Archives for “Intriguing Idea”

Ismail Fahmi

Dalam setiap perdebatan di milis-milis yang saya ikuti, ada sebuah pertanyaan populer yang tidak pernah absen ketika UU Pornografi dijadikan topik pembahasan. Pertanyaan itu adalah:

Apakah kita benar-benar perlu UU khusus untuk pornografi?

Pertanyaan lanjutannya yang memperjelas pertanyaan utama di atas antara lain: Bukankah sudah ada KUHP dan juga mungkin undang-undang atau peraturan lain yang bisa dipakai untuk mengatasi masalah pornografi? Bukahkan masalah kita saat ini ada di penegakan hukum yang lemah? Polisi, hakim, dan jaksa yang bisa disogok?

Selengkapnya…


Ibu saya dan PKS

Filed under Intriguing Idea

Pagi pagi telpon nyokap di palembang… cerita sana sana, eh nyangkut ke masalah pilpres….usut punya usut,

ternyata doi juga pilih PKS.. nah lohhhh.. kirain dia pilih PAN,gubrak dehhh….cuma, katanya, sambil berkeluh kesah, kok kayaknya PKS susah banget dalam menentukan sikap untuk mendukung capres, menurut dia (setelah baca-baca republika tentunya) ternyata ada tarik menarik kepentingan di tingkat atas pimpinan PKS untuk mengambil keputusan antara mendukung amin rais dan wiranto…. kata ibu saya lagi, bukankah, karena ketegasan anak-anak muda pengusung PKS inilah beliau nyoblos PKS april lalu, namun, begitu melihat kenyataan yang ada sekarang, ibu saya, menarik kesimpulan….

Yaaaah nak, ternyata segitu gitu aja kualitas mereka…ternyata, contoh dakwah, amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan dalam dilema politik.

wahh.. mak, nggak bisa gitu, kata saya, mungkin aja para pimpinan atas PKS harus ekstra hati hati dalam menentukan pilihan, sebab, apapun keputusan yang mereka ambil nanti, pasti berimbas pada pilihan massa nya….saya bilang gitu ke emak sayaa….

wahh.. kata emak saya, yang dia baca di republika itu lain.. katanya bener bahwa PKS belum menentukan pilihan… wahh wahh.. ngotot juga emak sayaa…saya pikir, ahh mungkin ini media blow up… apa mungkin…..

akhirnya, ngomong ngolor ngidul… terhentilah diskusi kilat saya via telpon…

mak.. emak.. adaada ajaa.. seriusss bangettttt……dalam hati saya berujar…

but, nggak cuma sampe di situ, hari ini, di kampus, saya baca baca koran, termasuk republika, trus, saya klik rubrik resonansi, ehh pas kebetulan, tajuk tulisan zaim uchrowi, yang judulnya, PKS memenangkan hari nurani…saya trus baca, dan sampai pada penggalan paragraf :

“===== Zaim uchrowi, resonansi Republika

Persoalan baru muncul menjelang pemilihan presiden 5 Juli ini. PKS tak segera menentukan sikap hendak mendukung siapa. Sebagian besar konstituennya menginginkan partai ini mendukung Amien Rais. Ia calon presiden paling religius, paling ”bersih”, serta paling intelektual. Hal yang memang menjadi landasan PKS selama ini. Namun, sebagian lain memilih Wiranto. Bahkan, peran Amien sebagai pembuka gerbang reformasi tak cukup menarik buat mereka. Mereka ingin presiden yang ”kuat” serta paling berpeluang mengakhiri rezim Mega. Mereka menggambarkan Wiranto seperti Khalifah Umar bin Khattab.

Penggambaran yang membuat banyak orang tercengang. Tarik-menarik jelas tak terhindarkan. Hal itu tentu mengecewakan sebagian pendukung PKS sendiri. Sosok seperti Ratih Sang bahkan tak menutupi sikapnya. Konon ia tak ragu pergi bila partai tak lagi sesuai dengan visi yang ia yakini. Yang lebih bermasalah lagi, keputusan tak kunjung keluar. Di saat pusat mempertarungkan Amien-Wiranto, sebagian pendukung pinggiran PKS menengok SBY yang justru tak direkomendasikan. Bagi masyarakat tradisional, sosok besar SBY memang figur pemimpin ideal karena ”berwibawa”.

Sebagian kalangan PKS membela ketidakjelasan itu. ”Langkah partai sudah benar, kita perlu hati-hati,” katanya. Bisa jadi ia benar. Sayangnya batas antara hati-hati dan tidak mampu mengambil keputusan sangat tipis. Partai berbeda dengan gerakan dakwah dan sosial. Sekadar kebaikan hati dan ideologi tak mencukupi. Partai adalah juga kumpulan kepentingan. Perlu sistem efektif yang mampu menjembatani atau menetralisasi kepentingan pribadi. Sistem itulah yang hingga kini belum cukup dipunyai PKS yang ternyata masih berkultur paguyuban ketimbang patembayan.

===bla..bla..bla….

akhirnya, saya pun paham, dakwah amar ma’ruf dan nahi mungkar yang dipraktekkan oleh individu-individu PKS tidak lah cukup kuat manakala dihadapkan pada kepentingan politik…

ternyata…seperti halnya emak saya, saya pun kecut..sebab, walopun salah salah coblos, saya sempet nusuk PKS… (setelah nusuk logo PAN )

kalo gitu, hidup mbak puri… hidup golput…

prettige avond allemal

ican


Jalan uang terpanjang

Filed under Intriguing Idea

Coretan ini terinspirasi dari fenomena di tanah air yang disampaikan Unchu Dije beberapa waktu yang lalu, juga teringat email mas Taufik Budiarjo, sudah agak lama memang. Mas Taufik mengungkapkan “kebingungannya” terhadap seorang pengusaha yang mengeluh bahwa pajak yang dibayarkan di korupsi setengahnya oleh oknum petugas pajak. Kemudian “pengusaha” ini disarankan untuk melaporkan kejadiannya ke polisi, namun sipungasaha enggan melakukan itu karena pajak yang dibayarkan juga sudah “disimpan” setengahnya dari jumlah total yang harus di bayar. Ha..ha…, jadi tambah bingung. Pesan yang dapat ditangkap dari ungkapan tersebut bahwa betapa korupsi sudah “menggurita” dalam kehidupan bangsa Indonesia, mulai dari tingkatan yang kecil sampai ke level yang sangat besar, sehingga setiap tahun survey yang dilakukan terhadap Negara-negara terkorupsi selalu menempatkan tanah air kita pada posisi atas

Tentunya coretan ini tak bermaksud menambah bingung, ya…sebut saja sebagai “gugatan ringan” atau apalah namanya. Dan bukan juga ditujukan untuk menambah panjang deretan tulisan-tulisan yang sebenarnya banyak orang sudah memaklumi kandungannya. Namun sebuah asa (harapan), sekecil apapun dia terhadap perubahan signifikan dengan keterlibatan secara personal atau yang lebih besar secara bersama, dimanapun personal itu berada.
Beberapa waktu yang lalu saya dapat kiriman email dari beberapa milist berbeda
(walaupun saya sendiri belum tahu kepastian berita tersebut. Dan juga tidak tahu bagaimana realisasinya setelah lembaga ini dibubarkan) bahwa pesangon karyawan BPPN menyebut angka yang sangat wah, hampir 200 milyar. Oow, kalau nilai sebanyak
itu ditukar dengan uang kertas lima ribu rupiah dan disambung satu dengan lainnya, maka panjangnya bisa jadi menghubungkan ujung pulau Jawa bagian barat sampai ke timur. Tidak percaya? Coba saja hitung secara sederhana, uang kertas lima ribu rupiah yang berukuran lebih kurang 10 cm. Dengan jumlah 40 juta lembar, apabila dikalikan dengan ukuran 10 cm tersebut, berarti 400 juta centimeter, sama dengan 4 juta meter (4000 kilometer). Adakah panjang pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai ujung Banyuwangi sejauh 4000 km? …saya tidak tahu….Angka yang lebih fantastis lagi kalau dihitung dana-dana salah urus lainnya (baca: korupsi). Sebut saja Kasus Buloggate I dan II, Kasus BNI, BRI, Rekening 502, penjualan indosat, penebangan hutan liar dan sebagainya. Bagi yang pernah membaca buku kecil tentang korupsi di Indonesia yang ditulis oleh ketua BAPPENAS Kwik Kian Gie, maka akan geleng-geleng kepala, walaupun sebenarnya sudah mendengar berita-berita tentang korupsi pada banyak kesempatan. Saya sendiri masih ingat uang yang dilarikan Eddi Tansil senilai 1,3 trilyun beberapa tahun yang lalu, pelakunya tidak pernah tertangkap. Kalau disambung lagi uang kertas dari total yang dicuri itu maka akan tertutuplah semua jalan besar yang ada di seluruh pelosok tanah air ini. Bisa jadi bukan uang kertas lima ribu yang digunakan, tetapi senilai seratus ribu rupiah. Kalau dilakukan penelitian jumlah uang melayang itu, dan panjang total jalan-jalan besar di Indonesia, maka lagi-lagi akan tercatat dalam buku rekor dunia, bukan lagi rekor nasional (MURI), dengan judul “Jalan Uang Terpanjang di Dunia”. Menarik juga kalau saja uang-uang tersebut dipajang ditengah jalan. Namun saya yakin dengan hitungan detik sebahagian besar akan melayang lagi dengan berbagai sebab. Banyak sekali masyarakat miskin yang butuh makan terhampar di sisi-sisi jalan besar itu, tentu mereka sangat butuh uang tersebut.Lembar seratus ribu cukup mampu membuat mereka makan sekeluarga dalam seminggu.Sepersekian persen saja dari para koruptor itu insyaf, sadar dan bertaubat, serta mengembalikan uangnya kepada negara, akan mampu mengatasi kemiskinan yang sudah tambah parah di tanah air yang kaya raya ini. Tentu juga masaalah demam berdarah yang sekarang sedang mewabah di tanah air dan telah merenggut banyak nyawa anak-anak bisa diatasi, bahkan bisa dilakukan upaya preventif dengan cara menciptakan lingkungan bersih, sehingga nyamuk demam berdarah tidak bisa tumbuh. Dari sepersekian persen juga, banyak permasalahan lain bangsa yang akan dapat diatasi. Namun sayang karena tidak ada dari para penyamun itu yang insyaf, malah sebaliknya semakin banyak penyamun baru, mulai dari pusat sampai ke daerah, maka jadilah Indonesia tetap menjadi negara ironi. Ya, ironis, kaya namun punya hutang yang sangat banyak. Padahal hutang tersebut juga bisa ditutupi dengan sepersekian lagi dari dana hilang.
Sebuah nurani sudah hilang dihati, sehingga sensitivitas untuk merasakan penderitaan sesama sudah menipis, biarkan kaum dhuafa tetap dengan perjuangannya mempertahankan sesuap nasi dipagi dan petang, sementara diriku “bergelimang” dengan kemewahan, bahkan mungkin diperoleh dari cara “mengambil” bagian kaum dhu’afa itu.
Mungkinkah yang begini sudah mendarah daging bagi banyak orang di tanah air ?…bisa jadi lebih parah lagi. Seorang yang mencuri ayam dikarenakan tidak punya uang untuk makan, dikenakan hukuman beberapa bulan, atau bahkan sudah duluan dibikin babak belur oleh massa, sementara seorang yang mencuri dengan jumlah yang sangat besar dan dampaknya bisa saja membuat mati banyak orang, tetap saja lolos dari lubang jeratan hukum dan masih saja tetap eksis dengan kepala tegak….tapi tentu tidak dimata Allah SWT, tidak ada lubang sekecil apapun untuk lolos dari hisab (perhitungan) Allah SWT.

Seringkali terlintas dalam pikiran saya isi ceramah yang disampaikan oleh berbagai ustadz pada banyak kesempatan, bahwa takutlah kepada Allah SWT, karena dengan demikian akan menyelamatkan diri kita dunia dan akhirat, akan membuat hidup ini damai dan tentram. Karena tidak ada rasa takut pada Allah SWT, membuat orang bisa melakukan apa saja yang dikehendaki, karena mereka bisa menghindar dari pengamatan manusia. Tetapi sesungguhnya Allah SWT akan selalu melihat kita di manapun berada, apapun posisi kita dan sekecil apapun perbuatan kita.
Mungkin hanya hati nurani yang takut pada Allah SWT lah yang bisa membuat fenomena yang terjadi tanah air menjadi lebih baik, bukan hanya masaalah korupsi yang dikupas dalam coretan ini, namun juga permasaalahan moral yang sudah jauh dari nilai-nilai.


Yesus Bukan Berkulit Putih

Filed under Intriguing Idea

Pada hari-hari kita menikmati tulisan tentang Muhammad oleh Ismail
Fahmi, href="http://cafe.degromiest.nl/2004/02/andai_dapat_kukucup_tanganmu">Andai
Dapat Kukucup Tanganmu,
saya mendapat tulisan introspektif dan kontemplatif yang berkait dengan
film Mel Gibson paling baru tentang Nabi Isa, href="http://imdb.com/title/tt0335345/">The Passion of The
Christ.

Penulisnya, William Rivers Pitt, dari href="http://www.truthout.org">The Truthout, meletakkan judul
The Passion
of Americans
sebagai editorial. Bagian-bagian penting yang
diangkat olehnya adalah kesadaran yang sesungguhnya sebagai umat
Kristiani di Amerika. Kebetulan saya sempat membaca beberapa komentar
tentang rencana legalisasi perkawinan sesama jenis di Amerika dan saya
amati masih cukup banyak komentator yang berpendapat bahwa hal
tersebut href="http://www.amnews.com/public_html/?module=displaystory&story_id=5297&format=html">tidak
dibenarkan dari sisi Kristiani.

Akan halnya film Mel Gibson yang mulai beredar sekarang, menjadi
pertanyaan sederhana namun penting: mengapa Mel Gibson membuat
sebuah film tentang penduduk di sebuah tempat kuno di Timur Tengah
namun diperankan oleh begitu banyak orang berkulit putih? Ini cocok
dengan “tudingan” Ali Syariati bahwa Yesus menjadi “seperti Alain
Delon” karena figur itu yang muncul dan dipakai oleh orang Barat.

Persoalannya sekarang ini, figur Timur Tengah yang seharusnya
melekat pada bentuk fisik dan keturunan yang dibawa Yesus, sedang
dihindarkan oleh pandangan publik Amerika, seperti ditulis pada
editorial tersebut,

The ugly truth which never even occurs to most
Americans is that Jesus looked a lot more like an Iraqi, like an
Afghani, like a Palestinian, like an Arab, than any of the paintings
which grace the walls of American churches from sea to shining sea.
This was an uncomfortable fact before September 11. After the
attack, it became almost a moral imperative to put as much distance
between Americans and people from the Middle East as possible. Now,
to suggest that Jesus shared a genealogical heritage and physical
similarity to the people sitting in dog cages down in Guantanamo is
to dance along the edge of treason.

Biarlah bangsa Amerika melakukan introspeksi (jika mau) terhadap
kebijakan mereka sekarang ini. “Balas dendam, kekerasan, dan kebencian,
bukan sifat umat Kristen. Kasih sayang, cinta, dan kepedulian adalah
ajaran menonjol dari Yesus,” demikian tulisan tersebut diakhiri.

Bagi kita, Nabi Isa adalah salah satu dari 25 rasul yang diutus
Allah. Ajaran tentang kasih sayang dan cinta tentu bukan sesuatu
yang asing bagi kita yang percaya bahwa agama yang hak adalah
yang diturunkan dari Allah SWT lewat para
utusan-Nya.


Bahasa dan pengganti

Filed under Intriguing Idea

Beberapa waktu ke belakang, di eropa pernah diramaikan dengan rencana membuat bahasa artifisial yang digunakan untuk sebagai bahasa komunikasi antar negara di eropa. Entah sama atau tidak, rasanya ide ini mirip dengan pengembangan bahasa Indonesia dulu. Rencana ini pada akhirnya memang tidak berhasil dilaksanakan, chauvinism masing-masing pemilik bahasa, spanyol, italia, inggris, jerman dan, tentu saja perancis.

Bukan tentang bahasa artifisial ini yang akan berlanjut sebenarnya, tapi jika dilihat dari kesempurnaan bahasa yang digunakan. Mungkin karena bahasa Indonesia begitu sederhana sehingga mudah digunakan. Ketiadaan artikel salah satunya. Dalam bahasa Indonesia, tidak ada pembedaan antara jenis kelamin laki-laki atau perempuan. Entah ini simbol awal dari emansipasi atau pembolehan kebinanan, hahahaha …

Dalam bahasa Indonesia, kita terbiasa menggunakan akhiran “-nya” sebagai kata ganti perseorangan, regardless bagi laki-laki atau perempuan. Pernah seorang teman mengatakan kalau dengan demikian, akan membingungkan karena tidak akan jelas apa yang dimaksudkan dalam suatu perkara atau kalimat tanpa terlebih dahulu dijelaskan terlebih dahulu pada awalnya, kepada siapa dialamatkan “-nya” itu. Well, banyak kata-kata ambigous lainnya seperti suffix “-nya” ini, jadi tidak heran kalau di Indonesia banyak hal-hal yang tidak jelas, what so ever …

Anyway, sebenarnya justru ada satu kelebihan suffix “-nya” yang tidak jelas ini. Apa? Misalnya pada saat kata ganti ini dialamatkan kepada Tuhan, kita bisa dengan mudah mengganti awal suffix ini dengan huruf kapital, “-Nya”. Ini yang tidak bisa dilakukan oleh bahasa-bahasa dunia yang mengenal gender. Dimanakah tergelitiknya? Sebenarnya dalam sebuah diskusi dalam bahasa Inggris, seringkali kata Tuhan dikata gantikan oleh istilah ‘he”, bukan she, they, atau lainnya. Tergelitik bahwa dalam Islam, Tuhan tidak bergender. Karena ngga ngerti bahasa arab, entah apa dalam bahasa arab (yang mengenal gender), TUhan juga dikategorikan lagi-laki.

Dalam pandangan agama lain, seseorang rasul yang diagungkan sebagai Tuhan dan kebetulan berjenis kelamin laki-laki, mm.. belum ditemukan dalam katalog seorang perempuan menjadi rasul, kalau nabi, entahlah, jumlahnya banyak sekali. Tetapi, tidak masalah. Agama ini memang didominasi oleh penganut yang menggunakan bahasa yang mengenal bergender, bahkan salah satu kesatuan terkuat di bumi ini pun menggunakan agama ini sebagai salah satu kesatuan dasarnya. He, his, him, er, sein, zijn, hij, sama toch. That’s fine, for them, maksudnya. Memang Tuhannya laki-laki, toch.

Well, dalam Islam Tuhan tidak bergender, Ia (memang nikmat memakai bahasa Indonesia) bukan laki-laki atau perempuan. Lalu kenapa dalam bahasa bergender, Ia dikategorikan sebagai “He”, bukan “She”. Padahal kalau menggunakan “SHE”, kan sudah mengandung kedua unsur laki-laki dan perempuan. Coba dipisahkan saja S+HE mengandung dua unsur HE dan SHE sekaligus. hahahaha, permainan kata-kata, menarik. Influence dari bahasa bergender? Atau influence dari agama lain, mm, menarik.

Okelah, dengan pengetahuan bahasa yang minim, sulit buat disimpulkan oleh saya. Biarkan jadi pertanyaan terbuka, biarkan saja masing-masing membuat jawaban masing-masing.


Diambil dari milis [email protected] medio desember 2003
Subject: Proses ‘Merger’ STTTelkom-ITB (PENTING…!!!!)

Isu yang berkembang tentang proses akuisisi STTTelkom-ITB skrg emang dah bukan rahasia lagi. Semua orang dah ngebicarain isu ini…, Dosen, Karyawan, Mahasiswa, dll…
Malam tadi (selasa), sempet diadain diskusi tentang ini, dengan menghadirkan nara sumber yang bisa dipercaya tentunya… Beliau adalah seorang anggota Senat STTTelkom sekaligus Anggota Dewan Majelis jurusan TE, dan Beliau cukup aktif berperan dalam proses ini mulai dari tahap ide sampai tahap lobi beliau ikut didalamnya. Bisa ditebak sendirilah orangnya…. :-)

Dari nara sumber tsb, dapat diambil informasi : bahwa Proses ini sangat sarat dengan unsur POLITIK…!!! jadi, sepertinya saat ini Dirut PT Telkom lagi ada ‘masalah’, dan sangat memungkinkan untuk dirinya bisa dilengserkan. gak tau masalahnya apa, yang jelas tentunya gk mau donk pak Dirut ‘digusur’..! untuk itu upaya2 ‘penyelamatan posisi’ itupun dilakukan. Untuk menunjukkan bahwa PT.Telkom adalah perusahaan pelayan publik -dan entah apalagi alasannya (mungkin ‘ngambil ati’nya Laksamana sukardi yang notabene ka. Ikatan Alumni ITB)- jajaran Direksi bermaksud ‘menyerahkan’ aset yang dimilikinya ke pemerintah (dalam hal ini STTTelkom dan STMB di ’serahkan’ ke ITB). Dengan tindakan ini diharapkan “pak Menteri” senang, dan posisi mereka ’selamat’… walaupun agaknya Pak Agus Utoyo (Dir. SDM) gak setuju dengan ide ini, tapi kayaknya Pak Kristiono(Dirut) dan 4 direktur yang lain cukup ngotot untuk nge-Gool-in proyek ini. so, ya siap2 aja kita… :-) karena kayaknya ide ini sangat klop dengan keinginan ITB. ada beberapa hal yang sangat berhubungan dengan kepentingan ITB saat ini, yaitu :
1. ITB ingin mendirikan subuah fakultas IT
2. Sebagai leader kampus berstatus BHMN, tentunya ITB membutuhkan modal (cost) yang sangat tinggi dan modal itu tidak mudah didapatkan.
3. ITB ingin mendirikan pusat pengembangan teknologi di Bandung

Trus skenarionya begini, ntar seluruh aset STTTelkom (Bangunan, tanah, fasilitas lab, dll) akan ‘dihibah’kan ke ITB dan STTT bersama jurusan IF, elektro teknik,dll akan dijadikan satu dalam suatu wadah Fakultas IT. Dan mungkin juga tanah2 kosong disekitar STTT akan dijadikan ‘pabrik’ pengembangan teknologi. Yang jelas, pada tahap ini STTTelkom hanya “TINGGAL NAMA” saja…!!! trus skenario selanjutnya, Jelas… system dan jajaran pimpinan STTT akan dirombak abis! (bahkan isunya sudah beredar pula ntar gantinya pak Harsono sapa…), bahkan bukan hanya pimpinan yang akan dirombak tetapi dosen dan karyawanpun juga akan di’seleksi’ ulang.

Dari skenario ini, dapat Saya analisa sbb :
*> Keuntungan ITB
1. keinginan membentuk Fakultas IT (FakulTI) terwujud, termasuk preyek pengembangan ITnya.
2. tanpa modal sedikitpun, ITB akan mendapatkan tambahan aset yang cukup ‘wah’ baik berupa dana(dari YPT), Tanah, Bangunan, Lab, dll.
3. tanpa modal sedikitpun ITB memperoleh mahasiswa yg banyak, dan juga masih bisa ‘mengkomersiil’kan aset2 STTT untuk keuntungan bisnis ITB.
4. ITB tidak mempunyai saingan lagi dalam mencetak enginer telekomunikasi. (ingat: selama +- 60 tahun ITB hanya mampu menghasilkan enginer telkom sebanyak 2400 orang, sementara STTTelkom 10 thn sudah menghasilkan 4000 lebih yang menguasai hampir seluruh kandatel PT Telkom)
5. ITB semakin menunjukkan kekuatan ‘monopoli pendidikan’ di indonesia, dengan mendapat daerah ‘jajahan’ baru ini.

*> Keuntungan STT Telkom
1. System manajemennya akan menjadi baik. karena pejabat dan karyawan2nya pasti orang2 bagus lah…
2. Namanya akan lumayan bagus lah dimata industry.. dan masyarakat… (ITB Bo’… :-))
3. Jaringan Alumni dah OK (kalo boleh numpang Alumninya ITB… :-))
4. link dengan pihak luar akan terbuka, sehingga memungkinkan Proyek2 akan banyak mengalir. (dengan begini lab2 bisa terberdayakan)
5.???

Trus kerugian ITB apa ya… paling2 cuma masalah gengsi aja sih! :-) yang jelas gak banyak ruginya dibanding untungnya….

*> Kerugian STTTelkom :
1. STTTelkom hanya tinggal nama… (Nasib alumninya Piye….????)
2. Kebesaran STTT, fasilitas STTT, Alumni STTT -> Musnah….
3. Secara psikologi, mhs STTT akan tidak mudah menyesuaikan diri dengan iklim barunya. dan ini Saya yakin cukup membutuhkan waktu yang lumayan lama…
Mungkin Mhs STTT akan merasa ‘dkucilkan’ oleh mhs ITB, kayak anak tiri, dianggap ngaku2 anak ITB,dll….(kayak poltek or D3nya universitas negeri lah…)
4. pokoknya bakalan banyak banget kerugian yang mungkin akan dialami Mhs, Alumni, Dosen, Karyawan.

Ini semua masih merupakan isu, meskipun prosesnya sendiri terus berjalan. Artinya kebenarannya sendiri seperti apa tentunya kita masih belum tahu. jadi mungkin kita bisa percaya or gak… Tapi disini Saya sangat mengharapkan tanggapan dari Kakak2 Alumni mengenai isu ini-terlepas jadi atau nggaknya Isu ini-, sehingga irisan2 dari tanggapan Kakak2 bisa saya jadikan bahan ketika Saya Menyuarakan Suara Mahasiswa -khususnya Mahasiswa dan Alumni TE- didepan temen2 aktivis kampus dan Bapak2 Rektorat.

Terima kasih atas perhatiannya dan maaf kalo terlalu Panjang…. :-)