menjadi pengubah takdir kita. Mungkin yang tadinya kita ditakdirkan miskin maka setelah berdo’a, JREG!!!, datanglah surat kontrak terbaru untuk kita karena do’a kita. Maka mintalah do’a untuk supaya mati dalam keadaan khusnul khotimah. Karena ada contoh yang memperlihatkan ada orang yang selalu berbuat baik semasa hidupnya namun meninggal dalam keadaan suul khatimah. Dan jangan pula merasa tidak enak karena banyak sekali permintaan kepada Tuhan. Memang kalo manusia diminta terus-terusan oleh temannya maka akan marah. Tapi Tuhan tidak. Semakin banyak do’a manusia kepadaNya maka semakin senang Beliau kepada kita.

Apakah ada yang lebih utama daripada kekuatan do’a? Ada, yaitu kekuatan dzikir. Sesungguhnya dzikir adalah lebih utama daripada do’a. Dzikir astagfirullah sesungguhnya bisa menghapus do’a dan meningkatkan derajat kita, memberikan kemudahan di saat kesempitan dan datangnya rizqi di saat yang tidak terduga-duga. Rasulullah pun setiap harinya tidak pernah ketinggalan membaca astagfirullah padahal beliau adalah manusia yang dimaksum oleh Tuhan sehingga tidak akan melakukan dosa/kesalahan. Dan yang terakhir adalah kekuatan ikhtiar. Dengan ikhtiar maka kehidupan kita akan berubah. Ini sudah pasti akan mudah diterima oleh akal pikiran kita karena banyak orang yang hanya ahli ikhtiar saja, kehidupannya sangat baik. Ini sangat banyak terjadi dimana-mana di belahan dunia ini.

Dengan menggabungkan tiga kekuatan yang telah saya sebutkan di atas, yaitu kekuatan do’a, kekuatan dzikir dan kekuatan ikhtiar, maka sudah komplitlah senjata yang kita miliki. Mudah-mudahan kita bisa mengamalkan teori mudah di atas ini menjadi aplikasi sehari-hari sehingga kita bisa menjadi ahli di tiga bidang tersebut.


Kebenaran hanya milik Allah. Tapi manusia kerap merasa menjadi orang yang paling benar. Semua orang memiliki ke’aku’an yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sanggupkan keegoisan dalam diri itu luntur dan akhirnya sirna oleh tempaan kehidupan? Padahal, bila ia pergi, ‘pertemuannya’ dengan Tuhan hanya sejengkal lagi. Sulit. Sungguh sulit memang. Tentu saja butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, dan air mata mesti terkuras untuk melenyapkannya. Tapi ia–keegoisan dalam diri–tetap tak mau juga pergi.

Mengapa ia membandel? Mengapa ia suka sekali berdiam dalam jiwa manusia? Mengapa begitu sulit? Setelah badai bertubi-tubi datang, menghempas dan memporak-porandakan hati, tetap saja ia enggan pergi. Terkikis mungkin, tapi sedikit sekali. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena masih banyak lagi, ribuan bahkan jutaan manusia yang tetap mengeras seperti batu karang. Bahkan untuk sekedar menyadari bahwa ia memang ada pun sungguh sulit bagi manusia seperti ini.

Bila ia telah pergi, apapun yang datang, manusia tentu tak kan lagi terpengaruhi . Cintanya betul-betul cinta mati. Cacian menjadi sama indahnya dengan pujian. Sakit sama rasanya dengan sehat. Bahagia bergandengan sama mesranya dengan duka. Semua menjadi tiada, tak lagi terombang-ambing kesana kemari, karena di ‘dalam’ sana ada kedamaian yang luar biasa, begitu indahnya.


Slow Motion

Filed under Renungan & Hikmah

Seorang ibu sedang menunggu pesawat di sebuah airport kota yang teramat padat. Di seberang ibu itu ada seorang bayi mungil diselimuti oleh hangatnya kereta dorong–tampaknya masih gress, berbau toko. Jalan di antara ibu itu dengan si bayi benar-benar ramai. Orang-orang dewasa melintas, lalu lalang, seperti mengejar pintu kereta yang sudah siap berangkat. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

Melintas di depan ibu itu, seorang anak laki-laki–berusia 3 tahun–menggandeng ibunya yang berjalan cepat-cepat; mereka tidak ingin terlambat ‘boarding’. Sejenak, dia menatap sang bayi. Dan seketika itu, dia lepaskan genggaman ibunya. Anak laki-laki itu berlari menuju persembuyian hangat si bayi. Tubuhnya merunduk, wajahnya mendekati sosok mungil yang lucu, lantas Teddy Bear–boneka kesayangannya–mendarat lembut di atas dahi si bayi. Makhluk mungil itu pun terjaga. Tangannya bergerak ingin meraih si Teddy. Mata mereka saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap, namun perhatian dan cinta seorang anak berusia 3 tahun itu sungguh sangat mengagumkan. Orang-orang dewasa? Mereka tetap lalu-lalang tidak menyadari kontak polos dua malaikat kecil di pagi itu.

Kita semua sibuk. Pesawat dan bus menuntut para penumpang tepat waktu; jika tidak mereka akan ditinggal. Pekerjaan menunggu di kantor. Janjian meeting menghiasi agenda hari itu. Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga sama dengan kita; mereka sama-sama akan naik pesawat. Namun, mereka masih bisa menikmati irama meredu pagi hari yang tak terdengar oleh jiwa yang grusa-grusu. Bisakah kita seperti mereka? Atau bisakah kita mengambil nafas sejenak dan membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka yang sejati–makhluk yang dermawan, tercerahkan, dan penuh perhatian?

Aku teringat setiap pagi selalu buru-buru agar Lala tidak terlambat sekolah. Selepas mengucapkan salam kepada wanita yang melahirkan kedua anakku, kami menuruni tangga rumah. Aku berusaha berjalan lebih cepat, agar sepeda keluar rumah lebih cepat. Namun, Lala dengan “slow motion” menuruni tangga itu. Seolah dia sedang menikmati setiap 5 inchi berkurangnya ketinggian di atas permukaan bumi. Tidak punya aku kesabaran seperti itu. Dan secepat Flash Gordon, sepeda pun siap di depan pintu sebelum dia menyelesaikan hitungan langkah demi langkah pagi harinya.

Alhamdulillah, aku mendapat pencerahan dari cerita ibu di airport tadi pagi. Allah sebenarnya telah hadirkan malaikat kecil yang berusaha mengajariku tentang kejernihan, syukur, dan menikmati setiap inchi kehidupan. Namun kaca mata minus kesibukan yang kupakai tak mampu memperjelas a-b-c-d-nya abjad yang menetes dari salju di penghujung musim dingin ini.

Hari-hari belakangan salju turun dengan cukup tebal. Mungkin nanti–pulang dari kantor–aku harus melepas sepatu dan kaos kaki, lantas berlari-lari di atas salju putih selembut kapas–seperti yang telah “diajarkan” oleh malaikat “Malik”-ku Kamis lalu. Sifat dan kelakuan alamiah malaikat-malaikat kecil, anak-anak kita itu, akan menyetrum kembali jiwa terdalam kita dan menghadirkan keindahan kanak-kanak ke atas hamparan kering jiwa–yang tertekan oleh derik roda kereta yang bernama modernitas dan Internet.

Do you have an Internet Addicted Disorder? Jauhi komputer, dan berlarilah dengan kaki telanjang di atas salju.

—- one day after:

“I made it!” Biarin aja kalau aku dibilang kayak Wong Ndeso yang baru lihat salju. Peduli amat juga kalau dibilang kayak anak-anak. Emang jadi seperti anak-anak itu asyik punya. Jadi wong ndeso juga asyik. Berbuat aneh—termasuk yang ndak umum—pun akan dimaklumi. Ndak perlu pasang topeng monyet gengsi. Yang penting fresh..fresh..

Indra, kayaknya kau juga bikin ginian pula. Share dong…


Menjalani Kegagalan

Filed under Renungan & Hikmah

Salah seorang teman kami menceritakan sekelumit pengalaman ruhani mendapat ketenangan batin dengan jalan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal yang berkesan olehnya adalah cerita tentang si fulan (biasanya diperankan dengan tokoh Abu Nawas?) yang mencari kunci yang hilang dengan mengacak-acak halaman, di luar, rumah. Setelah ditanya seseorang, dia menjawab bahwa kunci tersebut hilang di dalam rumah. Seharusnyalah “mencari sesuatu” tersebut dilakukan dari dalam terlebih dulu, jangan mengacak-acak dan sibuk di luar. Akhirnya kembali pada hati dan jiwa kita, karena itulah “bagian dalam”, interior, yang dimiliki manusia.

Teman yang menceritakan pengalaman ruhani ini mempraktekkannya dengan ikhlas, melakukan adjustment terhadap dirinya, dan alhamdulillah, masalah kritis yang dihadapi dapat diselesaikan. Mudah-mudahan ridla Allah besertanya, yang telah berusaha memperbaiki keadaan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dulu.

Cerita mencari “di dalam” atau “di luar” di atas menjadi favorit teman yang lain pada sisi sebaliknya. Dia berpendapat bahwa apabila pencarian kita di dalam hanya berpusing-pusing seperti mengurai benang kusut dan menguras tenaga terlalu banyak, ada saatnya pergi keluar, menjauh (bukan menghindar) dari benang kusut tersebut dan melihat persoalan dari sudut pandang “luar” yang jelas lebih lapang dan kemungkinan beroleh pemandangan yang berbeda.

Jika kita sudah sampai pada substansial yang lebih hakiki: apa sebenarnya “luar” dan “dalam”? Batasnya hanya setipis pintu. Penekanan sebenarnya pada introspeksi terhadap diri sendiri — yang hal itu dapat diperoleh dari melihat diri kita sendiri atau menyadari keragaman yang terdapat di luar.

Hidup sendiri tidak selalu seperti film Hollywood yang menyederhanakan persoalan dengan jagoan segera dimenangkan. Bagaimana jika dalam cerita teman tentang pengalaman ruhani tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan? Ini penting, karena pertama, tidak semua harapan kita merupakan sesuatu yang memang baik atau cocok dengan kondisi kita. Sebagian orang malah seperti “tidak berpengharapan” dalam konteks meyakini bahwa segala sesuatu yang dialami dalam perjalanan hidupnya itulah yang terbaik baginya. Mereka bukan orang-orang pasrah yang kemudian menjalani hidup dengan bermalas-malas, melainkan para pekerja keras karena percaya dalam “tiada berpengharapan” tersebut mereka harus tetap bermanfaat bagi sesama.

Kedua, semata-mata memang harapan tersebut belum juga segera terwujud. Sebuah email dari teman lama pernah mempertanyakan hal itu kepadaku: saya sudah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, namun mengapa persoalan ini belum juga usai?

Doaku kepada mereka yang masih seperti berkelanjutan menghadapi masalah seperti tidak ada ujung akhirnya tersebut: semoga rahmat Allah dicurahkan kepada mereka, sehingga dihindarkan mereka dari putus asa. Saya tetap harus menjawab pertanyaan tersebut — tampaknya yang ia perlukan hari ini adalah seorang teman yang dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Saya perlu berhati-hati agar tidak overdosis menasehati dia untuk mengorek kekurangan diri sendiri terus (kurang ikhlas, kurang beribadah, kurang dekat dengan Allah, misalnya), karena memikirkan diri sendiri terus-menerus dengan tensi berat dapat berakhir dengan putus asa karena frustasi.

Saya jawab begini,

Menurutku, semua hal/persoalan/keadaan senantiasa ada batas akhirnya, karena kita hidup di dunia yang fana. Batas akhirnya bisa berupa persoalan tersebut diselesaikan baik-baik atau tidak pernah selesai namun kita menjemput maut (yang berarti persoalan tsb. selesai, kan?). Tidak ada masalah yang abadi, karena Tuhan juga Maha Adil; atau sebaliknya, kita manusia demikian tidak bisa bersyukur sehingga setiap hari dianggap bermasalah.

Maksud dari penjelasanku di atas bukan menyudutkanmu. Bukan pula membela pihak lain. Atau sebaliknya. Kalimat-kalimat di atas itu netral, berlaku untuk semua hubungan antarmanusia.

Jika kita berpendapat kondisi yang sedang dialami sekarang merupakan “penderitaan”, coba dicari akar persoalannya: bagian mana penyebab penderitaan tersebut. Apabila sudah didapat, coba pertimbangkan baik-baik kondisi seharusnya (yang kita inginkan). Apabila dalam waktu dekat kondisi seharusnya tersebut sulit dicapai, beri batas waktu akhir dari persoalan tsb. menurut kita. Karena tidak mungkin seseorang hidup dalam persoalan terus-menerus sepanjang hidupnya, apalagi jika persoalan tsb. dibuat/terjadi karena keputusan manusia (lain).

Nah, dalam menuju batas jangka panjang tersebut, kita harus menghargai solusi-solusi jangka pendek. Misalnya menikmati hidup, mensyukuri pemberian-Nya, dan hal-hal lain yang barangkali bagi orang lain tidak terlihat. Rasakan dengan mata hati, sehingga dalam menuju batas jangka panjang tersebut kita bisa ikhlas.

Setelah itu, apabila dalam jangka panjang persoalan tersebut tetap tidak dapat diselesaikan sendiri, lakukan perundingan yang baik terhadap penyebab kondisi tersebut. Dalam beberapa hal, terkadang diperlukan pihak ketiga yang dapat melihat persoalan tersebut dengan lebih jernih dan adil.

Hidup memang sulit, jika kita kita sibuk mengitari bagian yang sulit; dan sebaliknya, hidup juga mudah, jika kita berusaha mendapatkan bagian-bagian yang memudahkannya. Di antara keduanya itu ada penderitaan, pengorbanan, dan keikhlasan.


Rasulullah Membenci Poligami

Filed under Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.


Hari ini saya membaca sebuah berita di detik.com tentang boikot terhadap katering Wong Solo. Boikot ini dilakukan sebagian aktivis perempuan NU, yang dimotori Ibu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, dengan alasan pemilik Wong Solo telah melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dengan melakukan poligami.

Baca berita lengkap di

Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pendukung poligami. Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan kampanye anti poligami yang dilakukan oleh sebagian kalangan anti poligami. Biasanya mereka mengusung 2 tema besar, keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Tapi seberapa objektifkah tema ini dibawakan.

Bicara soal keadilan, maka pertanyaan yang selalu diusung adalah mempukah laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap adil.

Bagi saya pertanyaan “mampukah bersikap adil?” ini, lebih baik ditanyakan kepada SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, atau Hamzah Haz ketika mereka akan mencalonkan diri menjadi Presiden dulu. Sebab seandainya saja, katakan seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap tidak adil, maka yang terzhalimi hanyalah istri-istri dan anak-anaknya saja. Sedangkan bila calon-calon Presiden itu yang bersikap tidak adil, maka akan ada ribuan keluarga yang terzhalimi. Tapi ini menjadi tidak penting bagi kita, karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kemudian ketika berbicara soal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya merasa ada kecenderungan dewasa ini untuk mengindentikkan poligami dengan kekerasan di rumah tangga. Jadi poligami = kekerasan di rumah tangga, dan sebaliknya kekerasan di rumah tangga = poligami. Padahal kekerasan di rumah tangga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki beristri satu. Dan sebaliknya pengayoman terhadap perempuan juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Maka saya menjadi heran kenapa kita bisa begitu toleran memisahkan secara objektif, misalnya, siaran TV, pengaruh baiknya, dan pengaruh buruknya, tapi tidak demikian halnya dengan poligami dan kekerasan di rumah tangga. Sekali lagi, ini mungkin karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kita kembali lagi ke masalah boikot terhadap Wong Solo-nya Puspo Wardoyo yang menjadi inspirasi saya menulis ini.

Sebagian kita mungkin sudah mengenal siapa Puspo Wardoyo. Pria setengah baya, beristri empat, pemilik rumah makan Wong Solo, dan selama ini dikenal sebagai icon-nya poligami karena kegetolannya berpromosi soal poligami.

Saya sendiri bukan orang yang tahu mendetail tentang Puspo Wardoyo. Tapi kebetulan kami sama-sama berasal dari satu kota, Medan, dan salah seorang anaknya adalah kakak kelas saya di SMU.

Nama Puspo Wardoyo sendiri rasanya sudah berkali-kali dihujat, khususnya oleh para aktivis perempuan, karena keputusannya berpoligami. Namun pernahkah mereka melihat sisi lain dari Puspo Wardoyo si pelaku poligami ini?

Di saat laki-laki pengusaha lainnya begitu giat mengeksploitasi pekerja perempuannya untuk memperoleh keuntungan, maka Puspo Wardoyo mewajibkan semua pekerja perempuan di restorannya menggunakan kerudung.

Puspo Wardoyo pun berkali-kali membuka pintu lebar-lebar untuk wartawan datang ke rumahnya, dan mewawancarai istri-istrinya. Pesannya adalah “Silahkan lihat rumah tangga saya yang berpoligami ini, dan tanyakan kepada istri-istri saya apakah saya menzholimi mereka?”

Suatu saat Puspo Wardoyo pun pernah diwawancarai dalam sebuah acara di Metro TV. Selesai acara, seperti biasa pembawa acara, yang kebetulan hari itu perempuan, menyalami, dengan berjabat tangan, dengan si nara sumber. Tapi dia menolak. Pesan apa yang saya tangkap adalah, “Betul saya beristri empat, tapi saya hanya mau menggauli muhrim saya”.

Membaca petikan-petikan cerita di atas, masihkah kita menganggap Puspo Wardoyo yang beristri empat itu, lebih rendah laki-laki yang memang beristri satu tapi mata dan tangannya entah sudah ‘merayap’ kemana-mana?

Saya sedikit pun tidak hendak berkata bahwa Puspo Wardoyo itu adalah dewa. Cerita Puspo Wardoyo ini saya majukan hanya untuk menunjukkan betapa seringnya masyarakat bersikap tidak objektif terhadap kasus poligami.

Dan tulisan ini saya buat bukan untuk mengubah pendapat orang menjadi setuju terhadap poligami. Karena saya harap kita bisa sama-sama berkata ‘no’ untuk berpoligami dan ‘no’ untuk dipoligami, namun kali ini dalam bingkai yang lebih objektif.

Mungkin kah? Ah, rasanya susah, karena ini menyangkut perasaan, apalagi perasaan wanita.

Semoga bermanfaat

Wassalam

-henry-


Pluralitas di PPI

Filed under Renungan & Hikmah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Mengapa?

Ketika masing-masing diri kita memasuki ruangan debat, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dinafikan. Perasaan yang tidak bisa diabaikan. Perasaan yg tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan yang menuntut untuk diterima dan diakui keberadaannya. Karena perasaan itulah wakil dan perwujudan dari masing-masing diri kita.

Perasaan apa itu?

Perasaan bahwa: saya berbeda dengan anda!

Luar biasa, ketika saya mencoba melihat ‘perbedaan’ ini dari kaca mata lain, kacamata ‘Bhinneka Tunggal Ika’, saya melihat sebuah kekuatan. Dan saya semakin kagum saja dengan para pendiri negara Indonesia yg telah menemukan semboyan tersebut. Dengan semboyan itu, saya merasa ‘diakui’ bahwa saya orang Jawa Timur, beragama Islam, memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan kawan2 saya dari Madura, Batak, Irian Jaya. Dan bukan hanya diakui, namun saya merasa ’satu’ dengan mereka semua.

Saya bersyukur sekali, bahwa semboyan negara kita bukan “United Indonesia”. Karena, tidak terasa adanya ‘ruh pengakuan’ atas ‘perbedaan’ dalam semboyan itu. Semua satu. Semua sama.

Mengapa perbedaan perlu diakui dan diangkat ke permukaan?

Saya teringat dua minggu lalu, bersama istri membacakan buku buat kedua anak saya, Lala (5th) dan Malik (3th), sebelum mereka tidur. Saya ajak mereka berimajinasi. Saya bertanya: “Jika Lala dan Malik menjadi burung, mau melakukan apa?” Saya pikir mereka semua sama. Sama-sama anak2. Sama-sama suka burung. Apa yang terjadi?

Malik langsung menjawab, “Aku mau terbang ke Indonesia, mengambil mainan dinosaurus yang tertinggal.” Kalau Lala mau apa? Lala merengut, marah dan bilang “Lala bukan burung! Lala manusia!” Tapi ini hanya imajinasi saja, La. “Lala ndak mau jadi burung, Lala mau jadi kupu-kupu, karena cantik!”

Disitu saya tersadar, bahwa meskipun mereka sama-sama anak2, yang dengan mudah bisa saja kita abaikan perasaan mereka, namun pada dasarnya MEREKA BERBEDA. Mereka Unik. Dan keunikan mereka menuntut untuk diakui dan difasilitasi. Lala protes jika disamakan dg Malik. Dia menuntut saya untuk memberi ruang bagi dia mengungkapkan perasaannya yang berbeda. Dia menuntut saya memfasilitasi keunikannya.

Harapan saya….

Kita di PPI, tidak berbeda dengan anak-anak itu. Sudah terang dan jelas, bw kita berbeda. Tidak ada yg memungkiri itu. Saya berharap, PPI mendatang tidak lagi merasa ‘tabu’, ’sungkan’, atau ‘ragu’ membicarakan perbedaan-2 yang ada dalam diri kita. Kita akui, kita berbeda agama, keyakinan, minat, hobi, bidang studi, kedewasaan, kebutuhan, dll. Kita akui, ada PD dan deGromiest yg menjadi simbol keunikan perbedaan dalam hal spiritualitas, seperti halnya kita mengakui adanya group di PPI yg suka bola, fulzaal, game, jalan-jalan, dll.

Saya berharap, kita berani bilang bahwa “kita berbeda, dan kita mengenali perbedaan itu”. Dengan mengakui adanya perbedaan, kita akan mengenali diri kita sendiri. Mengenali apa yang diinginkan oleh masing-2 elemen itu. Setelah mengenali, kita bisa memfasilitasi.

Saya khawatir, mengingkari adanya perbedaan, sama saja dengan meingingkari eksistensi elemen2 yang berbeda unik itu. Seperti kasus Lala, saya bisa mematikan daya imajinasi kreatif unik dia. Dan dalam lingkup PPI, pengingkaran tersebut akan terus menimbulkan perasaan yang tidak enak dan tak terungkapkan. Tampak bagus diluar, tapi sakit di dalam.

Saya memimpikan, di milis MIG, elemen2 yang berbeda itu diakui. Mereka diberi ruang untuk berbicara. PD bisa mengumumkan pemikirannya, acara2nya di milis MIG. deGromiest juga bisa menyampaikan info2 kepada anggotanya yg banyak di mlis MIG. Persis spt temen2 yang suka futzal, basket dan bola meramaikan milis MIG. Tanpa ada perasaan sungkan, kuatir diprotes (seperti beberapa tahun lalu), atau yg tersinggung. Karena semua sudah mengakui dan menerima adanya perbedaan. Ini hanya satu contoh pengakuan dan penerimaan atas perbedaan itu.

Pertanyaan saya (untuk direnungkan atau dibahas), bukan hanya buat para kandidat. Tapi buat semua anggota PPIG:

Bisakah kita melebarkan pintu hati kita, untuk menerima perbedaan, mengakuinya, dan kemudian melihat indahnya ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di keluarga besar kita ini?

Semoga Tuhan YME merahmati dan selalu menerangi hati dan pikiran kita.

Wassalam,

Ismail Fahmi
- anggota PPI dan mantan ketua deGromiest 2003/2004


Doa Khatam Quran

Filed under Renungan & Hikmah

Allahummarhamni Bil Quran
Waj’alhu lii Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah
Allahumma Dzakkirni Minhu maa Nasiitu
Wa’allimni Minhu maa Jahiiltu
Warzuqnii Tilaawatahu
Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari
Waj’alhu lii Hujjatan
Yaa Rabbal ‘Alamin

Ya Allah Kasih Sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan karuniailah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

Ya Allah Tuhan semesta alam


If tomorrow never comes

Filed under Renungan & Hikmah

Ini bukan lagu yang dinyanyikan Gary Barlow, tapi isi dari sebuah film yang ditayangkan di Net5 pada malam senin, 29 Agustus 2004. Alur ceritanya biasa saja, kemampuan akting pemainnya juga,kalau tidak dibilang pas-pasan, cukup bagus. Namun ada suatu pesan moral yang sangat bagus rasanya untuk diperhatikan.

Phil adalah seorang reporter televisi yang cukup terkenal. Ia dikenal sebagai pekerja keras yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Namun, seperti halnya para workholic, Phil sangat terlarut dalam bidangnya sehingga melupakan kehidupan sosial disekitarnya. Semua yang berkaitan dengan hidupnya dijalani secara profesional, dilihat dari untung rugi, usaha untuk memanipulasi orang lain dan lingkungan untuk kepentingan pribadi. Egosentris, ya, itu gambaran singkatnya.

Hidupnya berjalan sangat lancar hingga satu pagi, saat sedang melakukan liputan di sebuah desa terpencil, sesudah terjaga dari tidurnya, ia menemukan bahwa apa yang dia sedang jalani sama persis dengan apa yang terjadi kemarin, de ja vu fikirnya. Satu kali, dua kali, berikutnya, Phil mulai merasa bosan dan kesal dengan apa yang terjadi. Setiap jam alarm membangunkannya setiap jam enam pagi, sudah terbayang di depan mata, apa yang akan terjadi setiap detik berikutnya. Dalam suatu diskusi di kedai minum pada suatu malam, ia memutuskan untuk melakukan apa yang sesuka hati, seperti apa yang ia inginkan. Hasilnya? Bosan. Hingga tiba pada satu saat dimana Phil frustasi dan memilih jalan nekat: bunuh diri. Haislnya? sama saja, ia bangun dikeesokan-harinya dengan keadaan yang sama: frustasi. Akhirnya, Phil mencoba untuk bisa menghadapi kondisi ini, caranya? Mencoba membuat hari-harinya menyenangkan, bersikap baik dengan - dan membantu orang lain. Walhasil, semua orang menyukainya, Phil menjadi orang yang popular, rekan kerja wanitanya (yang selama ini ia sukai namun terlalu egois untuk mengakuinya) menjadi luluh hatinya dan ikut memperebutkannya. Pada saat itulah keajaiban terjadi, hari berlanjut kekeesokan-harinya.

Ceritanya biasa saja, toh? Namun sepanjang menonton film itu terus selalu terfikir: bagaimana kalau hal hari berlanjut pada saat Phil melakukan hal-hal yang konyol, memalukan, membuatnya dibenci oleh orang lain. Phew …

Phil orang yang beruntung. Berulang kali ia dapat kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, membuat harinya menjadi lebih berarti. Bagaimana dengan kehidupan kita, kehidupan nyata, yang tidak mengenal istilah “break” dan “repeat”. Bagaimana kalau kita menyakiti orang lain, sesuatu yang buruk, bahkan sangat buruk. Bagaimana kalau besok tidak datang, bukan karena hari berulang, tapi … Phil perlu ratusan kali untuk menyadari, bahwa membuat hari ini cukup berharga untuk dilanjutkan ke hari berikutnya. Bagaimana dengan kehidupan kita, yang bahkan tidak ada kali ke dua untuk menyadarinya. Ketika sadar, kesempatan itu telah berlalu. Jadi terfikir, mungkin ini maksudnya, kita harus selalu melakukan kebaikan. Hari tidak akan berulang, hanya melangkah maju.

If tomorrow never comes, jika esok tidak akan datang, pertanyaan yang akan hadir setiap hari, setiap kali kita akan melakukan suatu aktivitas, setiap kali sebelum tidur.

Jika hari ini dan hari-hari yang telah dilalui begitu indah teringat dan penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan tindakan baik yang membuat hidup ini bermakna, tidak ada lagi.

If tomorrow never comes, I don’t care
I did something good today
I am something today


Amanah dan pemimpin

Filed under Renungan & Hikmah

Coretan ini terinspirasi dari dialog yang dibangun oleh mas Amal dengan anak-anak dan tulisan John Don’t nya mbak Agnes, serta sebagian kandungan khotbah Jum’at yang disampaikan oleh khatib (Ustadz Mustafa) di Masjid Selwerd pekan ini. Lo..judulnya kok jadi seperti di atas ?.
Keseharian Safira dan Rehan di nukil dalam sebuah situs yang kadangkala berupa dialog kecil dipicu oleh pertanyaan keingintahuan sang anak terhadap berbagai hal. Fenomena alam dan perilaku yang baru saja dikenal mereka, membuat banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Sehingga sang Bapak seringkali memutar otak mencari jawaban yang “pas” serta tidak sekenanya. Karena tentu saja jawaban yang didengar mereka akan terpatri dalam ingatan sehingga kalau hal yang menyangkut konsep, bisa jadi lahir menjadi sebuah keyakinan. Tentu proses ini tidak akan timbul seketika dengan satu-dua pertanyaan saja namun berkesinambungan di saat-saat waktu tumbuh berkembangnya sang anak.

Mbak Agnes dalam tulisannya di koran PR dan disalin ulang di café degromiest mengungkapkan bahwa kata-kata “jangan” yang selalu dilontar kepada sang anak bisa berdampak kurang baik bagi perkembangan emoasi sang anak. Bisa jadi menghilangkan sikap kritis dan kreatif. Bukan berarti pula bahwa kita membiarkan begitu saja semua yang diungkapkan dan yang dikerjakan sang anak sehingga mereka akhirnya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan sehingga melahirkan kebaikan dan mana seharusnya yang mereka pahami sebagai sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan. Bangunan komunikasi yang pas bagi anak-anak pada saat umur-umur berkembangnya sangat menentukan “warna” (atau bisa disebut celupan = sibghah, Arab) sang anak kelak nanti diusia meraka dewasa.
Itu baru dua contoh saja dari “pernik-pernik” proses pembinaan anak yang kalau kita bisa memahami dengan baik akan berakibat baik juga kepada hasilnya. Sebagai orang tua yang punya anak “seumur itu” saya sangat ingin belajar dari berbagai cara pandang, terutama dari segi psikologi anak (Sepertinya bu Ike perlu ngasih training kepada kita-kita nih). Dan saya melihat sisi praktisnya juga tidak mudah karena berhadapan dengan berbagai aspek, termasuk juga emosi orang tua saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya, di saat kondisi orang tua sedang baik-baik rasanya sangat mudah mencari kata-kata yang tepat dalam menjawab atau menyampaikan sesuatu, namun kadangkala disaat-saat sibuk dan tegang bisa jadi kata-kata “jangan” akan mudah keluar.
Siapapun orang tuanya tentu berharap anak-anaknya menjadi pintar, cerdas, shaleh dan shalehah. Orang tau akan menjadi bahagia tiada tara kalau anaknya berhasil dalam berbagai aspek. Setidaknya keberhasilan yang bisa diukur dengan kasat mata manusia, misalnya anak pintar bisa diukur dengan hasil proses pendidikan, perilakunya juga bisa diukur dengan bagaimana cara berinteraksi, dan keshalehannya yang bisa dilihat dengan cara memelihara ibadahnya serta yang lain-lain. Orang tua akan bahagia kalau anaknya menjadi juara dikelas, dekat dengan Allah dalam segala aktifitasnya. Bagi saya tentu masih cukup lama sampai Fathiya dan adiknya mencapai umur baligh sehingga parameter-parameter tersebut bisa terukur.
Ustadz Mustafa dalan khotbahnya Jum’at kemaren mengungkapkan bahwa, keluarga adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, isteri/suami adalah amanah, anak-anak juga amanah. Kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabkannya kelak. Demikian sedikit dari beberapa ungkapan khotbah yang bisa saya tangkap. Karena dalam bahasa Arab maka tidak bisa mengerti sepenuhnya. Minimal sebagai pemimpin diri sendiri, kita akan diminta pertanggungjawabanya bagaimana me”manage” diri dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk Allah SWT. Sebagai orang tua, punya amanah untuk mendidik anak-anak sehingga pada saatnya nanti juga sebagai pemimpin bagi dirinya dan itu akan dipertanggungjawabkan nanti.
Terkadang ada perasaan “khawatir” dalam diri. Sebagai orang tua dari Fathiya dan Nurul yang masih lucu-lucunya saat ini, setiap apa yang dilakukan mereka adalah sebuah pandangan yang enak diperhatikan, bahkan dalam kondisi menangis sekalipun. Bukan berati tidak ada yang membuat saya sebagai orang tua menjadi tidak sabar, jelas ada. Tapi saya lebih menilainya sebagai kekurangarifan saya dalam menyikapinya, karena memang mereka masih kanak-kanak. Akan seperti apa mereka kelak ketika dewasa ? Ini yang membuat saya terkadang “khawatir” kalau gambaran saat itu nanti tidak seperti yang saya harapkan sebagai orang tua. Namun bukan merupakan kekhawatiran terhadap ketentuan Allah SWT yang telah ditetapkan. Khawatir kalau peran saya sebagai orang tua yang secara SunatuLLah mempunyai andil besar dalam membinanya tidak sebaik yang seharusnya saya lakoni. Dan seperti ungkapan khatib Jum’at di atas bahwa itu akan dipertanggungjawabkan kelak di sisi Allah SWT. Konsekwensi “pertanggungjawaban” ini, sebenarnya lebih merupakan “warning” di awal, sehingga sebagai orang yang diberikan amanah, kita selalu mempersiapkan diri secara matang sehingga mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Salah satu do’a yang diambil langsung dari ayat al-Qur’an yang berbunyi “Rabbana hablana min azwajina, wa zurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama” mungkin akan mengurangi kekhawatiran saya tersebut. Semoga Allah menjadikan pasangan, dan keturunan enak dipandang mata (qurrata a’yun) dan menjadi orang-orang muttaqin.
Amanah dan pemimpin pada contoh keluarga seperti di atas adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat, generasi berikutnya yang akan menggantikan generasi sekarang sangat menentukan bagaimana “warna” masyarakat pada waktunya mereka mendapatkan amanah kepemimpinan. Keterpurukan Indonesia saat ini jamak diketahui sebagai olahan pemimpin yang tidak amanah dari semua level. Sudah sepantasnya semua masyarakat memahami dengan betul bagaimana menjadi amanah dari kepemimpinan yang diemban. Sekali lagi.. kepemiminan dari skala kecil sebagai pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimimpin apa saja. Pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya, tatkala gagal dalam amanah ini maka dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya kalau kepemimpinan berhasil maka akan dirasakan oleh semua orang. Dan Indonesia saat ini, dengan kondisi seperti ini, butuh pemimpin yang betul-betul amanah bukan hanya sekedar retorika…
Demikian coretan singkat ini, yang kalau diperlebar masing-masing bagiannya akan bisa dijadikan topik tulisan lagi, dan biarlah sebagai “uitnodiging” (undangan) coretan saya bagi yang lain agar membagi ilmunya kepada kita semua, bahkan mungkin sampai pada tahapan praktis.
Semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua….

Wallahu ‘alam


Karena promosi yang gencar dan pengaruh teman-teman di sekolah, href="http://coretmoret.web.id/fs/">kedua anak begitu
mengidam-idamkan BeyBlade.
Setelah dibelikan, keduanya antusias beradu gasing (yah, demikian
disebut oleh Oom Wangsa).

Sampai pada hari Minggu pagi, salah satu ujung Beyblade, berupa
sepucuk kecil logam, lepas dan hilang. Bisa dibayangkan betapa panik
pemiliknya. Dicari di lokasi pertandingan gasing di seluruh penjuru
rumah, tetap tidak ditemukan. Sampai zak penghisap debu terpaksa
dibongkar untuk memastikan barang sangat kecil tersebut tidak
tersedot di dalam. Tidak ditemukan juga!

Sampailah mereka pada “cara alamiah” yang sering dilakukan menjelang
tidur, Ya Allah, mudah-mudahan lancip-lancipan itu
ketemu.
Keduanya berdoa sambil bertanya, Pak, boleh kan
berdoa minta agar lancipan ketemu?
Tentu saja boleh.

Namun sampai sore berdoa kok barang kecil itu belum ketemu juga?

+ Allah tahu di mana lancipan itu?
- Tentu tahu, dong.
+ Kalau begitu, di mana, Pak?
- Lho, bapak kan bukan Allah.
He… he… semua tertawa. Tapi masih berharap cemas,
+ Apakah Allah mendengar Rayhan?

Karena sampai sore belum ditemukan juga, saya harus memberikan
penjelasan yang lebih mendalam dan dapat diterima (tentu saja juga
harus siap-siap menerima pertanyaan balik yang dapat
“mencemaskan”…).
+ Kenapa Allah belum menunjukkan lancipan itu?
- Nanti kalau sudah waktunya, kalian akan dapat menemukannya
juga.
+ Tapi mengapa Allah tidak ngomong sekarang dan aku dengar?
Sambil dipikir…
+ Tapi bagaimana Allah ngomongnya?
(Soalnya sebelumnya mereka memperoleh penjelasan bahwa cara Allah
itu kalau mau “ngomong” kepada Nabi lewat malaikat dan malaikat itu
“tidak kelihatan”. Kesimpulannya: Dedek takut kalau ada suara
“ngomong” tapi tidak kelihatan orangnya…)

Keluarlah penjelasan itu…
Kalau memang lancipan itu tidak ditemukan, ya sudah… besok beli
lancipannya saja di toko mainan. Jadi begini, kalau orang bisa
melakukan sendiri, misalnya dengan membeli atau membuat, maka
lakukan saja sendiri.

+ Tapi, wens (berdoa) boleh kan, Pak?
- Boleh. Berdoanya terus saja, nanti kan bapak juga bisa bantu
dengan membelikan di toko. Tidak apa-apa berdoa dan membeli.

Persoalan itu sudah selesai. Entah apa yang ada di pikiran
anak-anak, yang jelas acara besok siang setelah pulang dari sekolah
adalah beli lancipan Beyblade. Sempat terpikir untuk dibelikan
sendiri pada saat mereka sedang sekolah, namun karena sibuk mengurus
keperluan lain paginya, sudahlah nanti siang beli bersama sepulang
mereka sekolah. Pikiran “rasional” saya mengakhiri kasus ini dengan
“membeli di toko” dan biarlah mereka tidak kehilangan sense
untuk tetap berdoa.

Benarlah sepulang dari sekolah saya langsung ditagih untuk segera
berangkat. Oke, siap-siap dulu. Ambil kunci sepeda, memasukkan
dompet, dan… sesaat sebelum membuka pintu mengambil remah-remah di
dekat bangku kecil: ujung lancip Beyblade ada di situ!

Kijk allemal, ik heb gevonden!
Oohhhhhh! Semua menjerit histeris.
Si bungsu langsung berkata, tanpa dipikir lagi, Pak, Allah kok
cepat dengernya… Cepat ya, Pak?

Seperti setengah percaya, setengah takjub.


Dari mailing-list Kalam Salman, alumni Masjid Salman ITB, saya memperoleh tulisan bagus dari KH. Jalaluddin Rakhmat. Sebagian dari kita barangkali sudah pernah mendengar hadits “kelebihan” iman pengikut pada masa sekarang, namun diungkapkan dengan bahasa yang indah, kisah tersebut tetap menarik disimak.

Subuh Yang Indah Bersamamu, Ya Rasulallah
oleh KH. Jalaluddin Rakhmat

Dini hari di Madinah Al-Munawwarah. Aku saksikan sahabat-sahabat berkumpul di masjidmu. Angin sahara membekukan kulitku. Gigiku gemeretak, kakiku berguncang.

Tiba-tiba pintu hujrahmu terbuka. Dan kau datang, ya Rasulallah. Kami pandang dikau. “Assalamu ‘alaika ayyuhan nabi warahmatullahi wabarakatuh,” kudengar salam disampaikan bersahut-sahutan. Kau tersenyum, ya Rasulallah. Wajahmu bersinar. Angin sahara berubah hangat. Cahayamu memasuki seluruh daging dan jiwaku. Dini hari Madinah berubah menjadi pagi yang indah. Kudengar kau bersabda, “Adakah air pada kalian?”

Cepat-cepat kutengok gharibah-ku. Kulihat para sahabat yang lain sibuk memeriksa kantong mereka, “Tak ada setitik air pun, ya Rasulallah.” Kusesali diriku, mengapa tidak kucari air yang cukup sebelum tiba di masjidmu. Beruntung benar sekiranya kubasahi wajah dan tanganmu dengan percikan air dari kantung airku.

Kudengar suaramu yang indah, “Bawakan padaku wadah yang masih basah.” Aku ingin loncat mempersembahkan gharibah airku tapi ratusan sahabatmu berdesakan mendekatimu. Kau ambil satu gharibah air yang kosong. Kau celupkan jari jemarimu yang mulia. Subhanallah, kulihat air mengalir dari sela-sela jemarimu. Kami berdesakan, berebutan berwudu dari pancuran sucimu. Betapa sejuk air itu ya Rasulallah. Betapa harum air itu ya Nabiyallah. Betapa lezat air itu, ya Habiballah. Kulihat Abdullah bin Mas’ud pun mereguk sepuas-puasnya.

Qad qâmatish shalâh, qad qâmatish shalah….

Alangkah bahagianya aku bisa salat di belakangmu, ya Sayyidal Anâm. Ayat-ayat suci mengalir dari suaramu. Melimpah, memenuhi jantung dan seluruh pembuluh darahku.

Usai salat subuh, kau pandangi kami, masih dengan senyum yang indah itu. Cahaya wajahmu, ya Rasulallah, tak mungkin aku lupakan. Ingin kubenamkan setetes diriku dalam samudera dirimu. Ingin kujatuhkan sebutir pribadiku pada sahara tak terhingga pribadimu.

Kudengar kau berkata, “Menurut kalian, siapakah mahluk yang paling menakjubkan imannya?”

Kami jawab serempak, “Malaikat, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, padahal mereka berada di samping Tuhan mereka?” jawabmu.

“Kalau begitu para nabi, ya Rasulallah.”

“Bagaimana mereka tak beriman, bukankah wahyu turun kepada mereka?”

“Kalau begitu kami, sahabat-sahabatmu, ya Rasulallah.”

“Bagaimana kalian tak beriman padaku padahal aku berada di tengah-tengah kalian? Bagaimana sahabat-sahabatku tidak beriman? Mereka menyaksikan apa yang mereka saksikan.” Aku tahu, ya Rasulallah, kami telah saksikan mukjizatmu. Kulihat wajahmu yang bersinar, kulihat air telah mengalir dari sela jemarimu, bagaimana mungkin kami tak beriman kepadamu. Kalau begitu siapa ya Rasulallah, orang yang kau sebut paling menakjubkan imannya?

Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kami termangu. Ah, gerangan siapa mereka itu? Siapa yang kaupuji itu, ya Rasulallah? Kutahan napasku, kucurahkan perhatianku. Dan bibirmu yang mulia mulai bergerak, “Orang yang paling menakjubkan imannya adalah kaum yang datang sesudahku. Yang beriman kepadaku, padahal mereka tak pernah melihat dan berjumpa denganku. Yang paling menakjubkan imannya adalah orang yang datang setelah aku tiada. Yang membenarkan aku padahal mereka tak pernah melihatku. Mereka adalah saudara-saudaraku.”

Kami terkejut. “Ya Rasulallah, bukankah kami saudaramu juga?”

Kau menjawab, “Benar, kalian adalah para sahabatku. Adapun saudaraku adalah mereka yang hidup setelah aku. Yang beriman kepadaku padahal mereka tak pernah melihatku. Merekalah yang beriman kepada yang gaib, yang menunaikan salat, yang menginfakkan sebagian rezeki yang diberikan kepada mereka…(QS. Al-Baqarah; 3)”

Kau diam sejenak ya Rasulallah. Langit Madinah bening, bumi Madinah hening. Kudengar kau berkata, “Alangkah rindunya aku berjumpa dengan saudara-saudaraku. Alangkah beruntungnya bila aku dapat bertemu dengan saudara-saudaraku.”

Suaramu parau dan butiran air mata tergenang di sudut matamu. Kau ingin berjumpa dengan mereka, ya Rasulallah. Kau rindukan mereka, ya Nabiyallah. Kau dambakan mereka, ya Habiballah….

Wahai Rasulullah, kau ingin bertemu dengan mereka yang tak pernah dijumpaimu, mereka yang bibirnya selalu bergetar menggumamkan shalawat untukmu. Kau ingin datang memeluk mereka, memuaskan kerinduanmu. Kau akan datang kepada mereka yang mengunjungimu dengan shalawat. Masih kuingat sabdamu, “Barangsiapa yang datang kepadaku, aku akan memberinya syafaat di hari kiamat.”

Yâ wajîhan ‘indallâh, isyfa’lanâ ‘indallâh. Wahai yang mulia di sisi Allah, berikanlah syafaat kepada kami di sisi Allah…

* Tulisan ini diturunkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw, 12 Rabiul Awwal 1422 H


Koleksi Usang

Filed under Renungan & Hikmah

Beberapa tanya jawab dengan Tuhan aku temukan dari tumpukan berkas, entah dari mailing-list mana dulu disimpan…

Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, “Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus menyerahkannya”

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, “Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah sementara”

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, “Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam menghadapi cobaan; tidak diberikan, kau harus meraihnya sendiri”

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, “Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung kepadamu sendiri”

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, “Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi dan mendekatkanmu pada-Ku”

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, “Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati segala hal”


Penjahat tapi Sholat

Filed under Renungan & Hikmah

Pada salah satu pertemuan yang tidak direncanakan di rumah Concordia
beberapa pekan lalu, saya mendapat keterangan yang indah bahwa ujian
hidup itu tidak perlu harus diada-adakan atau dilatih, melainkan
sudah ada di depan kita dan tinggal dijalani. Pada saat ban sepeda
bocor, itu juga ujian; bagaimana tingkah laku kita menghadapinya
adalah juga cermin sampai seberapa tinggi nilai yang (telah) kita
dapat.

Demikian halnya pertanyaan tentang ketuhanan, yang selama ini
biasanya menjadi debat kusir pada diskursus teologi, tiba-tiba dalam
waktu beberapa hari ini muncul di depan saya. Berondongan pertanyaan
sulit dan perlu perenungan itu terlontar begitu saja dari mulut href="http://coretmoret.web.id/fs/">dua bocah kecil.

Pada mulanya secara hati-hati saya perkenalkan mereka pada konsep
surga dan neraka. Sekalipun hal ini agak abstrak, namun saya berdoa
mudah-mudahan dapat menjadi penjelasan yang mengena tentang tujuan
sholat. Tentu kurang baik apabila hanya dijelaskan bahwa
surga-neraka itu esensi sholat bagi umat Islam, melainkan sebagai
pelengkap penjelasan lain bahwa kita perlu berterima kasih atas
semua kebaikan yang diberikan oleh Allah.

Saya sudah siap-siap, rasanya tidak lama lagi pertanyaan balik yang
tajam akan berdatangan. Saya ingat pada saat menjelaskan Allah itu
Maha Besar, serta-merta Farras yang sedang menyukai ungkapan “tien
hondred duizend miljoen” langsung balik bertanya: seberapa besar,
Pak? Lebih besar mana dengan reus (”raksasa”), dengan planet? Dan
disebutkan koleksi ukuran angka-angka yang menurut anggapan dia itulah
bilangan terbesar. (Saya belum mengemukakan hipotesis [atau premis?]
bahwa apabila terdapat sebuah bilangan terbesar bernama N, maka akan
terdapat yang lebih besar lagi, yakni N + 1, dengan asumsi N anggota
bilangan bulat)

Nah, tentang surga dan neraka ini, keterangan dasarnya: orang yang
shalat tentu (dia belum faham ungkapan insya Allah atau “atas izin
Allah”) masuk surga, sedangkan penjahat masuk neraka. Beberapa hari
pertama dua kondisi itu diterima baik-baik. Tidak ada pernyataan
apapun.

Demikianlah, otak manusia dibuat oleh Penciptanya yang Maha Kuasa,
untuk berputar dan hidup. Hati manusia juga dititipi sejumput
cahaya-Nya. Akhirnya sampai juga pertanyaan tersebut.

+ Bapak, kalau penjahat tapi sholat, apakah dia masuk surga?
[ ... saya perlu mengembangkan prasangka positif dulu ...]
- Jika orang sudah sholat, maka ia tidak boleh menjadi penjahat
lagi. Karena orang sholat itu tidak boleh jahat.
+ Tapi bagaimana, jika jadi penjahat terus, sampai opa, masih jadi
penjahat juga?
- Tentu saja tidak boleh. Kalau orang tersebut sudah sholat, dia
harus berhenti jadi penjahat. Tidak usah menunggu menjadi opa.
[ ... time out dulu... main... terus kembali lagi ...]
+ Bapak, bagaimana kalau setelah jadi opa, dia sholat, apakah masuk
surga?
- Iya, jika orang tersebut berhenti menjadi penjahat dan kemudian
melakukan sholat dengan baik, maka dia akan masuk surga.
+ Bagaimana kalau baru sholat sekali, waktu jadi opa, terus
kemudian dood (meninggal)?
[ ... cesss... ini gabungan pertanyaan teologi dengan Kalkulus Dasar
tentang konsep limit, menggabungkan href="http://en.wikipedia.org/wiki/Al-Khwarizmi">Al Khwarizmi
dengan L
'Hopital
yang masyhur dengan Teori Apitnya ...]

Demikianlah, kombinasi ketiga kondisi, yakni amaliah, tobat, dan
maut, dilontarkan dengan banyak variasi. Tidak perlu dikutipkan
semua di sini, karena bukan hal-hal lahiriah itu esensi yang saya
tangkap lebih jauh.

Sambil saya sibuk menjelaskan beberapa prinsip keimanan dengan
bahasa sederhana yang dimengerti mereka, saya jadi melihat bahwa
pertanyaan seperti itu — baik yang tersampaikan atau disimpan
di lubuk hati yang dalam — adalah tipikal hati yang jernih dan
mendasar dari umat manusia. Farras dan Safira itu hanya wadah fisik
yang saya lihat dengan mata, namun tentunya semua anak-anak yang
masih bersih, yang dibekali cahaya oleh Penciptanya untuk mengarungi
alam semesta yang fana ini, niscaya terbitlah pemikiran seperti itu.
Pertanyaan dan kesimpulan sementara yang saling bersusulan sebagai
gabungan hukum induksi dan deduksi, keduanya muncul begitu saja.
Kita sebagai orang yang lebih tua, lebih mengerti, tidak sampai
perlu mendikte mereka agar mengambil jalan penalaran seperti yang
sering kita mau. Penjelasan yang saya berikan benar-benar hanya
basic science, sunnatullah yang paling elementer dan
diterima oleh semua orang, namun dengan kejernihan pikiran anak-anak
— ya, semua anak! — mereka bisa mengolahnya menjadi
lebih rumit dan lebih fundamental dari rocket science.
Jikalau Neil Armstrong dapat menancapkan bendera di permukaan bulan,
siapa yang sanggup menancapkan iman di dalam hati, tempat yang jauh
lebih dekat, kecuali Dia Yang Membolak-balik Hati?

Insya Allah cahaya yang dibekalkan oleh Allah itu melekat terus di
dalam hati manusia. Hanya saja dengan waktu berjalan, pengetahuan
bertambah, rasa percaya diri meningkat, hal-hal tersebut
sedikit-banyak menghalangi cahaya itu untuk menerangi jiwa. Hampir
semua orang (untuk tidak mengatakan “semua orang”) sampailah pada
pertanyaan-pertanyaan semacam yang diungkapkan oleh anak-anak itu.
Namun sebagian pertanyaan itu menjadi padam atau tertutup
bayang-bayang keakuan, sehingga tidak dapat terungkap sebagai
pencarian yang jernih.

Rayhan, sebenarnya begini…
Semua orang yang sudah sholat, sekalipun baru sekali, maka dia akan
masuk surga. Tapi, Rayhan harus ingat juga, tidak ada satu orang pun
di dunia ini yang tahu kapan dia akan “dood”. Kalau misalnya dia
belum sempat sholat terus “dood”, kan tidak jadi masuk surga.
Nah, oleh karena itu, tidak usah menunggu menjadi opa dulu untuk
sholat. Segera saja sholat, dan ingat, begitu sudah sholat, maka
orang itu harus berhenti menjadi penjahat.


“Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kutatap wajahmu. Kan pasti mengalir air mataku, karna pancaran ketenanganmu. Alangkah indahnya hidup ini, andai dapat kukucup tanganmu. Moga mengalir keberkatan dalam diriku, untuk mengikut jejak langkahmu.

Ya Rasulullah, ya Habiballah, tak pernah ku tatap wajahmu. Ya Rasulullah, ya Habiballah, kami rindu padamu…”

Alunan rindu sahabatku Raihan kepada kekasihnya sore itu, telah menyelinap masuk ke dalam jiwaku yang sedang menghadap Sumber Kedamaian. Tak terasa, jiwaku naik, demam rindu menyerang, dan air mataku pun menetes. Kulihat sang kekasih berdiri di depanku. Tersenyum menanti kehadiranku. Betapa telah lama dia menunggu dengan bimbang.. ‘ummati, ummati, …’

Debu yang menutupi mata, jurang yang mengancam, tebing yang harus ku daki, hampir-hampir membuatku putus asa bisa mencapai bukit ini. Terlintas ketakutan akan masa depan. Bertiup kekhawatiran akan kegagalan. Mengeluh karena beratnya penderitaan. Kemudian, aku pun memohon keringanan atas beban ujian. Kadang membandingkan diri dengan jiwa lain yang seolah berjalan tanpa beban. Semua rasa ini hanya membuatku merasa tersiksa saja.

Jalanku tidak seberapa dibandingkan dengan beratnya jalanmu, wahai kekasih. Engkau baru saja bertemu dengan Sumber Kedamaian. Sungguh, begitu dekat tempatmu di sisiNya. Dia begitu cinta kepadamu..

Pasti Dia telah tawarkan segalanya untukmu saat itu. Tetapi engkau pilih jalan orang-orang miskin. Bukan kemewahan yang kau bawa setelah kembali dari langit, tetapi engkau kenakan batu untuk mengganjal lapar perutmu. Paginya, kau pun pergi ke pedagang Yahudi yang tidak simpatik, untuk berhutang biji gandum agar laparmu sedikit teredam. Bukankah kau bisa meminta kepada Sang Kekasih, untuk memberimu kemudahan dan kemewahan? Tetapi engkau tidak lakukan itu. Bagaimana bisa setinggi itu jiwamu?

Sementara diriku, tidak pernah mendapati ketiadaan makanan sehingga harus mengganjal perutku dengan batu sepertimu. Tetapi mangapa masih sering merasa kalau Sumber Kedamaian tidak menolongku, tidak mempedulikanku, bahkan mencurigaiNya tidak adil kepadaku? Bukankah Dia berikan lebih banyak dari dunia ini kepadaku dari pada kepadamu? Bukankah sahabatmu pun tidak rela melihat kemiskinan di rumahmu, sementara para raja berada dalam kemewahan?

Engkau telah memilih akhirat, dan memilih selalu bersamaNya ketika di dunia. Hatimu damai, bukan karena menyendiri dan meninggalkan dunia. Hatimu damai, ketika dalam sendiri maupun perang. Engkau sudah mencapai keadaan yang tak terlukiskan ketika di langit, tetapi engkau memilih kembali ke dunia material ini. Engkau sucikan dunia dengan memasukinya, engkau damaikan alam material dengan menyatukannya kepada langit. Engkau lah rahmat bagi seluruh alam.

Engkau lah rembulan, yang memantulkan sinar Sang Mentari kepadaku yang berada dalam kegelapan malam. Karenamu, malam ku pun menjadi terang dan indah sambil menatap wajahmu. Engkau lah rembulan dalam hatiku, yang memancarkan sinar dari Sumber Cahaya di atas Cahaya. Sungguh besar cintamu kepada ummatmu.

Sungguh dekat engkau dengan diriku. Cahayamu menyatu dengan diriku. Tetapi debu nafsuku telah menghalangiku menerima cahayamu.

Semoga Sumber Kedamaian merobahkan rasa dalam hatiku, agar bisa ikhlas menerima segala yang baik dan buruk, dengan penuh cinta dan syukur. Agar aku bisa bersyukur, atas kebodohan diriku. Aku bersyukur atas ketidaktahuanku. Aku bersyukur atas kekeringan jiwaku. Aku bersyukur atas dosa-dosaku. Aku bersyukur atas segala yang Kekasihmu berikan kepadaku, segala yang ada di sisi kiri dan kanan, di atas dan di bawah, di depan dan di belakang. Semoga tidak ada satu pun yang tidak aku syukuri. Dan semoga kelak, Sang Syukur membawaku kepadamu, untuk mengucup tanganmu..

Amin..

… sebuah penghargaan kepada Annemarie Schimmel.

Puji dan syukurku kepadaNya Yang Maha Akbar, yang menciptakan manusia berbeda-beda dalam meyakiniNya …

Entah aku orang kafir atau beriman-
Hanya Allah sajalah yang tahu, siapa aku!
Tetapi aku yakin, aku adalah hamba Nabi,
Yang menjadi penguasa Madinah

Sir Kishan Prasad Shad
Perdana Meteri Hindu dari Negara Bagian Hyderabad


Ini lanjutan dari cerita perjalanan ke Delft. Aku ingin segera menuliskannya, jika tidak akan lupa dan malas. Ini tentang diskusi selama di kereta, dalam perjalanan pulang dari Delft ke Groningen. Semoga upaya memaknai perjalanan ini bermanfaat.

————————-

Siapa sih yang tidak ingin merasa dekat dengan Sang Kekasih?

Seorang pemabok pun, jika ditanya apakah ingin bisa merasakan ‘kebahagiaan’, pasti jawabnya adalah “Ingin”. Terus, kenapa sulit sekali, dan rasanya kebanyakan manusia dan diri kita berjalan tidak lebih dekat kepada ‘kebahagiaan’? Kenapa rasanya selalu ada masalah setiap hari?

Jangan tanyakan kepadaku, aku pun tak tahu.

Yang ku tahu, Sang Kekasih itu ada dekaaat sekali dengan diriku. Namun diriku yang tidak melihatNya. Dia berdiri jelas di depanku, tetapi aku tidak mengenalNya. Ingin rasanya diri ini bisa merasakan kesejukan dalam setiap menghadapNya, merasakan getaran setiap mendengar namaNya. Tetapi keinginan ini semakin membuat diriku frustasi, ketika mendapati semakin kering saja sumur hati ini dari hari ke hari.

Hingga suatu hari, aku bertemu dengan Kyai ‘nyentrik’ Subrun. “Pak Kyai, apa yang terjadi dengan diriku ini, tolong pak,” aku memulai pembicaraan.

“Aku ingin sekali bisa merasakan kesejukan dalam sholatku, pak Kyai. Aku ingin bisa merasakan indahnya sholat itu, seperti yang dibilang orang-orang. Aku sudah hapalkan bacaannya, aku sudah hapalkan arti setiap kata-kata dalam sholat, dan sudah mencoba merenunginya. Tetapi belum juga sumur hati ini terisi dengan air kesejukan, pak Kyai. ”

“Sholatku masih kering, masih sebatas memenuhi kewajiban. Rasanya kok sulit sekali menjadi dekat dengan Sang Kekasih. Katanya Dia sangat dekat, tetapi kenapa aku tidak merasakanNya. Tolong aku pak Kyai..”

“Cak Mangil, maaf ya. Bersyukurlah sampeyan bisa seperti itu. Bersyukurlah masih bisa merasakan kekeringan dan kehampaan ketika sholat. Kalau sudah tidak merasa apa-apa, kan jadi lebih menyedihkan. Bersyukur juga masih ada keinginan untuk lebih deket. Syukuri itu dulu Cak Mangil,” kata pak Kyai.

“Coba dulu ya, sampean syukuri itu. Nanti setelah sebulan, setelah sampeyan ada bahan, silahkan datang lagi ke rumah saya. Nanti kita lanjutkan.”

“Begitu saja pak Kyai? Saya hanya disuruh bersyukur?”

“Iya”

“Ndak ngerti saya pak. Masak saya harus mensyukuri kekeringan hati ini. Tapi baik lah pak, saya akan coba jalankan nasehat bapak.”

Begitulah, pertemuanku pertama kali dengan Kyai Subrun. Aku pun pulang, dengan satu pelajaran, “Syukur”. Selama satu bulan, aku belajar “alhamdulillah”. Menerima segala yang ada dengan mengucap “alhamdulillah”. Mencoba hati ini untuk menerima. Cobaan permasalahan datang terus. Mulai dari urusan anak, soal belanja, mobil mogok, penelitian yang gagal. Macem-macem, yang membuat pikiran semakin sulit untuk bisa bersyukur.

Setiap sholat, aku coba perhatikan hati ini, sambil berharap-harap ada perubahan, sumur hatiku terisi. Namun, hingga satu bulan, sumur itu masih kering, sholat masih hampa. Latihan syukur pun serasa belum memberi hasil.

Duh Gusti, betapa sulitnya mendekatiMu…

“Pak Kyai, saya sudah coba untuk bersyukur. Tapi rasanya sulit sekali pak. Saya rasanya sulit bisa bersyukur. Bagaimana pak Kyai?”

“Alhamdulillah, sampeyan musti bersyukur kalau sampeyan tidak bisa bersyukur,” jawab pak Kyai yang membuatku semakin bingung.

“Lho gimana maksud pak Kyai? Saya harus bersyukur kalau saya tidak bisa bersyukur? Maksudnya gimana pak?”

“Lha iya. Sampean itu sudah diselametin sama Gusti Allah. Coba kalau sampean bisa bersyukur, pasti saat itu “ke-aku-an” sampean akan muncul. Sampeyan akan merasa “sudah bisa bersyukur”. Nah, salah ini. Memangnya siapa di dalam diri sampean “yang bisa bersyukur” itu? Jadi, syukuri saja Cak Mangil. Sampeyan sebenarnya sedang ditolong, diselametkan. Tapi sampeyan ndak ngerasa. Syukuri itu, ada banyak hal yang belum sampeyan ketahui, apa maksud dibalik yagn sampeyan hadapi. Jadi, syukuri dulu.”

“Begitu pak Kyai. Terus apa maksud sebenarnya dari syukur itu pak?”

“Syukur itu menerima dengan ikhlas. Baik dan buruk, diterima. Dimasukkan ke dalam hati. Diterima bulat-bulat, tanpa syarat. Syukur itu berbuat sesuai dengan keinginan Sang Pemberi. Sang Pemberi ingin kita menerima dengan ikhlas segala pemberianNya. Dia ingin kita menerima, menSyukuri, tidak protes, tidak malah banyak harapan dan keinginan.”

“Susah dijelaskan ini Cak. Seperti kalau sampeyan belum pernah merasakan ‘asin’, lalu tanya ke saya. Saya jelasin rasa ‘asin’ itu seperti apa, ya sampeyan ndak akan mudeng2. Hanya bisa meraba-raba. Jadi, kuncinya, ya sampeyan harus merasakan sendiri. Baru sampeyan tahu, apa itu yang dimaksud dengan bersyukur, apa itu ikhlas. Sampeyan tahu sendiri, dan hakekatnya, sampeyan akan dibuat tahu.”

“Banyak-banyak latihan bersyukur dulu Cak Mangil. InsyaAllah, akan ada yang tumbuh atau ditumbuhkan di dalam diri sampeyan. Kalau mau tinju kelas berat, ya latihannya musti keras, gizinya oke. Kalau mau merasakan nikmat tingkat tinggi, juga sama. Latihannya juga musti oke. Dan bahan untuk latihan ndak usah dicari-cari. Ndak usah menyendiri, pergi ke hutan, atau ke gunung. Bahan itu sebenarnya sudah ada setiap hari, datang sendiri menemui kita. Tinggal kita bisa melihatnya atau tidak.”

“Silahkan Cak Mangil, bulan depan datang lagi ke saya, jika sampeyan sudah ada bahan lagi.”

“Terimakasih Pak Kyai… Mohon dibantu doa ya pak..”


Gamang

Filed under Renungan & Hikmah

perubahan…
haruskah itu yang jadi hambatan dalam hidup
ketika dia hadir
gamang hati, resah jiwa tak lagi berdiam diri
menuntut kenyamanan yang dulu singgah
tapi…

hati berubah
manusia berubah
keadaan berubah
bahkan dunia pun ikut berubah
menuntut suatu kedewasaan sikap
ahhhh…..mampukah bertahan???
masih seperti kemarin
tidak ada jawaban
bingung
sekedar tanda-pun tak terlihat
atau
apakah memang hati ini yang sudah terlanjur mengeras
membatu
sehingga tak lagi nampak
hal pasti didepan mata?
Kecamuk hati
gejolak jiwa
kapan berakhir
bermuara di kedamaian??


saya bosen… baca artikel-artikel. Mungkin bawaan stress en syndrom kelar thesis yaa..

Cuma, satu hal yang baru gwe sadari, kalo kebanyakan kita semua disini, including me&myself, itu semua bicara ttg bagaimana cara kita berpikir, merenungi.. and etc..etc.. dalam rangka meningkatkan “tingkat spriritual” pribadi kita. Apakah itu bukan Egoism, individualis terselubung itu namanya? kalo saya pikir…emang sihh.. yang namanya iman itu digapai sendiri, tanpa bantuan orang lain. Yeah.. kayak si Anu.. si Anu, kalo berpikir ttg sesuatu sangat mendalam, ditarik hikmahnya, untuk kemudian disyukuri kebesaran penciptaNya…sehingga keimanan nya bertambah dan kualitas spiritualnya meningkat. Tapi wahai anu.. sadar gak sih elo, even rasa keimanan mu meningkat, itu cuma kamu seorang yang menikmati, lalu di mana semangat keimanan sosial mu, wahai anu??
Tapi, ada nggak sih keimanan sosial? bukankah manusia sendiri adalah makhluk sosial, yang dalam penciptaannya, selain untuk habluminallah juga untuk habluminannas?.. auhh ahh gelap…jangan-jangan emang gue nya lagi ngaco..
bye2x