Archives for “Diskusi”

Pengalaman di Jenewa, Swiss

Filed under Bedah Buku

Berbagai macam cara dan rahasia, resep dan metoda orang untuk bahagia, menikmati hidup, atau hanya sekedar “melewati kejemuan karena hidup”. Dari sekian banyak orang-orang itu, mungkin segelintir saja yang sudah mendefenisikan kebahagiaan seperti apa yang menjadi sasaran mereka, atau hidup bagaimana yang nikmat. Saya tidak tahu memang, apakah sudah ada riset statistik untuk hal demikian. Namun, gampang sekali untuk menemukan jawabannya untuk kasus lokal: bertanyalah pada diri sendiri, apakah saya menikmati pilihan-pilihan hidupku selama ini?

Ada sebuah cerita, tentang “kesederhanaan” seorang petualang yang menikmati kesimpelan hidupnya sebagai sebuah kebahagiaan. Kesederhanaan yang tidak hanya dinikmati sendiri, tapi juga melibatkan orang banyak.

Semoga bermanfaat…

Hotel CITY

Suatu kali, ketika saya di Jenewa, Swiss, untuk menghadiri sebuah pertemuan Masyarakat Fisika, saya berjalan-jalan dan kebetulan melewati gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). “Wah! Saya mau masuk dan lihat-lihat ah!” pikirku. Dandanan saya kurang pantas sebenarnya untuk jalan-jalan di dalam gedung penting itu – saya memakai celana kumal dan jaket tua. Ternyata ada semacam tur yang bisa kita ikuti untuk masuk ke dalam gedung dengan didampingi seorang pemandu.

Tur itu sendiri cukup menarik, tapi bagian yang paling mengagumkan adalah ruangan auditoriumnya yang besar dan hebat. Tahu lah, bagaimana seriusnya mereka membuat segala sesuatu untuk simbol internasional ini. Apa yang biasanya menjadi panggung sekarang terbagi beberapa lapis: anda harus menaiki seluruh anak tangga menuju panggung kayu raksasa, dan sebuah layar raksasa ada di belakang anda. Di depan anda adalah tempat duduk para tamu. Karpetnya begitu anggun, dan pintunya besar-besar dengan gagang dari kuningan yang indah. Setiap sisi auditorium, agak ke atas sedikit, ada tempat para penterjemah melakukan pekerjaannya. Tempat itu benar-benar fantastis, dan saya terus-terusan berpikir, “Wow! Saya mau sekali untuk memberi ceramah di tempat seperti ini!”

Segera sesudah itu, kami berjalan sepanjang koridor di sebelah auditorium itu. Si pemandu menunjuk lewat jendela dan berkata, “Anda lihat bangunan-bangunan di sana yang sedang dalam perbaikan? Mereka akan dipakai pertama kali nantinya untuk Konferensi Atom untuk Perdamaian, sekitar enam minggu lagi.”

Saya tiba-tiba teringat bahwa Murray Gell-Mann dan saya akan berbicara pada sebuah konferensi tentang kondisi terkini fisika energi-tinggi. Bagianku adalah di sesi pleno, jadi saya tanya si pemandu, “Pak, di mana kira-kira ceramah untuk sesi pleno pada konferensi itu?”

“Itu, di ruangan yang baru saja kita lewati tadi.”

“Oh!” kataku dengan senang. “Jadi saya akan memberi ceramah di ruangan auditorium hebat itu!” kataku dalam hati.

Pemandu itu melihat ke celana kumal dan kaos kusut saya. Saya sadar betapa buruk kesan si pemandu terhadap saya, tapi saya benar-benar senang dan bangga setelah mengetahui di mana sidang pleno akan diadakan.

Kami lanjutkan tur, dan pemandu berkata, “itu adalah ruang tunggu untuk para delegasi, di mana biasanya mereka melakukan diskusi informal.” Ada sebuah jendela berbentuk bujur sangkar kecil di pintu menuju ruang tunggu itu yang bisa dipakai untuk melihat keadaan di dalam, jadi orang-orang dalam tur melihatnya. Ada beberapa orang sedang duduk dan berbicara di ruang tunggu itu.

Saya ikutan melihat, dan saya elihat Igor Tamm, kenalasan saya seorang fisikawan Rusia. “Oh!” seruku, “saya kenal dia!” dan saya buka pintu itu.
Pemandu itu berteriak, “Jangan, jangan! Jangan masuk ke sana!” Saat itu dia sudah yakin bahwa salah seorang peserta turnya adalah maniak, tapi dia tidak bisa mengejar saya sebab dia tidak diizinkan melewati pintu sendirian!
Tamm senang saat tahu ada saya di sana, dan kita bicara sebentar. Pemandu itu merasa lega dan melanjutkan tur tanpa saya, dan saya harus berlari untuk mengejarnya.

* * *

Pada pertemuan Masyarakat Fisika, seorang teman baik saya, Bob Bacher, berkata, “Dengar: nanti bakalan susah untuk mendapatkan penginapan saat Konferensi Atom untuk Perdamaian. Kenapa kamu tidak minta tolong Departemen Kota mendapatkan satu ruangan untuk mu, jika kamu belum membuat reservasi?”

“Ah, tak usah!” jawabku. “Saya tidak akan minta tolong Departemen Kota untuk melakukan hal-hal remeh seperti itu untuk saya! Saya akan lakukan sendiri.”
Ketika saya balik ke hotel yang saya tinggali sekarang, saya katakan pada mereka bahwa saya akan pulang seminggu lagi, tapi saya akan kembali lagi di penghujung musim panas nanti: “Bisakah saya membuat reservasi sekarang untuk nanti?”

“Tentu saja! Kapan anda akan kembali?”

“Minggu kedua September…”

“Oh, kami benar-benar minta maaf, Profesor Feynman; saat itu semua ruangan sudah dipesan.”

Jadi saya berkelana dari hotel satu ke hotel lainnya, dan memang mereka semua sudah dipesan enam minggu sebelum konferensi itu!
Lalu saya teringat sebuah trik yang saya pakai sekali saat seorang teman sesama fisikawan datang ke tempat saya, dia orang Inggris yang sopan dan santun.

Kita pergi melintasi Amerika Serikat dengan mobil, dan saat melewati Tulsa, Oklahoma, ada banjir di depan. Kita singgah ke kota kecil ini dan melihat banyak mobil parkir di mana-mana, dengan orang-orang serta familinya di dalam mobil berusaha untuk tidur. Temanku itu berkata, “Sebaiknya kita berhenti di sini. Jelas bagi saya, kita tidak bisa jalan lebih jauh.”

“Ah, ayolah!” kataku. “Bagaimana kamu tahu? Mari kita lihat, apakah bisa kita teruskan perjalanan: saat kita sampai di sana, mungkin saja airnya sudah surut.”

“Kita seharusnya tidak membuang-buang waktu seperit itu,” jawabnya. “Mungkin kita bisa menyewa satu kamar hotel di sini kalau kita cari.”

“Ah, jangan khawatir soal itu! Ayo berangkat!” kataku.

Kami lanjutkan perjalanan sampai sepuluh atau dua belas mil dan sampai ke sebuah sungai dengan arus yang besar. Ya, bahkan untuk saya, airnya terlalu banyak. Tidak ada keraguan: kita tidak perlu mencoba melewati air itu.
Kami kembali, temanku menggerutu sepanjang jalan kalau-kalau kami tidak bisa mendapatkan kamar lagi. Saya katakan kalau tidak usah khawatir mengenai itu.

Kembali ke kota kecil itu. Kota itu benar-benar ditutupi oleh orang-orang yang tidur di mobil, jelas karena tidak ada lagi kamar yang bisa disewa. Semua hotel pasti sudah disewa. Saya lihat ada tanda di sebuah pintu: HOTEL. Hotel ini adalah jenis hotel yang saya kenal baik di Albuquerque, saat saya di sana berkeliling kota mencari berbagai keperluan untuk istriku yang sedang di rumah sakit. Hanya ada satu pintu, begitu masuk anda akan jumpai tangga ke atas dan kantornya tepat saat anda sampai di atas sana.

Kami naik ke atas menuju kantornya dan saya katakan pada manajer hotel itu, “Kami butuh satu kamar.”

“Baik pak. Kami punya satu dengan dua tempat tidur di lantai tiga.”

Teman saya kagum: satu kota penuh dengan orang-orang yang tidur di dalam mobil, kami di sini dapat satu kamar!

Kami pergi menuju kamar itu, secara perlahan-lahan menjadi jelas bagi dia jenis hotel apa itu: tidak ada pintu di kamar itu, hanyalah kain yang digantung sebagai pengganti pintu. Kamarnya cukup bersih, ada wastafel kecil untuk cuci muka dan tangan; tidak terlalu jelek. Kami bersiap untuk tidur.

“Saya mau pipis,” kata temanku.

“Ada kamar mandi di aula bawah.”

Kami dengar ada suara gadis-gadis tertawa genit dan berjalan mondar-mandir menuju aula itu. Dia cemas, dan tidak mau ke luar.

“Baiklah, pipis saja di wastafel itu,” kataku.

“Ha? Itukan tidak sehat.”

“Ah, tidak apa-apa; pastikan airnya mengalir, itu saja.”

“Saya tidak bisa pipis di wastafel,” katanya.

Kami letih, jadi kami berbaring saja. Cukup panas di sana, jadi kami tidak memakai selimut, dan temanku tidak bisa tidur sebab sedikit bising. Saya sih masih bisa tidur.

Tidak beberapa lama kemudian saya dengar bunyi orang berjalan di lantai, dan saya buka sedikit mataku. Saya lihat dia di sana, di dalam gelap, diam-diam naik ke wastafel.

* * *

Baiklah, kembali ke masalah hotel di Jenewa. Saya tahu ada hotel di sana bernama Hotel City, jenis hotel seperti yang saya ceritakan tadi: satu pintu masuk yang langsung disambut tangga menuju kantor di lantai pertamanya. Di sana biasanya ada kamar yang bisa disewa, dan tidak ada yang membuat reservasi.

Saya naik ke atas menuju kantor itu dan mengatakan pada petugas jaga bahwa saya akan kembali ke Jenewa dalam enam minggu, dan saya ingin menginap di hotel mereka: “Bisakah saya membuat reservasi untuk itu?”

“Tentu saja, pak. Tentu saja bisa!”

Petugas itu menulis namaku di selembar kertas – mereka tidak punya buku reservasi – dan saya ingat petugas itu mencoba mencari gantungan untuk meletakkan kertas itu, semacam pengingatnya biar tidak lupa nanti. Jadi saya sekarang punya “reservasi”, dan semuanya berjalan lancar.

Saya kembali ke Jenewa enam minggu kemudian, langsung menuju Hotel City, dan mereka sudah menyiapkan satu kamar untuk saya; kamar itu di tingkat paling atas. Meskipun murah, tapi bersih. (Ini Swiss, semuanya bersih!) Alas kasurnya sedikit berlubang, tapi bersih. Pagi hari mereka menyediakan sarapan ala Eropa ke kamarku; mereka senang sekali punya tamu yang membuat reservasi enam minggu di depan.

Lalu saya pergi ke gedung PBB itu untuk menghadiri Konferensi Atom untuk Perdamaian. Ada sedikit antrian di meja respsionis, tempat di mana orang-orang melaporkan kedatangannya. Seorang perempuan mencatat semua alamat dan nomor telelpon orang-orang itu, jadi pihak penyelenggara bisa menghubungi mereka kalau ada hal-hal yang dibutuhkan.

“Di mana anda menginap, Profesor Feynman?” tanyanya.

“Di Hotel City.”

“Oh, maksud anda Hotel Cité.”

“Bukan, bukan, tapi ‘City’: C-I-T-Y,” saya eja pelan-pelan. (Kenapa tidak? Kita memang menyebut “Cité” di Amerika, tapi mereka menyebut “City” di Jenewa, sebab kedengarannya aneh.)

“Tapi hotel itu tidak dalam daftar kami. Apakah anda yakin namanya ‘City’?”

“Coba lihat di buku telepon untuk mengetahui nomor teleponnya. Anda akan menemukannya.”

“Oh!” serunya, setelah mengecek buku telepon. “Daftar saya tidak lengkap! Beberapa orang masih mencari kamar, jadi mungkin saya bisa menyarankan mereka ke Hotel City.”

Dia pasti kemudian mendapatkan informasi lain tentang Hotel City dari orang lain, sebab tidak ada orang lain dari konferensi menginap di sana selain saya. Sekali waktu petugas hotel menerima telepon untuk saya dari PBB, dan mereka berlari menempuh dua lantai untuk memberi tahu saya, dengan terpesona dan gembira, untuk turun ke bawah menjawab telepon.

Ada sebuah kejadian lucu yang saya ingat di Hotel City itu. Satu malam saya sedang melihat lewat jendela kamarku ke arah halaman. Sesuatu, dari gedung di seberang halaman, tertangkap oleh sudut mataku: sepertinya mangkuk terbalik di atas bibir jendela. Saya pikir benda itu bergerak, jadi saya amati beberapa saat, tapi tidak bergerak lagi. Lalu, setelah beberapa lama, benda itu bergerak sedikit ke arah lain. Saya tidak bisa menemukan jawaban apakah benda itu.

Setelah beberapa lama saya temukan jawabannya: itu adalah seorang pria dengan sepasang teropong yang dipasangnya di atas bibir jendela, mengamati gedung di depannya ke arah kamar tepat di bawah kamarku!
Ada juga kejadian lain di Hotel City yang akan selalu saya ingat. Saat itu larut malam, saya baru kembali dari konferensi dan membuka pintu menuju tangga. Ada pemilik hotel itu di sana, berusaha telihat acuh-tak acuh dengan cerutu dan satu tangannya mendorong sesuatu di tangga. Sedikit ke atas, perempuan yang biasa menyediakan sarapan pagiku memakai dua tangannya untuk menarik benda berat itu. Dan di ujung atas tangga, menunggu seorang perempuan, dengan selendang bulu binatang palsu, dada tersembul ke luar, tangannya di paha, menunggu dengan angkuh.

“Pelanggan”nya sedikit mabuk, dan tidak mampu menaiki tangga. Saya tidak tahu apakah pemilik hotel itu tahu bahwa saya tahu apa yang terjadi; saya lewati saja mereka. Dia malu dengan kondisi hotelnya, tapi, tentu saja, bagi saya hari-hari di hotel ini sangat menyenangkan.

* * *

Cerita ini dikutip dari naskah (masih nafkah!!!) alih bahasa sebuah buku biografi seseorang. Dianjurkan untuk membaca kisahnya dari awal, biar utuh informasinya :-)

Penempelan foto tidak berhubungan langsung dengan tokoh yang diceritakan, harap maklum!

* * *

michelle_feynma.JPG


Ikatlah Ilmu dengan Menuliskannya

Filed under Diskusi Milis

Ada satu anekdot yang relevan dg maksud yg ingin saya sampaikan. Lagi-lagi dari Gus Dur:

Saat Presiden Gus Dur bertemu Presiden AS Bill Clinton, Januari 2000, tentu saja banyak diliput pers. Koran-koran Amerika memuat foto Gus Dur bersama Bill Clinton, dan Clinton terlihat ketawa terbahak sampai kepalanya mendongak.

Apa yang dikatakan Gus Dur sampqi membuat Clinton terpingkal-pingkal begitu?

Menurut Gus Dur, barangkali tentang joke yang disampaikan Presiden John Kennedy.

Gus Dur bercerita, suatau hari Kennedy mengajak serombongan wartawan ke ruang kerja Presiden AS. Di salah satu dindingnya ada sebuah lubang kecil tempat Presiden Dwight Eisenhower menaruh peralatan golfnya.

Selengkapnya…


Kebenaran hanya milik Allah. Tapi manusia kerap merasa menjadi orang yang paling benar. Semua orang memiliki ke’aku’an yang memang menjadi sifat dasar manusia. Sanggupkan keegoisan dalam diri itu luntur dan akhirnya sirna oleh tempaan kehidupan? Padahal, bila ia pergi, ‘pertemuannya’ dengan Tuhan hanya sejengkal lagi. Sulit. Sungguh sulit memang. Tentu saja butuh pengorbanan. Tenaga, pikiran, dan air mata mesti terkuras untuk melenyapkannya. Tapi ia–keegoisan dalam diri–tetap tak mau juga pergi.

Mengapa ia membandel? Mengapa ia suka sekali berdiam dalam jiwa manusia? Mengapa begitu sulit? Setelah badai bertubi-tubi datang, menghempas dan memporak-porandakan hati, tetap saja ia enggan pergi. Terkikis mungkin, tapi sedikit sekali. Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali. Karena masih banyak lagi, ribuan bahkan jutaan manusia yang tetap mengeras seperti batu karang. Bahkan untuk sekedar menyadari bahwa ia memang ada pun sungguh sulit bagi manusia seperti ini.

Bila ia telah pergi, apapun yang datang, manusia tentu tak kan lagi terpengaruhi . Cintanya betul-betul cinta mati. Cacian menjadi sama indahnya dengan pujian. Sakit sama rasanya dengan sehat. Bahagia bergandengan sama mesranya dengan duka. Semua menjadi tiada, tak lagi terombang-ambing kesana kemari, karena di ‘dalam’ sana ada kedamaian yang luar biasa, begitu indahnya.


SUATU ketika seorang Kiai kedatangan tamu seorang Bupati. Sang Kiai dalam sambutannya mengatakan, “Kami sudah membangun beberapa kamar mandi dan saudara-saudaranya,” Hadirin pun bingung mendengarnya, termasuk pak Bupati.

Ternyata yang dimaksud sang Kiai selain kamar mandi juga telah dibangun WC. Karena di depan para tamu dan orang banyak, sang Kiai segan menyebut kata WC. Maka ia menghaluskan kata itu, karena dianggap kurang patut.

Selengkapnya…


212

Filed under Catatan Pribadi

Waktu saya kecil, saya paling suka baca bacaan Wiro Sableng, murid kesayangan eyang Sinto Gendeng di Gunung Gede. Dari bacaan itu saya mendapat pelajaran bahwa semua yang ada di dunia ini terbagi menjadi dua. Hitam putih. Atas bawah. Kiri kanan. Baik jahat. Muka belakang. Setan malaikat. Pahit manis. Gelap terang. Kering basah. Api air. Langit bumi. Udara tanah. Yin dan yang. Tetapi semua ini menuju ke satu titik. Yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Maka saya sering berkelakuan seperti Wiro Sableng. Saya bangga kalo teman2 menyebut saya dengan sebutan Teguh Sableng. Karena berarti saya saudaraan ama si Wiro dong yach? Hehehe… Memang saya ini orang sableng. Hihihihi….

Saya sempat mengikuti kuliah matematika di ITB. Waktu itu dosen saya bercerita bahwa alam semesta ini pernah dimodelkan oleh seseorang pake model matematika. Dan di alam semesta ini ada manusia, syetan, malaikat, binatang, pohon, batu, politik, ekonomi, art, history, ada gedung, ada sungai, ada matahari ada bulan, ada langit dan ada bumi, ada Tuhan dan ada makhluk2nya. Pokoknya di model matematika itu semuanya komplit deh. Nah, yang paling membuat saya terkesan adalah ketika dosen saya itu bilang, ketika variable syetan dihilangkan dari system, maka akan terjadi ketidakseimbangan. Berarti dalam model alam semesta ini, syetan memang diperlukan untuk memberikan keseimbangan. Tanpa syetan, kiamatlah dunia ini. Berarti kita memang butuh syetan untuk hidup di dunia ini. Tapi kita pun harus ingat, bahwa kita lebih butuh Tuhan supaya kita hidup selamanya, tidak hanya di dunia ini tapi di dunia akhirat juga. Tinggal terserah kita saja. Kita mau berpihak sama syetan? Ataukah kita mau berpihak sama Tuhan? Terserah pilihan manusia, Tuhan sudah memberikan semua petunjuk2Nya secara jelas dan gamblang di kitab suci. Tinggal manusia yang harus menentukan sendiri apakah mereka akan berfikir dan mau mengikuti apa kata Tuhan atau mereka mau dibujuk oleh bujuk rayu syetan yang memabukkan dan menipu? Sesungguhnya janji Tuhan-lah yang harus kita pegang dan harus kita yakini. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji. Kalo manusia berjanji kita sulit untuk percaya. Masa sama janji Tuhan kita tidak percaya?

Wallahualam.


Ikhlas

Filed under Catatan Pribadi

Ingatan saya menerawang jauh ke 11 tahun yang lalu ketika saya belajar islam untuk pertama kalinya. Waktu itu saya masih berumur 15 tahun, masih SMA kelas satu. SMA saya dulu adalah SMA 3 Bandung. Saya sempet jadi preman mesjid di sekolah saya itu. Pelajaran pertama yang saya ingat sangat susah untuk dipraktekkan adalah pelajaran ikhlas. Kenapa sulit? Karena bentuk ikhlas itu sendiri saya tidak tau presis. Bagaimana sih ikhlas itu? Katanya ikhlas adalah kalo kita berbuat sesuatu tanpa menginginkan imbalan apa pun. Mana mungkin? Pasti lah kita kalo berbuat sesuatu akan mengharap imbalan walaupun itu dari mana saja datangnya. Mau dari manusia lagi atau juga dari Tuhan. Pasti lah kita ini ingin menerima imbalan. Makanya saya sempet frustasi dan hampir putus asa sama pelajaran ikhlas ini. Saya pikir ini pelajaran bohong banget. Mana ada orang ikhlas di dunia ini???

Setelah 11 tahun terlewati, saya pun menjadi sedikit lebih mengerti tentang arti keikhlasan. Ikhlas yang dimaksud adalah menerima segala suratan Tuhan yang telah Beliau gariskan untuk kita. Ikhlas menerima kalo kita ini dilahirkan ya di keluarga yang seperti ini. Ikhlas menerima kalo kita ini dikasih otak yang pas2an seperti ini. Ikhlas kalo kita ini cuman dikasih rezeki yang seperak ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih istri yang seperti ini. Ikhlas kalo kita cuman dikasih teman2 yang seperti ini. Terima aja semua ini. Ini adalah latihan yang bagus untuk bisa menjadi ikhlas. Ikhlas artinya menerima, bukan memberi. Kalu belum bisa untuk mencapai ikhlas janganlah putus asa.

Ada hadits sahih yang menjelaskan fenomena ikhlas ini. Suatu kala, Allah menciptakan gunung di bumi ini. Gunung ini sangat kuat sehingga sanggup menggetarkan bumi ini. Malaikat bertanya, apakah ada yang lebih kuat dari gunung? Jawabnya ada. Yaitu besi. Besi sanggup memapas gunung sehingga rata dengan tanah. Kemudian malaikat bertanya lagi. Apakah ada yang lebih kuat dari besi? Jawabnya ada. Yaitu api. Besi meleleh oleh api. Apakah ada yang lebih kuat dari api? Jawabnya ada. Yaitu air. Api padam diguyur oleh air. Apakah ada yang lebih kuat lagi dari air? Jawabnya ada. Yaitu angin. Angin bisa mengangkat air dan menghempaskannya. Pertanyaan terakhir. Apakah ada yang lebih tangguh dari angin? Jawabnya ada. Yaitu orang yang memberi dengan tangan kanan tapi tangan kirinya tidak tahu. Masya Allah.


Hidup di Dunia

Filed under Catatan Pribadi

Hidup di Dunia ini gampang2 susah. Dibilang gampang ga, dibilang susah juga ga. Dunia ini tergantung dari sudut pandang dan asumsi kita saja sebenarnya. Kalo kita menganggap dunia ini mudah maka akan menjadi mudah. Kalo kita menganggap dunia ini sulit maka akan menjadi sulit. Ini teori saya. Teorinya emang mudah tapi prakteknya sulit. Tapi ketahuilah, bahwa sebenarnya hanya ada dua yang harus kita pegang dalam menjalani kehidupan dunia yang serba tidak real ini. Yaitu pertama: Luruskan niat. Kedua: Sempurnakan Ikhtiar. Itu saja. Luruskan niat kita hanya untuk mencari ridha Allah swt. Dan Sempurnakan Ikhtiar kita walaupun kita hanya sekadar melipat baju.

Yang juga perlu kita ingat adalah bahwa hidup di dunia ini hanya sebentar saja. Cuma sementara. Jangan terpesona dan jangan terpedaya. Istri, anak, harta, tahta dan jabatan hanyalah hiasan dunia yang menipu mata kita. Ini semua tidaklah real. Yang real adalah hati kita dan Tuhan Yang Maha Esa. Badan kita ini nantinya tidak akan kita bawa ke alam akhirat. Yang kita bawa adalah hati kita. Maka dari itu, cobalah kita selalu membersihkan hati kita dari yang kotor2. Caranya? Jaga pandangan mata. Dari mata turun ke hati. Jaga telinga dari mendengar gosip2. Jaga mulut dari perkataan kotor dan perkataan yang tidak benar. Jaga tangan ini dari menjamah barang2 yang tidak bersih. Jaga kaki ini agar jangan melangkah ke tempat yang kotor2. Insya Allah kalo hati kita sudah bersih maka pikiran pun akan jernih dan prestasi akan mudah diraih. Insya Allah.


Malaikat Kecilku

Filed under Catatan Pribadi

Ketika aku pulang dari Indonesia dua minggu lalu menuju rumahku di Wilgenlaan 54, Groningen, pikiranku diliputi oleh berbagai macam hal. Bagaimana nanti aku memperoleh rezeki untuk menafkahi keluargaku, bagaimana nanti aku berusaha keras untuk membeli makan, baju dan menafkahi keluargaku. Banyak sekali kecamuk yang ada dalam hati dan pikiranku. Namun, ketika aku bertemu dengan Michelle, anakku yang baru berusia 10,5 bulan, hatiku merasakan bahagia yang tak terkira. Hatiku merasakan ketenangan yang tiada tara. Pikiran yang tadinya kalut dan sumpek menjadi cerah sedikit demi sedikit. Apalagi ketika kuperhatikan kehidupan Michelle setiap harinya. Sepertinya dia tidak punya keluhan apa2. Sepertinya dia tidak mempedulikan dunia sekitarnya. Yang dia tahu adalah makan, minum, berak, main dan main dan main. Kalo dia lapar dia nangis, dan ayah atau ibunya akan bergerak untuk memberikan makan pada dirinya. Kalo dia haus dia pun nangis, maka ayah atau ibunya akan bergerak secepat kilat untuk memberikan air minum kepadanya. Sungguh, Michelle tidak tau apa2 di dunia ini, tetapi dia selalu mendapat rezeki yang cukup. Segala yang dia butuhkan selalu tersedia tanpa dia minta. Baju, makan, minum, mainan, kasih sayang, perhatian, dan lain2. Semua kebutuhan dia selalu tercukupi padahal ayah dan ibunya hanyalah seorang yang masih muda dan belum banyak asam garam kehidupan pahit ini. Namun rezeki Michelle tetap saja mengalir lancar. Dari teman2 kiri kanan. Dari saudara2 kiri dan kanan.

Astagfirullah. Sungguh Tuhan Maha Besar. Sungguh Tuhan Maha Adil. Sungguh Tuhan Maha Segala2nya. Saya tidak tau apa2, tapi segala kebutuhan saya pun selalu dia cukupi. Saya punya istri. Saya punya anak. Saya punya teman2 yang baik. Saya punya keluarga yang baik. Alhamdulillah. Sungguh Maha Baik Tuhan itu. Padahal dosa saya setinggi gunung, tapi rahmat Tuhan setinggi langit. Saya merasakan kebahagiaan yang belum pernah saya rasakan selama hidup ini. Saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Saya merasakan nikmat karunia Tuhan yang tidak terkira. Saya… cinta Tuhan. Saya rindu untuk bertemu Tuhan, pencipta saya. Sungguh, kehidupan di dunia ini hanyalah sementara. Badan kita tidak real, istri kita tidak real, anak kita tidak real. Namun yang real adalah hati kita dan Tuhan. Wallahualam.


Slow Motion

Filed under Renungan & Hikmah

Seorang ibu sedang menunggu pesawat di sebuah airport kota yang teramat padat. Di seberang ibu itu ada seorang bayi mungil diselimuti oleh hangatnya kereta dorong–tampaknya masih gress, berbau toko. Jalan di antara ibu itu dengan si bayi benar-benar ramai. Orang-orang dewasa melintas, lalu lalang, seperti mengejar pintu kereta yang sudah siap berangkat. Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing.

Melintas di depan ibu itu, seorang anak laki-laki–berusia 3 tahun–menggandeng ibunya yang berjalan cepat-cepat; mereka tidak ingin terlambat ‘boarding’. Sejenak, dia menatap sang bayi. Dan seketika itu, dia lepaskan genggaman ibunya. Anak laki-laki itu berlari menuju persembuyian hangat si bayi. Tubuhnya merunduk, wajahnya mendekati sosok mungil yang lucu, lantas Teddy Bear–boneka kesayangannya–mendarat lembut di atas dahi si bayi. Makhluk mungil itu pun terjaga. Tangannya bergerak ingin meraih si Teddy. Mata mereka saling bertatapan. Tak ada kata yang terucap, namun perhatian dan cinta seorang anak berusia 3 tahun itu sungguh sangat mengagumkan. Orang-orang dewasa? Mereka tetap lalu-lalang tidak menyadari kontak polos dua malaikat kecil di pagi itu.

Kita semua sibuk. Pesawat dan bus menuntut para penumpang tepat waktu; jika tidak mereka akan ditinggal. Pekerjaan menunggu di kantor. Janjian meeting menghiasi agenda hari itu. Lantas bagaimana dengan anak-anak? Mereka juga sama dengan kita; mereka sama-sama akan naik pesawat. Namun, mereka masih bisa menikmati irama meredu pagi hari yang tak terdengar oleh jiwa yang grusa-grusu. Bisakah kita seperti mereka? Atau bisakah kita mengambil nafas sejenak dan membiarkan anak-anak kita menjadi diri mereka yang sejati–makhluk yang dermawan, tercerahkan, dan penuh perhatian?

Aku teringat setiap pagi selalu buru-buru agar Lala tidak terlambat sekolah. Selepas mengucapkan salam kepada wanita yang melahirkan kedua anakku, kami menuruni tangga rumah. Aku berusaha berjalan lebih cepat, agar sepeda keluar rumah lebih cepat. Namun, Lala dengan “slow motion” menuruni tangga itu. Seolah dia sedang menikmati setiap 5 inchi berkurangnya ketinggian di atas permukaan bumi. Tidak punya aku kesabaran seperti itu. Dan secepat Flash Gordon, sepeda pun siap di depan pintu sebelum dia menyelesaikan hitungan langkah demi langkah pagi harinya.

Alhamdulillah, aku mendapat pencerahan dari cerita ibu di airport tadi pagi. Allah sebenarnya telah hadirkan malaikat kecil yang berusaha mengajariku tentang kejernihan, syukur, dan menikmati setiap inchi kehidupan. Namun kaca mata minus kesibukan yang kupakai tak mampu memperjelas a-b-c-d-nya abjad yang menetes dari salju di penghujung musim dingin ini.

Hari-hari belakangan salju turun dengan cukup tebal. Mungkin nanti–pulang dari kantor–aku harus melepas sepatu dan kaos kaki, lantas berlari-lari di atas salju putih selembut kapas–seperti yang telah “diajarkan” oleh malaikat “Malik”-ku Kamis lalu. Sifat dan kelakuan alamiah malaikat-malaikat kecil, anak-anak kita itu, akan menyetrum kembali jiwa terdalam kita dan menghadirkan keindahan kanak-kanak ke atas hamparan kering jiwa–yang tertekan oleh derik roda kereta yang bernama modernitas dan Internet.

Do you have an Internet Addicted Disorder? Jauhi komputer, dan berlarilah dengan kaki telanjang di atas salju.

—- one day after:

“I made it!” Biarin aja kalau aku dibilang kayak Wong Ndeso yang baru lihat salju. Peduli amat juga kalau dibilang kayak anak-anak. Emang jadi seperti anak-anak itu asyik punya. Jadi wong ndeso juga asyik. Berbuat aneh—termasuk yang ndak umum—pun akan dimaklumi. Ndak perlu pasang topeng monyet gengsi. Yang penting fresh..fresh..

Indra, kayaknya kau juga bikin ginian pula. Share dong…


Menjalani Kegagalan

Filed under Renungan & Hikmah

Salah seorang teman kami menceritakan sekelumit pengalaman ruhani mendapat ketenangan batin dengan jalan lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hal yang berkesan olehnya adalah cerita tentang si fulan (biasanya diperankan dengan tokoh Abu Nawas?) yang mencari kunci yang hilang dengan mengacak-acak halaman, di luar, rumah. Setelah ditanya seseorang, dia menjawab bahwa kunci tersebut hilang di dalam rumah. Seharusnyalah “mencari sesuatu” tersebut dilakukan dari dalam terlebih dulu, jangan mengacak-acak dan sibuk di luar. Akhirnya kembali pada hati dan jiwa kita, karena itulah “bagian dalam”, interior, yang dimiliki manusia.

Teman yang menceritakan pengalaman ruhani ini mempraktekkannya dengan ikhlas, melakukan adjustment terhadap dirinya, dan alhamdulillah, masalah kritis yang dihadapi dapat diselesaikan. Mudah-mudahan ridla Allah besertanya, yang telah berusaha memperbaiki keadaan dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dulu.

Cerita mencari “di dalam” atau “di luar” di atas menjadi favorit teman yang lain pada sisi sebaliknya. Dia berpendapat bahwa apabila pencarian kita di dalam hanya berpusing-pusing seperti mengurai benang kusut dan menguras tenaga terlalu banyak, ada saatnya pergi keluar, menjauh (bukan menghindar) dari benang kusut tersebut dan melihat persoalan dari sudut pandang “luar” yang jelas lebih lapang dan kemungkinan beroleh pemandangan yang berbeda.

Jika kita sudah sampai pada substansial yang lebih hakiki: apa sebenarnya “luar” dan “dalam”? Batasnya hanya setipis pintu. Penekanan sebenarnya pada introspeksi terhadap diri sendiri — yang hal itu dapat diperoleh dari melihat diri kita sendiri atau menyadari keragaman yang terdapat di luar.

Hidup sendiri tidak selalu seperti film Hollywood yang menyederhanakan persoalan dengan jagoan segera dimenangkan. Bagaimana jika dalam cerita teman tentang pengalaman ruhani tersebut tidak membuahkan hasil seperti yang diharapkan? Ini penting, karena pertama, tidak semua harapan kita merupakan sesuatu yang memang baik atau cocok dengan kondisi kita. Sebagian orang malah seperti “tidak berpengharapan” dalam konteks meyakini bahwa segala sesuatu yang dialami dalam perjalanan hidupnya itulah yang terbaik baginya. Mereka bukan orang-orang pasrah yang kemudian menjalani hidup dengan bermalas-malas, melainkan para pekerja keras karena percaya dalam “tiada berpengharapan” tersebut mereka harus tetap bermanfaat bagi sesama.

Kedua, semata-mata memang harapan tersebut belum juga segera terwujud. Sebuah email dari teman lama pernah mempertanyakan hal itu kepadaku: saya sudah melakukan introspeksi, memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah, namun mengapa persoalan ini belum juga usai?

Doaku kepada mereka yang masih seperti berkelanjutan menghadapi masalah seperti tidak ada ujung akhirnya tersebut: semoga rahmat Allah dicurahkan kepada mereka, sehingga dihindarkan mereka dari putus asa. Saya tetap harus menjawab pertanyaan tersebut — tampaknya yang ia perlukan hari ini adalah seorang teman yang dapat memahami kesulitan yang dihadapi. Saya perlu berhati-hati agar tidak overdosis menasehati dia untuk mengorek kekurangan diri sendiri terus (kurang ikhlas, kurang beribadah, kurang dekat dengan Allah, misalnya), karena memikirkan diri sendiri terus-menerus dengan tensi berat dapat berakhir dengan putus asa karena frustasi.

Saya jawab begini,

Menurutku, semua hal/persoalan/keadaan senantiasa ada batas akhirnya, karena kita hidup di dunia yang fana. Batas akhirnya bisa berupa persoalan tersebut diselesaikan baik-baik atau tidak pernah selesai namun kita menjemput maut (yang berarti persoalan tsb. selesai, kan?). Tidak ada masalah yang abadi, karena Tuhan juga Maha Adil; atau sebaliknya, kita manusia demikian tidak bisa bersyukur sehingga setiap hari dianggap bermasalah.

Maksud dari penjelasanku di atas bukan menyudutkanmu. Bukan pula membela pihak lain. Atau sebaliknya. Kalimat-kalimat di atas itu netral, berlaku untuk semua hubungan antarmanusia.

Jika kita berpendapat kondisi yang sedang dialami sekarang merupakan “penderitaan”, coba dicari akar persoalannya: bagian mana penyebab penderitaan tersebut. Apabila sudah didapat, coba pertimbangkan baik-baik kondisi seharusnya (yang kita inginkan). Apabila dalam waktu dekat kondisi seharusnya tersebut sulit dicapai, beri batas waktu akhir dari persoalan tsb. menurut kita. Karena tidak mungkin seseorang hidup dalam persoalan terus-menerus sepanjang hidupnya, apalagi jika persoalan tsb. dibuat/terjadi karena keputusan manusia (lain).

Nah, dalam menuju batas jangka panjang tersebut, kita harus menghargai solusi-solusi jangka pendek. Misalnya menikmati hidup, mensyukuri pemberian-Nya, dan hal-hal lain yang barangkali bagi orang lain tidak terlihat. Rasakan dengan mata hati, sehingga dalam menuju batas jangka panjang tersebut kita bisa ikhlas.

Setelah itu, apabila dalam jangka panjang persoalan tersebut tetap tidak dapat diselesaikan sendiri, lakukan perundingan yang baik terhadap penyebab kondisi tersebut. Dalam beberapa hal, terkadang diperlukan pihak ketiga yang dapat melihat persoalan tersebut dengan lebih jernih dan adil.

Hidup memang sulit, jika kita kita sibuk mengitari bagian yang sulit; dan sebaliknya, hidup juga mudah, jika kita berusaha mendapatkan bagian-bagian yang memudahkannya. Di antara keduanya itu ada penderitaan, pengorbanan, dan keikhlasan.


Menyambut 2005: Tahun Fisika Dunia

Filed under GPMPS

Ada yang istimewa di tahun 2005, tahun ini adalah ulang tahun revolusi di dunia fisika. Seratus tahun yang lalu, pada tahun 1905, Albert Einstein (yang kala itu berusia 26 tahun) mempublikasikan tulisannya pada majalah ilmiah berkala Jerman “Annalen der Physik”. Tulisan itu berjudul “On the Electromagnetic of Moving Body”, di dalamnya terdapat sebuah ide revolusioner: teori Relativitas Khusus.

Begitu besarnya arti revolusi tersebut, Persatuan Fisika Murni dan Aplikasi Internasional (International Union of Pure and Applied Physics, IUPAP) atas permintaan Masyarakat Fisika Eropa (Europian Physical Sociaty, EPS) mendeklarasikan tahun 2005 sebagai Tahun Fisika Dunia. Artikel ini membahas secara popular arti besarnya revolusi yang dilakukan Einstein muda dan dampaknya pada pemahaman kita terhadap alam semesta.

Perkembangan Fisika Sebelum 1900

Perkembangan fisika selalu menjurus pada penyatuan (atau unifikasi) teori-teori. Semakin banyak sebuah teori menjelaskan fenomena, semakin fundamentallah teori itu. Sebelum 1900, sejarah mencatat dua unifikasi teori yang merevolusi pemahaman kita terhadap alam semesta. Pertama adalah unifikasi teori Gravitasi oleh Isaac Newton (Inggris, 1642 – 1727) pada tahun 1687. Kedua adalah unifikasi teori listrik-magnet-cahaya oleh James Clerk Maxwell (Skotlandia, 1831 – 1879) pada tahun 1855.

Teori Gravitasi Newton (atau sering disebut Hukum Gravitasi Newton) adalah teori unifikasi pertama yang dibuat manusia, yang sukses menyatukan hukum pergerakan planet Kepler (Johannes Kepler, Jerman, 1571 – 1630) dan hukum fenomena dinamika dan inersia Galileo (Galileo Galilei, Itali, 1564 – 1642). Newton menjelaskan idenya dalam “Principia Mathematica”, publikasi pertama yang menjelaskan fisika memakai bahasa metematika.

Karya Newton benar-benar merubah wajah dunia. Hukum pergerakan benda kemudian menjadi dasar dari Mekanika Klasik dan Fluida. Sementara hukum pegerakan planet dipakai menjadi acuan oleh para astronom untuk mempelajari tata surya.

Teori listik-magnet (atau sering disebut teori elektromagnetik) sukses menyatukan fenomena listrik dan magnet – yang sebelumnya ditemukan oleh Michael Faraday (Inggris, 1797 – 1867) pada tahun 1831 – dengan fenomena cahaya. Salah satu prediksi penting dari teori ini menyatakan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik dengan kecepatan konstan ~ 3×10E8 m/s.

Teori Elektromagnetik ini adalah teori unifikasi kedua yang dibuat manusia, dan menjadi teori fundamental fisika kedua setelah Hukum Gravitasi Newton. Kalau Newton berlaku untuk benda berukuran massif (makro), maka Maxwell untuk benda berukuran ringan (mikro).

Kontradiksi Newton - Maxwell

Suksesnya dua teori unifikasi tersebut bukan tanpa masalah. Ada sebuah kontradiksi yang tidak terpecahkan pada akhir abad 18 dan awal abad 19. Kontradiksi ini lahir dari persamaan gerak benda Newton dan persamaan Maxwell. Persamaan Maxwell mengatakan bahwa tidak perduli kita berlari mengejar atau menjauhi berkas cahaya, kecepatan cahaya tetap konstan, tidak peduli betapa cepat kita berlari. Berbeda dengan hukum gerak benda Newton, yang mengizinkan kita bisa mengejar kecepatan cahaya asal memiliki percepatan yang cukup.

Bagaimana mungkin kecepatan cahaya tidak terlihat bertambah cepat atau lambat relatif terhadap kita yang bergerak menjauh atau mendekatnya?

Disinilah Einstein merubah segala-galanya. Kecepatan adalah sebuah ukuran jarak tempuh dibagi oleh lama waktu tempuh, dan ini jelas tergantung oleh ruang (space) dan waktu (time). Semua konsep fisika yang dibangun dari dua teori unifikasi ini memandang ruang dan waktu adalah dua hal yang tetap dan tak-berubah oleh apapun fenomena di alam semesta. Ruang dan waktu menjadi dua referensi utama dalam pengamatan dan pengukuran fenomena alam.

Dan sangat kontras dengan persepsi ini, Einstein menyatakan ruang dan waktu tidak tetap dan tidak tak-berubah. Sebaliknya, ruang dan waktu ini seperti karet yang bisa memanjang dan memendek. Ruang dan waktu mengatur diri mereka sendiri untuk menjaga sesuatu yang lain – kecepatan cahaya – konstan, tidak peduli pergerakan benda itu mendekati atau menjauhi berkas cahaya. Dengan kata lain, benda yang bergerak menuju atau menjauhi berkas cahaya merasakan ruang dan waktu memuai atau memendek, sehingga kecepatan cahaya pada akhirnya tetap konstan.

Praktisnya, ini berarti jika kita mengukur panjang sebuah mobil yang sedang bergerak, hasilnya akan berkurang dibandingkan ketika kita mengukur panjang mobil ini sedang diam (penyempitan ruang). Dan jika kita pasang jam pada mobil yang bergerak ini, kita akan menemukan bahwa kecepatan jam ini berputar lebih lambat daripada jam yang sama yang tidak bergerak (dilatasi waktu). Kesimpulannya, benda bergerak akan melihat ruang memendek dan waktu melambat. Perubahan ruang-waktu ini semakin besar ketika benda bergerak mendekati kecepatan cahaya.

Inilah revolusi terbesar fisika yang merubah cara pandang kita terhadap alam semesta. Ruang dan waktu bukan lagi sesuatu yang konstan, melainkan kecepatan cahaya lah yang konstan dan dan nilainya absolut. Tidak ada yang lebih cepat daripada kecepatan cahaya.

Teori Relativitas Khusus menyatukan konsep ruang dan waktu yang diperlakukan berbeda pada fisika sebelumnya menjadi satu: konsep ruang-waktu (spacetime). Dan inilah cikal bakal revolusi kedua oleh Einstein, lewat Teori Relativitas Umumnya pada tahun 1915.

Usaha Einstein dalam merubah cara pandang kita terhadap alam semesta tidak dilakukan dengan mudah. Butuh kejeniusan khusus memang, dan orang-orang seperti Einstein tidak dilahirkan setiap saat di dunia ini. Tapi ada satu hal yang dicontohkan Einstein yang pantas kita tiru: berani berpikir keluar dari pola yang ada. Inilah salah satu kunci dari kesuksesan Einstein selain kerja kerasnya yang menakjubkan.

2005: Tahun Fisika Dunia

IUPAP lewat PBB mencanangkan tahun 2005 ini sebagai Tahun Fisika Dunia. Di Indonesia, kesadaran umum masyarakat berkurang tentang fisika dan pentingnya fisika dalam keseharian. Jumlah mahasiswa yang belajar fisika berkurang secara dramatis. Banyak penelitian yang tidak jalan, lab kosong dan diskusi-diskusi teori berkurang. Dalam seleksi masuk perguruan tinggi pun, jurusan Fisika biasanya menjadi jurusan alternatif.

Padahal fisika bukan saja berperan penting dalam pembangunan sains dan teknologi, tapi juga membawa dampak pada masyarakat kita. Fisika mengajarkan kita berpikir ilmiah, bertindak seirama dengan prilaku alam. Semakin banyak sarjana fisika yang konseptual dan membahasakannya pada masyarakat, semakin tinggilah pengetahuan-dasar umum masyarakat itu. Hingga pada suatu titik kreativitas masyarakat yang sudah ada bisa dikembangkan lewat pola-pola ilmiah sehingga hasilnya lebih efektif, efesien, dan bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak.

Indonesia memiliki banyak bibit-bibit unggul. Yang muncul di permukaan lewat lomba internasional fisika, matematika, biologi, astronomi dan sains lainnya hanyalah baru secuil. Di pelosok desa dan kampung yang tersebar di seluruh Indonesia pastilah berlimpah mutiara-mutiara yang mampu menerangi dan memajukan bangsa kita lewat fisika ataupun sains lainnya.

Mudah-mudahan memanfaatkan moment Tahun Fisika Dunia, perhatian pemerintah pada pendidikan Fisika dan sains umumnya – baik itu teori maupun eksperimental – meningkat dari tahun sebelumnya. Mudah-mudahan juga semangat ini mengilhami para generasi muda kita untuk mulai berkenalan dengan fisika.


Rasulullah Membenci Poligami

Filed under Renungan & Hikmah

Diskusi menarik tentang Poligami di mailing list deGromiest telah mendorong saya untuk menulis artikel ini. Isu poligami telah mengundang pro dan kontra di masyarakat khususnya kaum Muslimin. Pro dan kontra tersebut terjadi tidak saja di kalangan kaum laki-laki namun juga pada kaum perempuan. Sebagian kaum perempuan muslim melihat praktek poligami sebagai penindasan terhadap kaum perempuan oleh laki-laki, sementara perempuan muslim lainnya memandang bahwa poligami sebagai bentuk ibadah dengan surga sebagai ganjarannya.

Dua pendapat di atas memang sama-sama kuat dan mengacu pada dasar yang sama yaitu kitab suci Al-Quran dan Hadits Rasulullah. Lagi-lagi persoalannya adalah pada penafsiran. Lalu bagaimana sebenarnya Islam melihat poligami?

Semua ajaran Islam tidak dapat dilepaskan begitu saja dari konteks sosial di mana ajaran tersebut diwahyukan dalam bentuk Al-Quran dan Hadits termasuk di dalamnya poligami. Isu poligami dalam Islam didasarkan pada surat An Nisa ayat 3 dan biasanya pemahamannya lebih ditekankan pada pemborehan mengawini perempuan lebih dari satu daripada pesan keadilan. Dalil lain yang digunakan adalah tindakan Rasulullah yang memiliki isteri lebih dari satu, sehingga hal tersebut dijadikan dalil untuk menjustifikasi bahwa poligami adalah sunah rasul. Pendapat ini telah meluas dalam masyarakat sehingga esensi poligami menjadi hilang.

Poligami pada awalnya merupakan media transformasi sosial di masa penyebaran pertama Islam. Dimana saat itu umat Islam masih sering melakukan perang melawan kaum kafir sehingga banyak isteri para mujahidin menjadi janda. Kondisi sosial perempuan saat itu sangat terjepit. Perempuan lebih-lebih para janda dimata masyarakat Arab saat itu sangat hina ditambah lagi kondisi ekonomi mereka. Ditinggal mati suami dan memiliki banyak anak tentu sangat merepotkan perempuan saat itu. Oleh karena itu turunlah ayat 3 surat An-Nisatersebut, sehingga konteksnya adalah poligami adalah mekanisme perlindungan perempuan dan anak yatim yang menjadi korban perang saat itu.

Di zaman yang telah maju sekarang ini praktek poligami tetap eksis dan seakan menjadi hal yang wajar dalam masyarakat. Sebagian perempuan bahkan berkeyakinan bahwa penyerahan diri untuk dimadu adalah sebagian dari bentuk keimanan. Alasan ini memang dapat dipahami karena memang banyak literatur Islam kuno (sebut kitab kuning) yang mensub-ordinasikan keberadaan perempuan. Sebut saja beberapa kitab misalnya: Uqudilijain, Quratul Uyun, dan Irsaduz Zaujain ketiganya adalah kitab rujukan utama di pesantren untuk masalah hubungan suami isteri. Hadits-hadits seperti tersebut dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya keseluruhan.Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih berada diatas punggung onta,maka ia tidak boleh menolak suaminya atas dirinya”.(yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani seksual suaminya). Hadits lain adalah tersebut dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa,ada seorang perempuan datang menghadap Nabi saw seraya berkata:”Hai rasulullah,aku ini seorang wanita yang masih muda.Baru-baru ini aku sedang dilamar seseorang tapi aku belum suka menikah,sebenarnya apa sajakah hak-hak suami atas istrinya itu?”Rasulullah saw mwnjawab:”Sekiranya mulai dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah,lalu istrinya menjilati seluruhnya,maka yang demikian itu belum terbilang memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau begitu pantaskah aku menikah?”.Rasulullah saw berkata, “Sebaiknya menikahlah karena menikah itu baik”. (Hadits-hadits ini ada dalam kitab Uqudilijain). Menjadi sebuah pertanyaan kritis adalah benarkah Rasulullah mengajarkan ajaran yang merendahkan perempuan, bukankah beliau sangat menyayangi perempuan.

Bukankah dalam Al Quran kedudukan laki-laki dan perempuan adalah setara Dan orang orang yang beriman, lelaki dan permpuan, sebahagian meraka ( adalah ) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh ( mengerjakan ) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya.” (QS. 9:71) Pertanyaan kritis tersebut telah mendorong beberapa perempuan muslim yang diprakarsai Puan Hayati dan Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid untuk mendirikan Forum Kajian Kitab Kuning (FK3). Forum ini banyak melakukan kajian ulang literatur Islam kuno (kitab kuning) yang banyak mendeskridetkan posisi perempuan dan kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku.

Kembali pada persoalan poligami, praktek ini telah diyakini oleh pendukungnya sebagai sunah rasul. Padahal dalam sejarahnya Rasulullah banyak mengeluarkan pernyataan yang melarang poligami tapi ini tidak banyak diekspos. Maklum karena mayoritas pengarang kitab-kitab kuning adalah kaum laki-laki sehingga perspektive perempuan nyaris tidak tampak.

Persoalan poligami tidak dapat dilihat secara sederhana sebagaimana ilmu matematika satu ditambah satu sama dengan dua. Persoalan tersebut amatlah komplek karena menyangkut persoalan sosial, ekonomi, budaya serta yang terpenting adalah psikologis. Kekerasan rumah tangga dalam keluarga poligami lebih pada perspektif psikologis. Dimana perempuan secara tidak sadar ditekan untuk menerima keberadaan poligami tersebut. Ini yang dalam pikiran Anthonio Gramsci disebut Hegemoni. Sebuah penindasan yang telah direduksi menjadi sebuah budaya. Saya yakin semua perempuan pada dasarnya tidak mau dimadu, hanya karena teks-teks agama ditafsirkan dan ditulis seakan mendukung praktek poligami maka sebagian perempuan terpaksamenerima atau mengiyakan sebagai bentuk ketakwaan pada Allah.

Padahal jelas Rasulullah tidak rela jika ada perempuan dimadu. Karena beliau selalu menekankan pentingnya berbuat sabar dan menjaga perasaan perempuan. Suatu hari beliau pernah besar ketika mendengar putri beliau, Fathimah binti Muhammad SAW, akan dipoligami Ali bin Abi Thalib RA. Ketika mendengar rencana itu, Nabi pun langsung masuk ke masjid dan naik mimbar, lalu berseru: “Beberapa keluarga Bani Hasyim bin al-Mughirah meminta izin kepadaku untuk mengawinkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib. Ketahuilah, aku tidak akan mengizinkan, sekali lagi tidak akan mengizinkan. Sungguh tidak aku izinkan, kecuali Ali bin Abi Thalib menceraikan putriku, kupersilakan mengawini putri mereka. Ketahuilah, putriku itu bagian dariku; apa yang mengganggu perasaannya adalah menggangguku juga, apa yang menyakiti hatinya adalah menyakiti hatiku juga.” (Jâmi al-Ushûl, juz XII, 162, nomor hadis: 9026).

Semoga tulisan ini dapat memberikan pandangan lain kepada kita terhadap poligami.

Wallahu’alam bishawab.


Hari ini saya membaca sebuah berita di detik.com tentang boikot terhadap katering Wong Solo. Boikot ini dilakukan sebagian aktivis perempuan NU, yang dimotori Ibu Shinta Nuriah Abdurrahman Wahid, dengan alasan pemilik Wong Solo telah melakukan kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dengan melakukan poligami.

Baca berita lengkap di

Saya sendiri sebenarnya bukan seorang pendukung poligami. Namun akhir-akhir ini saya sedikit terusik dengan kampanye anti poligami yang dilakukan oleh sebagian kalangan anti poligami. Biasanya mereka mengusung 2 tema besar, keadilan dan kekerasan terhadap perempuan. Tapi seberapa objektifkah tema ini dibawakan.

Bicara soal keadilan, maka pertanyaan yang selalu diusung adalah mempukah laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap adil.

Bagi saya pertanyaan “mampukah bersikap adil?” ini, lebih baik ditanyakan kepada SBY, Megawati, Amien Rais, Wiranto, atau Hamzah Haz ketika mereka akan mencalonkan diri menjadi Presiden dulu. Sebab seandainya saja, katakan seorang laki-laki yang beristri lebih dari satu bersikap tidak adil, maka yang terzhalimi hanyalah istri-istri dan anak-anaknya saja. Sedangkan bila calon-calon Presiden itu yang bersikap tidak adil, maka akan ada ribuan keluarga yang terzhalimi. Tapi ini menjadi tidak penting bagi kita, karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kemudian ketika berbicara soal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan, saya merasa ada kecenderungan dewasa ini untuk mengindentikkan poligami dengan kekerasan di rumah tangga. Jadi poligami = kekerasan di rumah tangga, dan sebaliknya kekerasan di rumah tangga = poligami. Padahal kekerasan di rumah tangga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki beristri satu. Dan sebaliknya pengayoman terhadap perempuan juga bisa dilakukan siapa saja, termasuk oleh laki-laki yang beristri lebih dari satu.

Maka saya menjadi heran kenapa kita bisa begitu toleran memisahkan secara objektif, misalnya, siaran TV, pengaruh baiknya, dan pengaruh buruknya, tapi tidak demikian halnya dengan poligami dan kekerasan di rumah tangga. Sekali lagi, ini mungkin karena masalah ini tidak lah sesensitif masalah poligami.

Kita kembali lagi ke masalah boikot terhadap Wong Solo-nya Puspo Wardoyo yang menjadi inspirasi saya menulis ini.

Sebagian kita mungkin sudah mengenal siapa Puspo Wardoyo. Pria setengah baya, beristri empat, pemilik rumah makan Wong Solo, dan selama ini dikenal sebagai icon-nya poligami karena kegetolannya berpromosi soal poligami.

Saya sendiri bukan orang yang tahu mendetail tentang Puspo Wardoyo. Tapi kebetulan kami sama-sama berasal dari satu kota, Medan, dan salah seorang anaknya adalah kakak kelas saya di SMU.

Nama Puspo Wardoyo sendiri rasanya sudah berkali-kali dihujat, khususnya oleh para aktivis perempuan, karena keputusannya berpoligami. Namun pernahkah mereka melihat sisi lain dari Puspo Wardoyo si pelaku poligami ini?

Di saat laki-laki pengusaha lainnya begitu giat mengeksploitasi pekerja perempuannya untuk memperoleh keuntungan, maka Puspo Wardoyo mewajibkan semua pekerja perempuan di restorannya menggunakan kerudung.

Puspo Wardoyo pun berkali-kali membuka pintu lebar-lebar untuk wartawan datang ke rumahnya, dan mewawancarai istri-istrinya. Pesannya adalah “Silahkan lihat rumah tangga saya yang berpoligami ini, dan tanyakan kepada istri-istri saya apakah saya menzholimi mereka?”

Suatu saat Puspo Wardoyo pun pernah diwawancarai dalam sebuah acara di Metro TV. Selesai acara, seperti biasa pembawa acara, yang kebetulan hari itu perempuan, menyalami, dengan berjabat tangan, dengan si nara sumber. Tapi dia menolak. Pesan apa yang saya tangkap adalah, “Betul saya beristri empat, tapi saya hanya mau menggauli muhrim saya”.

Membaca petikan-petikan cerita di atas, masihkah kita menganggap Puspo Wardoyo yang beristri empat itu, lebih rendah laki-laki yang memang beristri satu tapi mata dan tangannya entah sudah ‘merayap’ kemana-mana?

Saya sedikit pun tidak hendak berkata bahwa Puspo Wardoyo itu adalah dewa. Cerita Puspo Wardoyo ini saya majukan hanya untuk menunjukkan betapa seringnya masyarakat bersikap tidak objektif terhadap kasus poligami.

Dan tulisan ini saya buat bukan untuk mengubah pendapat orang menjadi setuju terhadap poligami. Karena saya harap kita bisa sama-sama berkata ‘no’ untuk berpoligami dan ‘no’ untuk dipoligami, namun kali ini dalam bingkai yang lebih objektif.

Mungkin kah? Ah, rasanya susah, karena ini menyangkut perasaan, apalagi perasaan wanita.

Semoga bermanfaat

Wassalam

-henry-


Pluralitas di PPI

Filed under Renungan & Hikmah

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera buat kita semua…

Mohon maaf, jika saya menuangkan perasaan saya di milis ini.

Satu kata komentar saya tentang jalannya acara debat calon presiden PPIG semalem:

Excellent!!

Salut buat Pak Moderator yang gagah dan tegas.
Salut buat Pak Notulen yang setia mengawal jalannya acara.
Salut buat Temen2 Panitia Pemilu yg berhasil menyewa ruangan
bersejarah dan megah untuk hajatan ini.
Salut buat Ketiga Kandidat yang telah berjuang siang malam, berhari-hari, mengurangi waktu tidur dan belajar, ‘hanya’ untuk memberikan yang terbaik bagi kita semua. Mengumpulkan masukan dan harapan kita semua, yang kemudian menjadi program yang menarik dan mengakar.

Dan tak kalah seru, yang membuat saya semakin bangga menjadi anggota PPI (baru kali ini aku merasa bangga), adalah para peserta, para anggota PPI yang hadir dalam acara debat ini.

Mengapa?

Ketika masing-masing diri kita memasuki ruangan debat, ada sebuah perasaan yang tidak bisa dinafikan. Perasaan yang tidak bisa diabaikan. Perasaan yg tidak bisa dihilangkan begitu saja. Perasaan yang menuntut untuk diterima dan diakui keberadaannya. Karena perasaan itulah wakil dan perwujudan dari masing-masing diri kita.

Perasaan apa itu?

Perasaan bahwa: saya berbeda dengan anda!

Luar biasa, ketika saya mencoba melihat ‘perbedaan’ ini dari kaca mata lain, kacamata ‘Bhinneka Tunggal Ika’, saya melihat sebuah kekuatan. Dan saya semakin kagum saja dengan para pendiri negara Indonesia yg telah menemukan semboyan tersebut. Dengan semboyan itu, saya merasa ‘diakui’ bahwa saya orang Jawa Timur, beragama Islam, memiliki adat dan kebiasaan yang berbeda dengan kawan2 saya dari Madura, Batak, Irian Jaya. Dan bukan hanya diakui, namun saya merasa ’satu’ dengan mereka semua.

Saya bersyukur sekali, bahwa semboyan negara kita bukan “United Indonesia”. Karena, tidak terasa adanya ‘ruh pengakuan’ atas ‘perbedaan’ dalam semboyan itu. Semua satu. Semua sama.

Mengapa perbedaan perlu diakui dan diangkat ke permukaan?

Saya teringat dua minggu lalu, bersama istri membacakan buku buat kedua anak saya, Lala (5th) dan Malik (3th), sebelum mereka tidur. Saya ajak mereka berimajinasi. Saya bertanya: “Jika Lala dan Malik menjadi burung, mau melakukan apa?” Saya pikir mereka semua sama. Sama-sama anak2. Sama-sama suka burung. Apa yang terjadi?

Malik langsung menjawab, “Aku mau terbang ke Indonesia, mengambil mainan dinosaurus yang tertinggal.” Kalau Lala mau apa? Lala merengut, marah dan bilang “Lala bukan burung! Lala manusia!” Tapi ini hanya imajinasi saja, La. “Lala ndak mau jadi burung, Lala mau jadi kupu-kupu, karena cantik!”

Disitu saya tersadar, bahwa meskipun mereka sama-sama anak2, yang dengan mudah bisa saja kita abaikan perasaan mereka, namun pada dasarnya MEREKA BERBEDA. Mereka Unik. Dan keunikan mereka menuntut untuk diakui dan difasilitasi. Lala protes jika disamakan dg Malik. Dia menuntut saya untuk memberi ruang bagi dia mengungkapkan perasaannya yang berbeda. Dia menuntut saya memfasilitasi keunikannya.

Harapan saya….

Kita di PPI, tidak berbeda dengan anak-anak itu. Sudah terang dan jelas, bw kita berbeda. Tidak ada yg memungkiri itu. Saya berharap, PPI mendatang tidak lagi merasa ‘tabu’, ’sungkan’, atau ‘ragu’ membicarakan perbedaan-2 yang ada dalam diri kita. Kita akui, kita berbeda agama, keyakinan, minat, hobi, bidang studi, kedewasaan, kebutuhan, dll. Kita akui, ada PD dan deGromiest yg menjadi simbol keunikan perbedaan dalam hal spiritualitas, seperti halnya kita mengakui adanya group di PPI yg suka bola, fulzaal, game, jalan-jalan, dll.

Saya berharap, kita berani bilang bahwa “kita berbeda, dan kita mengenali perbedaan itu”. Dengan mengakui adanya perbedaan, kita akan mengenali diri kita sendiri. Mengenali apa yang diinginkan oleh masing-2 elemen itu. Setelah mengenali, kita bisa memfasilitasi.

Saya khawatir, mengingkari adanya perbedaan, sama saja dengan meingingkari eksistensi elemen2 yang berbeda unik itu. Seperti kasus Lala, saya bisa mematikan daya imajinasi kreatif unik dia. Dan dalam lingkup PPI, pengingkaran tersebut akan terus menimbulkan perasaan yang tidak enak dan tak terungkapkan. Tampak bagus diluar, tapi sakit di dalam.

Saya memimpikan, di milis MIG, elemen2 yang berbeda itu diakui. Mereka diberi ruang untuk berbicara. PD bisa mengumumkan pemikirannya, acara2nya di milis MIG. deGromiest juga bisa menyampaikan info2 kepada anggotanya yg banyak di mlis MIG. Persis spt temen2 yang suka futzal, basket dan bola meramaikan milis MIG. Tanpa ada perasaan sungkan, kuatir diprotes (seperti beberapa tahun lalu), atau yg tersinggung. Karena semua sudah mengakui dan menerima adanya perbedaan. Ini hanya satu contoh pengakuan dan penerimaan atas perbedaan itu.

Pertanyaan saya (untuk direnungkan atau dibahas), bukan hanya buat para kandidat. Tapi buat semua anggota PPIG:

Bisakah kita melebarkan pintu hati kita, untuk menerima perbedaan, mengakuinya, dan kemudian melihat indahnya ‘Bhinneka Tunggal Ika’ di keluarga besar kita ini?

Semoga Tuhan YME merahmati dan selalu menerangi hati dan pikiran kita.

Wassalam,

Ismail Fahmi
- anggota PPI dan mantan ketua deGromiest 2003/2004


Ustadz VS Entertainer

Filed under Catatan Pribadi

“Wah…lucu banget yah tuh ustadz, saya sampe sakit perut nih ketawa-ketawa terus” ujar seorang ibu yang baru saja keluar dari sebuah majelis ta’ lim. “Iya bagus banget tuh ceramahnya…lucu. Kapan2 kita undang lagi yah ke mesjid kita.” sahut ibu2 yang satunya.

Begitu kira-kira komentar sebagian besar jamaah yang pada malam itu hadir di majelis ta’ lim Mesjid Al-Muslih. Memang, malam itu warga setempat terlihat berbondong-bondong mendatangi mesjid Al-Muslih guna memperingati Isra Mi’ raj junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Setelah sebelumnya aparat pemerintah di lingkungan tersebut mengedarkan undangan bahwa pada malam itu akan hadir seorang ustadz yang cukup terkenal untuk memberikan sedikit siraman rohani dalam rangka memperingati hari besar umat Islam itu.

Saya pun tidak mau ketinggalan dalam peringatan hari itu, cari tempat strategis agar bisa melihat sang ustadz “beraksi”.
Hmmmm……setelah melihat langsung, harus saya akui bahwa ustadz tersebut (walaupun saya lebih cenderung menyebutnya penceramah) piawai dalam menarik perhatian jamaah yang hadir pada malam itu. Semua terpingkal-pingkal mendengarkan banyolan-banyolan yang disisipkan sang ustadz dalam ceramahnya.

Jujur saja, pada awalnya saya merasa jengah dengan keadaan ini. Karena saya selalu berfikir ritual agama atau segala sesuatu yang menyangkut peribadahan harus dilaksanan dengan sekhusyuk mungkin, dalam keadaan tenang. Bukannya dengan gelak tawa ataupun hingar bingar. Baik ibadah yang dilakukan sendiri ataupun yang melibatkan orang banyak. Bagi saya hal seperti ini akan mengurasi esensi dari sebuah ibadah tersebut.

Tapi tampaknya hal ini tidak berlaku lagi yah…..setidaknya dalam peringatan hari besar yang mengundang salah satu nara sumber. Sudah seperti seleksi alam, biasanya penceramah yang seperti itu semakin kurang diminati oleh para jamaah. Tentu saja hal ini mengakibatkan mereka semakin jarang diundang untuk mengisi acara siraman rohani. Sebaliknya hanya penceramah-penceramah yang piawai menghidupkan suasana dengan lelucon-lelucon segar lah yang semakin digandrungi.

Saya jadi berfikir, sebenernya seorang penceramah sekarang tidak ada bedanya dengan penghibur (entertainer) donk……Saya tidak tahu, apakah ini disebabkan oleh makin tingginya tingkat stress manusia dalam menjalani hidup, sehingga dalam hal penyegaran rohani pun mereka lebih cenderung memilih yang bisa membuat mereka terhibur dan melepaskan ketegangan syaraf, atau memang ini merupakan pergeseran esensi kita dalam menjalankan ritual agama yah??
Well, jawabannya tentu saja saya serahkan kembali pada masing-masing pribadi. Toh pada akhirnya saya beranggapan hal tersebut sah-sah saja, asalkan tidak menyimpang dari ajaran agama itu sendiri.


Mencumbu Dunia dengan Fisika Partikel

Filed under GPMPS

Hadiah Nobel untuk tahun 2004 baru saja diumumkan Selasa lalu tanggal 5 Oktober 2004 di Stockholm ibukota Swedia. Pemenangnya adalah 3 orang fisikawan dari Amerika berbagi hadiah uang satu juta Swedia kronor (sekitar 1,3 juta dolar AS). Mereka adalah: David Gross (63 tahun, Kavli Institute for Theoretical Physics, University of California, Santa Barbara, CA, USA); David Politzer (53 tahun, California Institute of Technology Pasadena, CA, USA); dan Frank Wilczek (53 tahun, Massachusetts Institute of Technology Cambridge, MA, USA). Mereka berhasil menerangkan bagaimana interaksi dasar antar partikel penyusun materi (quark) berinteraksi satu sama lain dalam strong interaction.

Ntah kebetulan atau memang kami sudah mendapatkan feeling, pada Minggu 26 September 04 yang lalu saya memilih topik Fisika Partikel dalam Kuliah Umum gpmps (gerombolan pencicip makanan pencinta sains) – sebuah perkumpulan yang mengaku sebagai gerakan bawah tanah dan underbow-nya deGromiest, organisasi muslim Indonesia di kota Groningen Belanda. Topik ini membahas cukup detil perihal partikel penyusun materi dan interaksinya, yang menjadi topik pemenang Nobel Fisika tahun ini. Materi kuliah umum gpmps itu sendiri terpaksa telat dirilis tergeser oleh prioritas kesibukan yang lain.

Baiklah, mari saya ajak bertemu dengan Fisika Partikel, yang juga baru saya kenal Ramadhan tahun lalu. Perkenalan yang menggetarkan dawai asmara dan melahirkan cinta pertama saya pada dunia kuantum.

SILAKAN MENIKMATI, tidak lupa dengan secangkir kopi hanget! (Yang dinikmati kopi angetnya aja? hahaha)

PS:
(1) Yang saya sajikan di sini adalah sari pati dari artikel aslinya yang bisa rekan-rekan baca di febdian.net (http://febdian.net/content.php?article.29). Di sana yang pasti informasinya lebih lengkap juga disertai gambar-gambar yang membantu pemahaman.
(2) Terimakasih khusus pada Begawan kita, Pak Zeily yang sudi dan tulus menurunkan secuil ilmu menulisnya.

—————————————————————-
MENCUMBU DUNIA DENGAN FISIKA PARTIKEL

Apa itu Fisika Partikel

Fisika Partikel adalah fenomena alam yang terjadi pada level subatomik. Objektif dari Fisika Partikel adalah mencari jawaban atas dua pertanyaan kunci: (1) Apa elemen fundamental dari material, dan (2) bagaimana mereka berinteraksi. Ilmu dan pemahamanan ini kemudian disimpulkan dalam sebuah Model Standar (Standard Model).

Elemen Fundamental

Elemen fundamental didefenisikan seabgai elemen dasar penyusun alam semesta, disebut juga elementary particle atau building block particle karena kombinasi partikel inilah materi tersusun. Ini ibarat batu bata yang menyusun rumah.

Sejak jaman dahulu orang-orang sudah memikirkan perihal elemen fundamental ini. Orang sempat berpikir bahwa air, api, tanah, dan udara adalah element fundamental yang membangun alam semesta. Beberapa aliran malah menambahkan dengan elemen kematian dan kehidupan.

Namun tentu saja hal diatas adalah mitos belaka. Api jelas adalah bentuk energi, sementara air, tanah, dan udara adalah materi itu sendiri. Kematian dan kehidupan adalah diluar konteks fisika sebagai salah satu disiplin ilmu sains. Walau demikian, ide dari pencarian elemen fundamental itu adalah sebuah hal yang jenius yang patut dicermati dan diseriusi.

[i]Jadi, apa dong element fundamental alam semesta ini?[/i]

Feymnan, seorang pemain drum tradisional yang diganjar hadiah Nobel 1965 karena kecintaannya bermain-main dengan Fisika, pernah berseloroh dihadapan para mahasiswa tingkat 1 Caltech:

“Jika seandainya kehancuran dahsyat pada peradapan & pengetahuan manusia, dan cuma hanya 1 kalimat pendek yang bisa diwariskan ke generasi selanjutnya… Apakah kalimat pendek yang paling informatif itu? Jawaban: Teori atom, bahwa materi terbentuk oleh atom-atom!”.

Feyman sama sekali tidak salah. Pengetahuan bahwa materi tersusun oleh atom-atom akan memudahan generasi berikutnya yang kehilangan semua arsip-arsip ilmu kita untuk segera tanggap: bahwa untuk memahami sifat-sifat materi tersebut secara lengkap maka harus dipelajari interaksi antar atom yang menyusunnya. Dengan demikian, teknologi yang hancur bisa dipulihkan dalam waktu relatif lebih singkat ketimbang 100 tahun lebih evolusi komputer menjadi sebuah mesin handal seperti yang kita punya sekarang.

Namun sayangnya, Atom itu bukanlah elemen fundamental. Seratus enam puluh satu tahun setelah John Dalton mengeluarkan 3 postulat teori atomnya pada 1803, Murray Gell-mann mengklasifikasi prilaku ratusan partikel sebagai kombinasi dari elemen fundamental yang bernama: QUARK. Quark bersama elekron kemudian menjadi 2 partikel pembentuk materi pertama yang ditemukan.

Eksistensi Anti Partikel

Anti partikel pertama kali muncul dalam solusi Persamaan Dirac, persamaan yang mengawinkan teori relativitas khusus dengan mekanika kuantum. Dipostulatkan bahwa setiap partikel memiliki anti partikel, memiliki sifat yang sama kecuali muatannya berbeda. Misalnya positron adalah anti partikel dari elektron, memiliki massa, ukuran, mematuhi semua hukum konservasi yang juga dipatuhi elektron, namun muatannya adalah positif.

Apa yang terjadi apa bila partikel bertemu dengan anti partikelnya? Inilah yang disebut proses annihiliation: partikel + Anti partikel –> Energi. Energi ini biasanya dibawa oleh partikel khusus (partikel ini adalah exchange particle untuk masing-masing interaksi), misalnya dalam conton elektron + positron –> photon (disebut juga pair annihilation). Sesuai hukum kekekalan energi, maka photon ini juga akan bisa menghasilkan elektron + postiron (disebut pair production).

Keberadaan anti partikel itu pertama kali dibuktikan oleh Carl Anderson pada tahun 1932 di Fermilab, Chicago Amerika Serikat. Anderson menembakkan partikel bermuatan ke dalam bubble chamber yang berisi superheated liqud dan diberi medan magnet, sehingga partikel tersebut akan meninggalkan jejak. Partikel dan Antinya akan bergerak pada arah belawanan seperti terlihat pada gambar 6, yang merupakan hasil pekerjaan Anderson. Carl Anderson meraih penghargaan Nobel pada tahun 1935 atas sumbangannya itu.

Pada awal penciptaan alam semesta, jumlah partikel dengan anti partikelnya adalah sama, mereka berada dalam keadaan setimbang. Sekarang, jumlah anti partikel jauh lebih sedikit daripada partikelnya. Inilah yang disebut dengan “matter – anti matter problem”. Kenapa? Ya, kenapa ya? Ini adalah salah satu misteri serius yang membuat fisikawan (terutama astrofisis) ga bisa hidup tenang, tapi di sisi lain menjadi lahan buat cari nasi.

Konsep Partikel Pembangun Materi

Melanjutkan cerita pencarian elemen fundamental, sekarang kita sudah bisa meletakkan konsep partikel pembangun materi. Quark sampai saat ini dipercaya sebagai satu dari dua partikel elementer ini. Quark ini memiliki 6 tipe atau flavors (dikategorikan dalam 3 famili atau generasi): up/down, charm/strange, dan top/down. Semua materi di alam semesta kita dibentuk oleh kombinasi quarks ini: kombinasi quark-anti quark membentuk meson, dan tiga kombinasi quark membentuk baryon. Baru-baru ini ditemukan bukti keberadaan lima kombinasi quark membentuk partikel, disebut jenis pentaquark. Proton dan Neutron, dua partikel subatom yang kita kenal, adalah contoh jenis baryon.

Selain quark, partikel dasar yang lainnya adalah lepton. Sebagaimana quark, lepton juga memiliki 6 tipe (juga dikelompokkan dalam 3 famili atau generasi): elektron/elektron-neutrino, muon/muon-neutrino, dan tau/tau-neutrino. Kombinasi proton-neutron-elektron membentuk atom, kombinasi atom membentuk molekul, kumpulan molekul membentuk senyawa atau campuran ataupun larutan yang secara kasat mata bisa kita lihat.

Konsep Interaksi Fundamental Alam Semesta

Fenomena interaksi antar partikel dijelaskan dengan keberadaan partikel pembawa interaksi yang saling dipertukarkan oleh partikel-partikel terlibat.

Untuk menjelaskan bagaimana interaksi terjadi, bayangkan dua orang berada dalam perahu A dan B yang sedang mengapung di atas air. Apa yang terjadi ketika dua orang ini saling melempar dan menerima bola? mereka saling menjauh. Fenomena ini dijelaskan sederhana oleh Hukum III Newton Aksi-Reaksi. Interaksi antar partikel bisa dijelaskan dari fenomena yang sama: partikel A dan B berinteraksi dengan saling mempertukarkan sebuah partikel; partikel ini disebut sebagai exchange particle.

Ada empat interaksi fundemental: interaksi gravitasi (gravitational interaction), interaksi elektromagnetik (electromagnetic interaction), interaksi lemah (weak interaction), dan interaksi kuat (strong interaction). Setiap interaksi memiliki partikel pembawa interaksi khusus, yang cuma bisa bekerja spesifik pada interaksi tertentu. Kita akan bahas secara singkat satu per persatu masing-masing interaksi tersebut.

Interaksi gravitasi membuat benda jatuh ke tanah dan juga pegerakan planet dan galaksi. Makin masif benda maka makin besar dia merasakan interaksi gravitasi; sebaliknya makin jauh jarak dua benda maka makin berkurang interaksi gravitasi bekerja. Karena itulah, pada skala mikrokosmik (level partikel) maka interaksi ini bisa diabaikan. Interaksi gravitasi dijelaskan oleh Teori Relativitas Umum Einstein. Partikel pembawa interaksi ini adalah graviton, eksis secara teori namun belum ditemukan sejauh ini dalam eksperimen.

Interaksi elektromagnetik menyebabkan semua fenomena menyangkut listrik dan magnetik; nyaris seluruh teknologi yang ada sekarang berdasarkan interaksi ini. Interaksi elektromagnetik dijelaskan oleh Quantum Electrodynamics (QED), dimana Richard Feynman, Julian Schwinger, dan Sin-itiro Tomonaga berbagi hadiah Nobel untuk hal ini di tahun 1965. Sejauh ini, QED adalah teori kuantum yang paling sukses yang pernah ada; kecocokannya dengan eksperimen ibarat mengukur jarak Bandung-Surabaya dengan ketelitian helaian rambut. Partikel pembawa interaksi adalah foton, atau partikel cahaya, yang dipostulatkan oleh Max Planck pada awal 1900 dan ditemukan oleh Einstein pada 1905 lewat percobaan efek fotoelektriknya. Einstein meraih Nobel pada 1922 untuk percobaannya ini.

Interaksi lemah terjadi pada skala subatomik, bertanggung jawab pada peluruhan radioaktif seperti peluruhan beta. Sheldon Glashow, Abdus Salam, dan Steven Weinberg (hadiah nobel 1979) membuat teori umum untuk interaksi lemah dan secara menakjubkan berhasil membuat teori unifikasi interaksi elektromagnetik dan weak: Electroweak Unification Theory. Trio ini juga memprediksi partike W dan Z sebagai exchange particle dalam interaksi lemah, yang kemudian ditemukan 3 tahun kemudian oleh Carlo Rubbia dan Simon van der Meer (hadiah Nobel 1984).

Interaksi kuat juga terjadi pada skala subatomik namun cuma dirasakan oleh quark. Nobel Fisika 2004 jatuh pada tema ini; Trio nobel 2004 mempublikasikan temuan mereka pada tahun 1973 perihal gluon (dari kata glue atau lem) sebagai exchange particle dalam interaksi kuat. Temuan ini memulai sebuah teori baru dalam teori medan kuantum: Quantum Chromodynamic (QCD), teori khusus untuk mempelajari fenomena dalam interaksi kuat.

Gluon ini memiliki sifat yang berbeda dengan partikel pembawa interaksi lainnya, mereka bisa berinteraksi sesama mereka. Interaksi antar gluon ini berkurang ketika jarak antar quark berkurang, akibatnya interaksi antar quark berkurang. (Ini tentu berbanding terbalik dengan interaksi elektromagnetik yang berbanding terbalik dengan jarak antar partikel). Sebaliknya, jika jarak jarak antar quark bertambah maka interaksi antar gluon meningkat, sehingga interaksi antar quark bertambah. Ini membuat quark tidak bisa dipindahkan dari inti atom; hal ini pula-lah yang membuat proton-proton tidak saling tolak-menolak dalam inti atom walau sama-sama bermuatan positif. Sifat ini disebut “kebebasan asimptotik”.

Sifat lain dari quark ini dalam teori QCD adalah nomor kuantum “warna” – sebagaimana pelabelan spdf pada nomor kuantum elektron. Warna itu sendiri adalah identitas quark (ibarat muatan pada elektromagnetik), yang membuat quark mematuhi Larangan Pauli: tidak ada partikel yang identik berada pada level energi yang sama. Proton misalnya, terbuat dari 2 quark up dan 1 quark down, namun 2 quark up ini dipastikan memiliki warna yang berbeda. Jika tidak, maka Larangan Pauli dilanggar.

Sifat-sifat ini menjelaskan kenapa quark tidak pernah diamati sebagai partikel bebas (free particle). Keterjebakannya bersama quark yang lain disebut confinement of quark. Salah satu cara melihat confinement of quark ini disebut “bag model”. Bayangkan para quark ini berada dalam satu tas plastik yang elastis, dimana para quarks bergerak bebas di dalamnya, selama kita tidak mencoba memisahkan mereka. Tapi ketika kita mencoba menarik satu quark keluar, tas plastik itu merenggang dan bertahan (agar tidak sobek). Ketika pemberian energi untuk memisahkan mereka makin besar, yang terjadi justru terbentuknya partikel jenis meson! Gimana, keren kan?

Beberapa eksperimen sudah menunjukkan banyak kesepakatan dengan ramalan QCD, dan yang paling penting adalah ramalan teori QCD terhadap konstanta kopling (simbol: alfa).

Model Standar dan Unifikasi Semua Teori

Semua ilmu dan pemahaman Fisika Partikel ini dirangkum dalam sebuah model yang menggambarkan partikel dasar dan interaksinya: Model Standar. Sampai saat ini sudah banyak fenomena partikel yang sudah dimengerti lewat model ini. Ratusan partikel sudah diprediksi berserta sifat-sifatnya, dan banyak sekali yang cocok dengan hasil eksperimen.

Temuan Gross dan kawan-kawan semakin mendekatkan impian para ahli fisika teoritis seluruh dunia: membuat satu teori untuk menjelaskan 3 interaksi dasar partikel (elektromagnetik, lemah, dan kuat) yaitu Teori Unifikasi Agung (atau Grand Unified Theory, GUT).

Teori QCD, bersama-sama teori QED dan teori unifikasi Electroweak, semakin menyempurnakan Model Standar ini. Ketiga teori ini menunjukkan sebuah kemungkinan adanya satu teori bersama (GUT) pada partikel dengan energi 10E15 GeV (10 pangkat 15 GeV, 1 GeV = 10E9 eV). Angka ini adalah sangat ekstrim tinggi bahkan dilingkungan Fisika Energi Tinggi (High Energy Physics) sekalipun! Pemercerpat partikel terbaik buatan manusia hanya sanggup menghasilkan partikel dengan energi orde MeV (10E6 eV).

Namun kalkulasi ini memerlukan satu asumsi lagi: supersimetri partikel. Jika asumsi ini terbukti, maka Teori unifikasi agung ini adalah langkah terakhir untuk menyatukan interaksi terakhir, interaksi graviatasi, dalam satu teori: Theory of Everything (ToE), atau Teori Segalanya, impian Einstein semenjak 1920 yang tidak pernah dia capai sampai akhir hayatnya.

Penutup

Awan tergulung, O Tuan, di hari senja,
Nampak berbalam biru warnanya,
Jumpa pertama, O Tuan, begitu menggoda
Takkan kulupa sepanjang Masa

Ku sulam kasih berbenang emas
Biar ga ngerti yang penting ikhlas!

—————————————————————-
Dianjurkan dengan sangat keras bagi rekan-rekan untuk menengok artikel asli, setidak-tidaknya untuk melihat ilustrasi yang tersedia. Ilustrasi-ilustrasi itu insyaallah sangat membantu pemahaman artikel ini, terutama mengenai skenario unifikasi fundemantal interaksi.

Artikel asli di: http://febdian.net/content.php?article.29


Doa Khatam Quran

Filed under Renungan & Hikmah

Allahummarhamni Bil Quran
Waj’alhu lii Imaaman Wa Nuuran Wa Huda Wa Rohmah
Allahumma Dzakkirni Minhu maa Nasiitu
Wa’allimni Minhu maa Jahiiltu
Warzuqnii Tilaawatahu
Aana Al Laili Wa Aana An Nahaari
Waj’alhu lii Hujjatan
Yaa Rabbal ‘Alamin

Ya Allah Kasih Sayangilah daku
dengan sebab AlQuran ini
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai pemimpin
sebagai cahaya
sebagai petunjuk
dan sebagai rahmat bagiku

Ya Allah ingatkanlah daku
apa-apa yang aku lupa dalam AlQuran
yang telah Kau jelaskan
dan ajarilah apa-apa yang aku belum mengetahui
Dan karuniailah daku
selalu sempat membaca AlQuran
pada malam dan siang hari
Dan jadikanlah AlQuran ini
sebagai hujjah bagiku

Ya Allah Tuhan semesta alam


Sound of a mother

Filed under Catatan Pribadi

I go to the hills when my heart is lonely
I know I will hear what I’ve heard before
My heart will be blessed with the sound of music
And I’ll sing once more

Maria: “I can’t seem to stop singing whatever I am! And whats worse, I can’t seem to stop saying things-anything and everything I think and feel!

“Sound of music”, aku suka film ini. Mengingatkanku ketika kegelisahan itu muncul dalam benakku. Kegelisahan yang sama dengan Maria ketika dia merasa berbeda dari teman-temannya di biara, ketika dia selalu ingin bernyanyi, dan tak bisa berhenti berbicara. Suatu hal yang tabu dilakukan oleh seorang wanita calon biarawati.

Kegelisahan yang sama?…ya kegelisahan yang membuat aku merasa berbeda dari para ibu pada umumnya. Aku sangat-sangat bersyukur ketika Allah memberiku bayi mungil yang terlahir dari rahimku. Aku nikmati peran sebagai ibu dengan segala rasa syukur yang ada. Sempat terbersit dalam batin untuk tidak saja cuti kerja tapi juga berhenti. Namun, hari demi hari, minggu demi minggu dan bulan demi bulan kulalui, semuanya menjadi berbeda. Kenapa aku merasa bosan, kenapa aku merasa jenuh, kenapa aku menjadi sensitif, kenapa aku jadi marah-marah melulu. Semua rutinitas ini seperti membuatku ‘mati’. Aku rindu bertemu pasienku, aku rindu mendengarkan seminar kedokteran, aku rindu kawan-kawanku. Aku rindu semua…kerinduan yang dalam untuk selalu berpikir dan bertemu dengan sesuatu yang baru.

Mengapa perasaan ini muncul dan terus menderaku ya Allah, salahkah aku? Bukan istri yang sholeh kah aku? Ibu yang jahat kah aku sehingga tidak bisa menikmati peran yang baru saja kujalani beberapa bulan? Wanita lain bisa menikmati peran ini kenapa aku tidak? Apakah aku wanita yang terlahir dengan abnormalitas tinggi sehingga aku merasakan semua ini? Lantas, kenapa pula Kau biarkan aku diterima di Fakultas Kedokteran? Kenapa Kau luluskan semua keinginanku untuk selalu mengikuti kegiatan ini dan itu. Ketika kawan-kawanku sibuk belajar di rumah, aku malah sibuk bolak-balik Jakarta-Bandung mencari dana, bersama teman-teman seperjuangan menculik mobil bapakku dan membawanya ke Jakarta tanpa ijin. Saat pihak Fakultas tak mengijinkan pergi liburan dengan bis Fakultas sewaktu semua peserta sudah kadung menunggu, aku dan teman-teman nekat pergi . Lagi-lagi ‘menculik’ beberapa mobil dan tak satupun mobil dikendarai pria, hanya untuk sekedar menikmati pangandaran bersama teman-teman. Banyak orang geleng-geleng kepala, tapi kami selalu bilang inilah yang namanya hidup, seru, penuh warna, penuh tantangan dan penuh kejutan.

Nyatanya lagi, semua itu sangat membantu ketika aku menjalani profesiku. Aku bertemu dengan banyak orang, banyak karakter, mengambil keputusan ketika bayi dihadapanku sudah membiru dan bernafas satu-satu, harus mengkhitan seorang anak yang penisnya terjepit resleting tanpa ada siapapun yang membantuku. Hm..semuanya kadang membuat adrenalin meningkat, but… I love it and enjoy it.

Aku tidak pernah meminta semua ini Tuhan. Salahkah aku ketika semua perasaan itu menghantuiku, abnormalkah aku Tuhan? Aku cinta keluargaku, aku cinta suami dan anak-anakku, aku syukuri semuanya. Bayi mungil ini amanahMu ya Allah, aku tidak mau menyia-nyiakannya. Tapi mengapa ??? Hmmh….jangan-jangan…aku memang betul-betul abnormal. Kalau begitu aku harus berubah, aku harus menghilangkan semua perasaan itu. Ya…aku harus berubah!.

Lalu, aku pergi ke toko buku, aku ikuti semua seminar tentang pengasuhan anak yang terbaru, dan aku coba untuk menerapkannya pada anakku. Semua berkata sama, bersyukurlah telah menjadi ibu yang bisa menemani masa golden periode anak. Bersyukurlah dan bersyukur itu lah yang aku coba lakukan. Namun mengapa perasaan rindu itu tak kunjung hilang Tuhan, perasaan itu datang dan pergi bersama warna-warninya kehidupan. Aku ingin melenyapkannya Tuhan! kenapa aku tak bisa???

Aku percaya, tidak ada sesuatupun yang terjadi karena kebetulan di dunia ini. Aku kembali mencari, dan Allah yang Maha Baik memberikan aku sebuah jawaban. Ternyata aku bukan wanita yang abnormal, ternyata bukan hanya aku yang gelisah, ternyata… aku tidak sendirian.. Aku bertemu dengan buku itu, buku ‘Ketika Ibu Harus Memilih’ milik Susan Chira. Dia berkata dalam bukunya “Selama bertahun-tahun saya mengira hanya bisa memilih salah satu : pekerjaan atau anak-anak. Dan saya membiarkan kekhawatiran yang muncul itu menekan hasrat saya untuk menjadi seorang ibu. Kemanapun saya menengok, dan apapun yang saya baca dan hampir semua orang yang saya ajak bicara mengatakan bahwa saya menginginkan sesuatu yang mustahil-yakni bekerja dengan baik sekaligus menjadi seorang ibu yang baik. Saya terus berusaha mengabaikan suara hati saya hampir sepanjang hidup…”

Backcover buku itu berbicara, ‘Anda tak perlu heran jika kegelisahan Susan Chira tersebut juga menjadi kegelisahan anda. Para ibu masa kini memang seolah serba salah. Masyarakat cenderung menyepelekan ibu yang tinggal di rumah, namun disisi lain juga menuduh para ibu bekerja telah menelantarkan anak-anak mereka. Dalam buku ini, wartawan senior New York Times, Susan Chira, menyajikan berbagai fakta dan hasil penelitian yang membuatnya mampu mengikis kegelisahan itu, membuat perspektif baru yang menjawab kebimbangan para ibu: bahwa bekerja atau tidak, seorang ibu tetap bisa menjadi ibu yang baik ketika kebahagiaan dan kepuasan batinnya sendiri tak terabaikan.’

Eureka! Begitu rasanya ketika membaca buku ini, seperti mendapatkan pembenaran untuk bisa melenggang kangkung pergi bekerja. Namun ternyata teman-teman yang kontra malah berkata sebaliknya, ‘Dia itu feminis Nes, bukan muslim, kenapa kamu begitu saja percaya dengan penelitiannya’. Hmh..lagi-lagi kepala ini dibuat pusing tujuh keliling. Hanya doa yang aku bisa panjatkan ya Allah semoga Engkau memberi jawaban. Beberapa buku aku cari lagi, entah mengapa semua buku yang aku temui bersuara sama, seorang ibu harus bahagia, tidak merasa bersalah atau menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan batinnya agar bisa mendidik serta membesarkan anak-anaknya dengan baik, itu kata kuncinya.

Perenungan yang dalam, tidak ingin kehilangan masa emas anakku yang tak kan terulang, membuat aku memutuskan untuk tidak PTT, tetapi tetap bekerja pagi-sore di klinik dekat rumah , dan sempat juga di sebuah rumah sakit. Semua membuatku puas, anak-anakku tidak terlantar, dan batinku terpuaskan. Sampai akhirnya suamiku membawa berita bahwa dia akan mengajakku ke negeri Belanda.

Wow senang dan bangga tentu saja, bisa melihat dunia lain yang diimpikan oleh banyak wanita di negeriku. Tetapi aku kembali dihadapkan pada sebuah kegelisahan, siapkah aku meninggalkan pekerjaanku dan semua milikku yang aku cintai di tanah airku? Beranikah aku mengambil sebuah keputusan untuk lebih memilih keluarga ketimbang karir, kepuasan batin, dan keinginan untuk melanjutkan sekolah yang selalu mengembara dalam kepalaku? Diskusi panjang dan perenungan yang dalam kembali aku lakukan, sambil berdoa kepada Tuhan semoga aku diberi jalan terang untuk memilih.

Sekian lama berpisah dengan suamiku akibat rumitnya urusan visa merupakan jawaban Tuhan. Ternyata apapun yang terjadi tidak ada yang dapat memisahkan kami. Janji hidup bersama didepanNya, dan pemberian amanah dua bocah mungil yang masih dalam periode emas ini menjadi alasan yang tak terbantah bagiku untuk tetap pergi kemanapun suamiku pergi. “Rumahku adalah dimana suamiku berada “. Itulah jawaban yang diberikan Tuhan dari segala penderitaan yang muncul ketika aku harus berpisah dengan suamiku. Inilah jalan yang telah diberikan Allah padaku.

Aku akan menjadi seorang ibu rumah tangga penuh di negeri orang, of course tanpa pembantu, dan aku akan meninggalkan pekerjaanku. Itu adalah keputusan yang telah aku ambil, aku harus ikhlas, aku harus bersyukur, dan aku harus siap menanggung semua akibat dari pilihanku. Kuncinya adalah aku harus bahagia, tidak merasa menyesal, dan tidak mengabaikan kepuasan bathinku. Tapi…mungkinkah itu terjadi bila aku sama sekali tidak melakukan pekerjaan lain selain mengurus rumah dan keluarga?. Kembali jalan terang itu datang. Tiba-tiba saja aku ingin belajar menulis, dan menulislah aku. Tiba-tiba lagi tulisan pertamaku langsung dimuat di koran PR, bahagia tentu. Aku seperti mendapatkan petunjuk inilah cara yang dapat membuatku tidak ‘mati’, dan tetap aktual.

Betulkah aku sudah siap? Oke, aku coba bertanya kepada sahabatku yang juga bernasib sama, yang satu di Jepang, satulagi di Inggris. Ternyata mereka menjawab sama..’tidak mudah Nes walaupun akhirnya bisa…’ Aku cuma bisa bertanya dan bergumam dalam hati ‘Masa sih, kan asik tinggal di negeri orang, apa susahnya, diikhlas-in aja dong, ini kan pekerjaan mulia, kenapa sih dibuat susah, dinikmati aja kenapa, mestinya bersyukur dong, oranglain pengen lho kaya kalian…’ dan mereka menjawab sama..’Ya coba aja deh Nes, nggak akan bisa ngerasain deh kalo nggak ngalamin sendiri…’

Oh God, kenapa mereka bilang begitu, pasti berat, apalagi dulu keduanya terkenal cerdas, yang di Inggris bahkan sudah mengeluarkan puluhan juta dan sempat ‘disiksa’ selama tahun pertama melanjutkan studi spesialis di bagian Anak. Kalau begitu aku musti siapkan mental, aku benar-benar harus bisa mengikhlaskan dan mensyukuri semuanya supaya tidak mengalami hal yang sama. ‘Aku pasti bisa, apalagi aku sudah membawa bekal menulis untuk tetap ‘hidup’, mereka pergi tanpa persiapan itu toh’, begitu pikirku.

Here I am now, in Groningen-Netherland-Europa, tempat yang membuat iri banyak orang. Seminggu, dua minggu, sebulan dan kini.. telah 3 bulan lamanya aku berada disini. Menyesalkah aku? Tidak bahagiakah aku, tidak bersyukurkah aku? Rasanya aku akan menjadi orang yang paling kufur nikmat bila aku melakukannya.

Berbelitnya urusan visa yang akhirnya tuntas, dan perpisahan mencekam yang tak lagi kami rasakan sungguh suatu anugrah buatku. Namun aku tidak bisa pungkiri bahwa yang dikatakan sahabat-sahabatku benar adanya. Berbicara syukur dan berbicara ikhlas menasehati sahabat-sahabatku dulu, untuk mau menerima dan menikmati perannya memang perkara mudah. Tetapi nyatanya, ketika merasakannya sendiri, aku baru benar-benar paham. Ternyata memang tidak mudah untuk menjalani proses ini walaupun aku sudah berusaha untuk menyiapkan diri. Tanpa bermaksud untuk berkeluh kesah atau meminta empati, dan bukan pula hendak menakut-nakuti, namun inilah kenyataan yang aku dan ‘sesamaku’ hadapi.

Tidak selamanya manusia berada diatas, warna-warni akan selalu muncul dalam kehidupan manusia, kadang gelap kadang terang. Mengapa semua menjadi tidak mudah? Karena dikala warna indah membangunkan hariku, aku betul-betul menikmati keberadaanku menjadi seorang ibu tanpa pembantu. Tetapi, dikala warna gelap menyelimuti diriku, semua kenangan manis tentang kepuasan batin itu menari-nari dikepalaku, menyesakkan dada dan memekikkan telinga.

‘Kenapa tidak kau usir saja mereka!’ begitu bisik hatiku, dan aku mencoba mengusirnya, mengeluarkan semua teori dari buku dan seminar yang pernah aku ikuti. Meneguhkan diri betapa mulianya tugas ini, betapa bersyukurnya aku, dan berbagai peneguhan positif lainnya. Berhasil kah aku? Hmm.. Aku hanya bisa berusaha. Semua rasa itu bukan milikku, aku tidak pernah meminta rasa itu datang, aku hanya wadah, yang cuma bisa mengembalikan semuanya kepada yang Maha Memiliki Rasa. Aku justru bersyukur ketika masih bisa menikmati rasa itu, karena begitulah hidup yang sebenarnya…hidup yang penuh warna. Apa jadinya bila hanya terang yang menyelimuti diriku, aku tak akan pernah jatuh dan tak akan pernah belajar. Toh memang hidup seperti inilah yang aku suka, penuh kejutan, tantangan dan selalu berwarna.

Belajar dan berproses memang tak kenal kata akhir. Kini, aku sedang belajar dan belajar lagi untuk menjadi ibu rumah tangga penuh yang tetap bisa menjaga kebahagiaan dan kepuasan batinku sendiri.‘Kenapa pula kau harus egois mementingkan kepuasan batinmu sendiri’ begitu bisik hatiku suatu hari. Suara hati lain menjawab, ‘Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri, aku hanya manusia, yang terlahir dengan segala masa lalu yang membuatku merasa ‘mati’ dikala aku tidak dapat memuaskan batinku. Tapi wanita lain tak pernah bicara tentang kepuasan batin, toh mereka bisa dan mereka tetap baik-baik saja, kenapa aku tidak?’ begitu bisik batinku lagi. Apakah aku salah? Apakah wanita lain itu salah?.

Hmh semua membuatku pening. Aku tidak tahu, namun satu hal yang aku yakini dan aku ingat selalu, guru spiritualku* pernah berkata “Tidak ada yang salah di dunia ini, semua telah berjalan sesuai dengan skenario-Nya. Perbedaan adalah rahmat, dunia tak akan tampak indah bila tak berwarna. Itulah kehidupan, manusia diciptakan dengan berbagai sifat, kondisi dan latar belakang yang berbeda sesuai dengan tugasnya masing-masing. Tinggal hendak bagaimana manusia menyikapinya dan menjalankannya, apakah ingin membuat semua menjadi satu warna, menjadi hitam-putih, menjadi benar-salah, atau tetap indah sesuai dengan kehendakNya. Be wise Nes…” begitu kata guruku…

Dengan segala rasa cinta yang ada, kupersembahkan tulisan ini untuk seorang suami yang telah sangat-sangat mengerti aku dan sangat mendukungku.

Ps: Buat mbak Diana, semua orang tentunya punya idealisme masing-masing. Untukku, aku hanya ingin mengemban amanah ini dengan memberikan segala yang terbaik yang aku bisa buat anak-anakku. Bukan untuk menyuruh mereka bersaing dan menjadikan mereka nomor satu, tetapi semata-mata untuk membuat mereka mengenal diri mereka sendiri dan menjadi diri sendiri. Ibu bukanlah tempat untuk bergantung, tetapi tempat yang akan membuat anak-anaknya tidak lagi bergantung. Dan sebuah anugrah buatku bila aku bisa mengantarkan anak-anakku hanya bergantung kepada Allah dan kepada diri mereka sendiri….

*Guru spiritual = pak kyai


Tulisan ini adalah tulisan Populer Sains yang menyertai presentasi “Kuliah Umum” yang berlangsung hari Minggu tanggal 12 September 2004 di Concordiastraat 67.

Hampir rata-rata kita tertarik untuk mengamati alam semesta. Kalau malam hari kepala lagi mumet, coba lah keluar. Kalau beruntung langit bersih, maka akan terlihat gemerlab bintang-bintang di angkasa. Berbaring dan nikmatilah… Pikiran jadi tenang, lupa dengan mumetnya dan berganti pada pengembarangan imajinasi… Apakah kita sendiri di sini? Di mana bintang-bintang itu? Adalah kehidupan di sana? Dari mana mereka berasal? Kalau mereka begitu banyak, seberapa besar alam ini?

Selengkapnya…


If tomorrow never comes

Filed under Renungan & Hikmah

Ini bukan lagu yang dinyanyikan Gary Barlow, tapi isi dari sebuah film yang ditayangkan di Net5 pada malam senin, 29 Agustus 2004. Alur ceritanya biasa saja, kemampuan akting pemainnya juga,kalau tidak dibilang pas-pasan, cukup bagus. Namun ada suatu pesan moral yang sangat bagus rasanya untuk diperhatikan.

Phil adalah seorang reporter televisi yang cukup terkenal. Ia dikenal sebagai pekerja keras yang memiliki dedikasi tinggi pada pekerjaannya. Namun, seperti halnya para workholic, Phil sangat terlarut dalam bidangnya sehingga melupakan kehidupan sosial disekitarnya. Semua yang berkaitan dengan hidupnya dijalani secara profesional, dilihat dari untung rugi, usaha untuk memanipulasi orang lain dan lingkungan untuk kepentingan pribadi. Egosentris, ya, itu gambaran singkatnya.

Hidupnya berjalan sangat lancar hingga satu pagi, saat sedang melakukan liputan di sebuah desa terpencil, sesudah terjaga dari tidurnya, ia menemukan bahwa apa yang dia sedang jalani sama persis dengan apa yang terjadi kemarin, de ja vu fikirnya. Satu kali, dua kali, berikutnya, Phil mulai merasa bosan dan kesal dengan apa yang terjadi. Setiap jam alarm membangunkannya setiap jam enam pagi, sudah terbayang di depan mata, apa yang akan terjadi setiap detik berikutnya. Dalam suatu diskusi di kedai minum pada suatu malam, ia memutuskan untuk melakukan apa yang sesuka hati, seperti apa yang ia inginkan. Hasilnya? Bosan. Hingga tiba pada satu saat dimana Phil frustasi dan memilih jalan nekat: bunuh diri. Haislnya? sama saja, ia bangun dikeesokan-harinya dengan keadaan yang sama: frustasi. Akhirnya, Phil mencoba untuk bisa menghadapi kondisi ini, caranya? Mencoba membuat hari-harinya menyenangkan, bersikap baik dengan - dan membantu orang lain. Walhasil, semua orang menyukainya, Phil menjadi orang yang popular, rekan kerja wanitanya (yang selama ini ia sukai namun terlalu egois untuk mengakuinya) menjadi luluh hatinya dan ikut memperebutkannya. Pada saat itulah keajaiban terjadi, hari berlanjut kekeesokan-harinya.

Ceritanya biasa saja, toh? Namun sepanjang menonton film itu terus selalu terfikir: bagaimana kalau hal hari berlanjut pada saat Phil melakukan hal-hal yang konyol, memalukan, membuatnya dibenci oleh orang lain. Phew …

Phil orang yang beruntung. Berulang kali ia dapat kesempatan untuk memperbaiki hidupnya, membuat harinya menjadi lebih berarti. Bagaimana dengan kehidupan kita, kehidupan nyata, yang tidak mengenal istilah “break” dan “repeat”. Bagaimana kalau kita menyakiti orang lain, sesuatu yang buruk, bahkan sangat buruk. Bagaimana kalau besok tidak datang, bukan karena hari berulang, tapi … Phil perlu ratusan kali untuk menyadari, bahwa membuat hari ini cukup berharga untuk dilanjutkan ke hari berikutnya. Bagaimana dengan kehidupan kita, yang bahkan tidak ada kali ke dua untuk menyadarinya. Ketika sadar, kesempatan itu telah berlalu. Jadi terfikir, mungkin ini maksudnya, kita harus selalu melakukan kebaikan. Hari tidak akan berulang, hanya melangkah maju.

If tomorrow never comes, jika esok tidak akan datang, pertanyaan yang akan hadir setiap hari, setiap kali kita akan melakukan suatu aktivitas, setiap kali sebelum tidur.

Jika hari ini dan hari-hari yang telah dilalui begitu indah teringat dan penuh dengan kebahagiaan, penuh dengan tindakan baik yang membuat hidup ini bermakna, tidak ada lagi.

If tomorrow never comes, I don’t care
I did something good today
I am something today


Ibu saya dan PKS

Filed under Intriguing Idea

Pagi pagi telpon nyokap di palembang… cerita sana sana, eh nyangkut ke masalah pilpres….usut punya usut,

ternyata doi juga pilih PKS.. nah lohhhh.. kirain dia pilih PAN,gubrak dehhh….cuma, katanya, sambil berkeluh kesah, kok kayaknya PKS susah banget dalam menentukan sikap untuk mendukung capres, menurut dia (setelah baca-baca republika tentunya) ternyata ada tarik menarik kepentingan di tingkat atas pimpinan PKS untuk mengambil keputusan antara mendukung amin rais dan wiranto…. kata ibu saya lagi, bukankah, karena ketegasan anak-anak muda pengusung PKS inilah beliau nyoblos PKS april lalu, namun, begitu melihat kenyataan yang ada sekarang, ibu saya, menarik kesimpulan….

Yaaaah nak, ternyata segitu gitu aja kualitas mereka…ternyata, contoh dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan dalam dilema politik.

wahh.. mak, nggak bisa gitu, kata saya, mungkin aja para pimpinan atas PKS harus ekstra hati hati dalam menentukan pilihan, sebab, apapun keputusan yang mereka ambil nanti, pasti berimbas pada pilihan massa nya….saya bilang gitu ke emak sayaa….

wahh.. kata emak saya, yang dia baca di republika itu lain.. katanya bener bahwa PKS belum menentukan pilihan… wahh wahh.. ngotot juga emak sayaa…saya pikir, ahh mungkin ini media blow up… apa mungkin…..

akhirnya, ngomong ngolor ngidul… terhentilah diskusi kilat saya via telpon…

mak.. emak.. adaada ajaa.. seriusss bangettttt……dalam hati saya berujar…

but, nggak cuma sampe di situ, hari ini, di kampus, saya baca baca koran, termasuk republika, trus, saya klik rubrik resonansi, ehh pas kebetulan, tajuk tulisan zaim uchrowi, yang judulnya, PKS memenangkan hari nurani…saya trus baca, dan sampai pada penggalan paragraf :

“===== Zaim uchrowi, resonansi Republika

Persoalan baru muncul menjelang pemilihan presiden 5 Juli ini. PKS tak segera menentukan sikap hendak mendukung siapa. Sebagian besar konstituennya menginginkan partai ini mendukung Amien Rais. Ia calon presiden paling religius, paling ”bersih”, serta paling intelektual. Hal yang memang menjadi landasan PKS selama ini. Namun, sebagian lain memilih Wiranto. Bahkan, peran Amien sebagai pembuka gerbang reformasi tak cukup menarik buat mereka. Mereka ingin presiden yang ”kuat” serta paling berpeluang mengakhiri rezim Mega. Mereka menggambarkan Wiranto seperti Khalifah Umar bin Khattab.

Penggambaran yang membuat banyak orang tercengang. Tarik-menarik jelas tak terhindarkan. Hal itu tentu mengecewakan sebagian pendukung PKS sendiri. Sosok seperti Ratih Sang bahkan tak menutupi sikapnya. Konon ia tak ragu pergi bila partai tak lagi sesuai dengan visi yang ia yakini. Yang lebih bermasalah lagi, keputusan tak kunjung keluar. Di saat pusat mempertarungkan Amien-Wiranto, sebagian pendukung pinggiran PKS menengok SBY yang justru tak direkomendasikan. Bagi masyarakat tradisional, sosok besar SBY memang figur pemimpin ideal karena ”berwibawa”.

Sebagian kalangan PKS membela ketidakjelasan itu. ”Langkah partai sudah benar, kita perlu hati-hati,” katanya. Bisa jadi ia benar. Sayangnya batas antara hati-hati dan tidak mampu mengambil keputusan sangat tipis. Partai berbeda dengan gerakan dakwah dan sosial. Sekadar kebaikan hati dan ideologi tak mencukupi. Partai adalah juga kumpulan kepentingan. Perlu sistem efektif yang mampu menjembatani atau menetralisasi kepentingan pribadi. Sistem itulah yang hingga kini belum cukup dipunyai PKS yang ternyata masih berkultur paguyuban ketimbang patembayan.

===bla..bla..bla….

akhirnya, saya pun paham, dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dipraktekkan oleh individu-individu PKS tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan pada kepentingan politik…

ternyata…seperti halnya emak saya, saya pun kecut..sebab, walopun salah salah coblos, saya sempet nusuk PKS… (setelah nusuk logo PAN )

kalo gitu, hidup mbak puri… hidup golput…

prettige avond allemal

ican


Venus lewat

Filed under Catatan Pribadi

Waktu bangun hari ini, ingat kalau ada momen besar yang akan terjadi: Venus transit di matahari. So, what? Ini kesempatan langka yang muncul belum tentu sekali dalam ratusan tahun, mungkin lebih. Momen yang sama seperti lewatnya komet dan teman-teman luar angkasa lain …..

Bangun pagi sekitar jam 06.00, untung udah subuh sebelum tidur jadi ngga buru-buru. kucek-kucek mata, nyalakan komputer dan lihat-lihat pencuci mata, melihat keluar: bagaimana mau melihat venus kalau cuaca mendung berawan seperti ini. Walhasil, malah pasang penutup mata buat nerusin tidur lagi, bebas cahaya ….

Lihat jam sudah hampir jam 09.00, langsung loncat ke kamar mandi (buat cuci muka dan sikat gigi, sudah beberapa hari malas mandi) dan siap-siap berangkat ke kantor. Sambil jalan ke arah Aa-kerk, clinguk ke atas, bertanya apa beneran venus bakal kelihatan, ya? Eh, jadi aja bus nomor 15 lewat depan mata, padahal kalau mau bergerak sedikit pasti dapat, cuma terpisah jarak 10 meter. Tapi …. ah, setiap 10 menit ada yang lewat toh, sambil senyum ngedipin supir bus yang kebetulan cakep, membiarkan dia ngeluyur ke arah Zernike (ternyata supir bus berikutnya sudah tua, hahahaha ….). Waktu duduk di bus terus terfikir, padahal kalau datang ke kantor sudah kadung terlambat dan merasa biasa aja (toh tadi malam sampai larut kerja di lab), kenapa ngga jalan aja ke Academie Gebouw nemuin mas Ferry, minta tunjukin Venus pake kacamata D-5 (yang disediain gratis) …. AH, biarin aja lah, kerjaan kan nomor satu ….

Sampe kantor tetap penasaran, ini kan momen yang ngga sekali dalam ratusan tahun, masa dilewatkan begitu saja. Jadilah, angkat telepon, kontak mas Ferry, tanya bagaimana cara melihatnya. Satu disket yang ngga kepakai jadi korban, buat gentinya kacamata D-5 …. intip-intip, eh keren juga …. kaya matahari punya tahi lalat di dagu kiri bawah, trend ala marilyn monroe kali, ya … tapi pas balik ke ruangan, hem, cuma sebegitukah? balik lagi ke luar, lihat lagi, bolak balik sampai 3 kali, tetap aja bertanya …. hanya sebegitukah?

Sekarang udah sore, hingar bingar Venus lewat juga udah sirna, malah mungkin buat beberapa orang, sudah dilupakan. Tapi kok teruus aja terfikir: Venus transit, momen besar, belum tentu terjadi lagi dalam beberapa ratus tahun ke depan (se-engga-nya ngga sejelas sekarang). Lama-lama kefikiran, kenapa menjadi momen besar? matahari kan lebih jauh, ngga ditunggu-tunggu tuh nongolnya. Bulan juga (kecuali memang diperluin buat nentuin kapan puasa dan lebaran). Bus nomor 15, apalagi …. bakal ketinggalan didepan mata juga dicuekin, udah apal ini jadualnya.

Ini masalah momen, karena hanya kali ini kesempatan buat lihat Venus seumur hidup, ngga bakalan dilewatkan. Kalo dari matahari sampai bus, itu sih udah jamak. Analog dengan hidup (sebagai suatu momen), dari nikah sampai pekerjaan juga udah jamak: hidup ngga boleh sampe salah jalan, cuma sekali, kalo nikah, skolah, kerja de ka ka, ngga cocok ya … bubar en cari lagi, hahahahaha …

Ini masalah respek, fenomena yang menurut kalangan astrolog sangat mengagumkan, kok rasanya plong gitu aja. Udah dicoba-coba merasakan keindahan waktu melihat bintik item kecil itu, hem, tetep aja ….. salah satu kegagalan mentadaburi alam? ngga tahu deh …

Ini masalah gengsi, bisa dijadikan kebanggaan kalau sempet terlibat. Se-engga-nya kalau ketemu temen: “sempet liat Venus transit, ngga? bagus en asik lho …”. Lho, teman-teman di kampus malah sudah melihat duluan. Ada teman seruangan yang ngga lihat, waktu ditanya jawabnya: lihat aja di internet, gampang en ngga bikin sakit mata. Waktu ditimpali bahwa melihat fenomenanya secara langsung beda dengan melihat foto hasil jepretan di muka komputer, cuman dicibirin aja …..

Ini masalah curiousity, kaya apa sih kalo Venus transit di matahari. Ooo, seperti itu, ya udah ….. langsung masuk recycle bin di otak ……

hehehe, koq inget sama es krim campina yang waktu jualan paddle-pop jinglenya terkenal karena tiap tukang es keliling stay tune sama kasetnya.

– I’m your Venus –
– I’m your fire —
– your desire, your desire —-


Amanah dan pemimpin

Filed under Renungan & Hikmah

Coretan ini terinspirasi dari dialog yang dibangun oleh mas Amal dengan anak-anak dan tulisan John Don’t nya mbak Agnes, serta sebagian kandungan khotbah Jum’at yang disampaikan oleh khatib (Ustadz Mustafa) di Masjid Selwerd pekan ini. Lo..judulnya kok jadi seperti di atas ?.
Keseharian Safira dan Rehan di nukil dalam sebuah situs yang kadangkala berupa dialog kecil dipicu oleh pertanyaan keingintahuan sang anak terhadap berbagai hal. Fenomena alam dan perilaku yang baru saja dikenal mereka, membuat banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul. Sehingga sang Bapak seringkali memutar otak mencari jawaban yang “pas” serta tidak sekenanya. Karena tentu saja jawaban yang didengar mereka akan terpatri dalam ingatan sehingga kalau hal yang menyangkut konsep, bisa jadi lahir menjadi sebuah keyakinan. Tentu proses ini tidak akan timbul seketika dengan satu-dua pertanyaan saja namun berkesinambungan di saat-saat waktu tumbuh berkembangnya sang anak.

Mbak Agnes dalam tulisannya di koran PR dan disalin ulang di café degromiest mengungkapkan bahwa kata-kata “jangan” yang selalu dilontar kepada sang anak bisa berdampak kurang baik bagi perkembangan emoasi sang anak. Bisa jadi menghilangkan sikap kritis dan kreatif. Bukan berarti pula bahwa kita membiarkan begitu saja semua yang diungkapkan dan yang dikerjakan sang anak sehingga mereka akhirnya tidak bisa membedakan mana yang seharusnya dilakukan sehingga melahirkan kebaikan dan mana seharusnya yang mereka pahami sebagai sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan. Bangunan komunikasi yang pas bagi anak-anak pada saat umur-umur berkembangnya sangat menentukan “warna” (atau bisa disebut celupan = sibghah, Arab) sang anak kelak nanti diusia meraka dewasa.
Itu baru dua contoh saja dari “pernik-pernik” proses pembinaan anak yang kalau kita bisa memahami dengan baik akan berakibat baik juga kepada hasilnya. Sebagai orang tua yang punya anak “seumur itu” saya sangat ingin belajar dari berbagai cara pandang, terutama dari segi psikologi anak (Sepertinya bu Ike perlu ngasih training kepada kita-kita nih). Dan saya melihat sisi praktisnya juga tidak mudah karena berhadapan dengan berbagai aspek, termasuk juga emosi orang tua saat berkomunikasi dengan anak. Misalnya, di saat kondisi orang tua sedang baik-baik rasanya sangat mudah mencari kata-kata yang tepat dalam menjawab atau menyampaikan sesuatu, namun kadangkala disaat-saat sibuk dan tegang bisa jadi kata-kata “jangan” akan mudah keluar.
Siapapun orang tuanya tentu berharap anak-anaknya menjadi pintar, cerdas, shaleh dan shalehah. Orang tau akan menjadi bahagia tiada tara kalau anaknya berhasil dalam berbagai aspek. Setidaknya keberhasilan yang bisa diukur dengan kasat mata manusia, misalnya anak pintar bisa diukur dengan hasil proses pendidikan, perilakunya juga bisa diukur dengan bagaimana cara berinteraksi, dan keshalehannya yang bisa dilihat dengan cara memelihara ibadahnya serta yang lain-lain. Orang tua akan bahagia kalau anaknya menjadi juara dikelas, dekat dengan Allah dalam segala aktifitasnya. Bagi saya tentu masih cukup lama sampai Fathiya dan adiknya mencapai umur baligh sehingga parameter-parameter tersebut bisa terukur.
Ustadz Mustafa dalan khotbahnya Jum’at kemaren mengungkapkan bahwa, keluarga adalah amanah yang diberikan Allah kepada kita, isteri/suami adalah amanah, anak-anak juga amanah. Kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawabkannya kelak. Demikian sedikit dari beberapa ungkapan khotbah yang bisa saya tangkap. Karena dalam bahasa Arab maka tidak bisa mengerti sepenuhnya. Minimal sebagai pemimpin diri sendiri, kita akan diminta pertanggungjawabanya bagaimana me”manage” diri dalam menjalankan fungsi kita sebagai makhluk Allah SWT. Sebagai orang tua, punya amanah untuk mendidik anak-anak sehingga pada saatnya nanti juga sebagai pemimpin bagi dirinya dan itu akan dipertanggungjawabkan nanti.
Terkadang ada perasaan “khawatir” dalam diri. Sebagai orang tua dari Fathiya dan Nurul yang masih lucu-lucunya saat ini, setiap apa yang dilakukan mereka adalah sebuah pandangan yang enak diperhatikan, bahkan dalam kondisi menangis sekalipun. Bukan berati tidak ada yang membuat saya sebagai orang tua menjadi tidak sabar, jelas ada. Tapi saya lebih menilainya sebagai kekurangarifan saya dalam menyikapinya, karena memang mereka masih kanak-kanak. Akan seperti apa mereka kelak ketika dewasa ? Ini yang membuat saya terkadang “khawatir” kalau gambaran saat itu nanti tidak seperti yang saya harapkan sebagai orang tua. Namun bukan merupakan kekhawatiran terhadap ketentuan Allah SWT yang telah ditetapkan. Khawatir kalau peran saya sebagai orang tua yang secara SunatuLLah mempunyai andil besar dalam membinanya tidak sebaik yang seharusnya saya lakoni. Dan seperti ungkapan khatib Jum’at di atas bahwa itu akan dipertanggungjawabkan kelak di sisi Allah SWT. Konsekwensi “pertanggungjawaban” ini, sebenarnya lebih merupakan “warning” di awal, sehingga sebagai orang yang diberikan amanah, kita selalu mempersiapkan diri secara matang sehingga mampu menjalankan amanah itu dengan baik. Salah satu do’a yang diambil langsung dari ayat al-Qur’an yang berbunyi “Rabbana hablana min azwajina, wa zurriyatina qurrata a’yun, waj’alna lil muttaqina imama” mungkin akan mengurangi kekhawatiran saya tersebut. Semoga Allah menjadikan pasangan, dan keturunan enak dipandang mata (qurrata a’yun) dan menjadi orang-orang muttaqin.
Amanah dan pemimpin pada contoh keluarga seperti di atas adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat, generasi berikutnya yang akan menggantikan generasi sekarang sangat menentukan bagaimana “warna” masyarakat pada waktunya mereka mendapatkan amanah kepemimpinan. Keterpurukan Indonesia saat ini jamak diketahui sebagai olahan pemimpin yang tidak amanah dari semua level. Sudah sepantasnya semua masyarakat memahami dengan betul bagaimana menjadi amanah dari kepemimpinan yang diemban. Sekali lagi.. kepemiminan dari skala kecil sebagai pemimpin bagi diri sendiri, pemimpin keluarga, pemimimpin apa saja. Pemimpin akan diminta pertanggung jawabannya, tatkala gagal dalam amanah ini maka dampaknya bukan hanya untuk diri sendiri. Sebaliknya kalau kepemimpinan berhasil maka akan dirasakan oleh semua orang. Dan Indonesia saat ini, dengan kondisi seperti ini, butuh pemimpin yang betul-betul amanah bukan hanya sekedar retorika…
Demikian coretan singkat ini, yang kalau diperlebar masing-masing bagiannya akan bisa dijadikan topik tulisan lagi, dan biarlah sebagai “uitnodiging” (undangan) coretan saya bagi yang lain agar membagi ilmunya kepada kita semua, bahkan mungkin sampai pada tahapan praktis.
Semoga bermanfaat bagi saya dan kita semua….

Wallahu ‘alam


It’s as Simple as One, Two, Three…

Filed under Bedah Buku

Ayo…. kita ikuti salah satu petualangan seorang Penegak Hukum yang terkenal dengan Quantum Electrodynamicnya.

Kali ini kita akan melihat bagaimana keingintahuan sang maestro pada cara berhitung mengantarkannya pada sebuah karya (yang menurut saya) ilmiah dan bisa jadi tesis buat rekan-rekan master malah, namun bagi dia adalah cuman sebuah permainan sik-asik…

Mudah-mudahan translate ini memberikan secuil inspirasi pada kita-kita semua, berpikir ilmiah tidaklah sulit, pada akhirnya fisika memang bukan sesuatu yang musti ditakuti :-)

It’s as Simple as One, Two, Three…

*taken from Richard P. Feynman “What Do You Care What Other People Think?”
Dialihbahasakan oleh Febdian Rusydi (www.febdian.com), Mei 2004

feynman06.jpg

Ketika saya dibesarkan di Far Rockaway, saya punya seorang teman bernama Bernie Walker. Kami berdua punya “labor” di rumah, dan kami melakukan berbagai macam “eksperiment”. Suatu waktu, kami sedang terlibat diskusi – saat itu kami sekitar sebelas atau duabelas tahun - dan saya berkata “Tapi berpikir itu tiada lain tiada bukan selain berbicara pada dirimu sendiri”.

“Oh ya?” jawab Bernie. “Apakah kamu tahu bentuk dari poros dalam sebuah mobil?”

“Ya, kenapa rupanya?”

“Bagus. Sekarang, katakan pada saya: bagaimana kamu mendeskripsikannya ketika kamu sedang bicara pada dirimu sendiri?”.

Jadi saya belajar dari Bernie bahwa berpikir juga bisa visual sebagaimana bicara.

Selanjutnya, ketika kuliah, saya tertarik pada mimpi. Saya bertanya-tanya bagaimana sesuatu dapat terlihat begitu nyata, seperti halnya cahaya jatuh ke retina mata, sementara mata sedang tertutup: apakah sel-sel syaraf pada retina benar2 terangsang oleh suatu cara – mungkin oleh otak itu sendiri – atau apakah otak memiliki sebuah “departemen kehakiman” yang berkeliaran selama mimpi berlangsung? Saya tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan untuk pertanyaan seperti itu dari psikologi, sekalipun saya menjadi sangat tertarik pada “bagaimana otak bekerja”. Namun, banyak sekali bisnis tentang penafsiran mimpi, dan seterusnya. (1)


(1) Saya pikir, maksud Feynman adalah: dia tidak pernah mendapatkan jawaban memuaskan walau dia sendiri sudah melakukan pencarian lewat mempelajari kerja otak. Dia juga tertarik pada bagaimana para cenayang penafsir mimpi bekerja, tapi kemudian dia tahu semua adalah bohong. Cerita tentang Feynman dan mimpi dibahas juga pada “Surely You’re Joking, Mr. Feynman”, spesifik dibahas malah pada bab “Altered State” (dunia yang lain).
—-

Ketika saya lulus dari Princenton University, sebuah paper (yang saya pikir bodoh) diterbitkan dan memicu banyak diskusi. Penulisnya memutuskan bahwa sesuatu yang mengontrok time sense (2) dalam otak adalah reaksi kimia yang melibatkan besi. Pikir saya, “Sekarang, bagaimana orang ini dapat berpikir demikian?”

—-
(2) Time sense bisa diartikan perasaan kita menyangkut hitungan waktu.
—-

Baiklah, cara yang dia lakukan adalah, istrinya terserang panas kronik dimana suhu badannya sering naik-turun. Entah bagaimana dia dapat ide untuk menguji time sense istrinya. Dia meminta istrinya untuk menghitung per detik (tanpa melihat jam), dan dia cek berapa lama istrinya menghitung sampai 60. dia meminta wanita yang malang itu untuk berhitung sepanjang hari: ketika panas turun, dia menghitung lebih lambat. Oleh karena itu, dia berpikir sesuatu yang mengatur time sense dalam otak pastilah berjalan cepat ketika panas istrinya sedang naik, dan sebaliknya melambat ketika panasnya turun.

Sedang menjadi seorang yang sangat saintifik, psikologis ini tahu bahwa laju reaksi kima bervariasi terhadap temperature sekitarnya oleh sebuah formula tertentu yang tergantung pada energi reaksi. Dia ukur perbedaan dalam kecepatan istrinya berhitung, dan menentukan berapa banyak temperature mengubah kecepatan itu. Lalu dia mencoba untuk mencari sebuah reaksi kimia yang lajunya bervariasi terhadap temperatur ang sama saat istrinya berhitung. Dia menemukan bahwa reaksi besi adalah yang paling cocok dengan pola ini. Jadi dia menarik kesimpulan bahwa time sense istrinya diaturh oleh reaksi kimia dalam badan yang melibatkan besi.

Hmm… ini semua terlihat omong kosong bagi saya – ada begitu banyak hal yang bisa salah dalam rantai alasan yang dia buat. Tapi, ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik: apakah yang menentukan time sense? Ketika kamu sedang mencoba berhitung pada laju rata-rata, terhadap apa laju ini bervariasi (dengan kata klain: laju ini tergantung besaran fisis apa) ? Dan apa yang bisa kamu lakukan untuk merubah ini?

Saya memutuskan untuk menyeledikinya. Saya mulai dengan berhitung per detik – tanpa melihat jam tentunya – sampai 60 dalam ritme yang lambat tapi stabil: 1, 2, 3 ,4 ,5 … Ketika mencapai 60, saya cek waktu ternyata 48 detik, tapi itu tidak menganggu saya: masalahnya bukan menghitung tepat 1 menit, tapi menghitung laju standard. Selanjutnya saya berhitung sampai 60, 49 detik berlalu. Selanjutnya 48, lalu 47, 48, 49, 48, 48, …. Jadi saya temukan saya dapat berhtiung dengan standar yang cukup bagus.

Sekarang, jika saya cuma duduk saja tanpa menghitung, dan menunggu sampai saya pikir sudah 1 menit berlalu, hasilnya sangat tidak pasti – variasi sangat komplet. Jadi saya temukan perkiraan dugaan menentukan 1 menit sangat payah. Tapi dengan berhitung, saya dapat lakukan sangat akurat.

Sekarang bahwa saya tahu saya dapat berhitung dengan lanju standard, pertanyaan selanjutnya adalah – apakah yang mempengaruhi laju tersebut?

Mungkin ini ada kaitannya dengan laju jantung berdetak. Jadi saya mulai berlari naik-turun tangga untuk membuat jantung saya berdetak lebih cepat. Lalu saya masuk ke ruangan saya, membuang diri ke tempat tidur, dan mulai berhitung sampai 60.

Saya juga mencoba berlari naik-turun tangga dan menghitung ketika sedang berlari.

Orang-orang melihat saya berlari naik-turun, dan mereka tertawa. “Kamu lagi ngapain sih?

Saya tidak bisa jawab mereka – yang membuat saya sadar bahwa saya tidak bisa berbicara ketika saya berhitung dalam hati - dan tetap berlari naik-turun tangga, pokoknya terlihat seperti seorang idiot.

(Para mahasiwa graduate sudah terbiasa dengan saya yang terlihat idiot. Pernah, contohnya, seorang rekan datang ke ruangan saya – saya lupa mengunci pintu selama melakukan “eksperimen” – dan menemukan saya duduk dikursi memakai jaket domba tebal, mencondongkan badan keluar jendela yang terbuka ditengah musim dingin, memegang pot dan tangan lainnya mengaduk pot tersebut. “Jangan ganggu saya, jangan ganggu saya”, kata saya. Saya sedang mengaduk Jell-O dan mengamatinya secara cermat: saya lagi penasaran apakah Jell-O akan membeku dalam dingin jika kamu tetap menggerakkannya setiap waktu.)

Baiklah, setelah mencoba setiap kombinasi berlari naik-turun tangga dan berbaring di tempat tidur, hasilnya mengejutkan! Laju detak jantung tidak berpengaruh. Dan karena saya kepanasan setelah berlari naik-turun tungga, saya berpikir temperatur juga tidak ada hubungan dengan laju standar berhitung (walaupun saya harus sudah tahu bahwa temperatur tidak akan terlalu naik tinggi saat berolahraga). Kenyataannya, saya tidak mendapatkan apapun yang mempengaruhi laju berhitung saya.

Lari naik-turun tangga cukup membosankan, jadi saya mulai berhitung sementara saya mengeluarkan cucian, saya harus mengisi formulir menyebutkan berapa banyak baju yang saya punya, celana, dan selanjutnya. Saya dapati saya menjawab “3” di depan “celana”, atau “4” di depan “baju”, tapi saya tidak dapat menghitung kaos kaki. Mereka terlalu banyak: saya sudah dan sedang menggunakan mesin berhitung saya! – 36, 37, 38, - dan ini semua adalah kaos kaki di depan saya – 39, 40, 41,… Bagaimana saya menghitung mereka?

Saya dapati saya dapat mengatur mereka dalam pola geometric – seperti bujur sangkar, contohnya: sepasang kaos kaki di sudut ini, sepasang di sudut sana, sepasang di sini, dan sepasang di sana, 8 kaos kaki.

Saya lanjutkan permainan menghitung dengan pola ini, dan saya temukan saya dapat menghitung jumlah baris artikel dalam surat kabar dengan mengelompokkan baris-baris itu ke dalam pola 3, 3, 3, dan 1 untuk mendapatkan jumlah 10; lalu 3 dari pola itu, 3 dari pola satu lagi, 3 dari pola satu laginya lagi, dan 1 pola terakhir untuk membuat 100. Saya baca koran seperti itu. Setelah selesai menghitung sampai 60, saya tahu di mana saya berada berdasarkan pola yang saya buat dan dapat berkata, “Saya ada pada hitungan 60, dan ada 113 baris yang sudah saya lewati”. Saya temukan saya malah dapat membaca artikel sementara saya berhitung sampai 60, dan ini tidak mempengaruhi laju berhitung saya! Kenyataannya, saya dapat lakukan apa saja sementara berhitung dalam hati – kecuali selagi berbicara keras tentunya.

Bagaimana dengan menulis – menyalin kata-kata dari buku? Saya dapati bahwa saya dapat melakukannya juga, tapi disini waktu saa terpengaruh. Saya sangat gembira: akhirnya, saya sudah temukan sesuatu yang terlihat mempengaruhi laju hitungan saya! Saya menyelediki lebih lanjut.

Saya lanjutkan terus, mengetik kata-kata sederhana lebih cepat, berhitung dalam hati 19, 20, 21, terus mengetik, berhitung 27, 28, 29, terus mengetik, sampai –apaan nich kata yang saya ketik? – oh ya – dan lalu lanjut berhitung 30, 31, 32, dan seterusnya. Ketika saya sampai pada 60, saya telat (dari laju standar saya).

Setelah beberapa instropeksi dan pengamatan lebih jauh, saya menyadari apa yang sudah (musti) terjadi: saya menginterupsi hitungan saya ketika saya mengetik kata-kata susah yang “butuh sedikit otak” untuk mengatakannya. Laju berhitung saya tidak melambat; namun proses berhitung sendiri tertahan sementara dari waktu ke waktu. Berhitung sampai 60 pada akhirnya menjadi otomatis yang saya bahkan tidak menyadari interupsi yang terjadi pada pertama kalinya.

Pagi berikutnya, setelah sarapan pagi, saya laporkan hasil tersebut pada beberapa teman di meja makan. Saya katakan pada mereka semua hal yang bisa saya lakukan sementara berhitung dalam hati, dan satu-satunya yang saya gak bisa lakukan selagi berhitung dalam hati adalah berbicara.

Salah seorang dari mereka, bernama John Tukey, berkata, “Saya tidak percaya kamu bisa membaca, dan saya tidak melihat kenapa kamu tidak dapat bicara. Saya bertaruh kamu bisa bicara ketika berhitung dalam hati, dan saya bertaruh kamu tidak bisa membaca”.

Jadi saya berikan demonstrasi: mereka memberi saya buku dan saya membaca dan jua berhitung dalam hati. Ketika sudah mencapai 60, saya berkata, “Sekarang!” – 48 detik, waktu regular saya - waktu yang biasa saya butuhkan untuk mencapai hitungan ke-60. lalu saya katakana pada mereka apa yang sudah saya baca.

Tukey terpesona. Berikutnya giliran Tukey. Setelah mengecek beberapa kali laju standar berhitungnya, dia mulai bicara, “Mary had a little lamb; I can say anything I want to, it doesn’t make any difference; I don’t know what’s bothering you” – bla blab la bla, and finally, “Oke!” Dia mencapai waktu regularnya! Saya tidak bisa percaya!

Kami bicarakan mengenai hal tersebut, dan kami menemukan sesuatu menarik. Ternyata Tukey berhitung dengan cara yang lain: dia membayangkan sebuah tape (3) dengan angka-angka pada tape tersebut berjalan. Dia mengatakan, “Mary had a little lamb” dan dia melihat tape tersebut! Sekarang jelas, dia “melihat” pada tapenya yang terus berjalan, jadi dia tidak bisa membaca, dan saya “berbicara” dalam hati ketika berhitung, jadi saya tidak bisa bicara.

—-
(3) Saya rasa tape di sini adalah seperti gulungan pita film yang berputar pada rolnya dan kita bisa “berhitung” dengan melihat pita itu berputar dengan ritme tertentu.
—-

Setelah penemuan itu, saya mencoba memikirkan sebua cara untuk membaca keras sementara juga berhitung – sesuatu yang tidak bisa kami lakukan. Saya pikir saya harus memakai bagian dari otak saya yang tidak akan menganggu dengan department melihat atau berbicara, jadi saya putuskan memakai jari-jemari saya, karena hanya melibatkan sense of touch.

Saya sukses dengan cepat dalam berhitung dengan jari dan membaca dengan keras. Tapi saya inginkan semua proses berlangsung dalam batin saya, tidak melibatkan aktifitas secara fisik. Jadi saya coba membayangkan jari-jemari saya bergerak sementara saya membaca keras.

Saya tidak pernah berhasil. Saya pikir bahwa ini disebabkan bukan karena saya kurang berlatih, tapi ini mungkin sesuatu yang tidak mungkin: saya tidak akan pernah menemui orang yang dapat melakukannya.

Dari pengalaman Tukey dan saya menemukan bahwa: apa yang berlangsung pada kepala berlainan orang ketika mereka berpikir mereka sedang melakukan hal yang sama – sesuatu yang sesederhana berhitung – adalah berbeda pada setiap orang (4). Dan kami temukan bahwa kamu, secara eksternal dan objektif, dapat mengetes bagaimana otak bekerja: kamu tidak perlu bertanya pada orang bagaimana dia menghitung dan mempercayai pengamatannya sendiri; sebaliknya, kamu mengamati apa yang dia bisa dan tidak bisa lakukan ketika dia berhitung. Tes ini absolute. Tidak ada cara lain yang mengalahkannya, tidak ada cara untuk memalsukannya.

—-
(4) Dengan kata lain: si A dan si B sedang memikirkan hal yang sama, – misal: berhitung dalam hati – namun kenyataannya dalam pikiran A dan B terjadi proses yang bisa jadi bertolak belakang.
—-

Ini alamiah untuk menjelaskan sebuah ide dalam kerangka apa yang kamu sudah punya dalam pikiranmu. Konsep-konsep bertumpuk di atas konsep yang lain: ide ini diajarkan dalam keranga ide itu, dan ide itu diajarkan dalam kerangka ide yang lain, yang datang dari berhitung, dapat dapat begitu berbeda untuk setiap orang.

Saya sering berpikir tentang hal tersebut, terutama ketika saya sedang mengajarkan beberapa teknik esoterik (5) seperti Integral Fungsi Bessel (6). Ketika saya lihat persamaan itu, saya melihat tulisannya bewarna – saya gak tahu kenapa. Selagi berbicara, saya melihat samar-samar gambar dari Fungsi Bessel itu dari buku Jahnke dan Emde, dengan j coklat terang, n violet kebiru-biruan, dan x coklat gelap terbang sekeliling saya. Dan saya bertanya-tanya cem mana rupanya mahasiswa saya melihat hal yang sama?

—-
(5) Saya gak tau apakah ini bahasa Indonesia atau bukan. Kata aslinya esoteric yang artinya hal-hal yang Cuma diketahui beberapa orang saja.
(6) Fungsi Bessel adalah sebuah fungsi matematika yang sering dipakai fisikawan untuk memecahkan solusi fungsi gelombang dari persamaan Schrodinger untuk spherical coordinate, dimana j(x) dan n(x) adalah parameter untuk gelombang sinusoidal tersebut.


Karena promosi yang gencar dan pengaruh teman-teman di sekolah, href="http://coretmoret.web.id/fs/">kedua anak begitu
mengidam-idamkan BeyBlade.
Setelah dibelikan, keduanya antusias beradu gasing (yah, demikian
disebut oleh Oom Wangsa).

Sampai pada hari Minggu pagi, salah satu ujung Beyblade, berupa
sepucuk kecil logam, lepas dan hilang. Bisa dibayangkan betapa panik
pemiliknya. Dicari di lokasi pertandingan gasing di seluruh penjuru
rumah, tetap tidak ditemukan. Sampai zak penghisap debu terpaksa
dibongkar untuk memastikan barang sangat kecil tersebut tidak
tersedot di dalam. Tidak ditemukan juga!

Sampailah mereka pada “cara alamiah” yang sering dilakukan menjelang
tidur, Ya Allah, mudah-mudahan lancip-lancipan itu
ketemu.
Keduanya berdoa sambil bertanya, Pak, boleh kan
berdoa minta agar lancipan ketemu?
Tentu saja boleh.

Namun sampai sore berdoa kok barang kecil itu belum ketemu juga?

+ Allah tahu di mana lancipan itu?
- Tentu tahu, dong.
+ Kalau begitu, di mana, Pak?
- Lho, bapak kan bukan Allah.
He… he… semua tertawa. Tapi masih berharap cemas,
+ Apakah Allah mendengar Rayhan?

Karena sampai sore belum ditemukan juga, saya harus memberikan
penjelasan yang lebih mendalam dan dapat diterima (tentu saja juga
harus siap-siap menerima pertanyaan balik yang dapat
“mencemaskan”…).
+ Kenapa Allah belum menunjukkan lancipan itu?
- Nanti kalau sudah waktunya, kalian akan dapat menemukannya
juga.
+ Tapi mengapa Allah tidak ngomong sekarang dan aku dengar?
Sambil dipikir…
+ Tapi bagaimana Allah ngomongnya?
(Soalnya sebelumnya mereka memperoleh penjelasan bahwa cara Allah
itu kalau mau “ngomong” kepada Nabi lewat malaikat dan malaikat itu
“tidak kelihatan”. Kesimpulannya: Dedek takut kalau ada suara
“ngomong” tapi tidak kelihatan orangnya…)

Keluarlah penjelasan itu…
Kalau memang lancipan itu tidak ditemukan, ya sudah… besok beli
lancipannya saja di toko mainan. Jadi begini, kalau orang bisa
melakukan sendiri, misalnya dengan membeli atau membuat, maka
lakukan saja sendiri.

+ Tapi, wens (berdoa) boleh kan, Pak?
- Boleh. Berdoanya terus saja, nanti kan bapak juga bisa bantu
dengan membelikan di toko. Tidak apa-apa berdoa dan membeli.

Persoalan itu sudah selesai. Entah apa yang ada di pikiran
anak-anak, yang jelas acara besok siang setelah pulang dari sekolah
adalah beli lancipan Beyblade. Sempat terpikir untuk dibelikan
sendiri pada saat mereka sedang sekolah, namun karena sibuk mengurus
keperluan lain paginya, sudahlah nanti siang beli bersama sepulang
mereka sekolah. Pikiran “rasional” saya mengakhiri kasus ini dengan
“membeli di toko” dan biarlah mereka tidak kehilangan sense
untuk tetap berdoa.

Benarlah sepulang dari sekolah saya langsung ditagih untuk segera
berangkat. Oke, siap-siap dulu. Ambil kunci sepeda, memasukkan
dompet, dan… sesaat sebelum membuka pintu mengambil remah-remah di
dekat bangku kecil: ujung lancip Beyblade ada di situ!

Kijk allemal, ik heb gevonden!
Oohhhhhh! Semua menjerit histeris.
Si bungsu langsung berkata, tanpa dipikir lagi, Pak, Allah kok
cepat dengernya… Cepat ya, Pak?

Seperti setengah percaya, setengah takjub.